Anda di halaman 1dari 5

Epilepsi

Baca dalam bahasa lain

Unduh

Pantau

Sunting

Pelajari selengkapnya

Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh
digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan
diagnosis medis.

Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis. Wikipedia bukan pengganti
dokter.

Epilepsi (berasal dari kata kerja Yunani Kuno ἐπιλαμβάνειν yang berarti "menguasai, memiliki, atau
menimpa")[1] adalah sekelompok gangguan neurologis jangka panjang yang cirinya ditandai dengan
serangan-serangan epileptik.[2] Serangan epileptik ini episodenya bisa bermacam-macam mulai dari
serangan singkat dan hampir tak terdeteksi hingga guncangan kuat untuk periode yang lama.[3] Dalam
epilepsi, serangan cenderung berulang, dan tidak ada penyebab yang mendasari secara langsung [2]
sementara serangan yang disebabkan oleh penyebab khusus tidak dianggap mewakili epilepsi.[4] Dalam
bahasa Indonesia digunakan istilah "penyakit ayan" untuk berbagai kasus epilepsi.

Epilepsi

Spike-waves.png

Penyamarataan lonjakan dan gelombang 3 Hz pada elektroencefalogram

Klasifikasi dan rujukan luar

Spesialisasi

Neurologi, epileptology Sunting ini di Wikidata

ICD-10

G40-G41

ICD-9-CM

345
DiseasesDB

4366

MedlinePlus

000694

eMedicine

neuro/415

MeSH

D004827

[sunting di Wikidata]

Dalam kebanyakan kasus, penyebabnya tidak diketahui, walaupun beberapa orang menderita epilepsi
sebagai akibat dari cedera otak, stroke, kanker otak, dan penyalahgunaan obat dan alkohol, di
antaranya. Kejang epileptik adalah akibat dari aktivitas sel saraf kortikal yang berlebihan dan tidak
normal di dalam otak.[4] Diagnosisnya biasanya termasuk menyingkirkan kondisi-kondisi lain yang
mungkin menyebabkan gejala-gejala serupa (seperti sinkop) serta mencari tahu apakah ada penyebab-
penyebab langsung. Epilepsi sering bisa dikonfirmasikan dengan elektroensefalografi (EEG).

Epilepsi tidak bisa disembuhkan, tetapi serangan-serangan bisa dikontrol dengan pengobatan pada
sekitar 70% kasus.[5] Bagi mereka yang serangannya tidak berespon terhadap pengobatan, bedah,
stimulasi saraf atau perubahan asupan makanan bisa dipertimbangkan. Tidak semua gejala epilepsi
berlangsung seumur hidup, dan sejumlah besar orang mengalami perbaikan bahkan hingga pengobatan
tidak diperlukan lagi. Epilepsi seperti halnya tuberkulosis pengobatannya harus tuntas, walaupun
tampaknya sudah sehat. Pada epilepsi pengobatan dihentikan satu tahun setelah serangan terakhir.

Sekitar 1% penduduk dunia (65 juta) menderita epilepsi,[6] dan hampir 80% kasus muncul di negara-
negara berkembang.[3] Epilepsi menjadi lebih sering ditemui seiring dengan berjalannya usia.[7][8] Di
negara-negara maju, gejala awal dari kasus-kasus baru muncul paling sering di kalangan anak-anak dan
manula;[9] di negara-negara berkembang paling sering muncul di kalangan anak-anak yang lebih tua dan
orang dewasa muda,[10] karena perbedaan dalam kekerapan penyebab-penyebab yang mendasarinya.
Sekitar 5–10% dari semua orang akan mengalami kejang tanpa sebab sebelum mencapai usia 80,[11]
dan kemungkinan mengalami serangan kedua berkisar antara 40 dan 50%.[12] Di banyak wilayah dunia,
mereka yang menderita epilepsi dibatasi dalam mengemudi atau tidak diperbolehkan sama sekali,[13]
tetapi kebanyakan bisa kembali mengemudi setelah periode tertentu bebas serangan.
Tanda-tanda dan gejala-gejala Sunting

Berkas:Epilpesia.ogvPutar media

Video mengenai serangan kejang

Seseorang yang menggigit ujung lidahnya saat mengalami serangan epilespi

Epilepsi ditandai dengan risiko jangka panjang untuk terjadinya serangan berulang.[14] Serangan ini bisa
terjadi dalam beberapa cara tergantung pada bagian otak mana yang terlibat dan usia penderita.[14]
[15]

Serangan Sunting

Jenis serangan epilepsi yang paling umum (60%) adalah konvulsi/kejang.[15] Dari serangan-serangan ini,
dua per tiga mulai dengan serangan kejang fokal (yang kemudian bisa menjadi umum) sementara
sepertiganya mulai dengan serangan kejang umum.[15] Sisa 40% jenis serangan lainnya adalah non
konvulsi. Contoh dari jenis ini adalah serangan absans, yang menunjukkan adanya penurunan level
kesadaran dan biasanya berlangsung sekitar 10 detik.[16][17]

