Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

KONSEP DAN MANAJEMEN STRES


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Psikologi Industri

KELAS K3
DISUSUN OLEH KELOMPOK 15
Winda Sari Ondjo J1A117285
Asna Hariani J1A117298
Ega Alisyah Anty J1A117305

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Subhanahu Waa Ta’ala, Tuhan seluruh semesta.
Yang telah memberikan kami kesempatan dan kesehatan sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada
Nabi Muhammad SAW yang telah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, beserta
keluarga dan para sahabatnya serta pengikutnya yang setia sampai hari kemudian.

Makalah ini kami buat dengan maksud untuk menunaikan tugas kami. Kami
berharap penyusunan dalam bentuk makalah ini akan memberikan banyak manfaat
dan memperluas ilmu pengetahuan kita.

Dan kami menyadari di dalam penyususnan ini mungkin masih belum


sempurnah dan terdapat kesalahan dalam penyusunannya, kami mohon untuk
bimbingan dan kritik serta saran yang bersifat membagun.

Akhirnya hanya kepada Allahh Subhanahu Waa Ta’alaa kami mohon,


semoga usaha ini merupakan usaha yang murni Bagi-Nya dan berguna bagi kita
sekalian sampai hari kemudian.

Kendari, Mei 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 3
C. Tujuan ......................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 4
A. Konsep Kerja .............................................................................................. 4
1. Defini Stres ............................................................................................... 4
2. Penyebab Stres ......................................................................................... 4
3. Tingkat Stres ............................................................................................. 5
4. Jenis Stres ................................................................................................. 6
5. Sumber Stres............................................................................................. 7
6. Patofisiologi Stres..................................................................................... 8
7. Dampak Stres ........................................................................................... 9
8. Efek Stres Terhadap Emosi .................................................................... 10
9. Efek Stres Pada Pekerjaan ...................................................................... 12
B. Manajemen Stres ...................................................................................... 13
1. Mengatur Pola Makan ............................................................................ 16
2. Mengatur Pola Tidur .............................................................................. 16
3. Melakukan Olahraga .............................................................................. 17
4. Tidak Mengkonsumsi Rokok ................................................................. 17
5. Tidak Mengkonsumsi Alkohol ............................................................... 17
6. Bergaul Dengan Orang Lain................................................................... 18
7. Mengatur Waktu ..................................................................................... 18
8. Beribadah ................................................................................................ 19
9. Melakukan Rekreasi ............................................................................... 19
10. Mengatur Keuangan ............................................................................ 19

iii
11. Memberikan Kasih Sayang ................................................................. 19
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 20
A. Kesimpulan ............................................................................................... 20
B. Saran ......................................................................................................... 21

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia, merupakan salah satu sumber daya yang penting dalam


organisasi (disamping sumber daya alam dan sumber daya modal)
memerlukan pengelolaan yang baik dan terencana. Bahwasannya sumber
daya manusia (SDM) merupakan satu-satunya sumber daya yang memiliki
akal, perasaan, keinginan, kemampuan, ketrampilan, pengetahuan,
dorongan, daya, karya, rasio, rasa, dan karsa dimana-mana (Hakim dan
Sugiyanto, 2017).
Potensi tersebut sangat berpengaruh terhadap upaya perusahaan
dalam mencapai tujuannya. Dalam menjalankan setiap usaha perusahaan
tidak akan terlepas dari berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi-
fungsi kegiatan usahanya, baik itu masalah produksi, keuangan, sumber
daya manusia, pemasaran maupun usahanya. Masalah diatas tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, permasalahan arus ditangani
secara komprehensif, dengan cara mengkoordinasikan antara fungsifungsi
dalam satu kesatuan. Masalah yang berkaitan dengan fungsi sumber daya
manusia merupakan satu hal yang dianggap penting dalam perusahaan.
Salah satu permasalahan di organisasi adalah stres kerja (Hakim dan
Sugiyanto, 2017).
Stres kerja menurut Robbins (2007), sebagai suatu tanggapan
penyesuaian diperantarai oleh perbedaan-perbedaan individu dan atau
proses psikologis yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan
dari luar (lingkungan) kerja, situasi atau peristiwa yang menetapkan
permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan kepada seseorang”.
Para eksekutif yang berada pada deretan rendah dan tinggi dari
rentang stres dilaporkan memilki masalah kesehatan yang lebih nyata. Studi
ini menyarankan bahwa hubungan antara penyebab, stres dan penyakit
mungkin bersifat kurva linier. Mereka yang kurang beban kerja dan mereka

1
2

yang memilki beban belebih mewakili dua ujung dari satu rangkaian
kesatuan, masing-masing dengan jumlah masalah-masalah kesehatan yang
tinggi secara berarti. Tingkat stres optimal memberikan keseimbangan
terbaik dari tantangan tanggung jawab dan imbalan. Stres kerja disamping
memiliki sebab juga dampak, munculnya stress banyak dan bervariasi,
diantaranya ada yang positif dan negatif. Namun demikian lebih banyak lagi
efek negatifnya yang secara potensial berbahaya (Hakim dan Sugiyanto,
2017).
Akibat-akibat tersebut antara lain kelelahan fisik, perasaan kesal-
marah (burnout) bahkan depresi kerja. Tingkat stres kerja berlebihan dapat
berdampak negatifterhadap prestasi kerja karyawannya yang akhirnya
merugikan perusahaan. Dampak negatif tersebut dapat berupa rendahnya
tingkat produktivitas, minimnya kreativitas, kurangnya motivasi,
pengambilan keputusan yang tidak efektif, kualitas komunikasi antar
karyawan yang rendah, tingkat absensi yang tinggi, bahkan munculnya
tindakan-tindakan kekerasan dalamlingkungan kerja (Quick etal., 2002).
Penelitian Ismar, Amri dan Sostrosumiharjo (2011) yang meneliti 73
orang pekerja sebuah perusahaan Call center di Jakarta menghasilkan
temuan prevalensi stres kerja berkaitan dengan faktor-faktor stresor kerja
antara lain pengembangan karir, beban kerja berlebih, konflik peranan,
keterpaksaan peran dan tanggung jawab pekerjaan. Para peneliti
mendapatkan bahwa tenaga penjual di dalam organisasi yang strukturnya
paling kurang birokratis mengalami stres yang kecil dan kepuasan kerja
lebih besar dan berperan lebih efektif daripada tenaga penjual di dalam
organisasi struktur medium dan panjang.
Dari hasil penelitian-penelitian tentang stres kerja, kebanyakan
meneliti dampak stres kerja, baik menghasilkan dampak positif maupun
negatif. Sedangkan penelitian penanganan atau manajemen stres kerja
belum banyak di laksanakan. Padahal penanganan atau manajemen stres
kerja sangat penting dilaksanakan di perusahaan (Greenberg dalam Cary,
1993).
3

Manajemen stres adalah teknik untuk mengontrol dan mengurangi


stres. Manajemen stres merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan
perubahan dari stress yang berdampak negatif menjadi stres kerja yang
berdampak positif bagi diri karyawan dan akhirnya akan menampilkan hasil
kerja yang optimal (Quick et al., 1997).
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan Konsep Stres!
2. Jelaskan Manajemen Stress!
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep stress.
2. Untuk mengetahui manajemen stress.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Kerja
1. Defini Stres
Stres merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin “Stingere”
yang berarti “keras” (stricus), yaitu sebagai keadaan atau kondisi dari tubuh
terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan,
membahayakan, dan merisaukan seseorang (Febriana & Wahyuningsih,
2011). Stres adalah tanggapan tubuh yang bersifat nonspesifik terhadap
setiap tuntutan terhadapnya. Stres diartikan sebagai keadaan di dalam hidup
seseorang yang menyebabkan ketegangan atau dysforia (kesedihan)
(Darmawan, 2008).
Stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu
dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan
yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis
dan sosial dari seseorang. Stres juga dikatakan sebagai tekanan, ketegangan
atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri
seseorang (Legiran, Azis & Bellinawati, 2015).
2. Penyebab Stres
Kondisi yang cenderung menyebabkan stres disebut stressor
(Umar, 2005). Stressor adalah suatu peristiwa, situasi individu, atau objek
yang dapat menimbulkan stres dan reaksi terhadap stres. Ada beberapa
bentuk stressor antara lain stressor psikologis (misalnya, krisis, frustasi,
konflik dan tekanan) dan stressor bio ekologis (misalnya, suara/bising yang
menggangu, polusi udara, suhu terlalu panas/dingin, ketidakcukupan gizi)
(Dermawan, 2008).
Stres akademik merupakan salah satu penyebab terjadinya stres
pada mahasiswa semester akhir. Penyebab stress akademik merupakan hal
yang normal terjadi karena merupakan bagian perkembangan diri seperti
menyesuaikan diri dengan tatanan sosial baru, mendapatkan peran dan
tanggungjawab baru sebagai mahasiswa, mempunyai beban belajar dan

4
5

konsep-konsep pendidikan yang berbeda dengan masa sekolah sebelumnya,


kegiatan/beban akademik, masalah keuangan, kurangnya kemampuan
mengelola waktu, harapan terhadap pencapaian akademik, perubahan gaya
hidup dan perkembangan konsep diri. Beban akademik yang dimaksud
adalah pekerjaan rumah (penugasan) yang sangat banyak, atau tidak jelas,
hubungan dengan staf akademik dan tekanan waktu untuk menyelesaikan
tugas atau pendidikan (Rakhmawati, Farida & Nurhalimah, 2014).
Stresor adalah stimulus yang mengawali atau mencetuskan
perubahan (Ardhiyanti, Pitriani & Darmayanti, 2014). Penyebab stres yang
terjadi pada mahasiswa tingkat akhir selama menjalani perkuliahan adalah
tuntutan akademik, penilaian sosial, manajemen waktu serta persepsi
individu terhadap waktu penyelesaian tugas, dedline tugas perkuliahan
dngan waktu yang ditentukan, kondisi perbedaan bahasa yang digunakan,
dan biaya perkuliahan (Kausar, 2010).
3. Tingkat Stres
Stres adalah suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena
tekanan yang didapat secara mental maupun fisik. Tingkat stres yaitu hasil
penilaian derajat stres yang dialami individu. Tingkat stres dapat
digolongkan menjadi stres normal, stres ringan, stres sedang dan stres berat
(Mardiana & Zelfino, 2014).
a) Stres Normal
Stres normal yang dihadapi secara teratur dan merupakan bagian
alamiah dari kehidupan. Seperti dalam situasi: kelelahan setelah
mengerjakan tugas, takut tidak lulus ujian, merasakan detak jantung
berdetak lebih keras ketika melakukan bimbingan skipsi maupun ketika
akan melakukan persentasi. Stres normal alamiah dan menjadi penting,
karena setiap mahasiswa pasti pernah mengalami stres bahkan, sejak dalam
kandungan (Purwati, 2012).
b) Stres Ringan
Stres ringan adalah stressor yang dihadapi setiap orang secara
teratur, umumnya dirasakan oleh setiap mahasiswa misalnya: lupa,
6

kebanyakan tidur, kemacetan, dikritik atau revisi skripsi yang menumpuk.


Situasi seperti ini biasanya berakhir dalam beberapa menit atau beberapa
jam dan biasanya tidak akan menimbulkan bahaya (Rachmadi, 2014).
c) Stres Sedang
Stres sedang berlangsung lebih lama dari beberapa jam sampai
beberapa hari. Misalnya masalah perselisihan yang tidak dapat diselesaikan
dengan teman atau pacar (Potter & Perry, 2010). Fase ini ditandai dengan
kewaspadaan, fokus pada indera penglihatan dan pendengaran, peningkatan
ketegangan dalam batas toleransi, dan tidak mampu mengatasi situasi yang
dapat mempengaruhi dirinya (Suzanne & Brenda, 2008).
d) Stres Berat
Situasi Stres yang terjadi beberapa minggu sampai tahun. Semakin
sering dan lama situasi stress, semakin tinggi resiko kesehatan yang
ditimbulkan (Mardiana & Zelfino, 2014). Stres berat seperti perselisihan
dengan dosen atau teman secara terus-menerus, kesulitan finansial yang
berkepanjangan, dan penyakit fisik jangka panjang. Makin sering dan lama
situasi stres, makin tinggi risiko stres yang ditimbulkan. Stressor ini dapat
menimbulkan gejala, antara lain merasa tidak dapat merasakan perasaan
positif, merasa tidak kuat lagi untuk melakukan suatu kegiatan, merasa tidak
ada hal yang dapat diharapkan di masa depan, sedih dan tertekan, putus asa,
kehilangan minat akan segala hal, merasa tidak berharga sebagai seorang
manusia, berpikir bahwa hidup tidak bermanfaat. Semakin meningkat stres
yang dialami mahasiswa tingkat akhir secara bertahap maka akan
menurunkan energi dan respon adaptif (Purwati, 2012).
4. Jenis Stres
a) Distress
Distress (stres negatif) yaitu stres individu yang tidak mampu
mengatasi keadaan emosinya sehingga akan mudah tersearah distress.
Distress memiliki arti rusak dan merugikan. Ciri-ciri individu yang
mengalami distress adalah mudah marah, sulit berkonsentrasi, cepat
7

tersinggung, bingung, pelupa, pemurung, penurunan akademik dan


kesulitan mengambil keputusan (Rachmadi, 2014).
Terjadinya gangguan penyesuaian (distress) dapat menimbulkan
gejala-gejala gangguan psikis dan fisik (psikosomatik) sehingga seseorang
tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal secara psikis dan
fisik. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan tidur, gangguan
konsentrasi, gangguan pola makan dan gangguan emosi. Jika kondisi ini
terjadi pada mahasiswa tentu akan menghambat proses pendidikannya.
Selain itu, secara timbal balik, proses pendidikan juga merupakan salah satu
penyebab stres (stressor) bagi mahasiswa tingkat akhir karena proses
pendidikan merupakan stresor yang lebih bagi individu. Jika mahasiswa
tingkat akhir mengalami distress akan terjadi hubungan timbal-balik yang
terus akan mepengaruhi proses belajarnya (Hardisman & Pertiwi, 2014).
b) Eustress
Eustress (stres positif) yaitu stres baik atau stres yang tidak
mengganggu individu dan memberikan perasaan senang dan bersemangat.
Eustress adalah respon terhadap stres yang bersifat positif, sehat dan
konstruktif (membangun) (Rachmadi, 2014). Eustress merupakan energi
motivasi, seperi kesenangan, pengharapan, dan gerakan yang bertujuan.
Eustress dikatakan juga sebagai stres yang membangun kesehatan namun,
ide srtres yang sehat bersifat kontroversial karena sulit untuk dikatakan
apakah individu telah diuntungkan karena stres atau beradaptasi dengan
penyangkalan stres (Potter & Perry, 2010).
5. Sumber Stres
Menurut Maramis (1999) dalam Hariandja (2007), sumber stres
yaitu, frustasi, konflik, dan tekanan. Pada fase frustasi (frustration) terjadi
ketika kebutuhan pribadi terhalangi dan seseorang gagal dalam mencapai
tujuan yang diinginkannya. Frustrasi dapat terjadi sebagai akibat dari
keterlambatan, kegagalan, kehilangan, kurangnya sumber daya, atau
diskriminasi. Konflik (conflicts), terjadi karena tidak bisa memilih antara
dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan atau tujuan.
8

Tekanan (pressure), didefinisikan sebagai stimulus yang


menempatkan individu dalam posisi untuk mempercepat, meningkatkan
kinerjanya, atau mengubah perilakunya. Tipe yang keempat adalah
perubahan (changes), tipe sumber stres yang keempat ini seperti hal nya
yang ada di seluruh tahap kehidupan, tetapi tidak dianggap penuh tekanan
sampai mengganggu kehidupan seseorang baik secara positif maupun
negatif. Self-Imposed merupakan sumber stres yang berasal dalam sistem
keyakinan pribadi pada seseorang, bukan dari lingkungan (Susane L, 2017).
6. Patofisiologi Stres
Secara fisiologi, stres dalam tubuh direspon dengan mengaktivasi
hipotalamus, selanjutnya akan mengendalikan sistem neuroendokrin yaitu
sistem simpatis dan sistem korteks adrenal serta berhubungan dengan
aktivitas aksis hypothalamic - pituitary – adrenal (HPA). Saraf simpatis
berespons terhadap impuls saraf dari hipotalamus yaitu dengan
mengaktivasi berbagai organ dan otot polos yang berada di bawah
pengendaliannya. Saraf simpatis memberi sinyal ke medula adrenal untuk
melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah (Cahyono, 2014).
Aktifnya hipotalamus–puitutary–adrenal axis (HPA), menimbulkan
conditioning stimuli pada alur limbic–hipotalamus–puitutary-adrenal Axis
(LHPA axis), kemudian merangsang hipotalamus dan menyebabkan
disekresinya hormon corticotrophin relesing hormone (CRH) merangsang
hipotalamus untuk mensekresikan hormon ACTH (adrenocorticotropic
hormone), lalu dibawa melalui aliran darah ke korteks adrenal. Peningkatan
sekresi ACTH (adrenocorticotropic hormone), menyebabkan meningkatnya
sekresi kortisol (Usui dkk., 2012).
Sekresi ACTH (adrenocorticotropic hormone) terjadi karena sistem
korteks adrenal mengaktivasi saat hipotalamus mensekresikanCRF
(corticotropin-releasing factor) yaitu zat kimia yang bekerja pada kelenjar
hipofisis, terletak di bawah hipotalamus. kemudian, akan menstimulasi
pelepasan kortisol berfungsi untuk meregulasi kadar gula darah (Sugiharto,
2012).
9

HPA memberikan sinyal kepada kelenjar adrenal untuk


memproduksi hormon kortisol dan adrenaline lebih banyak. Aksis HPA
meningkatkan produksi dan pelepasan glucocorticoid termasuk hormone
stress utama kortisol. Selanjutnya hormon kortisol memobilisasi aktifitas
hampir semua sistem homeostasis dalam persiapan reaksi melawan atau lari
(fight or flight). Aksis HPA melepaskan hormon katekolamin yang juga
berperan sebagai neurotransmitter, yaitu dopamin (DA), adrenalin (A), dan
noradrenalin (NA). Katekolamin mengaktifkan nucleus amigdala
(menyebabkan rasa takut) yang mencetuskan respon emosional terhadap
stressor, misalnya takut terhadap gempa, atau marah kepada musuh. Otak
melepaskan neuropeptida S, suatu mikro protein yang memodulasi stress
dengan menekan keinginan tidur, meningkatkan kewaspadaan dan perasaan
khawatir. Akibatnya timbul keinginan urgen untuk perilaku melawan atau
lari (fight or flight) (Nurdin, 2010).
7. Dampak Stres
Stres tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi kesehatan tetapi
juga terhadap prestasi. Goff.A.M. (2011) menyatakan tingkat stres
berpengaruh terhadap kemampuan akademik. Tingkat stres seseorang lebih
dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan dilihat dari usia dan pengalaman
hidup. Kegagalan mahasiswa semester akhir dalam menyelesaikan tuntutan
akademik, penundaan dalam penyelesaian tugas, prestasi akademik yang
rendah dan masalah kesehatan merupakan indikator bahwa stress akademik
sering dialami mahasiswa semester akhir (Stuart & Laraia, 2005).
Seiring berjalannya waktu, jika stres akademik yang dihadapi oleh
mahasiswa semester akhir tersebut tidak diatasi dengan baik, terjadi
akumulasi stressor yang dapat menyebabkan penurunan adaptasi, gagal
bertahan, dan akhirnya menyebabkan kematian. Mahasiswa
mengasumsikan kesehatan diri mereka sendiri berdasarkan perasaan
sejahtera, kemampuan berfungsi secara normal, dan tidak adanya gejala
penyakit (Potter & Perry, 2010). Tidak sedikit kasus yang terjadi mahasiswa
melakukan aksi nekat bunuh diri akibat stres akademik. Beban stres yang
10

dirasa terlalu berat juga dapat memicu seorang remaja untuk berperilaku
negatif, seperti merokok, alkohol, tawuran, seks bebas bahkan
penyalahgunaan obat-obatan (Widianti, 2007).
Dampak psikologis termasuk depresi, kecemasan yang terus
menerus, pesimis, dan kebencian, selain itu adanya semangat kerja yang
rendah, menurunnya produktivitas dan konflik interpersonal, sedangkan
dari hasil penelitian Knudsen, Ducharme dan Roman (2007) menunjukan
bahwa adanya hubungan antara stres yang berdampak negatif terhadap
kualitas tidur yang buruk, jadi stres bukan hanya mempengaruhi
kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan, namun secara jelas
juga akan mempengaruhi kesehatan apabila dilihat dari sumbersumber
psikologi dari stres. Jika dilihat dari aspek-aspek stres, maka menurut
Sarafino (1998) dalam Rosanty (2014) ada empat pola gangguan yang
merupakan respon terhadap stres, yaitu:
a. Emosi, merupakan gangguan perasaan yang muncul antara lain cemas,
mudah tersinggung, marah, gelisah, depresi, sensitif, gugup, sedih, dan
perasaan bersalah yang berlebihan.
b. Kognisi, merupakan gangguan pada fungsi pikir, antara lain kurang
konsentrasi, mudah lupa, tidak mampu membuat keputusan.
c. Perilaku, merupakan pola gangguan perilaku yang mungkin timbul
akibat stres misalnya ketidakmampuan untuk bersosialisasi, gangguan
dalam hubungan interpersonal dan peran sosial.
d. Fisiologis, merupakan gangguan kesehatan seperti tegang, gemetar,
mudah lelah, sakit kepala, jantung berdebar-debar, sakit perut, sulit
tidur, dan sebagainya.
8. Efek Stres Terhadap Emosi
Seseorang yang berada dalam kondisi tertekanseringkali merasa
emosi dan emosi tersebut seringkali tidak menyenangkan. Menurut Lazarus
(1993), dalam Weiten dan koleganya (2009), respon emosi negatif yang
biasa muncul mencakup:
11

a. Marah. Stres seringkali menimbulkan rasa marah dari intensitas ringan


sampai dengan marah yang tidak terkontrol.
b. Cemas. Kecemasan dapat ditimbulkan karena adanya tekanan untuk
menampilkan diri, ancaman yang mendatangkan frustasi, atau
ketidakpastian yang terkait dengan perubahan situasi.
c. Sedih. Kadang-kadang stres, terutama frustasi menyebabkan seseorang
bersedih.
Tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh atasan
dapat menyebabkan seseorang patah hati, sementara kematian dan
perceraian dapat menyebabkan kesedihan yang mendalam. Namun
demikian, seseorang juga dapat merasakan emosi positif dalam kondisi stres
dan emosi-emosi tersebut dapat meningkatkan ketahanan seseorang dalam
menghadapi situasi stres.
Seperti yang telah disampaikan, stres seringkali menimbulkan
respon emosi yang kuat. Respon-respon tersebut menyebabkan perubahan-
perubahan fisiologis. Meskipun mengalami stres ringan, kita akan
menyadari detak jantung kita yang semakin cepat, semakin sulit menarik
nafas, dan berkeringat lebih dari biasanya. Respon emosional dan fisiologis
terhadap stres cenderung terjadi secara otomatis. Sementara sebagian besar
respon tingkah laku melimputi coping yang mengacu pada upaya aktif untuk
menguasai, mengurangi, atau mentolerir tuntutan-tuntutan yang timbul dari
stres (Weiten, Lloyd, Dunn, Hammer, 2009). Namun demikian, pada
kenyataannya coping bisa sehat atau tidak sehat Contohnya, jika kita gagal
dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, maka kita mungkin akan mengatasi
stresnya dengan :
a. Meningkatkan upaya belajar untuk menguasai pekerjaan tersebut,
b. mencari bantuan dari atasan atau sesama rekan kerja,
c. menyalahkan atasan karena memberikan pekerjaan yang sulit dilakukan,
atau
d. menyerah.
12

Melalui contoh tersebut jelas bahwa dua coping pertama lebih sehat
daripada dua coping setelahnya. (Moos & Schaefer, 1993 dalam Weiten,
Lloyd, Hammer, & Dunn, 2009).
9. Efek Stres Pada Pekerjaan
Semua orang berjuang menghadapi beberapa pemicu stres setiap
hari. Sebagian besar stres tidak menjadi masalah, karena orang tersebut
mampu menyesuaikan diri dengan baik. Namun ketika stres atau tuntutan
menumpuk, seseorang mungkin mengalami hambatan dalam proses
penyesuaian dirinya dalam menyelesaikan pekerjaannya dan hal ini dapat
menimbulkan efek negatif. Weiten, Lloyd, Dunn, dan Hammer (2009)
menyebutkan beberapa efek negatif dari stres, yaitu:
a. Gangguan pada perfroma dan produktivitas kerja.
Baumeister (1984) mengungkapkan bahwa tekanan pada seseorang
untuk menampilkan dirinya seringkali mengganggu konsentrasi mereka.
Gangguan konsentrasi bisa terjadi karena perhatian teralihkan dari tuntutan
tugas atau menyebabkan mereka terlalu banyak memusatkan perhatian pada
tugas, sehingga mereka berpikir terlalu banyak tentang apa yang sedang
mereka lakukan.
b. Gangguan pada fungsi kognitif.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan
efek buruk pada aspekaspek tertentu dari fungsi memori atau daya ingat
(Kellog, Hopko, & Ashcraft, 1999; Shors, 2004). Bukti terbaru bahkan
menunjukkan bahwa stres dapat menurunkan efisiensi daya ingat yang
memungkinkan seseorang untuk menghilangkan informasi yang muncul
pada saat itu Oleh karena itu, seseorang mungkin tidak dapat memproses,
memanipulasi atau mengintegrasi informasi baru secara efektif dalam
situasi stres. Ironisnya, jika kita berada dalam satu situasi yang sangat
membutuhkan sumber daya kognitif, misalnya menyelesaikan pekerjaan
tertentu,kondisi tersebut dapat menimbulkan efek stres gangguan pada
fungsi kognitif(Beilock et al., 2004; Markman, Maddox, & Worthy, 2006).
13

B. Manajemen Stres

Manajemen stres adalah suatu keterampilan yang memungkinkan


seseorang untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola, dan memulihkan
diri dari stres yang dirasakan karena adanya ancaman dan ketidakmampuan
dalam coping yang dilakukan (Smith, 2002). Teknikteknik dalam
manajemen stres ini sangat banyak. Teknik-teknik pengelolaan emosi
seperti meditasi, yoga, relaksasi progresif; teknik untuk mengelola gaya
hidup yang lebih baik dengan olahraga, makan teratur dan sehat, ataupun
tidak mengkonsumsi alkohol atau rokok; serta teknik-teknik yang dilakukan
untuk mengatasi aspek perilaku seperti kemampuan asertif atau manajemen
waktu.
Menurut Soewondo (2009), relaksasi progresif adalah suatu
keterampilan yang dapat dipelajari dan digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan ketegangan dan mengalami rasa nyaman tanpa tergantung
pada objek di luar dirinya. Pelatihan relaksasi dapat mengurangi
ketegangan subjektifdanberpengaruh terhadap proses fisiologislainnya.
Relaksasi otot berjalanbersama dengan respon otonom dari saraf
parasimpatis. Jacobson pada tahun 1938 (dalam Wolpe, 1973) mengatakan
bahwa relaksasi ototberjalan bersama dengan relaksasi mental. Perasaan
cemas subjektif dapat dikurangi atau dihilangkan dengan sugesti tidak
langsung ataumenghapus atau menghilangkan komponen otonomik dari
perasaanperasaan itu. Emosi dan tentunya rasa cemas mengandung dua
elemen,yaitu reaksi fisiologis dan komponen-komponen menghayati. Jadi,
bila ada perubahan-perubahan di bidang emosi, kedua komponen di atas
jugamengalami perubahan. Teknik untuk menimbulkan relaksasi otot
adamacam-macam, yaitu: obat-obatan, hipnosis, emotif imajiner, meditasi,
relaksasi progresif, dan lain-lain.
Relaksasi progresif adalah suatu keterampilan yang dapat dipelajari
dan digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan dan
mengalami rasa nyaman tanpa tergantung pada hal atau subjek di luar
14

dirinya. Relaksasi progresif ini dimulai oleh Jacobson pada tahun 1934. Ia
mengembangkan metode ini untuk melawan rasa cemas atau stres atau
tegang. Dilihat sebagai lawan dari ketegangan, ia menemukan bahwa
dengan menegangkan dan melemaskan beberapa kelompok otot dan
membedakan sensasi tegang dan rileks, seseorang bisa menghilangkan
kontraksi otot dan mengalami rasa rileks. Teknik relaksasi progresif adalah
yang paling sesuai sebagai awal pelatihan. Kemudian, setelah terampil,
dapat langsung diinstruksikan untuk rileks. Jacobson (1934) dalam Seaward
(2010) menyadari bahwa tubuh tidak dapat rileks dan tegang dalam waktu
yang bersamaan. Hal ini mendorongnya untuk mengembangkan suatu
teknik bagi para kliennya. Dengan menegangkan dan melemaskan beberapa
kelompok ototdan membedakan sensasi tegang dan rileks, seseorang dapat
menghilangkan kontraksi otot dan mengalami perasaan rileks. Teknik
relaksasi progresif ini dapat mengatasi perasaan cemas, stres, atau tegang
(Jacobson dalam Soewondo, 2009).
Prosedur relaksasi progresif adalah sebagai berikut:
a. Menegangkan sejumlah kumpulan otot dan merilekskannya, di sini
akan digunakan sembilan kumpulan otot, ‐ Menyadarkan klien akan
perbedaan antara tegang dan rileks,
b. Kumpulan otot yang perlu ditegangkan dan dirilekskan tiap kali harus
berkurang,
c. Klien kemudian diharapkan bisa mengelola ketegangan dengan
menginstruksikan kepada diri sendiri untuk rileks kapan dan dimana
saja.
Kebanyakan orang tidak bisa mengalami keadaan rileks yang
mendalam tanpa latihan. Latihan dalam relaksasi merupakan langkah
pertama yang perlu dilakukan. Latihan bisa diadakan di ruang instruktur
atau di rumah. Aspek penting lain supaya seseorang bisa rileks dengan baik
adalah cara instruktur bekerja. Bila lnstruksi dilakukandengan ragu-ragu
atau kaku, maka tentu akan mempengaruhi. Sembilan kumpulan otot
ditegangkan dan dilemaskan. Tujuannya menyadarkan pada klien keadaan
15

tegang dan rileks dengan harapan klienbisa merilekskan dirisendiri bila ia


sedang tegang. Kumpulan otot yang disadarkan, dtegangkan dan
dilemaskan adalah:
a. Tangan + jari-jari + lengan kanan;
b. Tangan + jari-jari + lengan kiri ;
c. Kaki, paha, dan telapak kaki kanan;
d. Kaki, paha, dan telapak kaki kiri;
e. Dahi;
f. Mata;
g. Bibir, rahang, mulut, lidah, gigi (sekaligus);
h. Dada;
i. Leher.
Selama latihan berjalan, peserta hendaknya melakukan hal-hal
berikut:
a. Memusatkan perhatian pada kumpulan otot yang ditegangkan, waktu
kurang lebih tujuh detik dan dilemaskan.
b. Perhatian pada rasa tegang.
c. Tanda untuk melemaskan.
d. Klien rileks kurang lebih tiga puluh hingga empat puluh detik. Ia harus
memperhatikan perbedaan antara tegang dan tenang.
Instruksi melakukan teknik relaksasi progresif dibagi ke dalam dua
tahap. Tahap pertamafokus pada prosedur dasar. Tahap ini akan membantu
individu untuk mengidentifikasi kelompok otot apa yang dirasakan paling
tegang. Tahap kedua fokus pada prosedur yang lebih pendek dengan secara
simultan menegangkan dan merilekskan beberapa kelompok otot secara
bersamaan, sehingga perasaan rileks dapat diperoleh di waktu yang sangat
singkat.
Kebanyakan orang tidak dapat merasakan kondisi rileks yang
mendalam tanpa latihan. Oleh karena itu, latihan dalam relaksasi progresif
ini merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Pada latihan-latihan
awal, beberapa karyawanoffice dan buruh yang bekerja di PT Monier
16

Tangerang mungkin memerlukan ruangan yang nyaman untuk


melaksanakan latihan dengan bimbingan peneliti dan menggunakan
sembilan kumpulan otot yang disarankan.
Di dalam manajemen stres diperlukan suatu metode dibidang
pencegahan agar seseorang tidak terjatuh dalam keadaan stres, maka
sebaiknya seseorang perlu memiliki kekebalan dalam mencegah stres agar
mampu mengontrol stresor yang datang. Untuk mencegah dan mengatasi
stres agar tidak sampai ke tahap yang lebih berat, maka dapat dilakukan
dengan cara meningkatkan kekebalan terhadap stres yang di alami(Hawari,
2004):
1. Mengatur Pola Makan
Makan dan minum yang baik tidak berlebihan, berhenti makan
sebelum kenyang. Jadwal makan baiknya teratur pagi, siang dan malam dan
usahakan jangan sampai terlambat. Menu makan juga baiknya bervariasi,
berimbang dan hangat. Sebab, makanan yang dingin dan monoton dapat
menurunkan daya tahan atau kekebalan tubuh. Jumlah kalori makanan dan
minuman baiknya sedang dan wajar saja, jangan berlebihan karena dapat
mengakibatkan kegemukan, sebaliknya jangan pula kekurangan karena
dapat mngakibatkan kurus.
2. Mengatur Pola Tidur
Tidur adalah obat alamiah yang dapat memulihkan segala keletihan
fisik dan mental. Tidur adalah kebutuhan yang penting bagi kehidupan
makhluk hidup terutama manusia, oleh karena itu jadwal tidur harus teratur.
Lamanya tidur yang baik adalah 7-8 jam, yaitu tidur jam 21.00 dan bangun
tidur jam 05.00. Atau paling tidak 4 malam dalam seminggu seseorang itu
tidur dalam jangka tersebut, agar kekebalan tubuh tidak menurun. Sebab
bila rata-rata tidur hanya 3-4 jam bahkan kurang dalam semalam, maka
kekebalannya akan cepat menurun dan mudah mengalami stres. Tidur
dengan nyenyak tanpa gangguan mimpi-mimpi yang menegangkan dan
menyeramkan adalah tidur yang sehat, keesokan harinya tubuh akan segar-
bugar.
17

3. Melakukan Olahraga
Untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan baik fisik maupun
mental, olahraga adalah salah satu caranya. Olahraga tidak perlu yang
mahalmahal, bahkan tanpa biaya sekalipun orang dapat melakukannya.
Misalnya, jalan pagi, lari pagi, ataupun senam, yang dilakukan setiap hari
atau paling tidak 2 kali seminggu. Olahraga tidak perlu terlalu berlama-
lama, bila badan sudah berkeringat sudah cukup, dan kemudian mandi
dengan air hangat.
4. Tidak Mengkonsumsi Rokok
Tidak merokok adalah kebiasaan hidup yang baik bagi kesehatan
dan ketahanan serta kekebalan tubuh. Perlu diketahui bahwa berdasarkan
penelitian (Sujudi A., 1999 dalam Hawari, 2004) rokok atau tembakau
adalah:
 Pintu pertama ke NAPZA
 Pembunuh nomor 3 sesudah penyakit jantung koroner dan kanker.
 Satu batang rokok memperpendek umur 12 menit.
 Rokok atau tembakau termasuk zat adiktif.
 Rokok adalah racun yang menular (perokok pasif).
 Setiap hari 10.000 orang didunia mati karena rokok.
 Setiap tahun 57.000 orang Indonesia mati karena merokok.
5. Tidak Mengkonsumsi Alkohol
Tidak meminum minuman keras (minuman yang mengandung
alkohol) adalah kebiasaan hidup yang baik bagi kesehatan dan ketahanan
serta kekebalan tubuh. Dampak dari minuman keras dapat mengakibatkan
gangguan mental dan perilaku dan juga penyakit lever yang berlanjut pada
kematian. Hasil penelitian yang dilakukan (Chalan,dkk, 1987 dalam
Hawari, 2004) menyatakan bahwa penyalahgunaan dan ketergantungan
alkohol mengakibatkan:
 Satu pertiga kecelakaan lalu lintas di Amerika Serikat, 1987 disebabkan
oleh pengemudi dibawah pengaruh alkohol.
18

 Tercatat kematian di Amerika Serikat, 1987 sekitar 15.000 jiwa setiap


tahunnya dengan kasus bunuh diri dibawah pengaruh alkohol.
 40 juta anak/suami/istri di Amerika Serikat, 1987 menanggung derita
mental karena salah satu atau lebih anggota keluarganya menderita
ketergantungan alkohol.
6. Bergaul Dengan Orang Lain
Manusia adalah makhluk sosial, seseorang tidak dapat hidup sendiri
atau menyendiri. Untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh
terhadap stres, maka orang hendaknya banyak bergaul, banyak relasi dan
teman serta perluas pergaulan sosial, atau dengan kata lain perbanyaklah tali
silaturahmi antar sesama yang serasi, selaras dan seimbang. Dari sekian
banyak sahabat dan kenalan, tentu ada yang lebih akrab, kepada siapa kita
dapat bertukar fikiran mengenai hal-hal yang sifatnya pribadi.
Dalam hidup ini seseorang memerlukan orang lain yang dapat
dipercaya untuk dapat bertukar fikiran segala macam persoalan hidup yang
menimbulkan ketegangan, kecemasan, dan atau depresi. Apabila seseorang
tidak dapat menemukan orang lain yang dapat diajak bertukar fikiran, maka
diharapkan jangan ragu-ragu atau bimbang untuk berkonsultasi dengan
psikiater.
7. Mengatur Waktu
Untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun
mental, maka pengaturan waktu dalam kehidupan sehari-hari baik dirumah,
disekolah/kampus, di tempat kerja dan dalam pergaulan sosial menjadi amat
penting. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa produktivitas,
sebaliknya jangan pula kekurangan waktu untuk mengerjakan suatu
pekerjaan.
Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan hendaknya segera dilakukan
jangan ditunda-tunda sampai menumpuk dan terdesak waktu atau dikejar-
kejar waktu. Seseorang hendaknya pandai dan bijak dalam mengatur waktu
untuk bekerja, keluarga, rekreasi, tidur, olahraga, makan-minum, dan yang
19

lebih penting serta tidak boleh dilupakan adalah waktu untuk menjalankan
ibadah.
8. Beribadah
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, dan karena itu manusia
memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar spriritual. Seseorang yang
beragama hendaknya jangan sekedar formalitas saja, tetapi lebih utama
mampu menghayati dan mengamalkan keyakinan agamanya, sehingga
manusia dapat memeproleh kekuatan dan ketenangan. Berbagai penelitian
membuktikan bahwa tingkat keimanan sesorang erat hubungannya dengan
imunitas atau kekebalan baik fisik maupun mental.
9. Melakukan Rekreasi
Guna membebaskan diri dari kejenuhan pekerjaan atau kehidupan
yang monoton, maka luangkanlah waktu untuk berekreasi atau mencari
hiburan, karena sangat berguna untuk memulihkan ketahanan dan kekebalan
fisik maupun mental. Jika seseorang dapat mengatur waktu untuk rekreasi
bersama keluarga seminggu sekali. Rekreasi bersama keluarga merupakan
komunikasi yang efesien dan efektif untuk menjalin dan mempererat tali
silahturahmi antar anggota keluarga.
10. Mengatur Keuangan
Seseorang baiknya dapat mengatur keseimbangan antara pemasukan
dan pengeluaran. Penggunaan uang sebaiknya bersifat produktif dan
pengeluaraan yang konsumtif baiknya perlu dikendalikan dan dibatasi.
11. Memberikan Kasih Sayang
Salah satu kebutuhan dasar manusia selain sandang, pangan dan
papan adalah kebutuhan psikologik yaitu mencintai dan dicintai dengan
penuh rasa kasih sayang. Antara orangtua dan anak hendaknya dapat saling
memberi dan menerima kasih sayang sehingga terciptalah suasana keluarga
yang tentram dan tenang, dimana masing-masing mempunyai rasa aman dan
terlindung. Penelitian di Amerika menyatakan bahwa 80% para eksekutif
menderita stres karena faktor kehidupan keluarga yang tidak harmonis.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Stres adalah tanggapan tubuh yang bersifat nonspesifik terhadap


setiap tuntutan terhadapnya. Stres diartikan sebagai keadaan di dalam hidup
seseorang yang menyebabkan ketegangan atau dysforia (kesedihan)
(Darmawan, 2008). Stresor adalah stimulus yang mengawali atau
mencetuskan perubahan (Ardhiyanti, Pitriani & Darmayanti, 2014).
Penyebab stres yang terjadi pada mahasiswa tingkat akhir selama menjalani
perkuliahan adalah tuntutan akademik, penilaian sosial, manajemen waktu
serta persepsi individu terhadap waktu penyelesaian tugas, dedline tugas
perkuliahan dngan waktu yang ditentukan, kondisi perbedaan bahasa yang
digunakan, dan biaya perkuliahan (Kausar, 2010).
Tingkat stres dapat digolongkan menjadi stres normal, stres ringan,
stres sedang dan stres berat (Mardiana & Zelfino, 2014). Jenis stress terdiri
dari Distress dan Eustress. Menurut Maramis (1999) dalam Hariandja
(2007), sumber stres yaitu, frustasi, konflik, dan tekanan.
Secara fisiologi, stres dalam tubuh direspon dengan mengaktivasi
hipotalamus, selanjutnya akan mengendalikan sistem neuroendokrin yaitu
sistem simpatis dan sistem korteks adrenal serta berhubungan dengan
aktivitas aksis hypothalamic - pituitary – adrenal (HPA). Saraf simpatis
berespons terhadap impuls saraf dari hipotalamus yaitu dengan
mengaktivasi berbagai organ dan otot polos yang berada di bawah
pengendaliannya. Saraf simpatis memberi sinyal ke medula adrenal untuk
melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah (Cahyono, 2014).
Stres tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi kesehatan tetapi
juga terhadap prestasi. Goff.A.M. (2011) menyatakan tingkat stres
berpengaruh terhadap kemampuan akademik. Tingkat stres seseorang lebih
dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan dilihat dari usia dan pengalaman
hidup. Kegagalan mahasiswa semester akhir dalam menyelesaikan tuntutan

20
21

akademik, penundaan dalam penyelesaian tugas, prestasi akademik yang


rendah dan masalah kesehatan merupakan indikator bahwa stress akademik
sering dialami mahasiswa semester akhir (Stuart & Laraia, 2005).
Menurut Lazarus (1993), dalam Weiten dan koleganya (2009),
respon emosi negatif yang biasa muncul mencakup: marah, cemas, sedih.
Efek stress pada pekerjaan ialah Gangguan pada perfroma dan produktivitas
kerja, Gangguan pada fungsi kognitif,
Manajemen stres adalah suatu keterampilan yang memungkinkan
seseorang untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola, dan memulihkan
diri dari stres yang dirasakan karena adanya ancaman dan ketidakmampuan
dalam coping yang dilakukan (Smith, 2002). Teknikteknik dalam
manajemen stres ini sangat banyak. Teknik-teknik pengelolaan emosi
seperti meditasi, yoga, relaksasi progresif; teknik untuk mengelola gaya
hidup yang lebih baik dengan olahraga, makan teratur dan sehat, ataupun
tidak mengkonsumsi alkohol atau rokok; serta teknik-teknik yang dilakukan
untuk mengatasi aspek perilaku seperti kemampuan asertif atau manajemen
waktu.
B. Saran
Stres dapat menggangu produktivitas kerja kita serta dengan adanya
stress dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit. Oleh sebab itu,
dalam menghadapi stress kita harus bisa mengontrol stress itu dengan
menyelesaikannya dengan hati yang berusaha ikhlas, ridho menjalaninya.
Serta lebih mendekatkan lagi kepada Allah Subhanahu waa ta’ala, agar hati
kita bisa tenang menghadapi permasalahan yang ada sehinggi tidak dapat
menimbulkan stress.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhiyanti, Yulrina., Pitriani, Risa., & Darmayanti, Ika Putri. (2014). Panduan
Lengkap Keterampilan Dasar Kebidanan 1. Yogyakarta : Deepublish.
Cary, A., 1993, Manajemen Stres yang Sukses, Alih bahasa T. Hermajaya, Pustaka
Jaya Jakarta
Cahyono, Dwi Han. (2014). Pengaruh Lingkungan Kerja, Konflik Kerja, Stres
Kerja, Serta Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan di PT. Telkom
Indonesia Tbk, Area Denpasar. J Buletin Studi Ekonomi, 19(1) : 39-48.
Darmawan, I. Plebitis, apa penyebabnya dan bagaimana caramengatasinya?;2008.
http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=68&lang=id
Febriana, D., & Wahyuningsih, A. (2011). Kajian Stress Hospitalisasi Terhadap
Pemenuhan Pola Tidur Anak Usia Prasekolah di Ruang Anak RS Baptis
Kediri. Journal STIKES RS . BAPTIS KEDIRI vol 4, No. 2, Desember 2011
66-72.
Hawari D. 2004. Psikiater Kanker Payudara. Dimensi Psikoloreligi. Jakarta : FKUI.
Hakim, Lukman dan Sugiyanto, Eko. 2017. MANAJEMEN STRES KERJA
PENGUSAHA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA
PERUSAHAANDI INDUSTRI BATIK LAWEYAN SURAKARTA.
BENEFIT Jurnal Manajemen dan Bisnis. Vol. 2 (1) : 45-61.
Hardisman & Pertiwi, Dian. (2014). Gambaran Distress pada Mahasiswa Preklinik
Tahun Ketiga Fakultas Kedokteran. Jurnal Pendidikan Kedokteran
Indonesia, 3(3) : 145-153.
Hariandja, Marihot Tua Efendi. (2007). Manajemen Sumber Daya Manusia :
Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan Peningkatan
Produktivitas Pegawai. Jakarta : Grasindo.
Ismar, Rinda; Amri zarni; Sastrosumiharjo, Danardi., 2011, Stres kerja dan
Berbagai Factor yang Berhubungan pada Pekerja Call Center PT X di
Jakarta, majalah Kedokteran Indonesia, Volume 61 nomor 1, Januarai 2011
Kausar. (2010). Perceived Stress, Academic Workloads and Use of Coping
Strategies by University Students. Journal of Behavioural Sciences. 1(20) :
32-38.
Legiran. Azis, M., Z., & Bellinawati, N. Faktor Risiko Stres dan Perbedaannya Pada
Mahasiswa Berbagai Angkatan di Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Vol 2, (No
2). Hal 197-198.
Mardiana, Yanih., & Zelfino. (2014). Hubungan Antara Tingkat Stress Lansia dan
Kejadian Hipertensi pada Lansia di RW 01 Kunciran Tangerang. J Forum
Ilmiah, 11(2) : 261-267.
Nurdin, A 2010, Pendekatan Psikoneuroimunologi. Majalah Kedokteran Andalas,
34(2) : 90-101.
Purwati, Susi. (2012). Tingkat Stres Akademik pada Mahasiswa Reguler Angkatan
2010 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. SKIPSI.
Universitas Indonesia.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Praktik Volume 1 Edisi 7. Jakarta : Selemba Medika.
Quick, James C., Jonathan D., dkk (2002), Preventive Stress management in
Organizations, Washington DC, APA Order Departement
Rachmadi, Faizal. (2014). Pengaruh Tingkat Intensitas Belajar Terhadap
Terjadinya Stres Pada Mahasiswa PSPD 2011 FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.SKRIPSI. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A., 2007. Perilaku Organisasi Buku 2,
Jakarta: Salemba Empat Jakarta.
Rakhmawati, Indriana., Farida, Pipin., & Nurhalimah. (2014). Sumber Stress
Akademik dan Pengaruhnya Terhadap Tingkat Stress Mahasiswa
Keperawatan DKI Jakarta (Academic stress sourses and it‟s impact to
nursing student stress level). Jkep., 2(3) : 72-84.
Rachmadi, Faizal. (2014). Pengaruh Tingkat Intensitas Belajar Terhadap
Terjadinya Stres Pada Mahasiswa PSPD 2011 FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.SKRIPSI. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Rosanty, Rina. (2014). Pengaruh Musik Mozart dalam Megurangi Stres pada
Mahasiswa yang Sedang Skripsi. Journal of Educational, Health and
Community Psychology. 3(2) : 71-78.
Sugiharto. (2012). Fisioneurohormonal Pada Stresor Olahraga. Jurnal Sains
Psikologi, 2(2) : 54-66
Suzanne., & Brend. (2008). Tingkat Stres Pada Mahasiswa Malaysia Semester 1
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatra Utara Tahun Akademik
2013/2014. SKRIPSI. Universitas Sumatra Utara.
Susane L, I Made Afryan. (2017). Hubungan Tingkat Stres Terhadap Motivasi
Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Skripsi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir
di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. SKRIPSI. Universitas
Lampung.
Stuart., & Laraia. (2005). Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 5. Jakarta: EGC.
Smith, J. C. (2002). Stress Management: A Comprehensive Handbook of
Techniques and Strategies. New York: Springer Publishing Company, Inc.
Soewondo, S. (2009). Relaksasi Progresif. Depok: LPSP3 Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia.
Umar, Husein. 2005. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Usui, T, Yoshikawa, T., Ueda, S.Y., Katsura, Y., Orita, K., & Fujimoto, S. (2012).
Effects Of Acute Prolonged Strenuous Exercise On The Salivary Stress
Markers And Inflammatory Cytokines. Journal of Physical Fitness and
Sports Medicine, 1 (1):1-8.
Widianti, E. 2007. Remaja dan Permasalahannya : Bahaya Merokok,
Penyimpangan Seks pada Remaja dan Bahaya Penyalahgunaan Minuman
Keras atau Narkoba, Universitas Padjadjaran; Jatinangor.