Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh Alih Kode dan Campur Kode

pada Kanal Youtube “Nihongo


Mantappu” Terhadap Eksistensi
Pemakaian Bahasa Indonesia di Era
Globalisasi
Annisa Fitriana Sabilla
Universitas Sebelas Maret
Annisa9309@gmail.com
ABSTRACT

Language learning can’t be separated from the social system of the language user
community.Various phenomena of language emerged in society as a result and
development of the era of globalization and digitalization. One of the manifestations is
through an easy and varied social media. The purpose of this research is to reveal the
phenomenon of code mixing and code switching in the videos on the YouTube channel
“Nihongo Mantappu”, and to link it with the existence of the Indonesian language in this
era’s (young generation). This research was conducted using a qualitative method. Data
sources used were three channel videos of “Nihongo Mantappu” entitled Wow Bangga.
Band Indonesia Konser di Jepang, Ramen Seafood Terenak di Jepang, dan Pertama Kali
Ikut Simulasi Konferensi PBB. These conclusions and research are the existance of code
switching and code mixing in speech acts or language now has become commonplace.
However, on the other hand this phenomenon is also make the existance of the use of
Indonesian language that is good and right in the community gradually disappear.

Keywords
Code mixing, code switching, existance of Indonesia language, Nihongo Mantappu.

ABSTRAK

Pembelajaran bahasa tidak bisa luput dari sistem sosial masyarakat pengguna bahasa
tersebut. Beragam fenomena berbahasa muncul di masyarakat sebagai akibat dari
perkembangan era globalisasi dan digitalisasi. Salah satu wujudnya adalah melalui media
sosial yang mudah dan beragam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan
adanya fenomena campur kode dan alih kode dalam video-video di kanal youtube
“Nihongo Mantappu”, serta mengaitkannya dengan eksistensi bahasa Indonesia pada
generasi muda era ini. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Sumber data yang digunakan adalah tiga video di kanal “Nihongo Mantappu” berjudul
Wow Bangga. Band Indonesia Konser di Jepang, Ramen Seafood Terenak di Jepang, dan
Pertama Kali Ikut Simulasi Konferensi PBB. Simpulan dari penelitian ini adalah adanya
alih kode dan campur kode dalam tindak tutur atau berbahasa sekarang ini sudah
menjadi hal lumrah. Akan tetapi, di lain sisi fenomena ini juga membuat eksistensi
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di masyarakat lama kelamaan mulai
hilang.

Kata Kunci

Alih kode, campur kode, eksistensi bahasa Indonesia, Nihongo Mantappu.

PENDAHULUAN

Bahasa dalam kajian sosiolinguistik memiliki ragam pembahasan yang saling


berhubungan satu dengan lainnya. Tanpa bahasa, manusia tidak dapat
berinteraksi dengan manusia lain serta tidak dapat terjalin hubungan
kekerabatan antara satu dengan yang lain. Maka dapat dinyatakan fungsi utama
bahasa adalah untuk berkomunikasi (Simatupang et al., 2018). Sehubungan
dengan hal itu, Wijana (2010) dalam (Kholidah & Haryadi, 2017) menyatakan
bahwa penelitian tentang sosiolinguis berusaha menerangkan adanya hubungan
variasi penggunaan bahasa dengan faktor sosial, situasional, dan budaya dalam
masyarakat multibahasa. Bekembangnya teknologi informasi pada era sekarang
ini memiliki dampak yang cukup besar terhadap proses komunikasi. Penggunaan
media sosial atau internet sudah menjadi santapan utama dalam proses
berkomunikasi pada era sekarang ini. Berkomunikasi melalui internet melahirkan
adanya istilah baru, yaitu komunitas virtual (Intyaswati & Laura, 2017).

