Anda di halaman 1dari 6

Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal Special Issue January 2020

Case Report

ANALISA DRUG-RELATED PROBLEM (DRP) PADA PASIEN


DIABETES MELLITUS TYPE 2 DAN HIPERGLIKEMIA DI
RUANG PERAWATAN DAHLIA
DRUG-RELATED PROBLEM ANALYSIS OF PATIENT WITH DIABETES
MELLITUS TYPE 2 AND HYPERGLYCEMIA IN DAHLIA MEDICAL
ROOM

Rangki Astiani1, Novia Handayani2*

Fakultas Farmasi, Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta, Indonesia, 14350


*E-mail : noviahandayani94@gmail.com

Diterima: Direvisi: Disetujui:

Abstrak

Hiperglikemia merupakan suatu kondisi dimana kadar glukosa darah meningkat melebihi batas
normalnya dan gejala awal gangguan metabolic yaitu diabetes mellitus. Hiperglikemia terjadi
karena dipicu oleh defisiensi insulin dan merupakan tanda khas penyakit diabetes mellitus (DM).
Data menunjukkan adanya peningkatan pasien hiperglikemia pada tahun 2007 sebesar 5,7%
menjadi 6,8% ditahun 2013. Pengobatan yang diberikan perlu adanya pemantauan terhadap terapi
obat agar tidak terjadi reaksi yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
adanya permasalahan terkait terapi pasien hiperglikemia. Penelitian observasional dengan metode
konkuren dilakukan pada pasien rawat inap di ruang perawatan dahlia Rumah Sakit X. Terapi obat
yang diberikan terdapat masalah terkait Drug-Related Problem (DRP) diantaranya penggunaan
Omeprazole bersamaan dengan Estazolam dapat meningkatkan risiko efek samping yang termasuk
rasa kantuk yang berlebihan dan kesulitan bernafas; penggunaan Cefotaxime bersamaan dengan
Meropenem dapat meningkatkan risiko duplikasi genetik. Sehinggaapoteker klinis yang memiliki
peran penting dalam mengidentifikasi DRP yang dapat memberikan rekomendasi obat-obatan
yang memiliki tingkat keselamatan tinggi yang dapat diterima pada resep biasa terkait dengan
kombinasi obat yang berisiko tinggi.

Kata Kunci: Hyperglycemia; Drug-Related Problem (DRP); Metode Konkuren

Abstract

Hyperglycemia is a condition where the blood glucose level rises beyond its normal threshold and
is an early sign of a metabolic disorder, diabetes mellitus. Hyperglycemia occurs because it is
triggered by insulin deficiency and is a typical sign of diabetes mellitus (DM). Data showed an
increase in hyperglycemia patients in 2007 by 5,7% to 6,8% in 2013. Medication in a patient given
the need for monitoring drug therapy to avoid occur adverse drug reactions. Research aims to
determine the problems related to the therapy of hyperglycemia patients. The concurrent
observation study conducted in dahlia medical room X Hospital. The drug therapy there are to
Drug-Related Problem (DRP) among, Omeprazole with Estazolam may increase the risk of side
effects including excessive sleepiness and difficulty breathing; Cefotaxime with Meropenem may
increase the risk of genetic duplication. As a result, Clinical pharmacologists and pharmacists can
play an important role in identifying DRPs. Their recommendations for optimizing medication-
safety are most likely to be accepted for regular prescriptions, prescriptions associated with an
adverse drug event and high-risk drug combinations.

Keywords : Hyperglycemia; Drug-Related Problem (DRP); Method of Concurrent


Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal Special Issue January 2020

