Anda di halaman 1dari 11

TUGAS 2

ASESMENT BK TES

ISTILAH DALAM ASESSMENT TES


Drs.A. Muri Yusuf.,M.Pd.

Oleh :

Annisa Putri
19006007

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
Inventory
Pengukuran
Pengadministrasian Tes
Penilaian
Faking
Evaluasi

STILAH
DALAM
Istilah –istilah teknis dalam tes psikologi
1.Pengukuran

Tes danPengertian
Testing Pengukuran (Measurement)
Tester dan Testi
 Menurut
Tes Srandar dan Standar Tes Ign. Masidjo (1995: 14) pengukuran adalah suatu kegiatan
Kode etik Tes
menentu kuantitas suatu objek melalui aturan-aturan tertentu sehingga
kuantitas yang diperoleh benar-benar mewakili sifat dari suatu objek yang
dimaksud.
 Pengukuran bisa diartikan sebagai proses memasangkan fakta-fakta suatu
objek dengan fakta-fakta satuan tertentu (Djaali & Pudji Muljono, 2007).
 Menurut Endang Purwanti (2008:4) pengukuran dapat diartikan sebagai
kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada
suatu gejala atau peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan
selalu berupa angka.
 Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu.
Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau
sesuatu yang lain (Anas Sudiono, 2001).
 Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuntitas
sesuatu (Zaenal Arifin, 2012).

Jadi, Pengukuran (measurement) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk


menentukan fakta kuantitatif dengan membandingkan sesuatu dengan satuan
ukuran standar yang disesuaikan sesuai dengan objek yang akan diukur.

Pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik


peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut,
akan tetapi karakteristik atau atributnya.

2.Penilaian

Pengertian Penilaian (Assessment)


 Menurut Bonnie Campbell Hill & Cynthia Ruptic (1994). “Assessment is
the process of gathering evidence and documenting a child’s lerning and
growth”. Penilaian adalah proses mengumpulkan peristiwa dan
mendokumentasikan pertumbuhan dan pembelajaran anak.
 Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis (1994). “Proses
sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi
untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu,
sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan.
Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program
pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.
 Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau
mendeskripsikan hasil pengukuran.

 Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai.


Oleh karena itu, langkah selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran
adalah penilaian. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal
yang terdapat pada tes. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam
bentuk nilai.
 Menurut Suharsimi Arikunto (2009) penilaian adalah mengambil suatu
keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat
kualitatif.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa assessment atau


penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar siswa, menjelaskan dan menafsirkan hasil
pengukuran (kuantifikasi suatu objek, sifat, perlaku dll), menggambarkan
informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi
(rangkaian kemampuan) siswa.

3.Evaluasi
Pengertian Evaluasi (Evaluate)

 Menurut Edwin Wond dan Gerold W. Brown; evaluasi pendidikan


adalah proses untuk menentukan nilai dari segala sesuatu yang berkenaan
dengan pendidikan.
 Evaluasi dalam bahasa Inggris dikenal dengan istila Norman E.
Grounloud (1985) berpendapat evaluasi adalah suatu proses yang
sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai sejauh
mana tujuan program telah tercapai.
 Endang Purwanti (2008: 6) Berpendapat bahwa evaluasi adalah proses
pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara
membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu.
 Wrightstone, dkk (1956) yang mengemukakan bahwa evaluasi pendidikan
adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa kearah
tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum (Djaali &
Pudji Muljono, 2007).
 Secara harafiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang
berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily:
1983).
 Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The
process of delineating, obtaining, and providing useful information for
judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses
menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna
untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
 Evaluasi menurut Kumano (2001) merupakan penilaian terhadap data yang
dikumpulkan melalui kegiatan penilaian.

Evaluasi adalah adalah kegiatan atau upaya yang meliputi pengukuran dan
penilaian yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan (program,
produksi, prosedur). Untuk selanjutnya hasil dari kegiatan atau upaya tersebut
digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi.

4.Tes dan Testing


Tes merupakan bagian tersempit dari penilaian. Menurut Webster’s Collegiate, tes
adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang
dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 1998: 29). Dengan demikian, tes
adalah sekumpulan butir yang merupakan sampel dari populasi butir mengukur
perilaku tertentu baik berupa keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, bakat dan
sebagainya dimana dalam penyelenggaraannya siswa didorong untuk memberikan
penampilan maksimalnya.
Testing
Testing merupakan saat pada waktu tes dilaksanakan atau saat pengambilan tes.
Testing disebut juga dengan waktu pelaksanaan tes.
5.Tes Standar dan Standar Tes
1. Pengertian Tes Standar
Istilah “standar” dalam tes dimaksudkan bahwa semua siswa menjawab
pertanyaan pertanyaan yang sama dari sejumlah besar pertanyaan dikerjakan
dengan menggunakan petunjuk yang sama dan dalam batasan waktu yang sama
pula. Dengan demikian maka seolah-olah ada suatu standar atau ukuran sehingga
diperoleh suatu standar penampilan (performance) dan penampilan kelompok lain
dapat dibandingkan dengan penampilan kelompok standar tersebut.
Istilah “standar” tidak mengandung arti bahwa tes tersebut mengukur apa
yang harus dan dapat diajarkan pada suatu tingkat tertentu atau bahwa tes itu
menyiapkan suatu standar prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu
tingkat tertentu. Sekali lagi, tes standar dipolakan untuk penampilan prestasi
sekarang (yang ada) yang dilaksanakan secara seragam, diusahakan dalam kondisi
yang seragam, baik itu diberikan kepada siswa dalam pelaksanaan perseorangan
maupun siswa sebagai anggota dari suatu kelompok.

2.Pengertian Standar Tes


Standar tes merupakan etika yang terdapat dalam tes. Standar tes merupakan etika
tes, yang membedakan tes yang etik dan tindakan yang tidak etis dalam
pelaksanaan tes secara profesional (Ari Kunto, 2009).

6.Tester dan Testee


a. Tester
Tester dalam istilah Indonesia adalah pencoba. Tester merupakan orang yang
diserahi tigas untuk melaksanakan pengambilan tes terhadap para responden.
Dengan kata lain, tester adalah subjek evaluasi. Tapi dakalanya hanya orang yang
diutunjuk oelh subjek evaluasi untuk melaksanakan tugasnya. Tugas tester antara
lain :
a. Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan
b. Membagikan lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan
c. Menerangkan cara mengerjakan tes
d. Mengawasi responden mengerjakan tes

b. Testee
Testee dalam istilah Indonesia adalah mencoba. Testee merupakan
responden yang sedang mengerjakan tes. Orang-orang inilah yang akan dinilai
atau diukur, baik mengenai kemampuan, minat, bakat, pencapaian, dan
sebagainya (Ari Kunto, 2009).
7.Inventory
Tes inventori adalah tes-tes yang terutama menggunakan paper and pencil.
Tes inventori merupakan self report Questionnare, untuk menentukan
karakteristik-karakteristik kepribadian, minat (interested), sikap (attitude), dan
nilai-nilai (value).
Tes inventori sangat berguna untuk mengetahui karakteristik kepribadian
seperti minat, penyesuaian diri, motivasi, dan prasangka. Namun perlu di ingat
bahwa alat-alat tes yang digunakan umumnya tidak ada yang sempurna dan
masing-masing tes hanya menjelaskan satu atau beberapa aspek kepribadian.

8. Pengadministrasian Tes
Pengadministrasian Tes adalah pelaksanaan tes yang dimulai dari proses
penyuntingan naskah tes sampai dengan proses mengerjakan tes. Pada bab ini
akan dibahas langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses
pengadministrasian tes. Selain itu juga akan dibahas pula kelebihan dan
kekurangan yang terdapat dalam cara pelaksanaan tes dan beberapa media tes
tersebut.

9.Faking
Faking atau pengelabuan jawaban biasanya terjadi saat individu mengerjakan
inventori. Faking terbagi atas dua, yaitu faking good dan faking bad.
1. Faking good yaitu memberikan impresi yang lebih baik atau dapat
dikatakan membaik-baikkan dirinya. Tidak menggambarkan keadaan dirinya yang
sebenarnya. Tujuannya adalah agar hasil tes lebih baik dan dapat diterima
dikalangan tertentu.
2. Faking bad yaitu sengaja memberikan impresi yang lebih buruk,dengan
tujuan untuk menghindari tugas-tugas tertentu yang mungkin akan diberikan
kepadanya (Daruma, 2003).

10.Kode Etik Tes

Kode etik tes terutama mencakup empat hal, yaitu :


1. Kerahasiaan Hasil Tes
Setiap pendidik dan pengajar wajib melindungi kerahasiaan hasil tes, baik
secara hasil individual maupun kelompok. Hasil tes hanya dapat
diberitahukan kepada orang lain apabila adaizin dari peserta didik yang
bersangkutan atau orang yang bertanggung jawab terhadap peserta didik.
2. Keamanan Tes
Tes merupakan alat pengukur yang hanya dapat digunakan secara
profesional. Dengan demikian, tes tidak dapat digunakan diluar batas-batas
yang ditentukan oleh profesionalisme pekerjaan guru. Sehingga setiap
pendidik harus dapat menjamin keamanan tes baik sebelum mauun
sesudah tes digunakan.
3. Interpretasi Hasil Tes
Hal yang paling mengandung kemungkinan penyalahgunaan hasil tes ialah
penginterpretasian hasil tes secara salah. Karena itu, maka interpretasi
hasil tes harus diikuti tanggung jawab profesional.
4. Penggunaan Tes
Hasil tes haruslah digunakan secara patut. Bila hasil tes tertentu
merupakan tes baku, maka tes tersebut harus digunakan dibawah ketentuan
yang berlaku bagi pelaksaan tes tersebut.
Secara lebih mendasar, etika tes ini diatur dalam standar tes yang
dikembangkan oleh organisasi profesional. Semua standar tes mencakup
dua aspek utama, yaitu tes hasil belajar dan tes psikologi. Pelanggaran
terhadap standar tes ini merupakan pelanggaran terhadap etika profesi,
yang dalam hal tertentu dapat merupakan suatu kejahatan (Sudijono,
1998).

DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo


Persada, 2011)

Daruma, AR. 2003. Pengunaan Tes Psikologi. Makasar: FIP UNM.

Purwanto, M. Ngalim (2009). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.


Bandung: Remaja Rosda Karya.

Sudijono, Anas. 1998. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo


Persada.

Suharsimi Arikunto. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.
Suwandi, Sarwiji (2010). Model Asesmen dalam Pembelajaran. Surakarta: Yuma
Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai