Anda di halaman 1dari 63

KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH TINGKAT PENDAPATAN TERHADAP PERILAKU


LINGKUNGAN NELAYAN DI PESISIR PANTAI BARAT SULAWESI
SELATAN

DISUSUN OLEH:

ANISYA RAHAMNIAH NASRA

(1916041013)

PENDIDIKAN IPA REGULER A

NOMER WA 085886743589

MATA KULIAH:

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

2020
DAFTAR PENGESAHAN

Karya tulis ilmiah yang berjudul : “Pengaruh Tingkat Pendapatan Terhadap

Perilaku Lingkungan Nelayan Di Pesisir Pantai Barat Sulawesi Selatan”, yang disusun

oleh :

a. Nama : Anisya Rahmaniah Nasra

b. NIM : 1916041013

c. Kelas : Pendidikan IPA Reguler A

Telah disahkan dan disetujui pada tanggal :

Makassar, Juni 2020

Menyetujui,
Dosen Pengampu

Drs. M. Nur Zakariah Leo, M.Si


NIP. 196202281990031001

i
DAFTAR HALAMAN

DAFTAR PENGESAHAN...............................................................................................i

DAFTAR HALAMAN....................................................................................................ii

BAB I................................................................................................................................1

PENDAHULUAN............................................................................................................1

A. Latar Belakang.....................................................................................................1

B. Rumusan Masalah................................................................................................2

C. Metodologi.............................................................................................................3

BAB II...............................................................................................................................4

KAJIAN PUSTAKA........................................................................................................4

A. PENDAPATAN.....................................................................................................4

B. PERILAKU.........................................................................................................10

C. NELAYAN..........................................................................................................12

D. WILAYAH PESISIR..........................................................................................17

BAB III...........................................................................................................................20

PEMBAHASAN.............................................................................................................20

BAB IV...........................................................................................................................56

PENUTUP......................................................................................................................56

A. KESIMPULAN...................................................................................................56

B. SARAN................................................................................................................56

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................57

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah suatu negara kepulauan dan bahkan menjadi salah satu negara
kepulauan terbesar didunia yang memiliki sekitar 17.508 pulau yang membentang
sepanjang 5.120 km dari timur kebarat sepanjang khatulistiwa. Dan 1.760 km dari utara
selatan. Luas daratan negara indonesia mencapai 1,9 juta km2 dan luas perairan laut
tercatat sekitar 7,9 juta km2. Dengan panjang gari pantai sekitar 81.000 km, indonesia
memiliki potensi sumberdaya wilayah pesisir dan laut yang sangat besar. Selain itu
indonesia memiliki perairan teritorial dengan luar sekitar 3,1 juta km2 dan memiliki hak
pengelolaan dan pemanfaatan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang luasnya
sekitar 2,7 juta km2. Dengan demikian, indonesia dapat memanfaatkan sumber daya
alam hayati dan non hayati diperairan yang luas sekitar 5,8 juta km2. Ekosistem pesisir
dan laut menyediakan sumberdaya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan,
tambang mineral dan energi, media komunikasi maupun kawasan rekreasi ataupun
parawisata. Karena itu wilayah pesisir dan laut merupakan tumpunan harapan manusia
dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya dimasa akan datang [ CITATION Ben04 \l 1057 ] &
[ CITATION Sup04 \l 1057 ].

Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan tidak dapat dipisahkan


dengan keberadaan masyarakat pesisir. Tingginya tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan
berkaitan dengan kondisi demografi Indonesia yang diperkirakan sekitar 60 persen dari
seluruh jumlah penduduknya bermukim diwilayah pesisir dan dari 64.439 desa yang
sekitar 9.261 desa dikategorikan sebagai desa pesisir (Nikijuluw, 2002)

Kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumberdaya ikan tidak hanya terbatas


pada penangkapan atau pengambilan sumberdaya tersebut, tetapi menyangkut pula
perencanaan kegiatan pemanfaatan, penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan
penyediaan pasca panen, pengelolaan, serta pemasaran. Untuk memanfaatkan
sumberdaya ikan, manusia membutuhkan teknologi, keterampilan dan modal.
Penggunaan teknologi dan keterampilan yang tidak ramah lingkungan dalam
pemanfaatan sumberdaya ikan akan merusak habitat yang berdampak negatif pada
kelestarian sumberdaya tersebut. Olehnya itu, pengelolaan atau pengaturan kegiatan

1
manusia yang berkaitan dengan tingkah laku dalam pemanfaatan sumberdaya ikan
menjadi sangat penting dan patut diutamakan. Sumberdaya laut sebagai wilayah yang
strategis dan didukung oleh potensi sumberdaya perikanan serta kemudahan aksebilitas,
mengundang masuknya informasi dan teknologi yang dibawa oleh nelayan dari luar
yang memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat setempat dan
sumberdaya perikanan. Dampak positifnya tidak akan menimbulkan masalah, tetapi
dampak negatif berupa persaingan yang tidak sehat antara nelayan yang dari luar
dengan nelayan setempat (tradisional) akibat kesenjangan dalam hal teknologi
penangkapan. Selain itu, masuknya informasi dan teknologi penangkapan yang tidak
ramah lingkungan dapat mengubah perilaku masyarakat nelayan setempat dalam
pemanfaatan sumberdaya perikanan yaitu dari perilaku yang cenderung konservatif
kearah perilaku yang cenderung destruktif, misalnya pengunaan alat peledak (bom ikan)
dalam penangkapan ikan akan megakibatkan kerusakan terhadap habitat/lingkungan
yang berimbas pada kepunahan sumberdaya.

Perubahan perilaku tersebut dapat disebabkan karena ketidaktahuan, desakan


ekonomi, dapat juga karena ketidakmampuan pemerintah dalam menatah/mengelola
kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan masih banyak lagi faktor yang perlu
pengkajian lebih dalam. Faktor manusia merupakan kunci sukses pengelolaaan
sumberdaya perikanan.

Pesisir Pantai Barat Sulawesi Selatan merupakan lokasi yang tepat untuk
meneliti pola perilaku mereka dalam mengelolah lingkungan lautnya. Dari uraian diatas
peneliti mengangkat judul tentang “Pengaruh Tingkat Pendapatan Terhadap
Perilaku Lingkungan Nelayan di Pesisir Ppantai Basrat Sulawesi Selatan”.

B. Rumusan Masalah
Sehubung dengan pengaruh tingkat pendapatan terhadap perilaku lingkungan
nelayan di Pesisir Pantai Barat, maka permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam
suatu pernyataan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh pendapatan terhadap perilaku
lingkungan nelayan di Pesisir Pantai Barat Sulawesi Selatan?

2
C. Metodologi
Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah studi literatur dan
observasi. Jenis referensi utama yang digunakan dalam studi literatur adalah buku,
jurnal dan artikel ilmiah. Data tersebut dijadikan sebagai dasar untuk menganalisis
dan menjelaskan masalah dalam sebuah pembahasan. Teknik analisis data berupa
deskriptif argumentatif.

3
BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. PENDAPATAN
o Pengertian Pendapatan

Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang


dikenakan dengan sebutan yang berbeda seperti, penjualan, penghasilan jasa,
bunga, income memberikan pengertian pendapatan yang lebih luas, income
meliputi pendapatan yang berasal dari luar operasi normalnya, Sedangkan
revenu merupakan penghasilan dari hasil penjualan produk, barang dagangan,
jasa dan perolehan dari setiap transaksi yang terjadi [ CITATION Rus13 \l 1057 ].

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pendapatan adalah sejumlah uang


diterima oleh perorangan, perusahaan dan organisasi dalam bentuk upah, gaji,
sewa b unga, komisi, ongkos, dan laba, bersama dengan bantuan, tunjangan
pensiun, lanjut usia dan lain-lain [ CITATION Dap08 \l 1057 ]

Selanjutnya menurut sukirno pendapatan pribadi dapat dikatakan semua jenis


pendapatan termasuk pendapatan di peroleh tanpa memberikan sesuatu kegiatan
apapun, yang diterima oleh suatu negara. Menurut ilmu ekonomi pendapatan
adalah nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam satu
periode dengan mengharapan keadaan sama pada akhir periode keadaan semula,
Pengertian tersebut menitik beratnya pada total kuantitatif pengeluaran terhadap
konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, Pendapatan adalah jumlah
harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama
satu periode, Bukan hanya yang dikonsumsi.

Dari defenisi diatas pendapatan menurut ilmu ekonomi tersebut dapat pula
diartikan perubahan nilai dari perubahan harta kekayaan suatu badan usaha
perubahan nilai berdasarkan total awal pendirian usaha yang ditambah dengan
hasil keseluruhan yang diperoleh seorang pemilik usaha dalam bentuk periode
[CITATION Suk03 \t \l 1057 ].

Akan tetapi pendapatan yang diperoleh para nelayan tidak seluruhnya


berasal dari hasil penangkapan ikan saja, melainkan dapat diperoleh dari hasil

4
kegiatan ekonomi lainnya sebagai pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu
luang. Pada dasarnya pendapatan dapat menopang keberhasilan, kemakmuran,
dan kemajuan perekonomian suatu masyarakat di setiap daerah / negara. Oleh
karena itu kondisi ekonomi masyarakat dipengaruhi pula oleh besarnya
pendapatan. Semakin besar pendapatan yang diperoleh rumah tangga atau
masyarakat, perekonomiannya akan meningkat, sebaliknya bila pendapatan
masyarakat rendah, maka akibatnya perekonomian rumah tangga dalam
masyarakat tidak mengalami peningkatan. Sumber daya perikanan sebenarnya
secara potensial dapat di manfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan nelayan, namun pada kenyataannya masih cukup banyak nelayan
belum dapat meningkatkan hasil tagkapannya, sehingga tingkat pendapatan
nelayan tidak meningkat. Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup,
tumbuh, dan berkembangdi kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara
wilayah darat dan laut. Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas
kategori-kategori sosial yang membentukkesatuan sosial. Mereka juga memiliki
sistem nilai dan simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka
sehari-hari. Faktor kebudayaan ini menjadi pembeda masyarakatnelayan dari
kelompok sosial lainnya. Sebagian masyarakat pesisir, baik masalah politik,
sosial, dan ekonomi yang kompleks. Masalah-masalah tersebut diantaranya
sebagai berikut:

o Kemiskinan, kesenjangan sosil, dan tekanan-tekanan ekonomi yang


datang setiap saat.
o Keterbatasan akses modal, teknologi, dan pasar, sehingga mempengaruhi
dinamika usaha.
o Kelemahan fungsi kelembagaan sosial ekonomi yang ada.
o Kualitas SDM yang rendah sebagai akibat keterbatasan akses
pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.
o Degradasi sumber daya lingkungan, baik di kawasan pesisir, laut,
maupun pulaupulau kecil.
o Belum kuatnya kebijakan yang berorientasi pada kemaritiman sebagai
pilar utama pembangunan nasional [ CITATION Kus06 \l 1057 ].

5
Pembangunan ekonomi merupakan usaha untuk mengembangkan kegiatan
ekonomiguna mempertinggi tingkat pendapatandan kesejahteraan hidup
masyarakat. Pembangunan ekonomi, dalam jangka panjang bertujuan untuk
mencapai kenaikan pendapatan nyata perkapital, kesempatan kerja yang lebih
luas, mengurangi perbedaan perkembangan pembangunan dan kemakmuran
antar daerah, serta merubah struktur perekonomian supaya tidak berat sebelah.

Sebagai ukuran kemajuan ekonomi tersebut secara langsung akan memenuhi


kebutuhan manusia. Konsumsi sebagai pembelanjaan yang dilakukan oleh
rumah tangga atas barang-barang dan jasa-jasa akhir dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Pola
konsumsi mencerminkan tingkat pengeluaran masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan jasmani dan rohani. Pemenuhan kebutuhan ini selalu menghadapi
berbagai kendala. Keinginan manusia akan barang-barang dan jasa relatif tidak
terbatas, karena manusia tidak pernah merasa puas atas apa yang telah mereka
peroleh, sedangkan pendapatan untuk membiayai pemuasan keinginan tersebut
relatif terbatas. Mengingat pendapatan merupakan faktor utama yang sangat
besar pengaruhnya terhadap tingkah laku masyarakat dalam melakukan
konsumsi suatu barang/jasa, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana
pengaruh pola konsumsi berubah-ubah pada setiap tingkat pendapatan. Hal ini
sebagaimana disebutkan bahwa: ”Pengeluaran konsumsi diasumsikan
merupakan fungsi dari pendapatan disposibel (disposibel income)” tingkat
konsumsi seseorang atau rumah tangga tidak hanya tergantung pada current
income pada periode itu saja, akan tetapi juga yang lebih penting adalah pada
pendapatan yang diharapkan diterima dalam jangka panjang. Dalam hal ini
individu diasumsikan merencanakan suatu pola pengeluaran konsumsi semasa
hidup yang didasarkan atas selama hidup mereka [ CITATION Dan13 \l 1057 ].

o Macam-Macam Pendapatan
a) Pendapatan pribadi, Yaitu: Semua jenis pendapatan yang diperoleh
tanpa memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima penduduk
suatu negara.

6
b) Pendapatan disposibel, Yaitu: Pendapatan pribadi dikurangi pajak
yang haru dibayarkaan oleh para penerima pendapatan, Sisa
pendapatan yang siap dibelanjakan inilah yang dinamakan
pendapatan disposibel. Menurut sukirno pendapatan disposibel
adalah suatu jenis penghasilan yang diperoleh seseorang yang siap
untuk di belanjakan atau dikonsumsi. Besarnya pendapatan
disposibel yaitu pendapatan yang diterima dikurangi dengan pajak
langsung (pajak perseorangan) seprti pajak penghasilan.
c) Pendapatan nasional, Yaitu:Nilai seluruh barang-barang jadi dan
jasa-jasa yang diproduksikan oleh suatu negara dalam satu tahun.
Didalam pendapatan masyarakata dapat digolongkan menjadi dua, Yaitu
pendapatan permanen (permanen income), dan pendapatan sementara
(absolute income), Pendapatan permanen dapat diartikan:
a. Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan dapat
diperkirakan sebelumnya, sebagai contoh adalah pendapatan dan
upah, gaji.
b. Pendapatan yang diperoleh dan hasil semua factor yang menentukan
kekayaan seseorang [ CITATION Har13 \l 1057 ].
o Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan
a. Individu dalam keluarga yang tidak bekerja
Pendapatan (uang) yang diterima olehh seseorang atau
sekelompok orang adalah hasil yang di dapat dari kegiatan ekonomi.
Kegiatan ekonomi akan terlaksana dan berjalan baik apabila adan
kesadaran dari individu untuk bekerja.
Pada hakekatnya, kemungkinan besar minimya pendapatan yang diterima
seseorang disebabkan oleh adanya individu dalam keluarga tidak bekerja,
sehingga dapat mengakibatkan perekonomian dalam keluarga tersebut tidak
mengalami peningkatan.
b. Individu melakukan pekerjaan, tapi hailnya pas-pasan (tidak ada
kelebihan)
Biasanya semua individu dalam keluarga ikut terlibat sepenuhnya
dalam bekerja, namun hasil yang diterima hanya pas-pasan. Mungkin

7
pekerjaan yang dilakukan hanya bisa menghasilkan input yang
terbatas, sehingga menyebabkan pendapatan yang diterima hanya
pas-pasan pula atau pendapatan yang di peroleh habis dikonsumsi
dalam sehari.

c. Modal
Modal merupakan kekayaan yang bisa menunjang kegiatan
usaha. Dimana pengertian lain dari modal adalah kekayaan
perusahaan yang digunakan untuk kegiatan produksi
d. Harga
Selanjutnya untuk dapat meningkatkan pendapatan para nelayan
yang diperoleh dari penjualan ikan adalah sangat bijak bila dilihat
kembali pengertian harga sebagai tolak ukur dapat memahami makna
yang dimaksud. Ada pengertian lain bahwa harga dalah sejumlah
kompensasi (uang maupun barang) yang dibutuhkan untuk
mendapatkan sejumlah kombinasi barang dan jasa.
Menurut Kohls &Ulh Medefenisikan harga sebagai berikut,”Price is a
from of communication signal that servien various ways to coordinate
marketdescisions. Dengan demikian menurutnya, harga adalah bentuk dari
sinyal-sinyal komunikasi yang melayani banyak variasi jalan [ CITATION
Yog04 \l 1057 ].
e. Volume Penjualan
Volume penjualan merupakan sasaran program yang penting dan
merupakan dasar banyak digunakan untuk menilai prestasi penjualan,
wilayah penjualan dan program. Tetapi dalam kebanyakan hal
volume penjualan tidak akan cukup sebagai suatu sasaran
programkarena beberapa faktor yaitu:
o Program penjualan dan distribusimemerlukan biaya dan usaha yang
dirancang untuk meningkatkan penjualan mungkin ttidak sesuai
dengan sarana produk mengenai peningkatan laba.