PENDAHULUAN

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 tahun 2014 tentang


Standar Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit, pelayanan farmasi klinik
merupakan pelayanan langsung yang diberikan Apoteker kepada pasien dalam
rangka meningkatkanoutcome terapi dan meminimalkan resiko terjadinya efek
samping karena obat, untuk tujuan keselamatan pasien (patient safety) sehingga
kualitas hidup pasien (quality of life) terjamin. Dimana Seorang apoteker klinis
dituntut untuk dapat memberikan pelayanan kefarmasian yang baik sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
Pola penyakit di Indonesia telah mengalami transformasi yang ditandai
dengan peralihan epidemiologi. Secara garis besar ditandai dengan perubahan
pola penyakit dan kematian yang semula dipengaruhi oleh penyakit infeksi beralih
ke penyakit non infeksi atau penyakit tidak menular seperti penyakit
kardiovaskuler, hipertensi, diabetes mellitus, obesitas dan lainnya. Penyakit kronis
ini disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, mengkonsumsi
alkohol berlebihan, pola makan yang tidak baik dan obesitas, kekurangan aktivitas
fisik, stres, dan pencemaran lingkungan [1].
Diabetes mellitus (DM) adalah salah satu penyakit degeneratif menahun
yang mengalami kenaikan yang sangat tajam dan merupakan suatu penyebab
kematian di dunia. Diabetes mellitus dicirikan oleh peningkatan kadar glukosa
darah puasa (hiperglikemia) dan dapat mengakibatkan tingginya kadar glukosa
darah dalam urin [2].
Menurut WHO 2007, Indonesia masuk ke dalam sepuluh negara dengan
jumlah kasus diabetes melitus terbanyak di dunia. Berdasarkan laporan hasil Riset
Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa prevalensi DM pada tahun 2000 sebanyak
5,6 juta dan diprediksi akan mengalami peningkatan pertahun sebanyak 8,2 juta
dan pada tahun 2030 sebanyak 21,3 juta. Dengan angka tersebut Indonesia
menempati peringkat ke-5 di dunia, atau naik dua peringkat dibandingkan tahun
2013 yang menempati peringkat ke-7 di dunia [3].
Hiperglikemia merupakan suatu kondisi ketika kadar glukosa darah
meningkat melebihi batas normalnya. Hiperglikemia menjadi salah satu gejala
awal seseorang mengalami gangguan metabolik yaitu diabetes mellitus [3]. Data
Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa jumlah penderita diabetes
dengan ciri khusus yaitu kondisi hiperglikemia di Indonesia semakin meningkat
sejak tahun 2007 yaitu sebesar 5,7% menjadi 6,8% di tahun 2013. Hiperglikemia
dapat disebabkan oleh ketidakmampuan pankreas dalam menghasilkan insulin
maupun ketidakmampuan tubuh dalam menggunakan insulin yang dihasilkan
dengan baik [3].
Mengingat pentingnya fungsi Apoteker pada pelayanan farmasi Rumah
Sakit, maka pada Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini dilakukan
pengkajian studi kasus. Studi kasus diambil dari pasien di Unit Perawatan Dahlia
di Rumah Sakit X yang didiagnosa menderita penyakit diabetes mellitus dan
Hiperglikemia. Studi kasus ini dimaksudkan agar calon Apoteker dapat belajar
tentang hal-hal terkait pelayanan farmasi Rumah Sakit.
Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal Special Issue January 2020

PRESENTASI KASUS

Tabel 1. Identitas Pasien


Nama Pasien Ny. R
Jenis Kelamin Perempuan
Usia 47 tahun 18 hari
Berat Badan -
Agama Islam
Pav/Kamar Dahlia/305
No. Pendaftaran -
No. Rekam Medik 23-62-XX
Nama Dokter dr. X
Anamnesa Pasien datang dengan keluhan lemas, Vomitus 5x, Nausea
Riwayat Penyakit Dahulu Diabetes Melitus
Riwayat Penyakit Keluarga -
Riwayat Alergi -
Diagnosa Awal Hiperglikemia
Diagnosa Saat Perawatan DM Tipe II + Hiperglikemia
Tanggal Masuk 28 Februari 2019
Tanggal Keluar 6 6 Maret 2019

Tabel 2. Data Subjektif Pasien


Tanggal Data Subjektif Pasien
01/03/2019 Nausea dan Vomitus
02/03/2019 Nausea, pusing, Vomitus 3x, lemas
03/03/2019 Lemas, pusing
04/03/2019 Pusing, Nausea, belum BAB
05/03/2019 Masih pusing
06/03/2019 Sudah membaik

Tabel 3. Data Laboratorium Pasien


Pemeriksaan Satuan Nilai Rujukan Hasil 28/02/19
Hemoglobin g/dL 11,7 – 15,5 11,1
Hematokrit % 35 – 47 34
Leukosit /Ul 3.600 – 11.000 11.900
Trombosit /Ul 150.000 – 440.000 320.000
Diabetes
Glukosa mg/dL <180 322
Fungsi Ginjal
Ureum mg/dL 5 – 50 39
CREAP mg/dL 0,6 – 1,1 0,9
Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal Special Issue January 2020

