Anda di halaman 1dari 57

CRITICAL BOOK

REPORT

NAMA : LISA KIRANTI

NIM : 2181111007

KELAS : REG A STAMBUK 2018

DOSEN PENGAMPU : DRA. INAYAH HANUM, M.Pd.

MATA KULIAH : PENGANTAR ILMU BAHASA

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

OKTOBER 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan nikmat
kesehatan dan keimanan sehingga critical book report ini dapat diselesaikan dengan sebaik-
baiknya. Critical book report ini disusun atas dasar pemikiran dan pembahasan mendalam.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan semoga critical book report ini dapat
memberikan manfaat untuk pembaca sebagai penambah ilmu dan pengetahuan. Isi critical
book report ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis membutuhkan banyak
saran demi keutuhannya.

Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang telah
memberikan dukungan untuk menyusun critical book report ini sehingga dapat terselesaikan.
Untuk segala kesalahan yang terdapat dalam critical book report ini, baik kesalahan
penulisan, pengulangan kata dan sebagainya, penulis mengucapkan mohon maaf.

Jum’at, November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR

Sering kali kita bingung untuk memilih buku mana yang terbaik agar bisa dibaca dan
dapat mudah dipahami. Terkadang sering sekali kita membaca suatu buku dan di dalam buku
tersebut kita kurang dapat memahami isi buku tersebut karena isinya yang terlalu berbelit-
belit dan membuat kita kurang puas akan hasil buku yang telah kita baca. Misalnya saja dari
segi analisis bahasa, dll. Oleh karena itu, dengan adanya critical book report ini dapat
mempermudah para pembaca dalam memilih referensi yang baik, terkhusus tentang buku
kepemimpinan.

B. Tujuan Penulisan CBR

Dengan adanya CBR ini kita dapat membandingkan buku satu dengan yang lain
antara buku utama dengan buku pembanding.

C. Manfaat CBR

Manfaat dari CBR itu sendiri yaitu untuk memeberikan informasi atau pemahaman
yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku yang
mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan dan mendiskusikan lebih jauh mengenai
masalah yang muncul dalam sebuah buku

D. Identitas Buku yang Direview


a. Identitas buku 1
 Judul : Linguistik Umum
 Edisi : Revisi
 Pengarang : Abdul Chaer
 Penerbit : Rineka Cipta
 Kota terbit : Jakarta
 Tahun terbit : 2017
 ISBN : 978-979-518-587-1
b. Identitas buku 2
 Judul : Asas-Asas Linguistik Umum

1
 Edisi :-
 Pengarang : J. W. M. Verhaar
 Penerbit : Gadjah Mada University Press
 Kota terbit : Yogyakarta
 Tahun terbit : 2016
 ISBN : 979-420-393-9

2
BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

A. RINGKASAN BUKU 1
1. PENDAHULUAN

Secara populer orang sering menyatakan bahwa linguistik adalah ilmu tentang bahasa;
atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya; atau lebih tepat lagi, seperti
dikatakan Martinet (1987:19) telaah mengenai bahasa manusia. Kata linguistik berpadanan
dengan linguistic dalam bahasa Inggris, linguistique dalam bahasa Prancis, dan linguistiek
dalam bahasa Belanda yang diturunkan menjadi kata bahasa Latini lingua yang artinya
bahasa. Dalam bahasa Prancis mempunyai dua istilah yaitu lange dan langange. Lange
berarti suatu bahasa tertentu dan langage berarti bahasa secara umum. Ada istilah lain juga
yang disebut parole (bahasa dalam wujud yang nyata, yang kongkret, yaitu berupa ujaran).
Lange lebih abstrak, sedangkan langage paling abstrak. Orang yang ahli dalam bidang
linguistik disebut linguis. Ilmu linguistik itu sering disebut linguistik umum (general
linguistics). Artinya ilmu ini tidak hanya menkaji sebuah bahasa saja, seperti bahasa Jawa
atau bahasa Arab, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa pada umumnya, bahasa yang
menjadi alat interaksi sosial manusia, yang yang dalam perinstilahan Prancis disebut
langage.

2. LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Ilmu linguistik mengalami tiga tahap yaitu: tahap pertama spekulasi (mengenai sesuatu
dan cara pengambilan kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif). Tahap kedua observasi
dan klasifikasi (para ahli mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan
teliti tanpa membri teori atau kesimpulan apapun). Dan yang terakhir tahap ketiga yaitu
perumusan teori (setiap displin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris
yang dikumpulkan).

Linguistik mendekati bahasa, yang menjadi objek kajiannya. Ciri-ciri hakiki dijabarkan
dalam konsep sebagai berikut:

 Bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihatnya sebagai bunyi.

3
 Bahasa bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suuatu
bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.
 Bahasa adalah suatu sistem, linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan
unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya
mempunyai jaringan hubungan.
 Karena bahasa dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan
sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa
sebagai sesuatu yang dinamis.
 Karena sifatnya empiris, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak
preskriptif

Subsdisiplin lingiustik dikelompokkan menjadi: (a) objek kajiannya adalah bahasa


pada umumnya atau bahasa tertentu, (b) objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu
atau bahasa sepanjang masa, (c) objek kajiannya adalah struktural internal bahasa atau bahasa
itu berkaitan dengan faktor di luar bahasa, (d) tujuan pengkaiannya adalah apakah untuk
keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan, (e) teori atau aliran yang digunakan untuk
menganalisis objeknya.

Analisis lingusitik dilakukan terhada bahasa, atau lebih tepatnya terhadap semua
tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik. Bapak
linguistik modern adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913).

Analisis bawahan langsung (analisis unsur) adalah suatu teknik dalam menganalisis
unsur-unsur kosntituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, satuan kata, satuan
frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat.

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau
ditata dari unsur-unsur lain. Sedangkan, analisis proses menaganggap bahasa adalah
merupakan hasil dari suatu proses pembentukan.

Manfaat Linguistik yaitu:

1. Bagi linguis dapat membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya.


2. Bagi guru, terutama guru bahasa sangat penting, mulai dari subsdisiplin fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, sampai dengan pengetahuan mengenai
hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan.

4
3. Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik diperlukan yang berkenaan dengan
morfologi, sintaksis, semantik, sosiolinguistik, dan kontrastif linguistik.
4. Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak
karena semua pengetahuan linguistik memberi manfaat dalam menyelasaikan
tugasnya.

3. OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

Pengertian bahasa memiliki makna atau pengertian yang membingungkan. Menurut


Ferdinand de Saussure bahasa adalah langue. Bahasa juga menunjuk bahasa pada umumnya
(langage). Kata bahasa berarti sopan santu. Bahasa berarti kebijakan dalam bertindak. Bahasa
adalah maksud-maksud dengan bunga sebagai lambang. Kata bahasa berarti ‘dengan cara’.
Kata bahasa diartikan sebagai ujaran (parole). Kata bersifat hipotesis.

Lange merupakan objek yang abstrak karena berwujud sistem bahasa tertentu secara
keseluruhan. Langage merupakan objek yang paling abstrak karena berwujud sistem bahasa
secara universal. Sedangkan parole berwujud konkret, nyata, yang dapat diamati, atau
diobservasi. Kajian parole dilakukan untuk mendapatkan kaidah-kaidah suatu lange dan dari
kajian ini juga diperoleh langage, kaidah bahasa universal. Menurut Krildalaksana (1983, dan
juga dalam Djoko Kentjono 1982): “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang
digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasikan diri.”

Sifat atau ciri-ciri dari bahasa adalah: (1) bahasa itu adalah sistem, (2) bahasa itu
berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbitrer, (5) bahasa itu
bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu
bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi. (11) bahasa
bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, (13) bahasa itu
merupakan identitas penuturnya.

BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

1. Masyarakat bahasa
Masyarakat sering diartikan sebagai sekolompok orang (dalam jumlah yang
banyaknya relatif), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah, tempat tinggal,

5
atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama. Konsep masyarakat bahasa
dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit. Akbiat lain dari konsep “merasa
menggunakan bhasa yang sama”, maka patokan linguistik umum mengenai bahasa
menjadi longgar. Secara linguistik bahasa indonesia dan bahasa Malaysia adalah
bahasa yang sama, karena kedua bahasa itu banyak sekali persamaannya, sehingga
orang Malaysia dpat mengerti dengan baik akan bahasa Indonesia, dan sebaliknya.
2. Variasi dan Status Sosial Bahasa
Bahasa itu bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam,
dan bahasa itu sendiridigunakan untuk keperluan yang beragam-ragam pula.
Berdasrkan penturnya kita mengenal adanya dialek-dialek, baik dialek regional
maupun dialek sosial. Lalu berdasrkan penggunaannya kita mengenal adanya ragam
bahasa seperti ragam jurnalistik, ragam sastra, ragam ilmiah, dsb. Variasi dibedakan
menjadi dua berdasrkan status pemakainya yaitu variasi bahasa tinggi (T) dan variasi
bahasa rendah (R). Untuk variasi bahasa Yunani T disebut katherevusa dan variasi
bahasa Yunani rendah disebut dhimotiki. T dalam bahasa Arab (al-fusha), R dalam
bahasa Arab (ad-darij), T dalam bahasa Jerman Swiss (schriftsdrache), sedangkan R
dalam bahasa Jerman Swiss (schweizerdeutsch). Contoh kosakata dalam bahasa
Indonesia yaitu uang dan duit.
3. Penggunaan bahasa
Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu komunikasi
dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur, yang diakronimkan
menjadi SPEAKING, yakni (1) setting and scene, (2) participants, (3) ends, (4) act
sequences, (5) key, (6) instrumentalities, (7) norms, dan (8) genres.
4. Kontak bahasa
Hal yang terjadi adanya kontak bahasa adalah terdapatnya bilingualisme dan
multilingualisme dengan berbagai macam kasusnya yaitu interferensi, integrasi,
alihkode, dan campurkode. Orang yang menguasi satu bahasa disebut monolingual,
unilingual, atau monoglot, yang menguasai dua bahasa disebut bilingual, yang
menguasai lebih dari dua bahasa disebut multilingual, plurilingual, poliglot.
5. Bahasa dan budaya
Hipotesis ini dikeluarkan oleh dua orang pakar yaitu Edward Safir dan Benjamin Lee
Whorf (hipotesis Sapir-Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi
kebudayaan atau bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota
masyarakat penuturnya.

6
KLASIFIKASI BAHASA
1. Klasifikasi Genetis (Klasifikasi Keneologis)
Dilakukan beradasrkan garis keturunan bahasa-bahasa itu sendiri yang artinya
suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua.
2. Klasifikasi Tipologis
Dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah
bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang
dalam suatu bahasa. Unsur ini dapat mengenai bunyi, morfem, kata, frase,
kalimat, dsb.
3. Klasifikasi Areal
Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik anatar bahasa yang satu
dngan bahasa yang lain di dalam suat areal atau wilayah, tanpa memperhatikan
apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak.
4. Klasifikasi Sosiolinguistik
Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku
dalam masyarakat; tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan
masyarakat terhadap bahasa itu.

BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Bahasa itu terbagi dua yaitu lisan (primer) dan tulisan (sekunder). Bahasa tulis bisa
menembus waktu dan ruang, padahal bahasa lisan begitu diucapkan sgera hilang tak
berbekas. Bahasa tulis dapat disimpan lama sampai waktu yang tak terbatas. Bahasa tulis
merupakan rekaman bahasa lisan sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasanya atau
untuk bisa disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktuyang
berbeda.bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau
kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman. Bahasa tulis sudah dibuat orang dngan
pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran,
peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar.
Sedangkan bahasa lisan sangat dibantu oleh intonasi, tekanan, mimik dan gerak-gerik si
pembicara. Sedangkan aksara itu sendiri terbagi menjadi aksara piktografis, aksara ideografis,
aksara silabis, dan aksara fonemis.

7
4. TATARAN LINGUISTIK (1): FONOLOGI

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-


bunyi bahasa disebut fonologi. Terdiri dari 2 kata yaitu fon (bunyi) dan logi (ilmu). Menurut
hierarki satuan bunyi yang menjadi objek kajiannya dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.

