Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hand-foot-and-mouth disease merupakan salah satu penyakit infeksi

akut, disebabkan enterovirus nonpolio yang biasanya bersifat ringan dan

swasirna. Penyakit ini sangat menular, ditandai adanya lesi pada mulut serta lesi

kulit pada ekstremitas bagian distal. Coxsackievirus A tipe 16 (CV A16) adalah

penyebab tersering HFMD dan biasanya berhubungan dengan manifestasi klinis

yang ringan. EV 71 yang bersifat neurotropik juga sering menjadi penyebab

HFMD dan dikaitkan dengan manifestasi yang berat atau kematian mendadak[1].

Beberapa tahun terakhir ini epidemi HFMD yang berkaitan dengan EV 71

lebih banyak ditemukan di Asia Tenggara termasuk Malaysia (1997) Taiwan

(1998) dan Singapura (2000). Epidemi HFMD juga terjadi di Jepang pada tahun

2000, 2005 dan 2007 serta Cina pada tahun 2008. Epidemi terbesar terjadi pada

tahun 1998 di Taiwan yang menginfeksi lebih dari 120.000 orang dan

menyebabkan 78 kematian[1].

HFMD sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. HFMD

adalah penyakit umum yang menyerang anak-anak usia dibawah 10 tahun.

Infeksi HFMD lebih berat pada bayi dan anak dibandingkan orang dewasa, tetapi

umumnya, penyakit ini memiliki manifestasi ringan. Tidak ada predileksi ras
untuk penyakit infeksi ini. Rasio penderita laki-laki dan perempuan adalah 1:1

[2]

Poliovirus telah dapat dieradikasi namun enterovirus nonpolio masih

merupakan penyebab yang penting dalam kesakitan terutama pada usia anak-anak

karena belum ditemukannya vaksin dan terapi antivirus yang efektif. Tujuan

pembuatan portofolio ini adalah untuk memahami lebih dalam tentang gambaran

klinis HFMD dan terjadinya komplikasi berat yang dapat timbul, sehingga dapat

[2]
dilakukan penatalaksanaan yang tepat .
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD)

Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD) adalah suatu penyakit infeksi

sistemik akut, disebabkan oleh enterovirus, ditandai adanya lesi berbentuk ulkus

pada mulut yang dirasakan sangat nyeri dan perih oleh penderitanya dan eksantema

berbentuk vesikel pada ekstremitas bagian distal yang tidak terasa sakit atau gatal,

tapi sedikit nyeri jika ditekan disertai dengan gejala konstitusi yang ringan dan

biasanya bersifat swasirna. Anak-anak kurang dari 10 tahun paling banyak terkena

penyakit ini dan wabah dapat terjadi di antara anggota keluarga dan kontak erat.

Sanitasi yang jelek, status ekonomi yang rendah dan kondisi tempat tinggal yang

padat sangat mendukung dalam penyebaran infeksi. [3,4]

2.2 Epidemiologi Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Wabah HFMD telah dilaporkan sejak tahun 1970-an. Selama dekade terakhir,

epidemi HFMD semakin meningkat di negara-negara dari Kawasan Pasifik Barat,

yang merupakan wilayah yang paling parah terkena dampak HFMD di dunia,

termasuk Jepang, Malaysia, dan Singapura, Thailand, dan China. Negara-negara

lain yang juga juga terkena dampak HFMD adalah, Taiwan, Hong Kong, Republik
Korea, Vietnam, Kamboja, Brunei dan Mongolia. HFMD juga telah berkembang

menjadi penyebab utama morbidits dan mortalitas di beberapa negara berkembang.


[1]

HFMD sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. HFMD adalah

penyakit umum yang menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun (kadang

sampai 10 tahun). Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus, meskipun

[1]
kasus pada orang dewasa dilaporkan .

Infeksi HFMD lebih berat pada bayi dan anak dibandingkan orang dewasa,

tetapi umumnya, penyakit ini memiliki manifestasi ringan. Tidak ada predileksi ras

untuk penyakit infeksi ini. Rasio penderita laki-laki dan perempuan adalah 1:1.[2]

2.3 Etiologi Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Coxsackievirus Tipe 16 (CV A16) adalah virus penyebab yang terlibat dalam

sebagian besar kasus infeksi HFMD, tetapi penyakit ini juga terkait dengan

coxsackievirus A5, A7, A9 A10, B2, dan strain B5. Enterovirus 71 (EV-71) juga

menyebabkan wabah HFMD dengan keterlibatan neurologis terkait di wilayah Pasifik

barat. Coxsackievirus adalah subkelompok dari enterovirus nonpolio dan merupakan

anggota dari famili Picornaviridae. Enterovirus merupakan virus kecil nonenveloped

berbentuk icosahedral yang mempunyai diameter sekitar 30 nm dan terdiri atas

molekul linear RNA rantai tunggal.


