Anda di halaman 1dari 20

1. JELASKAN DEFINSI NEOPLASMA/KANKER/TUMOR !

Neoplasma secara bahasa berasal dari bahasa Yunani neo dan plasma (secara
harafiah ‘pembuatan baru’), massa jaringan abnormal sebagai hasil proses
neoplasia. Neoplasia adalah proliferasi abnormal dari sel. Tumor merupakan
penyakit yang disebabkan proliferasi abnormal sel-sel yang secara genetik
berhubungan. Kanker yaitu tumor yang memiliki kemampuan untuk menginvasi
jaringan normal di sekitarnya.
Neoplasma ganas atau 'kanker' berkembang karena mutasi asam
deoksiribonukleat (DNA) - beberapa secara spontan (mungkin karena radikal
oksigen), karsinogen kimia (misalnya tembakau, alkohol atau sirih), ion dan
radiasi ultraviolet, atau mikroorganisme onkogenik (misalnya hepatitis) ,
herpesvirus dan human papillomaviruses (HPVs).
Abnormalitas sel malignan menghasilkan tiga gambaran umum: proliferasi
yang tidak terkontrol, kemampuan mengerahkan pembuluh darah (mis.,
neovaskularisasi), dan kemampuan untuk menyebar.
Berbagai enzim hati yang disebut xenobiotic-metabolizing enzymes (XME)
terlibat dalam metabolisme karsinogen atau pro-karsinogen. Beberapa bersifat
polimorfik dan mereka mungkin terlibat dalam aktivasi atau degradasi karsinogen.
Enzim lain dapat membalik atau memperbaiki beberapa kerusakan dari mutasi
(enzim perbaikan DNA) tetapi, ketika mutasi melibatkan gen seperti gen penekan
tumor, sel dapat menjadi otonom, meskipun ada upaya pada DNA dan perbaikan
sel, dan sel kemudian berkembang biak dan menginvasi - ciri khas kanker.
Akhirnya, tumor menyebar ke tempat lain (bermetastasis) ke kelenjar getah
bening dan melalui darah.
Sumber :
1. Haryono SJ, Anwar SL, Salim A. Dasar-Dasar Biologi Molekuler Kanker
bagi Praktisi Klinis. UGM Press.
2. Scully, Cawson. Medical Problem in Dentistry, 7th ed. Elsevier Science.2014.
3. Little, Falace, Miller, Rhodus .Dental Management of the Medically
Compromised Patient.6th ed., Mosby, St.Louis. 2002.
4. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease 7th Edition.

2. JELASKAN BAGAIMANA KARSINOGENIK KIMIA DAPAT


MENYEBABKAN NEOPLASMA!
Karsinogenesis adalah proses multistep kompleks yang melibatkan akumulasi
mutasi dan hilangnya kontrol regulasi atas pembelahan sel, diferensiasi, apoptosis,
dan adhesi. Agregasi kanker dalam suatu keluarga dapat disebabkan oleh genetik
atau penyebab epigenetik, yang pertama melalui mendelian (mutasi gen tunggal)
atau pewarisan gen non-endelian (poligenik atau multifaktorial) yang merupakan
predisposisi kanker dan yang terakhir terkait dengan paparan umum terhadap agen
karsinogenik atau gaya hidup yang sederhana.
Neoplasma ganas atau 'kanker' berkembang karena mutasi asam
deoksiribonukleat (DNA) - beberapa secara spontan (mungkin karena radikal
oksigen), karsinogen kimia (misalnya tembakau, alkohol atau sirih), ion dan
radiasi ultraviolet, atau mikroorganisme onkogenik (misalnya hepatitis) ,
herpesvirus dan human papillomaviruses (HPVs).
Karsinogenesis dapat dibagi dalam tiga fase utama yaitu fase inisiasi,
promosi dan progresi.

Fase inisiasi
Fase ini berlangsung cepat. Karsinogen kimia misalnya golongan
alkylating dapat langsung menyerang tempat dalam molekul yang banyak
elektronnya, disebut karsinogen nukleofilik.
Tempat yang diserang adalah asam nukleat (DNA/ RNA) atau protein
dalam sel terutama di atom nitrogen, oksigen dan sulfur. Ikatan karsinogen
dengan DNA menghasilkan lesi di materi genetik. RNA yang berikatan dengan
karsinogen bermodifikasi menjadi DNA yang dimutasi. Karsinogen kimia yang
berikatan dengan DNA disebut genotoksik dan yang tidak berikatan dengan DNA
disebut epigenetik. Karsinogen genotoksik dapat juga mempunyai efek epigenetik.
Waktu yang dibutuhkan dari pertama kali sel diserang karsinogen sampai
terbentuk lesi di materi genetik adalah beberapa menit. Sel berusaha mengoreksi
lesi ini dengan detoksifikasi kemudian diekskresi atau dapat terjadi kematian sel
atau terjadi reparasi DNA yang rusak tersebut oleh enzim sel menjadi sel normal
kembali. Karsinogen kimia dapat didetoksifikasi/ dinon-aktifkan kemudian
diekskresi atau dapat langsung diekskresi. Tetapi dari proses pengnon-aktifan ini
dapat terbentuk metabolit yang karsinogenik.
Sebelum terjadi reparasi DNA dapat terjadi replikasi DNA yaitu satu
siklus proliferasi sel yang menyebabkan lesi DNA tersebut menjadi permanen
disebut fiksasi lesi. Waktu yang dibutuhkan dari pertama kali sel diserang
karsinogen sampai terjadi fiksasi lesi (terbentuk sel terinisiasi) adalah beberapa
hari (1-2 hari). Replikasi DNA terjadi karena terdapatnya sel nekrotik sebagai
akibat karsinogen.
Pada jaringan yang mengalami peradangan atau sedang berproliferasi
(misalnya luka yang menyembuh) atau jaringan yang berproliferasi terus menerus
(misalnya sumsum tulang, epitel saluran pencernaan) tanpa terangsang dari
luarpun dapat terjadi replikasi DNA. Pada peradangan belum diketahui apakah
terjadi akibat peradangan membantu pertumbuhan sel atau melemahnya daya
tahan tubuh. Sel terinisiasi dapat mengalami kematian, bila tidak, maka sel dapat
masuk ke fase promosi. Pada akhir fase inisiasi belum terlihat perubahan
histologis dan biokimiawi hanya terlihat nekrosis sel dengan meningkatnya
proliferasi sel.
Fase promosi
Sel terinisiasi dapat tetap tenang bila tidak dihidupkan oleh zat yang
disebut promotor. Promotor itu adalah zat proliferative. Promotor sendiri tidak
dapat menginduksi perubahan kearah neoplasma sebelum bekerja pada sel
terinisiasi, hal ini telah dibuktikan pada percobaan binatang. Pada percobaan
binatang dibuktikan terdapat karsinogen kimia yang bekerja sendiri sebagai
inisiator dan promotor disebut karsinogen komplit. Promosi adalah proses yang
menyebabkan sel terinisiasi berkembang menjadi sel preneoplasma oleh stimulus
zat lain (promotor).
Sel preneoplasma dapat tumbuh terus pada kultur jaringan sedangkan sel
normal akan berhenti tumbuh. Kebanyakan sel-sel preneoplasma beregresi
menjadi sel berdiferensiasi normal tetapi sebagian kecil mengalami perkembangan
progresif menjadi sel-sel neoplasma yang ireversibel. Pada akhir fase promosi
terdapat gambaran histologis dan biokomiawi yang abnormal.
Fase progresi
Fase ini berlangsung berbulan-bulan. Pada awal fase ini, sel preneoplasma
dalam stadium metaplasia berkembang progresif menjadi stadium displasia
sebelum menjadi neoplasma. Terjadi ekspansi populasi sel-sel ini secara spontan
dan ireversibel. Sel-sel menjadi kurang responsif terhadap sistem imunitas tubuh
dan regulasi sel. Pada akhir fase ini gambaran histologis dan klinis menunjukkan
keganasan. Permukaan sel kanker mempunyai lebih sedikit neksus (daerah kontak
antar sel). Ini menunjukkan kurangnya metabolisme dan pertukaran ion-ion antar
sel yang juga menyebabkan sel kanker bertambah otonom. Hal ini lebih nyata
pada keadaan displasia yang progresif ke arah neoplasma. Semua perubahan
struktur, metabolik dan kelakuan sel ini terjadi karena mutasi yang mengenai inti,
mitokondria dan membran endoplasma sel. Pada permukaan sel kanker terbentuk
antigen yang menimbulkan respons imun selular dan humoral untuk melawan sel
kanker. Antigen permukaan ini sering ditemukan di jaringan fetus, mempunyai
hubungan dengan derajat diferensiasi sel dan kekhasannya dipakai sebagai
tambahan pada diagnostik kanker.
Bahan kimia sudah terdapat dalam lingkungan manusia dalam waktu lama,
misalnya benzopyrene sudah terdapat dalam atmosfer dalam kadar rendah sejak
api dari tumbuh-tumbuhan dipakai manusia. Benzopyrene yang dioleskan pada
kulit telinga kelinci dan yang kontak dengan kulit manusia menimbulkan kanker
kulit.

