Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PENYAKIT


KOLERA

DISUSUN

Oleh kelompok:8

1.Fina ajibatul hasanah 718621082


2. Nofiyani 718621101
3.Dion ardiansyah
4. Anisa

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS WIRARAJA
2019/2020
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan limpahan rahmatnyalah maka kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
           Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Asuhan
keperawatan pasien penyakit kolera”, yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar
bagi kita untuk mengetahui bahaya penyakit ini..

Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang
tepat atau menyinggung perasaan pembaca.

Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Sumenep,13-april-2020
penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................
DAFTAR ISI.......................................................................................................................
BAB I...................................................................................................................................
PENDAHULUAN...............................................................................................................
1.1   Latar Belakang.............................................................................................................
1.2   Rumusan masalah .......................................................................................................
1.3 Tujuan..........................................................................................................................
1.4 Sistematika...................................................................................................................
BAB II.................................................................................................................................
PEMBAHASAN..................................................................................................................
2.1   Definisi kolera.............................................................................................................
2.2    Etiologi  .....................................................................................................................
2.3   Manisfestasi klinis.......................................................................................................
2.4 Patofiosologi...............................................................................................................
2.5    Pemeriksaan penunjang .............................................................................................
2.6    Penatalaksanaan..........................................................................................................
2.7   komplikasi...................................................................................................................
2. 8   Woc ............................................................................................................................
BAB III................................................................................................................................
ASKEP TEORITIS..............................................................................................................
3.1   Pengkajian...................................................................................................................
3. 2   Diagnosa Keperawatan...............................................................................................
3.3    Intervensi Keperawatan..............................................................................................
3.4 Implementasi..............................................................................................................
3.4 Evaluasi .....................................................................................................................
BAB IV................................................................................................................................
PENUTUP...........................................................................................................................
4. 1   Kesimpulan.................................................................................................................
4. 2    Saran..........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cholera adalah penyakit infeksi saluran usus yang bersifat akut dan disebabkan oleh
bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini masuk kedalam tubuh host secara per oral umumnya melalui
makanan atau minuman yang tercemar. Cholera dapat menular sebagai penyakit yang bersifat
epidemik. Meskipun sudah banyak penelitian berskala besar dilakukan, namun penyakit ini tetap
menjadi suatu tantangan bagi dunia kesehatan. Dalam situasi adanya wabah / epidemi, feces
penderita merupakan sumber infeksi.

Cholera dapat menyebar dengan cepat di tempat - tempat yang tidak mempunyai
penanganan pembuangan kotoran/sewage dan sumber air yang tidak memadai. Pada kasus berat
yang tidak diobati (kolera gravis), kematian bisa terjadi dalam beberapa jam, dan CFR-nya bisa
mencapai 50%. Dengan pengobatan tepat, angka ini kurang dari 1%. Diagnosa ditegakkan
dengan mengisolasi vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. Jika fasilitas
laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau
menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).

Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap
atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau
bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk
tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin
dan antibodi spesifik yang bermakna.

Di daerah non-endemis, organisme yang di isolasi dari kasus indeks yang dicurigai
sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang
tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk
mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi
laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi
dilakukan uji laboratorium

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Kolera ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Diharapkan mampu melakukan asuhan keperawatan pada Pasien dengan Kolera.

1.3.2 Tujuan Khusus


Diharapkan mampu :

1. Melakukan pengumpulan data melalui pengkajian secara menyeluruh terhadap


pasien dengan kolera.

2. Menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan kolera.

3. Menyusun rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan kolera,

4. Menerapkan tindakan asuhan keperawatan pada pasien dengan kolera.

5. Melakukan evaluasi tindakan asuhan keperawatan pasien dengan kolera.

6. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pasien dengan kolera.

1.4 Sistematika

Sistematika penulisan pada makalah ini meliputi:

1. Bagian awal terdiri dari halaman judul, kata pengantar, daftar isi, daftar lampiran.

2. Bagian inti terdiri dari 2 bab yaitu:

 BAB 1 meliputi : Latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sistematika


penulisaN.

 BAB 2 terdiri dari konsep kolera meliputi : pengertian, etiologi, patofisiologi,


gambaran klinis, konsep asuhan keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan keperawatan, dan konsep kebutuhan dasar manusia.

 BAB 3 penutup meliputi kesimpulan dan saran.

 Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Kolera adalah penyakit infeksi yang disebabkan vibrio cholera dengan manifestasi diare,
disertai muntah yang akut dan hebat akibat enterotoksin yang dihasilkan bakteri tersebut. Kolera
dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik. (Nurarif dan
Kusuma, 2015 : 169)

2.2 Etiologi

Vibrio cholerae adalah kuman aerob gram negatif berukuran 0,2-0,4 mm x 1,5-4,0 mm
mudah dikenal dalam sediaan tinja. Pada daerah endemik, air terutama berperan dalam penularan
kolera namun pada endemik besar penularan juga terjadi melalui makanan yang terkontaminasi
oleh tinja atau air yang mengandung vibrio cholerae. (Sudoyo Aru, 2010 : 2843)

Komposisi elektrolit dalam tinja pasien kolera :

Umur Natrium Kalium Klorida Bikarbonat


Dewasa 124 16 90 48
Anak 101 27 92 32
(Nurafifah dan Kusuma, 2015:170)

2.3 Manifestasi Klinis

a. Diare tanpa rasa mulas, berwarna putih keruh (air cucian beras) tidak berbau busuk
maupun amis tanpa manis menusuk

b. Dehidrasi

c. Ketidakseimbangan elektrolit

d. Hipovolemia

e. Masa inkubasi kolera 16-27 jam

f. Tanpa rasa mulas, tenesmus

g. Hilangnya air, NaCl, kalium dan bikarbonat. Tinja cair putih, keruh seperti air
cucian beras bila diendapkan akan keluar gumpalan-gumpalan putih.

h. Tidak berbau busuk maupun amis.

i. Muntah tanpa didahului mual


j. Terdapat kejang otot (bisep, trisep, betis, pektoralis dan dinding perut)

k. Nyeri

l. Lunglai, tak berdaya namun kesadarannya relatif baik

m. Dapat terjadi koma

n. Denyut jantung cepat, nadi cepat, nafas cepat, suara serak seperti suara bebek (vox
cholerica)

o. Hipoglikemia

p. Hipotermi

q. Turgor kulit menurun (kelopak mata cekung memberi kesan hidung mancung dan
tipis, tulang pipi yang menonjol)

r. Mulut dan bibir kering

s. Perut cekung (skafoid)

t. Peristaltik usus jarang

u. Jari-jari tangan kurus dan tampak lipatan-lipatan kulit

v. Diare bertahan 5 hari pada pasien yang tidak diobati

(Nurarif dan Kusuma, 2015 : 169)

2.4 Patofisiologi

Adanya bahan makanan yang tidak dapat diabsorbsi oleh lumen usus akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi penyerapan air dan elektrolit ke
dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga terjadi diare. Bakteri non-patogen (bakteroides, laktobasilus,
klostridium) di dalam lumen usus halus (sering disebut flora usus) dapat menyebabkan diare.
Normalnya melalui proses fermentasi bakteri non-patogen usus memetabolisir berbagai macam
substrat terutama zat – zat makanan dengan hasil akhir asam lemak dan gas. Metabolisme
anaerob ini akan memberikan tambahan energi bagi tubuh. Akibat stasis usus, obstruksi dan
malnutrisi menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah bakteri non-patogen sehingga pada
proses fermentasi zat makanan menghasilkan metabolit yang tidak diinginkan oleh tubuh.
Sebagai contoh : laktosa (dari susu) merupakan makanan yang baik bagi bakteri non-patogen.
Laktosa akan difermentasikan menghasilkan gas lambung dan menyebabkan distensi. Akibat dari
tingginya konsentrasi laktosa menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat.
Keadaan hiperosmolar ini akan menyerap air dari intra selluler yang diikuti dengan
peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare. (Sudoyo Aru, 2010 : 2845).

2.5 Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan darah tepi lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum, keratin dan berat
jenis.

b. Pemeriksaan urine lengkap, feses lengkap dan biakan feses dari colok dubur.

c. Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan dicurigai infeksi sistemik

d. Pemeriksaan sediaan darah malaria serta serologi helicobacter jeyuni sangat dianjurkan

(Nurarif dan Kusuma, 2015 : 170)

2.6 Penatalaksanaan

a. Rehidrasi

Terapi rehidrasi kolera pada dewasa

Derajat Dehidrasi Jenis Cairan Jumlah Cairan Jangka Waktu


Pemberian

Ringan ORS 50ml/kgBB 3-4 jam

Maks.750ml/jam
Sedang ORS 100ml/kgBB 3 jam

Maks.750ml/jam
Berat Intervena Ringer 110ml/kgBB 3 jam pertama
Laktat guyur sampai nadi
teraba kuat, sisanya
dibagi dalam 2 jam
berikutnya.

(Nurafifah da Kusuma, 2015:170)

Pengobatan awal dehidrasi dari kolera mengikuti rencana terapi dehidrasi seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya. Untuk pasien dengan dehidrasi seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya. Untuk pasien dengan dehidrasi berat dan syok, infus intravena harus diberikan
segera untuk memulihkan volume darah, dan perbaikan dinilai dari tekanan darah yang normal
dan denyut nadi radial yang kuat. Dengan kolera, dibutuhkan oralit dalam jumlah besar yang
diperlukan untuk mengganti kehilangan akibat diare setelah dehidrasi dikoreksi.
Jumlah kehilangan cairan melalui diare sangat banyak dalam 24 jam pertama, pada
pasien dengan dehidrasi berat. Selama periode ini, rata-rata kebutuhan cairan pasien adalah 200
ml/kgBB, tapi beberapa memerlukan 350 ml/kgBB atau lebih. Pada pasien yang berkelanjutan
diarenya biasanya membutuhkan terapi pemeliharaan intravena menggunakan larutan Ringer
laktat dengan menambahkan kalium klorida. Tambahan kalium juga dapat diberikan bersamaan
dengan oralit segera setelah pasien dapat minum. Setelah rehidrasi, pasien harus dinilai ulang
untuk mengetahui tanda-tanda dehidrasi sekurang-kurangnya setiap 1-2 jam dan dilakukan lebih
sering jika diare terus menerus dan banyak. Jika tanda-tanda dehidrasi muncul kembali, larutan
oralit harus diberikan lebih cepat. Jika pasien menjadi lelah, sering muntah atau distensi
abdomen larutan oralit harus dihentikan dan rehidrasi harus diberikan secara IV menggunakan
larutan ringer laktat (50 ml/kgBB dalam 3 jam), dengan menambahkan kalium klorida. (Nurarif
dan Kusuma, 2015 : 170)

b. Antibiotik

Semua kasus dugaan kolera dengan dehidrasi berat harus diberi antibiotik oral yang
efektif untuk vibrio cholerae. Hal ini dapat mengurangi volume total kehilangan cairan,
menyebabkan diare berhenti dalam waktu 48 jam. Dosis pertama harus diberikan segera setelah
muntah berhenti, yang biasanya 4-6 jam setelah memulai terapi rehidrasi. Antiobiotik yang dapat
digunakan adalah Doksisiklin 300 mg dosis tunggal untuk dewasa atau tetrasiklin dengan dosis
12,5 mg/kgBB untuk anak-anak dan 500 mg untuk dewasa yang diberikan 4 kali sehari selama 3
hari. Antibiotik alternatif yang dapat digunakan adalah eritromisin dengan dosis 12,5 mg/kgBB
untuk anak-anak dan 250 mg untuk dewasa yang diberikan 4 kali sehari selama 3 hari. (Nurarif
dan Kusuma, 2015 : 170)

2.7 Komplikasi

Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar bisa membahayakan dan berakibat
fatal. Syok dan dehidrasi parah merupakan komplikasi kolera yang paling berbahaya, namun
selain itu ada beberapa masalah kesehatan lain yang bisa muncul akibat kolera, yaitu:

a. Hipokalemia atau kekurangan kalium yang bisa menyebabkan gangguan fungsi jantung
dan saraf.

