Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

KESALAHAN SPEKTROFOTOMETRI

OLEH:

KELOMPOK VII

Wayan Ria Medisina 0808505030


I Gede Dwija Bawa Temaja 0808505031
Rico Pramana Sugiarto 0808505032
Made Adi Wira Darma 0808505033
Arry Andi Yastawa 0808505034

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
BUKIT JIMBARAN
2010
Kesalahan Spektrofotometri

I. Tujuan
1. Untuk mengetahui kesalahan pengukuran karena variasi konsentrasi larutan
2. Menetapkan pada nilai absorban atau transmitan yang memberikan kesalahan
minimal

II. Dasar Teori


Pengukuran absorbansi untuk tujuan analisis kuantitatif dengan metode
spektrofotometri uv-visibel harus memenuhi hokum Lambert-Beer. Hukum Lambert Beer
berlaku dengan baik bila larutannya tidak terlalu encer ataupun pekat. Kesalahan relative
minimal yang diberikan /dihasilkan larutan tersebut terjadi bila absorbansinya = 0,434
atau transmisinya 36,8%. Umumnya di dalam prosedur analisis kuantitatif serapan larutan
yang diukur sebaiknya berada pada rentang transmitan 15-75%. (Widjaja dan Laksmiani,
2010).
Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari Hukum
Lambert-Beer, yaitu:
A = - log T = - log It / Io = ε . b . C
Dimana : A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur
T = Transmitansi
I0 = Intensitas sinar masuk
It = Intensitas sinar yang diteruskan
ε = Koefisien ekstingsi
b = Tebal kuvet yang digunakan
C = Konsentrasi dari sampel

Dalam spektrometri molekular kuantitatif, pengukuran absorbansi atau


transmitans dibuat berdasarkan satu seri (rangkaian) larutan pada panjang gelombang
yang telah ditetapkan. Panjang gelombang paling yang sesuai ditentukan dengan
membuat spektrum absorbsi dimana panjang gelombang yang paling sesuai adalah yang
menghasilkan absorbansi maksimum. Selanjutnya panjang gelombang ini digunakan
untuk pengukuran kuantitatif. Dengan menggunakan panjang gelombang dari absorbansi
118 yang maksimum, maka jika terjadi penyimpangan (deviasi) kecil panjang gelombang
dari cahaya masuk hanya akan menyebabkan kesalahan yang kecil dalam pengukuran
tersebut. Jika panjang gelombang dipilih dari daerah spektrum di mana ada suatu
perubahan yang besar absorbansi dalam daerah (range) panjang gelombang yang sempit,
maka jika terjadi penyimpangan (deviasi) kecil panjang gelombang dari cahaya masuk
akan menyebabkan kesalahan yang besar dalam pengukuran absorbansi tersebut.

