Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN UJIAN PRAKTEK

TENTANG PRAKTIKUM PEMBUATAN


PLASTIK DARI SUSU

GURU PEMBIMBING:

Dra. Sri Redjeki

DISUSUN OLEH: Kelompok 3

1. Achmad Yusril Afrianto


2. Bagus Adhi Setiawan
3. Nur Alfa Aulia
4. Septi Eka Novitasari

Kelas : XII – IPA 2

SMAN 1 KUTOREJO
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang

Salah satu zat penting dalam bahan pangan adalah protein. Protein adalah senyawa
organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-
monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Protein
terdiri dari suatu atom N, O, H, dan C yang pada beberapa jenis asam amino memiliki
atom S. Protein dapat didapatkan dari sumber daging-dagingan, serealia, ikan, kacang-
kacangan, dan susu.

Susu merupakan salah satu pangan hewani yang sering dikonsumsi sebagai sumber
protein hewani. Selain kaya akan protein, susu juga mengandung komponen penting
seperti air (87,9 %), lemak (3,5- 4,2 %), vitamin dan mineral (0,85 %). Semua komponen
tersebut dapat dengan mudah diserap oleh tubuh. Susu yang biasa dikonsumsi manusia
berasal dari ibu (asi) dan hewan seperti sapi, kambing atau kuda. Selain dapat dikonsumsi
langsung, susu juga dapat diolah menjadi susu instan, susu kental manis, yoghurt, keju
dan lain – lain. Susu tersusun dari bahan organik sehingga mudah mengalami kerusakan.
Kerusakan pada susu dapat terjadi secara kimia, fisik maupun secara biologis. Kerusakan
fisik dapat terjadi karena pemanasan atau guncangan. Sedangkan kerusakan kimia dapat
terjadi karena adanya asam, garam atau bahan kimia lainnya. Nilai gizinya yang tinggi
juga menyebabkan susu merupakan medium yang sangat disukai oleh mikrooganisme
untuk pertumbuhan dan perkembangannya sehingga dalam waktu yang sangat singkat
susu menjadi tidak layak dikonsumsi bila tidak ditangani secara benar. Susu merupakan
bahan pangan yang mudah mengalami koagulasi.

Koagulasi merupakan salah satu kerusakan pada susu. Susu yang mengalami
koagulasi akan menggumpal (berwujud gel). Koagulasi pada susu dapat disebabkan oleh
penambahan asam, garam atau pemanasan. Koagulasi tidak diharapkan pada beberapa
produk susu, namun pada produk tertentu koagulasi pada susu memiliki peranan yang
sangat penting. Contoh produk susu yang menerapkan koagulasi adalah keju dan yoghurt.
Oleh karena itu, makalah ini disusun dan membahas mengenai koagulasi pada susu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengertian koagulasi?
2. Bagaimana macam-macam koagulasi?
3. Apakah faktor penyebab koagulasi?
4. Bagaimana macam-macam koagulasi?
5. Apa dampak koagulasi?
6. Bagaimana contoh pemanfaatan koagulasi?

