Anda di halaman 1dari 21

Wednesday, June 13, 2007

PRE-EKLAMSI
PRE-EKLAMSI

1.1 PENDAHULUAN

Dalam pelayanan obstetri, selain Angka Kematian Materal (AKM) terdapat Angka Kematian Perinatal
(AKP) yang dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan pelayanan. Namun, keberhasilan
menurunkan AKM di negara-negara maju saat ini menganggap AKP merupakan parameter yang lebih
baik dan lebih peka untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan. Hal ini mengingat kesehatan dan
keselamatan janin dalam rahim sangat tergantung pada keadaan serta kesempurnaan bekerjanya sistem
dalam tubuh ibu, yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil konsepsi dari mudigah menjadi janin
cukup bulan. Salah satu penyebab kematian perinatal adalah preeklamsia (PE) dan eklamsia (E).

kematian ibu (AKI) dan anak1,6.

Perlu ditekankan bahwa sindroma preeklampsia ringan dengan hipertensi, edema, dan proteinuri sering
tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan. Tanpa disadari, dalam waktu
singkat dapat timbul preeklampsia berat, bahkan eklampsia. Dengan pengetahuan ini, menjadi jelas
bahwa pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda-tanda preeklampsia, sangat
penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping pengendalian terhadap
faktor-faktor predisposisi yang lain1.

1.2 PENGERTIAN PRE-EKLAMSI

PRE - E adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan. Definisi
preeklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20
minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit
trofoblastik. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada penderita preeklampsia yang disusul dengan koma.
Kejang di sini bukan akibat kelainan neurologis2,3,4. PE - E hampir secara ekslusif merupakan penyakit
pada nullipara. Biasanya terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem, yaitu pada remaja
belasan tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya
dijumpai pada keadaan-keadaan berikut2:

1. Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis


2. Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus
3. Penyakit ginjal.

1.3 Etiologi

Sampai saat ini, etiologi pasti dari preeklampsi/eklampsi belum diketahui. Ada beberapa teori mencoba
menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai
the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain:

1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan5

Pada PE - E didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadi penurunan produksi
prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan
fibrinolisis, yang kemudian akan diganti dengan trombin dan plasmin. Trombin akan
mengkonsumsi antitrombin III sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan
pelepasan tromboksan (TxA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan
endotel.

2. Peran Faktor Imuunologis5

Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan
berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking
antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan
berikutnya.

Fierlie F.M. (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada
penderita PE - E:

a. Beberapa wanita dengan PE - E mempunyai kompleks imun dalam serum.


b. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada PE - E diikuti
dengan proteinuri.

Stirat (1986) menyimpulkan, meskipun ada beberapa pendapat menyebutkan bahwa sistem imun
humeral dan aktivasi komplemen terjadi pada PE - E, tetapi tidak ada bukti bahwa sistem
imunologi bisa menyebabkan PE - E.

3. Peran Faktor Genetik/familial4,5

Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE - E antara lain:

a. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.


b. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekuensi PE - E pada anak-anak dari ibu
yang menderita PE - E.
c. Kecenderungan meningkatnya frekuensi PE - E pada anak dan cucu ibu hamil dengan
riwayat PE - E dan bukan pada ipar mereka.
d. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)

Kriteria Diagnosa
Preeklamsia Berat (PEB)

Diagnosa PEB ditegakkan apabila pada kehamilan > 20 minggu didapatkan satu/lebih gejala/tanda di
bawah ini:

1. Tekanan darah > 160/110. Syarat: (a) Bumil Ibbu hamil) dalam keadaan relaksasi (pengukuran T
minimal setelah istirahat 10 menit); dan (b) Bumil tidak dalam keadaan his.
2. Proteinuria > 5 gr/24 jam atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif.
3. Oliguria, produksi urine <>
4. Gangguan visus dan serebral.
5. Nyeri epigastrum/hipokondrium kanan.
6. Edema paru dan sianosis.
7. Gangguan pertumbuhan janin intrauteri.
8. Adanya Hellp Syndrome (Hemolysis, Elevated liver enzyme, Low Platelet count).
Metode

Penelitian ini merupakan penelitian retrospectif pada ibu hamil dengan komplikasi preeklamsi-eklamsi
yang dirawat dan melahirkan di RSU Tarakan. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh penderita
preeklamsi-eklamsi yang memenuhi syarat penelitian, dirawat, dan melahirkan antara 1 Januari 1996
sampai 31 Desember 1998 di RSU Tarakan.

Kriteria inklusi: (a) Ibu hamil dengan komplikasi preeklampsia dan eklampsia; (b) Melahirkan janin
tunggal, letak kepala, baik hidup maupun mati, dengan proteinuria, umur kehamilan sama dengan atau
lebih tua dari 28 minggu. Sedangkan kriteria ekslusi: (a) Kasus ibu hamil dengan preeklamsia-eklamsia
tidak melahirkan di RSU Tarakan; (b) Kasus ibu hamil dengan preeklamsia-eklamsia dengan data tidak
lengkap sesuai karakteristik penderita; (c) Ibu dengan penyakit Diabetes mellitus, jantung, ginjal, hati,
anemia, kelainan trombosit (trombositopeni idiopatik purpura), SLE, infeksi, hipertensi sebelumnya, dan
kelainan neurologi; seerta (d) Bayi yang lahir dengan kelainan kongenital mayor.

Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan catatan medik rawat inap penderita PE - E
dengan umur kehamilan ≥ 28 minggu, yang dirawat dan melahirkan di RSU Tarakan dari 1 Januari 1996
sampai 31 Desember 1998.

Penderita PE - E yang memenuhi syarat penelitian dikelompokkan berdasarkan variabel-variabel yang


diamati, yaitu usia ibu hamil, pendidikan, frekuensi memeriksakan kehamilannya, usia kehamilan saat
diagnosis ditegakkan, status kehamilan, tekanan darah sistolik dan diastolik, cara persalinan, ada
tidaknya kematian perinatal, serta komplikasi yang ditemukan. Data yang didapat kemudian
ditabulasikan. Dari data-data tersebut, dibuat kesimpulan mengenai karakteristik penderita PE - E di RSU
Tarakan, KalTim.

