Anda di halaman 1dari 5

Viral Daftar Pekerjaan Haram: Antara Berbagi Ilmu, Sok Tahu dan Mengikuti

Hawa Nafsu

Oleh: Abdurrahman Misno MD

Daftar pekerjaan haram yang saat ini viral di media sosial menjadi fenomena

tersendiri bagi masyarakat. Bagaimana tidak, aturan-aturan dalam Islam yang sudah

baku mengenai halal dan haram kemudian direfresh dengan berita viral tersebut.

Tentu saja komentar dari para netizen sangat beraneka ragam, dari mulai yang

mendukung, sok tahu dan langsung menyalahkan pembuatnya hingga yang mengikuti

hawa nafsu dengan berlaku sombong dan tidak menerima isi dari berita viral tersebut.

Abu Yahya Al-Bustami sebagai pengunggah berita ini menuliskan “Beberapa Daftar

Pekerjaan Haram Namun banyak yang Menggeluti karena dianggap halal”. Ia dengan

PD-nya memposting berita tersebut, kita tidak tahu niatnya apa? Apakah mungkin

berasal dari semangat berislamnya atau jangan-jangan akun palsu, wallahua’lam.

Memang daftar daftar pekerjaan haram tersebut berisi berbagai pekerjaan yang sudah

biasa di masyarakat, daftarnya sangat detail, dari mulai artis hingga pelukis. Termasuk

mereka yang berjualan alat musik, pembuat kue ulang tahun, penjual rokok, satpam

bank, hingga penjual barang bajakan. Begitu detailnya daftar tersebut hingga

menjadikan orang-orang yang bergelut didalamnya menjadi gerah dan tidak nyaman.

Islam sejatinya telah menjelaskan tentang kaidah halal dan haram, baik dalam hal

makanan, minuman, hiburan, dan segala sendi kehidupan manusia. Allah Ta’ala

berfirman “Sungguh Allah telah menerangkan kepada kamu apa yang Ia haramkan

atas kamu." ( QS. al-An'am: 119). Ayat memberikan pemahaman kepad akita bahwa

Allah Ta’ala melalui kalamNya serta sunnah nabiNya telah memberikan penjelasan

tentang mana yang haram dan mana yang halal.


Sebagai contoh adalah firmanNya: “Diharamkan bagi kamu sekalian bangkai, darah,

daging babi, dan binatang yang disembelih dengan tidak atas nama Allah, binatang

yang tercekik, yang dipukul, yang terjatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang

buas kecuali kamu sempat menyembelihnya, dan diharamkan juga bagimu binatang

yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala”. (QS. Al-Maidah:3). Ayat ini

menjelaskan tentang keharaman beberapa jenis makanan serta minuman yang secara

qath’i sudah disepakati oleh umat Islam. Pemahaman dari ayat ini juga adalah bahwa

seluruh pekerjaan yang terkait dengan hal-hal yang diharamkan tersebut adalah

haram. Apakah halal dan haram hanya ada dalam AL-Qur’an saja? Jawabannya

adalah tidak, karena kita memiliki as-Sunnah atau hadits sebagai sumber dalam halal

dan haram.

Banyak sekali hadits yang membahas tentang halal dan haram dalam Islam, pedoman

dasarnya adalah sabda dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam “Sesungguhnya

yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-

perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka

siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan

kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan

terjerumus dalam perkara yang diharamkan. HR. Bukhari dan Muslim. Selanjutnya

berbagai hadits yang jumlahnya sangat banyak berbicara tentang halal dan haram

dalam berbagai sendi kehidupan manusia termasuk dalam hal; makanan, minuman,

dan juga pekerjaan atau tata cara mendapatkan uang.

Pekerjaan yang halal pun sudah jelas demikian juga yang haram, sehingga umat Islam

tidak akan lagi bingung dengan pekerjaannya. Pedomannya adalah bahwa halal dan

haram itu ditentukan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an, kemudian oleh Rasulullah

Shalallahu Alaihi wassalam dalam haditsnya serta ijtihad para ulama yang telah
disepakati bersama. Halal dan haram dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah biasanya

terkait dengan pekerjaan yang memang sudah jelas keharamannya, misalnya menjual

khamr atau minuman keras, pelacur, jual beli barang-barang haram dan lain

sebagainya. Ada pula pekerjaan yang masuk ke dalam subhat, namun sebagian ulama

menganggapnya haram. Misalnya jual beli alat-alat musik, sebagaimana sebuah hadits

yang datang kepada kita “Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku

sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik”. HR.

Bukhari. Berdasarkan ayat ini maka sebagian ulama ada yang mengahramkan alat

musik, sehingga ketika alat musik itu haram maka jual belinya juga haram dan

menjualnya juga haram.