C. Tujuan Penelitian
Membuat plastik dari susu melalui proses koagulasi dengan asam cuka

D. Manfaat Penelitian
1. Untuk mengetahui pengertian koagulasi;
2. Untuk mengetahui proses koagulasi;
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi;
4. Untuk mengetahui mekanisme koagulasi;
5. Untuk mengetahui contoh pemanfaatan koagulasi;
6. Untuk mengetahui dampak koagulasi.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian
Koagulasi secara umum didefinisikan sebagai penambahan zat kimia (koagulan) ke
dalam air baku dengan maksud mengurangi gaya tolak-menolak antar partikel koloid,
sehingga partikel –partikel tersebut dapat bergabung menjadi flok-flok halus. Koagulasi
terpenuhi dengan penambahan ion-ion yang mempunyai muatan berlawanan dengan partikel
koloid. Partikel koloid umunya bermuatan negatif oleh karena itu ion-ion yang ditambahkan
harus kation atau bermuatan positif. Kekuatan koagulasi ion-ion tersebut bergantung pada
bilangan valensi atau besarnya muatan. Ion bivalen (+2) 30-60 kali lebih efektif dari ion
monovalen (+1). Ion trivalen (+3) 700-1000 kali lebih efektif dari ion monovalen.
B. Proses Koagulasi
Pada  proses koagulasi terdiri dari dua tahap besar, yaitu :
1. Penambahan koagulan Aluminium sulfat (Al2(SO4)3.18H2O) dan
2. Pengadukan campuran koagulan-air umpan, yang terdiri dari,
a)      Pengadukan cepat
       Pengadukan cepat (Rapidmixing) merupakan bagian integral dari proses
Koagulasi. Tujuan pengadukan cepat adalah untuk mempercepat danmenyeragamkan
penyebaran zat kimia melalui air yang diolah, serta untuk menghasilkan dispersi yang
seragam dari partikel-partikel koloid, dan untuk meningkatkan kesempatan partikel untuk
kontak dan bertumbukan satu sama lain
b)   Pengadukan pelan.
      Pengadukan pelan ini bertujuan menggumpalkan partikel-partikel terkoagulasi berukuran
mikro menjadi partikel-partikel flok yang lebih besar. Flok-flok ini kemudian akan
beragregasi/ berkumpul dengan partikel-partikel tersuspensi lainnya (Duliman, 1998). Setelah
pengadukan pelan selesai flok-flok yang terbentuk dibiarkan mengendap. Setelah proses
pralakuan koagulasi- selesai, derajat keasaman (pH) air umpan mikrofiltrasi akan turun.
Selanjutnya air umpan jernih hasil koagulasi dialirkan ke reservoir kedua agar terpisah dari
endapan - endapan yang terbentuk. Air inilah yang kemudian akan diumpankan pada proses
mikrofiltrasi oleh membran.
Pada proses koagulasi, juga dibagi dalam tahap secara fisika dan kimia.
1.      Secara fisika
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti:
a.     Pemanasan
  Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikel-partikel sol
dengan molekul-molekul air bertambah banyak. Hal ini melepaskan elektrolit
yang teradsorpsi pada permukaan koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.
contoh:darah
b.    Pengadukan, contoh: tepung kanji
c.     Pendinginan, contoh: agar-agar
2.      Secara kimia
Sedangkan secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid
yang berbeda muatan, dan penambahan zat kimia koagulan. Ada beberapa hal
yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral, yaitu:
a. Menggunakan Prinsip Elektroforesis.
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid yang
bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan. Ketika partikel
ini mencapai elektrode, maka sistem koloid akan kehilangan muatannya
dan bersifat netral.
b. Penambahan koloid
Koloid dapat terjadi sebagai berikut:
Koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif (kation),
sedangkan koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif
(anion). Ion-ion tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua.
Apabila selubung lapisan kedua itu terlalu dekat maka selubung itu akan
menetralkan muatan koloid sehingga terjadi koagulasi. Makin besar
muatan ion makin kuat daya tariknya dengan partikel koloid, sehingga
makin cepat terjadi koagulasi. (Sudarmo,2004)
c. Penambahan Elektrolit.
Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel
koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan muatan
positif (kation) dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya, partikel positif akan
mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari elektrolit. Dari adsorpsi diatas,
maka terjadi koagulasi.
       Dalam proses koagulasi, stabilitas koloid sangat berpengaruh. Stabilitas
merupakan daya tolak koloid karena partikel-partikel mempunyai muatan
permukaan sejenis (negatip). Beberapa gaya yang menyebabkan stabilitas
partikel, yaitu:
1.      Gaya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak tejadi jika partikel-partikel
mempunyai muatan yang sejenis.
2.      Bergabung dengan molekul air (reaksi hidrasi).
3.      Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada
permukaan.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Koagulasi