Serangan epilepsi fokal sering diawali dengan pengalaman tertentu, yang dikenal sebagai aura.[18] Ini
bisa termasuk: fenomena indra (penglihat, pendengar atau pembau), psikis, otonomik, atau motorik.[16]
Kekejangan bisa mulai dengan sekelompok otot tertentu dan menyebar ke kelompok otot sekitarnya
yang dikenal sebagai serangan epilepsi Jacksonian.[19] Otomatisme bisa terjadi; ini adalah gerakan yang
tidak disadari dan kebanyakan gerakan berulang sederhana seperti memainkan bibir atau gerakan yang
lebih kompleks seperti mencoba mengambil sesuatu.[19]

Ada enam jenis utama serangan epilepsi umum: tonik-klonik, tonik, klonik, myoklonik, absans, dan
serangan atonik.[20] Semuanya melibatkan hilangnya kesadaran dan biasanya terjadi tanpa peringatan.
Serangan tonik-klonik terjadi dengan kontraksi anggota tubuh diikuti dengan ekstensi disertai dengan
punggung melengkung ke belakang yang berlangsung selama 10–30 detik (fase tonik). Jeritan mungkin
terdengar karena kontraksi otot-otot dada. Ini kemudian diikuti dengan gerakan anggota tubuh secara
serempak (fase klonik). Serangan tonik menyebabkan kontraksi otot terus-menerus. Penderita sering
menjadi biru karena pernafasan terhenti.Dalam serangan klonik anggota tubuh bergerak serempak.
Setelah gerakan terhenti, penderita mungkin perlu waktu 10–30 menit untuk kembali normal; periode
ini disebut "fase postiktal".
Hilangnya kontrol buang air besar atau air kecil bisa muncul selama serangan epilesi.[3] Ujung atau sisi
lidah bisa tergigit selama serangan epilespi.[21] Dalam kejang tonik-klonik, gigitan pada sisi lidah lebih
sering terjadi.[21] Gigitan lidah juga cukup biasa terjadi dalam serangan psikogenik non-epileptik.[21]

Serangan miotonik melibatkan kejang otot di beberapa atau di seluruh area.[22] Serangan absans
[kehilangan kesadaran mendadak] bisa tersamar dengan hanya kepala menoleh sedikit atau mata
berkedip-kedip.[16] Orangnya tidak terjatuh dan kembali normal setelah serangan terhenti.[16]
Serangan atonik melibatkan hilangnya aktivitas otot selama lebih dari satu detik.[19] Ini biasanya terjadi
di kedua sisi tubuh.[19]

Sekitar 6% dari penderita epilepsi mengalami serangan yang sering dipicu oleh kejadian-kejadian khusus
dan dikenal sebagai serangan refleks.[23] Penderita epilepsi refleks mengalami serangan yang hanya
dipicu oleh rangsangan tertentu.[24] Pemicu umum termasuk kilatan cahaya dan suara-suara tiba-tiba.
[23] Pada epilepsi jenis tertentu, serangan lebih sering terjadi pada saat tidur,[25] dan pada jenis lain
serangan-serangan terjadi hampir hanya waktu tidur.[26]

Postiktal Sunting

Setelah serangan aktif biasanya ada periode kebingungan yang disebut periode postiktal sebelum
tingkat kesadaran normal kembali.[18] Ini biasanya berlangsung selama 3 hingga 15 menit[27] tetapi
bisa berlangsung selama berjam-jam.[28] Gejala umum lainnya termasuk: merasa lelah, sakit kepala,
susah bicara, dan tingkah laku abnormal.[28] Psikosis setelah sebuah serangan cukup sering, terjadi
pada 6-10% penderita.[29] Penderita sering tidak ingat apa yang terjadi selama waktu ini.[28]
Kelemahan lokal, dikenal sebagai kelumpuhan Todd, bisa juga terjadi setelah serangan epilepsi fokal.
Bila terjadi, ini biasanya berlangsung selama beberapa detik hingga menit tetapi jarang berlansung
selama satu atau dua hari.[30]

Psikososial Sunting

Epilepsi bisa memiliki efek merugikan pada kesejahteraan sosial dan psikologis seseorang.[15] Efek-efek
ini bisa termasuk isolasi sosial, stigmatisasi, atau ketidakmampuan.[15] Efek-efek itu bisa menyebabkan
pencapaian prestasi belajar yang rendah dan kesempatan kerja yang lebih buruk.[15] Kesulitan belajar
umum ditemukan pada penderita epilepsi, dan terutama dalam anak-anak penderita epilepsi.[15]
Stigma epilepsi bisa juga mempengaruhi keluarga penderita.[3]
Gangguan-gangguan tertentu muncul lebih sering di kalangan penderita epilepsi, sebagian tergantung
pada gejala epilepsi yang ada. Ini bisa termasuk: depresi, gangguan cemas, dan migrain.[31] Attention-
deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Pikiran/Hiperaktivitas (GPPH)
mempengaruhi anak-anak penderita epilepsi tiga hingga lima kali lebih sering dibandingkan anak-anak
dalam populasi umum.[32] GPPH dan epilepsi memiliki konsekuensi penting pada tingkah laku,
kemampuan belajar dan perkembangan sosial anak.[33] Epilepsi juga lebih sering terjadi pada mereka
yang menderita autisme.[34]