8
o Hasil penjualan sering ditentukan oleh tindakan-tindakan para
pesaing, lingkungan atau program pemasaran lain yang berada diluar
kendali.
o Peran pokok dari suatu program pemasaran adalah melaksanakan
strategi pemasaran.
o Sasaran penjualan tidak memberikan pedoman kepada pengusaha
mengenai bagaimana meningkatkan atau mempertahankan volume
penjualan.
f. Pemasaran

Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manejerial dengan manajerial


perorangan atau kelompok untuk memperoleh yang mereka butuhkan dan diinginkan
melalui pembuatan dan pertukaran produk dan nilai dengan pihak lain. Masalah
pemasaran adalah dalam mengelolah produksi sebagaimana telah dikemukakan bahwa
produksi pada hakekatnya adalah refleksi dan komunikasi, sebab produksi dimaksudkan
untuk dijual kepasar atau kekonsumen.

Pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang membuat
individu dan kelompok apa yang mereka butuhkan dan inginkan, lewat penciptaan dan
pertukar timbal [ CITATION Kot06 \l 1057 ]. Pemasaran berarti aktivitas manusia yang
terjadi dalam kaitannya dengan pasar. Pemasaran berarti bekerja dengan pasar untuk
mewujudkan pertukaran yang potensial dengan maksud memuaskan kebutuhan manusia
dan keingin dari manusia [CITATION Kot85 \t \l 1057 ].

 Faktor lain

Daftar penyebab perbedaan ini mungkin dapat dapat diperpanjang dengan


memasukan faktor-faktor lain, seperti masa hubungan kerja, ikatan kerja dan lainnya.
Sedangkan menurut Sukirno [CITATION Suk08 \n \t \l 1057 ] faktor-faktor yang
menimbulkan perbedaan pendapatan seseorang antara lain:

o Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja


Permintaan dan penawaran tenaga kerja dalam sesuatu jenis pekerjaan
sangat besar peranannya dalam menentukan upah di sesuatu jenis pekerjaan.
Di dalam sesuatu pekerjaan di mana terdapat penawaran tenaga kerja yang

9
cukup besar tetapi tidak banyak permintaannya, upah cenderung rendah.
Sebaliknya di dalam sesuatu pekerjaan di mana terdapat penawaran tenaga
kerja yang terbatas tetapi permintaannya sangat besar, upah cenderung
tinggi.
o Perbedaan corak pekerjaan
Kegiatan ekonomi meliputi berbagai jenis pekerjaan. Ada diantara
pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan ringan dan sangat mudah
dikerjakan. Tetapi ada pula pekerjaan yang harus dikerjakan dengan
mengeluarkan tenaga fisik yang besar, dan ada pula pekerjaan yang harus
dilakukan dalam lingkungan yang kurang menyenangkan.
o Perbedaan kemampuan, keahlian, dan pendidikan
Kemampuan, keahlian, ketrampilan para pekerja di dalam sesuatu jenis
pekerjaan adalah berbeda. Jika hal tersebut lebih tinggi maka produktivitas
akan lebih tinggi upah yang didapat pun akan lebih tinggi. Tenaga kerja yang
lebih berpendidikan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi karena
pendidikan mempertinggi kemampuan kerja dan kemampuan pekerja
menaikan produktivitas.
o Pertimbangan Bukan Uang
Daya tarik sesuatu pekerjaan bukan saja tergantung kepada besarnya
upah yang ditawarkan. Ada tidaknya perumahan yang tersedia, jauh
dekatnya rumah pekerja, apakah berada di kota besar atau di tempat yang
terpencil, dan pertimbangan lainnya. Faktor-faktor bukan keuangan seperti
ini mempunyai peranan yang cukup penting pada waktu seseorang memilih
pekerjaan. Seseorang sering kali menerima upah yang rendah apabila
pertimbangan bukan keuangan sesuai dengan keinginannya.
o Mobilitas Pekerja
Upah dari sesuatu pekerjaan di berbagai wilayah dan bahkan di dalam
sesuatu wilayah tidak selalu sama. Salah satu faktor yang menimbulkan
perbedaan tersebut adalah ketidaksempurnaan dalam mobilitas tenaga kerja.
Ketidaksempurnaan mobilitas pekerja disebabkan olah faktor geografis dan
institusional.

10
B. PERILAKU
o Pengertian Perilaku

Menurut Lewit seperti yang dikutip oleh Notoadmojo (1993) perilaku


merupakan hasil pengalaman dan proses interaksi dengan lingkungannya, yang
terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan sehingga diperoleh keadaan
seimbang antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan. Perilaku seseorang
dapat berubah jika terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan dalam diri
seseorang

Menurut Skinner [CITATION Ski65 \n \t \l 1057 ] perilaku adalah hasil


pengalaman, dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk
memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan”. Seorang ahli psikologi,
merumuskan Bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses
adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon.

Perilaku pada hakekatnya merupakan tanggapan atau balasan (respons) terhadap


rangsangan (stimulus), karena itu rangsangan mempengaruhi tingkah laku.
Intervensi organisme terhadap stimulus respon dapat berupa kognisi sosial, persepsi,
nilai, atau konsep. Perilaku adalah satu hasil dari peristiwa atau proses belajar.
Proses tersebut adalah proses alami. Sebab perilaku harus dicari pada lingkungan
eksternal manusia bukan dalam diri manusia itu sendiri.

o Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut Green [CITATION Gre80 \n \t \l 1057 ] dan Skinner [CITATION Ski65 \n \t \l


1057 ], faktor yang mempengaruhi perilaku, diantaranya yakni:

(1) pengetahuan (knowledge)

Adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek

melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga). Dengan sendirinya,

pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.

11
(2) Predisposisi (predisposing factors)

Yaitu faktor yang mempermudah atau mempredis posisi terjadinya perilaku


seseorang antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan
tradisi.

(3) Pemungkin (enabling factors)

Yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan
antara lain umur, status social ekonomi, pendidikan, prasarana dan sarana serta
sumberdaya.

(4) Pendorong atau penguat (reinforcing factors)

Yaitu faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku misalnya


dengan adanya contoh dari para tokoh masyarakat yang menjadi panutan.

C. NELAYAN
Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung
langsung pada hasil laut,baik dengan cara melakukan penangkapan maupun budi
daya. Mereka pada umumnya tinggal dipinggiran pantai,sebuah lingkungan
pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya.Dilihat dari segi pemilikan alat
tangkap, nelayan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok:

 Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang
lain.
 Nelayan jurangan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang
dioperasikan oleh orang lain.
 Nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap sendiri, dan
dalampengeoperasinnya tidak melibatkan orang lain [ CITATION Mul07 \l
1057 ].

Nelayan adalah orang yang melakukan penangkapan (budidayah) dilaut dan di


tempat yang masih dipengaruhi pasang surut jadi bila ada yang menangkap ikan
ditempat budidaya ikan seperti tambak, kolam ikan, danau, sungai tidak termasuk

12
nelayan. Selanjutnya menurut tarigan berdasarkan pendapatan, nelayan dapat dibagi
menjadi:

 Nelayan tetap atau nelayan penuh, yakni nelayan yang pendapatan


keseluruhannya berasal dari perikanan.
 Nelayan sambil utama, yakni nelayan yang sebagian besar pendapatannya
berasal dari perikanan.
 Nelayan sambilan atau tambahan, yakni nelayan yang sebagian kecil
pendapatannya berasal dari perikanan.
 Nelayan musiman, yakni orang yang dalam musin-musin tertentu saja aktif
sebagai nelayan.

Rendahnya kualitas sumber daya manusia masyarakat nelayan yang terefleksi


dalam bentuk kemiskinan sangat erat kaitannya dengan faktor internal dan eksternal
masyarakat faktor internal misalnya pertumbuhan penduduk yang cepat, Kurang
berani mengambil resiko, Cepat puas dan kebiasaan lain yang tidak mengandung
modernisasi. Selain itu kelemahan modal usaha dari nelayan sangat dipengaruhi
oleh pola pikir nelayan itu sendiri. Faktor eksternal yang mengakibatkan kemiskinan
rumah tangga nelayan lapisan bawah antara lain proses produksi didominasi oleh
toke pemilik perahu atau modal dan sifat pemasaran produksi hanya dikuasai
kelompok dalam bentuk pasar monopoli.

 Ketidak berdayaan Teknologi dan Ekonomi Nelayan

Dapat dipahami, jika ketergantungan nelayan terhadap teknologi penangkapan


itu sangat tinggi. Hal tersebut disebabkan selain kondisi sumber daya perikanan
yang bersifat mobile, yaitu mudah berpindah dari satu tempat ketempat lain, juga
untuk penangkapannya nelayan perlu sarana bantu untuk dapat bertahan lama hidup
diatas air.

Pada umumnya para nelayan masih mengalami keterbatasan tekhnologi


penangkapan. Dengan alat tangkap yang sederhana, wilayah operasi pun menjadi
terbatas, hanya disekitar perairan pantai. Disamping itu, ketergantungan terhadap
musim sangat tinggi, sehingga tidak setiap saat nelayan bisa turun melaut,terutama
pada musim ombak, yang bisa brlangsung sampai beberapa minggu. Akibatnya,

13
selain hasil tangkapan menjadi terbatas, dengan sederhana alat tangkap yang
dimiliki, pada musim tertentu tidak ada tangkapan yang bisa diperoleh, kondisi ini
merugiakan nelayan karena secara riil rata-rata pendapatan perbualan menjadi lebih
kecil dan pendapatan yang diperoleh pada saat musim ikan akan habis dikomsumsi
pada saat musim tidak melaut.

Selain rendahnya teknologi penangkapan yang dimiliki oleh nelayan pada


umumnya, hal ini yang dihadapi nelayan adalah tidak semua nelayan memiliki alat
tangkap. Kemampuan untuk meningkatan peralatan itu sangat dipengaruhi oleh
kondisi ekonomi seorang nelayan. Sesuai dengan kondisi ekonominya, peralatan
yang mampu dibeli adalah peralatan yang sederhan, atau bahkan tidak mungkin
tidak mampu membeli peralata tangkap sama sekali sehingga menempatkan
kedudukannya tetap sebagai buruh nelayan. Oleh karena itu,untuk mengembangkan
variasi alat tangkap yang dimiliki bukan hal yang mudah dilakukan.

 Adaptasi Ekonomi Masyarakat Nelayan

Adaptasi merupakan tingkah laku penyesuaian (behavioral adaptation) yang


menunjuk pada tindakan dalam hal ini. Adaptasi dikatakan sebagai tingkah laku
strategi dalam upaya memaksimalkan kesempatan hidup. Oleh karena itu, pada
suatu kelompok. Adaptasi dapat memberi kesempatan untuk bertahan hidup.

Akan tetapi, bagi kelompok yang lainkemungkinan akan dapat


menghancurkannnya. Adaptasi terhadap lingkungan tersebut merupakan tingkah
laku yang diulang-ulang. Hal ini akan menimbulkan terjadinya dua kemungkinan,

Pertama adalah tingkah laku meiruyang berhasil sebagaimana yang diharapkan.


Kedua, adalah mereka tidak melakukan peniruan karena terjadi dianggap tidak
sesuai dengan harapan. Keberhasilan dalam tingkah laku meniru ini menimbulkan
terjadinya penyesuaian individu terhadap lingkungan(adaption), atau terjadi
penyesuaian dengan keadaan lingkungan pada diri individu.32

Pada masyarakat nelayan, pola adaptasi menyesuaikan dengan ekosistem


lingkungan fisik laut dan lingkungan sosial disekitarnya. Bagi masyarakat yang
bekerja ditengah-tengah lautan, lingkungan fisik laut sangatlah mangandung banyak
bahaya.

14
Dalam banyak hal bekerja dilingkungan laut sarat dengan resiko. Karena
pekerjan nelayan adalah memburu ikan, hasilnya tidak dapat ditentukan
kepastiannya, smauannya hampir serba spekulatif. Masalah resiko dan ketidak
pastian (risk and uncertanty) terjadi karena laut adalah wilayah yang dianggap bebas
untuk dieksploitasi (opn-access) Wilayah yang pemanfaatannya tidak terbatas akan
cenderung menimbulkan terjadinya eksploitasi berlebih.

Menghadapi kondisi seperti ini, masyarakat nelayan cenderung mengembangkan


pola-pola adaptasi yang berbeda dan sering kali tidak dipahami oleh masyarakat
diluar komunitasnya untuk menghadapi akibat banyaknya resiko dan kehidupan
yang serba tidak bisa menentu. Dalam banyak hal masyarakat nelayan mempunyai
komunitas tersendiri yang diakibatkan oleh pola-polasosialnya yang “tersaing”
dengan pola-pola sosial masyarakat daratan.

 Usaha Peningkatan Ekonomi Dalam Rumah Tangga Keluarga

Perekonomian dalam keluarga dikatakan meningkat apabila terjadi perubahan


secara kontinue dalamjangka panjang terhadap tingkat pemenuhan
kebutuhan.Pemenuhan kebutuhan selalu dikaitkan dengan pendapatan atau harta
kakayaan yang dimilikinya tinggi rendahnya pendapatan membawa dampak pada
kondisi ekonomi dalam keluarga.

Secara umum ada hubungan antara tingkat konsumsi dengan penerimaan


(pendapatan), akan membuat jumlah pemenuhan kebutuhan menaik, sebaliknya
penurunan pendapatan akan mengurangi jumlah kebutuhan yang ingin diperoleh.
Apabila penurunan pendapatan tersebut terjadi terus-menerus dalam jangka waktu
yang panjang maka akan membawa akibat kemiskinan bagi masyarakat atau rumah
tangga keluarga. Namun bila penurunan pendapatan dapat segera diatasi dengan
baik, kondisi ekonomi akan dapat membaik pula.

Untuk mengatasi masalah ekonomi tentunya tidak semudah seperti yang


dipikirkan melainkan harus dilakukan dengan usaha dan kerja keras. Untuk itu
diperlukan sikap dan pandangan serta tindakan nyata oleh setiap individu dalam
rumah tangga keluarga. Namun yang dimaksud dengan tindakan yang mengarah
pada perubahan dan perbaikan kondisi ekonomi, adalah dengan medirikanusaha dan

15
mau menembangkan usaha yang telah dibangun itu. Akan tetapi semua masalah
ekonomi yang dihadapi masyarakat tidak akan bisa diatasi begitu saja tanpa campur
tangan pemerintah dalam memberikan bantuan berupa modal dan sebagainya.
Secara singkat usaha yang harus dilakukan dalam meningkatkan ekonomi dalam
keluarga yaitu:

1. Mengubah paradigma berpikir, mencoba melakukan hal-hal yang baru


dengan menciptakan suasana hidup yang baru, misalnya berwirausaha.
Wirausaha merupakan bentuk usaha yang menjanjikan kesuksesan bagi
orang yang mau melakukan dan terus mengembangkannya.
2. Mengubah gaya hidup, kebiasaan hura-hura, mengkonsumsi tanpa
memperhatikan kodisi ekonomi, membelanjakan uang pada barang-barang
yang tidak berguna seperti minuman keras, judi dan sebagianya. Hal
demikianlah yang harus ditinggalkan agar kondisi ekonomi akan membaik.
3. Meningkatkan pendapatan sudah tentu setiap orang yang ingin mengubah
atau meningkatkan pendapatan, karena pendapatan merupakan tolak ukur
yang digunakaan untuk melihat besarnya perubahan atau mengetahui siklus
ekonomi dalam setiap masyarakat.
 Sumber daya Manusia (Human Resources)

Sumber daya manusia merupakan salah satu potensi pembangunan yang berasal
dari unsur manusia dengan segala aktifitasnya. Dalam tujuan yang lebih bersifat
ekonomis, sumber daya manusia dimaksudkan sebagai semua potensi untuk
memberikan sumbangannya yaang produktif kepada masyarakat. penting sumber
daya manusia dalam pembangunan masyarakat dapat dilihat dari relevansinya
dengan salah satu prinsip dasar pembangunan masyarakat itu sendiri. Dalam
pendekatan pembangunan masyarakat, proses perubahan yang terjadi sejauh
mungkin bersandar pada kemampuan, prakarsa dan partisipasi masyarakat termasuk
unsur manusia yang ada didalamnya. Potensi sumber daya manusia tidak semata-
mata terletak pada kemungkinan sebagai potensi yang dapat digerakkan dalam
proses pembangunan, melainkan terutama pada kedudukannya sebagai pelaku
pembangunan itu sendiri.

16
Mengingat kedudukannya tersebut maka dalam proses pembangunan masyarakat
sumber daya manusia hendaknya tidak saja diperlakukan berdasarkan tinjauan
ekonomis, tetapi juga dengan tinjauan sosial budaya. Dari sudut sosial budaya
sumber daya manusia merupakan pelaku pembangunan dalam kapasitasnya sebagai
individu dan anggota masyarakat yang meliputi : kapasitas untuk berproduksi,
pemerataan, pemberian kekuatan dan wewenang, kelangsungan untuk berkembang
dan kesadaran akan interpendensi.Aspek kualitas menjadi sangat penting sebagai
salah satu faktor yang menentukan nilai sumber daya manusia.

Pada umumnya kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari tingkat
pendidikannya baik melalui pendidikan formal, nonformal maupun informal. Hal ini
disebabkan karena dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mengakibatkan
pengetahuannya menjadi meningkat, wawasannya lebih luas, kemampuan antisipasi
masalah lebih tinggi. Dari berbagai kemampuan tersebut akan mengakibatkan pula
pada semakin tingginya produktivitas. Hanya saja tingkat pendidikan sebagai salah
satu faktor yang dianggap menentukan kualitas sumber daya manusia sering bersifat
ambivalensi. Secara umum, yang banyak dianut saat ini adalah konsep pendidikan
seumur hidup atau life education.

Hal ini juga berarti lebih menegaskan pengakuan manusia sebagai makhluk yang
mempunyai kapasitas untuk mandiri termasuk adalah pendidikan dapat berlangsung
kapan saja dan di mana saja, artinya dalam usia berapa saja dan tidak harus melalui
pendidikan formal. Oleh sebab itu, kemudian dikenal adanya jalur pendidikan
formal, nonformal dan informal. Walaupun demikian dalam rangka menentukan
kapasitasnya sumber daya manusia, orang lebih banyak melihat dari segi pendidikan
formalnya. Seringkali seseorang yang kapasitas riilnya sebetulnya lebih tinggi, tidak
mendapat pengakuan hanya karena diperoleh melalui jalur nonformal dan informal.

Disamping faktor pendidikan, kualitas sumber daya manusia juga dapat


dipengaruhi oleh lingkungan kesehatan serta nilai gizinya. Bahkan tidak jarang
faktor-faktor tersebut saling bertali temali membentuk lingkaran yang tak berujung
pangkal. Berdasarkan asumsi bahwa tingkat produktivitas juga mencerminkan
tingkat pendapatan maka akan terdapat pengaruh dari produktivitas yang rendah ini
terhadap kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan seseorang tidak dapat memenuhi

17
kebutuhan primer seperti makan, pakaian, peruamahan dan kesehatan secra
memadai. Dengan tidak terpenuhinya kebutuhan pokok ini, berarti pula rendahnya
tingkat gizi serta kesehatan, sehingga akan rendah pula produktivitas kerja. Dari
kenyataan tersebut dapat pula dikatakan bahwa kemiskinan merupakan salah satu
faktor penghambat pengembangan sumber daya manusia [ CITATION Man18 \l 1057 ].

D. WILAYAH PESISIR
Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan laut dan daratan. Kondisi tersebut
menyebabkan wilayah pesisir mendapatkan tekanan dari berbagai aktivitas dan
fenomena yang terjadi di darat maupun di laut. Fenomena yang terjadi di daratan
antara lain abrasi, banjir dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yaitu
pembangunan permukiman, pembabatan hutan untuk persawahan, pembangunan
tambak dan sebagai yang pada akhirnya memberi dampak pada ekosistem pantai.
Demikian pula fenomena-fenomena di lautan seperti pasang surut air laut,
gelombang badai dan sebagainya [ CITATION Has12 \l 1057 ].

Wilayah pesisir dan lautan merupakan daerah yang mempunyai potensi


sumberdaya alam yang besar dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
pembangunan. Sumberdaya di wilayah pesisir dan lautan secara garis besar terdiri
dari tiga kelompok yaitu:

(1) Sumber daya dapat pulih (renewable resources) meliputi hutan bakau,
terumbu karang, padang lamun, rumput laut, sumberdaya perikanan laut dan
bahanbahan bioaktif
(2) Sumberdaya tidak dapat pulih (nonrenewable resources) meliputi minyak
bumi dan gas alam serta seluruh mineral dan geologi
(3) Jasa-jasa lingkungan, meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan sebagai
tempat rekreasi dan pariwisata, media transportasi dan komunikasi, sumber
energi (seperti: Ocean Thermal Energy Conversion, energi dari gelombang
laut dan energi pasang surut), sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan
keamanan, penampungan limbah, pengatur iklim, dan sistem penunjang
kehidupan serta fungsi ekologis lainnya [ CITATION Sya10 \l 1057 ].

Abrasi adalah salah satu fenomena alam yang menjadi masalah di lingkungan
pantai. Fenomena abrasi dapat disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia,

18
seperti perusakan terumbu karang, penebangan mangrove, dan keberadaan tambak
udang. Sementara itu, abrasi dapat menyebabkan kerusakan lingkungan seperti
pengurangan luas daratan akibat aktivitas gelombang, arus dan pasang surut air laut
serta kerusakan fasilitas sarana dan prasarana pesisir, seperti jalan raya, tiang listrik,
dermaga dan rumah penduduk. Abrasi yang terjadi pada wilayah yang tidak terlalu
luas dapat dikategorikan tanda-tanda bencana. Dalam hal ini, pemadatan daratan
mengakibatkan permukaan tanah turun dan tergenang air laut sehingga garis pantai
berubah [ CITATION Nur04 \l 1057 ] . Faktor alam lainnya yang menyebabkan
kerusakan lingkungan adalah gempa dan gelombang tsunami dikarenakan rusaknya
ekosistem pesisir sehingga tidak ada penghalang sebagai peredam gelombang
tsunami [ CITATION Ari05 \l 1057 ].

Wilayah pesisir merupakan wilayah yang rentan mengalami kerusakan.


Dampaknya akan sangat terasa oleh masyarakat yang menghuni wilayah pesisir
dimana hal ini akan berpengaruh pada kondisi perekonomian masyarakat yang
menggantungkan pada sumber daya pesisir. Salah satu cara yang perlu dilakukan
mengajak seluruh pihak termasuk masyarakat untuk bersama-sama menjaga
lingkungan pesisir. Langkah pemberdayaan masyarakat guna memunculkan
kesadaran perlu diberikan karena akan menjamin terciptanya pengelolaan
lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan [CITATION Fit12 \t \l 1057 ].

19
BAB III

PEMBAHASAN
Negara Indonesia juga dikenal sebagai negara Mega Biodiversity dalam hal

keanekaragaman hayati, serta memiliki kawasan pesisir yang sangat potensial untuk

berbagai opsi pembangunan Transisi antara daratan dan lautan yang membentuk

ekosistem beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar

biasa terhadap manusia.

Namun semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pesatnya kegiatan

pembangunan di wilayah pesisir serta berbagai peruntukan seperti pemukiman,

perikanan, pelabuhan, objek wisata dan lain-lain, maka tekanan ekologis terhadap

ekosistem sumberdaya pesisir dan laut ini semakin meningkat. Sehingga Meningkatnya

tekanan ini tentunya akan dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem

dan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya menjadi rusak

dan mengakibatkan berbagai macam pencemaran seprti; pencemaran air laut akibat

pembuangan sampah di laut dan air limbah di laut, matinya trumbuk karang, abrasi, dan

berbagai macam aktivitas manusia yang dapat merusak lingkungan sehinnga dari

dampak tersebut dapat mengakibatkan gangguan masalah kesehatan yang ada seperti

kesehatan berbasis lingkungan[ CITATION Mau18 \l 1057 ].

Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan laut dan daratan. Kondisi tersebut

menyebabkan wilayah pesisir mendapatkan tekanan dari berbagai aktivitas dan

fenomena yang terjadi di darat maupun di laut. Fenomena yang terjadi di daratan antara

lain abrasi, banjir dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yaitu pembangunan

permukiman, pembabatan hutan untuk persawahan, pembangunan tambak dan sebagai

20
yang pada akhirnya memberi dampak pada ekosistem pantai. Demikian pula fenomena-

fenomena di lautan seperti pasang surut air laut, gelombang badai dan sebagainya

[ CITATION Has12 \l 1057 ].

Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang kebijakan

kepesisiran, tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, watak masyarakat, serta

tekanan biaya hidup menyebabkan masyarakat pesisir sering melakukan perusakan

lingkungan pesisir. Hal ini diperkuat bahwa kerusakan pesisir lebih dipengaruhi oleh

faktor alam dan manusia[ CITATION Par12 \l 1057 ] . [ CITATION Hia13 \l 1057 ]

menambahkan tingkat pendidikan, persepsi dan pendapatan mempengaruhi kepentingan

terhadap pemanfaatan wilayah pesisir. Pengaruh pendapat masyarakat terhadap

lingkungan merupakan bagian dari mekanisme yang menghasilkan perilaku yang nyata

dari masyarakat itu sendiri dalam menciptakan perubahan dalam lingkungan mereka.

Adanya interaksi antara manusia dengan alam juga menyebabkan degradasi eksosistem.

Wilayah pesisir merupakan wilayah yang rentan mengalami kerusakan.

Dampaknya akan sangat terasa oleh masyarakat yang menghuni wilayah pesisir dimana

hal ini akan berpengaruh pada kondisi perekonomian masyarakat yang menggantungkan

pada sumber daya pesisir. Salah satu cara yang perlu dilakukan mengajak seluruh pihak

termasuk masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan pesisir. Langkah

pemberdayaan masyarakat guna memunculkan kesadaran perlu diberikan karena akan

menjamin terciptanya pengelolaan lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan

[CITATION Fit12 \t \l 1057 ] . Langkah konservasi pesisir dengan melibatkan masyarakat

merupakan kunci keberhasilan pelestarian pesisir yang berkelanjutan yang dapat

memberi masnfaat ekonomis bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

21
Dalam berbagai literatur nelayan termasuk sebagai small scale fishery yaitu

orang pemilik perahu yang tergantung sebagian besar penghasilannya pada kegiatan

penangkapan ikan di laut, mengoperasikan sendiri perahunya, dengan menggunakan

peralatan tangkap ikan sederhana (seperti gilnet, jaring badut, minitrawl, pancing, rawai

pancing), ukuran berat perahu antara 2,75 – 25 GT (atau ukuran panjang perahu antara 5

meter hingga 15 meter, lebar antara 1,5 meter hingga 6 meter), menggunakan sistem

penghasilan bagi hasil antara pemilik dan anak buah kapal, hasil tangkapan ikan dijual

dalam lingkup pasar lokal yang terbatas. Di Indonesia masyarakat nelayan merupakan

salah satu golongan masyarakat yang dianggap miskin secara absolut, bahkan paling

miskin diantara penduduk miskin ( the poorest of the poor ). Berbagai studi juga telah

menunjukkan kondisi nelayan khususnya nelayan small scale fishery di Indonesia

berada pada tingkat.

Potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang ada di Daerah Sulawesi Selatan,

selain menjadi tumpuan hidup masyarakat nelayan yang hidup di wilayah pesisir, dapat

pula menjadi wadah ekonomi bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan

perekonomiannya. Untuk memanfaatkan potensi sumberdaya pesisir dan lautan berupa

biotik liar maupun biotik tak liar, masyarakat nelayan harus mempunyai kemampuan

menyesuaikan diri dengan mengatasi rintangan-rintangan alam yang ganas, serta

bagaimana merekayasa sarana/ prasa-rana teknologi eksploitasi dalam rangka

memanfaatkan sumberdaya biota laut yang bernilai tinggi.

