Anda di halaman 1dari 14

HEMATOLOGI 1

PEMERIKSAAN RESISTENSI OSMOSIS ERITROSIT

Disusun Oleh :
Sukma Bakti (P27903219019)
Yuli Permatasari (P27903219022)

POLTEKKES KEMENKES BANTEN TEKNIK LABORATORIUM MEDIS


September, 2020

Jl. Dr. Sitanala, Komplek SPK Keperawatan Tangerang, RT.002/RW.003, Karang


Sari, Kec. Neglasari, Kota Tangerang, Banten 11610
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat Rahmat dan Karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan Makalah
Hematologi 1 dengan judul “Pemeriksaan Tekanan Osmosis Eritrosit” ini
dengan tepat waktu.

Dari penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa tiada gading


yang tak retak. Begitupulah kami, manusia biasa yang tidak luput dari
kesalahan. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun daripada semua
pihak sangatlah kami perlukan agar penyusunan makalah selanjutnya dapat
lebih baik lagi daripada makalah yang sekarang ini.

Tangerang, 06 September 2020


Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... i


Daftar Isi................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
1.3 Tujuan Umum ................................................................................................. 2
1.4 Tujuan Khusus ................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Fungsi Pemeriksaan Tekanan Osmosis............................................................ 3
2.2 Masalah Klinis Fragilitas Eritrosit .................................................................. 3
2.3 Faktor Fragilitas Eritrosit ................................................................................ 4
2.4 Tujuan, Metode, Prinsip Dan Prosedur Pemeriksaan Osmotik Eritrosit ......... 6
2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium ...................................... 9

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 10
3.2 Saran ............................................................................................................... 10
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Eritrosit merupakan suatu komponen utama darah setelah leukosit, trombosit
dan plasma (Oliveira & Saldanha, 2009). Sel darah tersebut dihasilkan melalui
proses hematopoiesis dalam sumsum tulang. Retikulosit, yang merupakan bentuk
prematur dari eritrosit, akan mengalami maturasi dan membentuk sel darah merah
berdiameter 8 µm yang berbentuk diskus bikonkaf dengan usia sel 120 hari
(Pasini, Kirkegaard, Mortensen, Lutz, Thomas, & Mann, 2006)
Membran plasma eritrosit bersifat permeable terhadap molekul air (H2O).
Hal ini oleh sebab adanya transport protein AQP1 (Mathai et al, 1996; Smith et al,
1994, Umenishi and Verkman, 1998) . Sel darah merah yang dimasukkan dalam
larutan hipertonis akan mengalami krenasi (pengerutan) sel karena lebih banyak
air yang keluar sel daripada yang masuk. Demikian sebaliknya, apabila eritrosit
berada dalam lingkungan yang hipotonis, maka osmosis akan terjadi dari luar ke
dalam sel yang akan menyebabkan sel akan menggembung. Apabila membran
plasma tidak dapat menahan tekanan tinggi intrasel tersebut oleh sebab
tercapainya critical volume, maka sel akan pecah dan hemoglobin akan
dilepaskan (Paleari & Mosca, 2008).
Tes fragilitas osmotik menilai kejadian lisis eritrosit akibat adanya osmotic
stress. Tingkat fragilitas osmotik eritrosit dipengaruhi oleh perbandingan luas
permukaan sel terhadap volume sel. Peningkatan fragilitas osmotik dapat
ditemukan pada sferositosis. Pada keadaan ini sel mengalami penurunan
perbandingan luas permukaan terhadap volume sel. Hal ini menyebabkan sel
sferosit tidak dapat mengembang seefektif eritrosit diskoid normal dan menjadi
lebih rentan terhadap tekanan osmotik. Peningkatan fragilitas osmotik juga dapat
ditemukan pada anemia hemolitik autoimun (Paleari & Mosca, 2008), pasca
transfusi (inkompatibilitas ABO 2 dan Rhesus), toksisitas obat atau zat kimia,
leukemia limfositik kronis, dan luka bakar. Pada keadaan talasemia (mayor dan
minor), anemia (defisiensi besi, asam folat, B6), polisitemia vera, post
splenektomi, nekrosis hati akut dan subakut, dan ikterik obstruktif, fragilitas
eritrosit menurun. Tes skrining yang paling sering digunakan untuk penilaian
penurunan fragilitas eritrosit, seperti pada talasemia, adalah tes fragilitas
(Wiwanitkit, 2009), contohnya One Tube Osmotic Fragility Test (OTOFT).
Akibat adanya gangguan struktural dan biokimia dari eritrosit yang mengalami

1
keadaan-keadaan patologis di atas, hampir dapat dipastikan bahwa terdapat
perubahan morfologi sel, yang dapat ditinjau lebih lanjut menggunakan
pemeriksaan sediaan apus darah tepi (SADT). Seberapa erat hubungan antara
perubahan fragilitas eritrosit dengan SADT eritrosit masih sangat layak untuk
diteliti dengan tujuan untuk melihat apakah terdapat korelasi antara keduanya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mengetahui fungsi pemeriksaan tekanan osmosis eritrosit
2. Mengetahui masalah klinis fragilitas eritrosit
3. Mengetahui faktor fragilitas eritrosit
4. Mengetahui metode, prinsip dan prosedur pemeriksaan tekanan osmosis
eritrosit
5. Mengetahui faktor yang mempengaruhi temuan laboratorium

1.3 Tujuan Umum


Menjelaskan pemeriksaan tekanan osmosis eritrosit

1.4 Tujuan Khusus


1. Memahami fungsi pemeriksaan tekanan osmosis eritrosit
2. Memahami masalah klinis fragilitas osmotik
3. Mengetahui faktor fragilitas eritrosit
4. Memahami metode, prinsip dan prosedur pemeriksaan tekanan osmosis
eritrosit
5. Memahami faktor yang mempengaruhi temuan laboratorium

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Fungsi Pemeriksaan Tekanan Osmosi


Pemeriksaan resistensi osmotik (Dahan tahan osmotik) atau osmotic fragility
test digunakan untuk membantu dalam menentukan tipe-tipe dari jenis anemia.
Caranya adalah sebagi berikut: eritrosit dilarutkan dalam larutan salin dengan
berbagai konsentrasi. Jika terjadi hemolisis pada larutan salin yang sedikit
hipotonis, keadaan ini dinamakan peningkatan fragilitas eritrosit (penurunan
resistensi/daya tahan eritrosit), dan apabila hemolisis terjadi pada larutan salin
yang sangat hipotonis, keadaan ini mengindikasikan penurunan fragilitas osmotik
(peningkatan resistensi eritrosit).
Hemoglobin keluar dari sel pada masing-masing tabung yang berisi larutan
NaCl yang kadarnya berbeda-beda. Kadar Hb kemudian ditentukan secara
fotokolorimetrik. Hasilnya dilaporkan dalam persentase (%) hemolisis. Kumpulan
hasil-hasil hemolisis diplot dalam suatu kurva dibandingkan dengan data eritrosit
normal. Pada keadaan peningkatan fragilitas, eritrosit biasanya berbentuk sferis,
dan kurva tampak bergeser ke kanan. Sedangkan pada penurunan fragilitas,
eritrosit berbentuk tipis dan rata, kurva tampak bergeser ke kiri.

2.2 Masalah Klinis Fragilitas Eritosit


A. Penurunan Fragilitas Eritrosit
 Talasemia mayor dan minor (anemia Mediterania atau anemia Cooley)
 Anemia (defisiensi besi, defisiensi asam folat, defisiensi vit B6, sel sabit)
 Penyakit hemoglobin C
 Polisitemia vera
 Post splenektomi
 Nekrosis hati akut dan sub akut
 Ikterik obstruktif.

B. Peningkatan Fragilitas Eritrosit


 Sferositosis herediter
 Transfusi (inkompatibilitas ABO dan Rhesus)

3
 Anemia hemolitik autoimun (AIHA)
 Penyakit hemoglobin C
 Toksisitas obat atau zat kimia
 Leukemia limfositik kronis
 Luka bakar (termal).

