Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Personal Hygiene


1. Definisi Personal Hygiene
Personal Hygiene (kebersihan diri) merupakan perawatan diri
yang di lakukan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan diri
sendiri baik secara fisik maupun mental. Tingkat kebersihan diri
seseorang umumnya di lihat dari penampilan yang bersih dan rapih
serta upaya yang di lakukan seseorang untuk menjaga kebersihan
dan kerapihan tubuhnya setiap hari (Lyndon saputra,2013)
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani, berasal dari kata
personal yang artinya perorangan, dan hygiene berarti sehat. Dapat
diartikan bahwa kebersihan perorangan atau personal hygiene adalah
suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan
seseorang untuk kesejahteraan baik fisik maupun psikisnya (Is’roin
dan Andarmoyo,2012)
Personal Hygiene (kebersihan diri) merupakan kebersihan diri
yang di lakukan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan diri
sendiri baik secara fisik maupun mental. Kebersihan diri merupakan
langkah awal dalam mewujudkan kesehatan diri karena tubuh yang
bersih meminimalkan risiko seseorang terjangkit suatu penyakit,
terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri yang
buruk (Haswita,2017)

2. Jenis Personal Hygiene


Menurut Wahit Iqbal Mubarak dkk (2015) terdapat beberapa
jenis Personal Hygiene , yaitu:
a. Berdasarkan Waktu Pelaksanaan
Personal hygiene dapat dibagi menjadi 4 (empat) :

6
7

1) Perawatan dini hari


Merupakan perawatan dari yang dilakukan pada
waktu bangun tidur, untuk melakukan tindakan seperti
persiapan dalam pengambilan bahan pemeriksaan
(urine/feses) dan mempersiapkan pasien melakukan
sarapan.
2) Perawatan pagi hari
Perawatan yang digunakan setelah melakukan
sarapan pagi, perawat melakukan pertolongan dalam
pemenuhan kebutuhan eliminasi (mandi,bab, dan bak)
sampai merapihkan tempat tidur pasien.
3) Perawatan siang hari
Setelah makan siang melakukan pearwatan diri
antara lain, mencuci piring, membersihkan tangan dan
mulut. Setelah itu, Perawatan diri yang dilakukan setelah
melakukan berbagai tindakan pengobatan serta
membersihkan tempat tidur pasien.
4) Perawatan menjelang tidur
Perawatan yang dilakukan saat menjelang tidur
agar pasien dapat beristirahat dengan nyaman seperti,
mencuci tangan, membersihkan wajah dan menyikat
gigi.
b. Berdasarkan Tempat
1) Personal Hygiene pada kulit
Kulit merupakan salah satu bagian penting dari
tubuh yang dapat melindungi tubuh dari berbagai kuman,
sehingga diperlukan perawatan yang baik dan
bermanfaat sebagai:
a) Mengatur keseimbangan tubuh dan membantu
produksi keringat serta penguapan.
b) Sebagai indra peraba yang membantu tubuh
menerima rangsangan.
c) Membantu keseimbangan cairan dan elektrolit
yang mencegah pengeluaran cairan tubuh secara
berlebihan.
d) Menghasilkan minyak untuk menjaga kelembapan
kulit.
e) Menghasilkan dan menyerap vitamin D sebagai
penghubung atau pemberian vitamin D dari sinar
ultraviolet matahari.
Faktor yang mempengaruhi perubahan dan
kebutuhan pada kulit:
(1) Umur
Perubahan kulit dapat ditentukan oleh
umur seseorang. Seperti pada bayi yang
kondisi kulitnya masih sensitif sangat rawan
terhadap masuknya kuman. Sebalikan pada
orang dewasa kondisi kulit sudah memiliki
kematangan sehingga fungsinya sebagai
pelindung sudah baik
(2) Jaringan kulit
Perubahan kulit dapat di pengaruhi
oleh struktur jaringan kulit. Apabila jaringan
kulit rusak maka terjadi perubahan pada
struktir kulit.
(3) Kondisi atau keadaan lingkungan
Keadaan lingkungan dapat
mempengaruhi keadaan kulit secara utuh
adalah keadaan panas, adanya nyeri akibat
sentuhan atau tekanan.
2) Personal hygiene pada kuku dan kaki
Perawatan kaki dan kuku sering kali memerlukan
perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau kaki, dan
cedera jaringan lunak. Akan tetapi sering kali orang tidak
sadar akan masalah kaki dan kuku sampai terjadi nyeri
atau ketidaknyamanan. Menjaga kebersihan kuku
penting dalam mempertahankan personal hygiene karena
berbagai kuman dapat masuk kedalam tubuh melalui
kuku.perawatan dapat di gabungkan saat mandi atau
pada waktu yang terpisah. Tujuan perawatan kaki dan
kuku penting dalam mempertahankan perawatan diri
agar klien memiliki kulit utuh dan permukaan kulit yang
lembut, kelien merasa nyaman dan bersih, klien akan
memahami dan melakukan metode perawatan kaki dan
kuku dengan benar.
Gangguan pada kuku:
a) Ingrown nail: kuku tangan yang tidak tumbuh dan
dirasakan sakit pada daerah tersebut.
b) Paronychia: radang di sekitar jaringan kuku.
c) Ram’s horn nail: gangguan kuku yang ditandai
dengan pertumbuhan kuku yang lambat disertai
dengan kerusakan dasar kuku yang berlebihan.
d) Tinea pedis: terdapat garutan kekuningan pada
lempengan kuku yang pada akhirnya menyebabkan
seluruh kuku menjadi tebal, berubah warna dan
rapuh. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur
epidermophyon, trichopyton, microporium dan C.
Albicans dikaki.
e) Bau tidak sedap: reaksi mikro organisme yang
menyebabkan bau tidak sedap
3) Personal hygiene pada rambut
Rambut merupakan bagian dari tubuh yang
memiliki fungsi sebagai proteksi dan pengantar suhu.
Inikasi perubahan status kesehatan diri juga dapat dilihat
dari rambut. Perawatan ini bermanfaat mencegah infeksi
daerah kepala. Tujuan membersihkan kepala agar
menghilangkan debu dan kotoran yng melekat di rambut
dan kulit kepala.
Fungsi rambut:
a) Sebagai proteksi dan pengantar suhu (melindungi
dari panas)
b) Keindahan atau mempercantik penampilan.
Gangguan pada rambut:
(1) Ketombe yaitu pelepasan kulit kepala yang
disertai rasa gatal
(2) Kutu (Pediculotis Cepitis) yaitu kutu ini
menghisap darah dan menyebabkan rasa
gatal.
(3) Sebor heic dermatitis yaitu merupakan
radang pada kulit kepala yang ditumbuhi
rambut.
(4) Alopeia (kehilangan rambut) dapat
disebabkan oleh penggunaan alat pelurus
atau pengeriting rambut, pengikat rambut
yang terlalu kuat dan pemakaian produk
perawatan rambut yang tidak cocok.
4) Personal hygiene gigi dan mulut
Gigi dan mulut merupakan bagian pertama dari
sistem pencernaan dan merupakan bagian sistem
tambahan dari sistem pernafasan. Dalam rongga mulut
terdapat gigi dan lidah yang berperan penting dalam
proses pencernaan awal. Selain gigi dan lidah, adapula
saliva yang penting utuk membersihkan mulut secara
mekanis mulut merupakan rongga yang tidak bersih dan
penuh dengan bakteri, karenanya harus selalu
dibersihkan adapun salah satu tujuan perawatan gigi dan
mulut adalah untuk mencegah penyebaran penyakit yang
ditularkan melalui mulut.
Gangguan pada gigi dan mulut:
a) Halitosis
Yaitu bau nafas yang tidak sedap, biasanya
dikarenakan oleh kuman atau hal lain.
b) Periodonatala Disease
Yaitu gigi yang mengalami pendarahan dan
membengkak.
c) Glositis
Adalah radang yang terjadi pada lidah.
d) Kilosis
Kilosis adalah bibir yang pecah-pecah, hal ini
dapat terjadi karena Hipersalivasi, nafsu mulut dan
defisiensi riboflavin.
5) Personal hygiene pada genetalia
Perawatan diri pada genetalia adalah untuk
mencegah infeksi, mencegah kerusakan kulit,
meningkatkan kenyamanan serta mempertahankan
kebersihan diri (potter dan perry, 2000 dalam buku
mubarak, 2015). Perawatan genetalia perempuan pada
eksterna yang terdiri atas mons veneris, labia mayora,
labia minora, klitoris, uretra, vagina, perineum dan anus.
Sedangkan pada laki-laki pada daerah ujung penis untuk
mencegah penumpukan sisa urine.
Tujuan :
a) Mencegah dan mengontrol infeksi.
b) Mempertahankan kebersihan genetalia.
c) Meningkatkan kenyamanan serta mempertahankan
personal hygiene.
d) Mencegah kerusakan kulit.

3. Tujuan Perawatan Personal Hygiene


Tujuan personal hygiene adalah untuk memelihara kebersihan
diri, menciptakan keindahan, serta meningkatkan derajat kesehatan
individu sehingga dapat mencegah tinbulnya penyakit pada diri
sendiri maupun orang lain, sementara secara khusus tujuan
perawatan personal hygiene adalah :
a. Menghilangkan bau badan yang berlebihan.
b. Memelihara integritas permukaan kulit
c. Menghilangkan keringat, sel-sel kulit yang mati dan bakteri.
d. Menciptakan keindahan.
e. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang.

4. Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene


Menurut Wahit Iqbal Mubarak dkk(2015) Sikap seseorang
melakukan personal hygiene dipengaruhi sejumlah faktor antara lain:
a. Citra tubuh (body image)
Citra tubuh mempengaruhi cara seseorang memelihara
hygiene. Jika seseorang klien rapih sekali maka perawat
mempertimbangkan kerapihan ketika merencanakan
keperawatan dan berkonsultasi pada klien sebelum membuat
keputusan tentang bagaimana memberikan perawatan hygiene,
klien yang tampak berantakan atau tidak perduli dengan
hygiene atau pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat
kemampuan klien berpartisipasi dalam hygiene harian (Potter
dan Perry, 2009 dalam buku Natalia Erlina Yuni, 2015)
b. Praktik Sosial
Kelompok sosial wadah seseorang klien berhubungan
dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi selama masa
kanak-kanak. Selama masa kanak-kanak mendapatkan praktik
hygiene dari orang tua mereka. Kebiasaan keluarga, jumlah
orang dirumah, ketersediaan air panas dan air mengalir hanya
merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan
kebersihan (Wahit Iqbal Mubarak dkk,2015)
c. Status Sosial Ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis
dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Perawat harus
menentukan apakah klien dapat menyediakan bahan-bahan
yang penting seperti deodorant , shampo, pasta gigi, dan
kosmetik. Perawat juga harus menentukan jika penggunaan
produk ini merupakan bagian dari kebiasaan sosial yang
dipraktikkan kelompok sosial klien.
d. Pengetahuan dan Motivasi Kesehatan
Pengetahuan tentang pentingnya kesehatan dan
implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene.
Meskipun demikian, pengetahuan sendiri tidaklah cukup. Klien
juga harus termotivasi untuk memelihara kesehatan diri.
Seringkali pembelajaran tentang penyakit mampu mendorong
klien untuk meningkatkan hygiene.
e. Kebudayaan
Kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi
mempengaruhi perawatan hygiene. Orang dari latar
kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik keperawatan diri
yang berbeda pula. Diasia kebersihan dipandang penting bagi
kesehatan dinegara-negara eropa, hal ini biasa untuk mandi
secara penuh hanya sekali dalam seminggu.
f. Kebiasaan atau pilihan pribadi
Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan
tentang kapan untuk mandi, bercukur dan melakukan
pearawatan rambut. Klien memiliki produk yang berbeda
(misalnya sabun, shampo, deodorant, dan pasta gigi) menurut
pilihan dan kebutuhan pribadi (Haswita dkk,2017)
g. Kondisi Fisik Seseorang
Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat
diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya
(misalnya kanker tahap lanjut) atau menjalani operasi
seringkali kekurangan energi fisik atau ketangkasan untuk
melakukan hygiene pribadi. Seorang klien yang menggunakan
gips pada tangannya atau menggunakan traksi membutuhkan
bantuan untuk mandi yang lengkap (Haswita dkk,2017)

