Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PERKEMBANGAN KEHIDUPAN POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA PADA


AWAL KEMERDEKAAN SAMPAI MASA DEMOKRASI LIBERAL

ADI WILLSEN

XII IPS 5

SMA NEGERI 1 JONGGO

TAHUN 2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat-NYA,
sehingga makalah mengenai Perkembangan Kehidupan Politik dan Ekonomi Indonesia Pada
awal Kemerdekaan sampai Masa Demokrasi Liberal ini dapat terselesaikan. Makalah ini
disusun berdasarkan kerja keras kami yang ditempuh selama beberapa hari dengan bimbingan
yang diberikan.
Kami menyadari amatlah terbatas pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki untuk
menciptakan karya tanpa cela. Tentulah masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu segala
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat kami harapkan, hargai dan
akan diterima dengan kerendahan hati, agar menjadi koreksi pada kami, sehingga kelak kami
mampu menghasilkan sebuah karya yang jauh lebih baik dan penulis berharap semoga makalah
mengenai Perkembangan Kehidupan Politik dan Ekonomi Indonesia Pada awal Kemerdekaan
sampai Masa Demokrasi Liberal ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jonggol, 27 Agustus 2020

2
BAB 1
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pada masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia menerapkan berbagai macam sistem
pemerintahan dan yang paling mengemuka adalah sistem demokrasi liberal dan demokrasi
terpimpin. Indonesia memasuki masa demokrasi liberal pada awal pengakuan kedaulatan, masa
ini berlaku antara tahun 1950-1959. Masa demokrasi liberal atau parlementer ditandai dengan
tumbuh suburnya partai politik dan berlakunya kabinet parlementer. Prestasi politik dan
kemelut politik merupakan hal yang terjadi pada masa demokrasi liberal. Prestasi politik berupa
pemberlakuan sistem multipartai dan penyelenggaraan pemilu yang demokratis. Kemelut
politik berupa kabinet yang silih berganti dan perdebatan berkepanjangan dalam konstituante.
Perjalanan sejarah Indonesia pada masa demokrasi liberal diwarnai oleh pemerintahan
dengan tujuh masa kebinet yang berbeda. Sistem pemerintahan pada masa demokrasi liberal
menetapkan bahwa kabinet-kabinet ini bertanggung jawab secara langsung kepada parlemen.
Kondisi Indonesia di masa demokrasi liberal sangatlah rentan karena dalam kurun
pemerintahan ketujuh kabinet tersebut, kinerja kabinet sering mengalami deadlock dan
ditentang oleh parlemen. Hal tersebut terjadi karena adanya kelompok oposisi yang kuat
sehingga mengakibatkan timbulnya konflik kepentingan dalam proses perumusan dan
pembuatan kebijakan negara.
Demokrasi liberal mewariskan ketidakstabilan politik yang cukup parah dan
membuahkan berbagai pergolakan serta pemberontakan dalam negeri yang mengancam
persatuan bangsa. Melihat keadaan tersebut, Presiden Soekarno terdorong untuk menerapkan
sistem pemerintahan yang sentralistis yang berpusat di tangan presiden yang dikenal dengan
Demokrasi Terpimpin ditandai dengan dikeluarkannya dekrit Presiden 5 Juli 1959. Keputusan
tersebut diambil atas pertimbangan menempatkan kesatuan bangsa sebagai yang utama.

3
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Kehidupan Politik dan Ekonomi Pada Masa Demokrasi Liberal