2.3 Faktor Fragilitas Eritrosit

Indeks fragilitas osmosa sel darah merah dipengaruhi oleh lingkungan,


keadaan fisiologis, dan patologis. Sel darah merah seseorang secara alamiah
telah dilengkapi kemampuan untuk mengkompensasi hal-hal semacam itu
(Chikezie, Uwakwe, Monago,2009).
Secara spesifik, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fragilitas eritrosit
adalah sebagai berikut:

1. Kondisi fisiologis
Fragilitas osmotik eritrosit neonatus lebih tinggi daripada pada usia anak
maupun dewasa. Temuan sel darah pada aliran darah vena dan cadangan
darah (stored blood) sering kali memiliki fragilitas yang meninggi. Peristiwa
meningkatnya temperatur tubuh juga menyebabkan eritrosit menjadi lebih
fragile.

2. Kondisi patologis
Pada pengidap kelainan sferositosis, baik kelainan herediter maupun
didapat, ditemukan angkat fragilitas osmotik yang tinggi pada sel darah
merahnya. Seseorang yang terkena bisa ular viper dan krait juga akan
mengalami peningkatan fragilitasosmotik eritrosit. Sebaliknya, sel darah
merah pengidap anemia hipokromik menunjukkan penurunan fragilitas
dan tidak mengalami hemolisis sampai konsentrasi larutan garam yang lebih
rendah tercapai.

3. Morfologi sel darah merah


Fragilitas osmotik berhubungan dengan bentuk eritrosit. Bentuk eritrosit
sendiri bergantung pada luas permukaan, volume, dan keadaan
fungsional membran sel. Resistensi membran sel eritrosit berkaitan dengan
konfigurasi geometrisnya, eritrosit yang sferis (sferosit) mendemonstrasikan
peningkatan hemolisis, sementara eritrosit yang pipih (sickle cell atau
sel target) mendemonstrasikan penurunan hemolisis. Eritrosit hipokromik

4
mengandung lebih sedikit hemoglobin, hal ini memberikan daya regang yang
lebih luas sebelum membran sel ruptur.

4. Usia Organisme Inang


Penelitian yang dilakukan Bowdler dan Dougherty (dalam Bowdler,
Dougherty,2006) menguji fragilitas osmotik dan dimensi eritrosit pada 40
pria normal dengan rentang usia antara 18 sampai 78 tahun. Prinsip variabel
bebas yang berkorelasi denganfragilitas osmotik adalah konsentrasi
hemoglobin dan usia donor. Efek usia donor menunjukkan peningkatan baik
terhadap fragilitas sel maupun variabilitas dari fragilitas sel dalam sampel
darah masing-masing. Perubahan yang muncul pada bentuk tidak banyak
mempengaruhi perfusi kapiler subjek secara signifikan, tetapi diduga kuat
bentuk sel juga akan meningkatkan kerentanan eritrosit milik donor lanjut usia
pada abnormalitas mikrovaskular.

5. Usia Sel Darah Merah


Tekanan osmosa di dalam sel darah merah sama dengan tekanan osmosa
larutanNaCl 0,9%. Bila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan 0,8%
belum terlihatadanya hemolisa, tetapi sel darah merah yang dimasukkan ke
dalam laruan NaCl 0,4%hanya sebagian saja dari sel darah merah
yang mengalami hemolisa, sedangkansebagian sel darah merah yang
lainnya masih utuh. Perbedaan ini disebabkan karenaumur sel darah merah,
sel darah merah yang sudah tua membran selnya mudah pecahsedangkan sel
darah merah muda membran selnya masih kuat.

6. pH darah
Fragilitas eritrosit juga dipengaruhi oleh pH darah dalam larutan
hipotonis.Perubahan pH sebesar 0,1 setara dengan perubahan konsentrasi
NaCl sebesar 0,1%.Pada umumnya, fragilitas eritrosit akan menurun apabila
terjadi peningkatan pH darah(Adoe, 2006).

7. Paparan sinar matahari


Eritrosit pada subyek yang sering terpapar sinar matahari relatif
kurang fragildibanding eritrosit pada subyek yang jarang terpapar sinar
matahari (Adoe, 2006). Akantetapi di sisi lain sinar ultraviolet yang terdapat
dalam sinar matahari dapat membentukkomponen radikal bebab yang bisa
menyebabkan lisisnya membran eritrosit. Paparansinar ultraviolet dari
matahari dapat menyebabkan terbentuknya molekul oksigen singlet(O2),

5
radikal superoksida (O2), hidrogen peroksida (H2O2), radikal peroksil
(ROO°), danradikal hidroksil (OH°). Radikal hidroksil (OH°) merupakan
oksidan yang paling toksik karena dapat bereaksi dengan bermacam-macam
senyawa yang terkandung dalam sel seperti protein, asam nukleat, lipid dan
lain-lain sehingga dapat dengan mudah dan cepat merusak struktur sel.
Membran sel eritrosit merupakan komponen yang rentan terhadap serangan
radikal hidroksil (OH°). Reaksi kimia antara radikal hidroksil (OH°) dengan
protein dapat mempercepat terjadinya proteolysis. Pada membran
eritrosit peristiwa ini memicu terjadinya lisis dan kematian eritrosit. Hal ini
menyebabkan keluarnya hemoglobin dari dalam eritrosit dan dapat berlanjut
menjadi anemia (Adoe,2006).

2.4 Tujuan, Metode, Prinsip Dan Prosedur Pemeriksaan Osmotik Eritrosit


 Tujuan
Untuk mengetahui ketahanan membrane eritrosit terhadap larutan hipotonik.

 Metode
Sanford

 Prinsip
Eritrosit dimasukan ke dalam berbagai pengenceran larutan NaCl
0,5%sehingga eritrosit membengkak dan hemolis.

 Alat Dan Bahan


Alat :
- Tabung Reaksi
- Rak Tabung Reaksi
- Pipet Tetes
Bahan :
- Darah EDTA (1 ml darah vena: 10 uL
- LarutanEDTA 10%
- Larutan NaCl 0,5%
- Aquadest

 Cara Kerja
1. Siapkan tabung reaksi sebanyak 12 tabung

6
2. Kedalam tabung reaksi tersebut dimasukkan 25, 24, 23,22, 21, 20, 19, 18,
17, 16, 15 dan 14 tetes larutan NaCl 0,50%
3. Kemudian ditambahkkan aquadest 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,10 dan 11 tetes
sehinggamasing-masing tabung menjadi 25 tetes (konsentrasinya menjadi
0,50% ; 0,48% ; 0,46% ; 0,44% ; 0,42% ; 0,40% ; 0,38% ; 0,36% ; 0,34% ;
0,32% ; 0,30% dan 0,28%)
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
NaCl 0,5%
25 24 23 22 21 20 19 18 17 16 15
(tetes)
Aquadest 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Konsentrasi
0,50% 0,48% 0,46% 0,44% 0,42% 0,40% 0,38% 0,36% 0,34% 0,32% 0,30%
Larutan (%)

4. Ke dalam masing-masing tabung ditambahkan sebanyak 1 tetes darah


EDTA
5. Masing-masing tabung dikocok perlahan-lahan sampai merata
6. Tabung diinkubasi selama 2 jam dalam suhu kamar
7. Hasil pemeriksaan dibaca mulai dari terjadinya hemolisis dan hemolisis
total ( resistensi minimal dan resistensi maksimal)

 Pembacaan
Perhatikan warna dan intensitasnya serta endapan eritrosit yang ada pada dasar
tabung.

- HEMOLISIS :
Peristiwa yang terjadi pada kondisi hipotonik, eritrosit tidak mampu
menahan tekanan sejumlah air yang masuk sehingga membran eritrosit
pecah dan hemoglobin keluar mewarnai larutan sekelilingnya menjadi
berwarna merah.

- PERMULAAN HEMOLISIS :
Ditandai dengan terdapatnya cairan berwarna merah dibagian atas pada
tabung yang pertama kali dan pada dasar tabung terdapat endapan eritrosit.

- HEMOLISIS TOTAL :

7
Ditandai dengan cairan seluruhnya berwarna merah dan tidak ada gumpalan
eritrosit di dasar tabung.

- RESISTENSI MINIMAL :
Permulaan hemolisis dari eritrosit dalam cairan dengan konsentrasi NaCl
tertinggi.

- RESISTENSI MAKSIMUM
Hemolisis total dari eritrosit dalam cairan dengan konsentrasi NaCl tertinggi

 Nilai Normal
- Resistensi maksimal : 0,32 % – 0,36%
- Resistensi minimal : 0,42 % – 0,46%

 Hasil Pengamatan

1 2 3 4 5 6

0,50% 0,48% 0,46% 0,44% 0,42% 0,40%

7 8 9 10 11 12

0,38% 0,36% 0,34% 0,32% 0,30% 0,28%

- RESISTENSI MINIMAL : (0,42% - 0,46%)


Permulaan hemolisis dari eritrosit dalam cairan dengan konsentrasi NaCl
tertinggi.

- RESISTENSI MAKSIMUM : (0,32% - 0,36%)


Hemolisis total dari eritrosit dalam cairan dengan konsentrasi NaCl tertinggi

2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium

8
 pH plasma, suhu, konsentrasi glukosa, dan saturasi oksigen pada darah.
 Eritrosit yang berumur lama cenderung memiliki fragilitas osmotik yang
tinggi.
 Sampel darah yang diambil lebih dari 3 jam dapat menunjukkan peningkatan
fragilitas osmotik.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diketahui Fragilitas osmotic sel darah merah
dinyatakan sebagai tingkat kerentanan ruptur membran sel darah (hemolisa)
saat terpapar zat yang hipotonik. Ketika sel darah merah berada di tengah
larutan hipotonik, air akan terhisap masuk ke dalam sel. Hal ini
disebabkan oleh adanya gradien tekanan osmotik di dalam dan di luar sel.
Akibatnya sel darah menjadi lebih sferis dan membran sel tertekan oleh cairan di
dalam sel. Ketahanan membran eritrosit terhadap terjadinya hemolisis dapat
diketahui dengan mencampurkan eritrosit ke dalam larutan hipotonis
(NaCl) dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Larutan hipotonis dengan
konsentrasi tertentu dapat menyebabkan rupturnya eritrosit atau hemolisis.
Keadaan ini disebut dengan fragilitas eritrosit

3.2 Saran
Oleh karena pemeriksaan fragilitas ostmotik eritrosit penting unruk mengetahui
tingkat kerentanan ruptur membrane sel darah merah.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Adoe, Desmiyati Natalia. 2006. “Perbedaan Fragilitas Eritrosit Antara Subyek


yang Jarang dengan yang Sering Terpapar Sinar Matahari.” Program
Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro.
2. Chikezie, P., Chikezie, C., Uwakwe, A., & Monago, C. (2010). Comparative
Study of Glutathione S-Transferase Activity of Three Human Erythrocyte
Genotypes Infected With Plasmodium falciparum. Journal of Applied
Sciences and Environmental Management, 13(3).
doi:10.4314/jasem.v13i3.55343
3. Mosca, A., Paleari, R., Galanello, R., Sollaino, C., Perseu, L., Demartis, F. R.,
… Maggio, A. (2008). New analytical tools and epidemiological data for the
identification of HbA2 borderline subjects in the screening for beta-
thalassemia. Bioelectrochemistry, 73(2), 137–140.
doi:10.1016/j.bioelechem.2008.04.010
4. Oliveira, Sofia de, saldanha, Carlota. An Overvise about Erytrocyte
Membrane 2009 Clinical Hematology and Microcirculation.
5. Pasini, E. M. (2006). In-depth analysis of the membrane and cytosolic
proteome of red blood cells. Blood, 108(3), 791–801. doi:10.1182/blood-
2005-11-007799
6. Umenishi, F., & Verkman, A. S. (1998). Isolation and Functional Analysis of
Alternative Promoters in the Human Aquaporin-4 Water Channel Gene.
Genomics, 50(3), 373–377. doi:10.1006/geno.1998.5337
7. Wiwanitkit V. Primary prevention of diabetic retinopathy for the rural
population. J Postgrad Med [serial online] 2009 [cited 2020 Apr 17];55:232-3.

11