Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD)

Nama : Husna Dayanti


NIM : 181440118

Dosen Pengampu : Ns. Ade Sukarna, M.Kep. Sp.Kep.MB

PROGRAM DIII KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES PANGKALPINANG
TAHUN AKADEMIK 2020
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Teori
1. Definisi
Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang
ditandai oleh hambatan aliran udara disaluran pernapasan yang bersifat progresif
non reversible. PPOK dari bronkitis kronik, empisema atau gabungan keduanya
(PDPI, 2011).
Penyakit Paru Obstruksi Kronik adalah sejumlah gangguan yang
mempengaruhi pergerakan udara dari dan ke luar paru. Gangguan yang penting
adalah bronkitis obstruktif, efisema, dan asma bronchial (Muttaqin, 2008).
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan suatu kondisi irreversible
yang berkaitan dengan dipsnue saat beraktifitas dan penurunan masuk serta
keluarnya udara paru-paru (Smeltzer and Bare, 2001)
2. Etiologi
Penyebab penyakit paru obstruksi kronik menurut David Ovedoff (2002)
yaitu: adanya kebiasaan merokok berat dan terkena polusi udara dari bahan
kimiawi akibat pekerjaan. Mungkin infeksi juga berkaitan dengan
virus hemophilus influenza  danstrepto coccus pneumonia.
Faktor penyebab dan faktor resiko yang paling utama  menurut   Neil F.
Gordan (2002) bagi penderita PPOK atau kondisi yang secara bersama
membangkitkan penderita penyakit PPOK, yaitu :
a. Usia semakin bertambah faktor resiko semakin tinggi.
b. Jenis kelamin pria lebih beresiko dibanding wanita
c.  Merokok
d. Berkurangnya fungsi paru-paru, bahkan pada saat gejala penyakit tidak
dirasakan.
e. Keterbukaan terhadap berbagai polusi, seperti asap  rokok dan debu
f. Polusi udara
g. Infeksi sistem pernafasan akut, seperti peunomia dan bronkitus
h. Asma episodik, orang dengan kondisi ini beresiko mendapat penyakit paru
obstuksi kronik.
i. Kurangnya alfa anti tripsin. Ini merupakan kekurangan suatu enzim yang
normalnya melindungi paru-paru dari kerusakan peradangan orang yang
kekurangan enzim ini dapat terkena empisema pada usia yang relatif
muda, walau pun tidak merokok. 
3. Epidemiologi
Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan tahun 1990 PPOK
menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian di dunia dan akan
menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker (WHO,2002).
Diperkirakan jumlah pasien PPOK untuk Asia tahun 2006 mencapai 56.6 juta
pasien dengan prevalensi 6.3%. Di Indonesia diperkirakan terdapat 4.8 juta
pasien dengan prevalensi 5.6%. angka ini bisa meningkat dengan semakin
banyaknya jumlah perokok karena 90% pasien PPOK adalah perokok atau
mantan perokok.
Berdasarkan hasil SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2001,
sebanyak 54.5% penduduk laki-laki dan 1.2% perempuan merupakan perokok,
92% dari perokok menyatakan kebiasannya merokok di dalam rumah ketika
bersama anggota keluarga lainnya, dengan demikian sebagian besar anggota
keluarga merupakan perokok pasif (BPS,2001). Jumlah perokok yang beresiko
menderita PPOK atau kanker paru berkisar 20-25%. Hubungan antara perokok
dan PPOK merupakan hubungan dose response, lebih banyak jumlah rokok yang
dihisap setiap hari dan lamanya kebiasaan merokok tersebut maka resiko
penyakit yang ditimnulkan akan lebih besar.
4. Klasifikasi
Klasifikasi dari penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yaitu:
a. Bronkitis kronis
Bronkitis akut adalah radang mendadak pada bronkus yang biasanya mengenai
trakea dan laring, sehingga sering disebut juga dengan laringotrakeobronkitis.
Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan napas tersendiri atau sebagai
bagian dari penyakit sistemik, misalnya morbili, pertusis, difteri, dan tipus
abdominalis. Istilah bronkitis kronis menunjukan kelainan pada bronkus yang
sifatnya menahun(berlangsung lama) dan disebabkan berabagai faktor, baik
yang berasal dari luar bronkus maupun dari bronkus itu sendiri. Bronkitis
kronis merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus
trakeobronkial yang berlebihan, sehingga cukup untuk menimbulkan batuk
dan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun dan paling sedikit 2 tahun
secara berturut-turut.
b. Emfisema Paru
Menurut WHO, emfisema merupakan gangguan pengembangan paru yang
ditandai dengan pelebaran ruang di dalam paru-paru disertai destruktif
jaringan. Sesuai dengan definisi tersebut, jika ditemukan kelainan berupa
pelebaran ruang udara(alveolus) tanpa disertai adanya destruktif jaringan maka
keadaan ini sebenarnya tidak termasuk emfisema, melainkan hanya sebagai
overinflation. Sebagai salah satu bentuk penyakit paru obstruktif menahun,
emfisema merupakan pelebaran asinus yang abnormal, permanen, dan disertai
destruktif dinding alveoli paru. Obstruktif pada emfisema lebih disebabkan
oleh perubahan jaringan daripada produksi mukus, seperti yang terjadi pada
asma bronkitis kronis.
c. Asma bronkial
Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronkial yang mempunyai ciri
bronkospasme periodik(kontraksi spasme pasa saluran napas) terutama pada
percabangan trakeonronkial yang dapat diakibatkan oleh berbagai stimulus
seperti oleh faktor biokemial, endokrin, infeksi, otonomik, dan psikologi.
Asma didefinisakn sebagai suatu penyakit inflamasi kronis di saluran
pernapasan, dimana terdapat banyak sel-sel induk, eosinofil, T-limfosit,
neutrofil, dan sel-sel epitel. Pada individu rentan, inflamasi ini menyebabkan
episode wheezing, sulit bernapas, dada sesak, dan batuk secara berulang,
khususnya pada malam hari dan di pagi hari.
5. Patofisiologi
Faktor risiko utama dari PPOK adalah merokok. Komponen-
komponen asap rokok merangsang perubahan pada sel-sel penghasil mukus
bronkus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau
disfungsional serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil
mukus dan silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan
penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan sulit dikeluarkan dari saluran
napas. Mukus berfungsi sebagai tempat persemaian mikroorganisme penyebab
infeksi dan menjadi sangat purulen. Timbul peradangan yang menyebabkan
edema jaringan. Proses ventilasi terutama ekspirasi terhambat. Timbul hiperkapnia
akibat dari ekspirasi yang memanjang dan sulit dilakukan akibat mukus yang
kental dan adanya peradangan (GOLD, 2009).
Komponen-komponen asap rokok juga merangsang terjadinya peradangan
kronik pada paru.Mediator-mediator peradangan secara progresif merusak
struktur-struktur penunjang di paru. Akibat hilangnya elastisitas saluran udara dan
kolapsnya alveolus, maka ventilasi berkurang. Saluran udara kolaps terutama pada
ekspirasi karena ekspirasi normal terjadi akibat pengempisan (recoil) paru secara
pasif setelah inspirasi. Dengan demikian, apabila tidak terjadi recoil pasif, maka
udara akan terperangkap di dalam paru dan saluran udara kolaps (GOLD, 2009).

