Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PEMILIHAN SCREEN PADA FORMASI UNCONSOLIDATED

PRAKTIKUM ANALISI BATUAN RESERVOIR

Disusunoleh:

1. Gloria Samantha Tikupasang (071.18.048)


2. Khonita Khoerun Nisa (071.18.059)
3. Valya Rusfanka Bahlawan (071.18.128)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan tugas makalah “Pemilihan
Screen Pada Formasi Unconsolidated” ini tepatwaktu.

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Praktikum Analisis Batuan Reservoir. Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang pemilihan screen
pada formasi unconsolidated bagi para pembaca danjuga bagi penulis.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


membantu dan membagi pengetahuannya sehingga kita dapat menyelesaikan
makalah ini. Penulis menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis nantikan demi
kesempurnaan makalahini.

Jakarta, 31 Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................1

1.1 Latar Belakang..............................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................1
1.3 Tujuan...........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................3

2.1 Pengertian Formasi Unconsolidated.............................................................3

2.2 Pengertian Masalah kepasiran......................................................................3

2.3 Pengertian Sieve Analysis............................................................................5

2.4 Penentuan Screen pada formasi unconsolidate.............................................5

BAB III PENUTUP........................................................................................................9

3.1 Kesimpulan...................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................10

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tahap penyelesaian suatu sumur yang menembus formasi lepas
(unconsolidated) tidak sederhana seperti tahap penyelesaian dengan formasi
kompak (consolidated) karena harus mempertimbangkan adanya pasir yang ikut
terproduksi bersama fluida produksi. Seandainya pasir tersebut tidak dikontrol dapat
menyebabkan pengikisan dan penyumbatan pada peralatan produksi. Disamping itu
juga menimbulkan penyumbatan pada dasar sumur. Produksi pasir lepas ini, pada
umumnya sensitive terhadap laju produksi. Apabila laju alirannya rendah, pasir yang
ikut terproduksi sedikit dan sebaliknya.
Metode yang umum untuk menanggulangi masalah kepasiran meliputi
penggunaan slotted atau screen liner, dan gravel packing. Metode penanggulangan
ini memerlukan pengetahuan tentang distribusi ukuran pasir agar dapat ditentukan
pemilihan ukuran screen dan gravel yang tepat. Formasi lepas adalah formasi yang
tidak memiliki sementasi yang baik, merupakan suatu sistem yang tidak stabil
sehingga daya ikat antar butiran yang ada pada batuan sangat kecil, sedangkan
formasil epas merupakan formasi yang memiliki sementasi yang baik, merupakan
suatu system yang stabil sehingga daya ikat antar butiran padaformasi batuan besar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa


permasalahan yang menjadi pembahasan makalah kali ini yaitu:

1. Apa pengertian dari formasi unconsolidated?


2. Apa pengertian dari masalah kepasiran?
3. Apa pengertiand ari sieve analysis?
4. Bagaimana pemilihan screen pada formasi unconsolidated?

1
1.3 Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu:
1. Mengetahui pengertian dari formasi unconsolidated,
2. Mengetahui pengertian dari masalah kepasiran,
3. Mengetahui pengertian dari sieve analysis, dan
4. Mengetahui bagaimana pemilihan screen pada formasi unconsolidated

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian formasi unconsolidated

Formasi batuan duri merupakan formasi sandstone (unconsolidated) yang


memiliki ikatan antar butir yang terikat dengan kuat, ikatan butir mudah terlepas dari
ikatannya dan bermigrasi bersama fluida formasi disepanjang reservoir. Pasir yang
terakumulasi dalam jumlah besar di dasar sumur akan menutup sebagaian atau
keseluruhan zona produktif. Atau formasi unconsolidated adalah formasi dengan
sementasi tidak baik, merupakan suatu system yang tidak stabil sehingga daya ikat antar
butiran yang ada pada batuan sangat kecil.

