Anda di halaman 1dari 3

Merubah Masalah menjadi Mashaallah

Oleh: Abd Misno Abu Aisyah

Kehidupan itu memiliki beraneka rasa, ada suka cita dan ada duka nestapa. Hari ini

kita tertawa riang gembira, mungin kemarin lusa kita berderai air mata. Bahkan

terkadang suka dan duka hadir dalam satu masa dalam kehidupan kita. Demikianlah

Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita, bahwasanya kehidupan di dunia adalah fana

adanya, suka cita tidak akan berjalan lama, demikian pula duka nestapa juga akan

segera sirna. Ingatlah, bahwa semuanya sudah menjadi takdir dari Sang Penguasa

alam semesta.

Apabila hari ini kita ditimpa berbagai masalah, duka nestapa menghampiri kita,

berjuta kesedihan hadir di jiwa... Maka ingatlah bahwa masalah tersebut bisa berubah

menjadi “Mashaallah” yang maknanya dengan kehendak Allah. Makna lain dari

ungkapan “Mashaallah” adalah rasa kagum, heran yang positif dan ketakjuban atas

kekuasaan Allah Ta’ala. Bagaimana agar masalah menjadi “Mashaallah”?

Pertama, ingatlah bahwa semua masalah yang kita hadapi itu berasal dari takdir

Allah Ta’ala. Maknanya bahwa, semua yang terjadi adalah atas kehendaknya

sehingga manusia harus tunduk patuh dan ridha dengannya. Semua masalah yang kita

hadapi sudah tertulis bahkan sebelum kita hadir di alam fana ini. Hal ini berarti bahwa

masalah yang kita hadapi adalah bagian dari takdir ini, maka meyakini semua masalah

yang kita hadapi adalah solusi pertama yang harus dilalui. Jangan pernah menyesali

sesuatu yang telah terjadi, mengambil pelajaran boleh darinya tapi jangan terus

diungkit karena hanya akan menambah masalah baru.

Kedua, yakinlah bahwa masalah yang kita hadapi itu sudah diukur oleh Allah Ta’ala,

sehingga kita akan mampu untuk menghadapinya. Bahkan Allah Ta’ala berfirman
dalam kalamNya yang mulia bahwa Allah Ta’ala tidak memberikan masalah kepada

seseorang melebihi kekuatannya. Artinya bahwa Allah tahu bahwa masalah yang kita

hadapi itu sesuai dengan kemampuan kita untuk mengatasinya. Yakin kita bisa...

Ketiga, pasti ada hikmah di balik masalah yang kita hadapi. Yakin, bahwa setiap

masalah yang ada itu ada hikmah atau pelajaran yang Allah berikan kepada kita.

Tinggal aapakah kita mampu untuk menggali hikmah tersebut? Cara menggali hikmah

dari masalah yang ada adalah dengan dengan berfikir yang didasari dengan keimanan

bahwa semuanya adalah takdirNya, mengaitkan dengan peristiwa lainnya baik saat ini

atau di masa yang akan datang, serta menemukan benang merah dari berbagai

peristiwa di masa lalu yang pernah terjadi. Hikmah adalah kebaikan yang ada pada

sesuatu yang semakin mendekat diri kepada Allah Ta’ala.

Keempat, pada level yang lebih tinggi ketika seseorang dapat mengambil hikmah dari

berbagai masalah adalah ia bersyukur, Alhamdulillah memuji kepada Allah atas

masalah yang dihadapinya. Ia meyakini bahwa justru karena ada masalah itulah kita

semakin dekat kepadaNya, semakin yakin akan takdirNya dan semakin yakin pula

bahwa kehidupan ini akan terus menjadi lebih baik. Bahkan sampai masalah yang

paling mengerikan sekalipun kita harus bersyukur, misalnya orang tua kita meninggal.

Selain mengucapkan Inna lillahi wa inna ilahi raji’un maka yakinlah bahwa

meninggalnya orang tua kita adalah menjadi takdirNya. Bersyukur dengan masalah

yang ada maknanya adalah dengan masalah tersebut semakin mendekatkan diri

kepada Allah Ta’ala, sebagai peringatan buat kita dan bukti keyakinan akan

takdirNya.

Kelima, menjadikan masalah menjadi sarana untuk mendapatkan pahala dari Allah

Ta’ala. Berbagai masalah yang ada apabila kita hadapi dengan penuh ketaatan

kepadaNya akan menjadi ladang pahala besar bagi kita, inilah ciri seorang muslim.
Bersabar, bertawakal dan tetap berikhtiar dalam menghadapi masalah adalah sarana

untuk mendapatkan pahal melimpah dari Sang Pencipta.

Masih banyak lagi cara agar menjadikan masalah menjadi mashaallah, maka tidak ada

alasan lagi bagi setiap muslim untuk tenggelam dalam masalah, merasa susah dengan

masalah, sedih dengan masalah dan terkurung dalam masalahnya. Saatnya masalah

menjadi mashaallah, yaitu dengan meyakini bahwa masalah itu datang dari Allah

Ta’ala, kita akan mampu untuk mengatasinya, meyakini adanya hikmah padanya,

bersyukur dengan masalah yang ada dan menjadikannya sebagai sarana mendekat diri

kepadanya dengan mendulang pahala dari setiap masalah yang ada. Wallahua’lam.

Bogor, 01 Muharam 1442 H.