Anda di halaman 1dari 69

KARAKTERISTIK TANAH DI DAERAH CEKUNGAN

BANDUNG BERDASARKAN KECEPATAN GELOMBANG


GESER (Vs30) DENGAN METODE MASW (MULTICHANNEL
ANALYSIS OF SURFACE WAVE)
(Skripsi)

Oleh

Restilla Valeria

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2018
ABSTRACT

SOIL CHARACTERISTIC IN BANDUNG BASIN ACCORDING TO


SHEAR WAVE VELOCITY (Vs30) USING MASW (MULTICHANNEL
ANALYSIS OF SURFACE WAVE) METHOD

By

Restilla Valeria

A Multichannel Analysis of Surface Wave (MASW) method has been carried out
in Bandung Basin area. The purpose of this research is to know the class of soil
based on Vs value analysis in mapping area with the potential of damaged due to
earthquake disaster. The Vs value is obtained from MASW by utilizing Rayleigh
surface wave dispersion from 21 locations of measurement points using 24
geopons (spaced between geopons is 2 meter). The Vs measurement result from
MASW were compared with the soil type classification of soil classification
according to NEHRP in 1998 and Stratigraphy based on Eurocode soil type 2005.
The research results based on the value Vs showed that the land in the research
area in Bandung Basin is divided into two classes of sites: Class E is soft soil with
a Vs value between 50 m/s up to 183 m/s, and Class D is a rigid ground with a Vs
value between 183 m/s up to 366 m/s. Based on the distribution of Vs values, the
soil in the Bandung Basin is dominated by Class E, making it particularly
vulnerable to earthquake shocks.

Key Words : Shear Wave Velocity, MASW, Bandung Basin

i
ABSTRAK

KARAKTERISTIK TANAH DI DAERAH CEKUNGAN BANDUNG


BERDASARKAN KECEPATAN GELOMBANG GESER (Vs30) DENGAN
METODE MASW (MULTICHANNEL ANALYSIS OF SURFACE WAVE)

Oleh

Restilla Valeria

Telah dilakukan penlitian metode Multichannel Annalysis of Surface Wave (Vs) di


daerah Cekungan Bandung telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui kelas tanah berdasakan analisa nilai Vs dalam pemetaan daerah
dengan potensi mengalami kerusakan akibat dari bencana gempabumi. Nilai Vs
diperoleh dari MASW dengan cara memanfaatkan dispersi gelombang permukaan
Rayleigh dari 21 lokasi titik pengukuran dengan menggunakan 24 geopon (spasi
antar geopon 2 meter). Hasil pengukuran Vs dari MASW dibandingkan dengan
pengkelasan jenis tanah dari klasifikasi tanah menurut NEHRP tahun 1998 dan
statigrafi berdasarkan tipe tanah Eurocode tahun 2005. Hasil Penelitian
berdasarkan nilai Vs menunjukan bahwa tanah dilokasi penelitian daerah
Cekungan Bandung dibagi menjadi dua kelas situs: Kelas E yaitu tanah lunak
dengan nilai Vs antara 50 m/det hingga 183 m/det, dan Kelas yaitu tanah kaku
dengan nilai Vs antara 183 m/det hingga 366 m/det. Bardasarkan sebaran nilai Vs,
tanah di Cekungan Bandung didominasi oleh Kelas E, hal ini menjadikan daerah
tersebut sangat rentan terhadap goncangan gempabumi.

Kata kunci : Kecepatan gelombang geser, MASW, Cekungan Bandung

ii
7

KARAKTERISTIK TANAH DI DAERAH CEKUNGAN


BANDUNG BERDASARKAN KECEPATAN GELOMBANG
GESER (Vs30) DENGAN METODE MASW (MULTICHANNEL
ANALYSIS OF SURFACE WAVE)

Oleh

RESTILLA VALERIA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar


SARJANA TEKNIK

Pada

Jurusan Teknik Geofisika


Fakultas Teknik Universitas Lampung

KEMENTRIAN RISET, TEJNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMPUNG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
2018
7
8
9
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada

tanggal 4 Januari 1994, sebagai anak ke 2 dari 3 bersaudar dari

pasangan Bapak Rikherwan dan Ibu Euis Rohimah.

Riwayat pendidikan penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak

Fajar Kasih, Rajapolah, Tasikmalaya 1998 dan diselesaikan pada tahun 2000.

Penulis melanjutkan sekolah dasar di SDN 1 Rajapolah, Tasikmalaya dari tahun

2000 dan diselesaikan pada tahun 2006. sekolah menengah pertama di SMPN 13

Tasikmalaya dari tahun 2006 dan diselesaikan pada tahun 2009. Dan sekolah

menengah atas di SMAN 9 Tasikmalaya dari tahun 2009 dan diselesaikan pada

tahun 2012. Semasa sekolah menengah atas, penulis aktif dalam ekstrakulikuler

Paskibra sebagai anggota pada tahun 2009-2010, dan Taekwondo sebagai anggota

pada tahun 2009-2012, dan menjadi wakil serta ketua ekstrakulikuler Taekwondo

pada tahun 2010-2011.

Tahun 2012, penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Jurusan

Teknik Geofisika Universitas Lampung. Selama menjalankan masa studi, penulis

aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan kampus. Pada periode 2013-2015,

penulis terdaftar sebagai anggota Bidang Dana dan Usaha di Himpunan

Mahasiswa Teknik Geofisika Bhuwana Universitas Lampung. Penulis juga

terdaftar sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia pada tahun

2013, terdaftar sebagai anggota dan pernah menjadi sekretaris Divisi Fieldtrip

vii
Society of Exploration Geophysics (SEG) Universitas Lampung pada periode

2013-2014, dan terdaftar sebagai anggota Divisi Fieldtrip American Association

Petroleum of Geology (AAPG) Universitas Lampung pada periode 2014-2015.

Pada tahun 2015 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Toto

Mulyo, Kecamatan Gunung Terang, Tulang Bawang Barat. Pada bulan Februari-

Maret tahun 2016, penulis melaksana Kerja Praktek di Balai Penyelidikan dan

Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Jogjakarta sebagai

pelaksanaan mata kuliah wajib. Dan pada tahun 2017, penulis melaksanakan

Tugas Akhir untuk penelitian skripsi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana

Geologi di Bandung pada tanggal 14 Agustus 2017 sampai dengan 13 Oktober

2017, dengan judul “Karakteristik Tanah di Daerah Cekungan Bandung

Berdasarkan kecepatan gelombang geser (Vs30) dengan Metode MASW

(Multichannel Analysis of Surface Wave)”.

viii
7

Kupersembahkan karya sederhana ini untuk

MAMAH

Euis Rohimah

KAKAKKU

Tresya Rikherwan

ADIKKU

Winda Wilani
MOTTO

”Apabila Anda berbuat kebaikan kepada orang lain, maka Anda

telah berbuat baik terhadap diri sendiri.”

-Benyamin Franklin-

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan

kesanggupannya”

-Qs. Al-Baqarah: 286-

“Kegagalan mengalahkan pecundang, Kegagalan Menginspirasi

pemenang”

-Robert T. Kiyosaki-

“Kerendahanmu tidak akan terangkat dengan merendahkan orang lain”

-Ahmad Mustofa Bisri-


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas

segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “Karakteristik

Tanah Di Daerah Cekungan Bandung Berdasarkan Kecepatan Gelombang

Geser (Vs30) Dengan Metode Masw (Multichannel Analysis Of Surface

Wave)” ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa terlimpah kepada

Nabi Muhammad SAW, beserta segenap keluarga, sahabat dan pengikut setia

beliau.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Stara-1 Teknik

Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung. Selain itu, dengan adanya

penelitian ini penulis dapat memahami fenomena nyata yang terjadi di alam serta

dapat mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama kuliah pada kegiatan

eksplorasi yang sebenarnya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh

karena itu, diperlukan saran dan kritik membangun untuk perbaikan ke depannya.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Juni 2018

Restilla Valeria, email : restillavaleria@gmail.com

xi
SANWACANA

Alhamdulillahirabbil’alamin, penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah

SWT atas segala rahmat, nikmat, karunia, dan hidayah-Nya sehingga penulis

dapat dapat menyelesaikan masa studi pendidikan tinggi dengan penyelesaian

Skripsi berjudul “Karakteristik Tanah Di Daerah Cekungan Bandung

Berdasarkan Kecepatan Gelombang Geser (Vs30) Dengan Metode Masw

(Multichannel Analysis Of Surface Wave)”.

Tentu dalam perjalanan memulai, menyusun dan menyelesaikan skripsi ini penulis

mengucapkan banyak terimakasi kepada banyak pihak yang telah membantu

dalam segala hal secara luar biasa, baik bantuan material maupun immaterial.

Terimakasih saya sampaikan kepada:

1. Orang Tua saya, Euis Rohimah dan Erwin Susanto, terutama mamah, yang

selalu memberikan dukungan baik secara moral maupun materil, serta

memberikan dorongan, kasih sayang, semangat serta do’a yang diberikan

terus menerus, sehingga penulis termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga Allah SWT, selalu melimpahkan keberkahan dan kesehatan pada

Orang Tua, aamiin.

2. Tresya Rikherwan dan Winda Wilany, yang memberikan dorongan dalam

menyelesaikan skripsi ini dengan bail. Semoga teteh sukses dalam pekerjaan,

dan adik saya lancar dalam perkuliahannya dan menyelesaikan gelarnya

mendatang.

xii
3. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi “PVMBG”, Bandung, Jawa

Barat. Sebagai Instansi yang telah memberikan kesempatan penulis dalam

melaksanakan Tugas Akhir.

4. Bapak Cecep Sulaeman, selaku Pembimbing Lapangan Tugas Akhir yang

telah membimbing dan membagi ilmunya selama proses pengerjaan tugas

akhir di PVMBG.

5. Bapak Rustadi, S.Si., M.T. selaku Pembimbing I yang telah memberrikan

pengarahan, dan saran-saran sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak Dr. Ahmad Zaenudin, S.Si., M.T. selaku Pembimbing II dan

Pembimbing Akademik telah memberikan motivasi dan arahan untuk

menyelesaikan studi.

7. Bapak Dr. Nandi Haerudin, S.Si., M.Si. selaku Penguji yang telah

memberikan saran dan koreksi dalam penyusunan skripsi.

8. Dosen-dosen Jurusan Teknik Geofisika Universitas Lampung; Bapak Prof.

Drs. Suharno, M.Sc., Ph.D., Bapak Dr. Muh Sarkowi, S.Si., M.Si., Bapak

Dr. Ahmad Zaenudin, S.Si., M.T., Bapak Nandi Haerudin, M.Si., Bapak

Bagus Sapto Mulyatno, S.Si., M.T., Bapak Dr. Ordas Dewanto, S.Si.,

M.Si., Bapak Karyanto, S.Si., M.T., Bapak Rustadi, M.T., Bapak

Syamsurijal Rasimeng., M.Si., Bapak Alimuddin Muchtar, M.Si., Bapak

Rahmad Catur Wibowo, M.Eng., Bapak I Gede Boy, M.Eng., yang telah

memberikan banyak pembelajaran dan bantuan selama menempuh studi di

Jurusan Teknik Geofisika Universitas Lampung. Terimakasih Sangat Banyak.

xiii
9. Seluruh staff Tata Usaha Jurusan Teknik Geofisika Unila, Pak Marsono,

Pak Legino, Pak Pujono, Mbak Dhea yang telah memberikan banyak

bantuan dalam proses administrasi.

10. Keluarga besar Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Mitigasi Bencana Geologi,

Bandung yang selalu ramah dan membantu penulis, serta terima kasih atas

bimbingannya kepada penulis selama mengerjakan tugas akhir.

11. Bella dan Dilla yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan

skripsi dan menjadi teman baik bagi penulis.

12. Medi dan Dimas Suendra yang selalu membantu dan mengajari saya apabila

ada pelajaran yang belum penulis mengerti. Thanks ya met, kak.

13. Ghifari dan Kevin yang telah memberikan dorongan dan membantu saya

dalam mempersiapkan Ujian Skripsi, serta menghibur penulis sampai skripsi

terselesaikan.

14. Dan juga Betha, Zahidah, Edo, Aldo, Irwansyah, Dimastya, Arianto,

Esha, Hilman, Dimas Triyono, Jordy, yang telah memberi semangat serta

menjadi teman yang baik.

15. Soulthan S, teman seperjuangan saya selama Tugas Akhir.

16. Angkatan TG12 bersama-sama memulai perjalanan ini. Bagaimanapun yang

terjadi, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk mengenal, berbagi

tawa maupun resah bersama kalian tanpa terkecuali.

17. Nenek dan Kakek serta keluarga di Gedong Tataan yang selalu mendukung,

menasehati dan merawat penulis selama masa kuliahnya sampai selesai.

xiv
18. Kakak-kakak tingkat (TG07, TG08, TG09, TG10, TG11) yang telah

memberikan pelajaran, saran dan bantuan selama penulis kuliah. Serta adik-

adik tingkat (TG13, TG14, TG15, TG16). Terimakasih!.

19. Teman-teman di Tasikmalaya, yang selalu memberikan dukungan semangat

dan saran kepada penulis sampai sekarang walaupun jauh dalam jangkauan

jarak. Semoga kalian sukses.

Semoda do’a, bantuan, bimbingan dan motivasi yang kalian berikan mendapat

balasan dari Allah SWT. Aamiin. Penulis berharap skripsi yang sederhana ini

bermanfaat bagi semua, khususnya bagi penulis.

Bandar Lampung, 24 Juli 2018


Penulis,

Restilla Valeria

xv
DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRACT………………………………………………………………….i

ABSTRAK………………………………………………………………… ii

HALAMAN JUDUL……………………………………………………… iii

HALAMAN PERSETUJUAN…………………………………………… iv

HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………….. v

SURAT PERNYATAN…………………………………………………… vi

RIWAYAT HIDUP……………………………………………………….. vii

HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………... ix

MOTTO……………………………………………………………………. x

KATA PENGANTAR…………………………………………………….. xi

SANWACANA……………………………………………………………. xii

DAFTAR ISI………………………………………………………………. xvi

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………… xviii

DAFTAR TABEL….………………………………………………………. xxii

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................. 1
B. Tujuan Penelitian.............................................................................. 5
C. Batasan Masalah............................................................................... 5
D. Lokasi dan Waktu............................................................................. 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Fisiografi Jawa Barat....................................................................... 7
B. Lokasi Penelitian…………………………………......................... 8
C. Metode MASW (Multichannel Analysis of Surface Wave)…….… 10

xvi
D. Metode MASW Aktif dan Pasif…................................................... 11

BAB III. TEORI DASAR


A. Gelombang Seismik........................................................................ 14
B. Dispersi Gelombang Rayleigh………….………………….….…. 21
C. Transformasi Fourier....................................................................... 23
D. Pengaruh Efek Lokal Terhadap Gempa.......................................... 25
E. MASW (Multichannel Analysis Surface Wave)..……………….. 26
F. Modulus Geser…………………………………………………… 29
G. Kecepatan gelombang geser (Vs30)………………………………. 30

BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN


A. Lokasi dan Waktu Penelitian……………………………………… 33
B. Diagram Alir…………………………………………………….… 34
C. Akuisisi Data…………………………………………………….... 35
D. Tahap Pengolahan Data…………………………………………... 35

BAB V. HASIL PEMBAHASAN


A. Pengolahan Data 1D……………………………………………... 42
B. Analisa Profil Kecepatan Gelombang Geser (Vs30)……………... 47
C. Analisa Rata-Rata Kecepatan Gelombang Geser S Vs30………… 74

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan…………………………………………………….… 80
B. Saran……………………………………………………………… 81

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xvii
DAFTAR GAMBAR

halaman
Gambar 1 Patahan-patahan di Jawa Barat…………………………………… 2

Gambar 2 Fisiografi Jawa Barat……………………………………………... 7

Gambar 3 Peta geologi wilayah daerah pengukuran………………………… 9

Gambar 4 Cekungan Bandung……………………………………………..... 10

Gambar 5 Gambaran umum survei metode MASW………………………… 12

Gambar 6 Skema survei lapangan MAWS aktif……………………………... 12

Gambar 7 Metode MASW pasif Roadside………………………………....... 12

Gambar 8 Metode MASW pasif remote……………………………………... 13

Gambar 9 Gelombang kompresi atau gelombang P ………………………… 16

Gambar 10 Gelombang longitudinal atau gelombang S…………………….... 17

Gambar 11 Amplitudo gelombang Rayleigh berkurang terhadap kedalaman.. 18

Gambar 12 Pola gerakan partikel gelombang Rayleigh………………..…....... 19

Gambar 13 Sifat penetrasi partikel gelombang Rayleigh……………………... 20

Gambar 14 Gelombang Love………………....……………………………...... 20

Gambar 15 Grafik kecepatan sudut gelombang Rayleigh sebagai fungsi


frekuensi………………………………………………………… 23

Gambar 16 Prinsip dasar respon lokasi mikrotremor…………………………. 31

Gambar 17 Diagram alir………………………………………………………. 34

Gambar 18 Gambar jendela pickwin………………………………………...... 36

xviii
Gambar 19 Shoot gather pada pengukuran MASW…………………………... 36

Gambar 20 Tampilan nilai transformasi phase velocity – frekuensi………….. 37

Gambar 21 Spektrum kurva dispersi…………………………………………. 37

Gambar 22 Kurva dispersi hasil picking gambar disperse……………………. 38

Gambar 23 Parameter initial model…………………………………………… 38

Gambar 24 Inisial model kecepatan gelombang geser……………………….. 39

Gambar 25 Window iterasi metode least square……………………………… 40

Gambar 26 Inversi berbasis iterasi……………………………………………. 40

Gambar 27 Profil kecepatan gelombanh shear (Vs) 1D………………………. 41

Gambar 28 Data MASW yang akan ditransformasi………………………….. 43

Gambar 29 Hasil transformasi F-V……………………………………………. 44

Gambar 30 Proses minimalis berbasis iterasi…………………………………. 44

Gambar 31 Profil kecepatan gelombang geser Vs hasil inversi 1D…………… 45

Gambar 32 Profil kecepatan Vs untuk tipe profil regolith…………………….. 47

Gambar 33 Profil regolith titik 14…………………………………………...... 48

Gambar 34 Profil regolith titik 1……………………………………………… 49

Gambar 35 Profil regolith titik 4……………………………………………… 49

Gambar 36 Profil regolith titik 5……………………………………………… 50

Gambar 37 Profil regolith titik 6……………………………………………… 50

Gambar 38 Profil regolith titik 16…………………………………………….. 51

Gambar 39 Profil regolith titik 17…………………………………………….. 51

Gambar 40 Profil regolith titik 18…………………………………………….. 52

Gambar 41 Profil regolith titik 2……………………………………………… 53

Gambar 42 Profil regolith titik 3……………………………………………… 53

xix
Gambar 43 Profil regolith titik 7…………………………………………… 54

Gambar 44 Profil regolith titik 8…………………………………………… 54

Gambar 45 Profil regolith titik 9…………………………………………… 55

Gambar 46 Profil regolith titik 10………………………………………….. 55

Gambar 47 Profil regolith titik 11………………………………………….. 56

Gambar 48 Profil regolith titik 12………………………………………….. 56

Gambar 49 Profil regolith titik 13………………………………………….. 57

Gambar 50 Profil regolith titik 15………………………………………….. 57

Gambar 51 Profil regolith titik 19………………………………………….. 58

Gambar 52 Profil regolith titik 20………………………………………….. 58

Gambar 53 Profil regolith titik 21………………………………………….. 59

Gambar 54 Arah lintasan penampang melintang Vs…………………………... 60

Gambar 55 Kontur persebaran nilai Vs lintasan Utara ke Selatan…………. 61

Gambar 56 Kontur persebaran nilai Vs lintasan Barat ke Timur…………... 62

Gambar 57 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 1……………. 63

Gambar 58 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 2……………. 64

Gambar 59 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 3……………. 64

Gambar 60 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 4……………. 65

Gambar 61 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 5……………. 65

Gambar 62 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 6……………. 66

Gambar 63 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 7……………. 66

Gambar 64 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 8……………. 67

Gambar 65 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 9……………. 67

Gambar 66 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 10………….. 68

xx
Gambar 67 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 11………….. 68

Gambar 68 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 12………….. 69

Gambar 69 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 13………….. 69

Gambar 70 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 14………….. 70

Gambar 71 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 15………….. 70

Gambar 72 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 16………….. 71

Gambar 73 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 17………….. 71

Gambar 74 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 18………….. 72

Gambar 75 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 19………….. 72

Gambar 76 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 20………….. 73

Gambar 77 Penampang kecepatan gelombang geser 2D titik 21………….. 73

Gambar 78 Keterangan nilai Vs berdesarkan NEHRP 1998………………. 74

Gambar 79 Peta persebaran nilai Vs Cekungan Bandung………………..… 76

Gambar 80 Peta kelas tanah berdasarkan nilai Vs pada lapisan pertama…. 78

xxi
DAFTAR TABEL

halaman
Tabel 1 Pelaksanaan kegiatan penelitian…….....…………………….. 42

Tabel 2 Klasifikasi tanah menurut NEHRP,1998……………………. 46

Tabel 3 Hasil pengolahan data 1D………………………………….... 60

Tabel 4 Statigrafi berdasarkan tipe tanah Eurocode (2005)…………. 75

Tabel 5 Nilai Vs30 daerah Cekungan Bandung………………………. 78

xxii
1

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu

Lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif ke arah Utara dan menyusup ke

bawah Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik yang bergerak relatif ke arah

Barat. Pergerakan tektonik tersebut, menjadi salah satu faktor penyebab besarnya

aktivitas gempabumi yang terjadi di Indonesia. Selain akibat dari aktivitas

tektonik dan vulkanik, letak geografis tersebut menjadikan Indonesia sebagai

kawasan yang rentan terhadap bencana besar, terutama bencana akibat geologis

contohnya aktivitas gempabumi yang terjadi di Indonesia.

Kota Bandung terletak pada ketinggian 791 m di atas permukaan laut (dpl) dengan

titik tertinggi berada di daerah Utara, dengan ketinggian 1.050 m dpl, dan titik

terendah berada di dsersh Selatan dengan ketinggian 675 m dpl.

Wilayah Bandung hamper seluruhnya dikelilingi oleh pegunungan yang

membentuk Kota Bandung menjadi seperti cekungan, dan dikenal sebagai

Cekungan Bandung atau Bandung Basin. Cekungan tersebut membentuk elips

(lonjongan) yang memanjang berarah ke Timur Tenggara – Barat Laut. Cekungan

Bandung dimulai dari sebelah Timur daerah Nagreg sampai ke sebelah Barat

daerah Padalarang dengan jarak horizontal kurang lebih 60 km dan jarak Utara-

Selatan mempunyai lebar sekitar kurang lebih 40 km. Pegunungan yang


2

mengelilingi Cekungan Bandung adalah jajaran kerucut gunung api berumur

Kuarter, di antaranya sebelah Utara yaitu kompleks Gunung Burangrang Sunda-

Tangkuban Parahu, Gunung Bukit Tunggul, tinggian batuan Gunung Api

Cupunagara, Gunung Manglayang, dan Gunung Tampomas (Sudjatmiko,1972).

Daerah Kota Bandung dan sekitarnya memiliki keadaan geologis terdiri atas

lapisan alluvial yang berasal dari hasil letusan Gunung Tangkuban Perahu.

Sementara di wilayah bagian Utara umumnya berjenis tanah andosol, sedangkan

wilayah bagian Selatan dan Timur berjenis lapisan alluvial kelabu dengan bahan

endapan liat. Dan di wilayah bagian tengah dan Barat berjenis tanah andosol.

Gambar 1. Patahan-patahan di Jawa Barat (Engkon, 2006).

Struktur utama penyebab gempa tektonik yang terjadi di sekitar wilayah Bandung

secara garis besar diperkirakan ada 4 sesar utama yaitu :

1. Sesar naik Cantayan.


3

Sesar naik Centayan berarah Barat-Timur (Pola Jawa) membentang mulai dari

daerah Bogor-Pasir Cantayan-Cikalong Wetan, kelurusan sesar ini terlihat jelas

oleh citra satelit, dan pada daerah Waduk Cirata sesar ini sebagai penyebab

pengangkatan batuan breksi berumur Miosen awal yang di kenal sebagai Pasir

Cantayan.

2. Sesar normal Lembang

Sesar ini lebih dikenal sebagai patahan Lembang yaitu sesar naik yang berarah

umum Barat-Timur seperti Pola Jawa, yang membentang dari daerah

Parongpong sampai daerah sekitar Gunung Manglayang, dengan menggunakan

citra satelit terlihat jelas di sebelah Tenggara-Selatan dari Gunung Tangkuban

Perahu, jejak patahan Lembang terlihat di daerah Lembang sebagai gawir dan

di Gunung Manglayang adalah blok yang terangkat.

3. Sesar mendatar Cicalengka

Sesar Cicalengka mendatar sinistral berarah umum NE (timur laut)-SW (barat

daya) membentang mulai dari daerah sebelah barat dari Sindang Barang

sampai dengan daerah Sumedang.

4. Sesar naik Padalarang

Sesar naik Padalarang berarah umum NE (pola timur laut)-SW (barat daya)

membentang dari daerah Raja Mandala sampai daerah Padalarang. Sesar naik

Padalarang sama dengan arah sesar naik Cimandiri, sehingga apabila didalam

peta struktur utama Jawa disatukan, kenampakan dari sesar ini terlihat pada

daerah Padalarang dan menyebabkan pengangkatan batu gamping Formasi

Rajamandala.
4

Sewaktu-waktu sesar aktif tersebut dapat menjadi potensi gempa tektonik yang

dapat terjadi. Cekungan Bandung dikelilingi oleh Gunung Berapi yang berada di

antara tiga daerah sumber gempa bumi yang saling melingkup, yaitu:

(i) sumber gempa bumi Sukabumi-Padalarang-Bandung,

(ii) sumber gempa bumi Bogor-Puncak-Cianjur, serta

(iii) sumber gempa bumi Garut-Tasikmalaya-Ciamis.

Dengan kondisi daerah daerah Cekungan Bandung yang dilingkupi oleh sumber

gempa di jalur patah, maka perlu dilakukan mitigasi dalam upaya mengurangi

resiko kerusakan bangunan akibat bencana gempabumi. Selain hal itu juga

Bandung adalah daerah dengan berpenduduk banyak dan padat serta kerapatan

bangunan yang tinggi, memiliki resiko tinggi terhadap berbagai bencana lainnya.

Salah satu upaya mitigasi bencana gempabumi yang dapat dilakukan adalah

pemetaan zona rawan bencana berdasarkan indikator nilai kecepatan gelombang

geser (Vs). Nilai kecepatan gelombang geser tersebut digunakan untuk

menafsirkan jenis tanah (situs tanah) dengan metode MASW aktif. Sebab,

kerusakan yang terjadi akibat getaran gempabumi bergantung pada struktur bawah

permukaannya (jenis lapisan tanah dibawah permukaannya).

Metode Multichannel Analysis of Surface Wave atau MASW merupakan metode

yang memanfaatkan sifat dispersi dari groundroll (gelombang permukaan).

Gelombang yang digunakan adalah gelombang Rayleigh untuk investigasi

geoteknik berdasarkan nilai kecepatan gelombang shear atau gelombang geser

dari perlapisan batuan yang berada di dekat permukaan. Inversi pada kurva

dispersi gelombang Rayleigh dilakukan untuk memperoleh profil kecepatan


5

gelombang geser Vs. Kemudian nilai Vs yang diperoleh diklasifikasikan

berdasarkan kisaran nilai Vs yang telah dibuat oleh National Earthquake Hazard

Reduction Program (NEHRP, 1998) mengenai Site class (situs kelas tanah).

Penelitian dengan metode MASW ini telah banyak dilakukan, contohnya adalah

pemetaan bedrock di Olathe Kansas dengan menggunakan MASW (Miller dan

Xia, 1999), Karakterisasi seismik pada lapisan pondasi dari turbin angin dekat

Lawton, Oklahoma, dengan menggunakan metode MASW dan Analisis kondisi

bawah tanah di bawah bangunan rumah di Tampa, Florida (Miller dkk, 1999).

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini, adalah :

1. Menentukan nilai kecepatan gelombang geser (Vs30) dilapisan dangkal (30

meter dari permukaan tanah) di daerah penelitian.

2. Membuat peta kontur nilai persebaran Vs pada lapisan pertama (3,7 m dari

permukaan tanah) dari pengolahan 1 dimensi.

3. Memodelkan klasifikasi jenis tanah bawah permukaan daerah penelitian

berdasarkan nilai Vs pada lapisan pertana (3,7 m dari permukaan tanah) dari

pengolahan 1 dimensi.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, penelitian ini memiliki beberapa

batasan masalah, yaitu :

1. Data yang digunakan adalah data sekunder hasil pengukuran tim peneliti

PVMBG, Bandung sebanyak 21 titik.


6

2. Data diolah dengan teknik MASW untuk menghasilkan kurva dispersi

gelombang Rayleigh dan memperoleh nilai Vs30nya.

3. Hasil pengolahan berupa profil kecepatan 1D yang kemudian diinterpolasi

menjadi model 2D.

D. Lokasi dan Waktu

Tugas akhir ini dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus – 13 Oktober 2017 dan

bertempat di Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG),

Bandung.
7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Fisiografi Jawa Barat

Jawa Barat dibagi menjadi empat bagian Zona Fisiografi (Gambar 2). Pembagian

berdasarkan aspek-aspek fisiografi ini cukup menggambarkan kondisi tektonik

maupun statigrafi regional Jawa Barat. Keempat zona fisiografi tersebut adalah :

a. Zona Dataran Pantai Jakarta (Alluvial Plains of Northern West-Java)

b. Zona Bogor (Bogor Anticlinorium)

c. Zona Bandung (Cetral Depression of West-Java)

d. Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat (Southern Mountains of West-Java)

Gambar 2. Fisiografi Jawa Barat (Van Bemmelen, 1949).


8

Daerah penelitian penulis berdasarkan pembagian zona fisiografi termasuk ke

dalam Zona Bandung. Zona Bandung merupakan zona depresi di daerah Jawa

Barat yang berada di tengah struktur utama atau daerah yang dilewati oleh

struktur utama yang berada di Jawa barat (Van Bemmelen, 1970).

Zona Bandung memiliki lebar 20 km hingga 40 km yang membentang dari

Pelabuhanratu sampai ke arah Timur melalui Cianjur, Bandung hingga ke daerah

Kuningan. Morfologi Zona Bandung sebagian besarnya adalah perbukitan curam

yang dipisahkan oleh beberapa lembah yang cukup luas. Lembah tersebut adalah

depresi diantara gunung yang diakibatkan oleh proses tektonik (intermontane

depression). Zona Bandung membentuk depresi dengan ketinggian terbilang

cukup besar, contohnya depresi Bandung dengan ketinggian 700-750 mdpl (meter

di atas permukaan laut).

Zona Bandung memili batuan penyusun terdiri atas batuan sedimen berumur

Neogen yang ditindih secara tidak selaras oleh batuan vulkanik berumur Kuarter

dari hasil gunungapi yang membentuk barisan pada dataran rendah di daerah

perbatasan. Batuan tersebut membentuk struktur lipatan besar yang disertai

dengan pensesaran akibat proses tektonik yang kuat. Zona Bandung merupakan

puncak dari Geantiklin Jawa Barat yang kemudian runtuh setelah proses

pengangkatan berakhir (Van Bemmelen, 1949).

B. Lokasi Penelitian

Bandung merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat yang berkoordinat pada 107°

BT dan 6° 55’ LS dan luasnya adalah 16.767 Ha dengan luas wilayah keseluruhan

Kabupaten Bandung yaitu 176.238,67 Ha. Sebagian besar wilayah Bandung


9

berada diantara bukit-bukit dan gunung-gunung yang mengelilingi wilayah

Kabupatennya, seperti disebelah utara terletak Bukit Tunggul dengan ketinggian

2.200 m, Gunung Tangkuban Parahu dengan ketinggian 2.076 m yang berbatasan

dengan Kabupaten Bandung wilayah Barat dan Kabupaten Purwakarta. Serta di

sebelah selatan terdapat Gunung Patuha dengan ketinggian 2.334 m, Gunung

Guntur dengan ketinggian 2.249 m, Gunung Malabar dengan ketinggian 2.321 m,

dan Gunung Papandayan dengan ketinggian 2.262 m, keduanya di perbatasan

dengan Kabupaten Garut (Grady, 2016).

Srcara morfologis lokasi penelitian penulis seperti pada Gambar 3, terdiri atas

Formasi Kosambi, Formasi Cibeureum, Formasi Cikapundung, dan Vulkanik

Tersier.

Gambar 3. Peta geologi wilayah daerah pengukuran


10

Secara topografis daerah peneliatan Bandung adalah sebuah cekungan yang

terbentuk dari danau purba Bandung, seperti pada Gambar 4. Luas dari Cekungan

Bandung mencapai 2.283 km² (kilometer persegi) terbagi menjadi dua wilayah

administratif, yaitu Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Sebelah Timur

berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, sebelah Selatan berbatasan dengan

Kabupaten Garut, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur sedangkan

sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta.

Gambar 4. Cekungan Bandung (Geothno, 2008)

C. Metode MASW (Multichannel Analysis of Surface Wave)

Fenomena dispersi pada gelombang permukaan dimanfaat dalam Metode MASW.

Metode MASW bertujuan untuk mengevaluasi karakter suatu medium solid.

Secara umum variasi kecepatan gelombang permukaan seiring dengan

bertambahnya kedalaman akan terukur oleh metode MASW.


11

Pengukuran metode MASW untuk menghasilkan gelombang permukaan dengan

12 sampai 24 rangkaian geopon membutuhkan sumber seismik aktif atau dengan

sumber seismik pasif. Geopon akan menerima dan mengukur hasil dari rekaman

yang ditimbulkan pada beberapa jarak dari sumber getaran, setiap geopon akan

mmenerima banyak gelombang permukaan dengan masing-masing panjang

gelombang yang berbeda-beda. MASW memiliki banyak kelebihan dibandingkan

dengan metode seismik lainnya antara lain :

1. Non eksplosif, sehingga tidak merusak lingkungan.

2. Lebih murah karena tidak perlu pengeboran.

3. Peralatannya mudah dibawa.

4. Dapat digunakan dalam survey dangkal maupun mencapai ratusan meter.

5. Mudah dalam memperoleh persebaran nilai Vs untuk menentukan jenis tanah

(seperti pada penelitian yang penulis lakukan).

D. Metode MASW Aktif dan Pasif

Metode MASW berdasarkan pada sumber gelombang yang digunakan dibagi

menjadi dua jenis, yaitu metode MASW aktif dan Metode MASW pasif. Pada

metode MASW aktif sumber gelombang yang digunakan harus memiliki

frekuensi yang tinggi, contohnya menggunakan palu atau weightdrop, sedangkan

pada metode MASW pasif sumber yang digunakan adalah frekuensi rendah,

contohnya pasang surut air laut, lalu lintas kendaraan, dan kerumunan pejalan

kaki, seperti pada Gambar 5 - Gambar 8.


12

Gambar 5. Gambaran umum survei metode MASW (Park dkk, 1999)

Gambar 6. Skema survei lapangan MAWS aktif (Park dkk, 1999)

Gambar 7. Metode MASW pasif Roadside (Park dan Miller, 2005)


13

Gambar 8. Metode MASW pasif remote (Park dan miller, 2005)

Konfigurasi remote digunakan untuk survei 1 dimensi. Konfigurasi geopon

disusun berbentuk simetris. Misalnya lingkaran, silang, persegi, atau segitiga.

Sedangkan pada konfigurasi roadside dapat digunakan untuk survei 2 dimensi.

Metode ini memanfaatkan gelombang permukaan yang dihasilkan dari lalu lintas

local (seismic pasif). Hasilnya mungkin kurang akurat dibandingkan dengan

metode remote, namun konfigurasi ini paling mudah digunakan dalam survei

karena tidak memerlukan banyak ruang untuk konfigurasi geoponnya. Konfigurasi

ini dapat menggabungkan metode aktif dan pasif sekaligus.


14

BAB III. TEORI DASAR

A. Gelombang Seismik

Secara umum gelombang adalah fenomena perambatan usikan atau gangguan sifat

fisis dari suatu medium yang merambat pada medium di sekitarnya. Gangguan

sifat fisis mula-mula terjadi secara lokal yang menyebabkan adanya osilasi

(pergeseran) kedudukan partikel-partikel medium, osilasi tekanan maupun osilasi

rapat massa. Karena adanya gangguan rambatan dari satu tempat ke tempat lain

ini mengakibatkan adanya transportasi energi (Munadi, 2003).

Gelombang seismik merupakan gelombang yang menjalar di dalam bumi

disebabkan oleh adanya deformasi struktur berupa tekanan ataupun tarikan karena

salah satu sifat kerak bumi yaitu keelastisan. Gelombang ini kemudian

menjalarkan ke segala arah di seluruh bagian bumi dengan membawa energi dan

mampu dicatat oleh seismograf (Siswowidjoyo dkk, 1997).

Berdasarkan tempat penjalarannya gelombang seismik dibedakan menjadi dua,

yaitu body wave (gelombang tubuh) dan surface wave (gelombang permukaan).

