Anda di halaman 1dari 34

c 

  
 

Home > Aktivitas Penelitian > Litbang Pemuliaan Acacia dan Eucalyptus

Penelitian peningkatan riap tanaman jenis Acacia dan Eucalyptus dilakukan untuk
memberikan solusi oleh karena masih banyak dijumpai kegagalan penanaman dan rendahnya
produktivitas hutan tanaman yang dihasilkan. Dari laporan beberapa unit HTI untuk tujuan
kayu serta (pulp), diperoleh data riap volume tanaman yang sebagian besar masih di bawah
20 m3/ha/th, sedangkan berdasarkan arahan pada pola umum pembangunan unit HTI,
minimal dapat diperoleh data riap volume tanaman sebesar 25m3/ha/tahun.

Tujuan dari litbang jenis Acacia dan Eucalyptus adalah meningkatkan produktivitas dan nilai
ekonomi jenis tanaman cepat tumbuh (Acacia dan Euclyptus) melalui peningkatan genetik

Langkah yang akan ditempuh untuk mewujudkan tujuan yang akan dicapai adalah dengan
melakukan serangkaian penelitian dari berbagai aspek terkait untuk menghasilkan : informasi
peningkatan genetik dari kebun benih generasi pertama (F1) dan generasi kedua (F2) serta
kondisi lingkungan yang kondusif, iptek pengembangan populasi perbanyakan, iptek kualitas
kayu, informasi analisis pasar dan informasi pengaruh jenis terhadap tata air.

Beberapa aktivitas penelitian yang sedang dilakukan pada Balai Besar Penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Ôp ^ji keturunan (F1 dilanjutkan F2 ) di Jawa, Sumatera dan Kalimantan


Ôp º 
Ôp -    

 
       
Ôp Analisis sifat kayu
Ôp Analisis DNA

HASIL PENELITIAN UNGGULAN UKP LITBANG ACACIA HINGGA 2007

Narasi UPT Terkait Indikator Capaian s.d 2007


Goal : Meningkatnya nilai ekonomi
Meningkatkan Meningkatnya keluasan areal
produktivitas dan nilai pertanaman
ekonomi jenis tanaman Meningkatnya minat pengguna
cepat tumbuh (Acacia
dan Eucalyptus)

Purpose 1 : Meningkatnya riap tegakan


Meningkatkan riap Meningkatnya volume produksi
tanaman dan mutu sifat kayu
kayu yang dihasilkan Meningkatnya mutu sifat kayu

Output 1.1 Terbangunnya uji multi lokasi Telah dibangun plot uji multi
Informasi peningkatan Terbangun uji intensifikasi lokasi di 3 lokasi (Sumsel,
genetic (F1) dan kondisi silvikultur Kalsel, Jateng)
lingkungan yang Telah dibangun plot uji
kondusif intensifikasi silvikultur di 2
lokasi (Sumsel, Kalsel)

Activities 1.1.1 B2PBPTH Verifikasi sampai umur 6 Keamanan plot uji terganggu
Narasi UPT Terkait Indikator Capaian s.d 2007
Evaluasi uji multi lokasi BPHS Kuok produktivitas benih karena adanya kebakaran
unggul jenis A.mangium (Kalsel dan Sumsel) serta
terhadap volume tegakan pencurian kayu (Jateng)
berkisar antara 180m3/ha
± 220m3/ha,sedangkan
untuk benih unggul
E.pellita sampai umur 2
berkisar 40m3/ha
Peningkatan genetic riil
berkisar antara 30% - 60%
untuk A.mangium dan
30% untuk E.pellita
Kondisi lingkungan dengan
curah hujan berkisar 2000
± 3000 mm/thn, jenis
tanah podzolic merah
kuning, pH 3,5 ± 5
memberikan produktivitas
tegakan yang tinggi untuk
A.mangium

Output 1.2 Terbangunnya uji keturunan Telah dibangun 10 plot kebun


Plot uji keturunan (F2) (F2) pada beberapa lokasi benih semai uji keturunan
dan informasi pengembangan generasi kedua (F-2)jenis
peningkatan genetik Diperoleh informasi variasi A.mangium, A.crassicarpa
sifat fisika,mekanika dan dan E. pellita
kimia kayu Telah dilakukan pengumpulan
Terbangunnya uji resistensi dan analisa sample kayu dari
terhadap penyakit kebun benih
Terbangunnya uji klon hasil Terbangun plot uji resistensi
persilangan terbuka dan penyakit jenis A.mangium
terkendali dan A.auriculiformis
Diperolehnya informasi hasil Telah dilakukan persiapan
analisis DNA melalui koleksi klon yang
Terbangunnya kebun akan diuji
persilangan Telah dilakukan pengambilan
sample materi dari kebun
benih untuk bahan analisa
DNA
Telah dibangun breeding
garden sebagai kebun
persilangan terkendali

Activities 1.2.1 B2PBPTH Diperolehnya data Dari kebun benih ini telah
Evaluasi uji keturunan pertumbuhan dan nilai dilakukan pengamatan dan
generasi II (F2) parameter genetic pengukuran secara periodic
Diperolehnya data peningkatan sampai dengan umur 6 tahun
genetik F2 untuk A.mangium dan
sampai umur 4 tahun untuk
E.pellita
Telah dilakukan analisa data dan
diperoleh informasi rata-rata
prediksi peningkatan genetic
jenis A.mangium yaitu 4%
(tinggi), 6% (dbh) dan 6%
(kelurusan batang).
Sedangkan untuk E.pellita
adalah 10% (tinggi), 15%
Narasi UPT Terkait Indikator Capaian s.d 2007
(dbh) dan 9% (kelurusan
batang)

Sub Activities 1.2.1 B2PBPTH Diketahuinya variasi panjang Benih unggul A.mangium dari
Penelitian variasi sifat serat beberapa kebun benih
kayu Diketahuinya variasi berat jenis menunjukkan perbedaan
kayu kualitas sifat kayunya. Benih
Diketahuinya variasi sifat kimia unggul dari kebun benih
kayu yang berasal dari provenans
Diketahuinya variasi sifat fisik Papua Nugini memiliki berat
jenis kayu yang lebih tinggi
dibandingkan dengan
provenans Queensland-
Australia, tetapi sebaliknya
untuk panjang serat
Dibandingkan dengan
unimproved seed, benih
unggul A.mangium memiliki
kualitas serat yang lebih
baik

Sub Activities 1.2.1.2 B2PBPTH Diketahuinya jenis penyebab Telah diketahui dan diisolasi
Studi resistensi tanaman penyakit busuk akar merah jamur penyebab penyakit
hutan Diperoleh klon-klon yang busuk akar merah
resisten terhadap serangan Klon-klon yang diduga lebih
penyakit resisten dari serangan jamur
Ganoderma telah dikoleksi
dari kebun benih F-1 jenis
A.mangium sebanyak 35 klon
dan A.auriculiformis
sebanyak 35 klon
Activities 1.2.2 B2PBPTH Terbangunnya uji klon --Belum dilaksanakan--
Uji klon hasil Diperolehnya klon-klon
penyerbukan terbuka superior
Activities 1.2.3 B2PBPTH Diketahuinya pohon plus Telah dimulai analisa tetua
Penelitian system terbaik (parental analysis) jenis
breeding (pendekatan Diketahuinya induk jantan dan A.mangium melalui DNA pada
DNA) betina beberapa kebun benih F-1
untuk menemukan kombinasi
tetua yang dapat memberikan
keturunan yang unggul

Activities 1.2.4 B2PBPTH Terbangunnya kebun Telah ditemukan penanda baik


Persilangan intra dan persilangan secara morfologis maupun
inter spesifik jenis Didapatnya hybrid vigor molekuler untuk identifikasi
Acacia dan Eucalyptus Acacia hybrid secara lebih
dini
Telah diperoleh sebanyak 116
benih kandidat hybrid jenis
Acacia melalui 5 kombinasi
persilangan

Output 1.3
IPTEK propagasi untuk
pengembangan populasi
perbanyakan
p
p

c 
 
  
 

  
Home > Aktivitas Penelitian > Litbang Pemuliaan Araucaria (Araucaria cunighamii)

Pembangunan hutan tanaman jenis à  di Indonesia sampai saat ini masih
dilaksanakan dalam skala terbatas, meskipun secara sangat nyata jenis ini terbukti sangat
menguntungkan untuk dikembangkan di daerah dataran tinggi (> 500m). Tanaman à 
 ini telah mulai dimuliakan sejak tahun 1940 di Australia utara, dan sekarang
memiliki nilai ekonomis kayu dan getah yang tinggi untuk suplai industri. Hutan tanaman
yang dibangun dari hasil pemuliaan juga cukup luas, yaitu mencapai 45.000 m2 dengan
panenan pertahun sebesar 350.000 m3. Kayunya sangat baik untuk bahan baku industri kertas
& pulp, plywood, vinir, panel, lantai, kerangka dan kayu pertukangan, serta mengandung
getah yang bisa disadap. Kayunya kokoh, bertekstur halus, mudah untuk dipotong, digergaji,
dipaku, direkatkan, diawetkan dan dipolish.

Persoalan utama yang membuat berbagai pihak di Indonesia ragu untuk mengembangkannya
adalah karena adanya kesulitan dalam hal memperoleh benih atau bahan tanaman untuk
pembangunan pertanamannya. Oleh karenanya, usaha untuk memperoleh benih yang dapat
tersedia secara mudah, rutin dalam jumlah yang memadai akan dapat meyakinkan berbagai
institusi kehutanan yang ingin mengembangkannya. Selama ini pihak kehutanan di Papua
cukup sering membuat pertanamannya, tetapi untuk mendapatkan bijinya masih tergantung
dari hutan alam sehingga masih memerlukan biaya yang cukup tinggi dan umumnya hanya
mengumpulkan materi dari area dengan dasar genetik yang relatif sempit. Kesempatan ini
merupakan alasan yang tepat untuk membangun sumber benih dengan genetik unggul dan
tersedia dalam jumlah yang memadai untuk skala pengusahaan hutan tanaman. Selain itu,
tentunya untuk mengoptimalkan pertumbuhannya perlu didukung oleh penggunaan teknik
pertanaman yang tepat.

