Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH VIKTMOLOGI TENTANG KAJIAN YURIDIS KESAMAAN

DIMUKA HUKUM TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA DALAM


SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA

Oleh :

NILAM ANNGELIA
NIM : 1710003600353

DOSEN PEMBIMBING : JULAIDDIN, SH, MH

UNIVERSITAS EKASAKTI
FAKULTAS HUKUM
PADANG
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapakan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, dan salawat beriring salam untuk Nabi besar
Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“KAJIAN YURIDIS KESAMAAN DIMUKA HUKUM TERHADAP KORBAN
TINDAK PIDANA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA”.
Penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kami dan dosen
program studi yang telah membimbing penulis membuat tugas ini sehingga penulis
dapat menyelesaikannya.

Padang, Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................


Daftar Isi ..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................
B. Rumusan Masalah ........................................................................................
C. Tujuan Penulisan ..........................................................................................
D. Manfaat Penulisan .......................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kesamaan di muka hukum ....................................................................
1. Pengertian Kesamaan Di muka Hukum ..............................................
2. Kesamaan Di muka hukum dalam sistem peradilan pidana indonesia ........
B. Korban Tindak Pidana ...........................................................................
1. Pengertian Korban Tindak Pidana .....................................................
2. Tinjauan hubungan korban dengan tindak pidana .............................
3. Hak-hak korban tindak pidana ..........................................................
a. Hak korban menurut doktrin .......................................................
b. Hak korban Menurut Deklarasi PBB ............................................
c. Hak menurut norma positif Indonesia ..........................................
C. Sistem Peradilan Pidana ..........................................................................
1. Pengertian sistem peradilan pidana ....................................................
2. Perubahan fundamental sistem peradilan pidana Indonesia .................
3. Model-model sistem peradilan pidana .................................................
4. Korban dalam sistem peradilan pidana Indonesia ...............................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................................................................
B. Saran ....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Korban tindak pidana merupakan salah satu unsur dari sebuah


kejahatan, korban bisa dikategorikan kedalam dua bentuk yakni korban individu
maupun korban secara kolektif. Korban dalam sebuah kejahatan merupakan
pihak yang dikategorikan sebagai pihak yang lemah.

Korban tindak pidana sendiri menurut UU No.13 Tahun 2006 Tentang


perlindungan saksi dan korban Jo UU No. 31 Tahun 2014 tentang perubahan atas
UU No. 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban . menyatakan
bahwa “Korban adalah orang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan atau
kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana” Menurut Arif Gosita
korban memiliki pengertian.

“Mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan


orang lain yang bertentangan dengan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang
mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan
dengan kepentingan hak asasi yang menderita”. 1 Dari pengertian yang
diberikan oleh UU perlindungan saksi dan korban dan definisi dari Arif Gosita
tersebut, memiliki pengertian bahwa korban merupakan pihak yang dirugikan dari
adanya suatu tindak pidana.

Dari dasar tersebut dapat dikatakan bahwa korban memiliki kepentingan


untuk mencari keadilan terhadap kerugian yang dialaminya dan korban sebenarnya
memiliki posisi sentral dalam sistem peradilan pidana dan merupakan nadi dari
sistem peradilan pidana. Atas penjabaran dari pengertian korban tersebut, terdapat
suatu pengelompokan korban antara lain yakni korban kejahatan lingkungan, korban
kejahatan politik, korban kejahatan nyawa, korban kejahatan harta benda dsb.
Definisi korban sebagai pihak yang lemah dalam mata rantai kejahatan
sebagaimana dijelaskan di atas, maka selayaknya korban mendapat sebuah
perlindungan dari berbagai ancaman dan kerugian hingga ketidakadilan.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, yang menjadi
pokok permasalahan dan hendak menjadi sorotan kajian yaitu :
1. Apakah sistem peradilan pidana Indonesia memberikan kesamaan dimuka
hukum terhadap korban tindak pidana secara umum ?
2. Bagaimana kostruksi ideal terhadap perlindungan dan pengakuan kesamaan
dimuka hukum untuk memberikan keadilan terhadap korban tindak pidana
sehubungan dengan ius constituendum Sistem peradilan pidana Indonesia.

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari adanya penulisan penelitian hukum ini merupakan hal penting dan
merupakan hal yang mendasari adanya penulisan ini dan sebagai solusi menjawab
dari permasalahan yang ada. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui posisi korban tindak pidana secara filosofis.


2. Mengetahui kedudukan dan peran korban dalam sistem peradilan pidana di
Indonesia.
3. Sebagai sarana menemukan solusi terhadap kebijakan hukum pidana (ius
constituendum) dalam konteks korban tindak pidana.
D. MANFAAT PENULISAN

Manfaat yang ingin dicapai oleh penulis didalam penulisan penelitian hukum ini
baik secara teoritis maupun secara praktis yakni :

1. Manfaat Teoritis
Dari penulisan penelitian hukum ini diharapan akan membantu dalam
pengembangan dan menambah wawasan terutama dalam hal korban
kejahatan (victimologi) didalam sistem peradilan pidana

2. Manfaat Praktis
Hasil dari penulisan penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih
pemikiran bagi mahasiswa serta masyarakat dan menjadi refrensi terhadap
permasalahan kedudukan korban didalam sistem peradilan pidana dan
menjadi awal dari adanya perlindungan terhadap korban tindak pidana.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kesamaan Dimuka Hukum


1. Pengertian Kesamaan Dimuka Hukum
Sebagai negara hukum Indonesia harus menjalankan prinsip-prinsip daripada
hak asasi manusia. Dimana pasca amandemen UUD NRI 1945 dan reformasi,
perkembangan positif terhadap perlindungan HAM di Indonesia semakin gencar
disuarakan, dapat dilihat dari terbitnya sejumlah regulasi dan ratifikasi konvensi
internasional.