Di sebahagian besar kawasan pantai tersebut bermukim penduduk nelayan dan

pelayar yang dengan berbagai unsur kebudayaannya yang khas, dan mereka

22
digolongkan sebagai kominiti-kominiti maritim. Karakteristik kemaritimannya dapat

didefinisikan terutama pada model pengelolaan mata pencaharian. Kegiatan ekonomi ini

terpusat pada sektor perikanan laut, sistem pengetahuan, teknologi dan organisasi sosial

yang terpusat pada pemanfaatan sumber daya laut.

Nelayan dalam usaha ekonomi perikanan lautnya diarahkan secara spesialis dan

profesional, faktor modal (capital) dan hubungan kerjasama (relation of production)

merupakan faktor-faktor produksi yang paling menentukan hidup matinya atau maju

mendeknya sebuah usaha perikanan laut, apakah usaha perikanan tersebut berskala

besar yang modern atau berskala kecil yang tradisional [ CITATION Bav84 \l 1057 ].

Kondisi laut yang berbahaya dan kondisi sumberdaya hayati laut yang tak mudah

dikelola menyebabkan pekerjaan menangkap ikan di laut penuh resiko bahaya mengenai

keselamatan jiwa manusia, dan ketidakmenentuan dalam pendapatan nelayan [ CITATION

Ach81 \l 1057 ]. Kedua resiko bahaya dan ketidak menentuan (risk and uncertainty)

merupakan karakteristik laut berkenaan dengan kehidupan dan ekonomi komuniti

nelayan. Karakteristik laut yang demikian menjadi kondisi pasif yang menyebabkan

diperlukannya secara mutlak pengelolaan modal yang berkesinambungan dan mantap,

sedangkan proses-proses kerja yang rumit dan teknologi perikanan yang berat bersama

dengan karakteristik laut tersebut menjadi kondisi aktif atau faktor yang menyebabkan

diperlukannya secara mutlak aspek kerjasama dan huibungan-hubungan produksi, yang

bukan hanya didasarkan pada aspek kekuatan fisik, pengetahuan dan keterampilan,

tetapi juga harus dijiwai oleh rasa solidaritas, moral, dan tanggung jawab para anggota

(crew).

Dalam sektor ekonomi perikanan laut pada umumnya dari dahulu sampai

sekarang diterapkan sistem bagi hasil, jadi bukan sistem upah atau gaji (Acheson 1981).

23
Dalam sistem ini ditetapkan bahwa yang dibagi adalah hasil tangkapan, dengan

demikian besar kecilnya bagian setiap anggota tergantung pada kondisi tangkapan ikan.

Setiap unsur dari alat produksi dipersonifikasikan sebagai tenaga kerja yang mendapat

bagian lebih besar daripada tenaga kerja nelayan yang sesungguhnya. Bagian-bagian

alat-alat produksi pada akhirnya lari pada pemiliknya sendiri.

Sebagaimana halnya kelompok-kelompok masyarakat nelayan Bugis-Makassar

pada umumnya, maka dalam pengelolaan modal usaha perikanan laut, nelayan secara

mutlak melibatkan pihak-pihak lain, seperti teman, kerabat, orang sekampung, atau

pedagang besar yang berkedudukan di kota sebagai pemberi pinjaman modal awal atau

modal secara berkelanjutan. Unsur-unsur modal yang diusahakan antara lain uang,

perahu, mesin, alat tangkap, dan lain-lain. Untuk mengembalikan pinjaman modal

biasanya ditempuh melalui penjualan hasil tangkapan nelayan kepada pemberi pinjaman

modal yang lebih banyak berlangsung secara terus-menerus.

Pola hubungan kerja ini mengakar dan melembaga pada masyarakat nelayan di

Sulawesi Selatan yang dikenal dengan istilah “ponggawa-sawi”. Sistem ini meliputi

relasi dalam hubungan pekerjaan yang dikembangkan oleh dua pihak atau lebih, di

mana satu pihak yang lebih mampu terutama dari segi keuangan/permodalan bertindak

sebagai ponggawa (bos), sedangkan yang lainnya adalah sawi (anak buah). Jadi

hubungan ini menyerupai sistem patron-client. Adanya ketidaksetaraan dalam sistem

bagi hasil dalam organisasi ponggawa-sawi seringkali dipandang, pada satu sisi, sebagai

sumber kemelaratan bagi nelayan sawi. Meskipun demikian, pada sisi yang lain,

organisasi ini seringkali dianggap pula sebagai salah satu tumpuan para sawi yang

paling handal jika mereka menghadapi masa-masa paceklik. Ini bisa terjadi karena

ponggawa adalah alamat yang tepat untuk mencari pinjaman dalam situasi yang sulit.

24
Dengan potret seperti itu, maka kelembagaan sosial mungkin perlu diberdayakan kearah

lebih positif (memihak nelayan kecil) (Sallatang 1982).

Dalam perspekstif kekuasaan, hubungan kerja ponggawa-sawi akan dilihat

dinamika strukturalnya dan keputusan-keputusan yang menentukan bentuk-bentuk

perilaku nelayan dalam organisasi kerja tersebut. Berdasarkan pada adanya peranan

setiap individu atau komponen dalam pembuatan keputusan/ pilihan tindakan, maka

setiap anggota kelompok ponggawa–sawi perlu dianalisis keputusan-keputusannya dan

dijelaskan bagaimana keputusan-keputusan seperti itu mempengaruhi/menentukan

perilaku aktual nelayan di laut. Pengambilan keputusan, dalam lembaga ponggawa-sawi

merupakan proses bergeraknya kekuasaan dalam organisasi tersebut. Dalam konteks

eksploitasi sumberdaya laut oleh nelayan, organisasi ponggawa-sawi dilihat sebagai

contested representation, dimana kekuasaan adalah suatu yang beredar (bergerak)

sehingga terjadi reproduksi struktural. Posisi-posisi struktural adalah produk sementara

yang dapat berubah sesuai definisi situasi [ CITATION Bou77 \l 1057 ] . Posisi struktural ini

akan diuraIkan dalam proses pengambilan keputusan sehubungan dengan pemanfaatan

sumberdaya laut oleh nelayan dalam organisasi ponggawa-sawi.

Di Sulawesi Selatan pada umumnya dikenal kelompok kerjasama nelayan

disebut Ponggawa-sawi yang sudah bertahan sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Ponggawa (disebut juga punggawa atau pinggawa) berarti pemimpin yang sekaligus

berstatus pemilik usaha penangkapan ikan, sedangkan sawi berarti anak buah/anggota

atau pengikut. Dalam usaha perikanan terdapat dua tingkatan ponggawa, yaitu

ponggawa laut dan ponggawa darat atau ponggawa pulau. Yang pertama berarti

pemimpin pelayaran dan kegiatan penangkapan ikan, yang kedua berarti pemilik

sekaligus pengelola (manager) usaha perikanan. Selain dalam konteks usaha kerjasma

25
perikanan, ponggawa juga diacukan kepada seseorang yang usahanya jual beli alat-alat

produksi perikanan (kapal/perahu, mesin, alat-alat tangkap) kepada nelayan, yang pada

umumnya dengan sistem kredit. ponggawa dalam pengertian ini pula biasanya memberi

pinjaman uang untuk biaya-biaya operasional nelayan di laut. Kategori ponggawa ini

adalah sama dengan pedagang atau rentenir, yang di Jawa dikenal juga sebagai

Juragan. Di mana-mana di desa-desa nelayan pesisir dan pulau-pulau di Indonesia

mereka itu dikategorikan sebagai orang-orang kaya.

Sistem rekrut sawi didasarkan terutama pada hubungan–hubungan kekerabatan,

demikianlah muncul kelompok-kelompok ponggawa-sawi yang pada umumnya terdiri

dari orang-orang sekeluarga atau sekerabat. Adapun pengetahuan dan keterampilan

kerja diperoleh para sawi dan pengetahuan serta keterampilan pengelolaan usaha yang

dikuasai oleh ponggawa, semuanya bersifat informal yang diperoleh melalui pewarisan

atau pengalaman secara langsung.

Di masa lalu, seorang ponggawa biasanya hanya memiliki dan menguasai

sebuah perahu dengan perangkat-perangkat alat tangkap sederhana. Lagipula perahu dan

alat tangkap serta berbagai barang perlengkapan kebanyakan dibuat sendiri oleh para

ponggawa kalau bukan oleh tukang-tukang lokal yang merangkap sebagai nelayan juga.

Akses pada kepemilikan dan penguasaan alat-alat produksi pada waktu itu memang

masih mudah bagi seorang ponggawa karena ditunjang oleh barang-barang material

yang masih serba mudah diperoleh dan dengan pengelolaan sederhana memungkinkan

sesorang ponggawa bisa merangkap berbagai kegiatan, terutama ikut aktif bersama para

sawinya di laut.

26
Suatu reproduksi struktur berarti ketika suatu usaha perikanan mengalami

perkembangan dalam peningkatan jumlah unit perahu dan perangkat-perangkat sarana

produksi yang digunakan, yang berarti pula terjadi peningkatan jumlah sawi-sawi yang

dilibatkan dalam proses kerja. Dalam kondisi demikian tugas-tugas mulai menjadi lebih

rumit dan berat sehingga menuntut pembagian status dan peranan lebih jelas untuk

menangani aktivitas atau urusan-urusan tersebut. Demikianlah muncul status-status

ponggawa darat atau ponggawa lompo yaitu pihak pemimpin atau pengelola usaha-

usaha yang dimilikinya dengan fungsi-fungsi: mempersiapkan atau mengadakan alat-

alat produksi, memberikan bimbingan atau pengarahan kepada kelompok-kelompok

kerja nelayan, mengurus pengolahan tangkapan, pemasaran dan lain-lain. Oleh karena

tugas-tugas mulai menjadi rumit, maka ponggawa darat harus merekrut dari sawi

orang-orang berpengalaman dan berbakat untuk menjadi ponggawa laut/juragan yang

bertugas memimpin pelayaran, mengarahkan, mengawasi dan membuat keputusan-

keputusan berkenaan dengan pelayaran dan kerja di laut. Dalam perkembangan seperti

ini, ponggawa laut/juragan pada umumnya tidak lagi sebagai pemilik melainkan semata

sebagai pemimpin atau pengawas kerja, yang oleh sebab itu nama yang lebih cocok dan

banyak digunakan dalam komuniti-komuniti nelayan pulau-pulau adalah ponggawa

caddi (pemimpin kecil). Dalam kondisi perkembangan jumlah unit-unit usaha seperti

ini, brarti seorang ponggawa lompo/ponggawa darat dapat merekrut dan membawahi

dua, tiga atau empat ponggawa caddi/juragan yang masing-masing memimpin dua, tiga

atau lebih sawi untuk usaha-usaha pancing, sedangkan untuk usaha-usaha jaring, bagang

dan usaha-uasaha teripang diperlukan minimal 4 orang sawi. Oleh karena anggota

keluarga ponggawa lompo dan juragan sudah tidak mencukupi lagi untuk dikerahkan,

maka sebagian sawi direkrut dari anggota kerabat dan orang-orang sekampung/sedesa,

27
sementara ponggawa caddi/juragan masih selalu diusahakan dari kalangan keluarga

atau kerabat ponggawa lompo. Dalam hubungan seperti ini para ponggawa caddi juga

berfungsi sebagai wakil dari ponggawa lompo meskipun dia lebih dekat dengan

kelompok-kelompok sawi sebagai nelayan aktual yang sehari-harinya aktif di laut.

Meskipun para sawi khususnya dan masyarakat pada umumnya secara adat

mengakui dan memandang ponggawa laut/juragan sebagai pengambil atau pembuat

keputusan yang harus diikuti terutama berkaitan aktivitas pelayaran dan produksi di

laut, namun dalam praktek sehari-hari seringkali pendapat atau saran seorang atau

beberapa anggota kelompoklah diikuti oleh ponggawa laut/juragan. Ada dua cara

munculnya pengaruh anggota kelompok menjadi suatu keputusan, yaitu dengan diminta

oleh ponggawa laut/juragan dan atau disarankan sendiri oleh seorang atau beberapa

orang anak buah kepadanya.

Hal-hal yang seringkali diusulkan, disepakati, kemudian diputuskan bersama

anak buah dan juragan ialah mengenai lokasi-lokasi yang dipilih, saat-saat turun ke laut,

penentuan alat-alat yang dipakai di antara alat-alat tersedia lainnya.

Nelayan pengguna bahan peledak, nelayan bius, dan penyelam teripang biasa

juga menggunakan pendapat-pendapat individu atau kelompok sebagai pertimbangan

pengambilan keputusan dalam rangka aktivitas di laut. Kelompok-kelompok nelayan

pembom yang menyediakan berbagai tipe bom aktivitasnya bergantung kepada kondisi

stok, jenis-jenis, dan perilaku ikan, lokasi, cuaca, situasi dan kondisi keamanan oleh

pihak berwajib dan lain-lain. Demikian halnya kelompok-kelompok nelayan pengguna

bius yang sebelum melakukan kegiatan penangkapan terlebih dahulu memerlukan

penentuan lokasi penangkapan, pengamatan akan kondisi ikan di dasar, informasi

28
tentang situasi keamanan oleh pihak berwajib, dan lain-lain. Banyak di antara

perencanaan, kegiatan teknis, dan langkah-langkah strategis tersebut tidak selamanya

diambil alih oleh ponggawa laut/juragan, sebaliknya mereka biasanya meminta

pertimbangan kepada seorang atau beberapa orang anak buahnya kalau bukan anak

buah sendiri berinisiatif mengajukan usulan-usulan kepadanya, berikut disepakati dan

diputuskan bersama untuk dilakukan.

Peranan anak buah sebagai sumber saran atau pendapat yang akan menjadi

keputusan-keputusan bersama kelompok terutama terjadi dalam proses-proses

kerja/aktivitas eksploitasi di laut. Untuk penentuan sebuah lokasi selamanya didasarkan

kepada petunjuk anak buah yang peka melihat tanda-tanda adanya ikan di suatu tempat

-- melalui goncangan air laut, adanya burung sedang mengincar mangsa ikan, melihat

langsung ikan-ikan di bawah air. Untuk jadinya dilakukan pemboman serta tipe-tipe

bom yang cocok digunakan juga didasarkan kepada petunjuk penyelam/pengintai

tentang sikap ikan (liar, jinak) dan posisi kelompok-kelompok ikan di laut (dasar,

pertengahan, permukaan).

Seperti halnya pada kelompok-kelompok nelayan bom, anak buah pada

kelompok-kelompok nelayan bius (“penyelam” dalam istilah lokal) juga memegang

peranan penting dalam hal penentuan lokasi penangkapan, arah-arah yang dituju dalam

pencarian dan pengejaran ikan, lamanya pengejaran, teknik serta perilaku pembiusan,

dan lain-lain. Peranan seperti ini tentu saja sedikit atau tidak dimainkan oleh juragan

yang pada umumnya hanya mengawasi jalannya pekerjaan. Ini logis karena anak

buahlah yang mempunyai pengalaman lokasi-lokasi tertentu yang ada ikannya, letak-

letak rumah-rumah ikan target (sela-sela, gua-gua batu karang) di taka/terumbu karang

dalam, arah-arah dilalui ikan-ikan ketika meloloskan diri (karang dangkal), tempat-

29
tempat (lubang-lubang batu-batu karang) di mana ikan-ikan bersembunyi pada saat-saat

lelah, dan lain-lain. Bilamana di suatu lokasi masih kelihatan adanya beberapa ekor ikan

belum tertangkap, nelayan biasanya meminta kepada juragan untuk memperpanjang

waktu kerjanya.

