Anda di halaman 1dari 13

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam hubungannya
dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia
bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrat manusia
akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia berlangsung dalam berbagai
bentuk komunikasi dan situasi yang mempengaruhinya. Komunikasi dapat terjadi
pada siapa saja, baik antar guru dengan muridnya. Orang tua dengan anaknya,
pimpinan dengan bawahannya, antara sesama karyawan dan lain sebagainya.
Melakukan komunikasi merupakan bagian terpenting dari semua aktivitas, agar timbul
pengertian dalam menyelesaikan tugas masing-masing.

Komunikasi merupakan dasar interaksi antar manusia. Kesepakatan atau


kesepahaman dibangun melalui sesuatu yang berusaha bisa dipahami bersama
sehingga interaksi berjalan dengan baik. Persoalan mendasar dari masalah ini terletak
pada hambatan yang muncul dalam membangun kesepahaman dan usaha mencapai
tujuan secara maksimal. Hal ini biasanya melahirkan suatu kegalauan tentang
komunikasi yang baik sederhana yang dibayangkan yang kemudian menuntun pada
pemikiran tentang usaha melakukan komunikasi secara efektif.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa definisi komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K)?

1.2.2 Apa faktor penghambat KIP/K?

1.2.3 Apa faktor individual yang menghambat KIP/K?

1.2.4 Apa faktor yang berkaitan dengan interaksi?

1.2.5 Apa faktor situsional yang menghambat KIP/K?


2

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk mengetahui definisi komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K)

1.3.2 Untuk mengetahui faktor penghambat KIP/K

1.3.3 Untuk mengetahui faktor individual yang menghambat KIP/K

1.3.4 Untuk mengetahui faktor yang berkaitan dengan interaksi

1.3.5 Untuk mengetahui faktor situsional yang menghambat KIP/K


3

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang dilakukan dari orang ke orang,


bersifat 2 arah baik secara verbal dan non verbal, dengan saling berbagi informasi dan
perasaan antara individu dengan individu atau individu atau antar individu di dalam
kelompok kecil.
Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan lengkap, dilakukan secara
sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan
pengetahuan klinik, bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini,
masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi
masalah tersebut ( Saifudin, Abdul Bari : 2002 ).
Montersen ( 1964 : 301 ) mendefinisikan konseling sebagai suatu proses antar-
pribadi, dimana satu orang dibantu oleh satu orang lainnya untuk meningkatkan
pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya. Willian Ratingan ( 1967: 114-
115 ), mendeskripsikan konseling sebagai usaha untuk membantu seseorang menolong
dirinya sendiri.
Suatu komunikasi interpersonal belum tentu suatu konseling tetapi konseling selalu
merupakan komunikasi interpersonal. Orang yang memberi bantuan  dalam konseling
disebut konselor. Sedangkan orang yang diberi konseling disebut konseli. Dalam
kebidanan konseli disebut juga Klien dalam konseling hubungan atau pertalian antara
konselor dengan klien memegang peranan yang penting bagi keberhasilan konseling, dan
ini berbeda dengan hubungan pada situasi lain.

2.2 Faktor penghambat KIP/K

Faktor penghambat KIP/K antara lain:

2.2.1 Faktor individual

Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan faktor individual yang dibawa


seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari factor fisik
maupun kepekaan pancaindera (kemampuan untuk melihat dan mendengar). Usia dan
jenis kelamin, sudut pandang atau nilai-nilai yang dianut, serta factor sosial diantaranya
sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial dan
peran sosial.
4

2.2.2 Faktor yang berkaitan dengan interaksi

Meliputi tujuan dan harapan terhadap komunikasi, sikap terhadap interaksi, serta
pembawaan diri seseorang terhadap orang lain seperti kehangatan, perhatian, dukungan.

2.2.3 Faktor situsional

Situasi selama melakukan komunikasi sangat mempengaruhi keberhasilan komunikasi


lingkungan yang tenang dan terjaga privasinya merupakan situasi yang sangat
mendukung begitu pula sebaliknya.