Dalam kaitan ini, penelitian à



di BBPBPTH telah dimulai sejak tahun 2000. ^ntuk
tahun 2003-2009, tujuan besar (Goal) yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Mengembangkan hutan tanaman à  melalui upaya konservasi dan pemuliaan à 
 yang didukung oleh teknik pertanaman yang tepat. Sementara tujuan
spesifiknya ada 3 yaitu : (1). Pembangunan kebun konservasi plasma nutfah à   
 Melakukan serangkaian kegiatan pemuliaan à  untuk menghasilkan benih
unggul dan (3) Melakukan uji silvikultur untuk mengetahui teknik pertanaman terbaik bagi à 
  Dari 3 tujuan spesifik tersebut diharapkan menghasilkan luaran-luaran yaitu :
1.1 Terkumpulnya plasma nuftah à  dan terbangunnya kebun konservasi, 1.2
Diketahuinya informasi keragaman genetik plasma nuftah à   2.1 Tersedianya
bibit unggul à   2.2 Tersedianya benih dari famili à  terseleksi,
2.3 Tersedianya informasi teknik pertanaman yang terbaik. Sedangkan pendekatan yang akan
ditempuh dalam penelitian ini adalah melalui serangkaian kegiatan penelitian yang meliputi :
(a). Pembangunan Kebun konservasi à     Penelitian Keragaman Genetik
Populasi à    Pembangunan Pertanaman ^ji Genetik à     
Pembangunan Kebun Benih Klon dan (e) ^ji Silvikultur.

Beberapa aktivitas penelitian yang sedang dilakukan pada Balai Besar Penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Ôp -       
Ôp Pembangunan populasi perbanyakan vegetatif dan kebun pangkas
Ôp Pembangunan uji keturunan
Ôp Analisis DNA

p
p

c 
   
Home > Aktivitas Penelitian > Litbang Pemuliaan Jati (Tectona grandis)

Jati    


    merupakan salah satu spesies yang penting dalam penyediaan
bahan baku kayu. Selain kualitas kayunya yang bagus dan mempunyai nilai ekonomi tinggi,
tanaman ini juga telah dikuasai sifat-sifat silvikulturnya secara umum baik oleh masyarakat
dalam bentuk hutan rakyat maupun hutan tanaman dalam skala besar.

Yang perlu dipersiapkan jauh-jauh hari adalah bagaimana agar materi tanaman yang akan
dibudidayakan tersebut merupakan tanaman yang secara genetik mempunyai keunggulan.
Oleh karena itu upaya pemuliaan jati sangat diperlukan untuk mendapatkan materi tanaman
yang secara genetik unggul dan terbukti kesesuaiannya dengan kondisi tapak di berbagai
wilayah Indonesia.

Pada saat ini banyak jenis Jati yang dipasarkan di masyarakat dengan dukungan berbagai
merk dan kemasan yang menarik seperti jati super, jati emas, jati unggul dan Jati plus
Perhutani yang belum diketahui jenis mana yang paling unggul. ^ntuk menjawab tantangan
tersebut ada beberapa langkah yang dilakukan antara lain yaitu mendapatkan materi tanaman
unggul secara genetik dan sesuai dengan kondisi tapak masing-masing wilayah
pengembangan jati. Disamping itu dalam pengembangan jati juga berusaha mendapatkan
teknik-teknik perbanyakan dari jenis jati yang telah dimuliakan serta usaha untuk melakukan
konservasi sumberdaya genetik jati. Penelitian lain dari aspek kelembagaan dan pasar jati
rakyat serta aspek kualitas kayu jati cepat juga diperlukan dalam pengembangan jati.

Program litbang selama 7 th (2003-2009) ditujukan untuk mendapatkan materi tanaman yang
secara genetik unggul dan sesuai dengan kondisi tapak di berbagai wilayah serta dapat
mengkonservasi sumberdaya genetik berbagai varitas jati yang ada di Indonesia sebagai
langkah pengamanan materi genetik yang ada. Disamping itu usaha pengembangan hutan jati
diluar kawasan Perhutani menjadi langkah yang harus dilakukan, mengingat animo
masyarakat untuk menanam jati tidak hanya terbatas dipulau jawa, tetapi sampai keluar pulau
jawa.

^ntuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan beberapa kegiatan yaitu : (1) Pembangunan
uji klon, (2) Pengujian bibit jati yang beredar, (3) Pembangunan dan evaluasi CSO/SSO, (4)
Pengujian silvikultur intensif (5) Kajian kelembagaan dan pasar, dan (6) Penelitian kualitas
kayu jati tembat tumbuh.

Tahap awal kegiatan yaitu pada tahun 2001 telah dibangun kebun pangkas jati pada 2 lokasi
dan perbanyakan vegetatif dengan stek dan kultur jaringan, koleksi materi dalam bank klon
dan uji klon jati dari beberapa wilayah di Indonesia dan perusahaan pengimpor bibit jati. Tahap
awal kegiatan ini masih menggunakan materi genetis yang terbatas dengan jumlah 43 klon
dan ditingkatkan pada tahap berikutnya.

Beberapa aktivitas penelitian yang sedang dilakukan pada Balai Besar Penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Ôp ^ji keturunan di DIY, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara


Ôp ÔBank Klon, ^ji klon di DIY dan Sulawesi Selatan
Ôp Pembangunan populasi perbanyakan vegetatif dan kebun pangkas
Ôp ÔAnalisis DNA

p
p

c 
 
  
Home > Aktivitas Penelitian > Litbang Pemuliaan Sengon (Paraserianthes falcataria)

^paya peningkatan produktivitas hutan tanaman sengon 





dilakukan melalui 2 pendekatan, yaitu peningkatan mutu genetik tanaman sengon dan
peningkatan produktivitas hutan sengon rakyat. Dalam rangka memperoleh benih unggul
jenis sengon 


 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
Tanaman Yogyakarta sejak tahun 1995 telah melakukan penelitian melalui pembangunan
Kebun Benih Semai ^ji Keturunan (KBS^K) Sengon di Candiroto bekerjasama dengan
Japan International Corporation Indonesia (JICA) dan telah menghasilkan beberapa pohon
induk terseleksi. Individu-individu ini selanjutnya akan diuji kembali melalui Kebun Benih
Semai ^ji Keturunan Generasi Kedua Jenis Sengon.

^ntuk membuktikan peningkatan genetik sengon yang sesungguhnya dari KBS^K Sengon
Candiroto telah dibangun ^ji Perolehan Genetik Sengon 
yang berlokasi di
Kabupaten Kediri, sedangkan upaya peningkatan produktivitas hutan sengon rakyat akan
dilakukan uji produktivitas hutan sengon dengan menitikberatkan pada aspek silvikultur.
^ntuk mendukung semua kegiatan uji coba, diperlukan informasi tentang pengendalian hama
potensial yang menyerang tanaman sengon salah satunya dengan menggunakan varietas/klon
sengon yang resisten.

Beberapa aktivitas penelitian yang sedang dilakukan pada Balai Besar Penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Ôp ^ji keturunan F1 di Candiroto, dilanjutkan F2 di Kediri, Jawa Timur


Ôp ù 
        
Ôp ^ji resistensi

p
p

 p

p p p
ppppp 
p

p p p
pppppppppp p 
p pp
ppppppppppppp  p

p pp
ppppppppppppppppp  p

 p p pp 
p
ppppppppppppppppppppp p p
 p
ppppppppppppppppppppppppp !
p"p
ppppppppppppppppppppppppppppp "  p"p p

#

p
ppppppppppppppppppppppppppppppppp $ p%&p
ppppppppppppppppppppppppppppppppppppp  pà   p'(p"
p

 p

p p p
ppppp 
p

p p p
pppppppppp p 
p pp
ppppppppppppp  p

p pp
ppppppppppppppppp  p

 p p pp 
p
ppppppppppppppppppppp p p% p
ppppppppppppppppppppppppp !
p' p
ppppppppppppppppppppppppppppp "  p' pp
ppppppppppppppppppppppppppppppppp $ p
p
ppppppppppppppppppppppppppppppppppppp  p
   p'((p

p
p
 p

p p p
ppppp 
p

p p p
pppppppppp p 
p pp
ppppppppppppp  p)

pp
ppppppppppppppppp  p 
 pp
ppppppppppppppppppppp !
p p
ppppppppppppppppppppppppp "  p%pp
ppppppppppppppppppppppppppppp $ p%p
ppppppppppppppppppppppppppppppppp  pà    p(p
p

? 
African Journal of Plant Science Vol. Afrika Jurnal Ilmu Tanaman Vol. 4(9), pp. 353-359,
September 2010 4 (9), hal 353-359, September 2010
Available online at http://www.academicjournals.org/ajps Tersedia secara online di
http://www.academicjournals.org/ajps
ISSN 1996-0824 ©2010 Academic Journals ISSN 1996-0824 © 2010 Akademik Jurnal
h

h


        à         
  
  à
  
     

 
  
     
!" !"
#$  % #$  
!#& !#&
##
'
   '
  