(http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014)
6. Manifestasi Klinis
Batuk merupakan keluhan pertama yang biasanya terjadi pada pasien
PPOK. Batuk bersifat produktif, yang pada awalnya hilang timbul lalu kemudian
berlangsung lama dan sepanjang hari. Batuk disertai dengan produksi sputum
yang pada awalnya sedikit dan mukoid kemudian berubah menjadi banyak dan
purulen seiring dengan semakin bertambahnya parahnya batuk penderita.
Penderita PPOK juga akan mengeluhkan sesak yang berlangsung lama,
sepanjang hari, tidak hanya pada malam hari, dan tidak pernah hilang sama sekali,
hal ini menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas yang menetap. Keluhan sesak
inilah yang biasanya membawa penderita PPOK berobat ke rumah sakit. Sesak
dirasakan memberat saat melakukan aktifitas dan pada saat mengalami
eksaserbasi akut.
Gejala-gejala PPOK eksaserbasi akut meliputi:
a. Batuk bertambah berat
b. Produksi sputum bertambah
c. Sputum berubah warna
d. Sesak nafas bertambah berat
e. Bertambahnya keterbatasan aktifitas
f. Terdapat gagal nafas akut pada gagal nafas kronis
g. Penurunan kesadaran.
7. Tatalaksana medis
Penatalaksanaan PPOK bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi
obstruksi yang terjadi seminimal mungkin agar secepatnya oksigenasi dapat
kembali normal. Keadaan ini diusahakan dan dipertahankan untuk menghindari
perburukan penyakit. Secara garis besar penatalaksanaan PPOK dibagi menjadi 4
kelompok, sebagai berikut:
 Penatalaksanaan umum
Penatalaksanaan umum meliputi pendidikan pada pasien dan keluarga,
menghentikan merokok dan zat-zat inhalasi yang bersifat iritasi, menciptakan
lingkungan yang sehat, mencukupi kebutuhan cairan, mengkonsumsi diet yang
cukup dan memberikan imunoterapi bagi pasien yang punya riwayat alergi.
 Pemberian obat-obatan
a) Bronkodilator
Bronkodilator merupakan obat utama untuk mengurangi/mengatasi
obstruksi saluran nafas yang terdapat pada penyakit paru obstruktif. Obat-
obatan golongan bronkodilator adalah obat-obat utama untuk manajemen
PPOK. Bronkodilator golongan inhalasi lebih disukai terutama jenis long
acting karena lebih efektif dan nyaman, pilihan obat diantarnya adalah
golongan β2 Agonis, Antikolinergik, Teofilin  atau kombinasi. (GOLD, 2006;
Sharma, 2010)
b) Antikolinergik
Golongan antikolinergik seperti Patropium Bromide mempunyai efek
bronkodilator yang lebih baik bila dibandingkan dengan golongan
simpatomimetik. Penambahan antikolenergik pada pasien yang telah
mendapatkan golongan simpatomimetik akan mendapatkan efek bronkodilator
yang lebih besar (Sharma, 2010).
c) Metilxantin
Golongan xantin yaitu teofilin bekerja dengan menghambat enzim
fosfodiesterase yang menginaktifkan siklik AMP. Pemberian kombinasi xantin
dan simpatomimetik memberikan efek sinergis sehinga efek optimal dapat
dicapai dengan dosis masing-masing lebih rendah dan efek samping juga
berkurang. Golongan ini tidak hanya bekerja sebagai bronkodilator tetapi
mempunyai efek yang kuat untuk meningkatkan kontraktilitas diafragma dan
daya tahan terhadap kelelahan otot pada pasien PPOK (Sharma, 2010).
d) Glukokortikosteroid
roid bermanfaat dalam pengelolaan eksaserbasi PPOK, dengan
memperpendek waktu pemulihan, meningkatkan fungsi paru dan mengurangi
hipoksemia. Disaxmping itu Glukokortikosteroid juga dapat mengurangi risiko
kekambuhan yang lebih awal, kegagalan pengobatan dan memperpendek masa
rawat inap di RS (GOLD, 2006).
e) Obat-obat lainnya
1) Vaksin
Pemberian vaksin influenza dapat mengurangi risiko penyakit yang
parah dan menurunkan angka kematian sekitar 50 %. Vaksin mengandung
virus yang telah dilemahkan lebih efektif diberikan kepada pasien PPOK
lanjut, yang diberikan setiap satu tahun sekali. Vaksin Pneumokokkal
Polisakaridadianjurkan untuk pasien PPOK usia 65 tahun keatas (GOLD,
2006)
2) Alpha-1 Antitripsin
Alpha 1 Antitripsin direkomendasikan untuk pasien PPOK dengan usia
muda yang mengalami defisiensi enzim Alpha 1 Antitripsin sangat berat.
Namum terapi ini sangat mahal dan belum tersedia disetiap negara (GOLD,
2006).
3) Antibiotik
Pada pasien PPOK infeksi kronis pada saluran nafas biasanya berasal dari
Streptococcus Pneumonia, Haemophilus Influenza dan Moraxella Catarrhlis.
Diperlukan pemeriksaan kultur untuk mendapatkan antibiotik yang sesuai. Tujuan
pemberian antibiotika adalah untuk mengurangi lama dan beratnya eksaserbasi
akut, yang ditandai oleh peningkatan produksi sputum, dipsnue, demam dan
leukositosis (GOLD, 2006; Sharma, 2010).
4) Mukolitik
Mukolitik diberikan untuk mengurangi produksi dan kekentalan sputum.
Sputum kental pada pasien PPOK terdiri dari derivat glikoprotein dan derivate
lekosit DNA (GOLD, 2006)
5) Agen antioksidan
Agen antioksidan khususnya N-Acetilsistein telah dilaporkan
mengurangi frekuensi eksaserbasi pada pasien PPOK (GOLD, 2006).
6) Imunoregulator
Pada sebuah studi penggunaan imuniregulator pada pasien PPOK dapat
menurunkan angka keparahan dan frekuensi eksaserbasi (GOLD, 2006).
7) Antitusif
Meskipun batuk merupakan salah satu gejala PPOK yang merepotkan,
tetapi batuk mempunyai peran yang signifikan sebagai mekanisme protektif.
Dengan demikian penggunaan antitusif secara rutin tidak direkomendasikan
pada PPOK stabil (GOLD, 2006).
8) Vasodilator
Berbagai upayaa pada hipertensi pulmonal telah dilakukan diantaranya
mengurangi beban ventrikel kanan, meningkatkan curah jantung, dan
meningkatkan perfusi oksigen jaringan. Hipoksemia pada PPOK terutama
disebabkan oleh ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi bukan karena
peningkatan shunt intrapulmonari (seperti pada oedem paru nonkardiogenik)
dimana pemberian oksida nityrat dapat memperburuk keseimbangan ventilasi
dan perfusi. Sehingga oksida nitrat merupakan kontraindikasi pada PPOK
stabil (GOLD, 2006).
9) Narkotin (Morfin)
Morfin secara oral ataupun parenteral efektif untuk mengurangi dipsnue
pada pasien PPOK pada tahap lanjut. Nikotin juga diberikan sebagai obat
antidepresan pada pasien dengan dengan sindrom paska merokok  (GOLD,
2006; Sharma, 2010).
 Terapi oksigen
PPOK umumnya dikaitkan dengan hipoksema progesif, pemberian
terapi oksigen bertujuan untuk mempertahankan hemodinamika paru. Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh The British Medical Research Council (MRC)
dan the National Heart, Lung, and Blood Institute's Nocturnal Oxygen
Therapy Trial (NOTT) menunjukkan bahwa terapi oksigen jangka panjang
dapat meningkatkan kelangsungan hidup 2 kali lipat pada hipoksemia pasien
PPOK. Hipoksemia didefinisikan sebagai Pa O2 kurang dari 55 mmHg atau
saturasi oksigen kurang dari 90%. Gejala gangguan tidur, gelisah, sakit kepala
mungkin merupakan petunjuk perlunya oksigen tambahan. Terapi oksigen
dengan konsentrasi rendah 1-3 liter/menit secara terus menerus dapat
memberikan perbaikan psikis, koordinasi otot, toleransi beban kerja dan pola
tidur. Terapi oksigen bertujuan memperbaiki kandungan oksigen arteri dan
memperbanyak aliran oksigen ke jantung, otak serta organ vital lainnya,
memperbaiki vasokonstriksi pulmonal dan menurunkan tekanan vaskular
pulmonal. (Shama, 2010).
 Rehabilitasi
Rehabilitasi pulmonal melibatkan berbagai multidisiplin keilmuan
termasuk diantaranya dokter, perawat, fisioterapis pernapasan, fisioterapi
secara umum, okupasional terapi, psikolog dan pekerja soisal. Sharma (2010)
8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Chest X- Ray
Dapat menunjukkan hyperinflation paru, flattened diafragma, peningkatan
ruangan udara retrosternal, penurunan tanda vascular / bullae ( emfisema ),
peningkatan suara bronkovaskular ( bronchitis ), normal ditemukan saat
periode remisi ( asma ).
b. Pemeriksaan fungsi paru
Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, menentukan abnormalitas
fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi, memperkirakan
tingkat disfungsi, dan mengevaluasi efek dari terapi, misalnya
bronkodilator.
c. Total lung capacity (TLC ) :
Meningkat pada bronkitis berat dan biasanya pada asma, namun menurun
pada emfisema.
d. Kapasitas inspirasi
Menurun pada emfisema.
e. FEV1/FVC
Rasio tekanan volume ekspirasi ( FEV ) terhadap tekanan kapasitas vital
( FVC ) menurun pada bronkitis dan asma.
f. Arterial blood gasses (ABGs)
menunjukan prose penyakit kronis, sering kali PaO 2 menurun dan PaCO2
normal atau meningkatkan ( bronkitis kronis dan emfisema ), terapi sering
kali menurun pada asma, Ph normal atau asidosis, alkalosis respiratori
ringan sekunder terhadap hiperventilasi ( emfisema sedang atau asma).
g. Bronkogram :
dapat menunjukkan dilatasi dari bronki saat inspirasi, kolabs bronkial pada
tekanan ekspirasi( emfisema ), pembesaran kelenjar mucus( brokitis).
h. Darah lengkap
terjadi peningkatan hemoglobin ( emfisema berat) dan eosinophil (asma).
i. Kimia darah
Alpha 1-antitripsin kemungkinan kurang pada emfisema perimer.
j. Skutum kultur
Untuk menentukan adanya infeksi dan mengidentifikasi pathogen,
sedangkan pemeriksaan sitologi digunakan untuk menentukan penyakit
keganasan/ elergi.
k. Electrokardiogram (ECG)
Diviasi aksis kanan, glombang P tinggi ( Asma berat), atrial disritmia
( bronkitis), gelombang P pada leadsII, III, dan AVF panjang, tinggi( pada
bronkitis dan efisema) , dan aksis QRS vertical (emfisema).
B. Asuhan Keperawatan Teoritis
I. Pengkajian Fokus Menurut Nanda
1. Health Promotion (Peningkatan Kesehatan)
Kesadaran akan kesehatan atau normalitas fungsi dan strategi-strategi yang
diterapkan untuk mempertahankan control dan meningkatkan kesehatan atau
normalitas fungsi tersebut.
a. Health Awareness (Kesadaran Kesehatan
b. Health Management (Manajemen Kesehatan)
2. Nutrition (Nutrisi)
a. Ingestion (Proses masuknya makanan)
b. Digestion (Pencernaan)
c. Absorption (Penyerapan)
d. Metabolism (Metabolisme)
e. Hydration (Minum)
3. Elimination (Pembuangan):
Keluarnya produk-produk kotoran dari tubuh
a. Urinary system (Sistem Urinaria) : proses keluarnya urine
b. Gastrointestinal system( Sistem gastrointestinal) : Pengeluaran dan
pengenyahan produk-produk kotoran dari isi perut
c. Integumentary system( Sistem Integumen) : Proses keluarnya melalui kulit
d. Pulmonary system( Sistem Paru-paru) : Pembersihan produk-produk metabolis
secara ikutan, pengeluaran dan benda-benda asing dari paru-paru atau dua
saluran bronkus.
4. Activity/ Rest (Aktifitas/ Istirahat)
Produksi, konservasi, pengeluaran atau keseimbangan sumber-sumber tenaga
a. Sleep / Rest (Tidur/istirahat)
b. Activity / Exercise (Aktifitas/berolahraga)
c. Energy Balance (Keseimbangan)
d. Energi Cardiovascular-pulmonary Responses (respon jantung-paru-paru)
5. Perception/ Cognition (Cara Pandang/ Kesadaran)
a. Sistem pemrosesan informasi manusia, termasuk perhatian, orientasi (tujuan),
sensasi, cara pandang, kesadaran, dan komunikasi
b. Attention (Perhatian)
c. Orientation (Tujuan) :
d. Sensation/Perception (Sensasi/Cara Pandang)
e. Cognition (Kesadaran)
6. Communication (Komunikasi) Self- Perception (Persepsi Diri)
a. Kesadaran Akan diri sendiri
b. Self-Concept (Konsep Diri) : persepsi tentang diri sendiri secara menyeluruh
c. Self-Esteem (Penghargaan diri) : Penilaian akan pekerjaan sendiri, kapabilitas,
kepentingan, dan keberhasilan
d. Body Image (Citra Tubuh) : Citra mental akan tubuh diri sendiri
7. Role Relationships (Hubungan Peran)
a. Caregiving Roles (Peran-peran yang memberi perhatian) : Pola perilaku yang
diharapkan secara social oleh individu- individu yang menyediakan perawatan
dan bukan para professional perawatan kesehatan
b. Family Relationships (Hubungan keluarga) : Asosiasi orang-orang yang secara
biologis saling berkaitan
c. Role Performance (Kinerja Peran) : Kualitas memfungsikan didalam pola-pola
perilaku yang diharapkan secara social
8. Sexuality /Seksualitas
Identitas seksual, fungsi seksual dan reproduksi
a. Sexual Identity (Identitas Seksual)
b. Sexual Function (Fungsi Seksual)
c. Reproduction (Reproduksi)
9. Coping/ Stress Tolerance
Berkaitan dengan kejadian-kejadian  atau proses-proses kehidupan
a. Post-Trauma Responses (Respon paska trauma) Reaksi- reaksi yang terjadi
setelah trauma fisik atau psikologis
b. Coping Responses (Respon-respon penanggulangan) : Proses mengendalikan
tekanan lingkungan
c. Neuro-behavioral Responses (Respon-respon perilaku syaraf) Respon perilaku
yang mencerminkan fungsi saraf dan otak
10. Life Principles (Prinsip- Prinsip Hidup)
Prinsip- prinsip yang mendasari  perilaku, pikiran dan perilaku tentang langkah-
langkah, adapt istiadat, atau lembaga yang dipandang benar atau memiliki
pekerjaan intrinsik
a. Values: (Nilai- nilai) : Identifikasi dan pemeringkatan tentang bagaimana
akhirnya bertindak yang disukai
b. Beliefs: (Kepercayaan) : Pendapat, harapan atau penilaian atas tindakan, adapt
istiadat, atau lembaga yang dianggap benar atau memiliki pekerjaan instrinsik
c. Value/Belief/Action Congruence: (Nilai, Kepercayaan, kesesuaian tindakan) :
korespondensi atau keseimbangan yang dicapai antara nilai-nilai, kepercayaan
dan tindakan
11. Safety/ Protection (Keselamatan/ Perlindungan)
Aman dari mara bahaya, luka fisik atau kerusakan system kekebalan, penjagaan
akan kehilangan dan perlindungan keselamatan dan keamanan
a. Infection: (Infeksi)  : Respon-respon setempat setelah invasi patogenik
b. Physical Injury: (luka Fisik) : Luka tubuh yang membahayakan
c. Violence: ( kekerasan ) penggunaan kekuatan atau tenaga yang berlebihan
sehingga menimbulkan luka atau siksaan
d. Environmental Hazards: (tanda bahaya lingkungan ) sumber-sumber bahaya
yang ada dilinkungan sekitar kita
e. Defensive Processes: ( proses mempertahankan diri ) proses  seseorang
mempertahankan diri dari luar
f. Thermoregulation: proses fisiologis untuk mengatur panas dan energi di dalam
tubuh untuk tujuan melindingi organisms.
12. Comfort
Rasa kesehatan mental, fisik, atau social, atau ketentraman
a. Physical Comfort : merasakan tentram dan nyaman
b. Social Comfort : merasakan tentram dan nyaman dari situasi social seseorang
13. Growth/ Development
Bertambahnya usia yang sesuai dengan demensi fisik, system organ dan atau
tonggak perkembangan yang dicapai
a. Growth: kenaikan demensi fisik atau kedewasaan system organ
b. Development: apa yang dicapai, kurang tercapai, atau kehilangan tonggak
perkembangan
II. Diagnosa Keperawatan Yang Sering Muncul
1. Ketidakefektifan Bersihan jalan napas b.d kelemahan, upaya batuk yang buruk,
sekresi yang kental atau berlebihan.
2. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai oksigen.
3. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan b.d kelelahan, batuk yang sering,
adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia.

