Anda di halaman 1dari 145

1

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN DALAM TINDAK

PIDANA KELALAIAN MEDIK (MALPRAKTIK) DI BIDANG

KESEHATAN

SKRIPSI

Oleh :

OKI QUDRATULLAH

No. Mhs : 07.410.507

Program Studi : Ilmu Hukum

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

FAKULTAS HUKUM

YOGYAKARTA

2011
2
3
4
5
6

HALAMAN MOTTO

Q.S. Al-Maidah (5 : 8 )
“ Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-
orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah,
menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat
kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

( HR.MUSLIM )
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu
maka Allah akan memudahkan padanya jalan menuju ke
surga”

( Alber Einsten )
“Tidak ada yang lebih merusak martabat pemerintah dan
hukum negeri dibanding meloloskan undang-undang yang
tidak bisa ditegakkan.”

( Oki Qudratullah/Penulis )
”Kadangkala orang yang paling mencintaimu adalah orang
yang tak pernah menyatakan cintanya padamu karena orang
itu takut kau berpaling dan menjauhinya. Dan bila dia suatu
masa hilang dari pandanganmu, kau akan menyadari dia
adalah cinta yang tidak pernah kau sadari.”

iv
7

HALAMAN PERSEMBAHAN

Kupersembahkan Skripsi ini kepada yang tercinta :

Allah S.W.T

Nabi Muhammad SAW

Ayahanda dan Ibunda tercinta ( DRS. M. Idris Wahidin dan Sri

Susanti ) .

Kakakku ( Nila wati suzana dan M. Rasyid Ridho ) Adikku ( Rifki

Yusticio )

Bapak dan Ibu guruku tercinta

Sahabat-sahabat terbaikku

Seseorang yang insya allah menjadi tema sejati dan pendamping

hidupku nanti guna menemani perjuangan suci

Almamaterku

v
8

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat


Allah SWT, atas segala rahmat serta karunia berupa ide, kesehatan,
waktu, kemudahan yang diberikanNya, setelah melalui sebuah perjalanan
panjang menuju pencarian jati diri, cita dan cinta yang hakiki pada
akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir untuk memperoleh
gelar Sarjana Hukum (SH) di Fakultas Hukum Universitas Islam
Indonesia. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada sang
revolusioner sejati, pembawa cahaya bagi umat manusia junjungan, kita
Nabi Muhammad SAW.
Sebagai sebuah karya manusia biasa yang tidak luput dari salah
dan lupa tentunya skripsi ini bukanlah apa-apa. Lembaran kertas yang
terdiri dari 4 (empat) Bab ini masih sangat mungkin terdapat beberapa
kekurangan dan ketidaksempurnaan. Akan tetapi berangkat dari semua
keterbatasan itulah penulis mencoba belajar dan terus belajar menjadi
yang terbaik.
Walaupun hanya berupa karya sederhana penulis berharap ide-ide
gagasan yang tertuang di dalamnya dapat bermanfaat serta menjadi
konstribusi positif terhadap khasanah keilmuan khususnya dalam bidang
kajian Hukum Pidana. Di samping itu pula, kajian tentang Perlindungan
Hukum Terhadap Pasien Dalam Tindak Pidana Kelalaian Medik
(Malpraktik) Di Bidanag Kesehatan di Indonesia ini dapat diterima oleh
semua pihak baik dari kalangan akademisi hukum maupun masyarakat
luas.
Lahirnya karya sederhana ini tentu tidak terlepas dari bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak sehingga dapat selesai sesuai target dan
hasil yang maksimal. Untuk itu, ucapan terima kasih penulis sampaikan
kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec, selaku Rektor
Universitas Islam Indonesia periode 2006-2010.

2. Bapak Dr. Rusli Muhammad,SH.MH , selaku Dekan Fakultas


Hukum UII

3. Bapak DR. Syaifuddin, SH,M.Hum selaku Wakil Dekan Fakultas


Hukum UII

4. Ibu DR.Aroma Elmina Martha,SH,MH, selaku Pembimbing Skripsi


Penulis, yang telah berkenan memberikan bimbingan serta
pengarahan progresif dan konstruktif kepada penulis dalam

vi
9

menyelesaikan penulisan skiripsi. Beliau masih berkenan


membimbing penulis walaupun dengan kesibukan sebagai dosen
pengajar S-1 dan Dosen S-2 Fakultas Hukum UII.

5. Bapak DR. Suparman Marzuki, SH,M.Si, selaku Dosen Pembimbing


Akademik Penulis, terima kasih untuk pengarahan serta
bimbingannya.

6. Dosen di lingkungan Fakultas Hukum UII, Bapak Prof. DR. H.


Dahlan Thaib, SH,. M.Si (Alm), Bapak Prof. DR. H. Moh. Mahfud.
MD, SH,.SU, Ibu Pudak Nayati, SH., L.LM, Ibu Sri Hastuti Puspita
Sari, SH.,MH, Ibu Ni’matul Huda, SH.,M.Hum, Bapak DR.
Mustaqiem, SH.,M.Si, Bapak DR. Mudzakkir, SH.,MH, Bapak Prof.
DR. Ridwan Khairandy, SH,. MH, Bapak Nandang Sutrisna, SH,.
L.LM,M.Hum,Ph.D, Bapak Drs. Agus Triyanta, MA,.M.Hum,
Bapak DR. SF. Marbun, SH., M.Hum, Bapak M. Busyro Muqoddas,
SH., M.Hum, Bapak DRS. Rohidin, M.Ag, serta beberapa dosen
lainnya yang telah memberi dan berbagi wawasan, ilmu
pengetahuan, dan segenap pengalamannya.

7. Bapak Komari,SH,M.Hum, Bapak H.M.Lutfi Hasan,SH, Bapak


Riyanto Aloysius,SH, dr. Bambang Suryono,S.Sp,KIC,KNA,M.kes,
dan Mas Banu , SH , selaku nara sumber. Di tengah kesibukan
beliau dari profesinya masing-masing masih berkenan berdiskusi
dan berbagi informasi dengan penulis dengan tema skripsi
tersebut.

8. Ungkapan dari hati untuk Bapak M. Idris Wahidin dan Ibukku Sri
Susanti terima kasih atas semua kepercayaan, perhatian, cinta, doa
serta kasih sayang tulus tanpa pamrih yang diberikan kepada
Ananda. Belum ada suatu hal yang berharga yang dapat ananda
berikan, tapi ananda akan selalu berusaha untuk tidak membuat
bapak dan ibuk kecewa. Aminn, Mohon do’anya selalu kedua
orang tua ku.

9. Untuk Saudara-saudariku, Nilawati Suzana, M. Rsyid Ridho , dan


Rifki Yusticio (adik) beserta seluruh keluarga besar yang ada di
Palembang dan Yogyakarta Penulis Ucapkan terima kasih atas
bantuan, dorongan dan do’anya.

10. Untuk bapak dan ibuk yang selalu melayani saya di perpustakaan
FH UII. Untuk mbak nina di kantor IDI terimakasih juga

vii
10

info2nya,Mas nugroho “Diklit”RSUP Sardjito. Terimakasih atas


bantuanny, tanpa bantuannya tidak mungkin saya bisa
menyelesaikan skripsi tepat waktu.

11. For All my best friends di Jogja : Eka budianta ( Tmn dari SD kls 1 sd
sekarang, cepet men bud lulus kawa lame-lame kate e nek jadi
honorer..akakaka ), Hardika aja ( jgn kwe ngebut2 lagi can ntr jtuh
lagi koe, gk tega liatny, hahaha),Diego Arizona ( dikerjain go SKH
Ny jgn bolak balek jogja-karang anyar wae), Fauzi N Maulana,
Whindy Sanjaya ( Senang kalo ingat masa-masa kerja kelompok
semester2 awal ), Dipo Setya Hadi ( Perbanyak koleksi baju bola
sama kucing mu po ), Indra Bayu ( Jangan pernah putus asa kopral
bayu, wkwkw), Z.alMufty ( Gosok gigi wak, malas kali bah ku
tengok), Ripon Abdika ( Petualangan kemana lagi kita ???), Andi
Maulana ( Kmana kita wq, ap wq, bukan wq, itu wq, wehehe..),
Febri Surya Puspasari ( Jangan kebanyakan sedih bie, hadapai
dengan senyuman ☺, Ernisa Swidares ( Makasih er atas semua
copyan catatan e, sangat berguna hingga mengantarku jadi seorang
sarjana, ahhaha, R.Nur Cahyo ( Senang berkenalan dengan anak
raja, wkwk), Rivalmi Muhammad ( Ayo mi badminton lagiiii ) ,
Ogiandhafiz Juanda ( Makasih bro dah ngajarin B.inggris yang baik
dan benar ( Anak IP gtu lho!!), Breket Genk ( Tita wuri,
Ve”Mbul”,Anita”Mb Nink”, Rossa”watik” ( Mkasih ya atas
petualangan Kulinernya kmaren2,hmm), Tety zhagie, Sintiany dipo
Dan tentunya semua anak2 kls H ankatan 2007 yang tidak mungkin
disebutkan satu persatu, Anak-anak kosan gambir sawit ( Nikmatin
aja permainan gamelannya ) Rekan-rekan badminton
community….. maaf wak gak bisa aq sebutin semua habis
kertasnya lumayan jug nanti ngeprintnya aq, ahahahahaha

12. Teman-teman satu bimbingan ibu aroma, Budi solahudin, diyah,


ayo kawan selesaikan skripsweetnya ^_^…..

13. Teman teman KKN Unit 96 Klaten, Fietyatha yudha, Lui alias Dwi
Loura, Taufik Khoirul Mustofa, Widya ehem, Astiti (wanita tegar)
Dan Mami na Oci “Mutiara arum puspa” Senang menghabiskan
waktu 1 bulan bersama kalian, makasih banyk sama ketua kalian
ni, krn aku kalian dpt A semua, hahahahaa…

viii
11

14. Untuk almamaterku tercinta HMI-MPO, terima kasih atas ilmu,


pengalaman, pengabdian dan yakin Usaha Sampai.....Bahagia
HMI.....

15. For all my freinds in HMI-MPO FH UII , terutama teman2 satu


angkatan LK 1 ( Laskar Paris) Januar akbar, Ilmi (Paul), Ronald
frenky S, hardika, whindy sanjaya, diego Arizona, aga, ritonga (
sekarang jadi ketua KOMI HMI si kawan), eky, Dian Permata Sari,
Adhiba prattidita, masih banyak lagi lupa awak. Terimakasih atas
perjuangannya dan persahabatanny selama ini. Semoga pengurus
komi selanjutnya lebih baik dan membawa kemajuan. Amin !!!

16. Semua orang yang telah membantu penulis selama menempuh


studi di Fakultas Hukum UII. Semoga Allah SWT membalas
kebaikan mereka.

Demikian ungkapan terima kasih penulis, semoga skripsi yang


sangat sederhana ini berguna bagi penulis secara pribadi dan kepada
perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya.

Yogyakarta, 23 Desember 1010


Penulis

Oki Qudratullah

ix
12

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii

HALAMAN MOTTO .................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………. v

KATA PENGANTAR.................................................................................... vi

DAFTAR ISI................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN....................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah......................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................. 11

C. Tujuan Penelitian ................................................................... 11

D. Tinjauan Pustaka .................................................................... 11

E. Definisi Operasional .............................................................. 19

F. Metode Penelitian .................................................................. 22

BAB II TINJAUAN TEORITIK TENTANG KONSEP

MALPRAKTIK SERTA PENYELESAIAN MEDIS DAN

BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP

PASIEN

A. Konsep Malpraktik dan Penyelesaiannya .............................. 26

A.1. Istilah Malpraktik............................................................ 26

A.2. Pengertin Malpraktik ...................................................... 27

A.2.1 Malpraktik Medik atau Sengketa Medik............... 32

x
13

A.2.1.1 Malpraktik Medik............................................... 32

A..2.1.2 Sengketa Medik.................................................. 34

A.3. Sumber Perbuatan Malpraktik ........................................ 35

A.3.1 Teori Pelanggaran Kontrak..................................... 35

A.3.2 Teori Perbuatan Yang Disengaja ............................ 37

A.3.3 Teori Kelalaian ....................................................... 38

A.4. Alternatif Penyelesaian Medis........................................ 39

A.4.1 Penyelesaian Medis ...................................................... 39

A.4.1.1 Melalui Majelis Etik Kedokteran......................... 39

A.4.1.2 Melalui Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia (MKDKI) ........................ 44

A.4.1.3 Melalui Peradilan Umun...................................... 47

A.4.1.3.1 Peradilan Perdata....................................... 47

A.4.1.3.2 Peradilan Pidana........................................ 50

A.4.1.4 Melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen 52

B. Bentuk Perlindungan Hukum Pasien Dalam

UU No.29 Tahun 2004 Terkait Tindak Pidana

Kelalaian Medik ..................................................................... 55

B.1 Pengertian Perlindungan Hukum Pasien ......................... 55

B.2 Tindak Pidana Di Bidang Praktik Kedokteran ................ 57

B.3 Malpraktik Menurut Syariat Islam .................................. 64

xi
14

BAB III HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN ......................................................................... 69

A. Konsep Perumusan Malpraktek Medik Dalam

Tindak Pidana Kedokteran Di Bidang Kesehatan.................... 69

A.1 Prinsip Dan Aspek Hukum Malpraktik............................. 72

A.2 Aspek Hukum Malpraktik.............................................. 75

A.2.1 Hubungan Antara Dokter Dan Pasien..................... 75

A.2.2 Pembuktian Malpraktik .......................................... 79

A.3 Penyelesaian Sengketa Menurut UU Di Bidang

Kesehatan ......................................................................... 88

A.3.1 Penyelesaian Sengketa Menurut UU Kesehatan

UU No.36 Tahun 2009................................................. 89

B.Perlindungan Hukum Terhadap Pasien Dalam Tindak

Pidana Kelalaian Medik ........................................................... 94

B.1 Penetapan Sanksi Pidana Dalam UU No 29 Tahun 2004.. 95

B.2 Pasal Yang Dinyatakan Inkonstitusional Dalam

UU 29 Tahun 2004 Dan Implikasinya ............................... 98

B.3 Implikasi hukum .............................................................. 101

B.4 Ketentuan Pidana Yang Berlaku Dalam

UU No 29 Tahun 2004 Pasca Putusan MK........................ 102

C. Tinjauan Putusan.................................................................... 108

xii
15

BAB IV PENUTUP................................................................................... 119

A. Kesimpulan ............................................................................ 119

B. Saran....................................................................................... 124

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 125

LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 129

xiii
16

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul PERLINDUNGAN HUKUM TEHADAP


PASIEN DALAM TINDAK PIDANA KELALAIAN MEDIK (
MALPRAKTIK) DI BIDANG KESEHATAN. Penelitian ini dilatarbelakangi
oleh suatu fakta bahwa belum adanya suatu pengertian yang baku tentang
malpraktik yang menimbulkan perdebatan. Jika terjadi suatu konflik tentang
malpraktik yang berkaitan dengan hubungan antara dokter dan pasien masing-
masing pihak tersebut kuat dengan argumennya masing-masing. Hal-hal semacam
ini lah sebenarnya membutuhkan suatu penyelesaian Upaya penyelesaian yang
sebenarnya dapat dilakukan dengan upaya damai tanpa harus mengakhiri suatu
hubungan hukum, melainkan menyelesaikan persoalan hukum secara damai.
Penelitian ini juga dilatarbelakangi pada UU 29/2004 tentang praktik kedokteran
apakah telah memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi pasien
manakala terjadi dugaan malpraktik.
Permasalahan utama yang ingin dijawab dengan penelitian ini adalah,
bagaimana kosep malpraktik agar tidak menimbulkan kebingungan dan perbedaan
persepsi tentang malpraktik itu dan penyelesaian medis dalam norma hukum
kesehatan. Dan juga menfokuskan pada bagaiman bentuk perlindungan hukum
terhadap pasien dalam UU No.29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan yuridis normatif, yaitu data dan
fakta yang diteliti dan dikembangkan berdasarkan pada hukum. Metode
pendekatan pada penelitian ini mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat
dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan. Penggalian data
dilakukan dengan wawancara terhadap hakim pada Pengadilan Negeri Yogyakarta
dan Sleman , wawancara terhadap Ikatan Dokter Indonesia wilayah yogyakarta ,
wawancara terhadap perwakilan bagian hukum dan humas RSUP DR.SARDJITO
sebagai subjek penelitian, studi kepustakaan dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan, istilah malpraktik adalah isu hukum
yang timbul karena adanya perbuatan yang dianggap merugikan pasien. Padahal
sebenarnya istilah malpraktik itu jika digunakan terhadap seorang dokter yang
sedang bertugas dan dituduhkan oleh pasien yang bersangkutan kepada dokter
tersebut karena si dokter tidak menjalankan tugasnya secara baik sesuai standar
profesi hal itu tidak dibenarkan. Bukan malpraktik istilah yang tepat digunakan
melainkan adalah sengketa medik. Istilah ini lebih tepat menggambarkan
ketidaksamaan pemahaman antara dokter dan pasien dalam hubungan hukum
keduanya. Dikenal dengan inspaning verbintenis dan Resultat verbintenis. Konflik
malpraktek ini jika memang telah terbukti sendiri harus diberikan jalan
penyelesaian. Salah satu bentuk penyelesaian adalah upaya mediasi yang
dilakukan diluar pengadilan. Dalam UU 29 tahun 2004 tentang praktik
kedokteran didalamnya terdapat 6 pasal pidana yang didalamnya memberikan
ancaman bagi para dokter yang bertujuan untuk melindungi hak-hak pasien.
Diantara 6 jenis peraturan tersebut telah ada 3 aturan yang dinyatakan
inkonstitusional yaitu rumusan yang terdapat dalam pasal 75,76 dan 79. Ke 3
pasal tersebut adalah berkaitan dengan pelanggaran hukum admintrasi
kedokteran.

xiv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia Sebagai individual (perseorngan) mempunyai kehidupan dan

kepentingannya masing-masing. Namun sebagai individu, manusia tidak akan bisa

mendapatkan atau merealisasikan keinginan dan kepentingannya dengan mudah.

Setiap individu yang ada di dunia ini adalah makhluk sosial yang kehidupannya

bergantung juga kepada makhluk lain.

Aristoteles (384-322 sebelum M) seorang ahli fikir yunani kuno

menyatakan dalam ajarannya, bahwa manusia itu adalah ZOON POLITICON,

artinya bahwa manusia itu sebagai makhluk pada dasrnya selalu ingin bergaul dan

berkumpul dengan sesama manusia lainnya, jadi makhluk yang

bermasyarakat,maka disebut makhluk sosial. 1

Hasrat hidup bersama-sama dengan individu atau masayarakat telah

menjadi pembawaan manusia. Rasa saling tolong menolong antar sesama individu

atau manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam diri individu manusia

itu masing-masing. Salah satunya adalah seperti aspek hubungan antara dokter

dan pasien. Aspek sosial hubungan hukum ke dua nya ini menyangkut pola-pola

interaksi sosial yang berlaku dalam situasi kemasyarakatan tertentu.

Dokter merupakan suatu profesi, dokter sebagai pengemban profesi

adalah orang-orang yang mempunyai keahlian dan keterampilan dengan ilmu

1
DRS.C.S.T. Kansil,S.H.,Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia,PN BALAI
PUSTAKA,Jakarta 1989,Hal 29
2

kedokteran secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang

memerlukan pelayanannya dan memutuskan sendiri tindakan yang harus

dilakukan dalam melakukan dan melaksanakan profesinya, serta secara pribadi

bertanggung jawab atas mutu pelayanan yang diberikannya. 2

Dari sudut pandang sosiologis, maka baik dokter maupun pasien

mempunyai kedudukan sosial yang selanjutnya menghasilkan peranan.

Kedudukan tersebut merupakan wadah hak dan kewajiban. Oleh karena itu

dikatakan bahwa, seseorang yang mempunyai kedudukan tertentu menjadi

pemegang peranan tertentu pula. 3

Dalam kaitan dengan Undang-Undang perlindungan konsumen, dokter

termasuk pelaku usaha karena dokter menyediakan jasa pelayanan kesehatan.

Sehingga pasien termasuk juga kedalam Undang-Undang perlindungan konsumen

Nomor 8 Tahun 1999 sebagai konsumen kesehatan. Berarti kedudukan Dokter

dan Pasien ini sebagai hubungan antara produsen dan konsumen. Oleh karena itu

si pasien atau penderita menganggap memiliki kedudukan hukum yang sederajat

atau sama dengan dokter (Kontraktual horizontal )

Dengan demikian kedudukan kontrakutal horizontal ini telah mengalami

perubahan dari yang sebelumnya tentang analisis mengenai kedudukan yang

disebutkan dalam oleh Prof..DR Soerjono Soekanto, sebagai berikut 4 ::

“Lazimnya analisis mengenai kedudukan dokter dan pasien dilakukan


atas dasar perspektif vertikal. Kedudukan-kedudukan dilihat dari
stratifikasi, sehingga ada kedudukan tinggi, menengah dan rendah. Secara
relative dokter cenderung menduduki posisi dominan : artinya, kedudukan
lebih tinggi daripada pasien. Pasien dianggap mempunyai pasien
2
http://www.diglib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=107142&lokasi=lokal
3
Soerjono Soekanto, Aspek Hukum Kesehatan,hal 21, PN IND-HILL-CO, Jakarta 1989
4
Ibid. hal 22
3

sebagai”underdog” yang senantiasa bersikap menunggu dan dianggap


hamper-hampir tidak mempunyai wewenang melkaukan hal-hal yang
menyimpang dari apa yang diperintahkan dokter”

Dengan adanya pergeseran konsep hukum seperti di atas tentang

hubungan antara dokter dan pasien berarti telah terjadi pergeseran yang mengarah

kepada peningkatan kesehatan, yakni hubungan yang sederajat antara hubungan

dokter dan pasien.

Pada saat sekarang ini kita masih berada dalam masa peralihan. Nilai dan

norma lama masih belum dilepaskan seluruhnya. Sedangkan nilai dan norma baru

sudah merasuk mendesak masuk dan mempengaruhi kedalam tata cara hidup serta

pandangan hidup masyarakat. Tentu disadari dalam setiap peralihan pastilah

terdapat perubahan, ada segi positifnya dan segi negatif. Segi positif nya tentu

berupa adanya kemajuan disegala bidang, misalnya dalam bidang kesehatan

perkembangan hukum secara keseluruhan yang mengatur hak-hak masyarakat

dalam bidang kesehatan yang mengarah kepada peningkatan pelayanan kesehatan.

Segi negatifnya tentu berimbas cenderung kepada masyarakat yang mempunyai

peranan. Menyebabkan masyarakat tersebut memiliki sifat yang

matrealistis,hedonistis dan konsumptif. Jika sudah begini segala sesuatu hanya

akan diukur dengan materi.

Hal ini juga mempengaruhi bidang profesi, termasuk profesi kedokteran.

Segala cara seakan-akan dihalkan demi mecapai tujuannya. Berimbas pada


4

perubahan orientasi dan motifasi pengabdian sebagai seorang dokter. Dan hal

semacam ini ada pada diri sebagian dokter.5

Perubahan sikap pada sebagian diri dokter itu sendiri muncul setelah

banyak masyarakat yang merasa atau setidaknya jika tidak mersakan langsung

mereka mendengar dan melihat dari media banyaknya kasus-kasus yang kurang

atau sangat tidak memuaskan pasien atau masyarakat dikarenakan perlakuan atau

tindakan medis oleh para dokter.

Perbuatan atau tindakan medis yang dilakukan oleh para dokter tersebut

yang tidak sesuai dengan profesonalisme atau standar profesi kedokteran lebih

dikenal atau digunakan secara luas di Indonesia dengan sebutan Malpractice

medic (MALPRAKTIK). Malpraktek adalah suatu istilah yang mempunyai

konotasi buruk,stigmatis. Belakangan malpraktek selalu diasosiasikan dengan

profesi kedokteran, padahal secara umum praktek malpraktek adlah suatu praktek

yang buruk dari seseorang yang memegang suatu profesi. 6

Dalam salah satu literatur yang penulis baca ditemukan beberapa

pengertian tentang malpraktek. Memang susah membedakan antara negligence

dan malpractice. Didalam literature keduanya sering dipakai secara bergantian

seolah-olah artinya sama. Namaun sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda.

Kelalaian memang termasuk dalam pengerttian malpraktik, tapi juga mencakup

tindakan yang dilakukan dengan sengaja ( intentional dolus ) yang mana didalam

arti kesengajaan tesebut tersirat ada motifnya ( mens rea,guilty,mind ). Sedangkan

negligence lebih kepada ketidaksengajaan (culpa), kurang teliti,,kurang hati-hati,


5
J.Guwandi,SH, Kelalian Medik(medical Neglience),halaman 2,Fakultas Kedokteran UI,Edisi
kedua,1994
6
Ibid. hal.1
5

acuh tak acuh, tak perduli terhadap kepentingan oranglain. Namun akibat yang

timbul dari neglience/culpa ini bukan menjadi tujuannya.7

Berkaitan dengan persoalan malpraktek yang terjadi, ada yang

beranggapan malpraktek berbeda dengan sengketa medik. Misalnya kasus: Ingin

anaknya sembuh dari sakit demam dan batuk, Sumaji (35) dan Sutiah (30), warga

jalan Kolonel Sugiono 38 Waru, berusaha membawa sang anak, Husnul Khotimah

(9) ke RSAB Prima Husada Waru. Namun tindakan yang dilakukan justru

berbuah petaka bagi sang anak yang harus menderita melepuh sekujur tubuh.Apa

yang menimpa Husnul ini banyak menimpa para pasien rumah sakit. Sayang

ketika akhirnya sang pasien berusaha membawa ke ranah hukum akibat ulah sang

dokter dan pihak rumah sakit justru dikalahkan. Hakim pengadilan justru menolak

gugatan pasien dengan alasan dari bukti-bukti yang diajukan selama persidangan

tidak terbukti. ( Harian Surabaya Pagi Online 1/7/2010). 8

Pertimbangannya adalah pada kasus pasien dan keluarga yang tidak puas

terhadap hasil pengobatan yang dilakukan dokter atau rumah sakit tertentu dan

mengajukan laporan atau pengaduan ke media massa misalnya, merupakan bagian

dari kontrak terapitik yang disepakati (atau tidak disepakati) yang ternyata

menimbulkan ketidakpuasan dari pihak pasien/keluarganya. Pada kasus seperti

ini, ada yang berpendapat bahwa tidak semua kegagalan medis yang terjadi

7
Ibid.hal.13
8
Aroma Elmina Martha “Penyelesaian Sengketa Medik Melalui Mediasi Penal” makalah
disampaikan pada pada diskusi: Mediasi Penal Dalam Sengketa Medik, diselenggarakan Kajian
Hukum Pidana Mahkamah Agung RI,9-10 Agustus 2010
6

sebagai akibat dari malpraktek medik, karena kasus ini dapat dikategorikan

sebagai sengketa medik. 9

Terlalu banyak pendapat tentang pengertian malpraktek. Hal ini

menimbulkan adanya perdebatan antara para dokter dan para penegak hukum. Hal

ini mengakibatkan berpengaruhnya pada proses penegakan hukum. Tidak ada

definisi yang pasti tentu mempengaruhi kepastian hukum dalam penegakan kasus-

kasus malpraktek. Hal ini menyebabkan hingga saat ini pertanggungjawaban

pidana masih sanagt sulit dilakukan. Ini dikarenakan tidak adanya kesepahaman

antara unsur-unsur dari aspek sikap batin pembuat, aspek perlakuan medis, dan

aspek akibat perlakuan dengan hukum yang khusus mengatur malpraktik medik

ini.

