Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

ASSEI MIKROBIOLOGI

Oleh:

Nama : Anggy Anggraeni Wahyudhie

Nim : 0808505002

Kelompok : II

Tanggal Praktikum : 19 April 2010

Asisten : Oka Permana

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2010
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Antibiotika merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme
yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain (Pelczar dan Chan, 2005).
Antibiotika juga dapat didefinisikan sebagai zat kimia yang dihasilkan oleh suatu
mikroba yang mempunyai khasiat antimikrobial (Entjang, 2003). Pada awalnya, istilah
yang digunakan adalah antibiosis, yang berarti substansi yang dapat menghambat
pertumbuhan organisme hidup yang lain, berasal dari mikroorganisme. Namun pada
perkembangannya, antibiosis disebut sebagai antibiotik (Pratiwi, 2008).
Antibiotika yang ideal harus memenuhi syarat-syarat antara lain mempunyai
kemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang luas
(broad spectrum antibiotic), tidak menimbulkan pengaruh samping (side effect) yang
buruk pada host, tidak menimbulkan terjadinya resistensi dari mikroorganisme patogen
serta konsentrasi antibiotik dalam jaringan harus mencapai taraf cukup tinggi sehingga
mampu menghambat atau mematikan penyebab infeksi (Pelczar dan Chan, 2005).
Aplikasi antibiotik tidak hanya untuk kemoterapi. Beberapa aplikasi antibiotik
lainnya adalah antibiotik antitumor (agen sitostatik) contohnya mitramisin, motocimin C
dan neokarzinostatin, antibiotik untuk patologi tanaman contohnya polioksin sebagai
fungisida dan tetranaktin sebagai insektisida, antibiotik sebagai bahan tambahan makanan
bertujuan untuk menghindari kontaminasi mikroorganisme yang dapat merusak produk
makanan, contohnya piramisin sebagai fungisida, tilosin untuk spora Bacillus dan
klortetrasiklin untuk menjaga kesegaran daging, antibiotik dalam bidang peternakan dan
kesehatan hewan contohnya mikamisin, tilosin dan tiopeptin (Pratiwi, 2008).
Uji potensi antibiotika dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode kertas
saring (Kirby and Bauer) dan metode d`Aubert. Metode d`Aubert adalah metode untuk
memeriksa kadar antibiotika sebagai pengawet makanan (Ramona dkk., 2007).

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam assei mikrobiologi.
2. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi antibiotika terhadap
efektivitas kerja antibiotika dan jenis-jenis antibiotika yang digunakan.
II. MATERI DAN METODE

Pada praktikum assei mikrobiologi ini digunakan enam jenis antibiotika, yaitu
Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracycline, Chloramphenicol dan Amphicilin.
Metode assei yang digunakan adalah metode kertas saring (Kirby and Bauer). Langkah
pertama medium NA tegak dicairkan dalam penangas air kemudian didinginkan sampai
suhu 40oC. Kemudian disiapkan dua buah cawan petri steril yang di bagian bawahnya
telah dibagi menjadi empat bagian dan diberi label kontrol, 100 ppm, 1.000 ppm dan
10.000 ppm. 1 ml suspensi bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri gram
negatif (Escherichia coli) dipipet menggunakan pipet ukur dan dimasukkan ke dalam
cawan petri steril tadi. Medium NA yang bersuhu 40 oC dituangkan pada masing-masing
cawan petri yang telah berisi suspensi bakteri, digoyangkan agar merata dan dibiarkan
membeku. Cakram kertas saring kemudian direndam dengan larutan antibiotika
konsentrasi 0 ppm, 100 ppm, 1.000 ppm dan 10.000 ppm. Cakram yang telah direndam
dalam larutan antibiotika diletakkan masing-masing pada permukaan medium yang telah
beku sesuai dengan konsentrasinya dan diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam.
Selanjutnya diamati dan diukur sebanyak tiga kali daerah hambatan (zona bening
disekitar cakram kertas saring) yang terjadi.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan


Tabel Hasil Pengamatan Assei Mikrobiologi

Jenis Bakteri Konsentrasi


Antibiotik 100 1.000 10.000 Kontrol
ppm ppm ppm
Eritromycin E 1,67 1,78 1,82 0
S 0 0,83 0,93 0
Amoxicilin E 0 0 1,57 0
S 0 1,37 5,07 0
Bactoprim E 0 0 1,33 0
S 0 1,73 2,03 0
Tetracycline E 0 0 1,35 0
S 2,1 2,87 4,27 0
Chloramphenico E 0 1,56 2,4 0
l S 1,23 1,3 2,8 0
Amphicilin E 0 0 0 0
S 0 2,33 4,00 0
Keterangan: E = Escherichia coli
S = Staphylococcus aureus