Penyebab HFMD yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah

Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya

lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. (4) Virus

ini ditemukan di sekresi saluran pernafasan seperti saliva, sputum atau sekresi nasal,

cairan vesikel dan feses dari individu yang terinfeksi.1,3,6,7

2.4 Patogenesis Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

HFMD mempunyai masa inkubasi 3-6 hari. Selama masa epidemik, virus

menyebar dengan sangat cepat dari satu anak ke anak yang lain. Setelah virus

masuk melalui jalur oral atau pernafasan akan terjadi replikasi awal pada faring dan

usus, kemungkinan dalam sel M mukosa. Replikasi awal pada faring dan usus

diikuti dengan multiplikasi pada jaringan limfoid seperti tonsil, Peyer patches dan

kelenjar limfe regional. Penyebaran ke kelenjar limfe regional ini berjalan dalam

waktu 24 jam yang diikuti dengan viremia. Adanya viremia primer (viremia minor)

menyebabkan penyebaran ke sistem retikuloendotelial yang lebih jauh termasuk

hati, limpa, sumsum tulang dan kelenjar limfe yang jauh. Respon imun dapat

membatasi replikasi dan perkembangannya di luar sistem retikuloendotelial yang

menyebabkan terjadinya infeksi subklinis.3,4

Infeksi klinis terjadi jika replikasi terus berlangsung di sistem

retikuloendotelial dan virus menyebar melalui viremia sekunder (viremia mayor) ke

organ target seperti susunan saraf pusat (SSP), jantung dan kulit. Kecenderungan

terhadap organ target sebagian ditentukan oleh serotipe yang menginfeksi.


Coxsackievirus, echovirus dan EV 71 merupakan penyebab tersering penyakit virus

dengan manifestasi pada kulit. HFMD yang disebabkan oleh coxscakievirus A16

biasanya berupa lesi mukokutan ringan yang menyembuh dalam 7–10 hari dan

jarang mengalami komplikasi. Namun enterovirus juga dapat merusak berbagai

macam organ dan sistem. Kerusakan ini diperantarai oleh nekrosis lokal dan respon

inflamasi inang.

2.5 Manifestasi Klinis Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Gambaran klinis HFMD terjadi hampir 100% pada anak-anak usia prasekolah

yang terinfeksi namun hanya 11% individu dewasa yang terinfeksi memiliki kelainan

kulit. Setelah fase inkubasi 3 hingga 6 hari, penderita dapat mengeluh panas badan

yang biasanya tidak terlalu tinggi (38°C hingga 39°C), malaise, nyeri perut, dan

gejala traktus respiratorius bagian atas seperti batuk dan nyeri tenggorok. Dapat

dijumpai pula adanya limfadenopati leher dan submandibula.1 Eksantema biasanya

nampak 1 hingga 2 hari setelah onset demam, tetapi bisa bervariasi tergantung

serotipe yang terlibat[4].

Hampir semua kasus HFMD mengalami lesi oral yang nyeri. Biasanya jumlah

lesi hanya beberapa dan bisa ditemukan di mana saja namun paling sering ditemukan

di lidah, mukosa pipi, palatum durum dan jarang pada orofaring. Lesi dimulai dengan

makula dan papula berwarna merah muda cerah berukuran 5–10 mm yang berubah

menjadi vesikel dengan eritema di sekelilingnya. Lesi ini cepat mengalami erosi dan

berwarna kuning hingga abu-abu dikelilingi oleh halo eritema. Beberapa literatur lain
menyebutkan bentuk lesi ini sebagai vesikel yang cepat berkembang menjadi ulkus.3

Lesi pada mulut ini dapat bergabung, sehingga lidah dapat menjadi eritema

dan edema. Lesi kulit terdapat pada dua pertiga penderita dan muncul beberapa saat

setelah lesi oral. Lesi ini paling banyak didapatkan pada telapak tangan dan telapak

kaki. Selain itu dapat juga pada bagian dorsal tangan, sisi tepi tangan dan kaki,

bokong dan terkadang pada genitalia eksternal serta wajah dan tungkai. Lesi pada

kulit dapat bersifat asimtomatik atau nyeri. Timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh

memerah/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan

dan kaki. Jumlahnya bervariasi dari beberapa saja hingga banyak. Setelah menjadi

krusta, lesi sembuh dalam waktu 7 hingga 10 hari tanpa meninggalkan jaringan

parut.1,3,4

2.6 Diagnosis Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Diagnosis infeksi enterovirus seringkali berdasarkan anamnesis dan

pemeriksaan fisik. Diagnosis laboratoris dapat ditegakkan melalui tes serologis,

isolasi virus dengan kultur dan teknik PCR.