Dalam UU 29 Tahun 2004 tidak memuat pengertian malpraktik hanya

memeberi dasar hukum bagi korban yang dirugikan untuk melaporkan tindakan

dokter dalam menjalankan praktek kedokterannya secara tertulis kepada Majelis

Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (Pasal 66 ayat 1).

Malpraktik ini sendiri merupakan kejahatan medis yang berdampak

langsung pada pasien. Banyak kasus dugaan malpraktik yang tidak sedikt

menimbulkan kematian kepada korbannya (pasien). Pasien yang berobat bukan

menjadi sembuh seperti keinginannya, tapi malah menjadi cacat atau meninggal

dunia. Kasus malpraktik medik yang baru-baru ini muncul yang cukup

mendapatkan perhatian dari masyarakat aceh khususnya adalah kasus operasi

pasien Sofiana Zahra di RSU Datu beruh takengon. Diketahui Seorang oknum

9
Ibid
7

dokter spesialis Poli Bedah RS. Datu Beru Takengon diduga melakukan mal

pratek dan penipuan terhadap keluarga pasien Sofiana Zahara.” Sebagaimana

diketahui, bahwasanya oknum dokter tersebut menuai kegagalan dalam

melakukan operasi patah tulang dengan alasan minimnya fasilitas peralatan rumah

sakit, sehingga melakukan operasi dengan ala kadarnya. Dan yang lebih

memprihatinkan adalah tindakan Dr. Hasmyza tersebut tidak menggunakan pen

(penyambung tulang) yang dibawa oleh orang tua pasien, namun

menggantikannya dengan pen (penyambung tulang) yang sudah berumur 60

tahun” hal ini mengakibatkan kaki sebelah kanan pasien nyaris tak berfungsi” 10

Seharusnya kalau memang peralatan di RS. Datu Beru Takengon tidak

memungkinkan untuk menangani tindakan medis terhadap pasien Sofiana Zahara

yang patah kaki, lebih baik memberi rujukan seperti yang tertuang dalam Undang-

Undang No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran pasal 51 point a dan b,

yang berbunyi : 11

“Pasal 51 a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standart profesi


dan standart operasional serta kebutuhan medis pasien.
Pasal 51 b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang
mempunyai keahlian dan kmampuan ynag lebih baik, apabila tidak
mampu melakukan sesuatu pemeriksaan atau pengobatan

Dalam UU 29 tahun 2004 pasal 51 point b itu mengharuskan bahwa

pengobatan terhadap pasien itu harusnya dilakukan oleh orang yang berkompeten

atau secara langsung tidak membenarkan seseorang yang tidak mengkaji ilmu

kedokteran turun untuk mengobati pasien. Sehingga dengan demikian jika terjadi

10
Http://www.kabargayo.com/-cetak/0404/16/Jendela/9712 65.htm 30 agustus 2010,diakses pada
hari jumat 1 oktober 2010, pukul 21.00
11
UU No 29 Tahun 2004
8

bahaya atas diri pasien tersebut dokter tersebut berkewajiban untuk bertanggung

jawab.

Kasus-kasus Malpraktik seperti ini yang telah berbentuk “ criminal

malpractice “ tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun juga terjadi diluar negeri,

Pada kasus lain, di Queen’s Medical Center Nottingham (England), seorang

remaja penderita kanker dalam perawatannya menjadi koma dan meninggal

karena obat kanker salah disuntikkan pada tulang belakangnya. Kejadian Queen’s

Medical Center menggambarkan bagaimana tekanan pekerjaan dapat

menyebabkan perawatan yang terbaik untuk pasien jadi diabaikan. 12

Contoh kasus malpraktek diatas menggambarkan sebagian kegagalan

dalam menjalankan profesinya sebagai seorang dokter sehingga menimbulkan

kerugian pada diri orang lain. Harus diakui bahwa kasus malpraktik baik yang

disengaja dan karena kelalaian dari para dokter yang dapat samapai terungkap di

pengadilan memang sulit.

Terkadang akan sangat sulit bagi para pasien yang menjadi korban dugaan

tindakan malpraktik untuk melaporkan adanya suatu kasus malpraktek yang

diduga telah terjadi pada dirinya. Sedikitny terdengar kasus-kasus malpraktek di

Indonesia adalah disebabkan oleh beberapa faktor berikut ; 13

1. Karena kurangnya kesadaran dari pasien di Indonesia terhadap hak-haknya

selaku pasien

12
Tahun 2008 Hukum kesehatan kematian di Inggris meningkat 50 % karena malpraktek
kedokteran naik, www.google.com (10/10/2010) diakses pada pukul 16.00 wib
13
Bahar azwar,Sang dokter,hal 45,bekasi:megapion,2002
9

2. Karena kecenderungan masyarakat Indonesia untuk bersikap “nrimo” apa

adanya

3. Karena kurangnya kepercayaan dari pasie Indonesia terhadap jalannya

proses penegakan hukum dan pengadilan

4. Karena relatif kuatnya kedudukan dan keuangan para dokter dan rumah

sakit yang membuat pasien pesimis dapat memeperjuangkan hak-haknya

selaku pasien.

Dalam pola hubungan modern seperti saat ini yang mana pasien dan

dokter memiliki kedudukan yang sedrajat. Yang mana hubungan yang sederajat

ini memeiliki hubungan hukum kontraktual horizontal. Dalam hal ini konsumen di

identifikasikan sebagi seorang konsumen, dan dokter adalah produsen. Hal

semacam ini dapat dikatakan sama dengan pola hubungan antara konsumen dan

produsen.

Dengan kemiripan posisi dalam proses pengidentifikasian seorang dokter

dan pasien tersebut berarti dengan kata lain Undang-Undang Konsumen dapat

digunakan sebagai dasar hukum jika ada suatu sengketa medik yang timbul akibat

perbuatan malpraktik. Namun yang menjadi kendala tidak banyak rumah sakit dan

dokter yang melaksanakan hak-hak pasien sebagai konsumen kesehatan yang

diatur dalam UU No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. 14 Hak-hak

pasien dalam kedudukan sebagai konsumen tersebut adalah : 15

1. Hak atas kenyamanan,keamanan,dan kesehatan.

2. Hak untuk memilih jasa pelayanan.


14
Dr.Munir Fuady,SH,MH,LLM.Sumpah Hippocrates (aspek hukum malpraktek Dokter), hal 12,
PT.Citra Aditya Bakti,2005
15
UU No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
10

3. Hak atas informasi yang benar,jelas dan jujur.

4. Hak untuk didengar pendapatnya.

5. Hak untuk mendapatkan Advokasi,perlindungan dan upaya penyelesaian

sengketa.

6. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen dalam hal

ini sebagai konsumen kesehatan.

7. Hak untuk dilayani secara benar

8. Hak untuk mendapatkan kompensasi dan ganti rugi.

9. Hak-hak lainnya.

Sementara menurut Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 pasal 52 juga

mengatur secara khusus hak-hak pasien. Dan dalam Undang-undang tentang

praktek kedokteran ini juga mengatur tentang kewajiban dokter dalam pasal 51 16 .

Sebenarnya apabila dokter menghyati semua kewajibannya selaku dokter dan hak-

hak pasien, ditambah dengan sikap kehati-hatian dan kepedulian yang tinggi,

mestinya malpraktik dokter dapat dihindari, masih banyak dokter yang tidak

menghayati kewajibannya tersebut. Kelemahan dalam penegakan hukum ini

terjadi karena kurangnya pengetahuan para penegak hukum dalam masalah

perlindungan terhadap pasien .

Bagi peneliti sendiri berdasarkan latar belakang diatas penelitian ini

mencoba untuk mengkaji lebih jauh mengenai konsep malpraktek, mengapa

begitu sulit hal-hal yang berkaitan dengan malpraktik medic ini diungkap,

sehingga tidak menemukan penyelesaian medik yang relatif dapat menyelesaikan

16
UU No.29 Tahun 2004
11

permasalahan yang berkaitan dengan malpraktik. Belum lagi permasalahan

perlindungan pasien jika terjadi suatu pengaduan terhadap salah satu dokter yang

melakukan pelanggaran. Hal-hal ini tidak berhenti pada sekedar bentuk

perlindungannya, tapi juga termask kelemahan dalam proses penegakan hukum.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana konsep malpraktik dan penyelesaian medis dalam hukum

kesehatan ?

2. Bagaimana bentuk-bentuk perlindungan hukum normatif terhadap pasien

dalam UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Profesi Kedokteran

dalam tindak pidana kelalaian medik di bidang kesehatan ?

C. TUJUAN PENELITIAN

Mengacu pada rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui Konsep malpraktek dan penyelesaian medis dalam

hukum kesehatan.

2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk perlindungan hukum terhadap pasien

dalam UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek profesi Kedokteran

dalam tindak pidana kelalaian medik di bidang kesehatan.

D. TINJAUAN PUSTAKA

Malpraktik adalah suatu istilah yang masih menjadi perdebatan hingga

saat ini. Belum adanya definisi yang baku tentang malpraktik ini sendiri telah

disadari oleh banyak kalangan. Kendati telah banyak kasus-kasus malpraktik yang

tengah marak. UU Nomor 29 tahun 2004 sendiri belum memeberikan definisi apa

yang dimaksud dengan malpraktik itu.


12

Walaupun demikian banyak para peneliti,akademisi, lembaga kesehatan

yang memberikan pengertian sendiri tentang apa arti malpraktek ini. Untuk

mencegah terjadinya kesalah pahaman mengenai istilah malpraktik ini, maka

istilah Malpraktik medik akan digunakan karena lebih istitusional.

Malpraktik medik adalah kelalaian dokter dalam mempergunakan

keterampilan dan ilmu yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien

menurut ukuran dilingkungan yang sama. Yang dimaksud dengan kelalaian disini

adalah sikap kekurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang

dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan

apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi

tersebut. Kelalaian diartikan pula dengan melakukan tindakan kedokteran dibawah

standar pelayanan medik 17 .

Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika

kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan

orang itu dapat menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum “De minimis

noncurat lex,” yang berarti hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap

sepele. Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan

bahkan merenggut nyawa orang lain, maka ini diklasifikasikan sebagai kelalaian

berat (culpa lata), serius dan kriminil. Tolak ukur culpa lata adalah: 18

1. Bertentangan dengan hukum.

2. Akibatnya dapat dibayangkan.

3. Akibatnya dapat dihindarkan.


17
M. Jusuf hanafiah,Etika kedokteran dan hukum kesehatan, Penerbit Buku kedokteran EGC,2004
halaman 6
18
Ibid
13

4. Perbuatannya dapat dipersalahkan.

Jadi malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan

kedokteran dibawah standart atau dengan kata lain adalah suatu praktek buruk

(badpractice) yang menunjukan suatu sikap tindakan yang keliru. Malpraktek

medik atau yang dalam kamus black dictionary didefiniskan sebagai professional

misconduct 19 yang memiliki arti kesengajaan yang dapat dilakukan dalam segala

bentuk, baik pelanggaran kode etik ,ketentuan disiplin profesi dan hukum

administratif.

Praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral

kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat

keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-

salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral.

Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika

biomedis. 20 Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam

membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam

melakukan penelitian di bidang medis.

19
J.Guwandi,Op.Cit.,125, Malpraktek medic Black's Law Dictionary mendefinisikan malpraktik
sebagai "professional misconduct or unreasonable lack of skill" atau "failure of one rendering
professional services to exercise that degree of skill and learning commonly applied under all the
circumstances in the community by the average prudent reputable member of the profession with
the result of injury, loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely
upon them".
Dalam bhs Indonesia ; Adalah setiap sikap tindakan yang salah, kekeuranga keterampiln dalam
tingkat yang tidak wajar. Istilah ini umumnya dipergunakanterhadap sikap tindak para dokter,
pengacara dan akuntan. Kegagalan untuk memberikan pelayanan professional dan melakukan
pada tingkat keterampilan dan kepandaian yang wajar di dalam masyarakatnya oleh teman
sejawatnya rata-rata dari profesi itu,sehingga mengakibatkan luka-luka,kehilangan atau keruian
pada penerima pelayanan tersebut yang cenderung menaruh kepercayaan terhadap mereka.
20
http://www.freewebs.com/etikakedokteranindonesia/
14

Pelanggaran disiplin profesi yaitu permasalahan yang timbul sebagai

akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan internal profesinya.

yang menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional)

dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata.

Sedangkan Pelanggaran administratif ini sangat terkait dengan faktor

wewenang atau kompetensi . kesalahan dokter karena tidak memiliki surat izin

praktek (Pasal 36 UU Nomor 29 Tahun 2004) atau tidak memiliki surat tanda

registrasi (Pasal 29 Ayat 1) lebih bersifat pelanggaran administrasi. dan hal ini

dapat menjadi professional misconduct atau malpraktek jika perbuatan yang

disebabkan karena tidak adnya suatu kewenangan oleh dokter tersebut

menyebabkan seseorang atau pasien yang ditanganinya menajdi cacat, atau

bertambah parah penyakitnya dan menyebabkan kematian.

Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika: 21

1. Dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum

dikalangan profesi kedokteran.

2. Memberikan pelayanan kedokteran dibawah standar profesi (tidak lege

artis).

3. Melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan dengan tidak

hati-hati.

4. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum.

Seperti halnya yang telah disampaikan diatas kelalaian yang menyebabkan

sumber perbuatan yang dikategorikan dalam malraktek ini harus dapat dibuktikan

21
medische professional standart, www.idi.com
15

adanya, selain itu kelalaian yang dimaksud harus sesuai dengan kategori kelalaian

yang berat (culpa lata). untuk membuktikannya tentu saja bukan tugas yang

gamang bagi aparat penegak hukum.

Beberapa kesulitan yang telah disampaikan pada latar belakang masalah

sebelumnya adalah salah satu dari kesulitan yang ada untuk membuktikan adanya

suatu perbuatan malpraktek. kesulitan-kesulitan itu antara lain 22 :

1. Kurangnya pengetahuan,keahlian dan pengalaman yang cukup di bidang

itu oleh aparat penegak hukum.

Dalam hal ini kelalaian medis yang dipebuat oleh seorang dokter atau ahli

bedah. meskipun medical record dapat menolong,namun untuk menilai

apakah betul-betul telah terjadi suatu perbuatan malpraktek perlu

pengetahuan yang cukup, keahlian dan pengalaman terutama mereka yang

menjadi aparat hukum.

2. Kesulitan karena biasanya seorang dokter segan untuk memberikan

kesaksian yang dapat memberatkan tuduhan terhadap rekan sejawatnya,

bila dipanggil oleh pebgadilan untuk menjadi saksi,sehingga ia cenderung

untuk diam. dalam hal demikian,pihak pengadilan sering kali terpaksa

harus memanggil orang luar yang dianggap cukup ahli untuk memberikan

pendpat dan kesaksiaannya.

Dalam konteksnya dengan masalah malpraktek, menurut Ameln,SH ada 3

pokok penting untuk menimbangkan apakah seorang dokter itu melakukan

malpraktek atau tidak,yaitu : 23


22
Ninik mariyanti, malaprakte kedokteran, dari segi hukum pidana dan hukum erdata,hal
52,penerbit bina aksara Jakarta
16

1. Ada tidakkah faktor Kelalaian.

2. Apakah praktek dokter yang dimasalahkan sesuai dengan standart

profesi medis.

3. Apakah korban yang ditimbulkan fatal.

Kembali pada yang telah disampaikan sebelumnya mengenai culpa lata

apabila seorang dokter memenuhi ke 3 unsur ini dapat dikelompokan kedalam hal

tersebut.

Berdasarkan penjelasan ringkas mengenai rumusan-rumusan medical

malpractice diatas dapatlah ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa ruang

lingkup malpraktik medis adalah segala sikap tindak yang menyebabkan

terjadinya tanggung jawab,sikap tidak melakukan berdasarkan lingkup profesinya

dalam pelayanan kesehatan. Istilah malpraktek medik Seringkali menimbulkan

kesan yang kurang baik, hal ini disebabkan karena masalah kelalaian yang

terdapat didalm pengertian malpraktik tersebut. yang mana factor kelalaian

tersebut harus tetap di buktikan.

Berkenaan dengan perlindungan konsumen, Undang-Undang No 29 tahun

2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan untuk mengatur praktik kedokteran

dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan kepada pasien,

mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan

kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi. Pada bagian awal,

Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang persyaratan dokter untuk dapat

berpraktik kedokteran, yang dimulai dengan keharusan memiliki sertifikat

23
Ibid.hal.73
17

kompetensi kedokteran yang diperoleh dari Kolegium selain ijasah dokter yang

telah dimilikinya, keharusan memperoleh Surat Tanda Registrasi dari Konsil

Kedokteran Indonesia dan kemudian memperoleh Surat ijin Praktik dari Dinas

Kesehatan Kota/Kabupaten. Dokter tersebut juga harus telah mengucapkan

sumpah dokter, sehat fisik dan mental serta menyatakan akan mematuhi dan

melaksanakan ketentuan etika profesi. 24

Pada pasal 3 UU Nomor 29 tahun 2004 ini mengatur mengenai praktek

kedokteran yang bertujuan untuk :

1. Memberikan perlindungan kepada pasien

2. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang

diberikan oleh dokter dan dokter gigi

3. memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi

Tindak pidana dalam pelayanan kesehatan adalah tindak pidana yang

berkaitan dengan pemberian pelayanan kesehatan sebagaimana dimuat dalam

Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek kedokteran. Pasal

yang mengatur tentang hukuman pidana dalam Undang-undang praktek

kedokteran ini ada didalam pasal 75 samapai pasal 80. jika pasien atau masyarakat

merasa dirinya dirugikan karena akibat dari praktek kedokteran tersebut dapat

menuntut para profesi dokter tersebut dengan ketentuan pasal yang telaha ada.

Undang-undang Nomor 29 tahun 2004 BAB III Pasal 4 memberikan

wewenang kepada Konsil Kedokteran Indonesia (KDI) untuk melakukan

pengaturan, pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang

24
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedoteran Universitas
Indonesiabudisampurna@indo.net.id,diakses pada hari senin 11-10-2010
18

menjalankan praktik kedokteran, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan

medis. Oleh sebab itu, KDI diberi tugas untuk: melakukan registrasi dokter dan

dokter gigi; mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi

(brsama dengan kolegium kedokteran, kolegium kedokteran gigi, asosiasi institusi

pendidikan kedokteran, asosiasi institusi pendidikan kedokteran gigi, dan asosiasi

rumah sakit pendidikan); dan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan

praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan

fungsi masing-masing. Konsil ini bekedudukan di ibukota Negara Republik

Indonesia (pasal 5).

Apabila terjadi dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter atau

dokter gigi, dilakukan oleh Konsil Kedokteran Indonesia, dalam hal ini

dilaksanakan oleh organisasi internal profesi, yaitu oleh Majelis Kehormatan

Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Sedangkan terhadap dugaan terjadinya

pelanggaran Kode Etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran

(MKEK) atau Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Gigi (MKEKG).

Dengan begini pada saat ini ketidak jelasan terjadi, mlihat adanya dua (2)

organ intera didalam profesi kedokteran yang dipersiapkan untuk menangani jika

ada dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh profesi dokter sulit menentukan

masalah. kemana sebenarnya dokter harus bertanggung jawab. hal ini menjadikan

pertanggungjawaban pidana dokter semakin terhambat. 25

Dengan demikian dapat disimpulkan , Jika dokter hanya melakukan

tindakan yang melanggar atau bertentangn dengan etik maka yang akan

25
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Terdapat dalam www.depkes.com, diakses pada
hari senin 11-10-2010.
19

menyelesaikan nya adalah MKEK. Sedangkan jika terjadi pelanggaran disiplin

maka yang akan menyelesaikan nya adalah MKDKI. sedangkan pidana tetap

dapat mengadukannya ke MKEK atau MKDKI tanpa adanya suatu kepastian

bahwa pengaduan yang diajukan di MKEK atau MKDKI akan saam hasilnya jika

diajukan di Pengadilan Umum.

E. DEFINISI OPERASIONAL

Penelitian ini mecoba menelaah sejauh mana perlindungan hukum

terhadap pasien dalam tindak pidana kelalaian medik (malpraktek) di bidang

kesehatan. Jadi penelitian ini mengarah kepada pembahasan bentuk-bentuk

perlindungan hukum terhadap pasien dalam tindak pidana kelalaian medik di

bidang kesehatan. Serta konsep malpraktik dan penyelesaian medis dalam hukum

kesehatan.

Untuk lebih memperjelas cakupan penelitian ini, akan dikemukakan

beberapa konsep mendasar yang dioperasionalisasikan sebagai berikut :

1. Perlindungan Hukum

Pengertian Perlindungan, Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia 1998 yang

dimaksud dengan perlindungan adalah hal ( perbuatan dan sebagainya)

memperlindungi. Pengertian Hukum, Defini hukum dari Kamus Besar Bahasa

Indonesia tahun 1998 adalah: 26

a) Peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang

dikukuhkanoleh penguasa, pemerintah atau otoritas (Pengertian Hukum

dalam Hukum Positif)

26
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998
20

b) Undang-undang, peraturan dan sebagainya untuk mengatur pergaulan

hidup masyarakat ( Pengertian Hukum Dalam Hukum Adat)

c) Patokan ( kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa ( alam dan sebagainya)

yang tertentu. (Definisi dalam arti Hukum Alam)

d) Keputusan ( pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim ( di pengadilan).

(Pengertian hukum dalam arti petugas atau aparat penegak hukum)

Apabila ditarik satu kesimpulan, maka yang dimaksud dengan

perlindungan hukum disini adalah suatu hal atau perbuatan yang dilakukan

untuk memperlindungi para pihak dalam hal terciptanya kepastian hukum (

hukum positif).

2. Pasien

Mengenai pengertian Pasien ini terdapat pengertian yang sama dalam Undang-

Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, dan dalam

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. yang mana

dalam pengertiannya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pasien

adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk

memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung

maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.

3. Tindak Pidana
21

Dalam KUHP tindak pidana memiliki pengertian perbuatan yang dilakukan

setiap orang atau subjek hukum yang berupa kesalahan dan bersifat melanggar

hukum ataupun tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

4. Kelalaian Medik Dalam Bidang Kesehatan

Kelalaian medik adalah jenis malpraktek tersering yang terjadi. Menurut M.

Jusuf Hanifah yang dimaksud dengan malpraktik medik dalam bukunya Etka

kedokteran dana Kesehatan adalah kelalaian dokter dalam mempergunakan

keterampilan dan ilmu yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien

menurut ukuran dilingkungan yang sama. Yang dimaksud dengan kelalaian

disini adalah sikap kekurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang

seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya

melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan

melakukannya dalam situasi tersebut. Kelalaian diartikan pula dengan

melakukan tindakan kedokteran dibawah standar pelayanan medik.

Jadi yang dimaksud dengan “ Perlindungan Hukum Terhadap Pasien

Dalam Tindak Pidana Kelalaian Medik (Malpraktik) Di Bidang Kesehatan”

adalah upaya perlindungan yang dilakukan dalam bidang hukum agar bertujuan

menciptakan keadlilan bagi para pihak khususnya pasie dalam hal terjadinya suatu

sengketa antara pihak dokter dan pasien dalam hal terjadi suatu ketidak puasan

praktik pengobatan yang dilakukan oleh dokter dalm hal mengobati pasien yang

dianggap tidak sesuai dengan standar pelayanan medik yang seharusnya dilakukan

oleh seorang profesi dokter.

F. METODE PENELITIAN
22

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

1. Yuridis Normatif, Yaitu data dan fakta yang diteliti,dikaji dan

dikembangkan berdasarkan pada hukum. Metode pendekatan pada

penelitian ini mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam

peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan pengadilan. Metode

penelitian ini dikenal juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal research)

yang menganalisis baik hukum sebagai law as it is written in the books,

maupun hukum sebagai law as it is decided by the judge through judicial

process. 27 Penelitian hukum normatif merujuk baik pada hukum positif di

dalam peraturan perundang-undangan nasional dan negara lain. Penelitian

hukum normatif merujuk pada sumber hukum kedua yaitu putusan hakim

in concreto atau judge made law. 28

2. Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah :

1. Konsep malpraktek dan penyelesaian medis dalam hukum kesehatan.

2. Bentuk-bentuk perlindungan hukum terhadap pasien dalam tindak

pidana kelalaian medik di bidang kesehatan.

3. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Akademis (Ahli Hukum pidana) ,

Hakim PN Yogyakarta , profesi dokter.

4. Sumber Data Penelitian


27
Hendra Tanu Atmadja, Hak Cipta Musik Atau Lagu, Program Pascasarjana, Fakultas
Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta, 2003, hlm. 32
28
Ibid
23

Data penelitian kepustakaan yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan bahan hukum, bahan hukum yang digunakan teriri dari :

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer yang penulis gunakan didalam penelitian ini

antara lain :

1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan

Konsumen.

2) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik

Kedokteran.

3) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

4) Umdang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit

5) KODEKI (Kode etik kedokteran Indonesia

6) Kitab Undang-undang Hukum Pidana Dan Kitab Undang-undang

Hukum Acara Pidana.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan Hukum Sekunder yang penulis gunakan dalam penelitian ini

antara lain : Literatur-literatur membahas masalh konsep malpraktik

medik dan penyelesaian medis dan berbagai homepage dalam media

internet yang berkaitan dengan malpraktik medik dan pertanggung

jawab pidana dokter.

c. Bahan Hukum tersier


24

Bahana hukum tersier,yaitu bahan hukum yang memberikan petujuk

maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun sekunder.

Adapun bahan hukum tersier yang penulis gunakan di dalam penelitian

ini adalah :

1. Kamus Hukum

2. Kamus Bahasa Inggris

3. Kamus Bahasa Indonesia

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan penelitian kepustakaan

Teknik pengumpulan data penelitian kepustakaan yang digunakan dalam

penelitian ini adalah :

1. Studi kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan literature-literatur

yang berhubungan dengan penelitian ini.

2. Studi dokumentasi dengan mengumpulkan dokumen resmi institusional

berupa putusan-putusan Pengadilan, risalah sidang dan lain-lain yan

berkaitan dengan penggunaan sanksi, kemudian dianalisis secara

mendalam dan diambil kesimpulannya.

3. Wawancara (interview), yaitu dengan mengajukan pertanyaan secara

langsung atau lisan kepada pihak yang terkait dengan penelitian guna

memperoleh data yang dipakai sebagai penunjang atau pelengkap data

dalam penelitian ini.

6. ANALISIS DATA
25

Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah deskriptif

kualitatif, yaitu penguraian data-data yang diperoleh dalam suatu

gambaran sistematis yang didasrka pada teori dan pengertian hukum yang

terdapat dalam ilmu hukum pidana kesehatan khususnya untuk

mendapatkan kesimpulan yang signifikan dan ilmiah.


26

BAB II

TINJAUAN TEORITIK TENTANG KONSEP MALPRAKTIK

SERTA PENYELESAIAN MEDIS DAN BENTUK

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN

A. Konsep Malpraktik dan Penyelesaiannya

A.1. Istilah Malpraktik

Kata Malpraktik berasal dari kata “mala” dan “praktik”, dalam Kamus

Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta kata “mala” itu mempunyai arti

suatu tindakan atau perbuatan yang buruk. Jika diterapkan dalam dunia medik

dapat dikatakan bahwa Malapraktek medik ialah perbuatan medik yang dilakukan

dengan jalan yang tidak baik atau salah,tidak sesuai norma. 29

Istilah malapraktik ini sudah digunakan oleh Sir William Blackstone tahun

1768 yang menyatakan bahwa Malapraxis is great misdemeanor and offence at

common law, whether it be coriousity or experiment or by neglect : because it

break the trust which the party had place in his phisicyan and tend to the patient’s

destruction. 30 dipakai oleh media massa dan yang pertama, diintrodusir oleh

majalah Tempo no.35 tanggal 25 oktober 1986 dikaitkan dengan operasi medik

dalam hal kaitannya dengan kesalahan diagnose dan kesalahan terapi

29
DRS.Fred Ameln, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Hal 82, Penerbit Grafikatama Jaya, 1991
30
Ida Keumala Jeumpa, SH.MH, Penegakan Hukum Terhadap Dugaan Tindak Pidana Malpraktek
Medik , Senin 25 Oktober 2010, terdpat di www.tenaga-kesehatan.or.id
27

(maladiagnosa dan malaterapi). 31 Saat ini Masyarakat sudah membiasakn diri

untuk menggunakan istilah malpraktik untuk “ malpractice”.

Sebenarnya istilah malpraktek tidak hanya digunakan khusus untuk profesi

kedokteran, melainkan juga dipergunakan terhadap profesi pengacara dan

akuntan. Menurut Black’s Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai

“professional misconduct or unreasonable lack of skill” atau “failure of one

rendering professional services to exercise that degree of skill and learning

commonly applied under all the circumstances in the community by the average

prudent reputable member of the profession with the result of injury, loss or

damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them”.

Pengertian malpraktik di atas bukanlah monopoli bagi profesi medis, melainkan

juga berlaku bagi profesi hukum (misalnya mafia peradilan), akuntan, perbankan,

dan lain-lain, 32 namun secara kesuluruhan diluar dari apa yang disebutkan

diatas(dari kamus black dictionary of law) masih banyak lagi profesi yang

dianggap dapat melakukan kesalahan atau kelalaian, tidak rebatas kepada profesi

kedokteran saja.

A.2. Pengertian Malpraktik

Terlalu Banyak pendapat tentang malpraktik. Hal ini disebabkan karena

belum adanya peraturan atau Hukum di Indonesia yang mengatur secara rinci

yang dapat memberikan pengertian apa yang dimaksud dengan Malpraktik.

mengakibatkan adanya perbedaan persepsi antara para pihak yang berkepentingan.

Dalam hal inidari kalangan profesi dokter, para penegak hukum, dan pasien

31
Fred Ameln, Op.Cit., 83
32
http://purwanto78.wordpress.com/2008/09/14/malpraktik-dalam-bidang-medis/
28

sendiri. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada keputusan yang dihasilkan oleh

para hakim dalam hal ini berperan sebagai pengambil keputusan dalam

memutuskan apakah suatu perbuatan dapat dikatakan malpraktek atau bukan.

berpengaruh secara langsung pada proses penegakan hukum, yang berimbas pada

tercipta atau tidaknya suatu kepastian hukum.

UU 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran sendiri tidak memuat

pengertian malpraktik. Namun di dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan

mengenai bagaiman caranya pasien yang dirugikan untuk melaporkan tindakan

dokter dalam menjalankan praktek kedokterannya secara tertulis kepada MKDKI

(Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia).

Dari sekian banyak perdebatan tentang malpraktik tersebut tetap

melahirkan suatu pemikiran tentang apa yang dimaksudkan dengan malpraktik.

Pemikiran tersebut lahir dari berbagai kalangan baik dari kalangan dilingkungan

profesi kesehatan, akademisi dan para penegak hukum sendiri. Meski berbeda-

beda dalam mendefinisikan malpraktik, tetapi tetap memiliki makna dan

pengertian yang ama jika ditafsirkan menurut setiap variabel kata dalam masing-

masing pengertian yang dituangkan dalam definisi malpraktek tersebut.

Malpractice Is mistreatment of desease or injury thought ignorce,

carelessness or criminal inten. (Malpraktek adalah cara mengobati suatu penyakit

atau luka secara salah,disebabkan sikap dan tindakan yang acuh tak acuh,

sembarangan atau berdasarkan motivasi kriminal) 33

33
Stedman's Medical Dictionary, Terdapat dalam http://www.rsud-serang.com
29

Menurut Adami Chazawi 34 , Malpraktek kedokteran adalah dokter atau

orang yang ada di bawah perintahnya dengan sengaja atau kelalaian melakukan

perbuatan (aktif atau pasif) dalam praktik kedokteran pada pasiennya dalam

segala tingkatan yang melanggar standar profesi, standar prosedur, atau prinsip-

prinsip professional kedokteran,atau dengan melanggar hukum atau tanpa

wewenang disebabkan: tanpa informed consent atau diluar informed consent,

tanpa SIP (Surat Izin Praktek) atau STR (Surat Tanda Registrasi) tidak sesuai

kebutuhan medis pasien;dengan menimbulkan akibat (causalverband) kerugian

bagi tubuh, dan oleh sebab itu membentuk pertanggungjawaban hukum bagi

dokter.

Seperti yang telah penulis pernah uraikan pada bab sebelumnya di bagian

latar belakang masalah, menururt J. Guwandi dalam bukunya mengenai Kelalaian

medik disebutkan bahwa malpraktik adalah suatu istilah yang dikonotasiakan

sebagai perbuatan yang buruk dan stigmatis. Menurut Guwandi tidaklah tepat

menyamakan antara kelalaian dengan malpraktek. Menurutnya kelalaian memang

termasuk malpraktik,tapi juga mecakup tindakan yang dilakukan dengan sengaja

(intentional,dolus,opzet) yang mana didalam arti kesengajaan tersebut ada

motifasi (mens rae,guilty mind), sedangkan kelalaian atau Neglience cenderung

kepada ketidaksengajaan (culpa) kurang kehati-hatian, acuh tak acuh tidak perduli

terhadap kepentingan orang lain. namun akibat dari perbuatannya ini negligence

culpa bukan kehendaknya.

34
DRS.H.Adami Chazawi, Malpraktik kedokteran tinjauan norma dan doktrin hukum,Bayu
Media,2007
30

35
Menurut Ninik Mariyanti , perbuatan malpractice itu sebenarnya

mempunyai suatu pengertian yang luas, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Dalam arti Umum : suatu praktek (khususnya) praktek kedokteran yang buruk,

yang tidak memenuhi standart yang telah ditentukan oleh profesi.

2. Dalam arti Khusus : (Dilihat dari pasien) Malpractice dapat terjadi didalam :

a. Menentukan diagnosis,misalnya : diagnosisny sakit maag,ternyata sakit

liver.

b. Menjalankan operasi,misalnya : seharusnya yang dioperasi mata sebelah

kanan,tetapi dilakukan pada mata yang kiri

c. Selama menjalankan perawatan

d. Sesudah perawatan,tentu saja dalam batas waktu yang telah ditentukan.

Dengan demikian Malpraktik dapat terjadi tidak saja selama waktu menjalankan

operasi,tapi juga dapat terjadi sejak dimulainya pemberian diagnosis sampai

dengan seseudah dilakukannya perawatan sampai sembuhnya pasien.

Dalam literatur lain penulis juga menemukan pengertian malpraktek.

Dalam buku tersebut disebutkan malpraktek yang dalam Bahasa Inggris disebut

sebagai malpractice yang berarti wrong doing atau neglect of duty. Jika pengertian

ini diterapkan di bidang kedokteran maka dapat dikatakan seorang dokter

melakukan malpraktek jika ia melakukan suatu tindakan medic yang salah (wrong

doing) atau ia tidak atau tidak cukup mengurus pengobatan/perawatan pasien

(neglect the patient by givingnot or enough care to the patient) 36

35
Ninik Mariyanti, Malapraktek Kedokteran Dari Segi Hukum Pidana Dan Perdata, Hal 38, Bina
Aksara Jakarta 1998
36
DRS.Fred amelnOp.Cit, hal 83
31

Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan adalah “kelalaian dari

seseorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan

ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim

dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran

dilingkungan yang sama 37

Dengan mencermati rumusan-rumusan malpraktek seperti dikutip diatas,

maka dalam pengertian malpraktek mencakup keseluruhan tindakan-tindakan

yang dilakukan dengan sengaja,(Intentional,dolus,opzettelijk) melanggar undang-

undang dan ketidak sengajaan(Culpa,negligance), Kurang teliti, kurang hati-hati,

acuh tak acuh.sembrono,tak perduli terhadapkepentingan orang lain. tindakan

tersebut dilakukan diluar standar yang telah ditetapkan dalam proses pelayanan

kesehatan. baik standar profesi kedokteran, standar operasional, dan etika

kedokteran.

Kesengajaan (Dolus,opzet,intentional) diartikan oleh M.V.T (memory van

toelichting) adalah “menghendaki atau mengetahui” (willes en witten). Yang

dimaksud dengan menghendaki dan mengetahui adalah seseorang yang

melakukan sesuatu perbuatan dengan sengaja itu, haruslah menghendaki

(willens)apa yang ia buat dan harus mengetahui (wettens) pula apa yang ia buat itu

beserta akibatny. 38 Dari teori tersebut dalam suatu kesengajaan memiliki

syarat-syarat. Untuk itu diketahui syarat tersebut adalah :

37
Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956, Terdapat di
www.wordpress.com , diakses pada rabu 27-10-2010
38
Sofyan Sastrawidjaya, Asas Hukum Pidana Sampai dengan alas an peniadaan pidana,Armiko,
bandung,1995 , hal 189
32

1. Terdakwa mengetahui kemungkinan adanya akibat atau keadaan yang

merupakan delik

2. Sikapnya terhadap kemungkinan itu seandainya benar terjadi ialah suatu

yang telah disangka. Apabila terjadi apa boleh buat,dapat atau berani

menanggung resiko 39

A.2.1 Malpraktek Medik atau Sengketa Medik

A.2.1.1 Malpraktik Medik

Tidak semua perbuatan itu bisa dikatakan sebagai perbuaatan Malpraktik.

ada kalanya perbedaan pandangan orang mengenai hal ini memang masih sering

terjadi. Seperti yang pernah disinggung sebelumnya pada BAB Latar belakang

masalah. Berkaitan dengan masalah malpraktik yang terjadi pada kasus tersebut

pada halaman (5) paragraph 2, Pertimbangannya adalah pada kasus pasien dan

keluarga yang tidak puas terhadap hasil pengobatan yang dilakukan dokter atau

rumah sakit tertentu dan mengajukan laporan atau pengaduan ke media massa

misalnya, merupakan bagian dari kontrak terapitik yang disepakati (atau tidak

disepakati) yang ternyata menimbulkan ketidakpuasan dari pihak

pasien/keluarganya. Pada kasus seperti ini, ada yang berpendapat bahwa tidak

semua kegagalan medis yang terjadi sebagai akibat dari malpraktek medik, karena

kasus ini dapat dikategorikan sebagai sengketa medik. 40

39
Moeljatno, asas-asas hukum pidana, Rineka cipta Jakarta, hal 74
40
Aroma Elmina Martha. “Penyelesaian Sengketa Medik Melalui Mediasi Penal” makalah
disampaikan pada pada diskusi: MEDIASI PENAL DALAM SENGKETA MEDIK,
DISELENGGARAKAN KAJIAN HUKUM PIDANA MAHKAMAH AGUNG RI, 9-10
AGUSTUS 2010
33

Dari serangkaian pengertian malpraktik medik, baik dari media maupun

literature ataupun jurnal yang ada, telah disepakati bahwa suatu perbuatan

dikatakan malpraktik medik jika perbuatan tersebut dikategorikan kealpaan berat

(culpa lata). Tidak berhenti sampai disisni menururt Ikatan Dokter Indonesia

(IDI) suatu tindakan medik dapat dikategorikan malpraktik jika memenuhi 4

unsur, yaitu :

1. Duty of care, Artinya Dokter/RS mengaku berkewajiban memberikan

asuhan kepada pasien.

2. Breach Of Duty, Artinya, Dokter/RS tidak melakukan kewajiban

sebagaimana mestinya. Wujud Breach adalah pelanggaran :

a. Kesalahan (Medical error) dalam tindakan medis, seperti kekeliruan

diagnosis, interpretasi hasil pemeriksaan penunjang, indikasi,

tindakan,tidak sesuai standart pelayanan, kesalahan pemberian obat,

kekeliruan transfusi, dsb

b. Kelalaian berat (Gross Neglience), Tidak melakukan hal-hal yang

seharusnya dilakukan menurut standart kedokteran.

3. Ada cedera (Harm,damage) pada pasien,pada pasien berupa cedera

fisik,psikologis,mental,sampai yang terbert jika pasien cacat atau

meninggal

4. Ada Hubungan sebab-akibat langsung antara butir 2 dan 3, artinya cedera

pada pasien memang akibat Branch of duty pada pemberi asuahan

kesehatan 41

41
Ikatan Dokter Indonesia, www.idi.com
34

Bila putusan pengadilan menyatakan bahwa telah terbukti terjadi

malpraktik barulah dokter dinyatakan telah melakukan medical negligence.

Dengan demikian maka penyebutan langsung bahwa dr. A atau Rumah Sakit B

melakukan malpraktik sebelum ada pembuktian sama saja dengan pelanggaran

asas praduga tak bersalah yang menjadi hak setiap orang.

A.2.1.2 Sengketa Medik

Sama seperi pengertian Malpraktik medic, sengketa medic juga tidak

termuat secara esplisit dalam Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang

Praktik Kedokteran. Tapi juga seperti malpraktik medic Undang-undang 29 tahun

2004 tersebut mengatur mengenai ganti rugi yang diakibatakn karena kesalahan

atau kelalaian dokter. 42

Namun secara emplisit dalam Undang-undang Praktik Kedokteran

disebutkan bahwa sengketa medik adalah sengketa yang terjadi karena

kepentingan pasien dirugikan oleh tindakan dokter atau dokter gigi yang

menjalankan praktik kedokteran. 43

Dengan demikian sengketa medik merupakan sengketa yang terjadi

anatara pengguna pelayanan medik atau konsumen dengan pelaku usaha dalam

hal ini dokter. Yang mana jika mengacu pada arti medik meurut Prof.Harmien

Hadiati Koeswadji,SH mengartikanny sebagai kedokteran, maka definisis dari

42
Hermien Hediaty, Hukum Kedokteran, Bandung : Citra aditya Bakti, cetakan pertama, 1998 hal
12
43
Pasal 66 Ayat 1 UU no 29 Tahun 2004, Tentang Praktik Kedokteran , berbunyi : Setiap orang
yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam
menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada ketua MKEDK (Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia)
35

sengkete medik adalah suatu kondisi dimana terjadi perselisihan persengketaan

dalam praktek kedokteran.

A.3. Sumber Perbuatan Malpraktik

Adanya suatu istilah Mediko Legal atau suatu isu hukum pasti ada yang

melatar belakangi timbulnya suatu istilah tersebut. Sama halnya dalam isu

malpraktik, pasti ada yang melatar belakangi perbuatan tersebut, hubungan antara

dokter dan pasien yang menimbulkan suatu hak dan kewajiban para pihak

tersebut. Pada umumnya pihak pasien merasa dirugikan kepentingannya oleh

dokter tersebut, dan kemudian mengadukan dokter tersebut dengan praduga telah

melakukan malpraktik karena tidak berkerja sesuai keinginan pasien. Berikut di

dalam buku : The Law of Hospital and Health Care Administration yang ditulis

oleh Arthur F Southwick dikemukakan adanya 3 teori yang menyebutkan sumber

perbuatan Malpraktik,yaitu : 44

A.3.1 Teori Pelangaran Kontrak

Teori ini berprinsip bahwa secara hukum seorang dokter tidak berhak

untuk merawat seseorang bilamana diantara ke 2 nya tidak terdpat suatu hubungan

kontrak antara dokter dan pasien. Dengan kalimat lain dapat diungkapkan bahwa

seorang dokter haruslah bersikap professional, dokter harus bertindak sesuai

dengan kemampuan profesi yang dimilikinya, meskipun dalam keadaan segawat

apapun.

Hubungan kontrak antara dokter dan pasien baru terjadi apabila telah

terjadi kontrak antara kedua belah pihak tersebut (Express contract) contohnya

44
Ninik Mariyanti.Op.Cit. Hal 44
36

seorang pasien mendatangi dokter untuk berobat. Dengan kata lain dokter yang

bersangkutan yang didatangi oleh pasien memiliki keahlian dibidang kedokteran

sebagaimana yang dimaksudkan oleh pasien. Namun bila dokter tersebut

menyarankan agar si pasien yang berobat kepadanya untuk dirujuk ke dokter baik

yang ad dirumah sakit yang sama dengan dokter tersebut ataupun berada dirumah

sakit lain yang dianggap mampu menangani penyakit si pasien otomatis tidak

terjadi hubungan express contract tadi. 45

Sehubungan dengan adanya hubungan kontrak antara dokter dan pasien

ini, tidak berarti bahwa hubungan dokter dan pasien itu selalu terjadi dengan

adanya kesepakatan bersama kedua belah pihak. Dalam keadaan keadaan

penderita tidak sadar ataupun keadaan gawat darurat umpamanya, seorang

penderita tidak mingkin memberikan persetujuannya.

Apabila terjadi situasi yang seperti ini maka persetujuan atau kontrak dasar

dokter dan pasien dapat diminta dari pihak ke tiga(3) yaitu keluarga penderita atau

pasien (Informed consent) 46 . Masalah penting dalam teori kontrak ini berarti

adalah masalah “Persetujuan” yang terjadi anatara dokter dan pasien. Yang mana

persetujuan itu diberikan dengan pihak dokter memberikan penjelasan

sebelumnya tentang reaiki, cara perawatan dan lain sebagainya yang berkaitan

dengan proses perawatan pasien.

45
UU No.29 Tahun 2004 pasal 51 ayat A da B
46
J.Guwandi, Informed Consent, Fakultas Kedokteran Indonesia 2005, hlm 13. Informed consent
berarti suatu izin (consent), atau pernyataan setuju dari pasien yang diberikan dengan bebas dan
rasional, sesudah mendapatkan informasi dari dokter yang sudah dimengertinya.
37

A.3.2 Teori Perbuatan Yang Disengaja

Teori ini dalam bahasa asing dikenal dengan (intentional tort), yang

mengakibatkan seseorang mengalami cidera (Assaullt and Battery). Kasus

malpraktek menurut teori ini dalam arti sesungguhnya jarang terajadi dan dapat

digolongkan sebagai tindakan criminal atas dasar unsur kesengajaan.

Dalam teori ini penulis mendapatkan contoh-contoh kasus pelanggaran

yang berkaitan dengan teori tersebut, diantaranya : 47

Antara lain kasus Mohr Vs Williams, bahwa penderita telah disetujui

untuk dipoerasi membuang polip dari telinga sebelah kiri, yang oleh ahli tersebut

menemukan polip disebelah kuping sebelah kanan. setelah pembiusan anesthesia

oleh dokter bedah menganggap polip sebelah kanan lebih perlu untuk dioperasi

tanpa persetujuan pasien.

Kasus lain yang adalah kasus seorang pasien yang menjalani operasi

kasus bantu kemudian merasakan sakit dan segera konsultasi dengan dokter

bedahnya. dokter bedah yang menyatakan bahwa semula keadaan pasien normal,

kemudian dokter tersebut menarik diri dari kasus tersebut. penderita kemudian

menghubungi dokter bedah lain yang kemudian memberitahukan bahwa elah

terjadi komplikasi yang sebetulnya bermula sejak pembedahan, dan seharusnya

telah diobati sejak semula.

Kasus ini dianggap sebagai perbuatan menelantarkaan pasien, dimana

telah terjadi pelanggaran kontrak dan kelalaian. Kasus ini dianggap sebagai suatu

perbuatan dan kesalahan yang disengaja.

47
Ny.Umi R Lengkong ; Beberapa Teori Tentang Malpraktek, Kompas, 5 mei 1987
38

A.3.3 Teori Kelalaian

Teori ke 3 ini menyebutkan bahwa Kelalaian (Neglience) merupakan sumber

perbuatan malpraktek. Banyak kasus yang terjadi karena akibat adanya perbuatan

malpraktik ini. seperti Kesalahan dokter dalam mengoperasi pasienny, misalkan

operasi amputasi. seharusnya kaki yang diamputasi kaki kanan, namun oleh

dokter yang diamputasi adalah kaki sebelah kiri. Contoh lainnya seorang ahli

bedah yang pelupa, meninggalkan benda-benda seperti gunting ataupun kapas

didalam tubuh pasien yang dioperasinya. 48

Kelalaian yang menjadi sebab atau sumber perbuatan yang dikategorikan

dalam malpraktek ini sulit dibuktikan adanya. Dalam hal ini kelalaian yang

dimakud termasuk Culpa lata. Untuk membuktikan hal demikian ini tentu saja

bukan merupakan tugas yang gampang bagi aparat penegak hukum. seperti yang

telah disinggung sebelumnya pada Bab I, ada beberapa kesulitan yang dialami

para penegak hukum dalam mencari bukti dan menilai apakah perbuatan itu

termasuk dalam kategori malpraktek antara lain :

3. Kurangnya pengetahuan,keahlian dan pengalaman yang cukup di bidang

itu oleh aparat penegak hukum. Dalam hal ini kelalaian medis yang

dipebuat oleh seorang dokter atau ahli bedah. meskipun medical record

dapat menolong,namun untuk menilai apakah betul-betul telah terjadi

suatu perbuatan malpraktek perlu pengetahuan yang cukup, keahlian dan

pengalaman terutama mereka yang menjadi aparat hukum.

48
ibid
39

4. Kesulitan karena biasanya seorang dokter segan untuk memberikan

kesaksianyang dapat memberatkan tuduhan terhadap rekan sejawatnya,

bila dipanggil oleh pebgadilan untuk menjadi saksi,sehingga ia cenderung

untuk diam. dalam hal demikian,pihak pengadilan sering kali terpaksa

harus memanggil orang luar yang dianggap cukup ahli untuk memberikan

pendpat dan kesaksiaanny.

A.4 Alternatif Penyelesaiaan Medis

A.4.1. Penyelesaian Medis

Penyelesaian perkara atau sengketa medis merupakan pintu terakhir bagi

para pihak yang bersengketa untuk mendapatkan keadilan dan kepastian hukum.

Ada beberapa upaya penyelesaiaan sengketa antara dokter dan pasien tersebut.

Hal ini telah dilembagakan baik dari organisasi Profesi yang bersangkutan

maupun oleh peraturan perundang-undangan yang relevan dengan persoalan

sengketa antara dokter dan pasien. 49

Dengan menelaah prosedur dan tata cara penyelesaian sengketa yang

terjadi antara dokter dengan pasien melalui lembaga tersebut, dapat diketahui

kekurangan maupun kelebihan dari setiap masing-masing lembaga dalam

mengakomodasi kepentingan masing-masing pihak. Adapun lembaga-lembaga

yang diberi wewenan tersebut adalah :

A.4.1.1 Melalui Majelis Etik Kedokteran

IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian

pelaksanaan etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan

49
Safitri Hariyani,Sengketa Medik Alternatif Penyelesaian Perselisihan Antara Dokter dan Pasien,
Hal 83, Diadit Media Jakarta 2005
40

cabang, serta lembaga MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat

pusat, wilayah dan cabang. Selain itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit)

didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di dalamnya, yang akan mengawasi

pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan di tingkat

perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit

(Makersi). 50

Pelanggaran terhadap butir-butir Kode Etik Indonesia ada yang merupakan

pelanggara etik semata-mata dadiajukan beberapa contohn adapula yang

merupakan pelanggaran etik dan sekaligus pelanggaran hukum, sebaliknya

pelanggaran hukum tidak selalu merupakan pelanggaran etika kedokteran

berikut: 51

a. Pelanggaran Etik Murni

1. Menarik Imbalan yang tidak wajar atau menarik imbalan jasa dari

keluarga sejawat dikter dan dokter gigi

2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya

3. Memuji diri sendiri dihadapan pasien

4. Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran yang berkesinambungan

5. Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri

b. Pelanggaran Etiko Legal

1. Pelayanan dokter dibawah standar

2. Menerbitkan surat keterangan palsu

50
Himpunan Etika Profesi, Berbagai Etik Asosiasi di Indonesia. 2006. Pustaka
Yustisia,Yogyakarta
51
Endang Kusuma Astuti,Tanggung jawab Hukum dalam Upaya Pelayanan Medis Terhadap
Aneka Wacana Tentang Hukum (Yogyakarta;Kanisius,2003 )hlm.83
41

3. Membuka rahasia jabatan atau pekerjaan dokter

4. Abortus Provokatus 52

5. Pelecehan seksual

MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) merupakan lembaga

penegakan disiplin yang bernaung dibentuk menurut pasal 16 AD/ART Ikatan

Dokter Indonesia (IDI) yang bertugas pokok untuk menjalankan

bimbingan,pengawasan dalam pelaksanaan kode etik kedokteran Indonesia.

Perlunya lembaga ini diadakan didasrkan pemikiran bahwa perilaku dokter yang

sesuai dengan kaidah-kaidah kedokteran tidak akan tumbuh dengan sendirinya

setelah mengucapkan sumpah dan melaksanakan profesi yang disandangnya.

Untuk itu perlu dilakukan pembimbingan,pengawasan, dan seklaigus penilaian

terhadap penegakan nilai-nilai etis yang telah dirumuskan, oleh karena itu tugas

tersebut diserahkan kepada MKEK. 53

Adapun mekanisme yang telah disepakati agar tercipta dan terlaksananya

tugas MKEK secara efektif, maka MKEK ini berjalan dengan suatu susunan

pedoman berupa pedoman kerja tentang bagaimana tata laksana penanganan

kasus dugaan pelanggaran etika, sebagai berikut :

a. Materi :

1. Materi yang disidangkan dapat diperoleh dari laporan yang dating dari

manapun juga termasuk dari anggota MKEK sendiri.

2. Materi yang masuk dikelompokkan kedalam 3 kategori :

52
Abortus provokatus merupakan jenis abortus yang sengaja dibuat/dilakukan, yaitu dengan cara
menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya bayi
dianggap belum dapat hidup diluar kandungan apabila usia kehamilan belum mencapai 28
minggu, atau Berat badan bayi kurang dari 1000 gram
53
Safitri hariyani,Op.Cit, Hlm 84
42

• Kesalahpahaman,biasanya kemudian dikembalikan kepada IDI

setempat disertai petunjuk.

• Perselisishan yang diusahakan untuk diselesaiakan dengan damai

atau diajukan ke pengadilan

• Pelanggaran etik yang ditangani langsung oleh MKEK

3. Selambat-lambatnya satu bulan sesudah materi diterima,kasus sudah

harus disidangkan.

b. Persidangan :

1. Persidangan selalu bersifat tertutup,hanya dihadiri oleh yang mendapat

undangan tertulis

2. Dewan pemeriksaan terhadap anggota IDI,Badan Pembela

Anggota(BPA) 54 wajib mengirimkan wakilnya guna mengikuti siding

sejak pertama kecuali bila tidak disetujui oleh anggota yang

bersangkutan.

c. Keputusan :

Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh

karenanya tidak dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas

perintah pengadilan dalam bentuk permintaan keterangan ahli. Salah seorang

anggota MKEK dapat memberikan kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik,

kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan tentang jalannya persidangan dan

putusan MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat untuk sepaham

54
D.Veronica Komalawati,Hukum dan Etika dalam Praktik Dokter,Cetakan Pertama,Jakarta :
Pustaka Sinar Harpan, hal 55
BPA juga merupakan badan khusus yang ototnom sebagai lembaga perlengkapan organisasi
profesi IDI yang bertugas mengadakan pembelaan bagi anggotanya.
43

dengan putusan MKEK. Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh

Pengurus IDI Wilayah dan/atau Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang

bersangkutan. Khusus untuk SIP, eksekusinya diserahkan kepada Dinas

Kesehatan setempat. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter teradu

menerima keterangan telah menjalankan putusan. 55

Sesuai dengan berat ringannya pelanggaran, sanksi yang dapat dijatuhkan

ialah teguran tertulis, skorsing sementara dari keanggotaan, pemecatan

keanggotaan,serta pencabutan rekomendasi ijin praktek selama-lamanya tiga

tahun. 56

d. Banding :

1. Jika terdapat ketidakpuasan,baik pelapor maupun tersangka dapat

mengajukan banding kepada MKEK setingkat lebih tinggi;

2. Dalam hal pelanggaran etika kedokteran, keputusan MKEK Pusat

bersifat final dan mengikat;

Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran

(tanpa melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-

jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk

mempertahankan akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini

MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan

pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. Di kemudian

hari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), lembaga yang

55
Quo Vadis Organisasi Profesi, terdapat dalam APIO.COM, diakses pada hari sabtu 30-10-2010
56
ibid
44

dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis yang

menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran. 57

A.4.1.2 Melalui Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

Konsep penyelesaian sengketa antara dokter atau dokter gigi melalui

Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang ada dalam

Undang-undang tentang praktek kedokteran No 29 tahun 2004 merupakan

pengganti posisi Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) yang ada di

Undang-undang 23 Tahun 1999 Tentang kesehatan. 58

Lembaga ini dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia atas amanat UU

29/2004. Majelis ini bertugas memastikan apakah standar profesi telah

dilaksanakan dengan benar. Pasal-pasal yang berkenaan dengan MKDKI adalah

diantaranya pasal 66 ayat (1)(2)(3), 67, 68, dan 69 ayat (1)(2)(3). Dari pasal-pasal

yang disebut diatas terdapat sanksi yang bisa dikenakan kepada yang melakukan

pelanggaran disiplin.

MKDKI merupakan lembaga otonom dari KKI (BAB VIII) dan

bertanggung jab kepada KKI. Jika tugas dari konsil kedokteran adalah pengaturan,

pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan

praktik kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis. 59 Maka

dalam penjalanan perannya membentuk MKDKI yang memiliki tugas :

1. Menerima pengaduan, memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran

disiplin dokter dan dokter gigi yang diajukan

57
UU Nomor 29 Tahun 2004 , Pasal 66 Ayat 1
58
www.hukumonline.com, peran dan tugas MKDK dalam penyelesaian sengketa medik, diakses
pada hari senin 1-10-2010
59
Pasal 6 (tugas,fungsi dan wewenang KKI) UU 29/2004, UUPK
45

2. Menyusun pedoman dan cara penanganan kasus pelanggaran disiplin

dokter dan dokter gigi. 60

MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam

penyelenggaraan praktik kedokteran. Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah

“disiplin profesi”, yaitu permasalahan yang timbul sebagai akibat dari

pelanggaran seorang profesional atas peraturan internal profesinya, yang

menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional)

dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI dalam

sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka MKDKI akan

meneruskan kasus tersebut kepada MKEK.

Mekanisme pengaduan seperti yang tecantum haruslah memnuhi unsur

yang ada didalam pasal 66 . Unsur didalam pasal tersebut harus terpenuhi agar

MKDKI dalam memproses tidak mengalami hambatan. setelah pengaduan

diterima maka pengaduan yang diadukan tersebut selanjutnya akan diproses oleh

MKDKI dengan membentuk majelis pemeriksa.

Majelis pemeriksa ini terdiri dari 3 orang yang berasal dari MKDKI dan

MKDKI provinsi yang juga dibentuk oleh KKI. Disinilah akan ditentukan apakah

pengaduan termasuk pelanggaran etik atau pelanggaran disiplin. tiga kelompok

pelanggaran disiplin : 61

1. Melaksanakan praktik kedokteran dengan tidak kompeten

2. Tugas & tanggung jawab profesional terhadap pasien, tidak dikerjakan

dengan baik

60
Pasal 64, UU 29/2004 , UUPK
61
Drg.Iwan Dewanto. Makalah Medical Dicipline and Enforcement in Medical Practice
46

3. Berperilaku tercela merusak martabat & kehormatan profesi dokter

Bisa juga pengaduan ditolak karena tidak memuat unsur-unsur

pelanggaran, bila ada indikasi pelanggaran etik maka akan diserahkan ke MKEK.

Apabila dokter yang diadukan tidak terbukti maka ia akan bebas. Bila tebukti pun

akan dikenai sanksi sesuai dengan besar/kecilnya pelnggaran yang dilakukannya

seperti yang tercantum didalam pasal 69 ayat 3. Sanksinya bisa dikenai :

1. Pemberian peringatan tertulis

2. Rekomendasi pencabutan STR dan SIP

3. harus mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan

kedokteran dan kedokteran gigi.

Sidang MPD ini bersifat tertutup namun pembacaan amar putusannya

dilakukan secara terbuka. 62

Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses

persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan

jurisdiksinya berbeda. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK

IDI, sedangkan gugatan perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga

pengadilan di lingkungan peradilan umum. Dokter tersangka pelaku pelanggaran

standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat diperiksa oleh MKEK, dapat pula

diperiksa di pengadilan tanpa adanya keharusan saling berhubungan di antara

keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK belum tentu

dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya. 63

62
Amri Amir, Op.cit,hlm 53
63
www.freewebs.com/etikadokterindonesia/Etika Kedokteran Indonesia dan Penanganan
Pelanggaran Etika di Indonesia Budi Sampurna
47

A.4.1.3 Melalui Peradilan Umum

Penyelesaian sengketa antara dokter dan pasien melalui peradilan umum

tunduk pada ketentuan umum mengenai penyelesaian sengketa pada peradilan

terkait, seperti HIR,RBg dan KUHAP. Dibawah ini prosedur penyelesaian

sengketa di peradilan umum : 64

A.4.1.3.1 Peradilan Perdata

Dalam kajian hukum kedokteran dalam keterkaitannya dengan

keperdataan merupakan suatu perikatan antara dokter dan pasien. Dari sudut

perdata malpraktik kedokteran terjadi bila dokter melakukan suatu yang tidak

sesuai dengan prestasi yang seharusnya atau dengan kata lain perbuatan dokter

tersebut menyalahi kontrak yang disepakati oleh pasien dan dokter tersebut.

perbuatan ini merupakan hal-hal yang bisa menimbulkan kerugian yang

berdampak pada terjadinya atau dipenuhi suatu tindak pidana.

Dalam kaitannya dengan pelanggaran perdata dan pidana ini sendiri

mempunyai suatu unsur esensial yang sama yaitu adanya suatu kerugian fisik

dapat berupa bertmbah buruknya suatu kesehatan seseorang dan berujung pada

terancamnya suatu nyawa seseorang/pasien. Sebagai contoh, seorang dokter yang

melakukan kekeliruan dalam menjalankan profesinya,yang kemudian

mengakibatkan hal-hal yang negative pada pasien hanya akan menimbulkan

tanggung jawab perdata dengan dalil wanprestasi seperti disebutkan pada pasal

1371 ayat (1) KUHPerdata, ini berarti bahwa tanggung jawab dokter itu baru

64
Safitri Hariyani, Op.Cit, Hlm 85
48

terjadi apabila seseorang pasien menggugat dokter untuk membayar ganti rugi

atas dasar perbuatan yang merugikan pasien. 65

Sehubungan dengan masalah ini maka wanpretasi yang dimaksudkan

dalam tanggung jawab perdata seorang dokter adalah wanprestasi karena

melakukan salah satu unsure wanprestasi yaitu Melakukan apa yang

diperjanjikan,tetapi tidak sebagaiman yang diperjanjikan 66 ,yangu subjek hukum

yang dalam hal ini dokter,kurang atau tidak memenuhi berart bahwa seseorang

atau subyek hukum yang dalam hal ini dokter,kurang atau tidak memenuhi syarat-

syarat yang tertera dalam suatu perjanjian yang telah ia adakan dengan pasiennya,

gugatan atas dasar pasal 1371 ayat 1 KUHPerdata 67

Bahwa : “Penyebab luka atau cacatnya sesuatu anggota badan dengan

sengaja atau kurang hati-hati memberikan hak kepada si korba untuk

selain penggantian biaya-biaya penyembuhan,menuntut penggantian

kerugian yang disebabkan oleh luka atau cacat tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya,gugatan terhadap dokter atas dasar

wanprestasi semakin berkurang,disebabkan karena sangat sulit untuk

membuktikan adanya penyimpangan dalam perjanjian. Dengan demikian , maka

gugatan lebih banyak didasarkan atas pada perbuatan melanggar hukum. Jadi

seorang pasien dapat menggugat seorang dokter oleh karena dokter tersebut

65
Prof.Subekti,SH;Hukum Perjanjia,PT Inter Masa, Cetakan ke X,1985,hal 45
66
Menurut Ilmu Hukum Perdata seorang dapat dianggap melakukan wanprestasi jika :
1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan
2. melakukan apa yang diperjanjikan,tetapi terlambat
3. melaksanakan apa yang diperjanjikan,tetapi tidak sebagaimana mestinya
4. melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya
67
KUH Perdata,Pasal 1371 Ayat (1)
49

melakukan perbuatan melanggar hukum seperti yang diatur dalam pasal 1365

KUH Perdata 68 Bahwa:

“Tiap perbuatan melanggar hukum,yang membawa kerugian kepada

orang lain,mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan

kesalahan itu, mengganti kerugian tersebut”. 69

Seorang dokter selain dapat dituntut atas dasar wanprestasi dan melanggar

hukum seperti disampaikan sebelumnya, dapat pula dituntut atas dasar lalai,

sehingga menimbulkan kerugian. gugatan atas dasar lalai ini diatur dalam pasal

1366 KUH Perdata, yang berbunyi sebagai berikut : 70

“ Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang

disebabkan karena perbuatannya,tetapi juga untuk kerugian yang

disebabkan karena kelalaian atau kurang kehati-hatiannya”

Proses penyelesaian sengketa melalui peradilan perdata berdasrkan

ketentuan hukum acara perdata yang berlaku ialah HIR yang berlaku untuk daerah

Jawa,Madura dan RBg untuk wilayah Indonesia lainnya di Indonesia.

Gugatan diajukan oleh pihak yang dirugiakn di Pengadilan Negeri tempat

kediaman tergugat, jika dalam perkara yang gugatannya tentang pelanggaran

Undang-undang Perlindungan Konsumen maka gugatan diajukan di PN tempat

tinggal konsumen. 71 Maka setelah gugatan diterima siding pertama segera

68
KUH Perdata,Pasal 1365
69
Perbuatan melawan hukum adalah bukan hanya berarti perbuatan tersebut semata-mata
melanggar hukum (tertulis) yang sedang berlaku,tetapi juga merupakan suatu perbuatan yang
bertentangan dengan norma kepatutan,ketelitian dan kehati-hatian di dalam masyarakat.
70
KUH Perdata ,Pasal 1366
71
UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 23
50

dilaksanakan dengan pemanggilan para pihak sebelumnya untuk menghadiri

persidangan.

Seperti proses persidangan peradilan perdata lainnya apabila ada keberatan

dari para pihak mengenai kompetensi absolut jika hakim menerima keberatan

maka aka nada putusan sela yang isisnya mengabulkan keberatan dari pihak

tersebut. Tapi jika tidak maka hakim akan melanjutkan dengan pemeriksaan

pokok perkara dan bukti-bukti, dan diakhiri dengan putusan hakim. yang

bertujuan untuk menyelesaikan suatu perkara para pihak yang bersengketa. 72

Dari uraian teori diatas , dapat dikatakan bahwa pada mulanya apabila

terbukti bahwa seorang dokter melakukan “malpraktek” dan pasien mengalami

suatu cidera,dapat menimbulkan tanggung jawab perdata bagi seorang

dokter,dengan dasar gugatan antara lain wanprestasi,melanggar hukum dan

kelalaian, yang sanksinya lazim berupa ganti rugi (uang) kepada pasien.

A.4.1.3.2 Peradilan Pidana


Malpraktik kedokteran bisa masuk lapangan hukum pidana apabila

memenuhi syarat-syarat tertentu dalam 3 aspek,yakni : 73

Proses penyelesaian sengketa melalui Peradilan Pidana didasarkan ketentuan

KUHAP,Prosedurnya adalah sebagai berikut :

1. Syarat dalam perlakuan medis.

2. Syarat dalam sikap batin dokter.

3. Syarat mengenai hal akibat.

72
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta : Liberty,Cet. I,1993 Hlm
174
73
DRS.Adami Chazawi,Op.Cit,.Hlm 81
51

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya mengenai malpraktek medik

adalah suatu kelalaian yang diakibatkan karena tidak adanya suatu sikap hati-hati

yang tidak seharusnya orang professional melakukan perbuatan yang sebenarnya

tidak harus dilakukan .

Kelalaian medik dapat dikatakan sebagi suatu tindak pidana jika akibat

yang ditimbulkan oleh kelalaian tersebut membawa kerugian atau cedera parah

kepada orang lain, sehingga akibat dari perbuatan tersebut secara implisit

memenuhi unsur melawan hukum materil, artinya perbuatan pidana tersebut betul-

betul dirasakan masyarakat sebagai perbuatan yang tidak patut atau keliru.

Pertama adalah pihak yang merasa dirugikan membuat laporan ke polisi

sebagi penyidik umum ditempat kejadian perkara. Setelah polisi memanggil dan

melakukan penyelidikan terhadap tersangka dan dari hasil penyelidikan dianggap

telah terpenuhi bukti permulaan yang cukup, maka berkas dan barang bukti

diserahkan ke kejaksaan untuk dilakukan penyidikan lanjutan dan dibuat

dakwaan, jaksa atau penuntut umum menyerahkan hasil penyidikan dan surat

dakwaan ke Pengadilan Negeri setempat.

Prosedur persidangan perkara Pidana pada prinsipnya sama dengan

persidangan perkara perdata,akan tetapi pihak yang melaporkan pelanggaran

pidana didalam persidangan diwakili oleh Jaksa/Penuntut Umum,pelapor

dihadapkan sebagai saksi sedangkan terlapor dihadapkan sebagai terdakwa.

Perbedaan penting dalam proses penegakan hukum pidana dalam delik

biasa dan delik dalam kasus kelalaian medik adalah pada delik biasa yang menjadi

ukuran adalah akibatnya, sedangkan pada delik kelalaian medik yang menjadi
52

ukurannya dilihat dari penyebabnya, Namun walaupun berakibat fatal,tidak ada

unsur kelalaian atau kesalahan maka dokternya tidak dapat dipersalahkan.

A.4.1.4 Melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

Sifat penyelesaian sengketa melalui badan ini adalah di luar pengadilan.

Badan ini berada dibawah Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor :

350/MPP/Kep/12/2001, Tugas dan wewenang BPSK dapat berupa Konsiliasi,

Mediasi dan Arbitrase. 74

Pada pasal 15 Ayat 1 KEPMENPERINDAG No.350/MPP/Kep/12/2001

dinyatakan: 75

“setiap konsumen yang dirugikan dapat mengajukan permohonan

penyelesaian konsumen kepada BPSK baik secara tertulis maupun secara

lisan”

Terhadap permohonan penyelesaian sengketa konsumen dilakuakan penelitian

kelengkapan dan bukti-bukti pendukung, apabila hal-hal tersebut tidak terpenuhi

maka ketua BPSK menolak permohonan yang bukan merupakan kewenangan

BPSK.

Dalam menangani kasus sengketa konsumen BPSK membentuk majelis,

dengan jumlah anggota harus ganjil yang terdiri sedikitnya 3 orang yang mewakili

semua unsur. 76 Unsur-unsur disini adalah unsur Pemerintah , unsur Konsumen

dan unsur Pelaku Usaha. Unsur-unsur ini dibentuk oleh Menteri Perdagangan dan

Perindustrian, keanggotaanya terdiri dari ketua merangkap anggota, wakil ketua


74
UU No 8 Tahun 1999 , Pasal 52 Huruf A
75
KEPMENPERINDAG , Pasal 15 Ayat 1
76
Pasal 49 Ayat (3), UU No 8 Tahun 1999, Tentang Perlindungan Konsumen
53

merangkap anggota, dan anggota dibantu oleh secretariat. Badan ini dibentuk

disetiap daerah tingkat II. 77

Selama proses pemeriksaan sengketa berlangsung majelis berwenang

untuk menghadirkan saksi, saksi ahli, pengalih bahasa (Kalau diperlukan) bahkan

apabila saksi ahli tidak dapat hadir tanpa alasan yang jelas maka majelis dapat

meminta kepada penyidik umum untuk menghadirkan saksi ahli tersebut di

persidangan.

Penyelesaian secara Konsiliasi, majelis menyerahkan secara sepenuhnya

proses penyelesaian sengketa kepada para pihak secara sepenuhnya. Konsiliator

hanya bertugas menjawab pertanyaan para pihak perihal peraturan perundang-

undangan di bidang perlindungan konsumen. 78

Sedangkan cara Mediasi, mediator secara aktif mendamaikan para pihak

yang bersengketa dan secara aktif memberikan saran atau anjuran penyelesaian

sengketa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 79

Penyelesaian secara Arbitrase dibandingkan dengan Mediasi dan

Konsiliasi mempunyai perbedaan yang cukup mendasar yaitu kalau dalam

penyelesaian sengketa pada mediasi dan konsiliasi hasil atau keputusannya

diserahkan kepada para pihak sesuia kesepakatan kedua belah pihak, maka dalam

arbitrase putusan dijatuhkan/diberikan oleh arbiter tanpa campur tangan para

pihak. Dan penyelesaian ini bertujuan menghindari sengketa melalui Peradilan

77
Pasal 49 Ayat (1), UU No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
78
Yusuf Sofie, Penyelesaian Sengketa Menurut UUPK (Teori dan Penegak Hukum),Bandung ,PT
Citra Aditya Bakti, Hlm 29
79
Ibid
54

Umum. 80

Kembali pada pokok sengketa, dalam hal ini terkait dengan adanya

sengketa medik antara dokter dan pasien dalam hal ini sebagai konsumen, terjadi

tidak diperkirakan dan tidak diantisipasi sebelumnya, yang ada dalam hubungan

keduanya adalah suatu perjanjian tertulis yang rinci sehingga bila terjadi sengketa

belum jelas mekanisme apa yang harus digunakan.

Putusan BPSK bisa berupa perdamaian,gugatan ditolak atau gugatan

dikabulkan dengan putusan yang bersifat final dan telah mempunyai kekuaatan

hukum yang tetap.

PELANGGARAN & CARA PENANGANAN

Etika MKEK

Dr & Drg Disiplin MKDKI

Peradilan Pidana

Sengketa Hukum

Peradilan Perdata

Sengketa Non-Hukum Lembaga Mediasi (ADR)

80
Ibid
55

B. Bentuk Perlindungan Hukum Pasien Dalam UU No. 29 Tahun 2004

Terkait Tindak Pidana Kelalaian Medik.

B.1 Pengertian Perlindungan Hukum Pasien

Perlindungan hukum dapat diartikan terpenuhinya hak-hak dan kewajiban

seseorang baik itu individu maupun kelompok. Perlindungan Hukum ini

dilakukan dengan dua cara, yaitu secara abstrak dan pemberdayaan. Pengertian

secara abstrak yaitu : 81

1. Mengatur Hak dan Kewajiban

2. Mewajibkan orang lain mengindahkan/memperhatikan hak dan kewajiban

3. Melarang orang lain melanggar hak dan kewajiban.

Pengertian secara pemberdayaan :

1. Memberikan hak yang berkorelasi dengan kewajiban orang lain

2. Pengakuan terhadap hak tersebut sebagai korban dalam hal ini status

korban.

Perlindungan hukum dari segi macamnya dapat dibedakan antara pasif dan

aktif. Perlindungan hukum yang bersifat pasif berupa tindakan-tindakan luar

(selain proses peradilan) yang memberikan pengakuan dan jaminan dalam bentuk

pengaturan atau kebijaksanaan berkaitan dengan hak-hak pelaku dan korban.

Sedangkan perlindungan hukum yang bersifat aktif dibagi lagi menjadi aktif-

preventif dan aktif-represif. Perlindungan hukum aktif-preventif berupa hak-hak

yang diberikan oleh pelaku yang harus diterima oleh korban berkaitan dengan

81
Mudzakkir, Bahan Kuliah Viktimologi, di kutip dari Yanny Yuharyati, Perlindungan Hukum
terhadap Korban Perdagangan Khususnya Perempuan dan Anak, Thesis, Program Magister
Hukum (S2), Ilmu Hukum, UII, Yogyakarta, 2005, hlm. 69
56

penerapan aturan-aturan hukum ataupun kebijaksanaan pemerintah, sedangkan

aktif-represif berupa tuntutan kepada pemerintah atau penegak hukum terhadap

pengaturan maupun kebijaksanaan yang telah diterapkan kepada korban yang

merugikan. 82

Perlindungan hukum secara pasif disamping berprinsip pada pengakuan dan

perlindungan hak asasi manusia juga pada sifat kekeluargaan dan kesejahteraan

manusia bersama. Perlindungan hukum secara pasif ini penting sekali berkaitan

dengan bidang-bidang yang tidak tersentuh hukum walaupun demikian sifat

perlindungan hukum secara pasif dan menyeluruh memberikan hasil yang

memadai. 83

Adapun perlindungan hukum secara aktif-preventif diberikan dalam

bentuk pengajuan pendapat dan hak untuk memberikan informasi kepada korban

terhadap penetapan peraturan maupun kebijaksanaan yang akan diambil. Prinsip

perlindungan hukum ini ditekankan pada permusyawaratan-kerukunan.

Sebaliknya perlindungan hukum secara aktif-represif diberikan dalam bentuk

upaya keberatan atau tuntutan untuk menyelesaikan permasalahannya yang

dipandang merugikan bagi korban terhadap suatu keputusan yang diambil

pemerintah. Prinsip perlindungan hukum ini ditekankan pada usaha perdamaian

dimana pengadilan merupakan sarana terakhir. 84

82
Philip M Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat, Disertasi, Univ. Airlangga, Surabaya,
1987, dikutip dari, M. Winahnu Erwiningsih, Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Wanita, Jurnal
Hukum, Edisi. No. 3, Vol. I 1995, hlm. 23
83
Wahyu Priyanka,Perlindungan Hukum Pihak Ketiga Yang Berkepentingan dalam Penegakan
Hukum Pidana Dalam Bidang Korporasi,Program Sarjana (S1), Hlm 138
84
Ibid
57

Sedangkan yang dimaksud dengan pasien disini jika dilihat dari perspektif

Undang-undang yang mengkajinya baik dalam UU No.29 Tahun 2004 dan UU

No. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit memiliki kemiripan dan kesamaan

pengertian. Dalam pengertiannya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pasien

adalah setiap orang yang melakukan konultasi masalah kesehatannya untuk

memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun

tidak langsung kepada dokter dan dokter gigi. 85

Jadi jika ditarik kesimpulan maka yang dimaksud dengan perlindungan

hukum pasien disini adalah segala sesuatu yang dibuat guna tercapainya suatu

perbuatan untuk melindungi masyarakat atau pasien yang bermutu dalam hal

tercapainya kepastian hukum seperti yang telah diatur dalam ketentuan

sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-undang.

B.2 Tindak Pidana di Bidang Praktik Kedokteran (UU No.29 Tahun 2004)

Istilah tindak pidana (stafbaar feit) 86 dalam hal ini merupakan perumusan

yang normatif, karena telah ada perumusannya dalam undang-undang. Dalam

perumusan yang ada sebelumnya pada bagian definisi operasional bagi siapa saja

yang melakukan tindak pidana akan dikenakan ancaman pidana bagi mereka yang

melanggar larangan tersebut.

Jika pengertian diatas dihubungkan dengan kesehatan maka menjadi

tindak pidana kesehatan. Yang memiliki arti semua perbuatan di bidang pelayanan

kesehatan atau yang berhubungan atau yang menyangkut pelayanan kesehatan

yang dilarang oleh undang-undang disertai ancaman pidana tertentu terhadap

85
UU 44 Tahun 2009 Pasal 1 angka 4 dan UU No 29 Tahun 2004 Pasal 1angka 10
86
Adami Chazawi,Loc.cit, hlm 147
58

siapapun yang melanggar larangan tersebut.

Undang-undang dalam arti materiil adalah peraturan tertulis yang berlaku

umum dan dibuat oleh penguasa pusat maupun daerah yang sah. Mengenai

berlakunya undang-undang tersebut terdapat beberapa azas yang tujuannya adalah

agar supaya undang-undang tersebut mempunyai dampak yang positif. Artinya,

agar supaya undang-undang tersebut mencapai tujuannya, sehingga efektif. Asas-

asas tersebut antara lain :

1. Undang-undang tidak berlaku surut, artinya undang-undang hanya boleh

diterapkan terhadap peristiwa yang disebut di dalam undang-undang

tersebut, serta terjadinya setelah undang-undang dinyatakan berlaku;

2. Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, mempunyai

kedudukan yang lebih tinggi pula;

3. Undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang

bersifat umum, apabila pembuatnya sama;

4. Undang-undang yang berlaku belakangan, membatalkan undang-undang

yang berlaku terdahulu;

5. Undang-undang tidak dapat diganggu gugat;

Undang-undang merupakan suatu sarana untuk mencapai kesejahteraan spiritual

dan materiel bagi masyarakat maupun pribadi, melalui pelestarian ataupun

pembaharuan atau inovasi. 87

Bila dilihat dalam penegakan hukum terhadap Praktek Kedokteran dalam

perkara Kelalaian Medik atau Malpraktik, dalam segi undang-undang, maka


87
Wahyu Priyanka Nata Permana, Perlindungan Hukum Bagi Pihak ke 3 yang berkepentingan
dalam Penegakan Hukum Pidana Terhadap Korporasi, Program Sarjaa Hukum (S1) UII ,
Yogyakarta , Hal 141
59

sudah terdapat peraturan yang mengaturnya yakni Undang-undang No. 29 Tahun

2004 tentang Praktik Kedokteran , serta sudah dapatnya Para dokter yang

melakukan kelalaian baik pasif maupun aktif tersebut dipertanggungjawabkan

menurut hukum didasarkan pada Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78, Pasal 79,

Pasal 80 Undang-undang Praktik Kedoktean.. Dalam KUHP juga mengatur

mengenai hal-hal yang berkaitan dengan malpraktik kedokteran yang terdapat

dalam pasal 351, 359 , 360, 344, 346, 347, 348. Begitu pula halnya dalam

penegakan hukum terhadap Konsumen dalam bidang perlindungan konsumen,

jika dilihat dari segi undang-undang, maka sudah terdapat peraturan yang

mengaturnya yakni Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

Konsumen (UUPK).

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Undang-Undang Tentang Praktek

kedokteran yang baru merupakan Undang-undang baru mengenai praktik

kedokteran yang mengatur khusus mengenai praktek kedokteran yang di

dalamnya mengatur tentang pelayanan kesehatan. Menurut Undang-undang

Nomor 29 Tahun 2004, untuk melindungi masyarakat penerima jasa pelayanan

kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dari dokter dan dokter

gigi dibentuk Konsil Kedokteran Indonesia yang terdiri atas Konsil Kedokteran

dan Konsil Kedokteran Gigi. Konsil Kedokteran Indonesia bertanggung jawab

kepada Presiden. Konsil Kedokteran Indonesia mempunyai fungsi pengaturan,

pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan

praktik kedokteran, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis.


60

Ketentuan pidana dalam Undang-undang No.29 Tahun 2004 seperti yang

disampaikan diatas terdiri dari pasal 75,76,77,78, dan 80. Pasal-pasal ketentuan

pidana tersebut ditujukan untuk terciptanya suatu pelayanan medis atau kesehatan.

Bentuk tindak pidana kedokteran dalam budang pelayanan kesehatan tersebut

adalah sebagai berikut :

Pasal 75

1) Setiap dokter atau dokter gigi yang sengaja melakukan praktek kedokteran

tanpa memiliki surat tanda registrasi seperti yang tercantum dalam pasal 29

ayat 1, diancam dengan pidana pejara paling lama 3 tahun atau denda

paling banyak Rp 100.000.000,00

2) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang sengaja melakukan

praktek kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara seperti

yang tercantum dalam pasal 31 ayat 1, diancam dengan pidana pejara

paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00

3) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja

melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi

bersyarat sebagaimana yang dimuat dalam pasal 32 ayat 2, diancam dengan

pidana pejara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp

100.000.000,00

Pasal 76

Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik

kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana yang dimaksud


61

dalam pasal 36, diancam dengan pidana pejara paling lama 3 tahun atau denda

paling banyak Rp 100.000.000,00

Pasal 77

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau

bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang

bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda

registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi dan/atau surat izin

praktik sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 73 ayat 1 dipidana dengan

pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp150.000.000,00

Pasal 78

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat metode atau cara lain

dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan

seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah

memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau

surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam pasal 73 ayat 2 dipidana

dengan pidanapenjara selama 5 tahun atau denda paling banyak

Rp.150.000.000,-

Pasal 79

Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling

banyak Rp 50.000.000,00 setipa dokter yang :

1. dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam

pasal 41 (1)
62

2. dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam

pasal 46 (1)

3. dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam

pasal 51 yaitu :

1. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar

prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;

2. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian

atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu

pemeriksaan atau pengobatan;

3. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan

juga setelah pasien itu meninggal dunia;

4. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila

ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya;

5. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu

kedokteran atau kedokteran gigi.

Pasal 80
1) Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dookter

gigi sebagaimana dimaksud dalam pasal 42, dipidana dengan pidana

penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp

300.000.000,00

2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan

oleh korporasi,maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda

sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditambah sepertiga atau dijatuhi

hukuman tambahan berupa pencabutan izin.


63

Jika dilihat dari keseluruhan aturan yang tercantum dalam ketentuan

pidana praktik kedokteran tersebut adalah memuat semua stelsel pidana / Sanksi

pidana kecuali pidana mati . Stelsel pidana tersebut menurut teori adalah :

Pidana Pokok :

• Pidana Mati

• Pidana Penjara

• Pidana denda

Pidana Tambahan :

• Pidana-pidana tambahan yaitu pidana pencabutan hak tertentu.

Norma yang menjadi dasar penetapan kriminalisasi dalam ketentuan

pidana praktik kedokteran tersebut jika diteliti bersumber dari Norma hukum dan

bersumber hukum administrasi yaitu peraturan perundang-undangan pusat dan

daerah dan Norma profesi yaitu standar prosedur, Standar Operasioal Prosedur

(SOP), dan Kode Etik. 88

a) Standar profesi adalah batasan kemampuan (knowledge, skill and

professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu

untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara

mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.

b) Standar prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi/langkah-

langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin

tertentu. Standar prosedur operasional memberikan langkah yang benar

dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai

88
Mudzakkir, Aspek Hukum Pidana Dalam Pelayanan Kesehatan, Dosen Fakultas Hukum UII,
Materi perkuliahan Hukum Pidana Kesehatan, Hlm 7
64

kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan

kesehatan berdasarkan standar profesi.

c) Kode Etik Profesi adalah suatu pedoman prilaku etik dalam menjalankan

profesi kedokateran dan kedokteran gigi untuk menjaga kehormatan

profesi yang disusun oleh organisasi profesi dokter (IDI) dan organisasi

kedokteran gigi (PKGI).

B.3. Malpraktek Menurut Syariat Islam


Berobat merupakan salah satu kebutuhan vital umat manusia. Banyak

orang rela mengorbankan apa saja untuk mempertahankan kesehatannya atau

untuk mendapatkan kesembuhan. Di sisi lain, para dokter adalah manusia biasa

yang tidak terlepas dari kesalahan. Demikian juga paramedis yang bekerja di

bidang pelayanan kesehatan. Kemajuan teknologi tidak serta merta menjamin

menutup pintu kesalahan. Meski pada dasarnya memberikan pelayanann sebagai

pengabdian, mereka juga bisa jadi tergoda oleh keuntungan duniawi, sehingga

mengabaikan kemaslahatan pasien.

Berobat merupakan salah satu kebutuhan vital umat manusia. Banyak

orang rela mengorbankan apa saja untuk mempertahankan kesehatannya atau

untuk mendapatkan kesembuhan. Di sisi lain, para dokter adalah manusia biasa

yang tidak terlepas dari kesalahan. Demikian juga paramedis yang bekerja di

bidang pelayanan kesehatan. Kemajuan teknologi tidak serta merta menjamin

menutup pintu kesalahan. Meski pada dasarnya memberikan pelayanann sebagai

pengabdian, mereka juga bisa jadi tergoda oleh keuntungan duniawi, sehingga

mengabaikan kemaslahatan pasien.

Akibat dari malpraktik ini yang dilakukan oleh dokter di Indonesia ini
65

berdampak langsung terhadap kondisi pasien. banyak kasus dugaan malpraktik di

Indonesia yang telah memakan korban. Masyarakat yang berobat bukan menjadi

sembuh,tapi malah menjadi cacat seumur hidup, bahkan meninggal dunia.

Didalam asas kedokteran islam sendiri tidak membenarkan seseorang yang tidak

mengkaji ilmu kedokteran untuk mengobati pasien,sehingga jika terjadi sesuatu

berupa bahaya, ia harus tanggung jawab dokter sepenuhnya. 89

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa mengobati seseorang dan ia

(pemberi obat) tidak mengetahui ilmu kedokteran sebelumnya maka dialah yang

bertanggung jawab”(HR.Abu Dawud) dan “tidak boleh seorang tabib (dokter)

kecuali yang berpengalaman (HR.Bukhari ). 90

B.3.1. Bentuk-bentuk Malpraktek

Malpraktek yang menjadi penyebab dokter bertanggung-jawab secara

profesi bisa digolongkan sebagai berikut: 91

1. Tidak Punya Keahlian (Jahil),

Yang dimaksudkan di sini adalah melakukan praktek pelayanan kesehatan

tanpa memiliki keahlian, baik tidak memiliki keahlian sama sekali dalam

bidang kedokteran, atau memiliki sebagian keahlian tapi bertindak di luar

keahliannya. Orang yang tidak memiliki keahlian di bidang kedokteran

kemudian nekat membuka praktek, telah disinggung oleh Nabi Shallallahu

‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

‫ﻦ‬
ٌ ِ‫ َﻓ ُﻬ َﻮ ﺿَﺎﻣ‬،َ‫ﻞ ذَﻟِﻚ‬
َ ‫ﺐ َﻗ ْﺒ‬
‫ﻃ ﱞ‬
ِ ‫ﺐ َوَﻟ ْﻢ ُﻳ ْﻌَﻠ ْﻢ ِﻣ ْﻨ ُﻪ‬
َ ‫ﻄ ﱠﺒ‬
َ ‫ﻦ َﺗ‬
ْ ‫َﻣ‬

89
Ja’far Khadem Yamani, Kedokteran Islam dan Perkembangannya, Dzikra Penerbit Buku Sains,
Bandung,2002,Hlm.45
90
Ibid 45
91
Malpraktik menurut Syariat Islam, Ustadz Annas Burhanuddin, http://www.almanhaj.or.id
66

“Barang siapa yang praktek menjadi dokter dan sebelumnya tidak

diketahui memiliki keahlian, maka ia bertanggung-jawab”

Kesalahan ini sangat berat, karena menganggap remeh kesehatan dan

nyawa banyak orang, sehingga para Ulama sepakat bahwa mutathabbib

(pelakunya) harus bertanggung-jawab, jika timbul masalah dan harus

dihukum agar jera dan menjadi pelajaran bagi orang lain.

2. Menyalahi Prinsip-Prinsip Ilmiah (Mukhâlafatul Ushûl Al-’Ilmiyyah)

Yang dimaksud dengan pinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah

yang telah baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori

maupun praktek, dan harus dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi

kedokteran. Para ulama telah menjelaskan kewajiban para dokter untuk

mengikuti prinsip-prinsip ini dan tidak boleh menyalahinya. Imam Syâfi’i

rahimahullah –misalnya- mengatakan:

“Jika menyuruh seseorang untuk membekam, mengkhitan anak, atau

mengobati hewan piaraan, kemudian semua meninggal karena praktek itu,

jika orang tersebut telah melakukan apa yang seharusnya dan biasa

dilakukan untuk maslahat pasien menurut para pakar dalam profesi

tersebut, maka ia tidak bertanggung-jawab. Sebaliknya, jika ia tahu dan

menyalahinya, maka ia bertanggung-jawab.”

3. Ketidaksengajaan (Khatha’)

Ketidaksengajaan adalah suatu kejadian (tindakan) yang orang tidak

memiliki maksud di dalamnya. Misalnya, tangan dokter bedah terpeleset

sehingga ada anggota tubuh pasien yang terluka. Bentuk malpraktek ini
67

tidak membuat pelakunya berdosa, tapi ia harus bertanggungjawab terhadap

akibat yang ditimbulkan sesuai dengan yang telah digariskan Islam dalam

bab jinayat, karena ini termasuk jinayat khatha’ (tidak sengaja).

4. Sengaja Menimbulkan Bahaya (I’tida’)

Maksudnya adalah membahayakan pasien dengan sengaja. Ini adalah

bentuk malpraktek yang paling buruk. Tentu saja sulit diterima bila ada

dokter atau paramedis yang melakukan hal ini, sementara mereka telah

menghabiskan umur mereka untuk mengabdi dengan profesi ini. Kasus

seperti ini terhitung jarang dan sulit dibuktikan karena berhubungan dengan

isi hati orang. Biasanya pembuktiannya dilakukan dengan pengakuan

pelaku, meskipun mungkin juga factor kesengajaan ini dapat diketahui

melalui indikasi-indikasi kuat yang menyertai terjadinya malpraktek yang

sangat jelas. Misalnya, adanya perselisihan antara pelaku malpraktek

dengan pasien atau keluarganya.

Malpraktik dalam perspektif islam termasuk kedalam jarimah qishash.

Jarimah Qishash adalah jarimah yang diancam dengan pidana qishash, pidana

yang sama dengan perbuatan yang dilakukan. Menyororti malpraktek dalam

perspektif islam mengenai malpraktek memiliki pemahaman pengertian yang

sama baik berupa kelalaian yang dilakukan dengan kesengajaan yang disertai

motif dan perbuatan yang dilakukan tidak sengaja akan tetapi ada unsur lalai yang

berakibat fatal.
68

Kasus malpraktik yang ada terjadi baik yang dilakukan karena kelalaian

atau kesengajaan haruslah tetap dipertanggung jawabkan. Adapun bentuk

tanggung jawab malpraktek adalah sebagai berikut : 92

1. Qishash, Qishash ditegakkan jika terbukti bahwa dokter melakukan tindak

malpraktek sengaja untuk menimbulkan bahaya (i’tida’), dengan

membunuh pasien atau merusak anggota tubuhnya, dan memanfaatkan

profesinya sebagai pembungkus tindak kriminal yang dilakukannya.

Ketika memberi contoh tindak kriminal yang mengakibatkan qishash,

Khalil bin Ishaq al-Maliki mengatakan: “Misalnya dokter yang menambah

(luas area bedah) dengan sengaja.

2. Ta’zîr berupa hukuman penjara, cambuk, Ganti rugi atau yang lain. 93

Penentuan hukuman ditentukan oleh penguasa, karena tidak diatur dalam

ukuran malpraktik itu sendiri.

a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak

mengetahuinya, dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya.

b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah.

c. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi terjadi

kesalahan tidak disengaja.

d. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi tidak

mendapat ijin dari pasien, wali pasien atau pemerintah, kecuali dalam

keadaan darurat.

92
Ibid
93
Ta’zîr: hukuman di luar hudud yang tidak ditentukan syari’ah. Hudud adalah adalah perkara-
perkara yang Allah larang melakukan dan melanggarnya. Al-Mulakhash al-Fiqh, Prof.DR. Sholeh
bin Abdillah alfauzaan, cetakan pertama tahun 1423 H, Idârat al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta`
69

BAB III

KONSEP MALPRAKTIK DAN PENYELESAIAN MEDIS

DALAM HUKUM KESEHATAN

A. Konsep Perumusan Malpraktik Medik Dalam Tindak Pidana

Kedokteran Di Bidang Kesehatan

Kata malpraktik tidak ada dalam peraturan perundang-undangan. Di

Indonesia, belum ada sistem perundang-undangan yang mengatur. Hal ini

dibenarkan oleh salah seorang aparat penegak hukum yang berprofesi sebgai

hakim yang ada didaerah Yogyakarta. Menurutnya malpraktik mucul karena

adanya praktik kedokteran yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien dalam

melaksanakan upaya kesehatan. 94

Hasil dari upaya yang tidak sesuai harapan (tak sembuh, cacat, ataupun

menimbulkan kematian ) sehingga timbulah yang kita kenal dengan malpraktik.

Menurut pasal 55 ayat (1) UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan : “ Setiap

orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan

tenaga kesehatan ”

Pasal 66 ayat (1) UU No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran : “ Setiap

orang yang mengetahui atau kepentinganny dirugikan atas tindakan dokter dan

dokter gigi dalam menjalankan praktek kedokteran dapat mengadukan secara

tertulis kepada ketua majelis kehormatan disiplin kedokteran ”

94
Komari,SH,M.Hum,Wawancara Pribadi, Ruang Kerja Ketua PN Yogyakarta, 23 November
2010
70

Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya. Secara harfiah

seperti yang pernah dibahas pada BAB sebelumnya “mal” mempunyai arti “salah”

sedangkan “praktek” mempunyai arti “pelaksanaan” atau “tindakan”, sehingga

malpraktek berarti “pelaksanaan atau tindakan yang salah”. Hal ini tentunya

dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka

pelaksanaan suatu profesi.

Menurut M.Lutfi Hasan S.H (Wakil Ketua Pengadilan Negeri Yogyakarta)

Profesi disini tidak hanya diasosiasikan sebagai perbuatan yang dilakukan oleh

seorang dokter, melainkan juga ada profesi advokat, akuntan dan hakim dan lain-

lain. Beliau mengatakan yang disebut dengan profesi itu pasti memiliki peraturan

internal profesi tersendiri. Dalam hal ini jika membahas mengenai profesi

kedokteran, jika terjadi pelanggaran maka dokter tersebut telah melanggar standar

profesi kedokteran.

Menurut Komari, SH,M.Hum (Ketua PN Yogyakarta) saat ditanya

mengenai konsep malpraktek, berpendapat bahwa malpraktik itu sendiri praktik

yang menyimpang, tidak sesuai ilmu, prinsip kehati-hatian dalam melaksanakan

suatu mekanisme kerja yang berakibat timbulnya kerugian pada pasien. Kehati-

hatian disini beliau mengartikannya sebagi suatu perbuatan yang tidak cermat

dalam mengobati pasiennya.

Sedangkan menurut biro hukum Rumah Sakit RSUP Sardjito yang

diwakili oleh Banu Hermawan, SH mengatakan pengertian malpraktik itu tidak

tepat. Bila putusan pengadilan menyatakan bahwa telah terbukti terjadi malpraktik

barulah dokter dinyatakan telah melakukan medical negligence. Dengan demikian


71

maka penyebutan langsung bahwa dr. A atau Rumah Sakit B melakukan

malpraktik sebelum ada pembuktian sama saja dengan pelanggaran asas praduga

tak bersalah yang menjadi hak setiap orang, termasuk seorang dokter atau

lembaga rumah sakit. Dengan menyebutkan hal ini bukan berarti tidak ada dokter

atau rumah sakit yang melakukan malpraktik. 95 Menurutnya lebih tepat jika

menggunakan kata sengketa medik.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia)

wilayah Yogyakarta, menurut dr.Bambang Suryono, S.Sp,KIC,KNA,M.Kes tidak

ada pengertian malpraktik secara definitif. Sulit mendefinisikan hal-hal yang

masih menimbulkan multi persepsi, setiap orang memiliki cara pandang masing-

masing mengenai hal tersebut. Terutama cara pandang antara dokter dan pasien,

pasti memiliki pemahaman yang berbeda. 96

Seiring dengan makin menguatnya kesadaran pasien akan hak-haknya

(especially the right to self determination), pola hubungan dokter pasien berubah

menjadi bersifat horisontal (hubungan setara). Paradigma hubungan dokter dan

pasien berubah dari medical patrenialism menuju Patient’s autonomy. Menurut

Banu hermawan dalam hubungan medik antara dokter dan pasien adalah

hubungan menurut kacamata hukum, yang menurut kaca mata hukum di

Indonesia adalah sebuah hubungan perikatan. Yang mana hubungan ini

menimbulkan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak. Perikatan antara

doter dan pasien bisa berbentuk :

95
Banu Hermawan, S.H , Komite Hukum RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Wawancara Pribadi,
Tanggal 9 Desember 2010
96
dr.Bambang Suryono, S.Sp,KIC,KNA,M.Kes, Ketua IDI wilayah DIY, wawancara Pribadi,
Tanggal 9 Desember 2010.
72

1. Inspaning Verbintenis (Transaksi Terapeutik )

2. Resultat Verbintenis

Dalam penjelasan beliau mengenai ke 2 hubungan perikatan tersebut,

beliau mengatakan dalam Inspaning verbintenis tersebut adalah

a. hubungan hukum yang didasarkan pada bagaimana proses daya upaya

yang dilakukan tenaga medis dalam melakukan usaha atau upaya medis.

b. Obyeknya adalah bagaimana upaya dokter tersebut untuk menyembuhkan

pasien.

Sedangkan Resultat verbintenis itu adalah pertanggung jawaban hukum

yang didasarkan pada hasil akhir. Hal ini baru terpenuhi apabila hasil yang

dijanjikan kepada pasien telah terpenuhi. Misalnya dalam pencabutan gigi dokter

dianggap telah memenuhi perikatan secara sempurna bila gigi yang dimaksudkan

telah dicabut secara sempurna.

Sebagai contohnya dapat diumpamakan seorang pasien melakukan

komplain terhadap seorang dokter yang melakukan operasi tumor di bagian

perutnya, Apakah hal ini dapat dimintakan pertanggung jawaban terhadap tenaga

kedokteran selaku tenaga kesehatan ? Jawabannya adalah tergantung dari apakah

tenaga kesehatan dalam hal ini dokter telah berupaya dan berusaha sebisa

mungkin sesuai prosedur propesiona yang telah ada atau tidak. Hal-hal ini lah

yang menjadi pegangan untuk menentukan adanya malpraktek atau tidak menurut

dr. Bambang Suryono.

A.1. Prinsip Dan Aspek Hukum Malpraktik

Prinsip Malpraktik
73

Malpraktik adalah suati istilah Mediko Legal. Belajar dari apa yang

disampaikan pada kajian pembahasan sebelumnya secara eksplisit dapat ditarik

suatu penalaran hukum mengenai pengertian Malpraktik. Bahwa sesungguhnya

istilah malpraktik itu benar menyatakan suatu tindakan yang buruk.

Istilah malpraktik itu sendiri penulis setuju merupaakan suatu bentuk

kelalaian yang menyimpang dari ilmu pengetahuan dalam suatu mekanisme kerja

prosedural yang berakibat mengakibatkan kerugian bagi pihak-pihak tertentu.

Pengertian diatas benar jika memang suatu perbuatan yang disangkakan pada

seseorang memang telah benar terbukti adanya suatu pelanggaran. Namun jika

belum terbukti malapraktik merupakan istilah praduga bersalah, yang sering

dituduhkan oleh orang awam, padahal belum tentu merupakan tindakan

malpraktik.

Oleh karena itu, merujuk pada pengertian yang diungkapkan oleh

dr.Bambang Suryono dan Banu Hermawan, SH menyatakan tidak ada pengertian

malpraktik, yang ada adalah sengketa medik. Sengketa medik yang timbul karena

adanya miskomunikasi antara dokter dan pasien atau timbul karena ketidakpuasan

dari dalam diri pasien. Oleh karena itu timbul yang dinamakan dengan malpraktik,

sengketa medik yang pada akhirnya menjurus pada tuduhan kepada dokter yang

bersangkutan bahwa telah melakukan malpraktik.

Suatu perbuatan dapat dikatakan malpraktik jika dapat terbukti apa yang

dilkuakannya adalah melakukan / melanggar prinsip dalam dunia kemedisan

mengenai opzzet / dolus tentang malpraktik. Prinsip-prinsip tersebut adalah :


74

1. Orang tersebut melakukan sesuatu yang tidak seharusnya orang

professional dalam bidang kompetensi tersebut lakukan.

2. Orang tersebut tidak melakukan sesuatu yang oleh orang-orang

profesioanal dalam bidang tersebut lakukan

3. Orang tersebut melakukan sesuatu dibawah standar praktik. 97

Jika ke 3 (tiga) prinsip diatas benar-benar dilakukan barulah seorang

dokter itu dianggap melakukan praktik yang buruk. Karena dokter tersebut

bekerja tidak sesuai dengan standar praktik yang telah ditentukan. Adapaun

standar praktik yang menjadi acuan dalam praktik kedokteran adalah :

1. Standar Profesi adalah batasan kemampuan (Knowledge, skill,

professional attitude ) minimal yang harus dikuasai individu untuk dapat

melakukan kegiatan profesionalnya kepada masyarakat secara mandiri

yang dibuat oleh kalangan profesinya.

2. Standar Profesional Prosedur adalah suatu perangkat instruksi/langkah-

langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin

tertentu. Standar prosedur operasional memberikan langkah yang benar

dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai

kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan

kesehatan berdasrkan standar profesi.

3. Kode Etik Profesi adalah Kode Etik Profesi adalah suatu pedoman prilaku

etik dalam menjalankan profesi kedokateran dan kedokteran gigi untuk

97
Banu Hermawan, SH, Komite Hukum RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Wawancara Pribadi,
Tanggal 9 Desember 2010
75

menjaga kehormatan profesi yang disusun oleh organisasi profesi dokter

(IDI) dan organisasi kedokteran gigi (PKGI)

Pasien harusnya menyadari bahwa pelayanan kesehatan merupakan

perpaduan antara keterampilan dan seni yang dibentuk melalui pengalaman dan

kepekaan. Selain itu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh para tenaga medis

juga tidak bertumpu pada kemampuan mereka saja, melainkan juga membutuhkan

faktor illahiah dari yang diatas. 98

A.2. Aspek Hukum Malpraktik

Tidak terlepas dari permasalahan diatas terkait suatu kategori yang dapat

dikaitkan dengan malpraktik, dari segi penegakan hukum, menurut Lutfi Hasan

agar tidak timbul angapan bahwa seorang dokter telah melakukan malpraktek

dokter haruslah sebelum menentukan sesorang melakukan perbuatan malpraktek

atau tidak harus memperhatikan 2 (dua) aspek, sebagai berikut :

A.2.1. Hubungan Antara Dokter dan Pasien

Dokter adalah pihak yang mempunyai keahlian di bidang kedokteran,

sedangkan pasien adalah orang sakit yang membutuhkan bantuan dokter untuk

menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Pada kedudukan ini, dokter adalah

orang yang dianggap pakar dalam bidang kedokteran dan pasien adalah orang

sakit yang awam akan penyakitnya dan mempercayakan dirinya untuk

disembuhkan oleh dokter. 99 Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, kedudukan

dokter lebih tinggi dari pasien yang dirawatnya. Dokter boleh dikatakan

98
Banu Hermawan, SH, Komite Hukum RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Wawancara Pribadi,
Tanggal 9 Desember 2010
99
Safitri Hariyani, Alternatif Penyelesaian Perselisihan Antara Dokter dan Pasien, hlm. 9
76

mempunyai dominasi dalam soal-soal kesehatan, dan pada umumnya pasien

percaya pada kemampuan dan kecakapan dokter, sehingga hampir semua

keputusan ada di tangan dokter. Hal ini disebabkan, oleh karena 100 :

1. Kepercayaan pasien akan kemampuan dan kecakapan dokter

2. Keawaman pasien terhadap profesi kedokteran

Dokter dan pasien adalah dua subjek hukum yang terkait dalam hukum

kedokteran. Keduanya membentuk baik hubungan medik maupun hubungan

hukum. Hubungan medik dan hubungan hukum antara dokter dan pasien adalah

yang objeknya pemeliharaan kesehatan pada umumnya dan pelayanan kesehatan

pada khususnya. 101 Yang mana hubungan tersebut menimbulkan hak dan

kewajiban bagi para pihak. Dalam perkembangannya, hubungan hukum antara

dokter dan pasien ada dua macam, yaitu hubungan karena kontrak (Transaksi

Teraupeutik)

Hubungan karena kontrak umumnya terjadi melalui suatu perjanjian.

Dalam kontrak terapeutik, hubungan itu dimulai dengan tanya jawab (anamnesis)

antara dokter dan pasien. Kemudian diikuti dengan pemeriksaan fisik. Kadang-

kadang dokter melakukan pemeriksaan penunjang diagnostik untuk membantu

menegakkan diagnosis seperti pemeriksaan radiologis, pemeriksaan laboratorium

dan lain-lain. Diagnosis ini dapat merupakan suatu working diagnosis atau

diagnosis kerja/sementara, bisa juga diagosis definitif. Setelah itu dokter biasanya

merencanakan suatu terapi dengan memberikan suatu resep atau suatu suntikan

atau operasi atau tindakan lain dan nasehat-nasehat yang perlu diikuti agar

100
Soerjono Soekanto, Aspek Hukum Kesehatan, IND-HILL- Co Jakarta, hlm. 149
101
Ibid, Hlm 149
77

kesembuhan dapat segera dicapai oleh pasien. Dalam proses pelaksanaan

hubungan dokter-pasien tersebut, sejak tanya jawab sampai dengan perencanaan

terapi, dokter melakukan pencatatan dalam suatu Medical Records (Rekam

Medis). Pembuatan rekam medis ini merupakan kewajiban doker sesuai dengan

standar medis. 102 Menurut PERMENKES No: 269/MENKES/PER/III/2008 yang

dimaksud rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain

identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta

tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Catatan

merupakan tulisan-tulisan yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi mengenai

tindakan-tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka palayanan

kesehatan. 103

Apabila dalam Hubungan hukum antara dokter dan pasien dalam transaksi

terapeutik atas dasar persetujuan kedua belah pihak terjadi suatu tindakan dokter

yang kurang hati-hati atau kurang cermat sehingga menimbulkan cacat atau

meninggalnya pasien, maka akibat itu diatur dalam hukum pidana. 104 pertanggung

jawaban dokter dalam ketentuan pidana ditinjau dari landasan pelaksanaan standar

profesi medis. Ini lah yang menjadi rujukan MKDK (majelis kehormatan disiplin

kedokteran) dalam menentukan seorang dokter itu dapat dikategorikan melakukan

perbuatan tindak pidana malpraktek atau tidak akibat dari pelanggaran disiplin

yang ia lakukan. Tujuan ditetapkannya standar profesi adalah :

102
Danny Wiradharma, Penuntut Hukum Kuliah Kedokteran, hlm 45
103
PERMENKES No: 269/MENKES/PER/III/2008 (Rekam Medis )
104
dr.Hj.Anny Isyfandarie.Sp.An.SH. Malpraktek Dan Resiko Medik Dalam Kajian Hukum
Pidana,Hlm 72, Prestasi Pustaka Publisher.
78

1. Untuk melindungi masyarakat pasien dari praktek yang tidak sesuai

dengan standar profesi medis

2. Untuk melindungi Profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar

3. Sebagai pedoman dalam pengawasan, pembinaan dan peningkatan mutu

pelayanan kedokteran

4. Sebagai pedoman untuk menjalankan pelayanan kesehatan yang efektif

dan efisien.

Menurut dr.bambang suryono dunia kedokteran mempunyai aturan yang

lex specially , dunia kedokteran memiliki kehususan sendiri dalam melakuukakn

tindakan medis, yang mana setiap tindakannya tersebut tidak bertentangan dengan

aturan hukum pidana. Jika dunia kedokteran tidak ada kehususan maka setiap

dokter tentunya akan dikenai pidana. Menurutnya dalam proses anhestes atau

pembedahan otomatis tindakan dokter pasti harus membedah tubuh pasien jika hal

ini tidak ada kekhususan dalam praktik kedokteran maka semua dokter yang ada

akan dikenai tuduhanpasal 90,359,360 dan 361 KUHP tentang mengakibatkan

lukanya seseorang. Apalagi jika dokter tersebut ternyata setelah membedah

pasiennya meninggal. Hal ini tentu telah ada mekanisme profesi nya sendiri-

sendiri, tidak ada yang mengetahu penyebab meninggalnya pasien tersebut jika

tidak landasan dalam pelaksanaan standar profesi yang telah dilakukan oleh

dokter anesthei tersebut. Oleh karena itu dengan adanya standar profesi tersebut

akan melindungi dokter. Dan hal inilah yang menjadikan pijakan bagi lembaga

otonom MKDKI untuk menentukan seseorang melakukan tindak pidana

malpraktik atau tidak.


79

Landasan pelaksanaan standar profesi medis itu antara lain :

1. Adanya indikasi medis menurut ilmu kedokteran kearah tujuan

pengibatan. Artinya tujuan yang ingin dicapai dilakukan sesuai profesional

standar medis

2. Dilakukan dengan standar medis menurut ilmu pengetahuan dan teknologi

kedokteran saat ini

3. Tindakan tersebut harus dilakukan secara teliti dan hati-hati tanpa

kelalaian, yang tolak ukurnya adalah dengan membandingkan apa yang

dilakukannya oleh dokter tersebut dengan dokter lain dari bidang yang

sama, yang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sama. 105

Denagan demikian tidak mudah mengatakan bahwa seorang tenaga medis

dalam hal ini dokter telah melakukan suatu praktek buruk yang menimbulkan

perkara malpraktik. Banyak kriteria yang harus ditempuh, karena jika seseorang

mengatakan perbuatan dokter adalah malpraktik maka haruslah dibuktikan.

A.2.2 Pembuktian Malpraktik

Sengketa yang terjadi antara dokter dengan pasien biasanya disebabkan

oleh karena kurangnya informasi dari dokter, sedangkan informasi mengenai

segala sesuatu yang berhubungan dengan tindakan medis yang dilakukan oleh

dokter merupakan hak pasien. Upaya penyelesaian sengketa yang ditempuh oleh

105
Veronica Komalawati (II), Peranan informed consent Dalam Transaksi Terapeutik (Persetujuan
Dalam Hubungan Dokter Dan Pasien) Suatu Tinjauaan Yuridis, Penerbit Citra Aditya Bakti,
Bandung 2002, hlm.177
80

pasien melalui litigasi atau lembaga peradilan selama ini membuktikan kurang

ampuhnya dan memuaskan pihak pasien.

Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa ketidakamampuan para

penegak hukum salah satunya adalah hakim sebagai salah satu pihak yang

menyebabkan ketidakpuasan yang timbul dari pihak pasien, hakim dianggap tidak

dapat memenuhi rasa keadilan pasien jika mengajukan perkara yang berkaitan

dengan sengketa medik atau malpraktek ke Pengadilan Negeri.

Pasien beranggapan bahwa aparat penegak hukum dalam lembaga

peradilan (Hakim) tersebut kesulitan dalam membuktikan adanya kesalahan

dokter, kesulitan pembuktian dikarenakan minimnya pengetahuan mengenai

permasalahan yang muncul dalam hubungan dokter dan pasien. 106

Menurut Rianto Aloysius SH (Hakim Anggota PN Sleman ) dan H.M

Lutfi Hasan SH mereka tidak sependapat dengan pernyataan yang

mendiskreditkan tersebut. Menurutnya hakim mempunyai cara sendiri dalam hal

pembuktikan benar tidaknya suatu perbuatan , apakah pelanggran hukum atau

tidak. Menurut Rianto Aloysius hakim memang tidak memahami kesehatan, tapi

sebgai hakim mereka mengetahui aturan hukumnya, dan bisa menggunakan

ketentuan yang telah diatur didalm Undang-undang untuk memutuskan adanya

suatu pelanggaran hukum malpraktek atau tidak. 107

Menurut Aloysius jika yang menjadi anggapan atau paradigma umum

yang beranggapan bahwa yang menjadi kendala terciptanya suatu putusan yang

106
Ninik Mariyanti, Malapraktek Kedokteran dari segi hukum pidana dan perdata, hlm 52,
penerbit bina aksara Jakarta.
107
Rianto Aloysius, ruang kerja Hakim anngota PN Sleman, Wawancara Pribadi, 2 Desember
2010
81

sesuai keinginan pasien yang dirugikan yaitu putusan yang menghukum oknum

dokter yang bersalah dalam hal ini diduga melakukan malpraktik bukan berarti

hakim tidak paham, melainkan masalah kekuatan pembuktiannya yang kurang

dapat membuktikan unsur dakwaan yang didakwakan atas dokter, sehingga tidak

menimbulkan keyakinan dalam diri hakim bahwa suatu tindak pidana malpraktek

tersebut dalam hal ini benar-benar terjadi dan terbukti memang terdakwalah yang

bersalah melakukannya.

Dengan demikian jika ingin membuktikan suatu perbuatan pada kasus

malpraktik yang dilakukan oleh dokter terlebih dahulu sebaiknya sebelum masuk

ke lembaga peradilan menurut dr.Bambang Suryono haruslah ada 3 unsur yang

menonjol, yaitu :

1. Dokter telah melakukan kesalahan dalam melaksanakan profesinya

2. Tindakan dokter tersebut dilakukan karena kealpaan dan kelalaiannya

3. Adanya suatu akibat fatal yaitu meninggalnya pasien atau pasien

menderita luka berat.

Dengan demikian dokter tersebut tanpa penyidik mintapun akan kami

berikan oknum dokter tersebut agar segera diproses oleh yang berwajib untuk

segera di usut kasusnya. Tidak akan ada seorang dokter melakukan perbuatan

malpraktik atau praktik yang buruk jika yang dilakukannya memenuhi 3 syarat

: 108

1. Memiliki indikasi kearah suatu tujuan perawatan yang konkrit

2. dilakukan menurut ketentuan yang berlaku didalm ilmu kedokteran

108
dr.Hj.Anny Isyfandarie.Sp.An.SH, Op.cit, hal 23
82

3. Telah mendapat persetujuan tindakan oleh pasien

menururt Ikatan Dokter Indonesia (IDI) suatu tindakan medik dapat dikategorikan

malpraktik jika memenuhi 4 unsur, yaitu :

5. Duty of care, Artinya Dokter/RS mengaku berkewajiban memberikan

asuhan kepada pasien.

6. Breach Of Duty, Artinya, Dokter/RS tidak melakukan kewajiban

sebagaimana mestinya. Wujud Breach adalah pelanggaran :

c. Kesalahan (Medical error) dalam tindakan medis, seperti kekeliruan

diagnosis, interpretasi hasil pemeriksaan penunjang, indikasi,

tindakan,tidak sesuai standart pelayanan, kesalahan pemberian obat,

kekeliruan transfusi, dsb

d. Kelalaian berat (Gross Neglience), Tidak melakukan hal-hal yang

seharusnya dilakukan menurut standart kedokteran.

7. Ada cedera (Harm, damage) pada pasien,pada pasien berupa cedera

fisik,psikologis,mental,sampai yang terbert jika pasien cacat atau

meninggal

8. Ada Hubungan sebab-akibat langsung antara butir 2 dan 3, artinya cedera

pada pasien memang akibat Branch of duty pada pemberi asuahan

kesehatan 109

Bila putusan pengadilan menyatakan bahwa telah terbukti terjadi

malpraktik barulah dokter dinyatakan telah melakukan medical negligence.

109
Ikatan Dokter Indonesia, www.idi.com
83

Dengan demikian maka penyebutan langsung bahwa dr. A atau Rumah Sakit B

melakukan malpraktik sebelum ada pembuktian sama saja dengan pelanggaran

asas praduga tak bersalah yang menjadi hak setiap orang.

Jika suatu perkara telah terbukti dan dilimpahkan perkara tersebut ke

pengadilan maka tahap selanjutnya adalah tahap pembuktikan. Sesuai dengan

yang tercantum dalam pasal 184 KUHAP mengenai alat bukti:

a. Keterangan saksi

b. Keterangan ahli

c. Surat

d. Petunjuk

e. Keterangan terdakwa

Dalam keadaan tertentu dimana suatu kasus itu memang dianggap perlu

menghadirkan atau meminta pendapat saksi ahli seperti kasus malpraktek tentu

para hakim membutuhkan ahli yang berasal dari lingkungan kedokteran.

Dalam hal pembuktian dalam perkara sengketa medik ini para hakim

biasanya mendengarkan ketrangan saksi ahli ke persidangan terhadap kasus-kasus

yang diluar kemampuannya. .Dalam praktek pengajuan ahli di persidangan dapat

dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) atau penasehat hukumnya. JPU

mengajukan saksi ahli sesuai dengan apa yang terdapat dalam BAP atau bisa juga

mengajukan ahli di persidangan setelah melihat jalannya dan perkembangan

perkara di persidangan. Begitu juga penasehat hukum dapat juga mengajukan ahli

untuk menjadi terangnya perkara yang sedang berjalan di pengadilan. Kadangkala

ahli yang diajukan oleh JPU dan penasehat hukumnya dalam materi yang sama
84

tetapi keterangan berbeda, dalam konteks ini tinggal hakim yang menentukan

seseorang itu ahli dan bobot keterangan dari ahli itu, sehingga ada persesuaian

keterangan dengan alat bukti lain.

Inilah salah satu cara hakim untuk menambah keyakinannya sebelum

mengambil keputusan, dari keterangan saksi ahli tersbut di muka pengadilan.

Keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang

hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan

pemeriksaan. (Pasal 1 ayat 28 KUHAP ).

Mengenai saksi ahli ini telah diatur dalam KUHAP, sebagai berikut :

Pasal 170 KUHAP :

1. Mereka yang karena pekerjaannya, harkat martabat atau jabatanny

diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban

untuk member keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang

dipercayakan kepada mereka.

2. Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan

tersebut.

Pasal 179 KUHAP :

1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebgai ahli kedokteran kehakiman

atau dokter atau lainnya wajib meberikan keterangan ahli demi keadilan.

2. Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka

yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka

mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang


85

sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang

keahliannya.

Jadi keterangan saksi ahli tersebut akan menjadi pertimbangan kepada

hakim dalam memutus apakah benar tidaknya seorang terdakwa yang berprofesi

sebgai dokter tersebut melakukan tindakan malpraktek atau tidak. Keterangan

saksi tersebut tentunya telah sempurna saat telah diambil sumpahnya. Jadi tidak

ada yang dapat mengomentari keterangan yang diberikan saksi ahli dalam hal ini

dokter selain Hakim. karena dianggap saksi ahli tersebut telah memberikan

keterangan sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.

Masalah yang timbul jika akhirnya keterangan dokter sebagai saksi ahli

tadi ternyata ada yang dapat membuktikan bahwa keterangan tersebut adalah

palsu dan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya profesionalisme di bidangnya

berlaku dan dilakukan dalam keterangannya baik secara etik dan disiplin yang

telah ditentukan oleh profesinya adalah masalah lain, yang ada juga regulasi

dalam hukum pidana mengatur tentang hal-hal demikian. Hal ini terkait dengan

apa yang disebut dengan sumpah palsu. 110 Hal ini tercantum dalam :

Pasal 242 KUHP

1. Barang siapa dalam hal-hal dimana undang-undang menetukan supaya

member keterangan diatas sumpah, atau mengadaka akibat hukum kepada

keterangan yang demikian, dengan sengaja memberikan keterangan palsu

diatas sumpah, baik dengan lisan atau tulisan, olehnya sendiri maupun

110
Riyanto Aloysius, hakim anggota PN Sleman, wawancara pribadi, 2-12-2010
86

oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu, dipidana dengan pidana

penjara paling lama tujuh tahun.

2. Jika keterangan palsu atau sumpah diberikan dalam perkara pidana dan

merugikan terdakwa atau tersangka,yang bersalah dikenakan pidana

penjara paling lama Sembilan tahun

3. Disamakan dengan sumpah adalah janji atau penguatan, yang diharuskan

menurut aturan-aturan umum yang menjadi pengganti sumpah.

Sedangkan menurut Rianto Aloysius, mengenai kendala yang ke 2 terkait

dengan sulitnya praktek malpraktek dibuktikan karena pihak saksi ahli yang ada

sulit dating itu tidak benar, menurutnya kendati belum pernah menangani kasus

malpraktik semacam ini tapi menurutnya pihak saksi yang dimintai kehadiranny

di pengadilan harus mau dan datnag ke tengah sidang untuk memberikan

kesaksian. Dalam hal ini dokter lain yang dimintai pendapatnya untuk

memberikan keternangan harus obyektif dan tidak boleh menolak untuk

memberikan kesaksiannya.

Mengenai hal ini dalam KUHP diatur dalam Buku Ke 2 membahas

tentang kejahatan / BAB VIII Terkait Kejahatan Terhadap Penguasa Umum,

dalam :

PASAL 224 KUHP

Barang siapa yang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut

undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban, berdasarkan undang-

undang yang harus dipenuhinya, diancam :

1. Dalam perkara Pidana, dengan pidana penjara dan paling lama 9 bulan
87

2. Dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama 6 bulan.

Namun terlepas dari itu semua, seorang dokter menurut Banu Hermawan,

SH berhak untuk meberikan keterangan sebagai saksi ahli. Hal ini bila terjadi

pertentangan keras antara pedapat dokter dan Hakim yaitu bila terjadi

pertentangan dan tidak bisa menerima alasan hak undur diri, dalam hal ini dokter

harus dapat.

Terkait dengan permasalahan ini saya kira jika merujuk pada teori yang

ada di buku J.Guwandi yang judulnya Dokter, Pasien dan hukum, meski suatu

rahasia itu mesti dijaga kerahasiannya, rahasia tersebut dapat diabaikan jika:111

1. Pasien memperbolehkannya rahaisa itu dibongkar, kerahasian itu bersifar

lateral yang mana iziznnya dimiliki oleh pasien. dalam hal ini hak keizinan

untuk membuka kerahasiaan itu tidak dimiliki dokter.

2. Kepentingan umum menghendakinya

3. Rahasia tersebut dibuka untuk mencegah akan dilakukannya penyakit

berat (Misalnya penyakit menular ) oleh pasien atau boleh orag lain. Lebih

bijaksana jika dokter tersebut meminta berhenti (duty to withdrawl ) sebgai

dokter daripada membongkar rahasia pasiennya.

4. Undang-undang lain yang lebih khusus membolehkan dibukanya

informasi tersebut. Seperti yang disebutkan dalam pasal 48 ayat 2 UU no

29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran .

111
J.Guwandi, Dokter,pasien dan Hukum, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakrta,Hlm
77
88

Seperti yang disinggung pada point 4 diatas dalam Undang-undang khusus

tentang praktik kedokteran membolehkan pengecualian terhadap kewajiban

membuka rahasia dokter tersebut yaitu sebagai berikut :

a. Jika dilakukan untuk kepentingan kesehatan pasien

b. Jika dilakuakn atas permintaan penegakan hukum

c. Jika dilakukan atas permintaan pasien sendiri

d. Jika dilakukan berdasarkan ketentuan perundang-undangan lainnya.

Aturan hukum pidana secara umum dan Undang-undang yang Lex

specialis itu sudah sedemikian saling terkait mengatur hal-hal terkait proses

penegakan hukum, jadi tidak ada lagi alasan yang mengatakan ketidak mampuan

aparat penegak hukum yang menyebabkan putusan yang dihasilkan dalam perkara

tindak pidana medik itu tidak mewakili rasa keadilan korban / pasien. Semua telah

tertulis secara pasti bagaimana tahapan dalam proses pembuktian di persidangan.

Yang paling menentukan adalah prosedur atau standar profesi di kalangan

kedokteran itu berjalan sesuai dengan yang telah ditentukan atau tidak.

A.3. Penyelesaian Sengketa Menurut UU Dalam Bidang Kesehatan

Penyelesaian sengketa dalam perkara malpraktik kita ketahui telah banyak

macamnya. dalam proses penyelesaiannya dapat digunakan dengan dua cara yaitu

baik dengan Litigasi ataupun Non-litigasi. Jika penyelesaian sengketa antara

dokter dan pasien dilakukan secara litigasi maka kita ketahui dapat ditebak

prosesnya akan berjalam lama dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dan

juga hasilnya menurut kepentingan umum cenderung tidak tanggap terhadap

kepentingan umum. Bahkan muncul kritikan bahwa prosesnya tidak adil


89

Penyelesaian sengketa oleh tenaga kesehatan di luar pengadilan, pengaturannya

terdapat dalam Pasal 29 UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.Pasal 29

menyatakan bahwa dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam

menjalankan profesinya, kelalaian terseburt harus diselesaikan terlebih dahulu

melalui mediasi. Penyelesaian sengketa medik di luar pengadilan diselenggarakan

untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau

mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak terjadinya/terulangnya dampak

negati terhadap konsumen kesehatan dalam hal ini pasien.

Menurut dr.Bambang Suryono penyelesaian sengketa secara mediasi ini

adalah penyelesaian sengketa melalui cara perundingan atau musyawarah mufakat

para pihak dengan bantuan pihak netral (mediator) yang memiliki kewenangan

memutus dengan tujuan menghasilkan kesepakatan damai untuk mengakhiri

sengketa.

A.3.1. Penyelesaian Menurut Pasal 29 UU No 36 tahun 2009

Penyelesaian sengketa cara ini disebut juga penyelesaian sengketa non

litigasi yang dikenal dengan Penyelesaian Sengketa Alternatif atau Alternative

Dispute Resolution (ADR). Penyelesaian sengketa alternatif melalui lembaga

ADR pun relatif lebih murah dan tidak memakan waktu yang lama sehingga lebih

dipilih banyak industriawan/usahawan untuk menyelesaikan perkaranya tersebut

dibandingkan melalui proses pengadilan. Penyelesaian sengketa melalui proses


90

peradilan banyak pihak yang beranggap bahwa terdapat faktor negatifnya, antara

lain : 112

a. Cost, biaya mahal;

b. Time (delay), dibutuhkan waktu yang relatif panjang;

c. Inflexibility and formality, tata caranya relatif kaku dan bersifat formal;

d. Text book, selalu merujuk pada hukum tertulis;

e. Impractical, tidak praktis dan effisien;

f. Lack of control, prosesnya tidak dapat dikendalikan oleh para pihak yang

berperkara, tapi oleh hakim;

g. Lack of consensuality, kurang bersifat konsensus;

h. Restricted scope of claim an remedies, keterbatasan dalam menentukan

tuntutan dan bentuk pemulihan hak;

i. Western legal culture, tidak semua pihak yang mempunyai latar belakang

Anglo atau Celtic, bahkan pendapat bahwa budaya adjudikasi (pengadilan)

dipandang sebagai faktor instabilitas sosial yang dapat memecah belas

masyarakat.

Sementara itu, beberapa keuntungan penyelesaian sengketa melalui

mekanisme ADR, apabila dibandingkan penyelesaian sengketa melalui lembaga

peradilan, adalah : 113

a. Sifat kesukarelaan dalam proses;

b. Prosedurnya cepat;

112
Yudha Pandu, Klien dan Advokat Dalam Praktek, Cet. Ketiga, Pen. Indonesia Legal Center
Publishing, Jakarta, 2004, hlm.140-141
113
Christoper W. Moore, The Mediation Process, Practical Strategis for Revolving Conflict,
dikutip dari Sodikin, Penegakan Hukum Lingkungan, Ctk. Pertama, Djambatan, Jakarta, 2003,
hlm. 102
91

c. Keputusan non-judicial;

d. Kontrol oleh manajer yang paling tahu tentang kebutuhan organisasi;

e. Prosedur rahasia (confidential);

f. Fleksibilitas yang besar dalam merancang syarat-syarat penyelesaian

masalah;

g. Hemat waktu;

h. Hemat biaya;

i. Perlindungan dan pemeliharaan hubungan kerja;

j. Kemungkinan untuk melaksanakan kesepakatan tinggi;

k. Tingkat yang lebih tinggi untuk melaksanakan kontrol dan lebih mudah

memperkirakan hasil;

l. Kesepakatan-kesepakatan yang lebih baik daripada sekadar kompromi atau

hasil yang diperoleh dari cara penyelesaian kalah/menang;

m. Keputusan bertahan sepanjang waktu.

Dari teori diatas menunujukan bahwa Konsep mediasi di dalam UU No 36

tahun 2009 ini merupakan upaya menyelesaikan sengketa antara tenaga kesehatan

medis dengan pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan. Mediasi ini

dilakukan bertujuan untuk menyelesaikan sengketa di luar pengadilan oleh

mediator yang disepakati oleh para pihak. Proses mediasi jika mengacu pada pasal

29 UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan di atas, maka alternatif mediasi

merupakan upaya pendahuluan penyelesaian sengketa di luar pengadilan bila

terjadi sengketa medik. Proses mediasi dapat dipilih melalui MKDKI atau ke
92

Kepolisian. Banyak orang yang mengira ADR / mediasi ini hanya dimungkinkan

dalam perkara perdata. 114

ADR atau mediasi ini dimungkinkan di dalam hukum pidana. Menurut

Prof. Mardjono Reksodiputro 115 mediasi sebagai bagian ADR dalam hukum

pidana dimungkinkan, namun ciri-cirinya tidak akan sama dengan ADR di bidang

hukum perdata atau hukum dagang. Karena salah satu pihak yaitu korban telah

diwakili oleh kepolisian dan kejaksaan. Pihak korban tidak lagi mandiri

menentukan mekanisme penyelesaian perkara. Kewajibannya diwakili oleh

kepolisian dan kejaksaan yang sebenarnya dalam pengertian yang relatif karena

kalau korban tidak melapor maka proses peradilan pidana juga sukar bergerak.

Jadi, sebenarnya ada juga alternatif bagi korban untuk memutuskan secara

mandiri untuk tidak berperkara di pengadilan.

Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia/MKDKI (Lihat pasal


116
66 UU No 29 tahun 2004), atau Kepolisian dapat menunjuk mediator yang

telah terakreditasi. Dengan demikian masyarakat memiliki pilihan proses yang

dianggap lebih mudah/sederhana. Jadi, meskipun polisi telah menerima laporan

atau pengaduan kasus tersebut tidak langsung diproses melalui prosedur sistem

peradilan pidana namun jika tidak terdapat kesepakatan juga, barulah proses

sistem peradilan pidana dijalankan. Sedangkan pada rancangan draft mediasi yang

114
Pasal 6 UU No.30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase Dan Penyelesaian Sengketa.
115
Restorative Justice Online, Oktober 2001. Dikutip dari Makalah yang disampaikan pada
diskusi: MEDIASI PENAL DALAM SENGKETA MEDIK, DISELENGGARAKAN KAJIAN
HUKUM PIDANA MAHKAMAH AGUNG RI, 9-10 AGUSTUS 2010, Dr.Aroma Elmina
Martha,SH,MH

116
Pasal 66: Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter
atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengajukan secara tertulis kepada
Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
93

telah disetujui oleh kedua belah pihak, maka polisi/MKDKI dapat memintakan

pengesahan pengadilan. 117

Dengan demikian jalan mediasi ini cenderung dipilih bukan untuk mencari

yang benar atau yang salah melainkan untuk mencapai titik temu antara para

pihak yang bersengketa guna mencapai win-win solution. Jika menilik kembali

kepada pasal 29 UU no.36 Tahun 2009 tentang kesehatan yang isi pasalnya

intinya bahwa penyelesaian sengketa itu diselesaikan dengan mediasi maka kita

menganut model mediasi legal system. Yang mana pada model mediasi ini dapat

menyelesaikan persoalan sengketa dalam ranah pidana. Mediasi ditentukan oleh

Pengadilan atau tempat yang ditunjuk oleh Pengadilan. Korban dan pelaku yang

terlibat dalam mediasi dibantu oleh pihak ketiga (yang tidak semuanya mediator

terakreditasi). Bahkan waktu yang tersedia pada pertemuan mediasi relatif cepat

dan singkat.

Ini tidak terlepas dari ditetapkannya Peraturan Mahkamah Agung

Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di

Pengadilan , menyebabkan telah terjadinya perubahan fundamental dalam praktik

Peradilan di Indonesia. Dengan adanya PERMA ini pengadilan tidak hanya

bertugas dan berwenang memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara yang

diterimanya , tetapi juga berkewajiban mengupayakan perdamaian antara para

pihak yang berperkara. Pengadilan yang selama ini terkesan sebagai lembaga

117
Aroma Elmina Martha,Op.cit,Hlm.12
94

penegakan hukum dan keadilan, tapi juga sekarang pengadilan menampakan diri

sebagai lembaga yang mencarikan solusi damai antara para pihak yang bertikai. 118

Penyelesaia secara litigasi atau diluar pengadilan guna mengungkap

perkara pidana murni seperti aborsi, kelalian yang mengakibatkan matinya pasien.

Hal-hal semacam ini akan sangat sulit terungkap dan akan sangat sia-sia jika saja

pasien tersebut tidak dapat membuktikan.

1. Adanya duty kewajiban yang harus dilaksanakan

2. Adanya dereliction/breach of that duty penyimpangan kewajiban

3. Terjadinya damage atau cedera

4. Terbuktinya direct casual relationship hubungan kausal langsung antara

pelanggaran kewajiban dan kerugian.

Namun dalam kenyataanya pelaksanaan menurut dr.bambang suryono para

pasien yang bersengketa pada umumnya enggan atau jarang yang ingin

menyelesaikan sengketa mereka melalui jalan mediasi ini. Mereka cenderung

untuk menggunakan jalan litigasi atau pengadilan. yang dikedepankan hanyalah

emosional yang muncul dari ketidakpuasan yang mereka anggap sebagai

kesalahan yang timbul karena ketidakmampuan dokter dalam mengobati

keluaraga pasien resultat verbintenis.

Menurut Lutfi Hasan,SH yang namanya PERMA seperti yang tercantum

dalam tata urutan perundang-undangan Indonesia PERMA ini tidak memiliki

kekuatan mengikat, dan tidak memiliki sifat wajib, sehingga PERMA ini hanya

dapat dijadikan pedoman.

118
Siddiki, Mediasi di Pengadilan dan asas peradilan sederhana ,sepat,dan biaya ringan.
www.badilag.net
95

Dengan demikian jika antara dokter dan pasien memiliki satu cara

pandang mengenai apa yang dimaksud dengan sengketa medik termasuk cara

penyelesaian sengketanya maka hubungan yang baik ini tetap dapat memunculkan

efek positif kendati tidak dapat dipungkiri pada masa sebelunya terdapat persoalan

hukum antara pihak tersebut. Yang terpenting dengan adanya proses mediasi

adalah hubungan dokter dan pasien akan tetap senantiasa tejaga dengan baik.

B. Perlindungan Hukum Terhadap Pasien Dalam Tindak Pidana Medik

Bila dilihat dalam penegakan hukum dalam perlindungan hukum terhadap

pasien dalam perkara tindak pidana kelalaian medik atau malpraktik, dalam segi

undang-undang, maka peraturan yang secara khusus memang belum dituangkan

atau tertulis secara definitif . Namun peraturan perundang-undangan yang

membahas mengenai perlindungan terhadp pasien dalam hal kepentingan di

bidang kesehatan dirugikan maka sudah terdapat peraturan yang mengaturnya

yakni Undang-undang No. 29 Tahun 2004 ,Pasal 66 ayat (1) tentang Praktik

Kedokteran serta sudah dapatnya pelayanan kesehatan dipertanggungjawabkan

menurut hukum didasarkan pada Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78, Pasal 79,

dan Pasal 80 UU Peraktik Kedokteran. Begitu pula halnya dalam penegakan

hukum terhadap Praktik kedokteran dalam bidang perlindungan konsumen dalam

hal ini pasien, jika dilihat dari segi undang-undang, maka sudah terdapat peraturan

yang mengaturnya yakni Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

Konsumen (UUPK).

Dalam peraturan Undang-undang yang berkaitan dengan kepentingan atau

hak perseorangan haruslah mencantumkan keberadaan unsur hukum pidana


96

sebagai sanksi. Walaupun pada umumnya sanksi pidana pastilah merupakan jalan

terakhir sebagai pemberi efek jera kepada para pelaku. Namun tanpa hukum atau

sanksi pidana keberadaan Undang-undang tersebut hanya di ibaratkan seperti

macan ompong, tanpa taji yang dapat menerkam siapa saja yang melanggar

peraturan Undang-undang tersebut.

B.1. Penetapan Sanksi Pidana Dalam Undang-undang 29 tahun 2004

Ciri khas hukum pidana sebagaimana diuraikan di atas, yang membedakan

dengan hukum yang lain, yaitu adanya sanksi yang berupa sanksi pidana. Pidana

itu sendiri dari berbagai pandangan para pakar, merupakan suatu nestapa, derita,

ketidakenakan, ketidaknyamanan, pengekangan hak-hak seseorang, yang

dijatuhkan oleh hakim kepada seseorang yang telah terbukti secara sah dan

meyakinkan telah melakukan tindak pidana. Hukum pidana sengaja memberikan

penderitaan dalam mempertahankan norma-norma yang diakui dalam hukum.

Fungsi hukum pidana itu sendiri adalah melindungi kepentingan hukum, baik

kepentingan hukum orang, warga masyarakat maupun negara dari rongrongan

atau pelanggaran oleh siapapun. 119

Hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum

lain, seperti sanksi administrasi dan atau sanksi perdata tidak efektif dan atau

tingkat kesalahan pelaku dalam hal ini oknum kedokteran relatif besar dan atau

perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat, khususnya pasien yang telah

menjadi korban kelalaian dari praktek tindakan medik sang dokter.

119
http://gagasanhukum.wordpress.com/2008/12/01/pengaturan-sanksi-pidana-dalam-ketentuan-
uu-bagian-i/
97

Berdasarkan ketentuan Penjelasan diatas, H.M.Lutfi Hasan setuju dengan

pernyataan penulis yang menyatakan dengan tegas bahwa domain sanksi yang

terdapat dalam ketentuan pidana yang tercantum dalam Undang-undang tentang

Praktik Kedokteran (UU No.29 Tahun 2004) merupakan Undang-undang yang

dibuat terkait dengan pelayanan kesehatan. Dapat dikatakan upaya pelayanan di

bidang kesehatan ini adalah memiliki cakupan dalam bidang administrasi. Oleh

karena itu sanksi hukum yang dihadirkan dalam ketentuan pidana ini terkait

hubunganny atau bergantung dengan hukum administrative, kedudukan hukuman

berupa sanksi pidana merupakan pilihan terakhir atau Ultimum remedium.

Menurut Banu Hermawan SH ada 3 kategori malpraktik medik Yaitu :

1. Criminal Malpractice, Yaitu kesalahan yang dilakukan sewaktu

menjalankan pekerjaan serta dapat melanggar undang-undang hukum

pidana, yakni :

a. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan tercela

b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea ) yang berupa

kesengajaan (intentional ), kecerobohan (recklesness) atau kealpaan

negligence

• criminal malpractice yang bersifat sengaja (intentional) misalnya

melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuat surat

keterangan palsu (pasal 263 KUHP ) melakukan aborsi tanpa

indikasi medis pasal 299 KUHP)


98

• criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness)

melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed

consent

• criminal malpractice yang bersifat negligence atau lalai misalnya

kurang hati-hati mengakibatkan luka ,cacat dan meninggalnya

pasien, ketinggalan klem dalam perut saat melakukan operasi.

2. Civil malpractice , seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil

malpractice apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan

prestasinya sebagaimana yang telah disepakati. Tindakan kesehatan yang

dianggap / dikategorikan civil malpractice antara lain :

a. Tidak melakukan apa yang disepakatkan wajib dilakukan

b. melakukan apa yang disepakatkan wajib dilakukan tapi terlambat

c. melakukan apa yang menurut kespakatan dilakukan tapi tidak

sempurna

d. Melakukan apa yang menurut kesepaktannya tidak seharusnya

dilakukan

Pertanggung jawaban civil malpractice dapat berupa individu atau

korporasi dan dapat pula dilmpahkan / dialihkan pihak lain berdasarkan

principle varius liability . Dengan prinsip ini maka rumah sakit /sarana

kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan

karyawannya (tenaga kesehatan ) selama tenaga kesehatan tersebut dalam

rangka melaksanakan tugas kewajibannya.


99

3. Administrative malpractice adalah dokter melanggar hukum tata usaha

Negara. Pemerintah berhak mengeluarkan berbagai macam peraturan

dibidang kesehatan, seperti misalnya tentang persyaratan bagi tenaga

medik untuk menjalankan profesi, batas kewenangan serta kewajibannya.

B.2. Pasal Yang dinyatakan Inkonstitusional Dalam UU 29 Tahun 2004 dan

Implikasinya

Dalam hal ini tindak pidana yang terumuskan dalam pasal 75 sampai

dengan pasal 80 . Diantara ke 6 jenis tindak pidana dalam praktik kedokteran ada

empat tindak pidana yang pada dasarnya bermula dari pelanggaran administrasi

kedokteran (pasal 75,76,79,80 ) Pelanggaran hukum administrasi kedokteran yang

diberi ancaman pidana. Jadi, sifat melawan hukumnya perbuatan dalam empat

tindak pidana tersebut terletak pada pelanggaran administrasi. hakim tunggal.

dr.Bambang menambahkan terhadap ancaman sanksi pidana yang dimuat

dalam pelayanan kesehatan, khususnya dalam praktek kedokteran, telah ada

diantara pasal dalam ketentuan pidana tersebut yang tidak memiliki kekuatan

hukum tetap / Inkonstutusional lagi karena diantaranya setelah diajukan uji

materiil kepada Mahkamah Konstitusi permohonan uji materiil tersebut

dikabulkan dan dinyatakan inkonstitusional.

Pengajuan permohonan uji materil tersebut mengundang keberatan bagi

kalangan dokter dan dokter gigi, karena perumusan ancaman sanksi pidana dalam

bidang administrasi tersebut dinilai berlebihan dan akan sangat merugikan

kepentingan dokter. Perbedaan pendapat terjadi di bidang ini. Sebagian ahli tidak

setuju atas ancaman pidana bagi pelanggaran yang dianggap pelanggaran


100

administratif (pasal-pasal 75 dan 76, apalagi pasal 79), sebagian ahli lain

berpendapat perlunya kriminalisasi oleh karena menganggap pelanggaran

tersebut bukan sekedar administratif , melainkan pelanggaran kewajiban yang

azasi , sebagai konsekuensi akuntabilitas profesi . Bentuk tindak pidana dan

ancaman sanksi pidana dalam pelayanan kesehatan tersebut memberikan

deskripsi tentang kebijakan kriminalisasi dalam bidang pelayanan kesehatan

yang bersumber dari hukum administrasi. Adapun pasal tersebut yang diajukan

uji materil adalah pasal: 120

• Pasal 75 Ayat (1) Dan Pasal 76 Sepanjang Mengenai “Penjara Paling

Lama 3(Tiga) Tahun Atau”

• Pasal 79 Sepanjang Mengenai “Kurungan Paling Lama 1(Satu) Tahun

Atau”

• Pasal 79 Huruf C Sepanjang Mengenai Kata-Kata “Atau Huruf E”

Dengan demikian dalam Undang-undang yang dinyatakan inkonstitusional

tersebut menurut dr.Bambang Suryono mewakili Masyarakat kedokteran dapat

mengidentifikasi beberapa kelemahan UU, bahkan juga kesalahan UU,

diantaranya tentang ketentuan pidana yang berlebihan. peninjauan kembali UU

Praktik Kedokteran, tidak hanya bertujuan untuk menambal-sulam kekurangan

UU, melainkan juga melengkapinya sehingga UU tersebut betul-betul dapat

mencapai tujuannya.

Selanjutnya oleh karena undang-undang tersebut diantara 6 ketentuan

pidana yang 3 pasal diantaranya telah dinyatakan inkonstitusional maka yang

120
Dr. Anny Isfandyarie Sarwono, Sp. An, dkk, Mahkamah Konstitusi melalui Putusannya Nomor
4/PUU-V/2007
101

tersisa yang dinyatakan tetap dapat digunakan atau tetap memiliki kekuatan

hukum atau konstitusioal adalah pasal pasal 77, pasal 78, pasal 80. Ketiga pasal

tersebut adalah pasal-pasal yang didalamnya tidak terkait dengan suatu sifat

melawan hukum perbuatan yang letak pelanggarannya pada hukum

administrasi. 121

Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Prof. Dr. Jimly Ashidiqie SH dengan

6 anggota majelis bergantian membacakan putusan No. 4/PUU-VI2007

tertanggal 19 Juni 2007 lengkap dengan argumen hukumnya. Putusan MK mirip

seperti kita ”menghapus kata-kata” suatu pasal. Artinya kata-kata yang

”dihapus”, walalu tertulis dianggap tidak mengikat. Selengkapnya bunyi pasal-

pasal UU Pradok pasca putusan Mk tersebut ialah: 122

Pasal 75
4) Setiap dokter atau dokter gigi yang sengaja melakukan praktek kedokteran
tanpa memiliki surat tanda registrasi seperti yang tercantum dalam pasal
29 ayat 1, diancam dengan pidana pejara paling lama 3 tahun atau denda
paling banyak Rp 100.000.000,00
5) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang sengaja melakukan
praktek kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara seperti
yang tercantum dalam pasal 31 ayat 1, diancam dengan pidana pejara
paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00
6) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja
melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi
bersyarat sebagaimana yang dimuat dalam pasal 32 ayat 2, diancam
dengan pidana pejara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp
100.000.000,00
Pasal 76
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana yang dimaksud
dalam pasal 36, diancam dengan pidana pejara paling lama 3 tahun atau
denda paling banyak Rp 100.000.000,00

121
Adami Chazawi,Op.cit,hlm 151
122
Kesehatan dan Ilmu Kedokteran, http://www.ilunifk83.com/peraturan-dan-perijinan-
f16/hukum-
kesehatan-t315-30.htm , Diakses pada hari sabtu 4 desember 2010
102

Pasal 79
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling
banyak Rp 50.000.000,00 setipa dokter yang :
4. dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam
pasal 41 (1)
5. dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam
pasal 46 (1)
6. dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam
pasal 51 yaitu :
6. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
7. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian
atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan;
8. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan
juga setelah pasien itu meninggal dunia;
9. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila
ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya;
10. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi.

B.3. Implikasi hukum

Dalam konteks dokter praktek tanpa STR pada Pasal 75 atau SIP

pada Pasal 76 atau tanpa STR dan SIP pada Pasal 79 dengant idak memasang

papan nama, dan tidak mengikuti pendidikan kedokteran berkelanjutan sanksi

hukum pidana penjara (kurungan) tak berlaku lagi. Sesuatu yang menurut MK

juga ”mendzalimi” dokter, karena eksesnya di lapangan dokter ditakut-takuti

oknum penyidik atau jaksa untuk ditahan, dengan ”pemberatan” berita pers yang

seringkali jelas-jelas praduga bersalah. Namun pidana denda tetap berlaku. Dalam

hal ini sanksi pidana untuk ke semua pasal di atas, mirip perdata. Namun uang

dendanya, bila itu ada, akan diberikan ke kas negara. Hal ini, dalam kenyataan

sosiologi hukumnya, tetap memberikan peluang, walaupun kecil, kepada penegak

hukum untuk menekan dokter melalui denda-denda maksimalnya. Perilaku oknum

seperti ini harus diantisipasi untuk dapat kiranya ”ditangkal” melalui sosialisasi
103

UU Praktek kedokteran seluruh jajaran hukum. Apalagi fenomena ”kejadian tak

diinginkan” tetap merupakan risiko yang tak terelakkan dalam praktek profesi. 123

B.4. Ketentuan Pidana Yang Berlaku Dalam UU No 29 Tahun 2004 Pasca

Putusan MK

Tindak pidana yang dirumuskan dalam pasal 77 sebagai berikut :


”Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar
atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah
yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki
surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi
dan/atau surat izin praktik sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 73
ayat 1 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda
paling banyak Rp150.000.000,00”

Tindak pidana ini adalah tindak pidana materiil yang dirumuskan secara

formil. Seperti penipuan (pasal 378 KUHP) atau pemeresan )pasal 368 KUHP).

Perbuatan yang dilarang ialah menggunakan gelar atau bentuk lain dengan

member petunjuk perumusannya dengan formil. Akan tetapi dengan

dicantumkannya unsur akibat in casu “ menimbulkan kesan yang bersangkutan

adalah dokter….” menunjukan tindak pidana materiil. Oleh karena itu bisa

disebut tindak pidana formil-materil.

Mengenai unsur perbuatan “sengaja menggunakan identitas gelar….” ini

menimbulkan frasa seolah-olah bahwa dalam rumusan tersebut tindak pidan

tersebut dilakukan oleh orang yang tidak memiliki gelar kedokteran ataupun

memang dokter nbamun tidak memiliki gelar STR (surat Tanda Registrasi)atau

SIP (Surat Izin Praktek). Tindak pidana ini dirumuskan dengan mencantumkan

unsur kesengajaan atau dengan sengaja. Yang mana mencantumkan unsur schuld

yang dalam hal ini memunculkan dolus, oppzet, intentional.

123
Ibid
104

Unsur kesengajaan diletakkan didepan kalimat yang mendahului unsur-

unsur lainnya. Berdasarkan apa yang dikatakan Moeljatno dengan kunci

Modderman ialah semua unsur yang letaknya sesudah kata sengaja , unsur

tersebut diliputi oleh unsur sengaja. 124

Dengan sengaja (menghendaki dan mengetahui) dalam tindak pidana pasal

77 ini ditujukan pada :

1. Unsur perbuatan menggunakan identitas gelar atau bentuk lain.

2. Unsur menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah

dokter atau dokter gigi yang memiliki STR dan SIP. Artinya

Bahwa si pembuat menghendaki perbuatan menggunakan identitas

gelar palsu dan menyadari bahwa identitasnya palsu yang

seakan-akan menimbulkan kesan bahwa dia adalah seorang dokter

yang memiliki STR dan SIP.

Dalam bukunya Adami chazawi, dibentuknya pasal 77 ini ditujukan pada

tiga tujuan yaitu :

1. Upaya preventif agar tidak terjadi penyalahgunaan cara-cara praktik

kedokteran oleh orang yang bukan ahli kedokteran

2. Melindungi kepentingan hukum umum agar tidak menjadi korban dari

perbuatan yang meniru praktik kedokteran oleh orang yang tidak

berwenang.

3. Melindungi martabat dan kehormatan profesi kedokteran oleh orang yang

tidak melakukan praktik kedokteran yang tidak berwenang.

124
Moeljatno (II),1984. Kejahatan-Kejahatan Terhadap Ketertiban Umum, dikutip dari buku
Adami Chazawi, Malpraktek Kedokteran, Hlm 161, Bayu Media Publishing,Jatim
105

Tindak pidana yang dirumuskan dalam pasal 78 sebagai berikut :


Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat metode atau cara
lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan
kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang
telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi
dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam pasal 73
ayat 2 dipidana dengan pidanapenjara selama 5 tahun atau denda paling
banyak Rp.150.000.000,-

Jika dibandingkan dengan tindak pidan pasal 77, tindak pidana pasal 78

meiliki unsur yang hampir sama. Perbedaannya hanya pada unsur materiilnya

saja. Perbuatan materiil pasal 78 menggunakan alat, metode, atau cara lain dalam

memberikan pelayanan kesehatan. Sedangkan pasal 77 unsur materiilnya adlah

menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain.

Tindak pidana pasal 78 berhubungan erat dengan pasal 73 ayat 2 yang

pada dasarnya merupakan larangan yang sama dengan pasal 78. Perbedaanya ialah

larangan pasal 73 ayat 2 merupakan larangan dalam hukum administrasi tanpa

penyebutan sanksi apapun. Sementara itu norma pasal 78 adalah larangan hukum

pidana menjadi tindak pidana karena diberikan ancaman pidana.

Maksud dibentuknya Pasal 78 ini adalah Pertama bertujuan untuk

menghindari penggunaan alat atau cara metode praktik kedokteran oleh orang

yang tidak berwenang. Alat-alat tenaga kesehatan apalagi yang menggunakan

teknologi khusus haruslah dioperasikan oleh orang yang menuasai teknologi

tersebut. Dalam hal ini orang-orang tersebut adalah dokter dan tenaga pelayanan

kesehatan yang memang berkompeten untuk menggunakan alat-alat tersebut.

Tujuan yang kedua yang lebih khusus dibentuknya tindak pidana pasal 78

sama dengan pasal 77 yakni melindungi kepentingan hukum masyarakat,

khususnya pasien agar tidak menjadi korban perbuatan yang bersifat memperdaya
106

atau menipu oleh orang yang bukan ahli kedokteran. Alat kedokteran jika

digunakan oleh orang yang tidak sesuai dengan yang berwenang dapat

menimbulkan akibat fatal bagi pasien.

Tindak pidana yang dirumuskan dalam pasal 80 sebagai berikut :

3) Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dookter


gigi sebagaimana dimaksud dalam pasal 42, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp
300.000.000,00
4) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan
oleh korporasi,maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditambah sepertiga atau dijatuhi
hukuman tambahan berupa pencabutan izin.
Dalam Undang-undang tersebut seperti peraturan yang dimuat dalam

pasal-pasal ketentuan pidana yang sama sebelumnya pada pasal 77 dan pasal 78,

pada pasal 80 ini juga menempatkan unsur subyektif dengan sengaja pada unsur

pembuka atau awalan dalam uraian unsur.

Unsur kesalahan dalam tindak pidana menurut pasal ini ialah dengan

sengaja. Kesengajaan ini harus ditujukan pada perbuatan dan unsur yang diletakan

setelahnya. Dengan demikian disini sengaja diterjemahkan bahwa si pembuat

menghendaki perbuatan mempekerjakan dokter pada pelayanan kesehatan. Ini

terkait dengan pasal 42 yang isinya berkaitan dengan tugas seorang pemimpin

dalam hal penyediaan sarana pelayanan kesehatan. Pemimpin tersebut disini

diartikan dlaam melakukan atau memilih sarana pelayanan kesehatan dalam hal

ini dokter atau dokter gigi mengetahui bahwa dokter tersebut adalah dokter atau

dokter gigi, bukan dukun atau lain-lain. Pembuat harus mengetahui bahwa dokter

tersebut belum atau tidak memiliki SIP.


107

Dalam bukunya Adami chazawi mengatakan dalam hal membuktikan

suatu perbuatan yang dilakukan oleh pimpinan yang berkilah jika telah keliru

memilih dokter yang tidak memiliki SIP harus dibuktikan dan dipastikan terlebih

dahulu apakah wajar atau tidak perbuatannya yang dapat meunculkan sikap batin

dalam persangkaan tersebut. Jika penyebab timbulnya sikap batin wajar misalnya

dokter menunjukan SIP palsu maka dengan demikian membuat pimpinan

kesehatan tersesat hukum (rechtsdwaling), dan ia tidak dapat dipidana.

Rechtsdwalind disisni bukanlah tersesat dalam hal motif, jadi yang dimaksud

rechtsdwaling disini adlah dalam hal unsur delik. Dan sebaliknya ukuran tidak

wajar adalah dapat dilihat dengan cara membandingkan pimpinan tersebut dengan

situasi dan kondisi yang sama dalam pembanding atau orang lain tersebut In casu

dalam keadaan dan situasi yang sama. Melalui cara ini dapat ditarik kesimpulan

tentang adanya sikap batin yang sama sehingga disini ada kewajaran. 125

Ketentuan ayat 2 tidak memuat saksi pidana yang mana subyek tindak

pidana adalah korporasi bukan orang secara individual atau pribadi. Dalam teori

stelsel pemidanaan korporasi atau badan hukum tidak mungkin dipidana seperti

subyek hukum orang pribadi. Oleh karena itu dalam hal ini korporasi dapat

dikenai pidana denda atau dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan izin

operasional korporasi.

Undang-undang praktek kedokteran pasal 80 ini sebenarnya termasuk

pelanggaran hukum administrasi kedokteran yang sama seperti pasal 75, pasal 76,

pasal 79. Pasalnya berdimensi pelanggaran administratif yang diberi sanksi

125
Ibid.hal..168
108

pidana. Sifat melawan hukum perbuatannya juga terletak pada pelanggaran

administratif.

Undang-undang ini lolos dari uji materil Mahkamah konstitusi yang

didalam rumusan pasalnya atau unsur objektifnya masih ’menyisakan’ sanksi

kurungan kepada para direktur sarana kesehatan yang mempekerjakan

dokter/dokter gigi tanpa STR dan SIP. Hal ini akan memberi dampak positif bagi

penertiban rumah sakit atau klinik yang dapat menjadi ”sarang” bagi dokter yang

tak memenuhi standar administratif praktik dokter. Di samping itu, secara so-

siologis, pasal tersebut lebih berkonotasi pidana administratif juga, melalui denda
126
untuk kas negara. Hal ini disebabkan dalam tindak pidana pasal 80 ini tidak

menyertakan hukuman kurungan yang notabennya pasal ini ada kaitannya dengan

pasal 42 yang mana pimpinan kesehatan berkerja kepada rumah sakit / korporasi.

Dalam stelsel pemidanaan korporasi tidak dapat di kenai kurungan, melainkan

dapat dikenai pidana tambahan yaitu pencabutan izin.

C. Tinjauan Putusan

a. Mengenai Surat Dakwaan

Suatu surat dawaan yang didalamnyamemuat atau memberikan gambaran

tentang apa yang terjadi sedpat mungkin disususn dalam kata atau kalimat

sederhana dan mudah dimengerti. Kalimat sederhana dan mudah dimengerti ini

penting sekali karena dalam rangka memudahkan semua pihak yang terlibat dalam

pemeriksaan untuk memahami apa yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum.

Seperti yang dikatakan Moelyatno dalam bukunya Hukum Acara Pidana bahwa
126
Kesehatan dan Ilmu Kedokteran, http://www.ilunifk83.com/peraturan-dan-perijinan-
f16/hukum-
kesehatan-t315-30.htm , Diakses pada hari sabtu 4 desember 2010
109

surat dakwaan itu harus memuat gambaran dari apa yang terjadi dengan kata-kata

yang mudah dimengerti serta harus memuat aturan yang dilarang. 127

Surat dakwaan tersebut secara yuridis formal juga telah memenuhi syarat

sebagaimana diatur dalam pasal 143 ayat 2 KUHAP, yaitu memuat tentang :

a) Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,

kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka

b) Uraian secara cermat,jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang

didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu

dilakukan.

Untuk syarat yang ke 2 tersebut jika ada salah satu didalamnya tidak

terpenuhi atau tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2

huruf (b) maka dapat berakibat surat dakwaan tersebut batal demi hukum. Dalam

buku Moeljatno yang berjudul hukum acara pidana dibahas mengenai istilah,

istilah itu masing-masing adalah “ Statement of Offence ” dan “ Particular of

Offence ”, yang maksudnya kurang lebih sama dengan aturan yang dilarang, dan

lukisan dari apa yang terjadi, dua hal yang harus ada dalam dakwaan.

“ Statement of Offence “ dalam surat dakwaan perkara ini terlihat pada kalimat :

Melanggar Pasal 82 ayat (1) huruf d juncto pasal 63 ayat (1) UU No.23 Tahun
1992 Tentang Kesehatan.

Adapun particular of offence tersebut pada kalimat :

Bahwa ia terdakwa Agus Yulianto alias kencrung pada hari senin tanggal 26
oktober 2009 …. dan seterusnya, bertempat dirumah terdakwa Dusun Jombor
Kidul Sinduadi mlati Sleman …. dan seterusnya, yang sengaja/tanpa keahlian dan
kewenangan dan izin dari Departemen Kesehatan RI melakukan pekerjaan

127
Moeljatno,Hukum Acara Pidana,Offset Gajah Mada University,Press,1981,Hlm.42
110

kefarmasian dengan mendistribusikan obat kepada Sdr Andi dan Sdr Agus
prananto di kediaman terdakwa, padahal terdakwa bukanlah seorang yang
memiliki keahlian dan kewenangan dalam melakukan pekerjaan farmasi…. dan
seterusnya.

Secara keseluruhan surat dakwaan tersebut dapat dikatakan sudah lengkap dan

jelas.

b. Mengenai Requisitoir

Setelah jaksa penuntut umum dalam perkara ini mendengar keterangan

saksi dan keterangan terdakwa, serta memeriksa alat bukti lainnya yaitu yang

diajukan pada akhirnya dapat membuktikan tentang perbuatan pidana yang

dilakukan terdakwa adalah suatu kesengajaan. Maka telah dipenuhi unsur dari

pasal yang dituduhkan yaitu pasal 82 ayat 1 huruf d jo pasal 63 ayat 1 UU No.23

tahun 1992 Tentang Kesehatan yang unsur-unsurnya sebagai berikut :

1) Barang siapa

2) Tanpa keahlian dan kewenangan

3) Sengaja melakukan pekerjaan kefarmasian dan sebagaimana dalam pasal

63 ayat 1 yang isinya sebagai berikut :

“ Pekerjaan kefamasian dalam pengadaan, produksi, distribusi dan


pelayanan sediaan farmasi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu ”

Oleh karena semua unsur dari pasal tersebut diatas telah terpenuhi, dengan

demikian perbuatan terdakwa dapat diancam pidana. Maka penuntut umum

memintakan kepada Hakim :

1. Menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindakan pidana : tanpa

keahlian dan kewenangan sengaja melakukan pekerjaan kefarmasian


111

sebagaimana diatur dalam pasal 82 ayat 1 huruf d Jo pasal 63 ayat 1 UU

No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan.

2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara 10 bulan

3. Menyatakan barang bukti berupa : 570 butir pil Trihexyphenidyl warna

putih sis uji laboratorium 560 butir dirampas untuk dimusnahkan.

4. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp 1000,-

c. Mengenai Putusan

Menurut pasal 197 KUHAP ayat 1 surat putusan pemidanaan memuat :

a. Kepala keputusan yang ditulis berbunyi: “ DEMI KEADILAN

BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA ”

b. Nama lengkap,tempat lahir,umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,

kebangsaan, tempat tinggal, agama dan perkerjaan terdakwa.

c. Dakwaan sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan.

d. Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan

beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaaan disidang yang

menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa.

e. Tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan.

f. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari

putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan

terdakwa.

g. Hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis Hakim kecuali perkara

diperiksa hakim tunggal.


112

h. Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur

dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan

pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan.

i. Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan

jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti.

j. Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan dimana

letaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat otentik dianggap palsu.

k. Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau

dibebaskan.

l. Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang

memutuskan dan nama panitera.

Tidak terpenuhinya ketentuan diatas dalam suatu putusan , mengakibatkan

putusan batal demi hukum.

Menurut moeljatno dijelaskan mengenai alasan yang dipakai atau digunakan

untuk mengadakan putusan, yaitu disebut motivering. Ada 4 macam motivering,

yaitu :

1) Motivering tentang hal-hal yang dianggap terbukti

2) Motivering tentang kualifikasi (Merupakan delik apa)

3) Motivering tentang dapat dipidananya terdakwa

4) Motivering tetang pidana yang dijatuhkan.

Keempat macam motivering tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

1) Motivering tentang hal-hal yang dianggap terbukti


113

Disini motivering diperlukan untuk menilai dan membuktikan ada

tidaknya perbuatan pidana. Dalam kasus ini terbukti perbuatan pidana

telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Hal ini terlihat dalam

pertimbangan putusan Hakim :

… dari saksi mata yaitu yang mengetahui dan melihat dengan mata kepala

sendiri sesuai keterangan di muka persidangan yang dibenarkan oleh

kesaksian dari saksi lainnya yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Serta berhubungan keterangan terdakwa yang satu sama lain

berkesesuaian, maka dapat disimpulkan bahwa terdakwa pada tanggal 26

oktober 2009 telah melakukan tindak pidana yaitu dengan sengaja

melakukan pekerjaan kefarmasian tanpa izin dengan menjual pil obat

Trihexilphenidyl. (Putusan perkara No.03/Pid.B/2010/PN.SLMN ).

2) Motivering tentang kualifikasi (Merupakan delik apa)

Disini penegasan mengenai perbuatan pidana apa yang dilakukan terdakwa

untuk mengetahuinya tergantung terbukti tidaknya perbuatan pidana yang

dituduhkan kepadanya. Dengan demikian dalam kasus ini kualifikasi

perbuatan pidananya adalah :

Pasal 63 ayat 1 (Unsur sengaja melakukan pekerjaan kefarmasian)


Menimbang bahwa menurut doktrin yang dimaksud dengan sengaja atau

opzet atau dolus mengandung arti terdakwa mengetahui (willens) bahwa

suatu perbuatan apabila dilakukan dengan akan menimbulkan akibat yang

dilarang hukum pidana dan terdakwa menghendaki (wettens) timbulnya

akibat yang dilarang tersebut.


114

Menimbang bahwa dalam ilmu hukum pidana dikenal 3 corak sikap batin

yang menunjukan tingkat (gradasi) kesengajaan yaitu :

1. Kesengajaan sebagai maksud (dolus directus)

2. Kesengajaan sadar kepastian (dolus malus)

3. Kesengajaan sadar kemungkinan (dolus eventualis)

Menimbang bahwa untuk mengetahui corak/bentuk kesengajaan yang

dilakukan oleh terdakwa maka akan dipertimbangkan lebih dahulu unsur

delik (bestendellen delict) yang dilakukan oleh terdakwa, yaitu sengaja

melakukan pekerjaan kefarmasian sebgaimana dimaksud dalam pasal 63

ayat 1 UU No.23 Tahun 1992.

3) Motivering tentang dapat dipidananya terdakwa

Disini pernyataan tentang kesalahan terdakwa terbukti atau tidak terhadap

perbuatannya. Sebagaimana diketahui dasar pemidanaan terdakwa karena

adanya kesalahan. Dalam kasus ini kesalahan terdakwa telah terbuki maka

perbuatan pidana yang didakwakan telah terbukti. Dengan demikian dalam

kasus ini pernyataan tentang dapat dipidananya terdakwa adalah :

“ Menyatakan terdakwa Agus Yulianto als Kencrung bin Slamet

Supriyono telah terbukti secara sah dan meyakinkan brsalah melakukan

tindak pidana : Tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja

melakukan pekerjaan kefarmasian, sebagaimana dimaksud dalam pasal 63

ayat 1 UU No 23 Tahun 1992 tentang kesehatan ”


115

“ Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebur dengan pidana penjara

selama 8 bulan….. menetapkan masa penahanan….menetapkan terdakwa

tetap ditahan….. dan seterusnya.

4) Motivering tentang pidana yang dijatuhkan

Dalam kasus ini telah terbukti unsur perbuatan pidana, dan hakim

pemeriksa perkara menetapkan hukuman penjara 8 bulan bagi terdakwa,

oleh karena itu perbuatan pidana terdakwa telah terbukti. Dengan

demikian didalam surat putusan ini,mula-mula harus terpenuhinya unsur

dari pasal yang didakwakan, yaitu pasal 82 ayat 1 huruf d jo pasal 63 ayat

1 UU No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. Unsurnya adalah :

1. Barang siapa

2. Tanpa keahlian dan kewenangan

3. Sengaja melakukan pekerjaan kefarmasian sebagaimana dimaksud

dalam pasal 63 ayat 1

Oleh karena ke 3 unsur tersebut dalam putusan ini telah terbukti, maka

hakim berdasarkan alat bukti yang ada dan menurut keyakinannya

menghukum terdakwa dengan pidana kurungan penjara selama 8 bulan.

Setelah dengan seksama membaca dan mempelajari putusan tersebut

penulis sependapat dengan alasan dan pertimbangan yang dikemukakan Hakim.

Hakim telah menyebutkan pasal dasar putusan yang dijatuhkan, sehingga tidak

menimbulkan pertanyaan dan keraguan kepada pihak terdakwa. Hal ini disebutkan

sesuai dengan ketentuan pasal 197 poin f KUHAP.


116

d. Pertanggungjawaban Pidana dalam Putusan Pengadilan Perkara

Nomor: 03/Pid.B/2010/PN.SLMN.

Dalam hal pertanggung jawaban pidana hal yang terpenting adalah

bagaimana unsur kesalahan yang dilakukan harus dapat dibuktikan. Dalam

Peraktek di Pengadilan, seseorang dapat dijatuhkan pidana apabila memenuhi 3

unsusr subyektif, yaitu : 128

1. Melakukan perbuatan pidana.

2. Si pelaku perbuatan pidana harus mampu dan memiliki kemampuan

bertanggung jawab, berakal sehat dan mampu membedakan baik dan

buruk serta antara bahaya dan tang tidak bahaya.

3. Si pelaku perbuatan pidana hars melakukan perbuatan secara sengaja atau

setidaknya culpa

4. Tidak adanya alasan pemaaf dan alaan menghapus kesalahan.

Dalam hal ini terkait dengan kasus yang telah diputus tersebut, untuk menilai

kesalahan dari Agus Yulianto, selaku terdakwa, terlebih dahulu harus ditentukan

apakah perbuatan Agus yulianto merupakan perbuatan pidana.

Untuk menentukan bahwa telah terjadi perbuatan pidana, pertama-tama

harus dicari hubungan kausal antara kelakuan dan akibat. Artinya harus dicari

hubungan kausal antara kelakuan dan akibat. Sebagaimana diketahui dalam

pandangan teori hubungan kausalitas,seseorang baru dapat dituntut dan diminta

pertanggungjawabnnya apabila telah ditentukan atau dipastikan bahwa

128
Ricko Mardiansyah, Malpraktek dan Pertanggung jawaban pidana , Program sarjana Hukum S1
FH UII Yogyakarta, Hlm 227
117

perbuatannya telah menimbulkan akibat yang dilarang UU (bersifat melawan

hukum).

Untuk mengetahui apakah kasus dalam perkara ini terdapat hubungan

kausal maka harus ditinjau dari faktaatau data yang terungkap dimuka

persidangan yang diterangkan dalam putusan pengadilan. Secara garis besar fakta

atau data dan kronologis peristiwa dalam kasus ini dapt disebutkan sebagi berikut:

• Secara kronologis perbuatan terdakwa Agus Yulianto yang dilakukan pada

hari senin tanggal 26 oktober 2009 yaitu sekitar pukul 13.00 Wib dan

sekitar pukul 17.00 Wib. Yang mana seebelum pendistribusian obat

tersebut sekitar pukul 10.30 Wib pada hari minggu 25 oktober 2009

dikediaman terdakwa, terdakwa membeli 7 tik berisi 700 butir

Trihexyhenidyl dari Saudara Si Is.

• Pada hari senin pukul 13.00 Wib di kediaman terdakwa terjadi transaksi

antara terdakwa dan seorang pembeli obat tersebut. Pembeli yang akhirnya

dikenal bernama andi membeli 3 Tik 30 butir pil Trihexyhenidyl seharga

Rp 15.000,- (Lima belas ribu rupiah). Dan pada sore harinya sekitar pukul

17.00 Wib di tempat yang sama kediaman terdakwa, menjual kembali obat

legal tanpa izin edar dan distribusi tersebut kepada seorang pembeli

bernama Agus prananto sebesar Rp 105.000,- dengan transaksi obat

sebanyak 10 Tik (100 butir) .

• Berdasrkan fakta yang terungkap di persidangan tersebut yang diperoleh

dari keterangan terdakwa sangat bersesuaian dengan kesaksian dari para

saksi Agung pranoot yang benar mengaku membeli pil dari terdakwa
118

sebanyak 100 butir. Dan keteranan saksi doni erwan hermawan Arif

hakim setyadi yang telah melakukan penggeledahan dan mendapat barang

bukti sebanyak 570 butir Trihexyhenidyl yang terletak dibawah meja TV

dan atas lemari.

Jika melihat dari keterangan saksi yang saling bersesuaian dengan

keterangan terdakwa apa yang dilakukan tersebut terdakwa mengetahui perbuatan

yang dilakukannya dilarang oleh aturan hukum, dan mengetahui akibatnya yaitu

dapat merusak kesehatan orang lain jika dijual secara eceran tanpa izin dari

Depkes atau pejabat yang diperbolehkan memang mendistribusikan obat/pil

tersebut. Maka sangat tepat dan beralasan jika majelis menilai sikap batin

terdakwa tersebut termasuk kedalam kategori kesengajaan sebgai maksud

(DOLUS DIRECTUS ).

Fakta-fakta yang teruraikan diatas secara yuridis tidak sulit untuk

menyimpulkan bahwa perbuatan yang dilakukan terdakwa memang adalah

perbuatan yang melanggar aturan hukum dalam dunia kesehatan dlaam hal

melakukan pekerjaan kefarmasian tanpa keahlian seperti yang dimaksud dalam

pasal 63 ayat 1 tentang kesehatan. Unsur kesengajaan terbukti dalam kasus ini,

oleh karena itu perbuatan pidana dalam bidang kesehatan memang terjadi.

Jika dilihat dari pilihan Undang-undang yang digunakan dalam

mendakwakan terdakwa penulis setuju dengan pilihan Undang-undang 23 tahun

1992 ketimbang 36 tahun 2009. Didalam aturan peralihan yang terdapat didalam

36 tahun 2009 sendiri pada BAB XXI Pasal 203 sendiri menyatakan peraturan

dalam UU No 23 Tahun 1992 sejak peraturan ini ditetapkan tetap berlaku dan

dapat digunakan jika tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih baru.
119

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian pada (Bab) pembahasan sebelumnya yang telah

dijelaskan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

4. Persoalan malpraktik yang latah diucapkan sebenarnya adalah sengketa

medik. Persoalan ini muncul dikarenakan adanya perbedaan persepsi

pemahaman atau paradigma antara dokter dan pasien. Pada dasarnya jika

menilik kepada salah satu asas hukum pidana “ Presumption of innocence ”

suatu perbuatan baru dapat dikatakan malpraktek bila telah ada putusan

pengadilan yang inkracht menyatakan bahwa telah terbukti terjadi malpraktik

barulah dokter dinyatakan telah melakukan kelalaian medik. Perbedaan

pemahaman ini disebabkan oleh hubungan tercipta diantaranya memiliki

kehendak yang berbeda, yaitu adanya hubungan Terapeutik atau Inspaning

verbintenis dan hubungan resultat verbintenis. Prinsip dan aspek hukum

dalam sengketa malpraktik memiliki urgensi dalam menjelaskan secara rinci

mengenai pola hubungan dalam suatu perkara sengketa medik tersebut.

Prinsip ini mengkaji bagaimana seharusnya seorang dokter melakukan

tugasnya. Prinsip-prinsip tersebut adalah :

a. Orang tersebut melakukan sesuatu yang tidak seharusnya orang

professional dalam bidang kompetensi tersebut lakukan.


120

b. Orang tersebut tidak melakukan sesuatu yang oleh orang-orang

profesioanal dalam bidang tersebut lakukan.

c. Orang tersebut melakukan sesuatu dibawah standar praktik

Adapun aspek yang terpenting dalam mengkaji adanya sengketa medik

adalah dengan melihat hubungan dari pasien dan dokter. Karena diantara

keduanya ada hubungan medik dan hubungan hukum. Di dalam hbungan

antara dokter dan pasien ini yang menjadi objeknya adalah pemeliharaan

kesehatan. Bagaimana keduanya mengikatkan diri dalam suatu kotrak secara

langsung, yang menghasilkan hak dan kewajiban diantara keduanya. Dalam

hubungan ini dokter yang didatangi pasien untuk mengobatinya, jika dokter

tersebut secara keilmuan memang memiliki kemampuan ntuk mengobati maka

dokter tersebut harus mengobati sesuai dengan standar profesi yang dia

kuasai. Jika terjadi suatu hal yang berakibat kepada ruginya pasien yang

diakibatkan karena kelalaian dan ketidakcermatan dokter maka dokter tersebut

harus bertanggung jawab. Pertanggung jawabannya harus sesuai dengan

landasan profesi medis yang memang telah menjadi rujukan MKDKI. Jika

pola hubungan dokter dan pasien ini telah terlihat tidak lagi secara bias

mengenai kedudukan yang sebenarnya terjadi atara dokter dan pasien maka

melalui pengaduannya kepada MKDKI pasien haruslah dapat melakukan

beban pembuktian. Pembuktian ini dilakukan karena akibat dari perbuatan

dokter karena perbuatannya yang tidak cermat dan teliti yang mengakibatkan

kerugian pada pasien.


121

Dalam hal suatu sengketa medik ini membutuhkan pembuktian maka

untuk menambha keyakinan hakim dapat menggunakan saksi ahli (Pasal 184

KUHAP) jika diperlukan. Terlepas dari semua kesaksian yang diberikan oleh

saksi ahli tersebut oyektif atau tidak saksi ahli tersebut terikat pada suatu

peraturan perundang-undangan dalam KUHAP. Mengenai kesaksian yang

dimilikinya ia diancam dengan keterangan palsu. Ataupun permasalahan yang

tidak mengharuskan seorang dokter karena profesinya mengundurkan diri atau

tidak hadir dalam memberikan kesaksian sebagai saksi ahli diakibatkan

seorang dokter tidak boleh membocorkan rahasia, saat ini hal-hal semacam itu

bukan lah sebuah persoalan karena telah ada peraturan yang

membolehkannya, peraturan tersebut terdapat di pasal 48 UU No 29/2004

UUPK. Sengketa medik yang terajdi akibat adanya kelalaian yang tentunya

merugikan pasien, baik berupa luka/cacat hingga kematian. Dalam hal

penyelesaian sengketa medik ini bisa diselesaikan dengan 2 jalur baik secara

litigasi atau pun non litigasi. Non litigasi disini dapat melaui mediasi,

bertujuan untuk menyelesaikan sengketa di luar pengadilan oleh mediator

yang disepakati oleh para pihak. Penyelesaian secara mediasi ini tidak hanya

digunakan untuk menyelesaikan sengketa para pihal dalam kasus perdata, tapi

juga dapat menyelesaikan kasus pidana. Mediasi sebagai bagian ADR dalam

hukum pidana dimungkinkan, namun ciri-cirinya tidak akan sama dengan

ADR di bidang hukum perdata atau hukum dagang. Karena salah satu pihak

yaitu korban telah diwakili oleh kepolisian dan kejaksaan. Pihak korban tidak

lagi mandiri menentukan mekanisme penyelesaian perkara. Kewajibannya


122

diwakili oleh kepolisian dan kejaksaan yang sebenarnya dalam pengertian

yang relatif karena kalau korban tidak melapor maka proses peradilan pidana

juga sukar bergerak. Jadi, sebenarnya ada juga alternatif bagi korban untuk

memutuskan secara mandiri untuk tidak berperkara di pengadilan.

5. Bahwa bentuk perlindungan hukum yang diberikan kepada pasien dalam

UUPK (UU No.29/2004) adalah :

Dalam UU. No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran (UUPK),

perlindungan yang diberikan kepada Pasien terlihat terutama pada pasal-pasal

yang tercantum dalam ketentuan pidana UUPK, yaitu pasal 75, 76,77,78,79,

dan 80. Dari ke 6 jenis pasal tersebut 4 diantaranya berisikan tentang tindak

pidana yang dasarnya bermula dari pelanggaran hukum administratif, dan 2

diantaranya adalah tindak pidana kesehatan murni yang tidak berorientasi

dasar pada hukum administratif. 4 pasal tersebut adalah pasal 75,76,79, dan

80. Sisanya adalah tindak pidana yang tidak terkait dengan dasar peraturan

administratif kedokteran. Namun dari ke 4 pasal administratif tersebut

diantaranya pasal 75,76 dan 79 adalah peraturan yang didalam rumusan

pasalnya inkonstitusional yang berarti tidak memiliki kekuatan hukum tetap

dan tidak dapat dilaksanakan aturan tersebut serta tidak mengikat kendati tetap

tertulis. Sedangkan pasal 80 tidak inkonstitusioal meskipun juga terorientasi

pada aturan dasar hukum administratif dalam dunia kesehatan. Hal ini

disebabkan dalam tindak pidana pasal 80 ini tidak menyertakan hukuman

kurungan yang notabennya pasal ini ada kaitannya dengan pasal 42 yang mana

pimpinan kesehatan berkerja kepada rumah sakit / korporasi. Dalam stelsel


123

pemidanaan korporasi tidak dapat di kenai kurungan, melainkan dapat dikenai

pidana tambahan yaitu pencabutan izin.

Namun pada kenyataannya menurut pendapat penulis ketentuan pidana

yang bertujuan untuk melindungi pasien yang ditimbulkan oleh adanya

perbuatan melawan hukum terhadap peraturan administrasi tidak dapat

diterapkan. Hanya sebagai suatu pelengkap atau pajangan. Peraturan yang

inkonstitusional tersebut tidak lagi memiliki kekuatan sebagai Ultimum

remidium yang dapat menimbulkana efek jera bagi pihak yang melakukan

suatu pelanggaran. Hal ini bertentangan dengan pasal 3 UU No29 tahun 2004 .

Dengan demikian diperlukan adanya suatu tinjauan kembali mengenai aturan

yang memuat ketentuan pidana khususnya dalam undang-undang praktik

kedokteran tersebut. Sedangkan pasal 77 dan 78 tetap konstitusional secara

khusus, dan secara umum keseluruhan aturan pasal dalam ketentuan pidana

UUPK 29/2004 ini ditujukan pada tiga tujuan yaitu :

4. Upaya preventif agar tidak terjadi penyalahgunaan cara-cara praktik

kedokteran oleh orang yang bukan ahli kedokteran

5. Melindungi kepentingan hukum umum agar tidak menjadi korban dari

perbuatan yang meniru praktik kedokteran oleh orang yang tidak

berwenang.

6. Melindungi martabat dan kehormatan profesi kedokteran oleh orang yang

tidak melakukan praktik kedokteran yang tidak berwenang.


124

B. Saran

1. Melakukan perubahan kepada UU 29/2004 (UUPK) dengan

menambahkan pengertian malpraktik ke dalam salah satu pasalnya.

Dengan adanya pasal yang mencantumkan pengertian tentang malpraktik

maka diharapkan akan tercipta suatu pemahaman yang seragam antara

dokter dan pasien. Dan dengan demikian secara otomatis tidak akan ada

perbedaan barometer masing-masing rumah sakit untuk menentukan

standar suatu perbuatan dikatakan melakukan malpraktek atau tidak .

2. Meningkatkan profesionalitas serta kerjasama yang baik antara aparat

penegak hukum dengan lembaga MKDKI baik MKDKI yang ada ditingkat

pusat ataupun provinsi yang memiliki kewenangan penuh di dalam proses

penyelidikan guna terungkapnya kasus / perkara sengketa medik

(malpraktik) dengan menyelenggarakan suatu pelatihan kepada para

penyidik dari aparat penegak hukum dan penyidik dari kalangan medik.

3. Melakukan perubahan terhadap UU. No. 29 Tahun 2004, terutama

berkaitan dengan adanya pasal yang inkonstitusional pada pasal ketentuan

pidana yaitu rumusan yang terdapat dalam pasal 75,76 dan 79.. Perubahan

dapat dilakukan dengan cara menghapus peraturan yang tidak berlaku lagi

didalamnya atau menambah peraturan yang berkaitan dengan

perlindungan terhadap dokter dan pasien. Dengan masih tertuangnya

peraturan yang inkonstitusional tersebut mengakibatkan Ketidakjelasan

terhadap undang-undang tersebut karena dapat menimbulkan kebingungan

apakah masih bisa diterapkan atau tidak.


125

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

Adami Chazawi.2007. Malpraktik Kedokteran Tinjauan Norma Dan Doktrin


Hukum, Bayu Media

Anny Isyfandarie,2005. Malpraktik Dan Resiko Medik Dalam Kajian Hukum


Pidana, Cetakan Pertama,Prestasi Pustaka Publisher. Jakarta.

CST. Kansil.1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai
Pustaka cetakan kedelapan. Jakarta

D.Veronica Komalawati, Hukum Dan Etika Dalam Praktek Dokter, Cetakan


Pertama, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta

Endang Kusuma Astuti,2003. Tanggung Jawab Hukum Dalam Upaya Pelayanan


Medis, Kanisius Yogyakarta.

Fred Ameln, 1991. Kapita Selekta Hukum Kedokteran,Grafikatama,Jaya.

Hendra Tanu Atmadja.2003. Hak Cipta Musik Atau Lagu, Program Pascasarjana,
Fakultas Hukum Universitas Indonesia.Jakarta

Hermien Hediaty,Hukum Kedokteran,Citra Aditya Bandung,Cetakan Pertama.

Himpunan Etika Profesi,2006. Berbagai Etik Asosiasi Di Indonesia, Pustaka


Yustisisa, Yogyakarta.

Ja’far Khadem Yamani,2002. Kedokteran Islam Dan Perkembangannya, Dzikra


Penerbit Buku Sains, Bandung.

J. Guwandi.1994. Kelalaian Medik (Medical Neglience),Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia,Edisi kedua, Jakarta

_________________, 2005 Informed Consent,Fakultas Kedokteran Indonesia.

_________________, 2007. Dokter , Pasien dan Hukum, Fakultas Kedokteran


Indonesia, Jakarta.

Munir Fuady.2005. Sumpah Hippocrates Aspek Hukum Malpraktek Dokter, Citra


Aditya Bakti. Bandung

Moeljatno,Asas-asas Hukum Pidana,Rineka Cipta, Jakarta.


126

_________________,1981. Hukum Acara Pidana, offset Gajah Mada


University,Press

M.Jususf Hanafiah.2004. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Penerbit Buku


Kedokteran EGC. Jakarta.

Ninik Mariyanti. 1998. Malaperaktek Kedokteran Dari Segi Hukum Pidana Dan
Perdata, Bina Aksara. Jakarta

Ricko Mardiansyah,2008. Malprak Jakartaek dan Pertanggung jawaban Pidana,


Program sarjana Hukum S1,UII , Yogyakata.

Safitri Hariyani, Sengkleta Medik ALternatif Penyelesaian Perselisihan Antara


Dokter dan Pasien, Diadit Media, Jakarta

Soerjono Soekanto.1989. Aspek Hukum Kesehatan, PN IND-HILL-CO, Jakarta

Sofyan Sastrawidjaya, Asas Hukum Pidana Dengan Alasan Peniadaan Pidana,


Armiko Bandung,Hal 189

Subekti,1985. Hukum Perjanjian, PT Inter masa, Cetakan Ke X.

Sudikno Mertokusomo,1993. Hukum Acara Perdata Indonesia,Liberti,Cetakan 1

Veronica Komalawati,2002, Peranana Informed Consent dalam transaksi


terapeutik (Persetujuan Dalam Hubungan Dokter Dan Pasien) Suatu
Tinjauan Yuridis, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung.

Wahyu Priyanka,2006. Perlindungan Hukum Ketiga yang berkepentingan


Dalam Penegakan Hukum Pidana Dalam Bidang Korporasi, Program
Sarjana(S1)

Yanny Yuharyati. 2005. Perlindungan Hukum terhadap Korban Perdagangan


Khususnya Perempuan dan Anak, Thesis, Program Magister Hukum (S2),
Ilmu Hukum, UII, Yogyakarta.

Yudha Pandu,2004. Klien dan Advokat Dalam Praktek, cetakan ketiga, Penerbit
Indonesia Legal Centre Publishing, Jakarta.

Yusuf Sofie, Penyelesaian Sengketa Menurut UUPK (Teori dan Hukum), PT Citra
Aditya Bakti,Bandung.
127

B. Jurnal , Makalah Dan Kamus

Aroma Elmina Martha. “Penyelesaian Sengketa Medik Melalui Mediasi Penal”


makalah disampaikan pada pada diskusi: MEDIASI PENAL DALAM
SENGKETA MEDIK, DISELENGGARAKAN KAJIAN HUKUM
PIDANA MAHKAMAH AGUNG RI, 9-10 AGUSTUS 2010

Jurnal Hukum, Edisi. No. 3, Vol. I 1995, hlm. 23.

Danny Wiradharma, Penuntun Hukum Kuliah Kedokteran, HLM 45

C. Internet

http://www.almanhaj.or.id, Malpraktik Menurut Syariat Islam,Ustadz Annas


Burhanudin

http://www.Apio.com, Quo Vadis Organisasi Profesi

http://www.badilag.com, mediasi di pengadilan dan asas peradilan sederhana,


cepat dan biaya ringan, Siddiki.

http://www.diglib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=107142&lokasi
=local

http://www.freewebs.com/etikakedokteranindonesia/

http://www.freewebs.com/etika kedokteran indonesia dan penanganan


pelanggaran etika di Indonesia, Budi Sempurna

http://www.gagasanhukum.wordpress.com/2008/12/01/pengaturan-sanksi-pidana-
dalam-ketentuan-uu-bag-i/

http:// www.google.com . Tahun 2008 Hukum kesehatan kematian di Inggris


meningkat 50 % karena malpraktek kedokteran naik,

http://www.hukumonline.com. Peran Dan Tugas MKDK Dalam Penyelesaian


Sengketa Medik

http://www.idi.com.ikatan Ikatan Dokter Indonesia83.com/peraturan dan


perjanjian-f1/hukum kesehatan.htm, Kesehatan dan ilmu kedokteran.

http://www.ilunifk

http://www.kabargayo.com/-cetak/0404/16/Jendela/9712 65.htm
128

Teori Tentang Malpraktek, Ny Umi R Lengkong, Beberapa Teori Tentang


Malpraktik.

http://Purwanto78.wordpress.com/2008/09/14/malpraktek-dalam-bidang-medis/

http://www.tenaga-kesehatan.or.id,Ida Keumala Jeumpa,SH,MH, Penegakan


Hukum Terhadap DugaanTindak Pidana Malpraktek Medik.

http://www.wordpress.com, Valentin v. La society de bianfaisance martulelle de


los angelos calfornia,1956

D. UNDANG-UNDANG

KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana)

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

Kitab Undang-undang Hukum Perdata

Peraturan Menteri Kesehatan No.269.MENKES.PER/III/2008 (Rekam Medis)

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, Tentang Perlindungan Konsumen

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004, Tentang Praktek Kedokteran

Undang-undang No 36 Tahun 2009, Tentang Kesehatan

E. Putusan Dan Risalah Sidang

Putusan Nomor : 03/Pid.B/2010/PN.SLMN

F. KAMUS

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998


129

LAMPIRAN