Anda di halaman 1dari 8

KELOMPOK 3

Nama : Febrina Azura (2181111029)


Isrin Ramadani (218111013)
Lisa Kiranti (2181111007)
Kelas : Reguler C 2018
Mata Kuliah : Pragmatik

Berikut ini adalah hasil diskusi kelompok mengenai hakikat pragmatik dan hubungan
pragmatik dengan ilmu lain.

A. Hakikat Pragmatik
Secara umum pragmatik berhubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia tulis dan lisan
dalam situasi yang sebenarnya. Dengan ini berarti pemakaian bahasa (Indonesia) itu
memperhatikan konteks yang seutuh-utuhnya atau selengkap-lengkapnya. Terkait dengan
pemakaian bahasa dalam konteks seutuh-utuhnya ini, dapatlah ditelusuri ruang lingkup kajian
pragmatik baik sebagai ilmu maupun sebagai “label” keterampilan berbahasa Indonesia. Samsuri
(Suyono, 1990:12) menjelaskan bahwa “Pragmatik mempelajari: (1) deiksis, (2) implikatur
percakapan, (3) praanggapan, (4) tindak berbahasa (tindak tutur)”. Sedangkan menurut Nababan
(Suyono, 1990:12) “Kajian pragmatik meliputi: (1) variasi bahasa, (2) tindak bahasa (tindak
tutur), (3) implikatur percakapan, dan (4) teori deiksis, (5) peranggapan.”

Di Indonesia konsep pragmatik ini baru diperkenalkan pertama kali dalam kurikulum bidang
studi Bahasa Indonesia (Kurikulum 1984) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Menurut Levinson (Suyono, 1990:12) dalam bukunya yang berjudul Pragmatic
memberikan beberapa batasan tentang pragmatik. Beberapa batasan yang ditemukan Levinson
(Suyono, 1990:12) itu antara lain “Pragmatik ialah kajian hubungan antara bahasa dan konteks
yang mendasari penjelasan pengertian bahasa”. Dengan kata lain untuk memahami pemakaian
bahasa perlu juga memahami pola konteks yang mewadahi pemakaian bahasa tersebut.

Menurut Leech (Wiryotinoyo, 2006:153) “Pragmatik adalah studi makna dalam kaitannya
dengan situasi ujar (SU)”. Oleh karena itu, prasyarat yang diperlukan untuk melakukan analisis
pragmatik atas T (tuturan), termasuk T yang bermuatan Implikatur Percakapan (IP), adalah
situasi ujar meliputi unsur- unsur: (1) penutur (n) dan petutur (t), (2) konteks, (3) tujuan, (4)
tindak tutur atau tindak verbal, (5) tuturan (T) sebagai produk tindak verbal, (6) waktu, dan (7)
tempat.

Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari
penjelasan pengertian bahasa. Di sini, pengertian atau pemahaman bahasa menghunjuk kepada
fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan atau ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan
di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks
pemakaiannya.
Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat dengan
konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu. (Nababan, 1987:2).

Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya


pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa
yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana, 1993: 177).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Pragmatik
adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur
dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis sependapat dengan Wiryotinoyo yang
mengatakan bahwa pragmatik adalah suatu ilmu yang mengkaji makna tuturan atau makna kata-
kata dalam situasi ujar tertentu.

B. Konteks dan Situasi Tutur

Konteks dan situasi tutur merupakan dua konsep yang berdekatan. Kedekatan dua konsep
itu telah menyebabkan tumpang tindihnya analisis. Pada satu pandangan konteks mencakup
situasi. Sememntara itu, pada pandangan lain konteks tercakup di dalam situasi tutur (Rustono,
1999). Oleh karena itu di dalam memahami sebuah tuturan, perlu diketahui konteks dan situasi
tutur yang melatarbelakanginya. Konteks sangat menentukan makna suatu ujaran, apabila
konteks berubah maka berubah pulalah makna suatu ujaran.
Konteks adalah kondisi dimana suatu keadaan terjadi.  Konteks memasukkan semua
situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan
dalam bahasa, situasi teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya.
Konteks merupakan sesuatu yang menjadi sarana penjelas suatu maksud. Sarana itu meliputi dua
macam, yang pertama berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud, dan
yang kedua berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian.

Konteks meliputi semua latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan
disetujui bersama oleh penutur dan lawan tutur, serta yang menunjang interpretasi lawan tutur
terhadap apa yang dimaksud penutur dengan suatu ucapan tertentu.

1. Konteks Fisik
Konteks fisik (physical context) yang meliputi terjadinya pemakaian bahasa
dalam suatu komunikasi, objek yang disajikan dalam peristiwa komunikasi itu dan
tindakan atau perilaku dari para peran-peran dalam peristiwa itu.
2. Konteks Epistemis
Konteks epistemis (epistemic context) atau latar belakang pengetahuan yang
sama-sama diketahui oleh pembicara atau pendengar.
3. Konteks Sosial
Konteks sosial (social context) yaitu relasi sosial dan latar seting yang melengkapi
hubungan antara pembicara (penutur) dengan pendengar.

Situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan. Di dalam komunikasi tidak ada
tuturan tanpa situasi tutur. Maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidetifikasi melalui
situasi tutur yang mendukungnya. Penentuan maksud situasi tutur tanpa mengkalkulasi situasi
tutur merupakan langkah yang memadai. Komponen-komponen situasi tutur menjadi kriteria
penting di dalam menentukan maksud suatu tuturan.

Leech (1983: 13-15) berpendapat bahwa situasi tutur itu mencakupi: penutur dan mitra
tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan
tuturan sebagai produk tindak verbal. Di dalam sebuah tuturan tidak senantiasa merupakan
representasi langsung elemen makna unsur-unsurnya. Pada kenyataannya terjadi bermacam-
macam maksud dapat diekspresi dengan sebuah tuturan, atau sebaliknya, bermacam-macam
tuturan dapat mengungkapkan sebuah maksud. Sehubungan dengan bermacam-macamnya
maksud yang mungkin dikomunikasikan oleh penuturan sebuah tuturan, Leech (dalam Wijana
1996) mengemukakan bahwa situasi tutur mencakup lima komponen, yaitu:

a. Penutur dan lawan tutur yaitu usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat
keakraban, dsb.
b. Konteks tuturan mencakup konteks dalam semua aspek fisik atau seting sosial dari
tuturan yang bersangkutan.
c. Tujuan tuturan yang merupakan bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur
dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu.
d. Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas yakni bahwa tindak tutur merupakan
tindakan juga yang diperankan oleh alat ucap.
e. Tuturan sebagai produk tindak verbal berupa tindak mengekspresikan kata-kata atau
bahasa.
Kelima komponen itu menyusun suatu situasi tutur di dalam peristiwa tutur atau speech
event.

C. Tindak Tutur

Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam
pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi
analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, prinsip kerja sama, dan prinsip
kesantunan.

Tindak tutur memiliki bentuk yang bervariasi untuk menyatakan suatu tujuan. Misalnya
menurut ketentuan hukum yang berlaku di negara ini, “Saya memerintahkan anda untuk
meninggalkan gedung ini segera”. Tuturan tersebut juga dapat dinyatakan dengan tuturan
“Mohon anda meninggalkan tempat ini sekarang juga” atau cukup dengan tuturan “Keluar”.
Ketiga contoh tuturan di atas dapat ditafsirkan sebagai perintah apabila konteksnya sesuai. tindak
tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis dan keberlangsugannya ditentukan oleh
kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tindak tutur lebih
dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. (Chaer, 2004 : 16).
Dari pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah kemampuan
seorang individu melakukan tindak ujaran yang mempunyai maksud tertentu sesuai dengan
situasi tertentu. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa tindak tutur yang lebih ditekankan
ialah arti tindakan dalam tuturannya. Hal ini sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat
komunikasi, yang bertujuan untuk merumuskan maksud dan melahirkan perasaan penutur.

Pembagian tindak tutur berdasarkan maksud penutur ketika berbicara (ilokusi) Searle
membagi dalam lima jenis. Pembagian ini menurut Searle (1980:16) didasarkan atas asumsi
“Berbicara menggunakan suatu bahasa adalah mewujudkan prilaku dalam aturan yang tertentu”.
Kelima tindak tutur tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tindak tutur repesentatif,


Tindak tutur yang berfungsi untuk menetapkan atau menjeslakan sesuatu apa
adanya. Tindak tutur ini, seperti menyatakan, melaporkan, memberitahukan,
menjelaskan, mempertahankan, menolak dan lain-lain.
2. Tindak tutur komisif,
Tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pembicaraan melakukan sesuatu,
seperti berjanji, bernazar, bersumpah, dan ancaman. Komisit terdiri dari 2 tipe, yaitu
promises (menyajikan) dan offers (menawarkan) Tindak menjanjikan, mengutuk dan
bersumpah maksudnya adalah penutur menjajikan mitra tutur untuk melakukan A,
berdasarkan kondisi mitra tutur menunjukkan dia ingin penutur melakukan A.
3. Tindak tutur direkfif,
Tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu,
misalnya menyuruh, perintah, meminta. Direktif mengespresikan sikap penutur terhadap
tindakan yang akan dilakukan oleh mitra tutur, mislnya meminta, memohon, mengajak,
bertanya, memerintah, dan menyarankan.
4. Tindak tutur ekspresif
Tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan perasaan dan sikap. Tindak
tutur ini berupa tindak meminta maaf, berterimakasih, menyampaikan ucapan selamat,
memuji, mengkritik.
5. Tindak tutur deklaratif
Yaitu tindak tutur yang berfungsi untk memantapkan sesuatu yang dinyatakan, atara lain
dengan setuju, tidak setuju, benar-benar salah, dan sebagainya.
D. Hubungan Pragmatik Dengan Ilmu Lain

Pragmatik merupakan salah satu disiplin ilmu yang bersifat multidisipliner. Multidisipliner
diartikan pragmatik tidak hanya sebagai satu disiplin ilmu saja tetapi mencakup berbagai disiplin
ilmu lain.

1) Hubungan Semantik dan Pragmatik


Semantik, Pragmatik dan Sosiolinguistik saling berkaitan satu sama lain. Ketiganya
merupakan subdisiplin dari ilmu Linguistik. Semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang
makna dalam bahasa (Lyons, 1995: 3). Hurfords, et.al. (2007) dalam bukunya Semantic a Course
Book second edition juga mendefinisikan semantik sebagai subdisplin yang mengkaji makna
bahasa. Makna sebuah kata dalam hal ini di refleksikan sebagai pola karakteristik semantik
secara gramatika berdasarkan konteks (Cruse, 1986: 15).
Dengan kata lain, makna tersebut tercermin dan dibentuk dari hubungan kontekstual di
dalamnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa, makna kata dalam semantik menurut cruse dipengaruhi
oleh hubungan kontekstual tanpa pengaruh dari situasi nyata penggunaannya. Hal ini sejalan
dengan pengertian semantik yang diungkapkan oleh Leech (1982: 5) bahwa semantik adalah
ilmu yang mengkaji makna sebagai ciri ungkapan suatu bahasa yang tidak berkaitan dengan
situasi ujar, penutur, dan petutur.
2) Hubungan Makna Bahasa dan Pragmatik

Pragmatik juga merupakan subdisplin Linguistik yang mempelajari tentang makna.


Walaupun sama dalam mengkaji makna bahasa, tetapi makna yang dikaji dalam kajian
pragmatik adalah makna bahasa dan penggunaannya dalam konteks yang nyata atau bagaimana
bahasa itu digunakan dalam keseharian.

Parker (1986) mendefinisikan pragmatik sebagai ilmu yang mengkaji makna bahasa dan
bagaimana bahasa tersebut digunakan dalam komunikasi. Sehingga dalam hal ini, pragmatik
mempelajari makna bahasa dan hubungannya dengan situasi-situasi ujar yang dituturkan oleh
penutur, sedangkan semantik tidak terlalu terkait dengan kajian konteks situasi penggunaan
bahasa dan penutur (Leech, 1983). Dalam pragmatik, terlihat jelas bahwa situasi ujar, penutur
dan petutur menjadi objek kajian yang turut mempengaruhi makna bahasa.
3) Hubungan Sosiolinguistik dan Pragmatik

Sosiolinguistik merupakan subdisiplin linguistik yang berkaitan dengan sosiologi


dalam masyarakat. Kajian sosiolinguistik mencangkup bagaimana suatu bahasa sangat
berhubungan dengan kondisi masyarakat/pengguna bahasa dalam sebuah komunitas tertentu.
Penggunaan bahasa pada suatu komunitas masyarakat dengan komunitas masyarakat lain bisa
berbeda satu sama lain bergantung pada faktor-faktor sosial di dalamnya (Aitchison, 1992).

4) Hubungan Semantik dan Pragmatik

Hubungan antara semantik, pragmatik dan sosiolinguistik bisa ditarik benang lurus
berdasarkan masing-masing definisinya. Semantik dan pragmatik, keduanya merupakan kajian
tentang makna bahasa, hanya saja berbeda objek kajianya. Semantik, kajian makna bahasa sesuai
hubungan kontekstual (makna bahasa satu dengan makna bahasa lainnya tanpa pengaruh dari
situasi ujar, penutur, penutur), dan ketika sudah memasuki ranah pragmatik, makna bahasa
tersebut akan dikaji sesuai dengan situasi ujar dan bagaimana bahasa tersebut digunakan dalam
komunikasi nyata. Pragmatik dan sosiolinguistik, hubungannya sama-sama mempelajari
bagaimana suatu makna bahasa itu dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dalam masyarakat atau
komunitas tertentu.

5) Hubungan Intelegensi Artifisial dan Pragmatik


Intelegensi artifisial dan hubungannya dengan pragmatik. Untuk memahami topik
tersebut, peta konsep dibagi menjadi tiga subtopik, yaitu tujuan intelegensi artifisial, empat
kriteria wajib pemrosesan bahasa intelegensi artifisial, dan implementasi intelegensi artifisial.
Intelegensi artifisial merupakan cabang dalam dunia computer yang membuat agar mesin
computer dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan manusia. Dalam hal
kompter sudah dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit serta dalam perencanaan finansial.
Namun masih terdapat pandangan bahwa karaterisasi intelegensi manusia masih belum dapat
dipahami oleh ilmu kognitif. Dalam pemrosesan bahasa pragmatik sangat berperan penting
dalam kaitannya dengan intelegensi artifisial. Dalam hal ini pragmatik dapat mempengaruhi
perkembangan-perkembangan model-model intelegensi artifisial.
Dalam pemrosesan bahasa, ada empat kriteria yang harus dipenuhi oleh intelegensi
artifisial. Keempat kriteria tersebut berkaitan erat dengan pragmatik. Keempat kriteria tersebut
adalah representasi sintaksis dan representasi semantik, representasi pengetahuan, penalaran,
serta prinsip rasionalitas.

REFERENSI

Chaer, Abdul. 2003. Lingusitik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia

Leech, Geoffrey. 1983. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta: Departemen Pen-
didikan dan Kebudayaan.

Parera, J.D. (1984). Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga.

Rustono. 1999. Pokok- Pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press


Searle, John R. 1969. Speech Act: an Essay in The Philosophy of Language. Cambridge:
Cambridge University Press.

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta : Penerbit Andi