Anda di halaman 1dari 8

ERGONOMI DALAM KEDOKTERAN GIGI

Efek mengurangi faktor resiko tempat kerja akan terkait dengan keuntungan dari peningkatan
efisiensi, asepsis, keseimbangan operator, kontrol motorik halus, pencahayaan, visi dan faktor
psikologis.

Tujuan Khusus:

• Mencegah terjadinya muskuloskeletal yang berhubungan dengan pekerjaan.


gangguan, seperti tendonitis, nyeri pinggang, dan sindrom terowongan karpal, dengan
mendidik majikan dan karyawan tentang faktor risiko kerja yang menyebabkan atau
memperburuk merekat
• Mengurangi biaya yang berkaitan dengan cedera ergonomis, kerugian produksi, dan
awal pensiun
• Mendidik majikan dan karyawan tentang gangguan MSK terkait dengan pekerjaan
dan faktor-faktor risiko kerja yang dapat menyebabkan atau memperburuk mereka
• Memecahkan masalah khusus ergonomis hadir di daerah perawatan gigi dan kantor
depan Meningkatkan produktivitas melalui penerapan prinsip-prinsip ergonomi di
tempat kerja Mengembangkan dan melaksanakan evaluasi fungsional pra dan pasca
kerja yang efektif Mengurangi tingkat keparahan gangguan yang berhubungan dengan
pekerjaan MSK melalui manajemen medis awal

Ergonomi mengajarkan kita bagaimana bekerja dengan sikap kerja yang sehat. Itu adalah
duduk tegak dengan kepala ringan membungkuk dan menggantung longgar lengan bawah
tubuh di kursi tinggi sehingga tulang belakang memiliki lengkungan ke depan yang sama di
wilayah lumbalis seperti ketika berdiri. Namun, banyak dokter gigi tidak bekerja dengan cara
ini dan tidak menggunakan peralatan yang memadai. Konsekuensinya adalah bahwa pasien
tidak ditempatkan dalam posisi yang baik.

Jika Anda ingin mengadopsi sikap kerja yang benar, Anda harus menempatkan bidang
operasi Anda lurus di depan Anda dan posisi mulut pasien ke arah Anda, memungkinkan
Anda untuk melihat dengan benar ke mulut. Anda melakukannya dengan posisi pasien lebih
atau kurang dalam posisi telentang dan putar kepala ke arah Anda. Pada kenyataannya,
bidang kerja di mulut, menyebabkan postur tidak sehat.
Peralatan
Dokter gigi bekerja dengan, apa yang disebut, sistem manusia-mesin karena peralatan yang
dibutuhkan untuk melakukan perawatan. Jika peralatan ini telah dirancang dengan baik
instrumen dapat ditempatkan dalam jangkauan dan diambil dan kembali dengan cara alami.
Namun, hal ini sering tidak terjadi dan instrumen harus ditempatkan pada jarak yang harus
besar baik secara vertikal maupun horizontal sehingga keluhan lengan dan bahu. Selain itu,
banyak peralatan tidak cocok untuk dokter gigi tinggi. Ragam designis diperlukan untuk
penggunaan peralatan oleh dokter gigi pendek dan tinggi.

Dentist's chair
Masalah yang sama berlaku untuk kursi dokter gigi. Dokter gigi harus cukup mendukung
pantat dan panggul bagian atas, tetapi kursi yang paling sering tidak ergonomis dan karena itu
menyebabkan posisi duduk yang salah.

Penanganan instrumen
Penanganan instrumen juga merupakan bagian penting dari ergonomi. Banyak dokter gigi
terus instrumen mereka seperti pena biasa yang merupakan pegang melelahkan membutuhkan
banyak kekuatan. instrumen harus diselenggarakan dengan ujung tiga jari pertama (diubah
pegang pena) yang memungkinkan manipulasi yang lebih baik dan empat kali sebagai
pegangan banyak dibandingkan dengan pegang pena biasa.
http://dentistisme.blogspot.com/2010/07/ergonomi-dalam-kedokteran-gigi.html

FOUR HANDED DENTISTRY MERUPAKAN PRAKTEK 4 TANGAN DALAM


PRAKTEK KEDOKTERAN GIGI UNTUK MEMINIMALISIR TENGA DAN WAKTU
AGAR DAPAT MENGHASILKAN PELAYANAN DALAM PERAWATAN GIGI YANG
OPTIMAL. TERMASUK JUGA DI DALAMNYA CARA TRANSFER ALAT YANG
BENAR SESUAI DENGAN TATA CARA YANG TELAH DITENTUKAN DALAM
RANGKA MENGHASILKAN PERAWATAN KESEHATAN GIGI YANG
OPTIMAL.UNTUK ITU SANGATLAH PENTING BAGI PARA TENAGA KESEHATAN
GIGI BAIK ITU DOKTER MAUPUN DENTAL ASSISTANT MEMAHAMI DAN
MENGERTI BETAPA PENTING HAL INI.
Four Handed Dentistry pada praktek kedokteran gigi umum. Meliputi : filosofi posisi
kedudukan Four Handed Dentistry, persyaratan dasar opersional,pengaturan dan orginasasi
peralatan yang akan dipakai, kedudukan operator dan asisten dalam posisi arah jarum jam
selama perawatan kedokteran gigi, dasar kompetensi dalam pemeliharaan alat, hasil
pemeriksaan pasien dan rencana perawatan, persiapan menangani kebutuhan lokal anestesi,
dan lainnya.
Four Handed Dentistry termasuk juga bagaimana cara penggunaan dan pemeliharaan alat dan
bahan kedokteran gigi. Meliputi: peralatan yang digunakan untuk: diagnosa, perawatan
pengawetan gigi, pembersihan karang gigi, operasi bedah mulut, fissure sealant, ART, dan
pemeliharaan dan penyimpanan alat kedokteran gigi.

FOUR HANDED DENTISTRY juga suatu ilmu kedokteran gigi yang ditujukan untuk
memahami tentang bahan yang diperlukan untuk tindakan konservasi, Tindakan edodontik :
bahan pengisian saluran akar, ruber dam. Tindakan rehabilitatif : bahan cetak, bahan pengisi
cetakan, juga memahami bahan yang dipakai seseuai spesifikasi pabrik
(warna,konsistensi,masa kadaluwarsa). agar suatu tindakan perawatan gigi berjalan dengan
efektif dan efisien sehingga diprlukan juga suatu pemahaman tentang penggunaan bahan
yang tepat.

Desain tata letak (lay out design)dalam FOUR HANDED DENTISTRY adalah proses alokasi
ruangan, penataan ruangan dan peralatan sedemikian rupa sehingga pergerakan berlangsung
seminimal mungkin, seluruh luasan ruangan termanfaatkan, dan menciptakan rasa nyaman
kepada operator yang bekerja serta pasien yang menerima pelayanan
http://dentistisme.blogspot.com/2010/07/ergonomi-dalam-kedokteran-gigi.html

Ergonomik berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Ergon dan Nomos. Ergon memiliki arti kerja
dan Nomos memiliki arti hukum; jadi pengertian Ergonomik itu sendiri secara garis besar
adalah “Studi tentang manusia untuk menciptakan sistem kerja yang lebih sehat, aman dan
nyaman”. Seorang praktisi dibidang kesehatan khususnya kedokteran gigi harus memahami
tujuan mempelajari ergonomik karena dengan memahami tujuan ergonomik dalam
lingkungan kerja, praktisi kesehatan akan terhindar dari musculoskeletal disorders (MSDs),
tentu efek jangka panjangnya adalah praktisi dapat bekerja lebih lama tanpa mengganggu
produktifitas kerja praktisi dalam bekerja.
Tujuan umum dari ergonomik ini adalah:
Mengurangi resiko cedera
 Meningkatkan produktivitas kerja
 Meningkatkan kualitas hidup
Studi ergonomik sangat sulit sebab sangat banyak faktor yang dapat berperan untuk
terjadinya MSDs. Satu bagian penting adalah ketidak-pastian apakah MSDs berkaitan dengan
kerja atau bisa dihubungkan dengan unsur kerja (atau kombinasi dari kedua-duanya).
Kemungkinan jawaban dari pertanyaan diatas hanyalah bisa dijawab berdasarkan kasus
terjadinya. Pemahaman mengenai resiko ergonomik dapat memberikan rasa nyaman bagi
para praktisi saat bekerja yang tentunya dapat meningkatkan produktifitas bekerja.
Walaupun faktor penyebab kasus MSDs sangat sulit untuk ditentukan akan tetapi faktor
resiko memberikan ciri yang khas dan dapat dilihat dalam bidang studi ergonomik. Faktor
resiko tersebut meliputi:
1. Pengulangan gerakan yang terus menerus
2. Kekuatan (Force)
3. Mechanical stresses
4. Postur tubuh
5. Getaran
6. Temperatur
7. Tekanan yang disebabkan oleh keadaan luar
Hal ini adalah penting untuk memahami apakah suatu faktor resiko menjadi penyebab atau
bukan. Suatu faktor resiko tidaklah selalu menjadi suatu faktor penyebab dari MSDs. Karena
lamanya waktu tidaklah mudah untuk memperlihatkan suatu faktor resiko menjadi penyebab
MSDs akan tetapi derajat faktor resiko tersebutlah yang dapat menunjukkan MSDs. [6, 7]

Dengan cara yang sama, suatu kasus MSDs bisa dihubungkan dengan suatu faktor resiko
yang merupakan suatu kombinasi dari berbagai faktor resiko ataupun faktor tunggal. Evaluasi
menjadi hal utama dari berbagai kasus MSDs karena kemungkinan terjadinya faktor resiko
tersebut dapat terjadi diluar pekerjaan. Lebih lanjut, tidak setiap orang yang terkena faktor
resiko dapat berkembang menjadi MSDs. Maupun orang-orang yang sama-sama terkena
faktor resiko memiliki kombinasi dan derajat keparahan sama, belum tentu memiliki respon
reaksi yang sama. Meskipun demikian, faktor-faktor tersebut adalah faktor yang umum
terjadi pada suatu MSDs dalam beberapa kombinasi dan beberapa orang.
2.1. Pengulangan yang dilakukan terus menerus
Tingkat pengulangan digambarkan sebagai suatu rata-rata jumlah gerakan atau penggunaan
alat yang dilakukan oleh bagian tubuh secara berulang dalam satu unit waktu. [5] Gerakan
serupa yang berulang setelah jangka waktu tertentu dapat menyebabkan ketegangan yang
berlebih pada otot dan juga kelebihan penggunaan kelompok otot tertentu dapat mendorong
kearah kelelahan berotot. Hal yang menarik, gejala ini sering dihubungkan dengan tendon
dan kelompok otot yang melibatkan gerakan berulang, tetapi justru terjadi pada tendon
antagonis atau kelompok otot yang menstabilisasi posisi tersebut.[8] Terkadang dengan
bermacam-macam tugas, kelompok otot mempunyai periode aktivitas dengan periode
istirahat tertentu, hal seperti ini yang mungkin memberikan keuntungan untuk mengurangi
terjadinya kemungkinan cedera.
2.2 Kekuatan (Force)
Kekuatan adalah gaya mekanik atau fisik untuk memenuhi suatu gerakan spesifik. Sebagai
contoh, menggunakan tangan sebagai ganti suatu penjepit untuk memegang suatu obyek
selagi melakukan suatu pekerjaan seperti menempatkan suatu restorasi komposit
interproksimal. Jumlah kekuatan yang diperlukan oleh suatu aktivitas kadang-kadang dapat
berlebihan sehingga menyebabkan kelelahan otot.
2.3 Mechanical stresses
Mechanical stresses digambarkan sebagai cedera yang hebat akibat benda tajam, peralatan
atau instrumen ketika memegang, menyeimbangkan atau memanipulasi. Hal ini sering
ditemui ketika bekerja dengan lengan bawah atau pergelangan tangan berlawanan terhadap
tepi suatu meja. Otot dan tendon ditempatkan pada tepi meja kemudian ditekankan pada tepi
tajam meja tersebut. Menggunakan tangan sebagai palu untuk menutup suatu penutup juga
dapat menciptakan tekanan mekanik yang berlebihan, terutama jika penutup tersebut
memiliki tepi yang tajam.
2.4 Postur tubuh
Postur tubuh adalah posisi bagian dari tubuh yang berhubungan dengan suatu bagian tubuh
lain yang dihubungkan dengan sudut sambungan. Postur tubuh merupakan salah satu dari hal
yang paling sering dihubungkan dengan faktor resiko.
(a) (b)
Gambar 2.1 (a) dan (b) posisi saat bekerja yang tidak ergonomis
dapat menyebabkan MSDs.
Ada suatu zone pergerakan netral untuk tiap gerakan yang menghubungkan satu dengan yang
lain. Karena masing-masing dihubungkan oleh pergerakan yang tidak memerlukan kekuatan
dari otot atau dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Resiko cedera akan meningkat kapan
saja pada setiap orang saat bekerja apabila melakukan pergerakan di luar zona netral mereka
sehingga posisi tubuh tidak seimbang. Untuk lengan atas dan bahu zona netralnya adalah
santai dengan bahu sejajar lantai dan pada bidang yang sama, lengan berada disampingnya.
Bekerja dengan lengan jauh dari tubuh, overextended dan bahu yang bergerak diluar
jangkauan normal yang memerlukan kekuatan otot lebih tinggi dapat meningkatkan resiko
untuk terjadinya cedera. Selain itu, posisi duduk yang tegang, seperti miring kesamping,
memuntir tulang punggung, membengkok ke depan atau merosot merupakan awal respon dari
kompensasi faktor resiko dengan hubungan kerja yang dapat menjadi kebiasaan seiring
berjalannya waktu. Postur tubuh dan faktor-faktor memposisikan tubuh seperti memutar
batang tubuh, menaikkan posisi bahu, memutar/menengokkan kepala, mengangkat siku
lengan sering dihubungkan dengan peningkatan resiko gejala MSDs.
2.5 Getaran
Getaran merupakan salah satu faktor etiologi MSDs dilingkungan kerja, yaitu melalui
prnggunaan peralatan yang bergetar dengan frekwensi antara 20-80 Hz. Dental handpieces
dan instrumen-instrumen otomatis bertenaga mesin yang dioperasikan pada frekwensi lebih
dari 5.000-10.000 Hz dan jangka waktu penggunaannya dalam prosedur perawatan gigi
relatif singkat. Jadi dengan demikian, hal itu juga akan muncul menjadi faktor resiko di
dalam profesi dokter gigi yang relatif kecil. Tetapi aktifitas diluar pekerjaan dari seorang
praktisi dapat melibatkan faktor resiko ini. Sebagai contoh, jika diikuti oleh penggunaan dari
suatu gergaji mesin atau perkakas kayu aktif bertenaga mesin untuk periode waktu yang
lama.

Gambar 2.2 Dental Handpieces

2.6 Temperatur
Temperatur yang rendah dapat mengurangi keterampilan manual praktisi dan dapat
menyebabkan gejala nerve-end impairment. Temperatur harus diatur atau disesuaikan dengan
kenyamanan bekerja bagi praktisi dan kenyamana perawatan bagi pasiennya.
2.6 Tekanan yang disebabkan oleh keadaan luar
Tekanan yang disebabkan oleh keadaan luar, dapat digambarkan sebagai cara yang dilakukan
oleh suatu pekerjaan dengan tersusun, terawasi dan terproses. [4] Hal ini mencerminkan sifat
yang objektif dari proses pekerjaan. Mungkin termasuk didalamnya variabel-variabel seperti
variasi pekerjaan, kendali pekerjaan, beban kerja, tekanan waktu, dan batasan-batasan
keuangan. Pada proses manufacture, beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara
faktor tekanan yang disebabkan oleh keadaan luar dan tingginya insidensi MSDs. Beberapa
faktor yang memperentan seperti usia, rheumatoid arthritis, penyakit ginjal,
ketidakseimbangan hormonal, diabetes, hypothyroidism, adalah mekanisme-mekanisme
biologis yang mempengaruhi peningkatan kerusakan jaringan dan MSDs. Faktor-faktor lain
seperti berat/beban, dimensi pergelangan tangan, menunjukkan keterkaitan dengan adanya
bukti epidemiologis tetapi mekanismenya masih belum jelas. Meski demikian faktor-faktor
lain juga berpengaruh seperti genetika dan pengaruh keadaan umum. Sebagai tambahan, ada
sejumlah besar faktorfaktor resiko yang tidak bisa dipisahkan dari kegemaran-kegemaran dan
aktivitas lain seperti merajut, menyulam, bowling, penggunaan komputer, dan berlebihan
mengemudi.