5. Dampak pada Masalah Personal Hygiene


Menurut laily is’roin dkk (2012) terdapat beberapa dampak
pada masalah personal hygiene, yaitu:
a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang
karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan
baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan
integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi
pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
b. Gangguan psikososial
Maslah sosial yang berhubungan dengan personal
hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan
dicintai dan mencintai, aktualisasi diri menurun, dan gangguan
dalam interaksi sosial.
6. Penata Laksana Personal Hygiene
Menurut Wahit Iqbal Mubarak dkk,2015 terdapat beberapa
macam penata laksana personal hygiene, yaitu:
a. Personal hygiene pada kulit
Cara merawat kulit sebagai berikut:
1) Mandi minimal dua kali sehari/ setelah beraktifitas
2) Gunakan sabun yang tidak bersifat iritatif
3) Jangan gunakan sabun mandi untuk wajah
4) Menyabuni seluruh tubuh terutama daerah lipatan kulit,
misalnya sela-sela jari, ketiak dan belakang telinga.
5) Mengeringkan tubuh dengan handuk yang lembut dari
wajah, tangan, badan, hingga kaki.
b. Personal hygiene pada kuku dan kaki
Cara merawat kuku:
1) Kuku jari tangan dapat di potong dengan pengikir atau
memotong dalam bentuk oval(bujur) atau mengikuti
bentuk jari.
2) Jangan memotong kuku terlalu pendek karena bisa
melukai selaput kulit dan kulit di sekitar kuku.
3) Jangan membersihkan kotoran di balik kuku dengan
benda tajam, sebab akan merusak jaringan di bawah
kuku.
4) Potong kuku seminggu sekali atau sesuai kebutuhan.
5) Khusus untuk jari kaki sebaiknya kuku di potong segera
setelah mandi atau di rendam dengan air hangat terlebih
dahulu.
6) Jangan menggigiti kuku karena akan merusak bagian
kuku.
c. Personal hygiene pada rambut
Cara merawat rambut:
1) Cuci rambut 1-2 kali seminggu (sesuai kebutuhan)
dengan memakai sampo yang cocok.
2) Pangkas rambut agar terlihat rapih.
3) Gunakan sisir yang bergigi besar untuk merapikan
rambut keriting dan olesi rambut dengan minyak.
4) Jangan gunakan sisir yang bergigi tajam karena bisa
melukai kulit kepala.
5) Pijat-pijat kulit kepala pada saat mencuci rambut untuk
merangsang pertumbuhan rambut.
6) Pada jenis rambut ikal dan kriting, sisir rambut mulai
dari bagian ujung hingga ke pangkal dengan pelan dan
hati-hati.
d. Personal hygiene pada mata
Cara merawat mata:
1) Usaplah kotoran mata dari sudut mata bagian dalam
kesudut bagian luar
2) Saat mengusap mata gunakanlah kain yang paling bersih
dan lembut
3) Lindungi mata dari kemasukan debu dan kotoran
4) Bila menggunakan kacamata, hendaklah selalu dipakai
5) Bila mata sakit cepat periksakan kedokter
e. Personal hygiene pada hidung
Cara merawat hidung:
1) Jaga agar lubang hidung tidak kemasukan air atau benda
kecil
2) Jangan biarkan benda kecil masuk kedalam hidung
3) Sewaktu mengeluarkan debu dari lubang hidung,
hembuskan secara perlahan dengan membiarkan lubang
hidung terbuka.
4) Jangan mengeluarkan kotoran dari lubang hidung dengan
menggunakan jari karena dapat mengiritasi mukosa
hidung.
f. Personal hygiene pada gigi dan mulut
Cara merawat hidung dan mulut :
1) Tidak makan-makanan yang terlalu manis dan asam
2) Tidak menggunakan gigi atau mencongkel benda keras.
3) Menghindari kecelakaan seperti jatuh yang menyebabkan
gigi patah.
4) Menyikat gigi sesudah makan dan khususnya sebelum
tidur.
5) Menyikat gigi dari atas kebawah dan seterusnya
6) Memakai sikat gigi yang berbulu banyak, halus dan
kecil.
7) Memeriksa gigi secara teratur setiap enam bulan.
g. Personal hygiene pada telinga
Cara merawat telinga :
1) Bila ada kotoran yang menyumbat telinga keluarkan
secara perlahan dengan menggunakan penyedot telinga
2) Bila menggunakan air yang disemprotkan lakukan
dengan hati-hati agar tidak terkena air yang berlebihan
3) Aliran air yang masuk hendaklah diarahkan kesaluran
telingan dan bukan langsung kegendang telinga.
4) Jangan menggunakan alat yang tajam untuk
membersihkan telinga karena dapat merusak gendang
telinga.
h. Personal hygiene pada genetalia
Cara merawat genetalia:
1) Wanita: perawatan perineum dan area genetalia eksterna
di lakukan pada saat mandi 2x sehari
2) Pria: perawatan di lakukan 2x sehari pada saat mandi.
Pada pria terutama yang belum di sirkumsisi karena
adanya kulup pada penis yang menyebabkan urine
mudah terkumpul di sekitar gland penis yang lama
kelamaan dapat menyebabkan timbulnya berbagai
penyakit seperti kanker penis.

B. Konsep Asuhan Keperawatan Personal Hygiene


1. Pengkajian
Menurut Wahit Iqbal Mubarak,Lilis Indrawati, Joko Susanto(2015)
Pengkajian merupakan langkah awal dalam asuhan
keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan yang bertujuan
untuk pengumpulan data atau informasi, analisis data dan penentuan
permasalahan atau diagnosis keperawatan. Manfaat pengkajian
keperawatan adalah membantu mengidentifikasi status kesehatan,
pola pertahanan klien, kekuatan serta merumuskan diagnosa
keperawatan yang terdiri dari tiga tahap yaitu pengumpulan,
pengelompokan dan pengorganisasian serta menganalisa dan
merumuskan diagnosa keperawatan.
a. Riwayat Keperawatan
Tanyakan tentang pola kebersihan individu sehari-hari sarana
dan prasarana yang dimiliki serta faktor yang mempengaruhi
personal hygiene individu baik faktor pendukung maupun
faktor pencetus.
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik kaji personal hygiene individu, mulai
dari ektremitas atas sampai bawah.
1) Rambut: Amati kondisi rambut (warna, tekstur,
kuantitas) apakah tampak kusam? Apakah ditemukan
kerontokan?
2) Kepala: Amati dengan saksama kebersihan kulit kepala.
Perhatikan adanya ketombe, kebotakan atau tanda-tanda
kemerahan.
3) Mata: Amati adanya tanda-tanda ikterius, konjungtiva
pucat, sekret pada kelopak mata, kemerahan atau gatal-
gatal pada mata.
4) Hidung: Amati kondisi kebersihan hidung, kaji adanya
sinusitis, perdarahan hidung, tanda-tanda pilek yang
tidak kunjung sembuh, tanda-tanda alergi atau perubahan
pada daya penciuman.
5) Mulut: Amati kondisi mukosa mulut dan kaji
kelembapannya. Perhatikan adanya lesi, tanda-tanda
radang gusi atau sariawan, kekeringan, atau pecah-pecah.
6) Gigi: Amati kondisi kebersihan gigi. Perhatikan adanya
tanda-tanda karang gigi, karies, gigi pecah-pecah, tidak
lengkap, atau gigi palsu.
7) Telinga: Amati kondisi dan kebersihan telinga.
Perhatikan adanya serumen atau kotoran pada telinga,
lesi, infeksi atau perubahan daya pendengaran.
8) Kulit: Amati kondisi kulit (tekstur, turgor, kelembapan)
dan kebersihannya. Perhatikan adanya perubahan warna
kulit, stria, kulit keriput, lesi atau pruritus.
9) Kuku tangan dan kaki: amati bentuk dan kebersihan
kuku. Perhatikan adanya kelainan atau luka.
10) Genetalia: Amati kondisi dan kebersihan genetalia
berikut area perineum. Perhatikan pola pertumbuhan
rambut pubis. Pada laki-laki perhatikan kondisi skrotum
dan testisnya.
11) personal hygiene secara umum: Amati kondisi dan
kebersihan kulit secara umum. Perhatikan adanya
kelainan pada kulit atau bentuk tubuh.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang singkat
tugas dan jelas berdasarkan pada hasil pengumpulan data dan
evaluasai data yang di lakukan dengan sistematis, praktis,etis, dan
profesional oleh tenaga keperawatan yang mampu untuk itu.
Diagnosa keperawatan menggambarkan respons klien terhadap
masalah kesehatan atau penyakit.
Menurut buku SDKI,2017. Diagnosa yang muncul pada kasus
personal hygiene yang berkaitan dengan kondisi klinis demensia
adalah:
Defisit perawatan diri
a. Definisi: tidak mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas
perawatan diri.
b. Penyebab atau etiologi
1) Gangguan muskuloskeletal
2) Gangguan neuromuskuler
3) Kelemahan
4) Gangguan psikologis atau psikotik
5) Penurunan motivasi atau minat
c. Gejala dan tanda mayor
Subjektif: klien menolak melakukan perawatan diri.
Objektif: klien tidak mampu mandi atau mengenakan pakaian,
makan,ketoilet, berhias secara mandiri dan minat melakukan
perawatan diri kurang.
d. Gejala dan tanda minor
Gejala tanda minor baik subjektif maupun objektif tidak
tersedia.
Menurut doengoes,2012. Diagnosa yang muncul berkaitan
dengan kondisi klinis demensia adalah salah satunya:
a. Kurang perawatan diri(defisit perawatan diri)
Dapat di hubungkan dengan:
1) Penurunan kognitif: keterbiasaan fisik
2) Frustasi atas kehilangan kemandiriannya: depresi
Kemungkinan di buktikan oleh:
Penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari,
seperti tidak mampu untuk makan, tidak mampu untuk
membersihkan bagian-bagian tubuh tertentu, mengatur suhu air,
gangguan kemampuan untuk memakai atau meninggalkan
pakaian.kesulitan dalam melakukan defekasi.
Hasil yang diharapkan atau kriteria evaluasi pasien akan:
Mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan
tingkat kemampuan diri sendiri. Mampu mengidentifikasi dan
menggunakan sumber-sumber pribadi atau komunitas yang dapat
memberikan bantuan.
Menurut Judith M,2016. Diagnosa keperawatan umum untuk
klien dengan masalah perawatan personal hygiene adalah defisit
perawatan diri lebih lanjut, diagnosa tersebut terbagi menjadi empat
yaitu:
a. Defisit perawatan diri : makan
b. Defisit perawatan diri: mandi atau hygiene
c. Defisit perawatan diri: berpakaian atau berhias
d. Defisit perawatan diri: eliminasi

3. Rencana keperawatan
Rencana keperawatan adalah pencatatan tentang kegiatan
perencanaan keperawatan (langkah pemecah serta urutan
prioritasnya, perumusan tujuan, perencanaan tindakan dan penilaian)
yang dapat dipertanggung jawabkan. Tujuan yang ingin dicapai,
rencana tindakan pemecahan masalah kelien dan rencana
penilaiannya.
(Menurut Judith M, 2016) Intervensi keperawatan pada klien
gangguan pemenuhan personal hygiene pada lansia dengan masalah
keperawatan sebagai berikut:
a. Defisit perawatan diri : mandi
1) Tujuan atau kriteria hasil
Menunjukkan perawatan diri: mandi yang dibuktikan
oleh indikator ekstrim, berat, sedang, ringan, atau tidak
ada gangguan:
a) Mengambil perlengkapan mandi
b) Mandi dibak (sower)
c) Membersihkan area perinel
2) Intervensi keperawatan
a) Kaji dan akomodasi perubahan fisik atau koognitif
yang dapat menyebabkan defisit perawatan diri.
b) Kaji kemampuan untuk melakukan AKS secara
mandiri menggunakan skala yang berterima.
c) Gunakan pembersih tanpa detergen, bukan sabun,
gunakan air hangat pada kuku.
d) Lakukan mandi penuh sekali atau dua kali
seminggu, sisanya mandi parsial untuk mencegah
mandi kering.
e) Mandikan dan keringkan perlahan untuk
melindungi kulit rapuh.
f) Tingkatkan kemandirian seoptimal mungkin,
sesuai kemampuan klien.
b. Defisit Perawatan Diri: Berpakaian
1) Tujuan atau kriteria hasil
Manunjukkan perawatan diri: berpakaian yang
dibuktikan oleh indikator:
a) Mengenakan pakaian dibagian atas atau bawah
tubuh.
b) Memasang kaos kaki dan sepatu.
c) Mengikat sepatu.
2) Intervensi keperawatan
a) Kaji kemampuan untuk melakukan AKS secara
mandiri, menggunakan skala yang berlaku.
b) Kaji dan akomodasi perubahan fisik atau koognitif
yang dapat menyebabkan defisit perawatan diri.
c) Dorong berjalan dan latihan pembangun kekuatan.
d) Tingkatkan kemandirian sesuai kemampuan klien.
e) Akomodasi defisit koognitif dengan cara berikut :
Gunakan isyarat non-verbal misal beri pasien satu
atribut pakaian pada satu waktu, dalam berurutan
pemakaian yang diperlukan
c. Defisit Keperawatan Diri: Makan
1) Tujuan atau kriteria hasil
Menunjukkan keperawatan diri: makan yang dibuktikan
oleh indikator :
a) Meletakkan makanan kepiring.
b) Mengarahkan makanan kemulut dengan jari
(wadah atau piring)
c) Mengunyah makanan.
d) Menelan cairan.
e) Menghabiskan makanan.
2) Intervensi keperawatan
a) Atur agar klien makan bersama individu lain:
biarkan klien mengambil makanannya sendiri dari
piring saji.
b) Kaji kondisi pemasangan gigi palsu.
c) Hindari meminta klien untuk makan buru-buru.
d. Defisit keperawatan diri: Eliminasi
1) Tujuan atau kriteria hasil
Menunjukkan perawatan diri eliminasi dibuktikan oleh
indikator:
a) Memposisikan diri ditoilet atau kursi buang air
menggosokkan kandung kemih atau defekasi.
b) Bangun dari toilet atau kursi buang air.
c) Mengganti pakaian setelah eliminasi.
2) Intervensi keperawatan
a) Akomodasi difisit koognitif misalnya pertahankan
arahan verbal yang singkat dan sederhana.
b) Beri cukup waktu untuk eliminasi guna
menghindari keletihan dan frustasi.
c) Rekomendasikan dan bantu melakukan latihan
membangun kekuatan.
d) Bantu klien ambulasi selama beberapa menit saat
mencapai toilet.
e) Beri pijakan kaki pada kursi buang air atau kloset
jika perlu untuk mengelevasi lutut diatas pinggul.

4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah proses pengelolaan dan
perwujudan dari rencana keperawatan pada tahapan rencana.
5. Evaluasi Keperawatan
Menurut buku nursing outcomes classification(NOC, 2014)
pengukuran outcomes kesehatan meliputi:
a. Perawatan diri: Kebersihan
Definisi : tindakan seseorang untuk mempertahankan
kebersihan diri dan menjaga penampilan secara mandiri tanpa
alat bantu.

Tabel 2.1 Tabel skala outcome perawatan diri: kebersihan


(Sue Moorhead, 2016)
Skala Outcome Sangat Banyak Cukup Sedikit Tidak
Keseluruhan Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu
(1) (2) (3) (4) (5)
Mencuci Tangan 1 2 3 4 5
Membersihkan 1 2 3 4 5
Area Prineum
Menggunakan 1 2 3 4 5
Pembalut
Membersihkan 1 2 3 4 5
Telinga
Menjaga Hidung 1 2 3 4 5
Untuk
Kebersihan
Bernafas dan
Bersih
Mempertahankan 1 2 3 4 5
Kebersihan
Mulut

Mengeramas 1 2 3 4 5
Rambut
b. Perawatan diri: mandi
Definisi: tindakan seseorang untuk membersihkan
badannya secara mandiri atau tanpa alat bantu.

Tabel 2.2 tabel skala outcome perawatan diri: mandi (sue moorhead, 2016)

Skala Sangat Banyak Cukup Sedikit Tidak


outcome tergangg terganggu tergangg tergangg terganggu
keseluruhan u (2) u u (5)
(1) (3) (4)
Masuk dan 1 2 3 4 5
keluar kamar
mandi
Mengambil 1 2 3 4 5
alat mandi
Mendapat air 1 2 3 4 5
mandi
Menyalakan 1 2 3 4 5
keran
Mengatur air 1 2 3 4 5
Mengatur 1 2 3 4 5
aliran air
Mandi di bank 1 2 3 4 5
cuci
Mandi di bank 1 2 3 4 5
mandi
Mandi dengan 1 2 3 4 5
bersiram
Mencuci 1 2 3 4 5
wajah
Mencuci 1 2 3 4 5
badan bagian
atas
Mencuci 1 2 3 4 5
badan bagian
bawah
Membersihkan 1 2 3 4 5
area perineum
Mengeringkan 1 2 3 4 5
badan
c. Perawatan diri: makan
Definisi: tindakan seseorang untuk makan secara mandiri
atau tanpa alat bantu.

Tabel 2.3 tabel skala outcome perawatan diri: makan


(Sue Moorhead,2016)
Skala Sangat banyak Cukup Sedikit Tidak
outcome terganggu terganggu terganggu terganggu terganggu
keseluruhan (1) (2) (3) (4) (5)
Menyiapkan 1 2 3 4 5
makanan yang
akan di santap
Membuka 1 2 3 4 5
tutup
makanan
Memotong 1 2 3 4 5
makanan
Menggunakan 1 2 3 4 5
alat makanan
Menaruh 1 2 3 4 5
makan pada
alat makan
Mengambil 1 2 3 4 5
cangkir atau
gelas
Memasukkan 1 2 3 4 5
makanan ke
mulut dengan
sendok
Memasukkan 1 2 3 4 5
makanan ke
mulut dengan
peralatan
(makan)
Minum 1 2 3 4 5
dengan gelas
atau cangkir
Menaruh 1 2 3 4 5
makan
di
mulut
Memanipulasi 1 2 3 4 5
makanan di
mulut
Mengunyah 1 2 3 4 5
makanan
Menelan 1 2 3 4 5
makanan
Menelan 1 2 3 4 5
minuman
Menghabiskan 1 2 3 4 5
makanan
Dengan mengukur outcome sebelum intervensi, perawat
menetapkan nilai dasar pada skala outcome yang di pilih dan
kemudian dapat menentukan peningkat outcomenya setelah
intervensi diberikan. Hal ini memungkinkan perawat untuk
dapat mengikuti perubahan status pasien atau pemeliharaan
status outcome dari waktu ke waktu dan di seluruh tatanan (sue
moorhead,2016)

d. Perawatan diri: rambut


Definisi: tindakan seseorang untuk merawat rambut
sendiri secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu.

Tabel 2.4 tabel skala outcome perawatan diri: rambut


(Sue Moorhead, 2016)
Skala Sangat Banyak cukup Sedikit tidak
outcome terganggu terganggu terganggu terganggu terganggu
keseluruhan (1) (2) (3) (4) (5)
Menyisir rambut 1 2 3 4 5
Mencukur 1 2 3 4 5
rambut
Menggunakan 1 2 3 4 5
rias wajah
Memperhatikan 1 2 3 4 5
kuku jari tangan
Memperhatikan 1 2 3 4 5
kuku kaki
Menggunakan 1 2 3 4 5
kaca rias
Memasukkan 1 2 3 4 5
makanan ke
mulut dengan
jari
Mempertahankan 1 2 3 4 5
penampilan yang
rapih
Mempertahankan 1 2 3 4 5
kebersihan tubuh
e. Perawatan diri: mulut
Definisi: tindakan seseorang untuk merawat mulut dan
giginya sendiri secara mandiri tanpa alat bantu.