Gambar 1. Spektrum absorpsi dan kurva standar

Istilah kesalahan didasarkan pada perbedaan antara hasil pengukuran (nilai


perhitungan) dengan nilai sebenarnya. Nilai sebenarnya dari suatu kuantitas yang diukur
merupakan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui secara pasti (Rohman dan Gandjar,
2009)
Pada dasarnya setiap pengukuran dalam analisis kimia selalu mengandung
kesalahan. Semakin banyak langkah dalam melakukan tahapan analisis, maka kesalahan
yang terjadi semakin besar (Rohman dan Gandjar, 2009).
Ada tiga macam kesalahan dalam analisis kimia yaitu:
1. Kesalahan serius (Gross error)
Tipe kesalahan ini sangat fatal, sehingga konsekuensinya pengukuran harus diulangi.
Contoh dari kesalahan ini adalah kontaminasi reagent yang digunakan, peralatan yang
memang rusak total, sampel yang terbuang, dan lain lain. Indikasi dari kesalahan ini
cukup jelas dari gambaran data yang sangat menyimpang, data tidak dapat
memberikan pola hasil yang jelas, tingkat reprodusibilitas yang sangat rendah dan lain
lain.
2. Kesalahan acak (Random error)
Golongan kesalahan ini merupakan bentuk kesalahan yang menyebabkan hasil dari
suatu perulangan menjadi relatif berbeda satu sama lain, dimana hasil secara
individual berada di sekitar harga rata-rata. Kesalahan ini memberi efek pada tingkat
akurasi dan kemampuan dapat terulang (reprodusibilitas). Kesalahan ini bersifat wajar
dan tidak dapat dihindari, hanya bisa direduksi dengan kehati-hatian dan konsentrasi
dalam bekerja.
3. Kesalahan sistematik (Systematic error)
Kesalaahn sistematik merupakan jenis kesalahan yang menyebabkan semua hasil data
salah dengan suatu kemiripan. Hal ini dapat diatasi dengan:
a. Standarisasi prosedur
b. Standarisasi bahan
c. Kalibrasi instrument
(Tahir, 2007).
Kesalahan gamblang merupakan kesalahan yang sudah jelas karena melibatkan
kesalahan yang besar, akibatnya kita harus memutuskan untuk mengabaikan percobaan
yang telah kita lakukan dan memulainya dari awal lagi secara menyeluruh. Contoh
kesalahan gamblang adalah sampel tumpah; pereaksi yang akan digunakan tercemarr;
larutan yang dipersiapkan salah; dan alat yang digunakan rusak (Rohman dan Gandjar,
2009)
Hasil pengukuran yang baik dari suatu parameter kuantitas kimia, dapat dilihat
berdasarkan tingkat presisi dan akurasi yang dihasilkan. Akurasi menunjukkan kedekatan
nilai hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya. Untuk menentukan tingkat akurasi perlu
diketahui nilai sebenarnya dari parameter yang diukur dan kemudian dapat diketahui
seberapa besar tingkat akurasinya. Presisi menunjukkan tingkat reliabilitas dari data yang
diperoleh. Hal ini dapat dilihat dari standar deviasi yang diperoleh dari pengukuran,
presisi yang baik akan memberikan standar deviasi yang kecil dan bias yang rendah. Jika
diinginkan hasil pengukuran yang valid, maka perlu dilakukan pengulangan, misalnya
dalam penentuan nilai konsentrasi suatu zat dalam larutan larutan dilakukan pengulangan
sebanyak n kali. Dari data tersebut dapat diperoleh ukuran harga nilai terukur adalah rata-
rata dari hasil yang diperoleh dan standar deviasi. Perbandingan dari tingkat presisi,
akurasi dan bias dari suatu hasil pengukuran dapat diilustrasikan pada gambar 1.