Tabel 4. Hasil Pemantauan Kadar Gula Darah Harian


Waktu Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
Jam 05:00 385
01 Maret 2019 Jam 11:00 330 mg/dL
Jam 17:00 366
Jam 05:00 244
02 Maret 2019 Jam 11:00 226 mg/dL
Jam 17:00 233
Jam 05:00 -
03 Maret 2019 Jam 11:00 - mg/dL
Jam 17:00 166
Jam 05:00 197
04 Maret 2019 Jam 11:00 240 mg/dL
Jam 17:00 229
Jam 05:00 154
05 Maret 2019 Jam 11:00 309 mg/dL
Jam 17:00 216
Jam 05:00 309
06 Maret 2019 Jam 11:00 216 mg/dL
Jam 17:00 -

Tabel 5. Hasil Pemeriksaan Fisik


Maret 2019
Nilai
Pemeriksaan
Normal 01 02 03 04 05 06
Suhu (°C) 36 - 37,5 36,5 36 36 36 36 36
Tekanan darah 152/78 152/78 156/90 156/93 140/90 144/87 144/87
(mmHg)
Nadi (/menit) 60 - 100 82 93 95 98 103 103

Tabel 6. Penggunaan Terapi Obat

Regimen Lama Pemberian Maret 2019


Nama Obat Rute
(mg) 01 02 03 04 05 06
Paracetamol k/p 1 – 3x 500 Oral -/-/18 6/-/- 6/12/18 6/12/18 6/12/18 6/-/-
Ambroxol 3 x 30 Oral -/-/18 6/12/18 6/12/18 6/12/18 6/12/18 6/12/18
Esilgan 1x1 Oral - - -/-/21 -/-/21 -/-/21 -/-/21
Laxadin 3x1 Oral - - - - 6/12/18 6/-/-
Betahistin 1x1 Oral - - - - -/-/18 6/-/-
Asam mefenamat 3 x 500 Oral - - - - -/-/18 6/12/18
Clindamycin 3 x 300 Oral - - - - -/-/18 6/12/18
Cefotaxime 1x2 IV -/-/17 -/-/21 9/-/21 9/-/21 9/-/21 9/-/21
Ondancentron 3x8 IV -/-/17 5/11/17 5/11/17 5/11/17 5/11/17 5/11/17
Meropenem 2x1 IV - -/-/21 9/-/21 9/-/21 9/-/21 11/-/-
Omeprazole 2x1 IV -/-/17 9/-/21 9/-/21 9/-/21 9/-/21 9/-/21
Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal Special Issue January 2020

Tabel 7. Lembar Edukasi Obat Pulang


No. Nama Obat Regimen (mg) Rute Pemberian
1. Clindamycin 3 x 300 Oral
2. Ibuprofen 2 x 200 Oral
3. Nonflamin 3 x 1 tab Oral

Tabel 8. Assesment dan Planing (Identifikasi, Manajemen dan Planing DRP with
PCNE

Assesment (Identifikasi DRP) Plant/Rekomendasi


Nama Obat
Problem Causes Intervensi
Omeprazole P2.1 Efek samping Penggunaan Menyampaikan atau
dengan obat yang tidak omeprazole menginformasikan MTO
Estazolam diinginkan bersamaan dengan kepada penulis resep
kemungkinan estazolam dapat rekomendasi. Pasien harus
terjadi meningkatkan risiko terlebih dahulu
efek samping memberitahu kepada
termasuk rasa dokter tentang semua obat
kantuk yang yang digunakan termasuk
berlebihan dan vitamin atau herbal dan
kesulitan bernafas adanya tanda-tanda rasa
(drug.com) kantuk yang berlebihan dan
kesulitan bernafas [4].
Cefotaksim C1.5 Duplikasi Penggunaan Menyampaikan atau
dengan yang tidak tepat cefotaksim menginformasikan MTO
Meropenem dari kelompok bersamaan dengan kepada penulis resep
terapeutik atau meropenem dapat rekomendasi. Pasien harus
aktif bahan mengakibatkan terlebih dahulu
risiko duplikasi memberitahu kepada
terapeutik dokter tentang semua obat
(drug.com) yang digunakan yang dapat
mengakibatkan risiko
duplikasi terapeutik [4].

PEMBAHASAN

Kasus yang diambil untuk dikaji adalah kasus pasien Ny. R di ruang
perawatan kelas III Dahlia kamar 305 di RS X. Pasien Ny. R dirawat di rumah
sakit melalui IGD pada tanggal 28 Februari 2019 jam 20:15 pm dengan keluhan
lemas, Nausea, Vomitus sebanyak 2 kali, BAB cair, meriang 3 hari, napas berat,
pusing berputar.
Pada saat masuk IGD dilakukan pemeriksaan umum dengan hasil tekanan
darah 190/119 mmHg dari nilai normalnya 120/80 mmHg, suhu tubuh 37°C, Nadi
10 x/menit RR 24 x/menit. Setelah itu dilakukan pemeriksaan laboratorium
dengan hasil yaitu Hemoglobin 11,1 g/dL (nilai normalnya 11,7-15,5 g/dL),
Hematokrit 34% (nilai normalnya 35-47), Leukosit 11.900/UI (nilai normalnya
3.600-11.000), Trombosit 320.000 (nilai normalnya 150.000-440.000/UI),
Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal Special Issue January 2020

Glukosa 322 mg/dL (nilai normalnya <180 mg/dL), Ureum 39 mg/dL (nilai
normalnya 5 – 50 mg/dL), CREAP 0,9 mg/dL (nilai normalnya 0,6 – 1,1 mg/dL).
Pada ruang perawatan Dahlia pasien diberi pengobatan ambroxol 3x1 tablet
untuk meredakan batuk, paracetamol 1-3x1 tablet untuk antipiretik, esilgan 1x11
mg, betahistin 1x1 tablet jika pusing berputar, asam mefenamat 3x1 tablet
meredakan rasa nyeri, cefotaxime injeksi 1x2 gr sebagai antibiotik, ondancentron
3x8 mg meredakan Nausea dan Vomitus pada pasien, omeprazole 2x1 vial,
laxadin syr 3x1 C dan pada hari kedua perawatan ditambahkan antibiotik
meropenem 2x1 gr.
Pasien menerima terapi obat mulai masuk rumah sakit pada tanggal 28
Februari sampai pasien pulang pada tanggal 06 Maret 2019. Setelah dianalisis dari
terapi obat yang diberikan terdapat masalah terkait Drug-Related Problem (DRP).
DRP yang terjadi yaitu:
1. Omeprazole dengan estazolam: Penggunaan omeprazole bersamaan dengan
estazolam dapat meningkatkan risiko efek samping termasuk rasa kantuk yang
berlebihan dan kesulitan respirasi [4].
2. Cefotaxime dengan meropenem: Penggunaan Cefotaxime bersamaan dengan
meropenem dapat mengakibatkan risiko duplikasi terapeutik [4].

KESIMPULAN

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan pada pasien Ny. R dirawat di ruang


perawatan Dahlia kamar nomor 305 dengan anamnesa awal pasien datang keluhan
lemas, Vomitus 5x dan Nausea. Riwayat penyakit dahulu pasien yaitu Diabetes
Mellitus sedangkan diagnosa saat perawatan DM Tipe II + Hiperglikemia.
Terdapat permasalahan Drug-Relataed Problem (DRP) dari kasus ini yaitu adanya
interaksi obat. Adanya DRP (Drug-Related Problem) diantaranya, omeprazole
dengan estazolam dapat meningkatkan risiko efek samping termasuk rasa kantuk
yang berlebihan dan kesulitan respirasi. Cefotaxime dengan meropenem dapat
mengakibatkan risiko duplikasi terapeutik.

DAFTAR RUJUKAN

1. Handajani A, Roosihermiatie B, Maryani H. Faktor-faktor yang


berhubungan dengan pola kematian pada penyakit degenerative di
Indonesia. Bul Penelit Sist Kesehat. 2010.
2. Dwikayana, IM, Subawa AAN, Sutirta Yasa I. Gambaran HbA1c Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Komplikasi Ulkus Kaki Diabetik Di
poliklinik Penyakit Dalam RSUP Sanglah Denpasar 2014. E-Jurnal Med
udayana. 2016;5(7):1-6.Doi:https://doi.org/10.24933/eu m.v7i11
3. Kemkes RI, Riset Kesehatan Dasar. 2013. Ces/download/general/Hasil
Riskesdes 2013.pdf.
4. Pullen LC. Drug Interaction Checker [internet]. Medscape. 2019 [cited 18
Maret 2019]. Available from:
http://reference.medscape.com/drug/342136?src=medscapeappandroid&re
f=email