Anda di halaman 1dari 14

URINALISA DAN CAIRAN TUBUH

PEMERIKSAAN URIN INDIKASI


(UROBILIN, BILIRUBIN, BENDA KETON, DARAH SAMAR)

Disusun Oleh :
Alvindo Rizky Virgiantara (P27903219002)
Yuli Permatasari (P27903219022)

POLTEKKES KEMENKES BANTEN TEKNIK LABORATORIUM MEDIS


September, 2020

Jl. Dr. Sitanala, Komplek SPK Keperawatan Tangerang, RT.002/RW.003, Karang


Sari, Kec. Neglasari, Kota Tangerang, Banten 11610
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat Rahmat dan Karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan Makalah
Urinalisa Dan Cairan Tubuh dengan judul “Pemeriksaan Urin Indikasi
(Urobilin, Bilirubin, Benda Keton, Darah Samar)” ini dengan tepat waktu.

Dari penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa tiada gading


yang tak retak. Begitupulah kami, manusia biasa yang tidak luput dari
kesalahan. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun daripada semua
pihak sangatlah kami perlukan agar penyusunan makalah selanjutnya dapat
lebih baik lagi daripada makalah yang sekarang ini.

Tangerang, 02 September 2020


Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................... i


Daftar Isi ................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Umum ................................................................................................ 1
1.4 Tujuan Khusus ................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Urine .............................................................................................. 2
2.2 Komposisi Urine ............................................................................................. 2
2.3 Fungsi Urine ................................................................................................... 2
2.4 Pemeriksaan Urine Indikasi ............................................................................ 3
A. Pemeriksaan Urobilin ............................................................................... 3
B. Pemeriksaan Benda Keton ......................................................................... 4
C. Pemeriksaan Darah Samar ........................................................................ 6
D. Pemeriksaan Bilirubin .............................................................................. 7

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 10
3.2 Saran ............................................................................................................... 10
Daftar Pustaka ...................................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia merupakan makhluk yang unik. Dari setiap sisi dari tubuh manusia
menjadi sebuah hal yang menarik untuk dipelajari. Kita juga mengenal berbagai
sistem organ yang mempunyai peran yang sangat penting sesuai dengan peran
fungsinya. Sistem organ dengan sistem kerja masing – masing saling berinteraksi
dan menjadikan satu kesatuan yang utuh. Dari berbagai sistem, kita mengenal
sistem perkemihan dimana dari organ-nya dan fungsinya. Adapun hal yang
menarik bahwa zat yang dikeluarkan atau yang dikenal dengan nama urinee dapat
menjadi sebuah penelitian akan kondisi kesehatan tubuh seseorang.
Urinalisis adalah pemeriksaan sampel urin untuk tujuan skrining, diagnosis
evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, batu ginjal, dan
memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah
tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mengetahui pengertian urine
2. Mengetahui komposisi urin
3. Mengetahui fungsi urin
4. Mengetahui pemeriksaan urin indikasi

1.3 Tujuan Umum


Menjelaskan macam pemeriksaan urin indikasi

1.4 Tujuan Khusus


1. Memahami pengertian urin
2. Memahami komposisi urin
3. Memahami fungsi urin
4. Memahami pemriksaan urin indikasi

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Urine


Urin, air seni, atau air kencing adalah cairan sisa yang di eksresikan oleh gijal
yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksresi
urine diperlukan untuk untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga hemostatis cairan tubuh. Namun, ada juga
beberapa spesies yang menggunakan urine sebagai sarana komunikasi olfaktori.
Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih,
akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.

2.2 Komposisi Urine


Urine terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea),
garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urine berasal
dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urine berubah sepanjang proses
reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap
kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa
mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih
atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di
dalam urine dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urine
dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan
untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang
dapat dideteksi melalui urine. Urine seorang penderita diabetes akan
mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urine orang yang sehat.

2.3 Fungsi Urine


Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-
obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urine sebagai zat yang
"kotor". Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urine tersebut berasal dari ginjal
atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinenya pun akan
mengandung bakteri. Namun jika urine berasal dari ginjal dan saluran kencing
yang sehat, secara medis urine sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang
dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urine itu merupakan
zat yang steril. Urine dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak
menderita dehidrasi akan mengeluarkan urine yang bening seperti air. Penderita
dehidrasi akan mengeluarkan urine berwarna kuning pekat atau cokelat. Terapi

2
urine Amaroli adalah salah satu usaha pengobatan tradisional India, Ayurveda.

