Anda di halaman 1dari 2

Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh

faktor hereditas dan kadang-kadang telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. Deteksi dan terapi
sedini mungkin akan menjadikan si penderita lebih dapat menyesuaikan dirinya dengan yang normal.
Kadang-kadang terapi harus dilakukan seumur hidup, walaupun demikian penderita Autisme yang cukup
cerdas, setelah mendapat terapi Autisme sedini mungkin, sering kali dapat mengikuti Sekolah Umum,
menjadi Sarjana dan dapat bekerja memenuhi standar yang dibutuhkan, tetapi pemahaman dari rekan
selama bersekolah dan rekan sekerja sering kali dibutuhkan, misalnya tidak menyahut atau tidak
memandang mata si pembicara, ketika diajak berbicara. Karakteristik yang menonjol pada seseorang
yang mengidap kelainan ini adalah kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal
maupun memahami emosi serta perasaan orang lain.[1] Autisme merupakan salah satu gangguan
perkembangan yang merupakan bagian dari gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum
Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan di bawah payung Gangguan
Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit
kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak
tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku
penyandang autisme.[2] Autisme adalah yang terberat di antara PDD.

Gejala-gejala autisme dapat muncul pada anak mulai dari usia tiga puluh bulan sejak kelahiran hingga
usia maksimal tiga tahun.[1][3] Penderita autisme juga dapat mengalami masalah dalam belajar,
komunikasi, dan bahasa.[1] Seseorang dikatakan menderita autisme apabila mengalami satu atau lebih
dari karakteristik berikut: kesulitan dalam berinteraksi sosial secara kualitatif, kesulitan dalam
berkomunikasi secara kualitatif, menunjukkan perilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan
yang terlambat atau tidak normal.[4]

Di Amerika Serikat, kelainan autisme empat kali lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibandingkan
anak perempuan dan lebih sering banyak diderita anak-anak keturunan Eropa Amerika dibandingkan
yang lainnya.[5] Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang
menderita autisme dalam usia 5-19 tahun.[6] Sedangkan prevalensi penyandang autisme di seluruh
dunia menurut data UNESCO pada tahun 2011 adalah 6 di antara 1000 orang mengidap autisme.[6]

Gejala Sunting

Secara historis, para ahli dan peneliti dalam bidang autisme mengalami kesulitan dalam menentukan
seseorang sebagai penyandang autisme atau tidak. Pada awalnya, diagnosa disandarkan pada ada atau
tidaknya gejala namun saat ini para ahli setuju bahwa autisme lebih merupakan sebuah kontinuum.
Gejala-gejala autisme dapat dilihat apabila seorang anak memiliki kelemahan di tiga domain tertentu,
yaitu sosial, komunikasi, dan tingkah laku yang berulang.[7]
Aarons dan Gittents (1992) merekomendasikan adanya suatu pendekatan deskriptif dalam mendiagnosa
autisme sehingga menyertakan pengamatan-pengamatan yang menyeluruh di setting-setting sosial anak
sendiri. Settingya mungkin di sekolah, di taman-taman bermain atau mungkin di rumah sebagai
lingkungan sehari-hari anak dimana hambatan maupun kesulitan mereka tampak jelas di antara teman-
teman sebaya mereka yang normal.

Persoalan lain yang memengaruhi keakuratan suatu diagnosa sering kali juga muncul dari adanya fakta
bahwa perilaku-perilaku yang bermasalah merupakan atribut dari pola asuh yang kurang tepat. Perilaku-
perilaku tersebut mungkin saja merupakan hasil dari dinamika keluarga yang negatif dan bukan sebagai
gejala dari adanya gangguan. Adanya interpretasi yang salah dalam memaknai penyebab mengapa anak
menunjukkan persoalan-persoalan perilaku mampu menimbulkan perasaan-perasaan negatif para orang
tua. Pertanyaan selanjutnya kemudian adalah apa yang dapat dilakukan agar diagnosa semakin akurat
dan konsisten sehingga autisme sungguh-sungguh terpisah dengan kondisi-kondisi yang semakin
memperburuk? Perlu adanya sebuah model diagnosa yang menyertakan keseluruhan hidup anak dan
mengevaluasi hambatan-hambatan dan kesulitan anak sebagaimana juga terhadap kemampuan-
kemampuan dan keterampilan-keterampilan anak sendiri. Mungkin tepat bila kemudian disarankan agar
para profesional di bidang autisme juga mempertimbangkan keseluruhan area, misalnya: perkembangan
awal anak, penampilan anak, mobilitas anak, kontrol dan perhatian anak, fungsi-fungsi sensorisnya,
kemampuan bermain, perkembangan konsep-konsep dasar, kemampuan yang bersifat sikuen,
kemampuan musikal, dan lain sebagainya yang menjadi keseluruhan diri anak sendiri.