Belanda dan Jepang menjajah Indonesia selama berabad-abad dan telah menguras sumber
daya alam dan sumber daya manusia Indonesia. Hal ini menjadi salah satu penyebab kekacauan
perekonomian di Indonesia pada awal kemerdekaan. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya
kekacauan itu secara garis besar, yaitu:
1. Terjadinya inflasi yang sangat tinggi
Inflasi tersebut dapat terjadi disebabkan oleh:
a. Beredarnya mata uang Jepang di masyarakat dalam jumlah yang tak terkendali (pada
bulan Agustus 1945 mencapai 1,6 Milyar yang beredar di Jawa sedangkan secara umum
uang yang beredar di masyarakat mencapai 4 milyar).
b. Beredarnya mata uang cadangan yang dikeluarkan oleh pasukan Sekutu dari bank-bank
yang berhasil dikuasainya untuk biaya operasi dan gaji pegawai yang jumlahnya
mencapai 2,3 milyar.
c. Repubik Indonesia sendiri belum memiliki mata uang sendiri sehingga pemerintah
tidak dapat menyatakan bahwa mata uang pendudukan Jepang tidak berlaku.
Uang Jepang yang beredar sangat tinggi sedangkan kemampuan ekonomi untuk menyerap
uang tersebut masih sanat rendah. Karena inflasi ini kelompok yang paling menderita adalah
para petani sebab pada masa pendudukan Jepang petani merupakan produsen yang paling
banyak menyimpan mata uang Jepang. Hasil pertanian mereka tidak dapat dijual, sementara
nilai tukar mata uang yang mereka miliki sangat rendah. Pemerintah Indonesia yang baru saja
berdiri tidak mampu mengendalikan dan menghentikan peredaran mata uang Jepang tersebut
sebab Indonesia belum memiliki mata uang baru sebagai penggantinya. Pemerintah
mengeluarkan kebijakan untuk sementara waktu menyatakan ada 3 mata uang yang berlaku di
wilayah Republik Indonesia, yaitu:
a. Mata uang De Javasche Bank.
b. Mata uang pemerintah Hindia-Belanda.
c. Mata uang pendudukan Jepang.
Keadaan tersebut diperparah dengan diberlakukannya uang NICA di daerah yang diduduki
sekutu pada tanggal 6 Maret 1946 oleh Panglima AFNEI yang baru yaitu Letnan Jenderal Sir
Montagu Stopford. Uang NICA ini dimaksudkan untuk menggantikan uang Jepang yang

4
nilainya sudah sangat turun saat itu. Upaya sekutu tersebut merupakan salah satu bentuk
pelangaran kesepakatan yaitu bahwa selama belum ada penyelesaian politik mengenai status
Indonesia, maka tidak ada mata uang baru.
2. Adanya blokade ekonomi dari Belanda
Blokade oleh Belanda ini dilakukan dengan menutup (memblokir) pintu keluar masuk
perdagangan Indonesia terutama melalui jalur laut dan pelabuhan-pelabuhan penting.
Blokade ini dilakukan mulai bulan November 1945. Adapun alasan dari pemerintah
Belanda melakukan blokade ini adalah:
a. Mencegah masuknya senjata dan peralatan militer ke Indonesia.
b. Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing
lainnya;
c. Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh bangsa lain.
Dengan adanya blokade tersebut menyebabkan:
a. Barang-barang ekspor Indonesia terlambat terkirim.
b. Indonesia kekurangan barang-barang import yang sangat dibutuhkan.
c. Untuk menekan Indonesia dengan harapan bisa dikuasai kembali oleh Belanda.
d. Agar terjadi kerusuhan sosial karena rakyat tidak percaya kepada pemerintah Indonesia,
sehingga pemerintah Belanda dapat dengan mudah mengembalikan eksistensinya.
3. Kekosongan kas negara
Hal ini disebabkan karena pajak dan bea masuk sangat berkurang sehingga pendapatan
negara tidak sebanding dengan pengeluaran, pemerintah hanya tergantung pada produksi
dan karena inilah pemerintah RI masih bisa bertahan sekalipun keadaan ekonomi Indonesia
sangat buruk.
Pemerintah RI tidak hanya berdiam diri. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam
mengatasi kekacauan perekonomian meliputi:
1. Untuk mengatasi inflasi yang sangat tinggi di Indonesia, pada Oktober 1946 pemerintah
RI mengeluarkan ORI (Oeang Republik Indonesia) untuk menggantikan uang jepang
dengan ketentuan:
 Seribu rupiah uang jepang = satu rupiah ORI
 Diluar Jawa dan Sumatra seratus rupiah uang jepang = satu rupiah ORI
Dan pada tanggal 1 November 1946 pemerintah secara resmi mendirikan BNI (Bank
Nasional Indonesia) yang bertugas mengatur nilai tukar ORI.

