Anda di halaman 1dari 49

Mini project

Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Gizi Ibu Hamil


Demi Mencegah Anak Stunting Usia 0-24 Bulan di Nagari Muaro
Busuak Wilayah Kerja Puskesmas Selayo

OLEH:
dr. Raihandi Putra

Pembimbing:
dr. Septina Sari

PUSKESMAS SELAYO
KABUPATEN SOLOK
2020
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat,


namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis
dan pelayanan kesehatan saja. Timbulnya masalah gizi disebabkan oleh
multifaktor.1 Masalah gizi adalah gangguan pada perorangan yang salah
satunya disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang
diperoleh dari makanan.2 Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang
terjadi akibat malnutrisi dan menggambarkan kekurangan gizi yang terjadi
secara kumulatif dalam waktu lama atau dikenal dengan istilah kekurangan
gizi kronis (hidden hunger). Menurut World Health Organization (WHO)
terdapat kurang lebih 162 juta balita yang stunting, besarnya masalah stunting
dan dampak yang ditimbulkan membuat WHO melalui World Health
Assembly (WHA) menargetkan prevalensi stunting pada tahun 2025 menurun
sebanyak 40 % disemua negara yang mempunyai masalah stunting termasuk
Indonesia.2 Prevalensi stunting di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara dan
masuk 5 besar negara di dunia dengan prevalensi stunting tertinggi.
Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi dari negara-negara lain di
Asia Tenggara, seperti Myammar, Vietnam (23%), dan Thailand (16%).
Indonesia menduduki peringkat ke-lima dunia untuk jumlah anak dengan
kondisi stunting, lebih dari sepertiga anak Indonesia tingginya berada di
bawah rata-rata. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) prevalensi
stunting secara nasional tahun 2007 adalah sebesar 36,8 %, tahun 2010 yaitu
35,6 %, dan mengalami peningkatan di tahun 2013 yaitu sebesar 37,2%.
Sementara itu, Provinsi Sumatera Barat menempati urutan ke 17 dari 20
kategori provinsi dengan prevalensi diatas nasional. Hasil pemantauan status
gizi tahun 2015 balita 0-23 bulan yang mengalami stunting secara nasional
23,1 %, sedangkan Sumatera Barat sebanyak 18,5% sementara itu pada
kelompok usia 24-59 bulan prevalensi stunting secara nasional 35,3%, angka
ini lebih rendah dibandingkan dengan Sumatera Barat 36,2 %. Sedangkan
angka stunting pada balita di Kota Padang sebesar 22,6%.3
Berdasarkan penimbangan massal yang dilakukan pertama kali oleh
Puskesmas Selayo pada Januari 2019 didapatkan 87 dari 1.146 (15,5%) balita
di Kecamatan Selayo mengalami stunting. Walaupun terdapat perbedaan yang
signifikan dengan angka nasional, namun stunting harus menjadi perhatian
pemerintah mengingat penurunan prevalensi stunting merupakan salah satu
prioritas program pembangunan nasional yang tercantum dalam sasaran
pokok Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode
2015-2019.4,5
Dampak stunting berisiko tinggi menurunkan tingkat kecerdasan,
produktivitas serta kualitas sumber daya manusia (SDM) dimasa depan.
Selain itu dampak stunting pada usia dewasa sangat luas termasuk
perkembangan motorik dan penyakit degeneratif.2 Menurut United Nations
International Children’s Emergency Fund (UNICEF) faktor yang berperan
terhadap kejadian stunting adalah faktor lingkungan, penyakit infeksi
berulang, morbiditas meningkat, pengasuhan anak yang tidak memadai,
sanitasi yang buruk, akses terhadap pelayanan kesehatan yang kurang,
pendapatan yang rendah, pendidikan dan pengetahuan gizi, serta kesehatan
ibu yang minim. Berdasarkan kajian International Children’s Emergency
Fund (UNICEF) Indonesia terdapat berbagai hambatan yang menyebabkan
tingginya angka stunting di Indonesia diantaranya pengetahuan dan praktek
pengasuhan yang tidak memadai.6
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyadarkan
masyarakat dibidang gizi cukup banyak, seperti yang tertuang dalam rencana
aksi Kementrian Kesehatan RI, yaitu meningkatkan pendidikan gizi
masyarakat melalui penyediaan materi Komunikasi Informasi dan Edukasi
(KIE) dan kampanye gizi. Disamping pendidikan kegiatan yang terkait antara
lain promosi gizi, penyuluhan gizi, advokasi, pelatihan, dan konsultasi gizi.7
Edukasi gizi merupakan bagian dari kegiatan pendidikan kesehatan,
merupakan sebagai upaya terencana untuk mengubah perilaku individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat dalam bidang kesehatan. Dengan
demikian kegiatan yang harus dilakukan untuk memperbaiki pengetahuan,

2
sikap, dan perilaku gizi adalah edukasi gizi.8
Salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi stunting pada
anak usia baduta adalah faktor asupan, antara lain kurangnya gizi saat ibu
hamil. Permasalahan gizi harus diperhatikan sejak masih dalam kandungan.9
Riwayat status gizi ibu hamil menjadi faktor penting terhadap pertumbuhan
dan perkembangan janin.10 Jika terjadi kekurangan status gizi awal kehidupan
maka akan berdampak terhadap kehidupan selanjutnya seperti Pertumbuhan
Janin Terhambat (PJT), Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), kecil, pendek
kurus, daya tahan tubuh rendah dan resiko meninggal dunia. 10,11

Anak yang lahir BBLR berpotensi besar mengalami status gizi kurang
bahkan lebih buruk yang mempengaruhi kehidupanya termasuk resiko
gangguan pertumbuhan. 12,13 Akibatnya anak mengalami gagal tumbuh, postur
tubuh kecil pendek yang ditandai dengan kegagalan mencapai tinggi dan
berat badan ideal. 14

1.2 Pernyataan Masalah


Bagaimanakah praktik pemberian gizi pada ibu hamil demi mencegah
anak stunting usia 6-24 bulan di Nagari Koto Hilalang

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum
Bagaimanakah praktik pemberian gizi pada ibu hamil demi mencegah
anak stunting usia 6-24 bulan di Nagari Koto Hilalang?
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengetahuan gizi akan ibu hamil kepada ibu hamil di
Nagari Koto Hilalang demi mencegah stunting usia 6-24
2. Menilai asupan energi, karbohidrat, lemak, protein, zat besi,
asam folat serta iodium pada makanan yang diberikan kepada ibu
hamil untuk mencegah stunting usia 6-24 di Nagari Koto
Hilalang

1.4 Manfaat

3
1. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pembuat
kebijakan dalam upaya perbaikan gizi dengan fokus terhadap gerakan
pemberian gizi akan ibu hamil sesuai standar.

2. Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya ibu yang hamil


maupun akan hamil nantinya agar dapat menerapkan pemberian gizi ibu
hamil sesuai standar yang direkomendasikan sehingga dapat menurunkan
risiko terjadinya stunting pada anak.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
4
2.1 Stunting
2.1.1 Definisi
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan
gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak
sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam
kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.11
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010
tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek dan
sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan
menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan
padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita
pendek adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau tinggi
badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS
(Multicentre Growth Reference Study) tahun 2006, nilai z-scorenya kurang dari -
2SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya kurang dari -3SD. 11
1.1.2 Faktor Penyebab Stunting pada Anak Usia 6-24 bulan
Penyebab stunting sangat beragam dan kompleks, namun secara umum
dikategorikan menjadi tiga faktor yaitu faktor dasar (basic factors), faktor yang
mendasari (underlying factors), dan faktor dekat (immediate factors).24 Faktor
ekonomi, sosial, politik, termasuk dalam basic factors; faktor keluarga, pelayanan
kesehatan termasuk dalam underlying factors sedangkan faktor diet dan kesehatan
termasuk dalam immediate factors. Faktor keluarga seperti tingkat pendidikan
orang tua, kondisi sosial ekonomi, dan jumlah anak dalam keluarga merupakan
faktor risiko terjadinya stunting. Kondisi lingkungan di dalam maupun di sekitar
rumah juga dapat mempengaruhi terjadinya stunting. Lingkungan yang kotor dan
banyak polusi menyebabkan anak mudah sakit sehingga dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangannya.24
Berikut ini merupakan faktor risiko stunting pada balita :
1. Asupan Makanan
Asupan makanan berkaitan dengan kandungan zat gizi yang terdapat di dalam
makanan yang dikonsumsi. Asupan makan merupakan salah satu faktor risiko
stunting secara langsung. Asupan makan yang dikonsumsi oleh anak usia 6-12

5
bulan terdiri dari ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI (MP-ASI).11
a. ASI Eksklusif
ASI eksklusif atau pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi yang
diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, madu,
air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang,
pepaya, bubur, biskuit dan tim. ASI merupakan makana yang ideal
diberikan kepada bayi sehingga pemberian ASI secara eksklusif
dianjurkan selama masih mencukupi kebutuhan bayi. Salah satu cara
untuk meningkatkan produksi ASI sehingga pemberian ASI secara
eksklusif dapat berhasil adalah dengan inisiasi menyusui dini (IMD). 32
Inisiasi menyusui dini (IMD) adalah pemberian ASI (air susu ibu) pada
1 jam pertama atau <1 jam setelah melahirkan dengan cara kontak
dengan kulit secara langsung.
WHO (World Health Organization) pada tahun 2003 mengeluarkan
rekomendasi tentang praktik pemberian makan bayi yang benar yaitu
memberikan ASI sesegera mungkin setelah melahirkan (<1 jam) dan
secara eksklusif selama 6 bulan serta memberikan MP-ASI pada usia
genap 6 bulan sambil melanjutkan ASI hingga usia 24 bulan.14
Pengaruh ASI eksklusif terhadap perubahan status stunting disebabkan
oleh fungsi ASI sebagai anti-infeksi. Pemberian ASI yang kurang dan
pemberian makanan atau formula terlalu dini dapat meningkatkan
risiko stunting karena bayi cenderung lebih mudah terkena penyakit
infeksi seperti diare dan penyakit pernafasan.33,34
b. MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu)
Sejak usia 6 bulan ASI saja sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan
energi dan zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi sehingga diperlukan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang dapat melengkapi
kekurangan zat gizi makro dan mikro tersebut. 14 MPASI adalah
makanan atau minuman yang mengandung zat gizi dan diberikan
kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi
selain dari ASI.11 Zat gizi pada ASI hanya memenuhi kebutuhan gizi
bayi sampai usia 6 bulan, untuk itu ketika bayi berusia 6 bulan perlu

6
diberi makanan pendamping ASI dan ASI tetap diberikan sampai usia
24 bulan atau lebih. Meskipun sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan
zat gizi secara lengkap, pemberian ASI tetap dianjurkan karena
dibandingkan dengan susu formula bayi, ASI mengandung zat
fungsional seperi imunoglobin, hormon oligosakarida, dan lain-lain
yang tidak terdapat pada susu formula bayi. Makanan Pendamping ASI
pertama yang umum diberikan pada bayi di Indonesia adalah pisang
dan tepung beras yang dicampur ASI.14
WHO Global Strategy for Feeding Infant and Young Children pada
tahun 2003 merekomendasikan agar pemberian MPASI memenuhi 4
syarat, yaitu tepat waktu, bergizi lengkap, cukup dan seimbang, aman,
dan diberikan dengan cara yang benar.14 Jika bayi diberikan makanan
pendamping ASI terlalu dini (sebelum enam bulan) maka akan
meningkatkan risiko penyakit diare dan infeksi lainnya. Selain itu juga
akan menyebabkan jumlah ASI yang diterima bayi berkurang, padahal
komposisi gizi ASI pada 6 bulan pertama sangat cocok untuk
kebutuhan bayi, akibatnya pertumbuhan bayi akan terganggu. Usia 6-9
bulan adalah masa kritis untuk mengenalkan makanan padat secara
bertahap sebagai stimulasi keterampilan oromotor. Jika pada usia di
atas 9 bulan belum pernah dikenalkan makanan padat, maka
kemungkinan untuk mengalami masalah makan di usia batita
meningkat.26 Oleh karena itu konsistensi makanan yang diberikan
sebaiknya ditingkatkan seiring bertambahnya usia. Mula-mula
diberikan makanan padat berupa bubur haluspada usia 6 bulan.
Makanan keluarga dengan tekstur yang lebih lunak (modified family
food) dapat diperkenalkan sebelum usia 12 bulan. Pada usia 12 bulan
anak dapat diberikan makanan yang sama dengan makanan yang
dimakan anggota keluarga lain (family food).27
Tabel 1. Angka Kecukupan Gizi per Hari untuk anak usia 0-36 Bulan

7
Tabel 2. Prinsip Pemberian MPASI

Laju pertumbuhan anak baduta lebih cepat daripada anak usia


prasekolah, sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif lebih besar.
Sesuai dengan pertumbuhan badan dan perkembangan kecerdasannya,
tubuhnya juga mengalami perkembangan sehingga jenis makanan dan cara
pemberiannya pun harus disesuaikan dengan keadaannya. Oleh karena itu,
pola makan anak baduta harus sangat diperhatikan oleh pengasuh atau
orang tua, dimana porsi makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan
frekuensi yang sering.30

8
Kekurangan atau kelebihan zat gzi pada periode usia 0-2 tahun
umumnya bersifat ireversibel dan akan berdampak pada kualitas hidup
jangan pendek dan jangka panjang. Kekurangan gizi pada anak
dihubungkan dengan defisiensi makronutrien dan mikronutrien. Anak
yang mengalami defisiensi asupan protein pada masa seribu hari pertama
kehidupan dan berlangsung lama meskipun asupan energinya tercukupi
akan mengalami hambatan pada proses pertumbuhan tinggi badan. 31
Stunting akan mempengaruhi perkembangan otak dalam jangan panjang
yang selanjutnya memberikan dampak pada kemampuan kognitif dan
prestasi pendidikan anak. Selain itu, gangguan pertumbuhan linear juga
akan mempengaruhi daya tahan tubuh serta kapasitas kerja.23

2. Berat Badan Lahir Rendah


Ukuran bayi ketika lahir berhubungan dengan pertumbuhan linear
anak.35 Menurut WHO, Berat badan lahir rendah (BBLR) dapat
didefinisikan sebagai berat badan bayi ketika lahir kurang dari 2500
gram dengan batas batas atas 2499 gram, sedangkan berdasarkan
dokumen data RISKESDAS 2013, kategori berat badan lahir
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu <2500 gram (BBLR), 2500-3999
gram, dan ≥4000 gram. Persentase bayi lahir pendek pada anak
perempuan (21,4%) lebih tinggi daripada anak laki-laki (19,1%). Di
Jawa Tengah, persentase bayi lahir pendek sebesar 24,5% melebihi
prevalensi nasional sebesar 20,2%.36
Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR terutama yang
berkaitan dengan status gizi ibu selama masa kehamilan. Kelahiran bayi
dengan kondisi BBLR menunjukkan adanya retardasi pertumbuhan
dalam uterus baik akut maupun kronis.27 Sebagian besar bayi dengan
berat badan lahir rendah memiliki kemungkinan mengalami gangguan
pertumbuhan pada masa anak-anak karena lebih rentan terhadap
penyakit diare dan penyakit infeksi.37, 38
3. Panjang Badan lahir Rendah
Jika seorang ibu hamil mengalami kurang gizi sejak awal kehamilan
maka akan berdampak pada berat badan maupun panjang badan lahir

9
bayi yaitu kurus dan pendek.35 Panjang badan lahir bayi dikategorikan
normal apabila ≥48 cm dan pendek apabila <48 cm.39 Jika diamati dari
bayi lahir, prevalensi bayi dengan panjang badan lahir rendah (<48 cm)
dengan angka nasional adalah 20,2%.9
4. Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi akibat virus atau bakteri dalam waktu singkat dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan tubuh terhadap cairan,
protein, dan zat-zat gizi lain. Disisi lain, adanya penyakit infeksi dapat
menyebabkan penurunan nafsu makan dan keterbatasan dalam
mengonsumsi makanan. Hal ini dapat menyebabkan malnutrisi akibat
penyakit infeksi.40
5. Pola Asuh
Pola asuh merupakan praktik di rumah tangga yang diwujudkan dengan
tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lain untuk
kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemberian
pola asuh makan yang memadai berhubungan dengan baiknya kualitas
konsumsi makanan balita, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi
balita.41
6. Pengetahuan Gizi Ibu
Pengetahuan ibu yang tidak memadai terkait gizi dan praktik-praktik
yang tidak tepat merupakan hambatan signifikan terhadap peningkatan
status gizi pada anak. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun
2007 menunjukkan bahwa kurang dari satu dari tiga bayi dibawah usia
enam bulan diberi ASI eksklusif dan hanya 42% anak usia 6-23 bulan
menerima makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai dengan
praktik-praktik yang direkomendasikan tentang pengaturan waktu,
frekuensi, dan kualitas.42
7. Pendidikan Ibu
Tinggi rendahnya pendidikan ibu berkaitan erat dengan pengetahuan
terhadap gizi. Berdasarkan hasil penelitian di Bogor, lama pendidikan
ibu berhubungan dengan status gizi balita menurut skor Z Indeks
TB/U.43 Demikian juga dengan hasil penelitian yang dilakukan di Kenya

10
yang menyatakan bahwa anak-anak yang dilahiran dari ibu
berpendidikan berisiko lebih kecil untuk mengalami malnutrisi yang
dimanifestasikan sebagai wasting atau stunting daripada anak-anak yang
dilahirkan dari ibu tidak berpendidikan. Dalam masyarakat dimana
proporsi ibu berpendidikan tinggi, memungkinkan untuk menyediakan
sanitasi yang lebih baik, pelayanan kesehatan dan saling berbagi
pengetahuan atau informasi mengenai kesehatan. Prevalensi anak
pendek yang tinggal di rumah tangga dengan kepala keluarga yang tidak
berpendidikan adalah 1,7 kali lebih tinggi dari prevalensi diantara anak-
anak yang tinggal di rumah dengan kepala keluarga yang berpendidikan
tinggi.42
1.1.3 Klasifikasi dan Diagnosis
Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan
cara penilaian antropometri. Secara umum antropometri berhubungan
dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh
dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.Antropometri digunakan untuk
melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi.Beberapa indeks
antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur
(BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi
badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar deviasi unit z (Z-
score).Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah ditimbang berat
badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan
dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita
akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya.14
Penghitungan ini menggunakan standar Z score dari WHO. Normal,
pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur
(TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely
stunted (sangat pendek).13
Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi badan
perumur (TB/U).
I. Sangat pendek : Zscore < -3,0

11
II. Pendek : Zscore < -2,0 s.d. Zscore ≥ -3,0
III. Normal : Zscore ≥ -2,0
Dan di bawah ini merupakan klasifikasi status gizi stunting
berdasarkan indikator TB/U dan BB/TB I. Pendek-kurus : -Zscore TB/U <
-2,0 dan Zscore BB/TB < -2,0 II. Pendek-normal : Z-score TB/U < -2,0
dan Zscore BB/TB antara - 2,0 s/d 2,0 III. Pendek-gemuk : Z-score ≥ -2,0
s/d Zscore ≤ 2,0

2.1.4 Pencegahan
Kerangka pertama adalah Intervensi Gizi Spesifik. Ini merupakan intervensi
yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting. Kerangka kegiatan
intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan.
Intervensi ini juga bersifat jangka pendek dimana hasilnya dapat dicatat
dalam waktu relatif pendek. Kegiatan yang idealnya dilakukan untuk
melaksanakan Intervensi Gizi Spesifik dapat dibagi menjadi beberapa
intervensi utama yang dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan
balita:11
a. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Hamil.
Intervensi ini meliputi kegiatan memberikan makanan tambahan (PMT)
pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis,
mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat, mengatasi kekurangan
iodium, menanggulangi kecacingan pada ibu hamil serta melindungi ibu
hamil dari Malaria.11 14
b. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-
6 Bulan.
Intervensi ini dilakukan melalui beberapa kegiatan yang mendorong
inisiasi menyusui dini/IMD terutama melalui pemberian ASI
jolong/kolostrum serta mendorong pemberian ASI Eksklusif.11
c. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia7-
23 bulan.
Intervensi ini meliputi kegiatan untuk mendorong penerusan pemberian

12
ASI hingga anak/bayi berusia 23 bulan. Kemudian, setelah bayi berusia
diatas 6 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI, menyediakan obat
cacing, menyediakan suplementasi zink, melakukan fortifikasi zat besi
ke dalam makanan, memberikan perlindungan terhadap malaria,
memberikan imunisasi lengkap, serta melakukan pencegahan dan
pengobatan diare.11
Kerangka Intervensi Stuntingyang direncanakan oleh pemerintah
yang kedua adalah Intervensi Gizi Sensitif. Kerangka ini idealnya
dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar
sektorkesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting.
Sasaran dari intervensi gizi spesifikadalah masyarakat secara umum dan
tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari
PertamaKehidupan/HPK. Kegiatan terkait Intervensi Gizi Sensitif dapat
dilaksanakan melalui beberapakegiatan yang umumnya makro dan
dilakukan secara lintas Kementerian dan Lembaga.
Ada 12 kegiatan yang dapat berkontribusi pada penurunan stunting
melalui Intervensi Gizi Spesifik sebagai berikut:
1) Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih.
2) Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi
3) Melakukan fortifikasi bahan pangan.
4) Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan Keluarga
Berencana (KB).
5) Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
6) Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
7) Memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua.
8) Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal.
9) Memberikan pendidikan gizi masyarakat.
10) Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi
pada remaja.
11) Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin.
12) Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.

13
BAB 3
ANALISIS SITUASI

14
3.1 Kondisi Geografis

Puskesmas Selayo terletak di Kecamatan Kubung Kabupaten Solok,


dengan wilayah kerja meliputi 4 (empat) nagari, dengan 22 (dua puluh dua jorong,
dengan luas wilayah kerja Puskesmas Salayo adalah 111,9 Km², yaitu:

Tabel: 1
Luas Wilayah Kerja Puskesmas Salayo dan Alat Transportasi
Pendukung Tahun 2019
Luas Joron
No Nagari Alat Transportasi Jarak
(km²) g Pendukung
1 Salayo 21,44 4 Kendaraan roda 4 dan 0,5 Km
roda 2
2 Koto Baru 29,60 8 Kendaraan roda 4 dan 2 Km
roda 2

3 Gantung Ciri 24,40 5 Kendaraan roda 4 dan 7 Km


roda 2

4 Koto 35,50 5 Kendaraan roda 4 dan 5 Km


Hilalang roda 2

Jumlah 22

Sumber : Profil Puskesmas Salayo Tahun 2019

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nagari yang paling luas
adalah Koto Hilalang yaitu 35,50 Km² diikuti Nagari Koto Baru 29,60
Km² dan Gantung Ciri 24,40 Km2. Sedangkan wilayah yang paling kecil
adalah Nagari Salayo 21,44 Km2.

3.2 Kondisi Wilayah


Wilayah kerja Puskesmas Salayo terletak pada daerah jalur lintas,
pebukitan dan pegunungan dengan batas- batas wilayah kerja sebagai berikut:

15
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Nagari Tanjung Bingkung (wilayah
kerja Puskesmas Tanjung Bingkung)

Sebelah : Beratasan dengan Nagari Cupak (wilayah kerja Puskesmas


Selatan Jua Gaek)
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kota Padang
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Nagari Panyangkalan dan Muara Panas
(wilayah kerja Puskesmas Muara Panas dan Tanjung
Bingkung)

Gambar 1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Salayo

3.3 Kondisi Demografi

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Salayo pada tahun 2019


adalah 43.482 jiwa. Distribusi jumlah penduduk dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Distribusi Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja

16
Puskesmas Salayo Tahun 2019
No Nagari Jumlah Jumlah Rata- rata Kepadatan
Penduduk Rumah Jiwa Penduduk
Tangga rumah Per Km2
(KK) tangga
(KK)

1 Salayo 13.772 3.169 4,35 642,35


2 Koto Baru 21.142 4.606 4,59 715,55
3 Gantung Ciri 5.501 1.055 4,80 199,45
4 Koto Hilalang 3.067 654 4,69 46,39
Jumlah 43.482 9.484 4,6 400
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Salayo Tahun 2019

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk terbanyak


ada di Nagari Koto Baru sebanyak 21.142 jiwa dan nagari yang memiliki
penduduk terkecil adalah Koto Hilalang sebanyak 3.067 jiwa.

3.4 Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya


Dengan Hampir seluruh masyarakat di Kecamatan Kubung
beragama Islam. Selain itu kondisi ekonomi masyarakat Kecamatan
Kubung bervariasi, dengan mata pencarian bertani, Pegawai Negeri,
berdagang dan swasta, dll.

3.5 Sarana Pendidikan


Jumlah sarana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Salayo mulai dari TK sampai SMA dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 3. Sarana Pendidikan di Wilayah Kerja
Puskesmas Salayo tahun 2019
No Jenis Sarana Pendidikan Jumlah

1 TK/PAUD 30

2 SD 33

3 SMP 13

4 SMA/ MAN 5

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Salayo Tahun 2019

3.6 Sarana dan Prasarana Kesehatan


Untuk melayani masyarakat Puskesmas Salayo Kecamatan Kubung
memiliki berbagai sarana sebagai berikut :

17
Tabel 4. Distribusi Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja
Puskesmas SalayoTahun 2019
No Sarana Jumlah

1 Puskesmas 1
2 Puskesmas Pembantu 4
3 Posyandu 52
4 Poskesri 15
5 Pusling 1
6 Kendaraan dinas roda empat 2
7 Kendaraan dinas roda dua 4

Dalam melayani masyarakat Kecamatan Kubung, Puskesmas


Salayo memiliki tenaga kesehatan dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Ketenagaan Puskesmas Salayo tahun 2019

STATUS KEPEGAWAIAN
No Jenis Tenaga Jumlah
CPNS PNS PTT THL Sukarela
1 Dokter Umum 0 2 0 1 0 3
2 Dokter Gigi 0 1 0 0 0 1
3 Profesi Keperawatan 0 5 0 0 2 7
4 S1 Keperawatan 0 2 0 0 3 5
5 DIII Keperawatan 0 4 0 0 6 10
6 SPK 0 2 0 0 0 2
7 D IV Kebidanan 0 2 2 0 2 6
8 D III Kebidanan 0 16 7 0 7 30
9 PPB 0 1 0 0 0 1
10 D III Keperawatan
0 2 0 0 0 2
Gigi
11 D III Analisis
Farmasi dan 0 1 0 0 0 1
Makanan
12 SMF 0 1 0 0 0 1
13 D IV Analis
0 1 0 0 0 1
Kesehatan
14 SMAK 0 1 0 0 0 1
15 D IV Sanitarian 0 1 0 0 0 1
16 D III Sanitarian 0 1 0 0 0 1
17 D III Gizi 0 2 0 0 0 2
18 Administrasi Kantor
0 1 0 0 0 1
(S1 Sosial)
19 D III Fisioterapi 0 0 0 0 1 1
20 Pekarya Kesehatan 0 1 0 0 0 1
21 Sopir 0 0 0 1 0 1
22 Petugas Kebersihan 0 0 0 1 0 1
23 Penjaga Puskesmas 0 1 0 0 0 1

18
Jumlah
1.1.7 Keuangan
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Salayo tahun 2019

Untuk memberikan pelayanan dan menjalankan program,


Puskesmas Salayo memiliki sumber keuangan, diantaranya sebagai
berikut:
Tabel 3. Sumber Keuangan Puskesmas Salayo tahun 2019
No Sumber Dana Pagu (Rp) Realisasi (Rp) %
1 BOK
2 DAU
3 JKN

Sumber : Laporan Keuangan Puskesmas Salayo tahun 2019

3.7 Metode Evaluasi Kegiatan

Metode yang diterapkan di Puskesmas Salayo dalam melaksanakan


kegiatan maupun dalam mengevaluasi kegiatan adalah dengan melaksanakan
Lokakarya Mini yaitu:
Tabel 4. Metode Evaluasi Kegiatan Puskesmas Salayo Tahun 2019

No Metode Jumlah Pelaksanaan

1 Lokmin bulanan 12

2 Lokmin tri bulan 4

Sedangkan pencatatan dan pelaporan puskesmas dibuat dalam


Sistem Pencatatan dan Pelaporan Tingkat Puskesmas Plus (SP2TP Plus), yang
dilaporkan setiap bulannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten Solok

3.8 Visi dan Misi Puskesmas Salayo


Visi:
Masyarakat Kecamatan Kubung Sehat Secara Mandiri Dan Berkeadilan

Misi:
1. menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif
berkesinambungan, bermutu dan berkeadilan

19
2. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif
3. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
4. Melaksanakan peningkatan kompetisi tenaga kesehatan.

3.9 Struktur Organisasi


Puskesmas adalah satu kesatuan organisasi fungsional yang
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga
membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah
kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
Adapun Struktur Organisasi Puskesmas Selayo yaitu sebagai berikut
1. Kepala Puskesmas
Bertugas memimpin dalam melaksanakan program kesehatan yang
bertanggungjawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Solok
2. Kasubag Tata Usaha
Membawahi beberapa kegiatan diantaranya Sistem Informasi
Puskesmas, kepegawaian, rumah tangga, dan keuangan.
3. Wakil Managemen Mutu
Wakil manajemen mutu adalah Tim Mutu internal Puskesmas
Salayo yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas dan bertanggung
jawab untuk menjamin kesesuaian dan efektivitas implementasi
sistem manajemen mutu.

Wakil Manajemen Mutu mendapat otoritas yang cukup untuk


menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sbb :

1. Mengembangkan sistem manajemen mutu sesuai persyaratan standar.


2. Menjamin sistem dilaksanakan secara efektif pada semua fungsi.
3. Menjamin sistem manajemen mutu dipertahankan.
4. Menjamin sistem manajemen mutu diperbaiki terus menerus.

20
5. Melaporkan hasil atau kinerja sistem manajemen mutu kepada Kepala
Puskesmas
6. Mengupayakan peningkatan kesadaran dan pemahaman karyawan
dalam sistem manajemen mutu.
7. Membina hubungan dengan pihak eksternal untuk hal-hal yang
berkaitan dengan sistem manajemen mutu.
8. Menyelenggarakan program pendukung untuk membudayakan
kesadaran mutu keseluruh karyawan.
9. Melakukan komunikasi kepada seluruh karyawan
10. Mengkoordinasikan kegiatan internal audit
Delapan prinsip manajemen mutu sebagai berikut :
1. Setiap orang memiliki pelanggan
2. Setiap orang bekerja dalam sebuah sistem
3. Semua sistem menunjukkan variasi
4. Mutu bukan pengeluaran biaya tetapi investasi
5. Peningkatan mutu harus sesuai perencanaan
6. Peningkatan mutu harus sesuai dengan pandangan hidup
7. Manajemen berdasarkan fakta dan data
8. Fokus pengendalian (control) pada proses bukan pada hasil output

3.10 Motto yang ditanamkan di Puskesmas Salayo adalah :


KEPUASAN PASIEN KEBAHAGIAN KAMI

3.11 Data Nilai Puskesmas Salayo

Dalam pelaksanaannya Puskesmas Salayo menerapkan budaya kerja


diantaranya :
1. Disiplin, artinya selalu mematuhi jam kerja.
Masuk kerja Dinas Pagi pukul 08.00 sd 16.00 Wib (Senin sd
Kamis)
Masuk kerja Dinas pagi pukul 08.00 sd 16.30 Wib ( Hari Jum’at)
Masuk kerja Dinas Sore pukul 14.00 sd 21.00 Wib (Setiap hari)
2. Profesional, artinya bekerja sesuai dengan standar pelayanan.
Petugas melaksanakan pelayanan terhadap pasien sesuai dengan

21
SOP.
3. Tanggung Jawab, artinya dalam melaksanakan tugas sesuai Instruksi
kerja dan tepat waktu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing
– masing.
4. 5 S ( Senyum, Salam Sapa ,sopan dan santun), artinya dalam setiap
pelayanan selalu senyum, salam dan sapa baik kepada pelanggan
/masyarakat dan rekan kerja.
5. Mampu bekerjasama secara tim, artinya saling membantu dalam
menyelesaikan tugas.
6. Kreatif dan Inovatif, artinya selalu menciptakan ide – ide yang
positif.
7. Mengutamakan Keselamatan Kesehatan Kerja ( K3 ). Dalam setiap
pelayanan selalu safety Pelanggan, safety Lingkungan, dan safety
Petugas.
8. Semangat dalam bekerja, artinya mempunyai Etos Kerja tinggi.
9. Percaya diri, artinya selalu menunjukkan kemampuan diri
(Aktualisasi diri) dalam bekerja.
10. Berpenampilan Sopan, Rapi dan Menarik. Artinya dalam hal
berpakaian dan berdandan selalu menjaga norma dan etika.
2. Kebijakan Mutu
a. Kepala Puskesmas beserta seluruh staf Puskesmas Salayo
berkomitmen untuk :
” Melakukan peningkatan serta perbaikan kualitas SDM,
sarana dan prasarana untuk menghasilkan pelayanan bermutu
secara konsisten sehingga memenuhi kepuasan pelanggan,
serta mentaati Peraturan Perundang - undangan yang berlaku
b. Kebijakan teknis dalam peningkatan mutu dan keselamatan
pasien ada pada lampiran manual mutu

3. . Proses Pelayanan Puskesmas Salayo :

Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat

22
1. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang esensial meliputi :
1) Pelayanan Promosi Kesehatan termasuk UKS
2) Pelayanan Kesehatan Lingkungan.
3) Pelayanan KIA –KB yang bersifat UKM
4) Pelayanan Gizi bersifat UKM.
5) Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
6) Pelayanan Keperawatan Kesehatan Lainnya.
2. Sedangkan upaya kesehatan masyarakat pengembangan
diantaranya :
1) Pelayanan Kesehatan Jiwa
2) Kesehatan Kesehatan Gigi Masyarakat
3) Kesehatan Tradisional Komplementer
4) Pelayanan Kesehatan Olahraga
5) Pelayanan Kesehatan Indra
6) Pelayanan Kesehatan Lansia
7) Pelayanan Kesehatan Kerja
8) Pelayanan Kesehatan Lainnya
2. Pelayanan UKP, Kefarmasian dan Laboratorium
1. Pelayanan Pemeriksaan Umum
2. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
3. Pelayanan KIA – KB yang bersifat UKP
4. Pelayanan Gawat Darurat
5. Pelayanan Gizi yang bersifat UKP
6. Pelayanan Kefarmasian
7. Pelayanan Laboratorium Pratama
3. Pelayanan Jaringan Fasilitas Pelayanan kesehatan :
1. Puskesmas Pembantu
2. Puskesmas Keliling (Pusling)
3. Bidan Jorong
4. Jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan
5. Unit Layanan Pengaduan Masyarakat
Setiap Hari Layanan Konsumen (0755) 22541

23
Informasi / Humas
Setiap hari kerja Kontak Person Nofianti, A.Md.Keb
(08136307177)
Email . puskesmasselayo@gmail.com

A. Landasan Hukum

Landasan hukum yang digunakan dalam menyusun pedoman


mutu ini adalah:
1. UU RI No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
2. UU RI No. 29 tahun 2004 tentang praktek Kedokteran;
3. UU RI No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
4. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan;
5. UU RI No. 20 tahun 2014 tentang Standarisasi dan
Penilaian Kesesuaian
6. UU RI No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;
7. Perpres No. 111 tahun 2013 tentang Perubahan atas
Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan
Kesehatan.
8. Perpres N0 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015 -2019
9. Permenkes No. 21 tahun 2015 tentang Pelayanan Kesehatan
pada JKN
10. Permenkes No. 9 tahun 2014 tentang Klinik
11. Permenkes No. 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan
Masyarakat

Acuan yang digunakan dalam menyusun pedoman mutu ini adalah:


standar akreditasi puskesmas

B. Istilah dan Definisi


1. Pelanggan adalah
Setiap orang yang menggunakan jasa layanan puskesmas
2. Kepuasan pelanggan adalah
Tingkat perasaan konsumen setelah membandingkan antara apa
24
yang dia terima dan harapannya.
3. Pasien adalah
Orang yang memerlukan pelayanan klinis
4. Koreksi adalah
Tindakan perbaikan untuk suatu ketidaksesuaian terhadap standar
yang berlaku
5. Tindakan korektif / Perbaikan adalah
Tindakan untuk menghilangkan penyebab ketidaksesuaian  yang
ditemukan atau situasi yang tidak dikehendaki, dan mencegah
terulangnya ketidaksesuaian
6. Tindakan preventif adalah
Tindakan yang diambil untuk mencegah terjadinya ketidaksesuaian
berdasarkan hasil identifikasi potensi ketidaksesuaian
7. Pedoman mutu adalah
Merupakan dokumen induk organisasi, berfungsi untuk pernyataan
tujuan yang ingin dicapai oleh puskesmas dan berisi tentang
kebijakan puskesmas untuk memuaskan pelanggannya
8. Dokumen adalah
Sebuah tulisan yang memuat informasi
9. Rekaman adalah
Bukti pelaksanaan kegiatan sesuai dengan standar
10. Efektivitas adalah
Pencapaian atau pemilihan tujuan yang tepat dari beberapa
alternatifNlainnya
11. Efisiensi adalah
Penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil
yang optimum
12. Proses adalah
Serangkaian langkah sistematis , tahapan yang jelas dan dapat
dilakukan berulangkali untuk mencapai hasil yang diharapkan.
13. Sasaran mutu
Target dari masing masing program/kegiatan yang ingin dicapai

25
dalam jangka waktu tertentu
14. Perencanaan mutu
Aktivitas pengembangan produk dan proses yang mengarah pada
pemenuhan kebutuhan pada pelanggan
15. Kebijakan mutu
Merupakan pernyataan resmi dari manajemen puncak berkenaan
dengan arah dan tujuan kinerja mutu (quality performance) yang
hendak dicapai
16. Sarana
segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai
maksud atau tujuan; alat; media
17. Prasarana
segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya
suatu proses 
18. Masyarakat
sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu
kebudayaan yang mereka anggap sama

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Masalah


Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan
wawancara dengan pimpinan puskesmas, pemegang program, dan petugas yang
menjalankan program serta analisis laporan tahunan Puskesmas Salayo. Proses ini
dilakukan dengan melihat data sekunder berupa laporan tahunan Puskesmas
Salayo. Masalah yang diidentifikasi adalah semua permasalahan yang terdapat di
Puskesmas Salayo. Beberapa potensi masalah yang berhasil diidentifikasi di
Puskesmas Salayo adalah :

26
Tabel 4.1 Laporan Bayi Dua Tahun ditimbang

Tabel 4.2 Daftar Masalah di Puskesmas Salayo

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Salayo Bulan Januari-Oktober Tahun 2019


Dari laporan tahunan puskesmas Selayo dan dari hasil diskusi dengan
pemegang program bagian gizi, terhadap lokus stunting di Nagari Koto Hilalang,
belum terdapatnya perkembangan dari grafik tinggi badan per usia pada kasus
stunting, di Nagari Koto Hilalang.

4.2 Penentuan Prioritas Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang ada di Puskesmas Selayo,

ditemukan beberapa permasalahan yang perlu untuk diselesaikan. Tetapi perlu

dilakukan penentuan prioritas penyelesaian masalah karena tidak mungkin

27
dilakukan pemecahan masalah secara sekaligus. Metode Skoring Hanlon

digunakan untuk menentukan prioritas masalah. Kriteria skoring yang digunakan

adalah sebagai berikut:

1. Urgensi : Merupakan masalah yang penting untuk dilaksanakan


a. Nilai 1 = Tidak penting
a. Nilai 2 = Kurang penting
b. Nilai 3 = Cukup penting
c. Nilai 4 = Penting
d. Nilai 5 = Sangat penting
2. Kemungkinan intervensi
a. Nilai 1 = Tidak mudah
b. Nilai 2 = Kurang mudah
c. Nilai 3 = Cukup mudah
d. Nilai 4 = Mudah
e. Nilai 5 = Sangat mudah
3. Biaya
a. Nilai 1 = Sangat mahal
b. Nilai 2 = Mahal
c. Nilai 3 = Cukup mahal
d. Nilai 4 = Murah
e. Nilai 5 = Sangat murah
4. Kemungkinan meningkatkan mutu
a. Nilai 1 = Sangat rendah
b. Nilai 2 = Rendah
c. Nilai 3 = Sedang
d. Nilai 4 = Tinggi
e. Nilai 5 = Sangat tinggi

Terdapat balita Stunting


Urgency : 3 (Tidak Terlalu endesak)
Seriousness : 4 (Serius)
Growth : 4 (Perkembangan Cukup)
Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia

adalah 37,2%. Satu dari tiga anak di Indonesia mengalami stunting.Masalah

balita pendek menggambarkan adanya masalah gizi kronis, dipengaruhi kondisi

dari ibu/calon ibu, masa janin, dan masa bayi/balita, termasuk penyakit yang

28
diderita selama masa balita. Stunting merupakan masalah serius yang

dihadapi saat ini karena memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang

terutama terhadap tingkat intelektualitas anak yang akhirnya akan

menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan

memperlebar ketimpangan. Masalah ini cukup mendesak untuk diintervensi.

Berdasarkan sebaran data stunting di seluruh Indonesia, Sumatera Barat

merupakan provinsi dengan nilai stunting tertinggi (30- 40%). Berdasarkan

penimbangan massal yang dilakukan pertama kali oleh Puskesmas Selayo pada

Januari 2019 didapatkan 87 dari 1.059 (8,5%) balita di Kecamatan Selayo

mengalami stunting.

Tabel 4.3 Jumlah Temuan Kasus Stunting Usia 0-24 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Selayo Pada 2019
Sangat Jumlah
No. Desa/ Kelurahan Pendek Normal
Pendek
1. Nagari Gantuang Ciri 3 4 132 139
2. Nagari Koto Hilalang 13 17 87 117
3. Nagari Selayo 9 15 318 342
4. Nagari Koto Baru 10 16 522 548
Total 35 52 1.059 1.146

Tabel 4.4 Jumlah Temuan Kasus Stunting Usia 0-24 Bulan Nagari Koto
Hilalang pada 2019
Sangat
No. Posyandu Pendek Normal
Pendek
1. Muaro Busuk 5 5 2
2. Simapng IV 4 4 19
3. Koto Tingga 1 2 13
4. Dalam Nagari 0 5 44
5. Kapondong 1 1 9
Total 11 17 87

29
180.00
160.00
140.00
120.00
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00
0.00

Grafik 4.1 grafik K1-F1 diilayah kerja Puskesas Selayo tahun 2019

120.0
100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
0.0
i i i
ah ut no go ng ng iak ru Kil ja ku ng kio gin to wa ru ar IV ak ga ng AS
ang Sud ala n ti pa Agu Bal o Ba kit . Ka Du ubu ar rin o Ko ina g Ba Nag ang usu Ting ndo SM
T h P Na im k h t u 0 ah K . M Ba al S n p B o o KE
ang awa Batu ah 5. S bu awa g Ko 9. B 1 aw atu 13 4. ap ang pu alam Sim aro Kot Kap US
gg . S 3. Lur Lu S n .B sB 1 . K in am D 9. u .
2. P
la an 2 4. 6. ang ara 11 na 1 5 6 . P 7 . K 1 8 . 1 0 . M 21 2
G p Su b m 1 1 2
1. Sim 8. eru
7 . .P
12

Grafik 4.2 grafik K4-F3 diilayah kerja Puskesas Selayo tahun 2019

Dapat dilihat pada tabel dan grafik diatas, bahwa angka kejadian stunting
terbanyak pada kelurahan Koto Hilalang, dimana terdapat kasus 13 sangat pendek
dan 17 kasus sangat pendek. Kemudian dari keseluruhan posyandu di kelurahan
Koto Hilalang didapatkan wilayah Muaro Busuk terdapat angka stunting
terbanyak yaitu 5 orang sangat pendek dan 5 orang pendek. Dilihat dari grafik 4.1
yaitu angka K1 di Muaro Busuk telah tercapai target yaitu 91% dari target 83,3%
akan tetapi pada grafik 4.2 didapatkan K4 di Muaro Busuk hanya 58,3%.
Sebagaimana diketahui bahwa pada kunjungan pertama ibu hamil dan kunjungan
30
ke 4 ibu hamil nanti standar 7T (timbang badan dan ukur tinggi, tekanan darah,
tetanus toxoid, tinggi fundus uteri, tablet besi, temu wicara, tes lab sederhana)
dimana nantinya juga akan diberikan pemeriksaan dan informasi mengenai gizi
yang harus diberikan saat hamil nantinya.

31
4.4 Diagram Ischikawa
MANUSIA:
 Pengetahuan ibu tentang kecukupan
dan nilai gizi makanan terutama saat
METODE:
hamil kurang
 Belum maksimalnya
 Pemberian ASI Ekslusif yang belum
penyuluhan mengenai
optimal stunting
 Tingkat partisipasi orang tua dalam  Belum optimalnya
pemantauan tumbuh- kembang penjaringan balita stunting
balita masih belum optimal di Nagari Koto Hilalang
 Belum terdapat kader dalam
pencatatan dan penanggulangan
stunting

 Terdapat
balita
stunting di
Nagari Koto
Hilalang

LINGKUNGAN: MATERIAL:
 Kurangnya pengetahuan  Kurangnya ketersediaan
masyarakat akan pentingnya media informasi berupa
pemantauan ketat pada leaflet, buku dll
pertumbuhan dan perkembangan  Dampak dan
pada anak, terutama dengan kasus penatalaksanaannya di
stunting masyarakat kurang

32
BAB 5

RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM

5.1 Plan (Tahap Persiapan)

Tahap persiapan dilakukan pertemuan dan diskusi dengan masing-masing

pemegang program untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ditemui dari

masing-masing program. Kemudian dilakukan diskusi bersama pembimbing

membahas tentang permasalahan serta prioritas permasalahan pada masing-

masing program.

Berdasarkan diskusi dan evaluasi permasalahan yang ada di puskesmas,

diangkatkan upaya peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang gizi ibu hamil

sebagai rancangan solusi untuk permasalahan yang didapat tersebut.

Gambar 5.1 Diskusi bersama pembimbing

5.2 Do (Tahap Pelaksanaan)

5.2.1 Pemberian Kuisioner

Pemberian kuisioner berfungsi untuk menilai pengetahuan awal Ibu

tentang gizi ibu hamil demi mencegah stunting


33
Gambar 5.2 Pemberian kuisioner pada Ibu-ibu Hamil yang Kontrol Kehamilan Ke

Puskesmas Selayo

5.2.3 Penyuluhan Gizi akan ibu hamil demi mencegah stunting dan

Penyakit Stunting”

Penyuluhan mengenai gizi akan ibu hamil berisi penjelasan tentang

pentingnya gizi yang seimbang dikonsumsi oleh ibu hamil, sehingga mencegah

akibat terkait dampaknya menjadi stunting.

34
Gambar 5.4. Pemberian penyuluhan Gizi Ibu Hamil terhadap Responden

5.3 Check (Tahap Evaluasi)

Tahap evaluasi ini dilakukan untuk menilai pelaksanaan kegiatan yang

telah dilaksanakan. Indikator keberhasilan dari pelaksanaan kegiatan dapat dinilai

dari beberapa faktor:

1. Pentingnya gizi seimbang pada ibu hamil dan salah satu akibat terkait dampak

kurangnya gizi saat ibu hamil berdampak pada anak, yang berdampak anak

menjadi stunting

a. Penyiapan materi presentasi setelah peserta mengisi kusioner

5.4 Action (Rencana Berkelanjutan)

Pendataan Tinggi Badan dan Berat Badan sesuai Grafik KMS dan

evaluasi dengan melakukan Food Recall pada Bayi dengan Stunting

Pendataan dilakukan oleh pemegang program Posyandu Puskesmas Selayo

terlaksana setiap bulan dengan baik, didapatkan dari posyandu dan dari

TK/PAUD yang memiliki keluhan data tidak sesuai harapan.

35
Matriks Kegiatan

Bulan
Maret April
2020 2020 Mei 2020 Juni 2020
No. Jenis Kegiatan
(Minggu (Minggu (Minggu ke-) (Minggu ke-)
ke- ) ke- )
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengumpulan
1.
literatur dan data
2. Persetujuan judul
oleh Kepala
Puskesmas
3. Menghubungi
pemegang program
5. Pelaksanaan
program
6. Penyusunan data
7. Analisis data
8. Penyusunan
laporan penelitian
9. Presentasi

BAB 6
HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Survey dan kuesioner

36
6.1.1 Perencanaan
Setelah ditetapkan prioritas masalah menggunakan sistem skoring USG
yaitu terdapat balita stunting, kemudian dilakukan survey ke lapangan
menggunakan kuesioner untuk mendata pengetahuan dan sikap Ibu mengenai pola
asuh dan cara pengolahan makanan terhadap anak di Nagari Koto Hilalang.
Pembuatan kuisioner diharapkan dapat menggambarkan mengenai pengetahuan
dan sikap ibu terkait dengan penyebab balita stunting. Hal ini bertujuan agar dapat
memberikan gambaran penyebab terdapatnya balita stunting untuk selanjutnya
dapat dilakukan intervensi.

6.1.1 Pelaksanaan
Pembagian kuesioner dilaksanakan sepanjang April hingga Mei 2020
kepada pasien hamil yang berobat atau kontrol ke puskesmas Selayo, diutamakan
diambil pasien yang berdomisili di Koto Hialang. Didapatkan 10 kuisioner ibu
hamil. Semua keterbatasan diatas akibat sedang terjadinya pandemi Covid 19,
sehingga kegiatan survey dan pengambilan sampel kuisioner kelapangan tidak
dapat dilakukan

6.1.2 Evaluasi

Secara umum pelaksanaan survey dan kuisioner berlangsung dengan baik.


Namun disarankan untuk kedepannya, pemilihan cara pengambilan sampel
kuesioner lebih merata sehingga lebih menggambarakan apa yang ingin diketahui
tentang gizi ibu hamil terhadap kejadian stunting. Diharapkan kedepanya jika
Covid 19 sudah mereda, dapat dilakukan survey langsung kedaerah tersebut untuk
mendapatkan data yang lebih representatif.

6.2 Penyuluhan
6.2.1 Perencanaan
Persiapan yang dilakukan berupa diskusi dengan pembimbing
Internsip, dan pemegang program Gizi, untuk memberikan penyuluhan
pada saat turun Posyandu, dengan materi Nutrisi Optimal untuk
Pencegahan Stunting pada Anak. Materi diambil dari berbagai literatur
yang berhubungan dengan segala aspek tentang stunting. Selanjutnya
materi tersebut dibuat dalam bentuk file presentasi power point yang

37
mudah dipahami.

Gambar 6.1 Diskusi Dengan Pembimbing Internsip Puskesmas Selayo dr


Septina Sari

6.2.2 Pelaksanaan
Akibat pandemi Covid 19, maka penyuluhan tidak dapat dilakukan secara
beramai ramai akibat terdapat larangan untuk berkumpul. Karenanya penyuluhan
dilakukan setelah kuisioner dibagian kepada pasien pasien ibu hamil yang berobat
atau kontrol kehamilan di puskesmas Selayo. Penyuluhan juga dilaksanakan
seadanya tanpa menggunakan media powerpoint, hanya dijelaskankan apa itu
stunting, bagaimana gizi yang baik terhadap ibu hamil, dan menjelaskan poin poin
yang salah dari jawabanyang telah diisi responden

6.2.3 Evaluasi
Meskipun penyuluhan dilakukan secara kurang maksimal, akan tetapi
responden paham dan mengerti dari materi yang disampaikan

Gambar 6.2 Pemberian Penyuluhan Setelah Responden Mengisi Kuisioner

38
Tabel 6.1 Data Persentase Peserta yang Menjawab Benar
Pertanyaan Jumlah Presentase
jawaban (n= 10
benar orang )
Seorang ibu yang kekurangan gizi selama masa kehamilan maka 8 80 %
bayi yang dikandungnya tidak akan menderita kekurangan gizi
Gizi ibu hamil adalah makanan dan zat gizi dalam makanan 10 100 %
yang berguna bagi kesehatan ibu hamil
Gizi kurang pada ibu hamil tidak akan mempengaruhi 10 100%
kehamilan
Makanan bergizi adalah makanan yang enak dan mahal 10 100%
Gizi yang baik diperlukan ibu hamil agar pertumbuhan janin 10 100%
tidak terlambat dan bisa melahirkan bayi dengan berat normal
Kekurangan asupan protein tidak berdampak buruk bagi janin 10 100%
dalam kandungan
Bahan pangan yang merupakan sumber protein misalnya daging, 10 100%
ikan, telur, susu
Untuk pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan vitamin dan 10 100%
mineral (Vitamin C, Asam Folat, Zat Besi, Kalsium dan Zink)
Makanan yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah seperti 6 60%
roti, permen dan jahe.
Makanan yang harus dihindari selama hamiladalah makanan 10 100 %
yang mengandung pengawet
Contoh bahan makanan yang mengandung zat besi adalah keju, 6 60%
gandum, beras, dan mentega
Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat menyebabkan 10 100%
anemia
Tablet tambah darah dapat diminum dengan menggunakan 6 60%
teh
Kekurangan gizi saat hamil dapat menyebabkan ibu selalu 10 100%
merasa lemah dan kurang nafsu makan
Kekurangan gizi saat hamil tidak menyebabkan berat badan lahir 8 80%
rendah

Dari tabel pertanyaan diatas, dapat dilihat bahwa 10 dari 15 pertanyaan dijawab
dengan betul oleh kesemua responden. Hanya 5 dari 15 pertanyaan yang tidak terjawab betul
100% oleh responden, dan dari ke lima pertanyaan tersebut 3 pertanyaan terjawab betul 60%
dan 2 pertanyaan terjawab betul 80%. Dari data tersebut kita dapat melihat bahwa
pengetahuan akan gizi akan ibu hamil cukup baik. Oleh karenanya, dapat kita simpulkan
jikalau pada dasarnya ibu hamil tersebut paham dan mengerti bagaimana gizi yang baik
terhadap ibu hamil, kan tetapi kemungkinan aplikasinya belum diterapkan dengan baik
sehingga masih ada angka kejadian stunting. Kemudian, perlu juga di teliti faktor lain
penyebab stunting selain pengetahuan akan gizi terhadap ibu hamil.

39
Grafik 6.1 Distribusi Riwayat Pendidikan Terakhir Responden

Riwayat pendidikan terakhir responden

Tamat SMA Tamat SD

Dalam grafik diatas menunjukan bahwa tingkat pendidikan responden yaitu sebanyak
80% tamatan SMA dan 20% tamatan SD. Dapat dilihat mayoritas responden tamat SMA
sehingga pengetahuan akan gizi ibu hamil sudah didapatkan selama masa sekolah.

Grafik 4.2 Distribusi Status Pekerjaan Responden

Status Pekerjaan Responden

TIdak Bekerja Bekerja

Dalam grafik diatas menunjukan bahwa status pekerjaan responden keseluruhan yaitu
tidak bekerja.

40
BAB 7
PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Didapatkan bahwa pengetahuan akan gizi hamil yang diteliti cukup baik dimana 10 dari
15 pertanyaan terjawab 100% betul oleh responden. Sehingga, dapat kita simpulkan bahwa
pada dasarnya ibu hamil tersebut mengetahui dasar akan gizi ibu hamil yang baik demi
mencegah stunting nantinya. Akan tetapi mungkiin pelaksanaan dari gizi yang baik bagi ibu
hamil itu sendiri yang belum terlaksana dengan baik. Dari status riwayat sekolah sekita 80%
tamat SMA dan 20% tamat SD. Kemudian dari status pekerjaan didapatkan keseluruhan
responden tidak bekerja.

7.2 Saran
7.2.1 Bagi Pelaksana Mini Project Selanjutnya
Sebaiknya dapat dicari faktor resiko lain dari stuting untuk dapat diteliti. Atau dapat
memperdalam menggali dari faktor gizi ibu hamil akan kejandian stuntuing. Dapat
dilakukan recall gizi untuk melihat yang sebenarnya akan gizi yang dikonsumsi oleh
ibu hamil tersebut.
7.2.2 Bagi Puskesmas
Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan kinerja, pencatatan dan
pelaporan, serta promosi kesehatan dan meningkatkan pelayanan kesehatan calon ibu
hamiil, ibu hamil, bayi, balita, dan anak prasekolah terutama mengenai tumbuh kemba
ng.
7.2.3 Bagi Masyarakat

a. Perlunya meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi yang baik terhadap ibu
hamil dan mengaplikasikan makan makanan yang bergizi terutama terhadap ibu
hamil demi mencegah stunting pada anak nantinya.
b. Diharapkan bagi masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam program-progr
am kesehatan sehingga dapat meningkatkan taraf hidup keluarga dan masyarakat s
ekitarnya.

41
Lampiran 1. Leaflet Penyuluhan

42
43
2. Dokumentasi

44
3. KUESIONER

IDENTITAS RESPONDEN

1. NAMA : ........(Inisial)
2. UMUR : .......Tahun
3. PENDIDIKAN : SD SMP SMA PT
4. ALAMAT :
6. STATUS PEKERJAAN : Bekerja Tidak Bekerja
Keterangan: Berilah tanda centang (√) pada kotak tersebut sesuai dengan jawaban
anda
PETUNJUK UMUM
1. Bacalah setiap pernyataan dengan baik dan teliti, pilihlah salah satu
jawaban dengan memberikan tanda silang pada huruf (B) jika menurut
anda pernyataan tersebut "Benar" atau memberikan tanda silang pada
huruf (S) jika menurut anda pernyataan tersebut "Salah".
2. Anda dimohon menjawab pernyataan ini dengan jujur, apa adanya, sesuai
dengan yang diketahui tanpa bertanya kepada orang lain.
3. Jawaban yang anda berikan sangat kami hargai dan kerahasiaan anda akan
kami jaga sebaik-baiknya.
Terimakasih atas perhatian dan kerjasamanya.
No. Pernyataan Jawaban
1 Seorang ibu yang kekurangan gizi selama masa B S
kehamilan maka bayi yang dikandungnya tidak
akan menderita kekurangan gizi
2 Gizi ibu hamil adalah makanan dan zat gizi dalam B S
makanan yang berguna bagi kesehatan ibu hamil
3 Gizi kurang pada ibu hamil tidak akan B S
mempengaruhi kehamilan
4 Makanan bergizi adalah makanan yang enak dan B S
mahal
5 Gizi yang baik diperlukan ibu hamil agar B S
pertumbuhan janin tidak terlambat dan bisa
melahirkan bayi dengan berat normal

45
6 Kekurangan asupan protein tidak berdampak buruk B S
bagi janin dalam kandungan
7 Bahan pangan yang merupakan sumber protein B S
misalnya daging, ikan, telur, susu
8 Untuk pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan B S
vitamin dan mineral (Vitamin C, Asam Folat, Zat
Besi, Kalsium dan Zink)
9 Makanan yang dapat mengurangi rasa mual dan B S
muntah seperti roti, permen dan jahe.
10 Makanan yang harus dihindari selama hamil B S
adalah makanan yang mengandung pengawet
11 Contoh bahan makanan yang mengandung zat besi B S
adalah keju, gandum, beras, dan mentega
12 Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat B S
menyebabkan anemia
13 Tablet tambah darah dapat diminum dengan B S
menggunakan teh
14 Kekurangan gizi saat hamil dapat menyebabkan B S
ibu selalu merasa lemah dan kurang nafsu makan
15 Kekurangan gizi saat hamil tidak menyebabkan B S
berat badan lahir rendah

46
KUNCI JAWABAN

NO JAWABAN

1 S

2 B

3 S

4 S

5 B

6 S

7 B

8 B

9 B

10 B

11 S

12 B

13 B
14 B

15 S

48