Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Manajemen Ziswaf
Dasar - Dasar Hukum Ziswaf
Dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Ziswaf
Dosen Pengampu : Moch. Zainuddin,S.EI,M.EI

Disusun oleh :
1. Andri Widianto (931300118)
2. Nurul Pebriani (931300218)
3. Laila Dwi A (931300318)
Kelas F

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM


PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI
2020

i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan inayahnya-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan
benar.
Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Moch.Zainuddin
S.EI,M.E.I selaku dosen mata kuliah Manajemen Ziswaf yang telah membimbing
kami dan semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, baik
itu secara material ataupun spiritual, karena tanpa bantuan pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini maka makalah ini tidak akan selesai
dengan baik.
Dalam penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan
baik pada teknik penulisan maupun materi. Oleh karena itu saya mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Demikian makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna
bagi pembaca dan generasi penerus bangsa Indonesia.

Kediri, 8 September 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Cover ................................................................................................................ i
Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf ....................................... 3
B. Dasar Hukum, Tujuan dan Hikmah ..................................................... 5
C. Jenis - Jenis Zakat ............................................................................... 8
D. Kedudukan Ziswaf dalam Islam ........................................................... 13
E. Peran Ziswaf dalam Perekonomian ...................................................... 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 18
Daftar Pustaka .................................................................................................. 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Zakat, Infak, dan Shadaqoh dan wakaf (ZISWAF) adalah salah satu
ibadah yang memiliki posisi yang sangat penting, strategis dan menentukan,
baik dari sisi ubudiyah maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan ekonomi
umat. Selain sebagai ibadah, ZISWAF juga memiliki keterkaitan sangat
signifikan dengan dimensi sosial keummatan, karena secara substansif,
pendayagunaan zakat secara material dan fungsional memiliki partisipasi aktif
dalam memecahkan permasalahan keummatan seperti peningkatan kualitas
hidup kaum dhuafa, peningkatan sumber daya manusia dan pemberdayaan
ekonomi. Dalam hitungan makro, zakat dapat di maksimalkan sebagai institusi
distribusi pendapatan di dalam konsepsi ekonomi Islam.
Sistem zakat sebagai suatu sistem ekonomi dalam Islam telah
dibuktikan oleh Nabi Muhammad saw. Selain ketentuan ibadah murni, zakat
juga merupakan kewajiban sosial berbentuk tolong menolong antara orang
kaya dan orang miskin, untuk menciptakan keseimbangan sosial (equilibrium
social) dan keseimbangan ekonomi (equilibrium of economique). Sekaligus
ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan, menciptakan keamanan dan
ketentraman.
Pendistribusian zakat yang bertujuan pemerataan ekonomi dan
pembangunan, perlu ditopang dengan suatu badan pengelola zakat yang
modern dan profesional. Dalam hal ini Dawam Rahardjo mengusulkan
pendirian bank sosial Islam, berfungsi mengelola dana suplus zakat untuk
didayagunakan bagi kepentingan pemberdayaan ekonomi ummat. Karena
zakat adalah salah satu instrumen penting dalam Islam sebagai upaya untuk
menciptakan kesejahteran sosial perlu dibentuk institusi bank yang bebas
bunga (zero interest bank) sebagai pengelola dana umat berupa zakat dan
sumber lainnya, yang ditujukan untuk membantu permodalan bagi masyarakat
ekonomi lemah. Melalui latar belakang tersebut, pemakalah menjelaskan
mengenai “ Dasar Dasar Hukum ZIZWAF“.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf ?
2. Apa dasar Hukum, Tujuan dan Hikmah dari Zakat, Infaq, Shadaqah dan
Wakaf ?
3. Apa saja jenis-jenis Zakat ?
4. Bagaimana kedudukan Ziswaf dalam Islam ?
5. Bagaimana peran Ziswaf dalam perekonomian ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf
2. Untuk mengetahui dasar hukum, tujuan dan hikmah dari Zakat, Infaq,
Shadaqah dan Wakaf
3. Untuk mengetahui jenis-jenis Ziswaf
4. Untuk mengetahui kedudukan Ziswaf dalam Islam
5. Untuk mengetahui peran Ziswaf dalam perekonomian

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf


1. Zakat
Pengertian Zakat menurut bahasa berarti kesuburan, kesucian,
barakah dan berarti juga mensucikan.1 Zakat merupakan hak Allah
yang dikeluarkan oleh manusia untuk orang-orang miskin. Dinamakan
zakat karena adanya harapan suatu keberkahan, pensucian jiwa dan
pengembangan jiwa dengan berbagai kebaikan.
Sedangkan secara istilah Zakat sebagai bentuk ibadah yang bisa
sah karena disertai niat dalam diri. Oleh sebab itu, ketika hendak
mengeluarkan zakat, para pemilik harta harus berniat dengan tulus dan
ikhlas ketika melaksanakan zakat atau shadaqah. Pemberian zakat
ituun juga dapat dilaksanakan apabila harta telah mencapai nishab dan
haul kepada orang yang berhak menerima zakat (mustahiq) dengan
syarat tertentu.2 Nishab adalah ukuran tertentu dari harta yang dimiliki
yang wajib dikeluarkan zakatnya, sedangkan haul adalah berjalan
genap satu tahun.
2. Infaq
Kata infaq menurut bahasa berasal dari kata anfaqa yang berarti
menafkahkan, membelanjakan, memberikan atau mengeluarkan harta.
Menurut istilah fiqh kata infaq mempunyai makna memberikan
sebagian harta yang dimiliki kepada orang yang telah disyariatkan oleh
agama untuk memberinya seperti orang-orang faqir, miskin,anak
yatim, kerabat dan lain-lain. Istilah yang dipakai dalam al-Qur’an
berkenaan dengan infaq meliputi kata : zakat, sadayah, hadyu, jizyah,
hibah dan wakaf.
Jadi semua bentuk perbelanjaan atau pemberian harta kepada
hal yang disyariatkan agama dapat dikatakan infaq, baik itu yang

1
Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat ( Jakarta : Bulan Bintang, 1984 ), hlm. 24
2
Rois Mahfud, Al-Islam ( Jakarta : Erlangga, 2011), hlm.30

3
berupa kewajiban seperti zakat atau yang berupa anjuran sunnah
seperti wakaf atau shadaqah.
3. Shadaqah
Shadaqah merupakan pemberian suatu benda oleh seseorang
kepada orang lain karena mengharapkan keridhaan dan pahala dari
Allah Swt. Dan tidak mengharapkan suatu imbalan jasa atau
penggantian.3 Atau dapat pula diartikan memberikan sesuatu dengan
maksud untuk mendapatkan pahala.4
Dilihat dari pengertian tersebut, shadaqah memiliki pengertian
luas menyangkut hal yang bersifat materi atau non materi. Dalam
kehidupan sehari-hari shadaqah sering disamakan dengan infaq namun
mengingat pengertian tadi dapat dibedakan bahwa shadaqah materi dan
non materi.
Contoh shadaqah yang berupa materi seperti memberi uang
kepada anak yatim setiap tanggal sepuluh bulan Muharram, sedangkan
yang berupa non materi seperti tersenyum kepada orang lain.
4. Wakaf
Wakaf adalah kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu waqf
yang berarti menahan, menghentikan atau mengekang.
Sedangkan menurut istilah ialah menghentikan perpindahan
milik suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama sehingga manfaat
harta itu dapat digunakan untuk mencari keridhaan Allah Swt.5
Wakaf juga dapat diartikan pemberian harta yang bersifat
permanen untuk kepentingan sosial keagamaan seperti orang yang
mewakafkan sebidang tanah untuk dibangunkan masjid atau untuk
dijadikan pemakamam umum.6
Maka perbedaan diantara ke-empatnya yakni pertama, shadaqah
merupakan istilah yang paling umum sehingga infaq, wakaf dan zakat
dapat dikategorikan sebagai shadaqah ; kedua zakat terikat oleh waktu

3
Mardani, Fiqih Mu’amalah ( Jakarta : Kencana Prenada Media Group,2012 ), hlm. 344
4
Zuhdi, Studi Islam Jilid 3 ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 82
5
Asymuni A Rahman,Tolchah Mansur, dkk, Ilmu Fikih 3 ( Jakarta : t.p.1986 ), hlm. 207
6
Mardani, Fiqih Mu’amalah, hlm. 17

4
dan nishab, sedangkan infaq, shadaqah dan wakaf dapat dilakukan
kapan saja; ketiga zakat diperuntukkan bagi golongan tertentu,
sedangkan infaq dan shadaqah diberikan kepada siapa saja; keempat
zakat merupakan kewajiban sedangkan wakaf, infaq dan shadaqah
sebagai amalan sunnah yang dianjurkan (jika dikerjakan mendapat
pahala, jika tidak maka tidak mendapat dosa).
Sedangkan persamaannya adalah ; pertama,sama-sama sebagai
upaya untuk meningkatkan ketaqwaan atau bertujuan untuk
mendapatkan ridha Allah Swt. Kedua, sama-sama merupakan ibadah
yang diperintahkan dan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Sebagai
balasannya; ketiga, sama-sama memiliki nilai positif baik bagi pelaku
ataupun penerima.

B. Dasar Hukum, Tujuan dan Hikmah


1. Dasar Hukum
a. Zakat
Dasar hukum wajib zakat tertera dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah
ayat 43:

َ‫ي‬ ِ ِ َّٰ ‫وأَقِيمواَ ٱلصلَ َّٰوَة وءاتُواَ ٱلزَك َّٰوَة وٱرَكعو م َع‬
َ ‫ٱلركع‬ ََ ُ ْ َ ََ ُ َ
Artinya : Dan Dirikanlah Sholat, tunaikan zakat dan ruku' lah
beserta orang-orang yang ruku'.7

