Anda di halaman 1dari 33

ASKEP KEPERAWATAN GAWAT DARURAT FLAIL CHEST

DISUSUN OLEH :
1. EVI NOVITA (A11801744)
2. FADILA DWI MELANI (A11801745)
3. FARDATUL MUYASAROH (A11801747)
4. FARID AL FALAQ (A11801748)
5. FEBRIANA DWI CAHYANI (A11801750)
6. FINA DWI UTAMI (A11801751)
7. FITRIANNA KHOLIFATUL U (A11801755)
8. FRIAS SETIYANINGSIH (A11801756)
9. IIS PURNAMASARI (A11801767)
10. IMAN ARIF AJI WIDODO (A11801770)
11. INDAH ISNANDARI (A11801771)
12. INTAN PUTRI PERMATASARI (A11801773)
13. IQBAL NAILA (A11801774)
14. KHUSNUL KHANIFAH (A11801781)
15. LUSI LESTARI (A11801788)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG


2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Alloh SWT.yang telah memberikan nikmat serta hidayah-
Nyaterutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan yang berjudul “Makalah Flail Chest”. Laporan ini disusun dengan maksud
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dosen dan juga dalam rangka
memperdalam pemahaman tentang flail chest. Penulis menyadari bahwa banyak
terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini, maka dari itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Gombong, 31 Agustus 2020

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................ii
BAB I....................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.................................................................................................................................1
1. LATAR BELAKANG...............................................................................................................1
2. Rumusan Masalah......................................................................................................................2
3. Tujuan Penulisan.......................................................................................................................2
BAB II...................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN...................................................................................................................................3
1. Laporan Pendauluan..................................................................................................................3
A. Pengertian..............................................................................................................................3
B. BatasanKarakteristik..............................................................................................................3
C. Faktor yang Berhubungan......................................................................................................4
D. FokusPengkajian....................................................................................................................4
E. SEVEN JUMP.......................................................................................................................4
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT......................................................13
PENUTUP...........................................................................................................................................29
KESIMPULAN...............................................................................................................................29
SARAN...........................................................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................30

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Fail chest adalah area toraks yang "melayang" (flail) oleh sebab adanya fraktur
iga multipel berturutan = 3 iga , dan memiliki garis fraktur = 2 (segmented) pada tiap
iganya.Akibatnya adalah: terbentuk area "flail" yang akan bergerak paradoksal
(kebalikan) dari gerakan mekanik pernapasan dinding dada. Area tersebut akan
bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar pada ekspirasi.
Flail Chest.terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai
kontinuitas dengan keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur
iga multipel pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur.
Adanya semen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada
pergerakan dinding dada. Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi sesuai
dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan hipoksia yang serius.
Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim paru yang
mungkin terjadi (kontusio paru). Walaupun ketidak-stabilan dinding dada
menimbulkan gerakan paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi,
defek ini sendiri saja tidak akan menyebabkan hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia
pada penderita ini terutama disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding
dada yang tertahan dan trauma jaringan parunya.
Flail Chest mungkin tidak terlihat pada awalnya, karena splinting (terbelat)
dengan dinding dada. Gerakan pernafasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara
asimetris dan tidak terkoordinasi. Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan
krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membantu diagnosisi. Dengan foto toraks akan
lebih jelas karena akan terlihat fraktur iga yang multipel, akan tetapi terpisahnya sendi
costochondral tidak akan terlihat. Pemeriksaan analisis gas darah yaitu adanya
hipoksia akibat kegagalan pernafasan, juga membantu dalam diagnosis Flail Chest.
Terapi awal yang diberikan termasuk pemberian ventilasi adekuat, oksigen yang
dilembabkan dan resusitasi cairan.
Bila tidak ditemukan syok maka pemberian cairan kristoloid intravena harus
lebih berhati-hati untuk mencegah kelebihan pemberian cairan. Bila ada kerusakan
parenkim paru pada Flail Chest, maka akan sangat sensitif terhadap kekurangan

1
ataupun kelebihan resusitasi cairan. Pengukuran yang lebih spesifik harus dilakukan
agar pemberian cairan benar-benar optimal. Terapi definitif ditujukan untuk
mengembangkan paru-paru dan berupa oksigenasi yang cukup serta pemberian cairan
dan analgesia untuk memperbaiki ventilasi. Tidak semua penderita membutuhkan
penggunaan ventilator. Pencegahan hipoksia merupakan hal penting pada penderita
trauma, dan intubasi serta ventilasi perlu diberikan untuk waktu singkat sampai
diagnosis dan pola trauma yang terjadi pada penderita tersebut ditemukan secara
lengkap. Penilaian hati-hati dari frekuensi pernafasan, tekanan oksigen arterial dan
penilaian kinerja pernafasan akan memberikan suatu indikasi timing / waktu untuk
melakukan intubasi dan ventilasi.
2. Rumusan Masalah
Untuk mendapatkan gambaran umum tentang pelaksanaan dalam Asuhan
keperawatan pada pasien Tn.L dengan flail chest secara rinci dengan menggunakan
proses keperawatan.
3. Tujuan Penulisan
Adapaun beberapa tujuan yang diperoleh dalam mempelajari sistem integumenadalah
a) Mengetahui Laporan pendahuluan flail chest
b) Mengetahui faktor - faktor yang berhubungan dengan flail chest
c) Mengetahui faktor pengkajian pada flail chest
d) Mengetahui askep flail chest

