Anda di halaman 1dari 28

BAB I

TEORI DASAR

1.1. PENGERTIAN IRIGASI

Irigasi adalah segala usaha manusia yang berhubungan dengan perencanaan dan
pembuatan sarana untuk menyalurkan serta membagi air ke bidang-bidang tanah
pertanian secara teratur, serta membuang air kelebihan yang tidak diperlukan lagi.

Sebagai suatu ilmu pengetahuan, irigasi tidak saja membicarakan dan


menjelaskan metode-metode dan usaha yang berhubungan dengan pengambilan air dari
bermacam-macam sumber, menampungnya dalam suatu waduk atau menaikkan elevasi
permukaannya, dengan menyalurkan serta membagi-bagikannya ke bidang-bidang tanah
yang akan diolah, tapi juga mencakup masalah-masalah pengendalian banjir sungai dan
segala usaha yang berhubungan dengan pemeliharaan dan pengamanan sungai untuk
keperluan pertanian.

1.2. KEADAAN-KEADAAN DIMANA IRIGASI DIPERLUKAN

Tidak semua daerah terdapat usaha-usaha pertanian atau perkebunan


memerlukan irigasi. Irigasi biasanya diperlukan pada daerah-daerah pertanian dimana
terdapat satu atau kombinasi dari keadaan-keadaan berikut :

 Curah hujan total tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan air.
 Meskipun hujan cukup, tetapi tidak terdistribusi secara baik sepanjang tahun.
 Terdapat keperluan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian yang
dapat dicapai melalui irigasi secara layak dilaksanakan baik ditinjau dari segi teknis,
ekonomis maupun sosial.

1.3. KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN IRIGASI

Pada umumnya proyek-proyek irigasi dilaksanakan dengan tujuan untuk


mendapatkan keuntungan, meskipun akhir-akhir ini kita banyak mendengar apa yang
dinamakan proyek kemanusiaan yang tidak terlalu memperhitungkan keuntungan langsung
yang dapat dinilai dalam bentuk mata uang. Karena disamping keuntungan langsung,
terdapat juga keuntungan tidak langsung antara lain :

 Membantu pengembangan daerah secara umum.


 Meningkatkan daya pengadaan bahan baku.
 Penyediaan lapangan kerja terutama pada waktu pelaksanaan proyek irigasi.
 Meningkatkan nilai tanah milik.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


 Membuka kemungkinan pengusahaan penanaman jenis-jenis tanaman lainnya yang
memberikan hasil cukup besar.
 Membuka peningkatan kebudayaan masyarakat.
 Pelayaran
 Penyediaan sumber air minum atau air bersih.

1.4. KEBURUKAN-KEBURUKAN IRIGASI

Disamping keuntungan-keuntungan yang ditimbulkan, irigasi dapat juga


memberikan akibat yang kurang baik pada daerah bersangkutan, yaitu a.l :

 Iklim menjadi dingin dan lembab, sehingga menimbulkan ganguan pada daerah yang
sebelumnya sudah dingin dan lembab.
 Jaringan irigasi yang perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan kurang baik akan
menimbulkan genangan air yang dapat memberikan kesempatan bagi
perkembangbiakan nyamuk yang dapat menjadi sumber penyakit malaria.
 Irigasi secara berlebihan dapat menimbulkan kejenuhan yang terlalu tinggi pada
tanah, yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman. Ini terjadi terutama pada
daerah-daerah yang drainasenya kurang baik.

1.5. TUJUAN IRIGASI

Tujuan irigasi secara langsung maupun tidak langsung untuk pertanian adalah
sebagai berikut :

 Membasahi tanah
Dengan pembasahan tanah dimaksudkan agar :

 Tanah menjadi lunak sehingga mudah diolah.

 Zat-zat makanan dalam tanah yang diperlukan tanaman dapat larut sehingga mudah
diserap oleh akar tanaman.

 Mencukupi lengas lapang dari tanah agar tetap dalam prosentase yang diperlukan
tanaman untuk tumbuh terutama pada musim kering.

 Merabuk atau menambah kesuburan tanah


 Mengatur suhu tanah
 Memberantas hama
 Membersihkan tanah
 Mempertinggi muka air tanah
 Kolmatasi, yaitu peninggian muka tanah denga mengendapkan lumpur dari air irigasi
sehingga dengan demikian diperoleh suatu lapisan permukaan tanah yang subur.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.6. TINGKAT-TINGKAT JARINGAN IRIGASI

Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran aliran air dan lengkapnya fasilitas,


jaringan irigasi dapat dibedakan dalam 3 tingkatan yaitu :

1. jaringan irigasi sederhana


2. jaringan irigasi semi teknis
3. jaringan irigasi teknis
Dalam konteks standarisasi ini, hanya jaringan irigasi teknis saja yang ditinjau.
Bentuk irigasi yang lebih maju ini cocok dipraktikkan disebagian proyek irigasi di
Indonesia.

Dalam suatu jaringan irigasi dapat dibedakan adanya 4 unsur fungsional pokok, yaitu :
 Bangunan – bangunan utama dimana air diambil dari sumbernya, umumnya dari sungai
atau waduk.

 Jaringan pembawa berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak-petak tersier.

 Petak-petak tersier dengan sistem pembagian air dan sistem pembuangan kolektif, air
irigasi dibagi-bagi dan dialirkan ke sawah-sawah dan kelebihan air ditampung di dalam
suatu sistem pembuangan di dalam petak tersier.

 Sistem pembuangan yang ada di luar daerah irigasi untuk membuang kelebihan air ke
sungai atau saluran-saluran alamiah.

Ad. 1. Jaringan Irigasi Sederhana

Di dalam proyek-proyek sederhana, pembagian air tidak diukur atau diatur, air
kelebihan akan mengalir ke selokan pembuang. Para pemakai air tergabung dalam suatu
kelompok sosial yang sama dan tidak diperlukan keterlibatan pemerintah dalam organisasi
jaringan irigasi semacam ini.

Persediaan air biasanya melimpah dan kemiringan berkisar antara sedang sampai
curam. Oleh karena itu hampir tidak diperlukan teknik yang sulit untuk pembagian air.
Jaringan irigasi yang masih sederhana ini mudah diorganisir tapi memiliki kelemahan yang
serius.

Pertama-tama ada pemborosan air, dan karena pada umumnya jaringan irigasi itu
terletak di daerah yang tinggi, air yang terbuang tidak selalu dapat mencapai daerah
rendah yang subur.

Kedua, terdapat banyak penyadapan yang memerlukan banyak biaya dari


penduduk karena setiap desa membuat jaringan dan pengambilan sendiri-sendiri. Karena

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


bangunan pengelaknnya bukan bangunan tetap atau permanen, maka umurnya mungkin
pendek.

