Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KELOMPOK KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

“ Tentang Evidence Based Nursing Pada Kasus ACS “

Oleh :

ARDILA SEPRIMA BENA 1821312020

VILDA RIYENA 1821312018

DESI MITRA BUDI YANTI 1821312023

Dosen : Ns. Elvi Oktarina, M.Kep, Sp. KMB

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2018

1
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom Koroner Akut (SKA) atau penyakit kardiovaskular saat ini
merupakan salah satu penyebab utama dan pertama kematian dinegara maju dan
berkembang, termasuk Indonesia (Depkes,2006). SKA merupakan penumpukan
plaque baik total maupun sebagian yang disebabkan oleh terbentuknya bekuan
darah yang menutupi dinding pembuluh darah yang sudah pecah plaque ini
mengurangi ruang gerak dari aliran darah. Hal ini tidak lepas dari aktivitas otot
jantung lapisan tengah dari jaringan otot yang tebal, dan bertanggung jawab untuk
kegiatan utama pemompaan ventrikel, indikator yang terlihat meliputi tekanan
darah, frekuensi nadi dan gambaran EKG (Hayes,S.C, et al, 1999).
Manifestasi klinis dari Acute Coronery Syndrome (ACS) adalah adanya nyeri
dada yang khas, perubahan EKG, dan peningkatan enzim jantung. Nyeri dada khas Acute
Coronery Syndrome (ACS) dicirikan sebagai nyeri dada dibagian substernal, retrosternal
dan precordial. Karakteristik seperti ditekan, diremas, dibakar, terasa penuh yang terjadi
dalam bebrapa menit. Nyeri dapat menjalar ke dagu, leher, bahu, punggung, atau kedua
lengan (Muttaqin, 2009)
Tujuan penatalaksanaan ACS adalah untuk memperbaiki prognosis dngan cara
mencegah infark miokard lanjut dan mencegah kematian. Upaya yang dilakukan adalah
mengurangi terjadinya trombotik akut dan disfungsi ventrikel kiri (Majid, 2008).
Pengenalan ACS sangat penting diketahui dan dipahami oleh perawat. Perawat perlu
untuk memahami patofisiologis ACS, nyeri dada yang khas pada ACS, analisa EKG dan
hasil laboratorium sebagai kunci utama pengkajian ACS. Perawat sebagai bagian dari
tenaga kesehatan, mempunyai peran yang sangat strategis dalam penatalaksanaan ACS
tersebut.
Perawat profesional yang menguasai satu area spesifik sistem kardiovaskular
sangat dibutuhkan dalam melakukan proses keperawatan secara optimal penanganan
pasien yang optimal akan menghindarkan dari risiko komplikasi yang akan memperburuk
pasien dan menghindarkan dari risiko kematian.
Prasetyo (2010) mengemukakan bahwa dalam beberapa kasus nyeri yang sifatnya
ringan, tindakan non farmakologi adalah intervensi yang paling utama, sedangkan

2
tindakan famakologi dipersiapkan untuk mengantisipasi perkembangan nyeri. Pada kasus
nyeri untuk mengatasi nyeri disamping tindakan farmakologi yang utama.
Menurut Tamsuri (2006) tindakan non farmakologi untuk mengatasi nyeri terdiri
dari beberapa tindakan penanganan. Yang pertama berdasarkan penanganan fisik atau
stimulasi fisik meliputi stimulasi kulit, stimulasi elektrik (TENS), akupuntur, placebo,
massage, terapi es dan panas. Yang kedua berdasarkan intervensi perilaku kognitif
meliputi relaksasi, umpan balik biologis, mengurangi persepsi nyeri, hipnotis, distraksi,
guide imaginary (imajinasi terbimbing).
Relaksasi Benson adalah salah satu cara untuk mengurangi nyeri dengan
mengalihkan perhatian kepada relaksasi, sehingga kesadaran klien terhadap nyerinya
berkurang, relaksasi ini dilakukan dengan cara menggabungkan relaksasi yang diberikan
dengan kepercayaan yang dimiliki klien. Relaksasi adalah tehnik mengatasi kekhawatiran
/ kecemasan atatu stress melalui pengendoran otot otot dan syaraf, itu terjadi atau
bersumber pada objek – objek tertentu. Relaksasi merupkan suatu kondisi istirahat pada
aspek fisik dan mental manusia, sementara aspek spirit tetap aktif bekerja. Dalam
keadaan relaksasi, seluruh tubuh dalam keadaan homeostatis atau seimbang, dalam
keadaan tenang tapi tidak tertidur, dan seluruh otot – otot dalam keadaan rileks dengan
posisi tubuh yang nyaman (Benson & Proctor, 2013)