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Laporan Pendauluan
A. Pengertian
Nyeri adalah sensasi yang sangat tidak menyenangkan dan sangat individual
yang tidak dapat dibagi dengan orang lain. Nyeri dapat memenuhi seluruh pikiran
seseorang, mengubah kehidupan orang tersebut. Akan tetapi, nyeri adalah konsep
yang sulit dikomunikasikan oleh klien (Berman, 2009).
Menurut International Association for the Studi of Pain (IASP), penyebab
nyeri pada anak tidak hanya dari penyakit yang mengancam jiwa seperti kanker, tetapi
juga cidera, operasi, luka bakar, infeksi, dan efek kekerasan. Anak-anak juga
mengalami nyeri dari banyak prosedur dan penyelidikan yang digunakan oleh dokter
dan perawat untuk menyelidiki dan mengobati penyakit (Finley, 2005)
Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri
merupakan pengalaman sensoris dan emosional tidak menyenangkan yang disertai
oleh kerusakan jaringan secara potensial dan aktual. Nyeri sering dilukiskan sebagai
suatu yang berbahaya (noksius, protofatik) atau yang tidak berbahaya (non noksius,
epikritik) misalnya: sentuhan ringan, kehangatan, tekanan ringan.

B. BatasanKarakteristik
a. Perubahan selera makan
b. Perubahan pada parameter fisiologis
c. Diaphoresis
d. Perilaku distraksi
e. Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk pasien yang
tidak dapat mengungkapkannya
f. Perilaku ekspresif
g. Ekspresi wajahn yeri
h. Sikap tubuh melindunhgi
i. Putus asa
j. Focus menyempit
k. Sikap melindungi area nyeri

3
l. Perilaku protektif
m. Laporan tentang perilaku nyeri atau perubahan aktivitas
n. Dilatasi pupil
o. Focus pada diri sendiri
p. Keluhan tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri
q. Keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan standar instrument nyeri

C. Faktor yang Berhubungan


a. Agen cedera biologis
b. Agen cedera kimiawi
c. Agen cedera fisik

D. FokusPengkajian
P (provokatif) : factor yang mempengaruhigawatdanringannyanyeri
Q (quality) : sepertiapanyeritersebut (tajam, tumpul, atautersayat)
R (region)  : daerahperjalanannyeri
S (Skalanyeri) :keparahan/ intensitasnyeri
T (time) : lama/waktuserangan/ frekuensinyeri.

E. SEVEN JUMP
Step 1

1. Emfisema subcutis : ter-dapatnya udara bebas di bawah jaringan subkutis.

2. Hemopneumothorax adalah kombinasi dari dua kondisi medis yaitu pneumotoraks


dan hemotoraks. Pneumotoraks, yang juga dikenal sebagai paru-paru yang kolaps,
terjadi ketika ada udara di luar paru-paru, di ruang antara paru-paru dan rongga dada.
Hemopneumothorax paling sering disebabkan oleh trauma, cedera tumpul atau
penetrasi ke dada.

3. pernapasan paradoksal adalah gangguan pernapasan yang diakibatkan oleh kelainan


fungsi kontraksi otot diafragma

4
Step 2

1. Penanganan emfisema subcutis adalah?

2. Penanganan pertama hematotorax

3. Penanganan pernapasan paradoksal adalah ?

4. Mengapa bisa terjadi enfisema subcutis ?

5. Pertolongan apa yang pertama dilakukan pada kasus ini ?

6. Bagaimana penanganan pada tulang iga yang patah?

7. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini ?

8. Apa saja tanda tanda hemopneumothorax ?

9. Bagaimana cara melakukan pengkajian pada pasien seperti kasus flail chest ?

Step 3

1. Dalam menangani emfisema subcutis tergantung dari apa yang menjadi


penyebabnya.penyebab emfisema subcutis umumnya merupakan kondisi yang cukup
berat untk ditangani.sebelumnya dokter,perawat akan mengukur dan memantau
tanda"vital.

2. hal pertama yang harus dilakukan tim medis adalah melakukan needle
thoracocentesis. Itu adalah tindakan memasukkan jarum bernomor besar, sekitar 14
atau 16, ke bagian dada, tepatnya pada interkostal dua lurus dari mid klavikula.