Youtube merupakan suatu situs web video sharing (berbagi video) yang
hadir dalam dunia digital atau media internet saat ini (Fadhal & Nurhajati, 2012).
Tidak butuh waktu lama, youtube sudah menguasai media internet dan
berkembang menjadi salah satu platform atau laman yang paling sering
dikunjungi oleh pengguna internet. Secara tidak langsung, berbagai media
digital ini akan mempengaruhi budaya masyarakat multibahasa untuk secara
sadar maupun tak sadar melakukan alih kode maupun campur kode yang lebih
sering dari sebelumnya. Bahkan, dalam intensitas yang tinggi masuknya campur
kode dan alih kode pada proses komunikasi dapat menjadi sebuah budaya baru
dalam masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu, bertemunya dua bahasa yang
berbeda dalam sebuah situasi tutur sangat besar kemungkinan untuk terjadi.
Proses bertemunya dua bahasa tersebut sering dinamakan sebagai kontak tutur
(Bintara et al., 2017).

Pesatnya teknologi informasi tersebut, berdampak pada eksistensi bahasa


Indonesia sebagai bahasa resmi sekaligus identitas bangsa. Bahasa Indonesia
sendiri memiliki fungsi dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, yaitu
sebagai alat yang memungkinkan terlaksananya pengintegrasian berbagai suku
bangsa yang memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda ke dalam
satu kesatuan kebangsaan yang bulat (Ngelu, 2015). Seringkali, bahasa daerah
maupun bahasa asing dalam ikatannya dengan bahasa Indonesia menimbulkan
masalah, antara lain terjadinya interferensi, integrasi maupun kesalahan dalam
fungsi pemakaiannya (Simatupang, 2018). Berdasarkan hal tersebut, pundarnya
perlahan penggunaan bahasa Indonesia akibat maraknya alih kode dan campur
kode yang semakin marak di masyarakat akan menghambat pula integrasi yang
bisa dilakukan melalui bahasa tersebut. Tidak serta merta hanya berdampak
buruk, platform seperti youtube tersebut dapat digunakan pula untuk kembali
menumbuhkan rasa memiliki terhadap bahasa Indonesia kepada generasi muda
saat ini. Bahkan, sekarang melalui media daring, bahasa Indonesia dapat lebih
dikenal oleh khalayak di seluruh dunia dan menjadi salah satu cara juga untuk
menjaga eksistensinya.

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan deskripsi tentang bentuk


campur kode dan alih kode yang terjadi dalam video di kanal yotube “Nihongo
Mantappu”, sekaligus memaparkan dampak-dampak yang bisa didapat
berdasarkan adanya data yang diperoleh tersebut berkenaan dengan
keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi sehari-hari di
lingkungan masyarakat.

KAJIAN TEORI

Bahasa berperan penting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa proses


komunikasi antar manusia dapat berjalan dengan baik, sehingga pesan atau
informasi yang ingin disampaikan pun dapat diterima dengan tepat. Hal tersebut
dapat dibuktikan dengan terbentuknya kepelbagaian bahasa di dunia yang
masing-masing memiliki ciri-ciri yang unik yang menimbulkan adanya perbedaan
dengan bahasa lainnya (Septia, 2017). Pernyataan tersebut bersesuaian juga
dengan pendapat (Kramsch, 2013), In the dyad ‘language and culture’, language
is not a bunch of arbitrary linguistic forms applied to a cultural reality that can
be found outside of language, in the real world. Bahasa tidak dapat tumbuh
sendiri dalam lingkungan sosial, akan tetapi perlu adanya interaksi antara
penutur sebagai sarana untuk melakukan kontak sosial, yaitu melalui proses
berkomunikasi. Menurut Chaer dan Agustina (2004: 14) bahasa memiliki fungsi
sebagai alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti lain
sebagai alat untuk menyampaikan pikiran, ide atau gagasan, konsep, dan juga
perasaan. Adanya interaksi antar penutur tersebut menunjukkan bahwa dengan
menggunakan bahasa tertentu, pembicara akan dikenali siapa dirinya, dari mana
ia berasa, juga bagaimana hubungannya dengan mitra tuturnya, dalam peristiwa
tutur apa dan bagaimana dia terlibat dalam sebuah komunikasi (Saddhono,
2006).

