Anda di halaman 1dari 26

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persiapan Unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)


Sebelum melakukan percobaan/ running pada unit IPAL yang terdapat di Laboratorium
Pengolahan Limbah Industri (PLI), langkah yang terlebih dahulu dilakukan yaitu melakukan
pengecekan terhadap sarana pendukung yang ada dalam unit IPAL yang akan
digunakan.Pengecekan meliputi sistem perpipaan, kebocoran dalam unit/tangki maupun
sistem perpipaannya, sistem kelistrikan, pengukuran dimensi tangki dan instrumen
pendukung (flow meter), dan kalibrasi pompa. Gambar 4.1 memperlihatkan unit-unit IPAL
yang ada di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri.

Gambar 4.1 Unit-unit dalam IPAL

4.1.1 Rancang Ulang dan Pembuatan PFD (Process Flow Diagram) IPAL
Selain pengecekan terhadap fasilitas pendukung yang ada pada IPAL, pada tahap
persiapan perlu memahami Process Flow Diagram (PFD) pada dokumen IPAL yang
disediakan oleh perancang IPAL. Namun setelah dipelajari PFD IPAL yang tersedia tidak
mewakili secara detail mengenai aliran yang ada pada IPAL sesungguhnya dan tidak
memberikan data yang lengkap mengenai letak valve, flow meter, maupun titik-titik
pengambilan sampel. Hal ini akan menghambat operasi alat tersebut pada saat digunakan .

33
34

Dalam penelitian ini, proses pengolahan di titik beratkan pada proses pengolahan secara
kimia, yaitu pada proses pengolahan koagulasi dan flokulasi, yang dilengkpi dengan unit
ekualisasi, unit metralisasi, tangki asam basa, tangki koagulan dan flokulan, beserta dosing
pump nya, dan unit sedimentasi.
Untuk menyempurnakan PFD agar sesuai dengan keadaan sebenarnya maka dilakukan
pengamatan terhadap unit pengolahan koagulasi dan flokulasi dan pelengkapnya. Pengamatan
dilakukan dengan mengoperasikan unit unit tersebut menggunakan air kran untuk melihat
alur sistem perpipaan dan berfungsi atau tidaknya katup/ valve yang ada, serta flow meter,
dan pompa.
Berdasarkan hasil pengamatan aliran air limbah dimulai dari tangki yang digunakan
sebagai tangki penampung awal. Tujuan ditempatkannya tangki ekualisasi dalam IPAL
adalah sebagai penyetara debit aliran air limbah untuk proses selanjutnya. Namun dalam
penelitian ini, tangki ekualisasi digunakan sebagai tangki umpan air limbah sintetis. Tangki
tersebut dilengkapi dengan satu unit pompa dengan kapasitas 16 liter per menit. Pompa
tersebut dioperasikan melalui panel kontrol yang terdapat pada sisi kanan IPAL. Pompa pada
tangki ekualisasi di rencanakan untuk mengalirkan air baku menuju unit netralisasi, kemudian
unit Dissolved Air Flotation (DAF), dan sirkulasi pada tangki ekualisasi itu sendiri. Pada
penelitian ini, air baku langsung dialirkan menuju unit netralisasi tanpa melalui unit DAF.
Hal ini dilakukan karena air limbah sintetis yang digunakan tidak mengandung minyak
sehingga tidak diperlukan unit pengolahan DAF.
Perpipaan yang seharusnya sebagai aliran sirkulasi, difungsikan sebagai pengatur laju
alir pada aliran air baku menuju unit netralisasi, hal ini dilakukan karena beban aliran yang
menuju pompa, memiliki debit yang cukup besar sehingga akan menyebabkan terjadinya
peningkatan tekanan pada sistem perpipaan, yang berakibat trejadinya kebocoran pada sistem
perpiaan antara tangki ekualisasi dan unit netralisasi.
Sistem perpipaan yang menghubungkan antara tangki ekualisasi menuju unit
netralisasi tidak dilengkapi dengan flow meter, sehingga, diperlukan pemindahan flow meter
pada pipa sebelum masuk ke unit netralisasi. Unit netralisasi terhubung dengan unit koagulasi
yang dihubungkan dengan pipa sepanjang ± 20 cm dan diameter ½ inch. Aliran air baku akan
mengalir secara gravitasi tanpa bantuan pompa, sama halnya dengan penghubung antara unit
koagulasi dan unit flokulasi, dan antara unit koagulasi dan unit sedimentasi.
Air baku dari unit sedimentasi akan mengalir secara gravitasi menuju unit Sludge
Drying Bed (SDB) yang dilengkapi dengan titik pengambilan sampel yang terletak tidak jauh
dari unit sedimentasi. Titik pengambilan sampel pada keluaran unit sedimentasi juga

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
35

diguankan untuk mencegah terjadinya kavitasi. Kavitasi pada sistem perpipaan keluaran dari
unit sedimentasi akan menyebabkan terjadinya over flow pada tangki sedimentasi, dan secara
tidak langsung akan menyebabkan over flow juga pada unit flokulasi, unit koagulasi, dan unit
netralisasi. Hal ini disebabkan sistem perpipaan penghubung antara keempat unit tersebut
hanya mengandalkan aliran gravitasi tanpa instrumen pendukung seperti pompa.
Tangki-tangki bahan kimia seperti zat alkali sebagai pengatur pH, koagulan, dan flokulan
pada unit pengolahan secara kimia dilengkapi dengan dosing pump. Dosing pump
dioperasikan melalui panel kontrol dan pengaturan debitnya dapat diatur melalui tuas yang
terdapat pada bagian belakang pompa. Pompa yang digunakan sebagai dosing pump yaitu
pompa dengan jenis pompa peristaltik yang mampu mengalirkan cairan hingga debit 100 ml/
menit. Setiap tangki bahan kimia juga dilengkapi dengan pengaduk yang berfungsi sebagai
agitator agar bahan kimia tetap homogen. Seluruh tangki pada unit pengolahan kimia
dilengkapi juga dengan pipa drainase yang berfungsi untuk mengosongkan tangki jika
dilakukan proses maintenance atau cleaning. Aliran keluaran drainase dialirkan menuju
lingkungan (end of pipe). Hasil rancang ulang tersebut diperoleh PFD untuk proses
koagulasi flokulasi seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.2

