Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN

PRAKTIKUM FISIKA FARMASI


DISOLUSI DAN DIFUSI

Aulia Nadya Rizki, M Pharm. Sci. Apt.

KELOMPOK: 3
KELAS: 02FARE002

Feni Oktaria 191040400106


Fitrah Annisa 191040400054
Hafitsa Audia 191040400085
Hariyani Haqi 191040400045
Husnawiyah Gustiani 191040400065

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


STIKes KHARISMA PERSADA
Jl. Surya Kencana No.1 Pamulang, Tangerang Selatan
2019/2020
MODUL 9
DISOLUSI DAN DIFUSI

I. LATAR BELAKANG
Obat adalah suatu zat yang dimaksud untuk manusia untuk mengurangi
rasa sakit, menghambat, atau mencegah penyakit yang menyerangnya. Obat
yang diberikan pada pasien tersebut harus melalui banyak proses di dalam
tubuh. Dan bahan obat yang diberikan tersebut, dengan cara apapun juga
harus memiliki daya larut dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya.
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat
penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari
kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke
dalam tubuh.
Suatu bahan obat yang diberikan dengan cara apapun dia harus memiliki
daya larut dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya. Senyawa-senyawa yang
relatif tidak dapat dilarutkan mungkin memperlihatkan absorpsi yang tidak
sempurna, atau tidak menentu sehingga menghasilkan respon terapeutik yang
minimum. Daya larut yang ditingkatkan dari senyawa-senyawa ini mungkin
dicapai dengan menyiapkan lebih banyak turunan yang larut, seperti garam
dan ester dengan teknik seperti mikronisasi obat atau kompleksasi.
Dalam bidang farmasi, laju disolusi sangat diperlukan karena
menyangkut tentang tentang waktu yang dibutuhkan untuk penglepasan obat
dalam bentuk sediaan dan diabsorbsi dalam tubuh. Jadi, semakin cepat
disolusinya maka makin cepat pula obat atau sediaan memberikan efek
kepada tubuh.

II. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini:
1. Mahasiswa diharapkan mampu mengamati peristiwa difusi sederhana
2. Mahasisawa diharapkan mampu menjelaskan factor-faktor yang
mempengaruhi difusi
3. Mahasiswa diharapkan mampu memahami proses disolusi suatu zat
4. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan factor-faktor yang
mempengaruhi disolusi.
5. Mahasiswa diharapkan mampu menentukan kecepatan disolusi suatu zat.
6. Mahasiswa diharapkan mampu mengoperasikan alat uji disolusi.
7. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan factor-faktor yang
mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat.

III. TINJAUAN PUSTAKA


1. Teori Umum
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat
penting artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari
kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap
ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk
padat atau semi padat, seperti kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1985).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan
dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang
diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat
diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu
tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu
obat tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat
tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus
halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1985).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam
saluran cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk
padatnya. Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga
mengalami disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini
mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi,
deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan
melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan
(Martin, 1993).
Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan
banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu.
Persamaan kecepatan menurut Noyes dan Whitney sebagai berikut
(Ansel, 1993):
dM.dt-1 : Kecepatan disolusi
D : Koefisien difusi
Cs : Kelarutan zat padat
C : Konsentrasi zat dalam larutan pada waktu
h : Tebal lapisan difusi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi yaitu (Martin,
1993):
1. Suhu
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu
zat yang bersifat endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi
zat. Menurut Einstein,koefisien difusi dapat dinyatakan melalui
persamaan berikut (Martin, 1993):
D : koefisien difusi
r : jari-jari molekul
k : konstanta Boltzman
ή : viskositas pelarut
T : suhu

2. Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan
disolusi suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Meningginya
suhu juga menurunkan viskositas dan memperbesar kecepatan
disolusi.
3. pH pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang
bersifat asam atau basa lemah.
Untuk asam lemah:
Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat.
Dengan demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat.
Untuk basa lemah:
Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat.
Dengan demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.
4. Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi
(h). jika pengadukan berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan
cepat berkurang.

5. Ukuran Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif
menjadi besar sehingga kecepatan disolusi meningkat.
6. Polimorfisme
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme.
Struktur internal zat yang berlainan dapat memberikan tingkat
kelarutan yang berbeda juga. Kristal meta stabil umumnya lebih
mudah larut daripada bentuk stabilnya, sehingga kecepatan
disolusinya besar.
7. Sifat Permukaan Zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat
bersifat hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan
permukaan antar partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga
zat mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah.
DIFUSI
a. Definisi
Difusi merupakan peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat
terlarut dari bagian konsentrasi zat terlarut tinggi ke rendah, sedangkan
osmosis adalah perpindahan zat pelarut melalui membran permeabel
selektif dari bagian konsentrasi zat terlarut yang rendah ke tinggi. . Contoh
peristiwa difusi yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh
tawar dan contoh peristiwa osmosis adalah kentang yang dimasukkan ke
dalam air garam. Kecepatan difusi ditentukan oleh : Jumlah zat yang
tersedia, kecepatan gerak kinetik dan jumlah celah pada membran sel.Sel
memiliki membran yang melapisi dan berperan sebagai gerbang masuk
semua dan keluar semua zat.

Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu :


1. Difusi sederhana (simple difusion) : Difusi sederhana ini dapat terjadi
melalui dua cara: (1) Melalui celah pada lapisan lipid ganda,
khususnya jika bahan berdifusi terlarut lipid (2) Melalui saluran licin
pada beberapa protein transpor Difusi sederhana yang terjadi melalui
membrane berlangsung akibat molekul -molekul yang berpindah
melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat
menembus lipid bilayer pada membrane
2. Difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran
(simple difusion by chanel formed), Beberapa molekul kecil khusus
yang terlarut dalam lemak serta ion-ion tertentu, dapat menembus
membran melalui saluran atau channel. Saluran ini terbentuk dari
protein transmembran, berupa pori dengan diameter tertentu yang
memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari pori tersebut
untuk melaluinya
3. Difusi difasilitasi (fasiliated difusion). menggunakan protein
pembawa atau transporter untuk dapat menembus membrane
karena tidak dapat menembus membrane secara langsung

b. Mekanisme Difusi
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas
dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran
dapatberlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple
difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran
(simple difusionby chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated
difision). Difusi sederhana melalui membran berlangsung karena molekul-
molekulyang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut
dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada
membrane secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut
lemak seperti hormon steroid,vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan
organik yang larut dalam lemak, Selain itu, memmbran sel juga sangat
permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan H2O.
Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu
dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini
terbentuk dari protein transmembran,
semacam pori dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul
dengan diameter lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya.
Sementara itu, molekul molekul berukuran besar seperti asam amino
, glukosa dan beberapa garam garam mineral, tidak dapatmenembus
membrane secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau
transporter untuk dapat menembus membran. Proses masuknya molekul
besar yang melibatkan transporter dinamakan difusi difasilitasi.

c. Faktor yang mempengaruhi difusi


Ada juga faktor faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, diantaranya:
1. Ukuran partikel.
Semakin besar ukuran partikel,maka semakin lambat partikel itu akan
bergerak, sehingga kecepatan difusi semakin rendah dan berlaku juga
sebaliknya.
2. Ketebalan membran.
Semakin tebal membran, maka semakin lambat kecepatan difusi.
3. Luas suatu area.
Semakin luas areanya, maka semakin cepat kecepatan difusinya.
4. Jarak konsentrasi antar zat
Semakin besar perbedaan dua konsentrasi, maka semakin lambat
kecepatan difusinya.
5. Suhu
Semakin tinggi suhu, partikel akan mendapatkan energi sehingga
bergerak dengan lebih cepat. dan kecepatan difusi menjadi lebih cepat
d. Difusi sebagai dasar umum absobrsi obat.
Sebelum suatu obat yang diberikan dapat mencapai tempat kerjanya dalam
konsentrasi yang efektif, obat harus menembus sejumlah pembatas
(barrier). Barrier ini pada dasarnya merupakan membrane membrane
biologis seperti epitel lambung usus, paru paru, darah dan otak. Membran
tubuh pada umumnya digolongkan menjadi 3 tipe utama : (a) Membran
yang terdiri dari beberapa lapisan sel seperti kulit, (b) membrane yang
terdiri dari satu lapis sel seperti epitel usus halus dan (c) membrane yang
tebalnya kurang dari satu lapis sel seperti membrane dari suatu sel tunggal.
Dalam banyak hal zat obat harus melalui lebih dari satu tipe membrane
sebelum obat tersebut mencapai tempat kerjanya, sebagai contoh obat oral
harus menembus membrane dalam sirkulasi umum, melewati organ /
jaringan dimana obat tersebut mempunyai afinitas, dapat masuk ke dalam
jaringan tersebut dan kemudian masuk ke dalam sel individualnya.
Walaupun kimiawi dari membrane tubuh berbeda satu dengan lainnya,
membrane tersebut umumnya dapat dianggap sebagai suatu lapisan lipoid
bimolecular (yang mengandung lemak) melekat pada kedua sisinya ke
suatu lapisan protein. Zat zat seperti obat dapat mempenetrasi membrane
biologis dengan 2 cara : (1) dengan difusi pasif dan (2) melalui mekanisme
transport khusus.
Difusi pasif
Difusi pasif digunakan untuk melukiskan lewatnya molekul molekul obat
melalui suatu membrane yang bersifat inert dan tidak berpartisipasi aktif
dalam proses tersebut. Obat yang diabsorbsi dengan cara ini dikatakan
diabsorbsi secara pasif. Proses absorbs dikendalikan oleh perbedaan
konsentrasi yang ada disebrang membrane dengan perjalanan obat terjadi
terutama dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
Difusi pasif diketengahkan oleh hokum Fick’s pertama yang menyatakan
bahwa laju difusi/ transport melewati membrane (dc/dt) sebanding dengan
perbedaan konsentrasi pada kedua sisi membrane tersebut :
𝑑𝑐
- = Ka (C1 – C2)
𝑑𝑡
Dimana C1 dan C2 menunjukan konsentrasi obat pada masing masing sisi
membrane dan Ka adalah konstanta pembanding. Istilah C1 biasanya
digunakan untuk menyatakan kompartemen dengan konsentrasi obat yang
lebih besar dan dengan demikian transport obat berlangsung dari
kompartemen satu( tempat absorbs) ke kompartemen dua (darah)
Karena konsentrasi obat pada tempat absorbs (C1) biasanya jauh lebih besar
dibandingkan dengan sisi membrane yang lainnya karena pengenceran obat
dalam darah dan distribusi berikutnya kejaringan untuk tujuan praktek harga
C1-C2 bisa diambil mudahnya sebagai harga C1 saja dan persaamaan dapat
ditulis dalam bentuk standar untuk suatu persamaan tersebut dapat ditulis
dalam bentuk standar untuk suatu persamaan laju orde1 :
𝑑𝑐
- = KaC1
𝑑𝑡
Absrobsi kebanyakan obat dari larutan dalam saluran lambung-usus terjadi
melalui cara ini sesuai dengan kinetika orde satu dimana laju tergantung
pada konsentrasi obat, jadi dengan menduakalikan dosis laju perpindahan
juga akam menjadi dua kali lipat. Besarnya konstanta pembanding Ka
tergantung pada koefisien difusi dari obat tersebut, ketebalan dan luas
membrane yang mengabsorbsi serta permeabilitas membrane terhadap obat
tertentu.
Laju difusi dari suatu obat tidak hanya bergantung pada konsentrasinya
tetapi pada besar relative afinitasnya untuk lemak dan menolak air
(koefisien partisi lemak yang tinggi). Makin besar afinitasnya untuk lemak
dan makin hidrofobik zat tersebut, makin cepat laju penentrasinya ke dalam
membrane kaya lemak.
Sebagian besar obat merupakan basa / asam organic lemah. Membran
sel lebih permeable terhadap bentuk tidak terion dari obat daripada bentuk
terionnya, karena kelarutan dari tak terion yang lebih besar dalam lemak dan
sifat muatan membrane sel banyak yang menghasilkan pengikatan dan
penolakan obat terion, oleh karena itu mengurangi penetrasi sel.

Ada 2 metode penentuan kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):


1. Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa
pengontrolan terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil
pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan
dengan cara yang sesuai.
2. Metode Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya
sehingga variable perbedaan luas permukaan efektif dapat
diabaikan. Umumnya zat diubah menjadi tablet terlebih dahulu,
kemudian ditentukan seperti pada metode suspensi.
Prinsip kerja alat disolusi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
(Dirjen POM, 1995):
1) Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau
bahan transparan yang inert, suatu batang logam yang digerakkan
oleh motor dan keranjang yang berbentuk silinder dan
dipanaskan dengan tangas air pada suhu 370C.
2) Alat yang digunakan adalah dayung yang terdiri dari daun dan
batang sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian
sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari
sumbu vertikel wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan
yang berarti.

2. Uraian Bahan
1) Air suling (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
RM/BM : H2O / 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
Penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut.
2) Parasetamol (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : ASETAMINOPHENUM
Nama lain : Parasetamol, asetaminofen
RM/BM : C8H9NO2 / 151,16
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak
berbau; rasa pahit

Rumus struktur : OH

NHCOCH3
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya
Kegunaan : Sebagai sampel.

3. Prosedur Kerja
a. Pengaruh suhu terhadap kecepatan disolusi zat
• Isilah bejana dengan 900 ml
• Pasang thermostat pada suhu 300C
• Jika suhu air di dalam bejana sudah mencapai suhu 300C,
masukkan 2 g asam salisilat dan hidupkan motor penggerak pada
kecepatan 50 rpm
• Ambil sebanyak 20 ml air dari bejana setiap selang waktu 1, 5,
10, 15, 20, 25 dan 30 menit setelah pengadukan. Setiap selesai
pengambilan sampel, segera digantikan dengan 20 ml air.
• Tentukan kadar paracetamol terlarut dari setiap sampel dengan
cara titrasi asam-basa menggunakan NaOH 0,05 N dan indocator
fenolftalein. Lakukan koreksi perhitungan kadar yang diperoleh
setiap waktu terhadap pengenceran yang dilakukan karena
penggantian larutan dengan air suling
• Lakukan percobaan yang sama untuk suhu 400C dan suhu 50 0 C
• Tabelkan hasil yang diperoleh
• Buat kurva antara konsentrasi paracetamol yang diperoleh
dengan waktu untuk setiap satuan waktu (dalam satu grafik)
b. Pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan disolusi zat
• Isilah bejana dengan 900 ml
• Pasang thermostat pada suhu 300C
• Jika suhu air di dalam bejana sudah mencapai suhu 300C,
masukkan 2 gram paracetamol dan hidupkan motor penggerak
pada kecepatan 50 rpm
• Ambil sebanyak 20 ml air dari bejana setiap selang waktu 1, 5,
10, 15, 20, 25, dan 30 menit setelah pengadukan. Setiap selesai
pengambilan sampel, segera gantikan dengan 5 ml air.
• Tentukan kadar paracetamol terlarut dari setiap sampel dengan
cara titrasi asam-basa menggunakan NaOH 0,05 N dan indicator
fenolftalein. Lakukan koreksi perhitungan kadar yang diperoleh
setiap waktu terhadap pengenceran yang dilakukan karena
penggantian larutan dengan air suling
• Lakukan percobaan yang sama untuk kecepatan 100 dan 150
rpm
• Tabelkan hasil yang diperoleh
• Buat kurva antara konsentrasi paracetamol yang diperoleh
dengan waktu untuk setiap satuan waktu (dalam satu grafik)
c. Penentuan parameter disolusi tablet parasetamol (prosedur lengkap
lihat farmakope indonesia IV)
IV. PROSEDUR PENELITIAN
1. Alat
Adapun alat yang digunakan yaitu alat uji disolusi, timbangan, gelas
ukur, spoit 5 ml, buret 50 ml, gelas kimia 50 ml, gelas ukur 25 ml, botol
500 ml, botol 100 ml, Vial, Spektrofotometer, kuvet, botol semprot.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan yaitu air steril, aluminium foil,
aquadest, etiket, kuvet disposible, serbuk paracetamol, larutan NaOH 0,1
3. Cara Kerja
a. Pembuatan kurva baku
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang serbuk paracetamol 10 mg
3) Dilarutkan dalam 250 ml air steril
4) Dipipet 5 ml lalu dimasukkan ke kuvet dan diukur menggunakan
spektrofotometri pada ppm 2, 4, 6, 8, dan 10
5) Dicatat absorbannya dan dibuat dalam tablet
b. Pengukuran absorban paracetamol
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Disiapkan alat uji disolusi dan dimasukkan 900 ml air steril pada
medium dan diuji dengan metode dayung
3) Dimasukkan tablet paracetamol ke dalam medium
4) Dilakukan pengadukan dengan kecepatan 50 rpm, tiap 5 menit
dipipet 5 ml absorban menggunakan spoit 5 ml. Bersamaan dengan
diambil 5 ml dimasukkan lagi 5 ml air steril ke dalam medium
hingga menit ke 30
5) Dipindahkan absorban ke dalam masing-masing vial dan ditutup
dengan aluminium foil
6) Diukur nilai absorban paracetamol menggunakan spektrofotometri
7) Dicatat hasilnya dan dibuat dalam tabel
4. Hasil Pengamatan
a. Pembuatan Kurva baku
Konsentrasi (ppm) Absorban
12 0,2
17 0,28
24 0,41
36 0,57
48 0,76
a = 0,021
b = 0,015
r = 0,998

b. Data serapan Tablet parasetamol 500 mg


Waktu (menit) Suhu 250C Suhu 370C
0 0,016 0,025
5 0,097 0,413
10 0,191 0,250
15 0,268 0,371
20 0,358 0,498
25 0,430 0,958
30 0,494 1,078

c. Konsentrasi tablet parasetamol yang terdisolusi


Konsentrasi (ppm)
Waktu (menit)
Suhu 250C Suhu 370C
0 0,333 0,266
5 5,066 26,133
10 11,333 15,266
15 16,446 23,333
20 22,466 31,8
25 27,266 61,933
30 31,533 70,466
Perhitungan :
Rumus : y = a + b𝝌
𝒚−𝒂
𝝌= 𝒃
0
Suhu 25 C.
0,016−0,021
1. Menit 0’ : = 0,333
0,015
0,097−0,021
2. Menit 5’ : = 5,066
0,015
0,191−0,021
3. Menit 10’ : = 11,333
0,015
0,268−0,021
4. Menit 15’ : = 16,466
0,015
0,358−0,021
5. Menit 20’ : = 22,466
0,015
0,430−0,021
6. Menit 25’ : = 27,266
0,015
0,494−0,021
7. Menit 30’ : = 31,533
0,015

Suhu 370C.
0,025−0,021
1. Menit 0’ : = 0,266
0,015
0,413−0,021
2. Menit 5’ : = 26,133
0,015
0,250−0,021
3. Menit 10’ : = 15,266
0,015
0,371−0,021
4. Menit 15’ : = 23,333
0,015
0,498−0,021
5. Menit 20’ : = 31,8
0,015
0,950−0,021
6. Menit 25’ : = 61,933
0,015
1,078−0,021
7. Menit 30’ : = 70,466
0,015
d. Perhitungan jumlah obat terkoreksi
Waktu Konsentrasi Faktor Jumlah Obat
(menit) (mg) Koreksi Terkoreksi (mg + fk)
0 0,299 0 0,299
5 4,559 0,0016 4,5606
10 10,199 0,0269 10,2259
15 14,819 0,0835 14,49025
20 20,219 0,1650 20,3848
25 24,539 0,2781 24,8171
30 29,379 0,4144 28,7934
Perhitungan :
𝑽.𝒚𝒂𝒏𝒈𝒅𝒊𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍
Fk = 𝒙𝒌𝒐𝒏𝒔. +𝑭𝒌. 𝑺𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎𝒏𝒚𝒂
𝑽.𝑴𝒆𝒅𝒊𝒖𝒎

Volume yang diambil = 5 mL


Volume medium = 900
5
1. 𝑥 0,299 + 0 = 0,0016
900
5
2. 𝑥 4,559 + 0,0016 = 0,0269
900
5
3. 𝑥 10,199 + 0,0269 = 0,0835
900
5
4. 900
𝑥 14,819 + 0,0835 = 0,1658
5
5. 𝑥 20,219 + 0,1658 = 0,2781
900
5
6. 𝑥 24,539 + 0,2781 = 0,4144
900

mg + fk
1. 0 + 0,0299 = 0,299
2. 0,0016 + 4,559 = 5,5606
3. 0,0269 + 10,199 = 10,2259
4. 0,0835 + 14,819 = 15,654
5. 0,1658 + 20,219 = 20,3848
6. 0,2781 + 24,539 = 24,8171
7. 0,4144 + 28,379 = 28,7934
e. Perhitungan Efisiensi Disolusi (%ED)
E%ED30
Waktu
Luas bidang A Luas A + B (luas bidang A/luas
(menit)
A+B) x 100%
0 0,747
5 12,149 %ED =
10 36,96 492,881 x 𝑙𝑢𝑎𝑠𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝑔𝐴
𝑥 100%
𝑙𝑢𝑎𝑠𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝐴+𝐵
15 64,69 30 menit
450,919
= 14786,43 𝑥 100%
20 90,09 =14786,43
25 113,004 = 3,0495 %

30 134,026

0,299+4,5606
1. Luas bidang A05 = 𝑥(5 − 0) = 12,14
2
4,5606+ 10,2259
2. Luas bidang A 510 = 𝑥(10 − 5) = 36,96
2
10,2259 +15,654
3. Luas bidang A1015 = 𝑥 (15 − 10) = 64,69
2
15,654+20,3848
4. Luas bidang A1520 = 𝑥(20 − 15) = 90,09
2
20,3848+24,8171
5. Luas bidang A2025 = 𝑥(25 − 20) = 113,004
2
24,8171+28,7934
Luas bidang A2530 = 𝑥(30 − 25) = 134,0
2

V. PEMBAHASAN
Disolusi obat adalah suatu proses hancurnya obat (tablet) dan
terlepasnya zat-zat aktif dari tablet ketika dimasukkan ke dalam saluran
pencernaan dan terjadi kontak dengan cairan tubuh.
Pada percobaan kali ini dilakukan uji laju disolusi terhadap tablet
gliseril guaiakolat. Tujuan dilakukannya uji laju disolusi yaitu untuk
mengetahui seberapa cepat kelarutan suatu tablet ketika kontak dengan cairan
tubuh, sehingga dapat diketahui seberapa cepat keefektifan obat yang
diberikan tersebut.
Aplikasi dalam bidang farmasi yaitu penentuan bentuk-bentuk sediaan
yang akan dibuat sesuai dengan sifat zat aktif sehingga dicapai kecepatan
pelarutan dalam cairan tubu sehingga dicapai kecepatan pelarutan dalam
cairan tubuh sehingga cepat diabsorbsi dan cepat memberikan efek
farmakologinya
Secara umum mekanisme disolusi suatu sediaan dalam bentuk tablet
yaitu tablet yang ditelan akan masuk ke dalam lambung dan di dalam lambung
akan dipecah, mengalami disintegrasi menjadi granul-granul yang kecil yang
terdiri dari zat-zat aktif dan zat-zat tambahan yang lain. Granul selanjutnya
dipecah menjadi serbuk dan zat-zat aktifnya akan larut dalam cairan lambung
atau usus, tergantung di mana tablet tersebut harus bekerja.
Percobaan ini dilakukan untuk menetukan laju disolusi suatu obat
(paracetamol). Aadapun mekanisme dari amoxicilin pada pemberian secara
oral (psoses absorbsi di dalam tubuh) yaitu amoxicilin dimasukkan ke dalam
saluran cerna dalam bentuk padatan, amaka sebagian zat tersbut akan
mengalami disintegrasi menjadi granul-granul dan granul-granul ini akan
dipecah menjadi partikel-partikel halus (disebut degranulasi). Kemudian
disolusi dalam cairan tubuh, kemudian diabsorbsi ke dalam darah atau cairan
tubuh lainnya dan diikat ole reseptor setela itu baru memberikan efek
terhadap tubuh.
Pada percobaan ini akan ditentukan tetapan disolusi dari tablet
paracetamol 500 mg dalam media air suling, dimana besarnya tetapan
tersebut menunjukkan cepat lambatnya disolusi atau kelarutan dari tablet
paracetamol tersebut. Di sini digunakan air suling sebagai media disolusi
karena air merupakan cairan penyususn utama dalam tubuh manusia, jadi
diumpamakan obat berdisolusi di dalam tubuh. Selain itu juga karena
paracetamol kelarutannya dalam air sangat baik.
waktu larutandiambil, harus diusahakan pada bagian yang sama dari
cairan, yaitu tepat di samping keranjang sampel, sebab pada bagian tersebut
zat aktif langsung keluar dari keranjang dan dapat dipipet dengan tepat.
Pemipetan yang dilakukan pada tempat yang berbeda dapat mengakibatkan
perbedaan kadar zat aktif yang sangat besar. Dilakukan tiga kali agar hasil
yang diperoleh dapat dibandingkan.
Pemipetan dilakukan pada waktu yang berbeda-beda untuk melihat
kapan paracetamol akan terdisolusi dengan optimal pada media pelarut. Dari
hasil yang diperoleh, dapat dijelaskan bahwa mula-mula paracetamol akan
terdisolusi dengan lambat dan lama kelamaan akan bertambah cepat. Setelah
terdisolusi sempurna zat aktif akan diabsorbsi, dimetabolisme, dan kemudian
akan memberikan efek terapi jika obat berada dalam tubuh.
Hasil yang diperoleh pada percobaan untuk data kurva baku pada ppm
12 absorbannya 0,2;ppm 17 absorbannya 0,28; ppm 24 absorbannya
0,41;ppm 36 absorbannya 0,57 dan untuk ppm 48 absorbannya 0,76.
Konstanta laju disolusi paracetamol yaitu 7,9 x 10-3 mg/menit. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa semakin banyak waktu yang dibutuhkan oleh suatu obat
untuk berdisolusi maka semakin tinggi pula konsentrasi (Kadar) zat tersebut
dalam cairan (media pelarut).
Adapun Faktor-faktor kesalahan yang mungkin mempengaruhi hasil
yang diperoleh dalam percobaan kali ini antara lain :
o Suhu larutan disolusi yang tidak konstan.
o Ketidaktepatan jumlah dari medium disolusi, setelah dipipet beberapa ml.
o Terjadi kesalahan pengukuran pada waktu pengambilan sampel
menggunakan pipet volume.
o Terdapat kontaminasi pada larutan sampel.
Suhu yang dipakai tidak tepat.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
a. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil laju disolusi obat
−3
paracetamol sebesar 7,9 x 10 mg/menit.
Manfaat mempelajari Difusi dan Disolusi Obat:
1. Dapat mengetahui formulasi yang benar dalam membuat suatu obat,
karena bahan tambahan juga akan mempengaruhi difusi dan disolusi
contoh jika bahan tambahan terlalu banyak hal ini berarti memperbesar
ketebalan membrane dan obat untuk berdifusi keluar akan lambat. Jika
obat berdifusi lambat maka laju disolusi akan lambat sehingga absorbs
akan lambat. Dan menggunakan zat yang berbentuk amorf akan
meningkatkan disolusi zat karena bentuk amorf lebih larut.
2. Dapat mengetahui kecepatan disolusi suatu obat in vivo (dalam tubuh)
yang dapat diketahui dengan menguji kecepatan disolusi obat in vitro
(dalam alat gelas/ laboratorium)
3. Dapat mengetahui faktor yang dapat meningkatkan kecepatan difusi dan
disolusi obat dalam tubuh
4. Pengujian kecepatan disolusi suatu obat (contoh tablet) sebagai salah
satu syarat yang harus dipenuhi oleh suatu obat sebelum obat tersebut
dipasarkan
5. Mengetahui bahwa laju disolusi mempengaruhi absorbs, sehingga yang
mempengaruhi laju disolusi akan berpengaruh terhadap absorbs obat.
6. Dapat mengetahui alat dan metode untuk menentukan disolusi obat serta
pengambilan pembahasan hasil.

b. Saran
Sebaiknya praktikan lebih aktif lagi dalam melakukan praktikum dan
hati-hati dalam menggunakan alat laboratorium agar tidak terjadi
kesalahan yang tidak diinginkan.
VII. DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/28843164/Laporan_Praktikum_Farmasi_Fisika_
Disolusi
https://www.academia.edu/12009986/Difusi_dan_Disolusi

Anda mungkin juga menyukai