5
2. Untuk mengatasi adanya blokade ekonomi oleh belanda, pemerintah melakukan
beberapa upaya seperti:
a. Usaha yang bersifat politis, yaitu Diplomasi Beras ke India
Pemerintah Indonesia bersedia untuk membantu pemerintah India yang sedang
ditimpa bahaya kelaparan dengan mengirimkan 500.000 ton beras dengan harga sangat
rendah. Pemerintah melakukan hal ini sebab akibat blokade oleh Belanda maka hasil
panen Indonesia yang melimpah tidak dapat dijual keluar negeri sehingga pemerintah
berani memperkirakan bahwa pada pada musim panen 1946 akan diperoleh suplai hasil
panen sebesar 200.000 sampai 400.000 ton. Sebagai imbalannya pemerintah India
bersedia mengirimkan bahan pakaian yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia
pada saat itu. Saat itu Indonesia tidak memikirkan harga karena yang penting adalah
dukungan dari negara lain yang sangat diperlukan dalam perjuangan diplomatik dalam
forum internasional.
Adapun keuntungan politis yang diperoleh Indonesia dengan adanya kerjasama
dengan India ini adalah Indonesia mendapatkan dukungan aktif dari India secara
diplomatik atas perjuangan Indonesia di forum internasional.
b. Mengadakan hubungan dagang langsung dengan luar negeri
Membuka hubungan dagang langsung ke luar negeri dilakukan oleh pihak
pemerintah maupun pihak swasta. Usaha tersebut antara lain : Mengadakan kontak
dagang dengan perusahaan swasta Amerika (Isbrantsen Inc). Tujuan dari kontak ini
adalah membuka jalur diplomatis ke berbagai negara. Dimana usaha tersebut dirintis
oleh BTC (Banking and Trading Corporation) atau Perseroan Bank dan Perdagangan,
suatu badan perdagangan semi-pemerintah yang membantu usaha ekonomi pemerintah,
dipimpin oleh Sumitro Djojohadikusumo dan Ong Eng Die. Hasil transaksi pertama
dari kerjasama tersebut adalah Amerika bersedia membeli barang-barang ekspor
Indonesia seperti gula, karet, teh, dan lain-lain.
Tetapi selanjutnya kapal Amerika yang mengangkut barang pesanan Indonesia
dan akan memuat barang ekspor dari Indonesia dicegat dan seluruh muatannya disita
oleh kapal Angkatan Laut Belanda. Karena blokade Belanda di Jawa terlalu kuat maka
usaha diarahkan untuk menembus blokade ekonomi Belanda di Sumatera dengan tujuan
Malaysia dan Singapura. Usaha tersebut dilakukan sejak 1946 sampai akhir masa
perang kemerdekaan. Pelaksanaan ini dibantu oleh Angkatan laut Indonesia serta
pemerintah daerah penghasil barang-barang ekspor. Karena perairan di Sumatra

6
sangatlah luas, maka pihak Belanda tidak mampu melakukan pengawasan secara ketat.
Hasilnya Indonesia berhasil menyelundupkan karet yang mencapai puluhan ribu ton
dari Sumatera ke luar negeri, terutama ke Singapura. Dan Indonesia berhasil
memperoleh senjata , obat-obatan dan barang-barang lain yang dibutuhkan.
Pemerintah Indonesia pada 1947 membentuk perwakilan resmi di Singapura
yang diberi nama Indonesian Office (Indoff). Secra resmi badan ini merupakan badan
yang memperjuangkan kepentingan politik di luar negeri, namun secara rahasia
berusaha menembus blokade ekonomi Belanda dengan melakukan perdagangan barter.
Diharapkan dengan upaya ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Selain itu juga berperan sebagai perantara dengan pedagang Singapura dengan
mengusahakan pengadaan kapal-kapal yang diperlukan.

3. Untuk mengatasi kekosongan kas negara, pemerintah melakukan pinjaman nasional.


Pemerintah melakukan pinjaman kepada rakyat indonesia, rencananya pemerintah akan
meminjam sebesar Rp1.000.000.000 namun rakyat indonesia sangat antusias dan
berbondong bondong untuk mengumpulkan uang dan diberikan kepada pemerintah
melalui Bank Tabungan Pos dan Rumah Pegadaian, sehingga terkumpul uang sebanyak
Rp5.000.000.000 yang melebihi target awal. Uang tersebut akan dikembalikan dalam
jangka waktu 40 tahun.

