Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

UJI KANDUNGAN URIN

Nama Anggota:
1. Eriko Octarevia (04)
2. Daniella Nadia Prijadi (12)
3. Jacklyn Yosefhin Maria M. (18)
4. Felicia Novena (22)
5. Gloria Nathania (30)
Kelas XI MIPA 2

SMA STELLA DUCE 1 YOGYAKARTA


2018 / 2019
BAB I. PENDAHULUAN

A. JUDUL
Uji Kandungan Urin

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kandungan pH urin, kandungan amonia, klorida, glukosa, dan
protein dalam urin?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui kandungan pH urin, kandungan ammonia, klorida,
glukosa, dan protein dalam urin.

D. MANFAAT
Manfaat praktikum ini antara lain:
1. Bagi Siswi
Laporan ini bermanfaat sebagai sarana untuk menambah pengetahuan
siswi mengenai kandungan pada urin.
2. Bagi Peneliti
Laporan ini bermanfaat sebagai bahan untuk praktikum selanjutnya dan
sebagai referensi sebelum melakukan praktikum.
3. Bagi Pembaca
Laporan ini bermanfat untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi
para pembacanya.
BAB II. DASAR TEORI

Urin atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal
yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Urin
terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea),
garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari
darah atau cairan interstisial. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi
sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk
mempercepat pembentukan kompos. Urin normal berwarna jernih transparan
warna kuning muda. Urin berasal dari zat warna empedu. Urin berbau khas jika
diberikan agak lama, berbau ammonia pada kisaran 6,8-7,2. Volume urin normal
kisaran 900-1200 ml.

Proses pembentukan urin antara lain :

1. Filtrasi (penyaringan)
2. Reabsorpsi (penyerapan)
3. Augmentasi (pengumpulan)
Buang air kecil merupakan suatu hal yang normal namun kenormalan
tersebut dapat menjadi tidak normal apabila urin yang dikeluarkan tidak seperti
biasanya. Mengalami perubahan warna misalnya. Atau merasa nyeri saat
melakukan proses buang air kecil. Dari contoh tersebut tentu saja terdapat sebab
mengapa hal itu dapat terjadi. Jika hal itu terjadi maka yang perlu di lakukan
adalah dengan cara melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan pada urin dapat
menentukan penyakit apa yang sedang diderita oleh seseorang. Oleh sebab itu
dalam makalah ini kami akan membahas bagaimana proses pemeriksaan urin,
alat-alat yang digunakan dan apa saja kegunaan urin dalam menentukan diagnosa
suatu penyakit.

Kandungan urin dalam kondisi normal, didalam urin yang normal biasanya
mengandung zat-zat berikut ini yaitu:

 Air, urea dan amonia


 Garam mineral, terutama Nacl
 Pigmen empedu yang menghasilkan warna kuning di urin
 Zat-zat yang kelebihan di darah, seperti; vitamin, obat-obatan dan
hormon
A. pH URIN

pH tubuh dalam keadaan normal idealnya berkisar pada rentang netral-


cenderung basa, yaitu sekitar 7.35 sampai 7.45. Kadar pH yang kurang dari 7
dikatakan bersifat asam dan jika lebih dari 7 sudah tergolong basa. Tubuh
menjaga kadar pHnya dengan bantuan ginjal dan paru-paru untuk mengatur kadar
bikarbonat. Bikarbonat digunakan sebagai pelindung jika tiba-tiba pH mengalami
perubahan.

Ginjal berperan untuk mengubah jumlah asam dan basa yang ada di dalam
tubuh, sementara pusat pernapasan di dalam otak mengatur paru-paru untuk
mengendalikan jumlah karbondioksida yang Anda keluarkan saat bernapas.
Gangguan pada salah satu atau ketiga faktor penyeimbang pH tubuh ini akan
membuat sifat darah menjadi terlalu asam atau terlalu basa.

Kadar pH tubuh sebaiknya harus selalu berada di rentang yang ideal. Jika
kondisi cairan tubuh terlalu asam atau terlalu basa, hal ini akan berdampak pada
fungsi organ tubuh dan kerja metabolisme tubuh. Sebab, organ-organ tubuh Anda
hanya bisa berfungsi pada kondisi pH tertentu. Jika cairan tubuh terlalu asam,
seseorang akan memasuki fase asidosis. Jika kadar cairan tubuh terlalu basa, hal
ini akan mengganggu keseimbangan mineral kalium dalam tubuh dan kalsium
darah. Kondisi peningkatan kadar basa dikenal dengan istilah alkalosis.

B. KANDUNGAN AMONIA DALAM URIN

Urin terdiri dari air dan zat-zat terlarut berupa sisa-sisa metabolisme tubuh,
seperti urea, garam terlarut, dan materi organik lainnya. Komposisi urin berubah
sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, seperti
glukosa, diserap kembali oleh tubuh. Zat-zat yang tersisa antara lain urea yang
dapat berpotensi racun yang harus dikeluarkan oleh tubuh.
Urea dalam urin dapat mengalami reaksi hidrolisis oleh air menjadi menjadi
amonia yang menyebabkan bau pesing (bau amonia) pada urin sesuai reaksi
berikut:

CO(NH2)2 (aq) + H2O (l) → CO2 (g) + 2NH3 (g)

Bau urin dipengaruhi oleh berbagai hal. Dehidrasi mempengaruhi bau urin.


Bau amonia terjadi ketika bahan kimia dalam urine terkonsentrasi karena
kurangnya air. Selain itu, air kencing akan berwarna kuning pekat atau hampir
kecokelatan karena kekurangan cairan. Infeksi saluran kencing juga
mempengaruhi bau urin. Ketika bakteri masuk ke saluran kencing, bakteri akan
mengubah urea menjadi amonia. Oleh karena itu, air kencing akan bau amonia
yang menyengat. Diet adalah penyebab paling umum air kencing bau amonia.
Makanan, obat-obatan, dan suplemen tertentu dapat menyebabkan perubahan bau
dan warna pada air kencing. Asparagus, sebagai besar makanan yang mengandung
vitamin B6, dan makanan tinggi protein dapat meningkatkan sifat asam urine dan
urine berbau amonia.

C. KANDUNGAN KLORIDA DALAM URIN

Klorida merupakan suatu elektrolit yang memiliki peranan penting dalam


menjaga keseimbangan cairan di dalam dan di luar sel-sel tubuh, serta
mempertahankan volume darah normal, tekanan darah, dan pH cairan tubuh.
Sebagian besar ion klorida di dalam tubuh berasal dari garam (NaCl) yang
terdapat dalam makanan yang dikonsumsi. Klorida diabsorbsi dalam saluran
gastrointestinal, dan kelebihannya akan dikeluarkan melalui urin.

Dengan penambahan larutan AgNO3 ke dalam urin, akan terjadi persamaan


reaksi sebagai berikut:

NaCl + AgNO3 → NaNO3 + AgCl

Pada urin normal, klorida hanya ditemukan dalam jumlah sedikit. Jika
kandungan klorida terlalu banyak, dapat mengakibatkan gangguan pada ginjal,
seperti pengendapan pada ginjal atau batu ginjal. Keberadaan klorida juga
menunjukkan kadar pH dalam darah. Apabila kadar klorida tinggi, maka darah
terlalu asam.

D. KANDUNGAN GLUKOSA DALAM URIN

Apabila di dalam urin terdapat glukosa, seseorang dapat mengalami diabetes


mellitus atau glikosuria. Diabetes mellitus disebabkan karena tingginya kadar
glukosa dalam darah akibat kekurangan hormon insulin. Glikosuria adalah
penyakit yang disebabkan karena kerusakan pada tubulus kontortus proksimal dan
henle sehingga glukosa tidak dapat diserap kembali secara sempurna dan urin
mengandung glukosa.

Agar urin tidak mengandung glukosa, seseorang harus menjaga kadar gula
darahnya. Berikut adalah cara-cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kadar
gula darah.

 Melakukan aktivitas fisik setiap hari minimal 30 menit sebanyak lima hari
seminggu.
 Mengurangi asupan gula dan lemak dan memperbanyak konsumsi biji-bijian,
sayuran, dan buah. Mengurangi asupan gula baik secara langsung maupun
tidak dapat membantu mencegah kadar gula darah yang tinggi di dalam urin.
 Mengonsumsi fenugreek dan jus dari labu pahit untuk membantu
mengendalikan gula darah.
 Rutin melakukan periksa kesehatan ke dokter, terutama saat hamil. Selama
kehamilan, urinalisis (tes urine) harus dilakukan secara berkala untuk
memeriksa apakah Anda mengalami diabetes gestasional atau glikosuria.

E. KANDUNGAN PROTEIN DALAM URIN

Apabila di dalam urin terkandung protein, seseorang dapat mengalami


proteinuria. Proteinuria tidak memiliki tanda-tanda atau gejala pada tahap awal.
Sejumlah besar protein dalam urin dapat menyebabkan urin terlihat seperti busa di
toilet. Karena protein telah meninggalkan tubuh, darah tidak bisa lagi menyerap
cukup cairan, maka pembengkakan di tangan, kaki, perut, atau wajah dapat
terjadi. Pembengkakan ini disebut edema. Ini adalah tanda-tanda hilangnya
protein dalam jumlah besar dan menunjukkan bahwa penyakit ginjal telah
berkembang. Pengujian laboratorium adalah satu-satunya cara untuk mengetahui
apakah protein ditemukan dalam urin seseorang sebelum kerusakan ginjal yang
luas terjadi.
BAB III. METODOLOGI

A. ALAT
1. Gelas kimia
2. Tabung reaksi 5 buah
3. Rak tabung reaksi
4. Kerta indikator pH universal
5. Penjepit tabung reaksi
6. Bunsen
7. Korek api

B. BAHAN
1. Urin
2. Larutan biuret
3. Larutan benedict
4. Larutan AgNO3
5. Cawan petri

C. CARA KERJA
1. Mengukur pH urin
1. Memasukkan urine sebanyak 2 ml ke dalam cawan petri.

2. Memasukan kertas indikator pH universal dalam cawan petri yang berisi urin.

3. Mengamati perubahan warnanya dan cocokkan warnanya dengan standar pH.

2. Mengetahui bau amonia dalam urin


1. Memasukkan 2 ml larutan bahan ke dalam tabung reaksi.

2. Menjepit dengan penjepit tabung reaksi. panaskan dengan lampu spiritus.

3. Mencium baunya.
3. Mengetahui kandungan klorida dalam urin
1. Memasukkan 2 ml larutan bahan ke dalam tabung reaksi.

2. Menambahkan 5 tetes larutan AgNO 3 5%.

3. Mengamati perubahan yang terjadi.

4. Uji glukosa
1. Memasukkan 2 ml larutan bahan ke dalam tabung reaksi.

2. Menambahkan 1 ml larutan benedict.

3. Menjepit dengan penjepit kemudian panaskan dengan bunsen.

4. Mengamati perubahan warna yang terjadi.

5. Uji protein
1. Memasukkan 2 ml larutan bahan ke dalam tabung reaksi.

2. Menambahkan 5 tetes larutan biuret. Kocok dan biarkan kira-kira 2 menit.

3. Mengamati perubahan warna yang terjadi.

D. WAKTU PELAKSANAAN
Hari, tanggal : Selasa, 19 Februari 2019
Waktu : 08.30 – 10.00 WIB
Tempat : laboratorium biologi SMA Stella Duce 1
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
1. pH urin

Nama pH Urin Arti pH Urine


1. Gloria 7 Netral
2. Nadia 7 Netral
3. Vina 6,5 Sedikit asam

2. Kandungan amonia dalam urin

Nama Bau Arti kandungan amonia dalam urin


1. Gloria + Menyengat (sedikit mengandung amonia)
2. Nadia + Menyengat (sedikit mengandung amonia)
3. Vina + Menyengat (sedikit mengandung amonia)

3. Kandungan klorida dalam urin

Perubahan setelah diberi Arti kandungan klorida


Nama
larutan AgNO3 5% dalam urin
1. Eriko Putih kekuningan Sedikit mengandung klorida
2. Nadia Oranye Sedikit mengandung klorida
3. Gloria Putih keruh, sedikit Lebih banyak mengandung
mengendap klorida

4. Uji glukosa

Perubahan setelah diberi Arti kandungan glukosa


Nama
larutan benedict + dipanaskan dalam urin
1. Vina Hijau tua Sedikit mengandung glukosa
2. Eriko Hijau lumut Sedikit mengandung glukosa
3. Gloria Hijau tosca Sedikit mengandung glukosa

5. Uji protein

Nama Perubahan setelah diberi Arti kandungan protein


larutan biuret dalam urin
1. Vina Kuning (tidak berubah) Tidak mengandung protein
2. Eriko Kuning (tidak berubah) Tidak mengandung protein
3. Nadia Bening (tidak berubah) Tidak mengandung protein

B. PEMBAHASAN
1. pH urin
Pada praktikum ini, pH urin ditentukan dengan menggunakan
indikator universal. Indikator universal dicelupkan ke dalam urin sehingga
mengalami perubahan warna. Perubahan warna itu dicocokkan dengan
standar pH yang ada sehingga pH urin dapat ditentukan. Berdasarkan data
hasil pengamatan, pH urin Gloria dan Nadia adalah 7 sehingga urin
bersifat netral. pH urin Vina adalah 6,5 sehingga urin bersifat sedikit
asam. pH urin Gloria, Nadia, dan Vina termasuk normal.
pH urin pada orang normal adalah 4,8 – 7,4. pH di bawah 7,0
disebut asam, sedangkan pH di atas 7,0 disebut basa. pH urin dapat
berubah-ubah dan bergantung pada makanan yang dikonsumsi seseorang.
Urin akan lebih bersifat asam jika mengonsumsi banyak protein hewani,
sedangkan urin lebih bersifat basa jika mengonsumsi banyak sayuran.
Tubuh menjaga kadar pHnya dengan bantuan ginjal dan paru-paru
untuk mengatur kadar bikarbonat. Bikarbonat digunakan sebagai
pelindung jika tiba-tiba pH mengalami perubahan. Paru-paru untuk
mengendalikan jumlah karbondioksida yang dikeluarkan saat bernapas,
sedangkan ginjal berperan untuk mengeluarkan asam dari sisa
metabolisme yang tidak mudah menguap. Ginjal juga mengatur jumlah
asam dan basa yang ada di dalam tubuh. Gangguan pada salah satu atau
ketiga faktor penyeimbang pH tubuh ini akan membuat sifat darah
menjadi terlalu asam atau terlalu basa.
Keasaman urin utamanya berkaitan dengan asam pospat dan hanya
sedikit bagian yang dikontribusikan oleh asam-asam organik seperti asam
pyruvic, asam laktat dan asam sitrat. Asam-asam ini dikeluarkan pada
urin sebagai garam, natrium, kalium, kalsium dan ammonium. Beberapa
keadaan yang dapat menyebabkan pH urin menjadi basa antara lain diet
vegetarian, setelah makan, muntah hebat, infeksi saluran kencing oleh
bakteri Proteus dan Pseudomonas, urine disimpan lebih lama, terapi obat-
obatan tertentu, atau gangguan proses pengasaman pada bagian tubulus
ginjal. Sebaliknya, pH urin bisa menjadi asam karena diabetes, demam,
asidosis sistemik, diet protein tinggi, atau terapi obat-obatan tertentu.
Kadar pH tubuh sebaiknya harus selalu berada di rentang yang
ideal (netral). Jika kondisi cairan tubuh terlalu asam atau terlalu basa,
fungsi organ tubuh dan kerja metabolisme tubuh akan terganggu karena
organ-organ tubuh hanya bisa berfungsi pada kondisi pH tertentu.
Jika cairan tubuh terlalu asam, seseorang akan memasuki fase asidosis
yang membahayakan nyawa, terutama jika sudah memasuki fase
ketoasidosis. Sabliknya, jika cairan tubuh terlalu basa, keseimbangan
mineral kalium dalam tubuh dan kalsium darah akan terganggu. Kondisi
ini disebut dengan alkalosis. Jika dibiarkan, seseorang dapat mengalami
koma.
2. Kandungan amonia dalam urin
Urin terdiri dari air dan zat-zat terlarut berupa sisa-sisa
metabolisme tubuh, seperti urea, garam terlarut, dan materi organik
lainnya. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika
molekul yang penting bagi tubuh, seperti glukosa, diserap kembali oleh
tubuh. Zat-zat yang tersisa antara lain urea yang dapat berpotensi racun
yang harus dikeluarkan oleh tubuh.
Pada uji kandungan amonia ini, urin yang mengandung urea
dipanaskan dengan lampu spiritus. Pemanasan ini dapat mempercepat
reaksi hidrolisis urea oleh air menjadi menjadi amonia yang menyebabkan
bau pesing (bau amonia) pada urin sesuai reaksi berikut:
CO(NH2)2 (aq) + H2O (l) → CO2 (g) + 2NH3 (g)
Berdasarkan data hasil pengamatan, urin Gloria, Nadia, dan Vina
sedikit berbau menyengat. Bau itu disebabkan karena adanya amonia
dalam urin. Namun, kandungan amonia tersebut masih normal karena bau
urin tidak sangat menyengat.
Perubahan bau urin dapat disebabkan karena berbagai hal.
Dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh menyebabkan urin menjadi pekat
sehingga bau amonia dalam urin lebih menyengat. Bau urin yang
menyengat juga dapat disebabkan karena infeksi saluran kencing oleh
bakteri. Ketika bakteri masuk ke saluran kencing, bakteri akan mengubah
urea menjadi amonia sehingga bau urin menjadi lebih menyengat. Selian
itu, diet juga menyebabkan urin berbau menyengat. Makanan, obat-
obatan, dan suplemen tertentu dapat menyebabkan perubahan bau dan
warna pada urin. Pada penderita diabetes, urin mengandung aseton
sehingga menimbulkan bau manis.
3. Kandungan klorida dalam urin
Berdasarkan data hasil percobaan, urin Eriko dan Nadia yang
diberi AgNO3 5% berubah menjadi oranye atau putih keruh, tetapi tidak
mengendap. Hal ini menunjukkan adanya kandungan klorida dalam urin,
tetapi tidak berlebihan. Namun, urin Gloria yang diberi AgNO3 5%
berubah menjadi putih dan sedikit mengendap. Hal ini menunjukkan
adanya kandungan klorida dalam urin yang sedikit lebih banyak dari 2
sampel lainnya.
Perubahan warna larutan menjadi putih atau putih keruh
disebabkan karena terjadi pengikatan ion Cl- oleh senyawa perak nitrat.
Ion klorida merupakan zat yang seharusnya ada di dalam urin sebagai
hasil ekskresi sisa metabolisme tubuh manusia.
Klorida merupakan suatu elektrolit yang memiliki peranan penting
dalam menjaga keseimbangan cairan di dalam dan di luar sel-sel tubuh,
serta mempertahankan volume darah normal, tekanan darah, dan pH
cairan tubuh. Sebagian besar ion klorida di dalam tubuh berasal dari
garam (NaCl) yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi. Klorida
diabsorbsi dalam saluran gastrointestinal, dan kelebihannya akan
dikeluarkan melalui urin.
Dari percobaan yang dilakukan, didapatkan persamaan reaksi
sebagai berikut:

NaCl + AgNO3 → NaNO3 + AgCl


Pada urin normal, klorida hanya ditemukan dalam jumlah sedikit.
Jika kandungan klorida terlalu banyak, dapat mengakibatkan gangguan
pada ginjal, seperti pengendapan pada ginjal atau batu ginjal. Keberadaan
klorida juga menunjukkan kadar pH dalam darah. Apabila kadar klorida
tinggi, maka darah terlalu asam.
4. Uji glukosa
Berdasarkan data hasil pengamatan, setelah diberi larutan benedict
dan dipanaskan, urin Vina berubah menjadi hjau tua, urin Eriko berubah
menjadi hijau lumut, dan urin Gloria berubah menjadi hijau tosca. Hal ini
menandakan bahwa di dalam urin tidak terkandung glukosa.
Pada keadaan normal, urin tidak mengandung glukosa karena
glukosa mengalami proses reabsorpsi atau penyerapan kembali untuk
digunakan tubuh. Apabila di dalam urin terdapat glukosa, seseorang dapat
mengalami diabetes mellitus atau glikosuria. Diabetes mellitus
disebabkan karena tingginya kadar glukosa dalam darah akibat
kekurangan hormon insulin. Glikosuria adalah penyakit yang disebabkan
karena kerusakan pada tubulus kontortus proksimal dan henle sehingga
glukosa tidak dapat diserap kembali secara sempurna dan urin
mengandung glukosa.
Agar urin tidak mengandung glukosa, seseorang harus menjaga
kadar gula darahnya. Berikut adalah cara-cara yang dapat dilakukan untuk
menjaga kadar gula darah.
 Melakukan aktivitas fisik setiap hari minimal 30 menit sebanyak lima hari
seminggu.
 Mengurangi asupan gula dan lemak dan memperbanyak konsumsi biji-bijian,
sayuran, dan buah. Mengurangi asupan gula baik secara langsung maupun
tidak dapat membantu mencegah kadar gula darah yang tinggi di dalam urin.
 Mengonsumsi fenugreek dan jus dari labu pahit untuk membantu
mengendalikan gula darah.
 Rutin melakukan periksa kesehatan ke dokter, terutama saat hamil. Selama
kehamilan, urinalisis (tes urine) harus dilakukan secara berkala untuk
memeriksa apakah Anda mengalami diabetes gestasional atau glikosuria.
 Rutin melakukan pengecekan kadar gula darah.
5. Uji protein
Berdasarkan data hasil percobaan, setelah diberi larutan biuret, urin
Vina, Eriko, dan Nadia tidak berubah warna. Hal ini menunjukkan bahwa
urin tidak mengandung protein.
Pada keadaan normal, urin tidak mengandung protein karena
protein tersaring oleh glomerulus. Apabila di dalam urin terkandung
protein, seseorang dapat mengalami proteinuria atau albuminuria.
Proteinuria merupakan tanda penyakit ginjal kronis, yang dapat
mengakibatkan diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit yang
menyebabkan peradangan pada ginjal.
Saat darah melewati ginjal yang sehat, ginjal menyaring produk
limbah dan meninggalkan hal-hal yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti
albumin dan protein lain. Kebanyakan protein terlalu besar untuk
melewati filter ginjal ke dalam urin. Namun, protein dari darah dapat
bocor ke dalam urin ketika filter dari ginjal, yang disebut glomerulus,
rusak.
Proteinuria tidak memiliki tanda-tanda atau gejala pada tahap awal.
Sejumlah besar protein dalam urin dapat menyebabkan urin terlihat
seperti busa di toilet. Karena protein telah meninggalkan tubuh, darah
tidak bisa lagi menyerap cukup cairan, maka pembengkakan di tangan,
kaki, perut, atau wajah dapat terjadi. Pembengkakan ini disebut edema.
Ini adalah tanda-tanda hilangnya protein dalam jumlah besar dan
menunjukkan bahwa penyakit ginjal telah berkembang. Pengujian
laboratorium adalah satu-satunya cara untuk mengetahui apakah protein
ditemukan dalam urin seseorang sebelum kerusakan ginjal yang luas
terjadi.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Dalam uji pH, 3 dari 3 sampel urin yang diuji memiliki pH yang normal,
yaitu netral, ditandai dengan hasil pH kisaran 6,5-7.
2. Dalam uji ammonia, 3 dari 3 sampel urin yang diuji memiliki kandungan
ammonia yang normal, ditandai dengan bau yang masih tidak terlalu
menyengat.
3. Dalam uji klorida, 2 dari 3 sampel urin yang diuji memiliki kandungan
klorida yang normal, ditandai dengan warna urin yang ditetesi AgNO3
menjadi putih keruh atau oranye tetapi tidak mengendap, sedangkan 1
sampel menjadi putih keruh dan sedikit mengendap yang mengindikasikan
adanya kandungan klorida yang lebih banyak dari 2 sampel lainnya.
4. Dalam uji glukosa, 3 dari 3 sampel urin yang diuji normal karena tidak
mengandung glukosa, ditandai dengan berubahnya warna larutan setelah
ditetesi benedict dan dipanaskan menjadi hijau-biru, dan bukan merah atau
merah bata.
5. Dalam uji protein, 3 dari 3 sampel urin yang diuji normal karena tidak
mengandung protein, ditandai dengan tidak berubahnya warna ketika
ditetesi larutan biuret.

B. SARAN
1. Dalam melakukan percobaan harus memastikan kebersihan tabung reaksi
yang digunakan agar tidak mempengaruhi hasil percobaan.
2. Dalam melakukan percobaan harus teliti dalam menakar atau mengamati
warna maupun bau agar didapat hasil yang akurat.
3. Untuk percobaan selanjutnya dapat dicobakan pada lebih banyak sampel
untuk bisa lebih membandingkan hasil pengujian.

DAFTAR PUSTAKA

Irnaningtyas. 2014. BIOLOGI. Jakarta: Erlangga.


LAMPIRAN

1. pH Urin

pH urin Gloria: 7 pH urin Vina: 6,5 pH urin Nadia: 7

2. Uji Amonia

Gloria Vina Nadia


(ketiganya berbau tetapi tidak sangat menyengat)

3. Uji Klorida dalam Urin

Nadia Eriko Gloria


4. Uji Glukosa dalam Urin

Eriko Gloria Vina

5. Uji Protein dalam Urin

Eriko Vina Nadia


LEMBAR KONTRIBUSI

No. Nama Anggota Kontribusi


1. Eriko Membuat alat bahan dan cara kerja,
menguji klorida, glukosa, dan protein.
2. Daniella Membuat manfaat, dasar teori, data hasil
pengamatan, pembahasan, dan lampiran,
menguji pH, klorida, ammonia, protein.
3. Jacklyn Membuat dasar teori, menguji pH,
ammonia, dan glukosa.
4. Felicia Membuat judul, rumusan masalah, dan
tujuan, mencatat data pengamatan,
mendokumentasi untuk data lampiran.
5. Gloria Membuat kesimpulan, saran, dan
mengeprint laporan, menguji pH,
ammonia, dan klorida.

Anda mungkin juga menyukai