Ad. 2. Jaringan irigasi Semi - Teknis

Dalam kebanyakan hal, perbedaan satu-satunya antara jaringan irigasi sederhana


dengan jaringan irigasi semi-teknis ialah bahwa yang belakangan ini bendungnya terletak
di tepi sungai lengkap dengan pengambilan dan bangunan pengukur dibagian hilirnya.

Mungkin juga dibangun beberapa bangunan permanen dijaringan saluran. Sistem


pembagian air biasanya serupa dengan jaringan sederhana. Adalah mungkin bahwa
pengaliran dipakai untuk melayani daerah yang lebih luas dari pada daerah layanan
jaringan sederhana. Oleh karena itu biayanya ditanggung oleh lebih banyak daerah
layanan. Organisasinya lebih rumit dan jika bangunan tetapnya berupa pengambilan dari
sungai, maka diperlukan lebih banyak keterlibatan dari pemerintah, dalan hal ini
Departemen Pekerjaan Umum.

Ad. 3. Jaringan Irigasi Teknis

Salah satu prinsip dalam perencanaan jaringan irigasi teknis adalah pemisahan
antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang. Hal ini berarti bahwa baik saluran irigasi
maupun saluran pembuang bekerja tetap sesuai dengan fungsinya masing-masing, dari
pangkal hingga ujung. Saluran air irigasi mengalirkan air lebih dari sawah-sawah ke
selokan-selokan pembuang alamiah yang kemudian akan membuangnya ke laut.

Petak tersier menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Sebuah
petak tersier terdiri dari sejumlah sawah dengan luas keseluruhannya berkisar antara 50
– 100 ha, kadang-kadang sampai 150 ha. Petak tersier menerima air dari suatu tempat
dalam jumlah yang sudah diukur dari suatu jaringan pembawa yang diatur oleh Dinas
Pengairan. Pembagian air dalam petak tersier diserahkan kepada petani. Jaringan saluran
tersier dan kuarter mengalirkan air ke sawah. Kelebihan air ditampung dalam suatu
jaringan pembuang tersier dan kuarter selanjutnya dialirkan ke saluran pembuang primer.

Jaringan irigasi teknis yang didasarkan pada prinsip di atas adalah cara
pembagian air yang paling efisien dengan mempertimbangkan waktu merosotnya
persediaan air serta kebutuhan-kebutuhan pertanian.

Jaringan irigasi teknis memungkinkan dilakukannya pengukuran aliran, pembagian


air irigasi dan pembuangan air lebih secara efisien. Jika petak tersier hanya memperoleh
air pada salah satu tempat saja pada jaringan utama, hal ini akan memerlukan jumlah

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


bangunan yang lebih sedikit di saluran primer, ekploitasi yang lebih baik dan
pemeliharaan yang lebih murah debandingkan dengan apabila settiap petani dizinkan
untuk mengambil sendiri air dari jaringan pembawa.

Kesalahan dalam pengelolaan air di petak-petak tersier juga tidak akan


mempengaruhi pembagian air di jaringan utama. Dalam hal ini khusus dibuat sistem
gabungan ( fungsi saluran irigasi dan pembuang digabung ). Walaupun jaringan ini memiliki
keuntungan-keuntungan tersendiri, kelemahannya juga amat serius sehingga sistem ini
umumnya tidak akan diterapkan. Keuntungan yang dapat diperoleh dari jaringan ini adalah
pemanfaatan air yang lebih ekonomis dan biaya pembuatan saluran lebih rendah, karena
saluran pembawa dapat dibuat lebih pendek dengan kapasitas yang lebih kecil.

Kelemahannya adalah jaringan jaringan semacam ini sulit diatur dan dieksploitasi,
lebih cepat rusak dan menampakkan pembagian air yang tidak merata. Bangunan-bangunan
tertentu di dalam jaringan tersebut akan memiliki sifat-sifat seperti bendung dan
relatif mahal.

1.7. PETA PETAK

Pada peta irigasi terlebih dahulu dibuat peta petak yang merupakan dasar untuk
menentukan ukuran berbagai pekerjaan yang diperlukan. Dari petak terlihat seluruh
daerah yang akan dialiri, batas dan luasan petak, petak sekunder, tersier dan saluran
pembuang. Lokasi pengambilan air pada irigasi, baik berupa bangunan bebas maupun
bangunan bendung juga terlihat.

Dalam perencanaan jaringan, saluran pembawa harus diletakkan pada daerah


tinggi, dapat merupakan saluran garis tinggi atau saluran garis punggung sedangkan
saluran pembuang berada di lembah-lembah.

Pada pembuatan peta petak digunakan peta mozaik sebagai peta situasi dan peta
garis tinggi (contour) dengan skala 1 : 5000 dimana lukisan garis tinggi atau trances yang
birinterval 0,5 m.

Setelah peta tersebut dipelajari dengan seksama dan telah mendapatkan kesan
dan formasi kemiringan lapangan maka dapat diambil ketentuan tanah tinggi yang akan
dialiri dan tempat pengambilan di sungai. Bila bangunan pengambilan di sungai merupakan
bangunan bebas (free intake) maka perlu dicarikan tempat dimana aliran sungai tidak
berpindah. Sedangkan apabila bangunan pengambilan dilengkapi dengan bendung, maka
harus dicari lokasi yang agak lurus lalu tentukan ketinggian salauran induk di hilir
bangunan pengambilan.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.8. SALURAN

Pada jaringan irigasi, saluran pembawa dapat dibagi :

 Saluran induk (primer)


Adalah saluran yang dimulai dari pintu pemasukan atau pengambilan bebas sampai ke
bangunan bagi.

 Saluran sekunder
Adalah saluran yang mengairi satu atau lebih petak tersier dan menerima air dari
saluran induk atau saluran tersier sebulumnya.

 Saluran tersier
Adalah saluran yang mengairi satu petak tersier dan menerima air dari saluran
sekunder. Luas petak tersier 50 – 150 ha.

 Saluran kuarter
Adalah saluran yang mengairi satu petak sawah dan menerima air dari saluran
tersier. Luas petak kuarter 8 – 15 ha.

 Saluran pembuang
Adalah saluran yang dipakai untuk membuang air yang telah dipakai pada petak-petak
petani dan mengaliri daerah garis tinggi atau tegak lurus di atasnya dan terletak
pada daerah rendah atau lembah-lembah.

1.9. BANGUNAN-BANGUNAN YANG ADA

Pada jaringan irigasi juga terdapat beberapa bangunan, yang terdiri atas :

 Bangunan bagi
Adalah bangunan yang membagi air dari saluran induk maupun sekunder sesuai
jumlah air yang dibutuhkan dalam setiap petak sekunder.