Adapun kebijakan yang telah dilakukan pemerintah dalam menghadapi buruknya kondisi
ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan meliputi:
1. Konferensi Ekonomi Februari 1946
Konferensi ini dihadiri oleh para cendekiawan, gubernur, dan pejabat lainnya
yang bertanggungjawab langsung mengenai masalah ekonomi di Jawa, yang dipimpin
oleh Menteri Kemakmuran yaitu Darmawan Mangunkusumo. Tujuan Konferensi ini
adalah untuk memperoleh kesepakatan dalam menanggulangi masalah-masalah
ekonomi yang mendesak, seperti : Masalah produksi dan distribusi makanan. Tercapai
kesepakatan bahwa sistem autarki lokal sebagai kelanjutan dari sistem ekonomi perang
Jepang, secara berangsur-angsur akan dihapuskan dan diganti dengan sistem
desentralisasi. Masalah sandang Disepakati bahwa Badan Pengawasan Makanan
Rakyat diganti dengan Badan Persediaan dan Pembagian Makanan (BPPM) yang
bertujuan untuk mengatasi kesengsaraan rakyat Indonesia. Badan ini dipimpin oleh

7
Sudarsono dibawah pengawasan Kementrian Kemakmuran. BPPM dapat dianggap
sebagai awal dari terbentuknya Badan Urusan Logistik (Bulog).
Sementara itu tujuan dibentuk Bulog (Februari 1946) untuk melarang
pengiriman bahan makanan antar karisidenan Status dan Administrasi perkebunan-
perkebunan. Keputusannya adalah semua perkebunan dikuasai oleh negara dengan
sistem sentralisasi di bawah kementrian Kemakmuran. Sehingga diharapkan
pendapatan negara dapat bertambah secara signifikan dengan nasionalisasi pabrik gula
dan perkebunan tebu. Konferensi kedua di Solo, 6 Mei 1946 membahas mengenai
masalah program ekonomi pemerintah, masalah keuangan negara, pengendalian harga,
distribusi, dan alokasi tenaga manusia.
Wapres Moh. Hatta mengusulkan mengenai rehabilitasi pabrik gula, dimana gula
merupakan bahan ekspor penting sehingga harus dikuasai oleh negara. Untuk
merealisasikan keinginan tersebut maka pada 6 Juni 1946 dibentuk Perusahaan
Perkebunan Negara (PPN).
2. Pinjaman Nasional
Program ini dilaksanakan oleh Menteri Keuangan yaitu Surachman dengan
persetujuan BP-KNIP. Untuk mendukung program tersebut maka dibuat Bank
Tabungan Pos, bank ini berguna untuk penyaluran pinjaman nasional untuk
meningkatkan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada pemerintahan. Selain itu,
pemerintah juga menunjuk rumah gadai untuk memberikan pinjaman kepada
masyarakat dengan jangka waktu pengembalian selama 40 tahun. Tujuannya untuk
mengumpulkan dana masyarakat bagi kepentingan perjuangan, sekaligus untuk
menanamkan kepercayaan rakyat pada pemerintah Indonesia. Rakyat dapat meminjam
jika rakyat mau menyetor uang ke Bank Tabungan Pos dan rumah-rumah pegadaian.
Usaha ini mendapat respon yang besar dari rakyat terbukti dengan besar
pinjaman yang ditawarkan pada bulan Juli 1946 sebesar Rp. 1.000.000.000,00 , pada
tahun pertama berhasil dikumpulkan uang sejumlah Rp. 500.000.000,00. Kesuksesan
yang dicapai menunjukkan besarnya dukungan dan kepercayaan rakyat kepada
Pemerintah Indonesia.
3. Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
Badan ini dibentuk atas usul dari menteri kemakmuran AK. Gani. Badan ini
merupakan badan tetap yang bertugas membuat rencana pembangunan ekonomi untuk
jangka waktu 2 sampai 3 tahun yang akhirnya disepakati Rencana untuk jangka waktu

8
2 sampai 3 tahun yang akhirnya disepakati Rencana Pembangunan Sepuluh Tahun.
Rencana tersebut adalah sebagai berikut:
a. Semua bangunan umum, perkebunan, dan industri yang telah ada sebelum perang
menjadi milik negara, yang baru terlaksana tahun 1957.
b. Bangunan umum vital milik asing dinasionalisasikan dengan pembayaran ganti rugi.
c. Perusahaan milik Jepang akan disita sebagai ganti rugi terhadap Indonesia.
d. Perusahaan modal asing lainnya dikembalikan kepada yang berhak sesudah diadakan
perjanjian Republik Indonesia dengan Belanda.

Badan ini bertujuan untuk menasionalisasikan semua cabang produksi yang


telah ada dengan mengubah ke dalam bentuk badan hukum. Hal ini dilakukan dengan
harapan agar Indonesia dapat menggunakan semua cabang produksi secara maksimal
dan kuat di mata hukum internasional. Pendanaan untuk Rencana Pembangunan ini
terbuka baik bagi pemodal dalam negeri maupun pemodal asing. Inti rencana ini adalah
agar Indonesia membuka diri terhadap penanaman modal asing dan melakukan
pinjaman baik ke dalam maupun ke luar negeri.
Untuk membiayai rencana pembangunan ekonomi tersebut pemerintah
membuka diri terhadap penanaman modal asing, mengerahkan dana masyarakat
melalui pinjaman nasional, melalui tabungan masyarakat, serta melibatkan badan-
badan swasta dalam pembangunan ekonomi. Dan untuk menampung dana tersebut
dibentuk Bank Pembangunan. Perusahaan patungan (merger) diperkenankan berdiri
sementara itu tanah partikelir dihapuskan. Perkembangannya April 1947 badan ini
diperluas menjadi Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang bertugas mempelajari,
mengumpulkan data, dan memberikan saran kepada pemerintah dalam merencanakan
pembangunan ekonomi dan dalam rangka melakukan perundingan dengan pihak
Belanda.
Rencana tersebut belum berhasil dilaksanakan dengan baik karena situasi
politik dan militer yang tidak memungkinkan, yaitu Agresi Militer Belanda I dan
Perjanjian Linggarjati yang menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia yang
memiliki potensi ekonomi jatuh ke tangan Belanda dan yang tersisa sebagian besar
tergolong sebagai daerah miskin dan berpenduduk padat (Sumatera dan Jawa). Hal
tersebut ditambah dengan adanya Pemberontakan PKI dan Agresi militer Belanda II
yang mengakibatkan kesulitan ekonomi semakin memuncak.
4. Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948

9
Program ini bertujuan untuk mengurangi beban negara dalam bidang ekonomi,
selain meningkatkan efisiensi. Rasionalisasi meliputi penyempurnaan administrasi
negara, angkatan perang, dan aparat ekonomi. Sejumlah angkatan perang dikurangi
secara drastis untuk mengurangi beban negara di bidang ekonomi dan meningkatkan
effisiensi angkatan perang dengan menyalurkan para bekas prajurit pada bidang-bidang
produktif dan diurus oleh kementrian Pembangunan dan Pemuda. Rasionalisasi yang
diusulkan oleh Mohammad Hatta diikuti dengan intensifikasi pertanian, penanaman
bibit unggul, dan peningkatan peternakan.
5. Rencana Kasimo (Kasimo Plan)
Program ini disusun oleh Menteri Urusan Bahan Makanan I.J.Kasimo. Program
ini berupa Rencana Produksi Tiga tahun (1948-1950) mengenai usaha swasembada
pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Inti dari Kasimo Plan
adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat dengan menigkatkan produksi bahan
pangan. Rencana Kasimo ini adalah menanami tanah kosong (tidak terurus) di
Sumatera Timur seluas 281.277 ha. Melakukan intensifikasi di Jawa dengan menanam
bibit unggul pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi
produksi pangan. Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit, transmigrasi bagi 20 juta
penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera dalam jangka waktu 10-15 tahun.
6. Persatuan Tenaga Ekonomi (PTE)
Organisasi yang dipimpin B.R Motik ini bertujuan untuk :
a. Menggiatkan kembali partisipasi pengusaha swasta, agar pengusaha swasta
memperkuat persatuan dan mengembangkan perekonomian nasional.
b. Menggalang dan Melenyapkan individualisasi di kalangan organisasi pedagang
sehingga dapat memperkokoh ketahanan ekonomi bangsa Indonesia.
Meskipun usaha PTE didukung pemerintah dan melibatkan dukungan dari
pemerintah daerah namun perkembangannya PTE tidak dapat berjalan baik dan hanya
mampu mendirikan Bank PTE di Yogyakarta dengan modal awal Rp. 5.000.000,00.
Kegiatan ini semakin mengalami kemunduran akibat Agresi Militer Belanda.
Selain PTE, perdagangan swasta lainnya juga membantu usaha ekonomi pemerintah
adalah Banking and Trading Corporation (Perseroan Bank dan Perdagangan).
Mengaktifkan kembali Gabungan Perusahaan Perindustrian dan Perusahaan Penting,
Pusat Tembakau Indonesia, Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA)
dalam rangka memperbaiki ekonomi Indonesia.