a. Suhu air
   

Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses


koagulasi. Bila suhu air diturunkan , maka besarnya daerah pH yang optimum pada
proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.
b. Derajat Keasaman (pH)
Proses koagulasi akan berjalan dengan  baik bila berada pada daerah pH yang
optimum. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH  optimum yang berbeda satu
sama lainnya.
c. Jenis Koagulan
Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan
daya efektivitas daripada koagulan dalam pembentukan flok. Koagulan dalam bentuk
larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbuk atau butiran.
d. Kadar ion terlarut
Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu :
pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Dengan demikian ion natrium, kalsium
dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. 
e. Tingkat kekeruhan
Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi.
Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan
berlangsung cepat. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang
rendah maka pembentukan flok kurang efektif.
f. Dosis koagulan
Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi sangat
tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai
dengan dosis yang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan
dengan baik.
g. Kecepatan pengadukan
Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air.
Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-
benar merata, sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan
partikel-partikel atau ion-ion yang berada dalam air. Kecepatan pengadukan sangat
berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat
mengakibatkan lambatnya flok terbentuk dan sebaliknya apabila  pengadukan terlalu
cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk
h. Alkalinitas
Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam
air. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida
pada reaksihidrolisa koagulan.
D. Macam-Macam Koagulasi
1. Koagulasi Susu
Koagulasi adalah keadaan dimana protein tidak lagi terdispersi sebagai
suatu koloid karena unit ikatan yang terbentuk cukup banyak. Protein pada
susu mengandung kasein dan serum. Kasein adalah golongan heterogen
fosfoprotein yang diendapkan dari susu skim pada pH 4.6 dan suhu 20 oC,
kasein adalah zat yang banyak dikandung oleh protein susu. Kasein terdapat
pada susu sebagai partikel berbentuk hampir bulat dengan diameter 30-300
nm. Untuk mengetahui kadar kasein susu dapat dilakukan dengan proses
koagulasi.
Tahap pertama dari koagulasi protein dari kasein susu adalah
mengkondisikan suhu susu hingga 40oC. Pada suhu ini, merupakan suhu yang
optimal untuk mengkoagulasi protein. Tahap selanjutnya adalah penambahan
asam hingga mencapai 4.8. pada pH 4.8 diharapkan seluruh kasein yang
terdapat pada susu terkoagulan seluruhnya. Setelah ditambah asam, terbentuk
koagulasi susu dan mulai mengendap di bagian bawah. Cairan susu di fasa
atas makin lama akan semakin jernih. Kemudian koagulan didinginkan selama
5 menit. Dengan harapan kasein susu semakin optimal mengendap.
2. Koagulasi Telur

Koagulasi atau penggumpalan adalah perubahan struktur protein telur


yang mengakibatkan peningkatan kekentalan dan hilangnya kelarutan, atau
dapat juga berarti perubahan bentuk dari cairan (liquidmjik) menjadi bentuk
padat atau semi padat (gel). Koagulasi protein telur dapat terjadi karena panas,
garam, asam, basa atau pereaksi lain (misalnya urea). Koagulasi disebabkan
karena molekul-molekul protein mengalami agregasi dan terbentuknya ikatan-
ikatan antar molekul yaitu ikatan hidrofobik, ikatan hidrogen dan ikatan
disulfida. Adanya ikatan-ikatan tersebut menyebabkan protein yang
terkoagulasi bersifat tidak larut. Koagulasi oleh panas terjadi akibat reaksi
antara protein dan air yang diikuti dengan penggumpalan protein (karena
ikatan-ikatan antar molekul). Putih telur ayam akan terkoagulasi pada suhu
62oC, sedangkan kuning telurnya terkoagulasi pada 65 oC. Putih telur bebek
terkoagulasi pada suhu yang lebih rendah, yaitu 55oC setelah 10 menit
pemanasan. Jenis garam yang dapat mengkoagulasi protein adalah garam-
garam laktat, khlorida, sulfat, posfat dan kombinasi MgCl2 dan NaSCN serta
NaCl,Na2SO4 dan CaCl2. Penambahan garam-garam tersebut pada konsentrasi
tinggi menyebabkan protein berubah menjadi curd (semacam gumpalan tahu).
Koagulasi oleh asam dan basa berhubungan dengan proses penetralan molekul
protein sehingga daya tarik anatar molekul protein meningkat dan
kelarutannya menurun. pH dimana terjadi pengendapan protein disebut titik
isoelektrik. Koagulasi oleh asam dan basa dapat juga terjadi karena denaturasi
protein akibat penurunan pH.