Gelombang tubuh merupakan gelombang yang arah rambatnya masuk ke bawah

permukaan bumi yang terdiri dari gelombang kompressional (gelombang

longitudinal atau P-wave) dan gelombang geser (gelombang transerval atau S-

wave). Gelombang P sendiri memiliki ciri, dimana arah gerakan partikel dalam

medium searah dengan arah perambatan gelombangnya sedangkan pada


15

gelombang S arah perambatan gelombang tegak lurus dengan gerak partikel

dalam mediumnya. Pada gelombang permukaan, arah rambatan gelombang hanya

terjadi pada batas permukaan medium saja. Gelombang permukaan berdasarkan

dari sifat gerakan partikel media elastik merupakan gelombang kompleks dengan

amplitudo besar dan frekuensi rendah yang menjalar karena adanya efek free

surface dan perbedaan sifat elastik. Gelombang permukaan dibagi menjadi dua

jenis yaitu gelombang Rayleigh dan gelombang Love (Telford dkk, 1976).

a. Gelombang Badan (Body Wave)

Gelombang badan atau body wave merupakan gelombang yang menjalar melalui

bagian dalam bumi yang biasa disebut dengan free wave karena dapat menjalar ke

segala arah di dalam bumi. Gelombang badan terdiri atas dua gelombang, yaitu

gelombang primer atau longitudinal (compressional wave) dan gelombang

tranversal atau gelombang sekunder (shear wave).

1. Gelombang P

Gelombang yang disebut dengan gelombang kompresi (gelombang primer atau

primary wave atau gelombang P) apabila pergerakan partikel gelombang sejajar

dengan arah penjalaran gelombangnya (Brown, 2005). Gelombang tubuh dapat

dilihat pada Gambar 9.

/
Vp = (1)

Dengan K adalah modulus bulk (inkompresibilitas), μ adalah modulus geser, dan ρ

adalah densitas.
16

Compressions Undisturbed medium

Dilatations
Gambar 9. Gelombang kompresi atau gelombang P (Elnashai dan Sarno, 2008)

2. Gelombang S

Gelombang disebut dengan gelombang geser (gelombang sekunder atau

secondary wave atau gelombang S) adalah gelombang yang pergerakan partikel

tegak lurus dengan arah penjalaran gelombangnya. Adapun dua komponen pada

gelombang S, yaitu gelombang S untuk arah horizontal (Shear Horizontal) dan

gelombang S untuk arah vertikal (Shear Vertical). Kedua arah dari gelombang S

ini saling tegak lurus dengan kecepatan rambat gelombang S (Vs) adalah:

= (2)

Dengan Vs adalah kecepatan gelombang geser, μ adalah modulus geser dan ρ

adalah densitas. Pada medium gas atau medium cair (seperti air) modulus

gesernya adalah bernilai nol, sehingga gelombang S tidak akan bisa merambat

pada medium tersebut. Adapun bentuk gelombang sekunder ditunjukkan pada

Gambar 10.
17

Undisturbed medium

Double amplitude

Wavelength

Gambar 10. Gelombang longitudinal atau gelombang S (Elnashai dan Sarno, 2008)

b. Gelombang Permukaan

Gelombang permukaan atau surface wave merupakan gelombang seismik yang

merambat secara paralel ke arah permukaan bumi tanpa penyebaran energi ke

dalam interior bumi, kemudian amplitudo gelombangnya akan berkurang secara

eksponensial terhadap kedalaman, dan kebanyakan dari energinya merambat pada

daerah dangkal setara dengan satu panjang gelombang (Ariestianty dkk, 2010).

Perambatan gelombang permukaan dipengaruhi oleh sifat bagian lapisan yang

terbatasi. Sperti pada metode MASW, gelombang permukaan dimanfaatkan untuk

menentukan suatu profil kecepatan gelombang S pada tanah. Gelombang

permukaan dibagi menjadi dua jenis yaitu:

1. Gelombang Rayleigh

Gelombang Rayleigh atau dikenal Groundroll merupakan gelombang yang

merambat di permukaan, dimana pergerakan partikel gelombangnya menyerupai

elips dan bergerak mundur. Nilai kecepatan gelombang Rayleigh dalam suatu

medium homogen akan lebih kecil apabila dibandingkan dengan kecepatan

gelombang gese dan apabila terdapat variasi sifat elastik terhadap kedalaman,
18

maka gelombang Rayleigh akan terdispersikan, dimana rambatan gelombang akan

memiliki kecepatan berbeda karena panjang gelombang yang berbeda (Telford

dkk, 1990). Berkurangnya amplitudo gelombang Rayleigh seiring dengan

bertambahnya kedalaman ditunjukan pada Gambar 11. Kecepatan gelombang

Rayleigh dirumuskan sebagai berikut :

Vr = 0,92 √ (3)

Direction of wave propagation

Gambar 11. Amplitudo gelombang Rayleigh berkurang terhadap kedalaman


(Hartantyo dan Suryanto, 2010).

Gelombang Rayleigh dapat dibedakan dari amplitudo yang besar dengan frekuensi

yang kecil. Perbedaan jenis dari gelombang dapat direkam dengan menggunakan

susunan multichannel termasuk gelombang datang dan gelombang pantul,

fundamental dan mode tinggi dari gelombang Rayleigh, gelombang udara,

penghamburan, beserta ambient noise. Sifat dispersi dari jenis-jenis

gelombangnya digambarkan melalui perubahan 2D gelombang saat di lapangan

menjadi gambar dispersi. Gangguan yang pasti terjadi dari gelombang saat di

lapangan adalah seperti hamburan kembali gelombang permukaan dan beberapa

jenis gelombang badan yang disaring selama perubahan ini. Dari gambar dispersi
19

diperoleh, sebuah kurva dispersi dari modus dasar gelombang Rayleigh dipilih

yang kemudian diinversikan untuk mendapat profil 1D kecepatan gelombang S.

Gelombang Rayleigh adalah jenis gelombang permukaan yang digunakan untuk

mencitrakan struktur bawah permukaan dengan aplikasi yang lebih mudah pada

karakterisasi geoteknik. Karena gelombang Rayleigh bersifat unik, yaitu setiap

gelombang merambat melewati batas lapisan material bumi akan mengalami

dispersi. Dan efek dari gelombang Rayleigh sangat besar, jadi apabila kekuatan

sumber atau source diterapkan di permukaan tanah. Dan gelombang Rayleigh

yang dihasilkan mencapai 67% dari total energi yang dihasilkan sumbernya

(Hertantyo dan Brotopuspito, 2010). Maka gelombang Rayleigh digunakan untuk

mengidentifikasikan masalah struktur tanah, karena pengurangan energi

gelombang Rayleigh dalam perambatannya lebih rendah dari jenis gelombang

seismik lain (Shearer, 2009). Adapun pola dari pergerakan gerakan gelombang

Rayleigh pada Gambar 12.

Undisturbed medium

Gambar 12. Pola gerakan partikel gelombang Rayleigh (Elnashai dan Sarno,
2008)
20

Gambar 13. Sifat penetrasi partikel gelombang Rayleigh (Rosyidi, 2006).

Gambar 13 menjelaskan bahwa pada panjang gelombang pendek dengan

frekuensi tinggi hanya merambat pada permukaan yang dangkal saja, sedangkan

pada gelombang yang lebih panjang dengan frekuensi rendah akan merambat

lebih dalam.

2. Gelombang Love

Gelombang Love merupakan gelombang permukaan yang terjadi pada kondisi

stratigrafi khusus yang kecepatan geser pada lapisan teratasnya lebih kecil dari

lapisan yang berada dibawahnya. Gelombang Love merupakang gelombang dari

hasil polarisasi gelombang S yang arah penjalarannya parallel dengan

permukaannya secara horizontal, seperti pada Gambar 14.

Undisturbed medium

Gambar 14. Gelombang Love (Elnashai dan Sarno, 2008)


21

Pergerakan dari partikel gelombang memotong arah rambatnya dan paralel

terhadap permukaan bebas. Gelombang tidak dapat terjadi pada medium

homogen, dan pada media berlapis gelombang Love terdispersi, dimana

kecepatannya cenderung kepada kecepatan geser pada lapisan bawah pada

frekuensi rendah dan cenderung kepada kecepatan geser pada lapisan teratas pada

frekuensi tinggi.

B. Dispersi gelombang Rayleigh

Gelombang elastis atau mekanis yang ditimbulkan karena adanya regangan

medium elastis merupan gelombang seismik merambat secara mekanik ke dalam

medium lapisan bumi. Gelombang seismik dibagi menjadi dua Berdasarkan

sistem penjalarannya, yaitu gelombang badan dan permukaan. Energi gelombang

seismik 67% adalah energi gelombang permukaan (Sholihan dan Santosa, 2009).

Gelombang permukaan digunakan untuk mendapatkan kecepatan gelombang

geser sebagai fungsi kedalaman. Selanjutnya, nilai kecepatan gelombang geser

digunakan untuk mengetahui sifat struktur bawah permukaan, misalnya porositas,

densitas, saturasi air dan jenis batuan. Sejak tahun 1980-an, gelombang

permukaan dimanfaatkan untuk mencitrakan struktur bawah permukaan karena

mudah dan diaplikasikan pada karakterisasi geoteknik, yaitu gelombang Rayleigh.

Sebab gelombang Rayleigh mempunyai sifat yang unik, dimana gelombang akan

mengalami disperse pada setiap perambatan gelombangnya yang melewati batas

lapisan material bumi.


22

Kurva dispersi gelombang Rayleigh didapatkan dengan cara mengroskorelasikan

gelombang Rayleigh pada fungsi frekuensi yang terdeteksi oleh geopon dengan

jarak sebesar D meter.

= Y₁ (ƒ) * Y₂ (4)

Dimana * menandakan bilangan kompleks konjugat. Estimasi selanjutnya adalah

perbedaan antara sudut θ(f) dan t(f) waktu yang dibentuk oleh penjalaran kedua

gelombang Rayleigh dengan pendekatan persamaan :

= tan ( )
(5)

(ƒ)
t(ƒ) = (6)
ƒ

dimana θy1y2(f) adalah perbedaan sudut dan t(f) adalah waktu penjalaran

gelombang. Selanjutnya di estimasi kecepatan sudut gelombang Rayleigh dengan

menggunakan persamaan :

(ƒ) = (7)
(ƒ)

Dimana VR(f) adalah kecepatan sudut gelombang Rayleigh, D adalah jarak geopon

dan t(f) adalah waktu rambat gelombang.

Kecepatan sudut suatu gelombang Rayleigh jika dibuat grafik sebagai fungsi dari

frekuensi akan seperti pada Gambar 15, grafik tersebut disebut sebagai dispersi

gelombang Rayleigh atau kurva dispersi.


23

Gambar 15. Grafik kecepatan sudut gelombang Rayleigh sebagai fungsi


frekuensi (Sholihan dan Santosa, 2009).

Kecepatan gelombang Rayleigh yang terukur dalam pengukuran MASW sangat

merepresentasi kecepatan gelombang geser, karena kecepatan fase gelombang

Rayleigh sekitar 92% dari kecepatan gelombang geser. Perhitungan kecepatan

gelombang geser dilakukan dengan menganalisa sifat dispersi dari gelombang

Rayleigh yang terdapat dalam data seismik yang direkam selama survey dilakukan

(Stokoe dkk, 1994).

C. Transformasi Fourier

Transformasi Fourier merupakan metode analisis spektral yang bertujuan agar

sinyal yang diperoleh dalam domain waktu diubah menjadi domain frekuensi. Hal

ini dilakukan karena perhitungan lebih mudah dalam domain frekuensi

dibandingkan dengan domain waktu. Dan juga fenomena geofisika berkaitan erat

dengan frekuensi, sehingga frekuensi menjadi parameter penting dalam


24

menjelaskan fenomena. Transformasi Fourier adalah dari sebuah fungsi f(t)

didefenisikan sebagai berikut:

ƒ(ω) = ∫ ( ) (8)

dimana : ω = 2πƒ adalah variabel frekuensi sudut dengan satuan radian per detik,

inversi dari transformasi Fourier dinyatakan sebagai :

f (t) = ∫ ( ) (9)

Kedua fungsi tersebut adalah f(t) dan F(ω) yang merupakan pasangan

transformasi fourier yang dinyatakan dengan :

f (t) F( ) (10)

Secara umum spektral merupakan sebuah fungsi komplek yang dapat dinyatakan

dalam dua bentuk berikut :

Penjumlahan bagian riil dan imajiner

= cos t + i sin (11)

Dimana = 2 ƒ

= 2 + 2 (12)

Sehingga,

( ) =∫ ( ) (13)

(14)
( ) = ( ) (2 ) – ( ) (2 )
25

F (ω) pada komplek spektrum atau kompleks densitas dari F (t) adalah :

( ) = [ ( )] + [ ( )] (15)

Atau

( )
( ) = ( ) (16)

Dimana

( ) = | ( )| = { [ ( )] } + [ ( )]² (17)

[ ( )]
( ) = tan [ ( )]
(18)

Dengan :

F(ω) = spectral

Re (ω) = variabel riil

Im (ω) = variabel imajiner

A (ω) = spektrum amplitude

θ (ω) = spektrum fase

ω = frekuensi sudut (rad/s)

f = frekuensi (Hz)

Maka akan menghasilkan spektrum kurva dispersi yang menunjukkan berbagai

frekuensi dengan kecepatan fasa yang berbeda.

D. Pengaruh Efek Lokal Terhadap Gempa

Karakterisasi efek lokal dan getaran tanah diperlukan dalam mitigasi bencana

gempabumi, karena kerusakan bangunan yang terjadi tergantung dari struktur


26

bawah permukaannya. Gelombang gempa akan menjalar dari kecepatan tinggi

(basement) ke kecepatan rendah (sedimen), dan multirefleksi terjadi pada

sedimen, sehingga mengakibatkan amplifikasi gelombang. Amplifikasi

gelombang menyebabkan kerusakan pada lapisan tanah, karena adanya

gelombang yang terjebak pada lapisan lunak, apabila gelombang mempunyai

frekuensi relatif sama, maka akan menimbulkan resonansi (penguatan gelombang

gempa), sehingga memberikan efek kerusakan pada bangunan yang berdiri di

atasnya. Faktor amplifikasi dipengaruhi oleh densitas batuan dan kecepatan

gelombang geser (Vs) :

= (19)

Dimana Am adalah amplifikasi, ρₒ adalah densitas basement, Vₒ adalah kecepatan

gelombang pada basemen, ρs adalah densitas sedimen dan Vs adalah kecepatan

gelombang geser pada sedimen. Hubungan dari frekuensi resonansi dengan

kecepatan gelombang geser dirumuskan sebagai berikut :

(20)

dimana Fn adalah frekuensi resonansi, Vs adalah kecepatan gelombang S dan H

adalah ketebalan sedimen.

E. MASW (Multichannel Analysis Surface Wave)

MASW merupakan suatu metod pengukuran kecepatan gelombang geser (Vs)

yang melewati medium (seperti tanah) dengan menggunakan prinsip perambatan

gelombang dengan menganalisa gelombang Rayleigh di permukaan tanah melalui


27

banyak saluran (multichannel). Hasil dari pengukuran MASW berupa profil Vs

terhadap kedalaman dan secara khusus metoda ini digunakan dalam bidang

geoteknik selain untuk menentukan Vs juga digunakan dalam mengidentifikasi

sifat material, kondisi material, serta kondisi-kondisi yang khusus lain di dalam

tanah. Keuntungan dari metoda MASW adalah cara kerjanya yang tidak

membutuhkan waktu lama dan lebih mudah dilaksanakan (Mina, 2012).

Metode MASW juga mampu menghitung nilai kecepatan gelombang geser (Vs)

berdasarkan kecepatan gelombang permukaan Rayleigh. Gelombang permukaan

Rayleigh akan lebih mudah diamati menggunakan peralatan seismik dengan

geophone vertikal, karena sifat ground roll daripada gelombang Rayleigh.

Sebanyak 2/3 energi seismik yang diberikan akan membentuk gelombang

Rayleigh sehingga gelombang seismic akan menampung sebagian besar energi

seismik (Heisey dkk., 1982).

Gelombang seismik yang menjalar di bawah permukaan bumi mengalami

kecepatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan gelombang permukaan Rayleigh

dan love memiliki sifat dispersi. Sifat dispersi tersebut akan mengindikasi

modulus elastik lapisan dekat permukaan, dimana perbedaan panjang gelombang

seismik memiliki perbedaan penetrasi gelombang kemudian akan menjalar dengan

kecepatan yang berbeda. Gelombang seismik yang panjang akan masuk lebih

dalam ke dalam tanah sedangkan gelombang seismik yang pendek akan masuk

lebih dangkal dan kecepatan gelombang pada masing-masing panjang gelombang

dinamakan kecepatan fase (Park dkk, 1997).


28

Kecepatan gelombang Rayleigh (Vs) yang terukur dalam pengukuran MASW

akan sangat merepresentasi kecepatan gelombang geser, karena kecepatan fase

pada gelombang Rayleigh sekitar 92% dari kecepatan gelombang geser (Stokoe

dkk, 1994). Perhitungan kecepatan gelombang geser (Vs) dilakukan dengan

menganalisa sifat dispersi dari gelombang Rayleigh yang terdapat dalam data

seismik yang terekam selama survey. Profil kecepatan gelombang geser terhadap

kedalaman dan hubungan dengan modus geser dapat dihitung menggunakan

persamaan di bawah ini.

= = (21)

Dimana Vs adalah kecepatan gelombang geser, µ adalah modulus geser tanah dan

ρ adalah densitas tanah. (Park dkk, 1997) menyatakan bahwa perubahan nilai

densitas terhadap kedalaman biasanya kecil apabila dibandingkan dengan

perubahan modulus geser.

Metode ini telah dianalisis dan diujicobakan kedalam data sintetik yang

memberikan kemampuan untuk mencitrakan kecepatan gelombang S (Vs) secara

detail di bawah permukaan hingga kedalaman 25m (Hartantyo dkk, 2008).

Penelitian pencitraan gelombang permukaan dengan tujuan lain juga sudah

dilakukan, yaitu untuk menganalisis batuan dangkal di daerah Selatan Rowo

Jombor, Bayat untuk mengetahui kenampakan struktur dangkal dan pengaruhnya

terhadap kerusakan akibat gempa Jogjakarta yang terjadi pada bulan Maret 2006

yang lalu (Hartantyo dan Hussein, 2009).


29

Analisis lebih lanjut terhadap metode tersebut, yaitu MASW telah dilakukan oleh

penulis (Hartantyo dan Brotopuspito, 2010) di daerah relatif berbatuan keras di

zona karst Pegunungan Selatan memperoleh hasil bahwa metode MASW

memiliki resolusi yang tidak jauh berbeda dengan pengukuran di daerah lunak

(endapan Kuarter) yang memiliki Vs relatif rendah.

F. Modulus Geser

Kecepatan gelombang geser (Vs), modulus geser (G) dan rasio redaman (D)

adalah parameter penting dan diperlukan dalam analisis respon dinamik tanah.

Penentuan parameter dinamik tanah dapat diperoleh dari pengujian lapangan

dengan metode seismik seperti cross-hole, down-hole, spectral analysis of surface

wave (SASW) dan multichannel analysis of surface wave (MASW). SASW dan

MASW merupakan metode seismik non-destruktif yang digunakan untuk

merekam perambatan gelombang permukaan. Sifat kekakuan dari tanah (lapisan)

dapat dinilai dari kecepatan gelombang geser, sebab keduanya menunjukkan

hubungan yang elastik linier. Nilai kecepatan gelombang geser yang semakin

besar, maka akan semakin besar juga nilai kekakuan tanahnya yang

mengidentifikasikan semakin keras dan padat lapisannya. Kecepatan gelombang

geser (Vs) hanya berkaitan dengan kekakuan dari struktur tanah, sedangkan untuk

pengaruh tingkat kejenuhan tanahnya lebih keterkaitan dengan kepadatan tanah.

Semakin rendah suatu tingkat kejenuhan tanah, maka akan semakin tinggi nilai Vs

dan G (Park dkk, 1999).

Perambatan getaran yang terjadi selama gempabumi berlangsung akan

menyebabkan tegangan geser siklik pada elemen tanah. Modulus geser tanah
30

adalah salah satu parameter tanah yang harus diketahui untuk mengetahui

penjalaran getaran akibat gempabumi (Edy, 2008). Parameter dinamis tanah

modulus geser dapat ditentukan dengan persamaan berikut:

. (22)

dimana Gmax adalah modulus geser, ρ adalah kerapatan massa dan Vs adalah

kecepatan gelombang geser.

Berdasarkan persamaan di atas dan dengan menggunakan nilai Vs yang diperoleh

dari metode MASW, maka nilai G untuk masing masing lokasi dapat ditentukan.

G. Kecepatan gelombang geser (Vs30)

Vs30 adalah kecepatan gelombang geser hingga pada kedalaman 30 meter dari

permukaan tanah. Nilai Vs30 dipergunakan dalam menentukan standar bangunan

tahan gempa dan digunakan untuk penentuan klasifikasi batuan berdasarkan

kekuatan getaran dari gempabumi akibat efek lokal. Hal tersebut karena lapisan-

lapisan batuan sampai kedalaman 30 meter saja yang menentukan pembesaran

gelombang gempa (Wangsadinata, 2006).

.

30 = ∑ /
(23)

Dengan Vs30 adalah kecepatan gelombang geser hingga kedalaman 30 meter,

i adalah indeks pelapisan, m adalah jumlah lapisan hingga kedalaman 30 meter,

dan ti adalah ketebalan lapisan ke-i.

Secara umum daerah dengan rawan kerusakan bangunan akibat gempa bumi

biasanya terjadi di daerah sedimen lunak (misal: pasir, pasir lanauan, gambut)
31

yang tebal atau sedimen lapuk yang berada di atas batuan yang keras. Prinsip

dasar dari efek lokal (frekuensi resonansi) dan ketebalan sedimen dapat dijelaskan

melalui sebuah model dua lapisan yang sederhana pada Gambar 16.

Gambar 16. Prinsip dasar respon lokasi mikrotremor (Syahruddin dkk, 2014)

Gambar diatas menggambarkan sebuah basement hardrock yang ditutupi oleh

sedimen dengan ketebalan m dan kecepatan gelombang geser Vs. Frekuensi

resonansi dari sistem ada pada lapisan yang ketebalannya bernilai λ/4 atau biasa

disebut dengan lapisan half-space. Hal tersebut karena pada ketebalan λ/4 terjadi

amplitudo maksimum, maka getaran gelombang geser (gelombang SH) pada

medium sedimen di atas bedrock akan terperangkap.

Diasumsikan bahwa kecepatan gelombang geser (Vs) yang melewati lapisan pada

ketebalan 30 m dari permukaan, karena terjadi resonansi pada amplitudo

maksimum sebesar λ/4 di lapisan sedimennya. Sehingga persamaan yang

terbentuk menjadi:

= . (24)
32

= /4 sehingga, =4 (25)

30 = . 4ℎ (26)

Dengan f, Vs dan ℎ yang menunjukkan frekuensi natural, kecepatan gelombang

SH dan ketebalan sedimen. Dari persamaan tersebut disimpulkan bahwa frekuensi

natural berbanding lurus dengan kecepatan gelombang SH dan berbanding terbalik

dengan ketebalan sedimen (Syahruddin dkk, 2014).


33

BAB IV. METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

(PVMBG), Bandung, yang dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2017 sampai

dengan 13 Oktober 2017, dengan judul “Karakteristik Tanah di Daerah Cekungan

Bandung Berdasarkan kecepatan gelombang geser (Vs30) dengan Metode MASW

(Multichannel Analysis of Surface Wave)”. Tabel 1 memperlihatkan kegiatan

selama penelitian:

Tabel 1. Pelaksanaan Kegiatan Penelitian


Okt Nov Des Jun Jul
Aktivititas Jan Feb Mar Apr Mei
4 1 2 3 4 1 2 3 4 2 2
Studi Literatur
Penulisan Laporan
Seminar Proposal
Seminar Hasil
Ujian Skripsi
34

B. Diagram Alir

MULAI

Data Pengukuran MASW

Transformasi FFT

Pengolahan Data 2D Set Up Geometry Pengolahan Data 1D

Edit Geometri Transformasi Domain

source-receiver Kurva Dispersi


configuration (Dispersion Curve
(Geometri)
Picking Kurva Dispersi

Cross Correlation CMP Gather Kurva Dispersi

Transformasi Domain
Proses Inversi

Kurva Dispersi
RMS Error
Minimum
Proses Inversi
Tidak
Ya

RMS Error Profil Vs 1 Dimensi


Minimum

Vs 30
Ya Tidak

Profil Vs Jenis Tanah


Vs 30
Kontur Penampang
Penampang kecepatan Persebaran Vs Lintasan
gelombang geser 2D
US & Lintasan BT

Analisis Vs

Selesai

Gambar 17. Diagram alir


35

C. Akuisisi Data

Proses akuisisi data dengan metode MASW ini menggunakan geopon sebanyak

24 buah (spasi antar geophone 2 meter). Masing-masing geopon dihubungkan

dengan menggunakan kabel take-out yang kemudian dihubungkan pada

seismograf, dan dengan menggunakan kabel interface seismograf dihubungkan ke

leptop. Sumber gelombang yang digunakan dalam penelitian berasal dari palu atau

weighdrop.

Pada tahap akuisisi dat, untuk memperoleh data yang baik dengan rasio S/N

(signal to noise) yang baik, maka variasi konfigurasi dan alat akuisisi sangat

penting dan perlu diperhatikan. Sumber yang digunakan berbeda-beda untuk

mendapatkan data hingga kedalaman tertentu. Semakin dalam kedalaman yang

ingin diperoleh, maka semakin besar juga energy dari sumber gelombang.

Kedalaman maksimum yang dapat dicapai tergantung pada panjang gelombang

(Zmax ˜ 0.5 max).

Jika jarak antar geopon kurang sesuai, maka hal ini dapat mengakibatkan data

menjadi kurang koheren. Dan juga jika ingin dilakukan survey lebih dalam, beban

yang diberikan harus semakin berat agar energy yang ditimbulkan semakin besar.

D. Tahap Pengolahan Data

Data seismik yang didapat saat akuisisi dengan metode multichannel analysis of

surface wave (MASW) berupa shoot gather dalam domain waktu dan jarak. Data

pengukuran ini kemudian ditransformasikan, jadi dari domain waktu dan jarak

berubah menjadi domain phase velocity-frequency dengan menggunakan Software

Seis-Imager modul Pickwin dan WaveEq, sehingga data yang diperoleh adalah
36

kurva disperse, kurva tersebut menunjukkan hubungan frekuensi dengan

kecepatan fasa gelombang berdasarkan energinya.

Pengolahan data terbagi menjadi dua tahap, yaitu penentuan kurva dispersi dengan

Pickwin dan inversi untuk analisis gelombang permukaan dengan WaveEq.

Adapun tahap pengolahan data sebagai berikut :

1. Buka Software Pickwin sehingga muncul seperti Gambar 18.

Gambar 18. Gambar jendela Pickwin

2. Kemudian buka data yang akan diolah dengan format *.sg2. Contoh tampilan

data seismik MASW diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 19. Shoot gather pada pengukuran MASW


37

3. Edit geometry untuk menentukan letak source (sumber) dan receiver agar

sesuai saat akuisi data di lapangan.

4. Melakukan transformasi phase velocity – frequency transformation (Gambar

20), untuk menentukan antara batas frekuensi dengan batas kecepetan fasa agar

diperoleh spektrum kurva dispersi mode dasar. Dan pada proses ini data

pengukuran yang sebelumnya berupa jarak – waktu diubah menjadi kecepatan

fasa – frekuensi.

Gambar 20. . Tampilan nilai transformasi phase velocity – frekuensi

5. Hasil transformasi adalah berupa spektrum kurva dispersi seperti pada

Gambar 21.

Gambar 21. Spektrum kurva dispersi


38

6. Mengatur bentuk wavelet agar lebih mudah saat proses picking dapat

menggunakan

7. Melakukan picking pada spektrum kurva dispersi, picking dilakukan pada

warna biru atau warna yang menunjukkan korelasi energi amplitudo tinggi.

Hail dari proses Picking berupa kurva dispersi yang menggambarkan

perubahan kecepatan fasa terhadap frekuensi gelombang.

8. Setelah proses picking, langkah selajutnya adalah mengolah data kurva dispersi

dengan modul WaveEq pada Software Seis-Imager, seperti pada Gambar 22.

Gambar 22.. Kurva dispersi hasil picking gambar dispersi

9. Menentukan initial model untuk proses inversi dengan masukkan nilai untuk

depth dan jumlah layer (Gambar 23).

Gambar 23. Parameter initial model


39

10. Kemudian diperoleh intial model berupa regolith seperti gambar Gambar 24.

Gambar 24. Inisial model kecepatan gelombang geser

11. Masukkan nilai iterasi yang akan dilakukan (misalnya 5 atau 10). Proses ini

akan mencocokkan kurva teori dengan kurva hasil pengukuran dengan nilai

error tertentu. Saat melakukan inversi berbasis iterasi, kecepatan gelombang

geser akan berubah, sedangkan ketebalan dan kedalamannya tidak mengalami

perubahan. Metode last square adalah metode yang digunakan dalam inversi

yang berbasis iterasi secara otomatis, seperti pada Gambar 25.


40

Gambar 25. Window iterasi metode least square

12. Maka akan diperoleh nilai iterasi dan RMS error. Nilai RMS error

menunjukkan kedekatan antara kurva teori dengan pengukuran dilihat dari

nilai RMS error minimum, seperti Gambar 26.

Gambar 26. Inversi berbasis iterasi


41

13. Profil 1D gelombang S terhadap kedalaman ditunjukkan oleh Gambar 27.

Gambar 27. Profil kecepatan gelombang shear (Vs) 1D


80

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan teknik MASW dan korelasi persebaran

kecepatan gelombang geser (Vs) pada daerah penelitian maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa :

1. Nilai Vs30 yang diperoleh dari pengolahan 1D menunjukan daerah penelitian

memiliki Vs30 rendah kurang dari 183 m/s, yang merupakan jenis tanah lunak

dan ini dapat menyebabkaan daerah penelitian memiliki resiko terhadap

goncangan gempabumi.

2. Dilihat dari peta kontur nilai persebaran Vs pada lapisan pertama hingga

kedalaman 3,7 m, daerah dengan Vs paling kecil (< 51,8 m/s) berada dititik 14

yaitu daerah Baleendah, sedangkan daerah dengan Vs paling tinggi di daerah

titik 6 yaitu Cangkuang (Vs 153,6 m/s), serta titik 20 yaitu Cangkuang Wetan

(Vs 187,5 m/s)

3. Daerah penelitian dibagi menjadi 2 tipe jenis tanah yaitu kelas E soft soil

(Vs<183) yang mendominasi hampir keseluruhan daerah penelitian, dan kelas

D stiff soil (Vs 183,01-366). Hal ini meyebabkan daerah penelitian rentan

kerusakan akibat gocangan apabila terjadi gempabumi, karena daerah tersebut

akan mengalami amplifikasi tinggi (penguatan gelombang gempa yang tinggi).


81

B. Saran

Saran untuk pengembangan, diharapkan agar melakukan penelitian lanjutan lebih

detil untuk memperoleh jenis litologi dan karakter mekanik tanah.


DAFTAR PUSTAKA

Ariestianty, S.K., Taha, M.R., Nayan, K.A.M., dan Chik, Zamri., 2010.
Penentuan Modulus Geser Menggunkan Metode Analisis Multichannel
Gelombang Permukaan. Universitas Kebangsaan Malaysia: Selangor.

Bemmelen, R.W. Van., 1949. The Geology of Indonesia. Vol I-A,General


Geology, The Haque, Martinus Nijhoff.

Bemmelen, R.W. Van., 1970, The Geology of Indonesia Vol. IA General Geology
of Indonesia and Adjacent Archipelagoes Second Edition, The Hague,
Belanda.

Brown, A.R., 2005. Understanding Seismic Attribute. Geophysics, vol. 66, No.1,
P. 47-48.

Building Seismic Safety Council (BSSC), 2000. The 2000 NEHRP Recommended
Provisions for New Buildings and Other Structures, Part I (Provisions) and
Part II (Commentary), FEMA 368/369, Washington DC.

Elnashai., S.A. dan Sarno., D.L., 2008. Fundamental of Earthquake Engineering.


Wiley. Honglong.

Grady, G.D., 2016. Kondisi Geografis Kota Bandung. Institut Kementrian dalam
Negeri. Kalimantan Barat.

Geothno, 2008. Westjava (Batavia-Bandung-Lembang). https://commons.


wikimwdia.org/wiki/file:B.

Hadi, A. I. Farid, M. dan Fauzi, Y., 2012. Pemetaan Percepatan Getaran Tanah
Maksimum dan Kerentanan Seismik Akibat Gempabumi untuk Mendukung
Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bengkulu. Simetri, Jurnal
Ilmu Fisika Indonesia. Vol: 1. No: 2(D)

Hartantyo, E., Afif, R. dan Wiwit, S., 2008. Acrive Multhichannel Analysis of
Surface Wave (MASW) Survey for SUTET Tower Base Soil Compaction
Imaging. Dipresentasikan pada International of Mathematics and Natural
Scienses, ITB Bandung.
Hartantyo, dan S. Hussein., 2009. Pemetaan Kecepatan Gelombang Shear (Vs) di
Selatan Rowo Jombor berkaitan dengan Potensi Kerusakan Akibat Gempa.
Dipresentasikan pada International Conference on Geology of the Southern
Mounthains of Java, Phoenix Hotel, Jogjakarta.

Hartantyo, E., dan Brotopuspito, K.S., 2010. Analysis on MASW Near and Far
Offsets at High Vs Velocity Limestone, submitted to International
Conferences of HAGI-SEG Joint Convention, Bali, 2010.

Hartantyo, E., dan Suryanto, W., 2010. Analisis Kestabilan Tapak Tower SUTET
di Daerah Karst dari Data Sayatan Vs MASW, dipresentasikan pada
Seminar Himpunan Fisika Indonesia (HFI), Universitas Diponegoro,
Semarang, 12 April 2010.

Heisey, J. S., Stokoe II, K. H., dan Meyer, A. H., 1982, Moduli Of Pavement
Systems Fromspectral Analysis Of Surface Waves. Transportation Research
Record No. 852, 22-31.

Kertapati, Engkon K., 2006. Aktivitas Gempa Bumi Di Indonesia “Prespektif


Regional Pada Gempabumi Merusak”. Departemen Energi Dan Sumber
Daya Mineral Badan Geologi. Pusat Survei Geologi : Bandung.

Miller, R.D., dan Xia, J., 1999. Using MASW to Map Bedrock in Olathe,
Kansas. Kansas Geological Survei. Kansas Geological Survey Open File
Report No. 99-9.

Miller, R.D., Xia, J., dan Park, C.B., 1999. MASW to investigate Subsidence in
the Tampa, Florida Area. Kansas Geological Survey Open File Report 99-
33. Report to ELM Consulting LLC,Olathe, Kansas.

Mina, E., 2012. Korelasi Empiris Antara Kecepatan Gelombang Geser Dengan
Nilai N Spt (Studi Kasus Bandung Site). Jurnal Fondasi Vol. 1, No. 1.

Munadi, S., 2003. Pengantar Memahami Transformasi Fourier. Program studi


Geofisika, jurusan fisika, FMIPA. Universitas Indonesia. Depok.

NEHRP. 1998. Site Classifications Taken from Table 1615 1.1 Site Class
Definitions published in 2000 International Building code. International
Code Council, Inc. on page 350.

Park, C. B., Miller, R. D., dan Xia, J., 1997, Multi-Channel Analysisof Surface
Waves (MASW) "A summary report of technical aspects, experimental
results, and perspective., Open-file Report #97-10, Kansas Geological
Survey.

Park, C.B., Miller, R.D., dan Xia, J., 1999. Multichannel Analysis of Surface
Waves. Geophysics, Vol. 64, No. 3 (May-June 1999); P. 800–808, 7 Figs.
Park, C.B., dan Miller, R.D., 2005. Seismic Characterization of Wind Turbine
Sites in Kansas by the MASW Method, Kansas Geological Survei. Open File
Report 2005-23. Report to Barr Engineering Company, Minneapolis.

Purwanto, Edy., 2008. Nilai Modulus Geser Tanah Berdasarkan Rumus Hardin &
Drnevich (1972) dan Menard (1965) dari Uji LaboratoriumI. Universitas
Islam Indonesia, Yogyakarta.

Roser, J. and Gosar, A. 2010. Determination of Vs30 for seismic ground


classifications in the Ljubljana area. SLovenia. Acta Geotechnica Slovenia.

Rosyidi, S.A., 2006. Kajian Metode Analisis Gelombang Seismik Permukaan


untuk Mengembangkan Teknik Evaluasi Perkerasan Lentur dan Kaku di
Indonesi. Volume. 14, No. 3, Edisi 26 (Oktober 2006).

Shearer, M., 2009. Introduction to Seismology. Second edition. Cambrige


University press. New York. USA

Sholihan, A., dan Santosa, B.J., 2009. Analisis Dispersi Gelombang Rayleigh
Struktur Geologi Bawah Permukaan Studi Kasus: Daerah Pasir Putih
Dalegan Gresik. Jurusan Fisika FMIPA ITS, Surabaya.

Siswowidjoyo, S.U., Sudarsono F., dan Wirakusumah, A.D., 1997. The Threat Of
Hazards In The Semeru Volcano Region In East Java, Indonesia. Jurnal Of
Asian Earth Sciences, Vol. 15 Nos 2 -3, pp. 185 – 194.

Stokoe II, K. H., Wright, G. W., James, A. B., dan Jose, M. R., 1994.
Characterization of Geotechnical Sites by SASW Method, in Geophysical
Characterization of Sites. ISSMFE Technical Committee #10, edited by R.
D. Woods, Oxford Publishers, New Delhi.

Sudjatmiko., 1972. Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa, skala 1:100.000.


Direktorat Geologi, Bandung.

Syahruddin, M.H., Aswad, S., Palullungan, E.F., Maria, dan Syamsuddin. 2014.
Penentuan Profil Ketebalan Sedimen Lintasan Kota Makassar Dengan
Mikrotremor. Makassar:UNHAS

Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., dan Keys, D.A., 1976. Applied
Geophysics. London: Cambridge University Press.

Telford, W.M., Geldart, L.P., dan Sheriff, R.E., 1990. Applied Geophysics Second
Edition. New York: Cambrige University.

Wangsadinata, W., 2006. Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Berdasarkan


SNI 1726-2002. Shortcourse HAKI 2006. Jakarta.