3. lalukan pemeriksaan dan pengobatan

4. Emfisema subkutis dapat terjadi apabila drainase udara dari paru ke dalam cavum
pleura melebihi kapasitas drainase dari selang dada, ataupun bila selang dada
diposisikan jauh dari lokasi terjadinya kebocoran udara. Kondisi lain yang mungkin
mengakibatkan emfisema subkutis adalah sumbatan pada selang dada atau ujung

5
lubang selang dada terletak tidak di dalam rongga pleura, melainkan di lapisan
subkutis yang mengakibatkan udara memiliki akses masuk ke bawah kulit.

5. Pertolongan pertama, nilai pernafasan, jaga agar jalan nafas tetap paten, hentikan
perdarahan jika ada, berikan bantalan pada tulang costa yang patah agar tidak ikut
pergerak saat bernafas.

6. Penangana pada tulang iga yang patah yaitu dengan diberikan obat pereda nyeri.

7. Tujuan dari tata laksana awal pada pasien hemothorax bertujuan untuk menstabilisasi
kardiopulmonal serta mengevakuasi darah dari pleura.

8. -Nyeri dada,semakin terasa saat bernafas terutama saat bernafas panjang.

-sesak nafas atau nafas memendak.

-gelisah dan kelelahan berlebihan.

-detak jantung bertambah cepat dan tekanan darah menurun.

-kulit tampak pucat

9. Look, listen, feel

Step 4

FLAIL CHEST

Pengkajian 1. Enfisema subcutis Tanda tanda Hematopnemothoraks


Diagnosa 2. Hematopnemothoraks
Penatalaksanaan 3. Perrnafasan paradoksal

6
Step 5

1. penanganan emfisema subcutis adalah ?

2. penanganan pertama hematotorax?

3. Penanganan pernapasan paradoksal adalah?

4. Mengapa bisa terjadi enfisema subcutis

5. Pertolongan apa yang pertama dilakukan pada kasus ini

6. Bagaimana penanganan pada tulang iga yang patah

7. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini

8. Apa saja tanda tanda hemopneumothorax

9. Bagaimana cara melakukan pengkajian pada pasien seperti kasus flail chest

10. Anfis thorax

7
Step 6

Trauma kompresi anteroposterior dari


rongga toraks

Legkung iga akan lebih melengkung lagi ke arah


lateral

Fraktur iga multiple Saat inspirasi


Krepitasi rongga dada
segmental (failchest)
mengembang

Adanya segmen yang Gerakan fragmen costa


mengembang (flail) yang patah,
menimbulkan gesekan
antara ujung fragmen
Gangguan pergerakan dengan jaringan sekitar
dinding dada

Stimulai saraf
Gerakan napas
parakdosal
Nyeri dada

Fungsi fentilasi
menurun

Kompensasi O2 menurun, Co2 Saturasi O2


takikardi meningkat menurun

Sesak nafas Sinosis

8
STEP 7
1. Bahan yang diperlukan dalam penatalaksanaan emfisema subkutis: Larutan
desinfektan, lidokain 2 ampul dan IV kateter nomor 14. pemasangan dua buah IV
kateter nomor 14, pada garis linea mid clavicula kiri dan kanan di ruang intercosta 2.
teknik pemasangan adalah dengan cara, kulit tempat yang akan kita pasang dilakukan
desinfektan, kemudian dilakukan anestesi lokal. pemasangan IV kateter dengan cara
menginsersikan dengan sudut 45 sedalam lebih kurang 0,5 - 1 cm
2. pada trauma thoraks perlu dipikirkan juga syok berasal dari trauma di organ
intratorakal, pemasangan intubasi diperlukan untuk mengontrol airway. dilihat juga
peningkatan jvp guna membedakan dengan tension pneumothorax dan tamponade
jantung. lihat retraksi interkostal dan supraklavikular dapat menunjukkan adanya
obstruksi jalan nafas. evaluasi banyak dan persebaran luka (abrasi, emfisema subkutis,
krepitasi dan adanya fraktur Costae). jangan lupa juga penilaian terhadap daerah
thorax posterior
3. Pemeriksaun penunjang yang diperlukan pada diagnosis PPOK antara lain
peneriksaan radiologi (foto thoraks), spirometri, laboratonum darah rutin (timbulnya
polisitemia menunjukkan telah terjadi hipoksia kronik), analisa gas darah,
mikrobiologi sputum (diperlukan untuk pemilihan antibiotik bilu terjadi eksaserbasi)
Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis masih normal pada PPOK
ringan tetapi pemeriksaan rudiologi ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis
penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien,
Hasil pemeriksaun radiologis dapat berupa kelainan paru hiperinflasi atau hiperluse,
diufragma mendatar, corakan bronkovaskuler meningkat, bulla, jantung pendulum.
Catatan dalam mettegakkan diagnosa PPOK pertu disingkirkan kemungkinan adanya
gagal jantung kemgestif, TB paru, dan sindrome obstruksi pasca TB paru. Penegakkan
diagnosa PPOK secara klinis dilaksanakan dipuskesmas atau nimah sakit tanpa
fasilitas spirometri. Sedangkan penegakkan diagnosis penentuan klasifikusi (derajat
PPOK) sesuai dengan ketentuan perkumpulan. dokter paru indonesia (PDPI),
dilaksanakan dirumah sakit/ fasilitas keschatan lainnya yang memiliki spircametri
(PDPI).
4. emfisema subkutis dapat terjadi apabila drainase udara dari paru kedalam cavum
pleura melebihi kapasitas drainase dari selang dada, ataupun bila selang dada
diposisikan jauh dari lokasi terjadinya kebocoran udara. kondisi lain yang mungkin
mengakibatkan emfisema subkutis adalah sumbatan pada selang dada atau ujung