((
#)   #)  
!!
* + * +
!#& !#&
11
Sustainable Forest Management Research Institute, ^niversity of Valladolid-CIFOR INIA,
Avda. Pengelolaan Hutan Lestari Lembaga Penelitian, ^niversitas-CIFOR INIA Valladolid,
Avda. de Madrid s/n, 34004, de Madrid s / n, 34004,
Palencia, Spain. Palencia, Spanyol.
22
(Agraria y Alimentaria) INIA-CIFOR. (Agraria Alimentaria y) INIA-CIFOR. Avda. Avda. A
Coruña, Km. A Coruña, Km. 7,5. 7,5. PO Box 28040 Madrid. PO Box 28040 Madrid. Spain.
Spanyol.
33
Ethiopian Institute of Agricultural Research, PO Box 2003, Addis Ababa, Ethiopia. Ethiopia
Lembaga Penelitian Pertanian, PO Box 2003, Addis Ababa, Ethiopia.
Accepted 3 August, 2010 Diterima 3 Agustus 2010
à   species are important in forestation programs and for producing non-timber forest
products in spesies à   penting dalam program penghijauan dan untuk memproduksi-kayu
hasil hutan non
   ,#

   
    

     ,#

   

   
   
   -
          - . #

  /  
  #    
   
 à   
à  
        
 Π
 àà  

 01 
    
   +       01   
    
         2333-    
  2333-    
 
    
    
 
4 ,
  #    
   #
5

4 ,
 #    

   # 

  
       
#
          
     

#
    
#13637   - #13637    - 
      8     
    #
       
 
        
 


 

5    - 
 

   -    
  à         à  #  
  Π     
    à      à 
 
#
      
   
   9
    

  - 
-       
   #       
  
    # 


 
-     

  - 
     -    
 
- 
 :
   
     
   
 #            
 9  


        #
                  
    
            
   
 

    -        -
; à , water stress, Logistic regression, germination, regeneration. 

 ; à air stres, regresi logistik, perkecambahan, regenerasi.
.<$=/>?.=< </ :>c> <
Different factors are affecting recruitment in forest faktor berbeda mempengaruhi perekrutan
di hutan
species and the establishment of new forest areas, spesies dan pembentukan kawasan hutan
baru,
among which dispersal, predation and germination are antara yang penyebaran, predator dan
perkecambahan yang
essential to many species (Blate et al., 1998). penting untuk banyak spesies (al Blate et
1998.,). One of the Salah satu
main processes is germination, because we can infer proses utama perkecambahan, karena
kita dapat menyimpulkan
some information on the strategy of the species to cope beberapa informasi pada strategi dari
spesies untuk mengatasi
with drought (avoidance, tolerance), and also, knowledge dengan kekeringan (penghindaran,
toleransi), dan juga, pengetahuan
has important implications in the management of the memiliki implikasi penting dalam
pengelolaan
seed during nursery (Kozlowski and Pallardy, 2002; benih selama pendederan (Kozlowski
dan Pallardy, 2002;
Kozlowski, 2002; Choinski and Tuohy, 1991; Boydak et Kozlowski, 2002; Choinski dan
Tuohy, 1991; Boydak et
al., 2003; Sy et al 2001) al;., 2003 Sy et al 2001)
Africa is one of the most vulnerable continents to Afrika adalah salah satu yang paling rentan
benua
*Corresponding author. * Korespondensi penulis. E-mail: mlkassa@yahoo.com. E-mail:
mlkassa@yahoo.com. Tel: +34 Tel: +34
979108424. 979108424. Fax: +34 979 108440. Fax: +34 979 108440.
climate change and climate variability, this vulnerability perubahan iklim dan variabilitas
iklim, kerentanan ini
aggravated by the interaction of multiple factors, including diperburuk oleh interaksi
beberapa faktor, termasuk
the growing deforestation and water stress occurring at penggundulan hutan tumbuh dan
cekaman air terjadi pada
various levels, and low adaptive capacity. berbagai tingkat, dan kapasitas adaptasi yang
rendah. The defores- The defores-
tation and his consequences are serious problems in tation dan konsekuensi-nya merupakan
masalah serius dalam
developing countries, given that their economies are negara-negara berkembang, mengingat
bahwa ekonomi mereka
based on agriculture, and climate changes impose berbasis pertanian, dan perubahan iklim
memaksakan
additional pressure on water demand in Africa (Boko et tambahan tekanan terhadap
kebutuhan air di Afrika (Boko et
al., 2007). al)., 2007. The lack of systematic efforts to conserve and Kurangnya upaya
sistematis untuk melestarikan dan
manage resources is a major concern, and in few cases, mengelola sumber daya merupakan
masalah besar, dan dalam beberapa kasus,
efforts have been made to cultivate species that yield non upaya telah dilakukan untuk
menumbuhkan spesies yang menghasilkan non
timber forest product (Michael and Tadesse, 2004). kayu hasil hutan (Michael dan Tadesse,
2004). For ^ntuk
many African species with high importance in aforestation Afrika banyak spesies dengan
kepentingan tinggi di aforestasi
or management program, we lack information in regard to atau program manajemen, kita
kekurangan informasi mengenai
the drought stress impact, specially, on à stres dampak kekeringan, khususnya,
pada à
à species. à spesies.
Non-timber forest products (NTFP) play an important hasil hutan kayu-Non (NTFP)
memainkan penting

?  ? 
354 354
Afr. Afr. J. Plant Sci. J. Plant Sci.
role both in the rural economy and population of the peran kedua dalam perekonomian
pedesaan dan populasi
African country, in Ethiopia, it play a vital role in the live- negara Afrika, di Ethiopia, ia
memainkan peranan penting dalam hidup-
lihoods of communities contributing to food security and lihoods masyarakat memberikan
kontribusi terhadap ketahanan pangan dan
household income (Michael and Tadesse, 2004). pendapatan rumah tangga (Michael dan
Tadesse, 2004). Among Antara
the species that produce these products; à spesies yang menghasilkan produk-produk; à
 and  dan
à  produces gum Arabic and gum talha, respect- à memproduksi Arab dan gusi
Talha gusi, menghormati-
tively. tively. The Arabic gum obtained from species à Bahasa Arab permen karet yang
diperoleh dari spesies à  
is used in the food industries and gum talha obtained digunakan dalam industri makanan dan
Thalhah gusi diperoleh
from à dari à  is used in non-food industries, besides the  digunakan dalam
industri non-makanan, selain
importance of their products, these species adapt to very pentingnya produk mereka, spesies
ini beradaptasi sangat
erratic weather conditions and is considered as species kondisi cuaca tidak menentu dan
dianggap sebagai spesies
protective environmental conditions (Eisa et al., 2008) pelindung kondisi lingkungan (Eisa et
al., 2008)
and its wood are highly preferred by rural populations as dan kayu yang sangat disukai oleh
penduduk pedesaan sebagai
source of fuel and to construct agricultural implements sumber bahan bakar dan untuk
membangun pertanian menerapkan
etc. dll
We have selected two à species to address this Kami telah memilih dua spesies à
ke alamat ini
question, differing in size, dormancy and other life-history pertanyaan, berbeda dalam
ukuran, dormansi dan sejarah lain-hidup
traits. à sifat. à  (Linne) and à  (Linne) dan à  (Del) produces 
(Del) menghasilkan
valuable NTFP. NTFP berharga. Given the importance that have both Mengingat pentingnya
yang memiliki keduanya
national and international level, these species in Ethiopia, nasional dan tingkat internasional,
spesies ini di Ethiopia,
due to overexploitation and the problems associated with karena eksploitasi yang berlebihan
dan masalah yang terkait dengan
the process of installing and growing plantations on the proses instalasi dan tumbuh
perkebunan di
extreme dry conditions, is believed to be in danger of kondisi kering ekstrim, diyakini berada
dalam bahaya
extinction in the future (Personal observation). kepunahan di masa depan (pengamatan
pribadi). Our Kami
hypothesis is that species under arid conditions will show hipotesis adalah bahwa spesies
dalam kondisi kering akan menunjukkan
a clear strategy for avoidance (by a very fast germination) strategi yang jelas untuk
menghindari (dengan cepat perkecambahan sangat)
or tolerance (by a low germination process). atau toleransi (dengan proses perkecambahan
rendah).
The objective of the study is to analyze the germination Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis berkecambah
curves and the probability of germination under different kurva dan probabilitas
perkecambahan bawah berbeda
water stress conditions of à kondisi cekaman air à  and à  dan à  .
 The The
analysis of this process will allow us to infer the strategy analisis proses ini akan
memungkinkan kita untuk menyimpulkan strategi
of the species in relation to drought stress, and also to dari spesies dalam hubungannya
dengan stres kekeringan, dan juga untuk
provide models of germination under different water menyediakan model perkecambahan di
bawah air yang berbeda
stress conditions to be included in general models for the kondisi stres untuk dimasukkan
dalam model umum untuk
regeneration process of the two species. proses regenerasi dua spesies.
‰ $. c </‰:=/ + : </ <‰=/
/    #      /   # 
  
Two à species has been used in this study. à Dua à spesies telah digunakan
dalam studi ini. à  is a  adalah
small tree (10-15 m height) distributed from Senegal to red sea, pohon kecil (tinggi 10-15 m)
didistribusikan dari Senegal ke laut merah,
east and South Africa b/n 11 and 16° North from 500 - 1700 timur dan Afrika Selatan b / n 11
dan 16 ° ^tara 500-1700
masl, poor natural regeneration. mdpl miskin regenerasi alami,. It is resistant to drought (500
- Hal ini tahan terhadap kekeringan (500 -
1000 mm of rainfall). Curah hujan 1000 mm). The species produces Arabic gum (used as a
Spesies yang memproduksi permen karet Arab (digunakan sebagai
stabilizer in food and pharmaceutical industries and in printing and stabilizer dan farmasi
industri makanan dan dalam pencetakan dan
textile industries) and the wood is highly valued by rural populations industri tekstil) dan
kayu sangat dihargai oleh penduduk pedesaan
as fuel for firewood and charcoal. à sebagai bahan bakar untuk kayu bakar dan arang. à
 is a smaller tree (up to 9  adalah pohon kecil (hingga 9
m height), distributed from Senegal to the entire Sahal, Sudan and m tinggi), didistribusikan
dari Senegal ke, Sahal seluruh Sudan dan
Egypt, East Africa from Somalia to Mozambique from 0 - 2100 m Mesir, Afrika Timur dari
Somalia ke Mozambique 0-2100 m
asl It is also resistant to drought, with a broader niche (250 - 1000 dpl Hal ini juga tahan
terhadap kekeringan, dengan niche yang lebih luas (250 - 1000
mm of rainfall) than à mm curah hujan) dari à  . à  à  produces Talha
gum (used  memproduksi permen karet Thalhah (digunakan
as a stabilizer in non-food industries) of lower quality than Arabic sebagai penstabil dalam
industri non-makanan) kualitas rendah dari Arab
gum, and the wood is also used as fuel for firewood and charcoal permen karet, dan kayu
juga digunakan sebagai bahan bakar untuk kayu bakar dan arang
(Argaw et al., 1999) (Argaw et al., 1999)
One population group from each of the species was sampled in Satu populasi kelompok dari
masing-masing spesies sampel di
southwest Ethiopia (Langano and Shala populations) in the East barat daya Ethiopia
(Langano dan populasi Shala) di Timur
Shewa region which is classified as a semi-arid area. Shewa wilayah yang diklasifikasikan
sebagai daerah semi-kering. Langano Langano
population (7° 26' N-38° 47' E), is located at 1749 m asl, with a penduduk (7 ° 26 'N-38 ° 47'
E), terletak di 1749 m dpl, dengan
rainfall of 500 - 600 mm, and minimum and maximum monthly curah hujan 500 - 600 mm,
dan minimum dan maksimum bulanan
mean temperature of 13.8 and 38°C. suhu rata-rata 13,8 dan 38 ° C. Shala population (7º 32'
N-38º Shala penduduk (7 º 32 'N-38 º
40' E) is located under similar conditions: 1620 m asl, 600 mm of 'E 40) terletak di bawah
kondisi yang sama: 1620 m dpl, 600 mm
rainfall, and minimum and maximum monthly mean temperature of curah hujan, dan
minimum dan maksimum suhu rata-rata bulanan
13.8 and 38°C. 13,8 dan 38 ° C. Seeds were provided by the National Forest Biji disediakan
oleh Hutan Nasional
Research Institute of Ethiopia from commercial seed-lots, and Lembaga Penelitian Ethiopia
dari biji banyak komersial, dan
stored in a cold chamber at 6°C. disimpan dalam ruang dingin di 6 ° C. The à à 
seeds are bigger  biji lebih besar
(8.62 gr/100 seeds, or 11.600 seeds/kg, length: 8.76 ± 0.95 mm, (8,62 gr/100 biji, atau 11,600
biji / kg, panjang: 8,76 ± 0,95 mm,
width: 7.67 ± 0.82 mm) than the à lebar: 7,67 ± 0,82 mm) dari à  seeds (5.18 gr/100
seeds  bibit (5,18 gr/100 biji
or 19.305 seeds/kg, length: 6.77 ± 0.77 mm, width: 4.01 ± 0.49 atau 19,305 biji / kg, panjang:
6,77 ± 0,77 mm, lebar: 4,01 ± 0,49
mm). mm). Seeds of the two populations are bigger in comparison to the Benih dari dua
populasi yang lebih besar dibandingkan dengan
mean values of the species (18.000 seeds/kg for à  , and berarti nilai dari spesies
(18.000 biji / kg untuk à dan
22.000 seeds/kg for à 22.000 biji / kg untuk à  ), indicating the arid conditions of the
 menunjukkan kondisi kering dari
two populations. dua populasi.
4   
 
    
  
   
Germination was tested in a factorial design with Species (2 levels) Germinasi diuji dalam
rancangan faktorial dengan Spesies (2 tingkat)
and drought stress (4 levels) as factorial treatments. dan kekeringan stress (4 tingkat) sebagai
perlakuan faktorial. The four levels Empat tingkat
of water potential ( =0 or control, -4, -8 and -12 bars respectively) potensi air (= 0 atau
kontrol, -4, -8 dan -12 bar masing-masing)
were simulated by adding different amount of Polyethylene Glycol disimulasikan dengan
menambahkan perbedaan jumlah Polyethylene Glycol
6000 (PEG), to obtain different water stress level (Michel and 6000 (PEG), untuk
mendapatkan tingkat cekaman air berbeda (Michel dan
Kaufmann, 1973; modified by Michel, 1983). Kaufmann, 1973; dimodifikasi ol eh Michel,
1983). These treatments Perawatan ini
mimic from no stress to very severe water stress (-12 bars). meniru dari stres terhadap air
stres berat sangat (-12 bar).
For each species and drought stress, 100 seeds were used, for a ^ntuk setiap jenis dan stres
kekeringan, 100 biji digunakan, untuk
total of 400 seeds per species, and 800 seeds in total. jumlah 400 biji per spesies, dan 800 biji
total. The The
experimental unit consisted of 25 seeds in Petri dishes (10 cm- unit percobaan terdiri dari 25
biji dalam cawan Petri (10 cm-
diameter on a filter paper) and randomly arranged in four replicates diameter pada kertas
filter) dan disusun secara acak di empat ulangan
in a germination chamber IBERCEX V-900-D. dalam ruang perkecambahan IBERCEX V-
900-D. The conditions for Kondisi untuk
the germination test were: 30°C temperature, a constant relative uji perkecambahan adalah:
30 ° C suhu, konstanta relatif
humidity of 80% and a photoperiod of 12 h. kelembaban 80% dan fotoperiodik 12 h.
Germination was Perkecambahan adalah
checked daily, and a seed was considered as germinated when the diperiksa setiap hari, dan
biji yang dianggap sebagai berkecambah ketika
radicle emerged at least 1 mm from the integument. radikula muncul setidaknya 1 mm dari
integumen tersebut. The test lasted Tes berlangsung
for 45 days from 21/01/2009 until 03/03/2009 (but no germination selama 45 hari sejak
21/01/2009 sampai 2009/3/3 (tapi tidak perkecambahan
was recorded after day 20). dicatat setelah hari 20). A Tetrazolium viability test was Sebuah
uji viabilitas Tetrazolium
performed to all the non-germinated seeds in order to quantify the dilakukan untuk semua-
berkecambah benih non untuk mengkuantifikasi
no germinating seeds under drought stress. tidak berkecambah bibit di bawah tekanan
kekeringan.
The à à  seeds were submitted to a pre-germination treat- biji  diserahkan ke
perkecambahan pre-mengobati-
ment with boiled water (at 100°C) and then left at room temperature pemerintah dengan air
matang (pada 100 ° C) dan kemudian meninggalkan pada suhu kamar
for 24 h (Forest Research Directorate, 2000, internal document) to selama 24 jam (Direktorat
Penelitian Hutan, 2000, dokumen internal) untuk
break the dormancy, which is the regular method used for this mematahkan dormansi, yang
merupakan metode biasa yang digunakan untuk ini
species. spesies. Otherwise dormancy could hide drought stress impact. Jika dormansi bisa
menyembunyikan stres dampak kekeringan.
Seeds were disinfected by applying the methodology proposed by Benih didesinfeksi dengan
menggunakan metodologi yang dikemukakan oleh
Villamediana et al. Villamediana et al. (2007) before starting the germination analysis. (2007)
sebelum memulai analisis perkecambahan.
The solution and the filter paper were changed every four days, to Solusi dan kertas saring itu
diganti setiap empat hari, untuk
maintain the water potential constant throughout the entire duration mempertahankan potensi
air konstan sepanjang seluruh durasi
of the experiment and prevent hyper-concentration processes, in percobaan dan mencegah-
konsentrasi proses hyper, di
agreement with Falleri (1994) and Bravo et al. perjanjian dengan Falleri (1994) dan Bravo et
al. (2010). (2010).
/     
Germination at a given day t was adjusted for each experimental Perkecambahan pada t hari
tertentu telah disesuaikan untuk setiap percobaan
unit (Petri dish) by non-lineal regression to a Gompertz function unit (Petri dish) oleh-lineal
regresi non fungsi Gompertz
(Draper and Smith, 1981) with three parameters: c, the predicted (Draper dan Smith, 1981)
dengan tiga parameter: c, yang diprediksi
germination (asymptote of the curve); b, closely related perkecambahan (asymptote kurva), b,
erat terkait
(proportional) to the maximum germination rate standardized by the (Proporsional) dengan
tingkat perkecambahan maksimum standar oleh
total germination (b§germination total berkecambah (b perkecambahan §
max max
/c); m, the t value corresponding / C); m, nilai t yang sesuai
to the inflection point of the curve (date at which maximum growth ke titik infleksi kurva
(tanggal di mana pertumbuhan maksimum
rate is reached). Tingkat dicapai).
The initial parameters (c, m and b) were estimated based on the Parameter awal (c, m dan b)
diperkirakan berdasarkan
optimization of the sum of squares of the residues minimized by the optimalisasi jumlah
kuadrat residu diminimalkan oleh
Levenberg-Marquardt algorithm (Wolfram, 1999). Levenberg algoritma Marquardt
(Wolfram, 1999). To test the ^ntuk menguji
precision of the model, the value of pseudo-R ketepatan model, nilai pseudo-R
22
was calculated for dihitung untuk
each fit. sesuai masing-masing. Three other variables were derived for the germination Tiga
variabel lainnya yang diperoleh untuk berkecambah
data: b, t50 and t90: being, respectively, the date (in days) Data: b, T50 dan T90: sedang,
masing-masing, tanggal (dalam hari)
corresponding to germination of 50 and 90% of the total. berhubungan dengan
perkecambahan 50 dan 90% dari total. An Sebuah

?  ? 
Kassa et al. Kassa et al. 355 355
 !- Descriptive values for the different variables derived from the germination of each
experimental unit curve.  !- Nilai Deskriptif untuk variabel-variabel yang berbeda
berasal dari perkecambahan setiap kurva unit eksperimental.
)   ) 
à  à Œ
à 
 à 

 
 
5- 5-
- -
 
 
5- 5-
- -
cc
16.84 16.84
6.56 6.56
25.15 25.15
6.00 6.00
8.81 8.81
4.00 4.00
15.28 15.28
2.00 2.00
bb
2.79 2.79
5.79 5.79
17.75 17.75
0.15 0.15
3.32 3.32
4.51 4.51
14.64 14.64
6.31 6.31
mm
0.11 0.11
3.53 3.53
3.19 3.19
0,36 0,36
2.42 2.42
0.50 0.50
3.19 3.19
1.16 1.16
t50 T50
0.83 0.83
3.01 3.01
3.58 3.58
0,45 0,45
2.73 2.73
0.52 0.52
3.63 3.63
2.00 2.00
t90 T90
4.55 4.55
2.15 2.15
8.73 8.73
0.96 0.96
4.33 4.33
1.79 1.79
9.55 9.55
2.32 2.32
RR
22
93.8 93.8
8.4 8.4
100 100
69.6 69.6
94.8 94.8
7.1 7.1
100 100
74.36 74.36
c: total germination, b: maximum germination rate, m: date at which maximum growth rate is
reached t50 and t90: date at c: total perkecambahan, b: perkecambahan maksimum rate, m:
tanggal dimana laju pertumbuhan maksimum tercapai T50 dan T90: tanggal di
which germination reaches the 50 and 90% of the total germination. perkecambahan yang
mencapai 50 dan 90% dari total perkecambahan. R R
22
: regression coefficient of the adjusted curves. : Kurva regresi koefisien disesuaikan.
 &- Analysis of variance of the variables describing the germination process in à  
&- Analisis ragam variabel menggambarkan proses perkecambahan di à  and à
 dan à  under  bawah
different watering regimes. penyiraman rezim yang berbeda. Mean squares and significance
values of the F-test. Mean kuadrat dan nilai signifikansi uji-F.
)   ) 
   
/
  
. @ . @
A
-  A
-

   
A
- A
-   

   
A
- A
-   

   
germination pengecambahan
457.53 457.53
< 0.0001 <0.0001
162.78 162.78
< 0.0001 <0.0001
44.78 44.78
0.0403 0.0403
cc
558.18 558.18
< 0.0001 <0.0001
131.54 131.54
0.0006 0.0006
32.64 32.64
0.1357 0.1357
bb
2.78 2.78
0.776 0.776
75.17 75.17
0.1104 0.1104
21.7 21.7
0.598 0.598
mm
35.56 35.56
0.025 0.025
16.34 16.34
0.06 0.06
12.68 12.68
0.115 0.115
t50 T50
0.45 0.45
0.9017 0.9017
52.62 52.62
0.1768 0.1768
43.09 43.09
0.2498 0.2498
t90 T90
701.82 701.82
0.3311 0.3311
719.93 719.93
0.4057 0.4057
610.68 610.68
0.4771 0.4771
c: total germination, b: maximum germination rate, m: date at which maximum growth rate is
reached t50 and t90: date at which c: total perkecambahan, b: perkecambahan maksimum
rate, m: tanggal dimana laju pertumbuhan maksimum tercapai T50 dan T90: tanggal di mana
germination reaches the 50 and 90% of the total germination. perkecambahan mencapai 50
dan 90% dari total perkecambahan. R R
22
: regression coefficient of the adjusted curves. : Kurva regresi koefisien disesuaikan. *** P <
0.001; ** *** P <0.001; **
0.01 > P >0.001; * 0.05 > P > 0.01; ns 0.05 > P 0,01> P> 0,001; * 0,05> P> 0,01; ns 0,05> P
analysis of variance was performed to the different variables (c, b, analisis varians dilakukan
untuk variabel yang berbeda (c, b,
m, t50 and t90) according to the following factorial model (Equation m, T50 dan T90) sesuai
dengan model faktorial berikut (Persamaan
1): 1):
[[
 !"
#$ #$

$$
$ $
 
$$
 !"
(1) (1)
where: [ dimana: [
 !"
: Value of the variables for the i : Nilai variabel i
th th
species under the j spesies bawah j
th th
water stress treatment and the k cekaman air pengobatan dan k
th th
, and Petri dish; % : grand mean; , Dan cawan Petri; &' grand mean;
jj
::
drought stress (j = 1 to 4); kekeringan stres (j = 1 sampai 4);

: species (l = 1 to 2) and the error term; : Spesies (l = 1 sampai 2) dan jangka waktu
kesalahan;
 
( ) ( )


 A Tukey-Kramer multiple comparison test was  Sebuah Kramer beberapa perbandingan-
uji Tukey adalah
applied to the main factors if they were statistically significant and diterapkan pada faktor
utama jika mereka secara statistik signifikan dan
the interaction was graphically analyzed. Interaksi itu dianalisa secara grafis.
In the second step, the probability of germination (P) was Pada langkah kedua, kemungkinan
berkecambah (P)
determined by independent logistics models for each species. ditentukan oleh model logistik
independen untuk masing-masing spesies. Two Dua
explicative variables were used: Drought stress (expressed as bersifat menerangkan variabel
digunakan: Kekeringan stres (disajikan sebagai
water potential in MPa), the time and the interaction (Equation 2): potensi air MPa), waktu
dan interaksi (Persamaan 2):
ƒƒ
++
==
==
++
í-






11
00
))
((
11
11
ȤȤ
ȕȕ
ȕȕ
(2) (2)
The models were tested using the change in the value of -2 log of Model tersebut diuji
dengan mengubah nilai -2 log
the likelihood between the model with and without explicative kemungkinan antara model
dengan dan tanpa bersifat menerangkan
variables (Hosmer and Lemeshow, 1989). variabel (Hosmer dan akseptor, 1989). Starting
from the results Mulai dari hasil
of the logistics regression, the probability of germination was dari regresi logistik,
kemungkinan perkecambahan adalah
analyzed graphically for each species in a specified time, for each dianalisis grafis untuk
setiap spesies dalam waktu tertentu, untuk setiap
treatment. pengobatan. The value of the area below the receiver operating Nilai daerah di
bawah operasi penerima
characteristic curve (ROC curve) was used to estimate the kurva karakteristik (ROC curve)
digunakan untuk memperkirakan
precision of the models adjusted. ketepatan model disesuaikan. All the analysis was
conducted by Semua analisis dilakukan dengan
using the SAS software (SAS Institute Inc, 2004). menggunakan perangkat lunak SAS (SAS
Institute Inc, 2004).
$>c : .c
Seed germination occurred after 4.5 days in à Perkecambahan biji terjadi setelah 4,5 hari di
à  
and 4.3 days in à dan 4,3 hari di à  .  Ninety percent of the total Sembilan puluh
persen dari total
germination was reached and no new germination was perkecambahan dicapai dan tidak ada
perkecambahan baru
observed after 20 days of the experiment (Table 1). diamati setelah 20 hari percobaan (Tabel
1).
The Gompertz model was very precise in describing Model Gompertz sangat tepat dalam
menggambarkan
the germination process (R proses perkecambahan (R
22
> 90% in both species). > 90% pada kedua jenis). The The
analysis of variance of the variables showed significant analisis varians dari variabel nyata
differences in total germination and c Gompertz model perbedaan perkecambahan total dan c
model Gompertz
parameter. parameter. P-values for total germination were under P-nilai untuk
perkecambahan total berada di bawah
0.0001 for species and drought stress and equal to 0,0001 untuk spesies dan stres kekeringan
dan sebesar
0.0403 for the interaction. 0,0403 untuk interaksi. The p-values for the c para- P-nilai untuk
para c-
meter were under 0.001 for species and drought stress meter di bawah 0,001 untuk spesies
dan stres kekeringan
and not significant for the interaction, p-value equal to dan tidak signifikan untuk interaksi, p-
value sebesar
0.01357 (Table 2). 0,01357 (Tabel 2). However, there were no significant Namun, tidak ada
yang signifikan
differences in b, t50 and t90 for any factors. perbedaan dalam b, T50 dan T90 untuk setiap
faktor.
The germination of à Perkecambahan à  was greater (mean value  lebih
besar (nilai rata-rata
99.0 ± 2.00 in the control treatment) than that of à 99,0 ± 2,00 pada perlakuan kontrol)
dibandingkan dengan à  

?  ? 
356 356
Afr. Afr. J. Plant Sci. J. Plant Sci.
-4 MPa -4 MPa
00
20 20
40 40
60 60
80 80
00
55
10 10
15 15
20 20
/ :
44




 









 





à à
à à
* 
!- Germination curve at à 4 !- Perkecambahan kurva pada à  and à
 dan à  . 
 (- Logistic regression results to the species of à  (- Hasil regresi logistik bagi
spesies à  and à  dan à  under water stress conditions.  dalam
kondisi stres air.
   