Gambar 2. Perbandingan tingkat presisi, akurasi dan bias

Gambar 1 menyajikan pola target hasil dari olah raga menembak atau memanah yang
analog dengan pola hasil pengukuran analitik yang ideal. Pada gambar 1 (a) sebaran data
cukup baik dan mendekati data aslinya. Hasil data dikatakan presisi dan tidak bias atau
tidak menyimpang. Gambar 1 (b) menunjukkan sebaran data yang presisi, tetapi
menyimpang dari target yang sebenarnya berarti data dikatakan bias. Gambar 1 (c)
menunjukkan sebaran data yang meluas berarti data yang diperoleh tidap presisi. Data 1
(c) tersebut tidak bias relatif jika dibandingkan dengan data 1 (d) yang sama-sama tidak
presisi. Faktor-faktor presisi dan bias ini sangat ditentukan oleh terjadinya faktor-faktor
kesalahan yang terjadi selama pengukuran. (Tahir, 2007).
Salah satu contoh instrumentasi analisis yang lebih kompleks adalah
spektrofotometer UV-Vis. Alat ini banyak bermanfaat untuk penentuan konsentrasi
senyawa-senyawa yang dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet (200 – 400 nm)
atau daerah sinar tampak (400 – 800 nm) Analisis ini dapat digunakan yakni dengan
penentuan absorbansi dari larutan sampel yang diukur. (Tahir, 2007).
Penyebab kesalahan sistematik yang sering terjadi dalam analisis menggunakan
spektrofotometer adalah:
a) Serapan oleh pelarut
Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan yang berisi matrik
selain komponen yang akan dianalisis.
b) Serapan oleh kuvet
Kuvet yang biasa digunakan adalah dari bahan gelas atau kuarsa. Dibandingkan
dengan kuvet dari bahan gelas, kuvet kuarsa memberikan kualitas yang lebih baik,
namun tentu saja harganya jauh lebih mahal. Serapan oleh kuvet ini diatasi dengan
penggunaan jenis, ukuran, dan bahan kuvet yang sama untuk tempat blangko dan
sampel.
c) Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat rendah atau
sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan
kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan. (melalui pengenceran atau pemekatan)
Untuk mengatasi kesalahan pada pemakaian spektrofotometer UV-Vis maka perlu
dilakukan kalibrasi. Kalibrasi dalam spektrofotometer UV-Vis dilakukan dengan
menggunakan blangko:
Setting nilai absorbansi = 0
Setting nilai transmitansi = 100 %
Penentuan kalibrasi dilakukan denganikuti prosedur sebagai berikut:
a. Dilakukan dengan larutan blangko (berisi pelarut murni yang digunakan dalam sampel)
dengan kuvet yang sama.
b. Setiap perubahan panjang gelombang diusahakan dilakukan proses kalibrasi.
c. Proses kalibrasi pada pengukuran dalam waktu yang lama untuk satu macam panjang
gelombang, dilakukan secara periodik selang waktu per 30 menit.

Dengan adanya proses kalibrasi pada spektrofotometer UV-Vis ini maka akan membantu
pemakai untuk memperoleh hasil yang kaurat dan presisi. (Wiryawan, dkk., 2008).
Oleh karena itu dalam praktek sangat dianjurkan untuk menyiapkan beberapa
larutan dengan konsentrasi yang berbeda biasanya disebut larutan standar, kemudian
diukur absorbansinya. Hasil pengukuran dibuat grafik kalibrasi absorbansi vs konsentrasi.
Selanjutnya konsentrasi larutan yang belum diketahui dapat ditentukan dari grafik
tersebut.

Gambar 3. Kurva Kalibrasi

Dengan menggunakan grafik kalibrasi yang diperoleh dari beberapa standar


dibanding dengan menggunakan satu standar , ketidakpastian analisa dapat dikurangi dan
karenanya ketelitian akan sangat meningkat. Perlu dicatat bahwa garis lurus pada grafik
kalibrasi tidak akan diperoleh dengan cara mem-plot transmitans vs konsentrasi. Karena
absorbansi dan transmitans dihubungkan oleh persamaan :
A = - log T
maka tidak ada hubungan linear antara transmitans dan konsentrasi.

Gambar 4. Hubungan antara konsentrasi dengan transmitansi dan absorbansi


Oleh karena itu jika hasil pengukuran berupa transmitans, maka harus diubah ke
bentuk absorbansi agar dapat membuat kurva kalibrasi. (Wiryawan, dkk., 2008).

Kesalahan dalam Analisis Spektrometri Kuantitatif


Ada tiga sumber kesalahan dalam pengukuran dengan spektrofotometer :
(a) pengaturan ke absorbabsi nol (100% T)
(b) pengaturan ke absorbansi (0% T)
(c) pembacaan nilai absorbansi atau transmitans

Gambar 5. Kesalahan pembacaan spektrofotometer pada berbagai harga


transmitansi

Berikut ini dijelaskan menurut Wiryawan, dkk. 2008, dalam bentuk skema pengaruh dari
lebar kuvlet terhadap hasil pembacaan spektrofotometer.
III. Alat dan Bahan

Alat :

1. Pipet volume
2. Gelas beaker
3. Labu ukur
4. Pipet tetes
5. Ball filler
6. Spektrofotometer
7. Gelas ukur
8. Botol vial

Bahan :

1. Larutan stok parasetamol

IV. Pelaksanaan Percobaan

1. Dibuat larutan stok parasetamol 1,01 mg/ml.

2. Dari larutan stok tersebut dibuat menjadi konsentrasi 20 µg dalam 100 ml.

3. Disiapkan larutan baku parasetamol dengan konsentrasi dimana absorbansinya =


0,434.