FONETIK

Fonetik adalah bidang ilmu yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah
bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembedan makna atau tidak. Dibedakan menjadi
tiga jenis yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik dan fonetik auditoris. Fonetik
artikulatoris mempelajari tentang bagaimana mekenisme alat-alat bicara manusia bekerja
menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik
akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam dan diselidiki
frekueni getaran, amplitudo, intensitas, dan timbre. Sedangkan fonetik auditoris mempelajari
bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga tesebut
yang paling berurusan dengan linguistik yaitu artikulatoris. Fonetik lebih berkenaan dengan
bisang fisika, dan auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran. Alat ucap termasuk dalam
fonetik artikulatoris. Misalnya yaitu paru-paru, tenggorokan, pita suara, krikoid, lidah, langit-
langit, gusi, gigi, bibir, rongga mulut. Dalam proses artikulasi terdapat 2 macam yaitu
artikulator aktif dan artikulator pasif. Dalam studi linguistik dikenal beberapa macam tulisan
dan ejaan, diantaranya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan
fonemis, dan sistem aksara tertentu untuk ejaan orotografis. Tulisan fonetik yang dibuat
untuk keperluan studi fonetik berdasarkan huruf-huruf dari Aksara Latin yang ditambahkan
dengan sejumlah tanda diakritik dalam sejumlah modifikasi terdap huruf Latin. Klasifikasi
bunyi terbagi atas klasifikasi vokal, diftong atau vokal rangkap, klasifikasi konsonan
(bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar). Kemudian ada unsur suprasegmental yang
dibedakan pula menjadi tekanan atau stres, nada atau pitch, dan jeda atau persendian. Silabel
sendiri adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran.

FONEMIK

Objek kajian fonemik adalah fonem yakni bunyi bahasa yang dapat berfungsi
membedakan makna kata. Untuk mencari satuan bahasa ialah dengan cara membandingkan
dengan satuan bahasa yang lain. Dalam bahasa Indonesia fonem /i/ mempunyai empat buat

8
alofon. Alofon tersebut mempunyai kemiripan fonetis. Di dalam fonem pun ada klasifikasi,
seperti fonem yang berupa bunyi yang dihasilkan sebagai hasil segementasi terhadap arus
ujaran disebut fonem segmental. Selanjutnya dalam fonem pun ada yang dinamakan khazanah
fonem yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Bahasa Arab mempunyai 3
buah fonem vokal, bahasa Indonesia memiliki 6 buah fonem vokal, dan bahasa Inggris
maupun bahasa Prancis memiliki lebih dari 10 buah fonem vokal. Dalam beberapa kasus
sering dilihat perubahan fonem yang mengubah identitas fonem menjadi fonem yang lain.
Beberapa kasus seperti:

1. Asimilasi dan disimilasi


2. Netralisasi dan arkifonem
3. Umlaut, ablaut, dan harmoni vokal
4. Kontraksi
5. Metatesis dan epentesis

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan
makna kata, sedangkan grafem adalah huruf yang digunakan dari Aksara Latin.

5. TATARAN LINGUISTIK (2): MORFOLOGI

Di atas satuan silabel itu secara kualitas ada satuan lain yang fungsional yang disebut
morfem. Identifikasi morfem ditentukan dengan membandingkan satuan morfem satu dengan
morfem yang lain. Contoh bentuk /kedua/ yang dapat dibandingkan dengan bentuk ketiga,
kelima, dst.

Alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.
Sedangkan morf adalah nama sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya. Dalam morfem
setiap bahasa diklasifikasikan berrdasaran bebrapa kriteria yaitu:

1. Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam
peraturan. Misalnya, pulang. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung
dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam peraturan.

2. Morfem utuh dan korfem terbagi

9
Ada yang perlu diperhatikan yaitu jenis ini yaitu:

(1) Semua afiks disebut konfiks. Misal: {ke-/-an}, {ber-/-an}, {per-/-an}, dan {pe-/-an}
(2) Ada afiks yang disebut infiks. Dimana afiks disisipkan di tengah morfem dasar.
Misal: {-er-}, {-el-}, dan {-em-}.
3. Morfem segmentl dan suprasegemental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental seperti
morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, {ber}. Sedangkan morfem suprasegemental adalah morfem
yang dibentuk oleh unsusr-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dsb.

4. Morfem beralomorf zero

Yaitu salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi
(unsur suprasegmental), melainkan berupa kekosongan

5. Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem leksikal yaitu morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya
sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem yang lain. Sedangkan morfem tidak
bermakna berarti tidak bermakna apa-apa pada dirinya sendiri.

6. Morfem dasar, bentuk dasar, pangkal (stem), dan akar (root)

Merfem dasar biasanya dapat diberi afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi
atau bsa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi. Bentuk dasar biasanya
digunakan untuk menyebut sebuah bentuk dasar dalam suatu proses morfologi. Istilah
pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses
pembubuhan afiks inflektif, infleksi, dan derivasi. Sedangkan akr (root) digunakan untuk
menyebut bentuk yan tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

KATA

Kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf
yang diapit dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Klasifikasi kata dalam linguis
berdasrkan distribusi kata itu seperti struktur dan konstruksi. Ada juga yang menentukan kata
dengan kriteria fungsi sintaksis. Pembentukan kata mempunyai 2 sifat yaitu:

1. Inflektif

10
contoh :

Kata bentuk arti

Presen amo aku mencintai

Imperfekta amabarn aku (dulu sedang) mencintai

2. Derivatif

Ini dapat membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata
dasarnya. Contoh sing ‘menyanyi’.

PROSES MORFEMIS

Proses morfemis yaitu:

1. Afiksasi

Yaitu proses pembubuhan afiks pada sebuah kata dasar. Ini dapat dibagi menjadi:

a. Prefiks (imbuhan di muka bentuk). Misal: me- {menghibur}


b. Infiks (imbuhan di tengah bentuk dasar). Misal: el- {telunjuk}
c. Sufiks (imbuhan di akhir bentuk dasar). Misal: -kan {bagikan}
d. Konfiks (imbuhan yang tebagi dawal dan diakhir). Misal: pee-/-an {pertemuan}
e. Interfiks (infiks penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah
unsur). Misal: tag (unsur 1) dan reise (unsur 2) maka menjadi tag.e.reise
f. Transfiks (afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan kata
dasar. Misal: katab ‘dia laki-laki menulis’

2. Reduplikasi

Yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara
sebagian, maupun dengan perubahan bunyi. Contoh: meja-meja, bermeter-meter, tua renta,
segar bugar, dwilingga, mondar-mandir.

3. Komposisi

11
Yaitu hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang
bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah kontstruksi yang memiliki identitas
leksikal yang berbeda, atau yang baru.

4. Konversi, modifikasi internal, dan suplesi


5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga


menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.
Contok: UK (united kingdom).

6. Produktivitas proses morfemis

Artinya dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan
komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas; artinya, ada
kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses terseut.

MORFOFONEMIK

Disebut juga morfonemik, morfofonologis, atau morfonologi adalah peristiwa


berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses , baik afiksasi, reduplikasi, maupun
komposisi.

Contoh:

Sejarah + wan  sejarawan

Anak + -nda  ananda

Me- + sikat  menyikat

Ber- + ajar belajar

7. TATARAN LINGUSITIK (3): SINTAKSIS

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani yaitu sun yang berarti ‘dengan’ dan tattein yang berarti
‘menempatkan’. Jadi secara etimologi istilah sintaksis yaitu berarti menempatkan bersama-
sama kata-kata menjadi kelompok kata atau asimilasi

Struktur sintaksis terdiri dari istilah subjek yaitu subjek, predikat, objek dan keterangan. Bisa
juga istilah nomina, verba, adjektiva, dan numeralia (kategori sintaksis). Untuk yang terakhir

12
yaitu istilah pelaku, penderita, dan penerima (peran sintaksis). Contoh: nenek melirik kakek
tadi pagi

KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Dalam morfologi kata ada satuan terbesar dan terkecil. Satuan terbesar yaitu frase,
klausa dan kalimat. Satuan terkecil yaitu sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda
kategori sintaksis, da sebagai perangkai dalam penyusunan satuan-satuan atau bagian-bagian
dari satuan sintaksis. Pada bab ini kata disebut satuan gramatikal yang bebas dan terkecil.
Maksudnya tidak dapat disegmentasikan lagi menjadi yang lebih kecil tanpa merusak makna
dan dengan bebas berarti satuan yang disebut kata itu dapat bersendiri di dalam kalimat atau
pertuturan. Contoh kata:

Nenek membaca komik di kamar

Keterangan :

1. Nenek (subjek)
2. Membaca (predikat)
3. Komik (objek)
4. Di kamar (keterangan)

FRASE

Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang ersifat nonpredikatif,
atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam
kalimat.

Jenis frase yaitu:

1. Frase eksosentrik yaitu frase yang komponen-komponennya mempunyai perilaku


sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.
Contoh : dia berdagang di pasar
2. Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki
perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponen
itu dapat menggantikan kedudukan keselurahannya.
Contoh : nenek sedang membaca komik di kamar

13
3. Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdidi dari dua
komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat
dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi,
maupun konjungsi terbagi seperti baik...baik, makin...makin, dan baik...maupun...frase
koordinatif ini mempunyai kategori sesuai dengan kategori komponen pembentuknya.
4. Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk
sesamanya; dan oleh itu urutan komponennya dapat dipertukarkan.

KLAUSA

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkontruksi predikatif.


Artinya di dalam konstruksi terdapat komponen seperti subjek, predikat, objek, dan
keterangan.

Jenis klausa dapat dibagi menjadi:

1. Berdasarkan strukturnya
 Klausa bebas
 Klausa terikat
2. Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya
 Klausa verbal
 Klausa adjektifal
 Kalusa adverbia
 Klausa preposisional

Contoh: ibu dosen itu cantik sekali

KALIMAT

Kalimat merupakan susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap.
Kalimat juga bisa didefenisikan menjadi lafal yang tersusun dari dua buah kata atau lebih
yang mengandung arti, dan disengaja serta berbahasa Arab (Djuha 1989)

Jenis kalimat dibedakan berdasarkan kriteria dan sudut pandang yaitu:

1. Kalimat inti dan kalimat non-inti


2. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk
3. Kalimat mayor dan kalimat minor

14
4. Kalimat verbal dan kalimat non-verbal
5. Kalimat bebas dan kalimat terikat

INTONASI KALIMAT

Salah satu alat sintaksis yang penting dan merupakan ciri utama yang membedakan
kalimat dari sebuah klausa. Apabila intonasi dari sebuah kalimat ditanggalkan maka sisanya
yang tinggal adalah klausa.

 Modus ialah pengungkapan atau penggambaran suasana psikolog perbuatan menurut


tafsiran si pembicara atau sikap si pembicara tentang apa yang diucapkannya.
 Aspek adalah cara memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu
situasi, keadaan, kejadian, atau proses.
 Kala adalah informasi kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan,
kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan dalam predikat.
 Modalitas adalah Keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara
terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan, peristiwa atau keadaan atau
juga sikap terhadap lawan pembicaranya. Ada beberapa modalitas yaitu modalitas
intensional, opistemik, deontik dan dinamik.

Fokus yaitu unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau
pembaca tertuju pada bagian itu.

 Diatesi adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan
perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu. Ada bebarapa diatesis yaitu diatesis
aktif, pasif, refleksif, resiprokaf dan kausatif.

WACANA

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dala hierarki gramatikal
merupakan sataun gramatikal tertinggi atau terbesar.

Alat-alat wacana itu baik jika wacana bersifat kohesif dan koherensif. Alat-alat yang
dugunakan yaitu konjungsi (menghubungkan paragraf dengan paragraf yang lain),
menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anoforis. Elipsis
(penghilangan bagian kalimat-kalimat yang sama yang terdapat di kalimat yang lain.

JENIS WACANA

15
 Berdasarkan sarananya
a. Wacana lisan
b. Wacana tulisan
 Berdasarkan penggunaan bahasa
a. Wacana prosa
b. Wacana puisi
 Berdasarkan penyampaian isi
a. Wacana narasi
b. Wacana ekposisi
c. Wacana persuasi
d. Wacana argumentasi

SUBSATUAN WACANA

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa wacana adalah satuan “ide” atau “pesan” yang
disampaikan akan dapat dipahami pendengar atau pembaca tanpa keraguan, atau tanpa
merasa adanya kekurangan informasi dari ide atau pesan yang tertuang dalam wacana
tersebut.

Contoh : jagalah kebersihan

6. TATARAN LINGUISTIK (4): SEMANTIK

HAKIKAT MAKNA

Menurut Ferdinand de Saussure tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari 2
komponen yaitu signifian “yang mengartikan” dan signifie “yang diartikan” yang wujudnya
berupa penegrtian atau konsep (yang dimiliki oleh signifian). Contohnya: meja. Signifian dari
meja(tanda linguistik) : /m/,/e/,/j/,/a/ . sedangkan signife yaitu : sejenis perabotan rumah
tangga/ kantor.

Menurut Richard & Ogdent :

(b) konsep sejenis peralatan rumah tangga

(c) referan

(a) tanda linguistic

16
JENIS MAKNA

Jenis-jenis makna yaitu:

1. Makna Leksikal, gramatikal dan kontekstual

Leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks
apapun( makna sebenarnya), misal: kuda: binatang berkaki empat. Gramatikal adalah baru
ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi / kalimatisasi,
misal ber+ baju : berarti mengenakan/memakai baju. Dan kontekstual adalah makna sebuah
leksem / kata yang berada didalam satu konteks, juga dapat berkenaan dengan situasi,
tempat,waktu, lingkungan.

2. Makna refernsial dan non referensial

Sebuah kata / leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya/ acuanya.

3. Makna denotatif dan makna konotatif

Makna denotatif : makna asli, makna asal / makna sebenarnya yang memiliki sebuah leksem.
Makna Konotatif : makna lain yang “ ditambahkan “ pada makna denotative.

4. Makna konseptual dan makna asosiatif

Makna Koseptual : makna leksikal, makna denotatif dan makna referensial ( makna yang
sebenarnya). Makna Asosiatif : perkembangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa
untuk menyatakan konsep lain.

5. Makna kata dan makna istilah

Istilah : hanya digunakan pada bidang ke ilmuan / kegiatan tertentu


Makna kata : setiap kata yang memiliki makna.

6. Makna idiom dan peribahasa

Idiom : satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “ diramalkan” dari makna unsur-unsurnya,
baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Peribahasa : makna yang masih dapat
ditelusuri dari makna unsur – unsurnya.

RELASI MAKNA

17
Yaitu hubungan semantic yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan
bahasa lain. Dalam pembicaraan dapat dibicarakan:

a. Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan anatar satu
ujaran dengan ujaran lain.
Misalnya benar = betul
b. Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya
menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras anatara yang satu dengan yang lain.
Misalnya menjual >< membeli.
Dilihat dari sifat hubungannya dibedakan atas beberapa jenis:
 Antonimi yang bersifat mutlak
 Antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi
 Antonimi yang bersifat relasional
 Antonimi yang bersifat hierarkial
c. Polisemi adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Misal : kepala yang mempunyai makna bagian tubuh manusia, ketua / pimpinan,
sesuatu yang disebelah atas, sesuatu yang berbentuk bulat, sesuatu yang sangat
penting.
d. Homonim adalah dua buah kata / satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama
maknanya tentu saja berbeda , karena masing-masing mrupakan kata atau bentuk
ujaran yang berlainan. Contoh : bias; racun ular/sanggu
e. Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya
tercakup dalam makna bentuk ujara yang lain. Contoh : merpati dan burung.
f. Ambiguiti / Ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran
gramatikal yang berbeda, biasanya terdapat pada bahasa tulisan.
g. Redundasi yang diartikan berlebih-lebihannya penggunaan unsur sagmental dalam
suatu bentuk ujaran.
Contoh : bola itu di tentang oleh dika.

PERUBAHAN MAKNA

Dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tak berubah
tetapi dalam waktu yang relative lama ada kemungkinan akan berubah yang hanya terjadi
pada sejumlah kata saja, yang disebabkan :

18
1. perkembangan konsep ke ilmian dan teknologi
2. perkembangan social budaya
3. perkembangan pemakaian kata
4. pertukaran tanggapan indra
5. adanya asosiasi ( hubungan antara sebuah bentuk ucapan)

MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Pengelompokan kata berdasarkan cirri semantic yang dimiliki kata – kata itu
Analisis komponen : usaha untuk menganalisis kata / leksem atas unsur – unsur yang
dimiliki.

1. Medan makna (semantic domain, semantic field) yaitu seperangkat unsure leksikal
yang maknnya saling berhubungan kerena menggambarkan bagian dari bidang
kebudayaan/ realitas dalam alam semesta tertentu.
2. Komponen makna artinya makna yang dimiliki setiap kata yang terdiri dari sejumlah
komponen yang dapat di analisis, dibutiri / disebutkan satu –satu. Komponen makna
ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk – bentuk yang
bersinonim
Untuk membuat prediksi makna – makna gramatikal afiksasi, reduplikasi dan
komposisi dalam bahasa Indonesia
3. Kesesuaian semantic dan sintatik disebutkan diterima tidaknya kalimat bukan hanya
masalah gramatikal tetapi juga masalah semantik.

7. SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik tlah mengalami 3 tahap yaitu:

1. Tahap spekulasi
2. Tahap observasi
3. Tahap perumusan teori

LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural.


Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan

19
tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa
tertentu.

a. Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa pada zaman Yunani yaitu lebih kurang abad ke-5 SM, sampai lebih kurang
abad ke-2 M. Masalah pokok kebahasaan pada waktu itu adalah (1) Pertentangan antara fisis
dan nomos (2) Pertentangan antara analogi dan anomali.Para filsuf Yunani mempertanyakan
apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau bersifat konvensi (nomos). Bersifat alami atau
fisis mempunyai hubungan asal-usul,sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak mungkin
diubah,sedangkan sedangkan konvensi mempunyai makna-makna kata itu diperoleh dari
hasil-hasil tradisi,dan kemungkinan bisa diubah.Pertentangan analogi dan anomali adalah
menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Zaman ini pun
terdapat kaum ini Kaum Sophis, Plato, Aristoteles, Kaum Stolk, Kaum Alexandrian.

b. Zaman Romawi

Studi pada Zaman Romawi dapat dianggap sebagai kelanjutan dari Zaman Yunani.
Tokoh yang terkenal antara lain; Varro dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia
dengan karyanya Institutiones Gramaticae.

c. Zaman Pertengahan

Zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf
skolastik, dan bahasa Latin menjadi lingua franca, karena dipakai sebagai bahasa gereja,
bahasa diplomasi, dan bahasa ilmu pengetahuan. Dan yang dibicarakan adalah peranan Kaum
Modistae, Tata Bahasa Spekulativa, Dan Petrus Hispanus.

d. Zaman Renaisans

Dalam studi bahasa ada dua hal yang menonjol,yaitu:

1. Sarjana-sarjana waku itu juga menguasai bahasa Yunani,Ibrani dan Arab


2. Menguasai pembahasan, penyusun tata bahasa, dan juga perbandingan.
e. Menjelang Lahirnya Linguistic Modern

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai bapak linguistik modern. Tonggak yang sangat
penting dinyatakan adanya hubungan kekerabatan antara bahasa sansekerta dengan bahasa-

20
bahasa Yunani,latin,dll. Konsep tata bahasa tradisional tidak sama dengan konsep linguistik
modern.

LINGUISTIK STRUKTURALIS

Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat
khas yang dimiliki bahasa itu.

1. Ferdinand de Saussure

Pandangan-pandangan yang dimuat dalam buku Course de Linguistic Generale.


Pandangan tersebut mengenai:

 Telaah sinkronik dan diakronik


 Perbedaan langue dan parole
 Perbedaan significant dan signifie
 Hubungan sintagmatik dan paradigmatik
2. Aliran Praha

Aliran ini dibentuk pada tahun 1926, atas prakarsa seorang tokohnya, yaitu Vilem
Mathesius (1882-1945). Dalam bidang fonologi aliran praha membedakan dengan tegas akan
fonetik dan fonologi.Fonetik mempelajari hubungan-hubungan itu sendiri, sedangkan
fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Dalam bidang fonologi
dikenalkan suatu istilah yang disebut morfonologi yang meneliti struktur fonologis mofem.
Jadi secara singkat aliran praha ini fonologi dan sintakis.

3. Aliran Glosematik

Aliran Glosemtik lahir di Denmark, tokohnya antara lain,Louis Hjemselv. Menurut


Hjemselv teori bahasa harusnya bersifat sembarang saja, artinya harus merupakan suatu
sistem deduktif semata-mata dan juga menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan
dan mengenai adanya hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.

4. Aliran Firthian

Nama John R.Firth sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi.


Yang dikenal juga dengan nama Aliran Prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk

21
menentukan arti pada tataran fonetis. Firth juga terkenal dengan pandanganya mengenai
bahasa, yaitu telaah bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis.

5. Linguistik Sistemik

Tokohnya adalah M.A.K.Halliday. Pokok-pokok pandangan linguistik sistemik adalah:

 SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyaraktan bahasa


 SL memandang bahasa sebagai pelaksana
 SL lebih mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya
 SL mengenal adanya gradasi dan kontinum
 SL memberikan tiga tataran utama bahasa
6. Leonard Bloomfield dan strukturalis Amerika

Nama Leonard Bloomfield sangat terkenal dengan bukunya Language yang selalu
dikaitkan dengan aliran struktural Amerika.Ada beberapa faktor berkembangnya aliran
ini,antara lain: banyak sekali bahasa Indian di Amerika, dan sikap Bloomfield yang menolak
mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu.Ketiga,diantara
linguis-linguis itu ada hubungan baik.

7. Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L.Pike, seorang tokoh dari Summer Institue of
Linguistics. Menurut aliran ini satuan dari sintagsis adalah tagmem. Tagmem adalah korelasi
antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling
dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

LINGUISTIK TRANSFORMASIONALDAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

Linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis,melainkan merupakan kegiatan yang


dinamis, berkembang sesuai dengan filsafat ilmu itu. Linguistik struktural lahir, kemudian
orang pun merasa bahwa model struktural juga banyak kelemahanya, sehingga lahirlah aliran
yang agak berbeda. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional yang
mempunyai pendekatan dan cara yang berbeda dengan linguistik struktural.

a. Tata Bahasa Transformasi

22
Tata bahasa informasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul
Syntactic Sructure pada tahun 1957 dan bukunya yang kedua yang berjudul Aspect of the
Theory of Syntax pada tahun 1965. Menurut Chomsky salah satu tujuan dari penelitian
bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Tata bahasa itu harus
memenuhi dua syarat, yaitu:

1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai
bahasa tersebut.
2. Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa,sehingga satuan atau istilah
yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja.

Tata bahasa dari setiap bahasa terdiri dari tiga komponen antara lain komponen sintaksis,
komponen semantik, dan komponen fonologis.

b. Semantik Generatif

Kaum semantik generatif adalah mereka yang memisahkan diri karena ketidakpuasan dari
teori guru mereka,Chomsky.Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan strukrur
sintaksis bersifat homogen dan untuk menggabungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan
kaidah transformasi saja.

c. Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus pertama kali di perkenalkan oleh Charles J.fillmore dalam karangan
berjudul ”The Case for Case“ dalam karanganya Fillmore membagi kalimat atas modalitas
dan proposisi.

d. Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan yang paling
mendasar dari teori sintaksis.Tokoh-tokoh aliran ini, antara lain; David M.Perlmutter dan
Paul M. Postal. Menurut tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan
relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entity) yaitu:

a. Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen didalam suatu


struktur.
b. Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan relasi gramatikal yang
disandang oleh elemen-elemen itu

23
c. Seperangkat (coordinates) yang dipakai untuk menunjukan pada tataran yang
manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen
yang lain.

TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini bagaimana studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang
lengkap,meskipun studi linguistik telah berlangsung lama di Indonesia. Pada awalnya
penelitian di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainya,dengan tujuan
untuk kepentingan pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial sangat membutuhkan informasi
tentang bahasa-bahasa pribumi untuk melancarkan jalanya pemerintah kolonial di Indonesia.
Banyak sarjana yang dikirim untuk melakukan penelitian di seluruh nusantara,seperti Van der
Tuuk, Brandstetter, Dempwolf,dan Kem. yang telah merumuskan sejumlah teori mengenai
sistem bahasa nusantara.Hasil dari penelitian mereka dapat diketahui dari buku-buku yang
mereka terbitkan.Tampaknya cara pendeskripsian terhadap bahasa-bahasa daerah di
Indonesia seperti yang dilakukan para peneliti terdahulu masih berlanjut terus pada tahun
tujuh puluh dan delapan puluhan. Konsep linguistik modern baru tiba di Indonesia pada akhir
sekali pada tahun lima puluhan. Pendidikan formal linguistic di fakultas sastra dan lembaga-
lembaga pendidikan guru sampai akhir lima puluhan masih terpaku pada konep-konsep tata
bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif. Konsep-konsep linguistik tradisional yang
sudah mendarah daging tidak begitu saja dapat di atasi oleh konsep-konsep linguistik
modern.Konsep linguistik modern melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima oleh para
guru bahasa dan pakar bahasa di Indonesia.Perkembangan waktu jualah yang menyebabkan
konsep-konsep modern dapat diterima.Awal tahun tujuh puluhan dengan terbitnya buku Tata
Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, yang isinya bayak menyodorkan kekurangan-
kekurangan tata bahasa tradisional,dan menyajikan kelebihan-kelebihan analisis bahasa
secara struktural,sehingga perubahan sikap terhadap linguistik modern banyak terjadi.

Dengan makin maraknya perkembangan studi linguistik, tentu saja banyak linguis-
linguis Indonesia bermunculan, baik yang tamatan luar negeri maupun dalam negeri.
Maka pada tanggal 15 November 1975, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama
Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Sejak 1983 MLI menerbitkan sebuah jurnal yang
diberi nama Linguistik Indonesia.Jurnal ini dimksudkan sebagai wadah bagi para anggota
MLI untuk melaporkan atau mempublikasikan hasil penelitianya.

B. RINGKASAN BUKU 2

24
A. BAGIAN I: PENGANTAR
1. Apakah Linguistik Itu?

“Linguistik” berarti ilmu bahasa. Kata linguistic berasal dari bahasa latin lingua
`bahasa`. Dalam bahasa latin masih ada kata-kata yang serupa dengan lingua latin itu, yaitu
langue dan langage dalam bahasa prancis dan lingua dalam bahasa Itali.

Ilmu linguistic sering disebut “linguistic umum”. Artinya dalam linguistic tidak hanya
menyelidiki salah satu bahasa saja, tetapi linguistic itu menyangkut bahasa pada umumnya.

 Linguistik sebagai ilmu pengetahuan spesifik


Ahli limguistik berurusan dengan bahasa sebagai bahasa. Itulah “objek” nya. Jadiah
lilinguistik tidak berurusan dengan bahasa sebagai alat pengungkapan feksu atau
emosi, atau bahasa sebagai sifat khas golongan social, atau bahasa sebagai alat
prosedur pengadilan.
 Linguistik sebagai ilmu empiris
Ilmu ilmu seperti psikologi, ,sosiologi, antropologi, dan lain sebaginya yang disebut
ilmu empiris. Artinya ,ilmu-ilmu tersebut berdasarkan fakta dan data yang dapat
dipuji oleh ahli tertentu dan juga oleh semua ahli lainnya.

Untuk objek linguistic adalah bahasa. Akan tetapi pengertian istilah bahasa itu belum
jelas

2. Beberapa Cabang Ilmu Linguistik


 Bidang-bidang linguistik
Bidang-bidang yaitu seperti linguistic antrpologi, linguistic sosiologis.
 Fonetik dan fonologi
Fonetik meneliti bunyi bahasa menurut cara pelafalannya dan menurut sifat-sifat
akustiknya. Ilmu fonologi meneliti bunyi bahasa tertentu menurut fungsinya.
 Morfologi
Ilmu morfologi menyangkut structur “internal” kata.
 Sintaksis

25
Sintaksis adalah cabang linguistik yang menyangkut susunan kata-kata di dalam
kalimat.
 Kaitan antara tata bahasa, fonologi, dan fonetik
Morfologi dan sintaksis tentunya saling berhubungan erat.
 Leksikologi
Cabang linguistik yang berurusan dengan leksikon itu disebut leksikologi.
 Semantik
Semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna.
 Pragmatic
Pragmatic adalah cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk
struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar.
 Linguistik sinkronik dan linguistic diakronik
Linguistik sinkronik adalah persiapan untuk mengadakan penelitian tentang bahasa
Indonesia dan bahasa lainnya yang belumpunah.
 Linguistik teoritis dan lingusitik terapan
Banyak ilmu biasanya dibedakan menurut aspek teorotisnta dan manfaat secara
praktis.

B. BAGIAN II: FONETIK


1. Fonetik: Pengantar

Fonetik adalah cabang ilmu linguistik yang meneliti dasar “fisik” bunyi-bunyi bahasa.
Menurut jenis yang pertama fonetik disebut “fonetik organic” atau fonetik artukulatoris.
Menurut jenis yang kedua fonetik disebut fonetik akustik

 Fonetik artikulatoris meneliti alat-alat organic manakah yang kita pakai untuk
menghasilkan bunyi bahasa.
 Fonetikakustik menyelidiki bunyi menurut sifat-sifatnya sebagai getaran udara. Ada
tiga hal yang perlu di bahas disini yaitu frekuensi dan titi nada, amplitude, dan
resonasi
2. Fonetik Artikulatoris

Fonetik artikulatoris membahas bunyi-bunyi bahasa menurut cara dihasilkannya dengan


alat-alat bicara.

26
 Alat-alat bicara ; beberapa istilah
Bila istilah-istilah ini dipakai dalam bentuk ajektival, maka biasanya kita pinjam
ajektiva itu dari kata Latinnya yang acap kali kita temukan dalam istilah inggris.
 Cara bekerja alat-alat bicara
Bila kita menuturkan sesuatu, udara di pompakan dari paru-paru keluar dengan harus
melalui sesuatu penyempitan tertentu, sehingga udara yang keluar itu melalui
bergetar. Dari sudut pandanga akustik, bunyi tidak lain adalah udara yang bergetar.
Bila tidak ada penyempitan seperti itu, tidak ada bunyi bahasa sama sekali, dan kita
hanya bernafas secara normal saja.
 Konsonan dan vocal
Ada dua kelas buni bahasa, konsonan dan vocal. Konsonan adalah bunyi yang
dihasilkan dengan mempergunakan arti kulasi pada salah satu bagian alat-alat bicara.
Vokal adalah bunyi bhasa yang dihasilkan dengan melibatkan pta-pta suara tanpa
penyempitan atau penutupan apapun pada tempat pengartipulasian manapun.
 Beberapa jenis konsonan

- Konsonan letupan - Konsonan getaran


- Konsonan kontinuan - Konsonan aliran
- Konsonan sengal - Konsonan kembar atau jeminat
- Konsonan sampingan Bebarapa jenis vocal
- Konsonan geseran atau frikatif
- Konsoana paduan atau afrikat

 Beberapa jenis vokal

- Vocal tinggi, vocal rendah, dan - Vocal panjang dan vocal pendek
vocal tengah - Vocal nasal atau vocal sengawan
- Vocal depan, vocal belakang dan dan vocal oral
vocal madya - Vocal tunggal dan vocal rangkap
- Vocal bundar dan vocal tak bundar dua ataun diftong

Semi vocal adalah bunyi bahasa diantara konsosnan dan vocal hanya dua (y) dan
(wb)

3. Fonetik: Pengaruh Bunyi; Bunyi Suprasegmental; Struktur Silabe

27
Asimilasi fonetis adalah bunyi-bunyi bahasa berurutan menurut yang mendahuluinya dan
yang menyusul tidak mengheranlan bila kita temukan bahwa bunyi bunyi itu saliung
mempengaruhi. Sebagai pengantar, simaklah contoh yang berikut ini : dalam kata inggris
stop, [t] nya berupa laminal, tidak apical.

- Kehomorganan
- Kehomorganan penuh
Seperti contoh diatas, dengan perbedaan bersuara/tak bersuara anatara (t) dan (d)
- Kehomorganan sebagian
Bandingkan (m) dan (b) artikulasinya sama (bilabial).
 Bunyi suprasegmental
Diantara bunyio bahasa ada juga yang tidak langsung berkaitan dengan bunyi yang
berurutan segemen melainkan menemani bunyi segmental itu sebagai bunyi yang
seakan akan ditempatkan diatasnya dan karena itu disebut bunyi suprasegmental.
 Intonasi
Ada intonasi khusus untuk kalimat deklaratif dan kalimat introgatif dalam banyakl
bahasa. Intonasi dapat juga bisebabkan oleh unsur-unsur lain yang tidak
berhububngan dengan jenis kalimat yang membawahi seperti halnya dengan intonasi
yang m,enunjukkan rasa sedih atau rasa gembira dan lain sebagainya.
 Apa itu silabe?
Setelah membahas bunyi segmental dan bunyi suprasegmental dalam fonetik masih
tinggal duab pokok yang penting struktur suku kata atau silabe dan sekedar penjelasan
tentang fonetik akustik. Suku kata atau silabe adalah satuan ritmis terkecik dari hasil
buynyi-bunyi bahasa dalam arus udara.
 Puncak silabis
Puncak silabis adalah apa yang disebut bunyi silabis, yaitu bunyi yang paling cocok
untuk menjadi puncak kenyaringan di dalam silabe.
 Batas silabe (dan batas kata)
Bentuk silabe mengikuti kaiodah-kaidah tertentu yang otonom terhadap batas
morfemis malahan terhadap batas kata dalam bahasa-bahasa tertentu.

C. BAGIAN III: FONOLOGI


1. Fonologi Dasar-Dasar
 Identitas fonem sebagai identitas pembeda

28
Dasar bukti identitas fonem adalah apa yang dapat kita sebut fungsi pembeda sebagai
sifat khas fonem itu.
 Beban fungsional
Dalam fonologi sering pula dibicarakan tentang beban fungsional dari oposisi fonemis
tertentu. Katakana bahwa beban fungsional dari oposisi k : g dalam bahasa inggris
adalah tinggi.
 Altrenasi alofonemis
Altrenasi alofonemis tidak terjadi semena-mena saja. Melainkan menurut kaidah
tertentu yang agak berbeda dalam bahasa tertentu dibandiung dengan bahasa tertentu
yang lain.
 Penafsiran ekafonem dan penafsiran dewifonem
Siran dewi fonem kaidah-kaidah baku untuk pembagian kata tidak penuh pada akhiur
baris seharusnya menuntut pemenggalan menyala: akan tetapi dengan penafsiran
ekafonem (yang dulu diterima oleh para ahli tersebut) terpaksa harus kita bagikan
sebagai menyalap.

 Pengkhazanan fonem
Dalam penelitian bahasa tertentu, para ahli fonologi mendaftarkan semua fonem di
dalam bhasa itu. Keseluruhan fonem-fonem itu disebut “khazanah” atau
perbendaharaan fonem-fonem itu. (yang dimaksud lazimnya adalah fonem-fonem
segmental)

2. Fonologi:Perubahaan Fonemis; Fonem-Fonem Suprasegmental


 Asimilasi fenomis
Asimilasi yang mengubah fonem tertentu menjadi fonem tertentu yang lain disebut
“asimilasi fonemis”.
 Modifikasi vocal:umlaut
Modifikasi vocal yang fonemis, artinya modifikasi yang menyebabkan fonem vocal
tertentu berubah menjadi fonem vocal yang lain, ada yang bermacam-macam.
 Modifikasi vocal :ablaut
Modifikasi vocal “ablaut” (atau “apofoni”, atau “gradasi vocal”) adalah perubahan
vocal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa german. Contohnya adalah

29
pemarkahan kala dalam bahasa inggris: sing ‘bernyanyi’ sang, sung, atau dalam
bahasa belanda duiken ‘terjun’, dook, gedoken.
 Modifikasi vocal :harmoni vocal
Modifikasi jenis lain adalah apa yang disebut “harmoni vocal” atau “keselarasan
vocal”. Harmoni vocal adalah perubahan vocal dibawah ini pengaruh vocal yang lain,
sedemikian rupa sehingga vocal dalam setiap silabe (dalam kata yang sama) secara
fenomis berubah menjadi vocal yang lain.
 Netralisasi dan arkifonem
Fungsi fonem adalah membedakan makna suatu fungsi yang nampak dalam pasangan
minimal. Sementara ahli fonologi suka merumuskannya begini (untuk contoh Belanda
hard : hart tadi) ada “arkifonem” yang “anggota-anggotanya” adalah fonem /t/ dan
fonem/d/. Bentuk “asli” arkifonem itu (dalam kata hard) adalah arkifonem /D/
(arkifonem lajim dilambangkan dengan huruf besar) dengan fonem /t/ dan fonem /d/
sebagai “anggota-anggotanya”. Maka, plambangan fonologis dari nhard adalah /ha’D/
dan dari hart menjadi /hart t/.
 Hilangnya fonem dan kontraksi
Berpendekan seperti itu yang dinamakan “hilangnya bunyi” atau “hilangnya fonem”
(satu atau lebih) ada yang berupa “kontraksi”. Contohnya shall not menjadi shan
‘t,atau will not menjadi won’t. dalam kontraksi, kependekan menjadi suatu segmen
dengan pelafalannya sendiri-sendiri ; misalnya shall not menjadi shan’t, mengubah
/ae/ dari shall menjadi /a/ dalam shan’t.
 Disimilasi
Seperti halnya asimilasi menyebabkan dua fonem yang berbeda, maka apa yang
disebut “disimilasi” menyebabkan dua fonem yang sama (berdekatan atau tidak)
menjadi fonem yang lain.
 Metatesis
Dalam proses “metatesis” yang diubah adalah urutan fonem fonem tertentu. Biasanya
bentuk asli dan bentuk yang mengalami metatesis itu terdapat bersama-sama,
sehingga ada variasi bebas.
 Fonem-fonem suprasegmental:pengantar
Bunyi-bunyi suprasegmental tersebut meliputi intosi, titi nada atau nada, aksen, dan
tekanan. Sebenarnya, uraian fonetis tentang bunyi-bunyi suprasegmental hanya

30
merupakan dasar saja untuik uraaian fonemis. Namun dalam banyak hal segi fonetis
dan fonemis tidak mudah dibedakan.
 Perubahan fonem-fonem suprasegmental
Dalam bahasa nada tertentu, nada pembeda leksikal tertentu pada akhir kata dapat
menjadi sumber asimilasi secara progresif untuk nada silabe pertama kata yang
berikutnya, atau secara regresif dapat dipengaruhi oleh nada silabe pertama kata yang
berikut itu.
D. BAB IV: MORFOLOGI
1. Morfologi Dasar-Dasar

Cabang yang namanya “morfologi” mengidentoifikasikan satuan-satuan bahasa sebagai


satuan gramatikal.

 Morfem bebas dan terikat ; proses-proses mofemis


Apa “kata” itu? Kata adalah satuan atau bentuk “bebas” dalam turuanan. Bentuk
“bebas” secara morfemis adalah bentuk yang dapat berdiri sendiri, artinya tidak
membutuhkan bentuk yang lain yang digabungkan dengannya, dan dapat dipisahkan
dari bentuk-bentuk “bebas” lainnya di depannya dan dibelakngnya, dalam tuturan.
 Morfem dasar dan tiga jenisnya
Morfem yang dileburi morfem yang lain kita sebut “morfem dasar”, dan yang
dileburkan itu berupa “imbuhan” atau “klitika” atau bentuk dasar yang lain (dalam
pemajemukan) atau yang sama (dalam redukplikasi). Morfem dasar ada tiga macam :
“pangkal” , “akar” , dan “pradasar”. Dasar dan akar dibedakan secara umum dalam
linguistik, dan pradasar ditambahkan dalam buku ini.

Morfem dapat terbagi menjadi:

- Morfem utuh dan morfem terbagi


- Morfem segmental dan non segmental
- Morfem nol

 Alternasi alomoriemis
Kaidah-kaidah yang berlaku untuk alternasi alomorfemis ada dua jenisnya : pertama
adalah kaidah morfofonemis yang berupa fonemis dan kedua adalah kaidah
alomorfemis yang tidak berupa fonemis.

31
- Kaidah morfofonemis yang berupa fonemis
Istilah “morfofonemis” disini sudah menunjukkan bahwa kaidah tersebut
menyesuaikan bentuk alomorf-alomorf yang bersangkutan secara founemis.
- Kaidah alomorfemis yang tidak berupa fonemis
Kaidah alomorfemis yang lain adalah kaidah yang tidak mendasarkan diri atas
bentuk fonemis. Yang dipersoalkan disini adalah morfem-morfem “tak teratur”
 Morfem, morf dan alomorf
Dalam analisis struktur-struktur morfemis, apa yang diapit diantara kurung kurawal
itu disebut (lambang) “morfem”. Almorf-almorf nya adalah jauh lebih konkret,
meskipun tidak mutlak perlu berupa segmental. Akan tetapi demi perian yang mudah
sering kita membutuhkan suatu bentuk yang kelihatannya cukup konkret. Bentuk
konkret yang demikian disebut “morf”

2. Morfologi: Proses Morfemis Segmental:Afikasi Dan Klitisisasi


- Prefiks, yang diimbvuhkan disebelah kiri dasar dalam proses yang disebut
“prefiksasi”
- Sufiks, yang diimbuhkan disebelah kanan dasar dalam proses yang disebut
“sufikasi”.
- Infiks, yang diimbuhkan dengan penyisioan di dalam dasar itu, dalam proses yang
namanya “infikasi”
- Konfiks atau symbol fiks atau anbifiks atau surkunfiks yang diimbuhkan untuk
sebagian kiri dasar dan untuk sebagaian di sebelah kanannya, dalam proses yang
dinamaain konfiksasi atau symbol fiksasi atau anbiksasi atau sirkumfiksasi
- Fleksi yaitu afiksasi yang membentukkan alternan-alternan dari bentuk yang tetap
merupakan kata, atau unsur fleksikal yang sama
- Darifasi yaitu afiksasi yang yang menurnkan kata atau unsur leksikal yang lain
dari kata atau unsur leksikal tertentu

3. Morfologi:Berbagai Jenis Fleksi

Fleksi, atau morfologi atau invleksional, adalah proses morvenis yang diterapkan pada
kata sebagai unsur fleksikal yang sama, sedankan rivasi, atau morfologi derifasional adalah

32
adalah proses morfenis yang mengubah kata sebagai unsur leksikal tertentu menjadi unsur
leksikal yang lain.

 Bahasa permakah induk dan bahasa permakah bawaan


Bahasa yang berfeksi dapat dibedakan menjadi 3 jenis bahasa permakah induk, bahasa
permakah bawahaan, dan bahasa permaka rangkap. Dalam bahasa permakah hidup,
maka hanya induk itu sajalah yang dimarkahi secara morfemis, dan bawahaan tidak:
dalam bahasa permakahan bawahaan, hanya bawahaan sajalah yang dimarkahai dan
induknya tidak; akhirnya, dalam bahsasa permakah rangkap baik induk maupun
bawahaan dimarkahin.
 Paradikma morfologis dan paradikma periprastis
Setiap bahasa memiliki siasat unruk memebentukkan paradigm istilah paradigm
disisni dipakai dalam arti luas. Paradigm adalah sama dengan paradigm Indonesia
ada, tidak ada.
 Afiksasi berkonjungsi :pengantar
Dengan istilah konjungsi kita masukan paradigm verba sedangkan paradigm nominal
disebut deklinasi.
 Afiksasi verbal :kala
Kala menyangkut waktu atau saat adanya atau terjadinya atau dilakukannya apa yang
diartikan oleh verba
 Alfiksasi verbal :modus
Modis adalah pengungkapan sikap penutur terhadap apa yang dituturkannya.
 Afiksasi verbal :diathesis
Diathesis adalah bentuk verba transitif yang subjeknya sedemikian rupa sehingga
dapat atau tidak dapat berperan ajentif.
 Afiksasi verbal:persona,jumlah,dan jenis
Banyak bahasa memarkahi verba untuk persona, jumlah, dan jenis, sesuai dengan
subjek,objel, atau frasa nominal yang lain dalam kaliamat dan tidak jarang untuk lebih
dari satu frasa nominal itu.
 Afiksasi berdiklinasi :pengantar
Afiksasi paradigmatic tipe deklinasi adalah afiksasi menurut kasus, jumlah, dan jenis
dan diterapkan pada kelas-kelas kata yang “nominal’ , yaitu “nomina”, “ajektiva”,
“pronominal”, dan berbagai bentuk nonfinit dari verba seprti, misalnya, partisipia.
 Deklinasi pengakfiksi kasus
33
Contoh sedrhana dari kasus kita dapati dalam bhasa inggris. Dalam bahasa ini,
nomina membedakan kasus “jenetif” , yaitu kasus untuk pemilik , dari bentuk tidak
berkasus, dan proniomina ( kecuali it dan you ) membedakan kasus “nominative”
(kasus fungsi subjek ) dari kasus “akusatif”, yaitu kasus sebagai objek atau sesudah
preposis. Periksa (17)
 Deklinasi pengakfiks:jumlah
Konsep jumlah meliputi tunggal dan jamak dalam banyak bahasa, dan diantaranya ada
banyak yang membentukkan jamak dengan pengakfiksan.
 Deklinasi pengakfiks:jenis
Jenis berfungsi banyak bahasa, sebagai maskulin dan feminim dan dalam bahasa
tertentu juga sebagai netrum
4. Morfologi: Derifasi, Reduplikasi, Dan Komposisi

- Fleksi adalah bahan morfenis denganm mempertahankan identitas fleksikel dari kata
yang bersangkutan dan derifiasi adalah perubahan morfenis yang menghasilakan kata
dengan identitas morfenis yang lain
- Defiasi dalam bahasa Indonesia: verba dan menomena tindakan/penindak
Maksud pembahasan berikut ialah untuk memberi anda pengertian yang agak
mendalam tentang berlakunya kaidah-kaidah derifasi dalam berbagai bahasa
- Derifasi dalam bahasa Indonesia;sekedar contoh lain
Bahasa ini mempunyai banyak tipe derifasi yang lain lagi, berikut ini kita
batasi diri hanya pada beberapa tipe saja. Tipe yang pertama adalah tipe yang
menghasilkan nomina yang maknanya adalah pengergenalisasi. Tipe yang kedua
adalah tipe verba yang daoat disebut adversative yaitu ke-an yang mengandung
makna sesuatu yang merugikan. Yang ketiga tipe verba yang berfiks ke-an yang lain
adalah pasif juga tetapi tidsk secara adversative
- Alternasi alomorfemis dalam derivasi
Alternasi alomorudah secara umum sudah dipaparkan dalam bab 8 tetapi
sebagian besar contoh di situ menynagkut perubahan paragdimatis.
- Derivasi secara nonsegmental
Derivasi dapat memanfaatkan proses morfemis yang nonsegmental atas dasar
fonologis yaitu dengan perubahan vocal umlaut dan ablaut dan atas dasar morfologis
berupa modifikasi vocal.

34
- Asal dan hasil derivasi menurut kelas kata
Para ahli linguistik lazim memakai sekumpulan istilah demi analisis proses
derivasi
- Reduplikasi :pengantar
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulangi bentuk dasar atau
sebagian dari bentuk dasar atau sebagian dari bentuk dasar tersebut.
- Reduplikasi dalanm berbagai bahasa
Seperti sudah diuraikan, reduplikasi parsial kita temukan tidak hanya dalam
bahasa Indonesia denagn kaidah morfofonemis sendiri yaitu silabe petama
direduplikasi dengan perubahan vocal menjadi pepet.
- Komposisi pengantar

Komposisi adalah proses morfemis yang menggabungkan dua morfem dasar


(atau pradasar) menjadi satu kata yang namanya kata majemuk atau kompaun.

- komposisi dalam berbagai bahasa


Yang menarik perhatian pada komposisi ialah bahwa ada banyak perbedaan
antar bahasa dalam hal ini.

E. BAB V: SINTAKSIS
1. Sintaksis Klausa : Konsep-Konsep Dasar

Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam turunan.

 Sintaksis kalimat, sintaksis klausa, dan sintaksis frasa


Klausa yaitu kalimat yang terdiri atas hanya satu verba atau frasa verba saja, disertai
satu atau lebih konstituen yang secara sintaksis berhubungan dengan verba tadi..frasa
adalah kelompok kata yang dalam praktek dapat juga terdiri hanya dari satu.
 Fungsi, kategori,peran
Ada tiga cara untuk menganalisis klausa secara sintaksis. Pertama ada fungsi-fungsi di
dalam klausa ada peran-perannya da nada kategori-kategorinya.
 Konsituen inti dan konsituen luar inti
Di dalam klausa, konsituen induk adalah verba atau frasa verbal demi mudahnya,
baiklah kita pakai istilah verba saja namanya secara fungsional adalah predikat.
Nomina atau frasa itu dapat dibedakan menjadi dua jenis :konsituen inti atau nuklir
dan konsituen luar inti atau peripheral.

35
 Apakah fungsi sintaksis?
Fungsi induk dalam klausa itu memang predikat. Predikat itu biasdanya beruopa
verba.
 Apa yang dimaksud peran sintaksis?
Peran sintaksis adalah segi sematis dari peserta peserta verba. Peran sintaksis adalah
artin dari argument pada verba yang sedemikian rupa sehingga arti itu berakar pada
ferba.
 Apa yang dimaksud kategori sintaksis?
 Kategori sintaksis adalah apa yang sering disebut kelas kata seperti nomina, verba,
ajektiva, adposisi (artinya, preposisi atau posposisi) dan lain sebagainya.
 Kesinambungan fungsi, peran, dan kategori : pengisian
Haruslah ada pengisi sematis menurut peran tetapi opetan yang mana hal itu tidak
tergantung hanya dari fungsi subjek saja. Analisislah yang sama berlaku untuk
pengeisian fungsi objek..
 Fungsi, peran, dan kategori dipandang secara antar-bahasa

Bila kita hanya apakah struktur fungsi, peran, dan kategori dalam sintaksis klausa
dijumpai dalam semua bahasa di dunia, maka tidak perlulah banyak penelitian untk
mengetahui bahwa memang semua bahasa memiliki kelas-kelas kata atau kategori
tertentu.

2. Sintaksis Klausa :Jenis-Jenis Predikat


 Predikat “penyama”
Banyak bashasa tidak mempunyai kopula sama sekali untuk klausa penyama, dan
pada tipenya klausa penyama (sedikitnya yang statif) adalah seperti tipe indonesia dia
guru
 Predikat verbal : verba intrasitif
Verba intasitif dapat dibededakan menurut sifat sematisnya. Ada verba yang
mengandung makna pengalaman atau verba pengalam, da nada verba yang
mengandung makna tindakan atau verba penindak.
 Predikat verbal : verba transitif
Sesuatu yang penting menyangkut bentuk kategorial dari konsisten-konsiten yang
bersangkutan.
 Predikat tunggal dan predikat serial

36
Predikat verbal yang tunggal adalah predikat dengan verba utama yang hanya satu.

3. Sintaksis Klausa : Hubungan Antara Peran Dan Kategori


 Argumen yang sesuai dengan verba : persona, jumlah, jenis
Persesuaian bentuk verba dengan bentuk argument bukan inilah yang dibahas
sekarang, melainkan kebalikannya, yaitu sesuainya argument dengan arti leksikal
verba.
 Argument yang sesuai dengan verba : pemarkahan kasus pengantar

Yang berlaku umum menyangkut pemarkahan kasus pada argument-argumen secara


antar bahasa, sejauh diketahui oleh para ahli linguistik sekarang, dapat di dasarkan
hanya atas penafsiran argument sebagai peran saja, tidak sebagai fungsi.

 Peran- peran pada verba yang bervalensi Satu


 Verba yang bervalensi satu, yakni verba yang dapat disertai hanya oleh satu argument
saja, memiliki tiga macam argument :penindak, atau pengalam atau perasa
 Peran-peran pada verba yang bervalensi dua : ajentif dan objektif
Klausa yang mengandung verba yang bervalensi dua adalah klausa yang memiliki
argument ajentif dan argument objektif
 Peran-peran pada verba yang bervalensi dua : ajentif dan oblik
Klausa tioe lain yang mengandung verba yang bervalensi dua adalah tipe yang
memiliki argument ajentif dan argument oblik
 Peran-peran pada verba yang bervalensi tiga
Verba yang bervalensi tiga memiliki dua argument objektif.
 Persesuaian verba dengan argument : pengantar
Secara tradisisonal, para ahli linguistik sering membahas persesuaian verbal iitu
dengan memberikan nama-nama fungsional kepada argument-argumen yang
menyebabkan pemarkahan pada vertba : persesuaian dengan subjek dan atau dengan
objek.
 Persesuaian verbal dengan argument sebagai : fungsi dan peran
Memang kaidah tradisional yang mengatakan bahwa persesuaian verbal selalu
terdapat dengan argument menurut fungsinya adalah keliru bila dipandang dari susdut
pandang antar-bahasa.
 Perujukan silang, klitisisasi, dan persesuaian

37
Para ahli linguistik sering menyebut persesuaian maupun kloitisisasi argument
sebagai perujukan silang dari argument pada verba.

4. Sintaksis Klausa : Diatesis Verbal Dan Tipologi Bahasa


 Tipologi klausa : pemarkahan kasus pada argument
- Topologi ergative
- Topologi akusatif
- Topologi aktif-statif
 Topologi klausa : perujukan silang argument pada verba
Perujukan silang argument pada verba terjadi hanya untuk subjek, entah apa
perannya. Bahasa akusatif tidak membedakan pk,pm dan aj sehingga dasar perujukan
silang hanya fungsional belaka
 Tipologi bauran : keergatifan, keakusatifan dan keaktifstatifan
Bila dikatakan bahwa bahasa tertentu bertipologi ergative, atau aktif-statif, atau
akusatif, maka hal itu biasanya berarti bahwa tipologi yang bersangkutan berlaku
untuk salah satu bagian dari tata bahasa yang bersangkutan, tidak untuk tata bahasa
keseluruihannya.
 System-sitem diathesis menurut tipologi bahasa
Pada umumnya system diathesis menurut tipologi bahasa dapat dieumuskan sebagai
berikut : bahasa akusatif bersistem diathesis aktif dan pasif, bahasa ergative bersitem
diathesis ergative dan antipasif dan bahasa aktif-satif biasanya tidak memiliki system
diathesis.
 System diathesis dalam tipologi akusatif : pasif
Biasanya menjangkau diathesis aktif dan pasif, diathesis aktiflah yang “kanonik” dan
biasanya bervalensi dua
 Sitem diathesis dalam tipologi akusatif : diathesis medial
Dalam bahasa-bahasa indo-eropa yang bertipologi akusatif, pernah ada system dua
diathesis : aktif, pasif, dan medial.
 System diathesis dalam tipologi akusatif : medio-pasif
Konstruksi refleksif menurut bentuknya tidak termasuk system diathesis. Misalnya ia
membunuh bukan pasif dari sudut morfologis.
 System diathesis dalam tipologi akusatif : aktif sebagai pasif

38
Di samping konstruksi refleksif sebagai pasif “sematis” ada juga bahasa yang
mempergunakan verba transitif sebagai pasif, tanpa pemarkahan apa-apa.
 System akusatif : pasif impersonal : pengantar
Dalam pasif personal ada persesuaian antara subjek dan verba pasif itu
 System akusatif : pasif impersonal verba intransitive
Verba pengalam dapat dipasifkan secara impersonal dalam bahasa-bahsa tertentu,
asalkan argument itu berupa (insani)
 System akusatif : pasif impersonal verba transitif dan intransitive
Pasif personal adalah pasif dengan subjek dan dengan persesuaian antara bentuk
verbal dan subjek tersebut;sebaliknya, pasif impersonal selalu berpersona ketiga dan
berjuml;ah tunggal, bahkan dalam konstruksi transitif.
 System akusatif : bahasa tanpa pasif impersonal
Contoh baik dari bahasa yang memiliki hanya pasif personal, dan tidak memiliki pasif
impersonal adalah bhasa inggris.
 System akustik : pasif dan promosi argument obejktif
Secara tradisional ada kaidah pemasifan yang berbunyi begini : dalam pemasifan,
objek klausa aktif dijadikan subjek klausa pasif, dan dengan demikian tampak dalam
kasus nominative.
 System akusatif : pemasifan verba yang bervalensi tiga
Meskiupun banyak bahasa mempunyai kontruksi aktif dengan objek rangkap, namun
sulit dibayangkan klausa pasif dengan subjek rangkap, dalam pemasifan. Setiap bahsa
memiliki siasat untuk pemasifan kontruksi altif berobjek rangkap.
 System diathesis dalam tipologi ergative : pengantar
Biasanya menjangkau diathesis ergative dan diathesis antipasif, diathesis ergatiflah
yang merupakan diathesis kaninik.
 System diathesis tipologi ergative ; tinjauan kata-kata
Dalam bahasa yang bertipologi ergative, hal itu sering terjadi dengan objek indenfinit,
tetapi dapat juga dengan predikat durative.
 System diathesis tipologi ergative : pasif
Di antara bahasa-bahasa yang bertipologi ergative ada yang keergatifannya bersifat
“bauran”

5. Sintaksis Klausa : Sistem Kala, Aspek Dan Modus

39
 Sintaksis kala : pengantar
Di antara bahasa-bahasa di dunia yang tidak memiliki system kala morfologis. Ada
pula yang memiliki system dengan hanya dua kala, biasanya preterit dan nonpreterit
seperti terdapat dalam banyak bahasa indian amerika.
 Sintaksis kala : sekedar kata

Dalam bahasa yang tidak bersistem kala seacara morfemis, pengertian kala (bila
dibutuhkan dalam konteks) terletak dalam konsituen peripheral yang sesuai. Tanpa
pemarkahan morfemis verbal untuk kala, pengertian kala terlaksana secara leksikal
saja, atau dengan partikel yang agak kuat sifat gramatikalnya. Oleh karena itu,
nampaknya system kala pada dasarnya adalah system aspectual dan modal.

 Sintaksis aspek : pengantar


 Aspek-aspek verbal dapat dibagi atas aspek yang menyangkut beberapa segi dari apa
yang diungkapkan oleh verba : yakni permulaan, penyelesaian, hasil,
keberlangsungan, pengulangan, kebiasaan, keterkaitan pada saat yang tak terbagi, dan
keadaan.
 Sintaksis aspek : sekedar data
Dalam bahasa latin, aspek inkoatif bersifat morfemis yaitu –sco di dahului oleh –a-,-e-
atau –i- tetapi untuk aspek perfektif dipakai sufiks kala perfekta
 Sintaksis modus : pengantar
Modus verbal yang bermacam-macam, menyangkut sifat deklaratif dan interogatif,
sifat afermatif dan negative, sifat desiderative, sifat kepastian atau kesangsian, sifat
pandangan real atau ireal dan sifat hortative dan imperative.
 Sintaksis modus interogatif : jenis-jenisnya dan sekedar kata
Klausa interogatif beroposisi dengan klausa deklaratif dari kedua tipe tersebut, klausa
deklaratif merupakan modus yanmg tak bermarkah, jadi secara gramatikal tidak
memiliki bentuk khusus.
 Sintaksis modus negative : jenis dan data
 Modus negative dalam kluasa dianggap sama dengan negasi predikat, dan dengan
demikian negasi klausa. Hal itu penting diperhatikan, karena cakupan negasi dapat
saja menjadi struktur yang lebih kecil dari klausa, misalnya frasa, atau bahkan satu
kata saja.
 Sintaksis modus desiderative : jenis dan data

40
Dalam bahasa-bahasa tertentu modus desiderative atau optative berupa morfologis,
yang tampak dalam paradigm verba, seperti dalam bahasa yunani kuno dan bhasa
jepang, dengan modus optatifnya.
 Sintaksis modus irealis : jenis-jenisnya dan sekefar kata
Modus irealisnya dapat ditafsirkan dalam arti yang luas dan dalam arti yang lebih
terbatas. Dalam arti luas semua konstruksi yang tidak realis adalah irealis.
 Dieksis dalam system pronominal posesif
System posesif pronominal agak berbeda-beda dalam bahasa yang berbeda.
 Pronominal dalam bentuk klitika
Pronominal dapat diafikskan pada nomina untuk makna posesif. Pada verba dapat
diafiksasikan sebagai pelaku atau pasien dalam bahasa pemarkah induk, seperti
bahasa Indonesia.
 Dieksis dalam system pronomina demonstrative
Pronominal demonstrative adalah pronomina seperti ini dan itu dalam bhasa
Indonesia, dan dapat dibedakan juga menurut personanya.
 Tumpang tindih koordinasi dan subordinasi
Struktur gramatikal klausa dalam bahasa jerman, belanda dan inggris adalah menraik
karena perbedaan-perbedaan tertentu di antara ketiga bahasa yang serumpun ini dan
yang diturunkan dari suatu bahasa purba.
 Tipologi kordinasi dan subordinasi
Meskipun baik kordinasi maupun suboirdinasi kita temukan dalam semua atau
hamper semua bahasa yang berurutan VO, namun kordinasi lebih cocok dengan
tipologi VO, sedangkan subordinasi lebih cocok dengan tipologi OV.
 Sintaksis modus imperative dan kortatif : jenis data
Semua bahasa memiliki siasat untuk membuat orang yang disapa berbuat sesuatu,
seperti pergilah! Dalam bahasa Indonesia atau Go! Dalam bahasa inggris.

6. Sintaksis Klausa : Suasana Beruntun

Suasana beruntun adalah kata urutan segmentural. Misalnya, dalam klausa kita
mempelajari bahaan bab ini, maka subjek kita mendahului verba mempelajari, dan objek
bahan ini menyusul.

 Susunan VO dan susunan OV

41
 Keselarasan impraklusal : hokum DM dan hokum MD
Sepanjang tradisi penelitian tata bahasa di Indonesia terkenallah hokum DM yang
dibahas oleh s. takdir alis jahbana. Hokum DM itu khusus menyangkut bahasa
Indonesia.
 Tempat penegas dalam susuan beruntun
Penegas adalah pra verbal dalam bahasa VO dan kos verbal dalam bahasa OF.
Kesimpulan ini dapat dirumuskan juga sebagai berikut : tempat penegas adalah
tempat yang bersebrangan dengan O jika ada O, disebelah lain dari V.
 Bahasa konsisten dan bahasa campur
Pada tataran klausa pembahan tersebut sudah lengkap dan hamper umum, namun pada
tataran impraklausa! Hokum DM terpenuhi (dan mungkin saja tidak pernah akan).
Menurut sementara ahli linguistik hal itu terjadi karena sintaksis klausa bawahan lebih
konserpatif daripada sinytaksis klausa induk paling atas.
 Tempat S dalam suasana beruntun VO dan OV
Tipologi susunan beruntun menjadi lebih berbelit-belit bila tempat S dimasukkan.
Tempat S untuk keselarsan impraklausa! Bila ada memang tidak relevan sama
sekali.Akan tetapi, dalam beberapa aspek lain memang temoat S lebih penting.
 Pembilang kambang
Pembilang kambang adalah istilah yang artinya adalah pembilang yang dapat
berpindah-pindah tempatnya dalam susunan beruntun, pembilang itu adalah kata
seperti kata bilangan sepertyi satu, dua, seratus tiga ribu yang numeral istilahnya atau
pembilang yang non numeral seprti banyakl atau sedikit.
 Susunan beruntun : sifat structural dan sifat fragmatis
Sejauh ini susunan beruntun telah kita bahasa dengan cara yang boleh disebut
structural. Banyak bahasa memiliki juga kaidah susunan beruntun yang lebih
pragmatis sifatnya.
7. Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk itu adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat yang
identic dengan satu klansa saja adalah kalimat tunggal, dan satu klausa tersebut dapat juga
disebut klausa mandiri.

 Klausa mandiri dan klausa gabungan

42
Klausa mandiri (yang identic dengan kalimat tunggal itu) dibedakan dari
gabungan klausa, artinya sebuah klausa yang harus digabungkan dengan klausa lain
untuk membentuk kalimat majemuk.
 Klausa tergantung dan klausa berbatas
Klausa tergantung adalah klausa bawahan yang merupakan bagian yang tak
terasingkan dalam klausa lebih atas, atau bagian dari salah satu frasa yang terdapat
dalam klausa lebih atas tersebut.
 Klausa obsolut dan klausa relasional
Klausa absolut adalah klausa bawahan yang tidak memiliki argument yang ada
juga dalam klausa lebih atas , sedangkan klausa relasional memiliki argument yang
ada juga dalam klausa lebih atas.
 Klausa lengkap dan klausa buntung
Klausa lengkap adalah klausa yang memiliki predikat, verbal atau non verbal,
seperti halnya pula dalam klausa mandiri. Klausa buntung adalah klausa gabungan
yang berfungsi sebagai klausa dalam segala tetapi hanya untuk menyebut topic. Atau
untuk mengulangi klausa secara anaforis, sehingga predikat tidak perlu.
 Klausa koordinatif dan klausa subordinatif
Klausa koordinatif adalah klausa yang bergabung dengan kluasa lain,
sedemikian rupa sehingga dari kedua klausa yang bersangkutan tak ada yang lebih
tinggi dari yang lainnya. Klausa berbatasan adalah klausa sobordinatif yang tidak
termasuk klausa lebih atas sebagai konstituen intinya. Biasanya klausa seperti itu
adalah klausa adverbial.

8. Sintaksis Frasa : Frasa Nominal, Tipe Nomina+Nomina

Frasa adalah kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan yang lebih
panjang. Berbagai jenis frasa nominal tipe nomina + nomina, frasa nomina terdiri atas
nomina induk dan atribut. Atribut dapat berupa nomina, jadi tipe frasa dengan atribut yang
demikian berupa nomina + nomina atau bmisalnya rumah bupati.

 Hubungan semantis diantara induk dan atribut

Apabila sintasis frase tipe nomina +nomina dibandingkan dengan sintaksis frasa tipe
nomina tambah non garis – nomina, maka salah satu hal yang sangat menarik

43
perhatiamn adalah yang berikut : hubungan semantic di antara nomina induk dan
nomina atribut dalam frasa tipe nomina +nomina adalah fleksibel.

 Frasa posesif
 Frasa keanjetifan atau penindakan
 Frasa dengan atribut nominal rangkap serial
 Frasa dengan atribut nominal rangkap terkandung
 Frasa dengan aposisi sebagai atribut
 Frasa dengan semitribut penyalin

9. Sintaksis Frasa : Frasa Nominal, Tipe Nomina + Non-Nomina

Fleksibilitas sematis yang ada di antara induk dan atribut dalam frasa nomina + nomina.
Fleksibilitas yang demikian tidak ada dalam frasa nominal dengan atribut non-nominal.
Misalnya saja, dalam frasa yang terdiri dari nomina induk dan ajektiva, ajektivalah yang
menentukan sifat semantic konsentuen induk.

 Hierarki penyambungan antara induk dan atribut


Menurut teori hierarrki penyambungan antara nomina induk dan atribut non-
nominalpenyambungan tersebut dapat bersifat sangat rapat, sehingga konsituen
perangkai tidak diperlukan, sedangkan bila penyambungan tersebut tidak bgitu rapat
konsituen perangkai dipakai dipakai secara opsial atau bahkan secara wajib.
 Frasa dengan atribut relative : beberapa konsep pokok
Dari sudut sintaksis, ada berbagai cara untuk membahas klausa relative misalnya
klausa relative sebagai klausa bawahan dalam kalimat majemuk, klausa bawahan
entah terkandung entah berbatasan, atau klausa bawahan sebagai yang “relasional”
 Susunan beruntun anteseden dan klausa relative
Tempat anteseden ada di dalam klausa relative itu sendiri dalam lingistik dikatakan
bahwa anteseden “diatraksi” ke dalam klausa relative; porosesnya disebut atraksi
anteseden
 Kalusa relative pembuka dan klausa relative pembatas
Pentinglah pembedaan klausa-klausa relative sebagai klausa “pembuka” dan klausa
“pembatas”. Klausa relative pembuka adalah pikiran susulan yaitu keterangan yang

44
ditambahkan demi alasan tertentu teteapi keterangan yang tidak perlu demi
pengidentifikasian nomina induk secara unik.
 Konsituen “perelatif” yang tidak berupa perangkai
Dalam bahasa tertentu ada pemarkah klausa relative yang tidak berupa perangkai.
Pemarkah yang demikian diafikskan pada verba di dalam klausa relative.
 Konstituen “perelatif” yang berupa perangkai
Perelatif pernagkai yang tidak pronominal sudah dibahas dalam kerangka hierarki
penyambungan. Dalam bahasa-bahasa yang bersangkutan,tidak ada pembdaan
sintaksis yang jelas antara atribut yang memakai perangkai untuk atribut taraf 3 atau 2
dan untuk atribut taraf 1 yang berup klausa relative.
10. FRASA ADPOSISIONAL, AJEKTIVAL DAN ADVERBIAL
 Frasa adposisional : pengantar
- Adposisi dan “objek” nya
- Adposisi berupa preposisi, posposisi dan ambiposisi
- Adposisi bertumpuk, yaitu konstituen induk yang terdiri dari adposisi
- Frasa adposisional bermarkah induk dan bermarkah bawahan
- Frasa adposisional sebagai sebagai atribut
 Adposisi dan “objek”nya
Frasa adposisional terdiri atas adposisi sebagai induk dan kata atau frasa nominal
sebagai konsituen bawahan. Konsituen tersebut dalam ilmu linguistic lazim disebut
“objek” artinya “objek” pada adposisi induk.
 Preposisi, posposisi, ambiposisi
Adposisi yang dapat mendahului objeknya disebut “preposisi” sedangkan adposisi
yang dapat mengikuti objeknya lazim dinamai “posposisi”. Ambiposisi yaitu adposisi
dengan dua bagian, yaitu di depan dan dibelakang objeknya.
 Adposisi bertumpuk
Dalam banyak bahasa, frasa adposisional membutuhkan adposisi majemuk, atau
adposisi frasal, atau adposisi rangkap, sebagai induk frasa adposisional. Adposisi itu
seakan akan bertumpuk satu pada yang lain, dan oleh sementara ahli disebut “adposisi
bertumpuk”
 Frasa adposisional bermarkah induk dan bermarkah bawahan
Ada dua tipe morfologi yaitu bhasa pemarkah induk dan bahasa pemarkah bawahan.
 Frasa adposisional sebagai aribut

45
Struktur frasa dibaahas hanya dalam struktur intrafrasalnya.namun struktur tersebut
kadang-kadang tergantung dari struktur dari struktur ekstrafrasalnya
 Frasa ajektival : pengantar
Frasa adjectival dapat digolongkan menurut jenis konsituen bawahannya.
- Penegas negative, penegas refleksif,penegas modal
- Nomina milik yang tak terangsingkan
- Pembaku pada komparatif, superlative, dan ekuatif,
- Adverbial (atau frasa adverbiak) derajat
- Nomina pengukur
- Nomina aspek
F. BAB VI: SEKEDAR SOAL LAIN
1. Sistem, Struktur, Dan Sistematik

Dari istilah “struktur” dan “sistem” memiliki perbedaan yang tidak sulit di mengerti.
Istilah “Struktur” adalah nama susunan tuturan. Sedangkan istilah “Sistem” sering di pakai
untuk menamai setiap hubungan antara bentuk-bentuk yang termasuk dalam salah satu ,
tetapi tidak secara “struktual”.

Untuk mengaji bahan tertentu memang “struktur” dan “sistem” perlu di bedakan. Jadi kita
memnutuhkan istilah baru yang mencangkup kedua-duanya yaitu istilah “sistematik”.
Bentuk ajektivalnya adalah “sistematis”, dan bentuk ajektival dari “sistem” adalah “sistemis”.

- Struktur , sistem dan “distribusi”

Istilah “distribusi” dicetuskan oleh ahli linguistik Leonard Bloomfield. Istilah tesebut
dapat dipakai dalam dua arti.

Pertama, “distribusi” di artikan sebagai sifat segmen atau konstituen di dalam struktur
tertentu. Misalnya (1) Si Amin tidak mengenal putri yang berani itu.

Kedua , “distribusi” adalah pengertian sistemis: yaitu menyangkut mungkin tidaknya salah
satu konstituen struktual di ganti oleh unsur lain. Misalnya, Si Amin  dapat diganti oleh
nomina lain, demikian putri juga dapat di ganti dengan nomina lain.

- Beberapa jenis struktur

Struktur fonetis Struktur fonologis Struktur alofonemis

46
Struktur morfemis  Struktur alomorfemis Struktur sintaksis

- Beberapa jenis sistem

Sistem fonetis Sistem alofonemis      Sistem alomorfemis

Sistem fonologis Sistem morfemis    Sistem sintaksis

Konstruksi dapat berupa frasa, dapat pula berupa satu kata saja, yaitu kata polimorfemis.

Konstruksi endosentris adalah konstruksi yang berdistribusi paralel dengan induknya.


Sebaliknya , konstruktur eksosentris adalah konstruksi yang berdistribusi komplementer
dengan induknya (dalam kata polimorfemis, “induk” diartikan bentuk dasarnya).

2. Semantik

Semantik adalah cabang linguistik yang meneliti arti atau makna. Semantik itu dibagi
menjadi semantik gramatikal dan semantik leksikal.
Makna leksikal lazim dipandang sebagai sifat “kata” sebagai unsur leksikal. Misalnya,
kata roti memiliki makna tertentu, akan tetapi selain dari makna tersebut kata roti memiliki
juga sifat yang namanya “referensi” yaitu kemampuan kata roti untuk mengacu pada
makanan tertentu. Yang diacu itu dinamakan “referen”. Sudah jelas bahwa referensi
berhubungan erat dengan makna , jadi referensi merupakan salah satu sifat makna leksikal.
Denotasi adalah referensi pada sesuatu yang ekstralingual menurut makna kata yang 
bersangkutan. Sebaliknya “konotasi” kata adalah “arti” yang dapat muncul pada penutur
akibat penilalian afektif atau emosional.
Menurut makna ekstesionalnya kata X merujuk pada hal-hal yang ekstralingual,
misalnya kata perabot merujuk pada perabot yang bermacam-macam.
Menurut makna intensional kata X terdiri atas sifat-sifat semantis tertentu, misalnya makna
‘perabot’, dalam kata perabot, secara intensional mengandung unsur-unsur semantis
‘perlengkapan’,’rumah tangga’, dll.
Istilah kekerabatan dalam bahasa indonesia dapat dibayangkan seperti sebuah jaringan
, dengan simpul-simpul yang memiliki “identitas”-nya hanya secara “relasional”, yaitu
menurut tempatnya terhadap simpul lain-lainnya dalam seluruh jaringan. Analisis semantik
leksikal terhadap unsur-unsur leksikal itu dikenal dalam linguistik sebagai “analisis
komponensial”.