Tabel 2.5 tabel skala outcome perawatan diri: mulut


(Sue Moorhead, 2016)
Skala Sangat banyak cukup Sedikit Tidak
outcome terganggu terganggu terganggu terganggu terganggu
keseluruhan (1) (2) (3) (4) (5)
Menyikat gigi 1 2 3 4 5
Membersihkan 1 2 3 4 5
sela-sela gigi
dengan
benang gigi
yang halus
Menggunakan 1 2 3 4 5
cairan kumur
Membersihkan 1 2 3 4 5
mulut,gusi dan
lidah
Membersihkan 1 2 3 4 5
gigi palsu atau
alat gigi
Menggunakan 1 2 3 4 5
flour
Mendapatkan 1 2 3 4 5
perawatan gigi
secara reguler
C. Konsep Demensia
1. Definisi demensia
Demensia adalah sindrom klinis yang meliputi hilangnya
fungsi intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga
menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari. Demensia merupakan
keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya
pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari
hari (Dede Nasrullah, 2016)
Demensia adalah keadaan dimana seseorang mengalami
penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir serta penurunan
kemampuan tersebut menimbulkan ganggua terhadap fungsi
kehidupan sehari-hari. Kumpulan gejala yang di tandai dengan
penurunan kognitif perubahan mood dan tingkah laku sehingga
mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari penderita (Reny Yuli
Aspiani, 2014)

2. Etiologi
Menurut Dede Nasrullah,2016 penyebab dari demensia adalah:
a. Degenerasi neuronnal atau ganggua multifokal.
b. Penyakit vaskuler atau keadaan lanjut usia pada orang tua.
c. Faktor usia
Penyebab demensia yang reversibel sangat penting diketahui
karena pengobatan yang baik pada penderita dapat kembali
menjalankan kehidupan sehari-hari yang normal. Untuk
meningkatkan berbagai keadaan tersebut telah di buat suatu
jembatan “jembatan keledai” sebagai berikut:
1) Drugs (obat): obat sedative, obat pemenang minor atau mayor,
obat anti konvulsan, obat anti hipertensi, obat anti aritmia.
2) Emotional (gangguan emosi, misal depresi)
3) Metabolic dan endokrin seperti: diabetes militus, hipoglikemia,
angguan ginjal, gangguan hepar, gangguan tiroid, gangguan
elektrolit.
4) Eye dan Ear (disfungsi mata dan teling).
5) Nutritional: kekurangan vit B6(pellagra), kekurangan vit
B1(sindrom wernicke), kekurangan vit B12(anemia
pernisiosa), kekurangan asam folat.
6) Tumor dan Trauma
7) Infeksi seperti: Ensefalitis oleh virus contoh: herpes simplek.
8) Bakteri contoh: pneumococcus, TBC, parasit, fungus, abses
otak, neurosifilis
9) Arterosklerosis (komplikasi penyakit aterosklerosis misal:
infark miokard, gagal jantung, dan alkohol).
Keadaan yang secara potensial reversible atau yang bisa di
hentikan seperti:
a) Intoksikasi (obat termasuk alkohol)
b) Infeksi susunan saraf pusat
c) Gangguan metabolik
d) Gangguan vaskuler (demensia multi-infark)
e) Lesi desak ruang
f) Hematoma subdural akut atau kronis
g) Metastase neoplasma
h) Hidrosefalus yang bertekanan normal
i) Depresi (pseudo-demensia depresif)

Penyebab dari demensia Non-Reversible:

1) Penyakit degeneratif, seperti: penyakit Alzhemer, penyakit pick,


penyakit huntingon, kelumpuhan supranuklear progresif,
penyakit parkinson.
2) Penyakit vaskuler, seperti: penyakit sorebrovaskuler oklusif
(dimensia multi-infark), penyakit binswanger, embolisme
serebral, arteritis, anoksia sekunder akibat henti jantung, gagal
jantung akibat intoksikasi karbon monoksida.
3) Demensia traumatic, seperti: perlakuan kranio-serebral,
dimensia pugilistika.
4) Infeksi, seperti: sindrom defisiensi imun depatan (AIDS), infeksi
opportunistic, demensia pasca ensefalitis.
3. Patofisiologi
Beberapa ahli memisahkan demensia yang terjadi sebelum usia
65 tahun (demensia prasenilis) dan yang terjadi pada usia 65
tahun(demensia senilis). Perbedaan ini dari asumsi penyebab yang
berbeda. Degenerasi neuronal yang jarang pada orang muda dan
penyakit vasikuler atau keadaan usia lanjut usia pada orang tua.
Meskipun ekspresi penyakit dapat berbeda pada usia yang berbeda,
kelainan utama pada pasien demensia dari semua usia adalah sama
dan perbedaan berdasarkan kenyataan.
Sebagai besar penyakit yang menyebabkan dimensia adalah
degenerasi neuronal yang luas atau gangguan multi vokal. Gejala
awal tergantung dimana proses demensia mulai terjadi, tetapi lokasi
dan jumlah neuron yang hilang diperlukan untuk menimbulkan
demensia sulit ditetapkan. Pada penyakit Alzheimer yang merupakan
penyebab demensia paling sering, demensia akibat hilangnya
jaringan kortikal terutama pada lobus temporalis, parientalis dan
frontalis,.
Hal ini sebagai kasus bertambahnya jarak antara garis dan
pembersihan vertikel. Tanda holistik adalah adanya beberapa
kekacauan neurofibrinalis dan plak senilis. Plak dan kekacauan
ditemukan dalam otak orang tua yang normal tetapi meningkat
jumlah penyakit Alzheimer, terutama jawab terhadap gangguan
ingatan yang mungkin sebagian diperantarai oleh berkurangnya
aktivitas kolinergik. Aktivitas neurotransmitter termasuk
norepinefrin, serotonin, dopamin, glutamat, somatostatin juga
menurun. Perubahan-perubahan ini disertai dengan berkurangnya
aliran darah serebral dan menurunnya metabolisme oksigen dan
glukosa
PATWAY
4. Karakteristik demensia
Menurut John,(1994) dalam buku Reny Yuli Aspiani,(2014)
bahwa lansia yang mengalami demensia juga akan mengalami
keadaan yang sama seperti orang depresi yaitu akan mengalami
defisit aktivitas kehidupan sehari-hari(AKS), gejala yang sering
menyertai demensia adalah:
a. Gejala awal:
1) Kinerja mental menurun
2) Mudah lupa
3) Gagal dalam tugas
b. Gejala lanjut
1) Gangguan kognitif
2) Ganguan afektif
3) Gangguan perilaku
c. Gejala umum
1) Mudah lupa
2) Aktivitas sehari-hari terganggu
3) Cepat marah
4) Kurang konsentrasi

5. Klasifikasi demensia
Menurut Reny Yuli Aspiani,2014 klasifikasi demensia di bagi
berbagai macam, yaitu:
a. Demensia senilis
Kekurangan peredaran darah ke otak serta pengurangan
metabolisme dan O2 yang menyertainya merupakan penyebab
kelainan anatomis di otak. Pada banayk orang terdapat
kelainan aterosklerosis seperti yang terdapat pada demensia
senilis, tetapi tidak di temukan gejala demensia. Otak mengecil
terdapat suatu otrofi umum, terutama pada daerah frontal.
Yang penting ialah jumlah sel berkurang. Kadang-kadang ada
kelainan otak yang jelas tetapi orang itu tidak psikotik,
sebaliknya pada orang yang sudah jelas demensia kadang-
kadang ada sedikit kelainan pada otak jadi tidak selalu ada
korelasi antara besarnya kelainan histologi dan beratnya
gangguan intelegensi.
1) Gejala:
a) Biasanya sudah umur 60 tahun baru timbul gejala
yang jelas untuk membuat diagnose demensia
senilis. Penyakit jasmani atau gangguan emosi
yang hebat dapat mempercepat kemunduran
mental.
b) Gangguan ingatan jangka pendek, lupa tentang hal-
hal yang berupa terjadi merupakan gejala dini juga
kekurangan ide-ide dan gaya pemikiran abstrak.
Yang menjadi egosentrik dan egoistic, lekas
tersinggung dan marah-marah. Kadang-kadang
timbul aktivitas seksual yang berlebih atau yang
tidak pantas, sesuatu tanda kontrol berkurang atau
usaha untuk konpensasi psikologis.
c) Ia mungkin jadi korban penjahat karena ia mudah
di ajak, contohnya dalam hal penipuan dan seks.
d) Ingatan jangka pendek makin lama makin keras
terganggu, maka makin lama makin banyak ia
lupa, sehingga penderita hidup dalam alam pikiran
sewaktu ia masih muda atau masih kecil.
e) Gejala jasmani: kulit menjadi tipis, keriput, dan
atrofis, BB, atrofi pada otot, jalannya menjadi tidak
stabil, suara kasar, tremor pada tangan dan kepala
f) Gejala psikologis: sering hanya terdapat tanda
kemunduran mental umum (demensia simplek)
tetapi tidak jarang juga terjadi kebingungan dan
dilirium atau depresi atau serta agitasi. Adanya
yang terjadi paranoid pada presbiofrenia terutama
dapat gangguan ingatan serta konvabulasi dan
dapat di anggap sebagai salah satu jenis demensia
senilis dan beberapa gejala yang menonjol dan
sedikit lebih cepat.
2) Prognosa
Tidak baik, jalannya progresif Demensia makin
lama makin berat sehingga akhirnya penderita hidup
secara vegetatif saja walaupun demikian penderita dapat
hidup selama 10 tahun atau lebih setelah gejala-gejala
menjadi nyata.
3) Diagnosa
Perlu di bedakan dari Arterosklerosa otak tapi
kedua hal ini tidak jarang terjadi bersama-sama. Pada
Melankolia Involusi tidak dapat tanda-tanda demensia.
Kadang-kadang sindroma otak organis sebab
uremia,anemia, payah jantung atau penyakit paru-paru
dapat serupa dengan psikosa senilis.
4) Pengobatan
Pertahankan perasaan aman dan harga diri,
perhatikanlah dan coba memuaskan kebutuhan rasa kasih
sayang,rasa masuk hitungan, tercapainya sesuatu dan
rasa penuh dibenarkan serta di hargai.
Kamarnya jangan gelap gulita dan taruhlah barang-
barang yang sudah ia kenal sejak dulu untuk
mempermudah orientasinya.
b. Demensia Presenilis
Seperti namanya maka gangguan ini gejala utamanya
ialah seperti sebelum masa senile akan di bicarakan 2 macam
demensia presenilis yaitu:
1) Penyakit Alzheimer
Penyakit Alzheimer ini biasanya timbul antara usia
50-60 tahun, yang di sebabkan oleh adanya degenerasi
kortek yang difus pada otak di lapisan luar, terutama di
daerah frontal dan temporal. Atrofi otak ini dapat di lihat
pada Pneumoensefalogam, sistem Ventrikel membesar
serta banyak hawa di ruang Subarachnoid.
Penyakit ini di mulai pelan sekali, tidak ada ciri
yang khas pada gangguan intelegensi atau pada kelainan
perilaku. Terdapat disorientasi, gangguan ingatan, emosi
yang lebih, kekeliruan dalam berhitung, dan pembicaraan
sehari-hari dapat terjadi afasi, perseverasi mengulang-
ulang perkataan, pembicaraan logoklonia pengulangan
tiap suku kata akhir secara tidak teratur, dan bila sudah
berat maka penderita tidak dapat dimengerti lagi, Ada
yang jadi gelisah dan hiperaktif. Terkadang sepintas
timbul aproksia (kehilangan kecakapan yang di peroleh
sebelumnya untuk melakukan pekerjaan atau gerakan
yang memerlukan keterampilan), Hemiplegia atau pra
plegia, parase pada muka dan spasme pada ektremitas
juga sering terjadi sehingga pada stadium akhir timbul
kontraktur. Pada pase ini sudah sangat dement dan tidak
diadakan kotak dengannya lagi. Bisanya penyakit ini
berlangsung selama 5-10 tahun.
2) Penyakit Pick
Secara patologis penyakit ini adalah Atrofi dan
Gliosis di daerah-daerah asosiatif, daerah motorik,
sensorik, dan daerah proyeksi secara relative dan banyak
berubah. Yang terganggu adalah daerah krotek yang
secara filogenetik lebih mudah dan yang penting buat
fungsi asosiasi yang lebih tinggi. Sebab itu yang
terganggu adalah pembicaraan dan proses berfikir.
Penyakit ini mungkin Herediter di perkirakan
terdapat faktor menjadi pencetus dari sel-sel ganglion
yang tertentu yaitu: genetik paling muda. Lobus Frontalis
menjadi demikian atrofis sehingga kadang keliatan
seperti di tekan oleh suatu lingkaran. Biasanya terjadi
pada umur 45-60 tahun, yang termuda pernah di
beritakan umur 31 tahun.
Penyakit pick terdapat dua kali lebih banyak pada
kaum wanita dari pada kaum pria. Gejala: ingatan
berkurang, kesukaran dalam pemikiran dan konsentrasi,
kurang sepontanitas, emosi menjadi tumpul. Penderita
menjadi acuh tak acuh, kadang-kadang tidak dapat
menyesuaikan diri serta menyelesaikan masalah dalam
situasi yang baru. Dalam waktu 1 tahun sudah terjadi
Demensia yang jelas. Ada yang efor, ada yang jadi susah
dan curiga. Sering terdapat gejala fokal seperti afasia,
aproksia, aleksia, tetapi gejala ini sering diselubungi oleh
Demensia umum. Ciri Afasia yang penting pada penyakit
ini ialah terjadinya secara pelan-pelan (tidak mendadak
seperti pada gangguan pembuluh darah otak), terdapat
Logorrhea yang spontan (tidak ada pada afasia sebab
gangguan pembuluh darah). Tidak jarang ada Echolalia
dan Reaksi Stereotip.
Pada fase lanjut Demensia menjadi hebat,terdapat
inkontinensia kemampuan buat bicara hilang dan
Demensia yang berat. Biasanya penderita meninggal
dalam waktu 4-6 tahun karena suatu penyakit infeksi
tambahan. Sampai sekarang tidak ada pengobatan
terdapat kasus Demensia presenilis. Dapat di rencanakan
bantuan yang simptomik dalam lingkungan yang
memadai. Biar gelisah dapat di pertimbangkan
pemberian obat psikotropik.
6. Pemeriksaan Demensia
Pemeriksaan penting yang harus di lakukan untuk penderita
mulai dari pengkajian latar individu, pemeriksaan fisik, pengkajian
status mental dan sebagai penunjang juga di perlukan di
laboratorium.
1. Pemeriksaan fungsi kognitif dan fungsi mental