B. Tujuan Penerapan EBN


1. Untuk membuktikan efektifitasnya terapi relaksasi benson untuk
mengurangi nyeri dada pada pasien Sindrom Koroner Akut
2. Untuk mengetahui sejauh mana pengembangan ilmu keperawatan untuk
memberikan intervensi EBN

C. Manfaat Penelitian
1. Diharapkan Hasil EBN ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam
penyusunan standar prosedur keperwatan pada pasien dengan Sindrom
Koroner Akut.
2. Diharapkan Hasil EBN ini dapat mengembangkan keilmuan keperawatan
Medical Bedah dalam intervensi keperawatan pada pasien dengan
Sindrom Koroner Akut.
3. Diharapkan dengan adanya EBN ini dapat menurunkan terjadinya
komplikasi pada pasien dan meningkatkan kenyamanan pada pasien

3
dengan Sindrom Koroner Akut sehingga akan meningkatkan kualitas
hidup,mengurangi angka kesakitan dan menurunkan biaya keperawatan.

4
BAB II
PENELUSURAN EVIDENCE DAN TELAAH KRITISI

Evidence based nursing yang akan diterapkan pada pasien ACS yaitu
Relaksasi Benson merupakan tehnik relaksasi yang digabungkan dengan keyakinan yang
dianut oleh pasien. Kata atau kalimat tertentu yang dibaca berulang-ulang dengan
melibatkan unsur keimanan dan keyakinan. Ungkapan yang dipakai dapat berupa nama
Tuhan atau kata-kata lain yang memiliki makna menenangkan bagi pasien ( Benson &
Proctor, 2000, dalam Purwanto 2006). Dalam Relaksasi Benson mekanisme “gerbang”
yang berlokasi di sepanjang sistem saraf pusat dapat mengatur atau bahkan menghambat
impuls-impuls nyeri. Penutupan gerbang merupakan dasar terhadap intervensi
nonfarmakologis dalam penanganan nyeri (Benson, 2010). Rangsangan berbahaya seperti
adanya iskemia, infark miokard akan mengaktifkan saraf parasimpatis sehingga
menimbulkan nyeri. Stimulus nyeri dada akan diubah menjadi impuls listrik, perubahan
energi ini dinamakan transduksi. Transduksi dimulai ketika stimulus terjadinya nyeri
dada mengirimkan impuls yang melewati nosiseptor (saraf pancaindera yang
menghantarkan stimulus nyeri dada ke otak), maka akan menimbulkan potensial aksi.
Setelah proses transduksi selesai, transmisi impuls nyeri dimulai.
Proses transmisi merupakan proses penyaluran impuls melalui saraf sensoris
setelah terjadi proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan
serabut C dari perifer ke sistem saraf spinotalamik. Ketika stimulus nyeri dada sampai ke
korteks serebral, maka otak akan menginterpretasikan kualitas nyeri dada dan memproses
dari pengalaman yang telah lalu, pengetahuan, serta faktor budaya kemudian
diterjemahkan sebagai persepsi nyeri dada dimana seseorang sadar akan timbulnya nyeri
dada (McCaffery dan Pasero, 1999 dalam Potter & Perry, 2010).
Terhambatnya transmisi impuls nyeri merupakan fase keempat dari proses
nosiseptif yang dikenal sebagai modulasi. Pada tahap mengambil sikap pasif dalam
relaksasi Benson akan menghambat sel Transmiter dalam menstransmisikan impuls nyeri
dada ke otak (menutup gerbang) dan menghambat kerja saraf parasimpatis sehingga
menimbulkan perasaan rileks. Perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk
merangsang pengeluaran hormon endorphin. Hormon ini bertindak seperti morphin
(Potter & Perry, 2010).

5
A. Pertanyaan Klinis
Berdasarkan latar belakang yang sudah penulis uraikan diatas maka dapat
dirumuskan masalah dalam pertanyaan klinis “Pada pasien acs apakah teknik
relaksasi benson dapat menormalkan tekanan darah, nadi dan ekg pasien di
rumah sakit ?”. Untuk lebih jelasnya akan digambarkan dalam bentuk PICO
seperti pada table dibawah ini:

Tabel 4.1

Analisis PICO
Unsur PICO
Analisis Kata Kunci
(Terapi)
P Pasien ACS Acute syndrome
coronary
I Teknik relaksasi benson Benson relaxation
therapy
C standar intervensi pada ACS management guide
pasien dengan ACS di line
Rumah Sakit
O Menurunkan nyeri dada Decrease chest pain

B. Temuan Penelusuran
Penulis menemukan jurnal yang relevan dengan topik EBN untuk pasien
ACS yaitu
1. PERBEDAAN SKALA NYERI DADA SEBELUM DAN
SESUDAH PEMBERIAN RELAKSASI BENSON PADA
PASIEN SINDROMA KORONER AKUT DI RSUD KRT
SETJONEGORO DAN RS PKU MUHAMMADIYAH
WONOSOBO

C. Telaah Kritisi

6
Penulis akan menguraikan deskripsi jurnal utama yang digunakan dalam
menerapkan EBN. Penulis akan menjelaskan beberapa poin yang terkait jurnal
utama sebagai berikut:

1. Judul Penelitian
Judul penelitian jurnal utama adalah “PERBEDAAN SKALA NYERI
DADA SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN RELAKSASI
BENSON PADA PASIEN SINDROMA KORONER AKUT DI RSUD
KRT SETJONEGORO DAN RS PKU MUHAMMADIYAH
WONOSOBO”.
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan nyeri dada pada pasien SKA.
3. Metode dan Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-experiment dengan one group
pre-test posttest design. Sampel 15 pasien Sindroma Koroner Akut diambil
dengan metode purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah numeric
pain scale untuk mengukur skala nyeri sebelum dan sesudah relaksasi Benson
yang dilakukan selama 10 menit, 1 kali sebelum sarapan. Uji statistik yang
digunakan adalah Wilcoxon test.
4. Hasil Penelitian
Skala nyeri dada sebelum perlakuan adalah dengan median 4,00 dengan skala
nyeri miminum 3, maksimum 6. Sedangkan skala nyeri sesudah perlakuan adalah
dengan median 3,00, skala nyeri minimum 2, maksimum 5. Ada perbedaan yang
bermakna skala nyeri sebelum dan sesudah relaksasi Benson pada pasien
Sindroma Koroner akut di RSUD KRT Setjonegoro dan RS PKU
Muhammadiyah Wonosobo dengan p-value 0,000 (=0,05).menggunakan chi
square test diperoleh nilai P-Value 0,001 (p-<0,05).

5. Aplikabilitas (aplicability)
Penerapan evidence Based Nursing (EBN) mengenai pemberian relaksasi
benson dalam menurunkan tekanan darah pada pasien ACS dapat
dilakukan di Rumah Sakit atau di wilayah kerja Puskesmas karena :
a. Penerapan EBN dilakukan dengan sederhana
b. Tindakan EBN ini merupakan tindakan mandiri perawat dank lien

7
juga mampu melakukan secara mandiri tanpa berrgantung pada orang
lain.
c. Dari segi biaya tidak memakan banyak biaya dalam penerapan EBN
ini
Dari alasan inilah penulis berkesimpulan bahwa EBN ini mampu
diterapkan pada pasien ACS.