Jenis-jenis karsinogen kimia


 Polycyclic aromatic hydrocarbon. Contoh: benzopyrene terdapat dalam asap
rokok, asap mobil dan sebagai produk pembakaran tumbuh-tumbuhan yang
menyebabkan kanker
 Aromatic amine. Contoh: butter yellow (dulu dipakai sebagai pewarna
mentega sebelum efek karsinogeniknya pada binatang diketahui), insektisida
naphthylamine, benzidine dan 3-acetylaminofluorene.
 Alkylating. Contoh: epoxide, lactone, nitrogen mustard dan derivatnya.
 Nitrosamine. Terbentuk dari nitrit dengan sejumlah amin. Garam nitrit dan
nitrat alamiah terdapat dalam sayur-sayuran, ikan dan daging. Nitrit
digunakan sebagai aditif makanan (pengawet daging) sejak abad ke 19 dan
peptisida, juga terdapat dalam makanan sebagai residu obat-obatan. Sumber
amin adalah obat tertentu dan nikotin. Nitrosamine juga terbentuk pada proses
memanggang dan terdapat dalam asap rokok.
 Aflatoxin B1. Pada permulaan tahun 1960 diisolasi dari jamur Aspergillus
flavus yang tumbuh pada makanan yang disimpan yaitu kacang tanah, jagung,
gandum, kacang polong, beras, kacang kedelai, buah, daging tertentu, susu
dan keju.
 Logam berat. Senyawa kromium (Cr), nikel (Ni) dan uranium (Ur) diduga
menyebabkan kanker paru dan sinus sedangkan kadmium (Cd) diduga
menyebabkan kanker prostat.
 Vinylchlorid, pada pekerja pabrik bahan dasar plastik, polyvinylchloride
(PVC) dapat menyebabkan kanker hati (angiosarkoma), kanker paru, otak,
darah dan limf. Bungkus plastik dan tempat makanan plastik yang
menggunakan bahan dasar vinylchloride menguatirkan konsumen.
 Carbontetrachloride pada pekerja plastik dan pekerja cuci kering
menyebabkan kanker hati, thiourea (zat aditif makanan) pernah digunakan
sebelum diketahui sifat karsinogeniknya pada binatang dan urethane (zat
aditif makanan) diduga karsinogenik.
 Hidrocarbonchloride sebagai peptisida misalnya DDT, eldrin, dieldrin
menyebabkan kanker hati pada tikus dan lain spesies, pada manusia belum
jelas menyebabkan kanker, mungkin karena periode latennya belum diketahui
berapa tahun.
 Phenacetin diduga penyebab kanker pelvis renis dan kandung kemih,
methoxypsoralen penyebab kanker kulit, arsen penyebab kanker kulit dan
chlornaphazine penyebab kanker kandung kemih.
Sumber :
1. Little, Falace, Miller, Rhodus .Dental Management of the Medically
Compromised Patient.6th ed., Mosby, St.Louis. 2002.
2. Scully, Cawson. Medical Problem in Dentistry, 7th ed. Elsevier Science.2014.
3. Kartawaguna E. Faktor-Faktor yang Berperan pada Karsinogenik. Fakultas
Kedokteran Universitas Trisakti.

3. JELASKAN BAGAIMANA KARSINOGENIK RADIASI DAPAT


MENYEBABKAN NEOPLASMA!

