Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stres sering terjadi ketika seseorang mengalami tekanan atau frustasi

dalam kehidupannya. Dan jika seseorang tidak dapat mengatasi atau

,mengadaptasi stresnya maka dapat menimbulkan penyakit. Biasanya banyak

orang beranggapan stress merupakan keadaan yang tidak menyenangkan

karena dapat membuat seseorang marah, frustasi, terjadinya konflik, pusing,

bingung, resah, dan masih banyak lagi. Stress bisa melanda siapa saja, entah

itu orang dewasa, remaja maupun anak kecil sekalipun karena stress adalah

salah satu gejala psikologis. Menurut Selye stress adalah segala situasi dimana

tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk merespons atau

melakukan tindakan. Jadi, tidak seorang pun yang mampu menghilangkan

stress karena jika dihilangkan sama saja orang tersebut menghancurkan

hidupnya. Sebab stress tidak hanya menimbulkan masalah namun juga dapat

menjadi motivasi dalam menjalani kehidupan kita.

Untuk mempertahankan tubuh agar tetap seimbang ketika seseorang

mengalami stress perlu dilakukan adaptasi. Adaptasi sangatlah penting

diperlukan oleh tubuh dalam situasi seseorang mengalami tekanan karena

dengan mampunya beradaptasi tubuh akan tetap seimbang. Kemampuan

adaptif ini sebagai bentuk dinamik dari keseimbangan internal tubuh. Namun

setiap orang akan berbeda dalam prilaku adaptif ada yang dapat berjalan

dengan cepat tapi ada juga yang berjalan secara perlahan-lahan. Itu semua
2

tergantung dari kematangan mental orang tersebut. Adaptasi melibatkan

refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping dan

idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau penguasaan situasi (Selye,

1976, ; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992).

Selain saat kita mengalami stress harus mampu beradaptasi, kita juga perlu

meresponsnya. Riset klasik yang dilakukan oleh Selye (1946, 1976) telah

mengidentifikasi dua respons fisiologis terhadap stress, yaitu Sindrom

Adaptasi Lokal (LAS) dan Sindrom Adaptasi Umum (GAS). Respons

seseorang terhadap stress dapat berbeda-beda walaupun dihadapkan pada

masalah yang sama.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi stress dan adaptasi?

2. Apa saja sumber sumber dari stress dan adaptasi?

3. Apa saja macam - macam stress dan adaptasi?

4. Apa definisi Mekanisme Koping?

5. Apa saja Sumber dari mekanisme Koping?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui definisi stress dan adaptasi

2. Untuk mengetahui sumber sumber dari stress

3. Untuk mengetahui macam - macam stress dan adaptasi

4. Untuk mengetahui definisi Mekanisme Koping

5. Untuk mengetahui Sumber dari mekanisme Koping


3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Teori Stress dan Adaptasi Serta Mekanisme Koping Keluarga

1. Pengertian Stres

Beberapa pengertian stress sebagai berikut:

a. Stress adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan

menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang. Stres

membutuhkan koping dan adaptasi. Sindrom adaptasi umum atau teori

Selye, menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi pada

tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab stres tersebut positif atau

negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa memerhatikan stresor

atau penyebab tertentu (Isaacs, 2004).

b. Stress adalah reaksi/respons tubuh terhadap stressor psikososial

(tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara

bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas

berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan

subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara

individu dengan stimulus yang membuat stres; semua sebagai suatu

system (WHO, 2003; 158).

c. Stress menurut Hans Selye dalam buku Hawari (2001) menyatakan

bahwa stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap

setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres


4

mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang

bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya

dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres,

gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan

somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis.

Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak

yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.

d. Stressor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan

menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik

nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis.

Stress reaction acute (reaksi stress akut) adalah gangguan sementara

yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental

lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat

berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan

kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan

dalam terjadinya reaksi stress akut dan keparahannya.

Pada tingkat tertentu, sebenarnya manusia memerlukan stress. Stress

yang optimal akan membuat motivasi menjadi tinggi, orang menjadi lebih

bergairah, daya tangkap dan persepsi menjadi tajam, menjadi tenang, dan

lain-lain. Adapun stress yang terlalu rendah akan mengakibatkan

kebosanan, motivasi menjadi turun, sering bolos, dan mengalami kelesuan.

Sebaliknya, stress yang terlalu tinggi mengakibatkan insomnia, lekas

marah, meningkatkan kesalahan, kebimbangan, dan lain-lain.


