Anda di halaman 1dari 8

Nama : Anas Muhajir

NIM : C1.18190003
Mata Kuliah : Philosophy Basis
Nama Dosen : Iwan Israwan, Drs., M.Pd.
Bobot : 2 SKS
Tkt./Smt. : II/4
Waktu : 90 Menit
Hari/Tanggal : Selasa, 30 Juni 2020

Ujian Akhir Semester


Soal
1. Jika filsafat timbul dari kodrat manusia, bukankah hal ini berarti bahwa tiap-tiap orang
tentu berfilsafat dan apakah ini cocok dengan kenyataan ? Jelaskan !

2. Dapatkah filsafat dipisahkan dari persoalan tentang diri kita sendiri ? Jelaskan !

3. Uraikanlah kenisbian (relativitas) filsafat !

4. Cukupkah filsafat sebagai pegangan hidup ? Berikan alasan Saudara ! Bagaimana jika
persoalan ini dilihat dari sudut filsafat, dan bagaimanakah jika dipandang dari sudut agama
Saudara ?

5. Apa yang Saudara ketahui tentang hal-hal sebagai berikut :


a. Teori Sokrates tentang “jiwa”
b. Teori idealisme Plato (teori tentang kehidupan yang baik)

6. Berikan sebuah kesimpulan dari paper kelompok Saudara


Jawaban

1. Filsafat bisa di artikan sebagai berfikir, namun tidak semua orang yang berfikir itu
berfilsafat, karena dalam berfilsafat ada beberapa hal yang perlu di perhatikan, seperti
ketentuan dan ciri ciri yang mesti ada dalam berfilsafat itu sendiri sebagaimana yang
terjabar di bawah ini
a. Metodis:yaitu cara atau jalan yg lazim di gunakan oleh para filsuf dalam berproses
filsafah
b. sistematis:unsur2 dalam pemikiran yg saling berkaitan satu sama lain dengan teratur
sehingga dapat tersusun pola pemikiran yang filosofis
c. koheren:dalam unsur berfikirnya tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan
satu sama lain,namun tetap memuat uraian yang jelas,dan logis.
d. Rasional:harus berdasarkan pada kaidah berfikir yg benar.
e. komprehensif:menyeluruh/keseluruhan artinya tidak melihat objek dari satu sudut
pandang tertentu saja.
f. radikal:berfikir secara mendalam sampai menyentuh akar persoalan,berfikir radikal
bisa juga diartikan sebagai berfikir yg keras dan terlalu memaksa.
g. universal:muatan kebenarannya sampai ke tingkat umum,lebih tertuju pada
dunia,realita hidup,dan realitas kehidupan manusia.

Selain itu alasan lain mengapa tidak semua orang berfilsafat dan itu tidak cocok
dengan kenyataan sekarang karena sebagaimana kita ketahui bahwa filsafat itu muncul
dengan adanya rasa ingin tahu dan rasa ragu – ragu, sehingga orang yang berfilsafat itu
akan selalu berpikir terhadap apa yang ingin diketahuinya dan berpikir untuk menjawab
rasa ragu – ragu yang muncul. Dalam hal ini, orang yang berfilsafat akan berpikir secara
kritis untuk menjawab keingintahuannya dengan menggunakan kemampuan pikirnya.
Filsafat mencoba mengerti, menganalisis, menilai, dan menyimpulkan semua persoalan-
persoalan dalam jangkauan rasio manusia, secara kritis, rasional dan mendalam. Adapun
kesimpulan-kesimpulan filsafat manusia yang selalu cenderung memiliki watak
subjektivitas. Sedangkan orang yang berpikir tidak selalu berfilsafat, hal ini terjadi karena
orang yang berpikir tidak selalu mencoba mengerti, menganalisis, menilai, dan
menyimpulkan persoalan – persoalan yang ada secara kritis. Selain itu, orang yang
berpikir pada umumnya hanya memikirkan sesuatu itu hanya sebatas angan – angan saja
dan tidak direalisasikan secara aktual.

2. Tidak bisa, Karena dengan berfilsafat, manusia akan mampu menjadi seorang yang lebih
manusiawi. Dalam arti, mereka akan lebih lebih mampu menggunakan rasio yang
dimilikinya sebagaimana manusia adalah mahluk yang berakal.

Sehingga dalam memutuskan sesuatu, tidak serta-merta mereka akan berpatokan


lagi terhadap apa yang belum riil, seperti pemahaman-pemahaman yang telah ada yang
tidak menutup kemungkinan sudah tak bisa layak pakai dalam suatu konteks.
Dengan berfilsafat juga, manusia pun akan mampu berpikir secara radikal. Radikal yang
termasuk di sini adalah radikal yang universal, kritis/peka, dan menjauhkan seseorang
dari sifat-sifat akuisme dan akusentrisme.

Olehnya, berfilsafat adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia.
Itu harus bertujuan hanya guna mengoleksi ilmu pengetahuan sebanyak mungkin. Dan,
kalau bisa, itu akan membimbingnya untuk menerbitkan serta mengatur semua koleksi
pengetahuannya dalam bentuk yang sistematis.

Hemat kata, filsafat membantu kita dalam menganalisis problem yang


ditimbulkan dari pemikiran sendiri. Dan filsafat juga yang akan membawa kita kepada
pemahaman, kemudian pemahaman itulah yang kelak akan mengarahkan kita ke dalam
tindakan yang lebih layak.

3. Memahami setiap gagasan tidaklah lepas dari sebuah asumsi yang menjadi
landasan kokoh setiap analisis. Pendekatan demi pendekatan dilakukan guna ingin
mencapai suatu pemahaman yang utuh tentang kebenaran. Tanpa adanya asumsi,
pengetahuan tidak akan pernah lahir, karena melalui inilah segala pengetahuan itu
terbentuk. Dalam relativitas kebenarana, kunci yang paling pokok untuk memahaminya
adalah bahwa setiap kebenaran itu bersifat relatif, tidak ada yang abslut dalam wilayah
ini.
Intelektualitas membentuk paradigma khusus dalam setiap struktur kebenaran.
Jika ilmu merupakan bagian terpenting dari setiap kebenaran, maka pisau analisis
menjadi wilayah yang tak terbantahkan untuk membangun pengetahuan itu. Saya
mengira bahwa setiap kebenaran memiliki tingkatanya masing-masing. Baik itu
kebenaran dalam sastra, agama, filsafat, dan pengetahuan. Empat hal inilah yang paling
berpengaruh dalam memmbentuk setiap struktur peradaban umat manusia sepanjang
sejarah.

Dalam epistemologi filsafat, kebenaran selalu saja diidentika dengan sejauh mana
hal itu dikembangkan memalui setiap teori atau gagasan, apa yang kemudian kita anggap
sebagai asumsi kebenaran tidak pernah mengisyaratkan apapun selain anasis itu
sendiri.Menjadi cukup penting jika kemudian hal ini kita bagun melakui paradigma
sintagmatis dalam teori kebahasaan. Strukturalisme selalu melahirkan wacana baru dalam
relitas teks. Itu mengimplikasikan adanya asumsi baru melalui proses dialektika
kebenaran, yang dalam hal ini, logika tidak bisa disingkirkan begitu saja. Saja merasa,
tanpa asumsi logika, pengetahuan tidak aka pernah lahir, karena kita tahu bahwa setiap
pengetahuan berdiri melalui asumsi yang bersifat ilmiah, dalam tradisi pemikiran filsafat,
persoalan ini lebih dikenal dengan aliran positivisme, menurut aliran ini, kebenaran
berjalan melalui tiga fase pembentukan, dari agama, kemudian metafisika, lalu yang
terakhir adalah positivisme sebagai kebenran ilmiah yang tak terbantahkan.

Namun tidak bisa dipugnkiri bahwa gagasan ini ternyata mengiring umat manusia
pada sintesa baru untuk menegasikan tuhan. Polarisasi dari asumsi ini ialah segalanya
adalah materi, dan tentu saja secara langsung dapat dikatakan bahwa tidak ada tempat
bagi transendensi tuhan, mazhab ini mirip dengan materialisme Karl Marx, namun
perbedaan yang cukup menonjol ialah bahwa positivisme membertahan asumsi
kebenaran melalui fakta pengalaman dan teori, dua hal inilah yang dipakai untuk
membangun kebenaran.

Menurut Nietzsche, fakta itu tidak ada, yang ada hanyalah interpretasi. Ungkapan
ini jika kita tinjau secara mendalam, akan tampak bahwa betapa kebenran yang kita
persepsikan selama ini ialah tak lebih dari sebuah interpretasi belaka dari setiap esensi
kebenaran. Ada ruang dimana manusia tidak mampu mencapainya melalui sara apapun,
bahkan, manusia selalu saja berbeda dalam mengasumsikan gagasan tentang Tuhan.

4. Bisa jadi memang cukup manusia atau orang yang bergama memahami ajaran
agamannya dalam merumuskan atau memahami jati dirinya, seperti halnya islam yang
telah gamblang dan jelas dalam menjabrakan jati diri manusia. Namun, seperti yang kita
ketahui filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia
secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat membimbing manusia
untuk senantiasa berfikir kritis dan terbuka. Filsafat diperlukan orang muslim agar
mereka senantiasa berfikir kritis, terbuka dan mampu memahami al-Quran dengan cerdas
dan tidak sepotong-potong. Seperti yang islam sendiri ajarkan pada pengikutnya untuk
selalu berfikir, berfikir dan berfikir. Al-Quran juga telah menyebutkan dalam salah satu
ayatnya, yang artinya “Telah tampak tanda-tanda kekuasan Allah bagi orang-orang yang
berfikir”. Memang benar jika filsafat tak mampu berdiri sendiri, ia membutuhkan
topangan agar tak terombang ambing oleh rasionalitas. Karena memang kemampuan otak
manusia sangat terbatas untuk memikirkan semua hal di dunia ini. Bila tanpa dasar,
filsafat akan tersesat dan terombang-ambing dalam kedangkalan rasionalitas yang kadang
menjebak. Untuk itulah dalam berfilsafat selalu harus ada dasar. Islam disini berfungsi
sebagai dasar, pedoman dan pegangan agar manusia tak mudah tersesat dengan
kebingungan yang ia buat sendiri. Islam disini berfungsi sebagai akar dari suatu pohon,
dimana bila pohon itu tanpa akar ai akan mudah sekali roboh bila tertiup angin. Dan
filsafat dalam islam layaknya ranting dari suatu pohon. Yakni dimana tempat daun dan
buah tumbuh dan berkembang. Tanpa filsafat dan rasionalitas yang benar, terbuka dan
kritis, maka al-Quran hanya akan dipahami secara tekstual dan konvensional, bukankah
al-Quran itulikulli zaman wa makanyaitu selalu sesuai untuk seluruh zaman dan tempat.
Filsafat diperlukan untuk membuat manusia berfikir kritis dan mampu
mengimplementasikan nilai-nilai al-Quran sesuai zaman yang tak pernah statis dan selalu
berkembang ini. Sebagai zaman yang tak pernah statis, manusia dengan segala unsur
pembentuknya juga tidak pernah statis dan selalu berubah setiap waktu. Sebagaimana
yang kita kita ketahui tetang jati diri manusia bahwa ia merupakan suatu subtansi yang
terdiri dari unsur-unsur yang senantiasa berkembang dan begitu rumit, maka kita butuh
keduanya –filsafat dan islam, untuk memahami jati diri manusia secara utuh dan komplit.
5. A. Socrates mengatakan bahwa jiwa manusia  bukanlah nafasnya semata-mata, tetapi
asas hidup manusia dalam arti yang lebih mendalam. Jiwa itu adalah intisari manusia,
hakekat manusia sebagai pribadi yang bertanggung jawab. Oleh karena jiwa adalah intisari
manusia, maka manusia wajib mengutamakan lebahagiaan jiwanya (eudaimonia  =
memiliki daimon  atau jiwa yang baik), lebih dari pada kebahagiaan tubuhnya atau
kebahagiaan yang lahiriah, seperti umpamanya: kesehatan dan kekayaan. Manusia harus
membuat jiwanya menjadi jiwa yang sebaik mungkin. Jikalau hanya hidup saja, hal
tersebut belum ada artinya. Pendirian Socrates yang terkenal adalah “Keutamaan adalah
Pengetahuan”. Keutamaan di bidang hidup baik tentu menjadikan orang dapat hidup baik.
Hidup baik berarti mempraktekkan pengetahuannya tentang hidup baik itu. Jadi baik dan
jahat dikaitkan dengan soal pengetahuan, bukan dengan kemauan manusia.
B. -Plato percaya bahwa ide adalah realitas yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada
yang dapat dikenal lewat panca indera. Pohon, bunga, manusia, hewan, dan lain-lain
sebagainya akan mati dan berubah, tetapi ide pohon, bunga, manusia, dan hewan, tidak
akan pernah berubah. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaannya ada
yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang
hanya berada di dalam pemikiran manusia. Ide bukanlah sesuatu yang subjektif yang
tercipta oleh dya fikir manusia dan oleh sebab itu keberadaan ide itu lalu bergantung pada
daya fikir manusia. Ide itu mandiri, sempurna, abadi, dan tidak berubah-ubah.
Plato juga mengakui bahwa dunia inderawi yang serba majemuk dan puspa ragam adalah
juga suatu realitas, namun bukanlah suatu realitas yang sebenarnya. Dunia inderawi
hanyalah tiruan sementara dari dunia ide. Oleh sebab itu yang paling utama bagi Plato
ialah dunia ide. Tetapi itu tidak berarti dunia inderawi harus disangkal keberadaannya. Ke
dua dunia itu tetap merupakan realitas sendiri-sendiri kendati pun yang inderawi
hanyalah merupakan tiruan dari dunia ide. Ada dua cara untuk mengenal ke dua dunia itu.
Dunia inderawi dikenal lewat panca indera, sedangkan dunia ide dikenal lewat akal budi.
- Plato percaya bahwa ada dua dunia di alam yang kita huni ini. Pertama, dunia
spiritual atau dunia mental yang bersifat abadi, permanen, berurutan, teratur, dan
universal. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan
dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang nampak, karena idea merupakan
wujud yang hakiki. Kedua, dunia penampakan yaitu dunia pengalaman melalui
penglihatan, sentuhan, bau, rasa, dan suara yang sifatnya berubah, tidak sempurna,
dan tidak teratur. Apa yang dialami kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini
seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang mati demikian
seterusnya. Pembagian ini berdasar pada hakekat dualitas manusia, yaitu Jiwa dan
Raga. Keberadaan idea tidak nampak dalam wujud lahiriah tetapi gambaran yang asli
hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah
gambaran dari dunia idea sebab posisinya tidak menetap sedangkan yang sangat
absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada
kenyataannya idea digambarkan dengan dunia yang tidak terbentuk demikian jiwa
bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea.
- Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan
Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea
yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-
orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam
pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea
tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang
tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial,
abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita..
Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua
buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat
terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling
tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang
“indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.
6. Tidak semua orang yang berfikir itu berfilsafat, karena dalam berfilsafat ada beberapa
hal yang perlu di perhatikan, seperti ketentuan dan ciri ciri yang mesti ada dalam
berfilsafat itu sendiri. Begitupun tidak bisa dipisahkannya filsafat dengan berbagai
persoalan yang ada di diri kita Karena dengan berfilsafat, manusia akan mampu menjadi
seorang yang lebih manusiawi. Dalam arti, mereka akan lebih lebih mampu
menggunakan rasio yang dimilikinya sebagaimana manusia adalah mahluk yang berakal.
Sehingga dalam memutuskan sesuatu, tidak serta-merta kita akan berpatokan lagi
terhadap apa yang belum riil, seperti pemahaman-pemahaman yang telah ada yang tidak
menutup kemungkinan sudah tak bisa layak pakai dalam suatu konteks. Di sisi lain salah
satu kenisibian filsafat ada pada Pendekatan demi pendekatan dilakukan guna ingin
mencapai suatu pemahaman yang utuh tentang kebenaran. Tanpa adanya asumsi,
pengetahuan tidak akan pernah lahir, karena melalui inilah segala pengetahuan itu
terbentuk. Dalam relativitas kebenarana, kunci yang paling pokok untuk memahaminya
adalah bahwa setiap kebenaran itu bersifat relatif, dan tidak ada yang absolut. Sama
halnya dengan tidak cukupnya filsafat sebagai pegangan hidup tunggal bagi kita karena
Bila tanpa dasar , filsafat akan tersesat dan terombang-ambing dalam kedangkalan
rasionalitas yang kadang menjebak. Untuk itulah dalam berfilsafat selalu harus ada dasar.
Islam disini berfungsi sebagai dasar, pedoman dan pegangan agar manusia tak mudah
tersesat dengan kebingungan yang ia buat sendiri. Islam disini berfungsi sebagai akar dari
suatu pohon, dimana bila pohon itu tanpa akar ai akan mudah sekali roboh bila tertiup
angin. Dan filsafat dalam islam layaknya ranting dari suatu pohon. Yakni dimana tempat
daun dan buah tumbuh dan berkembang. Tanpa filsafat dan rasionalitas yang benar,
terbuka dan kritis, maka al-Quran hanya akan dipahami secara tekstual dan konvensional,
bukankah al-Quran itulikulli zaman wa makanyaitu selalu sesuai untuk seluruh zaman
dan tempat. Filsafat diperlukan untuk membuat manusia berfikir kritis dan mampu
mengimplementasikan nilai-nilai al-Quran sesuai zaman yang tak pernah statis dan selalu
berkembang ini.