/* '   9A
 /* '   9


B  9A
 B  9

à  à Œ
Independent term Istilah independen
11
-0.4891 -0.4891
0.1550 0.1550
9.9559 9.9559
0.0016 0.0016
Drought Kekeringan
11
0.1007 0.1007
0.0254 0.0254
15.6682 15.6682
<.0001 <0,0001
Day Hari
11
-0.1418 -0.1418
0.0385 0.0385
13.5816 13.5816
0.0002 0.0002
Drought*Day Kekeringan * Hari
11
0.0195 0.0195
0.00660 0.00660
8.7125 8.7125
0.0032 0.0032
à 
 à 

Independent term Istilah independen
11
-1.6820 -1.6820
0.2011 0.2011
69.9480 69.9480
<.0001 <0,0001
Drought Kekeringan
11
0.0627 0.0627
0.0301 0.0301
4.3302 4.3302
0.0374 0.0374
Day Hari
11
-0.2551 -0.2551
0.0391 0.0391
42.5996 42.5996
<.0001 <0,0001
Drought*Day Kekeringan * Hari
11
0.000478 0.000478
0.00577 0.00577
0.0069 0.0069
0.9339 0.9339
(44.0 ± 17.59). (44,0 ± 17,59). The norm of reaction of the germination Norma reaksi
berkecambah
according to water stress can be seen in Figure 1. menurut stres air dapat dilihat pada Gambar
1. The The
comparison of these values in respect to the value perbandingan nilai-nilai ini sehubungan
dengan nilai
obtained in the control treatment showed that à diperoleh pada perlakuan kontrol
menunjukkan bahwa à  did  tidak
not decrease its percentage until a value of -8 MPa, more tidak penurunan persentase sampai
nilai -8 MPa, lebih
quickly than in à cepat daripada di à  with a decrease in germination 
dengan penurunan daya kecambah
for the most severe treatment were very different: for à untuk perawatan yang paling parah
sangat berbeda: untuk à
 the germination is only 35% of the control (35.0 ±  perkecambahan hanya
35% dari kontrol (35,0 ±
12.38) in comparison to a higher value (59%) of the 12,38) dibandingkan dengan nilai yang
lebih tinggi (59%) dari
control (26.0 ± 17.74) in à kontrol (26,0 ± 17,74) di à  .  The intermediate treat-
The intermediate memperlakukan-
ments (-4 and -8 MPa) showed a response in the middle KASIH (-4 dan -8 MPa)
menunjukkan respon di tengah
of the two severe treatments (mean value of 73.0 ± dari dua perlakuan yang parah (rata-rata
nilai 73,0 ±
16.45% and 57.0 ± 17.09, respectively in à 16,45% dan 57,0 ± 17,09, masing-masing di à
 , and  dan
46.0± 13.27% and 29.0 ± 13.61). 46,0 ± 13,27% dan 29,0 ± 13,61). The viability test applied
^ji viabilitas diterapkan
to the non-germinated seeds showed that for à ke-berkecambah benih non menunjukkan
bahwa untuk à  , 
the seeds that did not germinate were not viable at the benih yang tidak berkecambah tidak
layak di
end of the test, but for à akhir ujian, tetapi untuk à  , 50% of the non-  50% non-
germinated seeds were viable. kecambah yang layak.
The logistic regression analysis showed that seed ger- Analisis regresi logistik menunjukkan
bahwa benih-ger
mination in function of a specific time period was lower as DISKRIMINASI dalam fungsi
dari suatu periode waktu tertentu lebih rendah sebagai
time increased, yielding a decreasing tendencies in each waktu meningkat, menghasilkan
kecenderungan penurunan masing-masing
treatment. pengobatan. In à Dalam à  drought stress and time, and kekeringan
 stres dan waktu, dan
their interaction, had a significant effect on germination. interaksi mereka, memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap perkecambahan.
However, in the case of à Namun, dalam kasus à  , the interaction had no 
interaksi tidak memiliki
significantly influence on germination (Table 3 and Figure pengaruh signifikan terhadap
perkecambahan (Tabel 3 dan Gambar
2), while the results for the rest of the independent 2), sedangkan hasil untuk sisa independen
variables were the same as in the previous case. variabel adalah sama seperti dalam kasus
sebelumnya. The The
value of the area under the ROC curve were c = 0.85 and nilai area di bawah kurva ROC
adalah c = 0,85 dan

?  ? 
Kassa et al. Kassa et al. 357 357
* 
&- Germination for each species and treatment (a) and for each species in relation
4 &- Perkecambahan untuk setiap spesies dan pengobatan (dan untuk setiap jenis
sehubungan
to the control b. untuk mengontrol b.
and c = 0.81 for the species à dan c = 0,81 untuk spesies à  and à  dan à
 
respectively. masing.
/.?>.=< /. >.
Different studies focused on the effect of bush burning on studi yang berbeda difokuskan
pada pengaruh pembakaran semak-semak di
the germination of various species of the genus à perkecambahan berbagai spesies dari
genus à
(Danthu et al., 2003). (Danthu et al 2003.,). However, they do not provide Namun, mereka
tidak memberikan
information on the effect of water stress (an essential informasi tentang pengaruh stres air
(yang penting
environmental factor in the distribution range of the faktor lingkungan dalam rentang
distribusi
species) on the germination of à spesies) pada perkecambahan à  and à  dan
à  
 .  This paper, analyses four potential effects Makalah ini, analisis empat efek
potensial
depending on the intensity of water stress conditions tergantung pada intensitas kondisi stres
air
obtained with Polyethylene glycol, including control, on diperoleh dengan glikol Polietilena,
termasuk kontrol, pada
the germination process of this two à species. proses perkecambahan ini dua spesies
à
Germination was different depending on the species, Perkecambahan berbeda tergantung
pada spesies,
and also a different pattern of viability of non-germinated dan juga pola yang berbeda
viabilitas non-berkecambah
seeds was found at the end of the experiment. biji ditemukan pada akhir percobaan. The The
higher percentage of germination of the species à tinggi persentase perkecambahan spesies
à
 in comparison to à seyal has been previously  dibandingkan dengan seyal à
telah sebelumnya
reported (Argaw et al., 1999; Teketay, 1996; Zida, 2007), dilaporkan (Argaw et al;., 1999
Teketay, 1996; Zida, 2007),
but in our study, the difference in viable seeds among the Tetapi dalam studi kita, perbedaan
antara benih yang layak
two species (no viable seeds detected at the end of the dua spesies (tidak ada bibit layak
terdeteksi pada akhir
experiment in à eksperimen di à  , and a value of 50% for non-  dan nilai
50% untuk non-
germinated seeds for à berkecambah benih untuk à  ) indicate that this pattern is 
menunjukkan bahwa pola ini
caused by a heavy induced dormancy in the latter. disebabkan oleh induksi dormansi berat di
kedua. Most Sebagian besar
à species are characterized by a very hard and spesies à ditandai dengan sangat
keras dan
impermeable seed coat, which result in temporary biji mantel kedap air, yang mengakibatkan
sementara
dormancy and influences the germination process (Aref, dormansi dan pengaruh proses
perkecambahan (Arif,
2000; Argaw et al. 1999; Owens et al. 1995). 2000; Argaw et  1999; Owens 1995 et
 In à Dalam à
 , the application of severe treatments (stronger than  penerapan perawatan berat
(lebih kuat dari
the applied in our study) is needed to break the dormancy diterapkan dalam penelitian kami)
diperlukan untuk memecahkan dormansi yang
and speedup the process of germination. dan percepatan proses perkecambahan. The very
hard Yang sangat keras
and impermeable seed coat could act as a protection dan kulit biji kedap air dapat bertindak
sebagai pelindung
against water stress, with little germination under water terhadap cekaman air, dengan
perkecambahan sedikit di bawah air
stress conditions to prevent problems during the embryo kondisi stres untuk mencegah
masalah selama embrio
development. pembangunan.
The size of the seeds (measured as the number of ^kuran biji (diukur sebagai jumlah
seeds/kg) of the two à species are larger than those biji / kg) dari dua spesies à
lebih besar daripada
indicated in previous studies (Argaw et al., 1999), ditunjukkan dalam penelitian sebelumnya
(Argaw et al 1999.,),
suggesting the more arid conditions of the analyzed menyarankan gersang kondisi yang lebih
dari yang dianalisis
populations to those previously reported, as shown in populasi dengan yang dilaporkan
sebelumnya, seperti yang ditunjukkan dalam
à Miller et al., 2002, Mahamood et al., à *
et al 2002.,,
Mahamood et al.,
2005); A

 (Loha et al., 2008), or among 2005); A

 (Loha et al
antara., 2008), atau
populations of the same à species (Mahamood et populasi dari spesies à sama
(Mahamood et
al al
., .,
2005) 2005)
..
Therefore Oleh karena itu
,,
we can interpret the result as derived kita bisa menginterpretasikan hasilnya sebagai berasal
from populations adapted to drought conditions, as a dari populasi disesuaikan dengan
kondisi kekeringan, sebagai
view to explore strategies of the species under stressful tampilan untuk mengeksplorasi
strategi dari spesies di bawah tekanan
conditions. kondisi.

?  ? 
358 358
Afr. Afr. J. Plant Sci. J. Plant Sci.
The analysis of variance showed a decrease in germi- Dari hasil analisis ragam menunjukkan
penurunan germi-
nation as the degree of water stress increases for the two bangsa sebagai tingkat stres
meningkat air untuk dua
species. spesies. This is much more pronounced in the extreme Ini jauh lebih jelas dalam
ekstrim
water stress in the case of à air stres dalam kasus à  (reduction of 
(pengurangan
germination of 64.6% in the level at -12 MPa with respect perkecambahan 64,6% pada
tingkat di -12 MPa dengan hormat
to the control) than in à untuk mengontrol) dibandingkan dengan à  (reduction of
40.9% with  (pengurangan 40,9% dengan
respect to the control). sehubungan dengan kontrol). This could be related to greater Hal ini
dapat berhubungan dengan lebih besar
tolerance to drought in à toleransi terhadap kekeringan di à  , as shown in leguminous
 seperti yang disajikan dalam polongan
species from sub-Saharan areas where a clear reduction spesies dari sub-Sahara daerah
dimana pengurangan jelas
of germination is found depending on the water stress dari perkecambahan ditemukan
tergantung pada stres air
(Sy et al., 2001, in A A  , (Sy et al 2001.,, Di A 
A 

  
 , 
  
  

, 


 and 


 ). 
 dan 




No significant differences have been found in most of Tidak ada perbedaan yang signifikan
telah ditemukan di sebagian besar
the parameter estimated from the Gompertz model (both estimasi parameter dari model
Gompertz (baik
the inflexion point and the rapidity of growth, as well as titik infleksi dan kecepatan
pertumbuhan, serta
the time to reach different germination rates). waktu untuk mencapai tingkat perkecambahan
yang berbeda). The The
analyzed à species reached a total germination à dianalisis spesies mencapai total
perkecambahan
over 90% in only 5 days. lebih dari 90% hanya dalam 5 hari. No differences between species
Tidak ada perbedaan antara spesies
and treatment were found. dan pengobatan ditemukan. This might be an avoidance Ini
mungkin menghindari suatu
strategy to water stress, related to the environment in strategi untuk stres air, terkait dengan
lingkungan di
which the plant will develop. yang tanaman akan berkembang.
^nder arid condition, these species take advantage of Pada kondisi kering, spesies ini
mengambil keuntungan dari
favorable conditions (humidity and temperature) to germi- kondisi baik (kelembaban dan
suhu) untuk germi-
nate rapidly. nate cepat. However, we can distinguish two different Namun, kita dapat
membedakan dua yang berbeda
water-stress avoiding strategies: à air-stres menghindari strategi: à  produces a
 menghasilkan
rapid germination of all the viable seeds, but for à cepat perkecambahan semua biji yang
layak, tetapi untuk à  , 
the germination under stressful conditions is more hetero- perkecambahan dalam kondisi
stres adalah hetero lebih-
geneous (higher std) and is more higher in comparison to geneous (std lebih tinggi) dan lebih
tinggi dibandingkan dengan
the control, and it is limited by an induced dormancy; kontrol, dan dibatasi oleh dormansi
induksi;
these non-germinated seeds would germinate under ini non-berkecambah benih akan
berkecambah di bawah
more favorable conditions. kondisi lebih menguntungkan. Rapid seed germination in Rapid
perkecambahan biji di
arid and semi-arid areas seems to be frequent. dan semi-kering daerah kering tampaknya
sering. This was Ini
demonstrated in the study performed with some species ditunjukkan dalam studi yang
dilakukan dengan beberapa jenis
( 
  L.) in which germination began at 4 
  L.) di mana
perkecambahan dimulai pada 4
days with 5% and reached a total of 67% over the 18 hari dengan 5% dan mencapai total 67%
selama 18
days of the experiment (Travlos et al., 2007). hari percobaan (Travlos et al 2007.,). In 
Dalam 
and Mediterranean + under arid conditions, the dan Mediterania + dalam kondisi
kering, yang
process is not so rapid, but we can find the strategy of a Proses tidak begitu cepat, tetapi kita
dapat menemukan strategi dari
more irregular and extended germination over time lebih teratur dan diperpanjang
perkecambahan dari waktu ke waktu
(Boydak et al. 2003). (Boydak et al )), 
The probability of germination indicates a rapid decay Kemungkinan perkecambahan
menunjukkan membusuk
when the stress increases, and also the large differences ketika stres meningkat, dan juga
perbedaan besar
among the two species, with implications in the regenera- di antara dua spesies, dengan
implikasi dalam regenerasi the-
tion process. tion proses. In à Dalam à  the probability of germination 
kemungkinan perkecambahan
under non-stress conditions is quite high and therefore, bawah kondisi non-stres yang cukup
tinggi dan karena itu,
this species could regenerate easily in such conditions. spesies ini dapat beregenerasi dengan
mudah dalam kondisi seperti itu.
However, for à Namun, untuk à  , the germination is highly  berkecambah sangat
depending on the conditions: The covers protect the tergantung pada kondisi: mencakup
melindungi
embryo from the drought, but it leads to a low probability embrio dari kekeringan, tetapi
mengarah pada probabilitas rendah
of germination even under no stress conditions (similar to dari perkecambahan bahkan dalam
kondisi tidak stres (mirip dengan
the values reached by à nilai-nilai yang dicapai oleh à  under the -12.0 Pa 
bawah -12,0 Pa
treatments. perawatan.
It can be concluded that water stress has a negative Dapat disimpulkan bahwa stres air
memiliki negatif
effect on à germination in arid and semiarid berpengaruh terhadap perkecambahan
à di kering dan semi kering
environments, but the reduction is not enough to impede lingkungan, tetapi pengurangan
tersebut tidak cukup untuk menghalangi
germination of the seeds if the drought conditions are not perkecambahan benih jika kondisi
kekeringan tidak
prolonged over time. berkepanjangan dari waktu ke waktu. We also detect two different
Kami juga mendeteksi dua yang berbeda
avoiding water stress strategies. strategi menghindari stres air. All viable seeds of à Semua
layak benih à
 geminates quickly, in order to be installed as  geminates cepat, untuk
dipasang sebagai
soon as possible based on the seed reserves. secepat mungkin berdasarkan cadangan biji.
However, Namun,
à  with smaller seeds and a heavy and imper- à  dengan biji yang lebih kecil dan
berat dan imper-
meable coat, reacts by inducing dormancy under the mantel meable, bereaksi dengan
menginduksi dormansi bawah
heaviest water stress conditions. kondisi air terberat stres. The analysis of the Analisis
Gompertz functions as well as the logistic model, Gompertz fungsinya serta model logistik,
describe the process of germination under water stress menggambarkan proses
perkecambahan di bawah tekanan air
conditions, and these statistical tools could be included in kondisi, dan alat-alat statistik yang
dapat dimasukkan dalam
restoration and management programs in order to favour restorasi dan manajemen program-
program dalam rangka mendukung
the conservation and sustainable use under drought dan pemanfaatan berkelanjutan
konservasi di bawah kekeringan
conditions. kondisi.
? <='c/4‰< >?  <$.‰  .:
This project was financed by the AECID (Spanish Inter- Proyek ini dibiayai oleh AECID
(Spanyol Inter-
national Cooperation Agency for development) under the Badan Kerjasama nasional untuk
pengembangan) di bawah
grant programme of a doctoral thesis to the senior author program hibah tesis doktor kepada
penulis senior
( à " ). "à  Thanks to Girmay Fitiwi, Kiros Woldearegay Berkat Girmay Fitiwi,
Kiros Woldearegay
and Teklehaimanot Negatu from the Ethiopian Natural dan Teklehaimanot Negatu dari
Ethiopia Alam
Gums Company for provide useful information for this Gusi Perusahaan untuk memberikan
informasi yang berguna untuk ini
paper. kertas. And also to Encarna Rodr guez, Antonio Sanz Dan juga untuk Encarna
Rodr guez, Antonio Sanz
Ros, Mar a Rosario Núñez, Celia Herrero, Stella Bogino, Ros, Mar a Núñez Rosario, Celia
Herrero, Bogino Stella,
Iñaki Etxebeste, Claudia Escudero, Gonzalo Álvarez and Iñaki Etxebeste, Escudero Claudia,
dan Gonzalo Álvarez
Irene Ruano for providing technical support during the Irene Ruano untuk memberikan
dukungan teknis selama
laboratory work. kerja laboratorium.
$*$<? / * $>
Aref MI (2000). Arif MI (2000). Effects of pre-germination treatments and sowing depths
Pengaruh-perkecambahan perawatan pra dan kedalaman penaburan
upon germination potential of some à species. terhadap potensial perkecambahan
beberapa spesies à Res. Res. Bult., Res. Bult., Res.
Cent. Cent. Coll. Coll. of Agri., King Saud ^niv., 95: 5-17. Agri. Dari, Raja Saud ^niv:., 95
5-17.
Argaw M, Teketay D, Olsson M (1999). Argaw M, Teketay D, M Olsson (1999). Soil seed
flora, germination and Tanah flora benih, perkecambahan dan
regeneration pattern of woody species in an Acacia woodland of the pola regenerasi spesies
kayu di hutan Acacia dari
Rift Valley in Ethiopia. Rift Valley di Ethiopia. J. Arid Environ., 43: 411-435. J. Arid
Lingkungan:., 43 411-435.
Blate GM, Peart DR, Leighton M. 1998. Blate GM, DR cerdas, Leighton M. 1998. Post -
dispersal predation on Pasca-penyebaran predator
isolated seeds: a comparative study of 40 tree species in a Southeast terisolasi benih: studi
banding dari 40 jenis pohon dalam Tenggara
Asian rainforest. Asian hutan hujan. Oikos. Oikos. 82(3): 522-538 82 (3): 522-538
Boydak M, Dirik H, Tilki F, Calikoglu M (2003). Boydak M, Dirik H, Tilki F, Calikoglu M
(2003). Effects of Water Stress Pengaruh Stress Air
on Germination in Six Provenances of 
 Seeds from pada Pendederan di Enam
provenan Benih 
 dari
Different Bioclimatic Zones in Turkey. Zona Bioclimatic berbeda di Turki. Truke J. Agric
For., 27: 91-97. Truke J. Agric ^ntuk:., 27 91-97.
Boko M, Niang I, Nyong A, Vogel C, G itheko A, Medany M. Osman- Boko M, Niang aku,
Nyong A Vogel C,, Githeko A, Medany M. Osman -
Elasha B, Tabo R, Yanda P (2007). Elasha B, R Tabo, Yanda P (2007). Africa. Afrika.
Climate Change 2007: Perubahan Iklim 2007:
Impacts, Adaptation and Vulnerability. Dampak, Adaptasi dan Kerentanan. Contribution of
Working Group Kontribusi Kelompok Kerja
II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on II Laporan Penilaian
Keempat dari Panel Antarpemerintah tentang
Climate Change. Perubahan Iklim. In: Parry ML, Canziani OF, Palutikof JP, van der Dalam:
ML Parry, OF Canziani, Palutikof JP, van der
Linden PJ, Hanson CE (eds) Cambridge ^niversity Press, Linden PJ, Hanson CE (eds)
Cambridge ^niversity Press,
Cambridge, ^K, pp. 433-467. Cambridge, Inggris, hal 433-467.
Bravo F, Núñez MR, Pando V, Sierra de Grado R, Al a, R. (2010). Bravo F, MR Núñez,
Pando V, Sierra de Grado R, Alia, R. (2010). Is the Apakah
germination of Pinus pinaster determined by the drought stress and Pinus pinaster
perkecambahan ditentukan oleh stres kekeringan dan
temperature oscillation? osilasi suhu? (^npublished). (Tidak diterbitkan).
Choinski JS, Tuohy, JM (1991). JS Choinski, Tuohy, JM (1991). Effect of Water Potential
and Pengaruh Air dan Potensi
Temperature on the Germination of 4 species of African Savanna Suhu Terhadap
Perkecambahan 4 spesies Afrika Savanna
Trees. Pohon. Annals Botany. Botani Annals. 68(3): 227-233 68 (3): 227-233
Danthu P, Ndongo M, Diaou M, Thiam O, Sarr A, Dedhiou B, Ould Danthu P, M Ndong o, M
Diaou, O Thiam, Sarr A B Dedhiou,, Ould
Mohamed Vall A (2003). Mohamed Vall A (2003). Impact of bush fire on the germination of
Dampak dari kebakaran semak pada perkecambahan
West African Acacias. Afrika Barat Acacias. Forest Ecology and Management. Ekologi
Hutan dan Manajemen. 173: 1-10 173: 1-10
Draper NR, Smith H (1981). NR Draper, H Smith (1981). Applied regression analysis, 2
Terapan analisis regresi, 2
nd nd
ed, John ed, John
Wiley & Sons Inc., New York. Wiley & Sons Inc, New York.
Eisa MA, Roth M, Sama G (2008). à (Gum Arabic Tree): Eisa MA, Roth M,
Sama G (2008)). à (Getah Arab Tree:
Present Role and Need for Future Conservation/ Sudan: Proceeding Hadir Peran dan
Kebutuhan untuk Konservasi Masa Depan / Sudan: Prosiding
"Competition for Resources in a Changing World: New Drive for Rural "Persaingan
Sumberdaya dalam Dunia yang Berubah: Drive Baru untuk Pedesaan
Development" Deutscher Tropentag, Hohenheim, pp. 1-5. Pembangunan "Deutscher
Tropentag, Hohenheim, hal 1-5.

