Anda di halaman 1dari 11

Tugas Baca

PTERIGIUM

Oleh :

Hadijah, S.Ked
I1A000010

Pembimbing :
Dr. Agus F. Razak, Sp. M

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM/RSUD ULIN
BANJARMASIN
Maret, 2007
PTERIGIUM

Definisi

Pterigium adalah penetrasi lapisan Bowman akibat pertumbuhan fibrovaskular

yang berasal dari penebalan dan lipatan konjungtiva bulbi yang bersifat degeneratif

dan invasive. Pertumbuhan ini biasanya terletak di celah kelopak mata bagian nasal

ataupun temporal konjungtiva dan sering meluas ke daerah pupil. Berbentuk segitiga

dengan banyak pembuluh darah, puncaknya terletak di kornea dan dasarnya di bagian

perifer.1,2,3

Insidensi

Pterigium banyak terdapat pada orang dewasa tetapi dijumpai pula pada anak-

anak. Pterigium dilaporkan terjadi 2 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan

wanita. Jarang mengenai umur 20 tahun ke bawah. Pasien dengan usia lebih 40 tahun

mempunyai prevalensi pterigium yang lebih besar.4

Etiologi

Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas. Diduga merupakan suatu

neoplasma, radang dan degenerasi yang disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu,

pasir, cahaya matahari, lingkungan dengan angina yang banyak dan udara yang panas

selain itu factor genetik dicurigai sebagai factor predisposisi.4,5

2
Patofisiologi

Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan

ultraviolet, debu, kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan

konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea. Pterigium ini biasanya bilateral, karena

kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan sinar

ultraviolet, debu dan kekeringan. Semua kotoran pada konjungtiva akan menuju ke

bagian nasal, kemudian melalui pungtum lakrimalis dialirkan ke meatus nasi inferior.

Daerah nasal juga relative mendapat sinar ultraviolet yang lebih banyak dibandingkan

dengan bagian konjungtiva yang lain, karena disamping kontak langsung bagian nasal

konjungtiva juga mendapat sinar ultraviolet secara tidak langsung akibat pantulan

dari hidung. Karena itu pada bagian nasal konjungtiva lebih sering didapatkan

pterigium.6

Secara histologik ditemukan, epitel konjungtiva ireguler, kadang-kadang

berubah menjadi epitel berlapis gepeng dan mengalami degenerasi hyaline dan

elastis. Pada puncak pterigium, epitel kornea menaik dan pada daerah ini membrane

Bowman mengalami degenerasi hyaline dan elastis. Terdapat degenerasi stroma yang

berproliferasi sebagai jaringan granulasi yang penuh pembuluh darah. Degenerasi ini

menyebuk ke dalam kornea serta merusak membrane Bowman dan stroma kornea

bagian atas.1,6

3
Manifestasi Klinik

Gejala Subjektif

Pasien yang menderita pterigium mempunyai keluhan yang beragam, mulai

dari yang tidak mempunyai keluhan sama sekali, hingga keluhan mata merah, gatal,

panas dan mata kabur pada satu mata atau kedua mata dan tidak mengeluhkan

adanya pterigium. Akan tetapi ada pula yang dating memberikan keluhan timbulnya

bentukan seperti daging yang menjalar ke kornea dengan alasan kosmetik.4,6,7

Gejala Objektif

Dari pemeriksaan didapatkan adanya penonjolan daging, berwarna putih,

tampak jaringan fibrovaskular yang berbentuk segitiga yang terbentang dari

konjungtiva interpalpebrae sampai kornea, tepi jaringan berbatas tegas sebagai suatu

garis yang berwarna coklat kemerahan, umumya tumbuh di daerah nasal (pada 90%

kasus). Dibagian depan dari apek pterigium terdapat infiltrate kecil-kecil yang disebut

“islet of Fuch”. Pterigium yang mengalami iritasi dapat menjadi merah dan menebal

yang kadang-kadang dikeluhkan kemeng oleh penderita.2,3,7

Menurut Fisher (2005) gambaran klinik pterigium dibagi menjadi 2 kategori:4

1. Kelompok pasien dengan gambaran pterigium proliferasi minimal dan tipis.

Merupakan pterigium jenis datar yang tumbuh lambat dan insidensi

kekambuhan yang rendah sesudah eksisi.