3.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian keefektifan suatu antibiotik terhadap
mikroorganisme dengan menggunakan metode kertas saring (Kirby and Bauer).
Antibiotik yang digunakan adalah Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracycline,
Chloramphenicol dan Amphicillin. Konsentrasi antibiotik dibuat berbeda-beda dengan
tujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi terhadap daya kerja dari antibiotik.
Konsentrasi antibiotik yang digunakan adalah 0 ppm, 100 ppm, 1.000 ppm dan 10.000
ppm. Pada konsentrasi 0 ppm digunakan sebagai kontrol karena cakram kertas saring
tidak mengandung antibiotik. Semakin rendah konsentrasi antibiotik yang digunakan
maka semakin kecil zona bening yang akan terbentuk dan semakin tinggi konsentrasi
yang digunakan maka zona bening yang terbentuk semakin besar (Dwidjoseputro, 2003).
Bakteri yang digunakan adalah Escherichia coli (gram negatif) dan Staphylococcus
aureus (gram positif).
Uji potensi antibiotik pertama dilakukan pada antibiotik Eritromycin. Setelah
diinkubasi selama 24 jam, nilai diameter zona hambatan rata-rata pada kontrol dan
konsentrasi 100 ppm, 1.000 ppm serta 10.000 ppm dari bakteri Escherichia coli berturut-
turut adalah 0 mm, 1,67 mm, 1,78 mm dan 1,82 mm, sedangkan pada bakteri
Staphylococcus aureus berturut-turut adalah 0 mm (kontrol), 0 mm (100 ppm), 0,83 mm
dan 0,93 mm. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa hasil
pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa semakin tinggi
konsentrasi antibiotika maka semakin besar zona bening yang dihasilkan (Dwidjoseputro,
2003). Dari data tersebut juga terlihat bahwa bakteri Staphylococcus aureus lebih resisten
daripada bakteri Escherichia coli terhadap antibiotik Eritromycin karena zona hambatnya
lebih kecil. Hasil pengamatan ini tidak sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa
Eritromycin bekerja bakteriostatik terhadap terutama bakteri gram positif, sehingga
seharusnya bakteri Escherichia coli yang lebih resisten terhadap Eritromycin. Hal ini
dapat disebabkan terjadinya resistensi yang lebih kuat dilakukan oleh bakteri
Staphylococcus aureus terhadap Eritromycin. Resistensi merupakan salah satu usaha dari
mikroorganisme untuk mengembangkan toleransi terhadap keadaan lingkungan yang
baru (Pelczar dan Chan, 2005). Mekanisme kerja dari antibiotik Eritromycin yakni
melalui pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga sintesa proteinnya dihambat
(Tjay dan Rahardja, 2008).
Pada pengujian potensi antibiotik Amoxicilin, didapatkan hasil pengamatan nilai
diameter zona hambatan rata-rata pada kontrol dan konsentrasi 100 ppm, 1.000 ppm serta
10.000 ppm dari bakteri Escherichia coli berturut-turut adalah 0 mm (kontrol), 0 mm
(100 ppm), 0 mm (1.000 ppm) dan 1,57 mm, sedangkan pada bakteri Staphylococcus
aureus berturut-turut adalah 0 mm (kontrol), 0 mm (100 ppm), 1,37 mm dan 5,07 mm.
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa hasil pengamatan telah sesuai
dengan pustaka yang menyebutkan bahwa semakin tinggi konsentrasi antibiotika maka
semakin besar zona bening yang dihasilkan (Dwidjoseputro, 2003) dan Amoxicilin yang
merupakan turunan dari penisilin adalah antibiotika yang memiliki aktivitas kuat terhadap
bakteri gram positif (Pratiwi, 2008). Mekanisme kerja dari Amoxicilin adalah
menghambat sintesis dinding sel dengan cara mencegah ikatan silang peptidoglikan pada
tahap akhir sintesis dinding sel sehingga protein pengikat penisilin (penicillin binding
protein) terhambat. Protein ini merupakan enzim dalam membran plasma sel bakteri yang
secara normal terlibat dalam penambahan asam amino yang berikatan silang dengan
peptidoglikan dinding sel bakteri dan mengeblok aktivitas enzim transpeptidase yang
membungkus ikatan silang polimer-polimer gula panjang yang membentuk dinding sel
bakteri sehingga dinding sel menjadi rapuh dan mudah lisis (Pratiwi, 2008).