Batasan operasional yang dipergunakan dalam penelitian ini:

Preeklamsia adalah hipertensi akibat kehamilan dengan proteinuria dan atau edema yang terjadi pada
kehamiian setelah umur 20 minggu, bersalin, atau nifas, menyertai preeklamsia dan bukan karena
kelainan neurologik.

Hipertensi adalah bila didapatkan tekanan darah > 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan diastolik >15
mmHg dan atau sistolik > 30 mmHg dalam kehamilan.

Proteinuri adalah adanya protein dalam urin dengan pemeriksaan secara kualitatif maupun kuantitatif.

Edema adalah adanya timbunan cairan bebas secara menyeluruh. Dikatakan piting edema jika terdapat
edema pada tungkai bawah dan dikatakan generalisata jika didapat kenaikan BB ibu melebihi 0,5
kg/minggu, 2 kg/bln, atau 13 kg selama kehamilan.

Umur kehamilan dihitung dalam minggu lengkap, mulai hari pertama haid terakhir.

Data laboratorium dan tekanan darah yang dinilai dalam penelitian adalah data pertama pada saat
penderita dirawat di RSU Tarakan sebelum mendapat pengobatan.

Kematian perinatal adalah jumlah bayi mati ditambah kematian neonatal dini. Bayi lahir mati (BLM)
adalah bayi yang lahir dalam keadaan meninggal yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau
lebih, atau BB lahir 1000 gram atau lebih.

Kematian neonatal dini (KND) adalah kematian bayi yang lahir hidup yang kemudian meninggal dalam 7
hari pertama setelah persalinan. Karena tidak dilakukan pengamatan lanjut selama 7 hari maka penelitian
terbatas sampai pada bayi pulang dan RS.
.

Pembahasan

Seperti telah diketahui ahwa preeklampsia-eklampsia merupakan salah satu penyebab kematian ibu
terbanyak di negara-negara berkembang, di samping perdarahan dan infeksi. Menurut Wibowo. H, (1993)
RSUP Karyadi mendapatkan angka kejadian PE - E sebesar 2,85% sedangkan Soejoenoes A. (1983)
dari 12 Rumah Sakit rujukan di Indonesia mendapatkan angka 5,2%. Dalam penelitian ini, didapatkan
angka kejadian sebesar 3,26% dari 3370 persalinan.

Distribusi kejadian preeklampsi-eklampsi berdasarkan umur, menurut beberapa referensi banyak


ditemukan pada kelompok usia ibu yang ekstrim, yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun.
Dalam penelitian ini, kejadian terbanyak didapatkan pada kelompok usia 20--35 tahun (76,27%). Hasil ini
sesuai dengan apa yang didapatkan oleh Hadi S. (1997) di RSHS Bandung dan Siregar MF. (1997) di RS
Pirngadi. Sedangkan Wibowo H. (1993) mendapatkan kejadian preeklampsia-eklampsi terbanyak pada
kelompok umur di atas 35 tahun (58,3%), di mana status multigravida lebih dominan pada penelitian ini
(54,24%). Dalam penelitian ini, kejadian Dr. Pirngadi Medan mendapatkan AKP sebesar 9,55 permil.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa profil penderita preeklampsia-eklampsia di RSU Tarakan
Kalimantan Timur adalah sebagai berikut:

1. Angka kejadian preeklampsia-eklampsia di RSU Tarakan 3,26%.


2. Kelompok usia terbanyak penderita adalah antara 20--35 tahun.
3. Status pendidikan penderita dari SD s.d. PT 79,7%
4. Tingkat kunjungan ANC penderita ≥ 4 kali selama hamil 54,8%.
5. Usia kehamilan penderita saat diagnosis ditegakkan 86,44% pada usia 37--42 minggu.
6. Status gravida penderita terbanyak adalah multigravida, yaitu 54,24%.
7. Tekanan darah penderita terbanyak sistolik > 160 mmHg (66,1%), diastolik ≤ 110 mmHg
(57,63%).
8. Cara persalinan terbanyak yang dilakukan adalah pervaginam ()
9. Komplikasi terbanyak yang didapatkan: BBLR (), IUFD (), asfiksia neonatorum (), perdarahan
pasca persalinan (), kematian neonatal dini (), dan gangguan visus, serta kematian ibu dan
solutio plasenta masing-masing ().
10. Angka kematian perinatal sebesar 2,67.

Daftar Pustaka

1. Reeder, Mastroianni, Martin, Fitzpatrik. Maternity Nursing. 13rd edition. Philadelpia : J.B.
Lippincott Company, 1976; 23:463-472.
2. Pritchard JA.MD, MacDonald PC.MD, Gant NF MD. William Obstetrics. Penerjemah: Hariadi R.
Prof. Dr, dkk. Surabaya: Airlangga University Press, 1997 ; 27 : 609-646.
3. Wiknjosastro Hanifa, DSOG., Prof. dr., dkk. Ilmu Kebidanan. Ed. Ketiga. Cetakan Keempat.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohaijo, 1997; 24 : 281-301.
4. Ansar Dikman M., Simanjuntak P., Handaya, Sjahid Sofyan. Panduan Pengelolaan Hipertensi
dalam Kehamilan di Indonesia. Satgas Gestosis POGI, Ujung Pandang, 1985 ; C : 12-20.
5. Wibisono Bambang dr. Kematian Perinatal pada Preeklampsia - Eklampsia. FK. Undip
Semarang, 1997:6-12.
6. Manuaba Gde 1. B., Prof. dr. Penuntun Diskusi Obstetri dan Ginekologi untuk Mahasiswa
Kedokteran. Jakarta, EGC, 1995 : 25-30.
7. Briggs G. Gerald B. Pharm, Freeman K. Roger M.D, Yafie J. Sumner M.D, Drugs in Pregnancy
and Lactation. 4th Ed. Maryland: Williams & Wilkins, 1994 : 66a.

Kamis, 04 Maret 2010


STUDY KASUS ANC

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pembangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan. Visi Indonesia Sehat
2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui
pembangunan kesehatan yakni masyarakat bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya
hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 1999)
Dalam sistem kesehatan nasional dinyatakan bahwa tujuan pembangunan kesehatan nasional
adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi semua penduduk agar dapat mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan
nasional. Termasuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat untuk pembangunan manusia
yang berkualitas.
Tujuan utama setiap kehamilan agar berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna dan ibu yang
sehat. Tetapi dalam kenyataan hal ini selalu berjalan dengan tidak lancar, seringkali proses
pengembangan janin intrauterine mendapat gangguan, yang mana gangguan tersebut dapat
terjadi pada setiap tahap, tergantung pada tahap dimana gangguan itu terjadi, maka hasil
kehamilannya dapat abortus, prematur, atau cacat bawaan.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak semata-mata berada di tangan pemerintah melainkan
tanggung jawab bersama dari setiap individu dan masyarakat. Karena apapun peran yang
dimainkan oleh pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri
menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dicapai.
Salah satu fenomena utama yang mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan
pembangunan kesehatan adalah masih rendahnya upaya dan derajat kesehatan yang ditandai
dengan angka kematian ibu yang masih tinggi. Dewasa ini derajat kesehatan ibu masih rawan ini
ditandai dengan tingginya dan lambatnya penurunan angka kematian ibu yaitu sebesar
337/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1991) menjadi 421/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1992).
Berdasarkan data internet bahwa tingginya angka kematian ibu sesuai data survey demografi dan
kesehatan Indonesia (SDKI) 2003 yakni 307/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih
lebih tinggi 3 – 6 kali dibanding di negara-negara Asean lainnya atau 80 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan negara maju (http//www.Depkes.90id/index.php?
option:news&task=viewarticle&sid=445 itemid = 2 diakses 25 September 2005, pukul 20.00
Wita)
Di Indonesia ada 3 penyebab kematian ibu yaitu perdarahan sekitar antara 40% sampai 60% dari
total angka kematian ibu hamil pre eklampsia/eklampsia 20 – 30% dan infeksi jalan lahir 20 –
30% (http.//orienta.co.id/kesehatan/beritasehat/ detail.php?id=2125) diakses 25 September pukul
19.55 Wita).
Diharapkan angka kematian ibu dapat diturunkan dari 307/100.000 kelahiran hidup menjadi
150/100.000 kelahiran hidup di tahun 2010 (Depkes RI. 2004)
Frekwensi kejadian preeklampsia dilaporkan sekitar 3 – 10% dari kehamilan (Mochtar Rustam,
1998 hal. 201)
Di Sulawesi Selatan dilaporkan jumlah kematian ibu maternal di tahun 2003 September 184
orang diantaranya ibu hamil 53 orang, ibu bersalin 75 orang dan ibu nifas 56 orang (Dinkes
Propinsi Sulawesi Selatan, 2004 Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2003).
Sesuai data yang kami peroleh di RSIA Sitti Fatima Makassar berdasarkan data periode 1 Januari
– 31 Oktober 2004 terdapat 49 ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia dari 3.210 ibu hamil
yang memeriksakan diri diantaranya 29 ibu hamil yang didiagnosis bereklampsia ringan dan 20
ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia berat sedangkan yang didiagnosis eklampsia terdapat 4
ibu hamil.
Upaya pemerintah dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah pergerakan Tim
Dati II, pengembangan daerah binaan intensif Dati II, penerapan penjagaan mutu pelayanan KIA,
peningkatan KIA yang terkait langsung dengan upaya pencegahan kesakitan dan kematian ibu
serta upaya promotif untuk berbagai kelompok sasaran dan pemantapan peran serta masyarakat.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa penyebab langsung kematian ibu dapat dideteksi dan
dicegah pada masa kehamilan yakni dengan pelaksanaan asuhan kehamilan atau biasanya
dikenal Antenatal Care.
Pembahasan kasus pre eklampsia ringan pada karya tulis ini dilatar belakangi pada kejadian pre
eklampsia ringan sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan
sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul pre eklampsia berat bahkan eklampsia.
Oleh sebab itu penulis terdorong untuk menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Kebidanan
khususnya pada preeklampsia ringan yang diuraikan 7 step di RSIA Sitti Fatima Makassar.
Dengan penerapan Manajemen Asuhan Kebidanan yang adekuat teratur diharapkan dapat
mendeteksi lebih dini keadaan-keadaan yang tergolong resiko kehamilan atau persalinan baik
terhadap ibu maupun janin sehingga setiap kehamilan yang diinginkan pada akhirnya lahir
seorang bayi yang sehat tanpa mengganggu kesehatan ibunya.
Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas kasus yang tertuang dalam
kasus yang berjudul Manajemen Asuhan Kebidanan dengan Kasus Pre Eklampsia Ringan di
RSIA Sitti Fatima Makassar.
B.     Ruang Lingkup Pembahasan
Adapun yang menjadi ruang lingkup pembahasan penulisan makalah ini adalah Manajemen
Kebidanan Ante Natal Care pada Ny. N dengan kasus preklampsia ringan di RSIA Sitti Fatima
Makassar yang dilakukan selama tujuh hari yaitu mulai tanggal 22 – 9 – 2002 sampai tanggal 29
– 9 – 2002.
C.    Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Mampu melaksanakan Manajemen Asuhan Kebidanan pada kasus preeklampsia ringan sesuai
wewenang bidan.
2.      Tujuan Khusus :

 Dapat melaksanakan pengkajian pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus


preeklampsia ringan.
 Dapat melaksanakan identifikasi diagnosa/masalah pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg
dengan kasus preeklampsia ringan.
 Dapat melaksanakan identifikasi diagnosa/masalah potensial pada Ny. N kehamilan 38 –
40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
 Dapat melaksanakan identifikasi perlunya tindakan segera, konsultasi dan kolaborasi
pada Ny. N dengan kasus pre eklampsia ringan.
 Dapat menyusun rencana tindakan pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus
preeklampsia ringan.
 Dapat melaksanakan implementasi secara langsung rencana tindakan asuhan pada Ny. N
kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
 Melaksanakan evaluasi efektivitas asuhan yang akan dicapai pada Ny. N kehamilan 38 –
40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
 Membuat dokumentasi pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia
ringan.

D.    Manfaat Penulisan

1. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Diploma Tiga
Kebidanan pada Akademi Kebidanan Depkes Makassar.
2. Bagi institusi merupakan masukan tentang penerapan manajemen kebidanan dengan
kasus preeklampsia ringan.
3. Dapat meningkatkan kualitas pelayanan klien di RSIA Sitti Fatima Makassar dalam
penerapan manajemen kebidanan dengan kasus preeklampsia ringan.
4. Meningkatkan keterampilan penulis dalam melakukan manajemen kebidanan pada kasus
preeklampsia ringan.

E.     Metode Penulisan


1.      Studi Kepustakaan
Dalam metode ini penulis membaca dan mempelajari buku-buku, literatur-literatur yang
berkaitan dengan preeklampsia.
2.      Studi Kasus
Melalui asuhan kebidanan pada ibu yang berkunjung di RSIA Siti Fatima yaitu terdiri dari tujuh
langkah sebagai berikut : kajian dan analisa data, diagnosa masalah aktual, diagnosa masalah
potensial, identifikasi tindakan segera, rencana tindakan, implementasi dan evaluasi dari asuhan
yang diberikan terhadap ibu. Untuk menghimpun data/informasi dalam pengkajian digunakan
cara : pemeriksaan fisik secara sistematis pada ibu mulai dari inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi, dan pemeriksaan laboratorium.
3.      Studi Dokumentasi
Dalam manajemen kebidanan dengan kasus pre eklampsia ringan, penulis membaca dan
mempelajari status yang berhubungan dengan keadaan klien baik bersumber dari bidan, dokter,
maupun pemeriksaan penunjang lainnya.
4.      Diskusi
Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab dan diskusi dengan klien, bidan, dokter asisten
Obgyn, pembimbing karya tulis dan rekan-rekan seprofesi lainnya.
F.     Sistimatika Penulisan
Sistimatika penulisan dari karya tulis ini adalah :
BAB I           PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Ruang Lingkup Pembahasan
3. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
3. Manfaat Penulisan
4. Metode Penulisan
5. Sistematika Penulisan

BAB II          TINJAUAN PUSTAKA

1. Dasar Teori Antenatal Care


2. Pengertian Antenatal Care
3. Tujuan Antenatal Care
4. Pemeriksaan Ibu Hamil
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan
3. Diagnosis
4. Pemeriksaan kehamilan ulangan
5. Penanganan Kehamilan
1. Dasar Teori Pre Eklampsia
1. Pengertian Pre Eklampsia
2. Etiologi Pre Eklampsia
3. Patofisiologi Pre Eklampsia
4. Gambaran Klinik Pre Eklampsia
5. Diagnosis Pre Eklampsia
6. Pencegahan Pre Eklampsia
7. Penanganan Pre Eklampsia Ringan
6. Dasar Teori Manajemen Kebidanan
1. Pengertian Proses Manajemen Kebidanan
2. Proses Manajemen Kebidanan
1. Step I          Pengumpulan Data
2. Step II         Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
3. Step III       Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
4. Step IV       Menilai perlunya tindakan segera, konsultasi dan
kolaborasi
5. Step V         Pengembangan rencana asuhan
6. Step VI       Mengimplementasikan langsung rencana asuhan
7. Step VII      Evaluasi efektivitas asuhan kebidanan
3. Jenis Pendokumentasian Manajemen Kebidanan

BAB III        STUDI KASUS


BAB IV        PEMBAHASAN
BAB V          KESIMPULAN DAN SARAN
LAMPIRAN DAN DAFTAR PUSTAKA
Diposkan oleh Betew di 04.36 0 komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langgan: Entri (Atom)

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL


PADA NY. N KEHAMILAN 38 – 40 MINGGU DENGAN
PRE EKLAMPSIA RINGAN DI RSIA SITTI FATIMA
TANGGAL 04 – 11 APRIL 2005
Posted: September 24, 2009 by syekhu in Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
Tag:antenatal, kebidanan, pre eklampsia

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pembangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan. Visi Indonesia Sehat
2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui
pembangunan kesehatan yakni masyarakat bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya
hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 1999)

Dalam sistem kesehatan nasional dinyatakan bahwa tujuan pembangunan kesehatan nasional
adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi semua penduduk agar dapat mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan
nasional. Termasuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat untuk pembangunan manusia
yang berkualitas.

Tujuan utama setiap kehamilan agar berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna dan ibu yang
sehat. Tetapi dalam kenyataan hal ini selalu berjalan dengan tidak lancar, seringkali proses
pengembangan janin intrauterine mendapat gangguan, yang mana gangguan tersebut dapat
terjadi pada setiap tahap, tergantung pada tahap dimana gangguan itu terjadi, maka hasil
kehamilannya dapat abortus, prematur, atau cacat bawaan.

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak semata-mata berada di tangan pemerintah melainkan


tanggung jawab bersama dari setiap individu dan masyarakat. Karena apapun peran yang
dimainkan oleh pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri
menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dicapai.

Salah satu fenomena utama yang mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan
pembangunan kesehatan adalah masih rendahnya upaya dan derajat kesehatan yang ditandai
dengan angka kematian ibu yang masih tinggi. Dewasa ini derajat kesehatan ibu masih rawan ini
ditandai dengan tingginya dan lambatnya penurunan angka kematian ibu yaitu sebesar
337/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1991) menjadi 421/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1992).
Berdasarkan data internet bahwa tingginya angka kematian ibu sesuai data survey demografi dan
kesehatan Indonesia (SDKI) 2003 yakni 307/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih
lebih tinggi 3 – 6 kali dibanding di negara-negara Asean lainnya atau 80 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan negara maju (http//www.Depkes.90id/index.php?
option:news&task=viewarticle&sid=445 itemid = 2 diakses 25 September 2005, pukul 20.00
Wita)

Di Indonesia ada 3 penyebab kematian ibu yaitu perdarahan sekitar antara 40% sampai 60% dari
total angka kematian ibu hamil pre eklampsia/eklampsia 20 – 30% dan infeksi jalan lahir 20 –
30% (http.//orienta.co.id/kesehatan/beritasehat/ detail.php?id=2125) diakses 25 September pukul
19.55 Wita).

Diharapkan angka kematian ibu dapat diturunkan dari 307/100.000 kelahiran hidup menjadi
150/100.000 kelahiran hidup di tahun 2010 (Depkes RI. 2004)

Frekwensi kejadian preeklampsia dilaporkan sekitar 3 – 10% dari kehamilan (Mochtar Rustam,
1998 hal. 201)

Di Sulawesi Selatan dilaporkan jumlah kematian ibu maternal di tahun 2003 September 184
orang diantaranya ibu hamil 53 orang, ibu bersalin 75 orang dan ibu nifas 56 orang (Dinkes
Propinsi Sulawesi Selatan, 2004 Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2003).

Sesuai data yang kami peroleh di RSIA Sitti Fatima Makassar berdasarkan data periode 1 Januari
– 31 Oktober 2004 terdapat 49 ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia dari 3.210 ibu hamil
yang memeriksakan diri diantaranya 29 ibu hamil yang didiagnosis bereklampsia ringan dan 20
ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia berat sedangkan yang didiagnosis eklampsia terdapat 4
ibu hamil.

Upaya pemerintah dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah pergerakan Tim
Dati II, pengembangan daerah binaan intensif Dati II, penerapan penjagaan mutu pelayanan KIA,
peningkatan KIA yang terkait langsung dengan upaya pencegahan kesakitan dan kematian ibu
serta upaya promotif untuk berbagai kelompok sasaran dan pemantapan peran serta masyarakat.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa penyebab langsung kematian ibu dapat dideteksi dan
dicegah pada masa kehamilan yakni dengan pelaksanaan asuhan kehamilan atau biasanya
dikenal Antenatal Care.

Pembahasan kasus pre eklampsia ringan pada karya tulis ini dilatar belakangi pada kejadian pre
eklampsia ringan sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan
sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul pre eklampsia berat bahkan eklampsia.
Oleh sebab itu penulis terdorong untuk menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Kebidanan
khususnya pada preeklampsia ringan yang diuraikan 7 step di RSIA Sitti Fatima Makassar.

Dengan penerapan Manajemen Asuhan Kebidanan yang adekuat teratur diharapkan dapat
mendeteksi lebih dini keadaan-keadaan yang tergolong resiko kehamilan atau persalinan baik
terhadap ibu maupun janin sehingga setiap kehamilan yang diinginkan pada akhirnya lahir
seorang bayi yang sehat tanpa mengganggu kesehatan ibunya.

Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas kasus yang tertuang dalam
kasus yang berjudul Manajemen Asuhan Kebidanan dengan Kasus Pre Eklampsia Ringan di
RSIA Sitti Fatima Makassar.

Pre-Eklampsia
Selasa, 23 Desember 2008 22:46 | Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 23 Desember 2008 22:46 |

Ditulis oleh Administrator | | |


Pre-eklampsia berhubungan dengan gen orang tua

Oleh: MML

Medical

Kalbe.co.id - Gen dari ayah dan ibu dapat memicu terjadinya gangguan pre-eklampsia pada kehamilan,
kesimpulan dari hasil suatu penelitian.

Peneliti dari Universitas Bergen di Norwegia mendapatkan anak perempuan yang lahir dari wanita yang
menderita pre-eklampsi mengalami lebih dari dua kali berisiko menderita kelainan dibandingkan yang
lainnya.

Laki-laki yang lahir dari ibu yang mengalami pre-eklampsia juga memiliki peningkatan risiko menurunkan
preeklampsi pada anaknya kelak.

Namun para ahli tetap menekankan faktor penyebab lain dari pre-eklampsia, yaitu usia kehamilan ibu
diatas 40 tahun, dan obesitas, berperan penting.

Pre-eklampsi menyebabkan gangguan fatal pada plasenta, sehingga nutrisi dan oksigen yang digunakan
untuk mengirim makanan kepada bayi terganggu, dapat menyebabkan kematian dari janin, selain itu
tekanan darah yang tinggi akan mempengaruhi ginjalnya.

Satu atau lebih dari 10 wanita hamil dapat menyebabkan pre-eklampsia, dan memiliki potensial
mematikan sebanyak 5 wanita hamil dan lebih dari 600 bayi setiap tahunnya di UK.

Para peneliti sampai saat ini tidak benar-benar mengerti penyebabnya, walaupun diketahui penyebabnya
adalah karena ada riwayat keluarga, usia diatas 40 tahun, dan kehamilan pertama kali.

Hasil penelitian yang dipubikasikan pada Jurnal British Medical, menyelidiki 238,617 wanita dan 158,340
laki-laki yang berisiko menurunkan kejadian pre-eklampsia.
Mereka mendapatkan wanita memiliki peningkatan 2,2 berisiko mengalami kehamilan dengan pre-
eklampsi dan laki-laki membawa risiko pre-eklampsi 1,5 kali.

Profersor Rolv Skjaerven mengatakan, hasil penelitian ini mendukung teori bahwa gen dari ayah dan ibu
mempengaruhi terjadinya pre-eklampsi.

Risiko yang dipengaruhi oleh ibu lebih tinggi sebab mereka membawa gen yang rentan dari ibunya dan
juga mengirimkan gen dari dirinya sendiri untuk dikirim kepada anaknya yang belum lahir.

Risiko yang diturunkan dari ayah lebih rendah sebab hanya gen yang diturunkan dari dirinya yang akan
dikirimkan kepada anaknya yang masih dikandungan.

Kita mengetahui bahwa riwayat keluarga berisiko tinggi menyebabkan pre-eklampsia, namun faktor lain
yang penting dan juga mempengaruhi adalah obesitas dan usia diatas 40 tahun.

Seorang peneliti, Dr Fiona Denison mengatakan, kita dapat melakukan penanganan terhadap timbulnya
gejala pre-eklampsi dan menurunkan tekanan darah secara cepat, tetapi sampai saat ini tidak ada yang
mengetahui akar permasalahan terjadinya pre-eklampsi pada ibu hamil.

Ibu Hamil | Artikel Kesehatan


Solusi Ibu Hamil dan Artikel Kesehatan

preeklampsia dan eklampsia


Preeklampsia

Kita mungkin asing dengan kata preeklampsia, Preeklampsia atau sering juga disebut toksemia
adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil. Penyakit ini ditandai dengan
meningkatnya tekanan darah yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine. Wanita
hamil dengan preeklampsia juga akan mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan.
Preeklampsia umumnya muncul pada pertengahan umur kehamilan, meskipun pada beberapa
kasus ada yang ditemukan pada awal masa kehamilan.

Eklampsia

Eklampsia merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang tidak teratasi dengan baik. Selain
mengalami gejala preeklampsia, pada wanita yang terkena eklampsia juga sering mengalami
kejang kejang. Eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian baik sebelum, saat
atau setelah melahirkan.

Penyebab preeklampsia dan eklampsia

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab dari kelainan ini, namun penelitian
menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklampsia dan eklampsia.
Faktor faktor tersebut antara lain, gizi buruk, kegemukan dan gangguan aliran darah ke rahim.

faktor resiko terjadinya preeklampsia

Preeklampsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan
kehamilan pada wanita diatas 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah :

 Riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid arthritis


 Riwayat tekanan darah tinggi yang khronis sebelum kehamilan.
 Kegemukan.
 Riwayat mengalami preeklampsia sebelumnya.
 Riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan.
 Mengandung lebih dari satu orang bayi.

gejala preeklampsia

Selain bengkak pada kaki dan tangan, protein pada urine dan tekanan darah tinggi, gejala
preeklampsia yang patut diwaspadai adalah :

 Sakit kepala yang berat.


 Berat badan yang meningkat secara drastis akibat dari penimbunan cairan dalam tubuh.
 Nyeri perut.
 Penurunan produksi kencing atau bahkan tidak kencing sama sekali.
 Perubahan pada refleks.
 Mual dan muntah yang berlebihan
 Ada darah pada air kencing.
 Pusing.

Efek preeklampsia pada bayi

Preeklampsia dapat menyebabkan gangguan peredaran darah pada plasenta. Hal ini akan
menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan relatif kecil. Selain itu, preeklampsia juga dapat
menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur
yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, sereberal palsy, dan masalah pada pendengaran dan
penglihatan.

Cara mengobati preeklampsia dan eklampsia

Pengobatan preeklampsia dan eklampsia adalah kelahiran bayi. Preeklampsia ringan (tekanan
darah diatas 140/90 yang terjadi pada umur kehamilan 20 minggu yang mana wanita tersebut
belum pernah mengalami hipertensi sebelumnya) dapat dilakukan observasi di rumah atau di
rumah sakit terggantung kondisi umum pasien.

Jika umur bayi masih prematur, maka diusahakan keadaan umum pasien dijaga sampai bayi siap
dilahirkan. Proses kelahiran sebaiknya dilakukan di rumah sakit dibawah pengawasan ketat
dokter spesialis kebidanan. Jika umur bayi sudah cukup, maka sebaiknya segera dilahirkan baik
secara induksi (dirangsang) atau operasi.

Untuk preeklampsia berat lebih baik dilakukan perawatan intensif di rumah sakit guna menjaga
kondisi ibu dan bayi yang ada di dalam kandungannya.

Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia


Written by dedy on 15 June 2008
Temukan Pasangan Anda di sini

Ketut Sudhaberata
UPF. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Rumah Sakit Umum Tarakan
Kalimantan Timur

ABSTRAK

Preeklampsia berat (PEB) dan eklampsia masih merupakan salah


satu penyebab utama kematian maternal dan perinatal di Indonesia. Mereka diklasifikasikan
kedalam penyakit hypertensi yang disebabkan karena kehamilan. PEB ditandai oleh adanya
hipertensi sedang-berat, edema, dan proteinuria yang masif. Sedangkan eklampsia ditandai oleh
adanya koma dan/atau kejang di samping ketiga tanda khas PEB. Penyebab dari kelainan ini
masih kurang dimengerti, namun suatu keadaan patologis yang dapat diterima adalah adanya
iskemia uteroplacentol. Diagnosis dini dan penanganan adekuat dapat mencegah perkembangan
buruk PER kearah PEB atau bahkan eklampsia. Semua kasus PEB dan eklampsia harus dirujuk
ke rumah sakit yang dilengkapi dengan fasilitas penanganan intensif maternal dan neonatal,
untuk mendapatkan terapi definitif dan pengawasan terhadap timbulnya komplikasi-komplikasi.
Kata kunci: Preeklampsia berat, eklampsia, iskemia uteroplasenta, hipertensi, edema, proteinuri,
kejang dan/atau koma.

PENDAHULUAN

Di Indonesia preeklampsia-eklampsia masih merupakan salah satu penyebab utama kematian


maternal dan kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini pre-eklampsia yang
merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan
untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan anak(1,2). Perlu ditekankan bahwa sindrom
preeklampsia ringan dengan hiper-tensi, edema, dan proteinui sering tidak diketahui atau tidak
diperhatikan; pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda preeklampsia
sangat penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping
pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain.
Preeklampsia-Eklampsia adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan
oleh kehamilan. Pre-eklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema aki-bat kehamilan
setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum
20 minggu bila terjadi. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada penderita preeklampsia yang
disusul dengan koma. Kejang disini bukan akibat kelainan neurologis(2-4). Preeklampsia-
Eklampsia hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya terdapat pada
wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang
berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya dijumpai pada keadaan-
keadaan berikut(2):
1) Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis.
2) Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus.
3) Penyakit ginjal.

ETIOLOGI

Sampai dengan saat ini etiologi pasti dari preeklampsia/ eklampsi masih belum diketahui.
Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etio-logi dari kelainan tersebut di atas,
sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori ter-
sebut antara lain:
1) Peran Prostasiklin dan Tromboksan(5).
Pada PE-E didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadi penurunan produksi
prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan
fibrinolisis, yang kemudian akan diganti trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi
antitrombin III, sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan
tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasos-pasme dan kerusakan endotel.

2) Peran Faktor Imunologis(5).


Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan
berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking
antibodies terhadap antigen placenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan
berikutnya.
Fierlie FM (1992) mendapatkan beberapa data yang men-dukung adanya sistem imun pada
penderita PE-E:
1. Beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum.
2. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada PE-E diikuti
dengan proteinuri.
Stirat (1986) menyimpulkan meskipun ada beberapa pen-dapat menyebutkan bahwa sistem imun
humoral dan aktivasi komplemen terjadi pada PE-E, tetapi tidak ada bukti bahwa sistem
imunologi bisa menyebabkan PE-E.

3) Peran Faktor Genetik/Familial(4,5).


Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain:
1. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
2. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang
menderita PE-E.
3. Kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat
PE-E dan bukan pada ipar mereka.
4. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)

PATOFISIOLOGI

Vasokonstriksi merupakan dasar patogenesis PE-E. Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan


total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi. Adanya vasokonstriksi juga akan
menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga terjadi kerusakan endotel, kebocoran
arteriole disertai perdarahan mikro pada tempat endotel(5). Selain itu Hubel (1989) mengatakan
bahwa adanya vasokonstriksi arteri spiralis akan menyebabkan terjadinya penurunan perfusi
uteroplasenter yang selanjutnya akan menimbulkan maladaptasi plasenta. Hipoksia/ anoksia
jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase lemak, sedangkan proses hiperoksidasi itu
sendiri memerlukan peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian akan
mengganggu metabolisme di dalam sel Peroksidase lemak adalah hasil proses oksidase lemak tak
jenuh yang menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak merupakan radikal
bebas. Apabila keseimbangan antara perok-sidase terganggu, dimana peroksidase dan oksidan
lebih domi-nan, maka akan timbul keadaan yang disebut stess oksidatif(5).
Pada PE-E serum anti oksidan kadarnya menurun dan plasenta menjadi sumber terjadinya
peroksidase lemak. Se-dangkan pada wanita hamil normal, serumnya mengandung transferin, ion
tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak
beredar dalam aliran darah melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini akan sampai
kesemua komponen sel yang dilewati termasuk sel-sel endotel yang akan mengakibatkan
rusaknya sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut akan meng-akibatkan antara
lain(2):
a) adhesi dan agregasi trombosit.
b) gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma.
c) terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotonin sebagai akibat dari rusaknya trombosit.
d) produksi prostasiklin terhenti.
e) terganggunya keseimbangan prostasiklin dan tromboksan.
f) terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase lemak.
KRITERIA DIAGNOSIS

I) Preeklampsia berat
Apabila pada kehamilan > 20 minggu didapatkan satu/ lebih gejala/tanda di bawah ini:
1. Tekanan darah > 160/110 dengan syarat diukur dalam keadaan relaksasi (pengukuran minimal
setelah istirahat 10 menit) dan tidak dalam keadaan his.
2. Proteinuria > 5 g/24 jam atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif.
3. Oliguria, produksi urine < 500 cc/24 jam yang disertai kenaikan kreatinin plasma.
4. Gangguan visus dan serebral.
5. Nyeri epigastrium/hipokondrium kanan.
6. Edema paru dan sianosis.
7. Gangguan pertumbuhan janin intrauteri.
8. Adanya Hellp Syndrome (hemolysis, Elevated liver enzyme, Low Platelet count).

PENATALAKSANAAN

A) Penanganan di Puskesmas
Mengingat terbatasnya fasilitas yang tersedia di puskes-mas, maka secara prinsip, kasus-kasus
preeklampsia berat dan eklampsia harus dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas
yang lebih lengkap. Persiapan-persiapan yang dilakukan dalam merujuk penderita adalah sebagai
berikut:
- Menyiapkan surat rujukan yang berisikan riwayat pen-derita.
- Menyiapkan partus set dan tongue spatel (sudip lidah).
- Menyiapkan obat-obatan antara lain: valium injeksi, antihipertensi, oksigen, cairan infus
dextrose/ringer laktat.
- Pada penderita terpasang infus dengan blood set.
- Pada penderita eklampsia, sebelum berangkat diinjeksi valium 20 mg/iv, dalam perjalanan
diinfus drip valium 10 mg/500 cc dextrose dalam maintenance drops.

Selain itu diberikan oksigen, terutama saat kejang, dan terpasang tongue spatel.

B. Penanganan di Rumah Sakit


B.I. Perawatan Aktif
a. Pengobatan Medisinal
1) Segera rawat di ruangan yang terang dan tenang, terpasang infus Dx/RL dari IGD.
2) Total bed rest dalam posisi lateral decubitus.
3) Diet cukup protein, rendah KH-lemak dan garam.
4) Antasida.
5) Anti kejang:
a) Sulfas Magnesikus (MgSO4)
Syarat: Tersedia antidotum Ca. Glukonas 10% (1 amp/iv dalam 3 menit).
Reflek patella (+) kuat
Rr > 16 x/menit, tanda distress nafas (-)
Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya.
Cara Pemberian:
Loading dose secara intravenas: 4 gr/MgSO4 20% dalam 4 menit, intramuskuler: 4 gr/MgSO4
40% gluteus kanan, 4 gr/ MgSO4 40% gluteus kiri. Jika ada tanda impending eklampsi LD
diberikan iv+im, jika tidak ada LD cukup im saja.
Maintenance dose diberikan 6 jam setelah loading dose, secara IM 4 gr/MgSO4 40%/6 jam,
bergiliran pada gluteus kanan/kiri.
Penghentian SM :
Pengobatan dihentikan bila terdapat tanda-tanda intok-sikasi, setelah 6 jam pasca persalinan, atau
dalam 6 jam ter-capai normotensi.
b) Diazepam: digunakan bila MgSO4 tidak tersedia, atau syarat pemberian MgSO4 tidak
dipenuhi. Cara pemberian: Drip 10 mg dalam 500 ml, max. 120 mg/24 jam. Jika dalam dosis 100
mg/24 jam tidak ada pemberian, alih rawat R. ICU.
6) Diuretika Antepartum: manitol
Postpartum: Spironolakton (non K release), Furosemide (K release).
Indikasi: Edema paru-paru, gagal jantung kongestif, Edema anasarka.
7) Anti hipertensi
Indikasi: T > 180/110
Diturunkan secara bertahap.
Alternatif: antepartum Adrenolitik sentral:
- Dopamet 3X125-500 mg.
- Catapres drips/titrasi 0,30 mg/500 ml D5 per 6 jam : oral 3X0,1 mg/hari.
Post partum ACE inhibitor: Captopril 2X 2,5-25 mg Ca Channel blocker: Nifedipin 3X5-10 mg.
Kardiotonika
Indikasi: gagal jantung
9) Lain-lain:
Antipiretika, jika suhu>38,5°C
Antibiotika jika ada indikasi
Analgetika
Anti Agregasi Platelet: Aspilet 1X80 mg/hari
Syarat: Trombositopenia (<60.000/cmm)(7).

b. Pengobatan obstetrik
1) Belum inpartu
a) Amniotomi & Oxytocin drip (OD)
Syarat: Bishop score >8, setelah 3 menit tx. Medisinal.
b) Sectio Caesaria
Syarat: kontraindikasi oxytocin drip 12 jam OD belum masuk fase aktif.
2) Sudah inpartu
Kala I Fase aktif: 6 jam tidak masuk f. aktif dilakukan SC.
Fase laten: Amniotomy saja, 6 jam kemudian pembuatan belum lengkap lakukan SC (bila perlu
drip oxytocin).
Kala II Pada persalinan pervaginam, dilakukan partus buatan VE/FE.
Untuk kehamilan < 37 minggu, bila memungkinkan terminasi ditunda 2X24 jam untuk maturasi
paru janin.

B.II. Perawatan Konservatif


Perawatan konservatif kehamilan preterm<37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending
eklampsia, dengan keadaan janin baik.
Perawatan tersebut terdiri dari:
- SM Therapy: Loading dose: IM saja.
Maintenance dose: sama seperti di atas.
Sulfas Magnesikus dihentikan bila sudah mencapai tanda Preeklampsia ringan, selambat-
lambatnya dalam waktu 24 jam.
- Terapi lain sama seperti di atas.
- Dianggap gagal jika > 24 jam tidak ada perbaikan, harus diterminasi.
- Jika sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan, diberikan SM 20% 2 gr/IV dulu.
- Penderita pulang bila: dalam 3 hari perawatan setelah penderita menunjukkan tanda-tanda PER
keadaan penderita tetap baik dan stabil.

EKLAMPSIA
Terdapat tanda-tanda PEB disertai koma dan atau kejang.
a) Pengobatan Medisinal
- Rawat di ICU
- Total Bed Rest dalam Snipping position jika Kesadaran menurun Lateral decutitus jika
kesadaran CM.
- Pada penderita koma yang lama berikan nutrisi per NGT
- Pasang sudip lidah jika terdapat kejang
- Oksigen kalau perlu
- Pasang Folley Catheter
- Perawatan dekubitus pada penderita dengan kesadaran menurun
- Infus Dx/RL maintenance drops
- Anti kejang

MgSO4 jika persyaratan memenuhi:


LD: –>  SM 20% 4 gr/IV/4 menit.
SM 40% 8 gr/IM kanan dan kiri
Jika dalam 20 menit setelah LD terjadi kejang lagi, diberikan SM 20% 2 gr/IV.
Jika dalam 30 menit terjadi kejang lagi diberikan Fenitoin 100 mg/IV perlahan.
MD –>  SM 40% 4 gr/IM/6 jam kanan/kiri sampai 24 jam bebas kejang/pasca persalinan.
VALIUM Therapy:
Valium 20 mg/iv perlahan, diikuti drips 10 mg/500 ml Dx dalam 30 tetes/menit. Jika dalam 30
menit masih kejang berikan valium 10 mg/iv perlahan.
Terapi lain sama seperti PEB.

b) Penanganan Obstetrik
Sikap dasar adalah semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri tanpa memandang umur
kehamilan dan keadaan janin. Saat terminasi setelah terjadi stabilisasi hemodinamik dan
metabolisme ibu, yaitu 4-8 jam setelah salah satu keadaan di bawah ini:
? pemberian antikonvulasi
? kejang terakhir
? pemberian antihipertensi terakhir
? penderita mulai sadar
? Cara terminasi sama dengan cara terminasi pada PEB.
c) Evaluasi
1) Ibu: pemeriksaan fisik
- adanya pitting oedema setiap bangun tidur pagi
- pengukuran BB setiap bangun tidur pagi
- menentukan Gestosis Index setiap 12 jam, pagi dan sore
- pengukuran tekanan darah setiap 6 jam
- pengukuran produksi urine setiap 3 jam
- monitoring tingkat kesadaran jika terdapat penurunan kesadaran
Laboratorium:
- Hb, Hematokrit, Urine Lengkap, Asam Urat darah, Trom-bosit, LFT dan RFT
Konsultasi:
- Internist/Kardiolog
- Opthalmolog
- Anesthesi

2) Placenta:
- Human Placental Lactogen
- Estriol

3) Janin
- Fetal Well Being
- Fetal Maturity

PENUTUP
Dalam rangka menurunkan angka kematian maternal dan perinatal akibat preeklampsia-
eklampsia deteksi dini dan pe-nanganan yang adekuat terhadap kasus preeklampsia ringan harus
senantiasa diupayakan. Hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan mempertajam kemampuan
diagnosa para penyelenggara pelayanan bumil dari tingkat terendah sampai teratas, dan
melakukan pemeriksaan bumil secara teratur.
Mengingat komplikasi terhadap ibu dan bayi pada kasus-kasus PEB-E, maka sudah
selayaknyalah semua kasus-kasus tersebut dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang memiliki
fasilitas penanganan kegawatdaruratan ibu dan neonatal.
Demikian makalah mengenai Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia kami rangkum
sebagai penyegaran bagi rekan-rekan di daerah. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat
yang sebesar-besarnya.

KEPUSTAKAAN
1. Reeder, Mastroianni, Martin, Fitzpatrik. Maternity Nursing. 13rd ed. Philadelphia: JB
Lippincott Co, 1976; 23: 463-72.
2. Manuaba Gde IB. Penuntun diskusi obstetri dan ginekologi untuk mahasiswa kedokteran.
Jakarta, EGC, 1995; 25-30.
3. Wiknjosastro H, dkk. Ilmu Kebidanan. Ed. ketiga. Cetakan keempat. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1997; 24: 281-301.
4. Ansar DM, Simanjuntak P, Handaya, Sjahid Sofjan. Panduan pengelolaan hipertensi dalam
kehamilan di Indonesia. Satgas gestosis POGI, Ujung Pandang, 1985; C: 12-20.
5. Wibisono B. Kematian perinatal pada preeklampsia-eklampsia. Fak. Ked. Undip Semarang,
1997; 6-12.
6. Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. William Obstetrics. Penerjemah: Hariadi R, dkk.
Surabaya: Airlangga University Press, 1997; 27: 609-46.
7. Briggs G Gerald B Pharm, Freeman K. Roger, Yaffe JS. Drugs in pregnancy and lactation. 4th
Ed. Maryland: William & Wilkins, 1994; 66a.

Tags: eklampsia, obgyn, pre-eklampsia


Posted in artikel, kesehatan | 9 Comments »