Tabel 2.6 tabel pemeriksaan fungsi kognitif dan mental


(Ns. Reny Yuli Aspiani, 2014)
Nilai maksimum Score Pertanyaan
Orientasi
5 (tahun) (musim) (tanggal) (hari) (bulan apa sekarang)
5 Dimana kita: (negara bagian)(wilayah)(kota)(rumah sakit)
(lantai)

Registrasi
3 Nama 3 objek: 1 detik untuk mengatakan masing-masing.
Kemudian tanyakan klien ketiga objek setelah anda
mengatakannya. Beri 1 poin untuk setiap jawaban yang benar.
Kemudian ulangi sampai ia mempelajari ketiganya. Jumlahkan
percobaan dan catat.
Perhatian dan
kalkusi
5 Seri 7s. 1 poin untuk setiap kebenaran berhenti setelah 5
jawaban. Bergantian eja “kata” ke belakang.

Meminta
3 Minta untuk mengulang ketiga objek diatas. Beri 1 poin untuk
setiap kebenaran.
Bahasa
9 Nama pensil dan melihat(2poin) mengulangi hal berikut: “tak
ada jika dan atau tetapi” (1poin)
Nilai Total: 30
Keterangan:
Nilai maksimal 30, nilai 21 atau kurang biasanya indikasi adanya
kerusakan kognitif yang memerlukan penyelidikan lanjut. Kriteria
demensia:
a. Ringan: 21-30
b. Sedang: 11-20
c. Berat: ≤10
2. Pemeriksaan portable untuk status mental (PPMS=MMSE=Mini
mental state examination)

Tabel 2.7 tabel pemeriksaan mini mental state examination


(Ns. Reny Yuli Aspiani, 2014)
Daftar pertanyaan
1. Tanggal berapakah hari ini? 1. 0-2 kesalahan = baik
(bulan,tahun) 2. 3-4 kesalahan =gangguan intelektual
2. Hari apakah ini? ringan
3. Apakah nama tempat ini? 3. 5-7 kesalahan gangguan intelektual
4. Berapa nomer telpon bapak/ibu? (bila sedang
tidak ada telpon, dijalan apakah 4. 8-10 kesalahan = gangguan
rumah bapak/ibu? intelektual berat
5. Berapa umur bapak/ibu? 5. Bila penderita tak pernah sekolah, nilai
6. Kapan bapak/ibu lahir? kesalahan di perbolehkan +1 dari nilai
(tanggal,bulan,tahun) di atas.
7. Siapakah nama gubernur 6. Bila penderita sekolah lebih dari SMA,
kita? (walikota/lurah,camat) kesalahan yang di perbolehan -1 dari
8. Siapakah nama gadis ibu anda? nilai atas.
9. Hitung mundur 3-3, mulai dari 20
7. Penatalaksana
Penatalaksana awal meliputi pengobatan setiap penyebab
Demensia yang Revesibel atau keadaan bingung yang saling
tumpang tindih. Sekitar 10% pasien dengan Demensia menderita
Peseudodemensia yang disebabkan oleh penyakit Psikiatrik yang
dapat diobati dan 10% yang menderita penyebab penunjang yang
dapat dimodifikasi seperti Alkoholisme atau Hypertensi.
Pasien Demensia ringan dapat melanjutkan aktifitas dirumah
yang relatif normal tetapi jarang ditempat kerja. Ketika gangguan
menjadi lebih dalam pasien membutuhkan banyak bantuan dengan
aktivitas kehidupan sehari-hari. Beberapa pasien yang terganggu
agak berat dapat hidup sendiri jika mereka dapat dukungn dari
masyarakat termasuk kunjungan setiap hari dari keluarga atau teman.
Kunjungan teratur oleh perawat masyarakat pemberian makanan dan
bantuan dari tetangga. Beberapa individu Demensia ringan menjadi
terganggu orientasinya yang bingung jika di pindahkan ke
lingkungan yang tidak bisa seperti Rumah Sakit (Dede
Nasrullah,2016)