Bahasa dan sistem sosial dalam masyarakat memiliki banyak objek yang
dapat dipelajari dan saling berkaitan. Pada era global dengan perkembangan
yang cepat ini, banyak orang melakukan pergantian (alternation) kode atau
bahasa, baik alih kode (code switching) maupun campur kode (code mixing)
dalam melakukan komunikasi dengan orang lain (Mustikawati, 2015). Proses alih
kode dan campur kode ini merupakan salah satu variasi kode dalam komunikasi
atau tuturan dalam masyarakat yang menyebabkan penutur dapat menghasilkan
bebrapa pilihan kode tutur berdasarkan situasi yang terjadi dan pengetahuan
komunikatif penutur hingga lawan tutur (Eliya & Zulaeha, 2017). Adanya variasi
kode tersebut memungkinkan penutur suatu bahasa tertentu tidak hanya
menguasai satu bahasa saja, tetapi juga bisa berkomunikasi dengan beberapa
bahasa atau variasi (dialek) satu bahasa (khazanah verbal) (Ramendra, 2013).
Berkenaan dengan itu, kode berdasarkan variasi dalam satu bahasa dapat
dibedakan menjadi bahasa baku dan bahasa non baku (Saddhono, 2012). Dalam
masyarakat multilingual, penggunaan variasi bahasa ini ditetntukan oleh
beberapa faktor. Fishman (dalam Ramendra, 2013) melalui pendekatan sosiologi
ditemukan adanya konteks institusional yang disebut domain sebagai penentu
bagi pilihan-pilihan bahasa yang digunakan saat berkomunikasi. Domain adalah
konstelasi beberapa faktor seperti lokasi, topik dan partisipan.

Menurut (Rohmani et al., 2013), umumnya kecenderungan variasi kode


(alih kode dan campur kode) memungkinkan akan jauh lebih besar untuk terjadi
dalam wacana atau komunikasi lisan. Berdasarkan sudut pandang sosiolinguistik,
dua ragam bahasa Indonesia (formal dan nonformal) memiliki kedudukan yang
sama baiknya; asalkan masing-masing ragam itu digunakan sesuai dengan
konteksnya (Suandi, 2015). Dalam situasi komunikasi yang informal,penutur
cenderung akan dengan bebas mencampur kode (bahasa atau ragam bahasa);
khususnya apabila terdapat istilah-istilah yang tidak dapat diungkapkan dalam
bahasa satu ke bahasa lainnya (Kustriyono & Rochmat, 2015). Pendapat tersebut
memperjelas, bahwa bukan hanya ragam nonformal, akan tetapi gejala variasi
bahasa juga dapat muncul dalam proses komunikasi formal. Variasi bahasa ini
dapat menjurus pada kesalahan yang muncul dalam kegiatan berbahasa, yang
dapat terjadi di berbagai aspek, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan
berbicara, membaca, menulis, dari segi linguistik seperti fonologi, morfologi,
sintaksis, maupun dari segi nonlinguistik yaitu isi dan makna (Saddhono, 2012).

Alih kode dan campur kode merupakan salah satu gejala berbahasa yang
kerap muncul dalam gaya tutur masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan.
Alih kode dapat disebut sebagai suatu fenomena kebahasaan yang bersifat
sosiolinguistik dan merupakan gejala yang umum untuk terjadi dalam
masyarakat dwibahasa atau multibahasa (Susmita, 2015). Fenomena alih kode
ini melibatkan pergantian pemakaian dua kode bahasa atau variasi bahasa. oleh
sebab itu, alih kode dapat terjadi antara dua bahasa yang berlainan, baik yang
serumpun maupun tidak (Indrayani, 2017). Alih kode dibagi menjadi dua bentuk,
diantaranya internal (intern) yaitu apabila alih kode itu terjadi antar bahasa-
bahasa daerah dalam satu lingkup bahasa nasional, atau antar dialek dalam satu
bahasa daerah, atau antar beberapa budaya dan ragam yang terdapat dalam
satu tataran dialek, kemudian alih kode eksternal (ekstern) terjadi apabila alih
kode tersebut terjadi antara bahasa asli dengan bahasa asing. (Aprilliani, 2016).
Berbicara tentang alih kode tidak bisa terlepas dari campur kode, menurut
Kridalaksana (2008:40) (dalam Susmita, 2015) mengungkapkan adanya campur
kode adalah penggunaan dari satu bahasa ke bahasa lainnya yang digunakan
untuk memperluas gaya ragam bahasa yang digunakan dalam percakapan
sehari-hari. Munculnya alih kode dan campur kode dalam tataran tutur ini tidak
serta merta memberikan dampak buruk, bahkan dalam interaksi sosial
seseorang maupun kelompok akan memanfaatkan potensi variasi bahasa yang
berupa alih kode dan campur kode untuk menjaga ikatan kebersamaan dalam
komunitasnya (Nirmala, 2013).