Tahap penyelesaian suatu sumur yang menembus formsi lepas (unconsolidated)


tidak sederhana seperti penyelesaian suatu sumur yang menembus formasi kompak
(consolidated), karena harus mempertimbangkan adanya pasir yang ikut tereproduksi
bersama fluida. Seandainya pasir tersebut tidak terkontrol dapat menyebabkan
pengikisan dan penyumbatan pada alat produksi serta penyumbatan pada dasar sumur.

2.2 Pengertian Kepasiran

Kepasiran merupakan salah satu permasalahan besar dalam bidang produksi


migas. Menurut (FADER et al., 1992) pasir dapat menyebabkan kerusakan pada
peralatan yang dipergunakan di bawah permukaan maupun di atas permukaan. Terdapat
beberapa masalah yang disebabkan oleh kepasiranyaitu:

1. Kapasitas produksi turun dratis akibat naiknya butiran pasir tersuspensi dalam fluida
produksi.

2. Pembengkokan selubung atau liner akibat terbentuknya rongga-rongga di sekitar


lubang perforasi karena pasir terproduksi terus-menerus kepermukaan.

3. Pengikisan atau erosi pada peralatan produksi di bawah permukaan dan atas
permukaan.

3
Adapun penyebab terjadinya kepasiran, yaitu:

1. Kekuatan Formasi terhadap kepasiran tergantung dari dua hal yaitu kekuatan dasar
formasi kesanggupanpasir.
2. Sementasi Batuan: kemampuan dari formasi untuk menahan butir pasir agar tidak
terlepas akibat operasi produksi
3. Kandungan Lempung: material lempung terdiri dari kelompok kaolonit, chlorite,
illite, dan mantmorilonite
4. Laju alir kritis yaitu besarnya laju produksi kritis yang manabila laju produksi
sumur lebih besar dari laju kritisnya maka akan menimbulkan problem kepasiran.
Adapun penyebab terjadiny akepasiran menurut ilmu mekanistik
menurut (Penberthy et al., 1978) adalah:
1. Shear Failure S
Shear failure merupakan mekanismeterlepasnya butiran pasir akibat dari gaya
gesekan fluida. Besarnya gaya gesekan ditentukan oleh viskositas dan laju
produksifluida.
2. Tensile Failure
Tensile failure merupakan mekanisme terlepasnya butiran pasir akibat
penurunan tekanan pori dalam formasi.
3. Cohesive Failure
Cohesive failure merupakan mechanisme terlepasnya butiran pasir akibat
material material pengikat(semen) antara butiran yang tidak cukup kuat dalam
menahan antar butiran pasir.

Permasalahan kepasiran sering terjadi pada sumur yang sudah lama beroperasi
dan sumur dengan formasi yang pengendapannya relative muda. Hampir seluruh
lapangan di Indonesia merupakan lapangan Brown Field dan memiliki formasi pada
tertiary basin (Kusumastuti, 2000; Satyana dan Purwaningsih, 2003). Hal ini
menyebabkan produksi pasir di Indonesia merupakan salah satu masalah yang sering
terjadi dan membutuhkan penanganan. Terdapat beberapa metode yang digunakan
untuk mengatasi masalah kepasiran, antara lain menggunakan metode mekanik gravel
pack, slotted liner dan sand screen. Pemasangan gravel pack bertujuan untuk

4
menghentikan pergerakan pasir formasi, serta memungkinkan produksi ditingkatkan
sampai kapasitas maksimum.

2.3 Pengertian Sieve Analysis

Sieve Analysis merupakan data analisa pengayakan yang memberikan informasi


mengenai penyebaran besar butiran dai batuan yang dapat dipergunakan untuk
mempelajari pemilihan screen yang akan dipakai khusnya di formasi unconsolidated.

2.4 Pemilihan Screen pada formasi unconsolidated

Tahap penyelesaian suatu sumur yang menembus formasi lepas (unconsolidated)


tidak sederhana seperti tahap penyelesaian dengan formasi kompak (consolidated)
karena harus mempertimbangkan adanya pasir yang ikut terproduksi bersama fluida
produksi. Seandainya pasir tersebut tidak dikontrol dapat menyebabkan pengikisan dan
penyumbatan pada peralatan produksi. Disamping itu juga menimbulkan penyumbatan
pada dasar sumur. Produksi pasir lepas ini, pada umumnya sensitive terhadap laju
produksi. Apabila laju alirannya rendah, pasir yang ikut terproduksi sedikit dan
sebaliknya. Metode yang umum untuk menanggulangi masalah kepasiran meliputi
penggunaan slotted atau screen liner, dan gravel packing. Metode penanggulangan ini
memerlukan pengetahuan tentang distribusi ukuran pasir agar dapat ditentukan
pemilihan ukuran screen dan gravel yang tepat. Formasi lepas adalah formasi yang tidak
memiliki sementasi yang baik, merupakan suatu sistem yang tidak stabil sehingga daya
ikat antar butiran yang ada pada batuan sangat kecil, sedangkan formasi kompak
merupakan formasi yang memiliki sementasi yang baik, merupakan suatu sistem yag
stabil sehingga daya ikat antar butiran pada formasi batuan besar.

Gravel Pack
Gravel pack merupakan workover yang terbaik untuk single completion dengan
zona produksi yang panjang. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

5
a. Pembersihan perforasi dengan clean fluid sebelum gravel pack dipasang.
b. Penentuan ukuran gravel pack sesuai dengan ukuran butiran pasir formasi
c. Squeeze gravel pack ke dalam lubang perforasi, digunakan water wet gravel jika
digunakan oil placement fluid
d. Produksikan sumur dengan segera setelah packing, aliran produksi dimulai dengan
laju produksi rendah kemudian dilanjutkan dengan kenaikkan laju produksi sedikit demi
sedikit.

Metoda ini merupakan metoda pengontrolan pasir yang paling sederhana dan
paling tua umurnya. Pada prinsipnya, adalah gravel yang ditempatkan pada annulus
antara screen/sloted dengan casing/lubang bor, dimaksudkan agar dapat menahan pasir
formasi. Gravel pack adalah suatu cara untuk menanggulangi kepasiran yang masuk ke
dalam sumur dengan memasang krikil (gravel) di depan formasi produktif dengan cara
diijeksikan, yang mana gravel-gravel itu dapat menahan butiran yang lepas dan berlaku
sebagai penyaring. Pemakaian gravel itu baik untuk formasi yang tebal, seragam
(uniform) dan halus. Keseragaman dan ukuran butiran berhubungan dengan
perencanaan ukuran gravel. Selain itu perencanaan gravel tergantung pula kepada
pengalaman seseorang. Dewasa ini para ahli cenderung untuk memakai gravel
berukuran lebih kecil. Di dalam penempatan gravel pack dipasang saringan. Ukuran
saringan tergantung kepada distribusi ukuran gravel yang digunakan.

Jenis gravel pack pada umumnya dapat dibagi dua, yaitu :


1. Open Hole Gravel Pack (OHGP), yaitu gravel pack yang ditempatkan di antara
saringan dengan dinding bor pada formasi produktif.
2. Inside Gravel Pack (IGP), yaitu gravel pack yang ditempatkan antara casing yang
diperforasi dengan pipa saringan.

Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan di dalam perencanaan gravel pack,
yaitu :
1. Ukuran gravel pack yang tersedia

6
Gravel pack tersedia dalam beberapa ukuran. Apabila ukuran gravel hasil
perhitungan tidak tersedia, umumnya memakai ukuran yang lebih kecil. Kadang-kadang
memakai ukuran yang lebih besar apabila ukuran yang lebih kecil tidak tersedia.

2. Angularitas dan Besar Butir Gravel


Permeabilitas dan kompaksi gravel dapat dipengaruhi oleh angularitas dan besar
butir. Suman mengemukakan angularitas secara relatif tidak begitu mempengaruhi
terhadap permeabilitas gravel. Akan tetapi Archie mengemukakan bahwa permeabilitas
angular jauh lebih besar bila dibandingkan dengan permeabilitas yang bundar.