Konsepsi pemikiran HAM berangkat pada pemikiran bahwa manusia memilik


hak kodrati yang melekat karena merupakan keberadaannya sebagai manusia bukan
karena pemberian oleh negara, hanya sebatas pengakuan oleh negara maka hak
tersebut tidak tidak dapat dicabut. Senada dengan pendapat penulis diatas Jimly
Asshidiqie merefleksikan HAM sebagai hak-hak yang melekat pada manusia karena
hakekat dan kodrat kelahiran manusia itu sebagai manusia.

Salah satu unsur HAM yang diakui di Indonesia adalah kedudukan yang sama
didepan hukum. Didalam konstitusi Indonesia Pasal 28 D yang berbunyi “Setiap
orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.” Selain itu pasal 27(1) mengamanatkan
“Segala warga negara bersamaan keudukannya didepan hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.

Amanat konstitusi sebagaimana disebut dalam pasal 28 D (1) dan pasal 27 (1)
harus adanya kedudukan yang sama didepan hukum termasuk dalam konteks
penegakan Hukum. Dalam pasal 4 UU No.39 Tahun 1999 tentang Perlindungan Hak
asasi manusia, memberikan ketentuan mengenai hak yang diberikan oleh konstitusi
dalam hal pengakuan HAM tidak dapat dikurangi dalam situasi apapun.
Konsep persamaan dimuka hukum sederhananya adalah bahwa semua orang
sama di depan hukum. Persamaan dihadapan hukum atau equality before the law
merupakan salah satu asas terpenting dalam hukum modern konsepsi pemikiran
equality before the law menginginkan perlakuan yang sama tanpa ada pengecualian,
termasuk bagi kelompok rentan.

Persamaan dimuka hokum (equality before the law) merupakan suatu asas
yang bersifat tidak kongkrit. Hal tersebut sebagai sebuah rencana untuk menghindari
suatu kesewenangwenangan dari penguasa terhadap rakyatnya. Prof Ramly
Hutabarat menyatakan sebagaimana diberitakan dalam Hukumonliene.com, Teori
equality before the law menurut UUD 1945, “suatu mata rantai antara hak dan
kewajiban yang harus berfungsi menurut kedudukannya masing-masing. Kesamaan
di hadapan hukum berarti setiap warga negara harus diperlakukan adil oleh aparat
penegak hukum dan pemerintah dengan tujuan adalah nilai keadilan yang harus
diwujudkan dalam praktik.

2. Kesamaan Dimuka Hukum Dalam Sistem Peradilan Pidana


Pancasila sebagai ideologi bangsa dan merupakan sumber dari segala sumber
hukum memuat sebuah nilai luhur untuk menciptakan kehidupan bernegara yang
sejahtera demi menciptakan bangsa yang madani. Dalam konteks peraturan
perundang-undangan pancasila harus menjadi falsafah dalam pembentukannya.
Berbicara mengenai sistem peradilan pidana dan kesamaan dimuka hukum
(equality before the law) merupakan suatu hal yang berkaitan dan saling
membutuhkan karena dalam terciptanya sistem peradilan pidana yang baik harus
dilandaskan kepada asas dimana salah satu asasnya ialah kesamaan dimuka hukum.
Dalam pancasila sebagai sumber hukum pidana sebagaimana diungkapkan oleh
Mokhammad Najih, bahwa hukum pidana (baik materil maupun formil –Pen) harus
bertujuan untuk melindungi jiwa dan raga manusia indonesia. Didalam terjadinya
kehatan/tindak pidana maka seluruh pihak yang mendapat dampak dari adanya
kejahatan harus dilindungi jiwa dan raganya.
Lebih lanjut dalam Konstitusi Indonesia sebagaimana kita lihat dalam pasal
28D (1) dan Pasal 27 (1) telah mengamanatkan persamaan dimuka hukum. Dengan
demikian hukum pidana formil sebagai landasan hukum acara pidana indonesia
tentu secara hirarki perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan peraturan
diatasnya dalam hal ini tidak boleh bertentangan dengan UUD NRI 1945.
Jika didalam konstitusi persamaan dimuka hukum dicantumkan, maka
konsekuensi logisnya pembentuk perturan dan penegak hukum haruslah
melaksanakan dan merealisasikan asas ini dalam kehidupan bernegara dan dalam
peraturan perundag-undangan dibawahnya.
Dalam konteks ini dalam KUHAP sudah ada pengakuan mengenai adanya asas
ini, hal ini merupakan suatu bentuk betapa pentingnya persamaan dimuka hukum
dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Persamaan dimuka hukum pada
hakikatnya merupakan suatu akibat dari berubahnya sistem inkuisitur kepada sistem
akusatur. Perubahan disini untuk menghindari penyiksaan dari para penegak hukum
hal ini pada saat itu belum diatur mengenai kesamaan dimuka hukum.
Kesamaan dimuka hukum khususnya dalam sistem peradilan pidana adalah
agar peradilan jauh dari tindakan dan perlakuan diskriminasi dalam segala bentuk,
dengan tiga patokan. pertama: persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan
selama persidangan pengadilan, kedua: diberikan hak perlindungan yang sama oleh
hukum, ketiga, mendapat perlakuan yang sama di bawah hukum. Konsep kesamaan
dimuka hukum dalam KUHAP pada pembentukannya murni untuk melindungi
pelaku tindak pidana yang sebelum KUHAP hadir kerap mendapat penyiksaan dan
menempatkan pelaku sebagi objek.

B. Korban Tindak Pidana


1. Pengertian Korban Tindak pidana
Kejahatan merupakan suatu perbuatan yang dilakukan bertentangan dengan
norma yang ada pada kehidupan sosial masyarakat. Kejahatan dapat dikatakan suatu
tindak pidana jika sudah dirumuskan dalam suatu legal formal peraturan melalui
serangkaian proses kriminalisasi. Dalam pembahasan terjadinya tindak pidana
terdapat beberapa unsur yakni pelaku, korban, dan pemidanaan.
Hal menarik yang dapat dikaji mengenai unsur dari tindak pidana yakni
korban tindak pidana itu sendiri karena merupakan unsur yang menderita dan dapat
pula pihak yang menyebabkan tindak pidana itu sendiri. Korban tindak pidana atau
biasa disebut victimologi, memiliki arti latin victima yang berarti korban dan logos
yang berarti ilmu.
Secara terminologi victimologi berarti suatu studi yang mempelajari tentang
korban. Sejarah viktimologi dimulai sejak tahun 1941 ketika Von Henting menulis
sebuah makalah dengan judul remarks on the interaction of perpetrator and victim
dan kemudian selang 7 tahun kemudian diikuti oleh terbitnya sebuah buku dari Von
Henting yang berjudul the criminal and his victim pada tahun 1948.
Viktimologi merupakan studi pengkajian korban secara luas tidak hanya pada
korban kejahatan saja namun juga melakukan pengkajian terhadap korban
pelanggaran dan korban penyalahgunaan kekuasaan. Terdapat beberapa pengertian
dari korban tindak pidana, kamus besar bahasa indonesia (KBBI) Memberikan
pengertian korban yakni “ yang menjadi menderita (mati dan sebagainya) akibat
suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya” doktrin dari para ahli juga
memberikan pengertian mengenai pengertian dari korban tindak pidana.
Von boyen dalam buku Rena yulia yang berjudul viktimologi, perlindungan
hukum terhadap korban kejahatan menyampaikan pengertian korban tindak pidana
“Korban yang secara individual maupun kelompok telah menderita kerugian,
termasuk cedera fisik maupun mental, penderitaan emosional, kerugian ekonomi atau
perampasan yang nyata terhadap hak-hak dasarnya, baik karena tindakan (by act)
maupun karena kelalaian (by omission)...” Prof. Muladi dan prof. barda
mendefinisiskan korban sebagai pihak dalam kejahatan yang menderita kerugian
akibat kejahatan dan keadilannya terganggu sebagai akibat kejahatan.
Dalam hirarki peraturan perundang-undangan Indonesia, terdapat beberapa
peraturan yang memberikan pengertian korban tindak pidana. UU No.13 Tahun 2006
Jo UU No.31 Tahun 2014 tentang perlindungan saksi dan korban memberikan
pengertian Korban adalah “orang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan
atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana”. Berdasar kepada
definisi korban secara harfiah, doktrin, dan secara normatif penulis mencoba
merumuskan definisi korban dalam penulisan kali ini disebut dengan korban tindak
pidana.
Dapat ditarik kesimpulan korban kejahatan memiliki definisi yakni, sebagai
pihak yang merupakan unsur dari suatu tindak pidana, yang mengalami kerugian dan
mengalami ketidak nyamanan atas terjadinya suatu perbuatan jahat yang terumus
dalam legal formal atau disebut tindak pidana dengan kerugian secara nampak,
maupun tidak nampak. Kerugian sebagaimana dimaksud diatas, terbagi kedalam dua
bentuk.
Pertama. kerugian yang nampak dapat dimaknai sebagai kerugian yang dapat
dilihat secara kasat mata dan dapat dihitung seperti kerugian harta benda maupun
kerugian atas pengobatan yang telah dikeluarkan akibat dari tindak pidana. Kedua.
kerugian yang tidak nampak merupakan kerugian yang susah dilakukan
penghitungan pada saat itu juga maupun masa yang akan datang.
Kerugian semacam ini semisal kerugian yang tidak hanya dialami langsung
oleh korban tindak pidana, namun kerugian semacam ini dapat juga dialami oleh
pihak yang memiliki ketergantungan kepada korban. Secara tidak langsung pihak
yang mengalami kerugian ini tidak nampak mengalami kerugian. Contoh dari
kerugian tidak nampak seperti kepala keluarga yang menjadi korban tindak pidana
pembunuhan, istri dan anaknya yang ditinggalkan akan mengalami ketidak pastian
dan keputusasaan dalam hidupnya, hal semacam ini merupakan kerugian yang tidak
dapat dihitung pada saat itu juga.
2. Tinjauan Hubungan Korban dengan Tindak pidana
Korban tindak pidana sebagaimana dijelasakan diatas merupakan pihak yang
terlibat dan merupakan unsur dalam suatu tindak pidana. Pada sub BAB ini akan
dikaji perihal hubungan korban tindak pidana dengan tindak pidana yang terjadi yag
dapat dilihat dari beberapa hal seperti akan dijelaskan dibawah ini. Dikaji berdasar
derajat kesalahan, Menurut mendelshon sebagaimana dikutip dalam Bambang
Waluyo korban dibedakan kedalam 5 macam :
1) Korban sama sekali tidak bersalah
2) Menjadi korban karena kelalaian
3) Korban kesalahannya sama dengan pelaku tindak pidana
4) Korban bersalahnya melebihi pelaku tindak pidana
5) Korban sebagai penyebab terjadinya tindak pidana
Pembagian korban berdasar derajat kesalahannya merupakan salah satu dasar
penjatuhan pemidanaan dan dasar pemberian hak kepada korban.
Dikaji berdasar tingkat keterlibatan terjadinya tindak pidana, Ezzat Abde
Fattah menyebut beberapa tipologi korban dalam hal keterlibatan dalam tindak
pidana yang dibagi dalam 5 macam :

1) Non participating victims umumnya menolak kejahatan namun tidak


ikut berpartisipasi menaggulangi tindak pidana

2) Latent or predisposed victims mempunyai kecenderungan menjadi


korban tindak pidana tertentu

3) Provocatif victims timbulnya tindak pidana karena provokasi dari


korban tindak pidana itu sendiri

4) Participating victims perilaku yang berbeda pada manusia umumnya


menjadi pemicu terjadinya tindak pidana namun korban tindak pidana
tidak menyadari akan hal tersebut.

5) False Victims jatuhnya korban tindak pidana karena perbuatan dari


tindak pidana itu sendiri.
Bila diikaji secara tanggung jawab terhadap dampak dari terjadinya tindak
pidana, korban dibagi menjadi 7 macam :
1) unrelated victims korban tidak memiliki hubungan apapun
terhadap terjadinya tindak pidana, aspek pertanggung jawabannya
mutlak menjadi tanggungan pelaku

2) Provocative victims korban menjadi pemicu dari terjadinya


tindak pidana terhadap korban. Hal semacam ini maka pertanggung
jawabannya terbagi kepada korban dan pelaku

3) Participating victims korban tanpa disadari oleh dirinya secara


nyata menjadi pemicu terjadinya tindak pidana, pertanggung jawaban
sepenuhnya terletak pada korban

4) Biologically weak victims kondisi fisik korban menjadi pemicu


terjadinya tindak pidana, mengenai pertanggung jawabannya sendiri
terletak kepada masyarakat dan pemerintah karena tidak melindungi
masyarakatnya

5) Socially weak victims jatuhnya korban karena kedudukan


sosial dari korban, seperti tunawisma

6) Self victimizing victims korban kejahatan yang terjadi karena


perbuatannya sendiri, pelaku dan korban menjadi satu dalam subjek,
hal semcam ini dapat kita temui dalam kasus penggunaan narkoba

7) Political victims korban disebabkan karena lawan politik,


korban semacam ini pertangungjawbannya terletak pada pelaku
(lawan politik) sepanjang konstelasi politiknya tidak berubah, atau
dengan kata lain tidak berafiliasi dengan lawan politik yang
menyebabkan menjadi korban.
Pembagian macam-macam korban berdasar drajat kesalahan, berdasar
keterlibatannya, dan berdasar tanggung jawabanya dapat ditarik kesimpulan bahwa
pembagian tersebut memiliki fungsi sebagai penentu bagaimana cara dan metode
untuk memberikan suatu perlindungan bagi korban tindak pidana, mengingat ajian
viktimologi yang semakin berkembang dewasa ini, juga menjadi batasan terjadinya
korban yang memanfaatkan posisinya sebagai korban.
3. Hak-Hak Korban Tindak Pidana
a. Hak Korban Menurut Doktrin
Pembahasan mengenai hak daripada korban tindak pidana
tentu tidak dipisahkan dari pemikiran ahli atau yang disebut
doktrin. Van boven memberikan pemikiran tentang hak yang
dapat dimiliki korban tindak pidana adalah hak atas keadilan dan
pemulihan secara materil dan immateril terhadap kerugian yang
dialami, pemulihan disini merupakan tindakan yang terindikasi
melanggar hak asasi manusi termasuk tidak tercapainya equality
before the law korban dapat juga mendapatkan keadilan maupun
pemulihan.
Masalah keadilan, menurut penulis merupakan tugas
pemerintah untuk hadir memberikan keadilan sebagaimana
pendapat Van Boven, sedangkan mengenai pemulihan merupakan
tanggung jawab dari pelaku tindak pidana, pemerintah, maupun
korban tindak pidana tanggung jawab oleh korban sifatnya
flexible, harus melihat peranan korban dalam terjadinya tindak
pidana.
Dalam kepustakaan mengenai hak berupa perlindungan yang
dapat diperoleh oleh korban dikenal dua model. Pertama, Hak
prosedural dimana di prancis dikenal Partie civile model dalam
model ini peranan korban sangat aktif dalam setiap tingkat
perkara. Kedua, Model pelayanan (service model) menekannkan
pada pemberian ganti rugi dalam bentuk kompensasi, restitusi,
atau upaya pengembalian kepada kondisi semula.
Arif ghosita memberikan pandangan mengenai hak-hak yang dapat diperoleh
korban tindak pidana yang mencakup :

1. Hak mendapat ganti rugi atas kerugian yang dialaminya namun harus
dilihat keterlibatan korban terhadap terjadinya tindak pidana.

2. Mendapat restitusi/kompensasi terhadap pihak yang tidak secara langsung


menjadi korban (potential victims)

