Anda di halaman 1dari 2

Membaca sebagai Implementasi Hifdz Al-‘Aql dalam Maqashid Shariah

Oleh: Abd Misno Mohd Djahri

Membaca adalah aktifitas memaknai setiap huruf dan kata dalam sebuah kalimat,

lebih dari itu adalah memahami pesan yang dibuat oleh penulis kepada para

pembacanya. Sebagai aktifitas yang merupakan hasil dari peradaban menulis, maka

membaca menjadi hal yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Bahkan membaca menjadi awal dari sebuah ilmu pengetahuan, ia juga menjadi

stimulus bagi perkembangan ilmu dan peradaban umat manusia.

Secara internal membaca memiliki efek positif bagi setiap orang yang membacanya.

Seseorang yang membaca sejatinya ia sedang memasukan berbagai nutrisi bergizi

bagi akalnya. Kecerdasan manusia akan terus berkembang bila nutrisi dalam bentuk

bacaan terus dimasukan. Tentu saja syaratnya adalah bacaan tersebut memiliki gizi

positif bagi akal manusia. Membaca akan memberikan stimulus bagi akal agar terus

berkembang, sehingga akalnya akan terus memiliki ketajaman yang optimal.

Membaca dalam perspektif Islam menjadi satu aktifitas yang merupakan

implementasi dari Maqashid Syariah khususnya hifdz al-‘aql yaitu melindungi akal

manusia. Islam sebagai agama yang memiliki perhatian kepada ilmu pengetahuan

sangat menganjurkan umatnya untuk membaca. Jika hifdz al-‘aql oleh para ulama

dipahami sebagai menjaga dan melindungi akal manusia dengan contoh klasik yaitu

larangan mengonsumsi makanan atau minuman yang merusak akal seperti khamr dan

minuman keras lainnya, maka dalam konteks yang lebih luas ia juga termasuk

bagaimana stimulus agar akal juga harus mampu untuk berkembang.

Mengembangkan dan mengoptimalkan fungsi akal menjadi bagian dari tujuan syariah

Islam (Maqashid Syariah)


Membaca sebagai aktifitas yang secara langsung menstimulus akal agar mampu

memahami makna yang tersirat dari setiap huruf dan kata serta yang tersurat dari

makna-makna yang ada dalam bacaan tersebut. Sehingga sangat wajar jika aktifitas

ini sangat dianjurkan dalam Islam. Wahyu pertama dengan kata “Iqra” yang berarti

bacalah atau ikutilah adalah bukti nyata bagaimana Islam sangat memperhatikan

aktifitas ini. Tentu saja membaca dalam konteks Islam didasari dan diawali dengan

menyebut nama Rabb (Tuhan) sebagai awal dan sumber penciptaan.

Hifdz al-‘Aql sebagai satu dari maqashid syariah menjadi maksud dan tujuan

diturunkannya syariah Islam. Menjaga dan melindungi akal berarti bagaimana agar

akal itu selalu dalam keadaan sadar dan memiliki nilai kemanusiaan yang didasarkan

kepada nilai-nilai Ilahiah. Setelah terjaga dan terlindungi dengan baik, selanjutkan

akal tersebut harus dikembangkan dengan berbagai stimulus yang muncul dari dalam

dan juga luar dirinya. Unsur dari dalam meliputi hidayah dari Allah Ta’ala yang

masuk ke dalam qalbunya, kemudian diolah dengan akalnya sehingga melahirkan satu

kesadaran mendalam tentang eksistensi dirinya di semesta hingga kemudian mampu

memberikan kontribusi positif bagi alam raya. Unsur dari luar adalah ilmu

pengetahuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran yang diikutinya. Membaca

adalah salah satu dari unsur dari luar yang akan mampu untuk mengembangkan akal

pikiran manusia.

Sehingga ketika membaca adalah sebuah kebutuhan manusia, Islam telah memberikan

stimulus yang sangat kuat agar manusia selalu menjaga, melindungi dan

mengembangkan akalnya. Membaca adalah implementasi dari maksud dan tujuan

hadirnya syariah Islam di semesta. Mari Membaca...