? 
? 

Falleri E (1994). Falleri E (1994). Effect of water stress on germination in six Pengaruh stres
air terhadap perkecambahan di enam
provenances of 
Ait. provenan dari 
Ait. Seed Sci. Benih Sci.
Technol., 22: 591-599 Technol, 22:. 591-599
Hosmer DW, Lemeshow S (1989). Hosmer DW, S Lemeshow (1989). Applied logistic
regression. Terapan regresi logistik. John John
Wiley and Sons, New York. Wiley and Sons, New York.
Kozlowski TT (2002). TT Kozlowski (2002). Physiological ecology of natural regeneration
of Fisiologis ekologi regenerasi alami
harvested and disturbed forest stands: implications for forest dipanen dan terganggu tegakan
hutan: implikasi untuk hutan
management. manajemen. Forest Ecol. Hutan Ecol. Manage., 158(1-3): 195-221 Mengelola:.,
158 (1-3) 195-221
Kozlowski TT, Pallardy SG (2002). TT Kozlowski, SG Pallardy (2002) . Acclimation and
adaptive responses Aklimatisasi dan tanggapan adaptif
of woody plants to environmental stresses. tanaman berkayu untuk tekanan lingkungan.
Botanical Rev., 68(2): Botani Rev, 68 (2):
270-334 270-334
Loha A, Tigabu M, Fries A (2008). Loha A, M Tigabu, Fries A (2008). Genetic variation
among and within Variasi genetik antara dan di dalam
populations of A
à
 in seed size and germination populasi à
A
 dalam
ukuran biji dan perkecambahan
responses to constant temperatures. tanggapan terhadap suhu konstan. Euphytica, 165(1):
189-196. Euphytica, 165 (1): 189 -196.
Mahmood S, Ahmed A, Hussain A, Athar M (2005). Mahmood S, Ahmed A, Hussain A, M
Athar (2005). Spatial pattern of Pola spasial
variation in populations of à in semi-arid environment, J. variasi dalam
populasi à di lingkungan semi-kering, J.
Environ. Lingkungan. Sci., 2(3): 193-199. Sci:., 2 (3) 193-199.
Michel BE, Kaufmann MR (1973). Michel BE, Kaufma nn MR (1973). The osmotic potential
of Polyethylene Potensi osmotik Polyethylene
Glycol 6000. Glikol 6000. Plant Physiology. Plant Physiology. 51: 914 -916. 51: 914-916.
Michel BE (1983). Michel BE (1983). Evaluation of the water potential of solutions of
Evaluasi potensi air solusi
Glycol 8000 both in the absence and presence of other solutes, Plant Glikol 8000 baik dalam
ketiadaan dan kehadiran zat terlarut lainnya, Pabrik
Physiol., 72: 66-70. Physiol:., 72 66-70.
Michael M, Tadesse W (2004). Michael M, W Tadesse (2004). Genetic Conservation of
Ethiopia's Non- Konservasi genetik Ethiopia Non-
timber Forest Poduct Source Species In Michael and Tadesse (eds) Hutan kayu Poduct
Sumber Spesies Dalam Michael dan Tadesse (eds)
Conservation of Genetic Resources of Non-Timber Forest Products in Konservasi Sumber
Daya Genetik Hutan Kayu-Non di
Ethiopia: Proceedings of the First National Workshop on Non-Timber Ethiopia: Prosiding
Lokakarya Nasional Pertama pada Non-Kayu
Forest Products in Ethiopia, April 2004, Addis Ababa, Ethiopia, pp 9- Hasil Hutan di
Ethiopia, April 2004, Addis Ababa, Ethiopia, pp 9 -
17. 17.
Kassa et al. Kassa et al. 359 359
Miller JT, Andrew RA, Maslin BR (2002). Miller JT, RA Andrew, Maslin BR (2002).
Towards an understanding of Menuju pemahaman tentang
variation in the Mulga complex ( à-
 and relatives). variasi di kompleks Mulga
à  
 dan kerabat).
Conserv. Conserv. Sci. Sci. W. Aust. W. Aust. 4: 19-35. 4: 19-35.
Owens MK, Wallace RB, Archer S (1995). Owens MK, Wallace RB, S Archer (1995). Seed
dormancy and Dormansi benih dan
persistence of à

 and .
 in a kegigihan à


 dan .
 dalam
semi-arid environment. semi-kering lingkungan. J. Arid Environ., 29: 15-23. J. Arid
Lingkungan:., 29 15-23.
SAS Institute Inc (2004). SAS Institute Inc (2004). SAS/STAT(R) 9.1. SAS / STAT (R) 9.1.
^sers guide. Pengguna panduan. SAS Institute SAS Institute
Inc., Cary NC Inc, Cary NC
Sy A, Grouzis M, Danthu P (2001). Sy A, Grouzis M, P Danthu (2001). Seed germination of
seven Sahelian Perkecambahan biji tujuh Sahelian
legume species. legum spesies. J. Arid Environ., 49: 875-882. J. Arid Lingkungan:., 49 875-
882.
Teketay D (1996). Teketay D (1996). Germination ecology of twelve indigenous and eight
Perkecambahan ekologi dari dua belas adat dan delapan
exotic multipurpose leguminous species from Ethiopia. spesies eksotik serbaguna polongan
dari Ethiopia. Forest Ecol. Hutan Ecol.
Manage., 80: 209-223.Travlos IS, Economou G, Karamanos AJ Mengelola:., 80 209-
223.Travlos IS, G Economou, Karamanos AJ
(2007). (2007). Seed germination and seedling emergence of 
 Perkecambahan biji
dan munculnya bibit 

 L In response to heat and other pre-sowing treatments.  L Sebagai respon
terhadap panas dan lain pra-menabur perawatan. J. J.
Agronomy, 6(1): 152-156. Agronomi, 6 (1): 152-156.
Villamedina I, Pedranzani HE; Sierra de GR (2007). Villamedina Aku, Pedranzani DIA;
Sierra de GR (2007). Respuesta clonal al Respuesta al klonal
cultivo in Vitro en - (Ait) Sm. cultivo in Vitro  en -
(Ait) Sm. Con fines de Con denda de
conservación. conservación. VII Reunión de la Sociedad de cultivo in Vitro de VII Reunion
de la Sociedad de cultivo in Vitro de
Tejidos Vegetales. Tejidos Vegetales. Alcalá de Hernares, Madrid. Alcála de Hernares,
Madrid.
Wolfram S (1999). Wolfram S (1999). The mathematica book, Cambridg ^niversity Press,
Buku mathematica, Cambridg ^niversity Press,
Cambridg, ^K. Cambridg, Inggris.
Zida D (2007). Zida D (2007). Impact of Forest Management Regimes on Ligneous Dampak
rezim Pengelolaan Hutan di lignin
Regeneration in the Sudanian Savanna of Burkina Faso. Regenerasi di Savanna Sudanian dari
Burkina Faso. Doctoral Doktor
thesis. tesis. Swedish ^niversity of Agricultural Sciences. Swedia ^niversitas Ilmu Pertanian
p