b. Gagal ginjal yang diakibatkan oleh hilangnya kemampuan ginjal untuk menyaring,
sehingga mengeluarkan sejumlah besar cairan dan elektrolit dari dalam tubuh. Syok
sering muncul pada penderita kolera yang mengalami gagal ginjal.

c. Hipoglikemia atau rendahnya kadar gula darah bisa terjadi jika pasien terlalu sakit untuk
makan. Keadaan ini bisa berbahaya karena glukosa merupakan sumber energi tubuh yang
utama. Hilang kesadaran, kejang, dan bahkan kematian bisa terjadi akibat komplikasi ini,
dan anak-anak lebih rentan mengalaminya. (Sudoyo Aru, 2010 : 2846)
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KOLERA

3.1 Pengkajian
A. Identitas klien

Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang
kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada
anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan
kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak
menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan
dan perawatannya .

B. Keluhan utama

Feses semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala
dehidrasi,berat badan menurun. Turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering,
frekuensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.

C. Riwayat kesehatan sekarang

BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi
encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran: 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari
(diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).

D. Riwayat penyakit dahulu

Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka


panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK,
OMA campak.

E. Riwayat Nutrisi

Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang
diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia
toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi
makanan, kebiasan cuci tangan,

F. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.

G. Riwayat Kesehatan Lingkungan

Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat
tinggal.

H. Pemeriksaan Fisik
a. Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar
kepala, lingkar abdomen membesar.

b. Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.

c. Kepala: ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun
lebih.

d. Mata: cekung, kering, sangat cekung.

e. Sistem pencernaan: mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat


>35x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus,
minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum.

f. Sistem Pernafasan: dispnea, pernafasan cepat >40x/mnt karena asidosis metabolic


(kontraksi otot pernafasan).

g. Sistem kardiovaskuler: nadi cepat >120x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare
sedang.

h. Sistem integumen: warna kulit pucat, turgor menurun >2dt, suhu meningkat >37,5℃,
akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang >2dt,
kemerahan pada daerah perianal.

i. Sistem perkemihan: urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam),
frekuensi berkurang dari sebelum sakit.

j. Dampak hospitalisasi: semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang
berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon
yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.

I. Pengkajian Pola Gordon (Pola Fungsi Kesehatan)

a. Persepsi Kesehatan: pasien tidak mengetahui penyebab penyakitnya, higienitaspasien


sehari-sehari kurang baik.

b. Nutrisi metabolik: diawali dengan mual,muntah,anopreksia,menyebabkan penurunan


berat badan pasien.

c. Pola eliminasi: akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK
sedikit atau jarang.

d. Aktivitas: akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat
distensi abdomen yakni dibantu oleh orang lain.
e. Tidur/istirahat: akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.

f. Kognitif/perceptual: pasien masih dapat menerima informasi namun kurang


berkonsentrasi karena nyeri abdomen.

g. Persepsi diri/konsep diri: pasien mengalami gangguan konsep diri karena kebutuhan
fisiologis nya terganggu sehingga aktualisasi diri tidak tercapai pada fase sakit.

h. Seksual/reproduksi: mengalami penurunan libido akibat terfokus pada penyakit.

i. Peran hubungan: pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan peran
pasien pada kehidupan sehari-hari mengalami gangguan.

j. Manajemen koping/stress: pasien mengalami kecemasan yang berangsur-angsur dapat


menjadi pencetus stress. Pasien memiliki koping yang adekuat.

k. Keyakinan/nilai: pasien memiliki kepercayaan, pasien jarang sembahyang karena


gejala penyakit.