Status bahasa indonesia adalah sebagai bahasa nasional dan bahasa


resmi negara. Oleh karena itu, bahasa Indonesia adalah bahasa yang wajib
digunakan dalam situasi resmi kenegaraan, juga bahasa yang digunakan oleh
masyarakat atau penutur intranegara. Bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional, merupakan salah satu identitas nasional yang harus senantiasa dijaga.
Kemudian, bahasa daerah adalah sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama bagi
sebagian besar rakyat Indonesia, yaitu bahasa yang dapat digunakan dalam
interaksi di dalam suku, baik dalam situasi resmi maupun kedaerahan (Muklis,
2011). Hal tersebut sudah selayaknya mendapatkan perhatian khusus dari kita
sebagai orang Indonesia. Era globalisasi dan digitalisasi saat ini mempermudah
penyebaran suatu hal atau topik dari satu tempat ke tempat lainnya. Media
sosial merupakan perwujudan wajah era digital, yang membuat pengguna dapat
bertukar informasi, saling berkolaborasi, dan menjalin hubungan pertemanan
dalam wujud tulisan, foto, atau video (Puntoadi, 2011) (dalam Eliya & Zulaeha,
2017). Youtube sebagai salah satu bagian dari media sosial memiliki pengaruh
besar dalam membentuk pola hidup masyarakat. Sekarang ini, hampir semua
orang dapat mengaksesnya dan memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi
informasi melalui platform tersebut. Sebagai bagian dari budaya, bahasa pun
rentan juga terpengaruh oleh globalisasi, terutama dengan semakin mudahnya
pembelajaran maupun maraknya penggunaan bahasa asing di lingkungan sosial.
Hal tersebut bersesuaian dengan pernyataan (Murti, 2016) yang menyatakan
bahwa, bahasa pun tak luput mendapatkan dampak pesatnya perkembangan
tersebut. Oleh karena itu, eksistensi bahasa Indonesia sebagai jati diri dan
identitas bangsa Indonesia khususnya pada era globalisasi sekarang ini, perlu
dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia (Murti, 2016).
Hal tersebut diperlukan supaya bangsa Indonesia tidak terbawa arus terlalu jauh
oleh pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa maupun budaya
bangsa Indonesia (Assapari, 2014).
METODE

Penelitian ini menggunakan metode analisis data dan pendekatan deskriptif


kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitataif dilakukandengan mendeskripsikan
data secara sistematis, rinci, dan mendalam. Hal ini bersesuaian dengan data
yang akan dianalisis, yaitu berupa video yang harus diperhatikan secara
sistematis. Data yang digunakan dalam ini adalah tiga video di kanal “Nihongo
Mantappu” berjudul Wow Bangga. Band Indonesia Konser di Jepang (V1), Ramen
Seafood Terenak di Jepang (V2), dan Pertama Kali Ikut Simulasi Konferensi PBB
(V3) sebagai sumber data. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi adanya
gejala bahasa, yaitu alih kode dan campur kode yang dapat memberikan
pengaruh terhadap eksistensi bahasa Indonesia oleh para penuturnya di era
glogalisasi dan digitalisasi saat ini. Selain itu, cara yang dilakukan untuk
mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik analisis
dokumen (content analysis). Dokumen di sini berupa video yang telah ada pada
kanal YouTube “Nihongo Mantappu”.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gejala campur kode dan alih kode pada tiga video yang dipilih dari kanal
youtube “Nihongo Mantappu” melibatkan pemakaian bahasa Indonesia, Jepang
dan Inggris. Bahasa Indonesia adalah bahasa dominan atau bahasa dasar yang
digunakan oleh penutur dalam ketiga video tersebut. Adanya alih kode dan
campur kode ini disebabkan tuntutan penguasaan bahasa asing dalam suasana
atau kondisi tersebut, serta untuk menyesuaikan diri dengan lawan tutur
sehingga dapat mengali lebih banyak informasi tentang lawan tutur yang
beberapa tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Berikut data alih kode dan campur kode yang diperoleh dari hasil analisis
terhadap data ketiga video tersebut.