2.2.4 kompetensi dalam melakukan percakapan

Agar komunikasi interpersonal berjalan lancar dan mendatangkan hasil yang


diharapkan Baik komunikator maupun komunikasi perlu memiliki kemampuan dan
kecakapan dalam melakukan komunikasi interpersonal. kompetensi yang harus
dipenuhi tersebut meliputi:

a. Empati (empathy) adalah kecakapan memahami perasaan dan pengertian orang lain

b. Perspektif sosial adalah kecakapan melihat kemungkinan-kemungkinan perilaku


yang diambil oleh orang yang kita ajak komunikasi

c. Kepekaan (sensivity) terhadap sesuatu hal dalam KIP/K

d. Pengetahuan akan situasi pada saat melakukan KIP/K

e. Memonitor diri adalah kemampuan menjaga ketepatan

f. Kecakapan dalam tingkah laku antara lain keterlibatan dalam berinteraksi

2.2.5 Pengetahuan, keterampilan dan sikap konselon. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh 3
aspek:

1. kognitif

2. psikomotor

3. Afektif

2.2.6 Pengetahuan menunjukkan aspek kognitif keterampilan mencerminkan aspek


psikomotor. Aspek mencerminkan aspek afektif:

1. Pengetahuan konselon

 Pengetahuan tentang kesehatan


5

 Pengetahuan dan keyakinan tentang adat istiadat, norma tertentu

 Pengetahuan tentang alat / metode kontrasepsi

 Pengetahuan tentang hubungan antar manusia

 Pengetahuan tentang KIP dan koseling

 Pengetahuan tentang psikologi

2. Keterampilan (psikomotor)

 Terampil dalam menggunakan alat-alat pemeriksaan tubuh klien

 Terampil dalam melakukan komunikasi interpersonal dan konseling

 Terampil dalam menggunakan alat bnatu visual untuk membantu pemberian


informasi kepada klien

 Terampil dalam mengatasi situasi genting yang dihadapi klien

 Terampil membantu klien dalam membuat keputusan,dll

3. Sikap afektif

 Motivasi yang tinggi untuk menolong orang lain

 Bersikap ramah, sopan, santun

 Menerima klien apa adanya

 Empati terhadap klien

 Membantu dengan tulus

 Terbuka terhadap pendapat orang lain,dll.

4. Sikap kualitas diri konselor (Carl Rogers)

Memandang dengan kerangka berpikir klien, berusaha memahami

2.3 Faktor Individual

2.3.1 Sikap individu


6

2.3.2 Faktor individual, meliputi faktor fisik yaitu:

 Kemampuan melihat dan mendengar

 Usia

 Jenis kelamin

2.3.3 Faktor sosial, meliputi jaringan sosial, peran dalam masyarakat

2.3.4 Faktor bahasa

2.4 Faktor yang berkaitan dengan interaksi

2.4.1  Tujuan dan harapan terhadap komunikasi

Ini biasanya terjadi apabila dalam suatu komunikasi/ konseling, komunikator


tidak memberikan konseling sesuai kebutuhan klien, maka apa yang disampaikan
komunikator tidak akan didengar atau diperhatikan oleh klien karena tidak sesuai
dengan harapannya. Untuk menghindari hal tersebut sudah seharusnya seorang
komunikator memiliki kemampuan untuk menganalisa masalah klien sehingga dapat
memberikan konseling sesuai dengan kebutuhan klien. Dengan demikian tujuan dan
harapan dari kedua belah pihak dapat tercapai.

2.4.2  Sikap terhadap interkasi


Sikap terbuka dan bersahabat sangat mendukung komunikasi, tetapi
sebaliknya orang yang tertutup dan kurang bersahabat akan sulit untuk diajak
komunikasi, biasanya orang seperti ini mempunyai sifat introved sehingga susah
untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi. Mendapatkan klien yang seperti ini
sebagai seorang bidan harus mampu memancing percakapan dan menggunakan
pertanyaan- pertanyaan terbuka.

2.4.3 Pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan, perhatian,
dukungan)
Pembawaan diri seseorang sangat mempengaruhi komunikasi. Orang
sombong, sinis dan tidak memberikan dukungan merupakan hambatan komunikasi
yang harus mampu kita hadapi. Kadang- kadang sebagai menusia biasa kita sebagai
petugas kesehatan sudah merasa malas dahulu untuk memberikan konseling pada
orang semacam itu. Tapi kita harus menyingkirkan sikap seperti itu dan harus
7

profesional. Cobalah untuk bersahabat dan tidak menggurui, tetapi harus menguasai
kontens/ materi yang akan kita berikan. Dengan sikap seperti itu biasanya mereka
akan merubah sikapnya.

