Anda di halaman 1dari 31

PUSDIKLAT TENAGA TEKNIS

PENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN


BALITBANGDIKLAT KEMENTERIAN AGAMA RI

PENGELOLAAN KEUANGAN
MADRASAH
BAHAN AJAR PELATIHAN CALON KEPALA MADRASAH
BAHAN AJAR
PENGELOLAAN KEUANGAN MADRASAH
PELATIHAN CALON KEPALA MADRASAH

Oleh:

Widyaiswara Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagmaan

KEMENTERI AGAMA RI
BADAN LITBANG DAN DIKLAT
PUSDIKLAT TENAGA TEKNIS PENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN
TAHUN 2020
Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam senantiasa
terlimpah atas Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan para shahabatnya yang
telah menghantarkan umat manusia dari kondisi batil menuju kondisi hak, dan telah
membimbing manusia dari masa jahiliyah menuju masa penuh inayah.
Atas segala nikmat, hidayah dan kebesaran-Nya, penulis dapat menyelesaikan
bahan ajar Pengelolaan Keuangan Madrasah sebagai salah satu bahan bacaan peserta
pelatihan.
Bahan ajar ini merupakan bahan utama pembelajaran dalam Pelatihan Calon Kepala
Madrasah yang merupakan rangkaian dari mata pelatihan kelompok inti: Kepemimpinan
Perubahan Madrasah; Kepemimpinan Kewirausahaan; EDM dan Pengembangan
Madrasah Berdasarkan 8 Standar Nasional Pendidikan; Pengelolaan Sumberdaya
Madrasah dan Administrasi; Penyusunan Rencana Kerja Madrasah (RKM);
Pengelolaan Kurikulum; Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan;
Pengelolaan Sarana dan Prasarana; Pengelolaan Peserta Didik; Pengelolaan
Keuangan Madrasah; Pengelolaan Ketatausahaan Madrasah; Pemanfaatan TIK
dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran; Penyusunan Perangkat Pembelajaran
(Silabus, RPP, Bahan Ajar dan Penilaian); Supervisi Guru dan Tendik; Penelitian
Tindakan Madrasah; Rencana PKB; Penyusunan Laporan Praktik Lapangan dan
Bahan Presentasi Hasil Praktik Lapangan.
Akhirnya, Penulis berharap bahan ajar ini dapat bermanfaat bagi dunia pelatihan
khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya.

Jakarta, Mei 2020


Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar .......................................................................................................... i

Daftar Isi .................................................................................................................... ii

A. Deskripsi Singkat ................................................................................................ 1

B. Kompetensi .......................................................................................................... 1

C. Indikator Kompetensi .......................................................................................... 1

D. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan ............................................................. 1

E. Uraian Materi ...................................................................................................... 1

1. Pengelolaan Keuangan Madrasah ................................................................. 1

a. Konsep Pengelolaan Keuangan Madrasah .............................................. 1

b. Tujuan Pengelolaan Keuangan Madrasah................................................ 2

c. Landasan Hukum .................................................................................... 3

d. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan Madrasah .................................. 5

e. Perencanaan dan Pembelanjaan Dana Madrasah .................................... 6

f. Pembukuan .............................................................................................. 11

g. Pelaporan dan Pertanggungjawaban Dana Madrasah ............................. 18

h. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Madrasah ...................................... 19

2. Perpajakan ..................................................................................................... 20

F. Aktivitas Pembelajaran/ Project Work ............................................................... 24

G. Latihan/Lembar Kerja ......................................................................................... 24

Daftar Pustaka ........................................................................................................... 25

Bahan Bacaan ........................................................................................................... 25

ii
BAHAN AJAR
PENGELOLAAN KEUANGAN MADRASAH
Pelatihan Calon Kepala Madrasah

A. Deskripsi Singkat
Mata pelatihan ini membahas tentang pengelolaan keuangan madrasah dan perpajakan.
B. Kompetensi
Setelah mengikuti mata pelatihan ini peserta diharapkan mampu mengelola keuangan
madrasah
C. Indikator Kompetensi
Pada akhir pembelajaran peserta pelatihan diharapkan mampu:
1. Menjelaskan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan
2. Membuat RKAM
3. Membuat pembukuan keuangan madrasah
4. Menghitung pajak berdasarkan aturan perpajakan
D. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan
1. Pengelolaan Keuangan Madrasah
a. Konsep pengelolaan keuangan madrasah
b. Tujuan pengelolaan keuangan madrasah
c. Landasan Hukum
d. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan
e. Perencanaan dan Pembelanjaan dana madrasah
f. Pembukuan
g. Pelaporan dan pertanggungjawaban dana madrasah
h. Pengawasan pengelolaan keuangan madrasah
2. Perpajakan
E. Uraian Materi
1. Pengelolaan Keuangan Madrasah
a. Konsep Pengelolaan Keuangan Madrasah
Pengelolaan keuangan sekolah/madrasah merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dalam manajemen keuangan. Secara umum, manajemen keuangan
merupakan pengendalian atas fungsi-fungsi keuangan yang meliputi kegiatan

1
perencanaan, penganggaran, pengelolaan, pencarian, penyimpanan, pengendalian
dan pemeriksaan keuangan.
Manajemen keuangan di tingkat sekolah/madrasah pada dasarnya tidak
berbeda dengan manajemen keuangan secara umum. Departemen Pendidikan
Nasional (2011) mendefinisikan pengelolaan keuangan sebagai tindakan
pengurusan/ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, perencanaan,
pelaksanaan, pertanggungjawaban dan pelaporan. Dengan kata lain pengelolaan
keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas yang mengatur keuangan sekolah
mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan
pertanggungjawaban keuangan sekolah.
Pengelolaan keuangan sekolah/madrasah secara profesional memungkinkan
satuan pendidikan tumbuh secara optimal dan pada akhirnya diharapkan mampu
mendukung kegiatan belajar mengajar yang berkualitas. Sekolah/Madrasah bukanlah
lembaga yang bersifat mencari profit, maka setiap penerimaan sekolah harus
digunakan kembali untuk peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan pendidikan
itu sendiri.
Menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dijelaskan bahwa dana pendidikan adalah seluruh pengeluaran yang berupa
sumber daya (input) baik berupa barang maupun uang yang ditujukan untuk
menunjang kegiatan proses belajar mengajar. Hal ini menuntut sekolah untuk
melakukan pengelolaan dana pendidikan yang diperolehnya secara profesional.
Kepala sekolah sebagai pengelola keuangan diharapkan memahami konsep
pengelolaan keuangan sekolah dengan baik, sehingga mampu mengimplementasikan
kegiatan pengelolaan dana sekolah dengan tepat. Oleh karena itu, kepala
sekolah/madrasah juga harus memahami peraturan-peraturan yang berlaku terkait
dengan pengelolaan keuangan sekolah/madrasah dan pendanaan pendidikan dengan
prinsip pengelolaan keuangan yang akuntabel, transparan dan efisien.

b. Tujuan Pengelolaan Keuangan Madrasah

Melalui kegiatan pengelolaan keuangan yang baik, kebutuhan pendanaan kegiatan


sekolah dapat direncanakan, diupayakan pengadaannya, dibukukan secara
transparan, dan digunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara

2
efektif dan efisien. Oleh karena itu, tujuan pengelolaan keuangan menurut
Kementerian Pendidikan Nasional (2011:163) adalah:

1) meningkatkan akuntabilitas dan transparansi penggunaan dana sekolah,


2) meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan dana sekolah,
3) mendorong pemanfaatan dana sekolah secara lebih ekonomis,
4) meminimalkan penggunaan anggaran sekolah,
5) memupuk kreativitas pencarian sumber pendanaan sekolah,
6) mendorong kompetensi penanggungjawab keuangan sekolah.
Untuk mencapai tujuan di atas dibutuhkan kreativitas dan komitmen kepala
sekolah/madrasah dalam menggali sumber-sumber dana, menempatkan
bendaharawan yang menguasai pembukuan dan pertanggungjawaban keuangan,
serta memanfaatkan dana sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

c. Landasan Hukum
Landasan hukum yang terkait dengan pengelolaan keuangan sekolah/madrasah
antara lain:
1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2) Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
3) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, yang diubah menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013
tentang Perubahan Pertama PP Nomor 19 tahun 2005, dan PP Nomor 13 tahun
2015 tentang Perubahan Kedua PP Nomor 19 Tahun 2005;
4) Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan;
5) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas PP Nomor 17 Tahun
2010;
6) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2008 tentang Buku;
7) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara
Pembayaran Dalam rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
3
178/PMK.05/2018 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam rangka Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
8) Peraturan Menteri Agama Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pejabat
Perbendaharaan Negara Pada Kementerian Agama sebagimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 63 Tahun 2016 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Agama Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pejabat
Perbendaharaan Negara Pada Kementerian Agama;
9) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme
Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
173/PMK.05/20116 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan
Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga;
10) Peraturan Menteri Agama Nomor 67 Tahun 2015 tentang Bantuan Pemerintah
pada Kementerian Agama sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 62 Tahun 2016 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Menteri Agama Nomor 67 Tahun 2015 tentang Bantuan
Pemerintah pada Kementerian Agama;
11) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122/PMK.010/2015 tentang Penyesuain
Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak;
12) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2016 tentang
Buku yang Digunakan oleh Satuan Pendidikan;
13) Peraturan Menteri Agama Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Agama;
14) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.10/2017 tentang Pemungutan
Pajak Penghasilan Pasal 22 sehubungan dengan Pembayaran Atas Penyerahan
Barang dan Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha di Bidang lain;
15) Peraturan Menteri Agama Nomor 19 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Instansi Vertikal Kementerian Agama;
16) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.02/2029 tentang Standar Biaya
Masukan Tahun 2020;

4
17) Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2019 tentang
Petunjuk Teknis Pengelolaan Bantuan Operasional Pendidikan Pada Raudalatul
Athfal dan Bantuan Operasional Sekolah pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.

d. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan

Pengelolaan keuangan sekolah/madrasah perlu memperhatikan sejumlah prinsip.


Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan
dana pendidikan didasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan
akuntabilitas publik.

1) Keadilan
Keadilan dalam pengelolaan keuangan adalah adanya kesempatan yang sama
untuk mendapatkan pelayanan publik yang berkualitas. Prinsip ini menjadi
penting pada organisasi yang menyediakan layanan publik seperti pendidikan,
karena fokus pelayanan adalah agar masyarakat memperoleh kesempatan yang
sama dalam mengakses pelayanan pendidikan. Pengelolaan keuangan
diselenggarakan untuk mendukung pencapaian pemerataan kesempatan tersebut.
2) Efisiensi
Efisien terkait dengan kuantitas dari suatu kegiatan. Seringkali efisiensi
digambarkan sebagai perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan
keluaran (output). Daya yang dimaksud meliputi tenaga, pikiran, waktu, dan
biaya. Perbandingan tersebut dapat dilihat dari dua hal, yaitu:
(a) Dari penggunaan masukan (input), bahwa kegiatan dapat dikatakan efisien
apabila penggunaan waktu, tenaga, dan biaya yang sekecil-kecilnya dapat
mencapai hasil yang ditetapkan.
(b) Dari sisi hasil (output), bahwa kegiatan dapat dikatakan efisien apabila
dengan penggunaan waktu, tenaga dan biaya tertentu memberikan hasil
sebanyak-banyaknya, baik kuantitas maupun kualitasnya.
3) Transparansi
Transparansi berarti adanya keterbukaan. Transparansi di bidang pengelolaan
berarti adanya keterbukaan di bidang pengelolaan keuangan sekolah/madrasah.
Pada lembaga pendidikan, pengelolaan keuangan yang transparan berarti
adanya keterbukaan akan kebijakan-kebijakan keuangan, keterbukaan sumber

5
keuangan dan jumlahnya, keterbukaan penggunaan serta
pertanggungjawabannya sehingga memudahkan pihak-pihak yang
berkepentingan untuk mengetahuinya.
Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan
dukungan orangtua, masyarakat, dan pemerintah dalam penyelenggaraan
seluruh program pendidikan di sekolah/madrasah. Di samping itu, transparansi
dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah, masyarakat,
orang tua siswa, dan warga sekolah/madrasah melalui penyediaan informasi dan
menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
4) Akuntabilitas publik
Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena
kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan
yang menjadi tanggung jawabnya. Akuntabilitas di dalam pengelolaan
keuangan berarti penggunaan uang sekolah/madrasah dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku,
pihak sekolah/madrasah membelanjakan uang secara bertanggung jawab.
Pertanggungjawaban dapat dilakukan kepada orang tua, masyarakat, dan
pemerintah.
Terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas,
yaitu:
(a) transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima masukan dan
mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah;
(b) standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur dalam melaksanakan
tugas, fungsi dan wewenangnya, partisipasi untuk saling menciptakan
suasana kondusif dalam mengadakan pelayanan masyarakat dengan
prosedur yang mudah, biaya yang murah, dan pelayanan yang cepat.

e. Perencanaan dan Pembelanjaan Dana Madrasah


1) Perencanaan Pengelolaan Dana Sekolah
Sebelum melakukan pengalokasian anggaran untuk belanja madrasah,
kepala madrasah harus membuat perencanaan pengelolaan dana madrasah.
Perencanaan pengelolaan dana madrasah mengacu pada hasil Evaluasi Diri

6
Madrasah (EDM) dan program-program yang direkomendasikan dari hasil
EDM. Berdasarkan hasil EDM maka disusunlah program prioritas yang akan
dituangkan dalam Rencana Kerja Madrasah (RKM) yang terdiri jangka
menengah (4 tahun) berupa Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan
jangka pendek (1 tahun) berupa Rencana Kerja Tahunan (RKT) serta Rencana
Kegiatan dan Anggaran Madrasah (RKAM).
Saat merencanakan pengelolaan dana perlu dilakukan analisis sumber-
sumber dana dan jumlah nominal yang mungkin diperoleh dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan sesuai dengan hasil analisis yang dilakukan. Perpaduan
analisis kegiatan dan sumber dana serta menyangkut waktu pelaksanaannya ini
menghasilkan Rencana Kegiatan dan Anggaran Madrasah (RKAM).
RKAM merupakan rencana perolehan pembiayaan pendidikan dari
berbagai sumber pendapatan serta susunan program kerja tahunan yang terdiri
dari sejumlah kegiatan rutin serta beberapa kegiatan lainnya disertai rincian
rencana pembiayaannya dalam satu tahun anggaran yang bersifat terpadu, berisi
rencana penerimaan dan pengeluaran. RKAM ini merupakan pedoman
pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di madrasah agar tertib administrasi
dalam pengelolaan keuangan. Untuk mewujudkan asas atau prinsip
penganggaran, semua pendapatan dan belanja madrasah harus dicantumkan
dalam RKAM dan disusun sesuai kemampuan dan kebutuhan madrasah
berdasarkan peraturan yang berlaku. Semua dana yang terkumpul dialokasikan
untuk membiayai berbagai program dan kegiatan madrasah yang disusun
berdasarkan skala prioritas dan alokasi dana harus realistis.
Penyusunan RKAS memerlukan juga rincian pembiayaan, siapa yang
bertanggungjawab, serta waktu pelaksanaannya. Dengan demikian, kegiatan
dalam RKAS dapat dijabarkan lagi menjadi kegiatan bulanan atau mingguan,
sesuai dengan jenis kegiatan yang dilaksanakan, atau menjadi suatu rincian
program yang merupakan bagian RKAS. Rincian program berupa kegiatan
bulanan atau mingguan tersebut dapat dilampirkan dalam RKAS atau lampiran
dalam Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) keuangan yang digunakan.
Penentuan besaran biaya dalam RKAM dapat mengacu kepada ketentuan
Provinsi/Kabupaten/Kota masing-masing, atau ketentuan lain yang berlaku,
atau menurut harga pasar (sesuai dengan jenis pengadaan barang dan jasa).

7
Semua sumber dana harus dicantumkan dalam RKAM, baik dana yang diterima
satuan pendidikan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah, orang tua, masyarakat,
dan sumber lainnya.
Saat ini sumber pendanaan mayoritas madrasah dari dana pemerintah,
khususnya pendidikan dasar yang hanya bersumber dari dana BOS, maka proses
perencanaan anggaran sekolah harus mengacu pada Petunjuk Teknis BOS yang
diatur melalui Keputusan Dirjen Pendis No. 7330 Tahun 2019. Sebelum proses
perencanaan penganggaran BOS, sekolah juga harus menyelesaikan proses
input dan mengirim Data ke EMIS.
Pada beberapa daerah, Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) satuan
pendidikan sudah tercetak menggunakan program aplikasi SIstem Informasi
Manajemen Daerah (SIMDA) Keuangan yang telah dikembangkan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan Pusat (BPKP). Pada tahun 2015 sebanyak 78,41 % telah
menggunakan SIMDA Keuangan (Sumber: www.bpkp.or.id).
Jumlah anggaran yang ada di DPA masing-masing satuan pendidikan
nantinya akan dimasukkan dalam RKAM Satuan Pendidikan. Prosedur
penerimaan dana BOS sebagai berikut:
(a) Mengirimkan/memutahirkan daftar jumlah siswa untuk periode tahun
pelajaran melalui EMIS.
(b) Menyusun rincian kebutuhan untuk setiap periode (3 bulanan). Rincian
kebutuhan disusun berdasarkan jenis dan kebutuhan dengan mengacu pada
RKAM.
(c) Memeriksa apakah dana telah masuk di rekening madrasah (bank), jika dana
sudah masuk ke rekening maka dana yang masuk tersebut dicatat.
(d) Melakukan pembukuan dengan mencatat setiap pengambilan dana.
(e) Menyimpan bukti penerimaan dana sebagai dokumen sesuai nomor dan
tanggal di tempat yang aman dan mudah ditemukan.

2) Pembelanjaan Dana Sekolah


Dana BOS disalurkan dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke
Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) setiap triwulan pada waktu yang
ditentukan melalui peraturan perundang-undangan dari Kementerian Keuangan.
Pembelanjaan dana madrasah pada prinsipnya mencakup semua bentuk aliran

8
dana keluar madrasah yang digunakan untuk penyediaaan layanan pendidikan
baik langsung maupun tidak langsung. Pembelanjaan dana mengacu pada
perencanaan yang telah ditetapkan. Di madrasah, setiap pembelanjaan harus
mengacu pada komponen-komponen yang telah ditetapkan dalam RKAM.
Pembukuan uang yang masuk dan keluar harus dilakukan secara cermat dan
transparan. Oleh karena itu kepala madrasah dan bendahara harus memahami
regulasi yang terkait dengan pembelanjaan dan pembukuan keuangan.
Seperti halnya pada tahap perencanaan keuangan, dalam proses
pembelanjaan dana madrasah harus mengacu pada peraturan-peraturan maupun
petunjuk teknis dari sumber pendapatan keuangan madrasah atau berdasarkan
ketentuan pemberi dana dan madrasah. Setiap sumber dana umumnya
menetapkan syarat bagi penggunaan dana tersebut (kecuali tidak dinyatakan
demikian). Sebagai contoh dana dari pemerintah sudah ditentukan peruntukannya
untuk anggaran rutin seperti gaji dan tunjangan, tunjangan beras, uang lembur,
keperluan kantor, inventaris kantor, langganan daya dan jasa, pemeliharaan
gedung kantor, dan peliharaan/perbaikan ruang kelas/gedung madrasah. Hibah
dari lembaga-lembaga donor maupun dunia usaha dan industri juga seringkali
menentapkan ketentuan-ketentuan penggunaan dana yang harus ditaati oleh
madrasah.
Penggunaan BOS di madrasah diatur dengan petunjuk teknis melalui
Keputusan Perdirjen Pendis. Oleh karena itu kepala madrasah dalam mengelola
keuangan madrasah yang bersumber dari dana BOS harus memperhatikan
petunjuk teknis penggunaan dana BOS. Pemanfaatan dana BOS juga harus
mengacu pada komponen-komponen yang sesuai dengan ketentuan penggunaan
dalam Keputusan Perdirjen Pendis yang mengatur Penggunaan dana BOS pada
tahun berjalan. Untuk memperjelas rincian masing-masing penggunaan dana
BOS untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah lebih lanjut dapat dibaca
petunjuk teknis penggunaan dana BOS yang diterbitkan setiap tahun.
Selain pembelanjaan kegiatan dalam pengelolaan BOS, pembelanjaan
terkait barang/jasa yang bersumber dari BOS harus mengikuti mekanisme yang
berlaku, berikut:

9
(a) Pengelola madrasah harus memastikan bahwa barang/jasa yang akan dibeli
merupakan kebutuhan madrasah yang sudah sesuai dengan skala prioritas
pengelolaan/pengembangan madrasah.
(b) Pembelian/pengadaan barang/jasa harus mengedepankan prinsip
keterbukaan dan efisiensi anggaran dalam menentukan barang/jasa dan
tempat pembeliannya.
(c) Mekanisme pembelian/pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Ketentuan untuk pembelian/pengadaan barang/jasa yang dapat dilakukan
tanpa mekanisme lelang/pengadaan apabila:
• Barang/jasa sudah tersedia dalam ecatalogue yang diselenggarakan
oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
(LKPP) dan sekolah dapat mengaksesnya, maka sekolah harus
melakukan pembelian/pengadaan secara online;
• Barang/jasa belum tersedia dalam ecatalogue yang diselenggarakan
oleh LKPP atau sudah tersedia dalam ecatalogue namun sekolah
tidak dapat mengaksesnya, maka sekolah dapat melakukan
pembelian/pengadaan dengan cara belanja biasa, yaitu melakukan
perbandingan harga penawaran dari penyedia barang/jasa terhadap
harga pasar dan melakukan negosiasi.
(2) Ketentuan untuk pembelian/pengadaan barang/jasa yang harus
dilakukan dengan mekanisme lelang/pengadaan apabila:
• Barang/jasa sudah tersedia dalam ecatalogue (katalog elektronik)
yang diselenggarakan oleh LKPP dan sekolah dapat mengaksesnya,
maka sekolah harus melakukan pembelian/pengadaan secara online;
• Barang/jasa belum tersedia dalam ecatalogue yang diselenggarakan
oleh LKPP atau sudah tersedia dalam e-catalogue namun madrasah
tidak dapat mengaksesnya, maka Kantor Kementerian Agama
Provinsi/Kabupaten/Kota (sesuai dengan kewenangan pengelolaan
madrasah) harus membantu madrasah untuk melakukan
pembelian/pengadaan barang/jasa. Dalam pelaksanaan
pembelian/pengadaan barang/jasa, provinsi/kabupaten/kota/
madrasah harus mengedepankan mekanisme pembelian/pengadaan

10
secara e-procurement sesuai dengan kesiapan infrastruktur dan
Sumber Daya Manusia (SDM) setempat.
• Setiap pembelian/pengadaan barang/jasa, sekolah harus
memperhatikan kualitas barang/jasa, ketersediaan, dan kewajaran
harga.
• Setiap pembelian/pengadaan barang/jasa harus diketahui oleh
Komite Sekolah.
• Sekolah harus membuat laporan tertulis singkat tentang proses
pembelian/pengadaan barang/jasa yang telah dilaksanakan.
• Khusus untuk pekerjaan rehabilitasi ringan/pemeliharaan bangunan
sekolah, Tim BOS Sekolah harus:
(1) Membuat rencana kerja.
(2) Memilih satu atau lebih pekerja untuk melaksanakan pekerjaan
tersebut dengan standar upah yang berlaku di daerah setempat.

f. Pembukuan
Pentingnya suatu pembukuan keuangan sekolah sebagai bentuk
pertanggungjawaban penggunaan dana BOS. Pembukuan keuangan dana BOS
sekolah sering disebut dengan SPJ BOS. SPJ merupakan singkatan dari Surat
Pertanggung Jawaban, biasanya bentuk laporan yang harus dikirim ke Kantor
Kemenag Kabupaten/Kota setempat. Didalam SPJ tersebut berisi format-format
pembukuan. Pembukuan, dalam pengelolaan BOS Reguler, Sekolah harus menyusun
pembukuan secara lengkap sesuai dengan standar pengelolaan pendidikan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan tentang penatausahaan dan
pertanggungjawaban lembaga pengelola keuangan. (download juknis BOS 2020
Keputusan Dirjen Pendis No. 7330 Tahun 2019)

Adapun pembukuan dan dokumen pendukung yang harus disusun oleh Sekolah
dengan ketentuan sebagai berikut.
1) Rencana Kegiatan dan Anggaran Madrasah (RKAM)
RKAM ditandatangani oleh kepala madrasah, Komite Sekolah, dan ketua yayasan
(khusus untuk Madrasah yang diselenggarakan oleh masyarakat), dan dibuat 1
(satu) kali dalam 1 (satu) tahun pada awal tahun pelajaran, tetapi apabila

11
diperlukan dapat direvisi sesuai ketentuan yang berlaku. RKAM harus dilengkapi
dengan rencana penggunaan dana secara rinci, yang dibuat tahunan dan
persemester untuk tiap sumber dana yang diterima madrasah.

Format RKAM 1 tahun

Format RKAM semester

2) Buku Kas Umum (Formulir BOS K-2)


Buku Kas Umum (BKU) disusun untuk sumber dana yang dimiliki oleh
madrasah. Pembukuan dalam BKU meliputi semua transaksi eksternal dan
internal, baik tunai maupun nontunai.
Ada dua kelompok besar transaksi menurut arus masuk/keluarnya uang yaitu:
(a) Transaksi penerimaan, yang dibedakan lagi menjadi:
• Transaksi penerimaan internal
Yaitu penerimaan yang hanya mempengaruhi posisi kas dan bank, atau
posisi kas saja. Contoh: penyetoran uang kas ke bank, pemidahan dana milik
sekolah dari satu rekening bank ke rekening sekolah/madrasah di bank lain.

12
• Transaksi penerimaan eksternal
Penerimaan yang mempengaruhi posisi kas dan/atau posisi bank yang
diterima dari sumber-sumber bukan milik madrasah. Contohnya: pecairan
dana BOS ke rekening madrasah, pajak yang dipungut madrasah, buka
tabungan/deposito.
(b) Transaksi pengeluaran, yaitu bila dana yang dimiliki madrasah bekurang (baik
dana tercatat di bank maupun di kas) transaski ini dibedakan menjadi:
• Transaksi pengeluaran internal
Yaitu pengeluaran yang hanya mempengaruhi posisi kas dan posisi bank,
atau posisi kas saja. Contoh: sama dengan penerimaan internal yaitu
pemindahan dana antar rekening milik
• Transaksi pengeluaran eksernal
Yaitu pengeluaran yang mempengaruhi posisijumlah ang kas dan/aau posisi
jumlah uang di bank karena pembelian barang/Jasa. Conoh: pemblian ATK
yang dibayar tunai, atau belanja modal
BKU harus diisi tiap transaksi (segera setelah transaksi terjadi) dan transaksi yang
dicatat di dalam buku kas umum juga harus dicatat dalam buku pembantu, yaitu
buku pembantu kas, buku pembantu bank, dan buku pembantu pajak.

contoh buku format kas umum

Tiap bulan harus dilakukan peneutupan buku kas yang ditandatangani oleh
bendahara dan kepala madrasah.

3) Buku Pembantu Kas


Buku ini harus mencatat tiap transaksi tunai dan ditandatangani oleh bendahara
dan kepala madrasah. Buku Pembantu Kas berfungsi untuk mencatat transaksi

13
penerimaan/pengeluaran yang dilaksanakan secara tunai. Semua transaksi kas,
baik transaksi eksternal maupun internal dibukukan dalam buku ini. Bukti
transaksi kas eksternal sama dengan bukti transaksi yang dipergunakan oleh Buku
Kas Umum. Sedang bukti transaksi internal dibuat tersendiri.

contoh buku pembantu kas

4) Buku Pembantu Bank


Buku ini harus mencatat tiap transaksi melalui bank dalam bentuk cek, giro, atau
tunai dan ditandatangani oleh bendahara dan kepala madrasah. Buku Pembantu
Bank merupakan Buku Pembantu untuk melengkapi format buku kas umum.
Berfungsi untuk mencatat transaksi penerimaan/pengeluaran yang dilaksanakan
khusus melalui bank dengan cara antara lain penerbitan cek, penarikan cek,
penerimaan pembayaran dengan cek. Sumber informasi untuk penyusunan Buku
Pembantu Bank adalah semua transaksi eksternal baik penerimaan maupun
pengeluaran yang dilakukan melalui bank dan transaksi internal yang berupa
pengambilan uang kas di bank dan penyetoran uang kas untuk disimpan di Bank.

14
5) Buku Pembantu Pajak
Buku pembantu pajak berfungsi mencatat semua transaksi yang harus dipungut
pajak serta memonitor pungutan dan penyetoran pajak yang dipungut selaku
wajib pungut pajak.

6) Opname Kas dan Berita Acara Pemeriksaan Kas


Tiap kali menjelang penutupan BKU, kepala madrasah melakukan opname kas
dengan menghitung jumlah kas baik yang ada di madrasah dalam bentuk kas
tunai maupun kas yang ada di bank atau rekening madrasah. Hasil dari opname
kas kemudian dibandingkan dengan saldo akhir BKU pada bulan bersangkutan.
Apabila terjadi perbedaan, maka harus dijelaskan penyebab perbedaannya.
Setelah pelaksanaan opname kas, maka kepala madrasah dan bendahara
menandatangani berita acara pemeriksaan kas.

15
contoh format pemeriksaan kas bos

contoh format berita acara pemeriksaan kas

7) Bukti pengeluaran
(a) Tiap transaksi pengeluaran harus didukung dengan bukti kuitansi yang sah.
(b) Bukti pengeluaran uang dalam jumlah tertentu harus dibubuhi materai yang
cukup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
bea materai.
(c) Untuk transaksi dengan nilai Rp 250.000,00 tidak dikenai bea materai.

16
(d) Transaksi dengan nilai nominal antaran Rp 250.000,00 sampai dengan Rp.
1.000.000,00 dikenai bea materai dengan tarif sebaesar Rp. 3.000,00
(e) Transaksi dengan nilai nominal lebih besar Rp. 1.000.000,00 dikenai bea
materai dengan tarif sebesar Rp. 6.000,00
(f) Uraian pembayaran dalam kuitansi harus jelas dan terinci sesuai dengan
peruntukannya.
(g) Uraian tentang jenis barang/jasa yang dibayar dapat dipisah dalam bentuk
faktur sebagai lampiran kuitansi.
(h) Tiap bukti pembayaran harus disetujui kepala Sekolah dan dibayar lunas
oleh bendahara.
(i) Segala jenis bukti pengeluaran harus disimpan oleh bendahara sebagai
bahan bukti dan bahan laporan.

Terkait dengan pembukuan dana yang diperoleh Sekolah untuk BOS


Reguler, perlu memperhatikan hal-hal berikut.
(a) Pembukuan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran dapat dilakukan
dengan tulis tangan atau menggunakan komputer. Dalam hal pembukuan
dilakukan dengan komputer, bendahara mencetak BKU dan buku pembantu
paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan dan menatausahakan hasil
cetakan BKU dan buku pembantu bulanan yang telah ditandatangani kepala
Sekolah dan bendahara.
(b) Semua transaksi penerimaan dan pengeluaran dicatat dalam BKU dan buku
pembantu yang relevan sesuai dengan urutan tanggal kejadiannya.
(c) Uang tunai yang ada di kas tunai tidak melebihi dari jumlah yang ditentukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(d) Apabila bendahara berhenti dari jabatannya, maka BKU, buku pembantu, dan
bukti pengeluaran diserahterimakan kepada pejabat yang baru dengan berita
acara serah terima.
(e) BKU, buku pembantu kas, buku pembantu bank, buku pembantu pajak, bukti
pengeluaran, dan dokumen pendukung bukti pengeluaran BOS Reguler
(kuitansi/faktur/ nota/bon dari vendor/toko/supplier) wajib diarsipkan oleh
madrasah sebagai bahan audit. Setelah diaudit, maka data tersebut dapat
diakses oleh publik.

17
(f) Seluruh arsip data keuangan ditata dengan rapi sesuai dengan urutan nomor
dan tanggal kejadiannya, dan disimpan di tempat yang aman dan mudah
untuk ditemukan tiap saat. Seluruh dokumen pembukuan ini harus disimpan
di Sekolah dan diperlihatkan kepada:
• Pengawas Madrasah;
• Tim Pengelola BOS Tingkat Kabupaten/Kota untuk MI dan MTs atau
Tim Pengelola BOS Tingkat Provinsi untuk MA dan MAK;
• Aparatur Pengawasan Intern Pemerintah; dan
• Lembaga pemeriksa lainnya apabila diperlukan.

g. Pelaporan Pengelolaan Dana Madrasah


Kegiatan transaksi penerimaan dan pengeluaran uang yang dilakukan oleh
bendahara di madrasah, senantiasa terus berlangsung dari hari ke hari. Setiap
pemasukan dan pengeluaran keuangan hendaknya dicatat dan dibukukan secara
tertib sesuai pedoman dan peraturan yang berlaku. Untuk itu, salah satu tugas dari
bendahara madarsah adalah mengadakan pembukuan keuangan madrasah.
Pembukuan yang lengkap mencatat berbagai sumber dana beserta jumlahnya dan
distribusi penggunaannya secara rinci. Semua pembelanjaan harus disertai dengan
bukti-bukti yang sah, yaitu nota, kuitansi, faktur. Jika ada beban pajak yang harus
dikeluarkan, juga harus disetor sesuai aturan yang berlaku.
Pembukuan setiap transaksi yang berpengaruh terhadap penerimaan dan
pengeluaran uang wajib dicatat oleh bendaharawan dalam buku kas, baik berupa
Buku Kas Umum (BKU) dan Buku Kas Pembantu (BKP). BKU merupakan buku
harian yang digunakan untuk mencatat semua penerimaan dan pengeluaran uang
atau yang disamakan dengan uang. BKP merupakan buku harian yang digunakan
untuk membantu pencatatan semua penerimaan dan pengeluaran uang menurut jenis
sumber pembiayaan. Pencatatan di BKU dan BKP dilakukan sepanjang waktu,
setiap ada transaksi penerimaan, dan pengeluaran uang. BKU dan BKP ditutup
setiap akhir bulan atau sewaktu-waktu jika dianggap perlu, misalnya setelah ada
pemeriksaan oleh petugas yang berwenang, pada waktu serah terima dari pejabat
lama ke pejabat baru baik kepala sekolah maupun bendaharawan pemegang BKU
dan BKP.

18
Mengenai jenis dan mekanisme pelaporan yang harus disusun madrasah
penerima BOS pelajari juknis BOS tahun 2020.
Penerimaan dan pengeluaran keuangan sekolah harus dilaporkan dan
dipertanggungjawabkan secara rutin sesuai peraturan yang berlaku. Pelaporan dan
pertanggungjawaban anggaran yang berasal dari orang tua siswa dan masyarakat
dilakukan secara rinci dan transparan sesuai dengan sumber dana. Pelaporan dan
pertanggungjawaban anggaran yang berasal dari usaha mandiri madrasah dilakukan
secara rinci dan transparan kepada dewan guru dan staf madrasah.

h. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Madrasah


Untuk menjamin pengelolaan dana madrasah dilakukan sesuai dengan
ketentuan perundang undangan diperlukan adanya monitoring dan pengawasan.
Monitoring dilakukan oleh Tim Pendali BOS mulai dari Pusat, Provinsi dan
kabupaten/Kota. Pelaksanaan monitoring dapat dilakukan dengan berbagai cara;
kunjungan lapangan, koordinasi melalui media komunikasi antara lain telepon,
faksimile, email, dan sebagainya, dan/ atau melalui mekanisme monitoring terhadap
laporan daring. Komponen utama yang dimonitoring antara lain: alokasi dana sekolah
penerima bantuan, penyaluran dan penggunaan dana, pelayananan dan penangananan
pengaduan, administrasi keuangan dan pelaporan.
Pengawasan secara umum diartikan sebagai usaha yang dilakukan dengan
mengamati dan membandingkan pelaksanaan dengan rencana dan mengoreksinya
apabila terjadi penyimpangan atau melakukan penyesuaian jika diperlukan. Terdapat
hubungan yang erat antara rencana dan pengawasan (Kementerian Pendidikan
Nasional, 2011). Pengawasan program BOS terdiri dari pengawasan melekat,
pengawasan fungsional, dan pengawasan masyarakat yang dilaksanakan dengan
ketentuan seperti yang terdapat dalam Juknis BOS tahun 2020.
Pengawasan keuangan di madrasah dilakukan oleh kepala madrasah dan
instansi vertikal di atasnya, serta aparat pemeriksa keuangan pemerintah. Pada tingkat
madrasah pengawasan pengelolaan keuangan yang perlu dilakukan kepala madrasah
dapat dilakukan dengan cara berikut:
a. Memastikan pengelolaan keuangan madrasah telah dilakukan secara efektif,
efisien dan pertanggungjawaban sesuai peraturan yang berlaku.

19
b. Memastikan tahapan perencanaan dan pembelanjaan keuangan sesuai juknis
dengan rencana pembelanjaan yang telah disusun.
c. Memastikan pembukuan keuangan, dokumentasi, pencatatan dan pelaporan hal-
hal yang terkait dengan pengelolaan keuangan dilakukan secara akurat dan tepat
waktu.
d. Melakukan evaluasi kegiatan dan anggaran sekolah dengan cara membandingkan
antara kegiatan dan anggaran yang tercantum dalam RKAS dengan realisasi
program kegiatan dan anggaran.

2. Perpajakan
Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOP/BOS,
dibedakan perlakuannya antara bendahara Pemerintah (madrasah negeri) dan
bendahara non-Pemerintah (RA dan madrasah swasta) untuk pembelian bahan
pendukung kegiatan habis pakai, bahan operasional persediaan, sarana pendukung
pembelajaran dan IT, bahan habis pakai; pembelian bahan-bahan untuk
perawatan/perbaikan ringan gedung madrasah, dan semua yang tertera dalam
penggunaan dana BOP/BOS.
a. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada Madrasah Negeri sebagai
bendaharawan pemerintah atas penggunaan dana BOS sebagaimana tersebut di
atas adalah:
1) Tidak perlu memungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5%.
2) Memungut dan menyetor PPN sebesar 10% untuk nilai pembelian lebih
dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) atas penyerahan Barang Kena Pajak
dan atau Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan
Pemerintah. Hal ini dikecualikan terhadap nilai pembelian ditambah PPN,
jumlahnya tidak melebihi Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan bukan
merupakan pembayaran yang dipecah-pecah, üdak dikenakan PPN.
3) PPN yang terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak
Rekanan Pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum.
Pemungut PPN dalam hal ini bendaharawan pemerintah tidak perlu
memungut PPN atas pembelian barang dan atau jasa yang dilakukan oleh
bukan Pengusaha Kena Pajak (PKP).

20
b. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOP/BOS pada RA/Madrasah Swasta
adalah tidak termasuk bendaharawan pemerintah sehingga tidak termasuk
sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 dan atau PPN.
Dengan demikian kewajiban perpajakan bagi bendaharawan non
pemerintah/pengelola dana BOP/ BOS pada RA/ Madrasah swasta yang terkait
atas penggunaan dana BOP/BOS untuk belanja barang sebagaimana tersebut
di atas adalah:
1) Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak
termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22.
2) Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha Kena
Pajak), üdak perlu memungut PPN atas pembelian barang dan atau jasa
yang dilakukan oleh bukan Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS untuk
pembelian/penggandaan buku teks pelajaran dan/atau mengganti buku teks
yang sudah rusak adalah sebagai berikut:
1) Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada Madrasah Negeri atas
penggunaan dana BOS untuk pembelian/penggandaan buku teks pelajaran
dan/atau mengganti buku teks yang sudah rusak adalah:
a) Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku
pelajaran agama, tidak perlu memungut PPh Pasal 22 sebesar
b) Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-.
buku pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.
c) Memungut dan menyetor PPN sebesar 10% untuk nilai pembelian
lebih dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) atas penyerahan Barang
Kena Pajak berupa buku-buku yang bukan buku pelajaran umum, kitab
suci dan buku-buku pelajaran agama. Kecuali untuk nilai pembelian
ditambah PPN-nyajumlahnya tidak melebihi Rp 1.000.000,- (satu juta
rupiah) dan bukan merupakan pembayaran yang dipecah-pecah.
d) PPN yang terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak
Rekanan Pemerintah.
2) Bendaharawan/pengelola dana BOP/ BOS pada RA/ Madrasah Swasta
adalah tidak termasuk bendaharawan pemerintah sehingga tidak termasuk
sebagai pihak yang ditunjuk sebagai Pemungut PPh Pasal 22 dan atau PPN.

21
Dengan demikian, kewajiban perpajakan bagi bendaharawan/pengelola
dana pada RA/ Madrasah swasta yang terkait dengan
pembelian/penggandaan buku teks pelaiaran dan/ atau mengganü buku teks
yang sudah rusak adalah:
a) Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak
termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22.
b) Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan bukubuku
pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.
c) Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha Kena
Pajak) atas pembelian buku yang bukan buku-buku pelajaran umum,
kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.
Kewajiban perpajakan yang terkait dengan pemberian honor pada kegiatan
penerimaan siswa baru, kesiswaan, pengembangan profesi guru, dan penyusunan
laporan bantuan, semua bendaharawan/penanggung jawab dana bantuan
operasional baik pada lembaga negeri maupun lembaga swasta adalah:
a. Bagi guru/pegawai bukan PNS sebagai peserta kegiatan, harus dipotong PPh
Pasal 21 dengan menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 5 % dari jumlah
bruto honor.
b. Bagi guru/pegawai PNS diatur sebagai berikut:
1) Golongan I dan II dengan tarif 0% (nol persen).
2) Golongan III dengan tarif 5% (lima persen) dari penghasilan bruto.
3) Golongan IV dengan tarif 15% (lima belas persen) dari penghasilan bruto.
Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS dalam rangka
membayar honorarium guru dan tenaga kependidikan bukan PNS madrasah yang
tidak dibiayai dari Pemerintah Pusat dan atau Daerah yang dibayarkan bulanan
diatur sebagai berikut:
a. Penghasilan rutin setiap bulan untuk Guru Bukan PNS (GBPNS), Tenaga
Kependidikan bukan PNS, Pegawai Bukan PNS, untuk jumlah perbulan
sampai dengan RP 4.500.000,- (empat juta lima ratus ribu rupiah) tidak
terhutang PPh Pasal 21.
1) Untuk jumlah lebih dari itu, PPh Pasal 21 dihitung dengan menyetahunkan
penghasilan sebulan. Dengan perhitungan sebagai berikut:
a) Penghasilan sebulan XX

22
b) Penghasilan netto setahun (x 12)
c) Dikurangi PTKP*)
d) Penghasilan Kena Pajak
e) PPh Pasal 21 terutang setahun 5% (jumlah s.d. RP 50 juta) dst
f) PPh Pasal 21 sebulan (x 12) XX
*) Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), adalah:
(1) Status sendiri RP 54 juta
(2) Tambahan status kawin RP 4,5 juta
(3) Tambahan tanggungan keluarga, maksimal 3 orang @ RP
4,5 juta
Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOP RA dan BOS,
baik pada Madrasah Negeri, Madrasah Swasta, untuk membayar honor kepada
tenaga kerja lepas orang pribadi yang melaksanakan kegatan perawatan atau
pemeliharaan madrasah harus memotong PPh Pasal 21 dengan ketentuan sebagai
berikut:
a) Tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dala.rn hal penghasilan sehari atau
rata-rata penghasilan sehari belum melebihi Rp. 200.000,- (dua ratus ribu
rupiah).
b) Dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-
rata penghasilan sehari melebihi Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah), dan
jumlah sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) tersebut merupakan jumlah
yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS pada Madrasah
Negeri untuk membayar kosumsi, sewa (tempat dan kendaraan) dan berbagai
kegiatan jasa yang dilakukan harus memotong PPh 23 dengan objek dan tarif
sebagai berikut:
a) Penghasilan yang dibayarkan kepada pihak lain/rekanan berupa sewa dan
penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta (selain tanah dan
bangunan), seperti sewa kendaraan, perlengkapan (sound system, tenda, genset,
dan lainnya).
b) Penghasilan yang dibayarkan kepada pihak lain/rekanan berupa imbalan
sehubungan dengan jasa Teknik, jasa manajemen, jasa konsultan, dan jasa

23
lainnya (seperti: jasa perawatan, jasa kebersihan, jasa katering, dan sebagainya)
Tarif pajak sebesar 2% dari jumlah bruto belanja jasa tersebut.

Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS pada Madrasah
Negeri untuk membayar Pajak Penghasilan pasal 4 ayat 2 untuk membayar sewa
tanah/bangunan berupa tanah, rumah, gedung perkantoran, gedung pertemuan,
rumah, gudang, dan bangunan industri dengan objek dan tarif: 10% x jumlah bruto
(nilai persewaan).

F. Aktivitas Pembelajaran / Project Work


1. Carilah regulasi-regulasi terkait pengelolaan keuangan madrasah dari internet dan
berbagai sumber lain. Bacalah dengan cermat, kritis, dan teliti regulasi-regulasi
tersebut dan gunakanlah sebagai bahan untuk menambah wawasan Anda.
2. Terkait dengan penyusunan RKAM, pelajari dan pahami Keputusan Peraturan
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2019 tentang Petunjuk
Teknis Pengelolaan Bantuan Operasional Pendidikan pada Raudlatul Athfal dan
bantuan Operasional Sekolah pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.
3. Pelajari dan pahami regulasi perpajakan serta artikel-artikel terkait perhitungan dan
penyetoran PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23 dan PPN.

G. Latihan/Lembar Kerja
1. Madrasah Anda mengelola dana yang bersumber dari BOS dan dana lain dari
sumber yang legal. Sebagai seorang kepala madrasah yang bertanggungjawab
terhadap pengelolaan dan atersebut, Anda harus melaksanakan pengelolaan dana
sesuai prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang baik. Tuliskan pengalaman Anda
dalam mengelola keuangan yang sesuai dengan prinsp-prinsip pengelolaan
keuangan sesuai format pada LK.1.
2. Susunlah RKAM berdasarkan RKM yang sudah Anda susun di mata pelatihan
sebelumnya (Penyusunan Rencana Kerja Madrasah)! (Format sesuai LK.2)
3. Susunlah pembukuan sesuai dengan kasus yang diberikan (LK. 3 pada sheet
transaksi)!
4. Kerjakan LK. 4 menghitung pajak dengan benar!

24
Daftar Pustaka
Kementrian Pendidikan Nasional, 2011. Peningkatan Manajemen Melalui Penguatan
Tata Kelola dan Akuntabilitas di Sekolah/Madrasah. Materi Pelatihan BOS
Sekolah/Madrasah.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Tata Kelola BOS. Modul 1. Pelatihan
SMP 2015. Direktorat Pembinaan SMP Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Pengelolaan Keuangan. Bahan
Pembelajaran Utama Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Kepala
Sekolah/Madrasah. PPTK BPSDMPK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Edisi Revisi untuk ProDEP 2015.
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2019 tentang
Petunjuk Teknis Pengelolaan Bantuan Operasional Pendidikan Pada Raudalatul
Athfal dan Bantuan Operasional Sekolah pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.
LKPP, 2012. Modul Pelatihan dan Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah. Kerjasama Badan Kepegawaian Daerah - Dinas Pendidikan, Pemuda
dan Olah Raga Surakarta.
Dirjen Dikdsmen, 2015. Panduan Penyusunan RKAS SMA. Direktorat Pembinaan SMA
Dirjen Dikdasmen.

Bahan Bacaan
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
yang diubah menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang
Perubahan Pertama PP Nomor 19 tahun 2005, dan PP Nomor 13 tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua PP Nomor 19 Tahun 2005;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas PP Nomor 17 Tahun
2010;
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2008 tentang Buku;
7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara
Pembayaran Dalam rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

25
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
178/PMK.05/2018 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam rangka Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
8. Peraturan Menteri Agama Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pejabat Perbendaharaan
Negara Pada Kementerian Agama sebagimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Agama Nomor 63 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Agama Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pejabat Perbendaharaan Negara Pada
Kementerian Agama;
9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme
Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
173/PMK.05/20116 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah
pada Kementerian Negara/Lembaga;
10. Peraturan Menteri Agama Nomor 67 Tahun 2015 tentang Bantuan Pemerintah pada
Kementerian Agama sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Menteri Agama Nomor 62 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas
Peraturan Menteri Agama Nomor 67 Tahun 2015 tentang Bantuan Pemerintah pada
Kementerian Agama;
11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122/PMK.010/2015 tentang Penyesuain
Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak;
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Buku
yang Digunakan oleh Satuan Pendidikan;
13. Peraturan Menteri Agama Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Agama;
14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.10/2017 tentang Pemungutan Pajak
Penghasilan Pasal 22 sehubungan dengan Pembayaran Atas Penyerahan Barang dan
Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha di Bidang lain;
15. Peraturan Menteri Agama Nomor 19 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Instansi Vertikal Kementerian Agama;
16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.02/2029 tentang Standar Biaya
Masukan Tahun 2020;
26
17. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2019 tentang
Petunjuk Teknis Pengelolaan Bantuan Operasional Pendidikan Pada Raudalatul
Athfal dan Bantuan Operasional Sekolah pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.

27