a. Campur kode

NO Menit Video Percakapan

1 (V3. 8:02) Jerome : “Nah, guys jadi hari ini tadi kaliah
udah lihat kalau kita disuruh diskusi kan.
Diskusi itu menghasilkan kertas yang
namanya draft of resolution. Nah, jadi isinya
adalah resolusi yang kita buat untuk
mengatasi masalah child soldiers.”

2 (V3. 11:39) Jerome : “Nanti malam ada closing ceremony,


jadi nanti ada performance dari negara
masing-masing gitu.”

3 (V3. 2:51) Jerome : “See you guys, besok di hari kedua


kita bakal beneran ikut konferensinya.”

4 (V2. 3:58) Jerome: “Oke, guys jadi kita mau pesan


makanan. Which one?”
Tomo : “Shoyu”

5 (V2. 4:45) Jerome: “Wow, mizu no aji. Its taste like


water.”
Tomo : “Of course”

6 (V1. 3:05) Jerome: “guys, jadi kita boleh ke backstage


dan bisa kenalan sama peserta-peserta
konser yang bakal tampil.”

7 (V1. 11:04) Jerome: “Buat kalian semua yang sudah


nonton, Arigatou Gozaimashita”

Hasil analisis tiga video tersebut ditemukan adanya campur kode ke luar,
atau dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris seperti yang terjadi pada
data percakapan nomor 2, atau bahasa Jepang seperti dalam data percakapan
nomor 7. Campur kode yang terjadi dalam ketiga video tersebut dilakukan untuk
memperjelas topik pembicaraan dengan lawan tutur dan pengaruh budaya asing
yang diperoleh penutur, mempengaruhi gaya berbahasa yang digunakannya.
Selain itu, konteks tutur yang nonformal dalam video ini juga menjadi salah satu
penyebab banyak ditemukannya gejala campur kode.

b. Alih Kode

NO Menit Video Percakapan

1 (V3 . 9:37) Jerome : “Ya, guys hari ini kita sudah siap
pakai batik. And we are going to the place.
Hai, this is Emanuela from?
Emanuela : “South Sudan”
Jerome : “And this is Diana from?”
Diana : ”Filipine”

2 (V2. 9:00) Jerome: “This is the seaweed and then this is


the wakame. Kayak gini, jadi ini bukan
rumput laut, ini nanti dicemplungin di supnya
enak banget”

3 (V2. 12:38) Jerome: “Oke, guys. So, that over today.


Mitekurete, Arigatou Gozaimashita.”
4 (V1. 12:45) Jerome: “Nande Indonesia got ichi masta?”
Saya : “Nande?. Karena waktu aku belajar di
Singapura, aku kenal orang Indonesia”

Cuplikan data yang ditampilkan merupakan bentuk alih kode ekternal,


yaitu dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, dari bahas Inggris ke bahasa
Jepang dan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jepang. Gejala alih kode yang
terjadi di sini, menunjukkan adanya pihak ketiga dalam proses komunikasi. Alih
bahasa ini dilakukan karena lawan tutur tidak fasih atau paham berbahasa
Indonesia, oleh karena itu perlu adanya bahasa pengantar yang mereka paham.
Alih kode ini juga digunakan penutur untuk memperoleh atau memberikan
informasi yang lebih jelas kepada lawan tutur, juga dapat menunjukkan
kompetensi penutur dalam ranah tuturan yang sedang dilakukan.

SIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat diberikan kesimpulan bahwa adanya pengaruh
pemakaian bahasa Indonesia di era globalisasi dapat ditularkan melalui media
sosial, khususnya youtube. Gejala variasi bahasa (alih kode dan campur kode)
yang muncul dalaam analisis video kanal youtube “Nihongo Mantappu” sebagian
besar merupakan gejala variasi bahasa eksternal atau ke luar. Hal ini karena
menggunakan bahasa asing di luar bahasa Indonesia sebagai bahasa dasar atau
disebut juga bahasa pengantar dalam video tersebut. Adanya alih kode dan
campur kode yang terdapat dalam video tersebut didorong oleh berbagai faktor,
antara lain berkaitan dengan pribadi pembicara yang berupa latar belakang
sosial budaya, lawan tutur, fungsi dan tujuan pembicaraan, dan konteks
pembicaraan. Adanya campur kode juga didorong oleh faktor yang meliputi
hubungan penutur dengan lawan tutur, kosakata dalam bahasa Indonesia yang
tidak dapat menjelaskan maksud, serta situasi tutur.

Banyaknya alih kode dan campur kode yang ditemukan dalam video ini,
dapat mempengaruhi pola komunikasi atau terjadinya variasi yang sama juga
dalam masyarakat. Akan tetapi, dapat pula menjadi salah satu cara
memperkenalkan Indonesia khususnya bahasanya kepada khalayak dunia. Pada
tahap selanjutnya penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi
terkait gejala bahasa dan meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap bahasa
Indonesia, supaya bisa mempertahankan eksistensinya seiring perkembangan
zaman.

REFERENSI
Assapari, M. (2014). Eksistensi Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Nasional
Dan Perkembangannya Di Era Globalisasi. Jurnal Bahasa, Seni dan
Pengajarannya, 9(18): 29-37. doi: 10.23887/prasi.v9i18.8943

Aprilliani, S. (2016). Alih Kode dan Campur Kode dalam Vidgram D_Kadoor
dalam Ranah Sosiolinguistik. Jurnal BALAPA, 5(2) : 1-8.
Jurnalmahasiswa.unesa.ac.id

Bintara, F., Saddhono, K., Purwadi. (2017). Alih Kode dan Campur Kode dalam
Pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Gunung Kidul.
Jurnal Basastra, 5(1) : 77-91. Jurnal.fkip.uns.ac.id

Chaer, A., Agustina, L. (2004). Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta :


Rineka Cipta.

Eliya, I., Zulaeha, I. (2017). Pola Komunikasi Politik Ganjar Pranowo dalam
Perspektif Sosiolinguistik di Media Sosial Instagram. Jurnal Seloka, 6(3):
286-296. Journal.unnes.ac.id

Indrayani, N. (2017). Penggunaan Campur Kode Dan Alih Kode Dalam Proses
Pembelajaran Di SMPN Ubung Pulau Buru. Jurnal Totobuang, 5(2) : 299-
314. doi: 10.26499/ttbng.v5i2.40

Intyaswati, D., Laura, R. (2017). Peningkatan Eksistensi Blogger Melalui


Komunitas Virtual. Jurnal Messenger, 9(2) : 210-218.
doi.org/10.26623/themessenger.v9i.389

Fadhal, S., Nurhajati, L. (2012). Identifikasi Identitas Kaum Muda di Tengah


Media Digital (Studi Aktivitas Kaum Muda Indonesia di Youtube). Jurnal Al-
Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, 1(3) : 176-200. Journal.uai.ac.id

Kramsch, C. (2013). Culture In Foreign Language Teaching. Iranian Journal of


Language Teaching Research, 1(1) : 57-78

Kholidah, U., Haryadi. (2017). Wujud Pilihan Kode Tutur Mahasiswa Aceh pada
Ranah Pergaulan di Semarang. Jurnal Seloka, 6(2) : 208-217.
Journal.unnes.ac.id