Pengamatan hasil uji potensi pada antibiotik Bactoprim mendapatkan hasil nilai
diameter zona hambatan rata-rata pada kontrol dan konsentrasi 100 ppm, 1.000 ppm serta
10.000 ppm dari bakteri Escherichia coli berturut-turut adalah 0 mm (kontrol), 0 mm
(100 ppm), 0 mm (1.000 ppm) dan 1,33 mm, sedangkan pada bakteri Staphylococcus
aureus berturut-turut adalah 0 mm (kontrol), 0 mm (100 ppm), 1,73 mm dan 2,03 mm.
Data yang didapatkan telah sesuai dengan pustaka karena konsentrasi yang semakin
tinggi menyebabkan penambahan diameter dari zona hambatan (Dwidjoseputro, 2003).
Bactoprim adalah salah satu contoh antibiotik yang masuk ke dalam golongan
sulfonamide (sulfa drug). Sulfa drug merupakan antimetabolit, yaitu substansi yang
secara kompetitif menghambat metabolit mikroorganisme karena memiliki struktur yang
mirip dengan substrat normal bagi enzim metabolisme. Struktur yang diserupai oleh sulfa
drug adalah struktur dari PABA (Para Amino Benzoic Acid) yang merupakan substrat
untuk reaksi enzimatik sistesis asam folat. Asam folat merupakan vitamin bagi
mikroorganisme karena berfungsi sebagai koenzim bagi sintesis purin dan pirimidin. Bila
Bactoprim yang merupakan sulfa drug berikatan dengan enzim yang seharusnya
berikatan dengan PABA, maka tidak akan terbentuk produk berupa asam folat sehingga
metabolisme dari bakteri akan terhambat dan sel bakteri mengalami keracunan (Pratiwi,
2008).
Pada pengujian potensi antibiotik Tetracycline didapatkan hasil pengamatan nilai
diameter zona hambatan rata-rata pada kontrol dan konsentrasi 100 ppm, 1.000 ppm serta
10.000 ppm dari bakteri Escherichia coli berturut-turut adalah 0 mm (kontrol), 0 mm
(100 ppm), 0 mm (1.000 ppm) dan 1,35 mm, sedangkan pada bakteri Staphylococcus
aureus berturut-turut adalah 0 mm, 2,1 mm, 2,87 mm dan 4,27 mm. Data nilai diameter
zona hambatan rata-rata pada berbagai konsentrasi telah sesuai dengan pustaka karena
telah menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi antibiotika maka semakin besar
zona bening yang dihasilkan (Dwidjoseputro, 2003). Dari hasil pengamatan juga dapat
disimpulkan bahwa bakteri Escherichia coli lebih resisten daripada bakteri
Staphylococcus aureus karena memiliki nilai diameter zona hambatan lebih kecil.
Tetracycline merupakan antibiotik berspektrum luas yang diproduksi oleh bakteri genus
Streptomyces (Pratiwi, 2008). Antibiotik ini bersifat bakteriostatik terhadap berbagai
bakteri gram positif dan gram negatif. Tetracycline memiliki spektrum luas sebab dapat
bekerja aktif pada bakteri coccus, basil maupun bentuk spiral. Tetracycline memasuki
mikroorganisme melalui difusi pasif dan sebagian melalui suatu proses transport aktif
yang bergantung pada energi (Katzung, 2004). Mekanisme kerja dari Tetracycline adalah
menghambat sintesis protein bakteri dengan cara berikatan pada bagian 16S ribosom
subunit 30S, sehingga mencegah aminoasil-tRNA terikat pada situs A (situs aktif) pada
ribosom. Ikatan ini secara alami bersifat reversibel (Pratiwi, 2008).
Pada pengujian potensi antibiotik kelima, digunakan antibiotik Chloramphenicol.
Setelah diinkubasi selama 24 jam dan dilakukan pengamatan, didapatkan hasil nilai
diameter zona hambatan rata-rata pada kontrol dan konsentrasi 100 ppm, 1.000 ppm serta
10.000 ppm dari bakteri Escherichia coli berturut-turut adalah 0 mm (kontrol), 0 mm
(100 ppm), 1,56 mm dan 2,4 mm, sedangkan pada bakteri Staphylococcus aureus
berturut-turut adalah 0 mm, 1,23 mm, 1,3 mm dan 2,8 mm. Data yang diperoleh telah
sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa semakin besar konsentrasi antibiotik
yang digunakan maka semakin besar zona bening (hambatan) yang dihasilkan
(Dwidjoseputro, 2003). Chloramphenicol sama seperti Tetracycline adalah antibiotik
yang memiliki spektrum luas karena bisa bersifat bakteriostatik terhadap bakteri gram
positif dan gram negatif. Dilihat dari tabel pengamatan, terlihat bahwa antibiotik
chloramphenicol adalah antibiotik yang dapat menghasilkan zona bening paling luas pada
perlakuan Escherichia coli dibandingkan antibiotik lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa
antibiotik chloramphenicol kerjanya lebih baik daripada Tetracycline atau antibiotik
lainnya karena bakteri Escherichia coli belum mengalami resistensi terhadap
Chloramphenicol. Chloramphenicol merupakan antibiotik dengan struktur sederhana
sehingga mudah dibuat secara sintetik daripada mengisolasinya dari Streptomyces.
Ukurannya relatif kecil sehingga mudah berdifusi ke dalam tubuh. Efek negatif
chloramphenicol adalah dapat menekan pembentukan sel darah merah. Mekanisme kerja
dari antibiotik ini adalah dengan cara bereaksi pada subunit 50S ribosom dan
menghalangi aktivitas enzim peptidil transferase. Enzim ini berfungsi untuk membentuk
ikatan peptida antara asam amino baru yang masih melekat pada tRNA dengan asam
amino terakhir yang sedang berkembang. Sebagai akibatnya, sintesis protein bakteri akan
terhenti seketika (Pratiwi, 2008).
Uji potensi antibiotika terakhir dilakukan dengan menggunakan antibiotik
Amphicilin. Setelah diinkubasi selama 24 jam dan dilakukan pengukuran maka
didapatkan data nilai diameter zona hambatan rata-rata pada kontrol dan konsentrasi 100
ppm, 1.000 ppm serta 10.000 ppm dari bakteri Escherichia coli berturut-turut semua
adalah 0 mm, sedangkan pada bakteri Staphylococcus aureus berturut-turut adalah 0 mm
(kontrol), 0 mm (100 ppm), 2,33 mm dan 4,00 mm. Data nilai diameter zona hambatan
yang didapatkan telah sesuai dengan pustaka karena konsentrasi yang semakin tinggi
menyebabkan penambahan diameter dari zona hambatan (Dwidjoseputro, 2003). Dari
data pengamatan yang diperoleh dapat terlihat jelas bahwa antibiotik Amphicilin hanya
bekerja pada bakteri Staphylococcus aureus dan tidak dapat menghambat pertumbuhan
dari bakteri Escherichia coli, sebab dari keempat konsentrasi antibiotik Amphicilin yang
digunakan, tidak ada satupun yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan
bakteri ini, artinya bakteri Escherichia coli resisten terhadap antibiotik Amphicilin. Hal
ini telah sesuai dengan pustaka karena Amphicilin yang merupakan turunan dari Penisilin
hanya memiliki aktivitas yang kuat terhadap bakteri gram positif (Pratiwi, 2008).
Mekanisme kerja dari Amphicilin sama seperti pada Amoxicilin yaitu menghambat
sintesis dinding sel sehingga dinding sel bakteri menjadi rapuh dan lisis (Pratiwi, 2008).
IV. KESIMPULAN

1. Metode yang dapat digunakan dalam assei mikrobiologi antara lain metode kertas
saring (Kirby dan Bauer) dan metode d`Aubert.
2. Pengaruh konsentrasi antibiotika terhadap pertumbuhan bakteri adalah semakin besar
konsentrasi dari antibiotika maka kemampuan antibiotika untuk menghambat atau
bahkan membunuh bakteri akam semakin besar yang terlihat dari semakin besarnya
diameter zona hambatan (zona bening). Jenis antibiotika Chloramphenicol pada
konsentrasi 10.000 ppm memiliki zona bening rata-rata paling besar pada perlakuan
Escherichia coli, sedangkan pada Staphylococcus aureus jenis antibiotik yang
menghasilkan zona bening terbesar adalah Amoxicilin dengan konsentrasi 10.000
ppm.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.


Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan. Citra
Aditya Bakti. Bandung.
Katzung, B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Jakarta.
Pelczar, M.J., E.C.S. Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta

Pratiwi, Silvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga. Jakarta.


Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi
Umum Program Studi Farmasi. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi F.
MIPA UNUD. Bukit Jimbaran.
Tjay, Tan Hoan, Kirana Rahardja. 2008. Obat-Obat Penting. Elex Media Komputindo.
Jakarta.