3. Mendapat rehabilitasi maupun pembinaan

4. Memperoleh haknya kembali

5. Memperoleh perlindungan dari berbagai ancaman

6. Memperoleh penasehat hukum secara Cuma-Cuma

7. Mempergunakan upaya hokum


Terhadap hak pelayanan dalam bentuknya restitusi/kompensasi. Reiif
memberikan pandangan tentang bahwa langkah pemberian kompensasi merupakan
upaya integrasi bidang kesejahteraan sosial, kemanusiaan, dan sistem peradilan
pidana. Upaya restitusi/kompensasi jika dibenturkan dengan konsep retributive
justice yang memandang reaksi sosial termasuk kejahatan adalah pelanggaran
terhadap umum, negara harus ikut turun tangan dalam persoalan ini.
Mengenai perlunya turut sertanya negara dalam pemberian
restitusi/kompensasi, Goldstein memberikan pendapat bahwa pemberian
restitusi/kompensasi oleh negara akan memiliki tendensi negative sebab hal tersebut
akan mengurangi tanggung jawab pelaku tindak pidana.
Perlunya perubahan paradigm dari retributive justice kepada restorative
justice jika akan menerapakan sistem krestitusi/kompensasi untuk tidak
menghilangkan tanggung jawab korban dan merupakan salah satu pembinaan secara
non formal karena seara kongkret telah melakukan pembersihan noda yang telah
diperbuatnya melalui pemberian restitusi/kompensasi atau dapat juga disebut
pemberian santunan.
Mengenai hak rehabilitasi atau pemulihan, korban sudah seharusnya
mendapatkan dari pelaku tindak pidana, melalui teori pendekatan dosa yang
disampaikan oleh Andi matalata dalam J.E. Sahetapy. Pada intinya pendekatan dosa
menitik beratkan pada perbuatan yang dilakukan pelaku tindak pidana merupakan
suatu “dosa” yang dilakukan manusi kepada sesama mahluk tuhan, konsekuensi
logisnya adalah pelaku harus “bertobat” untuk menghapus dosa.
Melalui perhatian kepada korban dalam bentuk memulihkan kerugian yang
diterita, tidak terbatas pada kerugian yang nampak (materil) dapat pula kerugian
tidak nampak (immaterial) dan kerugian yang akan datang hubungannya dengan
pihak yang berpotensi dirugikan diluar korban. Penjatuhan kewajiban pembayaran
restitusi/kompensasi maupun santunan oleh pelaku kepada korban melalui
pendekatan “dosa” dapat mempermudah penghayatan pelaku tentang salahnya
melakukan perbuatan jahat.
b. Hak Korban Menurut Deklarasi PBB
Pada tahun 1985 PBB telah melaksanakan deklarasi Deklarasi mengenai
Prinsip-prinsip Keadilan Dasar Bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan
Kekuasaan (Declaration of basic Principle of justice for Victims of criminal and
Abuse of Power) yang disahkan oleh Resolusi Majelis Umum PBB.
Menurut J.G Starke “Majelis Umum merupakan satu-satunya badan utama
Perserikatan Bangsa-Bangsa yang terdiri dari semua anggota, setiap anggota hanya
memiliki satu suara, meskipun diizinkan menempatkan lima orang wakilnya.”
Dengan demikian maka setiap negara PBB wajib mengikuti keputusan majelis umum
PBB dalam konteks ini Indonesia sebagai anggota PBB dianggap telah meratifikasi.
Dalam hal perlindungan korban, Deklarasi mengenai Prinsip-prinsip Keadilan
Dasar Bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan Kekuasaan memberikan hak
fudamental terhadap korban yakni sebagai berikut :
1. Acses to justice and fair treatment (Perlakuan yang adil)
Korban harus selayaknya diperlakukan sebagai manusia, harus ada
pengakuan penghormatan termasuk didengar keinginannya untuk
dipertimbangkan.
2. Restitution (ganti kerugian)
Ganti rugi kepada korban dapat diberikan untuk memperingan penderitaan
dan bahkan dapat menghilangkan penderitaan korban, baik korban langsung
(actual victims) maupun korban tidak langsung (potential victims)
3. Comoensation (Santunan)
Sama seperti restitution (ganti kerugian) pemberian santunan ini diberikan
kepada korban langsung (actual victims) maupun korban tidak langsung
(potential victims)
4. Assistance (Bantuan)
Korban sebagai pihak yang menderita, perlu mendapat bantuan baik medis,
sosial, maupun psikologis. Jika kaitannya dengan bantuan sosial maupun
psikologis maka peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini tanpa
melupakan tanggung jawab dari pelaku sendiri.
c. Hak Menurut Norma Postif Indonesia
Peraturan perundang-undangan indonesia sebagai norma positif memberikan
hak kepada korban tindak pidana dalam rangka mengembalikan kondisi korban
setelah mengalami suatu penderitaan, meskipun substansinya masih belum
memberikan suatu keseimbangan. Mengenai permasalahan tersebut akan dibahas
dalam bab selanjutnya dalam sub bab ini akan dibahas mengenai hak yang telah
diberikan oleh norma positif kepada korban. UU No.8 Tahun 1981 tentang Hukum
acara pidana atau KUHAP merupakan norma umum (lex generali) dalam hal hukum
pidana formil, garis-garis besar hukum acara pidana diatur dalam UU ini.
Berbicara mengenai hak korban KUHAP memberikan hak kepada korban
mengenai gugatan ganti kerugian yang diatur dalam pasal 80,98,99,100,101. Pasal 80
mengatur mengenai permohonan pra peradilan mengenai sah atau tidaknya
pengehentian penyidikan atau penuntutan yang merupakan rangkaian criminal justice
system. Hak korban dapat dilihat pada redaksional “pihak ketiga” lengkapnya dapat
dilihat dalam pasal 80. “Permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu
penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut
umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri
dengan menyebutkan alasannya”.
Selanjutnya dalam pasal 98-101 diatur mengenai gugatan ganti ganti
kerugian. Dengan adanya pasal ini dapat dikatakan sebagai langkah awal
diperhatikannya dalam proses peradilan pidana. Dalam pasal 98 berbunyi “Jika suatu
perbuatan yang menjadi dasar dakwaan di dalam suatu pemeriksaan perkara pidana
oleh pengadilan negeri menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka hakim ketua
sidang atas permintaan orang itu dapat menetapkan untuk menggabungkan perkara
gugatan ganti kerugian kepada perkara pidana itu.”
Dari pasal tersebt dapat kita cermati bahwa kerugian yang dapat diajukan
merupakan kerugian materil dapat dicermati dalam pasal tersebut terdapat unsur
yang menjelaskan hanya sebatas kerugian imateril yakni perbuatan yang menjadi
dasar dakwaan dan menimbulkan kerugian bagi orang lain. Mengenai tujuan ganti
kerugian dalam KUHAP R. Soeparmono memberikan pendapat, kerugian yang dapat
diajukan gugatan dalam KUHAP khususnya pasal 98 hanya kerugian yang nyata-
nyata dikeluarkan atas terjadinya tindak pidana, misal biaya pengobatan rumah sakit
dsb.
Lebih lanjut R. Soeparmono menyatakan untuk kerugian immaterial harus
mengajukan gugatan perdata tersendiri. Dalam huku pidana materil (KUHP) Diatur
mengenai perlindungan dan pemberian hak kepada korban, diatur dalam pasal 14 a
(1) Jo Pasal 14c. pada pasal 14 a (1) yang berbunyi “Apabila hakim menjatuhkan
pidana paling lama satu tahun atau pidana kurungan, tidak termasuk pidana kurungan
pengganti maka dalam putusnya hakim dapat memerintahkan pula bahwa pidana
tidak usah dijalani, kecuali jika dikemudianhari ada putusan hakim yang menentukan
lain, disebabkan karena si terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa
percobaan yang ditentukan dalam perintah tersebut diatas habis, atau karena si
terpidana selama masa percobaan tidak memenuhi syarat khusus yang mungkin
ditentukan lain dalam perintah itu.”
Dalam pasal 14 c berbunyi “Dengan perintah yang dimaksud pasal 14a,
kecuali jika dijatuhkan pidana denda, selain menetapkan syarat umum bahwa
terpidana tidak akan melakukan tindak pidana, hakim dapat menetapkan syarat
khusus bahwa terpidana tindak pidana , hakim dapat menerapkan syarat khusus
bahwa terpidana dalam waktu tertentu, yang lebih pendek daripada masa
percobaannya, harus mengganti segala atau sebagian kerugian yang ditimbulkan oleh
tindak pidana tadi.”
Pemberian ganti rugi kepada korban dalam putusan hakim sebagaimana pasal
diatas hanya dapat dilakukan pada putusan yang dibawah satu tahun. Sedangkan
untuk putusan diatas itu tidak ada keistimewaan semacam itu. Norma positif lain
yang mengatur mengenai hak korban terdapat dalam UU No.13 Tahun 2006 Tentang
Perlindungan Saksi Dan Korban Jo UU No.31 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
undang-undang nomor 13 tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban.
Tujuan dari UU ini dapat dilihat dalam dasar pertimbangan atau konsiderans.
Pada pasal 5 diatur mengenai hak dari korban dan saksi. Secara keseluruhan, semua
hak diatas tidak dipisahkan antara hak saksi dan hak korban, penulis melihat dari
sekian hak tersebut lebih banyak memberikan hak kepada saksi. Hanya hak
“memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu Perlindungan
berakhir” yang dapat diberikan kepada korban.
Disamping itu dalam pasal 7A UU No.31 Tahun 2014 Tentang Perubahan
atas undang-undang nomor 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban
diberikan hak pengajuan restitusi melalui LPSK, namun hal ini melalui mekanisme
tidak sederhana.
C. Sistem Peradilan Pidana Indonesia
1. Pengertian Sistem Peradilan Pidana
Sistem peradilan pidana merupakan salah satu alat menegakkan hukum
dengan pendeketana mekanisme sistem terintegrasi. Terdapat beberapa lembaga
didalam sistem yang saling terhubung dalam menyelesaikan suatu tindak pidana. Di
Indonesia jika berbicara mengenai sistem peradilan pidana maka akan tertuju kepada
Kepolisisan, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga pemasyarakatan dengan acuan
normatif UU No.8 Tahun 1981 (KUHAP) yang terdiri atas 22 BAB dan 286 pasal.
Bila dikaji secara terminologi sistem peradilan pidana atau criminal jstice
system adalah suatu upaya dalam menanggulangi suatu kejahatan dengan metode
pendekatan sistem. Menurut istilah dalam kamus besar bahasa indonesia, sistem
peradilan pidana terdiri atas tiga suku kata. Sistem, peradilan, pidana. Dengan
masing-masing suku kata memiliki arti masing-masing. Sistem memiliki arti
perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu
totalitas.
Peradilan memiliki arti segala sesuatu mengenai perkara pengadilan atau
lembaga hukum bertugas memperbaiki. Pidana memiliki arti kejahatan. Dari tiga
suku kata penulis mencoba merumuskan pengertian yakni suatu perangkat yang
memiliki unsur yang saling terhubung untuk memperbaiki suatu gejala sosial berupa
kejahatan.
Remington dan ohlin dengan tegas mengemukakan pengertian mengenai
sistem peradilan pidana sebagai berikut :
“Criminal justice system dapat diartika sebagai pemakaian pendekatan sistem
