Anda di halaman 1dari 6

EUTANASIA MENURUT PANDANGAN ISLAM

ARTIKEL

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Pesantren Calon Dokter

DISUSUN OLEH:
Fathichah Hafsyah Azhar

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, akan mengalami siklus
kehidupan yang dimulai dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan di dunia
dengan berbagai permasalahannya, serta diakhiri dengan kematian.Dari proses
siklus kehidupan tersebut, kematian merupakan salah satu yang masih
mengandung misteri besar, & ilmu pengetahuan belum berhasil menguaknya.
Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu diperlukan
kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kematian sebagai akhir dari rangkaian
kehidupan adalah merupakan hak dari Tuhan. Tak seorangpun yang berhak
menundanya sedetikpun, termasuk mempercepat waktu kematian.
Hak pasien untuk mati, yang seringkali dikenal dengan istilah euthanasia,
sudah kerap dibicarakan oleh para ahli. Namun masalah ini akan terus menjadi
bahan perdebatan, terutama jika terjadi kasus-kasus menarik.
Para ahli agama, moral, medis, & hukum belum menemukan kata sepakat
dalam menghadapi keinginan pasien untuk mati guna menghentikan
penderitaannya. Situasi ini menimbulkan dilema bagi para dokter, apakah ia
mempunyai hak hukum untuk mengakhiri hidup seorang pasien atas permintaan
pasien itu sendiri atau keluarganya, dengan dalih mengakhiri penderitaan yang
berkepanjangan, tanpa dokter itu sendiri menghadapi konsekuensi hukum. Sudah
tentu dalam hal ini dokter tersebut menghadapi konflik dalam batinnya.
Sebagai dampak  dari kemajuan kemajuan ilmu & teknologi kedokteran
(iptekdok), kecuali manfaat, ternyata berdampak terhadap nilai-nilai etik/moral,
agama, hukum, sosial, budaya, & aspek lainnya.Kemajuan iptekdok telah
membuat kabur batas antara hidup & mati. Tidak jarang seseorang yang telah
berhenti pernapasannya & telah berhenti denyut jantungnya, berkat intervensi
medis misalnya alat bantu nafas (respirator), dapat bangkit kembali.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Eutanasia (berasal dari Bahasa Yunani: eu = baik, dan thanatos =
kematian) adalah praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan
melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau
menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara
memberikan suntikan yang mematikan.
1. Pendapat Ulama
Dalam euthanasia pasif terdapat perbedaan pendapat diantara para
ulama, ada yang melarang karena disamakan dengan euthanasia aktif dan
ada yang membolehkan Di antara yang mendasari kebolehan melakukan
euthanasia pasif, yaitu tindakan mendiamkan saja si pasien dan tidak
mengobati, adalah salah satu pendapat di kalangan sebagain ulama. Yaitu
bahwa hukum mengobati atau berobat dari penyakit tidak sepenuhnya
wajib. Bahkan pendapat ini cukup banyak dipegang oleh imam-imam
mazhab.
Menurut sebagian mereka, hukum mengobati atau berobat ini
hanya berkisar pada hukum mubah. Tetapi bukan berarti semua ulama
sepakat mengatakan bahwa hukum berobat itu mubah. Dalam hal ini
sebagian dari para ulama itu tetap mewajibkannya. Misalnya apa yang
dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi`i dan Imam Ahmad bin
Hambal, juga sebagaimana yang dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu
Taimiyah. Mereka itu tetap beranggapan bahwa berobat dan
mengupayakan kesembuhan merupakan tindakan yang mustahab (sunnah).
Dalam kondisi tersebut diatas, ulama menetapkan diperbolehkan
melepas instrumen yang dipasang pada seseorang meskipn sebagian
organnya, seperti jantung masih berdenyut karena kerja instrumen
tersebut. Argumen kebolehan melepas alat-alat pengaktif organ dan
pernafasan dari pasien, karena tidak berguna lagi. Bahkan sebagian ulama
mewajibkannya untuk menghentikan penggunaan alat-alat tersebut, karena
menggunakan alat-alat itu berarti bertentangan dengan syariah Islam.
Alasannya adalah tindakan tersebut menunda pengurusan jenazah dan
penguburannya tanpa alasan darurat, menunda pembagian warisan, masa
‘iddah bagi istri dan hukum lain yang terkait dengan kematian. Disamping
itu juga berarti menyia-nyiakan harta dan membelanjakannya untuk
sesuatu yang tidak berguna, sedangkan hal ini dilarang dalam Islam.
2. Eutanasia Menurut Pandangan Islam
Seperti dalam agama-agama lainnya (Yahudi dan Kristen), Islam
mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut
merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat
menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243).
Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun
tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit
melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan
hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah
kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat
baik." (QS 2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau
membunuh dirimu sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah
"Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan demikian, seorang Muslim
(dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan
dengan membunuh dirinya sendiri.
Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-
maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang
dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan
meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.
Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun
1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan
dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan
(mercy killing) dalam alasan apapun juga .
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Yang berhak mengakhiri hidup seseorang hanyalah Alloh. Oleh karena itu
orang yang mengakhiri hidupnya sendiri atau orang lain dengan cara dan
alasan yang bertentangan dengan ketentuan agama, seperti euthanasia aktif,
adalah merupakan perbuatan bunuh diri yang diharamkan dan diancam
dengan siksa yang berat, di dunia jika persyaratannya terpenuhi dikenai
qishash, kaffarat atau diyat dan diakhirat dengan adzab neraka.
2. Euthanasia pasif diperbolehkan menurut pandangan hokum islam. Sedangkan
euthanasia aktif, dilihat dari segi kode etik kedokteran, KUHP, apalagi hokum
islam, merupakan perbuatan terlarang. Terhadap keluarga yang menyuruh,
doketr yang melaksanakannya dipandang sebagai pelaku pembunuhan dengan
sengaja dikenakan hukuman qishash atau diyat. Doketr yang melaksanakanna
atas permintaan pasien di pandang sebagai membantu terlaksananya bunuh
diri juga ikut menanggung dosa dan perbuatannya.
DAFTAR PUSTAKA

- Islam untuk disimplin Ilmu Kesehatan dan Kedokteran 2 (Fiqh


Kontemporer).2003. Buku dasar agama islam Pada perguruan Tinggi
Umum
- Jurusan program studi Kedokteran dan Kesehatan 2.Jakarta. Departemen
Agama RI.
- http://mbegedut.blogspot.com/2011/04/makalah-eutanasia-euthanasia-
menurut.html
- http://sichesse.blogspot.com/2012/03/makalah-al-islam-tentang-
euthanasia_27.html
- http://asa-2009.blogspot.com/2012/02/euthanasia-dalam-pandangan-
syariat.html
- http://nursemuslimfikunpad.blogspot.com/
- http://sebirucintaku.blogspot.com/2012/06/euthanasia-menurut-perspektif-
hukum.html