9
lubang selang dada terletak tidak di dalam rongga pleura, melainkan di lapisan
subkutis yang mengakibatkan udara memiliki akses masuk ke bawah kulit.
5. tindakan pada kasus tersebut yaitu yang pertama kita perhatikan pernafasannya,
karena sesak berarti pasien butuh oksigenasi, terus hematothorax berarti ada
perdarahan, berarti manajemen cairan, terus ada fraktur iga dan pasti ada nyeri, berarti
manajemen nyeri, terus atur posisi semi fowler karena sesak. kolaborasi medis tentang
tindakan pemasangan tube untuk mengurangi udara pada emfisema subkutan. dan
terakhir kolaborasi pemberian analgetik.
6. penatalaksanaan pada kasus ini adalah dimulai dari ABC (airway, breathing dan
circulation). pada airway (jalan nafas) dengan pemberian oksigen untuk mencegah
hipoksia dan gangguan pernafasan serta evaluasi jalan napas yang patent,
pengembangan dinding dada yang maksimal, dan pemasangan ventilator jika
diperlukan, breathing (pernapasan) dengan dekompresi yang kemudian dilanjutkan
dengan tindakan torakotomi, dan circulation (sirkulasi) dilakukan melalui perkiraan
volume kehilangan darah dan penggantian cepat (resusitasi) cairan yang hilang
melalui cairan infus intravena. tindakan torakotomi ini berfungsi untuk eksplorasi
luka tembus pada dada, apakah ada organ yang terkena serta repair organ yang
terkena.
7. Setelah tidak ditemukan lagi sumber perdarahan dan hemodinamik stabil pasien
segera disiapkan operasi darurat. Pasien diintubasi, simultan dengan pemasangan
check tube, nafas kendali dengan ventilasi mekanik. Dilakukan diagnostic peritoneal
lavage (DPL), hasil negatif dan tidak dilanjutkan dengan laparotomi. Selanjutnya
dilakukan pembersihan pada fraktur terbuka humerus dan unkle. Setelah dipastikan
tidak ada perdarahan yang berlanjut Dan hemodinamik stabil, dari kamar operasi
pasien dilakukan CT scan kepala dan abdomen, didapatkan edema cerebri ringan
tanpa lesi, laserasi hepar segmen 6 tanpa disertai perdarahan, laserasi ginjal kanan
berat, serta fraktur processus transversus vertebra lumbal.
8. - Nyeri dada, semakin terasa saat bernapas terutama saat bernapas panjang.
- Sesak napas atau napas memendek.
- Gelisah dan kelelahan berlebihan.
- Detak jantung bertambah cepat dan tekanan darah menurun,
- Kulit tampak pucat.
- Demam tinggi, bahkan bisa lebih dari 38 derajat Celcius.