47
Dalam ilmu linguistik ada manfaatnya untuk membedakan antara makna(leksikal) dan
pemakaiannya. Menurut aliran tertentu dalam filsafat bahasa dapat di katakan bahwa kita
bereferensi pada sebuah mimbar dengan memakai kata mimbar dan
memang melalui ‘mimbar’ sebagai maknanya.
Unsur-unsur leksikal dalam bahasa dapat dibandingkan menurut hubungan semantis
di antaranya. Kata X dan Y dapat berubah
       “sinonim”(artinya X dan Y bermakna hampir sama)
       “antonim”(dengan X yang bermakna kebalikan dari Y)
     “homonim” (X dan Y bermakna lain tetapi berbentuk sama)
         “hiponim” (arti ekstensional dari X merupakan sebagaian dari arti ekstensional dari Y)
Hubungan kesinoniman berlaku timbal-balik : kita dapat mengatakan
bahwa nasib adalah sinonim  dengan takdir, ataupun sebaliknya: takdir adalah sinonim
dengan nasib.
Hubungan keantoniman berlaku timbal-balik: kita dapat mengatakan
bahwa mudah adalah antonim dari sukar, ataupun sebaliknya: sukar adalah antonim
dari mudah.
Bila pasangan antonim bermakna kuantitas tertentu(khususnya ukuran), biasaanya ada kutub
yang “positif” (tinggi, lebar, besar) dan kutub yang “negatif”(rendah,sempit, kecil), dan bila
hubungan antonim di tiadakan demi suatu pengungkapan yang lebih umum(misalnya,
kuantitas saja, khususnya ukuran saja) maka hubungan keantoniman di “netralisasi”-kan.
Kehomoniman adalah hubungan di antara kedua kata(atau lebih), sedemikian rupa
sehingga bentuknya sama dan maknanya berbeda. Misalnya, bisa ‘mampu’ dan bisa ’racun’ 
adalah homonim.
Hubungan homonim berlaku timbal-balik: kita dapat mengatakan bahwa bisa ’mampu’
adalah homonim dengan bisa ‘racun’ , ataupun sebaliknya: bisa ‘racun’ adalah homonim
dengan bisa ‘mampu’.
Hubungan kehiponiman dalam pasangan kata adalah hubungan antara yang lebih kecil
(secara ekstensioal) dan yang lebih besar (secara ekstensional pula). Misalnya, kursi adalah
hiponim terhadap perabot, dan merah merupakan hiponim terhadap berwarna.
Hubungan kehiponiman tidak berlaku timbal-balik,
hubungan perabot terhadap kursi; perabot kiranya dapat dinamai “hiperonim” .
3. Deiksis

48
Deiksis adalah semantik yang berpakar pada identitas penutur. Semantik itu dapat bersifat
gramatikal, dapat bersifaat leksikal pula; bila leksikal, dapat menyangkut semantik semata-
mata, dapat menyangkut juga ferensi.

Sistem pronominal dalam semua bahasa terdiri atas sistem-sistem yang lebih terbatas.
Selain dari pronomina personal ada pronomina demonstratif dan pronomina indefinit ;
banyak bahasa juga memiliki sistem pronomina posesif dan pronomina relatif.

Pronomina personal dapat di bedakan menurut persona (pertama, kedua, ketiga), jenis
(maskulin, feminin, dan dalam banyak bahasa, menurut jenis yang lain yang berdasarkan
sistem penggolong nominal), dan jumlah (tunggal,jamak, dan dalam bahasa tertentu dual dan
trial pula, dan/atau paukal).

Sistem posesif pronominal agak berbeda-beda dalam bahasa yang berbeda. Banyak
bahasa barat memilliki sistem pronomina posesif, seperti dalam bahasa inggris (my, your, his,
her, our, dan seterusnya) atau bahasa jerman (mein, dein, sein, ihr, unser, dan seterusnya)

Dalam bentuk posesif pun, persona ketiga sering berperanan sebagai bentuk halus , dalam
komunikasi dari bawah ke atas.

Contoh :

Bapak, bagaimana {pengalaman-nya / pengalaman Bapak } ?

- Pronomina dalam bentuk klitika 

Pronomina dapat diafikskan pada nomina untuk makna posesif. Pada verba dapat diafikskan
sebagai pelaku atau pasien, dalam bahasa pemarkah induk, seperti bahasa indonesia: sebagai
pelaku ku- dan kau- (ku-beli, kau-beli), atau sebagai Pasien –ku dan –mu (mengundan-ku,
mengundang-mu).

Pronomina persona ketiga tidak bersifat deiktis, kecuali bila bersifat demonstratif.
Pronomina demonstratif adalah pronomina seperti ini dan itu dalam bahasa indonesia, dapat
dibedakan juga menurut “persona”-nya. Pronomina ini mengacu pada sesuatu yang di tempat
penutur, jadi dapat disebut pronomina “persona pertama”. Seballiknya , itu mengacu pada
sesuatu tempat penutur, jadi dapat disebut pronomina “persona ketiga”.

49
Yang disebut “adverbial” disini tidak hanya mencakup adverbia ( seperti here ‘di sini’
atau there ‘di sana’ dalam bahasa inggris) tetapi juga frasa (khususnya adposisional) yang
menurut struktur ekstrafrasalnya berperan secara adverbial.

Contohnya di sana dan di sini dalam bahasa indonesia. Dalam pasal ini,istilah “adverbia” di


anggap merujuk baik pada adverbia maupun pada frasa adposisional dengan peranan
adverbial.

Deiksis leksikal adverbial mencakup adverbia yang mengacu pada ruang (adverbia lokatif)
dan pada waktu (adverbia temporal).

Menurut makna leksikalnya, ada verba yang deiktis dalam semua bahasa. Misalnya ,
dalam bahasa indonesia datang berarti ‘bergerak menuju penutur’ dan pergi berarti ‘bergerak
menjauhkan diri dari penutur’

Bentuk gramatikal deiksis nampak dalam bentuk verbal dengan persesuaian dengan
Argumen (subjek atau Objek) pronominal, seperti di uraikan di atas; dan juga dalam bentuk
morfologis.

Pembalikan deiksis adalah penciptaan dasar deiktis bukan dalam persona penutur,
tepat penutur atau saat penutur melainkan dalam persona lain penutur beridentifikasi
dengannya.

50
BAB III

PEMBAHASAN

A. ANALISIS

Menurut (Chaer, 2017: 3) ilmu lingusitik (lingyistik umum) adalah ilmu linguistik yang
tidak hanya mengakaji bahasa saja, seperti bahasa Jawa atau Bahasa Arab, melainkan
mengkaji seluk beluk bahasa pada umumnya, bahasa yang menjadi alat interaksi sosial milik
manusia, yang dalam peristilahan Prancis disebut langage. Sedangkan para ahli lain
berpendapat bahwa ilmu linguistik artinya ilmu-ilmu yang tida hanya menyelidiki satu
bahasa saja (seperti bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia), tetapi linguistik itu menyangkut
bahasa pada umumnya (Verhaar, 2016:4). Objek lingusitik itu adah bahasa dan ada juga
langage, lange, dan parole . parole sendiri ialah objek konkret untuk ahli linguistik, bagaikan
bahan mentah, yang biasa disebut data atau teks. langue adalah objek yang sedikit lebih
abstrak, dan yang paling abstrak adalah langage. Ini menurut Verhaar (2016:7). Sedangkan
menurut Abdul (2017:31) mengartikan bahasa dengan banyak persepsi. Objek kajian
linguistik ialah parole merupakan wujud objek konkret karena parole itu berwujud ujaran
nyata yang diucapkan oleh para bahasawan dari suatu masyarakt bahasa. Langue diartikan
objek yang abstrak karena berwujud sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan, dan
langage merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud sistem bahasa secara
universal.

Pertama, tataran linguistik menurut Chaer (2017) dibagi atas 5 yakni fonologi yang
merupakan bidang linguistik yang mempelajari runtutan bunyi-bunyi bahasa; morfologi yang
membicarakan struktur internal kata; sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya
dengan kata lain, unsur-unsur lain sebagai suatu ujaran; dan semantik yang objeknya makna
adalah makna ialah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda
lingusitik. Kedua, Verhaar (2016) didalam bukunya menyebutkan bahwa terdapat 10 cabang
ilmu linguitik. Ilmu-ilmu linguistik tersebut adalah bidang-bidang lingusitik yaitu linguistik
antropologi dan linguistik sosiologis; fonetik dan fonologi yang dimaksud fonetik meneliti
bunyi bahasa menurut cara pelafalannya dan menurut sifat-sifat akustiknya, sedangkan ilmu
fonologi meneliti bunyi bahasa tertentu menurut fungsinya; morfologi adalah ilmu morfologi
menyangkut structur “internal” kata; sintaksis adalah cabang linguistik yang menyangkut

51
susunan kata-kata di dalam kalimat; Kaitan antara tata bahasa, fonologi, dan fonetik
tentunya saling berhubungan erat; leksikologi cabang linguistik yang berurusan dengan
leksikon itu; semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna; pragmatic
adalah cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa
sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar; linguistik sinkronik adalah persiapan
untuk mengadakan penelitian tentang bahasa Indonesia dan bahasa lainnya yang belumpunah;
dan yang terakhir linguistik teoritis dan lingusitik terapan yang banyak ilmu biasanya
dibedakan menurut aspek teorotisnta dan manfaat secara praktis.

B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN


1. Kelebihan & Kekurangan Buku Abdul Chaer

Kelebihan: bukunya sangat bagus dan menarik perhatian para pembaca. Dari segi tata
layoutnya juga rapi dan tulisannya jelas. Isinya masih mampu dipahami oleh pembaca

Kekurangan: penyusunan subbab yang masih berbelit-belit, sehingga membingungkan


pembaca.

2. Kelebihan & Kekurangan Buku Verhaar

Kelebihan: buku ini menyajikan penjelasan yang sangat lengkap. Memaparkan asas-asas
linguistik umum secara terperinci sehingga sumber mampu dipercaya oleh pembaca. Tata
layout dan penulisan huruf juga sudah benar.

Kekurangan: masih banyak tanda hubung yang kurang tepat dalam pemakaian yang
semestinya di buku ini. Makna kata yang kurang jelas untuk dipahami. Dan penjelasannya
berbelit-belit untuk kalangan mahasiswa.

3. Perbandingan buku 1 dan 2

Menurut saya, setelah hasil perbandingan buku 1 dan 2 yang layak atau masih bisa
dimengerti untuk tahap mahasiswa adalah buku karangan Abdul Chaer karena penjelasannya
yang tidak terlalu ribet untuk dipahami.

BAB IV

PENUTUP

52
A. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa buku kedua karya Verhaar sudah baik
melainkan pada buku pertama karya Abdul Chaer lebih baik karena buku pertama ini
membahas materi dengan baik dan terperinci juga jelas. Namun, bukan berarti buku kedua
tidak baik karena pada dasarnya kedua buku ini memuat ilmu dan menambah pengetahuan
dan wawasan, baik untuk dibaca ataupun menjadi referensi yang mengkaji lebih dalam
menegenai bahasa.

B. SARAN

Adapun saran yang dapat dipetik bahwa sebaiknya para pendidik lebih banyak membaca
dan memahami isi buku yang mengenai lingusitik (bahasa) karena dengam membaca materi
tersebut akan membut pendidik mengetahui perkembangan tentang bahasa apa saja yang akan
digunakan dalam belajar mengajar dan berkembang pada setiap periodisasinya. Selain itu,
dari kedua buku ini lebih banyak lagi dikembangkan materinya sehingga membuat pembaca
lebih dalam mengatahui lingusitik.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2017. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

53
Verhaar, J.W.M. 2016. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.

54