5

Stress berbeda dengan stressor. Stressor adalah sesuatu yang

menyebabkan stress. Stress itu sendiri adalah akibat dari interaksi (timbal-

balik) antara rangsangan lingkungan dan respon individu.

2. Macam-macam Stress

a. Stress Fisik

Stress jenis ini terjadi karena berbagai keadaan. Seperti kecelakaan,

posisi yang tidak tepat saat tidur, atau terlalu lama beraktivitas di depan

komputer.

b. Stress Kimiawi

Merupakan jenis stress yang ditimbulkan oleh beberapa reaksi dari

konsumsi alkohol, rokok, makanan dan minuman berpengawet yang

dikonsumsi secara rutin.

c. Stress Fisiologi

Merupakan stress yang disebabkan oleh gangguan fungsi organ

tubuh, gangguan struktur tubuh, fungsi jaringan dll.

d. Stress Mikrobiologis

Merupakan stress yang disebabkan oleh kuman,seperti virus,

bakteri atau parasit

e. Stress Perkembangan

Merupakan stress yang disebabkan oleh proses tumbuh kembang

seperti masa pubertas, pernikahan dan pertambahan usia.


6

f. Stress Psikologis

Merupakan stress yang disebabkan oleh gangguan psikologis atau

ketidakmampuan kondisi psikologis, untuk menyesuaikan diri,

misalnya dalam hubungan interpersonal, sosial budaya atau keagamaan.

3. faktor Stress

a. Stress Internal

Faktor internal yang bersumber dari diri sendiri. Stressor

individual dapat timbul dari tuntutan pekerjaan atau beban yang terlalu

berat, kondisi keuangan, ketidakpuasaan dengan fisik tubuh, penyakit

yang dialami, masa pubertas, karakteristik atau sifat yang dimiliki dsb.

b. Stress Eksternal

Faktor eksternal yang dapat bersumber dari keluarga, masyarakat

dan lingkungan. Stressor yang berasal dari keluarga disebabkan oleh

adanya perselisihan dalam keluarga, perpisahan orang tua, adanya

anggota keluarga yang mengalami kecanduan narkoba, dsb. Sumber

stressor masyarakat dan lingkungandapat berasal dari lingkungan

pekerjaan, social atau fisik.

B. Teori Adaptasi

1. Pengertian Adaptasi

Bebeapa pengertian dari adaptasi atau penyesuaian diri:

a. Mengubah diri dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah

lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri).


7

b. Menurut Soeharto Heerdjon (1987) menyatakan bahwa “Penyesuaian

diri adalah usaha atau prilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan

hambatan.

Adaptasi merupakan pertahanan yang didapat sejak lahir atau

diperoleh karena belajar dari pengalaman untuk mengatasi stress.cara

mengatasi stress dapat berupa membatasi tempat terjadinya stress,

mengurangi stress atau menetralisasi pengaruhnya.

2. Macam- macam Adaptasi

a. Adaptasi Fisiologis

Adalah proses dimana respon tubuh terhadap stressor untuk

mempertahankan fungsi kehidupan, dirangsang oleh factor eksternal

dan internal, respons dapat dari sebagian tubuh atau seluruh tubuh serta

setiap tahap perkembangan mempunyai stressor tetentu.

Mekanisme fisiologis adaptasi berfungsi melalui umpan negatif,

yaitu suatu proses dimana mekanisme control merasakan suatu keadaan

abnormal seperti penurunan suhu tubuh dan membuat suatu respon

adaptif seperti mulai menggigil untuk membangkitkan panas tubuh.

Riset Klasik yang telah dilakukan oleh hana selye (1946,1976)

telah mengidentifikasi dua respon fisiologis terhadap stress, yaitu:

b. Local Adaption Syndrome (LAS)

Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress.

Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan

luka, akomodasi mata terhadap cahaya, dll. Responnya berjangka

pendek.
8

Karakteristik dari LAS :

a) Respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua

system.

b) Respon bersifat adaptif; diperlukan stressor untuk

menstimulasikannya.

c) Respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus.

d) Respon bersifat restorative.