10
9. Manajemen awal untuk pasien trauma toraks tidak berbeda dengan pasien trauma
lainnya dan meliputi ABCDE, yaitu A: airway patency with care of cervical spine, B:
Breathing adequacy. C: Circulatory support, D: Disability assennent, dan E: Exposure
without causing hypothermia
Pemeriksuan primary survey dan pemeriksaan dada secara keseluruhan harus
dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi yang
uengancam nyawa dengan segera, seperti obstruksi jalan napas, tension
Pneumotoruks. • pneuomotoraks terbuka yang masif. hemotoraks masif, tamponade
perikardial, dan flail chest yang besar. Begitu kondisi kondisi yang mengancam
nyawa sudah ditangani, maka pemeriksuan sekunder dari kepala hingga kaki yang
lebih mendetail disertai secondary chest xurvey harus dilakukan. Pemeriksaan ini
akan fokus untuk medeteksi kondisi - kondisi berikut: kontusio pulmonum, kontusi
miokardial, disrupsi aortal, ruptur diafragma traumatik, disrupsi trakeobronkial, dan
disrupsi esofageal
Aprnea, syok berat, dan ventilasi yang inadekuat merupakan indikasi untuk
intubusi endotrakeal darurat. Resusitasi cairan intravena merupakan terapi utama
dalam menangani syok hemorhagik. Manajemen nyeri yang efektif merupakan sulah
satu hal yang sangat penting pada pasien trauma toraks. Ventilator harus digunakan
padu pusien dengan hipoksemia, hiperkarbia, dan takipnea berat atau ancaman gagal
napas. Ventilator juga diindikasikan pada pasien dengan kontusio paru berat,
hemotoraks atau pemumotoruks, dun flail chest yang disertai dengan gangguan
hemodinamik
Pasien dengan tanda klinis tension Pneumotoraks harus segera menjalani
dekompresi dengan torakosentesis jarum dilanjutkan dengan torakostomi tube. Foto
toraks harus dihindari pada pasien pasien ini karena diagnosis dapat ditegakkan secara
klinis dan pemeriksaan x- ray hanya akan menunda pelaksanaan tindakun medis yang
harus segera dilakukan. Luka menghisap pada. dada harus segern dioklusi untuk
mencegah berkemhangnya tension Pneumetoraks terbuka. Tindakan lainnya seperti
torakostomi tube, torakotomi, dan intervensi lainnya dilakukan sesuai dengan kondisi
pasien
10. ANATOMI TORAKS Thorux dapat didefinisikan sebA gui area yang dibatasi di
superior oleh thoracie inlet dan inferior olch thoracie outlet; dengan batas luar adalah
dinding thorax yang disusun oleh vertebra torakal, costae, stermum, muskulus, dan
jaringan ikat. Rongga thorax dibatasi dengan rongga abdomen oleh diafragma.

11
Rongga thorax dapat dibagi ke dalam dua bagian utama, yaitu : paru-paru (kiri dan
kanan) dan mediastinum. Mediastinum dibagi ke dalam 3 bagian: superior, anterior,
dan posterior. Mediastinum terletak diantara paru kiri dan kanan dan merupakan
dacrah tempat organ-organ penting thorax selain paru- paru (yaitu: jantung, aorta,
arteri pulmonalis, vena cava, esofagus, trakhea, dil.). Thoracie inlet merupakan "pintu
masuk" rongga thoraks yang disusun oleh: permukaan ventral vertebra torakal I
(posterior), bagian medial dari iga I kiri dan kanan (lateral), serta manubrium
sterni(anterior). Thoracie inlet memiliki sudut deklinasi sehingga bagian anterior
terletak lebih inferior dibanding bagian posterior. Manubrium sterni terletak kira-kira
setinggi vertebra torakal II. Batas bawah rongga thoraks atau thoracie outlet (pintu
keluar thoraks) adalah area yang dibatasi oleh sisi ventral vertebra torukal XII, lateral
oleh batas bawah costae dan anterior oleh processus xiphoideus.

12
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
Kasus
Laki laki 23 tahun seorang pekerja bangunan terjatuh dari lantai 3 dengan posisi
terlantang. Pasien dibawa ke IGD. Hasil pengkajian didapatkan nilai GCS
E3M5V5, TD 110/70 mmHg, Nadi 97x/menit, Pernafasan 27x/menit dan Suhu
370C, pernafasan paradoksal. Hasil pemeriksaan thoraks X-Ray dengan hasil
hematopneumathoraks, patah tulang iga ke 3 hingga 6 dextra, serta emfisema
subcutis.

BIODATA PASIEN

Nama : Tn. T

Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Buruh

Alamat : Semanding, Gombong

Tanggal Masuk RS : 17 Agustus 2020

Tanggal Pengkajian : 17 Agustus 2020

IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB

Nama : Ny. M

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Umur : 50 tahun

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Hubungan : Ibu kandung

Alamat : Semanding, Gombong

13
PENGKAJIAN

1. Keluhan Utama : Pasien datang ke RS dengan kecelakaan jatuh dari lantai 3 saat
bekerja, pasien mengalami penurunan kesadaran dan terdapat pernafasan paradoksal
2. Riwayat Kesehatan Sekarang : Klien datang ke IGD PKU Muhammadiyah Gombong
tanggal 17 Agustus pada pukul 09.00 WIB dating dengan rekan kerja karena kecelakaan
jatuh dari lantai 3. Keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran, terdapat pernafasan
paradoksal. Hasil pemeriksaan GCS E3M5V5, TD 110/70 mmHg, Nadi 97x/menit,
Pernafasan 27x/menit dan Suhu 370C, Hasil pemeriksaan thoraks X-Ray dengan hasil
hematopneumathoraks, patah tulang iga ke 3 hingga 6 dextra, serta emfisema subcutis.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu : Rekan kerja mengatakan pasien sudah beberapa bulan
bekerja tetapi belum pernah mengalami kecelakaan sperti ini, dan tidak memiliki Riwayat
penyakit.
4. Riwayar Kesehatan Keluarga : Keluarga pasien mengatakan tidak mempunyai
penyakit keturunan
5. Pengkajian nyeri
P : Pasien mengatakan nyeri di dada sangat berat
Q : Pasien mengatakan nyeri seperti ditekan sakit sekali
R : Pasien mengatakan nyeri di bagian dada khususnya sebelah kanan
S : Skala nyeri 8
T : Pasien mengatakan nyeri terus menerus