Keputusan-keputusan ponggawa darat sangat menentukan langkah atau perilaku

para ponggawa laut/juragan dan perilaku nelayan di laut. Berbagai keputusan dibuat

ponggawa darat yang harus dilakukan atau ditindaklanjuti oleh ponggawa laut/juragan

sebagai bawahan ialah menyangkut jenis-jenis komoditi tangkapan, ukuran besar dan

volume tangkapan, -- selama ini belum pernah ada pembatasan volume tangkapan

disebabkan oleh cenderung merosotnya jumlah tangkapan nelayan – sarana tangkap

digunakan, seringkali juga tentang waktu dan lokasi penangkapan, tempat penjualan,

standar harga, dan lain-lain. Bahkan tentang orang-orang yang direkrut menjadi anak

buah/sawi serta penyelesaian berbagai persoalan, termasuk konflik antar anggota,

sebagian besar ditentukan oleh ponggawa darat. Peranan yang cukup banyak dan

penting ini dimungkinkan oleh statusnya sebagai pemilik usaha, kesenioran, keahlian

dan pengetahuan pengelolaan usaha (managerial skill/knowledge), dan pengalaman

kerja kenelayanan. Ponggawa darat pada umumnya memang pada mulanya berasal dari

status-status nelayan sawi, ponggawa laut/juragan, yang kemudian meningkat menjadi

ponggawa darat.

Wilayah pesisir pantai barat Sulawesi Selatan penduduknya sebagian besar

bermata pencaharian sebagai nelayan (khususnya nelayan tradisional). Dalam

pemenuhan kebutuhan rumah tangga nelayan tradisional diperlukan pendapatan

terutama dari hasil penangkapan sebagai pekerjaan pokoknya [CITATION Rah13 \t \l

1057 ].

30
Nelayan tradisional dicirikan sebagai masyarakat miskin dengan rendahnya

kualitas pangan dan pangan yang dikonsumsi, rendahnya tabungan dan investasi serta

rendahnya taraf hidup. Menurut Undang-undang No. 45 Tahun 2009 bahwa nelayan

tradisional merupakan nelayan kecil yang memiliki kapal perikanan berukuran paling

besar 5 grosstonase (GT). nelayan tradisional menurut kepemilikan perahu motor

tempel (out board motor) dan perahu tanpa motor (nonpowered motor) serta nelayan

modern adalah yang menggunakan kapal motor (in board motor) [ CITATION The18 \l 1057

].

Peran nelayan tradisional mendukung mata pencaharian dan kesejahteraan lebih

dari 500 juta orang di seluruh dunia dan sebagai sumber penting pendapatan di negara-

negara berkembang [ CITATION Bar \l 1057 ]. Sebagian besar nelayan tangkap tradisional

di Indonesia ditemukan di wilayah pesisir [ CITATION Win15 \l 1057 ] dan menjadi salah

satu sumber pendapatan penting utama di negara-negara berkembang [ CITATION

Pam11 \l 1057 ] serta sebagai bagian pembangunan ekonomi wilayah pesisir [ CITATION

Isr04 \l 1057 ].

Nelayan tradisional mempunyai kapasitas kemampuan menangkap sangat

rendah hal ini disebabkan oleh peralatan yang sangat sederhana. Rendahnya

kemampuan armada perikanan menyebabkan terjadinya illegal fishing (pencurian ikan)

di berbagai perairan Indonesia [ CITATION Fau05 \l 1057 ] . Bila kondisi ini tetap

berlangsung terus menerus, maka tingkat pendapatan nelayan akan sulit mengalami

peningkatan sehingga berdampak pada pendapatan dan pengeluaran rumah tangganya.

Adanya musim penangkapan/paceklik maka produksi hasil tangkapan nelayan

tradisional (perahu motor tempel dan perahu tanpa motor) wilayah pesisir pantai barat

31
Sulawesi Selata akan berpengaruh kepada perubahan (naik/turun) pendapatan usaha

tangkap sehingga berdampak pada pendapatan usaha tangkap, kemudian dengan

sendirinya akan berdampak pula pada kesejahtraannya [CITATION Rah13 \t \l 1057 ].

Fluktuasi pendapatan dari hasil tangkapan nelayan di wilayah pesisir pantai barat

Sulawesi Selatan disebabkan oleh adanya faktor musim, terutama saat musim paceklik

yang biasanya ditandai dengan penurunan jumlah hasil tangkapan. Hal ini

mengakibatkan fluktuasi harga sehingga berdampak pada penurunan pendapatan

nelayan. Selain itu produksi tangkapan nelayan yang didaratkan saat musim paceklik

dapat pula terjadi penurunan volume produksi (berdasarkan kuantitas yang didaratkan)

akibat telah dibeli pedagang di tengah laut dan didaratkan ke wilayah lain, ataupun

didaratkan ke wilayah lain oleh nelayan tersebut. Hal ini pula yang membedakan

pendapatan nelayan di setiap wilayah pesisir pantai yang ada di Sulawesi Selatan.

Pendapatan usaha tangkap nelayan sangat berbeda dengan jenis usaha lainnya, seperti

pedagang atau bahkan petani. Jika pedagang dapat mengkalkulasikan keuntungan yang

diperolehnya setiap bulannya, begitu pula petani dapat memprediksi hasil panennya,

maka tidak demikian dengan nelayan yang kegiatannya penuh dengan ketidakpastian

(uncertainty) serta bersifat spekulatif dan fluktuatif [ CITATION Rah11 \l 1057 ].

Secara umum, pada musim paceklik produksi hasil tangkapan ikan menurun

sehingga harga ikan naik karena di sisi lain permintaan atau konsumsi relatif tetap atau

meningkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi penghasilan nelayan dari kegiatan

penangkapan adalah faktor fisik berupa kondisi lingkungan pesisir, teknologi

penangkapan, lokasi penangkapan, dan modal, serta dan faktor non fisik berkaitan

dengan kondisi iklim (musim), umur nelayan, pendidikan nelayan, dan pengalaman

melaut[ CITATION Ism04 \l 1057 ].

32
Tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir umumnya menempati strata paling

rendah dibanding masyarakat lainnya di darat[ CITATION Mub84 \l 1057 ]. Bahkan nelayan

termasuk paling miskin di semua negara dengan atribut “the poorest of poor’’

(termiskin diantara yang miskin). Fenomena tersebut merupakan pemasalahan yang

sering dihadapi dalam kehidupan para nelayan, utamanya nelayan tradisional [ CITATION

Nik02 \l 1057 ].

Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan nelayan adalah

melalui tingkat pendapatan. Pendapatan usaha tangkap nelayan merupakan selisih antara

penerimaan dengan biaya penangkapan yang benar-benar dikeluarkan oleh nelayan

perahu motor maupun perahu tanpa motor saat musim penangkapan baik per trip

maupun per tahun. Rata-rata pendapatan usaha tangkap nelayan, baik nelayan perahu

motor maupun nelayan perahu tanpa motor untuk setiap trip di wilayah pesisir Sulawesi

Selatan bervariasi rata-rata hasil tangkapan tertinggi berasal dari nelayan perahu motor .

Di samping itu, terdapat adanya pencemaran dari kepadatan bahan bakar para

nelayan kapal motor berkekuatan 30-50 GT bahkan sampai 100 GT dengan alat tangkap

bagan rambo dan purseine yang lebih tinggi. Menurut Nitimulyo [CITATION Nit00 \n \t \l

1057 ] adanya pencemaran akan menurunkan daya dukung (carriying capacity) sehingga

besarnya populasi ikan akan menurun.

Harga bahan bakar minyak tanah berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha

tangkap nelayan per trip dan per tahun perahu motor. Artinya jika terjadi kenaikan harga

minyak tanah, maka pendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor per trip maupun

per tahun akan meningkat pula selama musim penangkapan. Hal ini bertentangan

dengan tanda harapan, yaitu jika terjadi kenaikan harga minyak tanah, maka pendapatan

33
usaha tangkap nelayan per trip maupun per tahun akan menurun. Kejadian ini

berpengaruh positif terjadi karena banyaknya pemakaian minyak tanah selama melaut

dua sampai tiga hari terutama nelayan perahu.

Selanjutnya pengaruh positif menunjukkan adanya peningkatan nilai

produktivitas dari hasil usaha tangkap akan meningkatkan pendapatan usaha tangkap

nelayan perahu motor dan perahu tanpa motor pada daerah wilayah pesisir pantai barat

Sulawesi Selatan baik per trip maupun per tahun. Produktivitas usaha nelayan saat

musim penangkapan sangat tergantung dari harga jual ikan masing-masing pengumpul

atau juragannya (pabalu’balle, parangka’juku, dan padankan punnanna) sehingga sangat

mempengaruhi perubahan pendapatan nelayan perahu motor dan perahu tanpa motor.

Umur nelayan perahu motor di wilayah pesisir pantai barat Sulawesi Selatan

berpengaruh nyata positif, artinya meningkatnya umur nelayan akan meningkatkan

pendapatan per trip selama musim penangkapan. Hal ini bertentangan dengan tanda

harapan yang negatif, yaitu jika umur nelayan bertambah, maka pendapatan usaha

tangkap nelayan perahu motor menurun akibat dari menurunnya produktivitas [ CITATION

Rah11 \l 1057 ].

Karakteristik nelayan dalam hal ini umur nelayan, pendidikan formal,

tanggungan keluarga berpengaruh secara tidak langsung terhadap produksi hasil

tangkapan baik nelayan perahu motor dan perahu tanpa motor. Umur berpengaruh

negatif terhadap produksi hasil tangkapan nelayan perahu tanpa motor. Hal ini telah

sesuai dengan tanda harapan positif, yaitu semakin bertambah umur nelayan maka

produktivitas dalam menangkap semakin menurun. Pada kondisi lapangan diatas umur

produktif yaitu ≥ 60 tahun masih dapat melaut karena selain mengetahui teknik

34
penangkapan saat melaut juga termotivasi untuk memenuni kebutuhan

keluarga[CITATION Rah13 \t \l 1057 ]

Sedangkan pengalaman melaut tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan

usaha tangkap nelayan perahu motor dan perahu tanpa motor. Hal ini dapat terjadi

karena terdapat pengalaman nelayan kurang atau sama dengan 10 tahun pada wilayah

pesisir pantai barat Sulawesi Selatan. Lain halnya dengan jumlah tanggungan keluarga

berpengaruh nyata positif terhadap pendapatan usaha tangkap nelayan perahu tanpa

motor, artinya dengan adanya peningkatan jumlah tanggungan nelayan, maka semakin

meningkat pendapatan nelayan dari usaha tangkapnya, hal tersebut telah sesuai dengan

teori dan tanda yang diharapkan, yaitu negatif.

Pengaruh positif diartikan bertambahnya tanggungan keluarga akan memotivasi

nelayan perahu tanpa motor dalam mencari nafkah sebagai tulang punggung keluarga.

Jumlah tanggungan tertinggi nelayan perahu tanpa motor sebanyak empat (4) jiwa

dibandingkan nelayan perahu motor sampai delapan (8) jiwa. Hal ini berbeda dengan

penelitian Harahap[CITATION Har03 \n \t \l 1057 ] di perairan Kota Medan bahwa jumlah

tanggungan tidak berpengaruh terhadap pendapatan usaha tangkap nelayan tradisional.

Lamanya melaut nelayan setiap trip maupun per tahun berpengaruh nyata

terhadap pendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor. Artinya jika nelayan perahu

motor melaut dalam waktu yang lama dalam menangkap ikan, maka pendapatan usaha

tangkapnya menurun. Hal ini berbeda dengan tanda positif yang diharapkan, yaitu

semakin lama nelayan melaut maka pendapatan hasil tangkapan akan meningkat.

Keadaan dari pengaruh negatif ini dapat saja terjadi karena jarak tangkap fishing ground

lebih jauh sehingga biaya meningkat, hal ini menurunkan pendapatan nelayan. Trip

35
selama setahun berpengaruh nyata negatif pada terhadap pendapatan usaha tangkap

nelayan perahu motor, artinya semakin banyak jumlah trip nelayan perahu motor maka

pendapatan usaha dari kegiatan penangkapan semakin menurun.

Hal ini berbeda dengan tanda negatif yang diharapkan, yaitu semakin banyak

trip dalam menangkap ikan maka pendapatan usaha tangkapnya akan meningkat. Jenis

alat tangkap berpengaruh nyata positif terhadap pendapatan usaha tangkap per trip dan

per tahun nelayan perahu motor maupun perahu tanpa motor. Pada jumlah alat tangkap

rawai tetap (set long line) berpengaruh nyata positif terhadap pendapatan usaha tangkap

nelayan perahu motor per trip di Sulawesi Selatan. Hal ini telah sesuai dengan tanda

yang diharapkan, jika jenis alat tangkap rawai meningkat maka pendapatan nelayan

akan meningkat dari hasil tangkapan alat tersebut.

Ukuran kekuatan mesin dari nelayan perahu motor di pesisir pantai barat

Sulawesi Selatan juga tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha tangkap

nelayan, baik per trip maupun per tahun. Walaupun berbagai ukuran kekuatan mesin

digunakan nelayan untuk mencapai jarak daerah penangkapan (fishing ground), tetapi

sering nelayan menangkap pada terjadi bulan purnama sehingga tidak memperoleh

hasil. Dummy wilayah penangkapan berpengaruh nyata positif terhadap pendapatan

usaha tangkap nelayan perahu tanpa motor serta pengaruh negatif terhadap pendapatan

usaha tangkap nelayan perahu motor di wilayah penangkapan pada perairan pantai barat

Sulawesi Selatan. Pengaruh positif telah sesuai dengan tanda harapan, yaitu pendapatan

usaha tangkap nelayan perahu motor wilayah penangkapan di pesisir pantai barat

Sulawesi Selatan lebih tinggi dibanding pendapatan usaha tangkap nelayan perahu tanpa

motor wilayah penangkapan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan

36
Pada musim penangkapan nelayan perahu motor dan perahu tanpa motor

menangkap saat tejadi bulan terang (purnama). Hal ini menyebabkan menurunnya

produksi hasil tangkapan. Selain itu alat tangkap yang digunakan berupa jaring insang

yang jumlah sedikit serta lama melautnya hanya 4-6 jam khususnya nelayan perahu

tanpa motor[ CITATION Rus13 \l 1057 ].

Persepsi merupakan suatu rangkaian proses yang dilakukan oleh seseorang

dalam menafsirkan, memikirkan, menginterprestasikan, mengalami dan megolah segala

pertanda atau objek yang ada disekitar lingkungannya. Dari hasil interprestasi ini akan

melahirkan tanggapan, pendapat, pengetahuan dan pandangan yang didalamnya

terkandung unsur kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap suatu objek tertentu.

Masyarakat pesisir memandang lingkungan (sumberdaya alam) sebagai suatu

mata pencaharian hidup yang dapat di manfaatkan kapanpun dan dimanapun tanpa

terikat oleh etnisitas maupun golongan tertentu. Terkait dengan ini, umumnya

masyarakat memandang sumberdaya alam dalam dua sudut pandang, yaitu apakah

sumberdaya alam sebagai wilayah open access atau tidak dan apakah sumberdaya alam

dapat diperbaharui atau tidak. Apabila sumberdaya alam dipandang sebagai wilayah

open access maka, umumnya diikuti oleh pandangan yang menyatakan bahwa

sumberdaya alam bersifat tak terbatas. Sebaliknya jika alam dimiliki secara komunal

atau individu maka, sumberdaya alam cenderung dipahami sebagai sesuatu yang dapat

terbatas. Keterbatasan sumberdaya akan membuka peluang bagi tumbuhnya perilaku

budidaya sebagai bentuk resistensi terhadap kondisi sumberdaya yang dikelola oleh para

nelayan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan.

37
Masyarakat nelayan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan dalam memandang

lingkungan (alam) sebagai lahan mencari hidup seperti halnya petani memandang sawah

dan kebun. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh Rada Nipad pada bulan

juli-agustus 2017 dengan informan bahwa masyarakat nelayan memiliki tiga pandangan

utama yaitu :

(1) bahwa laut merupakan area open access.

(2) ikan tidak akan pernah habis.

(3) rezeki manusia berada ditangan Tuhan.

Pandangan ini hampir merata di masyarakat nelayan kita. Dari hasil wawancara

dengan beberapa informan memberikan penguatan bahwa ketiga pandangan ini begitu

melekat pada kehidupan keseharian masyarakat di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan

dan membimbing mereka dalam berperilaku, terutama kaitannya denga pemanfaatan

sumberdaya pesisir. Walaupun dalam kesehariannya terdapat pergeseran atau

pemaknaan ini namun tidak secara signifikan mempengaruhi perilaku mereka dalam

mengekploitasi sumberdaya laut.

Berikut adalah penurutan salah satu responden, (Dg. Tobo, 60 thn) :

“...Laut itu ciptaan Tuhan, milik ta bersama. Semua orang bisa pergi

memancing dimana saja...”

Pandangan yang menyatakan bahwa laut sebagai wilayah open access.

Pandangan ini melahirkan pola perilaku masyarakat dalam memandang laut sebagai

tempat/wilayah yang oleh siapapun berhak untuk memanfaatkan/mengelolahnya.

Menurut mereka, tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan wilayah ini

38
dengan cara yang menurut mereka efisien. Begitupun juga dengan kepemilikan atas laut

bahwa tidak ada seorangpun atau kelompok manapun yang dapat menklaim miliknya.

Di tinjau dari segi mobilitas bahwa, pandangan ini menguntungkan nelayan karena sifat

komoditi (ikan) yang diburu oleh nelayan adalah hewan liar. Sehingga perpindahan ikan

tidak menjadi persoalan dalam menjalankan aktifitasnya. Namun dari sisi negatif,

pandangan ini secara langsung telah melegalkan penggunaan alat tangkap apa saja

dilaut, tanpa melihat apakah merusak atau tidak. Itu pula yang menjadi sebab, mengapa

sangat sulit meminta nelayan untuk melaporkan bila menemukan pengguna bom bila

kejadian tersebut berada ditengah laut. Perasaan bersaudara sesama nelayan dan

pandangan bahwa tidak ada yang boleh melarang orang menangkap ikan, menjadikan

mereka cenderung bersikap diam ketika berhadapan dengan pertanyaan berkeruan

dengan ada tidaknya penggunaan bahan peladak. Sebab menyebutkan berarti telah

melanggar hak orang untuk hidup dan beraktivitas di laut. Dari beberapa penelusuran

dan hasil wawancara dengan responden menyatakan bahwa untuk saat ini, nelayan

banyak melakukan penangkapan hanya pada daerah takalar. Berbeda pada beberapa

tahun yang lalu nelayan banyak melakukan penangkapan diluar daerah takalar seperti ke

bone dan biasanya mereka kembali ke desa setelah beberapa bulan penangkapan.

Pandangan bahwa ikan atau sumberdaya laut tidak akan habis. Pandangan ini

memberikan pemahaman kepada nelayan bahwa sumberdaya berupa ikan tidak akan

pernah habis, namun kemungkinan untuk berkurang bisa terjadi. Hal ini tergambarkan

dari pengakuan mereka bahwa semakin hari mereka semakin sulit untuk mendapatkan

ikan. Akan tetapi berkurangnya ikan dalam pandangan nelayan lebih disebabkan karena

migrasi ikan yang terjadi terus menerus, musim barat dan musim ikan tertentu yang

datang secara periodik bahkan cenderung tidak menentu, banyak nelayan yang

39
menangkap dengan berbagai bentuk alat tangkap, dan pengrusakan habitat hidup biota

laut oleh alat tangkap maupun bahan yang sifatnya destruktif fishing.

Berikut adalah penuturan salah satu responden, (Dg. Bella, 70 thn) :

“...Lama mi saya jadi nelayan ka, tidak pernah habis itu ikan pada hal

ditangkap terus ji. Bahkan dulu itu banyak sekali didapat, sekarang mi itu

baru berkurang tapi tetap ada walaupun hanya sedikit...”

Pandangan ini lahir dari kebiasaan mereka mengamati sepanjang tahun kondisi

sumberdaya yang diusahakan. Nelayan memiliki sejarah panjang dimana pengalaman

dimana mereka melihat perubahan-perubahan alam dan masyarakat yang silih berganti.

Logika yang biasa mereka berikan bahwa sejak dahulu manusia menangkap ikan, tetapi

ikan tidak pernah habis dari laut. Mereka juga memahami kekurangan ikan sebagai

akibat pergeseran musim dan migrasi biota, dibandingkan sebagai akibat dari perbuatan

merusak lingkungan. Pandangan bahwa rezeki di tangan Tuhan, pandangan ini

pelengkap dari dua pandangan lainnya. Dalam keyakinan nelayan, apapun yang

diusahakan di laut, semua bergantung pada keputusan Tuhan. Walaupun seseorang

kelaut dengan menggunakan teknologi yang sangat canggih, namun bila hari itu bukan

rezekinya, maka boleh jadi yang pergi dengan pancing mendapatkan hasil yang lebih

banyak. Karena itu sifat takabur harus dibuang jauh oleh nelayan. Dalam banyak

kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan hasil tangkapan, kata “sedikit” dan

“ada” sering digunakan untuk menyebutkan hasil tangkapan.

Ditinjau dari segi keberlanjutan sumberdaya, pandangan ini dapat bernilai

negatif, oleh karena nelayan dalam melakukan eksploitasi terhadap sumberdaya

cenderung memanfaatkan secara berlebihan dan tidak terkontrol sehingga berpotensi

40
menimbulkan gejala penangkapan lebih (over fishing) dan pada kondisi ekstrim dapat

menimbulkan krisis sumberdaya (kepunahan) pada akhirnya dapat mengakibatkan

sulitnya nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang baik. Hal ini sangat di rasakan oleh

nelayan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan. Menurut pengakuan mereka bahwa

kondisi hasil tangkap mereka dari hari ke hari semakin menurun, bahkan tidak jarang

dalam sekali melaut mereka tidak mendapatkan hasil apapun. Seperti yang di

ungkapkan oleh Nikujuluw[CITATION Nik02 \n \t \l 1057 ] mengatakan bahwa kondisi

perairan selatan sulawesi telah mencapai status tangkap penuh (full eksploitasi) atau

bahkan ditaksir telah bernilai tangkap lebih (over eksploitasi).

Pandangan nelayan tentang sumberdaya laut merupakan sumberdaya yang dapat

pulih, yang bernilai negatif ini dapat dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan

yang ada di masyarakat. Dahuri [CITATION Dah01 \n \t \l 1057 ] mengatakan bahwa

rendah tingkat pendidikan nelayan menyebabkan proses alih teknologi dan keterampilan

tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan yang berdampak pada kemampuan

manajemen mengembangkan usahanya. Ditambahkan oleh Azwar [CITATION Azw98 \n \t

\l 1057 ], mengatakan bahwa lembaga pendidikan mempunyai pengaruh dalam

pembentukan sikap karena meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri

individu, memberikan pemahaman akan baik dan buruk serta memberi garis pemisah

antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.

Pemahaman akan pandangan ini juga dipengaruhi oleh tingkat pengalaman

nelayan dalam melakukan aktivitas penangkapan. Tingkat pengalaman ini membentuk

pandangan mereka terhadap sumberdaya yang ada dilingkungannya. Menurut

Azwar[CITATION Azw98 \n \t \l 1057 ] , bahwa pengalaman akan menjadi dasar

41
pembentukan pandangan (persepsi) individu untuk memberikan tanggapan dan

penghayatan.

Dari hasil wawancara dengan beberapa responden juga mengemukakan

pandangan yang memperkuat pernyataan diatas, bahwa sumberdaya laut merupakan

karunia dari Allah SWT, sehingga laut dan segala isinya akan senantiasa ada untuk

manusia. Menurut mereka karunia tersebut tidak akan pernah berhenti, karena banyak

manusia yang menggantungkan hidupnya pada sumberdaya perikanan. Selain itu ada

persepsi lain yang menyatakan bahwa siklus hidup ikan dan biota lainya tidak pernah

terputus, jika yang tertangkap adalah ikan yang kecil (berumur muda) maka masih ada

ikan induk yang akan menghasilkan ikan-ikan kecil dan begitu pula sebaliknya. Hal

inilah menjadi dasar lahirnya pandangan bahwa rezeki itu berada ditangan Tuhan.

Sebagian nelayan menyatakan menyatakan bahwa ada biota laut yang dilarang

dan dilindungi oleh undang-undang, hal ini di karenakan pengetahuan nelayan

mengenai informasi dan jenis ikan yang dianggap punah. . Secara umum pandangan ini

memberikan implikasi positif pada keberlanjutan ekosistem yang ada, jika didukung

oleh perangkat pengetahuan dan informasi yang cukup memadai. Artinya pandangan ini

membentuk pola perilaku nelayan dalam menangkap ikan cenderung terkontrol,

terutama pada jenis-jenis ikan tertentu yang dilarang dan dilindungi oleh undang-

undang. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan, umumnya nelayan kurang

mengetahui jenis-jenis ikan yang dilindungi maupun dilarang penangkapannya

walaupun penulis memancing dengan beberapa pertanyaan lebih lanjut. Mereka hanya

bisa mengungkapkan beberapa jenis saja dan sebagian besar mereka ketahui melalui

siaran televisi. Tersebutkan beberapa jenis sumberdaya laut yang menurut mereka

42
dilindungi dan dilarang ditangkap antara lain seperti lumba-lumba, ikan duyung dan

penyu.

kebanyakan nelayan memiliki pandangan positif yang menyatakan bahwa

pengambilan batu karang dapat merusak ekosistem terumbu karang sebagai habitat

sumberdaya laut. Dari hasil jawaban ini dapat kita simpulkan bahwa secara keseluruhan

masyarakat nelayan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan memiliki kesadaran tentang

pentingnya terumbu karang sebagai tempat/habitat bagi biota laut sehingga harapan

akan keberlanjutan ekosistem dapat terwujud. Pandangan ini diharapkan menjadi

landasan mereka dalam kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan menunjukkan

sikap positif terhadap keberadaan terumbu karang serta menyadari arti penting terumbu

karang sebagai habitat biota laut. Akan tetapi ini sesungguhnya menjadi suatu yang

paradoks oleh karena beberapa informan menyebutkandulu sekali ada nelayan dari luar,

pada saat mereka berada dipulau dan beberapa nelayan mengikuti kapal sebagai nelayan

penyelam, aktivitas nelayan yang menggunakan bahan peledak seperti bom cukup

tinggi, oleh karena konsentrasi penangkapan berada di daerah karang. Minimnya

kegiatan penyuluhan disinyalir menyebabkan nelayan setempat masih kurang

memahami hukum dalam melakukan aktivitas penangkapan yang menggunakan bahan

dan alat yang merusak lingkungan tersebut.

Penggunaan alat tangkap seperti bahan peledak (bom) oleh nelayan pada

umumnya dilakukan didaerah penangkapan yang memiliki karakteristik berkarang

(terumbu karang). Spesifik ini menuntun mereka untuk berburu komoditi ikan yang

hidup di areal terumbu karang. Sehingga hasil tangkapannya merupakan jenis-jenis ikan

karang. Hasil tangkapan ini dapat berupa ikan yang masih hidup (terutama ikan-ikan

hias) maupun ikan yang dijual langsung untuk dikomsumsi.

43
Secara umum para Nelayan memilik persepsi bahwa penggunaan bahan peledak

(bom) dalam penangkapan ikan dapat menghasilkan pendapatan yang besar. Dari

pernyataan ini dapat dilihat bahwa nelayan dalam melakukan aktivitas penangkapan,

menginginkan pendapatan yang besar/maksimal. Sehingga hal ini membuka peluang

bagi nelayan untuk melakukan penangkapan yang sifatnya destruktif fishing.

Karakteristik nelayan yang cendrerung terbuka memungkinkan mereka mengadopsi

berbagai teknologi alat tangkap termasuk bahan peledak (bom) yang menjanjikan

pendapatan yang cukup besar dan nelayan tidak lagi membutuhkan waktu lama diareal

fishing ground. Pandangan ini dapat bernilai negatif. Jika landasan berfikir nelayan

dalam melakukan aktivitas penangkapannya menggunakan cara-cara destruktif fishing

untuk mendapatkan hasil yang cukup besar sehingga dapat menyebabkan kerusakan

pada terumbu karang yang pada akhirnya mengancam kelestarian/keberlanjutan

ekosistem sumberdaya laut.

Kebanyakan Nelayan memiliki pandangan bahwa penggunaan bahan peledak

(bom) dalam penangkapan ikan dapat merusak kelestarian sumberdaya laut. Sisanya

memilih tidak setuju, hal ini menurutnya penggunaan bahan peledak (bom) hanya

merusak terumbu karang, tidak semua kelestarian sumberdaya laut rusak akibat

penggunaan tersebut seperti ikan yang tidak hidup disekitar terumbu karang. Dari

pernyataan tabel ini menandakan bahwa masyarakat di pesisir pantai barat Sulawesi

Selatan sadar akan dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan bom terhadap

kelestarian sumberdaya laut. Pandangan ini berdampak positif bagi keberlanjutan

ekosistem sumberdaya laut oleh karena secara tidak langsung mencegah penggunaan

bom oleh nelayan.