Terdapat 2 macam radiasi yaitu radiasi ionisasi (misalnya sinar X) dan


non-ionisasi (sinar ultraviolet). Keduanya adalah bagian dari spektrum gelombang
elektromagnetik. Sinar X berasal dari tambang uranium, kosmik, alat diagnostik
penyakit, alat terapi radiasi, kecelakaan nuklir, bom atom dan sampah radioaktif.
Sinar ultraviolet berasal dari matahari.
Karsinogenesis merupakan proses bertahap dan kompleks dari akumulasi
perubahan genetik. Pada etiopatogenesis kanker terdapat empat gen yang berperan
penting yaitu: oncogen, tumor suppressor gene, gen penyandi apoptosis dan gen
untuk repair DNA. Radiasi UV memiliki hubungan erat dalam patogenesis
terjadinya kanker dan diperkirakan p53 menjadi target utama radiasi sinar UV.
Pada peristiwa stres sel antara lain kerusakan DNA, hipoksia, stres
oksidatif maupun onkogen akan menginduksi berbagai mediator upstream untuk
aktivasi p53 seperti 14ARF dan MDM2. Pada saat p53 aktif terjadi fosforilasi
pada satu atau lebih residu sering pada N atau C terminus, selanjutnya akan terikat
pada elemenenhancer/promotor yang merupakan target downstream dari p53.
Tiga jalur penting sebagai downstream aktivasi p53 adalah sebagai
berikut:
a. Mengaktivasi perbaikan DNA yang rusak. Pada keadaan normal, p53
dalam keadaan tidak aktif dan terikat pada protein Murine Double Minuta
(MDM2) atau protein Human Double Minute (HMD2) yang berfungsi mencegah
aktivasi p53. Saat terinduksi oleh berbagai karsinogen seperti radiasi UV, yang
berpotensi merusak DNA, maka terjadi fosforilasi p53 oleh beberapa protein
antara lain Ataxia-Telangiectasia-Mutated (ATM) , Checkpoint Kinase 1 (CHK1)
dan CHK2, selanjutnya p53 menjadi aktif.

b. Menahan siklus sel pada titik G1/S regulation point saat terjadi
kerusakan DNA. p53 memiliki efek regulator negatif terhadap perkembangan sel-
sel kanker. Regulator negatif ini berfungsi sebagai “rem “ yang mencegah
proliferasi sel yang tidak terkendali. Siklus sel berlangsung di bawah pengawasan
p53, bila terbentuk sel yang abnormal atau defek genetik selama sel membelah
secara kontinyu, maka sel akan masuk pada siklus istirahat (G1) sehingga akan
ada cukup waktu untuk menghancurkan sel abnormal tersebut. Akumulasi p53
setelah kerusakan DNA menyebabkan siklus sel masuk pada fase G1/S dengan
menginduksi ekspresi p21, yang selanjutnya akan membuat kompleks cdk-cyclin
menjadi tidak aktif. Selain itu p53 juga dapat menginduksi sel masuk pada fase
G2/M.

c. Mengontrol proses apoptosis, jika kerusakan DNA tidak lagi dapat


diperbaiki. Dengan adanya mekanisme apoptosis, maka dapat dipastikan sel-sel
yang abnormal tidak akan dapat bertahan dan berlanjut sampai bereplikasi. p53
normal, yang merupakan produk dari p53, memiliki kemampuan untuk
memastikan apakah sel yang abnormal tersebut telah dihancurkan dan tidak lagi
membelah. Namun fungsi apoptosis ini menyimpang bila terjadi mutasi p53.
Sumber :
1. Alphonse E. Sirica, The Pathobiology of Neoplasia. P.125
2. Prakoeswa, CRS. Peran p53 pada Patogenesis Karsinoma Sel Basal. FK
Unair.

4. JELASKAN INFEKSI VIRUS DALAM ONKOGENESIS!


Virus onkogenik adalah virus yang dapat menyebabkan perubahan-
perubahan yang mempengaruhi proses onkogenesis. Onkogenesis adalah hasil
akumulasi berbagai perubahan genetik yang mengubah ekspresi atau fungsi
protein yang penting dalam pengendalian pertumbuhan dan pembelahan sel. Virus
onkogenik saat menginfeksi sel dapat menyebabkan mutasi proto-onkogen sel
menjadi onkogen.
 Proto-onkogen adalah gen normal sel yang dapat berubah menjadi onkogen
aktif karena terjadinya mutasi atau mengalami ekspresi yang berlebihan
(menghasilkan onkoprotein dalam jumlah berlebihan).
 Onkogen adalah istilah untuk gen yang bisa menginduksi satu atau beberapa
sifat karakteristik sel kanker. Gen tersebut dapat berupa gen virus atau gen sel
yang bila dimasukkan ke dalam sel yang sesuai, secara sendiri atau bersama
gen lain dapat merubah sifat sel normal menjadi sifat sel ganas.

Retrovirus merupakan virus yang menggunakan RNA sebagai cetakan


untuk sintesis DNA komplemen intrasel menggunakan reverse transcriptase
virus. Retrovirus menyebabkan kanker melalui dua mekanisme. Provirus yang
telah terintegrasi dalam genom penjamu akan mengubah fungsi gen penjamu,
biasanya dengan mengganggu regulasi transkripsinya. Provirus mengubah proto-
onkogen menjadi onkogen. Jika proses ini berlangsung lama, virus disebut slowly
transforming retroviruses. Jika retrovirus telah memiliki gen kankernya sendiri,
karsinogenesis terjadi lebih cepat. Retrovirus yang memiliki gen kanker sendiri
disebut acutely transforming retrovirus.

Sumber :
1. Bahan Kuliah Onkogenesis dan Transformasi oleh Virus, T. Mirawati Sudiro,
Bagian Mikrobiologi FK-UI
2. Haryono SJ, Anwar SL, Salim A. Dasar-Dasar Biologi Molekuler Kanker
bagi Praktisi Klinis. UGM Press.

5. JELASKAN PROSES PREOLIFERASI SEL NORMAL DAN


NEOPLASMA!
Proliferasi sel menghasilkan dua sel yang bersala dari satu sel. Keadaan ini
membutuhkan pertumbuhan sel yang kemudian diikuti oleh pembelahan sel.
Pertumbuhan sel yang tidak terkendali merupakan ciri khas kanker. Pada jaringan
normal, proliferasi sel mengarah kepada penambahan jaringan. Dimana jumlah sel
tidak hanya tergantung pada proliferasi sel tetapi juga kematian sel. Kesiimbangan
antara produksi sel baru dengan kematian sel itulah yang mempertahankan sel
yang tepat pada jaringan.
Fase dan stadium pembelahan sel :
a. Interfase
Stadium:
- G1 : pertumbuhan sel dan replikasi organel
- S : Replikasi kromosom dan organel
- G2 : Replikasi organel
b. Mitosis
Stadium;
- Karyokinesis
 Profase : kondensasi kromatin, duplikasi sentriol, dan
pembentukan spindel mitosis.
 Metafase : Penuntasan kondensasis kromatin, penempatan
siter kromatin di titik ekuator sel.
 Anafase : Pelepasan ikatan sister kromatid, pergerakan
kromatid ke kutub yang berlawanan.
 Telofase : Dekondensasis kromosom menjadi massa
kromatin dan pembentukan membran inti sel.
- Sitokinesis : Pembelahan sel dari satu menjadi dua.

Aktivitas proliferasi dari populasi sel atau meningkatnya populasi sel,


akan menyebabkan pertumbuhan jaringan maupun organ. Keseimbangan dalam
pertumbuhan ini harus terkontrol. Bila jumlah sel yang lebih banyak maka akan
terjadi penyusutan jaringan atau organ dan sebaliknya bila sel yang diproduksi
lebih banyak dari yang seharusnya digantikan maka akan terjadi pertumbuhan
jaringan atau organ. Kegagalan kontrol mekanisme ini dapat mengakibatkan
aktivitas proliferasi sel tidak terkendali. Kecepatan dari proliferasi sel itu sendiri
pada populasi sel bergantung pada tiga parameter yaitu kecepatan pembelahan sel,
fraksi pada sel dari populasi dalam menjalani pembelahan sel serta kecepatan
hilangnya sel dari populasi terkait dengan akhir deferensiasi dan kematian sel.
Aktifitas proliferasi dapat dipengaruhi oleh faktor ekstraseluler maupun
intraseluler. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proliferasi sel
diantaranya, yaitu faktor pertumbuhan (Growth Factors=GF), cyclin dan cyclin
dependent kinase (CDK), Rb family. Molekul faktor pertumbuhan akan dapat
berfungsi kalau dikenali oleh reseptor yang terdapat pada permukaan sel, yang
disebut reseptor faktor pertumbuhan(Growth Factor receptor=GFR). Berbagai
penelitian membuktikan bahwa GFR merupakan protein yang terdiri dari berbagai
komponen, yaitu komponen di luar sel yang akan berikatan dengan GF komponen
transmembran dan protein kinase di bagian dalam membran sel. Aktivasi GFR
sebagai akibat terjadi ikatan dengan GF, merupakan suatu jaringan aktivitas
sampai pengikatan protein tertentu pada DNA dalam inti sel yang mengakibatkan
beberapa gen spesifik pengontrol proses proliferasi sel menjadi aktif. Dengan
demikian mutasi proto-onkogen yang berperan aktif dalam proses sinyal
transduksi dapat mengganggu keseimbangan siklus sel dalam berproliferasi.
Sumber :
1. Ana, Rafimawati. 2014. Potensi Ekstrak Daun Widuri (Calotropis Gigantea)
Sebagai Obat Antikanker Fibrosarkoma. UIN-Maliki Press.
6. JELASKAN FAKTOR YANG TERLIBAT DALAM KECEPATAN
PEMBELAHAN SEL!
Faktor lingkungan dan faktor genetik sangat berperan sebagai pemicu
munculnya sel kanker pada manusia. Kedua faktor tersebut dapat memicu
perubahan sifat dan perilaku sel sehingga memunculkan sel yang mampu
berploriferasi secara tak terkendali. Pada tingkat gen, perubahan genetik yang
paling sering memicu munculnya sel tumor adalah perubahan gen supresor tumor
yang menyebabkan proliferasi sel berlebihan dan menurunya tingkat apoptosis.
Selain itu, proliferasi sel yang tak terkendali juga dapat disebabkan oleh mutasi
pada protoonkogen yang menyebabkan aktivitasnya meningkat dan tidak dapat
dikendalikan oleh gen supresor tumor.
Protoonkogen merupakan gen normal yang terlibat dalam berbagai proses
pembelahan, diferensiasi, motilitas, dan apoptosis sel. Protoonkogen merupakan
gen yang sangat dikonservasi oleh banyak organisme multiseluler, yang
menunjukkan betapa penting fungsinya untuk kesinambungan proses-proses
intraseluler. Terdapat lima kelas fungsional protein hasil aktivasi protoonkogen,
yaitu transkripsi, faktor pertumbuhan, reseptor faktor pertumbuhan, signal
transducer, serta regulator sel dan apoptosis.
Sumber :
1. I Nyoman Mantik Astawa. Dasar-Dasar Patobiologi Molekuler I:
Apoptosis dan Onkogenesis. Airlangga University Press. p. 221
2. Haryono SJ, Anwar SL, Salim A. Dasar-Dasar Biologi Molekuler Kanker
bagi Praktisi Klinis. UGM Press.

7. JELASKAN SIFAT PERTUMBUHAN SEL NORMAL DAN


NEOPLASMA!
a. Sel normal
- Laju pertumbuhan terkontrol dan terkoordinasi.
- Membran repair setelah terpapar electrochemotherapy lebih cepat
- Gen normal, jika terjadi kerusakan gen akibat faktor-faktor endogen dan
eksogen maka dapat diperbaiki oleh mekanisme “excision repair DNA
lesion”.
- Melakukan fungsi dengan baik
- Apoptosis ada
b. Neoplasma
- Laju pertumbuhan tidak terkontrol dan tidak terkoordinasi
- Membran repair setelah terpapar electrochemotherapy lebih lambat.
- Mengutamakan pembiakan daripada melakukan fungsi dengan baik
sehingga susunan enzim katabolisme mjdi tidak penting lagi.
- Apoptosis tidak terjadi.

8. JELASKAN PERBEDAAN SIFAT ONKOGEN DAN GEN


SUPRESOR!
a. Onkogen
- Onkogen berasal dari protoonkogen yang teraktivasi.
- Meningkatkan pertumbuhan secara dominan
- Berkembang dari protoonkogen yang mengalami mutasi selama kehidupan
seseorang.
- Jumlah mutasi yang diperlukan untuk mengakibatkan kanker satu
- Meningkatkan pertumbuhan sel
- Faktor predisposisi untuk banyak kanker

b. Gen Supresor
Gen supresor merupakan gen-gen protektif yang secara normal berfungsi
untuk mencegah dan menghambat pertumbuhan dan pembelahans sel. Gen
supresor yang mengalami mutasi menyebabkan sel –sel mengabaikan satu atau
lebih komponen pada jaringan sinyal penghambat, sehingga pertumbuhan sel-sel
menjadi tidak terkendali dan dapat menimbulkan kanker.
- Bekerja secara resesif
- Tumor akan menyebabkan kanker apabila gen supresor tumr mengalami
inaktifasi
- Abnormalitas pada gen supresor tumor mungkin karena keturunan.
- Jumlah mutasi yang diperlukan untuk mengakibatkan kanker minimal dua.
- Faktor predisposisi untuk kanker tertentu.
9. JELASKAN SIKLUS PEMBELAHAN SEL!
Siklus sel adalah rangkaian dari kejadian yang mana sel menduplikasikan
kandungannya dan membagi 2 bagian. Terbagi menjadi 2 fase fungsional, yaitu
interphase dan mitosis.
a. Interfase
Dalam masa pertumbuhan sel akan mengalami perubahan-perubahan
tertentu dan pada umumnya akan melewati tahap pertumbuhan yang meliputi:
1. Tahap G1 ( first gap phase)
Tahap ini dimulai sejak sel muda baru saja mengalami proses pembelahan.
Pada kebanyakan sel,tahap ini membutuhkan waktu antara 3-4 jam,tetapi adajuga
yang membutuhkan waktu beberapa hari sampai beberapa bulan atau bahkan
beberapa tahun. Perbedaan waktu ini yang menyebabkan siklus pembelahan sel
satu dengan yang lainnya berbeda.
Pada tahap G1 akan terjadi sintesis RNA yang kemudian diikuti oleh
sistesis protein sehingga sitoplasma akan bertambah banyak dan sel akan
bertumbuh. Sintesis RNA mula-mula terjadi dalam inti sel dimana molekul RNA
terbentuk berdasarkan model molekul DNA yang ada dalam inti sel sehingga
sifat-sifat RNA juga akan spesifik dengan spesies makhluk hidup,dengan
demikian protein yang akan disintesis oleh RNA akan bersifat spesifik. Dengan
kata lain DNA mengontrol sintesis RNA dan memberi pengarahan dalam proses
sintesis protein didalam sel sehingga sel akan tumbuh sesuai dengan sifat sel
induknya.
2. Tahap S ( synthetic phase)
Tahap ini adalah tahap dimana terjadi proses sintesis DNA yang umunya
terjadi selama 7-8 jam. Tetapi sebenarnya dalam tahap ini sintesis RNA masih
tetap berjalan terus walau tidak dominan.
Dalam tahap ini molekul DNA akan terbentuk melalui proses replikasi dari
molekul DNA yang sudah ada. Selain itu, pada tahap ini terjadi pembentukan
molekul histon yang merupakan protein dasar dari kromosom.
3. Tahap G2 ( second gap phase)
Merupakan tahap akhir dari pertumbuhan sel yang kemudian akan disusul
dengan pembelahan sel . pada umumnya tahap ini akan berlangsung sekitar 2-5
jam dan dalam tahap ini masib juga terjadi sintesis RNA . Dari hasil penelitian
dikatakan bahwa sintesis RNA akan mulai mengurang pada tahap ini dan akan
berhenti pada saat pembelahan sel dimulai
b. Mitosis
1. Profase
Selama fase mitosis pertama yang panjang ini, kromosom memadat dan
dapat terlihat secara histologis. Masing-masing kromosom terdiri atas dua
kromatid “bersaudara” yang secara genetik identik dan menyatu di suatu bagian
yang menyempit, yang disebut sentromer. Seiring pemadatan kromosom,
selubung inti (nuclear envelope) dan nukleus lenyap (terfragmentasi) sehingga
hanya fragmen-fragmennya yang terlihat. Sentromer membelah, dan sentriol
bermigrasi ke kutub-kutub sel yang berlawanan untuk membentuk mikrotubulus
gelendong mitosis (mitotic spindle). Gelendong mikrotubulus terus tambah
kearah kromosom dan sebagian diantaranya melekat ke suatu kompleks protein
berbentuk lempeng yang disebut kinotokor yang muncul dikedua sisi kromosom.
Mikrotubulus kinotokor ini akhirnya menjajarkan kromosom-kromosom dibagian

tengah sel. Mikrotubulus yang tidak melekat ke kromosom di kinetokor menjadi


mikrotubulus polar.

2. Metafase
Pada fase yang singkat ini, kromosom-kromosom menjadi sangat padat.
Kromosom berbaris di sepanjang ekuator sel sebagai akibat dari pelekatnya ke
mikrotubulus kinetokor gelendong mitosis yang memancar dari kedua kutub
gelendong. Mikrotubulus kinetokor mengerahkan pergerakan kromosom ke arah
bagian tengah sel, membentuk metafase atau lempeng ekuator(equatorial plate).

3. Anafase
Selama fase ini, pasangan-pasangan kromatid terpisah di sentriol karena
kerja enzim dan masing-masing kromatid kini menjadi kromosom tersendiri.
Kromosom-kromosom ini kini mulai bermigrasi ke kutub sel yang berlawanan,
ditarik oleh mikrotubulus kinetokor yang memendek yang melekat ke santromer.
Kromosom yang bermigrasi atau tertarik ini memperlihatkan bentuk v di sel.
Pada masa anafase tahap lanjut, muncul atur pembelahan (deavage farrow) di
membran sel bagian ekuator, yang menunjukkan tempat sel akan terbelah.
4. Telofase
Ini adalah fase akhir mitosis. Fase ini dimulai ketika kromosom
-kromosom menyelesaikan migrasi ke sisi gelendong mitosis yamg berlawanan.
Kromosom menipis kembali menjadi kromatin inyerfase. Nukleus muncul
kembali dan retikulum endoplasma kasar mulai membangun selubung nukleus
baru. Terbentuk kontruksi sitopladma oleh cincin kintraktil yang terdiri atas
filamen- filamen aktin, yang akan menjadi tempat pembelahan untuk memisahkan
sel-sel anak. Kemudian terjadi pemisahan sel-sel anak. Sitokinesis adalah proses
pembagian sitoplasma menjadi dua sel secara genetis identik.
Sumber :

1. Biologi/Neil A. Campbell, Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell. Jakarta:


Erlangga, 2002.
2. Ana, Rafimawati. 2014. Potensi Ekstrak Daun Widuri (Calotropis Gigantea)
Sebagai Obat Antikanker Fibrosarkoma. UIN-Maliki Press.
10. JELASKAN SISTEM PENGATURAN SIKLUS SEL