PRIMARY SURVEY

1. Airways : Stidor
2. Breathing
Iramanafas : TidakTeratur
Suaranafas : Ronchi
Penggunaan otot bantu nafas : Retraksi dada
Jenisnafas : Pernafasan dada
Frekuensinafas : 27 x/menit
3. Circulation
Akral : Hangat Pucat : Ya
Sianosis : Tidak CRT : >2 detik

14
Tekanandarah : 110 / 70 mmHg Nadi : 97 x/menit
Perdarahan : Ya
Adanya riwayat kehilangan cairan dalam jumlah besar: -
Kelembaban kulit : Kering
Turgor : Kurang
Resiko dekuitus : Tidak
4. Disability
Tingkat kesadaran : Apatis
Nilai GCS : E3 V5 M5 Total: 13
Pupil : Isokhor
Respon Cahaya :+
Penilaian Ekstremitas : Sensorik: Ya Motorik: Ya
5. Exposure
PengkajianNyeri
Onset:Nyeri terasa setelah jatuh dari lantai 3, di bagian dada, nyeriterus –
menerus, nyeri bertambah parah ketika bergerak dan bernapas.
Provokatif/Paliatif : Nyeri terjadi akibat terjatuh
Qualitas : Nyeri terasa seperti teriris pisau
Regio/ Radiation : Nyeri terasa dibagian dada kanan, terpusat
Scale/ Severity :9
Time : nyeri akut
Apakah ada nyeri : Ada
Skor nyeri VRS :8
Luka : Tidak
ResikoDekubitus : Tidak
Fahrenheit
SuhuAxila : 370C
Berat : - Kg
Suhu Rectal :-
PemeriksaanPenunjang
EKG :-
GDA :-

15
Radiologi : Fraktur tulang iga ke 3 hinggake 6 dextra,
hematopneumothoraks, emfisemasubcutis.
Laboratorium

SECONDARY SURVEY

1. Keadaan Umum : Penurunan kesadaran dan Sesak


2. Kesadaran : Sopor
a. Tekanan Darah 110/70 mmHg
b. Nadi 97x permenit
c. Respirasi 27x permenit
d. Suhu 37oC
3. Kepala : mesosepal

1. Rambut: Rambut kaku berwarna hitam


2. Mata : Konjungtiva anemis, sklera anikterik
3. Hidung: Normal
a. Inspeksi : Tidak ada sekret
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan di daerah sinus.
4. Telinga: Normal
a. Inspeksi : Simetris, tidak ada serumen
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
5. Mulut
a. Inspeksi : Lidah bersih, gigi tidak ada caries, mukosa bibir tidak ada
stomatitis
4. Leher

a. Inspeksi : Tidak ada benjolan


b. Palpasi : Tidak ada nyeri
5. Dada

1. Paru – paru
a. Inspeksi : Bentuk tidak simetris, terdapat jejas dan bengkak, pergerakan
dinding tidak simetris, terdapat pernafasan paradoksal
b. Palpasi : Terdapat nyeri tekan, dan pemengkakan

16
c. Perkusi : Mendekur
d. Auskultasi : terdengar bunyi tambahan ronki, frekuensi nafas 27x/menit
2. Jantung
a. Inspeksi : Tampak ictuscordis
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
c. Perkusi : Terdengar bunyi sonor
d. Auskultasi : Terdengar suara jantung Reguler
6. Abdomen

a. Inspeksi : Tidak ada benjolan


b. Palpasi : Tidak ada nyeri, turgor kulit elastis
c. Perkusi : berbunyi tympani
d. Auskultasi : 3 – 15 peristaltik usus
7. Genetalia :Keadaan bersih, tidak terpasang kateter

8. Ekstremitas

Ekstermitas atas : tangan kanan terpasang infus asering 7tpm

Ekstermitas bawah : terdapat edema

17
ANALISA DATA

No. Hari/tan Data Fokus Problem Etiologi Diagnosa


ggal Keperawatan

1. Sabtu, 15 DS: Nyeri Akut Agen Nyeri akut


Agustus cedera berhubungan
-P:Klien
2020 fisik dengan agen
mengeluh nyeri
pukul (jatuh cedera fisik
pada dada sebelah
09:30 dari (jatuh dari lantai
kanan karena
WIB lantai 3) 3)
terdapat fraktur
costa 3-6 dextra