4
2. Kelompok pasien dengan pertumbuhan cepat dan penebalan komponen

fibrovaskular yang cepat. Pterigium jenis ini mempunyai gambaran klinik

pertumbuhan cepat dan insidensi kekambuhannya tinggi setelah eksisi.

Menurut Fisher pembedahan eksisi sederhana mempunyai tingkat kekambuhan

50-80%. Angka ini dapat dikurangi dengan autograft konjungtiva saat eksisi.

Pterigium dapat disertai dengan keratitis pungtata dan sellen (penipisan kornea akibat

kering), dan garis (iron line dari Stocker) yang terletak di ujung pterigium.5,7

Gambar 1. Hipertropi konjungtiva bulbi di celah kelopak. Puncak pterigium


sudah mendekati pupil.

Diagnosis Banding

Karena kemiripannya, pterigium didiagnosa banding dengan:

1. Pseudopterigium

Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat.

Sering pseudopterigium ini terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea, sehingga

konjungtiva menutupi kornea.5,6

5
Perbedaan pseudopterigium dengan pterigium adalah 5

- Pseudopterigium didahului riwayat kerusakan permukaan kornea seperti ukak

kornea, sedangkan pterigium tidak.

- Letak pseudopterigium ini pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan

proses kornea sebelumnya. Beda dengan pterigium adalah selain letaknya

tidak harus pada celah kelopak mata atau fisura palpebra.

- Puncak pterigium menunjukkan pulau-pulau Fuchs pada kornea sedang

pseudopterigium tidak.

- Pseudopterigium dapat diselipkan sonde di bawahnya, sedangkan pterigium

tidak.

- Jumlah pembuluh darah pada pseudopterigium sama dengan keadaan

pembuluh darah normal.

- Pterigium bersifat pregresif, pseudopterigium tidak.

2. Pinguekula

Pinguekula merupakan penebalan pada konjungtiva bulbi berbentuk segitiga

dengan puncak di perifer dasar di limbus kornea, berwarna kuning keabu-abuan dan

terletak di celah kelopak mata. Timbul akibat iritasi oleh angin, debu dan sinar

matahari yang berlebihan. Biasanya pada orang dewasa yang berumur kurang lebih

20 tahun.1

Secara histopatologik ditemukan epitel tipis dan gepeng, sering terdapat hanya

dua lapis sel. Lapisan subepitel tipis. Serat-serat kolagen stroma berdegenerasi hialin

6
yang amorf kadang-kadang terdapat penimbunan serat-serat yang terputus-putus.

Dapat terlihat penimbunan kalsium pada lapisan permukaan. Pembuluh darah tidak

masuk ke dalam Pinguekula akan tetapi bila meradang atau terjadi iritasi, maka

sekitar bercak degenerasi ini akan terlihat pembuluh darah yang melebar. Tidak ada

pengobatan yang khas, tetapi bila terdapat gangguan kosmetik dapat dilakukan

pembedahan pengangkatan.1

Penatalaksanaan

Pengobatan pterigium tergantung keadaan pterigium itu sendiri. Pada keadaan

dini tidak perlu dilakukan pengobatan. Pasien dapat diobservasi kecuali

pertumbuhannya ke tengah kornea atau pasien dengan mata merah yang signifikan,

rasa tidak nyaman pada mata dan adanya gangguan penglihatan. Pada keadaan

inflamasi, dapat diberikan air mata buatan dan steroid topical untuk menekan

peradangannya. Apabila terjadi dele (lekukan kornea) diberikan air mata buatan

dalam bentuk salep. Bila diberi vasokonstriktor maka perlu control dalam dua minggu

dan bila terdapat perbaikan pengobatan dihentikan.5,8

Drug Category: Artificial tears (topical lubricating drops) -- To lubricate the ocular
surface and to fill in defects in the tear film.4

Artificial tears/topical lubricating drops (Refresh Tears, GenTeal


[OTC]) -- Artificial tears provide topical ocular surface
Drug Name lubrication in patients with irregular corneal surfaces and irregular
tear films. These conditions are very common in the setting of
pterygium.
Adult Dose 1 gtt in affected eye(s) qid and prn for irritation

7
Pediatric Dose Administer as in adults
Contraindications Documented hypersensitivity
Interactions None reported
Pregnancy A - Safe in pregnancy
Precautions If symptoms persist despite continued use, reevaluate patient

Drug Category: Topical lubricating ointments -- A more viscous lubricant of the


ocular surface.

Topical lubricating ointments (Hypo Tears, Refresh P.M. [OTC])


-- A relatively more viscous lubricant for the ocular surface.
Drug Name These thicker preparations tend to blur the vision temporarily;
therefore, they generally are used at night except in patients with
severe discomfort.
Adult Dose Apply to inferior cul-de-sac in affected eye(s) hs
Pediatric Dose Administer as in adults
Contraindications Documented hypersensitivity
Interactions None reported
Pregnancy A - Safe in pregnancy
Patients using ocular ointments will have temporary blurring of
Precautions vision and should avoid activities that require clear vision until the
blurring subsides

Drug Category: Anti-inflammatory drops -- To reduce inflammation on the ocular


surface and other ocular tissues. Corticosteroids can be helpful in the management of
inflamed pterygia by reducing the swelling of the inflamed tissues of the ocular
surface adjacent to the lesions.4

Prednisolone acetate (Pred Forte 1%) -- A topical corticosteroid


suspension used to reduce inflammation in the eye. Use should be
Drug Name
limited to eyes with significant inflammation not relieved by
topical lubricants.
1 gtt qid in affected eye(s) for a limited time, usually only 1-2 wk
Adult Dose
of continuous therapy
Pediatric Dose Not applicable, as pterygia are very rare in pediatric age group
Documented hypersensitivity; patients with a history of herpes
Contraindications
simplex dendritic keratitis or steroid responsive glaucoma

8
Interactions None reported
Pregnancy B - Usually safe but benefits must outweigh the risks.
Can be absorbed systemically but systemic side effects generally
Precautions are not seen in patients using topical prednisolone acetate drops;
can be excreted in the milk of women who are breastfeeding

Pterigium yang sudah lanjut dapat mengganggu penglihatan akibat astigmatisme

irregular atau menutupi media penglihatan, dapat dilakukan tindakan pembedahan.

Pembedahan juga diindikasikan pada gangguan kosmetik yang tidak dapat diterima.

Menurut Soewono pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari

limbus sebaiknya dioperasi. Untuk mencegah terjadinya kekambuhan setelah operasi,

dikombinasikan dengan pemberian sitostatika mitocin tetes mata atau dapat juga

dikombinasi dengan pemberian radioterapi dengan sinar Beta.6,7

Pencegahan dapat dilakukan dengan penggunaan kacamata anti UV untuk

menurunkan paparan sinar matahari dan debu.8

Komplikasi

Komplikasi ptirigium meliputi: 4

- mata merah

- iritasi

- keterlibatan otot ekstraokular menyebabkan diplopia

- jaringan parut kronik pada konjungtiva dan kornea

Komplikasi postoperative pterigium 4

- infeksi

9
- reaksi terhadap bahan benang

- diplopia

- parut kornea

Prognosis

Prognosis penglihatan dan kosmetik eksisi pterigium adalah baik. Penderita

dapat beraktivitas normal setelah 48 jam setelah tindakan eksisi. Pasien yang

mengalami kekambuhan dapat dilakukan eksisi ulang dengan grafting.4

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Pterigium dalam Sari Ilmu Penyakit Mata. FK UI. Jakarta. 2003

2. Vaughan G, Daniel et al. Konjungtiva dalam Opthalmologi Umum ed 14.


Widya Medika. Jakarta. 2000

3. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. Binarupa Aksara. Jakarta. 1983

4. Fisher JP. Pterigium. (Online) http://www.eMedicine.com diakses 3 Maret


2007

5. Ilyas S. Mata Merah dalam Penuntun Ilmu Penyakit Mata. FK UI. Jakarta.
2003

6. Wisnujono S, dkk. Pterigium dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD


Dr. Soetomo, Surabaya. 1994

7. Pterygium. Handbook of Ocular Disease Management. (Online)


http://www.revoptom.com diakses 3 Maret 2007

11