Anda di halaman 1dari 4

Flu burung

Penyakit menular

Baca dalam bahasa lain

Unduh

Pantau

Sunting

Pelajari selengkapnya

Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh
digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan
diagnosis medis.

Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis. Wikipedia bukan pengganti
dokter.

Flu burung (bahasa Inggris: avian influenza, disingkat AI) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
virus influenza yang telah beradaptasi untuk menginfeksi burung. Penyakit ini menyebabkan kerugian
ekonomi yang tinggi karena membunuh ternak ayam dalam jumlah besar. Terkadang mamalia, termasuk
manusia, dapat tertular flu burung.[1]

Flu burung

Nama lain

Avian influenza (AI), avian flu, bird flu

Discolored chicken comb.jpg

Sianosis pada jengger ayam merupakan salah satu tanda klinis flu burung.

Spesialisasi

Penyakit infeksi, kedokteran hewan

Tipe

Patogenisitas tinggi (HPAI), patogenisitas rendah (LPAI)

Penyebab

Virus influenza A
Diagnosis

Isolasi virus, PCR, ELISA

Penyebab Sunting

Artikel utama: Orthomyxoviridae

Flu burung disebabkan oleh virus influenza A dari genus Alphainfluenzavirus, famili Orthomyxoviridae. Ia
tergolong dalam grup V dalam klasifikasi Baltimore, yaitu virus dengan RNA utas tunggal negatif.
Terdapat tujuh genus dalam famili Orthomyxoviridae, empat di antaranya adalah virus influenza,[2][3]
yaitu:

Genus virus Spesies virus Inang peka[4]

Alphainfluenzavirus Influenza A virus Manusia, mamalia lain, dan burung

Betainfluenzavirus Influenza B virus Manusia dan anjing laut

Gammainfluenzavirus Influenza C virus Manusia dan babi

Deltainfluenzavirus Influenza D virus Sapi

Subtipe Sunting

Artikel utama: Daftar subtipe virus influenza A

Virus influenza A memiliki beberapa protein pada permukaannya, di antaranya protein hemaglutinin
(disingkat H atau HA) serta protein neuraminidase (disingkat NA atau N). Kombinasi jenis protein H dan
protein N akan menentukan sifat dan penamaan subtipe virus influenza, misalnya H5N1. Saat ini telah
ditemukan 18 jenis hemaglutinin (H1 sampai H18) dan 11 jenis neuraminidase (N1 sampai N11),[3]
tetapi hanya subtipe H1-H16 dan N1-N9 yang diidentifikasi dari virus yang menginfeksi burung.[5] Hanya
dua subtipe virus influenza A yang diketahui tidak menginfeksi burung, yaitu H17N10 dan H18N11 di
mana keduanya diisolasi dari kelelawar.[3]

Patogenisitas Sunting

Berdasarkan kemampuannya menimbulkan penyakit, flu burung dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

Flu burung dengan patogenisitas tinggi (bahasa Inggris: highly pathogenic avian influenza, disingkat
HPAI) yang menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, dan
Flu burung dengan patogenisitas rendah (bahasa Inggris: low pathogenic avian influenza, disingkat LPAI)
yang menyebabkan penyakit dengan tanda klinis yang ringan.

Sebagian besar virus flu burung memiliki patogenisitas yang rendah (LPAI). Namun, beberapa beberapa
di antara mereka mengalami mutasi genetik sehingga berubah menjadi HPAI. Secara alami, kasus HPAI
disebabkan oleh virus influenza A subtipe H5 atau H7. Walaupun demikian, mayoritas virus subtipe H5
dan H7 tergolong LPAI.[6] Penentuan tingkat patogenisitas virus influenza A didasarkan pada
karakteristik molekuler serta kemampuannya menimbulkan penyakit dan kematian pada ayam pada
kondisi laboratorium, bukan berdasarkan beratnya derajat penyakit yang ditimbulkan pada manusia.[3]

Isolat virus flu burung digolongkan sebagai HPAI jika:[7][8]

Saat diinokulasi secara intravena terhadap minimal delapan ekor anak ayam peka berumur 4-8 minggu
akan menyebabkan lebih dari 75% kematian dalam waktu 10 hari;

Saat diinokulasi terhadap 10 ekor anak ayam peka berumur 6 minggu menghasilkan indeks patogenisitas
intravena (bahasa Inggris: intravenous pathogenicity index atau IVPI) lebih dari 1,2; atau

Isolat virus H5 dan H7 yang memiliki nilai IVPI tidak lebih dari 1,2 atau tidak menimbulkan 75% kematian
pada uji letalitas intravena harus diurutkan (sekuensing) untuk menentukan apakah terdapat beberapa
asam amino basa di lokasi pembelahan molekul hemaglutinin (HA0). Jika urutan asam aminonya mirip
dengan isolat HPAI lainnya, maka isolat tersebut dianggap HPAI.

Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE) mendefinisikan kasus flu burung sebagai infeksi pada
unggas yang disebabkan oleh: (1) Virus influenza A dengan patogenisitas tinggi (HPAI), dan (2) Virus
influenza A subtipe H5 dan H7 dengan patogenisitas rendah (H5/H7 LPAI).[8] Definisi ini dibuat sebagai
batasan untuk kasus flu burung yang wajib dilaporkan kepada OIE. Oleh karena itu, flu burung
patogenisitas rendah (LPAI) yang penyebabnya bukanlah subtipe H5 atau H7 tidak perlu dilaporkan
kepada OIE.[9]

Nomenklatur dan klad Sunting

Penamaan virus influenza.

Isolat virus influenza A subtipe H5 dapat dikelompokkan lebih lanjut menjadi beberapa klad (bahasa
Inggris: clade) dan diberi nama berdasarkan sistem nomenklatur yang standar.[10] Standar pemberian
nama ini meliputi jenis virus (misalnya A, B, atau C), asal spesies (misalnya canine, equine, chicken, swine
dsb. Identitas ini tidak dituliskan jika virus berasal dari manusia), asal lokasi geografis (misalnya Taiwan,
Vietnam, dsb.), nomor strain (misalnya 1, 134, dsb.), tahun isolasi (misalnya 2003), serta jenis antigen H
dan N yang ditulis dalam tanda kurung apabila virus tersebut merupakan virus influenza A.[11] Contoh:

A/chicken/Pekalongan/BBVW308/2007(H5N1)

A/chicken/Scotland/59(H5N1)

Klad merupakan kelompok taksonomi berupa gambaran pohon kladistika untuk mengetahui hubungan
kekerabatan. Penetapan klad virus flu burung dilakukan dengan sekuensing antigen H5. Hingga tahun
2008, semua virus H5N1 di Indonesia digolongkan dalam klad 2.1 dengan tiga turunan, yaitu 2.1.1, 2.1.2,
dan 2.1.3. Virus klad 2.1.3 selanjutnya menyebar di banyak daerah di Indonesia. Pada bulan September
2012, isolat virus subtipe H5 dari bebek di Jawa Tengah dilaporkan berhubungan erat dengan klad
2.3.2.1 yang sebelumnya baru ditemukan di Vietnam, Tiongkok, dan Hong Kong.[12] Situs web
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyediakan gambaran lengkap pohon kladistika virus flu burung
subtipe H5.[10][13][14]

Sifat alami dan perubahan antigen Sunting

Kelangsungan hidup virus di lingkungan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya jumlah virus,
temperatur, paparan sinar matahari, keberadaan materi organik, pH dan salinitas (jika virus di air), serta
kelembapan relatif (pada permukaan padat atau tinja).[15] Virus influenza A peka terhadap berbagai
jenis disinfektan, di antaranya natrium hipoklorit, etanol 60-90%, senyawa amonium kuartener, aldehid,
fenol, asam, dan iodin povidon, juga bisa diinaktivasi dengan pemanasan 56-60 °C selama minimal 60
menit serta oleh radiasi ionisasi atau pH ekstrem (pH 1-3 atau pH 10-14).[15]

Virus flu burung terus berubah dengan konstan. Ada dua cara mereka untuk berubah:[16]

Antigenic drift. Gen virus influenza mengalami perubahan-perubahan kecil seiring dengan waktu saat
virus bereplikasi. Perubahan genetik yang kecil ini akan berakumulasi perlahan-lahan sehingga sifat
antigeniknya berbeda dan tidak dikenali lagi oleh sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan
komposisi vaksin influenza perlu ditinjau secara berkala agar dapat mengimbangi laju perubahan virus.

Antigenic shift. Terjadi perubahan gen yang besar dan mendadak yang menghasilkan jenis protein H
yang baru dan/atau kombinasi protein H dan N yang baru. Kebanyakan individu tidak memiliki kekebalan
terhadap virus influenza yang baru ini sehingga menyebabkan terjadinya wabah penyakit yang luas