3.2 Diagnosa keperawatan

1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan viskositas darah yang


meningkat

 Definisi :Penurunan oksigen yang mengakibatkan kegagalan pengantaran


nutrisi ke jaringan pada tingkat kepiler. (Wilkinson & Ahern, 2015 820:821)

 Batasan karakteristik :

a. Perubahan sensasi, perubahan karakteristik kulit, perubahan tekanan darah


pada ekstremitas, klaudikasi, bruit, kelambatan penyembuhan, nadi arteri
lemah, edema, tanda homan positif, kulit pucat saat elevasi; tidak kembali
saat tungkai kembali diturunkan, diskolorasi kulit, perubahan suhu kulit,
nadi lemah atau tidak teraba.

b. Faktor yang berhubungan: Perubahan kemampuan hemoglobin untuk


mengikat oksigen, penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah,
keracunan enzim, masalah pertukaran, hipervolemia, hipoventilasi,
hipovolemia, kerusakan transpor oksigen melalui membran alveolar
dan/membran kapiler, gangguan aliran arteri, gangguan aliran vena,
ketidaksebandingan ventilasi dengan aliran darah.

2. Resiko syok (hipovolemik) berhubungan dengan diare berat dan muntah


 Definisi : beresiko terhadap ketidakcukupan aliran darah kejaringan tubuh, yang
dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa.

 Faktor resiko :

Hipotensi, hipovolemia, hipoksemia, hipoksia, infeksi, sepsis, sindrom respon


inflamasi sistemik. (Nurarif & Kusuma, 2015:341)

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare


berat dan muntah

 Definisi: Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan


metabolik (Wilkinson & Ahern, 2015 503:504)

 Batasan Karakteristik:

Kram abdomen, nyeri abdomen, menolak makan, indigesti, persepsi


ketidakmampuan mencerna makanan, melaporkan perubahan sensasi rasa,
kurangnya makanan, merasa cepat kenyang setelah mengkonsumsi makanan,
pembuluh kapiler rapuh, diare atau steatore, kekurangan makanan, bising usus
hiperaktif, kurang minat terhadap makanan, membran mukosa pucat, menolak
untuk makan, rongga mulut terluka, kelemahan otot yang berfungsi untuk
menelan atau mengunyah. (Wilkinson & Ahern, 2015 503:504)

 Faktor yang berhubungan:

Ketergantungan zat kimia, penyakit kronis, kesulitan mengunyah atau menelan,


faktor ekonomi, intoleransi makanan, kebutuhan metabolik tinggi, kurang
pengetahuan dasar tentang nutrisi, akses terhadap makanan terbatas, hilang
nafsu makan, mual muntah, pengabaian oleh orang tua, gangguan psikologis,
refleks menghisap pada bayi tidak adekuat. (Wilkinson & Ahern, 2015
503:504)

4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya air, NaCl, kalium dan
bikarbonat

 Definisi: Penurunan cairan intravaskular, interstitial, atau intra sel. Diagnosis


ini merujuk pada dehidrasi yang merupakan kehilangan cairan saja tanpa
perubahan kadar natrium. (Wilkinson & Ahern, 2015 :309-310).

 Batasan karakteristik:

Penurunan berat badan yang tiba-tiba, konsentrasi urin meningkat, kelemahan,


peningkatan frekuensi nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume dan
tekanan nadi, suhu tubuh meningkat, hematokrit meningkat, kulit dan membran
mukosa kering, penurunan pengisian vena, penurunan haluaran urine,
penurunan turgor kulit dan lidah, perubahan status mental. (Wilkinson & Ahern,
2015 :309-310)

 Faktor yang berhubungan:

Kehilangan volume cairan aktif, kegagalan mekanisme pengaturan. (Wilkinson


& Ahern, 2015 :309-310)

5. Hipotermi berhubungan dengan kegagalan sirkulasi darah

 Definisi: Suhu tubuh dibawah rentang normal. (Wilkinson & Ahern, 2015 :394-
395)

 Batasan karakteristik:

Kulit dingin, bantalan kuku sianosis, hipertensi, pucat, merinding, menggigil,


penurunan suhu tubuh dibawah rentang normal, pengisian ulang kapiler lambat,
takikardia. (Wilkinson & Ahern, 2015 :394-395)

 Faktor yang berhubungan:

Penuaan, konsumsi alkohol, kerusakan hipotalamus, penurunan laju metabolik,


kulit berkeringat pada lingkungan yang dingin, penyakit atau trauma,
ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk menggigil, ketidakaktifan,
penggunaan pakaian yang tidak mencukupi, malnutrisi, obat-obatan, terpajan
lingkungan yang dingin atau kedinginan, hipertiroidisme. (Wilkinson & Ahern,
2015 :394-395)

3.3 Intervensi

1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan viskositas darah yang


meningkat

 Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan sirkulasi kembali normal

 Kriteria Hasil:

a. Tekanan sistole dan diastole dalam rentang yang diharapkan

b. Tidak ada ortostatik hipertensi

c. Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intracranial

d. Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai kemampuan

e. Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi


f. Memproses informasi

g. Membuat keputusan dengan benar

 Intervensi :

a. Lakukan pengkajian komprehensif terhadap sirkulasi perifer

b. Pantau tingkat ketidaknyamanan atau nyeri saat melakukan latihan fisik

c. Pantau status cairan termasuk asupan dan haluaran

 Manajemen sensasi perifer (NIC):

a. Pantau perbedaan ketajaman atau ketumpulan, panas atau dingin

b. Pantau parestesia, kebas, kesemutan, hiperestesia dan hipoestesia

c. Pantau tromboflebitis dan thrombosis vena profunda

d. Pantau kesesuaian alat penyangga, prosthesis, sepatu dan pakaian

e. Penyuluhan untuk pasien dan keluarga

f. Ajarkan pasien dan keluarga tentang:

1. Menghindari suhu yang eksterm pada ekstremitas

2. Pentingnya mematuhi program diet dan program pengobatan

3. Tanda dan gejala yang dapat dilaporkan pada dokter

g. Perawatan sirkulasi (NIC): ajarkan pasien untuk melakukan perawatan kaki


yang tepat

h. Pentingnya pencegahan ststis vena

 Manajemen sensasi perifer (NIC):

a. Anjurkan pasien atau keluarga untuk memantau posisi bagian tubuh saat
pasien mandi, duduk, berbaring atau mengubah posisi.

b. Ajarkan pasien atau keluarga untuk memeriksa kulit setiap hari untuk
mengetahui perubahan integritas kulit.

Aktivitas kolaboratif:

a. Beri obat nyeri, beritahu dokter jika neri tidak kunjung reda.
b. Perawatan sirkulasi (NIC): beri obat antitrombosit atau antikoagulan,
jika perlu.

2. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan diare berat dan muntah

 NIC: shock management:

a. Monitor TTV, tekanan darah ortostatik, status mental dan urine output.

b. Monitor nilai laboratorium sebagai bukti terjadinya perfusi jaringan yang


inadekuat (misalnya peningkatan kadar asam laktat, penurunan pH arteri).

c. Berikan cairan IV kristaloid sesuai dengan kebutuhan (NaCl 0,9%; RL;


D5%W).

d. Berikan medikasi vasoaktif

e. Berikan terapi oksigen dan ventilasi mekanik

f. Monitor trend hemodinamik

g. Monitor frekuensi jantung fetal (bradikardia bila HR <110 kali/menit) atau


(takikardia bila HR >160 kali per menit) berlangsung lebih lama dari 10
menit.

h. Ambil sampel darah untuk pemeriksaan AGD dan monitor oksigenasi


jaringan.

i. Dapatkan patensi akses vena

j. Berikan cairan untuk mempertahankan tekanan daarah atau cardiac output.

k. Monitor penentu pengiriman oksigen ke jaringan (SaPO2, level Hb, cardiac


output).

l. Catat bila terjadi bradicardia atau penurunan tekanan darah, atau


abnormalitas tekanan arteri sistemik yang rendah misalnya pucat, cyanosis
atau diaphoresis.

m. Monitor tanda dan gejala gagal nafas (rendahnya PaO2, peningkatan PCO2,
kelumpuhan otot pernafasan).

n. Monitor kadar glukosa darah dan tangani bila ada abnormalitas.

o. Monitor koagulasi dan complete blood count dengan WBC differential.

