Anda di halaman 1dari 16

STRATEGI PELAKSANAAN CEMAS

1. DEFINISI
Ansietas merupakan keadaan ketika individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah
(penilaian atau opini) dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang
tidak jelas, nonspesifik (Carpenito, 20017).
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan
perasaan tidak pasti dan tidak percaya diri. Keadaan emosi ini tidak memiliki obyek yang
spesifik. Ansietas dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara interpersonal. Ansietas
berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang
berbahaya. Ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk
menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat ansietas yang berat tidak sejalan
dengan kehidupan. (Stuart, 20017).
Ansietas merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu di luar
dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi permasalahan (Asmadi, 2008).

2. TANDA DAN GEJALA


Keluhan (keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang mengalami ansietas), antara lain
sebagai berikut:
a. Cemas, khawatir, firasat, buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung.
b. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
c. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang .
d. Gangguan pola tidur, mimpi (mimpi yang menegangkan).
e. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
f. Keluhan (keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran
berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak napas, gangguan pencernaan, gangguan
perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.

3. JENIS ANSIETAS
1.      Anxietas ringan
Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian
khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk
belajar, bertindak, menyelesaikan masalah, merasakan, dan melindungi dirinya sendiri. Anxietas
ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini
lahan persepsi melebar dan individu akan berhati-hati dan waspada.
a.      Respon Fisiologis
 Sesekali nafas pendek
 Nadi dan tekanan darah naik
 Gejala ringan pada lambung
 Muka berkerut dan bibir bergetar
 Ketegangan otot ringan
 Rileks atau sedikit gelisah
b.     Respon Kognitif
 Mampu menerima rangsang yang kompleks
 Konsentrasi pada masalah
 Menyelesaikan masalah secara efektif
 Perasaan gagal sedikit
 Waspada dan memperhatikan banyak hal
 Terlihat tenang dan percaya diri
 Tingkat pembelajaran optimal
c.      Respon Perilaku dan Emosi
 Tidak dapat duduk tenang
 Tremor halus pada tangan
 Suara kadang-kadang meninggi
 Sedikit tidak sabar
 Aktivitas menyendiri
2.      Anxietas Sedang
Ansietas sedang merupakan perasaan yang mengganggu bahwa ada sesuatu yang benar-benar
berbeda, individu menjadi gugup atau agitasi. Misalnya, seorang wanita mengunjungi ibunya
untuk pertama kali dalam beberapa bulan dan merasa bahwa ada sesuatu yang sangat berbeda.
Ibunya mengatakan bahwa berat badannya turun banyak tanpa ia berupaya menurunkannya. Pada
tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun, individu lebih memfokuskan pada hal
yang penting saat itu dan mengesampingkan hal yang lain.
a.      Respon fisiologis
 Ketegangan otot sedang
 Tanda-tanda vital meningkat
 Pupil dilatasi, mulai berkeringat
 Sering mondar-mandir, memukulkan tangan
 Suara berubah: suara bergetar, nada suara tinggi
 Kewaspadaan dan ketegangan meningkat
 Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyari punggung
b.     Respon kognitif
 Lapang persepsi menurun
 Tidak perhatian secara selektif
 Fokus terhadap stimulus meningkat
 Rentang perhatian menurun
 Penyelesaian masalah menurun
 Pembelajaran berlangsung dengan memfokuskan
c.      Respon prilaku dan emosi
 Tidak nyaman
 Mudah tersinggung
 Kepercayaan diri goyah
 Tidak sadar
 gembira
3.      Ansietas berat
Ansietas berat dialami ketika individu yakin bahwa ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman;
ia memperlihatkan respon takut dan distres. Ketika individu mencapai tingkat tertinggi ansietas,
panik berat, semua pemikiran rasional berhenti dan individu tersebut mengalami respon fight,
flight atau freeze-yakni, kebutuhan untuk pergi secepatnya, tetap ditempat dan berjuang, atau
menjadi beku atau tidak  dapat melakukan sesuatu.
a.      Respon fisiologis
 Ketegangan otot berat
 Hiperventilasi
 Kontak mata buruk
 Pengeluaran keringat meningkat
 Bicara cepat, nada suara tinggi
 Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
 Rahang menegang, menggetakkan gigi
 Kebutuhan ruang gerak meningkat
 Mondar-mandir, berteriak
 Meremas tangan, genetar
b.     Respon kognitif
 Lapang persepsi terbatas
 Proses berfikir terpecah-pecah
 Sulit berfikir
 Penyelesaian masalah buruk
 Tidak mampu mempertimbangkan informasi
 Hanya memerhatikan ancaman
 Preokupasi dengan pikiran sendiri
 Egosentris
c.      Respon prilaku dan emosi
 Sangat cemas
 Agitasi
 Takut
 Bingung
 Merasa tidak adekuat
 Menarik diri
 Penyangkalan
 Ingin bebas

4. FOKUS PENGKAJIAN
a. Pengkajian Keperawatan pada pasien dengan ansietas menurut (Stuart, 2007) yaitu:
Identitas Klien
1) Initial :Ansietas lebih rentan terjadi pada wanita daripada laki-laki, karena wanita
lebih mudah stress dibanding pria.
2) Umur : Toddler-lansia
3) Pekerjaan : Pekerajaan yang mempunyai tingkat stressor yang besar.
4) Pendidikan : Orang yang mempunyai tingkat pendidikan yang rendah lebih rentan
mengalami ansietas
b. Alasan Masuk
Sesuai diagnosa awal klien ketika pertama kali masuk rumah sakit.
c. Faktor Predisposisi
1) Dalam pandangan psikoanalitis, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara
dua elemen kepribadian : id dan superego.
2) Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasan takut terhadap
ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Ansietas juga berhubungan dengan
perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan
kerentanan tertentu.
3) Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu
yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan
4) Kajian keluarga menunjukan bahwa gangguan ansietas biasanya terjadi dalam
kelurga. Gangguan ansietas juga tumpang tindih antara gangguan ansietas dengan
depresi
d. Fisik
Tanda Vital:
TD : Meningkat, palpitasi, berdebar-debar bahkan sampai pingsan.
N : Menurun
S : Normal (36˚C - 37,5˚C ), ada juga yang mengalami hipotermi tergantung
respon individu dalam menangania ansietasnya
P : Pernafasan , nafas pendek, dada sesak, nafas dangkal, rasa tercekik terengah-
engah
1) Ukur : TB dan BB: normal (tergantung pada klien)
2) Keluhan Fisik : refleks, terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, kaku,
gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, gerakan lambat, kaki goyah.
Selain itu juga dapat dikaji tentang repon fisiologis terhadap ansietas (Stuart, 2007):
B1 : Nafas cepat, sesak nafas, tekanan pada dada, nafas dangkal
pembengkakan pada tenggorokan, terengah-engah.
B2 : Palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat, rasa ingin pingsan, pingsan,
TD ↓, denyut nadi ↓.
B3 : Refleks ↑, reaksi terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, rigiditas, gelisah,
wajah tegang.
B4 : Tidak dapat menahan kencing, sering berkemih.
B5 : Kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, nyeri
abdomen, mual, nyeri ulu hati.
B6 : Lemah.

e. Psikososial:
Konsep diri:
1) Gambaran diri : wajah tegang, mata berkedip-kedip, tremor, gelisah, keringat
berlebihan.
2) Identitas : gangguan ini menyerang wanita daripada pria serta terjadi pada
seseorang yang bekerja dengan sressor yang berat.
3) Peran : menarik diri dan menghindar dalam keluarga / kelompok / masyarakat.
4) Ideal diri : berkurangnya toleransi terhadap stress, dan kecenderungan ke arah
lokus eksternal dari keyakinan kontrol.
5) Harga diri : klien merasa harga dirinya rendah akibat ketakutan yang tidak
rasional terhadap objek, aktivitas atau kejadian tertentu.

Hubungan Sosial:
1) Orang yang berarti: keluarga
2) Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat: kurang berperan dalam kegiaran
kelompok atau masyarakat serta menarik diri dan menghindar dalam keluarga /
kelompok / masyarakat.
3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: +
Spiritual:
1) Nilai dan keyakinan
2) Kegiatan ibadah

f. Status Mental:
1) Penampilan : pada orang yang mengalami ansietas berat dan panik biasanya
penampilannya tidak rapi.
2) Pembicaraan : bicara cepat dan banyak, gagap dan kadang-kadang keras.
3) Aktivitas motorik : lesu, tegang, gelisah, agitasi, dan tremor.
4) Alam perasaan : sedih, putus asa, ketakutan dan khawatir.
5) Afek : labil
6) Interaksi selama wawancara: tidak kooperatif, mudah tersingung dan mudah curiga,
kontak mata kurang.
7) Persepsi : berhalusinasi, lapang persepsi sangat sempit dan tidak mampu
menyelesaikan masalah.
8) Proses pikir : persevarsi
9) Isi pikir : obsesi, phobia dan depersonalisasi
10) Tingkat kesadaran : bingung dan tidak bisa berorietansi terhadap waktu, tempat dan
orang (ansietas berat)
11) Memori : pada klien yang mengalami OCD (Obsessive Compulsif Disorder) akan
terjadi gangguan daya ingat saat ini bahkan sampai gangguan daya ingat jangka
pendek.
12) Tingkat konsentrasi dan berhitung : tidak mampu berkonsentrasi
13) Kemampuan penilaian : gangguan kemampuan penilaian ringan
14) Daya titik diri : menyalahkan hal-hal diluar dirinya: menyalahkan orang lain/
lingkungan yang menyebabkan kondisi saat ini.

g. Kebutuhan Persiapan Pulang


1) Kemampuan klien memenuhi/ menyediakan kebutuhan makanan, keamanan, tempat
tinggal, dan perawatan.
2) Kegiatan hidup sehari-hari:
3) Kurang mandiri tergantung tingkat ansietas
4) Perawatan diri
5) Nutrisi
6) Tidur

h. Mekanisme Koping
Adaptif (ansietas ringan) dan maladaptif (ansietas sedang, berat dan panik). Menurut
Stuart (2007). Individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk mencoba
mengatasinya, ketidakmampuan mengatasi ansietas secara konstruktif merupakan
penyebab utama terjadinya perilaku patologis. Ansietas ringan sering ditanggulangi tanpa
pemikiran yang sadar, sedangkan ansietas berat dan sedang menimbulkan 2 jenis
mekanisme koping :
1) Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada
tindakan untuk memenuhi tuntunan situasi stres secara realistis
2) Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang. Tetapi
karena mekanisme tersebut berlangsung secara relative pada tingkat tidak sadar dan
mencakup penipuan diri dan distorsi realitas, mekanisme ini dapat menjadi repon
maladaptif terhadap stres.

i. Masalah Psikososial dan Lingkungan


1) Masalah dengan dukungan kelompok: klien kurang berperan dalam kegiatan
kelompok atau masyarakat serta menarik diri dan menghindar dalam keluarga/
kelompok/ masyarakat.
2) Masalah berhubungan dengan lingkungan: lingkungan dengan tingkat stressor yang
tinggi akan memicu timbulnya ansietas.
3) Masalah dengan pendidikan: seseorang yang pernah gagal dalam menempuh
pendidikan, tidak ada biaya untuk melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya.
4) Masalah dengan pekerjaan: mengalami PHK, target kerja tidak tercapai.
5) Masalah dengan perumahan: pasien kehilangan tempat tinggalnya karena bencana
alam, pengusuran dan kebakaran.
6) Masalah ekonomi: pasien tidak mempunyai kemampuan finansial dalam mencukupi
kebutuhannya sehari-hari dan keluarganya.
7) Masalah dengan pelayanan kesehatan: kurang percaya dengan petugas kesehatan.

j. Pengetahuan Kurang
Pasien kurang mempunyai pengetahuan tentang faktor presipitasi, koping, obat-obatan,
dan masalah lain tentang ansietas

k. Aspek medik
Diagnosa Medik:
1) Adanya perasaan cemas atau khawatir yang tidak realistic terhadap dua atau lebih hal
yang dipersepsi sebagai ancaman perasaan ini menyebabkan individu tidak mampu
istirahat dengan tenang (inability to relax)
2) Terdapat paling sedikit 6 dari 18 gejala-gejala berikut:
Ketegangan Motorik:
a) Kedutan otot atau rasa gemetar
b) Otot tegang/kaku/pegel linu
c) Tidak bisa diam
d) Mudah menjadi lelah
Hiperaktivitas Otonomik:
a) Nafas pendek/ terasa berat
b) Jantung berdebar-debar
c) Telapak tangan basah dingin
d) Mulut kering
e) Kepala pusing/rasa melayang
f) Mual, mencret, perut tidak enak
g) Muka panas/ badan menggigil
h) Buang air kecil lebih sering
i) Sukar menelan/rasa tersumbat
Kewaspadaan berlebihan dan Penangkapan Berkurang
a) Perasaan jadi peka/ mudah ngilu
b) Mudah terkejut/kaget
c) Sulit konsentrasi pikiran
d) Sukar tidur
e) Mudah tersinggung
3) Hendaknya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam gejala:
penurunan kemampuan bekerja, hubungan social, dan melakukan kegiatan rutin.

5. PSIKOPATOLOGI
6. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa Perencanaan Intervensi
Keperawatan Tujuan (Umum dan
Khusus)
Berhubungan dengan TUM : 1. jadilah pendengar yang hangat dan
ansietas sedang TUK 1 responsif
Klien dapat menjalin dan 2. beri waktu yang cukup pada klien
membina hubungan untuk berespon
saling percaya 3. beri dukungan pada klien untuk
mengekspresikan perasaannya
4. identifikasi pola prilaku klien atau
pendekatan yang dapat
menimbulkan perasaan negatif
5. bersama klien mengenali perilaku
dan respon sehingga cepat belajar
dan berkembang
TUK 2 1. bantu klien untuk
Klien dapat mengenal mengidentifikasi dan
ansietasnya menguraikan perasaannya
2. hubungkan perilaku dan
perasaannya
3. validasi kesimpulan dan asumsi
terhadap klien
4. gunakan pertanyaan terbuka
untuk mengalihkan dari topik
yang mengancam ke hal yang
berkaitan dengan konflik
5. gunakan konsultasi

TUK 3 1. bantu klien mernjelaskan


Klien dapat memperluas situasi dan interaksi yang dapat
kesadarannya terhadap segera menimbulkan ansietas
perkembangan ansietas 2. bersama klien meninjau
kembali penilaian klien
terhadap stressor yang
dirasakan mengancam dan
menimbulkan konflik
3. kaitkan pengalaman yang baru
terjadi dengan pengalaman
masa lalu yang relevan
TUK 4 1. gali cara klien mengurangi
Klien dapat ansietas di masa lalu
menggunakan mekanisme 2. tunjukkan akibat mal adaptif dan
koping yang adaptif destruktif dari respons koping
yang digunakan
3. dorong klien untuk
menggunakan respons koping
adaptif yang dimilikinya
4. bantu klien untuk menyusun
kembali tujuan hidup,
memodifikasi tujuan,
menggunakan sumber dan
menggunakan koping yang baru
5. latih klien dengan menggunakan
ansietas sedang
6. beri aktivitas fisik untuk
menyalurkan energinya
7. libatkan pihak yang
berkepentingan sebagai sumber
dan dukungan sosial dalam
membantu klien menggunakan
koping adaptif yang baru
TUK 5 1. ajarkan klien teknik
Klien dapat relaksasi untuk meningkatkan
menggunakan teknik kontrol dan rasa percaya diri
relaksasi 2. dorong klien untuk
menggunakan relaksasi dalam
menurunkan tingkat ansietas

FORMAT STRATEGI PELAKSANAAN ANSIETAS


A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Klien merasa khawatir dan takut menunggu pengumuman kelulusan anaknya
b. klien mengatakan sulit untuk tidur
c. klien mengeluh kepalanya pusing
2. Diagnosa
    - Kecemasan (Ansietas)

3. Tujuan
    - Klien dapat mengenal kecemasan

4. Tindakan Keperawatan
    a. Bina hubungan saling percaya
            - Mengucapkan salam terapeutik
            - Menjelaskan tujuan interaksi dan membuat kontrak waktu,topik dan tempat
    b. Tanyakan pada klien tentang situasi penyebab timbulnya kecemasan
    c. Tanyakan tanda-tanda kecemasan
    d. Tanyakan apa yang biasa dilakukan untuk mengatasi kecemasan

B. Strategi Komunikasi
1.    Fase Orientasi
a.    Salam Terapeutik
“Selamat pagi Ibu D Apa kabar hari ini? sesuai dengan janji saya kemarin pagi ini
saya datang lagi. Bagaimana perasaan ibu saat ini, adakah hal yang menyebabkan ibu
cemas?”

