Anda di halaman 1dari 4

Perdarahan Subarachnoid

Pada ruang subarachnoid terdapat pembuluh darah intrakranial yang memiliki cabang
perforantes menuju jaringan otak. Perdarahan dari pembuluh darah tersebut ataupun
perdarahan yang disebabkan oleh ruptur aneurisma akan menyebabkan perdarahan pada
ruang subarachnoid. Perdarahan yang diakibatkan oleh aneurisma juga dapat menyebabkan
perdarahan intracerebral.

Insidensi
Angka kejadian perdarahan subarachnoid sebesar 8-10 per 100.000 per tahun

Penyebab
Aneurisma intracerebral merupakan penyebab tersering perdarahan subarachnoid. Selain
itu dapat disebabkan juga oleh Arteriovebous malformation dengan angka sebesar 5%.
Pada 20% pasien juga masih didapatkan penyebab yang tidak jelas. Dapat disebabkan oleh
trombosis kecil, aneurisma yang tidak terdeteksi ataupun cryptic arteriovenous
malformation.

Tanda dan Gejala


Tingkat keparahan dari gejala berhubungan dengan jumlah perdarahan yang terjadi. Nyeri
kepala merupakan gejala yang paling umum, nyeri hebat yang terjadi secara mendadak.
Dilanjutkan dengan penurunan kesadaran dan/atau kejang. Mual dan muntah terjadi pada
pasien. Gejala-gejala tersebut dapat menetap selama beberapa hari.
Tanda rangsang meningeal muncul dalam 3-12 jam pasca onset. Kaku kuduk merupakan
tanda yang terjadi pada kebanyakan pasien. Penurunan kesadaran dapat terjadi akibat efek
langsung dari perdarahan ataupun akibat efek desak ruang yang disebabkan oleh
hematoma.
Kerusakan fokal dapat menyebabkan timbulnya gejala fokal seperti kelemahan anggota
gerak, disfasia. Jika ditemukan kelemahan pada N. III dapat diindikasikan sebagai herniasi
transtentorial atau kerusakan saraf secara langsung yang diakibatkan oleh aneurisma arteri
komunikans posterior (atau pada kejadian yang cukup jarang, aneurisma pada arteri
basilaris).
Pada pemeriksaan funduskopi dapat memperlihatkan papiledema atau perdarahan vitreous
dan subhyaloid yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial secara mendadak
Hipertensi reaktif dapat juga terjadi, ditandai dengan kenaikan tekanan darah pada pasien
tanpa didahului oleh riwayat hipertensi sebelumnya. Membutuhkan beberapa hari sampai
tekanan darah dapat kembali normal.
Gangguan pengaturan suhu tubuh dapat terjadi, hal ini disebabkan oleh gangguan pada
hipotalamus yang disebabkan oleh iskemia.

Pemeriksaan Penunjang
1. CT Scan
CT Scan merupakan pilihan utama untuk pemeriksaan penunjang, CT scan dilakukan
segera setelah onset. CT scan dapat mengkonfirmasi 95% perdarahan subarachnoid
2. MRI
Tidak selalu digunakan, namun MRI dapat berfungsi untuk mendeteksi multipel
aneurisma. Dan bila dilakukan beberapa hari setelah terjadinya perdarahan, MRI
dapat mendeteksi clot yang kecil pada ruang subarachnoid dan membantu untuk
mendeteksi lesi yang menyebabkan

3. CT/MR Angiografi
Merupakan pemeriksaan non invasif, dapat mendeteksi 95% dari intrakranial
aneurisma, namun pada aneurisma dengan diameter <3mm dapat juga tidak
terdeteksi

4. Digital Angiografi
Pemeriksaan ini dilakukan ketika CT/MR Angiografi menunjukkan hasil negatif.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk klarifikasi pembuluh darah yang mengalami
aneurisma. Dan juga pada saat bersamaan dapat dilakukan tindakan endovascular
jika diperlukan

Tatalaksana
1. Tatalaksana simptomatik
2. Bed Rest
3. Tatalaksana kausatif
a. Endovascular
b. Operasi  Clipping Aneurysm