III. Intervensi Keperawatan (NANDA, NIC- NOC, 2013).

Diagnosa Rencana keperawatan


Keperawatan/ Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Masalah Kolaborasi
1.    Bersihan Jalan NOC: NIC:
Nafas tidak efektif a.    Respiratory status : Airway Suction
Faktor yang Ventilation a.    Pastikan kebutuhan oral /
berhubungan dengan:b.    Respiratory status : Airway tracheal suctioning.
a.    Lingkungan : patency b.    Berikan O2  ……l/mnt,
perokok pasif, metode………
mengisap aspa, Setelah dilakukan tindakan
c.    Anjurkan pasien untuk
merokok keperawatan selama istirahat dan napas dalam
b.    Obstruksi jalan ……..pasien menunjukkan setelah kateter dikeluarkan
nafas : spasme jalan keefektifan jalan nafas dari nasotrakheal
nafas, sekresi
tertahan, banyaknya Criteria Hasil : Airway Managemen
mukus, adanya jalan
a.    Mendemonstrasikan batuk
a.    Posisikan pasien untuk
nafas buatan, sekresi efektif dan suara nafas yang memaksimalkan ventilasi
bronkus, adanya bersih, tidak ada sianosis dan
b.    Lakukan fisioterapi dada jika
eksudat di alveolus, dyspneu (mampu perlu
adanya benda asing di mengeluarkan sputum,
c.    Keluarkan sekret dengan
jalan nafas. bernafas dengan mudah, tidak batuk atau suction
c.    Fisiologis: Jalan ada pursed lips) d.    Auskultasi suara nafas, catat
napas alergik, asma,
b.    Menunjukkan jalan nafas adanya suara tambahan
penyakit paru yang paten (klien tidak
e.    Berikan bronkodilator bila
obstruktif kronik, merasa tercekik, irama nafas, perlu
hiperplasi dinding frekuensi pernafasan dalam
f.     Monitor status hemodinamik
bronchial, infeksi, rentang normal, tidak ada
g.    Berikan pelembab udara
disfungsi suara nafas abnormal) Kassa basah NaCl Lembab
neuromuscular c.    Mampu mengidentifikasikan
h.    Atur intake untuk cairan
dan mencegah faktor yang mengoptimalkan
penyebab. keseimbangan.
v  i.      Monitor respirasi dan status
O2
j.      Jelaskan pada pasien dan
keluarga tentang penggunaan
peralatan : O2, Suction,
Inhalasi.
2.    Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
Faktor yang
a.    Self Care : ADL a.    Observasi adanya
berhubungan : b.    Toleransi aktivitas pembatasan klien dalam
a.    Tirah Baring atau
c.    Konservasi eneergi melakukan aktivitas
imobilisasi b.    Kaji adanya faktor yang
b.    Kelemahan Setelah dilakukan tindakan menyebabkan kelelahan
menyeluruh keperawatan selama ….
c.    Monitor nutrisi  dan sumber
c.    Ketidakseimbangan Pasien bertoleransi terhadap energi yang adekuat
antara suplei oksigen aktivitas dengan d.    Monitor pasien akan adanya
dengan kebutuhan kelelahan fisik dan emosi
d.    Gaya hidup yang Kriteria Hasil : secara berlebihan
dipertahankan. a.    Berpartisipasi dalam aktivitas
e.    Monitor respon
fisik tanpa disertai kardivaskuler  terhadap
peningkatan tekanan darah, aktivitas (takikardi, disritmia,
nadi dan RR sesak nafas, diaporesis, pucat,
b.    Mampu melakukan aktivitas perubahan hemodinamik)
sehari hari (ADL’s) secara
f.     Monitor pola tidur dan
mandiri lamanya tidur/istirahat pasien
c.    Keseimbangan aktivitas dan
g.    Kolaborasikan dengan
istirahat Tenaga Rehabilitasi Medik
d.    Mampu berpindah dengan dalam merencanakan progran
atau tanpa bantuan alat terapi yang tepat.
e.    Level kelemahan h.    Bantu klien untuk
f.     Energy psikomotor mengidentifikasi aktivitas
g.    Status kardiopulmonary yang mampu dilakukan
adekuat i.      Bantu untuk memilih
h.    Sirkulasi status baik aktivitas konsisten yang
i.      Status respirasi : pertukaran sesuai dengan kemampuan
gas dan ventilasi adekuat fisik, psikologi dan sosial
j.      Bantu untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas
yang diinginkan
k.    Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
l.      Bantu untuk 
mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
m.   Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
n.    Bantu pasien/ keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
o.    Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas
p.    Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
q.    Monitor respon fisik, emosi,
sosial dan spiritual
3.    Ketidakseimbangan NOC: NIC :
nutrisi kurang dari
a.    Nutritional status: Adequacy Nutrition Managemen
kebutuhan tubuh of nutrient a.    Kaji adanya alergi makanan
Berhubungan b.    Nutritional Status : food and
b.    Kolaborasi dengan ahli gizi
dengan : Fluid Intake untuk menentukan jumlah
Ketidakmampuan c.    Nutritional Status : nutrient kalori dan nutrisi yang
untuk memasukkan intake dibutuhkan pasien
atau mencerna nutrisi
d.    Weight Control c.    Anjurkan pasien untuk
oleh karena faktor meningkatkan intake Fe,
biologis, psikologis Setelah dilakukan tindakan Vitamin C dan Protein
atau ekonomi. keperawatan selama….nutrisi
d.    Berikan substansi gula
kurang teratasi e.    Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat
Kriteria hasil : untuk mencegah konstipasi
a.    Adanya peningkatan BB
f.     Berikan makanan yang
sesuai dengan tujuan terpilih ( sudah
b.    BBI sesuai dengan tinggi dikonsultasikan dengan ahli
badan gizi)
c.    Mampu mengidentifikasi
g.    Ajarkan pasien bagaimana
kebutuhan nutrisi membuat catatan makanan
d.    Tidak ada tanda- tanda harian.
malnutrisi h.    Monitor jumlah nutrisi dan
e.    Menunjukkan penigkatan kandungan kalori
fungsi pengecapan dari
i.      Berikan informasi tentang
menelan kebutuhan nutrisi
f.     Tidak terjadi penurunan BB
j.      Kaji kemampuan pasien
yang berarti untuk mendaptakn nutrisi
yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring:
a.    BB pasien dalam batas
normal
b.    Monitor adanya penurunan
BB
c.    Monitor lingkungan selama
makan
d.    Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa
dilakukan
e.    Monitor interaksi anak atau
orang tua selama makan
f.     Jadwalkan pengobatan  dan
tindakan tidak selama jam
makan
g.    Monitor turgor kulit
h.    Monitor kekeringan, rambut
kusam, total protein, Hb dan
kadar Ht
i.      Monitor mual dan muntah
j.      Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
k.    Monitor intake nuntrisi
l.      Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral
m.   Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

IV. Implementasi
Implementasi keperawatan dilakukan dengan mengacu pada intervensi yang
sudah dibuat namun pada kenyataannya tidak semua intervensi dilakukan,
karena disesuaikan dengan kondisi pasien saat melakukan asuhan keperawatan
dan ketersediaan sarana prasarana penunjang. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan, perawat mencatat tindakan tersebut dan respon dari pasien
dengan menggunakan format khusus pendokumentasian pada pelaksanaan.
V. Evaluasi
Setelah dilakukan implementasi keperawatan, maka hal yang perlu di evaluasi
dari tindakan yang telah kita lakukan yaitu :
 Bersihan jalan nafas efektif
 Pertukaran gas yang adekuat
 Kebutuhan nutrisi dan cairan dapat terpenuhi
 Klien dan keluarga mengetahui tentang kondisi yang dialami dan
penatalaksanaan yang dilakukan

VI. Perencanaan pulang


Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal, anjurkan klien
untuk :
 Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang
harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan.
 Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus
terjadinya sesak
 Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi.
 Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang.
 Meningkatkan nutrisi yang adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

Irman, S. 2008. Asuhan keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem


Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika.

NANDA, NIC- NOC. 2013.  Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnose Medis &
NAND, NIC- NOC. Jakarta: Media Action Publishing.

Price, Sylvia.,& Wilson, Lorraine. 2001. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Smeltzer, Suzanne C., et all. 2008. Brunner Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical


Nursing. 11th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins

Tamsuri, Anas. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Pernafasan. Jakarta: EGC.

Tim PDPI. 2008. Diagnosis dan Tatalaksana Kegawatdaruratan Paru. Jakarta: Sagung Seto