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
36

Gambar 4.2 Process Flow Diagram (PFD) Unit Pengolahan Koagulasi dan Flokulasi

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
37

4.1.2 Pengecekan Kebocoran


Pengecekan kebocoran dilakukan terhadap beberapa tempat ,diantaranya kebocoran pada
tangki/ bak, kebocoran sistem perpipaan, kebocoran pada valve, dan kebocoran pada
sambungan-sambungan. Tujuan nya adalah untuk penyempurnaan operasi dan kelancaran
dalam bekerja. Kebocoran yang signifikan akan mengganggu pekerjaan karena IPAL terletak
didalam ruangan (indoor) sehingga kebersihan tempat kerja harus selalu dijaga.
Langkah yang digunakan adalah dengan cara mensimulasikan alat kerja, dengan cara
mengisi seluruh tangki menggunakan air dan mengoperasikan unit-unit yang akan dilakukan
penelitian. Pengisian bak/ tangki diawali dari pengisian tangki ekualisasi menggunakan air
kran dimana tangki tersebut akan digunakan sebagai tangki umpan air baku. Pada saat
pengisian tangki, terjadi kebocoran pada bagian sambungan tangki dengan mika sebagai
pemantau volume. Kebocoran terdeketeksi akibat adanya genangan pada bagian bawah
tangki.
Titik kebocoran ditelusuri secara visual, kemudian dilakukan pengosongan tangki untuk
proses perbaikan. Perbaikan kebocoran dilakukan dengan menggunakan lem silikon dan
didiamkan selama ± 2 jam untuk proses pengeringan, kemudian tangki kembali diisi hingga
batas level maksimum.
Pemilihan lem silikon sebagai penutup kebocoran dianggap efektif dan ekonomis karena
lem silikon mudah ditemukan di pasaran dan cepat kering. Namun kelemahan dari lem
silikon adalah pada saat penggunaannya, dimana permukaan yang akan ditujukan harus
sangat kering. Permukaan yang masih terdapat air akan menyebabkan lem silikon tidak dapat
merekat dengan baik, sehingga kebocoran akan tetap terjadi.
Pengecekan kebocoran sistem perpipaan, baik valve maupun pada sambungan-
sambungan, dilakukan dengan cara yang sama dengan mengalirkan air baik dengan maupun
tanpa menggunakan pompa. Pengecekan kebocoran pada sistem perpipaan dilakukan secara
visual. Kebocoran terjadi pada sambungan di bagian flow meter yang terdapat pada perpipaan
sebelum masuk ke unit netralisasi. Penutupan kebocoran dilakukan dengan membongkar
sistem perpipaan, kemudian dilakukan pengamatan terhadap sambungan. Kebocoran pada
bagian flow meter dideteksi dengan rusaknya drat pada sambungan ke pipa. Hal ini
disebabkan oleh pemasangan flow meter yang terlalu keras sehingga merusak drat akibat
gesekan.
Kerusakan drat diatasi dengan menutup kerusakan tersebut menggunakan seal tape,
kemudian flow meter kembali dipasang dan dilakukan pengujian dengan mengalirkan air
pada sistem perpipaan yang bersangkutan. Kebocoran kembali terjadi pada sambungan

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
38

perpipaan yang menghubungkan antara flow meter dengan perpipaan. Kebocoran ini
disebabkan oleh pemasangan elbow yang tidak sempurna, sehingga menyebabkan adanya
celah dan mengakibatkan kebocoran. Kebocoran diatasi dengan memberikan lem silikon pada
sambungan dengan tujuan menutup celah tersebut. mengalirkan air pada sistem perpipaan.

4.1.3 Pengecekan Sistem Kelistrikan


Sistem kelistrikan dalam IPAL merupakan hal terpenting dalam pengoperasiannya,
terlebih jika IPAL yang digunakan telah memiliki sistem automasi yang terintegrasi,
sehingga pengoperasian alat hanya dilakukan pada satu titik, meskipun bukan merupakan
sistem automasi.
Pengecekan pada sistem kelistrikan merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan
dalam mengoperasikan IPAL karena sistem kelistrikan merupakan penggerak dari alat-alat
yang terdapat dalam unit unitnya.. Pengecekan sistem kelistrikan dilakukan terhadap
beberapa aspek seperti sambungan-sambungan listrik, komponen-komponen pendukung, dan
pengaturan tekanan udara blower.
Terdapat beberapa kendala yang terjadi pada sistem kelistrikan. yaitu berkaitan dengan
sambungan listrik yang terdapat pada instrumen motor pengaduk unit koagulasi, dimana
sambungan tidak terpasang dengan baik sehingga menyebabkan adanya percikan api disekitar
sambungan tersebut. Hal ini perlu diperhatikan sebelum memulai operasi alat, karena
berkenaan dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Jika sambungan ini dibiarkan, maka kemungkinan akan terjadinya percikan api yang
lebih besar dan terjadinya kebakaran, meskipun daerah sekitar sambungan tidak terdapat
bahan mudah terbakar. Jika dibiarkan akan memungkinkan terjadinya kerusakan pada alat
yang bersangkutan. Kendala ini diatasi dengan memperbaiki sambungan antar komponen
dengan menggunakan timah cair sehingga sambungan kembali terpasang dengan baik.
Kendala ini tidak berkaitan dengan kondisi operasi pengolahan, namun berkontribusi pada
umur alat dan keselamatan kerja.
Kendala lain terjadi pada kapasitor dari motor pengaduk unit flokulasi, dimana pada
kapasitor terjadi hubungan arus pendek dalam rangkaiannya, sehingga menyebabkan motor
pengaduk tidak dapat bergerak dengan normal. Pada kondisi tersebut, kerja motor pengaduk
dipengaruhi oleh beban listrik yang tersedia, sehingga jika blower diaktifkan, motor
pengaduk tidak dapat aktif. Motor pengaduk hanya dapat aktif jika blower tidak diaktifkan.
Hal ini tidak dapat dibiarkan karena dalam pengoperasiannya, terdapat beberapa instrumen
yang harus dipastikan aktif agar proses pengolahan dapat berjalan sesuai dengan rancangan.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
39

Hal tersebut disebabkan kapasitor sudah tidak berfungsi dengan baik , sehingga memerlukan
komponen dengan komponen yang baru. Setelah dilakukan penggantian dengan komponen
yang baru, sehingga motor pengaduk dapat kembali bekerja dengan baik.
Blower digunakan sebagai pengaduk (air agitator) pada tangki umpan yang ditujukan
untuk menjadikan air baku tetap homogen. Tekanan udara blower diatur berdasarkan suplai
daya masuk yang diberikan pada blower, sehimgga tekanan udara tidak diperkenankan terlalu
tinggi karena daya yang dibutuhkan pun akan semakin tinggi. Daya yang terlalu tinggi
menyebabkan kelebihan muatan listrik, yang akan akan menyebabkan sistem pengaman
mematikan seluruh sistem kelistrikan untuk mengurangi kemungkinan kerusakan alat.
Berdasarkan pengamatan, daya yang mampu dijangkau sistem kelistrikan tidak lebih dari
nilai 25 dari alat pengatur daya blower. Penyetelan angka melebihi 25 akan menyebabkan
sistem kelistrikan mati secara otomatis karena kelebihan muatan listrik, sedangkan nilai
tekanan udara yang optimal untuk agitator air baku pada volume 60 liter di tangki ekualisasi
adalah pada nilai 15.
4.1.4 Kalibrasi Pompa
Kalibrasi pompa dilakukan untuk mengetahui laju alir yang sebenarnya dari pompa
tersebut. Kalibrasi penting dilakukan untuk menyempurnakan proses pengolahan, meskipun
sudah terdapat flow meter. Kalibrasi juga dilakukan untuk melakukan perhitungan agar
diperoleh hasil perhitungan yang lebih dekat dengan kondisi sebenarnya. Kalibrasi dilakukan
terhadap pompa air baku, dosing pump pada unit netralisasi, unit koagulasi dan pada unit
flokulasi.Kalibrasi pompa air baku dilakukan dengan menampung air keluaran pompa pada
variasi laju alir 1,0 LPM sampai dengan 2,5 LPM dengan rentang 0,5 LPM. Kalibrasi pompa
air baku dilakukan per menit kemudian dilihat volumenya per menit. Data proses kalibrasi
pompa air baku dapat dilihat pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Data Kalibrasi Pompa Air Baku
Laju Alir (LPM)
No
Pengaturan Aktual
1 0,5 0,48
2 1 0,97
3 1,5 1,52
4 2 1,98
5 2,5 2,54
6 3 3,01

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
40

Kalibrasi pada dosing pump dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui laju dosis
yang sebenarnya, kemudian digunakan untuk mengatur dosis bahan kimia yang sesuai dengan
kebutuhan. Dosing pump memiliki pengaturan laju dosis yang dimulai dari 10 ml/ menit
sampai dengan laju 100 ml/ menit dengan interval 10 ml/ menit. Kalibrasi dosing pump
dilakukan dengan menampung air keluaran pompa selama satu menit, kemudian dilihat
volumenya. Data kalibrasi dosing pump dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Data Kalibrasi Dosing Pump
Laju Alir (ml/ menit)
No
Pengaturan Aktual
1 10 14.625
2 20 29.75
3 30 39
4 40 46.5
5 50 51
6 60 61.25
7 70 70
8 80 84.75
9 90 92.25
10 100 98.5

Kalibrasi dosing pump hanya dilakukan terhadap satu unit, karena dosing pump pada unit
lain memiliki spesifikasi alat yang sama, sehingga dapat dianggap dosing pump tersebut
memiliki kinerja yang sama.

4.2 Persiapan Air Baku dan Bahan Kimia Pendukung


Persiapan air baku dan bahan kimia pendukung dilakukan untuk memastikan
pengoperasian alat dapat berjalan tanpa hambatan. Persiapan air baku dilakukan dengan
persiapan bahan-bahan yang dibutuhkan dan dengan menghitung kebutuhan rata-rata bahan
dari air baku yang akan digunakan selama pengoperasian alat berlangsung. Persiapan bahan-
bahan kimia pendukung dilakukan dengan menghitung kebutuhan banyaknya bahan kimia
yang dibutuhkan yatu kapur, koagulan, dan flokulan.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
41

4.2.1 Pembuatan Air Limbah Sintetis


Pembuatan air limbah sintetis dilakukan dengan pembuatan limbah dengan komposisi
bahan tertentu yang mendekati karakter limbah industri tahu, kemudian dilakukan pengujian
terhadap parameter-parameter pencemar yang menjadi variabel pada penelitian ini, yaitu
COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solids), kekeruhan, dan pH.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan air limbah sintetis pada penelitian ini
yaitu gula pasir, susu bubuk, dan bentonite. Gula pasir digunakan untuk mewakili nilai
parameter COD, karena gula pasir merupakan bahan organik.
Nilai parameter COD mewakili seluruh zat yang dapat diurai baik zat organik maupun
anorganik. Zat organik yang termasuk dalam BOD (Biochemical Oxygen Demand) akan
berkontribusi pada nilai COD, karena nilai COD juga mewakili nilai BOD, meskipun pada
penelitian ini, nilai parameter BOD tidak dijadikan sebagai variabel.
Susu bubuk digunakan sebagai penghasil kekeruhan dan ikut berkontribusi dalam
menghasilkan nilai TSS, meskipun susu merupakan koloid dengan ukuran ≤ 1 µm. Bentonite
digunakan dengan tujuan yang hampir sama dengan penggunaan susu bubuk, namun dengan
menggunakan bentonite akan dihasilkan ukuran partikel yang lebih besar sehingga akan
menghasilkan air limbah yang tersuspensi.
Bentonite yang dijual dipasaran tidak memiliki ukuran yang spesifik dan masih berupa
bubuk kasar yang memiliki ukuran tidak menentu, dalam pembuatan air limbah sintetis ini,
diperlukan bentonite dengan ukuran partikel yang tidak lebih besar dari 100 µm. Hal ini
didasarkan pada ukuran partikel pada padatan tersuspensi, dimana padatan tersupensi
memiliki ukuran partikel yang tidak lebih besar dari 100 µm. Dengan demikian, bentonite
yang diperoleh dari pasaran harus melalui treatment berupa pengayakan.
Pengayakan bentonite dilakukan dengan menggunakan alat sizing. Perlakuan pengayakan
pada bentonite dilakukan dengan memisahkan bentonite halus dengan bentonite kasar. Pada
alat sizing tersebut memiliki tray dengan ukuran paling kecil yaitu sebesar 45 µm atau 325
mesh. Pemilihan tray dnegan ukuran partikel terkecil dilakukan agar diperoleh partikel
bentonite dengan ukuran terkecil agar bentonite dapat tersuspensi sempurna dalam air limbah
sintetis dan memperlambat waktu pengendapan (settling time).
Pengayakan bentonite dilakukan pada ukuran 45 µm. Dari bentonite kasar sebanyak 1
kg, hanya diperoleh 98 gram bentonite dengan ukuran < 45 µm. Jika melihat kebutuhan
bentonite yang diperlukan untuk membuat air limbah sintetis, maka jumlah bentonite dengan
ukuran 45 µm tidak akan mencukupi kebutuhan bentonite selama penelitian, sehingga
dilakukan penambahan ukuran bentonite dengan ukuran partikel < 65 µm, agar kebutuhan

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
42

bentonite terpenuhi. Hal ini dilakukan karena ukuran tersebut masih termasuk dalam ukuran
partikel tersuspensi, dimana ukuran tersebut tidak lebih dari 100 µm.
Percobaan pertama pembuatan air limbah sintetis dilakukan dengan menambahkan gula
sebanyak 1000 mg dan bentonite sebanyak 309 mg dalam air kran sebanyak 1000 ml. Variasi
yang dilakukan terhadap jumlah bahan yang digunakan adalah dengan memvariasikan jumlah
susu bubuk, dimana dilakukan tiga variasi jumlah susu bubuk yaitu pada massa 100 mg, 200
mg, dan 300 mg.
Percobaan pembuatan air limbah sintetis ini kemudian dilakukan pengujian nilai COD
nya. Nilai COD terhadap tiga sampel air limbah, disajikan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Nilai COD pada Variasi Susu Bubuk Tahap 1
Komposisi (mg/l) COD
No
Gula Pasir Bentonite Susu Bubuk (mg O2/ l)
1 1000 309 100 1304
2 1000 309 200 1467
3 1000 309 300 1632

Untuk mencapai nilai COD sebesar 1600 mg O2/ l, komposisi susu bubuk sebanyak
200 mg, mendekati parameter COD yang diharapkan. Untuk memperoleh nilai yang lebih
mendekati, maka dilakukan variasi kembali terhadap komposisi susu bubuk. Percobaan
pembuatan limbah yang kedua dilakukan dengan memvariasikan komposisi susu bubuk
sebanyak tiga variasi, yaitu pada 270 mg, 280 mg, dan 291 mg. Data pengujian nilai COD
yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.4
Tabel 4.4 Nilai COD dan TSS pada Variasi Komposisi Susu Bubuk Tahap 2
Komposisi (mg/l) COD TSS
No
Gula Pasir Bentonite Susu Bubuk (mg O2/ l) (mg/ l)
1 1000 309 270 1484 288
2 1000 309 280 1501 287
3 1000 309 291 1603 292

Berdasarkan hasil percobaan pembuatan air limbah sintetis kedua, diperoleh nilai
COD sebesar 1603 mgO2 /l yang mendekati dengan kebutuhan yaitu dengan komposisi gula
pasir sebanyak 1000 mg, bentonite sebanyak 309 mg, dan susu bubuk sebanyak 291 mg.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
43

Pengujian yang dilakukan terhadap nilai TSS air limbah sintetis yang telah dibuat,
digunakan metode gravimetri. Konsentrasi bentonite yang digunakan yaitu 309 mg/l,
dimana nilai TSS yang diharapkan dari air limbah sintetis tersebut adalah 309 mg/l. Setelah
dilakukan pengujian terhadap nilai TSS, diperoleh nilai TSS sebesar 292 mg/l. Nilai TSS
tersebut sudah cukup mewakilkan nilai TSS yang diharapkan, yaitu sebesar 309 mg/l.
Parameter lain seperti kekeruhan dan pH juga dilakukan pengujian. diperoleh nilai kekeruhan
sebesar 68.68 NTU dan pH sebesar 6.
4.3 Penentuan Dosis Koagulan Optimum dengan Metode Jartest
Penentuan dosis koagulan optimum dilakukan dengan metode jartest, dimana sejumlah
sampel limbah dilakukan simulasi proses koagulasi dan flokulasi dalam alat jartest. Sejumlah
sampel limbah tersebut kemudian dilakukan proses pengendapan dalam kerucut imhoff untuk
mengetahui volume endapan yang terbentuk tiap waktu tertentu. Selain volume endapan yang
terbentuk, pengujian kekeruhan juga dilakukan untuk digunakan sebagai parameter
pembanding.
Proses ini diawali dengan membuat sampel limbah sebanyak 6 liter, kemudian limbah di
masukan ke dalam enam buah gelas kimia 1000 ml dengan volume air limbah masing-masing
gelas kimia sebanyak 1000 ml. pH air limbah sintetis yang telah dibuat menunjukkan nilai 6,
dimana nilai tersebut belum memenuhi kondisi optimum koagulan. Penggunaan koagulan
berupa tawas/ alum akan menurunkan pH air limbah, maka perlu dilakukan pengaturan pH
dengan menaikkan nilai pH. Untuk memperoleh nilai pH air limbah yang lebih basa, maka
dilakukan penambahan kapur. Penambahan kapur menaikkan nilai pH menjadi 8 dari nilai
pH sebelum penambahan kapur yaitu sebesar 6.
Hal selanjutnya yang dilakukan adalah menentukan variasi bahan kimia yang akan
digunakan. Variasi dosis tawas dengan enam buah variasi yaitu pada dosis 100,150, 200, 250,
300, dan 350 ppm, sedangkan dosis flokulan yang digunakan sebesar 30 ppm. Proses dimulai
dengan penambahan koagulan pada pengadukan cepat, yaitu pada kecepatan pengadukan 100
rpm selama 1 menit, kemudian dilakukan proses pengadukan lambat dengan menambahkan
flokulan berupa polyacrilamide pada kecepatan pengadukan 20 rpm selama 10 menit. Setelah
itu, air limbah yang telah terbentuk flok dimasukkan ke dalam kerucut imhoff dan dilakukan
pencatatan volume endapan dan nilai kekeruhan setiap waktu 10 menit. Berdasarkan hasil
percobaan, diperoleh data pengamatan proses koagulasi dan flokulasi dengan metode jartest
seperti pada Tabel 4.5 dan Tabel 4.6, Kurva hubungan volume endapan dengan waktu
diperlihatkan pada Gambar 4.3, sedangkan kekeruhan dengan waktu pada Gambar 4.4

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
44

Tabel 4.5 Data Pengamatan Volume Endapan Terhadap Dosis Koagulan

Dosis Volume Endapan (ml)


Koagulan t= t= t= t= t= t= t= t= t= t= t= t= t=
(ppm) 0 menit 10 menit 20 menit 30 menit 40 menit 50 menit 60 menit 70 menit 80 menit 90 menit 100 menit 110 menit 120 menit
100 0 4.75 4.5 4.5 4.5 4.5 4 4 3.75 3.75 3.75 3.75 3.5
150 0 10.5 10 9.75 9.75 9.5 9.5 9.5 9 9 9 8.75 8.5
200 0 12 11 10.5 10.5 10 9.5 9.5 9.6 9.6 9 9 8.75
250 0 27 20 18 16 14.5 13.5 13 13 12.5 12.5 13.5 13.5
300 0 32 25 20 18.6 17 17 16 16 16 15.5 15.5 15
350 0 32.5 26 20 17 16 13.5 12.5 12 11.5 11 11 11

Tabel 4.6 Data Pengamatan Nilai Kekeruhan Terhadap Dosis Koagulan

Dosis Kekeruhan (NTU)


Koagulan t= t= t= t= t= t= t= t= t= t= t= t= t=
(ppm) 0 menit 10 menit 20 menit 30 menit 40 menit 50 menit 60 menit 70 menit 80 menit 90 menit 100 menit 110 menit 120 menit
100 116.51 6.255 4.93 5.03 4.7 4.785 4.6 4.59 4.705 4.21 4.4 3.965 4.935
150 92.35 2.2 2.3 2.565 2.225 2.18 4.89 3.22 2.18 2.27 2.42 1.89 2.35
200 93.81 3.605 6.23 4.295 4.24 4.02 3.25 3.67 3.52 2.65 3.695 3.105 3.255
250 96.4 6.25 7.465 5.475 4.44 3.8 3.205 3.625 3.63 3.1 3.17 3.305 3.345
300 109.2 9.09 6.45 5 4.39 4.24 3.96 3.68 3.36 3.315 3.04 2.76 3.405
350 98.4 8.395 5.79 4.635 4.62 4.47 4.36 4.02 3.84 3.365 2.985 3.02 3.15

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
45

36
34
32
30
28
Volume Endapan (ml)

26
24
22 100 ppm
20 150 ppm
18
16 200 ppm
14 250 ppm
12
10 300 ppm
8
6 350 ppm
4
2
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
Waktu (menit)

Gambar 4.3 Kurva Hubungan Antara Volume Endapan dengan Waktu

9
8.5
8
7.5
7
6.5
Kekeruhan (NTU)

6
5.5 100
5 150
4.5
4 200
3.5 250
3
2.5 300
2 350
1.5
1
0.5
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
Waktu (menit)

Gambar 4.3 Kurva Hubungan Antara Kekeruhan dengan Waktu


Berdasarkan data hasil percobaan diatas, pada dosis koagulan sebesar 150 ppm
menunjukkan nilai tertinggi pada pembentukan endapan. Kecepatan pembentukan endapan
yang tinggi, akan mempengaruhi nilai kekeruhan, karena kekeruhan diakibatkan oleh adanya

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
46

padatan yang terdispersi dalam suatu cairan. Volume endapan berbanding lurus dengan nilai
kekeruhan, maka dosis koagulan dengan pembentukan flok terbaik dan nilai kekeruhan yang
rendah ditujukan pada dosis koagulan 150 ppm.

4.4 Penentuan Efisiensi Penurunan Nilai COD (Chemical Oxygen Demand) dan Nilai
TSS (Total Suspended Solids) dengan Variasi Laju Alir Air Baku
Efisiensi penurunan parameter COD dan TSS ditentukan dengan melihat penurunan
nilai tersebut setelah melalui pengolahan di unit pengolahan koagulasi flokuasi dan
sedimentasi untuk setiap variasi laju alir variasi laju alir yang telah ditentukan yaitu sebesar
1,0 LPM; 1,5 LPM; 2,0 LPM; dan 2,5 LPM.
4.4.1 Efisiensi Unit Pengolahan dengan Variasi Laju alir
Penentuan efisiensi pengolahan pada unit pengolahan koagulasi dan flokulasi sangat
penting dilakukan untuk mengetahui kinerja dari unit tersebut. Efisiensi pengolahan meliputi
efisiensi terhadap COD dan TSS. Penentuan efisiensi dilakukan dengan menghitung
penurunan nilai COD keluaran unit pengolahan koagulasi dan flokulasi dan sedimentasi
dengan nilai COD air limbah sebelum pengolahan koagulasi dan flokulasi, yaitu sebesar 3893
mg O2/l; nilai TSS sebesar 406 mg/l, dan nilai pH sebesar 8.
Menurut Degremont (1991) dalam Water Treatment Handbook: Sixth Edition,
efisiensi pengolahan pada unit pengolahan secara kimia terhadap COD mampu menurunkan
nilai COD sebesar 40% hingga 65% pada limbah kota, sementara efisiensi penurunan nilai
TSS yang dinyatakan oleh Burton, dkk (2003) dalam Metcalf & Eddy, Inc. Wastewater
Engineering: Fourth Edition menyebutkan, efisiensi unit pengolahan secara kimia mampu
menurunkan nilai TSS sebesar 80% hingga 90%. Variabel terikat pada penelitian ini adalah
efisiensi unit pengolahan koagulasi dan flokulasi, sedangkan laju alir sebagai variabel bebas.
Dengan adanya variabel bebas, maka diharapkan dapat menjelaskan pengaruh laju alir
terhadap efisiensi pengolahan pada unit pengolahan tersebut.
Pada saat percobaan/running IPAL,pada unit pengolahan koagulasi dan flokulasi,
dilakukan pengambilan sampel air limbah pada titik keluaran tangki sedimentasi. Sampel
diambil saat waktu operasi pengolahan sudah melewati waktu tinggal keseluruhan pada unit
pengolahan koagulasi dan flokulasi. Total volume tangki pada unit pengolahan koagulasi dan
flokulasi adalah 220 liter yang meliputi unit netralisasi dengan volume 40 liter, unit koagulasi
dengan volume 40 liter, unit flokulasi dengan volume 60 liter, tangki sedimentasi dengan
volume 80 liter. Waktu tinggal setiap unit pengolahan air baku dalam unit koagulasi, unit
flokulasi, dan tangki sedimentasi dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
47

Tabel 4.7 Waktu Tinggal Air Baku pada Setiap Unit Pengolahan
Laju alir Waktu Tinggal (menit)
No
(LPM) Unit Koagulasi Unit Flokulasi Tangki Sedimentasi
1 1,0 40 60 80
2 1,5 27 40 53
3 2,0 20 30 40
4 2,5 16 24 32

Waktu tinggal pada tangki flokulasi dan tangki sedimentasi mengikuti waktu tinggal
pada unit koagulasi. Hal tersebut dikarenakan proses pengolahan yang dilakukan adalah
dengan sistem kontinyu sehingga waktu tinggal pada unit flokulasi dan tangki sedimentasi
hanya dapat mengikuti waktu tinggal pada unit koagulasi, waktu tinggal pada unit flokulasi
dan tangki sedimentasi tidak dapat diatur satu-persatu. Waktu tinggal pada unit koagulasi dan
unit flokulasi tidak sesuai dengan literatur. Menurut Burton, dkk (2003) dalam Metcalf &
Eddy, Inc. Wastewater Engineering: Fourth Edition mengatakan bahwa, waktu tinggal pada
unit koagulasi yaitu antara 5 detik sampai dengan 30 detik, sedangkan pada unit flokulasi
yaitu antara 30 menit hingga 60 menit. Sementara waktu tinggal pada tangki sedimentasi
yaitu antara 2 jam sampai dengan 8 jam (Richards,1996). Waktu tinggal dapat mempengaruhi
proses pengolahan dalam unit pengolahan koagulasi dan flokulasi yaitu pada penurunan nilai
parameter pencemar. Dalam penelitian ini, menunjukan waktu tinggal mempengaruhi
penurunan nilai parameter pencemar. Pengaruh waktu tinggal terhadap penurunan nilai
parameter COD dan TSS dapat dilihat pada Gambar 4.5 dan Gambar 4.6.

450
400
350
300
TSS (mg/l)

250
200 Kondisi Awal
150 Setelah Pengolahan
100
50
0
1 1.5 2 2.5
Laju aliir (LPM)
Gambar 4.4 Diagram Hubungan Laju Alir Terhadap Nilai TSS

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
48

4500
COD Akhir (mg O2/l) 4000
3500
3000
2500
2000 Kondisi Awal
1500
Setelah Pengolahan
1000
500
0
1,0 LPM 1,5 LPM 2,0 LPM 2,5 LPM
Laju Alir Air Baku

Gambar 4.5 Diagram Hubungan Laju Alir Terhadap Nilai COD

Berdasarkan Gambar 4.4 menunjukan terjadinya penurunan TSS pada pengolahan


dengan proses koagulasi flokulasi.dan sedimentasi Selain mengurangi kandungan koloid
yang menyebabkan kekeruhan pada limbah, proses koagulasi flokulasi juga dapat
mengurangi jumlah TSS pada limbah. Penurunan nilai TSS dapat disebabkan oleh terjadinya
kontak antara suspended solid dengan koagulan dan membentuk flok yang lebih
besar,sehingga bentonit yang digunakan akan ikut mengendap pada proses koagulasi floku
lasi.
Berdasarkan data tersebut, dapat dijelaskan semakin besar laju alir atau semakin kecil
waktu tinggal maka penurunan nilai TSS akan semakin kecil. Penurunan TSS pada
pengolahan menggunakan unit koagulasi flokulasi cukup tinggi. Nilai TSS tertinggi terjadi
pada laju alir 1 l/m dengan nilai sebesar 8.25 mg/l dengan nilai awal sebesar 130.3 mg/l.
Berdasarkan Gambar 4.6, pada laju alir 1,0 LPM yang memilki waktu tinggal 180
menit mampu menurunkan nilai COD menjadi 453,43 mg O2/l, sedangkan dengan laju alir
1,5 LPM, 2,0 LPM dan 2,5 LPM, dengan waktu tinggal masing-masing 120 menit, 90 menit,
dan 72 menit mampu menurunkan nilai COD setelah pengolahan menjadi 1099,2 mg O2/l,
1511,4 mg O2/l, dan 1923,6 mg O2/l. Hal ini menunjukan laju alir yang semakin besar dan
waktu tinggal yang semakin cepat, maka penurunan nilai COD pada limbah akan semakin
kecil. Nilai COD yang digunakan pada kondisi awal adalah nilai COD setelah proses
netralisasi, nilai COD tersebut adalah nilai yang akan masuk pada proses pengolahan
koagulasi dan flokulasi. Penurunan COD disebabkan oleh terjadinya pengikatan zat organik
pada flok yang terbentuk pada saat proses pengikatan koagualan dengan koloid dan bentonit.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
49

Proses netralisasi dilakukan karena air limbah sintetis yang digunakan memiliki pH 6.
Ketika dilakukan proses koagulasi, dilakukan penambahan koagulan alum, terjadi penurunan
pH limbah menjadi 4, sedangkan pH optimum air limbah pada penggunaan koagulan alum
adalah antara 5-8 (Richards, 1996). Dengan pH limbah yang rendah maka dilakukan
penambahan kapur (CaO) untuk mengondisikan pH air limbah agar sesuai dengan kondisi
operasi. Pengaruh penambahan kapur pada air limbah menyebabkan terjadi peningkatan nilai
COD Peningkatan nilai parameter COD dan TSS dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Peningkatan Nilai Parameter COD dan TSS Akibat Penambahan Kapur
Parameter Nilai Paremeter Pencemar
No
Pencemar Sebelum Penambahan Kapur Sesudah Penambahan Kapur
1 COD 1603 mg O2/l 3893 mg O2/l
2 TSS 292 mg/l 406 mg/l
3 pH 6 8
4 Kekeruhan 68,68 NTU 130,3 NTU

Pada proses netralisasi air limbah, terjadi peningkatan nilai pH setelah penambahan
kapur sebesar 180 mg/l, sehingga nilai pH air baku menjadi 8. Pada aliran keluaran proses
koagulasi, dilakukan pengujian nilai pH operasi pada unit koagulasi dan diperoleh nilai pH
sebesar 6. Nilai pH tersebut telah sesuai dengan pH operasi optimum pada proses koagulasi
berdasarkan teori.
Dari Tabel 4.8, dapat dijelaskan, dengan adanya penambahan kapur, selain dapat
meningkatkan nilai pH, juga dapat menyebabkan bertambahnya nilai COD, TSS, dan
kekeruhan pada air limnah. Hal ini akan mempengaruhi efisiensi pengolahan. Nilai efisiensi
pengolahan terhadap nilai COD dan TSS pada variasi laju alir dapat dilihat pada Gambar
4.6 dan Gambar 4.7.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
50

100
95
Efisiensi (%)

90
85
80
75
70
1 1.5 2 2.5
Laju Alir (LPM)

Gambar 4.6 Efisiensi Pengolahan Terhadap TSS

100

80
Effisiensi (%)

60

40

20

0
1 1.5 2 2.5
COD (mg/l)

Gambar 4.7 Efisiensi Pengolahan Terhadap Nilai COD

Berdasarkan Tabel 4.6, laju alir yang paling baik adalah pada laju alir sebesar 1,0 LPM
dengan effisiensi pengolahan COD sebesar 88,3% dan terhadap TSS sebesar 97.9%. Jika di
bandingkan dengan literatur, maka dapat dilihat bahwa nilai efisiensi pada percobaan ini
memiliki efisiensi yang cukup tinggi. Nilai efisiensi pengolahan yang tinggi tersebut dapat
disebabkan oleh karakteristik air limbah sintetis yang digunakan memiliki karakteristik yang
mudah mengendap. Hal ini dikarenakan air limbah sintetis yang dibuat menggunakan
bentonit dengan ukuran 45 µm hingga 65 µm, dimana lempung atau bentonit memiliki waktu
pengendapan yang cepat yaitu 2 jam dengan kedalaman air 1 meter (Degremont, 1991).
Sedangkan dengan laju alir 2,5 LPM effisiensi pengolahan COD sebesar 50.5% dan terhadap
TSS sebesar 82.5 % , hal ini disebabkan karena waktu tinggal yang cepat. Waktu tinggal yang
cepat dapat mempengaruhi kontak antara koagulan dengan partikel koloid tersuspensi yang

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
51

ada pada air limbah, sehingga proses terjadinya reaksi lebih singkat dan menghasilkan flok
yang lebih sedikit.

4.4.2 Perbandingan dengan Kriteria Desain


Proses pengolahan koagulasi merupakan proses penambahan bahan kimia berupa
koagulan dengan pengadukan cepat, sedangkan flokulasi merupakan pengadukan lambat atau
agitasi ringan (light agitation) dengan tujuan mengumpulkan partikel yang tidak stabil dan
membentuk flok atau partikel yang lebih besar dari fine floc hasil pengendapan cepat
(Richards, 1996). Kriteria desain dari unit koagulasi (pengadukan cepat) dan unit flokulasi
(pengadukan lambat dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9 Kriteria Desain Unit Pengadukan Cepat dan Lambat
Unit Pengolahan Parameter Simbol Satuan Nilai
Pengadukan Velocity gradient G liter/ detik 500 - 2500
Cepat (Vertical- Rotational speed n rpm 24 - 45
Flow mixing) Ratio impeller diameter to D/Te 0,4 - 0,6
equivalent tank diameter
Flokulasi Velocity gradient G liter/ detik 100 - 500
(Pengadukan Rotational speed n rpm 10 - 30,
Lambat) Ratio impeller diameter to D/Te 0,35 - 0,45
equivalent tank diameter
(Sumber: Burton, dkk 2003)
Dalam penelitian ini motor pengaduk pada unit pengolahan koagulasi maupun pada
unit pengolahan flokulasi memiliki kecepatan pengadukan maksimum sebesar 48 rpm, nilai
tersebut mendekati kriteria desain yang digunakan Burton dkk (2003) dalam Metcalf & Eddy,
Inc. Wastewater Engineering: Fourth Edition. Tabel 4.10 menunjukan kriteria desain unit
pengolahan koagulasi dan flokulasi yang digunakan pada penelitian ini.
Tabel 4.10 Kriteria Desain Unit Pengolahan Koagulasi dan Flokulasi yang
Digunakan pada Penelitian
Unit Pengolahan Parameter Simbol Satuan Nilai
Pengadukan Cepat Velocity gradient G liter/ detik 258.53
(Vertical-Flow Rotational speed n rpm 45
mixing) Ratio impeller diameter to D/Te 0.16
equivalent tank diameter

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
52

Flokulasi Velocity gradient G liter/ detik 266.76


(Pengadukan Rotational speed n rpm 30
Lambat) Ratio impeller diameter to D/Te 0.21
equivalent tank diameter

Nilai velocity gradient dan ratio impeller diameter to equivalent tank diameter pada
unit pengolahan koagulasi dan flokulasi pada IPAL yang digunakan, berbeda dengan kriteria
desain pada literatur. Meskipun nilai velocity gradient dan ratio impeller diameter to
equivalent tank diameter unit koagulasi flokulasi pada IPAL berbeda dengan kriteria desain
pada literatur, namun efisiensi pengolahan pada unit koagulasi flokulasi pada IPAL cukup
baik. Metode pengadukan yang diguanakan pada penelitian ini adalah vertical-flow mixing,
dimana bahan kimia berupa koagulan dan flokulan dialirkan ke bagian bawah pengaduk.
Jenis impeller yang digunakan juga memiliki kesamaan dengan literatur pembanding, yaitu
impeller dengan jenis flat blade. Pada Gambar 4.8 a dan b menunjukan perbandingan antara
jenis impeller yang digunakan dengan literatur.

a) b)
Gambar 4.9 a) Impeller yang Digunakan dalam Unit Pengolahan Koagulasi dan
Flokulasi, b) Impeller Berdasarkan Kriteria Desain pada Literatur

4.5 Perubahan Nilai pH Air Limbah pada Proses Pengolahan Koagulasi dan Flokulasi
Proses pengolahan secara kimiawi mencakup proses netralisasi atau pengaturan pH,
proses koagulasi, proses flokulasi, dan proses sedimentasi. Keluaran air limbah hasil
pengolahan pada pengolahan secara kimia diharapkan mampu menurunkan nilai-nilai
parameter pencemar, diantaranya COD, BOD, TSS, dan Kekeruhan.
Dalam proses koagulasi, dimana air limbah dilakukan penambahan sejumlah bahan
kimia berupa koagulan, kadasr keasaman air limbah menjadi parameter penting yang perlu
diperhatikan. Umunya tiap koagulan memiliki rentang pH operasi yang berbeda-beda tiap
jenis koagulannya. Pada koagulan jenis alum atau tawas, pH operasi air limbah berada di

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
53

rentang pH 5 hingga 8 (Richards, 1996), artinya pada saat operasi koagulasi dilakukan, pH air
limbah harus masuk dalam rentang yang telah ditentukan. Jika air limbah memiliki pH yang
berada diluar rentang pH operasi yang ditentukan, maka proses koagulasi tidak dapat berjalan
dengan baik.
Dalam pengoperasian proses pengolahan kimia dalam penelitian ini, air limbah sintetis
yang telah dibuat berdasarkan karakteristik air limbah industri tahu, memiliki pH sebesar 6.
Untuk menentukan perlunya proses pengaturan pH air limbah, maka diperlukan pengujian
terlebih dahulu. Pengujian ini dapat dilakukan bersamaan dengan penentuan koagulan
optimum, dimana pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode jartest. Pada saat
melakukan proses penentuan koagulan optimum, air limbah sintetis yang telah dibuat
memiliki pH 4 setelah dilakukan penambahan koagulan berupa alum. Kondisi ini tidak
memenuhi persyaratan dalam melakukan proses koagulasi menggunakan koagulan berupa
tawas, karena nilai pH air limbah setelah dilakukan penambahan koagulan memiliki pH yang
berada diluar rentang pH yang telah ditentukan, yaitu dibawah rentang pH operasi. Dalam hal
ini, maka diperlukan proses pengaturan pH atau netralisasi, berupa peningkatan nilai pH.
Proses netralisasi yang dilakukan yaitu dengan melakukan penambahan bahan kimia
alkali berupa kapur (CaO). Penambahan alkali dimaksudkan untuk meningkatkan nilai pH,
agar pH air limbah sintetis dapat naik dan memenuhi rentang pH operasi yang telah
ditentukan. Pada percobaan yang telah dilakukan, penambahan koagulan berupa tawas dapat
menurunkan pH limbah sebesar 2. Untuk itu, maka air limbah sintetis perlu dilakukan
peningkatan nilai pH setidaknya 2 juga, sehingga nilai pH air limbah sintetis dapat mencapai
nilai pH 8. Dalam menentukan banyaknya jumlah kapur yang diperlukan untuk meningkatkan
nilai pH air limbah sintetis hingga mencapai pH 8, maka dilakukan pengujian dengan
memvariasikan jumlah kapur yang ditambahkan pada air limbah sintetis. Variasi jumlah
kapur dilakukan dengan melakukan enam variasi penambahan kapur. Variasi dilakukan pada
rentang 50 mg, 100 mg, 150 mg, 200 mg, 250 mg, dan 300 mg. Jumlah kapur tersebut
dilarutkan pada enam sampel air limbah sintetis dengan volume 1 liter. Perubahan nilai pH
pada pengujian ini dapat dilihat pada Tabel 4.11.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
54

Tabel 4.11 Perubahan Nilai pH Setelah Proses Netralisasi (1)


Jumlah Kapur dalam
No 1 Liter Air Limbah Sintetis pH
(mg)
1 50 6
2 100 7
3 150 7
4 200 8
5 250 8
6 300 9

Pada percobaan penambahan kapur yang telah dilakukan, nilai pH 8 ditunjukkan pada
penambahan kapur sebanyak 200 mg per satu liter air limbah. Nilai ini masih perlu dilakukan
percobaan untuk memperoleh jumlah penambahan kapur yang lebih mendekati. Hal ini
dilakukan untuk mendapatkan masa yang paling dekat untuk mendapatkan pH yang
diharapkan. Dengan pendekatan ini, maka penggunaan jumlah kapur dapat diminimalkan
agar tidak terjadi pemborosan penggunaan bahan.
Percobaan kedua dilakukan dengan memvariasikan jumlah kapur pada rentang 160
mg, 170 mg, 180 mg, dan 190 mg. Percobaan ini kembali dilakukan dengan cara yang sama,
yaitu dengan menambahkan sejumlah kapur pada sampel air limbah dengan volume 1 liter.
Percobaan kedua memperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4.12 Perubahan Nilai pH Setelah Proses Netralisasi (2)
Jumlah Kapur dalam
No 1 Liter Air Limbah Sintetis pH
(mg)
1 160 7
2 170 7
3 180 8
4 190 8

Pada percobaan kedua yang dilakukan, menyatakan bahwa nilai pH air limbah sintetis
menyentuh nilai pH 8, yaitu pada penambahan kapur sebanyak 180 mg dalam satu liter air
limbah sintetis. Maka dari itu, untuk mendapatkan pH operasi yang tepat dibutuhkan
penambahan kapur sebanyak 180 mg per liter air limbah.Setelah dilakukan penambahan

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
55

koagulan pada proses penentuan koagulan optimum dalam proses jartest, nilai pH air limbah
terjadi perubahan dari nilai pH 8 menjadi nilai pH 6. Dengan ini, nilai pH air limbah pada
proses koagulasi telah mencukupi untuk memenuhi rentang pH operasi koagulasi
menggunakan koagulan alum, yaitu dengan rentang pH operasi 5 hingga 8.
Pada pengoperasian unit pengolahan koagulasi dan flokulasi, air limbah yang telah
dilakukan pengaturan pH dengan penambahan kapur, dilakukan proses koagulasi dan
flokulasi. Untuk memastikan pH air limbah tetap dalam rentang pH operasi koagulasi dengan
koagulan alum, pengecekan nilai pH terhadap air limbah kembali dilakukan. Pengecekan
nilai pH air limbah dilakukan terhadap air limbah pada unit koagulasi, dimana air limbah
telah dilakukan penambahan koagulan. Dari hasil pengamatan, diperoleh nilai pH air limbah
pada unit koagulasi sebesar 6. Nilai ini tidak terdapat perbedaan dengan percobaan dengan
menggunakan metode jartest.
Berdasarkan hasil pengamatan pada proses pengolahan koagulasi dan flokulasi,
perubahan nilai pH air limbah dapat dilihat pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 Perubahan Nilai pH Air Limbah pada
Proses Pengolahan Koagulasi dan Flokulasi
Waktu Nilai pH
Kondisi Awal 6
Pengaturan pH 8
Proses Koagulasi - Flokulasi 6
Kondisi Akhir 6

4.6 Penentuan Efisiensi Penurunan Nilai Kekeruhan dengan Variasi Laju Alir Air Baku
Kekeruhan menjadi salah satu parameter pencemar dalam menentukan kualitas air.
Dalam air limbah, kekeruhan tidak selalu diartikan bahwa air limbah berbahaya. Meskipun
demikian, Menteri Lingkungan Hidup telah menetapkan baku mutu parameter kekeruhan,
baik pada air bersih layak guna maupun pada air limbah industri.
Pada penelitian ini, air limbah sintetis yang digunakan memiliki nilai kekeruhan
sebesar 130,3 NTU. Nilai kekeruhan ini diperoleh karena air limbah sintetis memiliki nilai
TSS yang cukup tinggi, dimana nilai TSS diperoleh dari penambahan bentonite sebegai
pembawa nilai TSS. Hal ini sejalan dengan teori yang disebutkan oleh Ghassan, dkk., (2012)
dalam jurnalnya yang berjudul “Relationship between Turbidity and Total Suspenses Solids
Concentration within A Combined Sewer System” yang mengatakan bahwa, nilai TSS
berbanding lurus dengan nilai kekeruhan dan bersifat linier.
Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
56

Proses pengolahan secara kimia yang mencakup proses koagulasi dan flokulasi
mampu menurunkan nilai kekeruhan. Hal ini dikarenakan dengan melalui proses koagulasi,
koloid akan terjadi destabilisasi yang menyebabkan tergumpalnya partikel dan terjadi proses
pengendapan. Pada proses inilah, zat pencemar yang menimbulkan nilai kekeruhan maupun
TSS akan direduksi, sehingga dihasilkan air pengolahan yang lebih jernih. Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan, air limbah sintetis yang memiliki nilai kekeruhan sebesar
130,3 NTU mengalami penurunan nilai kekeruhan sebagai hasil dari proses koagulasi dan
flokulasi. Berdasarkan pengamatan, diperoleh nilai kekeruhan sesudah pengolahan dengan
dilakukannya variasi laju alir air baku, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 4.9.

5
Kekeruhan (NTU)

4
3
2
1
0
1 1.5 2 2.5
Laju Alir (LPM)

Gambar 4.9. Nilai Kekeruhan Setelah Pengolahan Dengan Variasi Laju Alir
Berdasarkan pengamatan pada Gambar 4.9, terjadi penurunan nilai kekeruhan pada
proses koagulasi flokulasi dengan kekeruhan awal 130.3 NTU. Kekeruhan pada limbah yang
digunakan berasal dari serbuk susu dan bentonit. Kekeruhan dapat berkurang dikarenakan
adanya proses destabilisasi koloid dan bentonit yang mengendap pada proses koagulasi
flokulasi. Pengolahan dengan proses koagulasi dan flokulasi terhadap nilai kekeruhan dapat
ditentukan, dimana effisiensi penurunan kekeruhan paling tinggi terdapat pada laju alir 1
LPM yakni sebesar 97,5 % dengan nilai kekeruhan 3.21 NTU. Efisiensi penurunan nilai
kekeruhan pada proses pengolahan koagulasi dan flokulasi dapat dilihat pada Tabel 4.15.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
57

97.6
Effisiensi (%) 97.4
97.2
97
96.8
96.6
96.4
96.2
1 1.5 2 2.5
Laju Alir (l/m)

Tabel 4.15 Efisiensi Penurunan Nilai Kekeruhan Berdasarkan


Variasi Laju Alir Air Baku

Nurlina, dkk. (2015) menyebutkan bahwa, dengan koagulan optimum 100 ppm pada
limbah tahu mampu diperoleh effisiensi pengolahan terhadap parameter kekeruhan mencapai
sebesar 94,98%. Pendekatan dengan literatur tersebut dilakukan karena karakteristik dari
limbah dan dosis koagulan optimum yang digunakan memiliki kesamaan yang mendekati.
Berdasarkan data pengamatan, effisiensi pengolahan pada unit koagulasi flokulasi yang
digunakan memiliki nilai yang lebih besar jika dibandingkan dengan literatur. Hal tersebut
terjadi, dapat disebabkan oleh pengaruh bentonite yang mudah mengendap pada air limbah
sintetis yang digunakan.
4.7 Pembuatan SOP Proses Koagulasi dan Flokulasi
Pembuatan SOP (Standard Operating Procedure) dilakukan berdasarkan kegiatan penelitian
yang telah dilakukan terhadap unit pengolahan koagulasi dan flokulasi pada IPAL yang
berada di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri Politeknik Negeri Bandung.
4.7.1 Start Up
1) Aktifkan seluruh sistem kelistrikan dengan menggeser tuas pada MCB ke atas. Sistem
kelistrikan telah aktif dengan ditandai indikator lampu berwarna merah pada bagian
teratas panel listrik.
2) Lakukan kalibrasi terhadap dosing pump dengan menampung keluaran dosing pump
dalam waktu 1 menit. Aktifkan dosing pump melalui panel listrik dengan memutar
tuas ke kanan.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri
58

3) Lakukan kalibrasi terhadap equalizing pump dengan menampung keluaran equalizing


pump dalam waktu 1 menit. Aktifkan equalizing pump melalui panel listrik dengan
memutar tuas ke kanan.
4) Lakukan pengaturan kecepatan motor pengaduk pada unit netralisasi, koagulasi, dan
flokulasi dengan memutar tuas voltmeter yang terletak pada bagian atas motor
pengaduk. Gunakan bantuan tachometer untuk menyamakan kecepatan.
5) Kosongkan seluruh tangki sebelum memasukkan air baku.
4.7.2 Pengoperasian Pengolahan Koagulasi Flokulasi
1) Siapkan air limbah setidaknya 250 liter sebelum memulai proses pengolahan.
2) Siapkan seluruh bahan kimia pendukung seperti larutan kapur, koagulan, dan
flokulan.
3) Aktifkan equalizing pump untuk mengalirkan limbah dari tangki ekualisasi menuju
tangki netralisasi. Atur laju alir dengan mengatur bukaan valve.
4) Aktifkan dosing pump larutan kapur bersamaan dengan masuknya air baku ke tangki
netralisasi sesuai perhitungan.
5) Aktifkan dosing pump koagulanr bersamaan dengan masuknya air baku ke tangki
koagulasi sesuai perhitungan.
6) Aktifkan dosing pump flokulan bersamaan dengan masuknya air baku ke tangki
flokulasi sesuai perhitungan.
7) Buka valve keluaran air baku dari tangki sedimentasi yang berada diatas tangki SDB
(Sludge Drying Bed).
8) Aktifkan pompa SDB yang mengalirkan air dari tangki SDB menuju tangki aerasi.
9) Buka valve pembuangan pada tangki aerasi untuk membuang efluen.
4.7.3 Shut Down
1) Matikan seluruh instrumen seperti pompa dan motor pengaduk dengan memutar tuas
ke atas pada panel listrik.
2) Matikan seluruh sistem kelistrikan dengan menggeser tuas pada MCB ke arah bawah.
Indikator lampu berwarna merah akan mati, menandakan tidak terdapat aliran listrik
pada panel listrik.
3) Kosongkan seluruh bak/ tangki yang digunakan dengan membuka seluruh valve
pembuangan.
4) Lakukan pembilasan terhadap bak/ tangki yang digunakan agar tidak menimbulkan
kotoran di bagian dalam tangki.
5) Tutup kembali seluruh valve pembuangan.

Laporan Tugas Akhir Uji Kinerja Unit Koagulasi Dan Flokulasi Pada IPAL Skala Pilot Di
Laboratorium Pengolahan Limbah Industri