D. Analisis Jurnal Untuk Penerapan EBN


Sindroma Koroner Akut merupakan manifestasi akut dari plak ateroma pembuluh
darah koroner yang koyak atau pecah. Hal ini berkaitan dengan perubahan komposisi
plak dan penipisan tundung fibrus yang menutupi plak tersebut. Kejadian ini akan diikuti
oleh proses agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi. Terbentuklah trombus yang
kaya tromosit (white trombus). Trombus ini akan menyumbat liang pembuluh darah
koroner, baik secara total maupun parsial; atau menjadi mikroemboli yang menyumbat
pembuluh koroner yang lebih distal. Selain itu terjadi pelepasan zat vasoaktif yang
menyebabkan vasokonstriksi sehingga memperberat gangguan aliran darah koroner.
Berkurangnya kadar oksigen mengakibatkan miokardium mengubah metabolisme
yang bersifat aerob menjadi metabolisme anaerob. Metabolisme anaerob yang melewati
lintasan glikolisis jauh lebih tidak efisien apabila dibandingkan dengan metabolisme
aerob melalui fosforilasi oksidatif dan siklus krebs. Pembentukan fosfat berenergi tinggi
menurun cukup besar. Hasil akhir metabolisme anaerob yaitu asam laktat yang akan
tertimbun/meningkat, sehingga menurunkan pH sel sehingga timbul keluhan nyeri dada.
Relaksasi Benson merupakhan tehnik relaksasi yang digabungkan dengan keyakinan
yang dianut olrh pasien. Kata atau kalimat tertentu yang dibaca berulang-ulang dengan
melibatkan unsur keimanan dan keyakinan akan menimbulkan respon relaksasi yang
lebih kuat dibandingkan dengan relaksasi tanpa melibatkan unsur keyakinan. Ungkapan
yang dipakai dapat berupa nama Tuhan atau kata-kata lain yang memiliki makna
menenangkan bagi pasien (Benson & Proctor, 2010). Relaksasi Benson disamping
mengendurkan otot-otot secara sadar, juga memperhatikan faktor ketenangan lingkungan
yang menjadi dasar utama, kemudian memusatkan diri selama 10 sampai 20 menit pada
ungkapan yang dipilih, dan bersifat pasif pada pikiran-pikiran yang mengganggu
(Benson, 2010).
Dalam Relaksasi Benson mekanisme “gerbang” yang berlokasi di sepanjang sistem
saraf pusat dapat mengatur atau bahkan menghambat impuls-impuls nyeri dada.
Penutupan gerbang merupakan dasar terhadap intervensi nonfarmakologis dalam

8
penanganan nyeri dada (Benson, 2010). Rangsangan berbahaya seperti adanya iskemia,
infark miokard akan mengaktifkan saraf parasimpatis sehingga menimbulkan nyeri dada.
Stimulus nyeri akan diubah menjadi impuls listrik, perubahan energi ini dinamakan
transduksi. Transduksi dimulai ketika stimulus terjadinya nyeri mengirimkan impuls yang
melewati nosiseptor (saraf pancaindera yang menghantarkan stimulus nyeri dada ke
otak), maka akan menimbulkan potensial aksi. Setelah proses transduksi selesai, transmisi
impuls nyeri dimulai
Proses transmisi merupakan proses penyaluran impuls melalui saraf sensoris setelah
terjadi proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan
serabut C dari perifer ke sistem saraf spinotalamik. Sepanjang sistem spinotalamik,
impuls-impuls nyeri dada berjalan melintasi medula spinalis. Setelah impuls nyeri dada
naik ke medula spinalis, talamus mentransmisikan informasi ke pusat yang lebih tinggi di
otak, termasuk pembentukan jaringan, sistem limbil, korteks somatosensori, dan
gabungan korteks. Ketika stimulus nyeri dada sampai ke korteks serebral, maka otak akan
menginterpretasikan kualitas nyeri dada dan memproses dari pengalaman yang telah lalu,
pengetahuan, serta faktor budaya kemudian diterjemahkan sebagai persepsi nyeri dada
dimana seseorang sadar akan timbulnya nyeri dada. Sesaat setelah otak menerima
stimulus nyeri dada, terjadi pelepasan neurotransmitter inhibitor seperti opioid endogenus
(endorphin dan enkefalin), serotonin, norepinefirin dan asam aminobutirikgamma yang
bekerja menghambat transmisi impuls nyeri dada dan membantu menciptakan efek
analgesik (McCaffery dan Pasero, 1999 cit Potter & Perry, 2010).
Terhambatnya transmisi impuls nyeri merupakan fase keempat dari proses nosiseptif
yang dikenal sebagai modulasi. Pada tahap mengambil sikap pasif dalam relaksasi
Benson akan menghambat sel Transmiter dalam menstransmisikan impuls nyeri dada ke
otak (menutup gerbang) dan menghambat kerja saraf parasimpatis sehingga menimbulkan
perasaan rileks. Perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk merangsang
pengeluaran hormon endorphin. Hormon ini bertindak seperti morphin, bahkan dikatakan
200 kali lebih besar dari morphin dan dianggap sebagai penghilang rasa sakit yang
terbaik. (Haruyama, 2011). Proses tersebut menyebabkan aktifitas serabut saraf delta A
dan serabut C (mujembawa impuls nyeri dada karena iskemia) tidak dapat menyalurkan
impuls nyeri dada ke otak. Bila tidak ada informasi nyeri dada yang disampaikan melalui
saraf asenden ke otak, maka tidak ada nyeri dada yang dirasakan (Potter & Perry, 2010).
Hasil telaah jurnal yakni Skala nyeri dada sebelum perlakuan adalah dengan
median 4,00 dengan skala nyeri miminum 3, maksimum 6. Sedangkan skala nyeri
sesudah perlakuan adalah dengan median 3,00, skala nyeri minimum 2, maksimum 5.