4. Disiapkan 1 seri larutan baku parasetamol dengan konsentrasi yang diharapkan


memberikan transmitan sebesar : 5 %; 35 %; 36,8 %; 65 % dan 95 %.

5. Diukur absorbansi dari semua larutan baku parasetamol (no.2 dan 3) pada panjang
gelombang maksimumnya.
V. Data Pengamatan

% Transmitan Konsentrasi Absorbansi

5% 11,06 µg/ml 0,645

35 % 3,87µg/ml 0,255

65 % 1,6 µg/ml 0,158

95 % 0,18 µg/ml 0,022

Konsentrasi parasetamol : 2,5 µg/ml

Panjang gelombang maksimum : 242 nm

Absorbansi pada 242 nm : 0,294

Baku : 1000 µg/ml

VI. Perhitungan

Absorbtivitas molar pada  maks


Diketahui : A = 0,294
b = 1 cm
c = 2,5 µg/ml

Ditanya :  =…?
Jawab :
A=. b .c
0,294 = . 1. 2,5
 = 0,294 / 2,5
 = 0,1176 ml/ µg. cm
Jadi absorbtivitas molar pada maks (242 nm) adalah sebesar 0,1176 ml/ µg. cm

Absorbansi larutan yang memberikan transmitan sebesar 5%


A = - log %T
A = - log 5%
A = - log 0,05 = 1,301

Konsentrasi sebenarnya larutan dengan transmitan 5%


Diketahui : A = 1,301
b = 1 cm
 = 0,086 ml/ µg. cm
Ditanya : c = …?
Jawab :
A =  . b. c
A
c = ε .b
1 , 301
ml
0,1176 . 1 cm
c= µg . cm
c = 11,06 µg /ml

Berdasarkan cara yang sama, maka diperoleh absorbansi serta konsentrasi larutan dengan
transmitan 35%; 36,8%; 65% dan 95%
Transmitan (%) Absorbansi Konsentrasi (µg/ml)
5 1,301 11,06

35 0,456 3,87

65 0,187 1,6

95 0,022 0,18

Untuk memudahkan dalam proses pembuatan larutannya, maka konsentrasi yang


didapatkan diencerkan terlebih dahulu sehingga dapat dipipet dalam pembuatannya.
1. M1 x V1 = M2 x V2
1000 x V1 = 11, 06 x 10
V1 = 0,11 ml
2. M1 x V1 = M2 x V2
1000 x V1 = 3,87 x 10
V1 = 0,04 ml

3. M1 x V1 = M2 x V2
1000 x V1 = 1,6 x 10
V1 = 0,016 ml

4. M1 x V1 = M2 x V2
1000 x V1 = 0,18 x 10
V1 = 1,8 . 10-3 ml
Pengenceran 2 kali
M1 x V1 = M2 x V2
1000 x 0,5 = M2 x 10
M2 = 50 µg/ml

M1 x V1 = M2 x V2
50 x V1 = 0,18 x 10
V1 = 0,036 ml

Konsentrasi yang diperoleh berdasarkan perhitungan


1. Transmitan 5%
Diket : A = 0,645
 = 0,1176 ml/ µg. cm
b = 1 cm
Ditanya : c = …?
Jawab :
A
c = ε .b
0 , 645
ml
0,1176 . 1 cm
c= µg. cm
c = 5,48 µg /ml
2. Transmitan 35%
Diket : A = 0,255
 = 0,1176 ml/ µg. cm
b = 1 cm
Ditanya : c = …?
Jawab :
A
c = ε .b
0 , 255
ml
0,1176 . 1 cm
c= µg. cm
c = 2,17 µg /ml
3. Transmitan 65%
Diket : A = 0,158
 = 0,1176 ml/ µg. cm
b = 1 cm
Ditanya : c = …?
Jawab :
A
c = ε .b
0 , 158
ml
0,1176 . 1 cm
c= µg. cm
c = 1,34 µg /ml
5. Transmitan 95%
Diket : A = 0,022
 = 0,1176 ml/ µg. cm
b = 1 cm
Ditanya : c = …?
Jawab :
A
c = ε .b
0 , 022
ml
0,1176 . 1 cm
c= µg. cm
c = 0,18 µg /ml

Kesalahan Spektrofotometri
1. Pada Transmitan 5%
Δc
% kesalahan spektrometri = c ¿ 100%
11,06−5 ,48
= 11,06 ¿ 100%
= 50,45 %
2. Pada Transmitan 35%
Δc
% kesalahan spektrometri = c ¿ 100%
3,87−2,17
= 3,87 ¿ 100%
= 43,93 %
3. Pada Transmitan 65%
Δc
% kesalahan spektrometri = c ¿ 100%
1,6−1,34
= 1,6 ¿ 100%
= 16,25 %

5. Pada Transmitan 95%


Δc
% kesalahan spektrometri = c ¿ 100%
0,18−0,18
= 0,18 ¿ 100%
=0%

VII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan perhitungan kesalahan spektrofotometri
yang bertujuan untuk mengetahui kesalahan pengukuran karena variasi konsentrasi larutan dan
menetapkan nilai absorbansi atau transmitan yang memberikan kesalahan minimal. Dalam
praktikum ini, larutan parasetamol yang digunakan sebagai larutan baku adalah larutan
parasetamol dengan kadar 1000 µg /ml. Larutan baku tersebut tidak bisa langsung digunakan
sebab kadarnya yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar parasetamol yang akan dibuat
nantinya yaitu sebesar 2,5 µg /ml . Oleh karena itu, dilakukan pengenceran terlebih dahulu untuk
mendapatkan kadar tersebut. Setelah mendapatkan larutan parasetamol, maka dilanjutkan dengan
penentukan panjang gelombang maksimum dari parasetamol dengan menggunakan
spektrofotometer UV-vis. Menurut pustaka dinyatakan bahwa absorbansi maksimum
parasetamol terletak pada panjang gelombang 245 nm dalam pelarut asam dan 257 nm dalam
pelarut basa. Adapun data hasil percobaan yang diperoleh adalah panjang gelombang maksimum
dari parasetamol yaitu pada panjang gelombang 242 nm dengan absorbansi sebesar 0,294.
Perbedaan hasil yang didapatkan dengan literatur ini disebabkan karena kondisi percobaan pada
literatur berbeda dengan kondisi percobaan yang dilakukan oleh praktikan.
Setelah mendapatkan data panjang gelombang maksimum, langkah selanjutnya adalah
menentukan absortivitas molar dari parasetamol berdasarkan absorbansi dari panjang gelombang
maksimumnya. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum sebab pada panjang
gelombang maksimum, kepekaannya juga maksimal karena perubahan absorbansi untuk setiap
satuan konsentrasi adalah yang paling besar. Selain itu, disekitar panjang gelombang maksimum,
bentuk kurva absorbansinya datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan
terpenuhi. Jika dilakukan pengukuran ulang, maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan
ulang panjang gelombang akan kecil sekali ketika digunakan panjang gelombang maksimum
(Gandjar dan Rohman, 2009). Absortivitas molar dihitung dengan rumus A =  . b. c. Hasil yang
diperoleh sebesar 0,1176 ml/ µg. cm, dan dengan nilai absortivitas molar yang diperoleh ini
maka dapat ditentukan variasi konsentrasi larutan parasetamol pada berbagai nilai transmitan
yaitu sebesar 5%, 35%, 65%, dan 95%. Sebelumnya dihitung terlebih dahulu absorbansi yang
memberikan nilai transmitan sebesar 5%, 35%, 65%, dan 95% dengan rumus A = -log % T,
dimana A merupakan absorbansi dan %T adalah transmitan dalam %. Dari perhitungan diperoleh
absorbansi yang memberikan nilai transmitan sebesar 5%, 35% , 65%, dan 95% berturut-turut
adalah 1,301; 0,456; 0,187; 0,022. Dari data tersebut diperoleh konsentrasinya berturut-turut
adalah 11,06 µg/ml, 3,87µg/ml, 1,6 µg/ml, 0,18 µg/ml
Setelah dibuat larutan dengan variasi konsentrasi Kemudian semua larutan ini diukur
absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yaitu 242 nm. Dari pengukuran diperoleh
absorbansi dari larutan tersebut berturut-turut adalah 0,645; 0,255; 0,158; dan 0,022. Dari nilai
absorbansi ini kemudian dihitung konsentrasi larutan berdasarkan perhitungan dengan rumus A =
 . b. c, diperoleh konsentrasinya berturut-turut sebesar 5,48 µg /ml; 2,17 µg /ml; 1,34 µg /ml;
0,19 µg /ml.
Langkah selanjutnya adalah menentukan kesalahan relatif dengan menggunakan