terhadap mekanisme administrasi peradilan pidana, dan peradilan sebagai suatu
sistem merupakan hasil interaksi antara peraturan perundang-undangan, praktik
administrasi dan sikap atau tingkah laku sosioal. Pengertian sistem itu sendiri
mengandung implikasi suatu proses interaksi yang dipersiapkan secara rasional dan
dengan cara efisien untuk memberikan hasil tertentu dengan segala keterbatasannya”.
Sistem peradilan Indonesia dengan dasar KUHAP sebagai lex generali dapat
diartikan sebagai suatu pendekatan sistem dengan tujuan adalah bagaimana
pendekatan sistem untuk mencapai tujuan menjalankan/menegakkan hukum pidana
materil sedapat mungkin menghindari pemerkosaan terhadap harkat dan martabat
manusia. Mardjono memberikan definisi sistem peradilan pidana adalah sistem
pengendalian kejahatan yang terdiri dari lembaga-lembaga kepolisisan, kejaksaan,
pengadilan dan lembaga pemasyarakatan.
Lebih lanjut menurut mardjono, tujuan dari sistem tersebut untuk mencegah
jatuhnya korban di masyarakat, menegakkan keadilan dengan dipidananya pelaku,
mengusahakan pelaku tidak mengulangi dengan sistem pembinaan di LAPAS.
Muladi memberikan pendapatnya mengenai definisi sistem peradilan pidana
merupakan jaringan (network) yang didalamnya menggunakan kerangka normatif.
Hukum pidana materil, Hukum pidana formil dan Hukum pelaksanaan
pidana. Namun jika sistem kelembagaan ini dipandang hanya untuk kepastian hukum
tanpa memperhatikan realitas sossial maka akan hanya menghadirkan bencana
berupa ketidak adilan. Dari pengertian yang diberikan kamus dan pendapat para ahli
dapatlah disimpulkan bahwa sistem peradilan pidana merupakan mekanisme
pengadilan untuk menegakkan hukum demi perbaikan atas adanya gejala sosial di
masyarakat.
Sehubungan dengan sistem ini berlaku di negara rechstaat seperti indonesia
maka diperlukan suatu dasar hukum maka KUHAP yang menjadi dasar hukum
umum (lex generali) dan UU diluar KUHAP (lex speciali).
2. Perubahan Fundamental Sistem Peradilan Pidana Indonesia
Lahirnya UU No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang disahkan
pada tgl 31 Desember tahun 1981 oleh presiden soeharto menjadi awal dimulainya
sistem peradilan pidana dari sistem ikusitoir menuju sistem akuisotir, dengan
menggantikan HIR sebagai Hukum acara formil pada saat itu. Telah terjadi
perubahan fundamental dalam sistem peradilan pidana indonesia dengan dimuatnya
perlindungan-perlindungan Hak Asasi Manusia terhadap tersangka, terdakwa,
tertuduh, sampai terpidana.
Pada waktu itu KUHAP dianggap sebagai suatu karya agung, adapun
perubahan fundamental perubahan tersebut dapat dilihat dalam asas yang diatur.
Konsekuensi logis dari sepuluh asas yang menjadi nyawa dari KUHAP dengan
dianutnya due process of law maka KUHAP harus menjalankan sistem peradilan
pidana berdasar kesepuluh asas kepada pihak yang terlibat dalam mata rantai
kejahatan yang terjadi. Juga harus didukung oleh sikap batin yang harus
menghormati asas tersebut yang memiliki citarasa penghormatan terhadap hak asasi
manusia.
Lebih lanjut romli atma sasmita memberikan kesimpulan terhadap perubahan
dasar hukum sistem peradilan pidana dengan UU No.8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana sebagai berikut :
1. Telah terjadi perubahan pemikiran dan pandangan tentang kedudukan
tersangka terdakwa dan atau tertuduh dalam penyelesaian perkara pidana
di indonesia
2. Perubahan pemikiran dan pandangan dimaksud tampak terlalu
menitikberatkan perlindungan atas hak dan kepentingan tersangka,
tertuduh dan terdakawa, akan tetapi kurang memperhatikan efisiensi
mekanisme penyelesaian perkara pidana itu sendiri oleh aparat yustisi dan
kepentingan korban tindak pidana atau korban penalah gunaan kekuasaan
oleh aparat penegak hukum
3. Sistem peradilan pidana Indonesia telah menganut sistem campuran dan
mulai meninggalkan sistem lama yang kurang memperhatikan kedudukan
seseorang yang dituduh nelakukan tindak pidana
4. Adanya perubahan pemikiran dan siap pembentuk undang-undang harus
juga diikuti oleh pandangan aparat penegak hukum didalam implementasi
Undang-undang
5. Secara teknis operasional, pelaksanaan undang-undang dimaksud akan
merupakan pencerminan kebenaran akan adanya perubahan sikap dan
pandangan terhadap kedudukan tersangka/tertuduh dalam mekanisme
pelaksanaan sistem peradilan pidana.
Dari penjelasan diatas dapatlah kiranya penulis menarik kesimpulan tentang
bentuk kongkret dari adnya perubahan fundamental tersebut terletak pada
keseluruhan asas hukum acara pidana (KUHAP) sebagaimana terdapat dalam
penjelasannya.
3. Model-Model Sistem Peradilan Pidana
Dalam ranah teoritik banyak terdapat berbagai teori yang memiiki tujuan
mempermudah dan memberikan manfaat bagi mansuia yang berasal dari ratio
manusia. Dalam sistem peradilan pidana, Michael King memberikan beberapa
model jenis sistem peradilan pidana yang masing-masing model berbeda dalam
implementasinya, dan memiliki cara masing-masing menhadirkan keadilan.
Berikut adalah model sistem peradilan pidana tersebut :
1. Just Desert Model
2. Power Model
3. Status passage model
4. Bureaucratic Model
5. Medical models
6. Crime control model
7. Due Process Model (DPM)