-Q: Nyeri seperti


tertimpa benda
berat

-R: Nyeri di dada


sebelah kanan dan
tidak menyebar

-S: Skala nyeri 8

-T:Nyeri
berlangsung terus
menerus

DO:

-Terdapat
perdarahan di
dada sebelah
kanan

-Wajah klien
tampak tegang
dan pucat

18
-Klien tampak
kesakitan
menahan nyeri

- RR 27x/menit

- TD : 110/70
mmHg

- Suhu :37ºC

- Nadi :97x/menit

-Hasil Rontgen :
fraktur costa ke 3
hingga ke 6
dextra

dan
hematopneumoth
oraks

2. Sabtu, 15 DS : Ketidakefek Hiperven Gangguan pola


Agustus tifan Pola tilasi nafas
- Penolong
2020 Nafas berhubungan
mengatakan
pukul dengan
pasien jatuh dari
09:30 hiperventilasi
lantai 3
WIB
- Penolong
mengatakan
pasien bernafas
cepat (sesak)

DO :

-Pasien bernafas
dengan terengah-
engah

19
-Tampak ada
otot-otot bantu
pernapasan

- RR 27x/menit

- TD : 110/70
mmHg

- Suhu :37ºC

- Nadi :97x/menit

- Hasil rontgen :
fraktur costa ke 3
hingga ke 6
dextra

Dan
hematopneumoth
oraks

3. Sabtu, 15 DS: Kerusakan Trauma Kerusakan


Agustus Integritas mekanik integritas kulit
- Penolong
2020 Kulit (fraktur berhubungan
mengatakan
pukul costa 3-6 dengan trauma
pasien jatuh dari
09:30 dextra) mekanik (fraktur
lantai 3 dan
WIB costa 3-6 dextra)
terdapat
perdarahan pada
dada sebelah
kanan

DO :

- Klien tampak
meringis
menahan sakit

20
- Klien tampak
pucat dan gelisah

- Tampak
perdarahan di
dada sebelah
kanan

- Hasil rontgen :
fraktur costa ke 3
hingga ke 6
dextra

Dan
hematopneumoth
oraks

Prioritas Diagnosa Keperawatan :

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (jatuh dari lantai 3)

2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi

3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik (fraktur costa 3-6
dextra)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteri Intervensi (NIC)

21
. (NOC)

1. 1.Nyeri akit Setelah dilakukan NIC: Managemen Nyeri


berhubungan dengan tindakan keperawatan (1400)
Agen cedera fisik (jatuh selama 1x24 jam
-Monitor secara
dari lantai 3) diharapakan Nyeri akut
komprehensif tentang
berhubungan dengan
nyeri
Agen cedera fisik (jatuh
dari lantai 3) dapat -Observasi keadaan umum
berkurang dengan pasien (tingkat nyeri)
kriteria hasil :
-Monitor TTV setiap 2 kali
NOC: Tingkat nyeri sehari pagi dan sore
(2102)
-Posisikan senyaman
Indikator A T mungkin

Panjangny 1 4 -Ajarkan teknik distraksi


a episode relaksasi
nyeri
(210204) -Kolaborasi dengan dokter
untuk pemberian analgetik
Ekspresi 1 4
nyeri
wajah
(210206)

Keteganga 2 4
n otot
(210209)

Keterangan:

1: Berat

2: Cukup berat

22
3: Sedang

4: Ringan

5: Tidak ada

2. Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan NIC : Monitor


nafas berhubungan tindakan keperawatan pernafasan (3350)
hiperventilasi selama 1x24 jam
- Catat pergerakan dada,
diharapakan Gangguan
catat ketidaksimetrisan,
pola nafas
penggunaan otot-otot bantu
berhubungan dengan
nafas
hiperventilasi dapat
berkurang dengan - Monitor pola nafas
kriteria hasil: (hiperventilasi)

NOC : Status -Auskultasi suara nafas,


pernafasan :Ventilasi catat area penurunan/tidak
(0403) adanya ventilasi dan suara
tambahan
Indikator A T

Penggunaa 2 5 - Monitor suara nafas

n otot tambahan

bantu - Monitor TTV setiap 2


nafas kali sehari pagi dan sore
(040309)

Suara 2 5
nafas
tambahan
(040310)

Pengemba 2 5
ngan
dinding
dada tidak
simetris

23
Keterangan :

1: Sangat berat

2: Berat

3: Cukup

4: Ringan

5: Tidak ada

3. Kerusakan integritas Setelah dilakukan NIC : Perawatan Luka


jaringan berhubungan tindakan keperawatan (3660)
trauma mekanik (fraktur selama 1x24 jam
- Monitor karakteristik
costa ke 3 hingga ke 6 diharapakan
luka, termasuk drainase,
dextra) Kerusakan integritas
warna, ukura, dan bau
jaringan berhubungan
trauma mekanik - Berikan balutan yang
(fraktur costa ke 3 sesuai dengan jenis luka
hingga ke 6 dextra)
- Pertahankan teknik
dapat berkurang
balitan steril ketika
dengan kriteria hasil:
melakukan perawatan luka
NOC : Integritas dengan tepat
jaringan : kulit dan
- Ganti balutan sesuai
membran mukosa
dengan jumlah eksudat dan
(1101)
drainase
Indikator A T
- Posisikan untuk
Integritas 2 5 mengindari menempatkan
kulit ketegangan pada luka
(110113) dengan tepat
Pengelupa 1 4
- Anjurkan pasien atau
san kulit
anggota keluarga pada
(110115)
prosedur perawatan luka ,

24
Wajah 2 5 mengenal tanda dan gejala
pucat infeksi
(10122)

Keterangan :

1: Sangat terganggu /
berat

2 : Banyak terganggu /
cukup berat

3: Cukup terganggu /
Sedang

4: Sedikit terganggu /
Ringan

5: Tidak terganggu /
Tidak ada

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Tanggal No.dx Implementasi Evaluasi Paraf

Jumat, 1 -Memonitor secara S:


15 komprehensif tentang
-P:Klien masih
Agustus nyeri
mengeluh nyeri pada
2020
-Mengobservasi keadaan dada sebelah kanan
pukul
umum pasien (tingkat karena terdapat fraktur
17:00
nyeri) costa 3-6 dextra
WIB
-Memonitor TTV setiap -Q: Nyeri seperti

25
2 kali sehari pagi dan disayat-sayat
sore
-R: Nyeri di dada
-Memposisikan sebelah kanan dan
senyaman mungkin tidak menyebar

-Mengajarkan teknik -S: Skala nyeri 6


distraksi relaksasi
-T:Nyeri berlangsung
-Kolaborasikan dengan setiap 5 menit sekali
dokter untuk pemberian
O:
analgetik
-Klien tampak tegang
dan pucat

-Klien tampak
kesakitan menahan
nyeri

- RR 25x/menit

- TD : 110/60 mmHg

- Suhu :36,5ºC

- Nadi :90x/menit

P : Masalah
keperawatan nyeri
akut belum teratasi

P : Lanjutkan
intervensi

Jumat, 2 - Mencatat pergerakan S:


15 dada, catat
- Pasien mengatakan
Agustus ketidaksimetrisan,
masih merasa sesak
2020 penggunaan otot-otot
nafas
pukul bantu nafas
17:00

26
WIB - Memonitor pola nafas O:
(hiperventilasi)
- Pasien masih
-Mengauskultasi suara menggunakan otot
nafas, catat area bantu pernapasan
penurunan/tidak adanya
- RR :25x/menit
ventilasi dan suara
tambahan - TD : 110/60 mmHg

- Memonitor suara nafas - Suhu :36,5ºC


tambahan
- Nadi :90x/menit
- Memonitor TTV setiap
A : Masalah
2 kali sehari pagi dan
Keperawatan
sore
ketidakefektifan pola
nafas belum teratasi

P: Lanjutkan
intervensi

Jumat, 3 - Memonitor S:
15 karakteristik luka,
- Pasien mengatakan
Agustus termasuk drainase,
masih merasakan nyeri
2020 warna, ukura, dan bau
akibat fraktur di costa
pukul
- Memberikan balutan 3-6 dextra
17:00
yang sesuai dengan jenis
WIB P:
luka
-Pasien tampak
- Memertahankan teknik
menahan nyeri
balitan steril ketika
melakukan perawatan -Pasien tampak masih
luka dengan tepat cemas

- Mengganti balutan A: Masalah


sesuai dengan jumlah Keperawatan
eksudat dan drainase Kerusakan integritas

27
- Memposisikan untuk jaringan belum teratasi
mengindari
P : Lanjutlkan
menempatkan
intervensi
ketegangan pada luka
dengan tepat

- Menganjurkan pasien
atau anggota keluarga
pada prosedur perawatan
luka , mengenal tanda
dan gejala infeksi

PENUTUP

KESIMPULAN
Flail Chest adalah area thoraks yang melayang (flail) oleh sebab adanya fraktur iga multipel
berturutan = 3 iga. Dan memiliki garis fraktur = 2 (segmented) pada tiap iganya. Akibatnya
adalah terbentuk area "flail" yang akan bergerak paradoksal dari gerakan mekanik pernafasan
dinding dada. Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar ekspirasi.

28
SARAN
Dalam pembahasan teori dan asuhan keperawatan tentang flail chest, diharapkan mahasiswa
mampu memahami, mengetahui, dan menjelaskan tentang asuhan keperawatan flail chest
beserta pengaplikasian dalam dunia keperawatan

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddarth.2000.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC


2. Somantri Irman.2009.Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan.Jakarta:Salemba Medika
3. Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.
4. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
5. Sumber :NANDA(2005) Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan
(NIC)dan Pendoman untuk Rasional (NOC)

30