E. Dampak Koagulasi
Akibat terjadinya koagulasi pada produk susu, yaitu penurunan daya
larut molekul – molekul protein atau perubahan bentuk cairan (sol) menjadi
bentuk padat atau semu padat (gel). Selain itu koagulasi juga menyebabkan
berkurangnya kadar protein pada susu.
F. Contoh Pemanfaatan Koagulasi
 Keju
Keju merupakan salah satu hasil olahan susu yang telah dikenal masyarakat.
Pada proses pembuatan keju digunakan enzim rennet yang digunakan sebagai
koagulan. Enzim rennet adalah enzim protease yang diperoleh dari lambung
anak sapi yang berumur 3-4 minggu.
Proses pembuatan keju menurut Radiati dan Fardiaz (1991) sebagai
berikut : Susu dipasteurisasi pada suhu 72 – 730C selama 15 menit,
didinginkan sampai 400C dan diberi starter Lactobacillus bulgaricus,
Streptococcus thermophillus (2 : 1) sebanyak 5% (v/v), diinkubasi suhu 430C
selama 1 – 2 jam dalam waterbath. Suhu diatur sesuai perlakuan (32, 37 dan
420C) dan dibiarkan hingga tercapai pH sesuai perlakuan (5,0; 5,5 dan 6,0).
Larutan CaCl2 25% kemudian ditambahkan sebanyak 0,1% (v/v) dan enzim
rennet amobil sebanyak 2,5% (b/v), dibiarkan hingga susu membentuk curd.
Curd dipotong kecil-kecil dan ditiriskan untuk memisahkan whey, kemudian
curd dipanaskan pada suhu 500C, dan dipres selama 2 – 3 jam. Tidak lupa
pada tahap ini, enzim amobil dipisahkan dengan penyaringan. Koagulum
direndam dalam larutan garam 2% selama 2 jam, ditiriskan selama 1 jam dan
dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan dalam lemari pendingin
sampai digunakan untuk tahap selanjutnya.Suhu koagulasi yang optimum akan
meningkatkan proses koagulasi, sehingga pengeluaran whey akan lebih besar
dan air yang terikat dalam curd lebih sehingga keju yang dihasilkan juga
semakin keras.
 Youghurt

Didalam susu sapi terdapat protein yang disebut kasein dan karbohidrat
berupa laktosa. Laktosa merupakan karbohidrat utama dalam susu yang
digunakan oleh kultur L. bulgaricus dan S. thermopillus sebagai sumber
karbon dan energi untuk pertumbuhannya. Laktosa dihirolisis menghasilkan
asam piruvat lalu asam piruvat menjadi asam laktat. Asam laktat yang
dihasilkan menyebabkan penurunan pH susu. Jika pH susu menjadi sekitar 4,6
atau lebih rendah maka keasaman susu akan menjadi tidak stabil dan akan
terkoagulasi.

 Tahu
Tahu susu merupakan salah satu produk turunan dari susu yang diolah
dengan cara menggumpalkan proteian yang terdapat di dalam susu. Bahan
penggumpalan yang biasa dipakai dalam pembuatan tahu susu tidak berbeda
dengan yang digunakan dalam pembuatan tahu kedelai. Prinsip pembuatannya
adalah menggumpalkan protein dalam susu (kasein) yang bisa dilakukan
dengan menambahkan bahan yang memiliki sifat asam, misalnya cuka.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Metode yang kami pergunakan dalam meguji proses koagulasi pada susu adalah metode

eksperimen.