10
B. Kehidupan Politik dan Ekonomi Pada Masa Demokrasi Liberal
1. Kehidupan Politik Pada Masa Demokrasi Liberal

Hasil Konferensi Meja Bundar pada 2 November 1949 di Den Haag melahirkan
terbentuknya negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah itu, diangkatlah
Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan perdana menteri yang pertama, dan dibentuk
pula kabinet. Namun, pada Agustus 1950, RIS dibubarkan karena sebagian negara-
negara federal Belanda membubarkan diri dan menginginkan kembali ke pengakuan
Republik Indonesia. Kemudian pada 15 Agustus 1950, Presiden Soekarno
menandatangani rancangan UUD NKRI (RI dan RIS) yang kemudian lebih dikenal
dengan UUDS 1950 sehingga pada periode ini bentuk negara Indonesia yang semula
federal beralih pada bentuk negara kesatuan dimana kekuasaannya dipegang oleh
pemerintah pusat dan menganut sistem pemerintahan parlementer.
Tetapi, praktik sistem pemerintahan parlementer yang diterapkan pada masa
berlakunya UUDS 1950 ini ternyata tidak membawa bangsa Indonesia ke arah
kemakmuran, keteraturan, dan kestabilan politik. Hal ini tercermin dari jatuh
bangunnya kabinet dalam kurun waktu antara 1950-1959, telah terjadi 7 kali pergantian
kabinet, yaitu.
a. Kabinet Natsir (6 September 1950-18 April 1951)
Program kerja:
1) Meningkatkan keamanan dan ketertiban.
2) Menguatkan konsolidasi, penyempurnaan susunan pemerintahan.
3) Penyempurnaan angkatan perang.
4) Memperjuangkan masalah Irian Barat.
5) Meusatkan perhatian pada ekonomi rakyat sebagai fondasi ekonomi nasional.
Hasil kerja:
1) Memetakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
2) Masukknya Indonesia menjadi anggota PBB.
3) Dilaksanakannya perundingan masalah Irian Barat dengan pihak Belanda.
Kegagalan:
Gagalnya perundingan dengan Belanda tantang masalah Irian Barat,
mengakibatkan munculnya mosi tidak percaya pada kabinet Natsir di parlemen.

11
b. Kabinet Sukiman (26 April 1951-1952)
Program kerja:
1) Penerapan tindakan tegas untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
2) Memperjuangkan keamanan dan kesejahteraan rakyat dengan memperbarui
hukum agrarian untuk kesejahteraan petani.
3) Mempersiapkan segala usaha untuk pemilu.
4) Memperjuangkan Irian Barat dalam wilayah Indonesia.
Hasil Kerja:
Banyaknya hambatan dalam kabinet Sukiman membuat hasil kerja kabinet ini
tidak maksimal. Hambatannya, antara lain kondisi keamanan negara yang belum stabil,
adanya perseteruan antar berbagai elemen politik, dan adanya permasalah dengan
politik luar negeri Indonesia.
Kegagalan:
Kegagalan kabinet ini, yaitu dalam penanganan masalah keamanan dalam
negeri, memihaknya Indonesia kepada blok barat dengan menandatangani Mutual
Security Act dengan pemerintah Amerika Serikat.
c. Kabinet Wilopo (19 Maret 1952-2 Juni 1953)
Program kerja:
1) Mempersiapkan dan menyelenggarakan pemilu.
2) Meningkatkan taraf kemakmuran, pendidikan, dan keamanan rakyat.
3) Berusaha menyelesaikan masalah Irian Barat, memperbaiki hubungan dengan
Belanda, dan konsisten menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif.
Hasil kerja:
Kabinet ini menghadapi banyak hambatan dalam melaksanakan tugasnya,
antara lain:
1) Munculnya sentimen kedaerahan akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah.
2) Adanya konflik di tubuh angkatan darat yang mengakibatkan terjadinnya
peristiwa 17 Oktober 1952.
3) Adanya peristiwa Tanjung Morawa di Sumatra Utara.
Kegagalan:
Dengan adanya hambatan tersebut, kabinet ini melahirkan mosi tidak percaya
dari kelompok oposisi pemerintah bernama Sarekat tani Indonesia dan diakhiri dengan
pengembalian mandat oleh Wilopo.