Siklus sel dapat dibedakan secara morfologi dan biokimiawi. Jika dilihat
secara biokimiawi maka siklus sel menggambarkan jangka waktu antara dua
waktu yang berurutan pada pembelahan sel yang terdiri dari empat fase regulasi
yaitu gap 1 [G1) untuk pertumbuhan sel, sintesis DNA (Sl untuk duplikasi bahan
baku pada proses genetik, gap 2 (G2) untuk perbaikan pada saat pembelahan sel
dimana fase G1, S dan G2 secara bersamaan disebut interfase sedangkan fase
mitosis (M) untuk pelaksanaan pembelahan sel, yaitu pembelahan inti dan
sitoplasma. Sedangkan pada fase gap 0 (G0) disebut fase istirahat dimana sel yang
tidak bergerak dan tidak mengalami pertumbuhan. Selama masa interfase, sel
menghasilkan nutrisi dan adanya duplikasi dari kromatid dimana kromatid ini
berhubungan langsung dengan sentromer dan mempunyai lengan panjang dan
pendek. Waktu yang diperlukan untuk satu siklus masing-masing sel amat
bervariasi tergantung spesies serta jenis jaringannya, berkisar antara16-24 jam.
Fase gap 1 [G1) merupakan tahap pertama fase interfase yang berlangsung
diantara fase mitosis dan sebelum fase sintesis. Pada fase ini sel dipersiapkan
untuk sintesis DNA terjadi biosintesis RNA dan protein serta menghasilkan
enzim-enzim yang dibutuhkan pada fase S, terutama yang dibutuhkan pada
replikasi DNA. Lama fase G1 sangatbervariasi bahkan untukspesies yang sama.
Fase akhir G1 siklus sel merupakan fase sel-sel membuat kesepakatan untuk sel
yaitu akan terus mengadakan pembelahan sehingga menuju fase berikutnya atau
siklus sel berhenti sementara (Growth arrest) yang akan keluar siklus sel dan
masuk ke fase G0 untuk memperbaiki DNA yang mengalami kerusakan DNA
(DNA damage). Sedangkan kemungkinan lainnya terjadi proses penuaan sel atau
senescense dan selanjutnya jika kerusakan DNA tidak dapat diperbaiki lagi akibat
stimulasi mutagen yang terus menerus tersebut maka sel akan keluar dari siklus
sel dan terjadi apoptosis atau program kematian. Selanjutnya apabila sel yang
mengalami kerusakan DNA tersebut tetap tinggal di dalam siklus sel dan dapat
merusak pengendali sinyal ekstrasel atau bahkan dapat melakukan program
otonom yaitu sel akan menghasilkan faktor pertumbuhannya sendiri sehingga
menyebabkan proliferasi sel makin tidak terkendali yang diketahui sebagai
penyebab kanker.
Fase selanjutnya adalah fase S. Selama fase S dimulai kecepatan dari
proses transkripsi RNA dan proses sintesis protein sangat rendah tetapi sintesis
histon sangat besar pada fase ini. Selain itu juga pada fase S terjadi replikasi
DNA, sehingga pada akhir fase ini isi DNA sudah kembar dan kromosom siap
mengalami pemisahan. Fase gap 2 (G2) terjadi setelah fase S dan sebelum fase M.
Pada fase G2 sel siap untuk membelah, proses replikasi DNA dan berbagai
protein serta biosintesis disempurnakan. Tahap selanjutnya nukleus dan
sitoplasma terpisah sebagai 2 anak sel pada fase M. Fase selanjutnya adalah fase
mitosis (M) dimana pertumbuhan dan sintesis protein berhenti selama fase M dan
terjadi pembelahan sel genom menjadi dua kromosom yang sama. Lama waktu
pada fase M lebih pendek dibanding pada fase interfase, kemungkinan lamanya 7-
2 jam.
Selain faktor diatas keluarga cyclin juga merupakan faktor penting dalam
mengatur siklus sel. Ikatan cyclin dan aktivasi dari cyclin dependent kinase
(CDK) serta cyclin dependent kinase inhibitor (CDKI) mempunyai efek
terhadap progresifitas siklus sel sehingga aktivasi dan penghambatan keluarga
cyclin dapat dilakukan melalui progresi dari siklus sel. Ekspresi tiap anggota
cyclin berbeda pada masing-masing fase siklus sel. Tidak kurang dari 13 jenis
cyclin yang saat ini telah teridentifikasi, masing-masing diperlukan dan akan
menghilang pada fase siklus yang berbeda. Masing-masing cyclin mempunyai
karakteristik serta struktur yang berbeda, tergantung pada fase mana cyclin
tersebut dibutuhkan atau tidak diperlukan.
Mekanisme umum terkait cyclin, cdk dan cdki dalam siklus sel, yaitu
setelah menerima sinyal ekstraselular pro-mitosis, komplek cyclin-cdk pada Gl
menjadi aktif dan menyiapkan sel untuk ke tahap S, mempromosikan ekspresi dari
faktor transkripsi yang pada gilirannya akan meningkatkan cyclin pasa fase S dan
meningkatkan enzim-enzim yang dibutuhkan untuk replikasi DNA. Protein
fosforilasi dari aktif cyclin-cdk pada fase S yang membentuk komplek pre-
replikasi yang dikumpulkan selama tahap G1 pada replikasi DNA. Fosforilasi
disini bertujuan mengaktifkan komplek pre-replikasi dan mencegah komplek
terbentuk kembali (Kumar,2004) Pada semua jenis keganasan, gangguan siklus
sel yang terdiri dari 4 fase yang berurutan yaitu gap 1 [G1, fase S (sintesis DNA),
gap 2 (GZ) dan mitosis [M) merupakan faktor penting dalam patogenesis
molekulerkankerterutama pada gen-gen pengatur siklus sel pada fase transisi
G1/S.
Sumber :
1. Ana, Rafimawati. 2014. Potensi Ekstrak Daun Widuri (Calotropis
Gigantea) Sebagai Obat Antikanker Fibrosarkoma. UIN-Maliki Press.
11. JELASKAN SINYAL GROWTH FACTOR UNTUK
PEMBELAHAN SEL !
12. JELASKAN GANGGUAN PENGENDALIAN SIKLUS
PEMBELAHAN SEL !
13. JELASKAN KONTROL SIKLUS SEL !
Sistem kontrol pada siklus sel memiliki pengaturan yang sangat kompleks
dengan melibatkan protein untuk mengaktivasi setiap siklus. Siklus sel memiliki
ketepatan waktu dalam pengaturannya, misalnya zigot menjadi morula kemudian
blastula memiliki jangka waktu tertentu yang terjadi juga pada semua mamalia.
Fase G1 pada siklus sel akan dimulai checkpoint kontrol, yaitu kontrol untuk
mengecek kesiapan apakah sel sudah siap memasuki fase berikutnya atau tidak.
Fase ini dilanjutkan ke fase berikutnya yaitu S di mana terjadi penggandaan
materi genetik. Kemudian, menuju fase selanjutnya yaitu G2. Fase G2 merupakan
checkpoint yang sangat penting, karena fase ini menentukan apakah sel sudah siap
membelah atau belum. Jika terjadi mutasi pada sel dan tidak terjadi perbaikan atau
repair, maka harus di checkpoint pada fase G2 dan diapoptosis atau sel tidak akan
membelah. Agar Anda lebih mudah memahami sistem kontrol pada siklus sel,

perhatikan gambar 2.5. Mutasi yang tidak terdeteksi pada fase G2 dan dilanjutkan
ke fase M atau pembelahan, maka semua hasil pembelahan sel tersebut juga
mengalami mutasi.

Kontrol Siklus Sel Cdks (Cyclin-Dependent Protein Kinases)


Komponen utama pada siklus sel diatur oleh protein kinase yang dikenal
sebagai cyclin-dependent kinases (Cdks). Aktivitas kinase mengalami kenaikan
atau penurunan sehingga mempengaruhi perubahan siklus dalam fosforilasi
protein interseluler yang terlibat dalam pengaturan siklus sel. Sebagai contoh, bila
terjadi peningkatan aktivitas Cdks pada checkpoint G2/M, maka akan
menyebabkan kromosom berkondensasi, membrane inti akan menghilang,
perakitan benang spindle dan akan segera terjadi proses mitosis. Cdks tidak bisa
melakukan proses fosforilasi jika tidak terdapat protein cyclin, sehingga kerja
Cdks sangat bergantung dengan protein cyclin. Aktivitas protein kinase Cdks akan
berjalan jika berikatan dengan cyclin. Terdapat 4 kelas protein cyclin, masing-
masing memiliki peran pada siklus sel tertentu yang akan berikatan pada Cdks
yang spesifik sehingga dapat berfungsi. Semua sel eukariotik membutuhkan
protein Cyclin. Empat macam protein cyclin tersebut adalah:
1. G1-Cdk
2. G1/S-cyclin mengaktivasi Cdks pada akhir fase G1, memicu sel untuk masuk
ke tahap sintesis. Konsentrasinya akan menurun pada fase S
3. S-cyclin berikatan dengan Cdk menstimulasi penggandaan kromosom, S-cyclin
akan meningkat hingga masuk ke fase mitosis, cyclin ini juga memiliki peran
untuk mengontrol awal pembelahan mitosis (profase)
4. M-cyclin mengaktivasi Cdks untuk menstimulasi ke fase mitosis pada
checkpoint G2/M, konsentrasi M-cyclin akan menurun pada pertengahan mitosis.

Sumber :
1. Biologi Sel dan Molekuler. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