44
Peneliti juga mengajukan pertanyaan terkait dengan apakah penggunaan bahan

peledak (bom) dalam penangkapan ikan adalah perbuatan melanggar hukum atau tidak

menunjukan bahwa secara umum nelayan memiliki pandangan bahwa penggunaan

bahan peledak adalah perbuatan yang melanggar hukum. Selebihnya memilih tidak

setuju, karena kurangnya pengetahuan dan pandangan bahwa semua yang berada dilaut

milik kita bersama. Kedua pandangan masyarakat tentang penggunaan bahan peledak

(bom) dalam penangkapan dapat merusak kelestarian sumberdaya laut dan penggunaan

bahan peledak (bom) dalam penangkapan adalah perbuatan yang melanggar hukum

dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa masyarakat nelayan di pesisir pantai

barat Sulawesi Selatan sadar akibat yang ditimbulkan oleh penggunaan bahan peledak

(bom) terhadap keberlanjutan sumberdaya laut.

Penggunaan bahan peledak (bom) dalam penangkapan dapat merusak kelestarian

sumberdaya laut dan bagi mereka itu merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

Pandangan ini mendukung konsep pembangunan lingkungan yang berkelanjutan dan

lestari atau sustainable development yang dicanangkan oleh pemerintah. Oleh karena

ada kecenderungan masyarakat untuk tidak menggunakan bahan peledak (bom) dalam

aktivitas pemanfaatan sumberdaya laut dan jika ini tetap dilakukan maka sanksi secara

hukum tidak dikenakan.

Pandangan ini dilakukan oleh minimnya pengetahuan masyarakat tentang

larangan penggunaan bahan peledak yang disebabkan oleh kurangnya informasiyang

mereka peroleh baik melalui media elektronik maupun media sosialisasiyang dilakukan

oleh pemerintah/instansi terkait melalui penyuluhan dansosialisasi aturan-aturan yang

menyangkut tentang larangan penggunaan bahanpeledak (bom).

45
Kebanyakan nelayan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan memiliki

pandangan bahwa perlu diadakan penyuluhan/sosialisasi tentang larangan penggunaan

bahan peledak (bom). Sisanya memilih tidak setuju. Sementara sebagian nelayan

memilih pandangan bahwa perlu mentaati aturan tentang pengelolaan sumberdaya laut

(lokal maupun formal seperti undang-undang) tentang larangan penggunaan bom

didaerah penangkapan ikan. Sisanya kurang memilih tidak setuju. Dari kedua

pandangan tersebut dan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan

mengisyaratkan bahwa masyarakat nelayan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan

sangat membutuhkan sosialisasi/penyuluhan mengenai alat tangkap yang ramah

lingkungan dan informasi-informasi terbaru tentang teknologi alat tangkap yang dapat

meningkatkan hasil tangkapan. Praktis selama kurang lebih mereka tinggal

dipemukiman nelayan, jarang sekali pemerintah (dalam hal ini dinas perikanan dan

kelautan) melakukan penyuluhan dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat

tentang pengelolaan lingkungan pesisir yang lestari/berkelanjutan.

Menguatnya pandangan akan laut yang diyakini sebagai wilayah yang open

access melahirkan pola perilaku masyarakat dalam memandang laut sebagai

tempat/wilayah yang oleh siapa pun berhak untuk memanfaatkan/mengolahnya.

Menurut mereka, tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan wilayah ini

dengan cara yang menurut mereka efektif. Begitupun juga dengan kepemilikan atas laut

bahwa tidak ada seorang pun atau kelompok manapun yang dapat mengklaim miliknya.

Hal ini berimplikasi pada pandangan mereka yang menyakini bahwa masyarakat

nelayan dengan bebas dapat mendatangi wilayah lain secara bebas dan melakukan

aktifitas penangkapan didaerah yang didatanginya. Hanya saja secara etis, mereka harus

melaporkan kedatanganya pada pemerintah setempat atau pemegang kekuasaan yang

46
ada. Dalam pandangan nelayan, kedatangan nelayan lain kedalam wilayahnya

merupakan suatu yang sah, sebab mereka juga sering mendatangi wilayah lain untuk

melakukan penangkapan. Prinsip bahwa menghormati nelayan pendatang merupakan

suatu keharusan, karena mereka juga akan mendapatkan kondisi yang sama ketika

mereka mendatangi wilayah nelayan lain. Didasarkan pada pola pandangan ini, kecuali

pada kasus ilegal fishing.

Kebanyakan nelayan memilih pandangan bahwa nelayan dapat dengan bebas

melakukan aktivitas penangkapan ikan dimana saja. Sementara sedikit nelayan memilih

tidak setuju bahwa nelayan bebas melakukan penangkapan. Dari data tersebut dapat

disimpulkan bahwa nelayan dalam melakukan aktivitas penangkapan tidak mengenal

pembatas area tangkap. Setiap nelayan berhak untuk mendatangi area tangkap dan

melakukan aktivitas penangkapan yang menurut mereka efektif dan potensial untuk

mendatangkan pendapatan yang besar. Pandangan ini terbentuk dari keyakinan bahwa

sumberdaya laut merupakan wilayah yang open access oleh siapa pun berhak untuk

memanfaatkan mengelolahnya. Menurut mereka, tidak larangan bagi siapa pun untuk

memanfaatkan wilayah penangkapan dengan cara yang menurut mereka efektif.

Pandangan nelayan akan laut sebagai wilayah yang open access diperkuat oleh

pemahaman bahwa laut dan beserta apa yang ada di dalamnya merupakan karunia Allah

SWT, oleh karena itu merupakan sumberdaya milik bersama (common property

resources) sehingga orang bebas mengolah dan memanfaatkannya. Sekilas pandangan

ini dapat berdampak negatif oleh karena membuka peluang pada nelayan untuk

menggunakan alat tangkap apa saja di laut, tanpa melihat apakah merusak atau tidak.

Pandangan ini juga berpotensi menimbulkan konflik horizontal antar nelayan oleh

karena tumpang tindih wilayah penangkapan, menyebabkan terjadinya eksploitasi

47
sumberdaya yang berlebihan yang dapat menimbulkan dampak over eksploitasi pada

satu kawasan yang cukup potensial. Akibat lain yang bisa ditimbulkan adalah terjadinya

persaingan yang tidak sehat antara nelayan tradisional dan nelayan modern, dimana

nelayan tradisional tergusur oleh ketidakmampuan mereka bersaing dengan alat tangkap

yang lebih besar kapasitasnya dan teknologi yang lebih baik yang digunakan oleh

nelayan modern.

Hal inilah yang disinyalir menyebabkan masyarakat cenderung untuk

mengeksploitasi sumberdaya dengan cara-cara yang destruktif fishing akibat dari

himpitan atau keterdesakan ekonomi dan dorongan untuk mendapatkan hasil yang lebih

banyak demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada hasil wawancara dapat di

lihat bahwa sebagian besar masyarakat pesisir memiliki pendapatan dibawah upah

minimum provinsi (UMP) sebesar Rp. 612.000,- hanya sedikit masyarakat yang

memiliki tingkat pendapatan diatas UMP. Ini menandakan bahwa secara umum

penduduk di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan memiliki tingkat pendapatan cukup

rendah dan hal ini tentunya berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraannya. Walaupun

demikian, alasan ini bukanlah merupakan satu-satunya penyebab dari maraknya

penggunaan bahan dan alat tangkap yang merusak lingkungan, khususnya di daerah

pesisir barat Sulawesi Selatan.

Dahuri[CITATION Dah01 \n \t \l 1057 ] mengemukan bahwa kawasan pesisir pada

umumnya merupakan sumberdaya milik bersama (common property resources) yang

dapat dimanfaatkan semua orang (open access). Padahal setiap pengguna sumberdaya

pesisir biasanya berprinsip memaksimalkan keuntungan, oleh karenanya, wajar jika

pencemaran, over eksploitasi sumberdaya alam dan konflik pemanfaatan ruang sering

terjadi dikawasan pesisir pantai barat Sulawesi Selatan.

48
Pemanfaatan sumberdaya laut merupakan aktivitas utama yang dilakukan

masyarakat di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan dalam menunjang sumberdaya laut

ini, maka diperlukan sarana pendukung yang digunakan dalam aktivitas

penangkapannya, salah satunya penggunaan alat tangkap dan kapal penangkapan.

Penggunaan alat tangkap merupakan sarana yang paling penting dimata nelayan

karena akan menentukan seberapa besar hasil tangkapan yang akan kita peroleh.

Biasanya alat tangkap akan mendefinisikan jenis tangkapan apa yang akan diperoleh

dan peruntukannya digunakan pada daerah dasar atau permukaan.

Jenis alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan sesuai jenis ikan yang

ditangkap. Alat tangkap tradisional yang digunakan oleh masyarakat nelayan di pesisir

pantai barat Sulawesi Sekatan adalah pancing rewo (rawai) dan pancing biasa. Pancing

rewo (rawai) dengan jumlah mata pancing yang berbeda-beda sesuai ukuran tergantung

jenis ikan yang akan ditangkap menggunakan bahan tali nilon dengan ukuran 25 sampai

60 lb (kekuatan tali). Pancing rewo (rawai) terdiri dari rangkaian tali-temali yang

bercabang-cabang dan pada setiap ujung cabangnya dikaitkan sebuah pancing. Teknis

operasionalnya tiap-tiap pancing diberi umpan yang tujuanya untuk menarik ikan

sehingga ikan memakan umpan tersebut dan terkait oleh pancing. Biasanya ada yang

menggunakan alat bantu kayu atau bambu sebagai tempat untuk mengikat tasi.

Sedang pancing bias dengan jumlah mata pancing yang berbeda-beda sesuai

ukuran tergantung jenis ikan yang akan ditangkap menggunakan bahan tasi nomor 10, 9

dan 8. Pancing ini terdiri dari tali utama dari polyetilen tempat mengikat tasi yang

ujungnya telah dipasang satu mata kail. Biasanya ada yang menggunakan alat bantu

kayu atau bambu sebagai tempat untuk mengikat tasi. Pengoperasiannya sangat

49
sederhana dimana ujung mata tasi yang ada diikat mata kail dipasang umpan. Alat

tangkap yang digunakan cukup ramah lingkungan dan tidak merusak alam seperti

halnya bom ikan dan bius.

Berikut adalah penuturan salah satu responden, (Dg. Saru, 56 thn) :

“…Tidak ada yang pakai bom disini orang luar (nelayan daerah lain) ji itu

biasa pakai, dilarang orang pakai bom, apalagi bius. Tidak ada juga

berani pakai bom disini, kalau meletus diperahu bahaya merusak laut

juga.…”

Dari hasil penuturan responden menandakan bahwa perilaku nelayan dalam

memanfaatkan dan melindungi sumberdaya laut bernilai positif, hal ini dikarenakan

tidak ada penggunaan bahan dektruktif alat tangkap yang merusak seperti halnya bom

ikan dan bius yang dilakukan nelayan saat melakukan penangkapan.

Jenis perahu yang digunakan sebagai armada transportasi laut yaitu perahu fiber.

Pada umumnya perahu fiber ini memiliki ukuran 5-6 m. Adapun mesin yang di gunakan

yaitu mesin yanmar dan mesin mobil (perahu bisa maju dan mundur) memiliki kapasitas

10 GT (Groos Ton dengan kekuatan mesin sekitar 10 DK (Daya Kuda) dan terdapat

pada bagian tengah atau sudut perahu serta memiliki 2 sayap pada bagian samping.

Perahu fiber dapat mencapai lokasi penangkapan yang cukup jauh.

Berikut adalah penurutan salah satu responden, (Dg. Sattu, 48 thn) :

“…Kalau musim-musim barat itu, berhentiki melaut. Besarki ombak baru

hujan juga, teaki passai. Perahu kecilji dipakai, perahu fiberji kapalku…”

50
Para nelayan pesisir pantai barat Sulawesi Selatan juga melihat musim yang baik

untuk melakukan penangkapan ikan. Pada angin musim barat para nelayan tidak pergi

menangkap ikan, hal itu disebabkan pada saat angin musim barat terjadi angin kencang,

hujan beserta gelombang laut yang besar. Pada musim ini para nelayan yang

menggunakan kapal kecil tidak dapat mencari ikan karena dapat membahayakan

keselamatan nelayan. Sedangkan untuk kapal yang berukuran besar yang telah berada

dilaut, biasanya akan mencari pulau terdekat untuk bersandar dan berlindung dari angin

dan gelombang yang besar. Pada waktu inilah berbagai jenis ikan melakukan pemijahan

sehingga kegiatan tidak menangkap ikan memberikan kesempatan bagi berbagai jenis

ikan untuk berkembang.

Pengetahuan nelayan mengenai musim dapat mengontrol hasil tangkapan, Hasil

tangkapan nelayan pesisir pantai barat Sulawesi Selatan yang paling dominan adalah

ikan kakap (masidung), baru diikuti oleh kerapu, dan hiu (tinumbu). Ikan dijual dalam

bentuk segar kepada pengusaha lokal. Tidak ada nelayan yang menjual langsung ke

pasar. Ikan ditampung oleh pengusaha lokal kemudian diekspor atau dijual ke

pengumpul lebih besar. Harga ikan berfluktuasi sesuai dengan kurs dan sesuai dengan

permintaan serta stok yang ada di pasaran. Namun, jumlah 5 tahun terakhir hasil

tangkapan mulai berkurang di akibatkan karena sering melakukan penangkapan dan

adanya penggalian pasir oleh perusahaan untuk reklamasi pantai dikawasan pantai losari

Makassar. Di samping kurangnya ikan, ada biota yang dilindungi oleh masyarakat

nelayan setempat yaitu lumba-lumba, karena menurut mereka ikan lumba-lumba salah

satu ikan yang langka hampir punah yang wajib dilindungi, hal ini membentuk pola

perilaku masyarakat yang positif.

51
Hasil tangkapan nelayan ikan dengan ukuran yang besar dengan nilai jual yang

tinggi sampai ukuran kecil dengan nilai jual rendah. Apapun jenisnya, para nelayan

langsung menjualnya, mereka hanya menyisakan sedikit sebagai bahan lauk untuk

keluarganya. Biasanya mereka membedakan ikan berdasarkan jenisnya, bila ikan

konsumsi langsung, mereka jual pada pengumpul ikan konsumsi.

Banyak tidaknya hasil tangkapan ditentukan pula oleh lokasi (daerah)

penangkapan serta melihat musim yang terjadi. Daerah penangkapan merupakan suatu

tempat yang ditempuh

masyarakat nelayan untuk melakukan kegiatan melaut. Dari hasil wawancara

dengan beberapa responden mengemukakan bahwa lokasi daerah penangkapan nelayan

di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan dengan jarak terjauh 30 km dengan waktu

tempuh nelayan untuk sampai dilokasi penangkapan (fishing ground) adalah kurang

lebih 2 jam. Sementara jarak terdekat hanya 1 km dengan waktu tempuh kurang lebih

sampai dengan 15 menit. Menurut salah satu responden menyatakan bahwa daerah yang

di larang untuk melakukan penangkapan tidak ada, yang artinya bebas melakukan

penangkapan dimana saja.

Berikut adalah penurutan salah satu responden, (Dg. Tobo, 60 thn) :

“...Laut itu ciptaan Tuhan, milik ta bersama. Semua orang bisa pergi

memancing dimana saja...”