3. Kebasahan Gravel
Minyak kadang-kadang bersifat senyawa polar yang apabila diserap oleh
permukaan gravel, menyebabkan gravel cenderung bersifat basah minyak (oil wet).
Oleh karena itu, jika minyak digunakan sebagai fasa kontinu untuk fluida pembawa
dalam penempatan gravel, material gravel sebaiknya dibasahi dulu dengan air sebelum
dinjeksikan ke dalam sumur.

Screen Design
Pemilihan ukuran screen atau slot liner pada gravel pack completion,
dimasukkan untuk menahan gravel agar tidak ikut terproduksi. Penentuan celah screen
dapat dilakukan dengan beberapa persamaan yang diturunkan oleh:
1. Coberly, dengan koefisien keseragaman 2,5 – 7,5 sebagai berikut :
W= 2 x d10
2. Wilson, dengan ukuran butir pasir yang lebih seragam, sebagai berikut :
W = d10
3. Wilson, adalah sebagai berikut :
W = d15
4. SCHWARTZ, Coberly, Rogers, bahwa slot adalah :
W = d100

Dalam prakteknya, lebar slot yang sering digunakan adalah sebagai berikut :

7
0.05 inci W d20
Dimana:
W = lebar screen/slot, inci
d10 = diameter butir pada titik 10 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci
d15 = diameter pada titik 15 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci
d20 = diameter butir pada titik 20 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci
d100 = diameter butir pada titik 100 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci

Persamaan yang diajukkan Schwartz, Coberly, Rogers akan memberikan hasil


yang memuaskan, terutama apabila masalah-masalah kepasiran djumpai pada formasi-
formasi baru.Ukuran lebar celah 0.05 inci merupakan ukuran minimum yang dapat
mencegah tersumbatnya celah tersebut. Apabila harga d20 lebih kecil dari 0.05 inci,
maka perlu digunakan metoda sand control yang lain.

Dianjurkan, bahwa beberapa jenis screen slot yang digunakan mempunyai sifat antara
lain :

1. Stainless Steel

2. Mempunyai daya tahan yang sangat tinggi terhadap korosi

3. Memberikan kapasitan aliran yang optimum

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari makalah ini, ada beberapa yang dapat disimpulkan yaitu :

1. Formasi unconsolidated memiliki sementasi yang buruk dbandingkan formasi


consolidated
2. Pemilihan screen liner pada formasi unconsolidated dapat dilakukan dengan
bantuan screen design dan gravel pack
3. Akibat dari pengikisan pasir yang tidak terkontrol akan mengakibatkan rusaknya
peralatan produksi dan akan menyumbat dasar sumbur pemboran
4. Untuk penentuan celah yang bagus memiliki nilai lebar 0.05 inch
5. Terdapat empat persamaan yang bisa membantu dalam penentuan screen design
yaitu Coberly, Wilson dengan keseragaman butir, Wilson, dan
Schartwatz/Coberly/Rogers.

9
DAFTAR PUSTAKA

Dwijono, Ir. Mustofa."Petunjuk Praktis Menanggulangi Problem Sand Di


Lapangan PERTAMINA dan Meningkatkan Produksi".2004.

Hardikin M.Indriyono ES, Hariyono, upaya optimasi produksi sumur problem


kepasiran di lapangan tanjung,simposium nasional dan kongres X
IATMI. 2008

Sumantri. R. Buku Pelajaran Teknik Resevoir. Fakultas Technology Kebumian


dan Energy. Universitas Trisakti. Jakarta. 1998

https://www.google.co.id/amp/s/iatmismmigas.wordpress.com/2012/01/02/sieve-
analysis/amp/ (diakses pada tanggal 30 Mei 2020 pukul 21.00 WIB)

https://www.scribd.com/doc/190692824/Bab-II-Sieve-Analisis (diakses pada


tanggal 30 Mei 2020 pukul 23.00 WIB)

10

Anda mungkin juga menyukai