Kustriyono, E., Rochmat, M. (2015). Alih Kode Dan Campur Kode Percakapan
Mahasiswa Di Perpustakaan Universitas Pekalongan. Jurnal Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi, 25(2) : 7-17.
doi.org/10.31941/jurnalpena.v25i.97

Muklis, M. (2011). Pengajaran Bahasa Dalam Prespektif Sosiolinguistik. Jurnal


Dinamika Ilmu, 11(1) : 1-12. doi.org/10.21093/dl.v11i1.47
Murti, S. (2016). Eksistensi Penggunaan Bahasa Indonesia di Era Globalisasi.
Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB, 18(1) : 177-184.

Mustikawati, D. (2015). Alih Kode dan Campur Kode Antara Penjual dan
Pembeli (Analisis Pembelajaran Berbahasa Melalui Studi Sosiolinguistik).
Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pengajaran, 3(2) : 23-32. doi :
10.24269/dpp.v2i2.154

Ngelu, M. (2015). Eksistensi Bahasa Indonesia Di Mata Dunia Pada Era MEA.
Jurnal Publikasi Ilmiah, 157-160. hdl.handle.net/11617/6356

Nirmala, V. (2013). Alih Kode Dan Campur Kode Tuturan tukul Arwana Pada
Acara “Bukan Empat Mata”. Jurnal Kajian Bahasa, 2(2)-10-23.
doi.org/10.26499/mh.v2i2.232

Ramendra, D P. (2013). Variasi Pemakaian Bahasa Pada Masyarakat Tutur


Kota Singaraja. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2) : 275-287.
doi.org/10.23887/jish-undiksha.v2i2.2185

Rohmani, S., Fuady, A., Anindyarini., A. (2013). Analisis Alih Kode Dan Campur
Kode Pada Novel Negeri 5 Menara Karya Ahmad Fuadi. Jurnal Basastra,
2(1) : 1-16. Jurnal.fkip.uns.ac.id

Saddhono, K. (2006). Bahasa Etnik Madura Di Lingkungan Sosial: Kajian


Sosiolinguistik Di Kota Surakarta. Jurnal Publikasi Ilmiah, 8(34) : 1 – 15.

Saddhono, K. (2012). Kajian Sosiolingustik Pemakaian Bahasa Mahasiswa


Asing Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing (BIPA)
Di Universitas Sebelas Maret. Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, 2(2) :
176-186. doi : 10.23917/kls.v24i2.96

Saddhono, K. (2012). Bentuk dan Fungsi Kode Dalam Wacana Khotbah Jumat
(Studi Kasus di Kota Surakarta). Jurnal Adabiyyat, 11(1) :72-92.
doi.org/10.14421/ajbs.2012.11104

Septia, E. (2017). Bahasa Pedagang Etnis Cina Dalam Interaksi Jual Beli Di
Pasar Pondok Kota Padang: Kajian Sosiolinguistik. Jurnal Gramatika, 3(1) :
1-8. doi: 10.22202/JG.2017.V3i1.1232

Simatupang, R., Rohmadi, M., Saddhono, K. (2018). Alih Kode dan Campur
Kode Tuturan di Lingkungan Pendidikan. Jurnal Lingtera, 5(1) : 1-9. doi.org/
10.21831/lt.v5i.19198

Simatupang, R., Rohmasi, M., Saddhono, K. (2018). Tuturan dalam


Pembelajaran Bahasa Indonesia (Kajian Sosiolinguistik Alih Kode dan
Campur Kode). Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, 3(2) : 119-130. doi.org/
10.23917/kls.v3i2.5981

Suandi, I. (2015). Analisis Pemakaian Bahasa Indonesia pada Laporan


Penelitian Dosen di Lingkup Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal
Pendidikan Indonesia, 3(2) : 437-445. doi.org/10.23887/jpi-
undiksha.v3i2.4460

Susmita, N. (2015). Alih Kode Dan Campur Kode Dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia Di SMP Negeri 12 Kerinci. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri
Humaniora, 17(2) : 87-98. Online-journal.unja.ac.id