2.4.4 Sejarah hubungan


Sejarah hubungan adalah sesuatu yang telah lampau tetapi akan sangat
berpengaruh dimasa sekarang atau masa datang. Orang yang punya hubungan kurang
harmonis dimasa lalu dan tiba- tiba bertemu dalam suatu konsultasi/ konseling akan
menyebabkan sikap canggung dan malas untuk bertemu. Tapi sekali lagi kita sebagai
tenaga kesehatan harus profesional dalam menhadapi ini, lupakan sejenak masalah
yang lalu dan hadapi klien sesuai masalah yang harus dipecahkan oleh klien saat ini.
Tidak perlu mengungkit- ungkit masa lalu dan pura- puralah lupa kalau pernah ada
hubungan/ masalah yang kurang harmonis dimasa lalu.

2.4.5   Kompetensi dalam melakukan percakapan


Agar komunikasi interpersonal berjalan lancar dan mendatangkan hasil yang
diharapkan, baik komunikator maupun komunikan perlu memiliki kemampuan dan
kecakapan dalam melakukan komunikasi interpersonal.
KIP adalah tingkat dimana perilaku kita dalam komunikasi interpersonal sesuai dan
cocok dengan situasiu dan membantu kita mencapai tujuan komunikasi interpersonal
yang kita lakukan dengan orang lain. Dengan kompetensi, perilaku komunikasi kita
akan sesuai dengan peraturan- peraturan dalam KIP dan membantu mencapai tujuan
komunikasi. Agar komunikasi interpersonal berhasil kita perlu memiliki keterampilan
dalam komunikasi interpersonal baik sosial maupun behavioral. Kompetensi tersebut
meliputi :
a) Empati (  emphati ) adalah kecakapan memahami perasaan dan pengertian orang
lain.
b) Perspektif sosial adalah kecakapan melihat kemungkinan-kemungkinan perilaku
yang diambil oleh orang yang kita ajak komunikasi.
c) Kepekaan ( sensitivity ) terhadap sesuatu hal dalam KIP.
d) Pengetahuan akan situasi pada saat melakukan KIP.
e) Memonitor diri adalah kemampuan menjaga ketepatan perilaku dan pengungkapan
komunikan.
f) Kecakapan dalam tingkah laku antara lain keterlibatan dalam berinteraksi.
8

2.5 Faktor situsional

Situasi selama melakukan komunikasi sangat mempengaruhi keberhasilan


komunikasi, lingkungan yang tenang dan terjaga privasinya merupakan situasi yang
sangat mendukung, begitu pula sebaliknya komunikasi yang dilakukan ditempat
keramaian akan sangat mengganggu pendengaran.
9

BAB 3

KASUS

Ny. R (50 tahun), mengeluh sering haus dan kulit kering, sering kencing, BB merosot turun
secara tajam, rasa lapar dan sering makan tetapi badan terasa lemas, klien mendapat terapi
insulin.

Diagnosa medis : Diabetes melitus

Diagnosa keperawatan

1. Dehidrasi berhubungan dengan rasa haus yang kontinyuitas


ditandai dengan kulit kering dan intensitas BAK meningkat.

2. Kekurangan nutrisi berhubungan dengan BB merosot turun


secara tajam ditandai dengan rasa lapar dan badan terasa
lemas.

 Tahap orientasi
Perawat memberikan penyuluhan tentang kesiapan pulang pada pasien

perawat (mawaddah) : “Selamat pagi bapak”( dengan suara lembut dan sopan)
Pasien (iqbal) : “Selamat pagi suster”
Perawat (mawaddah)           : “Kenalkan saya perawat mawaddah biasa dipanggil
madew, nama bapak siapa?”
Pasien(iqbal) : “Nama saya iqbal husaini, biasa dipanggil ibal.”
Perawat (mawaddah) : “Apa bapak sudah yakin merasa sehat dan siap untuk
pulang?”
Pasien(iqbal) : “Insya-Allah, saya siap pulang hari ini.
Perawat (intan) : “Baiklah bapak, kalau bapak sudah siap, saya mahasiswa dari
prodi S1 keperawatan UNPRI , bermaksud menyampaikan
informasi tentang hal-hal yang perlu bapak atau keluarga
ketahui dan rencana tindak lanjut perawatan setelah bapak
pulang. Apa bapak sudah siap untuk menerima informasi
dari kami?”
Pasien (novan)                     : “Oh ya, terima kasih suster, silahkan!”
Perawat ( intan)                     : “Apakah bapak sudah mengetahui hal-hal yang dilarang
10