 Bangunan bagi sadap


Adalah bangunan yang membagi air dari saluran-saluran sekunder dan saluran
induk, dimana terdapat bangunan sadap untuk satu atau lebih petak tersier.

 Bangunan sadap
Adalah bangunan yang membagi air dari saluran sekunder ke saluran tersier sesuai
jumlah air yang dibutuhkan.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.10. SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM PERENCANAAN

1.10.1.Saluran Kuarter :

 Petak kuarter mendapat air dari box tersier melalui saluran kuarter dengan syarat :

Panjang saluran kuarter < 500 m

Panjang antara saluran kuarter ke saluran pembuang < 350 m

 Petak tersier harus mendapat air hanya dari satu bangunan sadap ke saluran induk
maupun sekunder.

1.10.2.Petak Tersier

 Harus sedapat mungkin kelihatan bebas dan jarak sawah yang terjauh dari
bangunan sadap 3 km, agar dapat memudahkan dalam pembagian air.

 Luas petak tersier tergantung dari bentuk lapangan yang berkisar 50 – 150 ha.

 Batas-batas petak tersier sedapat mungkin nyata kelihatan, misalnya ditentukan


menurut :

Jalan raya / jalan desa

Saluran induk / saluran sekunder

Saluran pembawa / saluran pembuang

Batas kabupaten / kecamatan / desa

Sungai

1.11. PERHITUNGAN LUAS PETAK

Untuk menghitung luas petak dengan tepat, biasanya digunakan alat plannimeter.
Namun dengan cara pendekatan, petak sawah dapat dibagi atas bentuk segitiga,
trapesium, empat persegi panjang dan sebagainya, kemudian dikali dengan skala pada
peta, maka luas sesungguhnya diperoleh.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.12. PEMBERIAN NAMA PADA PETA IRIGASI

1.12.1.Sistem supply

Saluran-saluran dan bangunan-bangunan dalam suatu jaringan irigasi diberi nama,


dan pemberian nama tersebut dengan prinsip bahwa nama-nama harus logis sederhana
tapi mampu memberikan gambaran cukup jelas mengenai daerah irigasi yang
bersangkutan. Nama harus cukup pendek dan memberikan petunjuk terhadap letak
bangunan, saluran pemberi, saluran drainase maupun patak-petak sawah dalam suatu
daerah irigasi.

Pemberian nama perlu memperhatikan kemungkinan adanya tambahan bangunan-


bangunan dikemudian hari, sehingga dengan adanya bangunan-bangunan baru tersebut
sistem pemberian nama yang telah dilaksanakan tidak perlu diubah. Salah satu contoh
sistem pemberian nama adalah sebagai berikut :

 Saluran Primer diberi nama menurut nama sungai tempat mengambil air, tetapi
juga diberi nama dengan cara lain misalnya menurut nama daerah yang dilayani.
Misalnya suatu saluran primer mengambil air dari sungai Antara dan melayani
daerah Kampung Paria, saluran dapat diberi nama saluran Antara, juga dapat
diberi nama saluran Kampung Paria.
 Saluran Sekunder diberi nama menurut nama desa yang dekat dengan permulaan
saluran. Misalnya saluran sekunder Paria, berarti saluran sekunder tersebut
permulaannya dekat desa Paria.
 Suatu saluran dibagi menjadi bagian-bagian atau ruas-ruas. Misal suatu ruas
mempunyai nama Rs2 berarti ruas itu terletak antara Bs1 dengan Bs2.
 Bangunan pembagi diberi nama seperti pemberian nama pada suatu ruas, tapi
huruf R yang artinya ruas, diganti dengan huruf B yang berarti bangunan.
Dalam hal ini bangunan pembagi. Misalnya Bs1 berarti bangunan pembagi pada
akhir ruas Rs1.
 Nama bangunan-bangunan antara bangunan pembagi diberi nama sesuai nama
bangunan pembagi di sebelah hilirnya, kemudian ditanbah huruf kecil berturut-
turut dari hulu ke arah hilir. Misalnya Bs1a ; Bs1b ; Bs1c ; dan seterusnya.
 Saluran tersier diberi nama menurut bangunan bagi dimana saluran tersier itu
menerima air, dan huruf B yang berarti bangunan dihilangkan dan diberi
tambahan indikasi yang memperjelas posisi saluran. Misal untuk menunjuk arah
kanan diberi indikasi ka, tengah ta, kiri ki. Sebagai contoh adalah saluran tersier
s2ka (arah aliran pada saluran tersier itu menerima air dari Bs 2 dan arah aliran
pada saluran tersier itu ke sebelah sisi kanan saluran besar pada Bs 2.

 Nama suatu unit tersier misalnya :

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


B1Ki

A Q

50,000 0,1234

artinya adalah :

 unit tersier ini dilayani saluran tersier siki


 luas unit tersier adalah 90 ha
 kebutuhan air pada saat rendaman penuh 120 l/dt

1.12.2.Saluran Pembuang

Saluran pembuang pada umumnya berupa sungai atau anak sungai yang lebih kecil.
Beberapa diantaranya sudah mempunyai nama yang tetap bisa dipakai, jika tidak
sungai/anak sungai tersebut akan ditunjukkan dengan sebuah huruf bersama-sama
dengan nomor seri. Nama-nama ini akan diawali dengan huruf d (d=drainase).

1.13. RUMUS-RUMUS YANG DIGUNAKAN

1.13.1.Debit Rencana

Berdasarkan luas petak-petak yang akan dialiri, maka debit rencana sebuah
saluran dapat dihitung dengan rumus :

A × NFR×c
Q= e (sumber : Kp 03, hal 4)

dimana :

Q = debit rencana (m3/dt)

c = koefisien lengkung kapasitas tegal / rotasi

= 1 untuk l < 10.000 ha

A = luas daerah yang akan diairi (ha)

e = efisieinsi

= 0,8 untuk saluran tersier dan 0,9 untuk saluran primer dan sekunder

NFR = kebutuhan air normal / netto untuk tanaman padi

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


= 1,2 – 1,5 l/dt/ha

= 1 mm/hr = 1/8,64 l/dt/hr

1.13.2.Koefisien kekasaran strickler


Tabel 1.1
Debit rencana K
Harga- harga
m3/dtk m /dtk
1/3

Q > 10 45
5 < Q < 10 42,5

1<Q<5 40

Q<1 dan saluran tersier 35

kekasaran strickler untuk saluran irigasi tanah Sumber : Kp-03, hal 18

1.13.3.Dimensi Saluran

Pada perhitungan dimensi saluran digunakan rumus Harring Huizen :

V = 0,42 (Q)0,182 (m/dt)

h’ = 0,775 (Q)0,284 (m)

n = 3,96 (Q)0,25 - m (m)

b = n * h’

Kontrol h’ akibat pembulatan b ;

