Anda di halaman 1dari 9

ETIKA HUKUM DAN BISNIS

KONSEP PENGANTAR ILMU HUKUM

DOSEN PEMBIMBING : Prof. Herawan Sauni, M.S.

NAMA : DWI NUGRAHA HUTAMA S.T

MANAJEMEN 41

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS BENGKULU
2020
PENGANTAR ILMU HUKUM

1. Sejarah

Pengantar Ilmu Hukum (PIH) merupakan terjemahan dari mata kuliah ‘Inleiding


Tot de Recht Sweetenschap’ yang diberikan di Recht School (RHS) atau Sekolah
Tinggi Hukum Batavia di zaman Hindia Belanda yang didirikan 1924 di Batavia
(Sekarang Jakarta). Istilah itu digunakan sebagai pengganti ‘Enciclopaedie der
Rechtswetenschap’ yaitu suatu istilah yang semula dipergunakan di negeri Belanda.
Sebenarnya istilah itu sendiri merupakan terjemahan dari ‘Enfuhrung In Die
Rechtswissenschaft’, suatu istilah yang dipergunakan di Jerman pada akhir abad 19
dan permulaan abad ke 20.

Istilah itu pun sama dengan yang terdapat dalam Undang-Undang Perguruan
Tinggi Negeri Belanda Hoger Onderwijswet 1920. Di zaman kemerdekaan, yang
pertama kali menggunakan istilah ‘Pengantar Ilmu Hukum’ adalah Perguruan Tinggi
Gajah Mada yang didirikan di Yogyakarta 13 maret 1946. Pengantar Ilmu Hukum (PIH)
kerapkali oleh dunia studi hukum dinamakan ‘Encyclopedia Hukum’, yaitu mata kuliah
dasar yang merupakan pengantar (introduction dan inleiding) dalam mempelajari ilmu
hukum. Dapat pula dikatakan bahwa PIH merupakan dasar untuk pelajaran lebih lanjut
dalam studi hukum yang mempelajari pengertian-pengertian dasar, gambaran dasar
tentang sendi-sendi utama ilmu hukum.

Pengantar ilmu hukum dalam arti luas bermaksud mempelajari dasar-dasar atau
sendi-sendi hukum di dalam mengantarkan orang yang mau belajar hukum yang
sebenarnya. Jadi pengantar ilmu hukum adalah mata kuliah dasar yang bertujuan untuk
memperkenalkan ilmu hukum secara keseluruhan dalam garis besar.

2. Ruang Lingkup Pengantar Ilmu Hukum


Hukum ada sejak masyarakat ada. Dapat dipahami disini bahwa hukum itu
sesungguhnya adalah produk otentik dari masyarakat itu sendiri yang merupakan
kristalisasi dari naluri, perasaan, kesadaran, sikap, perilaku, kebiasaan, adat, nilai, atau
budaya yang hidup di masyarakat. Bagaimana corak dan warna hukum yang
dikehendaki untuk mengatur seluk beluk kehidupan masyarakat yang bersangkutanlah
yang menentukan sendiri. Suatu masyarakat yang menetapkan tata hukumnya bagi
masyarakat itu sendiri dalam berlakunya tata hukum itu artinya artinya tunduk pada tata
hukum hukum itu disebut masyrakat hukum.
a) Hukum Sebagai Norma dan Kaidah
Hukum sebagai kaidah yaitu menempatkan hukum sebagai pedoman yang
mengatur kehidupan dalam bermasyarakat agar tercipta ketentraman dan ketertiban
bersama.
b) Hukum Sebagai Gejala Perilaku Masyarakat
Hukum sebagai suatui keadaan/gejala sosial yang berlaku di masyarakat
sebagai maninfestasi dari pola tingkah laku yang berkembang.
c) Hukum Sebagai Ilmu Pengetahuan

3. Pengertian Hukum dan Unsur-Unsur Hukum

Hampir semua ahli hukum yang memberikan defenisi tentang hukum,


memberikannya berlainan. Ini, setidak-tidaknya untuk sebagian, dapat diterangkan oleh
banyaknya segi dan bentuk, serta kebesaran hukum. Hukum banyak seginya dan
demikian luasnya, sehingga tidak mungkin orang menyatukan dalam suatu rumus
secara memuaskan. Perlu kita ingat bahwa hukum tidak hanya menjelma di pengadilan,
tetapi selalu menjelma pergaulan hidup, dalam tindakan-tindakan manusia. Pergaulan
hidup sebagai masyarakat yang teratur adalah penjelmaan hukum, adalah sesuatu dari
hukum yang terlihat dari luar. Jadi hukum adalah masyarakat itu juga, hidup manusia itu
sendiri, dilihat dari sudut yang tertentu. Yakni sebagai pergaulan hidup yang teratur.
Apabila kita tinjau secara formal, Kita dapat memakai beberapa metode, yaitu metode
monoisme dan metode dualisme, menurut metode menoisme hukum adalah himpunan
kaidah-kaidah atau das sollen ( metode deduktif) juga hukum adalah gejala masyarakat
atau das sein (induktif). Metode dualisme merupakan gabungan antara metode deduktif
dengan metode induktif, maka menurut metode dualisme hukum adalah himpunan
kidah-kaidah yang dianut dan di terima oleh masyarakat atau sebagai gejala masarakat
yang memang adanya diharuskan.
Dalam ilmu hukum terdapat dua pengertian yang penting, yaitu kekuasaan atau
outhority dan kekuatan atau power. Kekuatan adalah paksaan dari badan yang lebih
tinggi kepada seseorang. Kekuatan akan jadi kekuasaan jika tersebut di terima karena
sesuai dengan dengan perasaab hukum orang yang bersangkutan atau badan yang
lebih tinggi itu diakui sebagai penguasa negara yang sah.

Supaya tujuan hukum tercapai, maka hukum harus ditaati dan dipatuhi. Pada
gilirannya supaya harus dipatuhi secara sukarela, hukum harus sesuai dengan rasa
keadilan manusia dalam pergaulan hidup.

Kaidah hukum meliputi beberapa unsur yaitu :

a) Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat


b) Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib
c) Peraturan itu bersifat memaksa
d) Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas

4. Isi kaidah hukum

Ditinjau dari segi isinya kaidah hukum dapat dibagi menjadi tiga :

a) Berisi tentang perintah, artinya kaidah hukum tersebut mau tidak mau harus
dijalankan atau ditaati, misalnya ketentuan syarat sahnya suatu perkawinan, ketentuan
wajib pajak dsb.
b) Berisi larangan, yaitu ketentuan yang menghendaki suatu perbuatan tidak boleh
dilakukan misalnya dilarang mengambil barang milik orang lain, dilarang bersetubuh
dengan wanita yang belum dinikahi secara sah dsb.
c) Berisi perkenan, yaitu ketentuan yang tidak mengandung perintah dan larangan
melainkan suatu pilihan boleh digunakan atau tidak, namun bila digunakan akan
mengikat bagi yang menggunakannya, misalnya mengenai perjanjian perkawinan, pada
waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua belah pihak atas persetujuan
bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat
perkawinan. Ketentuan ini boleh dilakukan boleh juga tidak dilaksanakan.
5. Tujuan Hukum
Tujuan hukum ialah mengatur pergaulan hidup secara damai. Perdamaian di
antara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan-
kepentingan manusia yang tertentu, kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta benda, dsb
terhadap yang merugikan. Karena hukum hanya dapat mencapai tujuan jika menuju
peraturan yang adil, artinya aturan pada mana terdapat keseiombangan antara
kepentingan-kepentingan yang dilindungi. Keadilan tidak boleh dipandang sama arti
dengan persamarataan. Keadilan bukan berarti bahwa tiap-tiap orang memperoleh
bagian yang sama. Aristoteles dua macam keadilan, keadilan distributief” dan keadilan
“commutatief”.
Keadilan distributief ialah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap orang jatah
menurut jasanya. Keadialan comutatief ialah keadilan keadilan yang memberikan pada
setiap orang sama banyaknya dengan tidak melihat jasa-jasa perseorangan. Ada teori
yang mengajarkan bahwa bahwa hukum semata-mata menghedaki keadilan. Jika
hukum semata-mata menghendaki keadilan, jadi semata-mata mempunyai tujuan
memberi tiap-tiap orang apa yang patut diterimanya, maka ia tak dapat membentuk
peraturan umum. Hukum ingin menjamin kebahagian yang terbesar untuk jumlah
manusia yang terbesar. Jadi tujuan hukum adalah tata tertib masarakat yang damai dan
adil.

6. Fungsi Hukum
a) Hukum berfungsi sebagai alat ketertiban dan keteraturan masyarakat. Hukum
sbg petunjuk bertingkah laku untuk itu masyarakat harus menyadari adanya perintah
dan larangan dalam hukum sehingga fungsi hukum sebagai alat ketertiban masyarakat
dapat direalisir.
b) Hukum sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir batin. Hukum yg
bersifat mengikat, memaksa dan dipaksakan oleh alat negara yang berwenang
membuat orang takut untuk melakukan pelanggaran karena ada ancaman hukumanya
(penjara, dll) dan dapat diterapkan kepada siapa saja. Dengan demikian keadilan akan
tercapai.
c) Hukum berfungsi sebagai alat penggerak pembangunan karena ia mempunyai
daya mengikat dan memaksa dapat dimanfaatkan sebagai alat otoritas untuk
mengarahkan masyarakat ke arah yg maju.
d) Hukum berfungsi sebagai alat kritik. Fungsi ini berarti bahwa hukum tidak hanya
mengawasi masyarakat semata-mata tetapi berperan juga untuk mengawasi pejabat
pemerintah, para penegak hukum, maupun aparatur pengawasan sendiri. Dengan
demikian semuanya harus bertingkah laku menurut ketentuan yg berlaku dan
masyarakt pun akan merasakan keadilan.
e) Hukum berfungsi sebagai sarana untuk menyelesaikan pertingkaian. Contoh
kasus tanah.

7. SUMBER-SUMBER HUKUM DAN METODE PENAFSIRAN HUKUM


Sumber hukum dapat dibedakan dalam:

1. Sumber hukum yang historis yaitu stelsel-stelsel di masa lampau, yang turut


serta dalam membentuk hukum yang berlaku hukum yang sekarang, seperti: i) Code
Civil untuk pembuatan Kitab Undang-Undang Hukum Sipil (ii) Dokumen-dokumen,
surat-surat dan keterangan lain yang memungkinkan untuk mengetahui hukum yang
berlaku pada masa tertentu, bukan sumber hukum dalam arti sesungguhnya, tetapi
bahan untuk mengetahi hukum.
2. Sumber hukum yang filosofis, yaitu asas atau dasar mengapa hukum itu dipatuhi
dan mempunyai kekuatan mengikat dan daya manusia yang menghasilkan hukum itu.
Menurut Hogu de groot, terdiri dari: i) Akal manusia (ii) Tuhan Yang Maha Esa
3. Sumber hukum materil yaitu faktor-faktor yang mentukan isii hukum,dalam hal ini
isi hukum ditentukan oleh “ faktor idill, dan Faktor kemasarakatan. Faktor idil adalah
pedoman yang tetap dan harus diikuti oleh pembentuk undang-undang atau badan
negara lainnya dalam melakukan tugasnya, yaitu keadilan dan kesejahteraan
masyarakat.
4. Sumber hukum formal yaitu bentuk nyata hukum yang berlaku. Sumber-sumber
hukum formil dari hukum fositif, antara lain:
 Undang-undang, termasuk UUD
 Kebiasaan
 Perjanjian, perjanjian antar negara maupun perjanjian antar warga masarakat
 Keputusan hakim (yurisprudensi)
 Pendapat ahli hukum yang terkemuka ( doktrin )

Undang-Undang

Undang-undang adalah suatu peraturan hukum yang di susun dan ditetapkan


oleh negara berlaku bagi masarakat hukum yang bersangkutan.Undang undang dapat
dibedakan kedalam dua macam yaitu undang-undang dalam arti pormil dan undag-
undang dalam arti materil.Undang-undang dalam arti materil di sebut juga undang-
undang dalam arti luas, sedangkan undang-undang dalam arti formil di sebut juga
undang-undang dalam arti sempit.

Undang-undang dalam arti formil adalah setiap keputusan pemerintah ang


merupakan undang-undang karena cara pembuatannya ( misalnya di buat oleh
pemerintah bersama parlementer), sementara Undang-undang dalam arti materil
adalah setiap keputusan pemerintah yang menurut isinya mengikat langsung setiap
penduduk.

Sumber Hukum dari Kebiasaan

Kebiasaan adalah suatu tata cara hidup yang di anut oleh suatu masarakat atau
suatu negara pada waktu yang lama pada hakekatnya memberikan pedoman bagi
masarakat atau bangsa yang bersangkutan untuk berfikir dan bersikaf tindak dalam
menghadapi berbagai hal dalam kehidupannya.

Sumber Hukum dari Keputusan Hakim

Yurisprudensi berasal dari kata “Jurisprudentia”(bahasa Latin) yang berarti


pengetahuan hukum (Rachtsgeleerdheid) Yurisfrudensi sebagai istilah teknis Indonesia
sama artinya dengan “Juresprudence”( dalam bahasa prancis ) dan
“jurisprudentie”( dalam bahasa Belanda).Istilah “Jurisprudence” dalam bahasa Inggris
berarti teori ilmu hukum (Algemene rechtsleer, General theory of law) untuk pengertian
yurisprudensi disebut istilah case law atau judge-made law. Kata yurisfrudenz (bahasa
Jerman) berarti ilmu hukum dalam arti sempit, untuk pengertian yurisfrudenci disebut
kata Ueberlieferung. 

8. Kesimpulan
Pikiran anggapan tentang adil dan tidak adilnya mengenai hubungan antar
manusia. Apabila kita tinjau secara Formal, kita dapat memakai beberapa metode ,
yaitu metode monoisme dan metode dualiesme. Menurut metode monoisme, maka
hukum adalah himpunan kaidah-kaidah atau dassolen juga hukum adalah gejala
masarakat atau dassein. Metode dualisme adalah merupakan gabungan dari metode
deduktif dan induktif. Hukum dalam arti materil mengimplikasikan beberapa pendapat.
Kaitannya dengan pengertian hukum, maka Zenseimer dalam bukuknya rechtsociologis
membedakan hukum normatif, ideal dan hukum wajar. Selanjutnya hukum mempunyai
sumber yang mana sumber hukum ini didefinisikan segala sesuatu yang dapat
menimbulkan aturan hukum yaitu aturan-aturan yang mempunyai kekuasaan hukum
yang bersifat memaksa dan mempertahankan dengan sanksi. Sumber hukum dapat di
bedakan dalam:
1) Sumber hukum historis seperti code civil untuk pembuatan kitab undang-undang
hukum sipil, dokumen-dokumen surat dan keterangan lain yang memungkinkan
untuk mengetahui hukum yang berlaku pada masa tertentu.
2) Sumber hukum yang filosofis,yang terdiri dari, akal manusia, tuhan yang maha
esa.

Sumber hukum yang dipakai di Indonesia yaitu sumber hukum formal dari hukum
positif yang mencakup:
1) Undang-undang, termasuk undang-undang dasar
2) Kebiasaan
3) Traktat
4) Yurisfrudensi
5) Doktrin
Di dunia ada dua kelompok besar yang menjadi sistem hukum yaitu sistem
hukum kontinental dan sumber hukum anglosaxon. Menurut. Otje Selman, S.H pokok-
pokok persoalan yang ada, dalam sistem hukum adalah:
1) Unsur sistem hukum yang meliputi: hukum undang-undang, hukum kebiasaan,
hukum yurisprudensi, hukum traktat,hukum ilmiah.
2) Pembidangan sistem hukum yaitu ius constitum, ius constituendum
3) Pengertian dasar dalam sistem hukum: masyarakat hukum, subjek hukum, hak
dan kewajiban peristiwa hukum.

Lembaga-lembaga hukum yang di Indonesia :

1) Kepolisian
2) Kejaksaan
3) Kehakiman
4) Rumah Tahanan Negara
5) Lembaga Pemasarakatan
6) Lembaga Bantuan Hukum