Δc
persamaan kesalahan spektrofotometri yaitu : % kesalahan spektrometri = c ¿ 100%
dimana Δc merupakan selisih antara konsentrasi perhitungan dengan konsentrasi sebenarnya dan
c merupakan konsentrasi larutan sebenarnya. Semakin kecil persentase kesalahan
spektrofotometri, semakin kecil pula kemungkinan kesalahan pengukuran pada variasi
konsentrasi tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai kesalahan spektrofotometri
dari konsentrasi larutan yang memberikan nilai transmitan 5%, 35%, 65%, dan 95% berturut-
turut adalah 50,45 %; 43,93 %; 16,25 %; 0 %. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kesalahan
terkecil sebesar 0 % dihasilkan oleh nilai transmitan sebesar 95%. Menurut literatur, disebutkan
bahwa kesalahan terkecil ditunjukkan oleh nilai transmitan 36,8% atau absorbansi 0,434
(Widjaja dan Laksmiani, 2010). Adanya perbedaan hasil yang diperoleh dengan literatur
disebabkan oleh adanya pengotor sehingga mempengaruhi nilai absorbansi dari parasetamol,
misalnya kuvet digunakan bergilir dengan larutan yang berbeda.
VII. Kesimpulan
1. Nilai kesalahan spektrofotometri dari konsentrasi larutan yang memberikan nilai
transmitan 5%, 35%, 65%, dan 95% berturut-turut adalah 50,45 %; 43,93 %; 16,25 %;
0 %.
2. Kesalahan terkecil sebesar 0 % dihasilkan oleh nilai transmitan sebesar 95%.
DAFTAR PUSTAKA

Gandjar .I.B, Rohman Abdul. 2009. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Kadjeng, Widjaja. N.P.L. Laksmiani. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Analisis. Jurusan Farmasi
Fakultas MIPA Universitas Udayana. Jimbaran.
Tahir, Iqmal. 2007. “Arti Penting Kalibrasi Pada Proses Pengukuran Analitik Aplikasi pada
Penggunaan pHmeter dan Spektrofotometer Uv-Vis”. Laboratorium Kimia Dasar,
Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Wiryawan, Adam.R. Retnowati.A. Sabarudin. 2008. Kimia Analitik untuk SMK. Departemen
Pendidikan Nasional. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai