Anda di halaman 1dari 12

UP 3 BLOK 15

RUMINANSIA
“ INDIGESTI ”

Disusun Oleh :
RAHMAD SANTOSO
KH / 6025
KELOMPOK 10

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011
I. LEARNING OBJECTIVE
1. Mengetahui tentang indigesti ( macam, etiologi, patogenesis, gejala klinis,
penanganan / pengobatan ) !
2. Mengeatahui manajemen pakan pada sapi potong !

II. PEMBAHASAN
1. Klasifikasi Indigesti
1.a Indigesti Akut
Indigesti akut merupakan sindrom yang bersifat kompleks dengan berbagai
manifestasi klinis, tanpa disertai ( atau hanya ringan ) perubahan anatomis pada lambung
muka hewan pemamah biak. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
Istilah indigesti digunakan apabila secara organik tidak ditemukan perubahan
patologis yang tersifat seperti ruminitis, retikulitis, dan sebagainya.
Karena kompleksnya gangguan pencernaan pada lambung muka hewan pemamah
biak, indigesti akut dibedakan kedalam berbagai bentuk sederhana sebagai berikut :
• Indigesti Sederhana atau Simpleks
• Indigesti Asam ( Asidosis rumen atau impaksio rumen )
• Alkalosisi Rumen
• Kembung rumen ( meteorismus, timpani rumen, bloat )
• Indigesti dengan toksemia.
1.b.Indigesti Vagus
Indigesti vagus merupakan gangguan pencernaan terutama pada ruminansia, yang
berasal dari lambung muka yang ditandai dengan penurunan atau hilangnya mortilitas
rumen, menurunnya frekuensi atau hilangnya proses mastikasi, lambatnya pasasi tinja,
serta adanya distensi rumen.Penurunan motilitas rumen disebabkan karena adanya lesi
yang mengenai ramus ventralis dan nervus vagus. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )

1. Indigesti Sederhana ( Indigesti Simpleks )


Indigesti sederhana merupakan sinddrom gangguan pencernaan yang berasal dari
rumen atau retikulum, ditandai dengan penurunan atau hilangnya gerak rumen, lemahnya
tonus kedua lambung tersebut, hingga ingesta tertimbun di dalamnya dan disertai pla
dengan konstipasi. Proses indigesti bentuk ini terjadi mendadak, beralngsung beberapa
jam sampai kurang lebih dua hari. . ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Etiologi
Kebanyakan kejadian timbul sebagai akibat perubahan pakan yang mendadak,
terutama pada hewan muda yang mulai mendapatkan ransum untuk hewan tanggung dan
dara. Pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi serta tidak diimbangi dengan
cairan yang cukup.
Kekenyangan astau mengkonsumsi pakan yang terlalu tinggi proteinnya, bahkan
makanna yang berjamu juga mudah mendatangkan indigesti. Pemberian obat-obatan
antimikrobial yang berlebihan juga merupakan penyebab indigesti, Hewan yang terlalu
letih, atau sehabis makan terus dikerjakan lagi. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Patogenesis
Pakan yang mengandung protein tinggi atau yang mengalami pembusukan akan
menghasilkan amonia, dengan derajat keasaman rumen yang tinggi, hal ini akan
menyebabakan mikrobi yang tidak tahan suasana alkalis akan mengalami kemaian, dan
menyebabakan pencernaan secara biokomiawi tidak efisien. Ingesta tidak tercerna baik
dan tertimbun didalam rumen, yang secara reflektoris mendorong agar rumen
berkontraksi berlebihan . Karena lelah akan terjadi hipotonia atau atonia rumen.
( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Gejala Klinis
Penderita nampak lesu dan malas brgerak, nafsu makan hilang, sedang nafsu
minum munkin masih ada. Pada hewanyang sedang menghasilkan susu, produksi susu
menurundalam berbagai tingkatan. Pada awalnya frekuensi gerak rumen menningkat
selama beberapa jam dan segera diikuti penurunan frekuensi gerak dan tonus rumen.
Pada palpasi rumrn terasa berisi ingesta yang lunak. Pada umumnya frekuensi pernafasan
dan pulsus masih dalam batas normal. Feses dikeluarkan biasanya hanya sedikit,
berlendir, berwarna gelap dengan konsistensi lunak. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Terapi
Pengobatan secara simtomatik banyak dilakukan. Obat-obat parasimpatomimetik
seperti carbamyl-choline dengan dosis 2-4 ml secara subkutan pada sapi dan kerbau
dewasa dapat merangsang gerak rumendalam waktu singkat. Physostigmin atau
neostigmin dengan dosis 5 mg/ 100 kg secara subkutan. Secara oral, preparat magnesim
sulfat atau sodium sulfat dengan dosis 100-400 gram, pemberian dengan dosis rendah 50-
100 gram selama 2-3 hari sebagi rumintaorium. Pengobatan dengan campuran antara
sodium salisilat dengna sodium bikabonat dengn jumlah 5-10 gram selama 2-3 hari per
oral.
Pemberian makanan penguat dan makanan kasar perlu dihentikan, air minu, bila
perlu diberi garam dapur harus disediakan ad libitum. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )

2. Rumen Sarat
Rumen sarat adalah bentuk indigesti akut yang ditandai dengan ruminostasis yang
sarat, rumen berisi ingesta yang bersifat asam, disertai naorexia total, dehidrasi, asidosis
dan toksemia. Kadang-kadang juga ditemukan penderita yang menunjukkan gejala
kebutaan dan tidak mampu berdiri, biasanya rumen sarat memiliki angka kemaian yang
tinggi. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Etiologi
Sapi memakan bahan makanan penguat yang kaya akan hidrat arang secara
berlebihan , juga kelalaian pengelolaan pakan, sapi-sapi yang terdiri dari berbagai umur
yang dicampur dan mendapat kenis kinsentrat yang sama. Karena banyak memakan
konsentrat yang terlalau tinggi hidrat arangnya seekor sapi dapat menderita asidosis
rumen. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Patogenesis
Karena pergantian susunan pakan dari susunan berimbang ke susunan yang kaya
akan hidrat arang, kuman-kuman Gram + akan tumbuh dengan cepat . Pada awalnya
kuman Streptococcus bovis berbiak dengan cepat, dan kemudian digantikan oleh kuman
Lactobacillus. Kuman yang terakhir menghasilkan asam susu yang berlebihan sampai 20
% hingga mampu menurunkan derajat keasaman normal Ph 6-7 menjadi 4. Pada saat
yang sama histamin juga diproduksi sebagai hasil dekarboksilasi histidin. Dengan
meningkatnya jumlah asam dalam rumen tekanan osmose meningkat , peningkatan ini
menyebabkan absobsi air menurun. Untuk menetralkan asam yang berlebihan produski
air liur meningkat , karena produksi air liur berlebihan nafsu minum menjadi turun.
Akibat lebih lanjut adalah kurangnya cairan dalam darah , anhidremia, pengeringan atau
eksikosis atau terhentinya produksi dan pengeluaran kemih. Pada derajat keasaman ph
dinding rumen jadi mengalami lesi.
Sebagai akibat matinya kuman-kuman yang tidak tahan asam produks vitamin B1
jadi menurun. Rumen ynag pada awal kejadian indigesti berisikan cairan yang cukup ,
karena menarik cairan dari jaringan yang lain dalam beberapa hari akan kekurangan
cairan . Selanjutnya akibat penurunan aliran darah pada dinding rumen dan retikulum ,
oleh karena meregangnya jaringan tonusnyapun akan turun, sel-selnya kekuranga gizi
hingga selaput lendir akan mengalami kematian. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Gejala Klinis
Gejala indigesti bentuk ini dimulai dengan adanya rasa sakit di daerah perut.
Penderita nampak lesu damn malas bergerak, Nafsu makan dan minum hilang secara total
, Rumen mengalami distensi ke arah lateral maupun medial, Gas dalam jumlah tidak
banyak terdapat bertimbn di atas ingesta yang padat, Pada palpasi isi rumen menunjukkan
konsistensi yang padat atau liat.,
Penderita mengalami dehidrasi, Feses terbentuk sedikit, konsistensi lunak
bercampur lendir dan berwarna gelap berbau menususk.Frekuensi nafas meningkat
diikuti dengan kelemahan jantung kompensatorik. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Terapi
Pertolongan secara operasi, ruminotomi, merupakan jalan terbaik untuk
menyelamatkan penderita. Pada gangguan yang awal pemberian purgansia dalam dosis
ruminatorium, misalnya larutan Magnesium Sulfat atau sodium sulfat diberikan 1-2 kali ,
Antihistamin diberkan secara suntikan misalnya Delladryl 10-15 ml, Pemberian
antibiotika secara oral, misalnya penisillin 0,5-1 IU untuk domba, 10 IU untuk sapi dan
diulnag selama 12 jam kemudian, Untuk mengurangi asidosis diberikan larutan sodium
bikarbonat 25 % sebanyak 500ml intra vena secara perlahan-lahan. ( Soebronto,
Tjahajati, Ida, 2003 )

3. Alkalosis Rumen
Alkalosis rumen merupakan penyakit akut ditandai dengan indigesti, gejala saraf,
tremor otot sampai kejang tetanik, dypsnoea, dan kadang disertai dengan diare. Penyakit
kadang berlangsung dalam beberapa jam dan berakhir dengan kematan. . ( Soebronto,
Tjahajati, Ida, 2003 )
• Etiologi
Bahan pakan yang mengandung protein diganti dengan senyawa penghasil
nitrogen asal senyawa non protein. Selain yang digunakan sebagai imbuhan pakan , urea
dapat mengakibatkan keracunan karena kesalahan hingga hewan memekan urea. .
( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Patogenesis
Di dalam rumen hewan pemamah biak protein dan senyawa ynag mengandung N
dimetabolisir hingga terbentukamoniak yang merupakan konstituen utama cairan rumen.
Bila karbohidrat cuup tersedia sebagai substratnya amonia ynag terbentuk berguna bagi
pembentukan protein mikroba. Peningkatan amonia berakibat naiknya Ph isi rumen,
kenaikan ph menyebabkan lisisnya mikroorganisme yang tidak tahan suasana alkalis, dan
terjadilah indigesti. . ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Gejala Klinis
Alkalosis rumen segera diikuti gejala sarafi dalam bentuk tremor otot perifer,
muka dan telinga, hipersalivasi berbusa, gigi gemeretak, serta rasa sakit yang sangat.
Hewan tidak akan mampu berdiri, kekejangan tetenik yang timbul tidak bersifat terus
menerus, pernafasan cepat, dangkal, suhu tubuh meningkat, feses keluar bersifat cair
berlendi dalam jumlah tidak banyak. . ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Terapi
Untuk menetralkan pH rumen dapat diberikan larutan cuka ( vinegar ) 5 %
sebanyak 2-6 liter, diberikan secara intraruminal ( dengan sinde kerongkongan ).
Penuntikan MgSO4 atau Ca- boroglukonat untuk mengurangi kejang otot, Bila perlu
rumen dikosongkan dengan jalan ruminotomi.
Pemberian urea dalam pakan tidak boleh melebii 1 % dari seluruh pakan yang
diberikan atau kurang dari 3 % dari berat konsentratdan tidak boleh melampaui sepertiga
nitrogen dari suplemen protein. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
4. Kembung Rumen
Kembung rumen merupakan bentuk indigesti akut yang disertai dengan
penimbunan gas dalam lambung ruminansia.Kembung dapat terjadi secara primer atau
sekunder, dan gas yang tertimbun mungkin dapat terpisah dari isi lambung lainya disebut
free gas bloat, atau terperangkap diantara ingesta di dalam rumen maupun retikulum
dalam gelembung- gelembung kecil disebut froty bloat.
• Etiologi
Ada dua faktor penyebab bloat yaitu faktor pakan dan faktor hewanny sendiri. Di
dalam faktor pakan pada umumnya tanaman leguminose lebih sering menyebabakan
kembung, varietas tanaman polongan misalnya Alfafa, Biji-bijian yang digiling sampai
halus imbangan pakan hijauan dan konsentrat tidak seimbang , tanaman ynag dipupuk
dengan menggunakan urea. Dalam faktor hewan yang bersangkutan faktor keturunan,
hewan dalam kondisi sakit atau bunting. ( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Patogenesis
Konsumsi legum akan terbentuk kembung rumen yang disertai dengan
pembnetukan busa, tanpa disertai hilangnya tonus rumen.Sebagai reaksi tubuh untuk
membebaskan gas yang tertimbun di dalam rumen , rumen akan berontraksi leih kuat
serta lebih sering, karena kecepatan pembentukan gas usaha untuk mebebaskannya tidak
berhasil , dengan makin banyaknya gas ynag tertimbun volume rumen meningkat,
pendesakan rumen kearah dada menyebabakan penderita mengalami kesulitan bernafas. (
Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )
• Gejala Klinis
Ditemukan pembesaran rumen yang tampak menggembung, selaput lendir
sebelah kiri mengalami vasa injeksi, penderita tampak tidak tenang, nafsu makan hilang
sama sekali, pulsusn mengalami peningkatan, pemeriksaan atas jantun kadang-kadang
ditemukan suara bising sistolik yang bersifat kompensatorik, rumen mengalami distensi
kearah medial, pada perkusi rumen ditemukan suara timpanis. ( Soebronto, Tjahajati, Ida,
2003 )

• Terapi
Pulsus veratri albi diberikan 10-25g 3 kali sehari, istinizum 5-10 g diberikan 2
kalis ehari, oleum terebinthinae 25-50 ml untuk menghilangkan busa. Obat paten
Atympanico, Therabloat, Sicaden dosis 100mg/kg, Preparat sulfactal ( polyethoxy
polypropoxy ethnaol 40 % ) dengan isopropyl alcohol 60 % sebanyak 50-100ml
Intraruminal dapat pula menghilangkan busa.
Untuk mengurangi populasi kuman penghasil gas dan lendir dapat diberikan obat-
obat antiseptik( Soebronto, Tjahajati, Ida, 2003 )

2. Manajemen Pakan Sapi


Ketersediaan bahan pakan berupa hijauan makanan ternak (HMT) dalam bentuk
segar maupun awetan perlu menjadi bahan pertimbangan jumlah ternak yang akan
dipelihara. Sebagai gambaran kasar seekor sapi setiap harinya membutuhkan pakan
dalam bentuk HMT sebanyak ± 10 % dari berat badan dan pakan penguat berupa
konsentrat ± 1 % dari berat badan.
Sumber HMT sebaiknya mudah diperoleh dan sedapat mungkin terdapat di daerah
sekitar sehingga tidak menimbulkan masalah ongkos transportasi dan kesulitan
mencarinya. Ketersediaan sepanjang waktu dalam jumlah yang mencukupi keperluan,
harga yang layak/tidak mahal dan tidak bersaing dengan kebutuhan pokok manusia
menjadi syarat lain HMT. HMT dapat diberikan dalam kondisi segar maupun awetan
dalam bentuk kering (hay) ataupun fermentasi (silase).
Beberapa jenis HMT yang memiliki nilai gizi yang baik untuk ternak antara lain
rumput benggala, rumput kalanjana, rumput gajah, king grass, rumput lapangan dan
jerami. Golongan leguminose atau kacang – kacangan seperti daun dan batang kacang
tanah (rendeng) dan kacang ruji juga mempunyai nilai gizi yang baik. Golongan
gleresidae (rambanan) yang terkenal antara lain daun ketela pohon, daun nangka, daun
lamtoro, daun gamal/langu, daun kaliandara dan daun turi.
Sapi dan domba umumnya lebih menyukai rumput – rumputan tetapi kambing
lebih menyukai rambanan. Jumlah yang diberikan sebaiknya mencukupi dan lebih baik
bila dilayukan terlebih dahulu. Tujuannya selain untuk menghilangkan zat – zat beracun
(bila ada) juga untuk menghindari penularan bibit penyakit terutama parasit cacing yang
menular melalui rerumputan basah. HMT yang besar dan panjang seperti kalanjana dan
rumput gajah sebaiknya disajikan dalam kondisi dipotong – potong.
Tata laksana pemberian HMT sebaiknya dibuat suatu rutinitas tersendiri dan
diberikan dalam jumlah yang mencukupi. HMT ini sebaiknya jangan hanya terdiri satu
jenis HMT saja secara terus menerus karena perbedaan jenis HMT memiliki perbedaan
nilai/kandungan gizi. Semakin lengkap jenis HMT yang diberikan semakin baik karena
dapat menutup kebutuhan nilai gizi yang berbeda – beda. Pemberian jenis HMT secara
bervariasi sangat dianjurkan untuk menghindari kebosanan pada salah satu jenis HMT.
Pemberian HMT pada ternak dapat dilakukan 2 – 3 kali per hari, namun umumnya ternak
hanya diberi HMT dua kali sehari; pagi dan sore/petang. Jumlah yang diberikan dapat
terdiri 50 % pagi dan 50 % sore/petang atau 60 % pagi dan 40 % sore/petang tergantung
kebiasaan makan ternak. Ternak yang lebih banyak makan di pagi dan siang hari diberi
HMT dalam jumlah yang lebih banyak pada pagi hari dan sebaliknya ternak yang lebih
banyak makan pada sore/petang diberi HMT yang lebih banyak pada sore/petang.
Konsentrat sapi saat ini banyak tersedia konsentrat buatan pabrik dengan harga
yang terjangkau. Akan tetapi sebenarnya konsentrat dapat kita buat sendiri dengan bahan
– bahan yang terdapat di sekitar. Bahan konsentrat yang paling mudah ditemukan adalah
bekatul padi, tepung jagung, tepung ketela pohon, gaplek, ketela pohon segar dan bungkil
kelapa. Bahan lain yang juga diperlukan adalah tepung kedelai (namun harganya mahal)
dan tepung ikan atau lemak hewani (tallow) dan mineral premix yang harus dibeli di toko
bahan pakan hewan. Untuk keperluan sendiri konsentrat ramuan sendiri terdiri bekatul
padi, ketela pohon segar/gaplek dan mineral yang ditambah garam dapur sudah
mencukupi. Jumlah kebutuhan harian disesuaikan dengan berat dan jumlah sapi serta
ketersediaan bahan.
Sebagai contoh komposisi konsentrat yang banyak dipakai peternak sapi adalah;
35 % tepung jagung, 50 % bekatul padi, 5 % bungkil kelapa, 5 % tepung kedelai dan 5 %
tepung ikan. Komposisi lain misalnya terdiri 65 % tepung jagung, 21 % bekatul padi, 5 %
bungkil kelapa, 5 % tepung kedelai dan 4 % tepung ikan. Semua bahan tersebut dicampur
merata dan siap disajikan. Konsentrat ramuan sendiri ini sebaiknya masa simpannya tidak
lebih dari 2 minggu supaya tidak apek dan tengik. Jumlah banyak sedikitnya pembuatan
disesuaikan dengan jumlah kebutuhan/jumlah sapi sehingga konsentrat yang sudah jadi
tidak terlalu lama disimpan.
Tata laksana pemberian konsentrat dapat dilakukan dengan sistem kering maupun
basah. Pemberian konsentrat dengan sistem kering lebih disukai peternak karena lebih
mudah dan lebih praktis tetapi kurang disukai sapi dan pada sapi yang kelaparan
seringkali menyebabkan tersedak. Pemberian konsentrat dengan sistem basah (komboran)
membutuhkan tempat yang lebih besar, perlu banyak tenaga tetapi sistem ini lebih disukai
ternak/sapi karena mudah dimakan dan tidak menyebabkan tersedak.
Air minum adalah komponen pakan yang tidak boleh terlupakan. Kebutuhan air
minum sangat dipengaruhi jenis hewan, umur, cuaca dan jenis kelamin maupun type
ternak. Ternak type perah membutuhkan air minum dalam jumlah yang relatif lebih
banyak dibanding type potong. Hewan dalam masa pertumbuhan dan berproduksi akan
membutuhkan air minum dalam jumlah yang lebih banyak dibanding hewan tua dan tidak
berproduksi. Pada prinsipnya air minum harus selalu tersedia dalam jumlah yang tidak
terbatas (ad libitum) terutama untuk ternak yang dipelihara dalam kandang (kereman)
karena keterbatasan hewan untuk mencari minum sendiri.
Air minum sebaiknya berasal dari air tanah/air sumur dan bukan air PAM atau air
sungai. Air PAM mempunyai kelemahan yakni kandungan klorin (kaporit) yang terlalu
tinggi sehingga dapat mengganggu keseimbangan mikroflora dalam rumen yang
berfungsi untuk percernaan mikroba. Air sungai kurang baik karena tingkat pencemaran
terhadap bibit penyakit seperti cacing dan bibit penyakit lainnya cukup tinggi terutama
aliran sungai yang digunakan untuk memandikan ternak (ngguyang).
Tata cara pemberian pakan sebaiknya dibuat suatu rutinitas dan jangan mengubah
rutinitas tersebut secara mendadak, misalnya sapi yang biasanya diberi HMT dahulu baru
diberi komboran sebaiknya jangan diubah rutinitasnya karena dapat menyebabkan
gangguan metabolisme seperti indigesti/tidak nggayemi akibat perubahan pemberian
pakan yang mendadak. Jumlah yang diberikan juga berpengaruh, sebaiknya jangan
memberi konsentrat dalam jumlah berlebihan karena dapat menyebabkan rumen sarat.
Pemberian konsentrat dengan sistem kering sebaiknya dibarengi dengan pemberian air
minum secara ad libitim.
Perubahan pola pemberian pakan sebaiknya dilakukan secara bertahap, misalnya
penambahan jumlah HMT atau konsentrat dilakukan berangsur – angsur sehingga tidak
menimbulkan stress fisiologis pada ternak. Perubahan jenis pakan juga sebaiknya jangan
dilakukan secara mendadak tetapi secara bertahap, misalnya yang biasanya diberi hijauan
segar jangan langsung diganti total dengan jerami kering karena dapat menyebabkan sapi
kaget dan tidak mau makan karena merasa asing dengan pakan yang diberikan. Kalaupun
sapi mau makan biasanya karena rasa lapar, akan tetapi hal tersebut dapat menimbulkan
masalah pencernaan seperti rumen sarat dan indigesti atau tidak nggayemi.
Perubahan pemberian dan jenis pakan/konsentrat paling banyak memberikan andil
pada kasus indigesti pada ternak sapi. Ini biasanya terjadi pada musim tertentu misalnya
pada saat panen kacang tanah dimana ternak diberi rendeng dalam jumlah berlebih
(karena tidak beli dan mumpung ada) dapat menyebabkan kembung rumen. Pada saat
panen ketela pohon juga sering terjadi kasus indigesti dan rumen sarat pada sapi karena
pemberian ketela pohon afkir (rucah) dalam jumlah yang tidak terkontrol. Bila hal – hal
tersebut diatas terjadi maka ternak perlu diistirahatkan dan sementara jangan diberi pakan
dulu tetapi disediakan air minum yang ditambah garam dapur dalam jumlah banyak.
Apabila kondisi ternak sudah membaik dan mau makan atau nggayemi maka porsi pakan
seperti sediakala dapat disediakan.

DAFTAR PUSATAKA
Subronto, Tjahajati,Ida.2003. Ilmu Penyakit Ternak I .Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press