Hal diatas mengemukakan bahwa laut sebagai wilayah open access, yang artinya

sebagai tempat/wilayah yang oleh siapapun berhak untuk

memanfaatkan/mengelolahnya. Tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan

wilayah ini dengan cara yang menurut mereka efisien. Begitupun juga dengan

52
kepemilikan atas laut bahwa tidak ada seorangpun atau kelompok manapun yang dapat

menklaim miliknya. Namun dari sisi negatif, perilaku ini secara langsung telah

melegalkan penggunaan alat tangkap apa saja dilaut, tanpa melihat apakah merusak atau

tidak. Akan tetapi di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan seperti yang di jelaskan

sebelumnya, nelayan menggunakan alat tangkap pancing yang ramah lingkungan tidak

merusak (ilegel fishing).

Seiring dengan pemanfaatan sumberdaya laut yang terus meningkat dan

cenderung tidak terkontrol, memuncukan kekhawatiran akan timbulnya berbagai

dampak negatif bagi ekosistem sumberdaya perikanan beserta biota yang hidup

didalamnya. Pemanfaatan sumberdaya laut yang tidak disertai pengelolaan yang baik

berpotensi menimbulkan gejala-gejala negatif, seperti kegiatan eksploitasi yang

berlebihan (over fishing), kerusakan ekosistem terumbu karang, pencemaran, konflik

antar pemanfaat sumberdaya perikanan serta penggunaan bahan dan alat penangkapan

yang tidak ramah lingkungan.

Dari penelusuran yang dilakukan, memberikan gambaran bahwa masyarakat

diperkampungan nelayan pesisir barat Sulawesi Selatan jarang sekali melakukan

kampanye-kampanye tentang pelarangan penggunaan bahan dan alat tangkap yang

merusak lingkungan. Kalaupun ada nelayan yang menggunakan bahan dan alat tangkap

bom, biasanya nelayan hanya melihat dari jauh saja dan takut untuk mendekat.

Kejadian-kejadian seperti ini terjadi pada nelayan luar melakukan penangkapan dilaut

yang terlihat oleh nelayan sekitar. Dan jika komunitas mereka (satu kampung) yang

melakukan biasanya mereka hanya mendiamkannya saja. Itu pula yang menjadi sebab,

mengapa sangat sulit meminta nelayan untuk melaporkan bila menemukan pengguna

bom bila kejadian tersebut berada ditengah laut. Perasaan bersaudara sesama nelayan

53
dan pandangan bahwa tidak ada yang boleh melarang orang menangkap ikan,

menjadikan mereka cenderung bersikap diam ketika berhadapan dengan pertanyaan

berkeruan dengan ada tidaknya penggunaan bahan peladak. Sebab menyebutkan berarti

telah melanggar hak orang untuk hidup dan beraktivitas di laut. Pandangan ini secara

tidak langsung kurang mendukung kelangsungan sumberdaya laut yang ada akibat

penggunaan bahan dan alat tangkap yang merusak lingkungan sebab ketika intensitas

penggunaannya tinggi maka akan sangat membahayakan sumberdaya, terutama terumbu

karang sebagai habitat ikan dan biota lainnya.

Masyarakat jarang sekali mengikuti penyuluhan maupun sosialisai mengenai

cara penangkapan yang merusak lingkungan laut (destruktif) seperti bom. Berdasarkan

informasi yang diperoleh, menunjukkan bahwa di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan

jarang sekali dilakukan penyuluhan-penyuluhan tentang potensi sumberdaya laut

maupun penggunaan bahan dan alat yang merusak lingkungan, kalaupun ada itu

dilakukan sekali dalam satu tahun. Hal inilah yang menyebabkan intensitas masyarakat

untuk mengikuti penyuluhan sangatlah rendah. Dampak yang bisa ditimbulkan oleh

minimnya penyuluhan tentang cara penangkapan yang merusak lingkungan laut

(destruktif) seperti bom dapat mengakibatkan semakin maraknya penggunaan bahan dan

alat tangkap.

Partisipasi responden dalam mentaati aturan tentang larang menangkap ikan

didaerah konservasi dan larangan menggunakan bom dalam aktivitas penangkapan (baik

lokal maupun formal) untuk kategori cukup baik. Hal ini menandahkan bahwa

kesadaran nelayan dalam menaati aturan tentang larang menangkap ikan didaerah

konservasi dan larangan menggunakan bom dalam aktivitas penangkapan (baik lokal

maupun formal) sangat baik. Secara umum masyarakat nelayan sudah cukup paham

54
akan dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas pengeboman. Persepsi masyarakat tentang

penggunaan bahan peledak (bom), mereka sadar akan dampak yang ditimbulakan akibat

penggunaan bahan peledak bom dapat merusak kelestarian sumberdaya laut dan banyak

dari nelayan pesisir pantai barat Sulawesi Selatan menyadari bahwa itu merupakan

perbuatan yang melanggar hukum.

Pada pertanyaan terakhir tingkat partisipasi responden dalam menentukan daerah

penangkapan yang dilarang (daerah konservasi laut) sangat banyak kategori cukup(57,5

%). Pandangan ini dapat disebabkan oleh karena adanya pemahaman nelayan tentang

laut sebagai sumberdaya yang tidak akan habis dan semua orang berhak untuk

mengolahnya. Hal ini di butuhkan perhatian pemerintah untuk melakukan penelitian

tentang daerah konservasi laut sehingga dapat ditetapkan sebagai daerah konservasi.

Dengan demikian hal ini akan sangat baik untuk menjaga spesies-spesies yang hampir

punah, serta menjadi tempat penelitian dalam pengembangan budidaya laut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, dapat disimpulkan bahwa pemahaman

nelayan tentang daerah konservasi masih sedang/cukup rendah.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh tingkat pendidikan responden yang ada di

desa Bontomarannu masih rendah. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat akan

berbanding lurus dengan tingkat partisispasi terhadap proses pembangunan yang sedang

berjalan dan minimnya tingkat adopsi dan inovasi terhadap teknologi yang sedang

berkembang. Seperti yang diuraikan oleh Samuel (1999) mengatakan kurangnya

partisipasi masyarakat selama ini disebabkan oleh rendahnya tingkat kesadaran

masyarakat yang berkaitan dengan informasi, teknologi dan keterampilan.

55
56
BAB IV

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pendapatan terhadap perilaku lingkungan nelayan di pesisir pantai selatan sangat
berpengaruh. Hal yang mempengaruhi pendaptan nelayan tersebut yaitu jenis
perahu yang digunakan, musim, cuaca, harga bahan bakar, harga jual ikan, umur,
bertambahnya tanggungan, lamanya melaut, dan alat tangkap yang digunakan.

Penggunaan alat tangkap nelayan di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan masih
menggunakan alat tangkap pancing rawai dan pancing biasa. Ini berarti bahwa
perilaku nelayan dalam memanfaatkan dan melindungi sumberdaya laut bernilai
positif, dikarenakan tidak ada penggunaan bahan dektruktif alat tangkap yang
merusak. Dan di daerah tersebut, tidak ada daerah yang di larang untuk melakukan
penangkapan, yang artinya bebas melakukan penangkapan dimana saja.

B. SARAN
Adapun saran yang dapat direkomendasikan penulis yaitu:
o Perlu mengadakan penelitian langsung ke tempat yang akan menjadi sempel
untuk Karya Tulis Ilmiah ini sehingga penulis juga mampu mengembangkan
kemampuan untuk memaparkan hasil penelitianbnya ke dalam Karya Tulis
Ilmiah ini.
o Untuk pemerintah, perlu adanya perhatian yang lebih kepada masyarakat
pesisir pantai barat Sulawesi Selatan khususnya pada nelayan. Memberikan
kebijakan dalam menjaga dan memelihara sumberdaya laut dengan melihat
kondisi masyarakat setempat, perlu diadakan penyuluhan dan sosialisasi
peraturan undang-undang perlindungan dan pengelolaan lingkungan baik
dalam hal mengenai penggunaan alat tangkap (fishing) maupun penentuan
daerah penangkapan (fishing ground).
o Untuk masyarakat pesisir pantai barat Sulawesi Selatan, lebih aktif lagi
berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam mengelolah sumberdaya laut
demi keberlanjutan ekosistem lingkungan laut sehingga terciptanya
lingkungan pesisir yang lestari.

57
DAFTAR PUSTAKA

Acheson, J. M. (1981). Anthropology of Fishing. Annual Review Anthropology, 275-


316.
Arifin, S. (2005). Strategi Untuk Mengurangi Kerusakan Lingkungan yang Diakibatkan
Oleh Gempa dan Gelombang Tsunami. Jurnal Arsitektur “ATRIUM”, 2(1), 28-
33.
Azwar, S. (1998). Sikap Manusia (Teori Dan Pengukurannya) Edisi Kedua.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barnes-Mauthe, M., Oleson, & Zafindrasil. (2013). The total economic value of small-
scale fisheries with a characterization of post-landing trends: an application in
Madagascar with Global Relevance. Journal of Fisheries Research, 175-185.
Bavinck, M. (1984). Small Fry : The Economics of Petty Fishermen in Northern Sri
Lanka. Amsterdam: Free University Press.
Bengen, D. G. (2004). Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut
Serta Prinsip Pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan: Institut
Pertanian Bogor.
Bourdieu, P. (1977). Outline of a Theory of Practice. Cambridge: Cambridge University
Press.
Dahuri, R. (2001). Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat.
Yogyakarta: LISPI.
Danil, M. (2013). Pengaruh Pendapatan Terhadap Tingkat Konsumsi Pada Pegawai
Negeri Sipil Dikantor Bupati Kantor Bireuen. Jurnal Ekonomika, vol IV, no 7.
Fauzi, A. (2005). Kebijakan Perikanan dan Kelautan (Isu, Sintesis, dan Gagasan).
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fitriansah, H. (2012). Keberlanjutan Pengelolaan Lingkungan Pesisir Melalui
Pemberdayaan Masyarakat di Desa Kwala Lama Kabupaten Serdang Bedagai.
Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 8(4), 360-370.
Green, L. (1980). Health education planning a diagnostic approach. Baltimore:
Mayfield publishing Co.
Gumilar, I. (2012). Partisipasi masyarakat pesisir dalam pengelolaan eksosistem hutan
mangrove berkelanjutan di Kabupaten Indramayu. Jurnal Akuatika, 3(2), 198-
211.
Harahap, A. S. (2003). Analisis Masalah Kemiskinan dan Tingkat Pendapatan Nelayan
Tradisional di Kelurahan Nelayan Indah Kecamatan Medan Labuan Kota
Medan(Tesis-S2 Program Pascasarjana). Universitas Sumatera Utara.

58
Harahap, I., Ridwan, & Yusrizal. (2013). Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro Islam.
Medan: Perdana Mulya Sarana.
Hastuti. (2012). Wilayah pesisir dan fenomena-fenomena yang terjadi di pantai.
Makassar: Universitas Hassanudin.
Hiariey, L. S., & Romeon, N. R. (2013). Peran Serta Masyarakat Pemanfaat Pesisir
dalam Rangka Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Ambon Dalam. Jurnal
Matematika, Sains, dan Teknologi, 14(1), 48-61.
Ismail, Z. (2004). Faktor-faktor yang mempengaruhi Penghasilan dan Pola Konsumsi
Nelayan, Dampak Kerusakan Lingkungan Pesisir terhadap Kondisi Sosial
Ekonomi Nelayan. Yogyakarta: Pelangi Aksara.
Israel, D. C., Adan, E. Y., Lopez, N. F., & Castro, J. C. (2004). Perceptions of
fishermen households on the longterm impact of coastal resources management
in Panguil Bay Philippine. Journal of Development, 31(1), 107-1034.
Kotler, P., & Armstrong, G. (2006). Marketing Principles. (Y. Sumiharti, Ed., & I.
Nurmawan, Trans.) Jakarta: Erlangga.
Kotler, P., & Keller., K. L. (1985). Marketing Management. Upper Saddle River:
Pearson Prentice Hall.
Kusnadi. (2006). Filosofi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Humaniora, 15-20.
Manap, A. (2018). Pengaruh Pendapatan Nelayan Terhadap Gaya Hidup Masyarakat
di Desa Gambus Laut Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. Medan:
Universitas Islam Negeri Sumatra Utara.
Maulana, L. H., & Hendrawan, A. (2018). Kajian Perilaku Masyarakat Pesisir yang
Mengakibatkan Kerusakan Lingkungan. Jurnal Saintara, 3(1), 28-38.
Mubyarto, Sutrisno, L., & Dove, M. (1984). Nelayan dan Kemiskinan, Studi Ekonomi
Antrologi di Dua Ekonomi desa. Jakarta: Rajawali.
Mulyadi. (2007). Ekonomi Kelautan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Nasional, D. P. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Nikijuluw, V. P. (2002). Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Pusat
Pemberdayaan Dan Pembangunan Regional (P3R). Jakarta: PT Pustaka
Cidensino.
Nitimulyo, H. K. (2000). Kumpulan Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu-ilmu
Pertanian. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Nur, M. (2004). Abrasi Pantai dan Proses Bermigrasi. (Disertasi, Program Studi
Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)): Program Pasca
Sarjana Universitas Negeri Jakarta.

59
Pameroy, R. S., & Andrew, N. L. (2011). Smale Scale fisheries management:
frameworks and approaches for the developping world. Chippenham: CPI
Antony Rome.
Rahim, A. (2011). Analisis Pendapatan Usaha Tangkap Nelayan dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhinya di Wilayah Pesisir Pantai Sulawesi Selatan. Jurnal
Sosek KP, 6(2), 235-247.
Rahim, A. (2013). Komparahasi Hasil Tangkapan Nelayan Tradisional Wilayah Pesisir
Pantai Barat Kabupaten Barru. Jurnal Kebijakan Sosek KP, 3(2), 108-114.
Rahim, A., Hastuti, D., Syahma, A., & Firmansyah. (2018). The Influence of Fishing
Time, Power Outboard Engine, and Respondent Characteristics to Income of
Traditional Catch Fishermen in Takalar District. Journal Agrisocionomics, 2(1),
50-57.
Rusman. (2013). Pengaruh pendapatan nelayan terhadap gaya hidup masyarakat di desa
gambus laut Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. Jurnal Penelitian, no
6.
Skinner, B. F. (1965). Science and Human Behavior. New York: The Free Press.
Sukirno, S. (2003). Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: Plaza Grapindo Persada.
Sukirno, S. (2008). Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Supriharyono. (2009). Konsevasi Ekonomi Sumberdaya Hayati Diwilayah Pesisir
Tropis. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Syah, A. F. (2010). Penginderaan Jauh dan Aplikasinya di Wilayah Pesisir dan Lautan.
Jurnal Kelautan, vol III, no 1.
Winarti, L., & Permadi, R. (2015). Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Nelayan
(Studi Kasus di Desa Sungai Bakau Kecamayan Seruyan Hilir Timur dan Desa
Sungai Undang Kecamatan Seruyan Hilir Kabupaten Seruyan). Jurnal Ziraa’ah,
40(3), 203-210.
Yogi. (2004). Ekonomi Pendekatan Analisis Praktis. Jakarta: Preneda Media.

60