Anda di halaman 1dari 5

Hubungan Antara Kondisi Geodinamik Dengan Pembentukan

Mineral di Indonesia
Penyebaran mineral ekonomis di Indonesia ini tidak merata. Seperti halnya penyebaran
batuan, penyebaran mineral ekonomis sangat dipengaruhi oleh tatanan geologi Indonesia
yang rumit. Berkenaan dengan hal tersebut, maka usaha-usaha penelusuran keberadaan
mineral ekonomis telah dilakukan oleh banyak orang. Mineral ekonomis adalah mineral
bahan galian dan energi yang mempunyai nilai ekonomis. Mineral logam yang termasuk
golongan ini adalah tembaga, besi, emas, perak, timah, nikel dan aluminium. Mineral non
logam yang termasuk golongan ini adalah fosfat, mika, belerang, fluorit, mangan. Mineral
industri adalah mineral bahan baku dan bahan penolong dalam industri, misalnya felspar,
ziolit, diatomea. Mineral energi adalah minyak, gas dan batubara atau bituminus lainnya.
Belakangan panas bumi dan uranium juga masuk dalam golongan ini walaupun cara
pembentukannya berbeda (Sudradjat, 1999).

Keberadaan Mineral Logam Pembentukan mineral logam sangat berhubungan dengan


aktivitas magmatisme dan vulkanisme, pada saat proses magmatisme akhir (late magmatism),
pada suhu sekitar 200ºC. Westerveld (1952) menerbitkan peta jalur kegiatan magmatik. Dari
peta tersebut dapat diperkirakan kemungkinan keterdapatan mineral logam dasar yang
pembentukannya berkaitan dengan kegiatan magmatik.

Carlile dan Mitchell (1994), berdasarkan data-data mutakhir Simanjuntak (1986), Sikumbang
(1990), Cameron (1980), Adimangga dan Trail (1980), memaparkan busur-busur magmatik
seluruh Indonesia sebagai dasar eksplorasi mineral. Teridentifikasikan 15 busur magmatik, 7
diantaranya membawa jebakan emas dan tembaga, dan 8 lainnya belum diketahui. Busur
yang menghasilkan jebakan mineral logam tersebut adalah busur magmatik Aceh,
Sumatera-Meratus, Sunda-Banda, Kalimantan Tengah, Sulawesi-Mindanau Timur,
Halmahera Tengah, Irian Jaya. Busur yang belum diketahui potensi sumberdaya
mineralnya adalah Paparan Sunda, Borneo Barat-laut, Talaud, Sumba-Timor, Moon-Utawa
dan dataran Utara Irian Jaya. Jebakan tersebut merupakan hasil mineralisasi utama yang
umumnya berupa porphyry copper-gold mineralization, skarn mineralization, high
sulphidation epithermal mineralization, gold-silver-barite-base metal mineralization, low
sulphidation epithermal mineralization dan sediment hosted mineralization.

Jebakan emas dapat terjadi di lingkungan batuan plutonik yang tererosi, ketika kegiatan fase
akhir magmatisme membawa larutan hidrotermal dan air tanah. Proses ini dikenal sebagai
proses epitermal, karena terjadi di daerah dangkal dan suhu rendah. Proses ini juga dapat
terjadi di lingkungan batuan vulkanik (volcanic hosted rock) maupun di batuan sedimen
(sedimen hosted rock), yang lebih dikenal dengan skarn. Contoh cukup baik atas skarn
terdapat di Erstberg (Sudradjat, 1999). Skarn Erstberg berupa roofpendant batugamping yang
diintrusi oleh granodiorit. Sebaran skarn dikontrol oleh oleh struktur geologi setempat.
Sebagai sebuah roofpendant, zona skarn bergradasi dari metasomatik contact sampai
metamorphic zone (Juharlan, 1993).

Konsep cebakan emas epitermal merupakan hal baru yang memberikan perubahan signifikan
pada potensi emas Indonesia. Cebakan yang terbentuk secara epitermal ini terdapat pada
kedalaman kurang dari 200 m, dan berasosiasi dengan batuan gunungapi muda berumur
kurang dari 70 juta tahun. Sebagian besar host rock merupakan batuan vulkanik, dan hanya
beberapa yang merupakan sediment hosted rock. Cebakan emas epitermal umumnya
terbentuk pada bekas-bekas kaldera dan daerah retakan akibat sistem patahan. Proses
mineralisasi dalam di lingkungan batuan vulkanik ini dikenal sebagai sistem porfiri
(porphyry). Contoh baik atas porfiri terdapat di kompleks Grasberg di Papua, dengan
mineralisasi utama bersifat disseminated sulfide dengan mineral bijih utama kalkopirit yang
banyak pada veinlet (MacDonald, 1994). Contoh lain terdapat di Pongkor dan Cikotok di
Jawa Barat, Batu Hijau di Sumbawa, dan Ratotok di Minahasa. Lingkungan lain adalah
kondisi gunungapi di daerah laut dangkal.

Air laut yang masuk ke dalam tubuh bumi berperan membawa larutan mineral ke permukaan
dan mengendapkannya. Contoh terbaik atas proses ini terjadi di Pulau Wetar, yang
menghasilkan mineral barit. Proses pengkayaan batuan karena pelapukan dikenal dengan
nama pengkayaan supergen. Batuan granitik yang lapuk akan menghasilkan mineral
pembawa aluminium, antara lain bauxit. Proses ini sangat berhubungan dengan keberadaan
jalur magmatik, berupa subduksi pada lempeng benua bersifat asam, sehingga menghasilkan
baruan bersifat asam. Contoh pelapukan granit ini antara lain terjadi di Kalimantan Barat,
Bangka, Belitung dan Bintan. Peridotit terbentuk di lingkungan lempeng samudera yang akan
kaya mineral berat besi, nikel, kromit, magnesium dan mangan. Keberadaannya di
permukaan disebabkan oleh lempeng benua Pasifik yang terangkat ke daratan oleh proses
obduksi dengan lempeng benua Eurasia, yang kemudian “disebarkan” oleh sesar Sorong
(Katili, 1980) sebagai pulau-pulau kecil di berada di kepulauan Maluku. Pelapukan akan
menguraikan batuan ultrabasa tersebut menjadi mineral terlarut dan tak terlarut. Air tanah
melarutkan karbonat, kobalt dan magnesium, serta membawa mineral besi, nikel, kobalt,
silikat dan magnesium silikat dalam bentuk koloid yang mengendap. Endapan kaya nikel dan
magnesium oksida disebut krisopas, dan cebakan nikel ini disebut saprolit. Proses pelapukan
peridotit akan menghasilkan saprolit, batuan yang kaya nikel. Pelapukan ini terjadi di
sebagian kepulauan Maluku, antara lain di pulau Gag, Buton dan Gebe (Sudrajat, 1999).

Keberadaan Minyak dan Gas Bumi Energi minyak dan gas bumi mempunyai peran yang
sangat strategis dalam berbagai kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pada umumnya
minyak bumi dewasa ini memiliki peran sekitar 80% dari total pasokan energi untuk
konsumsi kebutuhan energi di Indonesia. Dengan demikian peran minyak dan gas bumi
dalam peningkatan perolehan devisa negara masih sangat diperlukan.

Nayoan dkk. (1974) dalam Barber (1985) menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat
antara cekungan minyak bumi yang berkembang di berbagai tempat dengan elemen-elemen
tektonik yang ada. Cekungan-cekungan besar di wilayah Asia Tenggara merepresentasikan
kondisi setiap elemen tektonik yang ada, yaitu cekungan busur muka (forearc basin),
cekungan busur belakang (back-arc basin), cekungan intra kraton (intracratonic basin), dan
tepi kontinen (continent margin basin), dan zona tumbukan (collision zone basin).
Berdasarkan data terakhir yang dikumpulkan dari berbagai sumber, telah diketahui ada
sekitar 60 basin yang diprediksi mengandung cebakan migas yang cukup potensial. Di
antaranya basin Sumatera Utara, Sibolga, Sumatera Tengah, Bengkulu, Jawa Barat Utara,
Natuna Barat, Natuna Timur, Tarakan, Sawu, Asem-Asem, Banda, dll. Cekungan busur
belakang di timur Sumatera dan utara Jawa merupakan lapangan-lapangan minyak paling
poduktif. Pematangan minyak sangat didukung oleh adanya heat flow dari proses penurunan
cekungan dan pembebanan. Proses itu diperkuat oleh gaya-gaya kompresi telah menjadikan
berbagai batuan sedimen berumur Paleogen menjadi perangkap struktur sebagai tempat
akumulasi hidrokarbon (Barber, 1985).
Secara lebih rinci, perkembangan sistem cekungan dan perangkap minyak bumi yang
terbentuk sangat dipengaruhi oleh tatanan struktur geologi lokal. Sebagai contoh, struktur
pull apart basin menentukan perkembangan sistem cekungan Sumatera Utara (Davies, 1984).
Perulangan gaya kompresif dan ekstensional dari proses peregangan berarah utara-selatan
mempengaruhi pola pembentukan antiklinorium dan cekungan Palembang yang berarah
N300ºE (Pulunggono, 1986). Demikian pula pola sebaran cekungan Laut Jawa sebelah
selatan sangat dipengaruhi oleh pola struktur berarah timur-barat (Brandsen & Mattew,
1992), sedang pola cekungan di Laut Jawa bagian barat-laut berarah berarah timur-laut –
baratdaya, sedang pola cekungan di timur-laut berarah barat-laut–tenggara.

Cekungan Kutai dan Tarakan merupakan cekungan intra kraton (intracratonic basin) di
Indonesia. Pembentukan cekungan terjadi selama Neogen ketika terjadi proses penurunan
cekungan dan sedimentasi yang bersifat transgresif, dan dilanjutkan bersifat regresif di
Miosen Tengah (Barber, 1985). Pola-pola ini menjadikan pembentukan delta berjalan
efektif sebagai pembentuk perangkap minyak bumi maupun batubara.
Zona tumbukan (collision zone), tempat endapan-endapan kontinen bertumbukan dengan
kompleks subduksi, merupakan tempat prospektif minyak bumi. Cekungan Bula, Seram,
Bituni dan Salawati di sekitar Kepala burung Papua, cekungan lengan timur Sulawesi,
serta Buton, merupakan cekungan yang masuk dalam kategori ini. (Barber, 1985).
Keberadaan endapan aspal di Buton berasosiasi dengan zona tumbukan antara mikro
kontinen Tukang Besi dengan lengan timur-laut Sulawesi, dengan Banggai Sula sebagai
kompleks ofiolit (Barber, 1985; Sartono, 1999). Kehadiran minyak di Papua berasosiasi
dengan lipatan dan patahan Lenguru, yang merupakan tumbukan mikro kontinen Papua
Barat dengan tepi benua Australia (Barber, 1985). Sumber dan reservoar hidrokarbon
terperangkap struktur di bagian bawah foot-wall sesar normal serta di bagian bawah hanging-
wall sesar sungkup (Simanjuntak dkk, 1994).

Keberadaan Batubara dan Bituminus Parameter yang mengendalikan pembentukan


batubara adalah (1) sumber vegetasi, (2) posisi muka air tanah (3) penurunan yang
terjadi bersamaan dengan pengendapan, (4) penurunan yang terjadi setelah pengendapan,
(5) kendali lingkungan geotektonik endapan batubara dan (6) lingkungan pengendapan
terbentuknya batubara. Batubara lazim terbentuk di lingkungan (1) dataran sungai
teranyam, (2) lembah aluvial, (3) dataran delta, (4) pantai berpenghalang dan (5) estuaria
(Diessel, 1992). Batubara di Indonesia umumnya menyebar tidak merata, 60% terletak di
Sumatera Selatan dan 30% di Kalimantan Timur dan Selatan. Sebagian besar batubara
terbentuk di lingkungan litoral, paralik dan delta, sedang beberapa terbentuk di
lingkungan cekungan antar pegunungan. Kualitas batubara umumnya berupa bituminous,
termasuk dalam steaming coal. Antrasit berkualitas rendah karena pemanasan oleh intrusi
ditemukan di Bukit Asam, Sumatera dan Kalimantan Timur sedang pematangan karena
tekanan tektonik terbentuk di Ombilin, Sumatera Barat (Sudradjat, 1999).

Urutan kualitas batubara cenderung menggambarkan umurnya. Selama ini batubara di


Indonesia dihasilkan oleh cekungan berumur Tersier. Gambut berumur Resen sampai
Paleosen, batubara sub-bituminus berumur Miosen dan batubara bituminus berumur Eosen.

Keberadaan Panasbumi Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki panas bumi
terbesar di dunia. Panasbumi sebagai energi alternatif tidak mempunyai potensi bahaya
seperti energi nuklir, serta dari sisi pencemaran jauh lebih rendah dari batubara. Keberadaan
lapangan panas bumi tersebut secara umum dikontrol oleh keberadaan sistem gunungapi.
Di Indonesia lapangan panasbumi tersebar di sepanjang jalur gunungapi yang
memperlihatkan kegiatan sejak Kwarter hingga saat ini. Jalur ini merentang dari ujung barat-
laut Sumatera sampai kepulau Nusatenggara, kemudian melengkung ke Maluku dan Sulawesi
Utara. Pada jalur memanjang sekitar 7.000 km, dengan lebar 50-200 km tersebut, terdapat
217 lokasi prospek, terdiri dari 70 lokasi prospek entalpi tinggi (t > 200ºC) dan selebihnya
entalpi menengah dan rendah. Lapangan prospek tersebut tersebar di Sumatera (31), Jawa-
Bali (22), Sulawesi (6), Nusatenggara (8) dan Maluku (3), dengan seluruh potensi mencapai
20.000 MWe, dengan total cadangan sekitar 9.100 Mwe.

Pengembangan geotermal di Indonesia saat ini dikonsentrasikan di Sumatera, Jawa-Bali dan


Sulawesi Utara. Hal ini dikarenakan kawasan tersebut telah memiliki infrastruktur yang
memadai serta memiliki pertumbuhan kebutuhan listrik yang tinggi. (Sudrajat, 1982:
Sudarman dkk., 1998)

Mineralisasi Busur Vulkanik Jawa: Sebuah Contoh Busur vulkanik Jawa merupakan bagian
dari busur vulkanik Sunda-Banda yang membentang dari Sumatera hingga Banda, sepanjang
3.700 km yang dikenal banyak mengandung endapan bijih logam (Carlile & Mitchell, 1994).
Batuan vulkanik hasil kegiatan gunungapi yang berumur Eosen hingga sekarang merupakan
penyusun utama pulau Jawa. Terbentuknya jalur gunungapi ini merupakan hasil dinamika
subduksi ke arah utara lempeng Samudera Hindia ke Lempeng Benua Eurasia (Katili, 1989)
yang berlangsung sejak jaman Eosen (Hall, 1999). Kerak kontinen yang membentuk tepi
benua aktif (active continent margin) mempengaruhi kegiatan vulkanisme Tersier Jawa
bagian barat, sedang kerak samudera yang membentuk busur kepulauan (island arc)
mempengarui kegiatan vulkanisme Tersier Jawa bagian timur (Carlile & Mitchell, 1994).
Jalur penyebaran gunungapi di Indonesia terdiri dari jalur gunungapi tua (Tersier) dan muda
(Kwarter), yang sejajar dengan jalur penunjaman. Kegiatan vulkanisma Tersier terjadi dalam
dua perioda, yaitu perioda Eosen Akhir – Miosen Awal yang sebagian besar berafinitas
toleitik dan perioda Miosen Akhir – Pliosen yang sebagian besar berafinitas alkali kapur K
tinggi (Soeria-Atmadja dkk, 1991) beberapa batuan berafinitas shosonitik terdapat di Pacitan
dan Jatiluhur (Sutanto, 1993). Berdasarkan pentarikhan umur dengan menggunakan metoda
K/Ar, batuan volkanik Tersier tertua terdapat di Pacitan dengan umur 42,7, juta tahun, sedang
termuda terdapat di Bayah dengan umur 2,65 juta tahun (Soeria-Atmadja, 1991). Kegiatan
vulkanisma umumnya menghasilkan komposisi batuan bersifat andesitik. Beberapa
singkapan batuan beku bersifat dasitik terdapat di beberapa tempat, misalnya intrusi dasit
Ciemas Jawa Barat dan granodiorit Meruberi Jawa Timur serta retas-retas basalt yang banyak
terdapat di Kulonprogo Yogyakarta dan Pacitan Jawa Timur (Soeria-Atmadja, 1991; Sutanto,
1993; Paripurno dan Sutarto, 1996). Pola ritmik initerjadi karena adanya perubahan sudut
penunjaman.

Sutanto (1993) mengelompokkan batuan vulkanik Jawa berdasarkan waktu terbentuknya,


yaitu batuan-batuan vulkanik yang terbentuk oleh (1) Eosen-Oligosen awal, (2) vulkanisme
Eosen-Miosen Akhir, (3) vulkanisme Eosen Akhir – Miosen Awal, (4) vulkanisme Miosen
Tengah – Pliosen, serta (5) vulkanisme Kwarter. Batuan-batuan volkanik Tersier di atas
dikenal sebagai batuan vulkanik kelompok Andesit Tua (van Bemmerlen, 1933), yang saat ini
lebih dikenal dengan nama Formasi Jampang, Formasi Cikotok dan Formasi Cimapag untuk
wilayah Jawa Barat; Formasi Gabo, Formasi Totogan, untuk wilayah Kebumen dan
sekitarnya; Formasi Kebo, Formasi Butak, Formasi Semilir, Formasi Nglanggran, Formasi
Semilir, untuk kawasan Gunungsewu dan sekitarnya; serta Formasi Kaligesing, Formasi
Dukuh, Formasi Giripurwo untuk wilayah Kulonprogo dan sekitarnya; serta di Jawa Timur
dikenal dengan nama Formasi Besole, Formasi Mandalika dan Fomasi Arjosari. Proses
hidrotermal di Jawa yang terdapat mulai dari Pongkor Jawa Barat sampai Sukamade Jawa
Timur.

Sebagian besar cebakan merupakan tipe low sulphidation epithermal mineralization. Tipe lain
berupa volcanogenic massive sulphide mineralization, misalnya terdapat di Cibuniasih;
sedang tipe veins assosiated with porphyry system misalnya terdapat di Ciomas, dan
sediment hosted mineralization hanya terdapat di beberapa tempat, misalnya di Cikotok.

Secara umum cadangan yang terdapat di Jawa bagian barat lebih besar dibanding yang
terdapat di Jawa bagian timur. Cadangan terbesar di Jawa bagian barat terdapat di Pongkor
dengan kadar rata-rata 17,4 (Sumanagara dan Sinambela, 1991) dan jumlah cadangan lebih
dari 98 ton Au dan 1.026 Ag (Milesi dkk, 1999).

Vulkanisme yang terkait dengan mineralisasi umumnya menunjukkan umur yang relatif
muda, Miosen Tengah – Pliosen. Pentarikhan pada beberapa urat di Pongkor menunjukkan
umur 2,7 juta tahun, di Cirotan menujukkan umur 1,7 juta tahun, serta di Ciawitali
menujukkan umur 1,5 juta tahun. Di Cirotan urat-urat tersebut memotong ignimbrit riodasit
berumur 9,5 juta tahun yang diintrusi oleh mikrodiorit berumur 4,5 juta tahun (Milesi dkk.,
1994). Di Pongkor urat-urat tersebut berada pada lingkungan vulkanik kaldera purba yang
terdiri dari batuan tufa breksi, piroklastika dan lava bersusunan andesit-basalt yang diintrusi
oleh andesit, dasit dan basalt (Sumanagara dan Sinambela, 1991).