Dan Surat at-Taubah ayat 103

ََۖ‫َعلَْي ِه ْم‬ ِ ِ ِِ ِ
َ ‫َص َدقَةً َتُطَ ِّه ُرُه ْم ََوتَُزّكي ِهم َِبَا ََو‬
َ ‫ص ِّل‬ َ ‫ُخ ْذ َم ْن َأ َْم ََّٰوِل ْم‬
َ‫َعلِ ٌيم‬
َ ‫يع‬
َِ ‫كَس َكنَِلمََۗوٱَّلل‬
ٌ ‫ََس‬ َ ‫إِن‬
ُ َ ُْ ٌ َ َ َ‫َصلَ َّٰوت‬
Artinya : Ambilah zakat dari sebagaian harta mereka, dengan zakat
itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah
untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman

7
Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahan ( Bandung: Hilal, 2010), hlm. 8

5
jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui

b. Infaq
Dasar hukum Infaq tertera dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat
195 :

ََۛ‫َسبِ ِيل َٱَّللِ ََوََل َتُ ْل ُقوا َ ِِبَيْ ِدي ُك ْم َإِ ََل َٱلت ْهلُ َك ِة‬ ِ ِ
َ ‫َوأَنف ُقوا َِف‬
َ‫ي‬ ِِ ُِ ‫وأَح ِسنُواََۛإِنَٱَّلل‬
َ ‫بَٱلْ ُم ْحسن‬
ُّ ‫َُي‬َ ٓ ْ َ
Artinya: Dan belanjakan (harta bendamu) di jalan Allah, dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,
dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang berbuat baik.8

c. Shadaqoh
Dasar hukum Shadaqah tertera dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat
88 :

َ‫اَوأ َْهلَنَاَٱلضُُّّر‬
َ َ‫َمسن‬ ََّٰٓ ‫َعلَْي ِهَقَالُوا‬
َ ‫ََيَيُّ َهاَٱلْ َع ِز ُيز‬ َ ‫اَد َخلُوا‬
َ ‫فَلَم‬
ِ ٍ ُّ ‫ضع ٍة‬ ِ
ََۖٓ‫َعلَْي نَا‬
َ ‫صد ْق‬
َ َ‫َم ْز َج َّٰىةَفَأ َْوفَلَنَاَٱلْ َكْي َل ََوت‬ َ ََّٰ ِ‫َوجْئ نَاَبِب‬
ِ ِ ‫َٱَّللَ ََي ِزىَٱلْمت‬
َ‫ي‬ َ َ ُ ْ ََ ‫إِن‬
َ ‫ص ّدق‬
Artinya: "Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka
berkata: " Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa
kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak
berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan
bersedekahlah kepada kami, Sesunguhnya Allah memberi balasan
kepada orang-oran yang bersedekah."

d. Wakaf
Dasar hukum Wakaf tertera dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat
92 :

8
Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahan, hlm. 247

6
َ‫نَش ْى ٍء‬ ِ ُِ ‫لَنَتَنَالُواَٱلِِْبَحَّتَتُ ِنف ُقوا َِِم‬
َ ‫اَُتبُّو َنَ ََۚوَماَتُنف ُقوا َِم‬ َّٰ َ
َ‫ۦَعلِ ٌيم‬ ِ
َ ‫فَِإنَٱَّللََبِه‬
Artinya : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang
sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu
cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya
Allah mengetahuinya.9

2. Tujuan Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf


Iri hati dapat timbul dari mereka yang hidup dalam kemiskinan
pada saat melihat seseorang yang berkecukupan apalagi berkelebihan
tanpa mengulurkan tangan bantuan kepada mereka. Kedengkian
tersebut dapat melahirkan permusuhan terbuka yang mengakibatkan
keresahan bagi pemilik harta, sehingga pada akhirnya menimbulkan
ketegangan dan kecemasan, maka untuk mengatasi dan mengantisipasi
masalah ini maka pentingnya implemntasi manajemen ziswaf dalam
kehidupan sehari-hari.
Zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf memiliki tujuan yang
terkandung
a. Bagi pelakunya dapat mengkikis habis sifat-sifat kikir,
bakhil, rakus dan tamak yang ada dalam dirinya dan
melatih memiliki sifat-sifat dermawan, mengantarkannya
mensyukuri nikmat Allah Swt. Sehingga pada akhirnya ia
dapat mengembangkan dirinya, membersihkan harta yang
kotor karena didalam harta yang dimilikinya terdapat hak
orang lain, menumbuhkan kekayaan, terhindar dari siksaan
atau ancaman Allah Swt.
b. Bagi penerima, membersihkan perasaan sakit hati, iri hati,
benci dan dendam terhadap golongan kaya yang hidup
serba cukup dan mewah, menimbulkan rasa syukur kepada
Allah Swt. dan rasa terimakasih serta simpati kepada

9
Departemen Agama RI, al-Qur'an dan Terjemahan, hlm. 63

7
golongan berada karena diperingan beban hidupnya dan
memperoleh modal kerja untuk usaha mandiri dan
kesempatan hidup yang layak.
c. Bagi pemerintah dapat menunjang keberhasilan
pelaksanaan program pembangunan dalam meningkatkan
kesejahteraan warganya, mengurangi beban pemerintah
dalam mengatasi kasus-kasus kecemburuan sosial yang
dapat menganggu ketertiban dan ketentraman masyarakat.
Dari penjelasan diatas mengandung hikmah yaitu :
a) Dimensi spiritual yakni bertambahnya keimanan kepada
Allah Swt.
b) Terciptanya masyarakat yang memiliki solidaritas tinggi,
sehingga melahirkan kecintaan dan kepedulian terhadap
sesama dan kekeluargaan antar umat akan semakin tampak.
c) Terciptanya masyarakat yang makmur sejahtera.10

C. Jenis - Jenis Zakat


Macam zakat harus dibayarkan oleh seorang muslim ada dua jenis yaitu
zakat mal dan zakat fitrah.
1. Zakat Mal
Zakat Mal adalah zakat yang wajib dibayarakan atas harta yang
dimiliki jika harta tersebut telah mencapai batas wajib dikeluarkan
zakatnya atau nishab. Jenis zakat mal antara lain:
a. Zakat Binatang Ternak
Binatang ternak adalah binatang yag dengan sengaja
dikembangbiakkan agar menjadi banyak. Pada binatang ternak
diberlakukan noshab dan haul. Menurut dalil yang ada bahwa
binatang ternak yang dizakati itu hanya tiga jenis, yaitu unta,
sapi, dan kambing.
Zakat Unta ketentuannya sebagai berikut:

10
Zeni Lutfiah, Pendidikan Agama Islam, ( Surakarta: MKU UNS, 2011 ), hlm. 111

8
1) 5 ekor - 9 ekor 1 ekor kambing
2) 10 ekor - 14 ekor 2 ekor kambing
3) 15 ekor -19 ekor 3 ekor kambing
4) 20 ekor - 24 ekor 4 ekor kambing
5) 25 ekor - 35 ekor 1 ekor unta bintu makhad
6) 31 ekor - 45 ekor 1 ekor unta bintu labun
7) 45 ekor - 60 ekor 1 ekor unta hiqah
8) 61 ekor - 75 ekor 1 ekor unta jadz'ah
9) 76 ekor - 90 ekor 2 ekor unta bintu labun
10) 91 ekor - 120 ekor 2 ekor unta hiqah

Zakat Sapi ketentuannya sebagai berikut:


1) 30 ekor - 39 ekor 1 ekor sapi jantan/betina tabi'
2) 40 ekor - 59 ekor 1 ekor sapi jantan/ betina musinnah
3) 60 ekor - 69 ekor 2 ekor sapi jantan/ betina tabi'
4) 70 ekor - 79 ekor 1 ekor sapi musinnah dan 1 ekor tabi'
5) 80 ekor - 89 ekor 2 ekor sapi musinnah

Zakat Kambing memiliki ketentuan:


1) 40 ekor - 120 ekor 1 ekor kambing (2 th) / domba (1 th)
2) 121 ekor - 200 ekor 2 ekor kambing/domba
3) 201 ekor - 300 ekor 3 ekor kambing/domba11

b. Zakat Emas dan Perak


Emas dan perak merupakan logam galian yang berharga
dan merupakan karunia Allah. Barang siapa memiliki satu nisab
emas dan perak selama satu tahun penuh, maka ia berkewajiban
mengeluarkan zakatnya bila syarat-syarat yang lain telah
terpenuhi artinya bila ditengah-tengah tahun yang satu nisab
tidak dimiliki lagi atau berkurang tidak mencapai satu nishab

11
Hikmah Kurnia dan A Hidayat, Panduan Pintar Zakat, (Jakarta: Kultum Media, 2008), hlm. 256

9
lagi karena dijual atau sebab lain, berarti kepemilikan satu
tahun itu terputus.
Berdasarkan pendapat mayoritas ulama, seperti Imam
Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hambali berpendapat bahwa
nisab emas adalah 20 mitsqal = 90 gram dan perak 200 dirham
= 600 gram (jumhur) . Besar zakatnya adalah 2,5% setelah
tersimpan setahun hijriyah penuh.12
c. Zakat Barang Dagangan (Tijarah)
Zakat perdagangan atau pemiagaan adalah zakat yang
dikeluarkan atas kepemilikan harta yang diperuntukkan untuk
jual beli. Zakat ini dikenakan kepada perniagaan yang
diusahakan baik secara perseorangan maupun perserikatan
seperti CV, PT, dan koperasi.
Segala macam jenis diperdagangkan orang, baik yang
termasuk dalam jenis harta yang harta atau barang yang wajib
dizakati seperti: bahan makanan dan ternak, maupun harta yang
tidak wajib dizakati seperti: tekstil, hasil kerajinan, kelapa,
tebu, pisang, tanah, mebel, dan sebagainya semuanya itu wajib
dizakati jika telah memenuhi syarat syaratnya.13
Nishab zakat perdagangan adalah senilai 90 gram emas
setelah berlalu satu tahun. Cara mengeluarkan zakatnya, pada
awal tahun dihitung nilai barang dagangannya. Jika sudah
mencapai nishab, pada akhir tahun dihitung kembali apakah
telah mencapai nishab atau belum. Jika telah mencapai nishab,
harus dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.14

12
Fakhrudin, Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia, (Yogyakarta: UIN Malang Press, 2008),
hlm.56
13
Muhammad Ja'far, Tuntutan Ibadah Zakat, Puasa dan Haji, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003), hlm.
45
14
Wawan Shofwan Shalehuddin, Risalah Zakat, Infaq, dan sedekah, ( Bandung: Tafakur, 2011),
hlm. 52

10
d. Zakat Tanaman
Tanaman yang wajib dizakati adalah biji bijian yang
menjadi bahan makanan pokok, seperti gandum, jagung, padi,
kedelai, dan kacang tanah. Menurut hukum dan pembahasannya
zakat tanaman meliputi hal hal berikut:
1) Semua yang ditanam, baik hasil, buah, dan bunga atau
tanaman hias maupun yang sejenisnya yang memiliki
harga dan manfaat secara syar’i tezmasuk kedalam
kategori zakat pertanian.
2) Zakat tanaman ditunaikan pada waktu panen dan tidak
disyariatkan haul karena pertumbuhan harta telah
sempuma pada jangka waktu pertanian.
3) Bisa dibayar dengan uang dengan harga yang sesuai
dengan harga pasar waktu tiba kewajiban membayar
zakat.
4) Jumlah produksi boleh dipotong pembiayaan
pertaniaan, sepeni pupuk dan buruh.Boleh memotong
jumlah produksi (harga produksi) dengan pelunasan
hutang jangka pendek.
Nisab zakat pertanian berdasarkan perhitungan watsaq
ukuran banyak dari suatu barang pertanian setelah dipanen
dengan cara disukat atau diukur dengan ukuran isi pada suatu
wazan atau wadah yang disepakati, semacam mud, literan, sha’,
blek, gallon, mangkok, gantang, dan sebagainya. Para ahli fikih
telah menentukan 5 watsaq sepadan dengan 50 kail atau 653 kg
dari makanan pokok mayoritas penduduk. Kadar zakat
pertanian adalah 10% jika diairi oleh air hujan, sungai, danau
atau yang sejenisnya. Dan 5% jika diairi dengan alat irigasi atau
yang sejenisnya yang menggunakan alat pompa air.15

15
Muhammad Ja'far, Tuntutan Ibadah Zakat, Puasa dan Haji, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003),
hlm. 226

11
e. Zakat Barang Temuan (Rikaz), Barang Tambang (Ma’din) Dan
Hasil Laut
Ar rikaz menurut bahasa artinya harta yang terpendam.
Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai harta karun,
yakni harta lama yang terpendam di tempat yang tidak didiami
orang, maknanya tidak akan dapat klaim dari siapa pun.
Rikaz oleh para ulama disebut harta jahiliyah yang lama
terpendam, termasuk dalam ketegori ini adalah sesuatu yang
ditemukan diatas permukaan bumi, seperti peninggalan
purbakala, peninggalan sejarah, dan penemuan fosil fosil yang
berharga dan barang antik lainnya.
Sedangkan yang dimaksud ma’din adalah segala macam
hasil tambang yang dikeluarkan dari bumi dan mempunyai
nilai, seperti besi, kuningan, dan timah. Hasil laut adalah harta
yang dieksploitasi dari laut, seperti mutiara, kerang, terumbu
karang, rumput laut.
Dalam zakat rikaz tidak ada nishab dan haul. Oleh
karena itu setiap menemukan harta karun langsung dikeluarkan
zakatnya sebesar 20%. Sedangkan untuk zakat ma’din
nishabnya adalah senilai 90 gram emas dan kadamya 2,5%.
Untuk zakat hasil hasil kadarnya sebesar 20% atau 5% sesuai
kesulitan.16
f. Zakat Profesi
Profesi adalah suatu pekerjaan dengan keahlian khusus
sebagai mata pencaharian, seperti: arsitek, dokter, pelukis,
olahragawan, pejabat, dan sebagainya. Zakat profesi adalah
zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan yang penghasilannya
telah memenuhi nishab, yaitu jika penghasilan yang mereka
terima selama setahun lebih dari senilai 90 gram emas dan
zakatnya dikeluarkan setelah berlalu satu tahun sebesar 2,5%
setelah dikurangi kebutuhan pokok.

16
Wawan Shofwan Shalehudin, Risalah Zakat, Infaq, dan Sedeka, hlm. 152 - 159

12
Demikianlah penghasilan itu jika diukur dengan syarat
nisab emas. Akan tetapi bila diukur dengan hasil tanaman,
maka syarat wajib zakatnya tidak setahun lamanya, tetapi pada
waktu panen, atau menerima pendapatan itu dan zakatnya pun
tidak 2,5% tetapi 5 sampai 10%.
g. Zakat Fitrah
Zakat furah disebut juga sedekah fitrah. Zakat fitrah
diwajibkan bagi setiap Muslim untuk membersihkan dan
menyempurnakan puasanya. Selain itu, zakat fitrah
dimaksudkan untuk memperbaiki perbuatan buruk yang
dilakukan selama bulan puasa, dan juga untuk memungkinkan
si miskin ikut serta dalam kegembiraan Idul Fitri.
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim
yang memiliki persediaan lebih dari kebutuhan bagi anggota
keluarganya pada hari dan malam Idul Fitri. Waktu
mengeluarkan zakat fitrah, menurut Imam Syafi’i dapat
dikeluarkan pada hari pertama bulan Ramadhan. Tetapi lebih
baik jika zakat fitrah dikeluarkan pada dua hari terakhir
Ramadhan. Namun, pada sisi lain, waktu terbaiknya ialah pada
hari pertama Idul Fitri sebelum shalat 'Id. Jika dikeluarkan
setelah shalat 'id, maka dianggap sebagai sedekah biasa. Besar
zakat fitrah yang wajib dikeluarkan adalah sebesar satu sha'
yang setara dengan 3,5 liter atau 2,5 kg makanan pokok
setempat yang biasa dimakan oleh orang yang bersangkutan,
seperti beras, gandum, kurma.

D. Kedudukan Ziswaf dalam Islam


Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya fikih zakat, menyatakan bahwa
pada hakikatnya zakat adalah bagian dari peraturan Islam tentang
kehartabendaan dan kemasyarakatan. Zakat juga merupakan ibadah yang
saling beriringi dengan ibadah shalat.

13
Allah swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah ayat 43 sebagai berikut:

َ‫ي‬ ِِ ِ
َ ‫اَم َعَالراكع‬
َ ‫يمواَالص ََل َة ََوآتُواَالزَكا َة ََو ْارَكعُو‬
ُ ‫َوأَق‬
Artinya : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta
orang-orang yang ruku”.
Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka para ulama menyepakati
bahwa zakat merupakan bentuk ibadah yaitu taat atau cara bagi manusia untuk
mengabdi kepada Allah swt. artinya penunaian kewajiban zakat dipandang
sebagai bentuk hubungan vertikal. Seseorang yang membayar zakat haruslah
didasarkan pada kesadaran religius. Tindakan seseorang yang berzakat,
bukanlah juga karena motif ekonomi, karena zakat secara harfiah berarti suci
atau bersih. Jadi dengan berzakat pada dasarnya ia telah membersihkan
hartanya dan tentunya ia akan menjadi lebih dekat kepada Allah swt.
Kedudukan zakat dalam Islam, Badan Amil Zakat Infak Shadaqah
(BAZIS) suatu lembaga pengelolah zakat menegaskan dengan menyatakan
bahwa zakat mengandung dua aspek, yaitu aspek kebaktian terhadap Allah
swt. dan kebaktian terhadap sesama manusia atau masyarakat. Adapun
kebaktian kepada Allah swt. menunaikan zakat bukan memberikan upeti
material kepadaNya, melainkan mempersembahkan katakwaan dengan
melaksanakan perintahnya. Adapun kebaktian kepada masyarakat
17
mengandung segi sosial dan ekonomi.
Kedudukan wakaf sebagai bagioan dari amal shaleh yang disebutkan
ketentuanya dalam syariat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt,
berfirman dalam QS. al-Baqarah ayat 261 sebagai berikut:

َُ‫َسْن بُلَ ٍة َِمائَة‬ ِ ‫تَسْبع‬ ٍ ‫مثَلَال ِذينَيَْن ِف ُقو َنَأَموا َِلم َِِفَسبِ ِيلَاَّللَِ َكمثَ ِل‬
ُ ‫َسنَاب َل َِِفَ ُك ِّل‬
َ َ َ ْ َ‫َحبةَأَنْبَت‬
َ َ َ ُْ َ ْ َُ ُ َ
َ‫َعلِ ٌيم‬ ِ ‫اَّللَو‬ ۗ َ‫اء‬ ِ َ ‫اع‬
ِ ‫اَّللَي‬ ٍ
َ ٌ َ ُ َ َُ ‫فَل َم َْنَيَ َش‬
‫ع‬‫اس‬ َ ‫و‬ َ َ
ۗ ُ ‫ض‬ َ ُ َُ ‫َحبةََۗ َو‬
Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw.
Bersabda, ”apabila anak adam meninggal maka terputuslah amalanya kecuali
tiga perkara; sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh
yang mendoakan kedua orang tuanya”.

17
Journal Economic and Business Of Islam Vol. 2 No. 1 Juni 2017

14
Ketiga perkara ini bermaksud memindahkan sebagian daripada
segolongan umat islam kepada mereka yang memerlukan. Namun, berbanding
zakat yang diwajibkan atas umat islam yang memenuhi syarat-syarat tertentu
dan sedekah yang menjadi sunat yang umum atas umat islam, wakaf lebih
bersifat pelengkap (coumplement) kepada kedua perkara tersebut. Disamping
itu, apa yang disumbangkan melalui zakat adalah tidak kekal dimana
sumbanganya akan digunakan dalam bentuk hangus, sedangkan harta wakaf
adalah berbentuk wakaf adalah berbentuk produktif yaitu kekal dan boleh di
integrasikan berbagai bentuk untuk faedah masa depan.18

E. Peran Ziswaf dalam Perekonomian


Islam adalah agama yang universal, mampu mencakup segala aspek
kehidupan manusia. Islam ialah solusi dari berbagai permasalahan sosial,
budaya, ekonomi, politik, teknologi dan hal lainnya. Sayang sekali masih
banyak yang menganggap Islam hanyalah sebuah kegiatan spiritual semata.
Sehingga tumbuhlah paham Pluralisme yang merusak pemikiran. Puncaknya
kegagalan sistem ekonomi kapitalis barat yang memberatkan banyak pihak
akhirnya mampu membuka mata hati umat manusia bahwa ada kesalahan
dengan sistem yang selama ini mereka yakini. Maka, sejauh apapun manusia
melangkah kejalan yang salah pada akhirnya ia harus kembali menuju jalan
yang lurus, yakni syariat Islam.19
Ekonomi syariah sudah lebih dulu di terapkan di Inggris dengan latar
belakang penduduk non-muslim. Malaysia pun telah melakukannya sehingga
saat ini menjadi pusat perkembangan ekonomi syariah di Asia Tenggara.
Sebagai salah satu penganut agama Islam terbesar di dunia, hal ini merupakan
sebuah cambukan keras bagi Indonesia. Salah satu sektor ekonomi syariah
tidak bisa dianggap remeh adalah peran sosial ekonomi syariah melalu
instrumen penting ialah ZISWAF ( Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf ).
Melalui pengelolaan yang baik dan optimal, instrumen ZISWAF berpotensi

18
Tim El-Madani, Tata Cara Pembagian Waris dan Pengaturan Wakaf, ( Yogyakarta: Medpres
Digital, 2014). hlm 102
19
Journal Economic and Business Of Islam Vol. 2 No. 1 Juni 2017

15
besar untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa, baik didalam aspek
ekonomi maupun sosial.
Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf adalah ibadah yang memiliki dua
dimensi, yaitu merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah
(vertikal) dan sebagai suatu kewajiban yang berhubungan baik terhadap
sesama umat manusia (horizontal). Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf
merupakan salah satu ciri dari sistem ekonomi islam, karena implementasi
azas keadilan dalam sebuah sistem ekonomi Islam.
Menurut M.A Mannan zakat mempunyai enam prinsip. Pertama yakni
prinsip keyakinan keagamaan, maka pembayar zakat merupakan salah satu
manifestasi dari ia yang taat dan yakin kepada agama yang di anutnya. Yang
kedua yakni prinsip pemerataan dan keadilan. Ini merupakan tujuan sosial dari
zakat, yaitu membagi kekayaan dari Allah SWT. lebih adil dan merata kepada
sesama umat manusia. Yang ketiga ialah prinsip produktifitas, yang
menekankan bahwa zakat memang harus dibayar karena milik pihak tertentu
dan telah menghasilkan produk tertentu setelah lewat jangka waktu tertentu.
Prinsip yang kelima ialah prinsip kebebasan yang berarti zakat hanya di bayar
oleh orang yang bebas atau merdeka. Prinsip yang ke enam, terakhir ialah
prinsip etika dan kewajaran yang berarti zakat tidak boleh di pungut secara
sembarangan atau semena-mena atau mungkin disalahgunakan.
Berbeda dengan industri perbankan syariah sebagai unit bisnis,
instrumen ekonomi syariah seperti ZISWAF memiliki peran besar
mewujudkan keadilan ekonomi dan sosial dalam bermasyarakat. ZISWAF
berperan terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat kurang mampu. Peran
tersebut tertuang dalam dalam UUD 1945 pada pasal 34 ayat 1 yang berbunyi
: “ Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. "
Wakaf memiliki peran yang sangat besar dalam menunjang dan
mendukung pembangunan infrastruktur yang di butuhkan masyarakat. Wakaf
sangat sesuai untuk pembangunan sarana-sarana seperti rumah sakit, sekolah,
perpustakaan dan sebagainya. Salah satu implementasi wakaf yang memihak
rakyat ialah Dompet Dhuafa dengan proyek pembangunan rumah sakit dan
sekolah gratis bagi warga miskin. Perlu kita ketahui, selain peran wakaf

16
sebagai sarana ibadah seperti Laznas BSM dengan program wakaf sejuta Al-
Qur'an, wakaf juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dari agama manapun,
karena wakaf mengerti pentingnya rasa tolong-menolong sesama umat
manusia.
Melalui dompet dhuafa pula, dapat dikirimkan bantuan kemanusiaan
misalnya saja sumber dana yanh diperoleh dari dana ZISWAF (Zakat, Infaq,
Shadaqah, Wakaf). Dengan adanya sumber pendanaan tersebut, maka sangat
mungkin jika potensi dana ini dapat digunakan untuk kesejahteraan
masyarakat. Bentuk donasi tersebut dapat terserap dengan baik pada kantong-
kantong humanitas seperti bantuan untuk orang miskin yang makin hari makin
meningkat, bantuan untuk infrastruktur pendidikan, pembangunan
infrastruktur kesehatan yang tentu akan membawa manfaat multi yang tinggi
sehingga menjadi dana yang produktif dan masih banyak lagi kemungkinan
pemanfaatnya. Yang jelas Indonesia masih memiliki kekayaan lain selain
sumber daya alam yang terkenal itu. Sumber daya yang tidak akan mudah
diambil dan di eksploitasi oleh Negara lain. Nama sumber daya itu adalah
kerendahan hati dan sikap dermawan umat melalui Zakat, Infaq, Shadaqah dan
Wakaf.
Melihat betapa besarnya peran sistem ekonomi syariah, sangatlah patut
bahwa pemerintah harus memberikan perhatian khusus, baik dalam bentuk
dukungan kepada sistem ekonomi syariah. Salah satunya dengan meyakinkan
beberapa pihak yang menentang penerapan undang-undang yang berkaitan
dengan ekonomi syariah bahwa ekonomi syariah tidak hanya bermanfaat bagi
umat Islam tetapi juga bermanfaat bagi segenap bangsa Indonesia tanpa
memandang SARA. Sebisa mungkin pemerintah harus turut serta dalam
mempercepat pemberlakuan undang-undang ekonomi syariah tersebut. Hal ini
karena sudah menjadi tugas pemerintah untuk mendorong pertumbuhan serta
perkembangan ekonomi syariah yang saat ini menjadi tuntutan untuk
memperluas keadilan ekonomi dan sosial dalam bermasyarakat.

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Zakat merupakan hak Allah yang dikeluarkan oleh manusia untuk
orang-orang miskin. Dinamakan zakat karena adanya harapan suatu
keberkahan, pensucian jiwa dan pengembangan jiwa dengan berbagai
kebaikan. Infaq mempunyai makna memberikan sebagian harta yang dimiliki
kepada orang yang telah disyariatkan oleh agama untuk memberinya seperti
orang-orang faqir, miskin,anak yatim, kerabat dan lain-lain. Shadaqah
merupakan pemberian suatu benda oleh seseorang kepada orang lain karena
mengharapkan keridhaan dan pahala dari Allah Swt. Dan tidak mengharapkan
suatu imbalan jasa atau penggantian. Wakaf juga dapat diartikan pemberian
harta yang bersifat permanen untuk kepentingan sosial keagamaan seperti
orang yang mewakafkan sebidang tanah untuk dibangunkan masjid atau untuk
dijadikan pemakamam umum.
Diantara ke-empat hal tersebut mengandung hikmah yaitu : Dimensi
spiritual yakni bertambahnya keimanan kepada Allah Swt., terciptanya
masyarakat yang memiliki solidaritas tinggi, sehingga melahirkan kecintaan
dan kepedulian terhadap sesama dan kekeluargaan antar umat akan semakin
tampak, terciptanya masyarakat yang makmur sejahtera.
Macam-macam zakat secara garis besar ada dua macam yaitu zakat
harta benda atau maal dan zakat fitrah. Mengenai zakat maal, maal sendiri
menurut bahasa berarti harta. Jadi, zakat maal yaitu zakat yang harus
dikeluarkan setiap umat muslim terhadap harta yang dimiliki, yang telah
memenuhi syarat, haul, dan nishabnya. Sedangkan zakat fitrah disini berarti
juga zakat badan atau tubuh kita. Setiap menjelang Idul Fitri orang Islam
diwajibkan membayar zakat fitrah sebanyak 3,5 liter dari jenis makanan yang
dikonsumsi sehari-hari.
Harta-harta yang wajib dizakati diantaranya emas dan perak, hasil
tambang dan tanaman jahiliyah,penemuan benda-benda terpendam (rikaz),
barang dagangan, makanan pokok dan buah-buahan, binatang ternak, dan lain
sebagainya.

18
DAFTAR PUSTAKA

Asymuni A Rahman,Tolchah Mansur, dkk, 1986. Ilmu Fikih 3, Jakarta : t.p.


Departemen Agama RI. , 2010, al-Qur'an dan Terjemahan, Bandung: Hilal
Fakhrudin. 2008, Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia, Yogyakarta: UIN
Malang Press
Hasbi Ash-Shiddieqy. 1984. Pedoman Zakat, Jakarta : Bulan Bintang
Hikmah Kurnia dan A Hidayat. 2008, Panduan Pintar Zakat, Jakarta: Kultum
Media
Mardani. 2012. Fiqih Mu’amalah, Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Muhammad Ja'far. 2003, Tuntutan Ibadah Zakat, Puasa dan Haji, Jakarta: Kalam
Mulia
Rois Mahfud. 2011. Al-Islam, Jakarta : Erlangga
Tim El-Madani. 2014, Tata Cara Pembagian Waris dan Pengaturan Wakaf,
Yogyakarta: Medpres Digital
Wawan Shofwan Shalehuddin. 2011, Risalah Zakat, Infaq, dan sedekah,
Bandung: Tafakur
Zeni Lutfiah.2011, Pendidikan Agama Islam, Surakarta: MKU UNS
Zuhdi. 1993. Studi Islam Jilid 3, Jakarta : Raja Grafindo Persada

Jurnal :
Journal Economic and Business Of Islam Vol. 2 No. 1 Juni 2017

19

Anda mungkin juga menyukai