12
d. Kabinet Ali Sastroamidjojo I (31 Juli 1953-24 Juli 1955)
Program kerja:
1) Mempersiapkan penyelenggaraan pemilu yang rencananya diadakan pada
tengah tahun 1955.
2) Mengatasi gangguan keamanan dan pemberontakan di daerah.
3) Melaksanakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan turut berperan
dalam menciptakan perdamaian dunia.
Hasil kerja:
1) Disusunnya kerangka panitia pelaksanaan pemilu.
2) Suksesnya pelaksanaan Konferensi Asia Afrika.
3) Membaiknya hubungan dengan Cina.
Kegagalan:
1) Memperjuangkan Irian Barat ke dalam negara Indonesia.
2) Munculnya pemberontakan di berbagai daerah.
3) Masih berlanjutnya konflik di tubuh Angkatan Darat, yaitu dengan mundurnya
A. H. Nasution yang digantikan oleh Bambang Sugeng.
e. Kabinet Burhanuddin Harahap (Agustus 1955-3 Maret 1956)
Program kerja:
1) Memerintahkan polisi militer untuk menangkap Mr. Djody Gondokusumo atas
kasus korupsi di departemen kehakiman.
2) Melaksanakan pemilu secara baik, maksimal, dan secepat mungkin.
3) Mengangkat kembali A.H. Nasution sebagai KSAD pada 28 Oktober 1955.
Hasil kerja:
1) Diselenggarakannya pemilu tahun 1955.
2) Dibubarkannya Uni Indonesia-Belanda.
3) Berhasil menentukan sistem parlemen Indonesia.
Kegagalan:
Banyak perseteruan antara pemenang pemilu yang meyebabkan sidang
parlemen menjadi deadlock.
f. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956-14 Maret 1957)
Program kerja:
1) Memperjuangkan masuknya Irian Barat ke Indonesia.
2) Mempercepat proses pembentukan daerah otonom di Indonesia.

13
3) Meningkatkan kesejahteraan kaum buruh dan pegawai negeri serta
menyehatkan dan menyeimbangkan anggaran belanja dan keuangan negara.
4) Mengganti sistem ekonomi kolonial menjadi sitem ekonomi nasional.
Hasil kerja:
1) Ditandatanganinya undang-undang pembatalan KMB oleh Presiden Soekarno.
2) Beralihnya perusahaan Belanda menjadi milik warga Tionghoa.
3) Kepentingan Belanda diperlakukan sesuai dengan hukum yang berlaku di
Indonesia.
Kegagalan:
Munculnya sentimen anti-Cina dalam masyarakat, munculnya kekecewaan
pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat, tidak stabilnya kondisi pemerintah
dengan banyaknya partai politik, dan munculnya gerakan separatis di berbagai daerah.
g. Kabinet Djuanda atau Kabinet Karya (9 April 1957-10 Juli 1959)
Program kerja:
1) Pembentukan dewan nasional.
2) Normalisasi keadaan Republik.
3) Memperjuangkan lancarnya pelaksanaan pembatalan hasil KMB.
4) Memperjuangkan kembali Irian Barat ke wilayah Indonesia.
5) Mempercepat dan mengintensifkan program pembangunan.
Hasil kerja:
1) Dibentuknya dewan nasional untuk menampung aspirasi rakyat yang
tergabung dalam nonpartai.
2) Pembersihan pejabta-pejabat yang melakukan korupsi.
3) Dilaksanakannya konsolidasi dengan daerah-daerah yang melakukan
pemberontakan dengan tujuan agar dapat menormalisasi keamanan negara.
4) Ditetapkannya peraturan kelautan yang tertuang dalam Deklarasi Djuanda
tanggal 13 Desember 1957. Hal itu merupakan bukti keberhasilan diplomasi
Indonesia dalam memperjuangkan wilayah teritorial laut Indonesia.
Kegagalan:
Terjadi banyak pemberontakan separatis di daerah-daerah.