p. Monitor status cairan meliputi intake dan output.


q. Monitor fungsi ginjal (nilai BUN dan creatinin).

r. Lakukan pemasangan kateter urinaria.

s. Lakukan pemasangan NGT dan monitor residu lambung.

t. Atur posisi pasien untuk mengoptimalkan perfusi.

u. Berikan dukungan emosional kepada keluarga.

v. Berikan harapan yang realistic kepada keluarga

 NIC: shock management: cardiac

a. Auskultasi suara paru untuk menentukan adanya crackles dan suara


nafas tambahan lainnya.

b. Catat tanda dan gejala penurunan cardiac output.

c. Monitor gejala inadekuatnya perfusi arteri koronaria (misalnya


perubahan gelombang ST pada EKG atau angina).

d. Monitor nilai koagulasi (PT, PTT,fibrinogen, trombosit).

e. Pertahanankan keseimbangan cairan dengan memberikan cairan dan


diuretic.

f. Berikan obat inotropic positif atau kontraktilitas.

g. Tingkatkan preload yang optimal dengan memperbaiki kontraktilitas


ketika meminimalkan gagal jantung (memberikan nitrogliserin).

h. Tingkatkan penurunan afterload (memberikan vasodilator atau


intraaortic balloon pumping).

i. Tingkatkan perfusi arteri koronaria (dengan mempertahankan MAP >60


mmHg dan mengontrol takikardia)

 NIC: shock management: vasogenic

a. Lakukan perawatan luka untuk mencegah infeksi dan meningkatkan


penyembuhan.

b. Berikan antibiotic sesuai jadwal.

c. Berikan antihistamin sesuai instruksi.

d. Berikan epinefrin pada keadaan emergensi bila terjadi anafilaksis.


e. Berikan obat anti-inflammatory sesuai instruksi.

f. Hilangkan stimulus yang menyebabkan reaksi neurogenic.

g. Tangani hipertermia dengan obat antipiretik, mattress pendingin atau


sponge bath.

h. Cegah dan control menggigil dengan pemberian obat dan menutup


ekstremitas

 NIC: management shock : volume

a. Monitor tanda dan gejala adanya perdarahan yang persisten

b. Catat nilai Hb dan HT sebelum dan sesudah kehilangan darah

c. Berikan produk darah sesuai instruksi (platelet or fresh frozen plasma)

d. Cegah kehilangan darah dengan menekan sisi perdarahan

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare


berat dan muntah

 Tujuan atau criteria hasil:

Memperlihatkan status gizi: asupan makanan dan cairan, yang dibuktikan oleh
indicator sebagai berikut:

a. tidak adekuat

b. sedikit adekuat

c. cukup adekuat

d. adekuat

e. sangat adekuat

 Intervensi :

1. Pengkajian

a. Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan.

b. Pantau nilai laboratotium, khususnya transferin, albumin, dan elektrolit

2. Manajemen nutrisi:
a. Ketahui makanan kesukaan pasien

b. Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

c. Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan

d. Timbang pasien pada interval yang tepat

3. Penyuluhan untuk pasien/keluarga

a. Ajarkan metode untuk perencanaan makan

b. Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang berizi dan tidak
mahal

4. Manajemen nutrisi:

Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana


memenuhinya

5. Aktivitas kolaboratif

a. Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein


pasien yang mengalami ketidakadekuatak asupan protein.

b. Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan, makanan


lengkap, pemberian makanan melaui selang, atau nutrisi parenteral total
agar asupan kalori yang adekuat dapat dipertahankan.

c. Rujuk kedokter untuk menentukan penyebab gangguan nutrisi.

d. Rujuk ke program gizi dikomunitas yang tepat jika pasien tidak dapat
memenuhi asupan nutrisiyang adekuat.

e. Manajemen nutrisi; tentukan dengan melakukan kolaborasi dengan ahli


gizi jika diperlukan jumlah kalori, dan jenis zat gizi yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya air, NaCl, kalium dan
bikarbonat

 NOC:

Fluid balance

Hydration
Nutritional Status: Food and Fluid Intake

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama defisit volume cairan teratasi


dengan kriteria hasil:

a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine


normal.

b. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal

c. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan

d. Orientasi terhadap waktu dan tempat baik

e. Jumlah dan irama pernapasan dalam batas normal

f. Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas normal

g. pH urin dalam batas normal

h. Intake oral dan intravena adekuat

 NIC :

a. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

b. Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,


tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan

c. Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt ,
osmolalitas urin, albumin, total protein )

d. Monitor vital sign setiap 15menit – 1 jam

e. Kolaborasi pemberian cairan IV

f. Monitor status nutrisi

g. Berikan cairan oral

h. Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 – 100cc/jam)

i. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan

j. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk

k. Atur kemungkinan tranfusi


l. Persiapan untuk tranfusi

m. Pasang kateter jika perlu

n. Monitor intake dan urin output setiap 8 jam

5. Hipotermi berhubungan dengan kegagalan sirkulasi darah

 Kriteria Hasil:

a. Suhu tubuh dalam rentang normal

b. Nadi dan RR dalam rentang normal

 NIC :

Temperature regulation

a. Monitor suhu minimal tiap 2 jam

b. Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu

c. Monitor TD, nadi, dan RR

d. Monitor warna dan suhu kulit

e. Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi

f. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

g. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh

h. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas

i. Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek


negatif dari kedinginan

j. Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan


emergency yang diperlukan

k. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukan

l. Berikan anti piretik jika perlu

Vital sign Monitoring

a. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR

b. Catat adanya fluktuasi tekanan darah


c. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri

d. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan

e. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas

f. Monitor kualitas dari nadi

g. Monitor frekuensi dan irama pernapasan

h. Monitor suara paru

i. Monitor pola pernapasan abnormal

j. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit

k. Monitor sianosis perifer

l. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi,


peningkatan sistolik)

m. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kolera adalah suatu penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan yang disebabkan
oleh kelompok enterotoksin yang dihasilkan oleh vibrio Kolera yang ditandai dengan diare cair
ringan, diare cair berat dengan muntah yang dengan cepat dapat menimbulkan syok hipovolemik,
asidosis metabolik dan tidak jarang menimbulkan kematian. Penyebab kolera adalah bakteri
bernama Vibrio cholerae. Bakteri kolera memproduksi CTX atau racun berpotensi kuat di usus
kecil. Dinding usus yang ditempeli CTX akan mengganggu aliran mineral sodium dan klorida
hingga akhirnya menyebabkan tubuh mengeluarkan air dalam jumlah besar (diare) dan berakibat
kepada kekurangan elektrolit dan cairan. Penularan biasanya melalui feses si penderita, bias juga
makanan yang terkontaminasi oleh bakteri kolera. Gejalanya seperti diare yang sangat encer,
tinja seperti air cucian beras yang berbau busuk, terjadi muntah setelah diare, kejang otot perut
dan dehidrasi. Untuk pencegahan biasanya dilakukan pemberian vaksin. Sedangkan untuk
pemberantasan dilakukan tindakan pencegahan terlebih dahulu seperti pemberian vaksin, dan
melakukan pengawasan terhadap penderita, kontak atau lingkungan sekitarnya.

4.2 Saran

Diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang penyakit kolera dan


penyakit menular lainnya. Diharapkan masyarakat hendaknya selalu melakukan hidup bersih,
melakukan sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feces) pada
tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak
terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik,cuci
sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah.
DAFTAR PUSTAKA

Amin huda Nurarif, H. K. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis dan
NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: MediAction.

Haryono. (2012). Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta: Gosyen


Publisher.

Judith M. Wilkinson, N. R. (2014). Buku Saku Diagnosa Keperawatan NANDA NIC NOC.
Jakarta: EGC.

M, B. T. (2013). Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi Perawat Profesional. Jakarta:


Prestasi Pustaka Publisher.

Mubarak, C. (2008). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.

Sudoyo, d. (2010). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: InternaPublishing.

Tarwoto, W. (2011). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keoerawatan. Jakarta: Salemba
Medika.