9
Ada perbedaan yang bermakna skala nyeri sebelum dan sesudah relaksasi Benson pada
pasien Sindroma Koroner akut di RSUD KRT Setjonegoro dan RS PKU Muhammadiyah
Wonosobo dengan p-value 0,000 (=0,05).

BAB III

10
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Asuhan keperawatan dengan pemilihan model konsep atau teori
keperawatan yang sesuai dengan karakteristik klien dapat memberikan
asuhan keperawatan yang relevan.
2. Perawat menurut Virginia Handerson memiliki tugas unik yaitu adalah
perawat harus mampu membantu individu, baik dalam keadaan sakit
maupun sehat melalui usaha melaksanakan berbagai aktivitas guna
mendukung kesehatan dan penyembuhan individu atau proses meninggal
dengan damai, yang dapat dilakukan secara mandiri oleh individu saat ia
memiliki kekuatan, kemampuan, kemauan, atau pengetahuan untuk itu.
3. Menurut penulis penerapan teori Virginia Handerson dalam pemberian
asuhan keperawatan pada klien ACS sudah cukup efektif dan tepat karena
teori Virginia Handerson ini mengkaji klien sebagai individu yang
mengacu pada 14 kebutuhan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhan
bio, psiko, social dan spiritual klien.
4. Penerapan EBN yang dilakukan penulis berdasarkan masalah keperawatan
yang muncul yaitu meningkatnya tekanan darah pada klien ACS dapat
diatasi dengan menerapkan EBN latihan fisik terarah.

DAFTAR PUSTAKA

11
Ackley, B. J., & Ladwig G. B.(2011), Nursing diagnosis handbook: an evidence
based guide to planning care, Mosby.Elsevier

Arif, Mansjoer, dkk., ( 2000 ), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Medica


Aesculpalus, FKUI, Jakarta.

Alligood & Tomey. (2006). “Nursing Theory : Utilization & Application 4th
edition”. Mosby, Inc. Elsevier’s Health Sciences Rights Department in
Philadelphia : USA.

Alligood, Martha Raille and Ann Marriner Tomey. (2006). “Nursing Theorists
and Their Work”. Elsevier mosby : St.Louis, Missouri.

Dillon, P. M. (2007). Nursing health assessment: a critical thinking, case studies


approach. 2th edition. Philadelphia: F. A. Davis Company.

Kozier [et.al]. (2002). “Kozier and Erb’s Techniques In Clinical Nursing 5th
edition”. Pearson Education, Inc. : New Jersey.

Prihardjo, R. (2007). “Pengkajian Fisik Keperawatan”. EGC: Jakarta

Sitzman, Kathleen L and Lisa Wright Eichelberger. (2011). “Understanding the


Work of Nurse Theorists, A Creative Beginning 2nd”. Jones and Bartlett Publishers:
Massachusetts.

Silbernagl, S., & Lang, F. (2006). Teks & atlas berwarna patofisiologi. (Iwan
Setiawan & Iqbal Mochtar, Penerjemah). Jakarta: EGC.

Smeltzer, S.C dan Brenda, GB. (2007). “Buku Ajar Keperawatan Medical
Bedah”. EGC: Jakarta

Smeltzer & Bare.2014. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC

Willms, Janice L. (2005). “Diagnosis Fisik Evaluasi Diagnosis dan Fungsi di


Bangsal”. EGC: Jakarta

Badriyah, Fatin Lailatul. 2018. “Latihan Fisik Terarah Penderita Post Sindrom
Koroner Akut dalam Memperbaiki Otot Jantung” Journal UMS

12