atau tidak diperbolehkan bapak lakukan setelah pulang


dari  Rumah Sakit?.”
”Pasien ( novan)                   : “Belum suster”
Perawat( mona)                     : “yang pertama Diet diabetes melitus tujuannya untuk
membantu bapak dalam memperbaiki kebiasaan makan dan
olah raga untuk mendapatkan kontol metabolik yang lebih
baik, jenis minuman yang tidak di anjurkan  untuk bapak
konsumsi  yaitu makanan  yang mengandung gula
sederhana , seperti gula pasir , sirup, jeli, susu kental manis,
eskrim. Dan makanan-makanan yang mengandung banyak
lemak  dan natrium seperti cake, gorengan, ikan asin, telur
asin dan makanan yang di awetkan .”
Perawat (yani)                       : “ yang kedua  penggunaan insulin yaitu untuk
                                                  menetralisir kadar gula yang ada dalam tubuh bapak”.
Perawat (izzati)                      : “tanda dan  gejalanya  : poliuria  (sering buang air
                                               kecil),Polidipsia (selalu merasa haus).  polifagia – (selalu
                                                 merasa lapar)
Pasien (kardoyoka )             : (Bila pasien mengaku sudah, minta pasien untuk mengulangi
atau menyebutkan hal-hal yang dilarang atau tidak
diperbolehkan pasien selama dirumah)
Perawat (jelita)                       :”Kalau tidak keberatan bapak bisa menjelaskan kembali
kepada kami“ (untuk validasi pemahaman klien)
Pasien(kardoyoka)               : “saya tidak boleh memakan  minuman  yang mengandung
gula sederhana seperti gula pasir,susu dan makanan yang
mengandung banyak lemak  dan natrium seperti gorengan,
ikan asin, telur asin dan makanan yang di awetkan.
Perawat  (nurrasyidah )       : (Mendengarkan, bila ada yang salah membenarkan, )iya
pak... bapak benar-benar siap untuk pulang dan sangat
perhatian pada kesehatan, semua informasi yang bapak
peroleh semua bapak ingat-ingat dengan baik”
Pasien (iqbal)                        : “Terima kasih suster.”
Perawat (infani)                    : ”Baik, sepertinya bapak sudah benar-benar ingin segera
pulang, apakah bapak sudah menyelesaikan administrasi
KRS?”
Pasien( novan) : “Sudah suster”
Perawat (infani) : “Kalau sudah, silahkan barang-barang yang akan di bawa
pulang di cek lagi, jangan lupa tetap menjaga kesehatan dan
11

kontrol sesuai jadwal yang sudah di berikan. Kami selalu


siap membantu bila ada yang bapak tanyakan kepada kami.”
Pasien (kardoyoka)              :“Terima kasih suster”
Perawat (nurrasyidah)          :“Karena waktunya sudah cukup dan bapak sudah siap   untuk
pulang, kami ucapkan selamat jalan, dan mohon maaf bila
pelayanan kami selama ini ada yang kurang berkenan bagi
bapak.”
Pasien( Iqbal)                        : “Sama-sama suster, terima kasih. Selamat siang”
Perawat (jelita)                       : “Selamat siang.”
12

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Manusia di lahirkan ke dunia ini adalah sebagai makhluk sosial antara manusia
yang satu dengan yang lainnya pasti akan berinteraksi. Interaksi itulah yang dimaksud
komunikasi.

Macam-macam komunikasi di bagi menjadi dua yaitu Komunikasi verbal adalah


komunikasi yang menggunakan lambang kata-kata atau bahasa sebagai medianya baik
secara lisan maupun tulisan komunikasi non verbal adalah pesan atau informasi yang
tidak disampaikan melalui lisan maupun tulisan tetapi menggunakan gerakan tubuh.

Hambatan dalam berkomunikasi adalah hambatan yang bisa diakibatkan dari


fisik, hambatan semantik, hambatan psikologis.

4.2 Saran

Dalam berkomunikasi sebaiknya dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan
menggunakan bahasa yang baik,sopan dan apabila menggunakan bahasa tubuh,
gunakan bahasa tubuh yang sopan dan tidak membuat teman yang berkomunikasi kita
tersinggung dengan perkataan dan gerak tubuh kita.
13

DAFTAR PUSTAKA

Yulifah Rita. 2009. Komunikasi dan Konseling dalam Kebidanan.Jakarta:Selemba Medika


Wahyunigrum, Ema dan Yogi Andhi Lestari. 2010. Buku Saku Komunikasi dan Konseling
Dalam Praktik Kebidanan. Jakarta : Trans Info Media.
Wulandari, Diah. 2009. Komunikasi dan Konseling Dalam Praktik Kebidanan. Yogjakarta :
Nuha Medika.
Fromm, Erich, The Art of Listening, Alih bahasa: Apri Danarto, Yogyakarta, Jendela,
2002