2.4 Pemeriksaan Urin Indikasi


Pemeriksaan urine berdasarkan atas indikasi terdapat 6 pemeriksaan, yaitu :

A. Pemeriksaan Urobilin
Urobilin adalah pigmen alami dalam urine yang menghasilkan warna kuning.
Ketika urine kental, urobilin dapat membuat tampilan warna oranye-
kemerahan yang intensitasnya bervariasi dengan derajat oksidasi, dan kadang-
kadang menyebabkan kencing terlihat merah atau berdarah. Banyak tes urine
(urinealisis) yang memantau jumlah urobilin dalam urine karena merupakan
zat penting dalam metabolisme/ produksi urine. Tingkat urobilin dapat
memberikan wawasan tentang efektivitas fungsi saluran kemih.
Urobilinogen adalah larut dalam air dan transparan produk yang merupakan
produk dengan pengurangan bilirubin dilakukan oleh interstinal bakteri . Hal
ini dibentuk oleh pemecahan hemoglobin. Sementara setengah dari
Urobilinogen beredar kembali ke hati, setengah lainnya diekskresikan melalui
feses sebagai urobilin. Ketika pernah ada kerusakan hati, kelebihan itu akan
dibuang keluar melalui ginjal. Ini siklus ini dikenal sebagai Urobilinogen
enterohepatik siklus . Ada dapat berbagai faktor yang dapat menghambat ini
siklus . Salah satu alasan menjadi gangguan lebih dari hemoglobin (hemolisis)
karena malfungsi hati berbagai seperti hepatitis, sirosis. Ketika ini terjadi,
Urobilinogen lebih diproduksi dan diekskresikan dalam urine. Pada saat
seseorang menderita penyakit kuning, itu didiagnosa oleh warna kulit yang
sedikit kuning dan warna kuning dari urine.Namun bila ada obstruksi pada
saluran empedu, hal itu akanpemeriksaan urobilin.

Metode Schlesinger
 Tujuan :
Untuk mengetahui adanya urobilin dalam urine.
 Prinsip:
Iodium akan mengoksidasi urobilinogen menjadi urobilin dengan zink
akan membentuk ikatan kompleks yang akan berpendar hijau.
 Alat dan Reagensia
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Matt pipet

3
3. Corong
4. Kertas saring
5. Bulb
Reagensia :
1. Reagen SCHLESINGER : suspensi jenuh
2. Zink acetat dalam alkohol
3. Larutan tictura iodine
 Sampel : Urine
 Prosedur kerja :
1. Memasukkan urinee sebanyak 5 ml kedalamtabungreaksi
2. Menambahkan 10 ml pereaksi Schlesinger ke dalam tabung, lalu
kocok kuat
3. Menyaring larutan tersebut dengan kertas saring
4. Filtrate yang di dapat, ditambah dengan larutan tictura iodine 2-3 tetes
5. Mengamatinya pada cahaya matahari dengan latar belakang hitam
 Interpretasi hasil
(-) bila filtrat tidak berpendar hija
(+) bila filtrat berpendar hijau
 Tahap terminasi
1. Akhiri kegiatan dengan cara yang baik
2. Cuci tangan

B. Pemeriksaan Benda Keton


Terdiri dari 3 senyawa, yaitu aseton, asam aseotasetat, dan asam β-
hidroksibutirat, yang merupakan produk metabolisme lemak dan asam lemak
yang berlebihan. Badan keton diproduksi ketika karbohidrat tidak dapat
digunakan untuk menghasilkan energi yang disebabkan oleh : gangguan
metabolisme karbohidrat (misalnya diabetes mellitus yang tidak terkontrol),
kurangnya asupan karbohidrat (kelaparan, diet tidak seimbang : tinggi lemak–
rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan
gastrointestinal), atau gangguan mobilisasi glukosa, sehingga tubuh
mengambil simpanan asam lemak untuk dibakar.
Peningkatan kadar keton dalam darah akan menimbulkan ketosis sehingga
dapat menghabiskan cadangan basa (misalnya bikarbonat, HCO3) dalam
tubuh dan menyebabkan asidosis. Pada ketoasidosis diabetik, keton serum
meningkat hingga mencapai lebih dari 50 mg/dl. Keton memiliki struktur
yang kecil dan dapat diekskresikan ke dalam urine. Namun, kenaikan

4
kadarnya pertama kali tampak pada plasma atu serum, kemudian baru urine.
Ketonuria(keton dalam urine) terjadi akibat ketosis. Benda keton yang
dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat.
Uji ketonuria dengan strip reagen (Ketostix atau strip reagen multitest) lebih
sensitif terhadap asam asetoasetat daripada aseton. Berdasarkan reaksi antara
asam asetoasetat dengan senyawa nitroprusida. Warna yang dihasilkan adalah
coklat muda bila tidak terjadi reaksi, dan warna ungu untuk hasil yang positif.
Hasil yang diperoleh berupa negatif, trace(5 mg/dl), +1(15 mg/dl), +2(40
mg/dl), +3(80 mg/dl), +4(160 mg/dl). Hasil positif palsu dapat terjadi apabila
urine banyak mengandung pigmen atau metabolit levodopa serta fenilketon.
Urine yang mempunyai berat jenis tinggi, ph yang rendah dapat memberikan
reaksi hingga terbaca hasil yang sangat sedikit (5 mg/dl). Untuk dewasa dan
anak : uji keton negatif (kurang dari15 mg/dl).
Uji keton positif dapat dijumpai pada : Asidosis diabetic (ketoasidosis),
kelaparan atau malnutrisi, diet rendah karbohidrat, berpuasa, muntah yang
berat, pingsan akibat panas, kematian janin. Pengaruh obat : asam askorbat,
senyawa levodopa, insulin, isopropil alkohol, paraldehida, piridium, zat warna
yang digunakan untuk berbagai uji (brom sulfoftalein dan feno
sulfonftalein).Dalam urine terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-
hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urine yang diperiksa
harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat
mendeteksi asam asetoasetat lebllh dari 5--10 mg/dl, tetapi cara ini kurang
peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil
positif palsu mungkin didapat bila urine mengandung bromsulphthalein,
metabolit levodopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan.
Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urine negatif. Pada
keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada
diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urine didapatkan
benda keton dalam jumlah yang tinggi. Diet rendah karbohidrat atau tinggi
lemak dapat menyebabkan temuan positif palsu. Urine yang disimpan pada
suhu ruangan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan hasil uji negaif
palsu serta adanya dalam urine dapat menyebabkan kehilangan asam
asetoasetat. Anak penderita diabetes cenderung mengalami ketonuria daripada
penderita dewasa.

5
Metode Rothera
 Tujuan
Untuk mengetahui adanya badan keton dalam urinee.
 Prinsip
Aceton dengan natrium nitroprusid membentuk ikatan kompleks yang
berwarna hijau
 Alat dan Reagensia
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Matt pipet
3. Corong
4. Kertas saring
5. Bulb
 Reagensia :
1. Larutan Rothera
 Sampel : Urine
 Prosedur kerja :
1. Memasukkan urinee sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi
2. Menambahkan 2 ml Ammonium sulfat, homogenkan
3. Menambahkan 2 tetes Natrium nitroprusid, homogenkan
4. Melalui dinding tabung alirkan amoniak 28% sebanyak 1 – 2 ml
5. Mengamatinya hasil tabung reaksi
 Interpretasi hasil
(-) tidak terbentuk cincin warna ungu
(+) bila terbentuk cincin warna ungu antara kedua lapisan
 Tahap terminasi
1. Akhiri kegiatan dengan cara yang baik
2. Cuci tangan

C. Pemeriksaan Darah Samar


Darah yg tidak terlihat oleh mata, hematuri yg mikroskopis atau dalam
feses juga diperiksa hanya saja di feses ada pemeriksaan fob.
Kondisi ditemukannya darah dalam urine disebut Hematuria. Urine orang
normal tidak akan terdapat darah karena telah mengalami penyaringan di
ginjal, kecuali pada wanita pasca menstruasi, urine yang keluar dapat
tercemari oleh bercak darah sisa menstruasi. Namun demikian standar
pemeriksaan laboratorium dapat berbeda karena metode pemeriksaan yang

6
beragam sehingga beberapa ahli melihat hasil lab yang positif dapat sebagai
varian normal saja selama keluhan fisik lainnya belum terlalu menonjol.
Hematuria terjadi oleh karena beberapa hal diantaranya :
 Infeksi saluran kemih
 Batu ginjal atau batu pada saluran kemih
 Kanker ginjal
 Kanker kandung kemih
 Pada pria, kanker prostat dapat menyebabkan urine yang berdarah

Metode : Benzidine Basa atau Tetrametil Benzidine (Ortotoluidine)


 Tujuan :
Untuk mengetahui ada tidaknya darah samar dalam urine.
 Prinsip :
Hemoglobin dalam urinee sebagai peroksidase akan menguraikan
hidrogen peroksida (H2O2) yang akan mengoksidasi benzidine menjadi
senyawa yang berwarna biru kehijauan.
 Alat dan Reagensia :
1. Tabung reaksi panjang
2. Pipet ukur 5 mL
3. Pipet tetes
4. Lampu spritus
5. Serbuk Benzidine
6. Asam Asetat glasial
7. H2O2 3%
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
1. Urinee sebanyak 4 mL dipanaskan dan dibiarkan dingin.
2. Dimasukkan seujung pisau serbuk Benzidine Basa pada tabung
kosong.
3. Ditambah dengan 3 mL asam asetat glasial.
4. Dikocok dan biarkan larutan agak jenuh benzidine.
5. Ditambahkan urinee yang telah didinginkan.
6. Ditambah dengan 1 mL H2O2 3% dan campur perlahan.
7. Dilihat adanya perubahan warna pada larutan kurang dari 5 menit.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi warna.