“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol cemas yang ibu rasakan dengan
kegiatan yang positif yaitu dengan melakukan teknik relaksasi nafas dalam”

“Sesuai janji kita tadi kita akan berbincang-bincang sekitar 30 menit dan tempatnya
disini di ruang tamu, bagaimana ibu setuju?”

2. Fase Kerja

“Nah, sekarang coba ibu ceritakan, Apa yang membuat ibu D merasa cemas? ”


Apakah sebelumnya ibu pernah cemas seperti sekarang ? Terus, penyebabnya apa?
Samakah dengan yang sekarang? Lalu saat ibu sedang cemas apa yang ibu rasakan?
Apakah ibu merasa pusing, mulut kering, berkeringat dingin, diare/ atau kadang sulit
BAB, gemetar, sulit konsentrasi, sulit tidur, pusing, perasaan tidak aman, wajah tegang/
sedih, malas beraktivitas dan berbicara, nadi dan tekanan darah naik, menghindar
kontak mata, gerakan meremas tangan, sering sesak nafas, befokus pada apa yang
menjadi perhatian, bicara berlebihan dan cepat? ”
“Setelah itu apa yang ibu lakukan? ”
“Apakah dengan cara itu cemas ibu dapat terselesaikan? ” Ya tentu tidak, apa kerugian
yang ibu A alami?”
“Menurut ibu adakah cara lain yang lebih baik? Maukah ibu belajar cara mengontrol
cemas dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”
”Jadi, ada beberapa cara untuk mengontrol cemas, ibu. Salah satunya adalah dengan
cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik, rasa cemas ibu dapat tersalurkan.”
”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar 1 cara dulu? Namanya teknik napas
dalam”. ”Begini bu, kalau tanda-tanda cemas tadi sudah ibu
rasakan, maka ibu berdiri atau duduk dengan rileks, lalu tarik napas dari hidung, tahan
sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan –lahan melalui mulut”
“Ayo ibu coba lakukan apa yang saya praktikan tadi, ibu berdiri atau duduk dengan
rileks tarik nafas dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5
kali. “
“Bagus sekali, ibu  sudah bias melakukannya”
“ Nah.. ibu tadi telah melakukan latihan teknik relaksasi nafas dalam, sebaiknya latihan
ini ibu lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa cemas itu muncul ibu
sudah terbiasa melakukannya”

3.    Fase Terminasi


a.       Evaluasi
 Subyektif
“Bagaiman perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang dan melakukan
latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Ya...b etul, dan kelihatannya ibu terlihat
sudah lebih rileks”.
 Obyektif
”Coba ibu sebutkan lagi apa yang membuat ibu cemas, lalu apa yang ibu
rasakan dan apa yang akan ibu lakukan untuk meredakan rasa marah”. Coba
tunjukan pada saya cara teknik nafas dalam yang benar.
“Wah...bagus, ibu masih ingat semua...”
b.      Rencana Tindak Lanjut (RTL)
“Bagaimana kalau kegiatan ini rutin dilakukan 5 kali dalam 1 hari dan di tulis dalam
jadwal kegiatan harian ibu.
c.       Kontrak yang akandatang
  Topik  :
“Nah, bu. Cara yang kita praktikkan tadi baru salah 1 nya saja. Masih ada cara yang
bias digunakan untuk mengontrol rasa cemas ibu. Nanti ibu bias mencoba dengan cara
lain yang tadi sudah saya sebutkan.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. ( 2008 ), Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta : EGC


Carpenito-Moyet, L. J. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi 10. Jakarta:
EGC
Direja Surya, Herman Ade. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:
Nuha Medika
Erna Cahyani.2016. Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Ansietas.
(Online. Available) From: https://www.scribd.com/document/320503011/LP-SP-
Ansietas
Hawari, Dadang. (2008). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta : FK
Universitas Indonesia
Nanda Internasional.2012.Diagnosis Keperawatan 2012-2014. EGC : Jakarta.
Nuriinaya Muhammad Toha. 2012. Laporan Pendahuluan Ansietas Jiwa.
(Online.available). From: https://www.scribd.com/doc/148768349/Lp-Ansietas-
Jiwa