A =Q/V

A = (b + m.h)h

P =
b+(2h×√ 1+m2 )
A
R = P (m)

w = 0,25h + 0,3 (m)

T = b + 2 mh (m)

2
V
I =
[ ]
k . R2/3

Dimana :

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


A = luas penampang saluran (m2)

h = tinggi muka air pada saluran (m)

m = kemiringan talud

n = perbandingan b dengan h

w = tinggi jagaan (m)

Q = debit aliran (m3/dt)

1.13.4.Kapasitas Saluran Pembuang

Kapasitas rencana jaringan pembuang intern untuk sawah dihitung dengan rumus :

Q = 1,62 * Dm* A0,92

Dimana :

Q = debit saluran pembuang rencana (m3/dt)

Dm = modulus pembuang (m3/dt*ha)

A = luas (ha)

Untuk modulus pembuang rencana (Dm), dipilih curah hujan 3 hari dengan periode
ulang 5 tahun, dengan rumus :

Dm = D(n) / (n.8,69)

Dimana :

Dm = madulus pembuang rencana

D(n) = limpasan pembuang permukaan selama n hari

n = jumlah hari berturut-turut

Limpasan pembuang permukaan untuk petak D(n) dinyatakan dengan rumus:

D(n) = R(n)T + n(I-ET-P)-S

Dimana :

R(n)T = curah hujan dalan n hari berturut-turut dengan periode ulang T tahun
(mm)

I = pemberian air irigasi (mm/hari)

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


ET = evapotranspirasi (mm/hari)

P = perkolasi (mm/hari)

S = tampungan tambahan (mm)

1.13.5.Tinggi Muka Air

Tinggi muka air yang diperlukan dalam jaringan utama didasarkan pada tinggi
muka air yang diperlukan oleh awah yang akan diairi. Prosedurnya adalah menghitung
tinggi muka air yang diperlukan dibangunan sadap yang mengairi petak tersier. Ketinggian
ini ditambah lagi dengan kehilangan tinggi energi bangunan sadap tersier lantaran variasi
muka air akibat eksploitasi jaringan utama pada ketinggian muka air partial.

P =A+a+b+c+d+e+f+g+H+z

Dimana :

P = muka air di saluran sekunder atau primer

A = elevasi tertinggi di sawah

a = lapisan/genangan air di sawah (= 10 cm)

b = kehilangan tinggi energi di saluran kuarter ke sawah

(= 5 cm)

c = kehilangan energi di box kuarter (= 5 cm/box)

d = kehilangan energi selama pengaliran di saluran irigasi

(kemiringan x panjang saluran = I x L)

e = kehilangan tinggi energi di box bagi tersier (= 10 cm)

f = kehilangan tinggi energi di bangunan pelengkap

g = kehilangan tinggi energi di bangunan bagi sadap

H = variasi tinggi muka air (=0,18h)

z = kehilangnan energi di bangunan tersier yang lain

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.14. TATA WARNA PETA JARINGAN IRIGASI

Warna-warna standart digunakan untuk menunjukkan berbagai tampakan irigasi


pada peta. Warna-warna yang dipakai adalah :

 Biru untuk jaringan irigasi, garis penuh untuk jaringan pembawa yang ada, dan
garis putus-putus untuk jaringan yang sedang direncanakan.
 Merah untuk sungai dan jaringan pembuang, garis penuh untuk jaringan yang
sudah ada, garis putus-putus untuk jaringan yang sedang direncanakan.
 Cokelat untuk jaringan jalan.
 Kuning untuk daerah yang tidak diairi, misalnya dataran tinggi atau rawa-
rawa.
 Hijau untuk perbatasan kabupaten, kecamatan, desa dan kampung.
 Merah untuk tata nama bangunan.
 Hitam untuk jalan kereta api.
 Warna bayangan akan dipakai untuk batas-batas petak sekunder, petak
tersier, akan diarsir dengan warna yang lebih muda dari warna yang sama.

1.15. BANGUNAN PENGUKUR DEBIT

Agar pengelolaan air irigasi menjadi efektif, maka debit harus diukur pada hulu
saluran primer, pada cabang saluran dan pada bangunan sadap tersier. Berbagai macam
bangunan dan peralatan telah dikembangkan untuk maksud ini, namun demikian untuk
menyederhanakan pengelolaan jaringan irigasi hanya beberapa jenis bangunan saja yang
dapat dipergunakan daerah irigasi.
Rekomendasi penggunaan bangunan tertentu didasarkan pada beberapa faktor penting,
antara lain :

 Kecocokan bangunan untuk keperluan pengukuran debit.


 Bangunan yang kokoh, sederhana dan ekonokis.
 Rumus debit sederhana dan teliti.
 Eksploitasi dan pembacaan papan duga mudah.
 Pemeliharaan sederhana dan mudah.
 Cocok dengan kondisi setempat dan dapat diterima oleh para petani.

1.15.1.Alat Ukur Ambang Lebar

Alat ukur ambang lebar dianjurkan karena bagunan kokoh dan mudah dibuat.
Karena bisa mempunyai berbagai bentuk mercu, bangunan ini mudah disesuaikan dengan
type saluran apa saja. Hubungan tunggal antara muka air hulu dan debit mempermudah
pembacaan debit secara langsung dari ipapan duga, tanpa memerlukan tabel debit.

1.15.1.1.Perencanaan Hidrolis
Perencanaan debit untuk alat ukur ambang lebar dengan bagian segi empat
adalah:

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


Q = Cd Cv 2/3 (2/3 g)1/2 bc h11,50 (sumber : Kp 04, hal 7)

Dimana :

Q = debit, m3/dt

Cd = koefisien debit

= Cd adalah 0,93 – 0,10 H1/L ; untuk 0,1 < H1/L < 1,0

H1 adalah tinggi energi hulu, m

L adalah panjang mercu, m

Cv = koefisien kecepatan datang

g = percepatan gravitasi, m/dt2

bc = lebar mercu, m

h1 = kedalaman air hulu terhadap ambang bangunan ukur, m

Persamaan debit untuk alat ukur ambang lebar bentuk trapesium adalah:

Q = Cd (bcyc + mc2) [2g ( H1 – yc)0,5] (sumber : Kp-04,hal 8)

Dimana :

bc = lebar mercu pada bagian pengontrol, m

yc = kedalaman air pada bagian pengontrol, m

m = kemiringan samping pada bagian pengontrol

1.15.1.2. Karakteristik Alat Ukur Ambang Lebar


 Asal saja kehilangan energi pada alat ukur cukup untuk menciptakan aliran kritis,
tabel debit dapat dihitung dengan kesalahan kurang dari 2.
 Kehilangan tinggi energi untuk memperoleh aliran moduler (yaitu hubungan khusus
antara tinggi energi hulu dengan mercu sebagai debit) lebih rendah jika dibandingkan
dengan kehilangan tinggi energi untuk semua jenis bangunan yang lain.
 Sudah ada teori hidrolika untuk menghitung kehilangnan tinggi energi yang diperlukan
ini, untuk kombinasi alat ukur dan saluran apa saja.
 Karena peralihan penyempitannya yang bertahap, alat ukur ini mempunyai masalah
sedikit saja dengan benda-benda terhanyut.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


 Pembacaan debit di lapangan mudah, khususnya jika papan duga diberi satuan debit
(misalnya m3/dt).
 Pengamatan lapangan dari laboratorium menunjukkan bahwa alat ukur ini mengangkut
sedimen, bahkan disalurkan dengan aliran subkritis.
 Asalkan mercu datar searah dengan aliran, maka tebal debit pada dimensi purna
laksana demikian juga memungkinkan bagi alat ukur untuk diperbaiki kembali, bila
perlu.
 Bangunan kuat, tidak rusak.
 Di bawah kondisi hidrolik dan batas yang serupa, inilah yang paling ekonomis dari
semua jenis bangunan lain untuk pengukuran debit secara tepat.

1.15.1.3. Kelebihan yang dimiliki alat ukur ambang lebar

 Bentuknya hidrolis luwes dan sederhana


 Konstruksinya kuat, sederhana dan mudah
 Benda-benda hanyut bisa dilewatkan dengan mudah
 Eksploitasi mudah

1.15.1.4. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh alat ukur ambang lebar

 Bangunan ini hanya dapat dipakai sebagai bangunan pengukur


 Agar pengukuran teliti bangunan tidak boleh tenggelam

1.15.1.5. Penggunaan Alat Ukur Ambang Lebar


Alat ukur ambang lebar dan flum leher panjang adalah bangunan –bangunan
pengukur debit yang dipakai di saluran dimana kehilangan tinggi energi merupakan hal
pokok yang menjadi bahan pertimbangan. Bangunan ini biasanya ditempatkan di awal
saluran primer, pada titik cabang saluran besar dan tempat tidur pintu sorong pada titik
masuk tersier.

1.15.2.Alat Ukur Pintu Romijn

Pintu romijn adalah alat ukur ambang lebar yang biasa digerakkan untuk
mengatur dan mengukur debit di dalam jaringan saluran irigasi. Agar dapat bbergerak
mercunya dibuat dari pelat baja dan dipasang di atas pintu sorong. Pintu ini dihubungkan
dengan alat penggerak.

1.15.2.1. Tipe-Tipe Alat Ukur Romijn

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


Sejak pengenalan pada tahun 1952, pintu Romijin telah dibuat dengan tiga bentuk
yaitu :

1. bentuk mercu datar dan lingkaran dengan gabungan untuk peralihan


penyempit hulu.
2. Bentuk mercu miring ke atas 1:25 dan lingkaran tunggal sebagai pengalihan
penyempitan.
3. Bentuk mercu datar dan lingkaran tunggal sebagai peralihan penyempitan.

Ad.1. Mercu Horisontal dan Lingkaran Gabungan


Di pandang dari segi hidrolis, ini merupakan perencanaan yang baik. Tetapi
pembuatan lingkaran gabungan sulit, padahal tanpa lingkaran-linigkaran itu pengarahan air
di atas mercu pintu bisa saja dilakukan tanpa pemisahan aliran.

Ad.2. Mercu dengan Kemiringan 1:25 dan Lingkaran Tunggal


Mercu dengan kemiringan 1:25 dan lingkaran tunggal Vlugter (1941) menganjurkan
penggunaan pintu romijn dengan kemiringan mercu 1:25. Hasil penyelidikan model hidrolis
di laboratorium yang mendasari rekomendasinya itu tidak dapat direproduksi kembali.
Tetapi di dalam program riset terakhir mengenai mercu kemiringan 1:25, kekurangan-
kekurangan mercu ini menjadi jelas, kekurangan-kekurangan tersebut antara lain :
 Bagian pengontrol tidak berada di atas mercu, melainkan di tepi tajam hilirnya,
dimana garis-garis aliran benar-benar melengkung. Kerusakan pada tepi ini
menimbulkan perubahan pada debit alat ukur.
 Karena garis-garis aliran ini, batas moduler menjadi 0,25 bukan 0,67 seperti
anggapan umumnya, pada aliran tenggelam h2 : h1 = 0,67 pengurangan pada aliran
berkisar dari 3 % untuk aliran rendah sampai 10 % untuk aliran tinggi (rencana).
Karena mercu berkemiringan 1 : 25 juga lebih rumit pembuatannya dibandingkan
dengan mercu datar, maka mercu pada kemiringan itu tidak dianjurkan.

Ad. 3. Mercu Horizontal dan Lingkaran Tunggal


Ini adalah kombinasi yang bagus antara dimensi hidrolis yang benar dengan
perencanaan konstruksi. Jika dilaksanakan pintu romijn, maka sangat dianjurkan untuk
menggunakan mercu ini.

1.15.2.2. Perencanaan Hidrolis


Dilihat dari segi hidrolis, pintu romijn dengan mercu horizontal dan peralihan
penyempitan lingkaran tunggal adalah serupa dengan alat ukur ambang lebar yang telah
dibicarakan. Persamaan tinggi debitnya adalah sebagai berikut :
Q = CdCv 2/3(2/3 g)1/2 bc h11,50 (sumber : Kp-04, hal 17)

Dimana :

Q = debit, m3/dt

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


Cd = koefisien debit

Cd adalah 0,93 + 0,1H1/L

H1 adalah tinggi energi hulu, m

L adalah panjang mercu, m

Cv = koefisien kecepatan datang

g = percepatan gravitasi, m/dt2

bc = lebar mercu, m

h1 = kedalaman air hulu terhadap ambang bangun ukur, m

1.15.2.3. Dimensi dan tabel debit standar


Lebar standar untuk alat ukur Romijn adalah 0,50, 0,75, 1,00, 1,25, dan 1,50 m

Tabel 2.1 Besaran debit yang dianjurkan untuk alat ukur Romijn Standar

Lebar, m H1, m Q, m3/dtk

0,50 0,33 0 – 0,160

0,50 0,50 0,030 – 0,300

0,75 0,50 0,040 – 0,450

1,00 0,50 0,050 – 0,600

1,25 0,50 0,070 – 0,750

1,50 0,50 0,080 – 0,900

Sumber : Kp-04, hal 22

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


h1 Standar lebar alat ukur, bc (m)

(m) 0,50 0,75 1,00 1,25 1,50

0,05 0,009 0,014 0,018 0.023 0.027

0,06 0,012 0,018 0,024 0.030 0.036

0,07 0,016 0,023 0,031 0,039 0,047

0,08 0,019 0,029 0,038 0,048 0,057

0,09 0,023 0,034 0,045 0,056 0,068

0,10 0,027 0,040 0,053 0,066 0,080

0,11 0,031 0,046 0,061 0,076 0,092

0,12 0,035 0,053 0,070 0,088 0,105

0,13 0,040 0,059 0,079 0,099 0,119

0,14 0,044 0,066 0,088 0,110 0,132

0,15 0,049 0,074 0,098 0,123 0,147

0,16 0,054 0,081 0,108 0,135 0,162

0,17 0,060 0,089 0,119 0,149 0,179

0,18 0,065 0,098 0,130 0,163 0,195

0,19 0,071 0,106 0,141 0,176 0,212

0,20 0,076 0,114 0,152 0,190 0,228

0,21 0,082 0,123 0,164 0,205 0,246

0,22 0,088 0,132 0,176 0,220 0,264

0,23 0,094 0,141 0,188 0,235 0,282

0,24 0,101 0,151 0,201 0,251 0,302

0,25 0,107 0,161 0,214 0,268 0,321

0,26 0,114 0,170 0,227 0,284 0,341

0,27 0,121 0,181 0,241 0,301 0,362

0,28 0,128 0,191 0,255 0,319 0,383

0,29 0,135 0,202 0,269 0,336 0,404

0,30 0,142 0,212 0,283 0,354 0,425

0,31 0,149 0,224 0,298 0,373 0,447

0,32 0,157 0,235 0,313 0,391 0,470

0,33 RIA ANUGRAH.


0,164 R (031 2017
0,246 0137)
0,328 0,410 0,492

0,35 0,180 0,270 0,360 0,450 0,540


Tabel 2.2 Standar alat ukur gerak Romijn
Sumber : Kp-04, hal 210

1.15.2.4. Papan Duga


Untuk pengukuran debit jarak sederhana, ada tiga papan duga yang harus
dipasang, yaitu :
 Papan duga muka air disalurkan
 Skala sentimeter yang dipasang pada kerangka bangunan
 Skala liter yang ikut bergerak pada meja pintu romijn skala sentimeter dan liter
dipasang pada posisi sedemikian rupa sehingga pada waktu bagian atas meja berada
pada ketinggian yang sama dengan muka air disalurkan (dan oleh karena itu debit di
atas meja nol), titik pada skala liter memberikan pada bacaan skala sentimeter yang
sesuai dengan bacaan muka air pada papan duga disalurkan.

1.15.2.5. Karakteristik Alat Ukur Romijn


 Alat ukur romijn dibuat dengan mercu datar dengan peralihan penyempitan sesuai
dengan gambar terlampir, tabel debitnya sudah ada dengan kesalahan kurang dari 3
%.
 Debit yang masuk dapat diukur dan diatur dengan satu bangunan.
 Kehilangan tinggi energi yang duperlukan untuk aliran moduler adalah di bawah 33%
dari tinggi energi hulu dengan mercu sebagai acuannya yang relatif kecil.
 Karena alat ukur romijn dapat disebut “barambang lebar” maka sudah ada teori
hidrolika untuk merencanakan bangunan tersebut.
 Alat ukur romijn dengan pintu dibawah bisa dieksploitasi dengan orang yang tidak
berwewenang, yaitu melewatkan air yang lebih banyak dari yang dizinkan dengan cara
mengangkat pintu bawah lebih tinggi lagi.

1.15.2.6. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh alat ukur romijn

 Bangunan itu bisa mengukur dan mengatur sekaligus.


 Dapat membilas endapan sedimen halus.
 Kehilangan tinggi energi lebih kecil.
 Ketelitian baik.
 Eksploitasi mudah.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.15.2.7. Kekurangan-kekurangan alat ukur romijn

 Pembuatannya rumit dan mahal.


 Bangunan itu membutuhkan muka air yang tinggi saluran.
 Biaya pemeliharaan bangunan itu lebih mahal.
 Bangunan itu dapat disalahkan dengan cara membuka pintu bawah.
 Bangunan itu peka terhadap fluktuasi muka air saluran pengarahan.

1.15.3.Alat Ukur Crump de Gruyter

Alat ukur ini menggunakan prinsip hidrolika aliran yang melalui bukaan pada bawah
pintu. Bagian bawah pintu dibuat dengan sistem bulat sedemikian rupa sehingga
mengurangi hambatan pada aliran.

1.15.3.1. Perencanaan Hidrolis


Rumus debit untuk alat crump de gruyter adalah :

Q = Cdbw(2g(h1 – w))1/2 (sumber : Kp-04, hal 24)

Dimana : Q = debit, m3/dt

Cd = koefisien debit (=0,94)

b = lebar bukaan, m

w = bukaan pintu, m (w  0,63 h1)

g = percepatan gravitasi, m/dt2

h1 = tinggi air di atas ambang, m

1.15.3.2.Kelebihan-kelebihan alat ukur Crump de Gruyter :

 Bangunan ini dapat mengukur dan mengatur sekaligus


 Bangunan ini tidak mempunyai masalah dengan sedimentasi
 Eksploitasi mudah, pengukuran teliti
 Bangunan kuat

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.15.3.3.Kelemahan- kelamahan alat ukur Crump de Gruyter :

 Pembuatan rumit dan mahal.


 Biaya pemeliharaan mahal
 Kehilangan tinggi energi besar
 Bangunan ini mempunyai masalah dengan benda-benda hanyut

1.15.3.4. Penggunaan alat ukur Crump de Gruyter

Alat ukur crump de gruyter dapat dipakai dengan berhasil jika keadaan muka air
disalurkan selalu mengalami fluktuasi atau jika oriffice harus bekerja pada keadaan muka
air rendah disalurkan. Alat ukur ini mempunyai kehilangan tinggi energi yang lebih besar
dari pada alat ukur romijn. Bila tersedia kehilangan tinggi energi yang memadai,
pemeliharaannya tidak sulit dibandingkan dengan bangunan-bangunan lainnya yang serupa.

1.16. BANGUNAN PENGATUR TINGGI MUKA AIR

Banyak jaringan saluran irigasi dieksploitasi sedemikian rupa sehingga muka air
disaluran primer dan saluran cabang dapat diatur pada batas-batas tertentu oleh
bangunan pengatur yang dapat bergerak. Dalam keadaan eksploitasi demikian, muka air
dalam hubungannya dengan bangunan sadap tersier tetap konstan.

1.16.1. Pintu Skot Balok

Dilihat dari segi konstruksi, pintu scot balk merupakan peralatan yang sederhana.
Balok-balok profil segi empat itu diletakkan tegak lurus terhadap potongan segi empat
saluran.

Balok-balok tersebut disanggah di dalam sponneng yang lebih lebar 0,03m – 0,05m dari
tebal balok-balok itu sendiri.

1.16.1.1. Perencanaan Hidrolis

Aliran pada skot balok dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan tinggi
debit berikut :

Q = CdCv 2/3(2/3 g)1/2b h11,50 (sumber : Kp-04, hal 33)

Dimana : Q = debit, m3/dt

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


Cd = koefisien debit

Cv = koefisien kecepatan datang

g = percepatan gravitasi, m/dt2

b = lebar normal, m

h1 = kedalaman air di atas skot balok, m

1.16.1.2. Kelebihan-Kelebihan Pintu Skot Balk

 Konstruksi ini sederhana dan kuat.


 Biaya pelaksanaan kecil.

1.16.1.3. Kelemahan-Kelemahan Yang Dimiliki Pintu Skot Balk

 Pemasangan dan pemindahan balok memerlukan sedikitnya dua orang dan hanya
menghabiskan waktu.
 Tinggi muka air dapat diaitur selangkah demi selangkah saja, setiap langkah sama
dengan tinggi sebuah balok.
 Ada kemungkinan dicuri orang.
 Skot balk biasanya dioperasikan oleh orang yang tidak berwewenang.
 Karakteristik tinggi debit aliran pada balok belum diketahui secara pasti.

1.16.2. Pintu Sorong

1.16.2.1. Perencanaan Hidrolis

Rumus debit yang dapat dipakai untuk pintu sorong adalah :


Q = Ka b (2g h1)1/2 (sumber : Kp-04, hal 34)

Dimana :

Q = debit, m3/dt

K = faktor aliran tenggelam koefisien debit

ΔH = koefisien debit

a = bukaan pintu, m

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


b = lebar pintu, m

g = percepatan gravitasi, m/dt2

h1 = kedalaman air di depan pintu di atas ambang, m

1.16.2.2. Kelebihan-kelebihan Pintu Sorong

 Tinggi muka air hulu dapat dikontrol dengan tepat.


 Pintu bilas kuat dan sedehana.
 Sedimen yang diiangkut oleh aliran hulu dapat melewati bilas.

1.16.2.3. Kelemahan-kelemahan Pintu Sorong

 Kebanyakan benda-benda hanyut bisa tersangkut di pintu.


 Kecepatan aliran dan muka air hulu dapat dikontrol dengan baiik jika aliran moduler.

1.16.3. Penggunaan Bangunan Pengatur Tinggi Muka Air

Pintu scot balk dan pintu sorong adalah bangunan-bangunan yang cocok untuk
mengatur tinggi muka air disalurkan. Pintu harganya mahal tapi bisa lebih ekonomis
karena ketelitian berfungsinya bangunan ini.

Kelebihan lain adalah bahwa pintu lebih mudah dieksploitasi, mengontrol muka air lebih
baik dan dapat dikunci di tempat agar setelannya tidak dirubah oleh orang-orang yang
tidak berwewenang. Kelebihan utama yang dimiliki oleh pintu sorong pintu ini kurang peka
terhadap perubahan-perubahan tinggi muka air dan jika dipakai bersama-sama dengan
bangunan-bangunan pelimpah, bangunan ini memiliki kepekaan yang sama terhadap
perubahan muka air. Jika dikombinasikan demikian, bangunan ini sering memerlukan
penyesuaian. Sebagai bangunan pengatur, tipe bangunan ini dianjurkan pemakaiannya dan
eksploitasinya mudah, walaupun punya kelemahan-kelemahan seperti yang disebutkan
tadi.

Bangunan pengontrol ini dibutuhkan ditempat-tempat dimana tinggi muka air saluran
dipengaruhi oleh bangunan terjun atau got miring. Bangunan pengontrol, misalnya mercu
tetap atau celah trapesium, akan mencegah naik turunnya tinggi muka air disalurkan
untuk berbagai besaran debit. Bangunan pengontrol tidak memberikan kemungkinan
untuk mengatur muka air lepas dari debit. Penggunaan celah trapesium lebih disukai
apabila pintu sadap tidak akan dikombinasi dengan pintu pengontrol. Jika bangunan sadap
akan dikombinasi dengan pengontrol, maka bangunan pengatur tetap lebih disukai, karena
dinding vertikal bangunan ini dapat dengan mudah dikombinasi dengan pintu sadap.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.17. BANGUNAN BAGI DAN SADAP

1.17.1.Bangunan Bagi
Apabila air irigasi dibagi dari saluran primer, sekunder, maka akan dibuat
bangunan bagi. Bangunan bagi terdiri dari pintu-pintu yang dengan teliti mengukur dan
mengatur muka air yang mengalir ke berbagai saluran. Salah satu dari pintu-pintu
bangunan bagi berfungsi sebagai pintu pengatur muka air, sedangkan pintu-pintu sadap
lainnya hanya mengukur debit.
Adalah biasa untuk memasang pintu pengatur disalurkan terbesar dan membuat alat-alat
pengukur dan pengatur di bangunan-bangunan sadap yan lebih kecil.

1.17.2.Bangunan Pengatur
Bangunan pengatur akan mengatur muka air saluran ditempat-tempat dimana
terletak bangunan sadap dan bagi.
Khususnya di saluran-saluran yang kelihatan tinggi energinya harus kecil, bangunan
pengatur harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak banyak rintangan sewaktu
terjadi debit rencana. Misalnya pintu sorong harus dapat diangkat sepenuhnya dari dalam
air selama tejadi debit rencana, kehilangan energi harus kecil pada pintu scot balk jika
semua balok dipindahkan. Disaluran-saluran sekunder dimana kehilangan tinggi energi
tidak merupakan hambatan, bangunan pengatur dapat dirancang tanpa menggunakan
pertimbangan-pertimbangan di atas.

1.17.3.Bangunan Sadap
1.17.3.1. Bangunan Sadap Sekunder

Bangunan sadap sekunder akan memberikan air ke saluran sekunder dan oleh
sebab itu melayani lebih dari satu petak tersier.

Kapasitas bangunan-bangunan sadap ini lebih dari sekitar 0,20 cm/dt. Ada 3 tipe
bangunan yang dapat dipakai untuk bangunan sadap sekunder, yaitu :

 Alat ukur romijn


 Alat ukur Crump de Gruyter
 Pintu aliran bawah dengan alat ukur ambang lebar
Tipe mana yang akan dipilih berdasarkan pada ukuran saluran sekunder yang akan
diberi air serta besarnya kehilangan tinggi ienergiyang diizinkan.

Kehilangan tinggi energi untuk kehilangan tinggi energi kecil alat ukur romijn
dapat dipakai hingga debit sebesar 2 m3/dt. Untuk debit-debit yang lebih besar, harus
pintu sorong yang dilengkapi dengan alat ukur yang terpisah, yakni alat ukur ambang
lebar. Bila tersedia kehilangan tinggi energi yang memadai, maka alat ukur Crump de
Gruyter merupakan bangunan yang bagus. Bangunan ini dapat dirancang dengan pintu
tunggal atau banyak pintu debit sampai sebesar 0,9 m3/dt setiap pintu.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


1.17.3.2. Banguanan Sadap Tersier

Bangunan sadap tersier akan memberi air pada petak-petak tersier. Kapasitas
bangunan sadap ini berkisar antara 50 L/dt sampai dengan 250 L/dt. Bangunan sadap
yang paling cocok adalah alat ukur romijn, jika muka air hulu diatur dengan bangunan
pengatur dan jika kehilangan tinggi energi tidak menjadi masalah. Bila kehilangan tinggi
energi tidak menjadi masalah dan muka air banyak mengalami fluktuasi, maka dapat
dipilih alat ukur Crump de Gruyter.

Di saluran irigasi yang harus tetap memberikan air selama debit sangat rendah,
alat ukur Crump de Gruyter lebih cocok karena elevasi pengambilannya lebih rendah dari
pada elevasi pengambilan pintu romijn.

Sebagai saluran umum, pemakaian beberapa tipe bangunan sadap tersier


sekaligus di suatu daerah irigasi tidak disarankan penggunaannya satu tipe bangunan akan
lebih mempermudah eksploitasi.

1.18. BANGUNAN PELENGKAP

1.18.1.Bangunan terjun

Bangunan terjun atau got miring diperlukan jika kemiringan maksimum telah lebih
curam dari kemiringan maksimum saluran yang diizinkan. Bangunan semacam ini
mempunyai empat bagian fungsional yang masing-masing memiliki sifat perencanaan yang
khas.

 Bangunan hulu pengontrol, yaitu bagian dimana aluran menjadi superkritis.


 Bagian dimana air dialirkan ke elevasi yang lebih rendah.
 Bagian tepat di sebelah hilir potongan U yaitu tempat dimana energi diredam.
 Bagian peralihan saluran memerlukan lindungan untuk mencegah erosi.

Perencanaan hidrolis bangunan dipengaruhi oleh besaran-besaran berikut :

H1 = tinggi energi di muka ambang (m)

H = perubahan tinggi energi hilir pada kolam olak (m)

q = debit persatuan lebar ambang (m/det)

g = percepatan gravitasi (m/det2)

n = tinggi ambang pada ujung kolam olak (m)

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


Besaran-besaran ini dapat digabung untuk membuat perkiraan awal tinggi
bangunan terjun.

Z = ( H + Hd ) – H1

Untuk perkiraan awal Hd, boleh diandaikan bahwa :

Hd = 1,67 H1

Kemudian kecepatan aliran pada potongan U dapat diperkirakan dengan:

Vu = 2.g.Z

Dan selanjutnya :

Yu = q / Vu

Aliran pada potongan U kemudian dapat dibedakan sifatnya dengan bilangan


Froude tak berdimensi :

Fru = Vu / 2.g.Z

Catatan :

 Bila perubahan tinggi energi di atas bangunan < 1,50 m, digunakan bangunan
terjun tegak.
 Bila perubahan tinggi energi ( tinggi jatuh ) > 1,50 m, digunakan bangunan
terrjun miring.
 Untuk Fru < 1.7 ; tidak diperlukan kolam olak.
 Bila 1,7 < Fru < 2,5 ; digunakan terjunan dengan ambang ujung.
 Bila 2,5 < Fru < 4,5 ; digunakan kolam USBR tipe III, kolam Vlugter atau kolam
dengan ambang ujung.

1.18.2.Siphon

Shipon adalah bangunan yang membawa air melewati bawah saluran (biasanya
pembuang) atau jalan. Pada shipon air mengalir karena tekanan. Perencanaan hidrolis
shipon harus mempertimbangkan kecepatan aliran, kehilangan pada peralihan masuk,
kehilangan karena gesekan, kehilangan pada bagian siku shipon, serta kehilangan pada
peralihan keluar. Diameter minimum shipon adalah 0,60 m, untuk memungkinkan
pembersihan dan inspeksi. Disaluran-saluran yang lebih besar, shipon dibuat dengan pipa
rangkap (double barrels) guna menghindari kehilangan yang besar didalam shipon, jika

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


bengunan itu tidak mengalirkan air pada debit rencana. Pipa rangkap juga menguntungkan
dari segi pemeliharaan dan mengurangi biaya pelaksanaan pembangunan. Shipon yang
panjangnya lebih dari 100 m harus dipasang dengan lubang periksa ( man hole) dan pintu
pembuang, jika situasi memungkinkan khususnya untuk jembatan shipon.

Kecepatan aliran

Untuk mencegah sedimentasi, kecepatan aliran dalam shipon harus tinggi. Tetapi
kecepatan yang tinggi menyebabkan bertambahnya kehilangan tinggi energi. Oleh sebab
itu keseimbangan antara kecepata aliran dan kehilangan tinggi energi yang diijinkan harus
tetap terjaga. Kecepatan aliran dalam shipon harus dua kali lebih tinggi dari kecepatan
normal aliran dalam saluran. Kecepatan yang dianjurkan adalah 1,5 – 3,0 m/det

1.18.3.Talang dan Flume

Talang adalah saluran buatan yang dibuat dari pasangan beton, baja atau kayu.
Didalamnya air mengalir dengan permukaan yang bebas, dibuat melintasi lembah, saluran
pembuang, saluran irigasi, sungai, dsb.

Potongan melintang

Potongan melintang bangunan tersebut ditentukan ole nilai banding b/h, dimana b
adalah lebar bangunan dan h adalah kedalaman air. Nilai-nilai banding berkisar antara 1 –
3 yang menghasilkan potongan melintang hidrolis yang ekonomis.

Kemiringan melintang

Kecepatan dalam bangunan lebih tinggi daripada kecepatan di potongan saluran


biasa, tetapi kemiringan dan kecepatan dipilih sedemikian rupa sehingga tidak akan
terjadi kecepatan superkritis, karena aliran cenderung sangat tidak stabil. Untuk itu nilai
banding potongan melintang diatas memberikan kemiringan maksimum (i)=0,002.

Tinggi jagaan

Untuk talang yang melintas sungai atau pembuang harus dipakai harga-harga
ruang bebas berikut :

 Pembuang intern : Q5 + 0,50 m


 Pembuang ekstern: Q25 + 1,00 m

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)


 Sungai : Q25 + ruang bebas bergantung keputusan perencana, tetapi tidak
kurang dari 1,50 m.

RIA ANUGRAH. R (031 2017 0137)