- Pemeriksaan serologis jarang dilakukan karena tidak dapat menunjukkan serotipe

yang spesifik dari enterovirus. Standar kriteria untuk mendiagnosis infeksi

enterovirus adalah dengan isolasi virus. Virus dapat diisolasi dan didentifikasi

melalui kultur dan teknik immunoassay dari lesi kulit, lesi mukosa atau bahan

feses.

-  Polymerase chain reaction (PCR) memberikan hasil yang cepat dalam


mendeteksi dan identifikasi serotipe enterovirus. Pemeriksaan ini menjadi uji

diagnostik yang sangat bernilai tetapi dibatasi oleh ketersediaannya dan biayanya

yang relatif mahal.

-  Fungsi lumbal merupakan pemeriksaan yang penting jika terjadi meningitis. Profil

dari cairan serebrospinalis pada penderita dengan meningitis aseptik akibat

enterovirus adalah lekosit yang sedikit meningkat, kadar gula yang normal atau

sedikit menurun, sedangkan kadar protein normal atau sedikit meningkat.3

2.7 Diagnosis Banding Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Diagnosis banding yang paling dekat adalah enantema pada

herpangina. Kedua panyakit ini disebabkan oleh enterovirus. HFMD dibedakan dari

herpangina berdasarkan distribusi lesi oral dan adanya lesi kulit. Herpangina berupa

enantema tanpa lesi kulit dengan lokasi yang tersering di plika anterior fossa

tonsilaris, uvula, tonsil, palatum molle.

Diagnosis banding yang lain yang perlu dipertimbangkan adalah, varisela,

stomatitis aphthosa, erupsi obat, herpes ginggivostomatitis serta measle. Stomatitis

aphthosa dibedakan dengan HFMD dengan tidak adanya demam dan tanda sistemik

lainnya serta riwayat kekambuhan. Ditandai dengan adanya lesi ulseratif yang besar

pada bibir, lidah dan bagian mukosa buccal yang sangat nyeri.

Penderita herpes ginggivostomatitis biasanya mengalami lesi yang

lebih nyeri dengan limfadenopati leher dan ginggivitis yang lebih menonjol. Lesi

pada`kulit biasanya terbatas perioral namun dapat mengenai jari tangan yang
dimasukkan ke mulut.

Berbeda dengan HFMD, lesi kulit pada varisela lebih luas dengan distribusi

sentrifugal, lesi jarang pada telapak tangan dan kaki serta lebih jarang dijumpai lesi

oral. Lesi pada varisela membaik oleh pembentkan krusta, sementara vesikel pada

HFMD membaik dengan adanya reabsorbsi dari cairan vesikel. Jika eksantema pada

HFMD berbentuk makulopapuler maka lesi ini harus dibedakan dengan erupsi obat

meskipun jarang.

Selain adanya lesi makulopapular yang bersifat general, anak-anak yang

mengalami infeksi measle atau campak akan disertai dengan batuk, coryza dan

konjungtivitis, serta koplik spot sering ditemukan pada pemeriksaan mulut.1,3

2.8 Komplikasi Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Komplikasi serius jarang terjadi pada penderita HFMD. Komplikasi paling

sering terjadi akibat ulserasi oral yang nyeri, sehingga dapat mengganggu asupan oral

dan menyebabkan dehidrasi. Seperti halnya penyakit kulit lainnya, infeksi sekunder

karena bakteri juga dapat terjadi pada lesi kulit penderita HFMD. Satu komplikasi

yang jarang yaitu eczema coxsackium terjadi pada individu dengan eksema. Pada

penderita ini berkembang infeksi virus kutan diseminata yang sama dengan yang

terlihat pada eczema herpeticum. Komplikasi serius yang berkaitan dengan HFMD

dan paling banyak ditemui adalah meningitis aseptik. Meningitis aseptik jarang

mengancam jiwa dan pada penderita juga tidak terjadi komplikasi lanjutan yang

permanen. Epidemik EV 71 yang terjadi di Taiwan berakibat terjadinya bentuk


penyakit yang parah seperti ensefalitis, ensefalomielitis, polio-like syndromes,

miokarditis, edema pulmonum, perdarahan di paru-paru dan kematian. Huang dan

kawan-kawan (1999) mendeskripsikan komplikasi neurologis terkait EV 71 dalam

istilah sindroma neurologik yang terdiri dari aseptic meningitis, acute flaccid

paralysis dan brain stem encephalitis atau rhomboencephalitis.3,4

2.9 Penatalaksanaan Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Kebanyakan kasus HFMD diharapkan dapat sembuh secara total. HFMD

biasanya merupakan penyakit swasirna, di mana kenaikan antibodi serum

mengeliminasi viremia dalam waktu 7 hingga 10 hari. Perawatan utama adalah

istirahat yang cukup serta terapi suportif. Pada kondisi penderita dengan kekebalan

dan kondisi tubuh cukup baik, biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus.

Peningkatan kekebalan tubuh penderita dilakukan dengan pemberian konsumsi

makanan dan cairan dalam jumlah banyak dan dengan kualitas gizi yang tinggi, serta

diberikan tambahan vitamin dan mineral jika perlu. Jika didapati terjadinya gejala

superinfeksi akibat bakteri maka diperlukan antibiotika atau diberikan antibiotika

dosis rendah sebagai pencegahan.

Secara umum, untuk menekan gejala dan rasa sakit akibat timbulnya luka di

mulut dan untuk menurunkan panas dan demam, digunakan obat-obatan golongan

analgetika dan antipiretika. Demam dapat diobati dengan antipiretik, nyeri dapat

diobati dengan dosis standar asetaminofen atau ibuprofen. Analgesia langsung juga
dapat diadministrasikan untuk rongga mulut melalui obat kumur atau semprotan.

Pastikan asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi. Cairan intravena

mungkin diperlukan jika pasien mengalami dehidrasi sedang atau berat atau jika

pasien mengalami kesulitan memenuhi asupan nutrisi secara oral.

Infeksi HFMD menyebabkan imunitas terhadap virus yang spesifik. Jika

terjadi episode penyakit yang kedua kemungkinan besar terjadi karena infeksi dengan

virus strain yang lain dalam grup enterovirus.

Belum ada vaksin atau antivirus yang diketahui efektif dalam mengobati

maupun mencegah infeksi EV 71. Beberapa bahan untuk pembuatan vaksin EV 71

termasuk formalin-inactivated whole virus vaccine, DNA vaccine dan recombinat

protein vaccine masih harus disempurnakan lebih lanjut sebelum digunakan dalam uji

klinis.1,3,4

2.10 Prognosis Hand-foot-and-mouth Disease (HFMD)

Secara umum HFMD memiliki prognosis yang baik dan kebanyakan kasus

diharapkan dapat sembuh secara total. Komplikasi serius jarang terjadi. Komplikasi

yang parah dapat timbul jika terjadi salah diagnosis, tidak dapat memelihara hidrasi

yang adekuat dan gagal dalam mengenali tanda-tanda menuju adanya keterlibatan

neurogenik. Belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah infeksi EV 71. Risiko

infeksi dapat diturunkan dengan tindakan higiene yang bagus dan dengan

menghindari kontak antara individu yang terinfeksi dan individu yang rentan.3,4
BAB III

KESIMPULAN

Hand, Foot and Mouth Disease merupakan penyakit self limiting disease yang

menyerang anak-anak usia dibawah 10 tahun, dengan manisfestasi klinis berupa

demam serta munculnya lesi berbentuk ulkus pada mulut yang dirasakan sangat nyeri

dan perih oleh penderitanya dan ruam berbentuk macula eritema disertai vesikel pada

ekstremitas bagian distal yang tidak terasa sakit atau gatal. Penegakan diagnosis dapat

dilakukan melalui anamnesis serta pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang jaang

dilakukan. Terapi yang dapat diberikan adalah terapi suportif sesuai dengan gejala

serta istirahat yang cukup. Edukasi mengenai komplikasi yaitu dehidrasi perlu

diinformasikan pada keluarga pasien.


DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. 2011. A Guide to Clinical Management and Public Health Response for

Hand, Foot and Mouth Diseaase (HFMD). WHO Library Cataloguing in Publication

Data.

2. Samphutthanon, R. 2014. Spatio-Temporal Distribution and Hotspots of Hand,

Foot and Mouth Disease (HFMD) in Northern Thailand. Int. J. Environ. Res. Public

Health, 11: 312-336

3. Andriyani, C, Heriwati, D, Sawitri. 2010. Penyakit Tangan, Kaki dan Mulut.

Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin, 22(2): 143-150

4. Nugrahani, I. Penyakit Kaki, Tangan dan Mulut dan Pengobatannya. Fak. Farmasi

UPJ

5. Hu, M et all. 2012. Determinants of the Incidence of Hand, Foot and Mouth

Disease in China Using Geographically Weighted Regression Models. Plus One, 7(6)

6. Zou, X, Zhuang, X, Wang, B, Qiu, Y. 2012. Etiologic and epidemiologic analysis

of hand, foot, and mouth disease in Guangzhou city: a review of 4,753 cases. Braz J

Infect Dis, 1(5): 457-465

7. Zhu, L et all. 2015. The Impact of Ambient Temperature on Childhood HFMD

Incidence in Inland and Coastal Area: A Two-City Study in Shandong Province,

China. Int. J. Environ. Res. Public Health, 12: 8691-8704