14. JELASKAN APOPTOSIS TINGKAT MOLEKULER !


Apoptosis atau dikenali sebagai programmed cell death merupakan
kematian sel terprogram yang secara fisiologis berupa kemampuan sel untuk
menghancurkan diri bila mengalami perubahan atau kerusakan dan merupakan
keadaan yang tidak dapat dihindari bagi sel untuk mati. Proses ini bertanggung
jawab dalam keseimbangan jumlah sel dan dengan apoptosis, organisme dapat
mengontrol jumlah sel dalam jaringan dan membunuh sel itu sendiri yang menjadi
ancaman bagi kelangsungan hidup organisme. Apoptosis pertama
diidentifikasikan sebagai bentuk kematian sel berdasarkan morfologinya.
Penelitian mengenai insiden biokomiawi dan genetik merupakan prediksi dari
peranannya dalam mengontrol sel ditentukan secara genetikdan alamiah sehingga
kontrol genetik dan mekanisme biokimia dari apoptosis menjadi lebih dimengerti
dalam perkembangan dan strategi terapi yang mengatur kejadian dalam proses
penyakit.
Walaupun banyak sel yang hilang dalam populasi pada tipe yang lebih
lambat secara jelas adalah hasil dari kumpulan sel-sel dijaringan, dalam
kenyataannya, mitosis dan apoptosis seimbang satu sama lain dibawah kondisi
yang siap. Apoptosis juga merupakan proses penting dalam pengaturan
homeostasis normal, proses ini menghasilkan keseimbangan dalam jumlah sel
jaringan tertentu melalui eliminasi sel yang rusak dan proliferasi fisiologis dan
dengan demikian memelihara agar fungsi jaringan normal Proses apoptosis ini
memiliki kegunaan yang luas dalam proses biologis, seperti pada proses
perkembangan, diferensiasi, proliferasi atau homeostatis, regulasi, fungsi imun,
perbaikan kecacatan karena pengaruh sel yang berbahaya. Deregulasi apoptosis
mengakibatkan keadaan patologis, termasuk proliferasi sel secara tidak terkontrol
seperti dijumpai pada kanker. Ada berbagai bukti yang menyatakan kontrol
apoptosis dikaitkan dengan gen yang mengatur berlangsungnya siklus sel,
diantaranya gen p53, Rb, Myc, E14 dan keluarga Bcl-2. Gangguan regulasi dan
proliferasi sel baik akibat aktivitas onkogen dominan maupun inaktivasi tumor
suppressor genes ada hubungannya dengan kontrol apoptosis. Beberapa jenis virus
onkologik melaksanakan proses transformasi sel dengan cara mengganggu fungsi
apoptosis dalam sel misalnya SV40, herpes dan adenovirus, polioma maupun
virus Epstein Barr (EBV).
Jalur Caspase Dependen (Jalur Ekstrinsik dan Intrinsik)
Apoptosis dipicu oleh berbagai jalur sinyal dan diatur oleh ligan ekstrinsik
dan intrinsik yang kompleks. Terdapat dua jalur apoptosis utama yakni
melibatkan fungsi caspase dan tanpa caspase. Mitokondria bertindak sebagai
crosstalk organelles yakni organel yang berperan pada kedua jalur apoptosis yang
berbeda tersebut. Jalur apoptosis terbagi dua yaitu caspase dependen dan
independen. Sinyal apoptosis jalur caspase dependen bisa terjadi secara
intraseluler dan ekstraseluler. Jalur ekstrinsik (ekstraseluler) diinisiasi stimulasi
reseptor kematian sedangkan jalur intrinsik diinisiasi oleh pelepasan faktor sinyal
dari mitokondria dalam sel.
Apoptosis jalur ekstrinsik dimulai dari adanya pelepasan molekul sinyal
disebut ligan, oleh sel lain bukan berasal dari sel yang akan mengalami apoptosis.
Ligan tersebut berikatan dengan reseptor kematian yang terletak pada
transmembran sel target yang menginduksi apoptosis. Reseptor kematian yang
terletak di permukaan sel adalah famili reseptor Tumor Necrosis Factor (TNF),
yang meliputi TNF-R1, CD 95 (Fas), dan TNF-Related apoptosis inducing ligan
(TRAIL)-R1 dan R2. Ligan yang berikatan dengan reseptor tersebut
mengakibatkan caspase inisiator 8 membentuk trimer dengan adaptor protein
FADD.
Reseptor CD 95, TRAIL-R1 dan R2 terikat dengan FADD, sedangkan
TNF-R1 terikat secara tidak langsung dengan molekul adaptor lain, yaitu
TNF-Reseptor Associated Death Domain (TRADD). Kompleks yang terbentuk
antara ligan-reseptor dan reseptor kematian FADD disebut DISC. Kompleks ini
akan menginisiasi pro caspase-8 yang mengaktifkan caspase eksekutor.
Caspase-8 bekerja dengan cara memotong anggota famili Bcl-2 yaitu
Bid.11, 12 Bid yang terpotong pada bagian ujungnya akan menginduksi insersi
Bax ke dalam membran mitokondria dan melepaskan molekul proapoptotik
seperti sitokrom c, Samc/Diablo, Apoptotic Inducing Factor (AIF), dan omi/Htr2.
Adanya dATP akan terbentuk kompleks antara sitokrom c, Apaf-1, dan caspase-9
yang disebut apoptosom. Caspase-9 akan mengaktifkan aliran procaspase-3.
Protein caspase-3 yang aktif memecah berbagai macam substrat, diantaranya
enzim perbaikan DNA seperti poly-ADP Ribose Polymerase (PARP), dan DNA
protein kinase yaitu protein struktural seluler dan nukleus, termasuk aparatus
mitotik inti, lamina nukleus, dan aktin serta endonuklease, seperti Inhibitor
CaspaseActivated Deoxyribonuklease (ICAD) dan konstituen seluler lainnya.
Caspase-3 juga mempunyai kemampuan untuk mengaktifkan caspase
lainnya, seperti procaspase-6 dan 7 yang memberikan amplifikasi terhadap
kerusakan seluler.8 Adanya stres seluler meningkatkan ekspresi dari protein p53
yang mengakibatkan terjadinya G1 arrest atau apoptosis.8 Anggota dari Apoptosis
Stimulating Protein p53 (ASPP) yaitu ASPP 1 dan ASPP 2 secara spesifik
menstimulasi fungsi transaktivasi p53 pada promotor gen pro-apoptotik seperti
Bax dan p53 inducible gene 3 (PIG 3), tapi tidak pada promotor gen yang
menyebabkan hambatan siklus sel, yaitu p21 dan mdm2.
Stres mitokondria yang menginduksi apoptosis jalur intrinsik disebabkan
oleh senyawa kimia atau kehilangan faktor pertumbuhan, sehingga menyebabkan
gangguan pada mitokondria dan terjadi pelepasan sitokrom c dari intermembran
mitokondria.11 Sitokrom c adalah suatu heme protein yang bertindak sebagai
suatu pembawa elektron dalam fosforilasi oksidasi mitokondria, pemberhenti
elektron sitokrom c oksidase, keluar intermembran dan mengikat protein
sitoplasmik yang disebut Apaf-1. Protein ini akan mengaktifkan inisiator
caspase-9 di sitoplasma.8 Protein ini keluar dari mitokondria setelah terjadi
perubahan potensiasi elektrokimia di membrane yang menyebabkan terbukanya
suatu kanal yang nonspesifik dalam membran yang permeabel, terdiri atas dua
protein selaput bagian dalam yakni Adenine Nucleotide Translocator (ANT) dan
protein bagian luar yakni porin; Voltage Dependent Anion Channel (VDAC).
Protein ini bertindak bersama-sama, pada sisi luar dan sisi dalam terjadi kontak.
Saluran ini dapat dilewati zat yang memiliki bobot molekular kurang dari 1500.
Perubahan pada gradien proton menyebabkan oksidasi dan foforilasi di
mitokondria dan perubahan ion menyebabkan pembengkakan matriks. Sisi bagian
dalam sangat kusut dan memiliki luas permukaan jauh lebih besar dibanding
selaput yang luar, bengkak pada matriks mengarah rusaknya sisi luar, sehingga
sitokrom c dan Apaf-1 keluar masuk sitoplasma. Jalur ini biasa diaktifkan dalam
respon stimulus letal yang lain seperti perusakan DNA, stress oksidatif, dan
hipoksia.
Jalur Caspase Independen
Selain jalur caspase dependen, apoptosis juga dapat dipicu tanpa melalui
aktivitas caspase, yakni jalur caspase independen. Jalur caspase dependen diawali
dengan sejumlah ligan akan merangsang perubahan potensial membran
mitokondria yang akan meningkatkan produksi radikal bebas. Radikal bebas akan
merangsang pengeluaran caspase sehingga terjadi apoptosis. Jalur caspase
dependen, caspase tidak berperan banyak, namun kerusakan mitokondria
disebabkan oleh enzim dapat menghasilkan radikal bebas.
Literatur menyebutkan bahwa Granzyme A (GzmA) dapat menginduksi
secara langsung peningkatan senyawa oksigen reaktif dan kerusakan mitokondria
jalur caspase independen. Target khusus GzmA adalah 270– 420 kDa
endoplasmic reticulum (ER)-associated complex yang mengandung GzmA-
activated DNase NM23-H1 atau kompleks SET. Walaupun fungsi normal
kompleks SET ini belum diketahui dengan jelas, namun kandungan proteinnya
berhubungan dengan tumorigenesis.
Kompleks SET akan berpindah ke nukleus dan menyebabkan kerusakan
DNA. Faktor proapoptosis yang paling penting dalam jalur ini adalah AIF, yang
dilepaskan oleh mitokondria dan menyebabkan kerusakan DNA dalam nukleus.
Pelepasan AIF oleh mitokondria dipengaruhi juga oleh aktivasi PARP-1 akibat
senyawa oksigen reaktif. Ini membuktikan senyawa oksigen reaktif berperan pada
jalur caspase dependen dan independen. Selain AIF, proses glutationilasi dan
nitrosilasi menghambat beberapa grup thiol dan mempengaruhi fungsi protein
menyebabkan apoptosis.
Sumber :
1. Ana, Rafimawati. 2014. Potensi Ekstrak Daun Widuri (Calotropis Gigantea)
Sebagai Obat Antikanker Fibrosarkoma. UIN-Maliki Press.
2. Liza Meutia Sari. Apoptosis: Molecular Mechanisms Of Cellular Death
(Literature Review). Cakradonya Dental Journal.

15. JELASKAN PATOFISIOLOGI NEOPLASMA !


16. JELASKAN ANGIOGENESIS SEL TUMOR !