B. Tempat Penelitian

Kami melakukan percobaan I (susu UHT) ini di Rumah Nur Alfa Aulia dan percobaan II

(susu Murni) di Rumah Septi Eka Novitasari

C. Waktu Penelitian

Percobaan dilaksankan pada hari Sabtu, 01 Februari 2020 pada pukul 11.00 WIB dan

hari Rabu,05 Februari 2020.

D. Alat dan Bahan

   Alat :

1. Gelas
2. Mangkuk
3. Sendok makan

4. Saringan atau Lap Kain

5. Kompor
6. Panci

     Bahan :

1. Susu Ultramilk/UHT (cair)

2. Susu Sapi Murni

3. 2 Botol Asam Cuka


E .        Cara Kerja
                              

Perobaan I :
1. Masukkan susu UHT cair ke dalam panci.

2. Panaskan susu UHT cair sampai mendidih ( jangan sampai diatas ± 50 ºC, Susu dalam
keadaan panas).

3. Masukkan susu UHT yang telah direbus dalam keadaan panas ke dalam gelas.

4. Masukkan asam cuka ( asam asetat) 6 sendok makan , sedikit demi sedikit sambil
diaduk terus hingga terbentuk gumpalan .
5. Setelah beberapa saat, Saring gumpalan dengan lap kain,kemudian kumpulkan
gumpalan tersebut dengan sendok makan.

6. Simpan dalam kulkas selama beberapa jam(± 4 jam).

7. Setelah ± 4jam, keluarkan gumpalan nya dan bentuk lingkaran atau sesuai keinginan .
Perobaan II :

1. Masukkan susu sapi murni cair ke dalam panci.

2. Panaskan susu cair sampai mendidih dan aduk ( jangan sampai diatas ± 50 ºC, Susu
dalam keadaan panas).

3. Masukkan asam cuka ( asam asetat) 6 sendok makan , sedikit demi sedikit sambil
diaduk terus hingga terbentuk gumpalan saat merebus susu.

4. Masukkan campuran susu sapi murni dan asam cuka yang telah direbus kedalam
gelas.
5. Setelah beberapa saat, Saring gumpalan dengan lap kain,.

6. Kemudian kumpulkan gumpalan tersebut dengan sendok makan.

7. Simpan dalam kulkas selama beberapa jam(± 4 jam).


8. Setelah ± 4 jam, keluarkan gumpalan nya dan bentuk lingkaran atau sesuai keinginan .

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

No Hasil Pengamatan Susu UHT Susu Sapi Murni


1. Kelenturan Lentur Sangat Lentur
2. Kerapatan Rapat Sangat Rapat
3. Tekstur Permukaan Sedikit Kasar Sangat Halus

BAB V
FOTO HASIL PERCOBAAN

Foto Hasil Percobaan I :

Foto Hasil Percobaan II:


BAB VI
PEMBAHASAN
Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel-partikel koloid. Proses koagulasi ini
terjadi akibat tidak stabilnya sistem koloid. Sistem koloid stabil bila koloid tersebut
bermuatan positif atau bermuatan negatif. Jika muatan pada sistem koloid tersebut dilucuti
dengan cara menetralkan muatannya, maka koloid tersebut menjadi tidak stabil lalu
terkoagulasi (menggumpal). Koagulasi dengan cara menetralkan muatan koloid dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut:

1. Penambahan Zat Elektrolit


Jika pada suatu koloid bermuatan ditambahkan zat elektrolit, maka koloid tersebut akan
terkoagulasi. Contohnya seperti pada praktikum yang telah dilakukan diatas apabila susu bila
ditambah asam asetat, maka susu akan menggumpal. Dalam koagulasi ini ada zat elektrolit
yang lebih efisien untuk mengoagulasikan koloid bermuatan, yaitu sebagai berikut:
a. Koloid bermuatan positif lebih mudah dikoagulasikan oleh elektrolit yang muatan ion
negatifnya lebih besar. Contoh; koloid Fe(OH) 3 adalah koloid bermuatan positif, lebih
mudah digumpalkan oleh H2SO 4 daripada HC1.
b. Koloid bermuatan negatif lebih mudah dikoagulasikan oleh elektrolit yang muatan ion
positifnya lebih besar. Contoh; koloid As2S 3 adalah koloid bermuatan negatif, lebih
mudah digumpalkan oleh BaCl 2 daripada NaCl.

2. Mencampurkan Koloid yang Berbeda Muatan


Bila dua koloid yang berbeda muatan dicampurkan, maka kedua koloid tersebut akan
terkoagulasi. Hal itu disebabkan kedua koloid saling menetralkan sehingga terjadi gumpalan.
Contoh, campuran koloid Fe(OH) 3 dengan koloid As2S3 .Selain koagulasi yang disebabkan
adanya pelucutan muatan koloid, seperti di atas, ada lagi proses koagulasi dengan cara
mekanik, yaitu melakukan pemanasan dan pengadukan terhadap suatu koloid. Contohnya,
pembuatan lem kanji, sol kanji dipanaskan sampai membentuk gumpalan yang disebut lem
kanji.
Asam Cuka berfungsi untuk mengedapkan atau memisahkan air dengan konsentrat susu.
Asam cuka mengandung cuka dan garam sehingga bersifat asam.

BAB VII
PENUTUP
A.   KESIMPULAN

Koagulasi secara umum didefinisikan sebagai penambahan zat kimia


(koagulan) ke dalam air baku dengan maksud mengurangi gaya tolak-menolak antar
partikel koloid, sehingga partikel –partikel tersebut dapat bergabung menjadi flok-flok
halus.
Dalam pembuatan plastik dari susu melalui proses koagulasi terdapat faktor
yang mempengaruhi yaitu sebagai berikut :
a. Suhu air
Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses
koagulasi. Bila suhu air diturunkan , maka besarnya daerah pH yang optimum pada
proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.
b. Derajat Keasaman (pH)
Proses koagulasi akan berjalan dengan  baik bila berada pada daerah pH yang
optimum. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH  optimum yang berbeda satu
sama lainnya.
c. Kecepatan pengadukan
Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air.
Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-
benar merata, sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan
partikel-partikel atau ion-ion yang berada dalam air. Kecepatan pengadukan sangat
berpengaruh terhadap pembentukan flok(gumpalan) bila pengadukan terlalu lambat
mengakibatkan lambatnya flok terbentuk dan sebaliknya apabila  pengadukan terlalu
cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk.
Selain itu, dalam membuat plastik dari susu UHT dan susu sapi murni
memiliki perbedaan dari segi kelenturan,kerapatan dan tekstur permukaan.Untuk susu
murni memiliki tingkat kelenturan sangat lentur daripada susu UHT. Sedangkan untuk
tingkat kerapatannya, susu murni memiliki kerapatannya yang sangat rapat
dibandingkan susu UHT. Dan untuk tingkat tekstur permukaannya, susu murni
memiliki tekstur permukaan yang sangat lembut atau halus dibandingkan susu UHT
yang memiliki tekstur sedikit kasar.

B. SARAN

Saat melakukan proses pemanasan susu cair jangan sampai mendidih karena
menyebabkan besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah
dan merubah pembubuhan dosis koagulan.

Daftar Pustaka

http://fitriaandriani27.blogspot.com/2016/11/proses-koagulasi-dalam-pengolahan-

air.html
http://riandoelang.blogspot.com/2012/12/praktikum-pembuatan-plastik-dari-susu-

a.html