7
- Positif (+) : Terbentuk warna biru kehijauan.
 Catatan :
- Darah samar ditemukan pada kerusakan pada saluran kemih yang
menyebabkan hemoglobin dan eritrosit dalam urine.
- Benzidine Basa sangat toksis dan bersifat karsinogenik, harus hati-hati
menggunakan bahan ini.

D. Pemeriksaan Bilirubin
Dalam urine berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin
dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam
diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate,
sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat. Adanya bilirubin
0,05-1 mg/dl urine akan memberikan basil positif dan keadaan ini
menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat
terjadi bila dalam urine terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan
kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urine
mengandung metabolit pyridium atau serenium.
Metoda Hariison :
 Prinsip :
BaCl2 bereaksi dengan sulfat dalam urinee membentuk endapan BaSO4
dan bilirubin menempel pada molekul ini. FeCl3 mengoksidasi bilirubin
menjadi :
- Bilivardin warna hijau
- Bilicyanin warna biru
- Cholatelen warna kuning
 Reagensia
- Reagen fauchet
0.9 g FeCl3 di larutkan dalam trikhloracetat 25% sampai 100 ml.
- Larutan BaCl2 10%
 Cara pemeriksaan
1. 5 ml urinee di masukkan dalam tabung reaksi
2. Tambahkan 5 ml BaCl2 10%, campur, kemudian saring dengan kertas
saring.
3. Presipitat pada kertas saring di biarkan sampai kering.
4. Tambahkan 1 tetes reagen fouchet pada presipitat
5. Pengamatan hasil
6. Positif bila timbul warna hijau atau biru kehijauan

8
 Sensitifitas
0.05 – 0.1 mg billirubin dalam urinee.
Metode Hawkinson
Cara ini menggunakan kertas saring yang tebal (shlesinger atau schull nomor
470) yang direndam dalam BaCl2 jenuh, kemudian kertas saring di keringkan.
Potong kertas saring berukuran 4 x ½ inci
 Cara periksaan
1. Pada potongan kertas saring yang mengandung BaCl2 di teteskan
urinee beberapa tetes.
2. Biarkan selama 3 detik sampai 2 menit.
3. Teteskan 2-3 tetes reagen fouchet.

 Interpretasi Hasil
Positif bila terbentuk warna hijau
 Keterangan
- Pemeriksaan billirubinuria harus menggunakan urinee segar, <4 jam,
karena billirubin akan teroksidasi, sehingga menghasilkan falsa
negatif, terutama bila terkena cahaya.
- Percobaan howkinson lebih cepat dan sederhana dibandingkan
percobaan harrison.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diketahui pemeriksaan urin indikasi adalah
pemeriksaan urin yang di periksakan atas indikasi atau masalah klinis pada
pasien. Pemeriksaan urin indikasi setiap macam pemeriksaannya berbeda metode
yang digunakannya pula.

3.2 Saran
Oleh karena pemeriksaan urin indikasi pentung untung menunjang diagnosa dari
dokter maka perlu sangat dipahami oleh kita bagaimana prosedurnya dan apa saja
apa yang menjadi tolak ukur untuk menentukan interpretasi hasil.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Hendry JB. 2000. Clinical Diagnosis and Management by Laboratory methods:


Examination of Urine. New York : Saunders.
2. Lewandroski K. 2002. Clinical Chemistry laboratory management & Clinical
Corellations. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.
3. From P, Bieganiec B, Ehrentich Z, Barak M. 2000. Stability of Common
Analytes in urine Refrigerated for 24 h Before Automated Analysis by Test
Strips. Clinical Chemistry : 49:9.
4. Lewandroski K. 2006. Clinical Chemistry laboratory management & Clinical
Corellations. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.
5. Gandasoebrata. 2006. Penuntun laboratorium Klinik . Jakarta Timur: Penerbit
Dian Rakyat.
6. Kaplan LA, Pesce AJ. 1996. Clinical Chemistry, Theory, Analysis, and
Correlation. 3th Edition. St. Louis : Mosby Inc.
7. Oka TG. 1998. Penuntun Praktikum Patologi Klinik. Bagian Patologi Klinik
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar
8. Petunjuk Kerja “Bio Analitika® “. Surabaya.

11