Mungkin anda bertanya, “apa saja yang termasuk ke dalam

LAS?”. sebenarnya respon LAS ini banyak kita temui dalam kehidupan

kita sehari – hari seperti yang diuraikan dibawah ini :

a. Respon Inflamasi

Respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon

ini memusatkan diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga

penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses penyembuhan dapat

berlangsung cepat. Respon inflamasi dibagi kedalam 3 fase :

a) Fase pertama

Adanya perubahan sel dan sistem sirkulasi, dimulai dengan

penyempitan pembuluh darah di tempat cedera dan secara

bersamaan teraktifasinya kinin, histamin, sel darah putih. Kinin

berperan dalam memperbaiki permeabilitas kapiler sehingga

protein, leukosit dan cairan yang lain dapat masuk ketempat yang

cedera tersebut.
9

b) Fase kedua

Pelepasan eksudat. Eksudat adalah kombinasi cairan dan sel

yang telah mati dan bahan lain yang dihasilkan di tempat cedera.

c) Fase ketiga

Regenerasi jaringan dan terbentuknya jaringan parut.

b. Respon Reflex Nyeri

Respon ini merupakan respon adaptif yang bertujuan

melindungi tubuh dari kerusakan lebih lanjut. Misalnya mengangkat

kaki ketika bersentuhan dengan benda tajam. Genereal Adaption

Syndrome (GAS) Terbagi atas tiga fase, yaitu:

a) Fase Alarm ( Waspada)

Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh

dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis “fight

or flight” dan reaksi fisiologis. Tanda fisik : curah jantung

meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan

gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ

tubuh terpengaruh, gejala stress memengaruhi denyut nadi,

ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun.

Fase alarem melibatkan pengerahan mekanisme

pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat

meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu

untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan

kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk

keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin


10

mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran

darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya

kewaspadaan mental.

Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu

untuk melakukan “ respons melawan atau menghindar “. Respon

ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih

menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.

b) Fase Resistance (Melawan)

Individu mencoba berbagai macam mekanisme

penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta

mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi

fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba

mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi gejala stress

menurun àtau normal, tubuh kembali stabil, termasuk hormon,

denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut

berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh

akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu

tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu : Fase

kehabisan tenaga.

c) Fase Exhaustion (Kelelahan)

Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat

tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian

terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan

seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll.


11

Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan

dapat mengakibatkan kematian.

Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis,

akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak

mampuan tubuh untuk mepertahankan diri terhadap stressor inilah

yang akan berdampak pada kematian individu tersebut.

Ada empat variabel psikologik yang dianggap mempengaruhi

mekanisme respons stress (Papero, 1997), yaitu :

1. Kontrol yaitu keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol

terhadap stressor yang mengurangi intensitas respons stress.

2. Prediktabilitas yaitu stressor yang dapat diprediksi

menimbulkan respons stress yang tidak begitu berat

dibandingkan stressor yang tidak dapat diprediksi.

3. Persepsi yaitu pandangan individu tentang dunia dan persepsi

stressor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan

intensitas respons stress.

4. Respons koping yaitu ketersediaan dan efektivitas

mekanisme mengikat ansietas dapat menambah atau

mengurangi respons stress.

c. Adaptasi Psikologis

Perilaku adaptasi psikologimembantu kemampuan seseorang untuk

menghadapi stressor, diarahkan pada penatalaksaan stress dan

didapatkan melalui pembelajaran dan pengalaman sejalan dengan

pengidentifikasian perilaku yang dapat diterima dan berhasil.


12

d. Adaptasi Perkembangan

Pada setiap tahap perkembangan,seseorang biasanya menhadapi

tugas perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap

perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu

atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan

tersebut.dalam bentuk ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat

mengarah pada krisis perkembangan.

Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah. Jika

diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka mampu

mengembangkan harga diri yang sehat dan akhirnya belajar respon

koping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992)

Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan rasa kecukupan.

Mereka mulai menyadari bahwa akumulasipengetahuan dan penguasaan

keterampilan dapat membantu mereka mencapai ytujuan, dan harga diri

berkembang melalui hubungan berteman dan saling berbagi diantara

teman. Pada tahap ini, stress ditunjukkan oleh ketidakmampuan atau

ketidakinginan untuk mengembangkan hubungan berteman.

Remaja biasanya mengembangkan rasa identitas yang kuat tetapi

pada waktu yang besamaan perlu diterima oleh teman sebaya. Remaja

dengan sistem pendukung social seringmenunjukkan peningkatan

masalah psikososial (Dubos, 1992)

Dewasa muda berada pada transisi dari pengalaman masa remaja

ke tanggung jawab orang dewasa. Konflik dapat berkembang antara


13

tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Stressor mencakup konflik

antara harapan dan realitas.

Usia setengah baya biasanya telibat dalam membangun keluarga,

menciptakan karier yang stabil dan kemungkinan merawat orang tua

mereka. Mereka biasanya dapat mengontrol keinginan dan dari

beberapa kasus menggantikan kebutuhan pasangan, anak-anak, atau

orang tua dari kebutuhan mereka.

Usia lansia biasanya menghadapi adaptasi terhadap perubahan

dalam keluarga dan kemungkinan terhadap kematian dari pasangan atau

teman hidup. Usia lansia juga harus menyesuaikan terhadap perubahan

penampilan fisik dan fungsi fisiologis.

e. Adaptasi Sosial Budaya

Mengkaji stressor dan sumber koping dalam dimensi sosial mencakup

penggalian tentang besarnya, tipe dan kualitas dari interaksi sosial yang

ada. Stressor pada keluarga dapat menimbulkan efek disfungsi yang

mempengaruhi klien atau keluarga secara keseluruhan (Reis dan

Heppner, 1993).

f. Adaptasi Spritual

Orang menggunakan sumber spiritual untuk menghadapi stress

dalam banyak cara, tetapi stresss dapat juga bermanifestasi dalam

dimensi spiritual. Stress yang berat dapat mengakibatkan kemarahan

pada Tuhan, atau individu mungkin memandang stressor sebagai

hukuman.
14

Kasus 1

Tn. I, laki-laki, 46 tahun, wirausahawan yang dulunya cukup sukses,

lebih kurang 2 tahun yang lalu mengalami kerugian dan perusahaannya

bangkrut. Istrinya sering marah-marah, menghina, sering meminta bercerai

dan akhirnya meninggalkannya 1 tahun yang lalu.

Menurutnya, ia selalu berusaha untuk optimis, namun ia mengeluh

dadanya terasa nyeri, seperti ditimpa barang berat dan nafasnya sering sesak.

Ketika jantung nya nyeri, Tn. I sering memegang dada kirinya. Ia

memeriksakan diri ke dokter dan dikatakan bahwa jantungnya memang agak

lemah.

Hal itu membuatnya terpukuldan optimismenya pun hilang. Tn. I jadi

malas makan,badannya kurus, pipinya cekung, maag nya juga sering

kambuh, tekanan darahnya tinggi. Sebulan terakhir ini, ia lebih sering

menarik diri dari pergaulan dan akhirnya Tn. I ditemukan bunuh diri.

Jawaban Pada Kasus

A. Jenis Stress yang dialami oleh Tn. I

1. Stress Fisik: badannya kurus, pipinya cekung

2. Stress Fisiologi: dadanya terasa nyeri, seperti ditimpa barang

berat ,napasnya sering sesak , jantungnya terasa nyeri , maagnya

juga sering kambuh , Tekanan daranya tinggi.

3. Stress Psikologis: Tn. I lebih sering menarik diri dari pergaulan

dan akhirnya Tn. I ditemukan bunuh diri.

B. Stressor penyebab stres

1. Stressor Internal:
15

a. Merasa terpukul dan optimismenya hilang ketika dikatakan bahwa

jantungnya lemah

b. Dadanya terasa nyeri seperti ditimpa barang berat dan nafasnya

sering sesak

c. Tn. I juga malas makan

2. Stressor Eksternal:

a. Istrinya yang sering marah-marah kepada Tn.I

b. Terjadinya perceraian

c. Mengalami kerugian dan perusahaannya bangkrut

C. Stress yang terjadi pada dimensi stress yang dialami oleh Tn. I

ADAPTASI FISIOLOGIS

Indikator fisiologis dari stress adalah objektif, lebih mudah

diidentifikasi dan secara umum dapat diamati atau diukur. Namun

demikian, indicator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua

klien yang mengalami stress, dan indicator tersebut bervariasi menurut

individunya. Indikator fisiologis stress :

1. Kenaikan tekanan darah

2. Peningkatan ketegangan di leher, bahu, punggung.

3. Peningkatan denyut nadi dan frekwensi pernapasan

4. Telapak tangan berkeringat Tangan dan kaki dingin

5. Postur tubuh yang tidak tegap

6. Keletihan

7. Sakit kepala

8. Gangguan lambung
16

9. Suara yang bernada tinggi

10. Mual,muntah dan diare.

11. Perubahan nafsu makan

12. Perubahan berat badan

13. Perubahan frekwensi berkemih

14. Dilatasi pupil

15. Gelisah, kesulitan untuk tidur atau sering terbangun saat tidur

ADAPTASI PSIKOLOGIS

Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan

mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional

dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan

yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang

berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien

yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping

yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang

merupakan kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga

menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol

terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil,

dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan

(Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993).

Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress :

1. Ansietas

2. Depresi

3. Kepenatan
17

4. Peningkatan penggunaan bahan kimia

5. Perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas

6. Kelelahan mental

7. Perasaan tidak adekuat

8. Kehilangan harga diri

9. Peningkatan kepekaan

10. Kehilangan motivasi

11. Ledakan emosional dan menangis

12. Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan

13. Kecendrungan untuk membuat kesalahan (mis. buruknya penilaian)

14. Mudah lupa dan pikiran buntu

15. Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci

16. Preokupasi (mis. mimpi siang hari )

17. Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas

18. Peningkatan ketidakhadiran dan penyakit

19. Letargi

20. Kehilangan minat

21. Rentan terhadap kecelakaan.

C. Mekanisme koping

1. Definisi mekanisme koping

Koping merupakan suatu tindakan merubah kognitif secara konstan dan

usaha tingkah laku untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal yang

dinilai membebani atau melebihi sumberdaya yang dimiliki individu.

Mekanisme diartikan sebagai suatu cara yang dilakukan oleh individu


18

dalam meyelesaikan maslah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta

respon terhadap sesuatu yang mengancam (Nasir dan Muhith, 2011).

Mekanisme koping merupakan setiap upaya yang diarahkan pada

penatalaksanaan stres, yaitu cara dalam penyelesaian masalah dengan

mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri.

Mekanisme koping pada dasarnya adalah mekanisme pertahanan diri

terhadap perubahan bahan yang terjadi baik dalam diri maupun dari luar

diri (Stuart, 2009).

2. Sumber koping

Sumber koping merupakan pilihan-pilihan atau strategi yang

membantu seseorang menentukan apa yang dapat dilakukan dan apa

yang berresiko. Sumber koping adalah faktor pelindung. Hal yang

termasuk sumber koping adalah asset finansial/ kemampuan ekonomi,

kemampuan dan keterampilan, dukungan sosial, motivas serta

hubungangan antara individu, keluarga, kelompok dan masyarakat

(Stuart,2009).

Sumber koping lain meliputi kesehatan (energi), dukungan

spiritual, keyakinan positif, kemampuan menyelesaikan masalah,

keterampilan sosial, sumber materi dan kesehatan fisik (Stuart, 2009).

Menurut Suis, (2014) ada beberpa faktor yang mempengaruhi

mekanisme koping mahasiswa yaitu harga diri, kesehatan fisik,

keyakinan atau pandangan hidup, keterampilan, dan dukungan sosial

materi.
19

3. Model mekanisme koping

a. Mekanisme koping yang berfokus pada masalah adalah

mekanisme koping yang melibatkan tugas dan upaya langsung

untuk mengatsi ancaman itu sendiri. Contohnya yaitu negosiasi,

konfrontasi, dan mencari saran.

b. Mekanisme koping berfokus pada kognitif, dimana seseorang

mencoba untuk mengontrol makna dari suatu masalah dan dengan

demikian menetralisirnya. Contohnya yaitu perbandingan fositif,

ketitaktahuan slektif,subtitusi penghargaan,dan devaluasi benda

yang diinginkan.

c. Mekanisme koping berfokus pada emosi, dimana pasien

berorientasi pada tekanan emosional moderat. Contohnya

termasuk penggunaan mekanisme pertahanan ego seperti

penyangkalan, denial, supresi, dan proyeksi.

4. Gaya mekanisme koping

Menurut Nasir dan Muhith (2011), gaya koping merupakan

penentuan dari gaya seseorang dalam memecahkan suatu masalah

berdasarkan tuntutan yang dihadapi, ada dua macam gaya koping:

a. Gaya koping positif

Gaya koping positif merupakan gaya yang mampu mendukung

integritas ego, yaitu:

a) Problem solving merupakan suatu usaha untuk memecahkan

masalah, dimana pada gaya koping ini masalah harus

dihadapi, dipecahkan, dan tidak dihindari atau menganggap


20

masalah itu tidak berarti. Pemecahan masalah ini digunakan

untuk mengindari tekanan atau beban psikologis akibat

adanya stresor yang masuk dalam diri seseorang.

b) Utilizing social support merupakan suatu tindak lanjut dari

menyelesaikan masalah belum terselesaikan. Tidak semua

orang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, hal ini

terjadi karena rumitnya masalah yang dialami., oleh sebab itu

apabila seseorang mempunyai masalah yang tidak bisa

diselesaikan sendiri, seharusnya tidak disimpan sendiri tetapi

carilah dukungan dari orang lain yang dapat dipercaya dan

mampu memberikan bantuan dalam bentuk masukan ataupun

saran dan lainnya.

c) Looking for silver lining masalah yang berat terkadang akan

membawa kebutaan dalam upaya menyelesaikan masalah,

walaupun sudah dengan usaha yang maksimal, terkadang

masalah belum ditemukan titik temu, oleh sebab itu seberat

apapun masalah yang dihadapi manusia harus tetap berfikir

positif dan dapat diambil hikmah dari setiap masalah. Pada

fase ini diharapkan manusia mampu menerima kenyataan

sebagai sebuah ujian dan cobaan yang harus dihadapi selalu

berusaha menyelesaikan masalah tanpa menurunkan

semangat motivasi.
21

b. Gaya koping Negatif

Gaya koping negatif yang dapat menurunkan integritas

ego, dimana gaya koping ini dapat merusak dan merugikan

dirinya sendiri, yang terdiri atas sebagai berikut:

a) Avoidance merupakan suatu usaha untuk mengatasi situasi

tertekan dengan cara lari dari situasi tersebut dan

menghindari masalah dan akhirnya terjadinya penumpukan

masalah. Bentuk melarikan diri seperti merokok,

menggunakan obat-obatan, dan berbelanja tujuannya untuk

menghilangkan masalah tetapi menambah masalah.

b) Self-blam yaitu ketidak berdayaan atas masalah yang

dihadapi, biasanya menyalahkan diri sendiri yang dapat

menyebabkan seseorang menarik diri dari lingkungan sosial.

c) Wishfull thinking merupakan kesedihan mendalam yang

dialami sesorang akibat kegagalan mencapai tujuan, karena

penentuan keinginan terlalu tinggi sehingga sulit tercapai.

5. Respon koping

Menurut Model Adaptasi Stres Stuart respon idividu terhadap

stres berdasarkan faktor predisposisi, sifat stresor, persepsi terhadap

situasi dan analisis sumber koping dan mekanisme koping. Respon

koping klien dievaluasi dalam suatu rentang yaitu adaptif atau

maladaptif (Stuart, 2009).


22

a. Reopons mekanisme koping adaptif

Respon yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan,

belajar, dan mencapai tujuan, seperti berbicara dengan orang

lain, memecahkan masalah dengan orang lain, memecahkan

masalah secara efektif, tehnik relaksasi, latihan seimbang dan

aktifitas konstriktif.

b. Respon mekanisme koping maladaptive

Respon yang menghambat fungsi integrasi, memecah

pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menghalangi

penguasaan terhadap lingkungan, seperti makan berlebihan atau

bahkan tidak makan, kerja berlebihan, menghindar, marah-marah,

mudah tersinggung, dan menyerang. Mekanisme koping yang

maladaptif dapat memberi dampak yang buruk bagi seseorang

seperti isol asi diri, berdampak pada kesehatan diri, bahkan

terjadinya resiko bunuh diri.


23

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1) Kesimpulan dari para ahli tentang stres yaitu stres bisa terjadi karena

manusia begitu kuat dalam mengejar keinginannya serta kebutuhannya

dengan mengandalkan segala kemampuan dan potensinya. Sehingga

diperlukan adaptasi yaitu suatu cara untuk mengatasi tekanan dari

lingkungan sekitar untuk tetap menjaga keseimbangan tubuhnya. Dan

memberikan respons yaitu setiap tingkah laku pada hakekatnya merupakan

tanggapan/balasan terhadap rangsangan/stimulus.

2) Adaptasi terhadap stress dapat dibagi menjadi (5), yaitu adaptasi fisiologis,

adaptasi psikologis, adaptasi perkembangan, adaptasi sosial budaya dan

adaptasi spiritual.

3) Respons patofisiologis terhadap stress dapat dibedakan menjadi (2), yaitu

komponen fisiologis yang meliputi LAS dan GAS, komponen psikologis

meliputi mekanisme koping (Taks Oriented Behavior dan Ego Dependen

Mecanism).
24

Daftar Pustaka

 Erika, Janny. 2011. Adaptasi. Dalam http://jannyerika-

mkes.blogspot.com/2011/06/adaptasi.html diakses 23 Januari 2013.

http://www.scribd.com/doc/30270598/Konsep-Stres-Dan-Manajemen-

Stres diakses 23 Januari 2013

http://wwwnursekep.blogspot.com/2011/12/makalah-stress-dan-

adaptasi.html diakses 23 Januari 2013.