Contoh tentang kedudukan hukum dari alat musik sangat jelas, sehingga kemudian

kalau daftar tersebut memasukan bahwa menjual alat musik itu adalah haram dan

termasuk pekerjaan yang haram maka sangat dapat dipahami. Demikian juga hal

lainnya, kenapa disebutkan bahwa pekerjaan menjadi penjual kue ulang tahun adalah

haram, karena mereka berpendapat bahwa perayaan ulang tahun itu haram. Sampai di

sini dapat dipahami bahwa keharamannya adalah bersifat fiqhiyyah ijtihadiyyah.

Kembali ke pembahasan tentang viralnya hal ini, maka, umat menjadi bertanya-tanya

dan menjadi perbincangan hangat (viral) apalagi jika mereka betul-betul awam

tentang hal halal dan haram. Belum lagi jika ternyata berita ini disebarkan oleh orang-

orang yang tidak suka dengan Islam, mereka hanya ingin mengundang keresahan pada

diri umat Islam.

Lepas dari benar tidaknya sumber dari berita tersebut, penulis membagi menjadi tiga

kelompok masyarakat dalam menaggapi berita ini, Pertama; mereka yang memiliki

semangat yang tinggi untuk menyebarkan kebaikan. Penyebar awal berita viral ini

bisa jadi dari kalangan ini. ada juga yang berpendapat bahwa lagi-lagi ini adalah
pekerjaan dari orang-orang yang tidak suka dengan Islam yang ingin membuat

kegaduhan di tengah masyarakat. Kelompok pertama niatnya bagus, namun memang

caranya kurang elegan sehingga perlu adanya tahapan dalam menyampaikan kepada

masyarakat, sehingga mereka akan dapat menerima kebenaran dengan ilmu. Jika

penyebarnya adalah orang yang tidak suka dengan Islam, maka dia paham sekali

bagaimana cara mengadu domba umat Islam ini.

Kelompok kedua adalah mereka yang sok tahu, ketika mendengar berita adanya daftar

pekerjaan yang haram mereka langsung tertawa dan mencibir “masa penjual kue

ulang tahun haram” kata seorang teman kantor. Tentu saja ucapan ini menunjukan

kekurangpahamannya terhadap syariat Islam, karena bisa jadi istinbath al ahkam atau

penggalian hukum serta penetapannya sudah dilalui oleh orang yang menyatakan

bahwa pekerjaan-pekerjaan tersebut haram. Minimal ia mengambil ilmu dari gurunya

dengan dasar argumentasi yang kuat. Sebagai contoh, bahwa majelis ulama sendiri

berpendapat bahwa bunga bank itu haram, sehingga kemudian seluruh pekerja yang

terlibat dalam bunga bank adalah pekerjaan haram. Sehingga kelompok kedua ini

memang perlu banyak lagi belajar agama khususnya tentang halal dan haram dalam

Islam. Jangan buru-buru mencibir, sebelum memahami ilmunya jangan sampai karena

sok tahu kita padahal jahil (belum paham) kemudian mentertawakan hal ini.

Kelompok ketiga adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya. Kelompok ini lebih

dari kelompok kedua, selain mereka mencibir juga kemudian mencela penyebarnya.

Berbagai hujatan muncul dari mereka yang ditujukan kepada penyebarnya; dari mulai

menganggap sok suci hingga tuduhan wahabi. Ya... stigma negatif Islam akhirnya

kemudian muncul di tempat dan waktu yang kurang tepat. Kenapa, karena biasa jadi

hal tersebut benar, tetapi belum waktunya untuk sampai di masyarakat karena dakwah

itu perlu adanya tahapan yang diawali dengan masalah aqidah. Kuatkan aqidah umat
terlebih dahulu baru berbicara tentang halal dan haram dalam masalah fiqh.

Kelompok ketiga ini biasanya mereka yang taklid dengan gurunya atau golongannya

sehingga kemudian dengan mudah menyalahkan bahkan menyesarkan orang lain dan

kelompok di luar dirinya. Hal ini sangat berbahaya karena hanya akan memecah belah

umat Isalm.

Kesimpulannya adalah bahwa kita sebagai umat Islam harus terus belajar agar lebih

cerdas dalam menghadapi berbagai berita dan khabar. Pertama, periksa dulu berita

tersebut apakah benar berasal dari umat Islam atau dari orang-orang yang tidak suka

dengan Islam. Kedua, jika isinya benar khususnya berkaitan dengan hal-hal yang

haram maka jangan terburu-buru kita mencibirnya. Belajarlah terlebih dahulu, lihat

pendapat-pendapat para ulama khususnya terkait dengan masalah-masalah fiqh.

Jangan sampai bahwa hal itu sebenarnya haram namun karena kebodohan kita

kemudian kita menghalalkannya. Terakhir adalah jadilah umat yang cerdas, dengan

terus belajar, belajar dan belajar. Wallahu a’lam. 23082020.