14
2. Kehidupan Ekonomi Pada Masa Demokrasi Liberal
Pada masa Kabinet Sukiman, salah satu perubahan kehidupan ekonomi yang
terjadi adalah adanya proses nasionalisasi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah.
Proses nasionalisasi ekonomi itu menyangkut tiga bidang, yaitu:
1. Pembentukan Bank Negara Indonesia
Sebelum dilaksanakan nasionalisasi de Javasche Bank, terjadi proses pembentukan
Bank Negara Indonesia sebagai bank nasional pertama Indonesia dan dikukuhkan
di dalam peraturan pemerintah pengganti UU No. 2/1946. Proses itu terjadi pada 5
Juli 1946.
2. Nasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia
Setelah Bank Negara Indonesia terbentuk pemerintah mengeluarkan UU No.
24/1951 yang berisi tentang pelaksanaan nasionalisasi de Javasche Bank menjadi
Bank Indonesia (BI) yang berfungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi..
Undang-undang tersebut diperkuat dengan UU No. 11/1953 dan Lembaran Negara
No. 40 yang menyatakan bahwa jabatan presiden Bank Indonesia berubah menjadi
Gubernur Bank Indonesia. Menteri keuangan, menteri perekonomian, dan
gubernur bank menjadi direksi yang berfungsi melancarkan percepatan
peningkatan taraf ekonomi dan moneter negara.
3. Pemberlakuan Oeang Repoeblik Indonesia
Pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi mata uang Republik Indonesia
dengan menukar mata uang Jepang ke mata uang Indonesia yang disebut dengan
Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Proses itu terjadi pada 1 Oktober 1946 yang
dikukuhkan dengan UU No. 17/1946 dan UU No. 19/1946. Kondisi masyarakat
Indonesia pada masa awal kemerdekaan, berangsur-angsur membaik. Kebijakan
pemerintah untuk mengajak rakyat Indonesia agar menabung di bank menjadi awal
sehatnya kondisi perekonomian bangsa.

Pada masa demokrasi liberal, proses nasionalisasi ekonomi Indonesia tidak


berjalan mulus karena konflik kepentingan politik antar kelompok didalam tubuh
konstituante dan parlemen. Berbagai kebijakan pada masa dmeokrasi liberal
menunjukkan hal itu. Contohnya, proyek nasionalisasi ekonomi pada masa kabinet Ali
I yang menekankan nasionalisasi sektor perekonomian dan mendukung tumbuh
kembangnya para pengusaha pribumi. Proses nasionalisasi sektor perekonomian itu

15
merupakan salah satu upaya dari pemerintahan kabinet Ali I dalam meningkatkan taraf
perekonomian bangsa Indonesia.
Perubahan perekonomian negara juga terlihat pada masa kabinet Ali II.
Ditandatanganinya UU Pembatalan Konferensi Meja Bundar (KMB) oleh Presiden
Soekarno pada 3 Mei 1956 berakibat pada berpindahnya aset-aset modal yang dimliki
para pengusaha Belanda ke tangan pengusaha nonpribumi. Hal itu berdampak pada
munculnya kondisi sosial yang timpang.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pada 19 Maret 1956, Kongres Nasional
Importir Indonesia mengeluarkan sebuah kebijakan yang dinamakan Gerakan Assaat.
Gerakan itu mendorong pemerintah untuk mengeluarkan peraturan yang dapat
melindungi pengusaha pribumi dalam berdaya saing terhadap pengusaha-pengusaha
non pribumi.

16
BAB 3
PENUTUP

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada akhir Desember 1949 secara hukum
internasional Indonesia memiliki prospek sebagai Negara yang dapat menentukan masa
depannya sendiri dan pada 15 Agustus 1950, Presiden Soekarno menandatangani rancangan
UUD NKRI yang dikenal dengan UUDS 1950 yang kemudian mulai diberlakukan tanggal 17
Agustus 1950.
Dengan diberlakukannya UUDS 1950 Indonesia menerapkan sistem Demokrasi Liberal
sejak tahun 1950 sampai tahun 1959. Pada masa Demokrasi Liberal banyak terjadi kemelut
politik salah satunya adalah silih bergantinya kabinet selama 9 tahun. Selain itu, juga terjadi
prestasi politik yang gemilang seperti terlaksananya Konferensi Asia Afrika pada masa kerja
kabinet Ali Sastroamidjojo I dan terlaksananya pemilu yang pertama.
Namun, kekacauan politik yang terjadi pada masa Demokrasi Liberal tidak kunjung
usai hingga akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 akibat
kegagalan konstituante dalam menetapkan UUD. Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5
Juli 1959 menandakan berakhirnya masa Demokrasi Liberal dan berlakunya masa Demokrasi
Terpimpin

17
DAFTAR PUSTAKA
 https://teguhgoonerfirmansyah.wordpress.com/2016/05/26/contoh-makalah-kehidupan-
ekonomi-indonesia-pasca-kemerdekaan/
 http://karyakoncokonco.blogspot.co.id/2016/06/makalah-sejarah-indonesia-
kehidupan.html
 http://muflihahdianinur.blogspot.co.id/2012/02/perkembangan-kehidupan-ekonomi-
setelah.html

18

Anda mungkin juga menyukai