4. Korban Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia


Pada pembahasan dimuka telah dijelaskan terminologi daripada korban dan
mengenai apa itu sebenarnya korban. dimana diketahui korban merupakan pihak
yang mengalami kerugian atas tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku. Didalam
sistem peradilan pidana indonesia korban kedudukannya hanya sebagai saksi untuk
membuktikan kesalahan tersangka/terdakwa.
Korban dalam memperjuangkan haknya ataupun suaranya dalam peradilan
pidana hanya dapat dilakukan didalam tingkat penyidikan atau ketika menjadi saksi.
Eksistensi korban dalam sistem peradilan pidana secara hakikat diwakili oleh jaksa,
hal demikian dapat dilihat dari pandangan konsep kejahatan yang memandang
kejahatan sebagai pelanggaran terhadap negara atau kepentingan publik yang
dilandasi oleh pemikiran berbasis retributive justice.
Kepentingan korban yang diwakili oleh jaksa dikarenakan perlindungan
semacam ini bagian bagi perlindungan masyrakat, hal tersebut dapat dilihat dalam
dalam undang- undang No 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan dijelaskan bahwa jaksa
disebutkan sebagai wakil negara. Keterwakilan korban oleh jaksa pada sistem
peradilan pidana indonesia, tidak dapat dipisahkan dari konsekuensi logis teori
kontrak sosial dan teori solidaritas sosial.
Keterwakilan korban oleh jaksa penuntut umum dalam sistem peradilan
pidana secara historis dikarenakan apabila korban bertindak sendiri maka akan
meletakkan kepentingan pribadi diatas segalanya. Dengan demikian kedudukan
korban dalam sistem peradilan pidana selain telah diwakili oleh jaksa juga
berkedudukan sebagai saksi apabila sesuai dengan syarta saksi itu sendiri yakni
orang yang mendengar sendiri, melihat sendiri dan mengalami sendiri suatu tindak
pidana.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Permasalahan yang dihadapi terkait dengan penyelenggaraan
pemindahan narapidana antarnegara antara lain adalah berawal dari
adanya permintaan dari negara lain untuk melakukan pemindahan
narapidana dengan negara kita, akan tetapi untuk melakukan proses
tersebut belum didukung oleh aturan hukum sehingga permintaan
pemindahan narapidana antarnegara menjadi terhambat.
2. Hak asasi manusia narapidana harus tetap diperhatikan dalam upaya
rehabilitasi, resosialisasi dan reintegrasisosial mereka. RUU
Pemindahan Narapidana Antarnegara perlu di bentuk sebagai sarana
perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi
manusia narapidana yaitu dengan mendapatkan pembinaan yang
memperhatikan hak asasi manusia. Pembinaan narapidana dapat
berbentuk jaminan untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan
orang-orang tertentu, kemudian didekatkan dan dikenalkan dengan
masyarakat untuk mendorong hubungan dan perilaku yang lebih baik
terhadap masyarakat.
3. Bagi Indonesia, pemindahan narapidana antarnegara merupakan
wujud negara dalam pemenuhan perlindungan, pemajuan, penegakan,
dan pemenuhan hak asasi manusia narapidana baik yang
berkewarganegaraan Indonesia maupun yang berkewarganegaraan
asing. Dengan menjalani hukuman di negaranya sendiri diharapkan
narapidana tersebutmenjadi lebih dekat dengan lingkungan sosial
budayanya sendiri. RUU Pemindahan Narapidana Antarnegara hadir
untuk merespon fakta empiris adanya tuntutan perkembangan
dunia internasional terkait dengan tawaran kerjasama dalam
melakukan pemindahan narapidana antarnegara dari negara lain.
Adanya tawaran tersebut belum didukung oleh dasar hukum sebagai
pijakan untuk menjalankan mekanisme administrasi pemindahan
narapidana antarnegara, sehingga peraturan ini hadir untuk mengisi
kekosongan hukum tersebut.
4. Sasaran yang ingin diwujudkan adalah tercapainya landasan dan
kepastian hukum dalam pemindahan narapidana antarnegara sehingga
usaha rehabiliatsi dan reintegrasi sosial yang merupakan salah satu
pembinaan narapidana dapat dilaksanakan secara maksimal.
Pengaturan pemidahan narapidana antarnegara berlaku bagi
Pemerintah Indonesia, pemerintah negara lain dalam hal melakukan
permintaan pemindahan narapidana antarnegara, serta narapidana
WNI yang menjalani hukuman pidanadi negara lain dan narapidana
WNA yang menjalani hukuman pidanadi Indonesia. Pada prinsipnya
pemindahan narapidana antarnegara dilakukan berdasarkan perjanjian
dan atas persetujuan negara pengirim, negara penerima, dan
narapidana yang bersangkutan. Materi yang diatur adalah mengenai
mekanisme administrasi berupa persyaratan dan tata cara serta
ketentuan pidana yang berlaku dalam program pemindahan
narapidana antarnegara. Tata cara pemindahan narapidana antarnegara
meliputi pemindahan dari Indonesia ke negara lain maupun
sebaliknya, penanganan permintaan pemindahan narapidana,
penyerahan narapidana, dan transit.
B. SARAN
1. Perlu adanya pembaharuan dan penegasan terhadap peraturan
perundang-undangan Pidana (KUHP dan KUHAP) yang merumuskan :
a. Korban sebagai salah satu subyek dalam system peradilan pidana,
baik mengenai kedudukan maupun peranannya
b. Penentuan kreteria korban dan ahli waris yang berhak atas ganti
kerugian
c. Pedoman penerapan pidana ganti kerugiand.tata cara tentang
pengajuan ganti kerugian
2. Aparat Peradilan Pidana harus memperhatikan kepentingan hukum
korban tindak pidana kejahatan dan lebih berani melakukan penemuan-
penemuan hukum, misalnya dalam berita acara penyidikan dan surat
dakwaan dimuat keinginan-keinginan korban tindak pidana kejahatan
seperti ganti kerugian, sebagai pemulihan penderitaan fisik maupun
finansial korban tindak pidana. Demikian pula hakim dalam
menjatuhkan putusannya tidak hanya mengacu pada tuntutan Jaksa
Penuntut umum saja tetapi harus mandiri. Misalnya, jaksa menuntut
pidana penjara dan hakim hendaknya tidak hanya menuntut pidana
penjara, tetapi perlu dijatuhkan pidana ganti kerugian
3. Perlu dilakukan pembentukan suatu lembaga sosial khusus yang
memberikan pelayanan kepada korban tindak pidana kejahatan,
mengingat penderitaan korban tindak pidana kejahatan yang berupa
penderitaan fisik, moral dan kerugian finansial harus dipulihkan
DAFTAR PUSTAKA

Sunaryo, Sidik. Pedoman penulisan hukum fakultas hukum universitas


muhammadiyah malang, UMM Press, 2012
Waluyo, Bambang. 2016, Viktimologi perlindungan korban dan saksi. Jakarta ,Sinar
Grafika
Yulia , Rena, 2013. Viktimologi, Perlindungan Terhadap Korban Kejahatan,
Bandung, Graha Ilmu.
Muhammad Fauzan Haryadi, 2013. Upaya Hukum Peninjauan Kembali Oleh Korban
dan Penuntut Umum Dalam Perkara Pidana Dikaji Dari Perspektif Peradilan
Pidana. FH UI
Walukow, Julita Melissa. 2013. Perwujudan Prinsip Equality Before The Law Bagi
Narapidana Di Dalam Lembaga Pemasyarakatan Di Indonesia. Jurnal Ilmiah
Lex et Societatis, Vol.I/No.1/Jan-Mrt/2013
Sunarso, Siswanto. 2012. Viktimologi Dalam Sistem Peradilan Pidana, Jakarta. Sinar
Grafika.